Anda di halaman 1dari 46

PERATURAN LELANG I

POKOK BAHASAN 1. 2. Dasar Hukum dan hukum yang berlaku dalam pelelangan. Peristilahan dan pengertian lelang a. Peristilahan b. Pengertian lelang : - Pengertian lelang menurut Pasal 1 V.R. - Pengertian lelang menurut Polderman - Pengertian lelang menurut Roel Keharusan menggunakan juru lelang dan akibat pelanggarannya. Cara-cara penawaran dalam pelelangan a. Penawaran naik-naik b. penawaran turun-turun c. Penawaran dengan pendaftaran (tender) - Tender penjualan - Tender pengadaan barang dan jasa Pejabat-pejabat yang berkaitan dengan lelang : a. Juru lelang (Pejabat lelang) : - Pejabat Lelang Klas I - Pejabat Lelang Klas II b. Superintendent

3. 4.

5.

Lanjutan
6. Tata cara pelaksanaan lelang 7. Beberapa permasalahan yang timbul dalam pelelangan 8. Balai lelang

DASAR HUKUM YANG BERLAKU DALAM PELENGAN


1. Vendue Reglement (V.R.) : Peraturan Lelang Stb. 1908 No. 189 yg terjadi perubahan beberapa kali terakhir dirubah dg Stb. 1941 No 3 Ditindak lanjuti dg SK Menkeu No 337/KMK. 01/2000 ttg Petunjuk Pelaksanaan Lelang, yg kmd dirubah dg KMK No.304/KMK.01/2002 dan kemudian dirubah lagi dg KMK No.401/KMK.01/2002, dan terakhir dg dikeluarkan PMK No. 40/PMK.07/2006 yg menghapus semua petunjuk pelaksaanaan lelang yg ada sebelumnya. PMK ini tdk menghapus V.R. ttp hanya memperjelas dan menyesuaikan ketentuan-ketentuan yang ada dalam V.R dg perubahan perubahan yg terjadi, seperti pengumumam lelang dg selebaran, pemberitahuan scr keliling menurut ketentuan lama diganti dg media cetak (koran), media elektronik. Vendue Instructie (Instruksi Lelang) Stb.1908 No. 190 ttg Pejabat Lelang . Ditindak lanjuti dg SK Menkeu No. 338/KMK.01/2000 Ttg Pejabat Lelang. Dan terakhir dg dikeluarkanya PMK No 41/PMK.07/2006 ttg Pejabat lelang kelas I menghapus semua SK Menkeu ttg Pejabat Lelang Kelas I sebelumya. Sedangkan utk Pejabat lelang Kelas II terakhir diatur dg PMK No. 119/PMK. 07/2005 ttg Pejabat Lelang Klas II Bea Lelang diatur pada Stb. 1935 No No. 453 kmd dirubah dg Stb. 1935 No. 454, lalu dirubah dg Stb. 1949 No. 390 ttg Peraturan Bea Lelang dalam Pelelangan dan Penjualan Umum, serta SK Menkeu No. 229/KMK 01/97 ttg Bea Lelang Swasta . Kmd semua pengaturan bea lelang itu dicabut dg dikeluarkannya PP. no. 44 TAHUN 2003 tentang Pungutan oleh Negara diluar pajak dan Retribusi

2.

3.

LANJUTAN
SK. Menkeu No 476/KMK/II/7/1972 ttg Tata Cara Penerimaan dan Pertanggungjawaban Hasil Pelelangan dan Pungutan- Pengutan oleh Kantor lelang.Negara dan Kantor lelang Klas II. SK. Menkeu No. 47/KMK.01/1998 ttg Balai Lelang, kemudian dirubah dg SK. Menkeu No 339/KMK.01/2000 dan dirubah dg SK. Menkeu no. 306/KMK.01/2002. Terakhir dg dikeluarkanya PMK No.118/PMK.07/2005 tt Balai lelang, ini mencabut semua pengaturan Balai Lelang yg telah ada sebelumnya.

7.

