Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN AVES (UNGGAS)

A. KARAKTERISTIK KELAS AVES Aves adalah vertebrata dengan tubuh yang ditutupi oleh bulu (asal epidermal), sedangkan hewan lainnya tidak ada yang berbulu. Aves adalah vertebrata yang dapat terbang, karena mempunyai sayap yang merupakan modifikasi anggota gerak anterior. Sayap pada aves berasal dari elemen-elemen tubuh tengah dan distal. (Pada fosil Pterodactyla = reptilian dan Chiroptera = mammalian terbang, sayap berasal dari elemen-elemen tubuh distal). Kaki pada aves digunakan untuk berjalan, bertengger, dan berenang (dengan selaput interdigital). Karakteristik tengkorak meliputi tulang-tulang tengkorak yang berfunsi kuat, paruh berzat-tanduk. Aves tidak bergigi. Mata besar, kondil oksipetal tuggal. Telinga tengah mempunyai sebuah osikel auditori. Ada sebuah meatus auditori eksternal. Mata berkembang baik, dengan kelopak mata dan membran niktilans. Pada mata terdapat struktur vascular yang disebut pekten yang terletak dalam rongga humor vitreus. Mempunyai kelenjar air mata. Otak mempunyai serebrum dan lobus optikus yang berkembang baik, mempunyai 12 pasang saraf kranial. Respirasi dengan paru-paru yang berhubungan dengan sejumlah kantungkantung udara sebagai alat pernapasan tambahan. Jantung terbagi menjadi menjadi 2 aurikel dan 2 ventrikel. Ventrikel terpisah sempurna, sehingga sirkulasi pulmoner terpisah dari sirkulasi sistematik. Lengkung sorta hanya satu buah dan terletak di sisi kanan. Temperatur tubuh tinggi dan dipertahankan tetap (homoioterm) dengan bantuan bulu. Saluran pencernaan meliputi tembolok (crop), lambung kelenjar, dan lambung muscular (gizzard, empedal), dua buah sekum (caecum), usus besar dan kloaka. Ginjal tipe metanefros. Vena porta ginjal tidak terbagi-bagi ke dalam kapiler-kapiler ginjal.

Tidak mempunyai kandung kemih. Ekskresinya semisolid. Fertilisasi internal. Pada burung jantan jarang yang mempunyai organ intromitten (seperti penis dan sebagainya). Semua burung ovipar. Telur berkulit keras (cangkang). Yang betina biasanya hanya mempunyai satu ovarium (kiri).

Burung menempati semua daratan sampai ketinggian 6.000 m, dari lautan sampai daerah Arktik (80oLU) dan Antartik. Temperatur tubuh berkisar antara 40,542,0oC) tergantung spesies. B. KELAS PADA AVES Kelas aves terbagi dalam begitu banyak bangsa (ordo) yang dikenal baik karakteristiknya. 1. Sub-kelas Archaeornithes (burung bengkarung) Burung-burung bergigi, telah punah. Hidup dalam periode Jurrasik. Metacarpal terpisah. Tidak ada pigostil. Vertebrata kaudal masing-masing dengan bulu-bulu berpasangan. Contoh : Archaeopterygiformes 2. Sub-kelas Neonithes Ada yang telah punah, tetapi ada yang termasuk burung modern. Bergigi atau tidak bergigi. Metacarpal bersatu. Vertebrata kaudal tidak ada yang mempunyai bulu berpasangan. Kebanyakan mempunyai pigostil. Sternum ada yang berlunas, ada pula yang rata. Mulai ada sejak zaman Kretaseus. a. Odontognathae. Contoh : Hesperornis dan Ichthyornis, keduanya telah punah. Bergigi. Ditemukan di Amerika Serikat b. Palaeognathae. Burung berjalan atau sedikit saja terbang. Tulang sternum tidak berlunas. Semua dengan tulang vomer yang membentuk jembatan pada tulang langit-langit. Tidak ada gigi, vertebrata kaudal bebas, tulang korakoid dan scapula kecil.

