Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ALAT DETEKSI DAN PENGUKURAN RADIASI

Alat Ukur Radiasi di Bidang Kedokteran Nuklir

DISUSUN OLEH:

AGUNG KURNIAWAN
NIM 030800152

JURUSAN TEKNOFISIKA NUKLIR PRODI ELEKTROMEKANIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL 2010

Jalan Babarsari PO BOX 6101/YKBB, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281 Telp (0274) 484085 Fax (0274) 489715

PENDAHULUAN
Semakin bertambah baiknya kondisi sosial ekonomi masyarakat di Indonesia sebagai hasil dari pembangunan nasional yang berkesinambungan maka terjadi peningkatan pemenuhan kebutuhan kesehatan oleh setiap individu. Selain itu pola epidemiologi penyakit di Indonesia juga mengalami pergeseran terutama di kota-kota besar sehingga saat ini penyakit kardiovaskuler, serebrovaskuler, degeneratif, dan onkologi telah termasuk dalam 10 jenis penyakit pembunuh terbanyak. Oleh karena itu perlu suatu terobosan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. Peranan dari ilmu kedokteran nuklir dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi penanggulangan berbagai masalah kesehatan itu. Aplikasi teknik nuklir dalam bidang kedokteran merupakan suatu terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting di abad 20. Penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran telah dimulai pada tahun 1901 oleh Henri Danlos yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit tubercolusis pada kulit. Namun yang dianggap Bapak Ilmu Kedokteran Nuklir adalah George C. de HEVESSY, dialah yang meletakkan dasar prinsip perunut dengan menggunakan radioisotop alam Pb-212. Dengan ditemukannya radioisotop buatan maka radioisotop alam tidak lagi digunakan. Bidang iptek ini, yang sekarang berkembang pesat dan dikenal sebagai ilmu kedokteran nuklir. Kedokteran Nuklir adalah cabang dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan radiofarmaka (senyawa kompleks dari radioisotop sumber terbuka berumur paro relatif pendek dengan suatu sediaan farmasi yang spesifik untuk organ tertentu) dan peralatan deteksi nuklir (deteksi sinar gamma atau beta) yang dilengkapi perangkat lunak khusus untuk mengetahui fungsi dan atau anatomi organ tertentu dalam rangka diagnostik suatu kelainan / penyakit dan atau terapi penyakit. Keunggulan kedokteran nuklir adalah kemampuannya mendeteksi bahan-bahan yang ditandai dengan perunut radioaktif. Di samping itu teknik nuklir berperan pula dalam kajian-kajian dan penelitian-penelitian untuk lebih memahami proses fisiologi dan patofisiologi dari kelainan yang terjadi di berbagai organ tubuh manusia sampai tingkat seluler bahkan molekuler. Berbagai disiplin ilmu kedokteran seperti endokrinologi, nefrologi, kardiologi, neurologi, onkologi dan sebagainya telah lama memanfaatkan teknik ini. Perkembangan ilmu kedokteran nuklir yang sangat pesat tersebut dimungkinkan berkat dukungan dari perkembangan teknologi instrumentasi untuk pembuatan citra terutama dengan digunakannya komputer untuk pengolahan data sehingga sistem instrumentasi yang dahulu hanya menggunakan detektor radiasi biasa dengan sistem elektronik yang sederhana, kini telah berkembang menjadi peralatan canggih kamera gamma dan berbagai peralatan lain yang dapat menampilkan citra alat tubuh, baik dua dimensi maupun tiga dimensi serta statik maupun dinamik. Dewasa ini, aplikasi tenaga nuklir dalam bidang kesehatan telah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam menegakkan diagnosis maupun terapi berbagai jenis penyakit. Berbagai disiplin ilmu kedokteran seperti ilmu penyakit dalam, ilmu penyakit syaraf, ilmu penyakit jantung, dan sebagainya telah mengambil manfaat dari teknik nuklir ini.

DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL......................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN............................................................................................................................. 2 DAFTAR ISI..................................................................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................................... 4
i.

