Anda di halaman 1dari 46

MACAM-MACAM ADAPTASI PADA HEWAN

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Ekologi Lanjut
yang dibina oleh Dr. Ibrohim, M.Si

Oleh:
Kelompok 3 / Offering A 2013
Dede Cahyati Syahrir

(130341818670)

Dwi Martha Nur Aditya

(130341818xxx)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Maret 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia dan hidayah-Nya yang
senantiasa menyertai dan membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah MacamMacam Adaptasi pada Hewan dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini dimaksudkan untuk
memenuhi tugas matakuliah Ekologi Lanjut di Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Penyelesaian makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak secara langsung maupun
tidak langsung. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Dr. Ibrohim, M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekologi yang telah
memberikan saran dan bimbingan dalam penyempurnaan makalah ini.

2.

Teman-teman kelas A angkatan 2013 Pascasarjana

UM yang selalu memberikan

dorongan moril, doa dan motivasinya dalam menyelesaikan makalah ini .


Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan bagi pembaca
guna menambah pengetahuan dan informasi. Penulis menyadari bahwa makalh ini masih jauh
dari kesempurnaan, karena tidak ada yang sempurna kecuali Sang Khaliq. Oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan makalah ini.

Malang, 27 Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................
A. Latar belakang ............................................................................
B. Rumusan masalah .......................................................................
C. Tujuan .........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ...............................................................................


A. Sejarah
BAB III PENUTUP ........................................................................................
A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran ...........................................................................................
DAFTAR RUJUKAN ....................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konsep ekologi berperan penting pada masa sekarang dan masa yang akan datang.
Mengingat hal tersebut maka konsep-konsep serta dasar-dasar ekologi sebaiknya dibelajarkan
kepada segenap lapisan masyarakat sejak dini. Salah satu pihak yang mempunyai peran
strategis dalam menyebarluaskan konsep ekologi adalah pendidik bidang studi biologi. Bagi
seorang pendidik studi biologi sangatlah penting untuk menguasai konsep-konsep ekologi
secara mantap dan menganalisis strategi pendidikan masyarakat yang berkaitan dengan
pengelolaan sumberdaya lingkungan berkelanjutan di tengah-tengah pembangunan. Diantara
konsep ekologi yang harus dikuasai oleh pendidik bidang studi biologi adalah konsep-konsep
adaptasi hewan.
Konsep ekologi mengandung kearifan lokal yang dapat diberdayakan, diantaranya
adalah pola-pola adaptasi hewan. Semua organisme harus melakukan penyesuaian terhadap
lingkungannya agar dapat terus bertahan hidup dan bereproduksi. Suatu lingkungan organisme
meliputi segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka. Organisme akan mempe-ngaruhi
lingkungannya, demikia pula unsur lingkungan ini akan mempengaruhi organisme tersebut.
Penyesuaian antara organisme dengan lingkungannya disebut adaptasi biologis.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka disusunlah makalah dengan judul
Adaptasi Hewan sebagai bagian tak terpisahkan bagi calon pendidik bidang studi biologi
dalam mempelajari ekologi lanjut dan diharapkan dapat memiliki wawasan luas dalam
pengelolaan lingkungan hidup dan dapat berparti-sipasi aktif dalam pembangunan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini dijelaskan
sebagai berikut.
1.

Bagaimanakah kajian definitif dan konsep adaptasi hewan?

2.

Bagaimanakah mekanisme adaptasi pada hewan?

3.

Bagaimanakah prinsip-prinsip adaptasi pada hewan?

4.

Apasajakah jenis respon dasar hewan terhadap lingkungannya?

5.

Bagaimanakah bentuk-bentuk adaptasi struktural yang dilakukan oleh hewan sebagai


respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya?

6.

Bagaimanakah bentuk-bentuk adaptasi fisiologis yang dilakukan oleh hewan sebagai


respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya?

7.

Bagaimanakah bentuk-bentuk adaptasi tingkah laku yang dilakukan oleh hewan sebagai
respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya?

C. Tujuan Penulisan Makalah


Tujuan penulisan makalah ini relevan dengan rumusan masalah di atas yang dirinci
sebagai berikut.
1.

Mengetahui kajian definitif dan konsep adaptasi hewan.

2.

Mengetahui mekanisme adaptasi hewan.

3.

Mengetahui prinsip-prinsip adaptasi hewan.

4.

Mengetahui jenis respon dasar hewan terhadap lingkungannya.

5.

Mengetahui bentuk-bentuk adaptasi struktural yang dilakukan oleh hewan sebagai respon
terhadap perubahan kondisi lingkungannya.

6.

Mengetahui bentuk-bentuk adaptasi fisiologis yang dilakukan oleh hewan sebagai respon
terhadap perubahan kondisi lingkungannya.

7.

Mengetahui bentuk-bentuk adaptasi tingkah laku yang dilakukan oleh hewan sebagai
respon terhadap perubahan kondisi lingkungannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian Definitif dan Konsep Adaptasi Hewan


Interaksi hewan dengan lingkungannya menunjukkan adanya hubungan timbal balik
antara hewan dengan lingkungannya. Dalam hubungan itu, kondisi dan perubahan kondisi
lingkungan berpengaruh pada hewan, dan hewan mengada-kan reaksi terhadap kondisi atau
perubahan kondisi lingkungannya (Darmawan, 2005).
Reaksi hewan terhadap kondisi dan perubahan lingkungannya dinyatakan sebagai
respon hewan terhadap lingkungannya. Respon hewan terhadap lingku-ngan dapat berupa
perubahan fisik, fisiologis, dan tingkah laku. Respon hewan terhadap kondisi dan perubahan
lingkungan ada yang bersifat reaktif, artinya respon itu berbentuk dan berlaku pada saat
pengaruh kondisi dan perubahan lingkungan terjadi. Misalnya, ayam mencari tempat yang
teduh ketika hujan turun. Respon-respon seperti itu bukan merupakan respon yang terpola
untuk semua anggota spesies. Respon itu merupakan perubahan pada hewan yang bersifat
reaktif terhadap lingkungannya (Darmawan, 2005).
Disamping respon yang reaktif, hewan mempunyai respon terhadap lingkungan yang
terpola untuk semua anggota spesies. Respon itu merupakan sifat yang diwariskan. Misalnya,
semua anak itik yang baru menetas mengikuti hewan apa saja yang dijumpainya pertama kali.
Respon tersebut dapat digolongkan sebagai respon yang bersifat adaptif terhadap kondisi dan
perubahan lingkungan yang ada, artinya respon tersebut merupakan ciri-ciri yang teradaptasi
terhadap kondisi atau perubahan lingkungan yang ada (Darmawan, 2005).
Adaptasi

umumnya

dartikan

sebagai

penyesuaian

mahluk

hidup

terhadap

lingkungannya. Namun, Begon (1996, dalam Darmawan, 2005) berpendapat bahwa pengertian
itu mengandung banyak penafsiran. Jika dikatakan bahwa hewan X teradaptasi untuk hidup di
lingkungan Y, pernyataan itu berarti sebagai berikut:
1.

Hewan X hanya dapat dijumpai di lingkungan Y, yang dapat diartikan bahwa


hewan X mempunyai sifat yang hanya sesuai untuk hidup di lingkungan Y, dan tidak
dijumpai di lingkungan lain.

2.

Hewan X hanya dapat hidup di lingkungan Y, tidak dapat hidup di lingkungan lainnya.
Di antara pengertian adaptasi yang berbeda-beda itu ada yang menyatakan bahwa ciri-

ciri organisme ada yang dirancang untuk sesuai dengan kondisi lingku-ngan masa kini dan
lingkungan pada masa yang akan datang. Penjelasan itu kurang tepat, karena kondisi
lingkungan yang sekarang ditempati oleh semua jenis organisme karena kondisi lingkungan

tersebut secara kebetulan sama dengan kondisi lingkungan yang dihuni oleh nenek moyangnya
setelah lolos dari seleksi alam. Maka dari itu, ciri-ciri yang teradaptasi itu merupakan ciri yang
diturunkan oleh nenek moyangnya. Istilah yang lebih tepat untuk mengetahui kesesuaian
mahluk hidup dengan lingkungannya itu disebut adaptasi. Kata adaptasi menunjuk kesesuaian
mahluk hidup dengan lingkungannya yang merupakan produk masa lampau. Organismeorganisme yang ada masa kini dapat hidup di lingkungannya karena kondisi lingkungannya itu
secara kebetulan sama dengan kondisi lingku-ngan nenek moyangnya (Darmawan, 2005).

B. Mekanisme Adaptasi Hewan


Sifat yang dimiliki oleh suatu populasi yang ada sekarang merupakan sifat yang
diturunkan dari generasi ke generasi. Nenek moyang dari populasi yang bersangkutan telah
berhasil mempertahankan hidup dan berkembang biak karena memiliki sifat tersebut. Dengan
kata lain, populasi yang ada sekarang merupakan populasi yang lolos dari seleksi alam
(Darmawan, 2005).
Meskipun dalam teorinya Darwin yakin bahwa sifat-sifat mahluk hidup yang
teradaptasi pada lingkungan hidup merupakan ciri yang bersifat menurun, tetapi ia tidak
menyadari bahwa bentuk adaptasi yang terbaiklah yang memancar-kan ciri-ciri adaptif
keturunannya (Darmawan, 2005).
1.

Sifat dari individu-individu dalam suatu populasi tidak sama persis. Individu-individu itu
mempunyai sifat yang bervariasi dalam hal ukuran, kecepatan berkembang biak, merespon
kondisi lingkungan dan lain-lain.

2.

Beberapa sifat yang berbeda dalam suatu populasi diwariskan oleh nenek
moyang. Dengan kata lain individu-individu dalam populasi mewarisi gen pembawa sifat
tersebut dari nenek moyangnya.

3.

Semua populasi mempunyai potensi untuk mendiami seluruh permukaan bumi jika setiap
individu dapat bertahan hidup dan menghasilkan keturunan secara maksimal. Namun,
tidak semua individu mempunyai sifat demikian. Ada individu yang mati sebelum
berkembang biak. Individu yang mampu berkembang biak mewariskan sifatnya kepada
keturunannya.

4.

Nenek moyang yang berbeda meninggalkan keturunan yang berbeda jumlahnya. Ini juga
berarti bahwa individu dari populasi yang ada sekarang juga menghasilkan anak yang
jumlahnya berbeda.

5.

Setiap keturunan suatu individu tidak seluruhnya tergantung pada interaksi sifat individu
induk dengan lingkungannya.

Adanya sifat menurun tersebut menjadi lebih jelas setelah Mendel berhasil mengungkap
adanya gen-gen yang menentukan sifat genetik suatu organisme. Pengetahuan genetika yang
dipelopori oleh Mendel tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh kombinasi gen
yang terbentuk pada perkawinan dalam populasi terhadap sifat keturunan. Disamping itu,
pengetahuan genetika juga dapat menjelaskan bahwa seleksi alam merupakan faktor yang
menentukan sifat hasil perkawinan. Jika perubahan faktor lingkungan dan perkawinan antara
individu dalam populasi memunculkan variasi baru, maka terbentuknya variasi baru tersebut
menimbulkan gangguan pada keseimbangan genetik (genetic equilibrium). Keseimbangan
genetik adalah suatu stabilitas genetik individu-individu populasi yang sifat genetiknya sama.
Keseimbangan genetik dapat berubah sebagai akibat dari adanya mutasi, perubahan secara acak
pada frekuensi gen, dan seleksi alam. Perubahan keseimbangan genetik itulah yang
menyebabkan terjadinya evolusi organisme (Darmawan, 2005).
Di alam organisme terkumpul dalam kelompok-kelompok populasi yang diantara
anggotanya terjadi hubungan kawin. Setiap kelompok disebut deme. Kelompok besar yang
terbentuk dari banyak deme disebut jenis organisme. Deme-deme dari suatu jenis organisme
ada yang menempati daerah-daerah geografis yang berbeda, misalnya banteng yang saat ini
masih ada di Pulau Jawa ada yang hidup di Taman Nasional Baluran (Jawa Timur) dan Taman
Nasional Ujung Kulon (Jawa Barat). Daerah-daerah geografis itu dapat merupakan lingkungan
hidup yang sempit dan bersifat khas dibandingkan dengan daerah penyebaran organismenya.
Deme yang menempati daerah geografis khusus itu bisa mempunyai sifat genetik yang berbeda
dengan deme yang menempati daerah lain jika diantara deme-deme itu terjadi isolasi geografis
sehingga antara deme tidak dapat terjadi pertukaran informasi genetik. Kelompok yang
terisolasi itu disebut klin (cline), dan merupakan subjenis organisme atau subpopulasi.
Perbedaan sifat genetik dari suatu klin dengan klin yang lain terbentuk dari perbedaan
perubahan lingkungan dalam suatu rentangan tertentu, yang disebut dengan gradien ekologi
(ecological gradients). Variasi sifat individu pada landaian ekologis yang berbeda disebut
ekotip. Perbedaan sifat itu dapat dalam hal bentuk, warna, dan lain-lain. Contoh yang terkenal
adalah fenomena melanisme industrial. Kupu Biston betularia yang hidup di hutan yang jauh
dari daerah industri berwarna abu-abu ke-putihan sesuai dengan warna batang pohon yang
menjadi substratnya, tetapi guru yang hidup di daerah industri di Britania Raya mempunyai
warna gelap. Di daerah industri, pohon-pohon menjadi berwarna gelap karena tertutup oleh
asap dan jelaga pabrik. Kupu-kupu yang berwarna terang menjadi mangsa buruan yang mudah
dilihat oleh burung predator, tetapi kupu yang berwarna gelap lebih selamat dari serangan
predator. Kejadian inilah yang disebut peristiwa melanisme industrial (Darmawan, 2005).