Ordo Struthioniformes. Contoh : burung unta (Struthio camelus, tinggi 2,5 m, berat 150 kg, hidup bergerombol, sophagu, seekor jantan mempunyai 4-5 betina. Berasal dari Afrika dan Arabia.
Ordo Rheiformes. Contoh : burung rea (Rhea sp.) Tidak dapat terbang, tidak berlunas. Tinggi 1,2 m. Berasal dari Amerika Latin. Ordo Casuariiformes. Contoh : burung kasuari (emu). Tidak dapat terbang, tidak berlunas, sayap kecil, tinggi 1,7 m, kepala dan leher tidak berbulu. Banyak terdapat di Australia dan Irian.

Ordo Dinornithiformes. Burung moa. Terdapat di Selandia Baru Ordo Aepyornithiformes. Terdapat di Malagasi Ordo Apterygiformes. Burung Kiwi. Terdapat di Selandia Baru. Ordo Tinamiformes. Burung tinamu. Sayap dapat digunakan untuk terbang. Berlunas. Biasanya berlarinya sedikit terbang. Contoh : Tinamus sp., Rhynchotus sp. Terdapat di Amerika Latin.

c.

Impennes. Burung penguin. Sayap (anggota gerak anterior) digunakan untuk berenang, tidak dapat terbang. Metatarsus bersatu, tetapi tidak sempurna. Empat buah jari terarah ke muka, jari-jari dengan selaput kulit. Bulu kecil-kecil menutup seluruh tubuh. Di bawah kulit terdapat lapisan lemak tebal. Berdiri tegak pada metatarsus. Dapat dengan cepat menyelam. Terdapat 20 jenis dari golongan ini. Ordo Sphenisciformes. Contoh : Aptenodytes forsteri, penguin raja diraja. Tinggi 1m lebih. Jenis yang lain kecil.

d. Neognathae. Burung-burung modern. Berlunas, metatarsus bersatu. Vomer kecil dan tidak membentuk jembatan pada langit-langit.

Ordo Gaviiformes, Burung lun. Kaki pendek pada ujung tubuh. Jari-jari penuh dengan membran kulit. Patella kecil-kecil. Terbang cepat melayang-layang, dan menukik. Makan ikan. Contoh : Gavia immer, di belahan bumi utara Ordo Podicipitiformes. Burung grebe. Ekor berbulu kapas. Kaki jauh di bagian belakang tubuh. Dapat menyelam dengan cepat (hilang sekejap mata). Hidup di air tawar atau pantai laut. Omnivore. Contoh : Podicepsauritus, Podilymbus podiceps. Ordo Procellariiformes. Burung albatross. Hidup di lautan. Bertelur di pulau-pulau. Contoh : Diomedea exulans. Albatross berkelana ikut perahu di laut selatan, sayap 3 m. Oceanodroma sp. Albatross kecil. Ordo Pelecaniformes. Burung pelican, burung gannet. Morus bassana banyak terdapat di daerah tropis (burung camar). Ordo Ciconiiformes. Hidup di sawah: burung blekok, flamingo. Leher panjang, kaki panjang. Makanannya ikan dan hewan air lainnya. Hidup berkoloni. Contoh: Ardea Herodias (blekok biru), Butorides virescens (blekok hijau), Phoenicopterus ruber (flamingo), Casmerodius albus (blekok putih).

C. Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ a. Sistem skeleton dan muscular Tulang kuadrat dari tengkorak mempunyai 2 permukaan artikular dorsal. Semua tulang pelvis bersatu. Ada sebuah pigostil. Sternum mempunyai 4 buah takik (celah) posterior. Otot pektoralis mayor dimulai pada lunas tulang sternum, dan menarik tulang humerus ke bawah (berarti menarik sayap ke bawah). Sebaliknya, otot pektoralis minor menarik sayap ke atas. b. Sistem Pencernaan Saluran pencernaan terdiri dari esophagus, proventrikulus (lambung, kelenjar), empedal (gizzard), usus halus, dan usus besar. Pada merpati (burung umumnya) tidak mempunyai kandung empedu, walaupun mungkin terdapat pada beberapa jenis. Sebuah tembolok bermuara pada sophagus. Sel-sel pelapis