DAFTAR GAMBAR.................................................................................................................. 4

ii. DAFTAR BLOK DIAGRAM..................................................................................................... 5 iii. DAFTAR TABEL....................................................................................................................... 6

PEMBAHASAN............................................................................................................................... 7 A. Kedokteran Nuklir dan Jenis-jenis Teknik yang Digunakan...................................................... 7 B. Peralatan...................................................................................................................................... 9 I. Teknik in-Vitro...................................................................................................................... 9 Pencacah Gamma dengan Detektor Sintilasi NaITl

II. Teknik in-Vivo....................................................................................................................... 10 II.1 Teknik in-Vivo imaging................................................................................................ 10

Kamera Gamma
II.2 Teknik in-Vivo non-Imaging........................................................................................ 14 Renograf

PENUTUP......................................................................................................................................... 18 Kesimpulan........................................................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................ 19

TINJAUAN PUSTAKA
i. DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Kamera Gamma......................................................................................................... 10 Tampilan Menu Utama.............................................................................................. 11 Tampilan Menu Pasien.............................................................................................. 12 Tampilan Menu Akusisi............................................................................................ 12 Tampilan Laporan Hasil Analisis.............................................................................. 13 Slide Materi Pembelajaran........................................................................................ 13 Perangkat Keras Renograf Dual Probes.................................................................... 15 Tampilan Perangkat Lunak Reno XP........................................................................ 16 Kurva Renogram....................................................................................................... 16 Tipikal Pola-pola Renogram..................................................................................... 17

ii. DAFTAR BLOK DIAGRAM

Halaman Blok Diagram 1 Blok Diagram 2 Blok Diagram 3 Sistem Pengukuran Radiasi dengan Detektor Sintilasi................................. 9 Kamera Gamma............................................................................................. 10 Renograf BI-756............................................................................................ 15

iii. DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1 Perbedaan Pencitraan Kedokteran Nuklir dan Radiologi......................................... 8

PEMBAHASAN

Kedokteran Nuklir dan Jenis-jenis Teknik yang Digunakan Kedokteran Nuklir adalah cabang dari ilmu kedokteran yang memanfaatkan radiofarmaka (senyawa kompleks dari radioisotop sumber terbuka berumur paro relatif pendek dengan suatu sediaan farmasi yang spesifik untuk organ tertentu) dan peralatan deteksi nuklir (deteksi sinar gamma atau beta) yang dilengkapi perangkat lunak khusus untuk mengetahui fungsi dan atau anatomi organ tertentu dalam rangka diagnostik suatu kelainan/penyakit dan atau terapi penyakit. Pada kedokteran nuklir, radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien (studi in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine dan sebagainya, yang diambil dari tubuh pasien yang lebih dikenal sebagai studi in-vitro (dalam gelas percobaan). Teknik in-vitro adalah teknik dimana cuplikan biologik dari subyek penelitian direaksikan dengan suatu radioisotop didalam tabung dalam rangka penetapan kadar zat tertentu didalam cuplikan tersebut untuk keperluan diagnostik fungsi organ atau sistem. Salah satu teknik invitro yang banyak dipakai adalah teknik Radio Immuno Assay (RIA) dan Immuno Radio Metric Assay (IRMA). Alat utamanya adalah Pencacah Gamma (Gamma Counter). Zat-zat yang dapat ditetapkan kadarnya adalah hormon, protein endogen, obat, penanda tumor, penanda infeksi dan lain-lain. Pada studi in-vivo, setelah radioisotop dapat dimasukkan ke dalam tubuh pasien melalui mulut atau suntikan atau dihirup lewat hidung dan sebagainya maka informasi yang dapat diperoleh dari pasien dapat berupa:
1. Citra atau gambar dari organ atau bagian tubuh pasien yang dapt diperoleh dengan bantuan

peralatan yang disebut kamera gamma ataupun kamera positron (teknik in-vivo imaging).
2. Kurva-kurva kinetika radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu dan angka-angka yang

menggambarkan akumulasi radioisotop dalam organ atau bagian tubuh tertentu disamping citra atau gambar yang diperoleh dengan kamera positron.
3. Radioaktivitas yang terdapat dalam contoh bahan biologis (darah, urine dan sebagainya) yang

diambil dari tubuh pasien, dicacah dengan instrumen yang dirangkaikan pada detektor radiasi (teknik in-vivo non-imaging). Data yang diperoleh baik dengan teknik imaging maupun non-imaging memberikan informasi mengenai fungsi organ yang diperiksa.