Kesesuaian antara sifat-sifat organisme dengan lingkungannya sehingga menimbulkan


sifat yang bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lain, baik jenis organismenya
sama maupun berbeda telah digeneralisasikan dalam beberapa hukum, antara lain: Hukum
Bergman, Hukum Allen, dan Hukum Gloger. Hukum Bergman menyatakan bahwa hewanhewan yang hidup di daerah panas mempunyai tubuh kecil, sedangkan yang hidup di daerah
dingin bertubuh besar. Rasionalnya adalah untuk bertahan pada suhu dingin tubuh ynag besar
tidak mudah kehilangan panas, sedangkan untuk bertahan pada lingkungan panas hewan yang
bertubuh kecil lebih cepat mengeluarkan panas tubuh. Hewan homeoterm, yaitu burung dan
mamalia yang hidup di daerah dingin mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar daripada di
daerah panas. Namun, hewan-hewan poikiloterm di daerah dingin cenderung bertubuh kecil
(Darmawan, 2005).
Hukum Allen menyatakan bahwa bagian-bagian tubuh (ekor, telinga, tangan, kaki, dan
lain-lain) yang hidup di daerah beriklim dingin lebih pendek daripada hewan yang hidup di
daerah iklim panas. Contoh, tikus yang hidup di lingkungan yang bertemperatur 31-33,5oC
berekor lebih panjang dibandingkan dengan strain yang hidup di temperatur 15,5-20oC
(Darmawan, 2005).
Hukum Gloger menyatakan bahwa pada lingkungan yang panas dan lembab hewan
mempunyai pigmen lebih gelap dari pada hewan yang hidup di daerah yang beriklim dingin
dan kering. Di daerah arid (beriklim kering) pigmen yang muncul kebanyakan merah dan
kuning kecoklatan. Contoh, belalang kayu Carausius sp. menjadi berwarna hitam pada
temperatur 15oC dan berwarna coklat pada temperatur 25oC (Darmawan, 2005).
Hukum-hukum lain yang menyatakan hubungan antara lingkungan dengan sifat hewan
antara lain lain: burung yang hidup di daerah yang beriklim dingin mempunyai kemampuan
bermigrasi lebih besar, rentangan saya lebih lebar, bertelur lebih banyak, dan saluran
pencernaan makanan dapat menyerap sari makanan lebih banyak daripada burung yang hidup
di daerah beriklim panas. Katak Hyla sp. dan kecebong bertanduk Phrynosoma sp. berwarna
lebih gelap jika temperatur lingkungannya turun (Darmawan, 2005).
Deme-deme sering kali terisolasi secara geografis, menyebabkan kelompok-kelompok
populasi tidak dapat berbaur lagi untuk melakukan hubungan perkawinan. Isolasi ini disebut
isolasi geografis. Jika isolasi ini bersifat tetap maka populasi yang terpisah dari populasi yang
hidup di habitat asli dapat berubah menjadi jenis organisme baru. Isolasi geografis dapat terjadi
pada jenis organisme yang bermigrasi. Isolasi habitat itu disebut isolasi ekologis (Darmawan,
2005).

Populasi dapat terisolasi di tempat yang berbeda tetapi masih dalam kawasan habitat
yang sama, namun tidak dapat melakukan hubungan perkawinan dengan populasi lain. Isolasi
ini disebut isolasi spatial. Jenis organisme yang menduduki daerah yang geografisnya berbeda
disebut allopatrik, sedangkan yang hidup di tempat yang secara biologis terpisah dari yang lain
disebut jenis organisem simpatrik. Contoh yang terkenal tentang isolasi-isolasi tersebut adalah
kelompok-kelompok burung Finch Darwin yang tersebar di Kepulauan Galapagos. Contoh ini
merupakan contoh allopatrik yang arahnya ditentukan oleh terjadinya frekuensi gen sebagai
akibat adanya seleksi alam dan pemisahan genetik. Begitu jenis organisme terisolasi ketika
pindah ke daerah baru dengan kondisi lingkungan yang berbeda maka jenis organisme itu akan
berubah menjadi jenis organisme baru yang merupakan ekspresi dari kombinasi berbagai faktor
lingkungan. Kejadian ini merupakan proses adaptasi yang mengarah pada pengisian nisia
(niche) yang kosong dan mengarah pada pemanfaatan lingkungan secara efisien dan lengkap
(Darmawan, 2005).

C. Prinsip-prinsip Adaptasi Hewan


Sifat adaptasi penting bagi hewan dan organisme lain untuk bertahan hidup pada
lingkungan baru atau jika ada perubahan lingkungan di habitatnya. Namun, kemampuan hewan
untuk beradaptasi dengan lingkungannya berbeda-beda (Darmawan, 2005).
Kemampuan hewan dan mahluk hidup lain untuk beradaptasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang dijelaskan sebagai berikut (Darmawan, 2005).
1.

Adaptasi ditentukan oleh sifat genetik. Di atas telah disebutkan bahwa jenis organisme
yang sekarang hidup dan teradaptasi dengan lingkungan habitatnya adalah jenis organisme
yang sifat-sifatnya diwarisi dari nenek moyangnya. Ciri-ciri habitat itu secara kebetulan
sama dengan ciri-ciri habitat pada lingkungan yang dihuni oleh nenek moyangnya. Sifat
yang diturunkan itu adalah sifat genetik. Sifat-sifat genetik itu memunculkan fenotip yang
sesuai dengan kondisi faktor-faktor lingkungannya. Kupu Biston betularia yang saat ini
hidup di daerah industri adalah kelompok yang mempunyai variasi gen yang
mengekspresikan warna hitam pada tubuhnya, dan sifat itu menurun sehingga
keturunannya tetap berwarna hitam, meskipun kerabatnya yang hidup di luar daerah
industri itu berwarna terang.

2.

Kemampuan adaptasi dipengaruhi oleh kemampuan berkembang biak. Populasi yang


anggotanya mampu menghasilkan keturunan dalam jumlah banyak lebih mampu bertahan
hidup. Banyaknya anak memunculkan banyak variasi sifat yang ditimbulkan yang muncul

akibat perkawinan antara anggota populasi yang mempunyai sifat berbeda. Di antara
sifat itu terdapat kemungkinan yang besar untuk sesuia dengan kondisi lingkungannya.
3.

Kemungkinan hewan untuk beradaptasi terhadap suatu perubahan lingkungan ditentukan


oleh frekuensi perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan ada yang bersifat siklik,
terarah, dan eratik (tidak teratur). Perubahan lingkungan yang bersifat siklik adalah
perubahan lingkungan yang terjadi berulang-ulang dan intensitas rendah, misalnya
perubahan intensitas cahaya antara siang dan malam. Hewan mudah beradaptasi terhadap
perubahan semacam itu. Pe-rubahan lingkungan yang bersifat terarah biasanya
berlangsung dalam waktu panjang, seringkali melebihi masa hidup hewan, misalnya
pendangkalan dasar sungai muara yang disebabkan oleh terjadinya endapan lumpur yang
terbawa air. Hewan mungkin juga mengadaptasikan dirinya terhadap peruba-han itu jika
intensitasnya tidak besar. Namun pada perubahan lingkungan yang bersifat eratik, hewan
tidak dapat mengadaptasikan dirinya karena perubahan itu bersifat mendadak, terjadi
dalam waktu singkat, dan intensitasnya besar, misalnya kebakaran hutan, angin tornado,
dan banjir.
Kemampuan hewan untuk beradaptasi terbatas. Keterbatasan-keterbatasan hewan

dijelaskan sebagai berikut (Darmawan, 2005).


1.

Ketahanan hidup (survival) hewan bergantung pada kapasitas individu untuk mengatasi
lingkungannya. Setiap individu hewan mempunyai ketahanan sendiri-sendiri.

2.

Pada setiap jenis organisme, masing-masing individunya mempunyai ke-mampuan


adaptasi yang berbeda.

3.

Karena setiap perubahan selalu bertumpang tindih dengan kondisi se-belumnya maka
adaptasi merupakan proses yang lambat.

4.

Adaptasi melibatkan seluruh kegiatan hidup (the whole bussines of living).

D. Respon Dasar Hewan


Dalam menanggapi (merespon) perubahan faktor-faktor lingkungan, menurut
Karmadibrata (1992, dalam Sukarsono, 2009) dikenal tiga macam respon dasar hewan untuk
menghadapi kondisi faktor lingkungan, yaitu respon pengaturan, respon penyesuaian, dan
respon perkembangan (Tabel 1). Ketiga respon itu ber-operasi menurut mekanisme umpan
balik negatif.
Tabel 1. Respon Dasar Hewan Terhadap Perubahan Kondisi Lingkungan yang Terjadi Selama Periode
Ontogeni Suatu Jenis Hewan
Tipe Respon
Lamanya Waktu
Sifat Respon

Pengaturan
Penyesuaian
Perkembangan

Singkat: detik, menit, jam


Cukup singkat: hari, minggu
Lama dan bergantung dari lamanya
waktu perkembangan hewan
(Sumber: Sukarsono, 2009)

Reversible
Reversible
Irreversible

Jika salah satu aspek dari sistem tersebut mengalami perubahan yang membias
menjauhi kondisi semula, maka sistem akan bereaksi sebaliknya untuk mengembalikan
pengaruh perubahan tersebut. supaya mekanisme umpan balik negatif itu beroperasi dengan
baik maka respon hewan harus cukup besarannya serta perwaktuan dan kecepatannya
berlangsung tepat (Sukarsono, 2009).
a.

Reversible Respons
Respon dasar yang bersifat reversible atau dapat balik dan relatif paling sederhana

adalah respon pengaturan. Respon tipe ini berlangsung cepat dan ter-utama terjadinya melalui
mekanisme fisiologi hewan yang menyangkut perubahan proses-proses metabolisme tubuhnya.
Contoh dari respon tipe demikian adalah adanya perubahan bentuk pupil pada mata hewan
ketika terjadi perubahan intensi-tas cahaya, gerakan sayap serangga jika suhu lingkungan turun,
kontraksi tentakel pada gurita jika disentuh, dan lain sebagainya (Sukarsono, 2009).
Tipe kedua adalah respon penyesuaian. Respon ini membutuhkan waktu yang lebih
lama dibandingkan dengan tipe respon pengaturan. Tipe respon penyesuaian melibatkan
terjadinya perubahan struktur dan morfologi. Contohnya ialah pembentukan bulu yang lebat
karena kondisi suhu lingkungan yang terus menurun, terjadinya penambahan pigmentasi kulit
akibat suhu lingkungan yang terus meningkat, atau terjadinya proliferasi eritrosit karena
tekanan parsial oksigen yang terus menurun di atmosfer. Perwujudan respon penyesuaian
tersebut dapat berubah kembali ke keada-an semula apabila kondisi lingkungan berubah
kembali ke semula (Sukarsono, 2009).
Perubahan-perubahan kondisi lingkungan yang bersifat musiman biasanya dihadapi
oleh hewan-hewan yang berumur panjang dengan respon-respon tipe pe-nyesuaian. Sifat
reversibilitas respon sangat penting karena kondisi-kondisi ber-beda yang menandai setiap
musim akan selalu berulang setiap tahun (Sukarsono, 2009).
b.

Irreversible Respons
Respon perkembangan sifatnya berlangsung lama karena tidak hanya me-libatkan

terjadinya proses-proses yang banyak macamnya namun juga menyang-kut perubahan struktur
yang banyak pula. Perwujudan dari respon ini yang berupa perubahan struktur atau morfologi
tertentu sifatnya relatif permanen atau ir-reversible (Sukarsono, 2009).

Sekali suatu perubahan morfologi terjadi sebagai respon terhadap suatu kondisi
lingkungan selama periode perkembangan, maka perubahan yang terjadi bersifat tetap hingga
hewan itu dewasa. Contohnya adalah perubahan jumlah mata faset pada Drosophila
melanogaster karena kondisi suhu lingkungan yang tinggi, demikian pula terjadinya fenomena
siklomorfosis pada Daphnia sp. pada suhu lingkungan tinggi, ataupun fenomena belajar pada
hewan. Contoh lain yang ekstrim ialah jika lingkungan mengandung bahan atau substansi yang
bersifat teratogenik, maka struktur dan morfologi yang dihasilkan merupakan bentuk yang
cacat (Sukarsono, 2009).

E. Adaptasi Struktural
Adaptasi struktural adalah sifat adaptasi yang muncul dalam wujud sifat-sifat
morfologis tubuh, meliputi bentuk tubuh, bentuk dan susunan alat-alat tubuh, ukuran tubuh,
serta warna tubuh (kulit dan bulu). Pada subbab sebelumnya telah diuraikan beberapa contoh
adaptasi yang menyangkut bentuk, ukuran, dan warna tubuh dalam rangka menjelaskan tentang
Hukum Bergman, Hukum Allen, dan Hukum Gloger. Berikut ini akan dijelaskan contohcontoh lain dari adaptasi struktural (Darmawan, 2005).

1.

Bentuk dan Ukuran Tubuh


Bentuk tubuh adalah pola tubuh yang menyangkut perbandingan antara lebar dan

panjang tubuh. Hewan-hewan yang hidup di daerah dinging mempunyai bentuk bulat dan
besar, sedangkan yang hidup di daerah panas tubuhnya lebih kecil dan ramping. Pada hewan
yang hidup didaerah dingin perbandingan atau selisih antara lebar dan panjang tubuh kecil,
sehingga tubuhnya cenderung nam-pak berbentuk bulat. Bentuk tubuh seperti ini tidak mudah
untuk melepaskan panas atau lebih bersifat menyimpan panas jika suhu berubah menjadi lebih
dingin.
Bentuk tubuh lain yang ada kaitannya dengan penyesuaian diri dengan lingkungan
adalah bentuk streamline pada ikan. Bentuk seperti itu memudahkan ikan untuk bergerak di
air, karena bentuk tubuh pipih serta meruncing di depan dan belakang untuk mengurangi
tahanan air (Darmawan, 2005).

2.

Bagian-bagian Tubuh
Dalam hal ukuran dan bagian-bagian tubuh telah diuraikan sesuai dengan Hukum Allen.

Hewan yang hidup di daerah panas mempunyai bagian-bagian tubuh yang lebih panjang
dibandingkan hewan yang hidup di daerah dingin (Darmawan, 2005).

Aspek lain pada bagian-bagian tubuh hewan yang mempunyai kesesuaian dengan
lingkungan adalah bentuk-bentuk bagian-bagian tubuh yang bersifat homolog dan analog, lihat
Gambar 3. Sifat homolog dapat diamati pada anggota gerak tubuh hewan-hewan vertebrata.
Pada dasarnya semua hewan vertebrata mempunyai dua pasang anggota gerak depan dan
belakang. Pada hewan mamalia kedua pasang anggota gerak tubuh berfungsi sebagai kaki.
Pada burung anggota gerak tubuh depan berfungsi sebagai sayap. Pada beberapa jenis reptil,
misalnya pada kadal dan biawak kedua pasang anggota gerak tubuh berfungsi sebagai kaki,
sedangkan pada penyu kedua pasang anggota gerak tubuh berfungsi sebagai alat renang. Kaki
depan kuda, sayap burung, sirip penyu, dan sirip ikan merupakan alat-alat tubuh yang secara
embrional berasal dari jaringan yang sama, tetapi dalam perkembangannya berubah menjadi
bagian tubuh yang berfungsi berbeda. Keadaan demikian disebut homolog (Darmawan, 2005).