tembolok itu mudah lepas dan membentuk susu merpati yang dipakai sebagai makanan anak-anaknya. Ada 2 buah sekum (caecum) pada permulaan usus besar. c. Sistem respirasi trakea melanjut sebagai 2 buah bronki pada siring (alat suara). Paru-paru dilengkapi dengan kantung-kantung udara (ada 9 buah, 4 berpasangan, dan 1 median). Fase aktif respirasi itu adalah ekspirasi dan fase pasif adalah inhalasi. d. Sistem sirkulasi Sistem peredaran darah tipikal pada burung, yaitu seperti pada mammalia, bedanya hanya lengkung arteri tunggal yang terletak pada sebelah kanan, sedangkan pada mammalia terletak di sebelah kiri. e. Sistem ekskresi Ginjal bertipe metanefros, berwarna coklat tua. Saluran ureter bermuara langsung pada kloaka. Tidak ada kandung kemih. Ekskret semisolid (mengandung urat). f. Kelenjar endokrin Kelenjar pituitary (hipofisis) terletak di dasar otak. Kelenjar tiroid di bawah vena jugularis dekat permulaan arteri subklavia dan karotis. Pankreas terdiri atas pulau-pulau Langerhans. Kelenjar adrenal sepasang, dengan panjang 8-10 cm, pada permukaan ventral ginjal. Sekret dari gonad mengatur karakteristik seksual sekunder (bulu, jengger, dan gembel), misalnya vila ovarium dibuang, bulu akan berubah warnanya, dan sebagainya. g. Sistem saraf dan sensori Bentuk otak dan bagian-bagiannya tipikal pada burung. Lobus olfaktorius kecil, serebrum besar sekali. Pada ventro-kaudal serebrum terletak serebellum, dan ventral lobus optikus. Lubang telinga Nampak dari luar, dengan meatus auditori eksternal terus ke membran timpani (gendang telinga). Telinga tengah dan saluransaluran semisirkular terus ke koklea. Pendengaran burung dara baik. Dari telinga tengah ada saluran Eustachius menuju ke faring dan bermuara pada langit-langit bagian belakang. Hidung sebagai organ pembau dimulai dengan 2 lubang hidung yang berupa celah pada dorsal paruh. Indera pencium pada burung kurang baik. Mata besar dengan pekten, yaitu sebuah membran, bervaskulasi, dan berpigmen yang melekat pada mangkok optic, dan melanjut ke dalam humor vitreus. Saraf optic memasuki sklera mata di tempat yang disebut bingkai skleral. Mata dengan kelenjar air mata.

Penglihatan terhadap warna sangat tajam dan cepat berakomodasi (berfokus) pada berbagai jarak. Organ perasa di langit-langit mulut dan sisi lidah. Pemilihan makanmakanan mungkin hanya tergantung pada organ perasa itu. h. Reproduksi dan perkembangan Fertilisasi internal. Tidak ada organ kopulasi khusus. Ovarium hanya satu yang sebelah kiri. Sebelum telur dikeluarkan mendapat penutup albumin dan cangkang dalam oviduk. Masa inkubasi 16-18 hari. Burung muda yang baru menetas berada dalam kondisi yang sangat lemah, disebut kondisi altrisial (pada ayam, itik, disebut kondisi prekosial). Anak merpati yang baru menetas sedikit sekali bulu kapasnya. Merpati muda dapat terbang setelah 4 minggu kemudian.

BAB II PENUTUP

A. KESIMPULAN Aves adalah sebuah kelas yang terdapat dalam vertebrata (bertulang belakang)yang mencakup hewan-hewan unggas yang ditandai oleh adnya bulu dan adaptasi terbang lainnya. Bangsa ini merupakan bangsa yang berevolusi dari reptilian terbang. Aves merupakan hewan yang terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang dikelompokkan dalam aves/burung primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk. Kesemuanya itu menjadikan aves/burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito.____.BIOLOGI DASAR Untuk Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA) dan Permulaan Pendidikan Tersier (Fakultas-Fakultas : Biologi, Kedokteran, Kedokteran Hewan, Peternakan, Pertanian, dan Farmasi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada http://artofgreen.wordpress.com/2010/06/07/aves/ http://okaok.multiply.com/journal/item/76/Laporan_Praktikum_Aves http://www.google.co.id/search?sourceid=chrome&ie=UTF-8&q=kesimpulan+aves