Teknik in-vivo imaging adalah teknik dimana radiofarmaka (yang spesifik untuk organ tertentu) diberikan kepada subyek penelitian (secara oral, parenteral, inhalasi dan lain-lain) kemudian dilakukan pendeteksian sinar gamma dari radioisotop yang terakumulasi didalam organ target dengan alat pendeteksi. Pendeteksian dapat dilakukan secara planar dinamik (cacahan perimage per satuan waktu secara serial sejak sesegera setelah radiofarmaka disuntikkan sampai dengan waktu tertentu) atau planar statik (cacahan per-image per satuan waktu, setelah jeda waktu tertentu paska penyuntikkan radiofarmaka) atau SPECT (suatu teknik tomografi) atau pencacahan seluruh tubuh (whole body). Data yang dihasilkan berupa gambar serial, kurva cacahan VS waktu, hasil analisis kuantitatif oleh perangkat lunak, gambar statik biasa, gambar statik tomografik atau gambar seluruh tubuh. Alat utamanya adalah Kamera Gamma (Gamma Camera) Planar atau SPECT.
7

Pemeriksaan fungsi organ (disebut juga scanning) yang dapat dilakukan adalah otak, kelenjar air mata, kelenjar ludah, tiroid, paru, jantung, kelenjar mamae, lambung, usus, ginjal, hati, limpa, empedu, tulang (spot atau seluruh tubuh), kelenjar getah bening, infeksi dan lain-lain. Teknik in-vivo non-imaging adalah teknik dimana radiofarmaka (yang spesifik untuk organ tertentu) diberikan kepada subyek penelitian (secara oral atau parenteral) kemudian dilakukan pendeteksian sinar gamma atau betha dari radioisotop yang terakumulasi didalam organ target dengan alat pendeteksi dan data yang dihasilkan berupa cacahan atau kurva cacahan VS waktu. Alat yang digunakan misalnya adalah Renograf, Thyroid Uptake, Heliprobe dan lain-lain. Pemeriksaan fungsi organ yang dapat dilakukan adalah ginjal, tiroid, infeksi Helicobacter pylori, dan lain-lain. Pencitraan (imaging) pada kedokteran nuklir dalam beberapa hasil-berbeda dengan pencitraan dalam radiologi, ditampilkan dalam tabel di bawah. Parameter Sumber Radiasi Pembentukan Citra Informasi yang diberikan Kedokteran Nuklir Zat radioaktif yang terbuka Radiologi Pesawat pembangkit radiasi

Emisi radiasi, perbedaan akumulasi Transmisi radiasi; perbedaan daya radioisotop dalam berbagai bagian tembus radiasi terhadap berbagai tubuh bagian tubuh Terutama fungsional Terutama anatomis-morfologis

Tabel 1. Perbedaan Pencitraan Kedokteran Nuklir dan Radiologi

Peralatan I. Teknik in-Vitro Pencacah Gamma dengan Detektor Sintilasi NaITl Pembahasan Detektor Sintilasi NaITl Detektor sintilasi berfungsi sebagai alat konversi dari radiasi gamma menjadi sinar tampak dengan waktu yang sangat cepat (kerlipan cahaya). Detektor sintilasi dengan bahan sintilator yang berasal dari kristal sodium iodine (NaI) dan aktivator thalium (Tl) dikenal dengan nama detektor sintilasi NaI(Tl). Aktivator thalium yang muncul sebagai impuritas dalam struktur kristal, mempermudah terjadinya perubahan energi yang terserap ke dalam kristal menjadi cahaya. Simbol kimia dari kristal sodium iodine dan thalium adalah NaI(Tl).

Tabung pengganda elektron (PMT) Proses sintilasi yang dihasilkan oleh kristal mempunyai intensitas cahaya yang belum cukup kuat untuk dapat dilihat. Untuk itu perlu dikonversikan dalam bentuk pulsa elektronik, proses konversi dari cahaya menjadi arus listrik dilakukan oleh tabung pengganda elektron (PMT).

Kolimator Pancaran radiasi yang mengenai objek akan memancarkan radiasi hambur, dan mempengaruhi ketajaman gambar yang dihasilkan. Untuk mengatasi hal tersebut digunakan suatu alat yang disebut kolimator. Kolimator hanya meneruskan radiasi yang searah dengan detektor, sedangkan yang tidak searah akan diserap oleh kolimator.