PERISTILAHAN DAN PENGERTIAN


A. PERISTILAHAN LELANG (auction) (oopen vekoopingen) Istilah lain dari lelang adalah penjualan di muka umum bare

B.

PENGERTIAN LELANG Menurut Pasal 1 V.R. (penafsiran otentik) Penjualan di muka umum adalah penjualan barang yang dilakukan di muka umum, dg penawaran harga yang makin meningkat (bij opbod), dg persetujuan harga yang semakin menurun (bij aflag) atau dg pendaftaran harga (bij inschriving) atau dimana orang-orang yg diundang atau sebelumnya sudah diberitahu ttg pelelangan atau penjualan atau kesempatan yang diberikan kepada orang-orang yang berlelang atau yang membeli untuk menawar harga, menyetujui harga atau mendaftarkan harga.

Peraturan Menteri Menkeu No. 40 PMK. 07/2006 Pasal 1 butir (1) Lelang adlh penjualan barang yg terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dg penawaran harga secara tertulis atau lesan yg semakin meningkat atau menurun utk mencapai harha tertinggi didahului dg pengumuman lelang

Menurut Polderman Dalam desertasinya yg berjudul Het Openbaar Aanbod Penawaran di muka umum adalah penjualan di muka umum adalah suatu alat untuk mengadakan perjanjian atau persetujuan yg paling menguntungkan bagi si penjual dg cara penghimpunan para peminat.

Lanjutan
Syarat Lelang menurut Polderman tsb, yaitu : 1. Penjualan di muka umum itu harus selengkap mungkin 2. Ada kehendak untuk mengikatkan diri (perlunya uang jaminan) 3. Pihak lain yang akan mengadakan perjanjian tdk dapat ditunjuk sebelumnya

Kesimpulan :
-

Bahwa lelang itu terjadi pada suatu saat atau titik, yaitu pada saat tercapai persetujuan harga. Sebelum tercapai persetujuan harga mk blm terjadi pelelangan, krn tawar menawar harga di dlm jual beli itu mrpk sesuatu yg khas dalam jual beli di Indonesia.

- Belum terjadi pelelangan, jika baru diberikan kesempatan kepada khalayak ramai untuk melakukan penawaran. Jadi pada tahap ini (tawar menawar) tidak termasuk dalam kegiatan lelang, shg apabila dilakukan tanpa berdasarkan peraturan lelang, maka bukan merupakan suatu pelangggaran, misalnya iklan penjualan tanah di suarat kabar yang dilakukan oleh penjualnya (pemiliknya) sendiri.

ROELL
Penjualan di muka umum adalah suatu rangkaian kejadian yg terjadi antara saat dimana seseorang hendak menjual suatu barang atau lebih secara pribadi maupun dg perantaraan kuasanya dg memberi kesempatan kepada orng-orang yg hadir melakukan penawaran untuk membeli barangbarang yg ditawarkan sampai pada saat dimana kesempatan itu lenyap, yaitu pada saat tercapainya persetujuan antara penjual atau kuasanya dg pembeli ttg harganya

Jadi kesimpulannya : - Lelang adalah merupakan suatu proses yg dimulai dari saat seseorang akan menjual suatu barang sampai dg saat tecapainya persetujuan harga (harga yg diluluskan) atau sampai saat lelang itu dihentikan (krn tdk mencapai limit harga yg diinginkan penjual), shg barang tdk jadi dilelang/tdk jadi dijual. Mulai saat dikeluarkan niat menjual barang di muka umum, proses lelang sudah dimulai oleh karenanya itu semuanya harus dimulai sesuai dg ketentuan dalam peraturan lelang. Di Indonesia yg dianut adalah pendapat Roell, namun untuk pengumuman lelangnya tetap berada ditangan penjual sesuai dg Pasal 18 Peraturan . Menkeu No. 40/PMK.07/2006 yg berbunyi Penjualan secara lelang wajib didahului dg pengumuman lelang yg dilakukan oleh penjual melalui surat kabar yg terbit di tempat barang berada yg akan dijual