Gambar 2. Homologi Anggota Tubuh Bagian Depan pada Beberapa Hewan


(Sumber: Image.google.co.id)

Pada fenomena lain, burung dan belalang mempunyai sayap yang me-mungkinkan
untuk bergerak di udara, tetapi kedua alat gerak tersebut berasal dari jaringan embrional yang
berbeda. Keadaan demikian disebut analog (Darmawan, 2005).

Adaptasi alat-alat gerak pada hewan darat sesuai dengan sifat-sifat substrat yang ada di
habitatnya. Anggota gerak depan hewan mamalia yang tergolong pada ordo Primata
kebanyakan dapat digunakan untuk memegang. Hewan-hewan pada ordo Primata hampir
semuanya dapat memanjat pohon dan bergerak dari satu cabang pohon ke cabang pohon yang
lain. Anggota gerak depan digunakan untuk memegang cabang atau ranting pada saat hewanhewan tersebut bergerak di atas pohon. Disamping itu anggota depan juga digunakan untuk
memegang makanan dan benda-benda lain. Misalnya, simpanse yang di pelihara di dalam
kandang dapat menggunakan tongkat untuk mendekatkan makanan yang berada di luar
kandangnya. Perkembangan anggota gerak tubuh bagian depan sangat menonjol pada manusia
(Homo sapiens) (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan mamalia lain yang hidup di pohon (misalnya tupai) kaki depan dan
belakang tidak dapat digunakan untuk memegang, tetapi di lengkapi dengan kuku yang tajam
sehingga kaki dapat mencengkeram pohon yang di-panjatnya. Di samping itu, tupai juga
mempunyai tubuh kecil dan gerakan yang sangat lincah. Ukuran tubuh tersebut sangat
mempermudah gerakan di atas pohon. Hewan-hewan mamalia yang hidup di lingkungan yang
tanahnya keras atau ber-batu kebanyakan mempunyai jejak kaki yang keras, karena telapak
kakinya ter-tutup oleh lapisan tanduk yang tebal. Diantara hewan-hewan yang telapak kakinya
dilapisi tanduk yang keras adalah kijang, babi hutan, dan banteng (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan yang tergolong unggas ada yang hidup di lingkungan pohon-pohon,
tanah keras, tanah becek, dan air. Adaptasi untuk hidup di lingkungan yang berbeda itu tampak
pada bentuk susunan jari kaki. Pada burung yang hidup di pohon, jari kakinya yang menghadap
ke belakang agak panjang sehingga bersama-sama dengan jari kaki yang menghadap ke depan
dapat digunakan untuk mencengkeram cabang atau ranting pada waktu hinggap. Burung buas
mempunyai kaki yang berkuku panjang dan melengkung, yang berguna untuk menangkap dan
mencengkeram mangsanya, misalnya pada burung elang. Unggas yang hidup di tanah yang
becek mempunyai jari kaki yang berselaput. Selaput itu di antara jari-jari kaki. Keberadaan
selaput kaki unggas itu berfungsi agar unggas tidak ter-perosok ke dalam tanah. Salah satu
unggas yang biasanya berada pada tanah yang becek adalah burung bangau. Selaput pada kaki
unggas yang hidup di air (misalnya burung belibis, angsa, dan itik) berkembang lebih lebar
sehingga dapat digunakan untuk berenang (Darmawan, 2005).
Bentuk-bentuk adaptasi lain pada kaki dapat diamati pada beberapa jenis organisme
hewan. Cicak mempunyai telapak kaki yang rata jika ditempelkan di substratnya sehingga tidak
ada rongga udara di antara permukaan kaki dengan permukaan substrat. Dengan demikian
telapak kaki itu akan menempel karena pengaruh tekanan udara. Demikian pula pada tentakel

cumi-cumi, gurita, dan hewan-hewan dalam kelas Asteroidea mempunyai batil penghisap.
Batil peng-hisap itu digunakan untuk melekatkan kakinya pada substrat atau benda-benda yang
dipegangnya. Fungsi lain batil penghisap adalah untuk membantu membuka cangkang kerang
(kelas Bivalvea),sehingga dapat memangsa kerang tersebut (Darmawan, 2005).
Adaptasi struktural juga terjadi pada mulut dari hewan-hewan vertebrata dan
avertebrata. Bentuk mulut pada hewan mamalia secara umum sama. Perbeda-annya terutama
terdapat pada bentuk dan susunan gigi. Hewan pemakan daging, seperti harimau mempunyai
taring yang kuat yang telah berkembang dengan baik untuk mecabik daging hewan yang
dimangsanya. Hewan pengerat (Rodentia) sebagian besar mempunyai gigi seri yang panjang
dan geraham yang bentuknya sesuai untuk mengunyah makanan hingga halus (Darmawan,
2005).
Bentuk mulut yang berbeda dapat kita jumpai pada paruh burung. Bentuk paruh burung
pemakan biji tentu berbeda dengan bentuk paruh burung pemakan buah. Pada burung pemakan
biji paruhnya pendek, burung penghisap madu paruhnya panjang dan kecil, burung pemakan
daging mempunyai paruh yang besar dan paruh bagian atasnya melengkung, dan paruh unggas
air berbentuk sudu. Perbedaan bentuk mulut dapat pula dijumpai pada serangga. Misalnya,
pada kupu-kupu mempunyai bentuk mulut seperti belalai yang disebut probosis yang sesuai
digunakan untuk menghisap madu pada kelenjar madu. Sedangkan mulut lalat rumah (Musca
domestica) berbentuk seperti lidah yang sesuai untuk menjilat makanan yang basah, misalnya
daging busuk. Mulut nyamuk berbentuk seperti jarum untuk menusuk kulit dan menghisap
darah hospesnya (Darmawan, 2005).

3.

Penutup Tubuh (Kulit dan Bulu)


Penutup tubuh pada hewan berbeda-beda. Sebagian besar hewan pada filum Arthropoda

mempunyai kulit tebal yang tersusun dari khitin. Kulit seperti itu sangat berguna untuk
menahan hilangnya air dari dalam tubuh, karena sebagian besar hewan-hewan filum
Arthropoda di lingkungan dengan kelembaban udara yang lebih rendah daripada lingkungan
hidup lain, yaitu di dalam tanah dan air. Kulit yang tebal juga dimiliki oleh beberapa jenis
hewan yang termasuk dalam filum Mollusca, misalnya siput. Siput bahkan dapat menutup
seluruh permukaan tubuhnya jika lingkungan hidupnya sangat kering. Siput air biasanya
mempunyai tutup cangkang yang dapat dibuka dan ditutup. Siput kebun tidak mempunyai tutup
cangkang seperti itu, tetapi pada musim kering hewan itu membentuk epifragma untuk
menutup lubang cangkangnya selama musim kering. Epifragma itu adalah selaput yang terbuat
dari cairang yang disekresikan oleh tubuh siput (Darmawan, 2005).

Beberapa jenis organisme vertebrata juga mempunyai kulit yang tebal, terutama hewanhewan yang terkelompokkan dalam kelas Reptilia. Kulit hewan-hewan kelas Reptilia pada
umumnya tebal dan tersusun oleh lapisan tanduk. Kulit semacam itu sangat berguna untuk
menahan penguapan pada saat hewan-hewan itu berada pada kondisi lingkungan yang kering.
Hewan yang tergolong kelas Amphibia tidak mempunyai kulit yang tebal, namun jaringan kulit
jaringan di bawah kulitnya selalu mengeluarkan cairan sehingga permukaan kulitnya nampak
selalu basah (Darmawan, 2005).
Burung mempunyai penutup tubuh yang disebut bulu. Bulu-bulu pada burung
mempunyai sifat sebagai isolator suhu, sehingga perubahan suhu lingku-ngan tidak terlalu
mempengaruhi suhu di dalam tubuh burung. Hewan-hewan pada kelas Mamalia mempunyai
kulit yang dilengkapi dengan pori-pori dan kelenjar keringat. Kelenjar keringat dan pori-pori
itu berguna untuk mengatur keluarnya air dari dalam tubuh sehingga tekanan osmotik dan
temperatur tubuh tetap berada pada kisaran yang stabil. Kulit pada hewan kelas Mamalia
dilengkapi dengan rambut yang berfungsi sebagai isolator suhu. Hewan kelas Mamalia yang
hidup di lingkungan yang dingin umumnya mempunyai rambut yang lebih tebal dibandingkan
dengan hewan yang hidup pada lingkungan yang panas (Darmawan, 2005). Keanekaragaman
penutup tubuh pada berbagai hewan yang ada di muka bumi sebenarnya telah cukup
mencerminkan keanekaragaman genetik, morfologi, dan ekologi di dunia.
4.

Warna Tubuh
Munculnya warna pada permukaan tubuh hewan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu

(1) pigmen-pigmen khusus yang menyerap panjang gelombang ter-tentu dan memantulkan
panjang gelombang yang lain, (2) struktur permukaan tubuh yang menyebabkan sinar terserap
atau terefraksikan, (3) kombinasi dari pe-ngaruh absortif, refraktif, dan difraktif. Diantara
warna-warna itu kemungkinan ada yang berhubungan dengan sifat adaptif terhadap
lingkungannya. Hubungan itu dapat diketahui dari hewan-hewan yang hidup pada lokasi
geografis yang sama akan mempunyai warna yang sama. Pada tahun 1914 (seperti yang dikutip
oleh Pearse, 1926 dalam Darmawan, 2005) Braun mempelajari Microlepidoptera dari genus
Lithocellites yakin bahwa pola-pola warna pada hewan merupakan akibat dari proses fisiologis
dan bahwa pola-pola itu mengikuti kecenderungan orthogenik, yaitu bergantung pada kondisi
eksternal. Berdasarkan kenyataan bahwa warna hewan mempunyai hubungan dengan sifat
adaptasi terhadap kondisi lingkungannya dapat dijelaskan dengan Hukum Gloger dan
fenomena melanisme industrial, seperti yang telah diuraikan pada subbab sebelumnya.
Kesesuaian antara warna dengan kondisi lingkungan sebagaimana yang diuraikan dalam
Hukum Gloger dan fenomena melanisme industrial berkaitan dengan keberhasilan hewan

dalam menghadapi seleksi alam. Warna pada hewan nampaknya mem-punyai kegunaan yang
berkaitan dengan fungsi-fungsi khusus supaya sesuai dengan kondisi lingkungannya
(Darmawan, 2005).

5.

Mimikri
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa warna-warna pada hewan mem-punyai

kegunaan tertentu bagi dirinya. Sesuai dengan kegunaannya, warna-warna itu dapat dibedakan
dengan klasifikasi Poulton (Pearse, 1926 dalam Darmawan, 2005) yang dijelaskan berikut ini.
1.

Warna apatetik yaitu warna organisme yang keseluruhan atau sebagian dari tubuhnya
sama dengan lingkungannya. Warna apatetik dibedakan menjadi
dua, yaitu:
a. Warna kriptik yaitu warna yang sama dengan lingkungannya yang berguna untuk
bersembunyi. Warna kriptik meliputi (1) warna prokriptik yaitu ke-samaan warna
untuk berlindung dan (2) warna antikriptik yaitu kesamaan warna untuk menyerang.
b. Warna pseudosematik yaitu warna yang berguna sebagai tanda peringatan atau ironik.
Warna pseudosematik meliputi (1) warna pseudaposematik yaitu mimikri yang bersifat
protektif dan (2) warna pseudepisematik yaitu mimikri yang bersifat agresif dan erotik.

2.

Warna sematik yaitu warna yang digunakan untuk memberikan sinyal atau peringatan.
Warna sematik meliputi (1) warna aposematik yang berfungsi untuk memberikan
peringatan dan (2) warna episematik yang berfungsi untuk memberi sinyal.

3.

Warna epigamik adalah warna yang dimunculkan untuk kawin.


Kategori-kategori di atas dijelaskan dengan uraian dan contoh-contoh berikut. Di antara

warna-warna yang dimiliki oleh hewan ada yang sama atau mirip dengan benda-benda yang
ada di lingkungannya, baik benda mati maupun mahluk hidup lainnya. Kesamaan warna hewan
dengan benda-benda lain yang ada di lingkungannya dikenal dengan istilah mimikri. Contoh
mimikri yang umum untuk adalah warna yang ditunjukkan oleh bunglon. Pada saat bunglon
hinggap di tempat yang berwarna cokelat maka tubuhnya juga akan berwarna cokelat dan
ketika hinggap di daun yang berwarna hijau maka kulitnya juga akan berwarna hijau
(Darmawan, 2005).
Warna hewan yang bersifat tetap juga ada yang sama atau mirip dengan lingkungannya.
Sifat-sifat mimikri ini lebih banyak dijumpai pada hewan-hewan kelas Insecta, baik yang masih
dalam fase larva (misalnya ulat) maupun yang sudah memasuki fase imago (misalnya belalang
dan kupu-kupu). Belalang dan ulat yang seringkali hinggap di daun umumnya berwarna hijau,
sedangkan belalang atau ulat yang sering hinggap di batang pohon umumnya berwarna cokelat.

Kesamaan warna itu bukan hanya warna dasar namun juga pola warna yang sangat mirip
dengan lingkungannya (Darmawan, 2005).
Mimikri juga dapat berupa kemiripan bentuk hewan dengan benda-benda
di lingkungannya. Bentuk tubuh belalang kayu (walking stick) bersama dengan kakinya mirip
dengan cabang-cabang atau ranting-ranting tumbuhan. Ada pula ulat yang jika menempel pada
suatu cabang atau batang membentuk posisi tubuh sedemikian rupa sehingga menyerupai
cabang, ranting, atau daun yang dihingga-pinya (Darmawan, 2005).
Kesamaan warna dan bentuk hewan yang telah disebutkan di atas merupakan contoh
warna prokriptik, yaitu kesamaan atau kemiripan warna yang menyebabkan hewan
tersembunyi atau tidak mudah dilihat oleh predatornya. Disamping itu, adapula ulat yang
bentuk kepalanya mirip dengan kepala ular dengan mata yang menonjol dan berwarna
menyolok sehingga menunjukkan kesan bahwa hewan itu garang dan sedang akan menyerang.
Contoh tersebut me-rupakan pseudepisematik (Darmawan, 2005).
Kesamaan bentuk, warna, dan tingkah laku antara satu jenis organisme hewan dengan
organisme hewan yang lain juga terjadi di alam. Hewan yang bentuk, warna, dan tingkah
lakunya meniru disebut mimik, sedangkan hewan yang bentuk, warna, dan tingkah lakunya
ditiru disebut model. Kejadian mimikri terhadap bentuk, warna, dan tingkah laku itu banyak
dijumpai pada kelas Insecta (Darmawan, 2005).
Sifat mimikri berguna untuk menghindarkan diri organisme dari predator. Terdapat
dua macam mimikri sehubungan dengan kepentingannya untuk mengurangi kemungkinan
untuk diserang oleh predator, yaitu mimikri Batesian dan mimikri Mullerian. Pada mimikri
Batesian hewan mimik mempunyai rasa enak dan disukai oleh predator, namun hewan model
mempunyai rasa tidak enak dan tidak disukai oleh predator. Contoh mimikri Batesian adalah
kupu-kupu viceroy (mimik) dan kupu-kupu monarch (model). Dengan sifat yang dimilikinya
itu, kupu-kupu viceroy mempunyai kemungkinan rendah terserang burung predator, karena
ketika melihatnya burung predator menghubungkan pola warna kupu-kupu ini dengan pola
warna kupu-kupu monarch yang tidak disukai predator. Namun mimikri Batesian juga
mengandung resiko. Bagaimanapun dalam kejadian mimikri itu warna mimik dan model tidak
sepenuhnya sama. Berdasarkan pengalamannya, burung predator suatu ketika juga akan dapat
membedakan mangsa yang rasanya enak (mimik) dan tidak enak (model), sehingga burung
predator dapat memilih mangsa yang rasanya enak. Pada mimikri Mullerian antara hewan
mimik dan model masing-masing sama-sama tidak disukai oleh predator dan bahkan dapat
menyebabkan predator celaka. Kedua
mimikri ini merupakan contoh untuk pseudaposematik (Darmawan, 2005).