Anoda

Radiasi

Bahan Sintilator

cahaya

Photo Multiplier Tube

dapat memancarkan cahaya

Katoda

Meter

Blok Diagram 1. Diagram Sistem Pengukuran Radiasi dengan Detektor Sintilasi

II. Teknik in-Vivo Teknik ini terbagi menjadi dua, antara lain teknik in-vivo imaging dan teknik in-vivo nonimaging. II.1 Teknik in-Vivo imaging Kamera Gamma Pembahasan Kamera Gamma Peralatan Kamera Gamma merupakan alat diagnostik medik yang dapat menghasilkan citra anatomi dan fungsi organ dengan cara mendeteksi berkas radiasi dari radioisotop.

Gambar 1. Kamera Gamma

Secara garis besar peralatan Kamera Gamma terdiri dari 3 bagian yaitu bagian deteksi, bagian pencitraan dan bagian mekanik. Bagian deteksi terdiri dari detektor kristal sintilator NaI(Tl), penguat awal dan bagian pengolah sinyal, dari bagian ini dihasilkan sinyal berbobot posisi X, Y dan Z. Bagian pencitraan terdiri dari modul antar muka dan perangkat lunak akuisisi dalam komputer, bagian ini mengolah sinyal masukan menjadi suatu citra obyek. Sedang bagian mekanik terdiri dari beberapa sistem mekanik beserta kontrol penggerak mekanik. Blok diagram Kamera Gamma diperlihatkan dalam blok diagram 2.

Blok Diagram 2. Kamera Gamma

10

Pemakaian alat untuk pemeriksaan pasien secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut. Mula-mula pasien dilakukan penanganan klinis sesuai dengan kasus yang dideritanya, kemudian pasien ditempatkan pada meja pasien, detektor diarahkan kebagian organ yang diperiksa. Detektor akan mendeteksi zarah radiasi yang dipancarkan oleh isotop yang terakumulasi dalam organ pasien. Pulsa-pulsa listrik yang dihasilkan oleh detektor akan dikuatkan oleh rangkaian penguat awal, oleh bagian pengolah sinyal pulsa tersebut dibobotkan kedalam bentuk sinyal posisi berdimensi X dan Y. Selain itu, pulsa keluaran detektor juga dicek kebenarannya sebagai bobot energi oleh penganalisis tinggi pulsa (Single Chanel Analyzer), sehingga pulsa yang sesuai dengan bobot energi isotop saja yang dilewatkan, oleh teknik logika pulsa ini dibentuk menjadi sinyal Z. Sinyal X, Y dan Z yang dihasilkan, diumpankan ke bagian masukan modul antarmuka pencitraan untuk diubah menjadi sinyal digital agar dapat dipahami oleh perangkat lunak akuisisi pada komputer. Hasil perekaman data akan dicitrakan oleh perangkat lunak akuisisi Medicview menjadi citra organ pasien, selanjutnya citra organ ini dilakukan analisis menggunakan studi pasien, pengolahan data citra, penyimpanan file, pelaporan dan pengiriman file kepada dokter maupun bagian lain untuk penanganan lebih lanjut.

Perangkat Lunak Medicview Pengoperasian perangkat lunak pelatihan ini sama seperti pengoperasian perangkat lunak Medicview saat digunakan untuk akuisisi data pasien. Setelah program diaktifkan, akan tertampil Menu Utama yang berisi beberapa short cut fungsi operasi seperti diperlihatkan pada Gambar 2. Fungsi dari setiap short cut diterangkan dalam manual Medicview Akuisisi.

Gambar 2. Tampilan Menu Utama

Dari short cut Patient akan ditampilkan menu pasien, yang berisi daftar semua nama pasien yang tercantum pada kotak daftar pasien dan nama studi pasien yang tercantum pada kotak studi pasien. Data pasien beserta studinya merupakan data yang sudah tetap dan nantinya akan diproses kembali pada saat akuisisi data. Tampilan menu pasien diperlihatkan dalam Gambar 3. Pilih nama pasien yang akan dilakukan pemeriksaan, maka akan tertampil form isian data pasien yang telah terisi, kemudian pilih akuisisi sehingga tertampil menu akuisisi seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 4. Dalam menu akuisisi tertampil beberapa parameter pengaturan seperti arah posisi pasien, pembesaran citra, pengaturan warna citra, posisi pasien, citra organ yang diperiksa dan daftar materi teori pembelajaran. Jika pengaturan dirasakan telah cukup, selanjutnya dimulai pengambilan data dengan menekan Start Recording, lamanya akuisisi data sesuai dengan batas waktu atau jumlah
11

cacah yang telah ditentukan, setelah selesai akuisisi data kemudian tampilan akan kembali ke menu pasien.