JENIS JENIS LELANG


1. LELANG EKSEKUSI
A. Lelang Eksekusi Pengadilan B. Lelang Eksekusi Pajak C. Lelang Eksekusi Harta Pailit D. Lelang Eksekusi Berdasarkan Psl 6 UUHT E. Lelang Eksekusi P UPN F. Lelang Eksekusi Jaminan Fidusia G. Lelang Eksekusi Gadai H. Lelang Eksekusi Benda sitaan Berdasarkan Psl 18 ayat (2) UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 Ttg Tindak Pidana Korupsi I. Lelang Eksekusi Barang dikuasai/tidak dikuasai Negara J. Lelang Eksekusi Barang Sitaan berdasarlan Pasal 13 KUHAP K. Lelang Eksekusi Barang Rampasan L. Lelang Eksekusi Barang Temuan

2. LELANG NON EKSEKUSI


A. Lelang Non Eksekusi Wajib
- Barang Milik Pemerintah - Dirjen Bea cukai (bukan Penghapusan) - Barang Milik BUMN/D Non Persero - Kayu dan Hasil Hutan

B. Lelang Non Eksekusi Sukarela


- Barang Milik BUMN/D berbentuk PT Persero - Aset Bank dalam Likuidasi - Barang Milik seseorang atau Badan Hukum Perdata

JURU LELANG/PEJABAT LELANG


Keharusan menggunakan Juru Lelang/Pejabat Lelang dan akibat pelanggarannya. Pasal 1 a V.R. menyatakan : Penjualan di muka umum tdk boleh diadakan kecuali di depan juru lelang . Hal ini dipertegas lagi dg S.K. Menkeu No. 304/KMK 01/2002 ttg Petunjuk Pelaksanaan Lelang, Pasal 25 ayat (1) menyatakan Setiap lelang dilaksanakan di hadapan Pejabat Lelang ayat (2) nya menyatakan bahwa Pelaksanaan lelang yg menyimpang dr ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah tdk sah Setiap pelaksanaan lelang harus dilakukan oleh dan/atau dihadapan Pejabat lelang kcl ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. (PMK No. 40/PMK.07/2006)

Pelanggaran Thdp Keharusan menggunakan perantaraan JuruLelang/Pejabat Lelang

Pasal 1 a angka 3 V.R. menyatakan Sesorang yg berbuat bertentangan dg ketentuan dlm pasal ini didenda paling banyak sepuluh ribu Gulden dan perbuatannya dikualifikasikan sbg tindak pidana pelanggaran. Pengecualian : - Lelang yg dilakukan Kantor Pegadaian - Lelang yg dilakukan oleh Perhutani - Lelang tender pemerintah berdasarkan Keppres

Juru Lelang/Pejabat Lelang di dalam Melaksanakan Pekerjaannya mewakili 3 (tiga) kepentingan, yaitu :

- Kepentingan penjual - Kepentingan Pemerintah - Kepentingan pembeli

Pengertian Pejabat Lelang (vendumeester):


Adalah org yg khusus diberi wewenang oleh menteri keuangan untuk melaksanakan penjualan barang secara lelang berdasarkan peraturan perundang-undangan yg berlaku (Pasal 1 angka 2 Vendureglement). Pejabat lelang dibedakan 2 (dua) : 1. Pejabat lelang Kelas I 2. Pejabat Lelang Kelas II

Kedudukan Pejabat Lelang Pejabat Lelang Kelas I hanya dapat melaksanakan tugas dan wewenangnya selama berkedudukan di KPKNL

Pejabat Lelang Kelas II hanya dapat melaksanakan tugasnya selama berkedudukan di Kantor Pejabat Lelang Kelas II atau Balai Lelang dalam wilayah kerjanya.

Pejabat Lelang Kelas I yg berkedudukan di KPKNL berwenang melaksanakan lelang eksekusi dan lelang non eksekusi
Pejabat Lelang Kelas II yg berkedudukan di Kantor Pejabat lelang Kelas II berwenang melaksanakan lelang non eksekusi sukarela, lelang aset BUMN/BUMD berbentuk Persero, dan lelang aset milik bank dalam likuidasi berdasrkan PP No. 25 tahun 1999.