6.

Bau
Hewan-hewan tertentu mempunyai bau yang khas. Bau yang khas itu dapat merupakan

tanda bagi hewan lain yang sejenis, misalnya serangga-serangga tertentu mempunyai hormon
yang dikenal sebagai feromon yang dapat digunakan untuk memikat lawan jenisnya pada
musim kawin. Namun, adapula hewan yang mempunyai bau yang tidak disukai oleh jenis
hewan lainnya. Bau seperti itu me-nyebabkan hewan predator menjauhinya. Contoh yang
paling umum adalah bau pada walang sangit (Darmawan, 2005).

F. Adaptasi Fisiologis
Adaptasi fisiologis adalah adaptasi yang menyangkut kesesuaian proses-proses
fisiologis hewan dengan kondisi lingkungan dan sumberdaya yang ada di habitatnya. Di antara
ciri-ciri fisiologis hewan yang teradaptasi ada yang berkaitan denga adaptasi struktural,
terutama pada bagian-bagian dalam tubuh. Adanya ke-terkaitan antara ciri fisiologis dengan
ciri struktural mungkin ada yang nampak jelas jika dilihat dari garis evolusi yang terbentang
dari organisme sederhana sampai ke organisme tingkat tinggi. Untuk memberikan gambaran
tentang adanya ciri-ciri fisiologis hewan yang teradaptasi pada lingkungan maka secara umum
dijelaskan adaptasi fisiologis yang nampak jelas kaitannya dengan habitat (Darmawan, 2005).

1.

Sistem Respirasi
Secara umum respirasi dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan oksigen dan

pengeluaran karbondioksida. Lebih khusus, respirasi dapat dimaknai sebagai pembongkaran


makanan untuk mengambil energi kimia yang tersimpan di dalamnya. Proses fisiologi respirasi
berbeda antara jenis hewan yang satu dengan hewan lainnya. Secara ekologis, perbedaan
tersebut disebabkan oleh faktor eksternal terutama konsentrasi oksigen di habitat. Perbedaan
sistem dan proses respirasi juga ada hubungannya dengan tingkat kerumitan anatomi tubuh
hewan. Hubungan faktor ekologis dan kerumitan anatomi tubuh dengan adaptasi fisiolo-gis
respirasi dijelaskan oleh Schmidt-Nielsen (1990) dalam Darmawan (2005) sebagai berikut:
hewan-hewan air mengambil oksigen dari gas yang terlarut di dalam air yang berkonsentrasi
rendah, hewan dapat mengambil oksigen dari per-mukaan tubuh, tetapi hewan besar
membutuhkan alat khusus untuk menghisap oksigen . Keterkaitan antara fisiologis respirasi
dengan habitat secara umum juga dijelaskan oleh Schimdt-Nielsen (1990) dalam Darmawan
(2005) sebagai berikut: kehidupan tampaknya berasal dari laut, maka hampir semua hewan

(kecuali serangga) adalah hewan yang mempunyai ciri kelautan. Evolusi adaptasi pada
pernafasan sebagian besar terjadi pada serangga dan vertebrata.
Organisme sel tunggal pada umumnya hidup di lingkungan berair. Diantaranya ada
yang tinggal di tempat yang dalam, dan adapula yang tinggal di permukaan air. Organisme sel
tunggal yang hidup di air dalam pada umumnya bersifat anaerobik, sedangkan organisme sel
tunggal yang hidup di permukaan air pada umumnya aerobik. Perbedaan itu kemungkinan
disebabkan karena berhubu-ngan dengan konsentrasi larutan oksigen dalam air. Kandungan
oksigen di tempat yang dalam relatif rendah. Organisme anaerobik mengadaptasikan dirinya
pada lingkungan yang kekurangan oksigen dengan melakukan respirasi tanpa oksigen. Pada
respirasi anaerobik karbohidrat dibongkar supaya mengeluarkan energi dengan produk
sampingan asam cuka dan alkohol. Sedangkan organisme aerobik melakukan respirasi dengan
oksigen. Pada respirasi aerobik karbohidrat dibongkar supaya mengeluarkan energi dengan
produk sampingan karbondioksida dan air. Karena organisme ini sel tunggal maka oksigen
diserap langsung melalui seluruh permukaan membran sel. Hewan-hewan multiseluler yang
berespirasi secara anaerobik antara lain hewan-hewan parasit usus, hewan yang hidup di dalam
lumpur, dan kerang yang cangkoknya sedang tertutup dalam waktu yang lama (Darmawan,
2005).
Pada organisme tingkat tinggi juga dapat terjadi respirasi anaerobik, ter-utama jika
pemasukan oksigen dari udara luar tidak mencukupi untuk kebutuhan respirasi aeraobik. Salah
satu contoh yang mudah diamati adalah pada manusia. Pada saat manusia melakukan kerja otot
melebihi kapasitas paru-paru untuk menghirup oksigen, pembongkaran bahan bakar
karbohidrat ditingkatkan dengan respirasi anaerobik. Adanya respirasi anaerobik dapat ditandai
dengan ter-bentuknya asam laktat yang tersimpan dalam jaringan otot yang melakukan kerja
berat. Timbunan asam laktat itu terbawa oleh aliran darah, dan sampai di hati untuk diubah
menjadi glikogen dan disimpan dalam hati (Darmawan, 2005).
Jarak antara permukaan tubuh dengan bagian pusat tubuh pada hewan yang tersusun
atas banyak sel (multiseluler) yang berukuran kecil tidak jauh ber-beda. Demikian pula pada
hewan-hewan yang bertubuh pipih dan panjang dan hewan yang memiliki tonjolan kaki semu.
Hewan-hewan yang demikian tidak membutuhkan alat respirasi khusus dan respirasinya
dilakukan secara difusi melalui seluruh permukaan tubuh. Hewan-hewan demikian itu juga
tidak mem-butuhkan alat-alat transportasi untuk mendistribusikan udara respirasi ke sel-sel
yang membutuhkan. Hewan yang memasukkan oksigen dengan cara difusi dan tidak
mempunyai alat respirasi khusus antara lain hewan yang tergolong ke dalam filum Porifera dan
filum Coelenterata (Darmawan, 2005).

Alat respirasi khusus menjadi mutlak bagi hewan-hewan yang berukuran besar dan
permukaan tubuhnya tertutup oleh kulit yang tak dapat diresapi oleh gas. Meskipun demikian,
ada hewan yang mempunyai alat respirasi khusus tetapi masih juga memasukkan oksigen ke
dalam tubuh secara difusi melalui permukaan tubuh, misalnya katak. Permukaan alat respirasi
pada hewan tertentu ada yang melekuk keluar atau evaginasi, misalnya insang. Alat pernapasan
yang demikian umumnya dimiliki oleh hewan air. Meskipun insang pada ikan terletak pada
rongga mulut, bukan berarti insang merupakan invaginasi. Paru-paru pada hewan yang hidup
di darat merupakan pelekukan permukaan ke arah dalam. Paru-paru yang sederhana terdapat
pada siput tanah. Paru-paru yang kompleks terdapat pada vertebrata tingkat tinggi (Darmawan,
2005).
Insecta merupakan hewan yang mempunyai kemampuan paling besar untuk hidup di
lingkungan yang kering. untuk mengurangi hilangnya air dari dalam tubuh, tubuhnya tertutup
kulit tebal yang terbentuk dari khitin. Maka dari itu difusi oksigen melalui permukaan tubuh
tidak dapat berlangsung, sehingga Insecta memerlukan alat respirasi khusus yang disebut
trakhea. Trakhea yang
berfungsi sebagai alat transportasi respirasi (Darmawan, 2005).
Hewan yang melakukan respirasi dengan insang ada yang menjulurkan insangnya
keluar tubuh agar dapat menangkap lebih banyak oksigen, misalnya larva serangga mayfly dari
genus Ephemeridae, dan salamander air dari kelas Reptilia. Hewan air mengeluarkan air
melalui celah insang, agar insang dapat menangkap oksigen. Pengaliran air itu umumnya
dilakukan dengan sistem pompa. Sistem pompa terdapat pada ikan dan ketam. Namun, ikan
tuna tidak dapat me-lakukan aliran air ke insang dengan sistem pompa insang karena tutup
insang (operkulum) tidak dapat bergerak. Ikan tuna berenang cepat sehingga air dapat mengalir
melalui mulut dan keluar melalui celah operkulum (Darmawan, 2005).
Meskipun insang merupakan alat respirasi yang sesuai untuk respirasi dalam air,
beberapa jenis ikan tetap mengambil oksigen dari udara bebas. Ikan-ikan itu naik ke permukaan
air untuk mengeluarkan moncongnya di atas air. Kejadian demikian dapat diamati pada ikan
mujaer, ikan mas, dan beberapa ikan lainnya. Ketam darat menggunakan insangnya untuk
mengambil oksigen dari udara, misalnya ketam pemanjat pohon (Bergus latro) dan ketamketam dari genus Cardisoma. Hewan lain yang insangnya dapat digunakan untuk bernapas di
atmosfer adalah hewan-hewan dari golongan Isopoda darat (Schmidt-Nielsen, 1990 dalam
Darmawan, 2005).
Hewan yang hidup di darat sebenarnya mengalami kesulitan untuk meng-hadapi
pertentangan antara kondisi untuk pengambilan oksigen dengan kondisi untuk memenuhi

kebutuhan air. Kondisi lingkungan yang baik untuk pengambilan oksigen ternyata merupakan
kondisi yang mempercepat hilanganya air dari dalam tubuh. Organisme yang paling berhasil
mengadaptasikan diri pada lingkungan darat adalah serangga. Serangga berkulit keras tidak
dapat ditembus oleh gas dan dilapisi oleh zat lilin sehingga tidak dapat ditembus oleh air.
Respirasinya tidak dapat berlangsung secara difusi melalui permukaan tubuh, maka serangga
mempunyai alat respirasi khusus berupa trakhea. Trakhea adalah sistem saluran respirasi yang
bermula dari lubang pada permukaan tubuh serangga yang disebut spirakel. Spirakel yang
mempunyai penutup yang dapat mengontrol pertukaran udara antara bagian dalam trakhea
dengan udara luar. Lubang itu dilanjutkan oleh saluran-saluran ke arah dalam tubuh, dan
saluran-saluran itu bercabang-cabang di seluruh bagian tubuh. Saluran trakhea yang terkecil
disebut trakheola. Ujung trakheola berhubungan langsung dengan setiap sel tubuh. Sistem
trakhe mengam-bil oksigen dari atmosfer dan mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh
ke atmosfer. Karena itu trakhea berhubungan langsung dengan setiap sel tubuh, maka serangga
tidak membutuhkan sistem transport untuk mengedarkan udara respirasi (Darmawan, 2005).
Jumlah spirakel pada serangga bervariasi. Misalnya, pada larva nyamuk dan kepik air
hanya mempunyai satu spirakel, yang terletak di bagian belakang tubuh. Pada waktu
mengambil napas, larva nyamuk dan kepik menungging dan menggantungkan tubuh di
permukaan air, sehingga spirakel berhubungan langsung dengan udara di atas permukaan air.
Spirakel itu berhubungan dengan satu ruangan yang dapat menyimpan gas respirasi. Gas itu
digunakan ketika serangga tersebut masuk ke dalam air. Serangga yang hidup di darat
mempunyai spirakel yang terdapat di kedua sisi tubuhnya (Darmawan, 2005).

2.