Aves atau burung memiliki bulu yang terbuat dari keratin.Bulu yang membentuk sayap berperan untuk terbang.selain bulu, ciri-ciri lainnya pada burung adalah : - berparuh dari bahan keratin - tidak bergigi - struktur tulang menyerupai sarang lebah sehingga kerangnya kuat namun ringan - memiliki empedal untuk menghacurkan makanan - lambung berotot besar - bernapas dengan paru-paru - jantung beruang empat - memiliki kantung udara - indera penglihatan sangat tajam - fertilisasi terjadi secara internal - bertelur sehingga tergolong hewan ovipar dengan ciri telur bercangkang dan kuning telur besar - mengerami telurnya dan merawat anaknya Aves hidup di darat.Kelompok ini dibedakan menjadi dua berdasarkan kemampuan terbangnya, yaitu karinata dan ratita. Burung yang tergolong karinata memiliki taju dada (carina).Taju dada berfungsi menyokong otot dadanya yang besar.Otot dada memberikan kekuatan terbang.Pada pinguin contohnya pinguin gentoo (Pygoscelis papua), yang merupakan karinata yang tidak terbang, otot dadanya digunakan untuk berenang di laut mencari makanan.Hampir 60% spesies burung karinata tercakup dalam ordo passeriformes atau burung bertengger.Brung bertengger memiliki jari kaki yang dapat mencengkeram dahan pohon.Contoh burung ini adalah burng layang-layang besar (Hirundapus giganteus), burung merpati (Columbia livia), burung pipit (Anthus sp.), burung dara, dan berbagai burung pengicau.Burung layang-layang adalah burung yang paling cepat terbangnya yakni terbangnya mencapai 170 km/jam. Ayam (gallus gallus domesticus) juga tergolong karinata. burung yang tergolong ratita tidak memiliki taju dada pada tulang dadanya.Otot dadanya juga tidak sebesar burung karinata.Burung unta (Struthio camelus), kiwi (Apteryx australis), dan emu (Dromaius novaehollandiae) adalah contoh burung ratita

Aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves atau burung memiliki ciri umum yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka bisa terbang. Kelas aves adalah satusatunya kelompok hewan yang memiliki bulu, (jangan salah mamalia berambut, bukan berbulu). Hal ini merupakan keunikan tersendiri dari kelompok hewan tersebut. Berikut adalah uraian singkat tentang kelas aves, Ciri Morfologi Aves a) Struktur Bulu Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984). Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:

Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak. Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail. Plumae, Bulu yang sempurna. Barbae Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.

Susunan plumae terdiri dari : Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu. Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan.

Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis.

Gambar Struktur Bulu Burung (sumber: Harunyahya.com) Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile. Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi:

Tectrices, bulu yang menutupi badan. Rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi. Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi menjadi: remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia. Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna. Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder daerah siku. Parapterum, bulu yang menutupi daerah bahu. Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin, 1984).

Pada burung heron terdapat bentukan bulu yang khusus yang disebut sebagai bulu powder/ bulu bubuk. Bulu ini hampir sama dengan bulu pada umumnya tetapi barbulaenya terpisah menjadi bubuk halus seperti bedak. Fungsi bulu ini belum jelas, tetapi pada saat burung melumasi bulu dengan cara menjilatinya, bulu bubuk membantu mengisolasi panas tubuh dan membantu menghangatkan telur saat pengeraman.