Pejabat Lelang Kelas I :


Adalah pegawai DJPLN yg diberikan wewenang oleh Menteri Keuangan utk melakukan penjualan scr lelang . Syarat-syarat utk diangkat menjadi Pejabat Lelang Kelas I : a. Sehat Jasmani dan rohani yg dinyatakan dg surat ket. dr dokter pemerintah; b. Fotocopy ijasah S1; c. Berpangkat serendah-rendahnya penata Muda Gol.Ruang III/a (foto copy Surat Keputusan Pengangkatan terakhir) d. Lulus Diklat Pejabat lelang (Diklat II/III atau DPT III PPLN) e. Rekomendari atasan setingkat eselon III di Unit kerja ybs. f. Surat Ket.Tidak pernah terkena sanksi administratif dan memiliki integritas yg tinggi yg dinyatakan dg surat keterangan dr Pejabat Eselon III dlm unit kerja ybs.

Wewenang Pejabat Lelang kelas I:


a.
b. c. d. e. f. g. h.

Melakukan analisis yurudis thdp dokumen persyaratan lelang dan dokumen barang yg akan dilelang Menegur dan mengeluarkan peserta atau pengunjung lelang apabila melanggar tata tertib; Menghentikan pelaksanaan lelang sementara waktu; mengesahkan atau membatalkan surat penawaran; Menolak melaksanakan lelang apbl tdk yakin akan persyaratan formalberkas pesyaratan lelang Melihat barang yg akan dilelang Meminta bantuan aparat apabila diperlukan Membatalkan pembeli lelang yg wanprestasi.

Kewajiban kewajiban Pejabat Lelang Kelas I : a. Bertindak jujur, seksama, mandiri tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak terkait b. Meneliti dokumen persyaratan lelang; c. Membuat bagian kepala risalah lelang, sblm lelang dimualai; d. Membacakan bag kepala risalah lelang sblm lelang dimulai f. Memimpin lelang; g. Mengesahkan pembeli lelang; h. Membuat minuta risalah lelang dan menyimpannya; i. Membuat salinan dan kutipan risalah lelang; j. Meminta dari pembeli bukti pelunasan harga lelang, BPHTB dan pungutan-pungutan lain yg diatur di dalam peraturanpeundangundangan; k. Membuat laporan pelaksanaan lelang sesuai dg ketentuan yg berlaku; l. Mematuhi peraturan perundang-undangan lelang.

LARANGAN BAGI PEJABAT LELANG KELAS I


a.

b. c. d. e.

f. g. h.

Melayani permohonan lelang diluar kewenangannya; Dg sengaja tdk hadir dipelaksanaan lelang; Membeli barang yg dilelang dihadapannya; Tidak menyetorkan hasil lelang; melakukan pungutan lain diluar yg telah diatur dlm peraturan perundang-undangan; Melakukan tindakan yg tidak sesuai dg kepatutan; Menolak permohonan lelang yg telah memenuhi legalitas obyek dan subyek; Merangkap atau profesi sbg pejabat neg, kuratoe, advokat, atau jabatan lain yg oleg peraturan perundangundangan dilarang dirangkap.

Pejabat Lelang Kelas II :


Adalah orang-orang tertentu yg diangkat untuk jabatan itu oleh Menteri Keuangan yg didelegasikan kepada Dirjen. Orang-orang tertentu yg dimaksud adalah orang-orang yg berasal dr : Notaris, Penilai, Sarjana Hukum, Sarjana ekonomi dan pensiunan pegawai DJPLN diutamakan yg pernah menjadi Pejabat lelang Kelas I, atau lulusan Diklat Pejabat Lelang yg diadakan oleh Badan Diklat Keuangan DepKeu. Pejabat Lelang kelas II berkedudukan di wilayah kerja tertentu yg ditetapkan oleh Dirjen (Kantor Pejabat lelang Kelas II atau di Balai Lelang).

Syarat-syarat Untuk diangkat sbg Pejabat Lelang Kelas II :

a. b.
c.