Sistem Sirkulasi
Hewan-hewan bertubuh besar memerlukan sistem sirkulasi untuk me-ngangkut gas, zat

makanan, dan zat-zat lain dari suatu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Pengangkutan zat
di dalam sistem sirkulasi menggunakan cairan yang disebut dengan darah (Darmawan, 2005).
Mengalirnya darah di saluran pengangkutan memerlukan organ khusus yang berperan
sebagai pompa. Pompa darah ada yang berupa peristaltik dan pompa yang berbentuk kantung.
Pompa peristaltik terdapat pada hewan-hewan avertebrata, dan karena berbentuk pembuluh
maka sering disebut jantung pembuluh. Jantung pembuluh bergerak secara peristaltik dengan
gerakan meng-kerut (kontraksi) menekan darah keluar dari jantung pembuluh dan gerakan
mengendor (relaksasi) menyebabkan darah dari arah lain masuk ke dalam jantung pembuluh.
Jantung kantung (misalnya jantung manusia) mempunyai dinding yang tersusun atas jaringan
otot. Kontraksi otot jantung menyebabkan jantung meng-kerut untuk memompakan darah

keluar dari jantung. Pembuluh darah pada hewan-hewan yang mempunyai jantung berbentuk
kantung memiliki klep, sehingga darah tidak dapat berbalik arah jika tekanan jantung menjadi
kecil. Jantung kantung dimiliki oleh vertebrata (Darmawan, 2005).
Pemompaan darah juga dapat terjadi karena tekanan dari luar, misalnya dari jaringan
otot yang mengelilingi pembuluh darah. Contohnya adalah tekanan otot pada vena kaki
menyebabkan darah mengalir ke atas. Pembuluh vena mem-punyai klep yang menahan darah
agar tidak berbalik arah. Pembuluh darah hewan vertebrata yang ke arah luar jantung (arteri)
berhubungan langsung dengan pem-buluh darah yang kembali ke jantung (vena). Dengan
demikian darah tidak pernah keluar dari pembuluh darah pada waktu mengalir ke seluruh
tubuh. Peredaran daraj yang demikian itu disebut peredaran tertutup (Darmawan, 2005).
Pembuluh arteri hewan avertebrata tidak berhubungan dengan pembuluh vena. Pada
ujung arteri darah avertebrata keluar dari pembuluh untuk beredar di dalam jaringan tubuh.
Darah itu masuk ke dalam vena untuk kembali ke jantung. Peredaran darah yang demikian
disebut peredaran darah terbuka (Darmawan, 2005).
Kontraksi otot pada dinding jantung yang berbentuk kantung melakukan kontraksi dan
relaksasi secara terus menerus. Kontraksi dan relaksasi itu me-nyebabkan jantung berdenyut
terus menerus. Frekuensi denyut jantung dalam periode waktu tertentu berbeda antara hewan
yang satu dengan hewan lainnya. Pada kelas Mamalia, frekuensi jantung berbanding terbalik
dengan ukuran dan berat tubuh. Semakin berat dan semakin besar ukuran hewan, maka
frekuensi denyut jantungnya akan semakin rendah (Darmawan, 2005).
Jantung manusia rata-rata berdetak 70 kali selama satu menit. Gajah yang beratnya
mencapai 3000 kg rata-rata jantungnya berdenyut 25 kali selama satu menit. Sebaliknya, tikus
yang beratnya 3 g rata-rata jantungnya berdenyut 600 kali setiap menit (Marrison, dkk., 1959
dalam Schimdt-Nielsen, 1990 dalam Darmawan, 2005). Frekuensi denyut jantung tersebut
terjadi pada saat hewan beristirahat. Pada keadaan aktif frekuensi denyut jantung akan
meningkat. Misalnya denyut jantung burung kolibri (Lasiewski, 1967 dalam Schimdt-Nielsen,
1990 dalam Darmawan, 2005) dan kelelawar (Studier & Howell, 1969 Schimdt-Nielsen, 1990
dalam Darmawan, 2005) yang sedang terbang dapat mencapai 122 kali

setiap

menit.

Peningkatan denyut jantung dengan berat tubuh dapat dirumuskan dengan fh = 241 Mb -0,25 (Darmawan, 2005).
Manusia mempunyai masalah dalam hal tekanan darah sehubungan dengan posisi
tubuhnya pada saat berdiri. Tekanan darah pada serambi kanan jantung rata-rata 100 mmHg,
dan semakin jauh dari jantung tekanan darah semakin mengecil. Ketika manusia dalam keadaan
terlentang maka tekanan darah di jantung dan di tempat lainnya tidak jauh berbeda, yaitu 100

mmHg di jantung, 95 mmHg di kepala dan kaki. Jika berdiri maka tekanan darah di jantung
menjadi 100 mmHg, kepala 55 mmHg, dan di ujung kaki 183 mmHg. Rendahnya tekanan darah
di kepala dan tingginya tekanan darah di kaki pada saat berdiri dipengaruhi oleh gravitasi.
Masalah yang dihadapi oleh manusia adalah jika tekanan di kepala terlalu rendah maka
penyaluran darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke kepala akan berkunrang. Keadaan yang
demikian menyebabkan kepala menjadi pusing. Jika tekanan darah di kaki terlalu tinggi maka
akan menyebabkan pembuluh vena menggembung (Darmawan, 2005).
Jerapah juga menghadapi masalah tekanan darah sehubungan dengan panjang leher.
Pada saat leher ditegakkan, kepala beradap pada ketinggian 2 meter di atas jantung. Agar darah
dapat mencapai kepala, tekanan jantung harus tinggi. Tekanan darah pada jantung jerapah ratarata 260 mmHg dan 100 mmHg di kepala saat lehernya tegak. Untuk menahan tekanan darah
yang tinggi itu pem-buluh darah pada jerapah berdinding tebal. Jika jerapah menggantungkan
kepala-nya untuk minum, kepalanya turun hingga 2 meter dibawah jantung. Aliran darah di
leher ketika pada posisi demikian dibantu oleh klep-klep yang ada di pembuluh vena. Dengan
demikian, tekanan hidrostatik di kepala dapat dikurangi (Darmawan, 2005).

3.

Sistem Pencernaan Makanan


Makanan diperlukan oleh hewan untuk memenuhi kebutuhan energi, membangun dan

memelihara sel dan jaringan, serta untuk pertumbuhan dan per-kembangbiakan. Nutrisi yang
dibutuhkan diperoleh dengan cara memakan tumbu-han (herbivora), hewan lain (karnivora),
dan atau tumbuhan dan hewan (omni-vora). Demikian pula ada yang memakan tumbuhan dan
atau hewan yang masih hidup (predator, parasit, dan parasitoid) dan adapula yang memakan
bagian tubuh tumbuhan dan atau hewan yang sudah mati (scavenger, detritivore, saproba).
Hewan-hewan tertentu memakan makanan yang berukuran kecil dan hewan lain memakan
makanan yang berukuran besar. Perbedaan jenis dan ukuran makanan pada hewan memerlukan
cara yang berbeda untuk mengambil makanan (mema-sukkan ke dalam mulut), menelan, dan
mencerna makanan (Darmawan, 2005).
a. Pengambilan Makanan
Protozoa memakan alga, bakteri, dan bahan yang berukuran mikroskopis. Makanan
dimasukkan langsung ke dalam sel, yaitu ke dalam vakuola makanan yang berfungsi sebagai
alat untuk mencerna makanan. Enzim pencernaan masuk ke dalam vakuola makanan. Sari
makanan langsung didistribusikan dalam sitoplasma, sisa makanan dikeluarkan melalui
membran sel (Darmawan, 2005).

Hewan multiseluler, bahkan yang berukuran sangat besar ada yang me-makan makanan
yang sangat kecil. Hewan-hewan itu mempunyai cara tertentu untuk mengambil makanan dan
memasukkan makanan ke dalam mulut. Hewan yang terkelompokkan dalam filum Porifera
menggerakkan silia untuk mengalir-kan air melalui saluran pori-pori tubuh. Makanan yang
terbawa oleh air diserap oleh sel-sel yang menghadap ke saluran pori-pori. Hewan-hewan yang
terkelom-pokkan dalam filum Coelenterata memasukkan makanan ke dalam rongga tubuh
dengan cara menggerakkan tentakel yang ada di sekeliling lubang rongga tubuh (Darmawan,
2005).
Hewan-hewan avertebrat yang lebih tinggi memakan makanan yang berukuran kecil
dengan cara menyaring makanan yang bercampur dengan bahan-bahan lain. Misalnya ketam
darat yang memakan makanan yang bercampur dengan lumpur. Lumpur dimasukkan ke dalam
mulut dengan kaki capit. Ketika makan ketam memasukkan air sebanyak-banyaknya ke dalam
rongga mulut. Dengan adanya air itu, butir-butir makanan yang kecil terapung, sedangkan
butir-butir lumpur mengendap. Makanan yang terapung ditelan dan butir-butir lumpur yang
tersangkut pada insang dikeluarkan dari mulut dengan cara menyemburkan air yang ada dalam
rongga mulut. Selain memakan makanan yang ada dalam lumpur, ketam darat juga memakan
makanan yang berukuran besar, misalnya bangkai siput dan buah-buah busuk (Darmawan,
2005).
Hewan-hewan vertebrata juga ada yang memakan makanan yang sangat
kecil dengan cara menyaring plankton dan terutama Crustacea kecil. Hiu me-nyaring plankton
masuk ke mulut bersama air. Paus yang berukuran sangat besar juga memakan plankton dengan
cara menyaring. Alat penyaring pada paus berupa sederetan tulang pipih yang melekat pada
rahang atas dan menggantung ke bawah pada kedua sisi. Ketika paus berenang air masuk ke
dalam mulut melewati celah-celah tulang pipih tersebut dan plankton terperangkap pada tepi
tulang yang berupa serabut. Paus biru yang beratnya lebih dari 100 ton juga memakan plankton
dengan cara menyaring yang sama (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan selain yang disebutkan di atas memakan makanan yang be-rukuran
besar. Makanan harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum dicerna atau ditelan secara
enzimatik. Belalang memotong dan mengunyah makanan dengan maksila dan mandibula.
Ketam darat Parathelphus bogorensis mencabik makanan yang berupa daging hewan sebelum
dimasukkan ke dalam mulut. Hewan-hewan mamalia kebanyakan mempunyai gigi yang dapat
digunakan untuk mencabik, me-motong, dan mengunyah makanan. Makanan yang berukuran
besar dipotong dengan gigi seri atau dicabik dengan gigi taring. Setelah berukuran cukup kecil
kemudian makanan dikunyah dan ditelan (Darmawan, 2005).

Beberapa spesies hewan vertebrata yang tidak mempunyai gigi atau tidak mempunyai
rahang yang fleksibel menelan seluruh makanan yang didapatkan tanpa dipotong atau dikunyah
terlebih dahulu. Misalnya pada hewan yang terke-lompokkan dalam kelas Pisces, Amphibia,
Reptilia, dan Aves. Hewan-hewan itu mempunyai cara tertentu untuk menghancurkan
makanan. Burung mempunyai lambung pengunyah (gizzard) yang umumnya dikenal dengan
sebutan tembolok. Makanan yang ditelan dilumat secara mekanik dalam tembolok. Ular sering
me-nelan makanan yang berukuran besar. Makanan tersebut dicerna secara bertahap dalam
waktu yang lama (Darmawan, 2005).
b. Pencernaan Makanan
Makanan yang berasal dari tumbuhan atau hewan mengandung beberapa zat organik
yang molekulnya berukuran besar, yaitu karbohidrat, lemak,dan protein. Makanan yang masuk
ke dalam saluran pencernaan sebagian besar masih dalam bentuk molekul yang berukuran
besar, sehingga tidak dapat diserap oleh dinding usus. Molekul yang masih besar perlu
disederhanakan menjadi molekul yang dapat diserap oleh usus dengan enzim yang disekresikan
oleh kelenjar-kelenjar pencernaan. Karbohidrat disederhanakan dengan enzim-enzim yang tergolong karbohidrase, yaitu amilase, sukrase, dan maltase. Lemak diuraikan oleh enzim-enzim
lipase. Protein diuraikan oleh enzim-enzim yang tergolong peptidase, misalnya pepsin dan
tripsin. Karbohidrat diuraikan menjadi glukosa (monosakarida), lemak diuraikan menjadi asam
lemak dan gliserol, dan protein atau polipeptida diuraikan menjadi asam amino (monopeptida)
(Darmawan, 2005).
Hewan-hewan tertentu mempunyai masalah dalam mencerna bahan-bahan organik.
Senyawa lemak ada yang berbentuk lilin. Lilin tidak dapat dihidrolisis oleh lipase yang dimiliki
oleh kebanyakan hewan. Maka dari itu lilin tidak mem-punyai nilai sebagai bahan makanan
hewan. Namun, ada beberapa hewan yang dapat memanfaatkan lilin. Misalnya larva kupukupu malam (wax moth) yang menjadi parasit di sarang lebah madu dapat mencerna lilin
penyusun sarang lebah. Adapula burung yang dapat mencerna lilin atas bantuan bakteri yang
hidup sebagai simbion di dalam saluran pencernaan makanan. Burung tersebut sering
digunakan untuk memandu menemukan sarang lebah oleh masyarakat di Afrika Selatan
(Darmawan, 2005).
Lilin sangat penting bagi kehidupan organisme di ekosistem laut. Di laut terdapat
banyak organisme yang tubuhnya mengandung lilin, misalnya hewan yang terkelompokkan
dalam kelas Cephalopoda dan Crustacea, filum Coelenterata dan ikan. Penghasil lilin utama
adalah hewan Copepoda sp. yang 70% tubuhnya tersusun atas lilin. Ikan hering dan ikan sarden
yang memakan Copepoda sp. mempunyai enzim lipase yang dapat mencerna lilin (Sargent &

Gatten, 1976 dalam Schmidt-Nielsen, 1990 dalam Darmawan, 2005). Burung laut, misalnya
burung petrel dan aul memakan dan memberi makan anaknya berupa plankton Crustacea yang
mengandung lilin. Burung-burung itu memetabolismekan lilin secara langsung atau
mengubahnya menjadi trigliserida untuk ditimbun (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan herbivora menghadapi kesukaran dalam mencerna selulosa yang
terkandung dalam makanannya. Selulosa hanya dapat dicerna oleh enzim selulase. Enzim itu
tidak dimiliki oleh hewan herbivora. Namun, beberapa jenis mikroorganisme dapat
menghasilkan enzim selulase dan hidup sebagai simbion pada hewan lain. Hewan-hewan itu
antara lain siput (Helix pomatia), cacing Teredo sp., kutu buku Ctenolepisme lineata, dan rayap
Termopsis sp. mikroorga-nisme yang dapat menghasilkan enzim selulase antara lain flagellata
Trichomonas termopsidis yang hidup di usus rayap (Darmawan, 2005).
Mamalia herbivora mempunyai keistimewaan saluran pencernaan sehubu-ngan dengan
pencernaan selulosa. Keistimewaan saluran pencernaan itu dibantu juga oleh mikroorganisme
yang menghasilkan enzim selulase. Mamalia herbivora itu dikelompokkan sebagai hewan
memamahbiak (ruminansia), diantaranya adalah sapi dan domba. Keistimewaan hewan
ruminansia terletak pada lambungnya (Gambar 4). Lambung hewan ruminansia terdiri dari
empat bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Rumen merupakan kantung
besar yang berfungsi untuk memfermentasikan makanan (Darmawan, 2005).

Gambar 3. Sistem Pencernaan pada Hewan Ruminansia


(Sumber: Campbell, et al., 2006)

Makanan bercampur dengan liur di dalam rumen sehingga terjadi fermen-tasi secara
bertahap. Liur berfungsi sebagai larutan penyangga (buffer). Fermen-tasi di dalam rumen
difasilitasi oleh bakteri dan protozoa golongan Cilliata yang hidup di dalamnya. Kedua
kelompok mikroorganisme tersebut mencerna selulosa menjadi molekul karbohidrat yang lebih
sederhana untuk dicerna pada saluran pencernaan berikutnya. Hasil pencernaan di dalam rumen
sebagian besar berupa asam asetat, asam butirat, asam propionat, karbondioksida, dan metana.
Asam asetat, asam butirat, dan metana dikeluarkan dari dalam tubuh. Bahan-bahan yang belum
tercerna secara sempurna dikembalikan lagi ke mulut untuk dikunyah kembali. Makanan yang
masuk lagi ke rumen difermentasikan lagi oleh mikroor-ganisme kemudian disalurkan ke
retikulum, omasum, dan abomasum. Ketiga bagian lambung tersebut mengandung enzim
pencernaan yang umumnya ada pada lambung hewan vertebrata yang lain (Darmawan, 2005).
Mamalia herbivora yang tidak tergolong ruminansia juga mempunyai lam-bung yang
terdiri dari beberapa bagian dan proses yang terjadi di lambung sama dengan proses pencernaan
yang sama dengan ruminansia. Hewan-hewan vertebrata lain yang memperoleh bantuan
mikroorganisme untuk mencerna selulosa adalah kera longer, penyu hijau (Chelonia midas),
dan iguana (Iguana iguana) (Darmawan, 2005).