Burung Hantu Sumber: http://en.wikipedia.org Semi plumae adalah kumpulan bulu barbula yang letaknya tersembunyi di bawah bulu-bulu luar. Bistle adalah bulu perasa berupa shaft yang memanjang melebihi bulu luar, ditemukan pada kepala burung Caprimulgids dan burung penangkap serangga flycatchers (Sukiya, 2003). Bristle yang menutupi lubang hidung terdapat pada burung pelatuk. Hal ini merupakan bentuk adaptasi burung pelatuk agar partikel-partikel kayu tidak masuk saluran pernafasan. Bristle pada burung hantu dan caprimulgids membantu mendeteksi posisi sarang, tempat bertengger dan benda yang menghalangi. Fungsi bristle didukung oleh adanya getaran dan tekanan reseptor didekat folikel bulu (Sukiya, 2003). Bentuk bulu ekor burung pada saat tidak terbang bermacam-macam, antara lain berbentuk persegi, bertakik, bercabang, bulu sebelah luar memanjang, bulu ekor dengan raket, bulu tengah panjang, bundar, berbentuk cakram, berbentuk tingkatan, dan berujung runcing (Sukiya, 2003).

Ekor bentuk persegi (sumber: http://en.wikipedia.org)

Bentuk ekor bulat (sumber: Foto KKL KBS)

Bentuk ekor bulu sebelah luar memanjang (sumber: Foto KKL KBS) b) Warna Bulu

Warna bulu dihasilkan oleh butir pigmen, dengan difraksi dan refleksi cahaya oleh struktur bulu atau oleh pigmen dan struktur bulu. Pigmen pokok yang menimbulkan warna pada bulu adalah melanin dan karotenoid. Karotenoid sering disebut dengan lipokrom yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam metanol, eter atau karbon disulfida. Karotenoid terbagi menjadi 2, yaitu zooeritrin (animal red) dan zoosantin (animal yellow). Pigmen melanin terklarut dalam asam. Butir-butir eumelanin beraneka macam yaitu dari hitam sampai coklat gelap. Feomelanin yaitu hampir tanpa warna hingga coklat kemerahan.

Burung merak (sumber: www.harunyahya.com)

Burung Bayan (sumber Foto KKL KBS) Butir-butir melanin bulat di dekat ujung bulu luar memberikan efek ring Newton dan menyebabkan perubahan warna-warni bulu. Warna hijau, biru dan violet tidak dihasilkan oleh pigmen tetapi tergantung dari struktur bulu. Contohnya burung bluebird yang bulunya berwarna biru tetapi tidak mengandung pigmen warna biru. Warna ini ditimbulkan oleh pigmen kuning yang menyerap semua spektrum sinar kemudian dipantulkan kembali. Burung tropis pemakan pisang memiliki pigmen tembaga berupa turacoverdin yang mampu menghasilkan warna merah gelap dihasilkan oleh turacin (Sukiya 2003). Salah satu spesies burung pemakan pisang ini adalah Tauraco corythaix, mempunyai kuning telur berwarna merah terang yang ditimbulkan oleh karotenoid dan 60% dari pigmen merah yang disebut astasantin. Meski warna bulu burung adalah genetis, namun dapat berubah akibat faktor internal maupun eksternal. Burung yang dikurung dalam waktu lama juga dapat berubah warna bulunya. Hal ini dapat disebabkan karena makanannya. Faktor internal yang mempengaruhi warna bulu adalah hormon. Spesies burung terdapat dimorfisme warna dalam seksual. Pengaturan hormon estrogen banyak berperan pada burung jantan, yaitu sebelum hingga awal pergantian bulu. Sedangkan pada burung betina kemungkinan diinduksi oleh bulu burung jantan dengan pengaturan testosteron. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perubahan warna adalah oksidasi dan gesekan/abrasi. Warna yang ditimbulkan karoten dapat memudar karena sinar matahari. c) Aransemen Bulu Bulu-bulu burung sebenarnya tidak merata, tetapi dirancang pada bidang-bidang terbatas yang disebut pterilae dan ada bidang kecil yang tidak ditumbuhi bulu disebut apterile. Pengecualian pada penguin dan burung kiwi yang bulunya menutupi hampir sebagian besar tubuhnya. Bulu burung dapat dinamai sesuai dengan bidangnya berada, yaitu: - capital tract yaitu bulu yang menutup bagian atas, samping dan belakang kepala dan terus ke pterilae berikutnya. - Spinal tract, bulu yang memanjang dari atas leher ke punggung terus ke dasar ekor dan bisa berlanjut atau terpisah ditengah.