Sehat jasmani dan rohani; Berpendidikan serendah-rendahnya sarjana S1 diutamakan bid


hukum, ekonomi menejemen atau penilai;

d.
e. f.

Tidak pernah terkena sanksi administrasiberat dan memiliki integritas tinggi yg dibuktikan dg surat rekomendasi dari Dirjen. tdk pernah dijatuhi hukuman pidana yg dibuktikan dg surat ket. kepolisian. Khusus utk pensiunan PNS DJPLN, harus berpangkat serendah-rendahnya Penata muda Gol III/a. Memiliki kantor pejabat lelang kelas II paling sedikit seluas

48 M2. g. Telah mengikuti magang yg dibutikan dg rekomendasi dr Direksi balai lelang dan Kepala KPKNL atau Direksi balai lelang dan pejabat lelang kelas II i. Lulus diklat pejabat lelang yg diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Dep keu kecuali pensiunan PNS DJPLN;

j. Lulus diklat pejabat diselenggarakan oleh

lelang

(khusus)

yg

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Dep keu , dalam hal pemohon adlh notaris;

WEWENANG PEJABAT LELANG KELAS II


a. b. c. d. e.

Melakukan analisis yurudis thdp dokumen persyaratan lelang dan dokumen barang yg akan dilelang Menegur dan mengeluarkan peserta atau pengunjung lelang apabila melanggar tata tertib; Menghentikan pelaksanaan lelang sementara waktu; mengesahkan atau membatalkan surat penawaran; Menolak melaksanakan lelang apbl tdk yakin
akan persyaratan formalberkas pesyaratan lelang

f. g. h.

Melihat barang yg akan dilelang Meminta bantuan aparat apabila diperlukan Membatalkan pembeli lelang yg wanprestasi.

Kewajiban kewajiban Pejabat Lelang Kelas II : a. Bertindak jujur, seksama, mandiri tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak terkait b. Mengadakan perikatan perdata dg balai lelang mengenai pelaksanaan lelang dan honorarium c. Meneliti dokumen persyaratan lelang; d. Membuat bagian kepala risalah lelang, sblm lelang dimuala e. Membacakan bag kepala risalah lelang sblm lelang dimulai f. Memimpin lelang; g. Mengesahkan pembeli lelang; h. Membuat minuta risalah lelang dan menyimpannya; i. Membuat salinan dan kutipan risalah leng; j. Meminta dari balai lelang bukti pelunasan harga lelang, BPHTB dan pungutan-pungutan lain yg diatur di dalam peraturanpeundangundangan; k. Membuat laporan pelaksanaan lelang sesuai dg ketentua yg berlaku; l. memn\berikan pelayanan lelang sesuai peraturan peundangundangan yg berlaku; m. Mematuhi peraturan perundang-undangan lelang.

a.

LARANGAN BAGI PEJABAT LELANG KELAS II


Melayani permohonan lelang diluar kewenangannya; Dg sengaja tdk hadir dipelaksanaan lelang; Membeli barang yg dilelang dihadapannya; Menerima uang jaminan dan harga lelang dr pembeli; melakukan pungutan lain diluar yg telah diatur dlm peraturan perundang-undangan; Melakukan tindakan yg tidak sesuai dg kepatutan; Menolak permohonan lelang yg telah memenuhi legalitas obyek dan subyek; Merangkap atau profesi sbg pejabat neg, kuratoe, advokat, atau jabatan lain yg oleg peraturan perundangundangan dilarang dirangkap.

b. c. d. e.

f. g. h.