Gambar 3. Tampilan Menu Pasien

Gambar 4. Tampilan Menu Akusisi

Hasil akuisisi data yang tersimpan dalam daftar studi pasien selanjutnya dilakukan analisis citra atau pengolahan hasil citra. Hasil analisis disimpan atau dapat dilaporkan kepada yang berkepentingan melalui pencetakan atau jaringan. Salah satu hasil analisis (contoh: analisis ginjal) diperlihatkan dalam gambar 5.

12

Gambar 5. Tampilan Laporan Hasil Analisis

Salah satu slide materi pembelajaran dalam bidang instrumentasi nuklir diperlihatkan pada Gambar 6. Dari menu yang tersedia, pengguna dapat leluasa mencoba semua shortcut, melakukan pengaturan citra dan melakukan analisis hasil citra tanpa khawatir melakukan kesalahan maupun akibat lainnya. Dengan sering mencoba media pembelajaran ini dan dengan didasari pengetahuan penanganan klinis, diharapkan dapat membantu

meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pengguna, sehingga tidak gamang lagi nantinya dalam mengoperasikan peralatan Kamera Gamma.

Gambar 6. Slide Materi Pembelajaran

13

II.2 Teknik in-Vivo non-Imaging Renograf Pembahasan Renograf Renograf adalah salah satu alat yang dipergunakan dalam kedokteran nuklir untuk membuat grafik fungsi ginjal (renal) dalam pemeriksaan dari luar tubuh (in-Vivo). Dasar renograf adalah Spektrometri gamma yang di desain untuk kepentingan dalam bidang kedokteran yang menyangkut prinsip keserdehanaan dan kemudahan dalam pengoperasian artinya alat tersebut mudah dioperasikan, tidak perlu persyaratan awal maupun pengaturan lebih lanjut. Alat ini mampu berperan sebagai pemantau dan pencacah aktivitas dari perunut radiofarmaka yang datang, ditangkap dan dikeluarkan oleh ginjal. Renograf dengan detektor dual probe merupakan peralatan yang relatif sederhana yang memanfaatkan teknik nuklir. I-131 disuntikan pada pasien untuk menguji fungsi ginjal. Keluarannya berupa kurva hubungan antara waktu dengan aktivitas. Kurva tersebut dikenal dengan renogram. Unit Renograf Dual Probe terdiri dari dua buah Spektrometer yang dipadukan bersama yang terdiri dari sistem Penyedia daya tegangan DC, Detektor NaI(Tl), Penguat awal, Penguat utama, TSCA, Counter/Timer, Interface dan personal komputer sebagai akuisisi data. Prinsip kerjanya adalah sinar radiasi gamma yang datang akan diterima oleh detektor NaI(Tl) dan oleh detektor akan diubah menjadi pulsa listrik, selanjutnya pulsa keluaran detektor akan dibentuk menjadi pulsa semi gaussian dan dikuatkan oleh penguat awal, kemudian dikuatkan lagi pada penguat utama sehingga pulsa keluaran berupa pulsa gaussian dengan tinggi pulsa yang sudah memenuhi syarat untuk dianalisa dan diubah menjadi bentuk digital pada TSCA yang selanjutnya pulsa digital akan dicacah pada counter. Pulsa keluaran TSCA disamping masuk ke counter juga sebagai masukan Interface untuk ditampilkan dalam bentuk grafik pada layar monitor. Pengujian sistem elektronik perlu dilakukan guna mengetahui kualitas Renograf serta untuk memenuhi standar intrumentasi nuklir yang telah ditentukan. Uji fungsi dan rekalibrasi ini dilakukan setelah dilakukan perbaikan karakteristik sistem dan pemakaian pada kurun waktu satu tahun. Karakteristik utama yang diuji adalah Penyedia Daya Tegangan DC yaitu LV dan HV, stabilitas HV dan tegangan ripelnya, pulsa keluaran Penguat utama, pulsa keluaran TSCA, Counter/Timer dan Interface.