4.

Temperatur
Adaptasi fisiologis hewan terhadap temperatur lingkungan meliputi tiga hal, yaitu (1)

adaptasi untuk hidup pada lingkungan bertemperatur rendah, (2) adaptasi untuk hidup pada
lingkungan bertemperatur tinggi, dan (3) adaptasi untuk mengatasi perubahan temperatur tubuh
sebagau akibat dari perubahan temperatur lingkungan (Darmawan, 2005).
Berdasarkan responnya terhadap perubahan temperatur lingkungan, hewan terbagi
menjadi dua kelompok, yaitu hewan homoiterm dan poikiloterm. Contoh hewan homoiterm
adalah hewan kelas Mamalia dan Aves. Hewan poikiloterm adalah hewan yang temperatur
tubuhnya berubah sesuai dengan temperatur lingkungannya. Contoh hewan poikiloterm adalah
hewan kelas Amphibia, Reptilia, dan Pisces serta hewan-hewan avertebrata (Darmawan,
2005).
Sebagian besar hewan hanya dapat aktif pada kisaran temperatur yang sempit, yaitu
antara beberapa derajat dibawah titik beku hingga kira-kira 50oC. Rentangan temperatur
demikian hanya tertuju suhu tubuh daripada suhu lingkungan. Artinya, hewan akan
menghadapi kematian jika suhu tubuhnya turun sampai di bawah titik beku dan naik di atas
suhu 50oC. Suhu lingkungan di alam pada umumnya tidak melebihi 50oC, tetapi suhu udara
lingkungan daratan dapat jauh dibawah 0oC. Rentangan suhu lingkungan di air lebih sempit

dari daratan. Pada perairan tropis temperatur air jarang melebihi 30oC, dan di daerah kutub
suhu air terendah hanya 1-2oC di bawah nol. Hewan yang tahan pada suhu di atas 50oC antara
lain larva lalat Polypedilum sp. (dari Nigeria dan Uganda). Pada keadaan tubuh yang
terdehidrasi (kekurangan air) larva tersebut dapat bertahan pada temperatur 102oC selama satu
menit. Setelah itu larva akan berkembang menjadi kepompong (Darmawan, 2005).
Ketahanan hewan untuk hidup dalam rentangan suhu lingkungan berbeda-beda. Ada
hewan yang mempunyai toleransi lebar terhadap perubahan suhu lingkungan (euritermal) dan
ada yang bertoleransi sempit (stenotermal). Di antara hewan yang bertoleransi sempit ada yang
hanya dapat hidup pada suhu lingkungan rendah, sementara yang lain hanya dapat hidup pada
suhu lingkungan tinggi (Darmawan, 2005).
Hewan yang hidup pada temperatur lingkungan sedang dan rendah sering menghadapi
temperatur lingkungan yang sangat rendah pada musim dingin. Pada musin dingin suhu udara
lingkungan dapat mencapai jauh di bawah titik beku air. Hewan-hewan yang hidup di daerah
sedang atau dingin itu mempunyai teknik yang berbeda dalam menghadapi suhu dingin. Ada
hewan yang toleran terhadap pembekuan cairan tubuh (frezze-tolerant), sedangkan hewan lain
banyak yang tidak toleran ketika cairan tubuhnya membeku (frezze-intolerant) (Darmawan,
2005).
Hewan-hewan yang tidak toleran terhadap pembekuan cairan tubuh akan mati jika
cairan dalam tubuhnya membeku. Untuk mencegah pembekuan cairan dalam tubuhnya,
hewan-hewan tersebut mempunyai zat antibeku dalam darahnya, misalnya gliserol. Hewan
yang tubuhnya mengandung banyak gliserol antara lain lalat Rhabdophaga strobililoides yang
hidup di Alaska dan ikan Trematomus borchgrevinki yang hidup di daerah kutub pada suhu air
1,8oC. Ikan Trematomus borchgrevinki mempunyai zat glikoprotein di dalam darahnya yang
dapat mencegah dari kebekuan (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan laut yang hidup di daerah pasang surut dan daerah beriklim sedang dan
dingin banyak yang bersifat frezze-tolerant, asalkan pembekuannya tidak mencapai inti sel.
Ketika air laut surut, udara di sekitar daerah pasang surut yang kering bersuhu lebih rendah
dibandingkan dengan suhu titik beku air. Dalam keadaan demikian, cairan tubuh hewan laut
yang tetap tinggal di daerah kering itu akan membeku. Hewan darat juga ada yang masih dapat
hidup meskipun cairan tubuhnya membeku, antara lain katak pohon (Hyla versicolor) yang
pada musim dingin cairan tubuhnya mengandung 3% gliserol (Darmawan, 2005).

5.

Air

Masalah yang dihadapi oleh hewan sehubungan dengan ada atau tidaknya air di
lingkungan hidup adalah mempertahankan kandungan air di dalam tubuh dan konsentrasi
garam atau tekanan osmotik cairan tubuh. Hewan air menghadapi perubahan atau perbedaan
konsentrasi garam di dalam air. Hewan darat mem-punyai resiko yang lebih tinggi untuk
kehilangan banyak air dari dalam tubuhnya akibat perubahan kelembaban (Darmawan, 2005).
Hewan laut menghadapi air laut yang mengandung banyak garam. Keadaan garam air
laut rata-rata 3,5%. Di beberapa tempat kadar garam air laut lebih tinggi, misalnya di
Mediterania mencapai 4%. Sedangkan di tepi pantai kadar garam lebih rendah dibandingkan
dengan tengah laut. Hewan-hewan laut rata-rata mempunyai tekanan osmotik sama dengan
tekanan osmotik air laut. Dengan kata lain hewan laut bersifat isoosmotik atau isosmotik
terhadap medium-nya. Hewan-hewan laut tidak pernah mengatur tidak pernah mengatur
tekanan osmotik tubuhnya karena sudah sesuai denga lingkungannya. Sifat yang demikian
disebut isokonfromer (Darmawan, 2005).
Hewan laut yang bermigrasi ke air payau atau ke air tawar harus mengatur tekanan
osmotik tubuhnya supaya lebih tinggi daripada tekanan osmotik air. Hewan yang demikian
perlu melakukan osmoregulasi. Hal yang demikian dilaku-kan oleh ketam air laut yang sering
berpindah ke air payau dan ikan salmon yang sering pergi ke hulu sungai untuk bertelur. Hewan
yang mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan kadar garam disebut eurihalin dan hewan
yang mempunyai toleransi rendah disebut stenohalin (Darmawan, 2005).
Hewan darat menghadapi masalah kehilangan air tubuh jika lingkungan-nya kering.
Faktor yang berpengaruh adalah kelembaban udara dan temperatur. Air di dalam tubuh
menguap jika lingkungannya menjadi kering dan suhu udara meningkat. Secara umum hewan
mengatur keseimbangan air di dalam tubuhnya dengan mengeluarkan dan memasukkan air.
Pengeluaran air dari dalam tubuh di-lakukan dengan cara penguapan melalui permukaan tubuh
dan alat respirasi, melalui feses, dan urine. Pemasukan air ke dalam tubuh dilakukan dengan
cara minum, menghisap air dari makanan, menghisap air pada permukaan tubuh, atau
memanfaatkan air yang terbentuk pada metabolisme karbohidrat (air metabolik) (Darmawan,
2005).
Siput mempunyai permukaan kulit yang selalu tebal, dan tingkat pengua-pan air yang
tinggi. Maka dari itu, siput telanjang aktif pada musim penghujan atau malam hari ketika
kelembaban tinggi. Siput darat yang mempunyai cangkang dapat mengurangi penguapan air
dari dalam tubuh. Namun pada musim kering siput melakukan aestivasi. Tubuhnya
dimasukkan ke dalam cangkang dan lubang cangkang dilapisi selaput yang disebut epifragma.
Selaput tersebut dibentuk dari lendir tubuh yang bercampur dengan kristal kalsium karbonat.

Dengan demikian kehilangan air yang berlebihan dapat dicegah. Hal inilah yang menjadikan
siput dapat juga ditemukan di padang pasir, contohnya Sphincterochila sp. yang ditemukan di
padang pasir The Near East (Darmawan, 2005).
Sebagian besar anggota kelas Crustacea hidup di air. Ada yang hidup di air laut dan ada
pula yang hidup di air tawar. Ketam yang hidup di air tawar banyak yang pergi ke laut untuk
bertelur. Disamping itu ada juga yang hidup semi teres-trial atau terestrial yang dapat
melakukan osmoregulasi atau dapat mempertahan-kan tekanan osmotik tubuhnya ketika di air
dan di darat. Ketam darat mempunyai helaian atau serabut yang ada di pangkal kaki yang
dimanfaatkan untuk menang-kap uap air dan diserap oleh tubuh pada saat berada di darat
(Darmawan, 2005).
Kelas Insecta merupakan kelompok hewan yang paling berhasil meng-adaptasikan diri
pada seluruh lingkungan di muka bumi. Jumlah spesiesnya paling banyak dibandingkan dengan
kelompok hewan lainnya. Spesiesnya tersebar di seluruh permukaan bumi kecuali laut dan
kutub. Kelembaban udara yang rendah dan jumlah air yang sedikit tidak menjadi penghalang
bagi Insecta untuk bertahan hidup. Pencegahan penguapan air terjadi karena kulitnya yang tebal
dan berlapis lilin (Darmawan, 2005).
Katak dewasa mempunyia kulit yang tipis dan selalu lembab. Pada lingku-ngan udara
kering kulit tidak mampu mencegah penguapan air tubuh. Oleh karena itu, katak selalu mencari
tempat yang dekat dengan air atau tempat yang lembab. Jika katak masuk ke dalam kolam atau
sungai, maka air dari luar tubuh akan masuk secara difusi dan garam akan keluar dari dalam
tubuh, sehingga konsen-trasi garam dalam tubuh menurun. Untuk mempertahankan tekanan
osmotik dalam tubuh katak menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh hewan air tawar,
yaitu mengeluarkan urine yang encer dan menelan garam. Pada musim kering yang panjang
katak melakukan aestivasi dengan mengubur diri ke dalam tanah. Bila hujan maka katak akan
segera keluar dari dalam tanah. Pada saat aestivasi katak menyimpan air di kandung kencing
dalam jumlah banyak. Timbu-nan air di kandung kencing itu digunakan sebagai cadangan air
ketika katak akan melakukan aetivasi berikutnya. Air kencing yang tersimpan dalam kandung
kemih itu sangat encer dengan jumlah mencapai 30% dari berat tubuh. Beberapa informasi
mengungkapkan bahwa suku Aborigin di Australia menggunakan katak padang pasir
(Chiroleptis sp.) sebagai sumber air minum, karena katak itu mempunyai timbunan air di
kandung kemihnya (Darmawan, 2005).
Hewan kelompok kelas Reptilia mempunyai kulit yang tebal berbentuk sisik.
Meskipun demikian air tubuh banyak yang hilang, sebagian besar disebab-kan karena
penguapan melalui kulit dan sebagian lain melalui respirasi. Hilangnya air dari tubuh hewan

Reptilia diimbangi dengan pemasukan air melalui minuman, makanan, dan air metabolik. Pada
Tabel 2 ditunjukkan persentase penguapan melalui kulit dan respirasi pada kelas Reptilia
(Darmawan, 2005).
Tabel 2. Hilangnya Air dari dalam Tubuh Reptil Melalui Penguapan di Kulit dan Respirasi
Jenis Hewan

Penguapan per Hari


(gram/100gram berat tubuh)
2,9
0,9
0,8
0,3
0,9

Penguapan
Melalui Kulit (%)
88
64
72
66
76

Ular air
Ular gapher
Iguana
Chuchawalla
Kura-kura Kotak
Kura-kura Padang
0,2
76
Pasir
(Sumber: Sumber: Darmawan, 2005 adaptasi dari Schmidt-Nielsen, 1990)

Penguapan Melalui
Pernapasan
22
36
28
34
24
24

Burung dan mamalia mengatur keseimbangan air tidak hanya dengan cara
mempertahankan air dalam tubuh tetapi juga dengan mempertahankan suhu tubuh. Pada
beberapa spesies, air digunakan untuk mendinginkan tubuh jika kondisi ling-kungan dalam
keadaan panas (Darmawan, 2005).
Keistimewaan pengendalian air pada kelas Mamalia dijumpai pada hewan yang hidup
di padang pasir. Padang pasir merupakan tempat yang tidak banyak mengandung air, suhu
lingkungan tinggi, dan kelembaban lingkungan rendah. Hewan-hewan yang hidup pada kondisi
lingkungan yang demikian harus dapat mempertahankan air dalam tubuh akibat penguapan dan
kekurangan asupan air. Hewan-hewan padang pasir umumnya memperoleh air dari makanan,
misalnya daun yang segar, batang, akar, dan umbi. Hewan predator memperoleh air dari cairan
tubuh mangsanya (Darmawan, 2005).
Contoh yang terkenal untuk menjelaskan pengaturan air dalam tubuh hewan padang
pasir adalah tikus padang pasir (Dipodomys spectabilis). Hewan ini merupakan contoh kelas
Mamalia yang menunjukkan bahwa banyaknya air yang hilang selama beraktivitas seimbang
dengan asupan air (Tabel 2). Untuk memper-tahankan suhu tubuhnya tikus padang pasir sering
mengubur diri di dalam tanah yang kelembabannya lebih tinggi dibandingkan dengan
kelembaban udara di atmosfer. Dengan demikian, maka laju penguapan air dari dalam tubuh
tikus padang pasir dapat diturunkan. Disisi lain, karena berada dalam lingkungan tanah yang
lembab maka tikus tersebut dapat menghisap air melalui proses respirasi (Darmawan, 2005).
Tabel 3. Keseimbangan Pengeluaran dan Pemasukan Air pada Tikus Padang Pasir
Pemasukan
Volume (ml)
Bentuk Hilangnya Air
Volume (ml)
Air metabolik
54,0
Urine
13,50
Penyerapan Air
6,0
Feses
2,60
Evaporasi
43,90

Jumlah Air Masuk


60,0
Jumlah Air Keluar
(Sumber: Darmawan, 2005 adaptasi dari Schmidt-Nielsen, 1990)

60,0

Unta dapat mengatur kelembaban udara respirasi untuk mengatur pe-ngeluaran dan
pemasukan air dalam tubuh. Pada siang hari rongga hidung didinginkan sehingga udara
respirasi menjadi lembab. Pada malam hari udara respirasi sangat kering dengan selisih
kelembaban 75% lebih rendah dibandingkan pada siang hari. Pendinginan dan pelembaban
udara respirasi pada rongga hidung unta dapat mengurangi hilangnya air tubuh hingga 60%
(Schmidt-Nielsen, 1990 dalam Darmawan, 2005). Pengaturan kelembaban udara respirasi pada
rongga hidung unta bergantung pada higroskopis dari dinding rongga hidung. Jika tubuh unta
mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) maka selaput hidung akan menjadi kering dan
tertutup oleh lapisan mukosa kering, sisa sel mati, dan garam. Dinding rongga hidung yang
demikian mengeluarkan uap air ketika hewan menghembuskan nafas pada udara yang kering
dan menghisap uap air pada saat menarik nafas. Uap air yang terhisap pada saat menarik napas
diuapkan lagi pada saat menghembuskan nafas berikutnya, sehingga menyebabkan rongga
hidung menjadi lembab dan uap air itu terhisap kembali ketika menarik nafas. Dengan cara
yang demikian unta dapat mengurangi hilangnya air dari dalam tubuh terutama pada saat udara
kering (Darmawan, 2005).