Pembinaan Pejabat Lelang Kelas I Pembinaan pejabat lelang berupa pengawasan pelaksanaan lelang, pemberian penghargaan atau sanksi Pembinaan Pejabat Lelang kelas I dilakukan oleh Dirjen. Kakawil DJPLN melakukan pembinaan thdp pejabat lelang kelas I yg berkedudukan di wilayahnya. Kakanwil melakukan Pembinaan terkait dg pelaksanaan pejabat lelang kelas I, meliputi : a. Penilaan kinerja b. Pemeriksaan langsung atau tdk langsung yg hasilnya disampaikan kpd Dirjen DJPLN c. Menindaklanjuti sanksi yg dijatuhkan oleh direktorat Jenderal d. Memberikan saksi peringatan tertulis e. Melakukan pengawasan pelaksanaan lelang

PENILAIAN KINERJA
Penilaian kinerja Pejabat Lelang Kelas I, didasarkan pada : a. Kualitas pelayanan lelang, meliputi :
1. Kecernatan dlm pembuatan minuta risalah lelang dan turunannya 2. Kecermatan dalam menganalisa dokumen 3. Kelancaran dan ketertiban pelaksanaan lelang 4. Optimalisasi harga b. Kuantitas pelaksanaan lelang, meliputi : 1. Jumlah minutah risalah lelang, salinan , kutipan dan grose yg dihasilkan baik kondisi barang laku, ditahan atau tdk ada penawaran 2. Jumlah harga lelang, bea lelang, dan pungutan pajak/lain yg sah dr pelaksanaan lelang yg dicapai - Penilaian kinerja dilakukan paling sedikit satu tahun sekali - Utk melakukan penilaian kinerja Kakanwil dpt menunjuk pejabat/pegawai dilingkungannya - Penilaian menggunakan standar Pemeriksaan yg ditetapkan Dirjen - Hasil penilaian dilaporkan ke Direktur Lelang, dg usul pemberian penghargaan atau sanksi - Direktur lelang menganalisa dan meneliti penilaian dan dan meneruskan usul tsb kpd Dirjen

PEMERIKSAAN
Untuk melakukan pemeriksaan pelaksanaan lelang, Kepala Kantor DJPLN dapat menunjuk pejabat/pegawai dilingkungan Kanwil DJPLN . Pejabat lelang yg diperiksa wajib memperhatikan risalah lelang, buku, catatan.dokumen dan memberikan keterangan atas pelaksanaan lelang yg diperlukan dlm pemeriksaan.

Peringatan Tertulis
Peringatan tertulis diberikan pd pejabat lelang kelas I, dlm hal : a. Terlambat atau tdk membuat risalah lelang b. Melakukan kesalahan dlm pembuatan risalah
lelang yg bersifat prinsipiil, antara lain data obyel lelang, harga lelang dan/ pengenaan bea tarif lelang.

Kakanwil memberikan peringatan paling lambat 7 hari kalender berdasarkan hasil periksaan langsung/tdk lansung Pejabat lelang yg tdk mengindahkan surat peringatan tertulis dlm tenggang waktu 14 hari sejak diterimanya surat peringatan tsb diusulkan utk dibebas tugaskan.

Pembebastugasan Pejabat Lelang


Pejabat Lelang diusulkan utk dibebastugaskan dlm hal terdapat indikasi : a. Tidak mengindahkan peringatan ; b. tidak melaksanakan kewajiban; c. melanggar larangan; d. Melakukan kesalahan sebagaimana diatur dlm pasal 17 ayat (1) sebanyak tiga kali ; e. telah berstatus sbg terdakwa dlm kasus
tindak pidana dg ancaman hukuman penjara

Usulan pembebastugasan diajukan oleh KP2LN kepada Kakanwil DJPLN utk diteruskan ke Dirjen PLN. Pejabat lelang dibebastugaskan oleh Dirjen atas nama Menkeu. Pembebastugasan tersebut berlaku utk jangka waktu 6 bln dan apbl terjadi pelanggaran lagi utk hal-hal yg telah disebutkan di atas akan dibebas tugas utk kedua kalinya selama satu tahun. Apbl terjadi pengulangan pelanggaran/kesalahan utk ketiga kalinya pejabat lelang kelas I tsb akan dibertikan tdk dg hormat. utk pejabat lelang kelas I yg berstatus terdakwa spt di atas dibebas tugaskan selama 6 bulan, dan dpt diperpanjang sampai 2 tahun apabila pemrosesan atas pelanggarannya belum selesai. Apbl proses tsb sampai 2 tahun belum selesai yg bersangkutan diberhentikan dg hormat; Apabila indikasi pelanggaran tidak terbukti, mk pejabat lelang yg telah diberhentikan tsb dpt diangkat kembali.