Deskripsi Peralatan Sistem deteksi radiasi pada Renograf terdiri dari detektor sintilasi NaI(Tl) serta peralatan elektronika disusun seperti pada gambar blok diagram 3 dan diset-up pada kondisi kerja optimumnya agar diperoleh pencacahan yang benar dengan mengacu sistem deteksi radiasi .

14

Blok Diagram 3. Renograf BI-756

1. Perangkat Keras Bagian utama dari perangkat keras peralatan renograf adalah : Detektor Probes Detektor yang digunakan sebagai probes adalah jenis Scintilasi (Nal(TI)). Detektor dilengkapi dengan kolimator dari bahan timbal untuk mengarahkan ke masing-masing ginjal dan menghindari cross talk antar ginjal, serta menekan gangguan latar (back ground). Probes ini dapat terpasang secara khusus pada kursi pasien, maupun pada statif tegak. Dengan statif tegak nenubgkinkan penggunaan sistem ini untuk keperluan lain, misalnya dengan perangkat unak khusus sebagai pengukur Thyroid Uptake, atau untuk keperluan prosedur lain yang dikembangkan lebih lanjut.

Gambar 7. Perangkat Keras Renograf Dual Probes

Catu daya detektor dan unit pemroses sinyal Catu daya detektor memberikan tegangan tinggi (sekitar 1000 VDC)

yangdiperlukan untuk operasi detektor. Pemroses sinyal memperkuat sinyal dari detektor, membentuk sinyal menjadi pulsa gaussian, memisahkan pulsa sesuai pilihan energi isotop dengan teknik Single Channel Analyzer (SCA), serta mencacah pulsa per 4 detik. Saat ini unit detektor terdiri dari Modul Tegangan Tinggi dan Add-On Card untuk ISA bus. Untuk mengikuti trend perkembangan komputer sedang dikembangkan modul akuisis data dengan memanfaatkan teknologi Universal Serial Bus (USB).

15

Gambar 8. Tampilan Perangkat Lunak Reno XP

2. Perangkat Lunak (software) Tersedia beberapa versi software yang digunakan dengan sistem operasi DOS, Window 98, dan Window XP. Versi DOS memungkinkan pemanfaatan komputer lama jenis 486, sedangkan versi Windows yang memerlukan PC Pentium (dengan memori minimum 16 MB untuk Window 98 dan 32 MB untuk Window XP) lebih menawarkan kemudahan bagi operator (user friendly). Operasi perangkat lunak renograf mengharuskan operator setiap hari melakukan uji kualitas alat (spectum check, ULD-LLD setting, Chi-Square Test) sebelum digunakan untuk pemeriksaan pasien. Secara umum aplikasi renograf terdiri dari: akuisisi data pasien baru, menyimpan data pasien, membuka kembali/memeriksa/menganalisa file data pasien, dan mencetak data hasil pemeriksaan. Parameter yang ditampilkan meliputi cacah (count) maksimum masing-masing ginjal beserta waktu pencapaiannya, waktu pencapaian 2/3 dan T1/2, reno indeks, up-take relatif, serta cacah pada menit ke sepuluh.

Kurva Renogram Berdasarkan renogram akan memberikan informasi tentang keadaan fungsi ginjal meliputi respon vasculer, kapasitas uptake dan kemampuan mengeluarkan perunut. Ada beberapa pola bentuk renogram yang berkaitan dengan kelainan fungsi ginjal yang dipergunakan sebagai acuan dalam dianogse.

Gambar 9. Kurva Renogram

16

Kurva renogram seperti dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: 1. Fase pertama disebut fase pembuluh darah (respon vasculer). 2. Fase kedua disebut uptake atau konsentrasi. 3. Fase ketiga disebut fase ekskresi atau eliminasi.