- Ventral tract, berawal diantara cabang rahang bawah dan memanjang turun ke sisi ventral leher. Biasanya bercabang menjadi dua bidang lateral melewati sepanjang sisi tubuh dan berakhir disekitar anus. Bagian apterilae dadabawah dan perut beberapa burung, kaya pembuluh darah selama bersarang dan merupakan daerah mengeram (brood patch). Pada saat mengeram bulu pada brood patch akan rontok dan kulitnya tipis. - Humeral tract yaitu sepasang pterilae yang sejajar seperti pita sempit yang meluas ke belakang pada sisi pundak. - Caudal tract termasuk retrices, bulu pada ekor, biasanya panjang dan kuat. - Alar tract termasuk berbagai pterilae yang terletak pada sayap. Thumb merupakan sisa jari kedua. Sedangkan bulu yang menutupi permukaan atas dan bawah sayap disebut dngan covert dan bulu pada aksial sayap disebut aksillaria. - Femoral tract, bulu yang meluas sepanjang permukaan luar paha dekat sendi lutut ke tubuh. - Crural tract, bulu yang menyususn sisa bidang bulu lainnya pada kaki (Sukiya, 2003). d). Pergantian Bulu Bulu burung terbentuk dari struktur tak hidup sehingga mudah kusut akibat oksidasi dan gesekan. Bulu-bulu yang telah lama akan lepas secara periodik dan digantikan oleh bulu yang baru. Pelepasan dan pergantian bulu ini disebut dengan molting. Pergantian bulu terjadi pada waktu tertentu dalam satu tahun dan diselesaikan dalam satu periode (selama beberapa minggu). Umumnya burung mengalami pergantian bulu sekali dalam satu tahun, tetapi burung kolibri betina mengalami pergantian bulu sekali dalam dua tahun.Pergantian bulu biasanya terjadi sebelum atau sesudah perkembangbiakan. Namun ada juga yang mengalami pergantian bulu parsial oleh sebab tertentu. Pergantian bulu burung dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor fisiologis yaitu adanya hormon tiroksin.

Sempurnanya bulu setiap spesies burung sejak menetas sampai dewasa berbeda-beda. Ada beberapa spesies burung yang pada saat menetas telanjang /tidak memiliki bulu. Bulu pada saat menetas disebut dengan natal plumage. Sebagian besar spesies burung memiliki jumlah bulu bervariasi pada saat menetas, hanya beberapa deret bulu pada spesies altrical (misalnya merpati) atau seluruh tubuh tertutup bulu pada burung precocial muda (misal ayam). Bulu saat menetas akan rontok dan diganti yang baru, sebagai berikut: Juvenal plumage (bulu anak burung), lebih substansial dari natal plumage. Pada burung passerine hanya bertahan beberapa minggu lalu rontok dan diganti bulu first winter plumage. First winter plumage (bulu ketika berusia satu tahun), diperoleh pada akhir musim panas atau musim gugur dan bertahan selama 12 bulan, tergantung dari spesiesnya. First nuptial plumage (bulu kawin pertama), bulu perkembangbiakan pertama yang akan rontok sebagai akibat pergantian bulu setelah masa kawin pertama. Second winter plumage (bulu tahun kedua), dapat dibedakan dengan bulu dewasa pada musim dingin kecuali spesies yang memperoleh bulu dewasa pada tahun pertama atau lebih dari dua tahun. Bulu ini akan diganti oleh bulu masa kawin kedua pada musim semi berikutnya. Warna bulu burung jantan dan betina dari sejumlah spesies adalah identik tetapi masih dapat dibedakan karena secara mayoritas warna bulu burung jantan lebih cerah terutama bulu masa kawin. Namun pada pejantan itik tertentu, setelah musim bersarang, hasil pergantian bulu setelah kawin, warna bulunya menjadi pudar abu-abu kemerahan dan bulu sayapnya lepas sehingga untuk sementara tidak dapat terbang. Oleh karenanya, itik jantan ketika masa ini menjadi tidak menarik.