Pemberhentian Pejabat Lelang


Pejabat lelang diusulkan utk diberhentikan dg hormat dlm hal ; a. Meninggal dunia; b. Pensiun; c. tdk mampu scr jasmani dan rohani utk melaksanakan tugas jabatannya; d. telah berstatus sbg terdakwa dlm kasus
tindak pidana dg ancaman hukuman penjara dan telah dibebastugaskan selama 2 tahun.

Pemberhentian tdk dg hormat


a. melayani dan melalukan lelang diluar kewenangannya; b. dg sengaja tdk hadir dlm pelaksanaan lelang; c. dijatuhi hukuman pid penjara berdasarkan put pengadilan yg telah mempunyai kekuatan hukum tetap; d. Melakukan pelanggaran pasal 20 ayat (3) e. rangkap jabatan sbg pejabat neg, pengacara, jabatan lain yg oleh peraturan perundangundangan dilarang.

Usulan pemberhentian Pejabat Lelang tsb diajukan oleh Kakanwil kepada Dirjen PLN, dg tembusan kepada Kepala KP2LN Pengajuan usulan tsb disertai bukti sesuai pasal 23 Pejabat lelang diperhentikan oleh Dirjen atas nama Menkeu.
Pembebastugasan dan pemberhentian tsb tdk mengurangi tuntutan perdata dan pidana berdasarkan peraturan perundangundangan yg berlaku.

Pembinaan Pejabat Lelang Kelas II Pembinaan pejabat lelang berupa pengawasan pelaksanaan lelang, pemberian penghargaan atau sanksi Pembinaan Pejabat Lelang kelas II dilakukan oleh Dirjen. Kakawil DJPLN melakukan pembinaan thdp pejabat lelang kelas I yg berkedudukan di wilayahnya. Kakanwil melakukan Pembinaan terkait dg pelaksanaan pejabat lelang kelas II, meliputi : a. Penilaan kinerja b. Pemeriksaan langsung atau tdk langsung yg hasilnya disampaikan kpd Dirjen DJPLN c. Menindaklanjuti sanksi yg dijatuhkan oleh direktorat Jenderal d. Memberikan saksi peringatan tertulis e. Melakukan pengawasan pelaksanaan lelang f. Menerima atau menolak permohonan cuti

Penilaian kinerja Pejabat Lelang Kelas II, didasarkan pada : a. Kualitas pelayanan lelang, meliputi :
1. Kecernatan dlm pembuatan minuta risalah lelang dan turunannya 2. Kecermatan dalam menganalisa dokumen 3. Kelancaran dan ketertiban pelaksanaan lelang 4. Optimalisasi harga b. Kuantitas pelaksanaan lelang, meliputi : 1. Jumlah minutah risalah lelang, salinan , kutipan dan grose yg dihasilkan baik kondisi barang laku, ditahan atau tdk a da penawaran 2. Jumlah harga lelang, bea lelang, dan pungutan pajak/lain yg sah dr pelaksanaan lelang yg dicapai - Penilaian kinerja dilakukan paling sedikit satu tahun sekali - Utk melakukan penilaian kinerja Kakanwil dpt menunjuk pejabat/pegawai dilingkungannya - Penilaian menggunakan standar Pemeriksaan yg ditetapkan Dirjen - Hasil penilaian dilaporkan ke Direktur Lelang, dg usul pemberian penghargaan atau sanksi - Direktur lelang menganalisa dan meneliti penilaian dan dan meneruskan usul tsb kpd Dirjen

PEMERIKSAAN
Untuk melakukan pemeriksaan pelaksanaan lelang, Kakanwil DJPLN dapat menunjuk pejabat/pegawai dilingkungan Kanwil DJPLN . Pejabat lelang yg diperiksa wajib memperhatikan risalah lelang, buku, catatan.dokumen dan memberikan keterangan atas pelaksanaan lelang yg diperlukan dlm pemeriksaan.