G. Adaptasi Tingkah Laku


Adaptasi tingkah laku adalah respon-respon hewan terhadap kondisi ling-kungan dalam
bentuk perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu biasanya muncul dalam bentuk
gerakan untuk menanggapi rangsang yang me-ngenai dirinya. Rangsangan tersebut dapat
datang dari lingkungan luar dan lingku-ngan dalam tubuh hewan itu sendiri. Disamping
menguraikan tentang bentuk-bentuk tingkah laku, pada makalah ini juga dibahas tentang
mekanisme terbentuknya tingkah laku pada beberapa kelompok hewan (Darmawan, 2005).
1.

Hibernasi
Hibernasi merupakan tingkah laku hewan yang bertujuan untuk mengura-ngi

metabolisme tubuh pada musim dingin. Tingkah laku ini sebagian besar di-miliki oleh hewanhewan yang hidup di daerah beriklim dingin. Aspek tingkah laku hibernasi adalah perubahan
intensitas gerakan dari gerakan aktif untuk men-cari makanan menjadi tidak aktif atau istirahat
(dormansi). Salah satu hewan yang melakukan hibernasi adalah beruang kutub. Pada musim
dingin umumnya beruang-beruang kutub akan berpindah ke tempat-tempat yang terlindungi
(misalnya gua) hingga musim dingin berakhir dan tidak melakukan kegiatan apapun. Tingkah

laku yang demikian itu dilakukan untuk menghemat energi tubuh yang diperlukan untuk
termoregulasi (mempertahankan suhu tubuh). Penghematan energi tersebut dilakukan supaya
terdapat keseimbangan antara energi yang tersimpan di dalam tubuh dengan pengeluaran energi
untuk respirasi yang bertujuan untuk menahan penurunan suhu tubuh (Darmawan, 2005).
2.

Aestivasi
Estivasi merupakan tingkah laku untuk melakukan dormansi pada suhu yang tinggi.

Tingkah laku ini pada umumnya terjadi pada hewan-hewan yang hidup di daerah beriklim
panas. Hewan-hewan yang melakukan aestivasi ini di antaranya adalah belut dan siput air. Di
Indonesia belut dan siput air banyak dijumpai pada rawa atau sawah dataran rendah. Aestivasi
terjadi bukan hanya berkaitan dengan dengan tingginya temperatur lingkungan, melainkan juga
berhu-bungan dengan rendahnya kelembaban udara. Tengginya temperatur dan rendah-nya
kelembaban mempercepat hilangnya air dari dalam tubuh. Maka dari itu, belut dan siput yang
hidup di Indonesia melakukan aestivasi pada musim kemarau (Darmawan, 2005).
Pada musim penghujan sawah hampir selalu tergenang oleh air. Pada keadaan yang
demikian maka belut dan siput air setiap hari aktif, khususnya pada malam hari dan masuk ke
dalam tanah pada siang hari. Namun jika temperatur udara tidak terlalu tinggi maka pada siang
hari seringkali dijumpai siput air dan belut yang berkeliaran di permukaan tanah. Pada musim
kemarau, selain tempe-ratur tinggi, sawah pada umumnya berada dalam keadaan kering. Pada
keadaan yang demikian, belut dan siput akan berada di dalam tanah hampir sepanjang musim
kemarau (Darmawan, 2005).
Siput darat sering dijumpai di pekarangan rumah atau kebun dalam keadaan melakukan
aestivasi. Untuk menghindari udara yang panas dan kering siput masuk ke dalam bebatuan atau
timbunan sampah, dan berada di dalamnya selama musim kemarau. Seringkali pula dijumpai
siput di bawah semak-semak. Siput ini biasanya membentuk epifragma untuk menutup
cangkangnya. Siputdarat pada umumnya tidak mempunyai penutup cangkang seperti yang
dimiliki oleh siput air. Penutup cangkang pada siput air terbentuk dari zat kapur yang bersifat
keras dan permanen yang dapat dibuka dan ditutup setiap diperlukan. Epifragma merupakan
lapisan tipis yang terbentuk dari lendir yang diekskresikan oleh tubuh untuk menutupi
cangkang sehingga tidak dapat dibuka atau ditutup (Darmawan, 2005). Keanekaragaman siput
yang ada di Indonesia dapat ditelusuri dapat digu-nakan sebagai salah satu media belajar
kontekstual tentang ragam adaptasi fisio-logis khususnya yang berkaitan dengan aestivasi.
3.

Diurnal dan Nokturnal


Sebagian besar hewan beraktivitas pada siang hari, dan sebagian kecil beraktivitas pada

malam hari. Hewan yang beraktivitas pada siang hari disebut hewan diurnal, sedangkan hewan

yang beraktivitas pada malam hari disebut hewan nocturnal. Salah satu contoh hewan nocturnal
adalah burung hantu. Burung hantu melakukan aktivitas mencari makan dan aktivitas lainnya
hanya pada malam hari. Salah satu keistimewaan burung hantu adalah ketajaman mata yang
dapat berfungsi pada intensitas cahaya yang rendah. Hewan-hewan yang ter-golong kelas
Mamalia yang bersifat nocturnal antara lain kukang, musang, dan kelelawar (Darmawan,
2005).
Burung hantu, kukang, dan musang mempunyai sepasang mata yang tajam, namun
kelelawar tidak mempunyai mata yang tajam bahkan dapat dikata-kan buta. Namun kelelawar
mempunyai alat yang berfungsi menyerupai radar pada kedua sayapnya. Radar itu dapat
menangkap getaran yang benda-benda yang ada di depannya, dan getaran tersebut dikirim ke
telinga untuk dianalisis sehingga kelelawar dapat mengetahui adanya benda-benda yang ada
disekitarnya. Untuk berkomunikasi dengan sesama jenis, kelelawar selalu bersuara. Hewan
yang ter-golong filum Arthropoda banyak pula yang bersifat nocturnal, diantaranya adalah
walang sangit (Darmawan, 2005).

4.

Orientasi terhadap Lingkungan


Hampir semua hewan mempunyai kemampuan untuk berorientasi terhadap

lingkungannya sehingga dapat mengetahui posisi dan menentukan arah gerakan-nya. Orientasi
tersebut dilakukan dengan menggunakan alat-alat indera. Pada hewan sel tunggal orientasi
dilakukan dengan kemosensori. Misalnya pada Paramecium sp. kemosensorinya terletak di
bagian belakang tubuhnya. Jika ketika bergerak tubuh bagian belakang menyentuh benda atau
zat maka rangsangan itu diterima oleh kemosensori sehingga Paramecium sp. bergerak ke arah
berlawanan
membelok ke kanan (Darmawan, 2005).
Pada hewan yang tersusun atas banyak sel (multiseluler) orientasi dapat di-lakukan
dengan beberapa macam indera, yaitu peraba, pembau, pendengar, dan penglihatan. Respon
yang paling sederhana akibat adanya rangsang adalah gerak taksis. Taksis adalah gerakan yang
dilakukan untuk mendekati atau menjauhi rangsang. Gerakan mendekati rangsang disebut
taksis positif dan gerakan men-jauhi rangsang disebut taksis negatif. Berikut ini eberapa contoh
tentang taksis (Darmawan, 2005).
a.

Cacing tanah akan bergerak menghindar bila tubuhnya menyentuh garam.

b.

Larva lalat bergerak menjauhi sinar yang datang dari satu arah tertentu. Ketika bergerak
menghindari sinar larva lalat akan membelok ke kenan dan ke kiri secara bergantian karena
ketidakseimbangan kedua nodus mata yang ada pada kedua sisi kepalanya.

Spesies-spesies pada filum Arthropoda mempunyai kemampuan orientasi pada


lingkungan yang berbeda-beda. Misalnya, ketam darat Parathelphusa bogarensis yang banyak
dijumpai di sawah khususnya di Pulau Jawa (Susanto, 1994 dalam Darmawan, 2005), dapat
menentukan arah untuk kembali ke liangnya berdasarkan arah sinar matahari. Disamping itu,
ketam darat tersebut juga dapat menentukan arah gerakannya dengan berorientasi pada
gravitasi yang juga di-miliki oleh beberapa jenis ketam di hutan bakau. Ketam di hutan bakau
akan me-manjat pohon bakau ketika air laut pasang. Ketam yang hidup di daerah pasang surut
dapat menentukan arah laut berdasarkan bau air laut. Ketam di kota dapat menentukan arah
untuk kembali ke liang dengan berorientasi pada bekan jejak kaki, gundukan-gundukan tanah
yang ada di sekitarnya dan tumbuhan yang ada disekitar tempat tinggalnya. Hewan-hewan pada
kelompok Insecta, misalnya lebah dapat pergi ke arah manapun dan dapat kembali ke
sarangnya dengan ber-orientasi pada sinar matahari (Darmawan, 2005).
Hewan-hewan yang tergolongkan dalan vertebrata dapat menentukan arah dengan
menggunakan kombinasi seluruh inderanya. Hewan-hewan itu dapat me-nentukan arah dengan
berorientasi pada sinar, bau, arah, angin, dan gravitasi. Hal ini dapat dipelajari dengan mudah
dengan mengamati bagaimana manusia ber-orientasi pada lingkungannya. Hal yang tidak
dijumpai pada manusia adalah ke-mampuan berorientasi pada magnet bumi. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa burung yang bermigrasi dari belahan bumi utara ke belahan
bumi selatan menentukan arah berdasarkan magnet bumi (Darmawan, 2005). Namun, burungburung yang bermigrasi jauh jarang ditemukan pada daerah beriklim tropis.
5.

Ototomi
Ototomi adalah tingkah laku memutus bagian-bagian tubuh. Ketam darat memutuskan

kakinya jika kakinya dalam keadaam bahaya, misalnya dipatuk oleh burung bangau. Cicak dan
kadal memutuskan ekornya jika diserang oleh hewan lain. Ekor cecak dan kadal dapat tumbuh
kembali yang disebut sebagai regenerasi. Hewan lain yang mempunyai kemampuan ototomi
dan regenerasi adalah Planaria sp (Darmawan, 2005).

6.

Adaptasi Mutual
Adaptasi mutual adalah adaptasi untuk hidup bersama atau berdampingan dengan

individu atau spesies lain. Hidup bersama atau berdampingan tersebut ada yang bersifat
kooperasi, simbiosis, dan lain-lain (Darmawan, 2005).

7.

Tingkah Laku Sosial

Hewan ada yang hidup secara soliter dan ada pula yang hidup secara ber-kelompok.
Hewan yang bersifat soliter hidup sendiri-sendiri dan terpisah antara satu individu dengan
individu lainnya. Hewan yang berkelompok ada yang ber-jumlah sedikit dan berjumlah
banyak. Kelompok yang anggotanya paling sedikit adalah kelompok yang hanya terdiri dari
satu induk jantan, satu induk betina, dan satu anak. Kelompok yang demikian ada kalanya tidak
permanen, karena anaknya akan memisahkan diri ketika dewasa. Kelompok demikian
terbentuk dalam rangka pemeliharaan anak. Contoh kelompok yang demikian adalah banteng.
Beberapa jenis burung ada pula yang berkelompok dalam rangka pemeliharaan anak. Dalam
kelompok tersebut biasanya induk jantan berperan membangun sarang, mencari makan, dan
menjaga keselamatan induk betina dan anaknya. Induk betina berperan mengerami telur dan
menghangatkan tubuh anak (Darmawan, 2005).
Kelompok sosial dengan anggota yang banyak antara lain adalah kerbau
liar. Dalam satu kelompok kerbau liar biasanya terdiri dari 25 ekor. Di dalam kelompok itu
individu paling besar biasanya menjadi pimpinan kelompok. Kelom-pok kerbau yang demikian
ini diantaranya berada di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Pada musim kemarau kerbau
liar dan hewan-hewan mamalia lain berkumpul di tempat-tempat yang terdapat genangan air
di sekitar hutan. Berdasarkan pengamatan beberapa peneliti, pada malam hari terdapat seekor
kerbau yang mendekati mata air dan berputar mengelilinginya, kemudian kerbau itu pergi
menjauh. Beberapa saat kemudian datanglah sekelompok kerbau dan masing-masing kerbau
minum dari mata air. Pada catatan pengamatan yang demi-kian, nampaknya kerbau yang
menjadi pimpinan bertanggung jawab atas kesela-matan kelompok dengan mengadakan
orientasi terlebih dahulu terhadap kondisi di sekitar sumber air yang akan dikunjungi. Pada
musim kemarau, akibat keterbatasan sumber air biasanya semua jenis hewan pada lingkungan
yang sama akan minum dari sumber air yang sama (Darmawan, 2005).
Aspek tingkah laku lain dapat diamati ketika kerbau sedang merumput di padang
rumput. Jika kelompok kerbau itu didekati oleh manusia atau hewan lain-nya maka individuindividu dalam kelompok itu akan merapat. kerbau yang berada di tepi adalah kerbau yang
paling dewasa dan bersifat mempertahankan diri, sedangkan kerbau yang berada di tengah
adalah kerbau muda (Darmawan, 2005).
Kelompok sosial juga nampak pada aktivitas kelas Insecta, misalnya pada lebah dan
rayap. Kelompok sosial pada kedua jenis serangga itu terorganisasi secara sistematik. Diantara
anggota kelompok ada satu individu yang berperan sebagai ratu yang bertugas untuk bertelur.
Sedangkan individu-individu yang lain berperan sebagai tentara yang bertugas menjaga

keamanan kelompok dan adapula satu kelompok yang berperan untuk mencari dan
mengumpulkan makanan untuk keseluruhan kelompok (Darmawan, 2005).