Fase I, berlangsung sangat cepat sekali yaitu hanya berlangsung sekitar 12 detik, terjadinya setelah perunut radioisotop disuntikkan kedalam pembuluh darah. Fase II, menggambarkan kapasitas pengambilan bahan perunut oleh ginjal (sistem nefron) akan terjadi proses sekresi tubuler dan filtrasi glomerular. Perunut akan bertambah sampai terjadi puncak kesetimbangan (T max.) yang sebelumnya akan menurun (awal sekresi). Pada keadaan normal fase kedua ini berlangsung antara 2-5 menit setelah injeksi. Kemiringan (inclination) dari fase II dapat memberikan informasi kondisi proses ginjal. Fase III, menggambarkan proses ekskresi atau pembuangan (eliminasi) perunut radioisotop dari ginjal. Laju dan bentuk kurva dari fase III ini mencerminkan keadaan fungsional segmen ekskresi dari ginjal mulai dari pelvis renalis sampai dengan ureter. Dalam analisis kurva renogram, dilakukan dengan melihat beberapa ciri atau parameter meliputi: Kemiringan (Slope) dari setiap fase, Waktu paruh dari kurva naik maupun turun, Perbandingan (Ratio) dari level laju pencacahan.

Tipikal Pola-pola Renogram

Gambar 10. Tipikal Pola-pola Renogram

17

PENUTUP
Kesimpulan 1. Ilmu kedokteran nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka berasal dari desintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajiri perubahan fisiologis, anatomi, dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran. 2. Pada kedokteran nuklir, radioisotop dimasukkan ke dalam tubuh pasien (in-vivo) maupun hanya direaksikan saja dengan bahan biologis antara lain darah, cairan lambung, urine dan sebagainya, yang diambl dari tubuh pasien yang dikenal dengan studi in-vitro. 3. Alat utama teknik in-vitro adalah Pencacah Gamma (Gamma Counter). Zat-zat yang dapat ditetapkan kadarnya adalah hormon, protein endogen, obat, penanda tumor, penanda infeksi dan lain-lain. 4. Teknik in-vivo terbagi menjadi dua, antara lain teknik in-vivo imaging dan teknik in-vivo nonimaging. 5. Alat utama teknik in-vivo imaging adalah Kamera Gamma (Gamma Camera) Planar atau SPECT. Pemeriksaan fungsi organ (disebut juga scanning) yang dapat dilakukan adalah otak, kelenjar air mata, kelenjar ludah, tiroid, paru, jantung, kelenjar mamae, lambung, usus, ginjal, hati, limpa, empedu, tulang (spot atau seluruh tubuh), kelenjar getah bening, infeksi dan lainlain. 6. Alat utama yang digunakan pada teknik in-vivo non-imaging misalnya adalah Renograf, Thyroid Uptake, Heliprobe dan lain-lain. Pemeriksaan fungsi organ yang dapat dilakukan adalah ginjal, tiroid, infeksi Helicobacter pylori dan lain-lain.

18

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=8&ved=0CBwQFjAH&url=http% 3A%2F%2Fwww.batan.go.id%2Fptkmr%2FAlara%2FBulAlara%2520Vol%25201_1%2520Ags %252097%2FBAlara1997_01108_021.pdf&ei=FCRISP1Kors7AOnlMDXCw&usg=AFQjCNGwx7_iIHcsit73Fc2EbHOusbHgAw, diakses pada tanggal 9 Januari 2010.

http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:pi1eMSkpPwJ:www.aagos.ristek.go.id/nuklir/renograf_dual_robes.pdf+renograf&hl=id&gl=id&pid =bl&srcid=ADGEEShtSMJthu3ioq1b9VmeFGCyqGTIqM4n4P5E8KoRcZuvx9pVo3MB36eJKIqUtMelKqqDGtUIE16W94QIOBoo_1LmWVAxCAuTMpbFECokQJninmjjC7ExbBuhURLkn zw7MZFirl5&sig=AHIEtbSuQwAnaBwHUaYB-0cpU9x2vXZ_tQ, diakses pada tanggal 9 Januari 2010.

http://www.infonuklir.com/modules/news/makepdf.php?storyid=60, diakses pada tanggal 10 Januari 2010.

http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2008/06/22-djuningran-229-239.pdf, pada tanggal 10 Januari 2010.

diakses

http://jurnal.sttn-batan.ac.id/wp-content/uploads/2008/06/39-sigit-bachtiar-hal-391-397.pdf, diakses pada tanggal 10 Januari 2010.

http://adigayani.blogspot.com/2009/08/detektor-sintilasi.html, diakses pada tanggal 31 Januari 2010.

19