Peringatan Tertulis
Peringatan tertulis diberikan pd pejabat lelang kelas II, dlm hal : a. Terlambat atau tdk membuat risalah lelang b. Tdk melakukan pem bukuan c. Terlambat atau tdk membuat kutipan dan salinan risalah lelang d. Terlambat menyetorkan bagian perurugi superintenden pengenaan bea tarif lelang. Kakanwil memberikan peringatan paling lambat 7 hari kalender berdasarkan hasil periksaan langsung/tdk lansung Pejabat lelang yg tdk mengindahkan surat peringatan tertulis dlm tenggang waktu 14 hari sejak diterimanya surat peringatan tsb diusulkan utk dibebas tugaskan.

Pembebastugasan Pejabat Lelang


Pejabat Lelang diusulkan utk dibebastugaskan dlm hal terdapat indikasi : a. Tidak mengindahkan peringatan ; b. tidak melaksanakan kewajiban; c. melanggar larangan (Pasal 12c s/d h); d. Melakukan kesalahan dlm pembuatan risalah lelang yg bersifat prinsipiil, antara lain data obyel lelang, harga lelang dan/ pengenaan bea tarif lelang; e. telah berstatus sbg terdakwa dlm kasus
tindak pidana dg ancaman hukuman penjara

Usulan pembebastugasan diajukan oleh KP2LN kepada Kakanwil DJPLN utk diteruskan ke Dirjen PLN. Pejabat lelang dibebastugaskan oleh Dirjen atas nama Menkeu. Pembebastugasan tersebut berlaku utk jangka waktu 6 bln dan apbl terjadi pelanggaran lagi utk hal-hal yg telah disebutkan di atas akan dibebas tugas utk kedua kalinya selama satu tahun. Apbl terjadi pengulangan pelanggaran/kesalahan utk ketiga kalinya pejabat lelang kelas II tsb akan diberhentikan tdk dg hormat. utk pejabat lelang kelas II yg berstatus terdakwa spt di atas dibebas tugaskan selama 6 bulan, dan dpt diperpanjang sampai 2 tahun apabila pemrosesan atas pelanggarannya belum selesai. Apbl proses tsb sampai 2 tahun belum selesai yg bersangkutan diberhentikan dg hormat; Apabila indikasi pelanggaran tidak terbukti, mk pejabat lelang yg telah diberhentikan tsb dpt diangkat kembali.

Pemberhentian Pejabat Lelang


Pejabat lelang diusulkan utk diberhentikan dg hormat dlm hal ; a. Meninggal dunia; b. Permintaan sendiri; c. Mencapai usia 65 th; d. tdk mampu scr jasmani dan rohani utk melaksanakan tugas jabatannya; e. telah berstatus sbg terdakwa dlm kasus
tindak pidana dg ancaman hukuman penjara dan telah dibebastugaskan selama 2 tahun.

Pemberhentian tdk dg hormat


a. b. c. d. e. f. melayani dan melalukan lelang diluar jabatannnya melayani dan melalukan lelang diluar kewenangannya; dg sengaja tdk hadir dlm pelaksanaan lelang; dijatuhi hukuman pid penjara berdasarkan put pengadilan yg telah mempunyai kekuatan hukum tetap; Melakukan pelanggaran pasal 30 ayat (3) Tdk lagi berkedudukan di wilayah jabatannya scr terus menerus selama 30 hari tanpa alasan yg jelas rangkap jabatan sbg pejabat neg, pengacara, jabatan lain yg oleh peraturan perundangundangan dilarang.

g.

Usulan pemberhentian Pejabat Lelang tsb diajukan oleh Kakanwil kepada Dirjen PLN, dg tembusan kepada Kepala KP2LN Pengajuan usulan tsb disertai bukti sesuai pasal 23 Pejabat lelang diperhentikan oleh Dirjen atas nama Menkeu.
Pembebastugasan dan pemberhentian tsb tdk mengurangi tuntutan perdata dan pidana berdasarkan peraturan perundangundangan yg berlaku.