8.

Tingkah Laku Perkembangbiakan


Tingkah laku kawin dapat dipandang sebagai suatu adaptasi, karena hewan-hewan

tertentu hanya berkembang biak pada waktu-waktu tertentu. Misalnya beberapa jenis burung
yang hidup di belahan bumi utara yang beriklim dingin melakukan aktivitas perkawinan,
bertelur, dan memelihara anak di belahan bumi selatan yang beriklim panas. Burung-burung
itu bermigrasi ke belahan bumi selatan ketika di belahan bumi utara memasuki musim dingin.
Jika aktivitas bertelur dan memelihara anak dilakukan di habitat aslinya maka induk-induk
akan kesulitan untuk mencarikan makanan untuk anaknya karena pada musim dingin banyak
tumbuhan yang menggugurkan daunnya. Tingkah laku perkembangbiakan yang demikian
sangat penting untuk kelestarian anak-anak yang dilahirkan. Hewan-hewan lain yang
bermigrasi untuk melakukan aktivitas perkembangbiakan adalah ikan salmon dan ketam air
tawar (Darmawan, 2005).

9.

Tingkah Laku Berkelahi


Tingkah laku berkelahi merupakan adaptasi hewan untuk mempertahankan hidupnya

dari serangan hewan lain. Serangan hewan lain dapat berasal dari individu dalam satu spesies
dan dapat pula berbeda spesies. Tingkah laku ber-kelahi ada yang bersifat menyerang dan ada
pula yang bersifat mempertahankan diri. Tingkah laku menyerang umumnya dilakukan oleh
hewan predator dan tingkah laku mempertahankan diri dilakukan oleh hewan mangsa. Diantara
sesama spesies perkelahian dapat terjadi akibat adanya persaingan, misalnya untuk
memperebutkan makanan, wilayah kekuasaan, dan pasangan kawin. Tingkah laku perkelahian
dikatakan sebagai adaptasi karena pola-pola tingkah laku perkelahian bersifat khas pada satu
jenis hewan, yaitu dalam cara menyerang dan cara mempertahankan diri. Misalnya, burung
elang menyerang dengan cara menyambar, harimau menyerang dengan cara menerkam, dan
banten menyerang dengan cara menanduk. Sifat adaptasi tingkah laku berkelahi itu lebih nyata
jika dihubungkan dengan alat-alat yang dimiliki oleh hewan untuk berkelahi, misalnya kerbau
bertanduk, ayam bertaji, dan ular beracun (Darmawan, 2005).

10. Mekanisme Terjadinya Tingkah Laku


Tinbergen (1969, dalam Darmawan, 2005) menjelaskan bahwa tingkah laku adalah
reaksi terhadap keadaan tertentu yang faktor penyebabnya dapat berasal dari luar atau dari

dalam tubuh. Faktor dari dalam tubuh dinyatakan sebagai

faktor

motivasional

yang

menentukan arah dan intensitas dari penampilan dan tingkah laku.


Reaksi dari suatu jenis hewan ditentukan oleh kemampuan potensial indera. Potensi alat
indera itu meliputi beberapa aspek, yang dijelaskan sebagai berikut (Darmawan, 2005).
a. Kepekaan,
Kepekaan adalah kekuatan untuk menangkap rang-sang, misalnya mata burung hantu yang
sangat peka terhadap cahaya berintensitas rendah.
b. Diskriminasi
Diskriminasi adalah kemampuan untuk membedakan rangsang, baik kekuatan maupun
macam rangsang itu. Kemampuan untuk membedakan kekuatan rangsang penting untuk
menentukan perlu atau tidaknya respon dan intensitas respon yang diperlukan. Rangsang
yang mengenai hewan dalam satu waktu dapat lebih dari satu macam. Dengan kemampuan
diskriminasi hewan dapat menentukan rangsang mana yang perlu direspon terlebih dahulu
dibandingkan rangsang yang lainnya.
c. Lokalisasi
Lokaliasasi adalah kemampuan untuk menempatkan atau menentukan sumber rangsang
dalam satu ruang lingkungan tertentu. Lokalisasi meliputi aspek arah dan jarak. Pada aspek
arah hewan dapat menentukan asal rangsang yang me-ngenai dirinya. Dengan mengetahui
arah rangsang hewan dapat menentukan arah respon berupa gerakan untuk menanggapi
rangsang yang ada. Aspek jarak menentukan kekuatan rangsang. Semakin dekat jarak maka
semakin kuat rangsang yang ditimbulkan.

11. Tingkah Laku Refleks


Tingkah laku hewan dapat dibedakan menjadi tingkah laku refleks, tingkah laku insting,
dan tingkah laku belajar. Pavlov membedakan tingkah laku refleks dengan tingkah laku insting
(Tinbergen, 1969 dalam Darmawan, 2005). Sebagai gambaran ia mencontoh-kan bahwa
kecenderungan untuk mengumpulkan pada diri manusia adalah suatu insting bukan refleks.
Gerakan taksis pada hewan avertebrata pada umumnya me-rupakan gerakan refleks. Misalnya
gerakan wereng cokelat untuk mendekati sinar lampu pada malam hari dan gerakan larva lalat
untuk menghindari sinar lampu pada malam hari. Tingkah laku refleks tampak pada gerakangerakan tubuh yang tidak dikendalikan oleh sistem syaraf sadar. Gerakan demikian terjadi
secara spontan sebagai tanggapan terhadap rangsang yang mengenai tubuh.

Pavlov membedakan gerakan refleks menjadi gerakan refleks yang bersifat kondisional
dan refleks yang tidak kondisional. Pavlov melakukan percobaan pada seekor anjing. Ia
menyodorkan makanan yang merangsang selera makan tanpa memberikan kesempatan kepada
anjing untuk mengeluarkan liur sebagai respon terhadap rangsangan tersebut. penyodoran
makanan yang dibarengi dengan bunyi bel itu dilakukan beberapa kali. Suatu ketika Pavlov
membunyikan bel tanpa menyodorkan makanan, ternyata anjing mengeluarkan liur. Keluarnya
liur ketika mendengarkan bel tanpa dibarengi dengan penyodoran makanan itu disebut tingkah
laku refleks kondisional. Dalam kehidupan sehari-hari setiap anjing akan mengeluarkan liur
jika disodori makanan yang merangsang meskipun tidak dibarengi dengan bel. Tingkah laku
yang demikian disebut refleks yang tidak kondisional (Darmawan, 2005).

12. Tingkah Laku Insting


Gerakan insting adalah gerakan-gerakan yang tidak memerlukan pengala-man khusus.
Gerakan insting umumnya bersifat bawaan dan pola gerakannya sama pada semua individu
pada satu spesies. Pemunculan gerakan itu terkendali oleh kekuatan dari dalam tubuh, atau
dikendalikan oleh sistem syaraf pusat. Pola suatu gerakan insting biasanya sama antara yang
terjadi di lapangan dengan yang terjadi di laboratorium. Contoh yang sangat menarik dan
merupakan suatu kejadian yang mengherankan bagi para ahli tingkah laku hewan dijelaskan
sebagai berikut (Darmawan, 2005).
a. Anak bebek yang baru menetas mengikuti hewan apa saja yang dijumpainya pertama kali.
Jika yang pertama dijumpainya adalah induk ayam yang menge-rami anak bebek itu maka
ia akan mengikuti kemanapun induk ayam tersebut pergi. Demikian pula jika yang pertama
kali dijumpainya adalah manusia.
b. Burung robin yang menyerang benda-benda yang berbentuk burung robin jantan dengan
sayap merah yang digantung. Tingkah laku demikian disebut tingkah laku stereotip, artinya
hewan bereaksi terhadap ciri-ciri khusus organis-me lain atau lingkungannya.
c. Burung camar haring (herring gull) yang diberi dua macam rangsang berupa benda
berbentuk telur dan benda berwarna merah akan mengambil benda merah dan tubuhnya
membentuk posisi duduk mengerami benda yang ber-bentuk telur. Tingkah laku demikian
disebut tingkah laku ambivalen, yaitu tingkah laku yang memunculkan dua macam reaksi
dalam waktu bersamaan terhadap dua macam stimulus yang berbeda.
Contoh-contoh gerakan insting yang mudah diamati di alam antara lain anak hewan
kelas Mamalia yang baru lahir akan mencari dan mengulum puting susu induknya dan

induknya juga mengambil posisi atau melakukan gerakan ter-tentu agar anaknya yang baru
lahir menyusu putingnya (Darmawan, 2005).

13. Tingkah Laku Belajar


Belajar adalah modifikasi tingkah laku yang relatif permanen dan ter-bentuk melalui
latihan dan pengalaman (Drickamer, 1982 dalam Darmawan, 2005). Tinbergen (1969 dalam
Darmawan, 2005) menyetakan bahwa belajar merupakan proses di dalam sistem syaraf pusat
yang menyebabkan perubahan terjadinya mekanisme tingkah laku insting sebagai tang-gapan
terhadap rangsang lingkungan. Sementara W.H. Thorpe (1963, dalam Drickamer, 1982 dalam
Darmawan, 2005) berpendapat bahwa merupakan manifestasi perubahan tingkah laku yang
bersifat adaptif sebagai akibat adanya pengalaman. Pola tingkah laku belajar dikendalikan oleh
faktor internal yang disebut motivasi. Tingkah laku belajar dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, yaitu trial and error, pemahaman, dan belajar laten.
Sukarsono (2009) mengungkapkan bahwa ketika para ahli perilaku hewan (ethologist)
mencoba menjelaskan bahwa perilaku hewan lebih disebabkan oleh proses-proses yang bersifat
insting, para ahli psikologi perbandingan sangat mem-fokuskan diri pada penelitian mengenai
proses berpikir sebagai elemen utama dalam pembentukan perilaku hewan.
Lebih lanjut Sukarsono (2009) mengelompokkan perilaku belajar hewan menjadi dua
jenis, yaitu pembelajaran asosiatif (associative learning) dan pembelajaran non asosiatif
(nonassociative learning). Satu bentuk proses belajar non asosiatif adalah habituasi atau
pembiasaan. Sedangkan suatu perubahan dalam tingkah laku yang mencakup hubungan antara
dua stimulus atau antara satu stimulus dengan satu respon disebut pembelajaran asosiatif.
Perilaku ini merupa-kan modifikasi atau pengondisian melalui hubungan. Bentuk belajar ini
lebih kompleks dibandingkan dengan habituasi atau sensititasi. Dua bentuk besar asosiasi
belajar disebut dengan pengondisian klasik (classic conditioning) dan pe-ngondisian operan
(operant conditioning). Keduanya berbeda dalam hal peneta-pan asosiasi.
Habituasi adalah suatu penurunan amplitudo dan probabilitas suatu respon secara
gradual sebagai akibat dari hadirnya stimulus tertentu secara berulang-ulang (Kendel, 1976
dalam Darmawan, 2005). Penurunan respon itu bersifat persisten dan tidak diikuti oleh
berbagai macam reinforcement atau penguatan (Drickamer, 1982 dalam Darmawan, 2005).
Tingkah laku yang bersifat habituasi antara lain adalah tingkah laku melarikan diri, menyerang,
seksual, dan frekuensi ejakulasi.
Beberapa contoh tingkah laku habituasi dijelaskan sebagai berikut.

a. Ayam terkejut dan melarikan diri ketika melihat bayangan daun melayang. Daun itu
diasosiasikan sebagai burung elang yang menyambar. Namun, ketika ia tahu bahwa
bayangan daun tidak mengejar dan tidak menyerang, ayam tidak melarikan diri bila ada
daun yang gugur lagi.
b. Cacing tanah dimasukkan ke dalam batang plastik yang melingkar. Batang plastik dibuat
berlubang-lubang. Pada kepala cacing dibunyikan bel berulang-ulang dalam waktu pendek.
Pada deringan pertama cacing memberikan respon berupa gerakan berbalik arah, mungkin
demikian juga pada deringan kedua dan ketiga. Namun, pada deringan-deringan berikutnya
cacing tidak berbalik arah ketika berjalan. Penggunaan cacing merupakan salah satu tindak
pengamatan habituasi yang dapat dilakukan di laboratorium.
c. Anjing yang galak menunjukkan sikap menyerang dengan menyalak dan ber-gerak maju
sambil menyeringai ketika ada orang asing yang datang. Jika orang itu menunjukkan sikap
menyerang balik, sikap anjing itu akan semakin keras. Namun, jika orang asing tersebut
diam saja ketika anjing beberapa kali menya-lak maka semakin lama anjing tersebut akan
semakin mengurangi gerakannya dan lama-kelamaan akan diam.
d. Tindakan hewan jantan kepada hewan betina juga akan hilang jika tindakan cumbuan itu
tidak ditanggapi oleh hewan betina.
Tingkah laku habituasi mempunyai beberapa fungsi adaptif yang di-jelaskan sebagai
berikut (Darmawan, 2005).
a. Mengurangi respon bertahan atau melarikan diri dari rangsangan yang mengejutkan dari
predator yang mendekat.
b. Mengenal hewan-hewan lain yang ada di sekitar teritorialnya.
c. Menstandarkan tingkah laku sosial antara individu-individu dalam satu spesies dan
mempertajam respon untuk stimulus syarat.
Trial and error merupakan tingkah laku yang nampak bila seekor hewan menampilkan
tingkah laku appetitive dan searching yang seringkali diperkuat oleh kejadian-kejadian yang
muncul secara tidak terencana. Bentuk tingkah laku ini ditunjukkan oleh Skinner melalui
percobaan pada tikus yang diletakkan pada kotak yang dikenal dengan kotak Skinner. Kotak
itu dilengkapi dengan kotak kecil yang berisi butir-butir makanan. Kotak itu dapat dibuka
menggunakan pe-ngungkit yang terletak di dalam kotak besar. Jika pengungkit digerakkan,
kotak kecil terbuka dan butir makanan keluar dari kotak kecil ke dalam kotak besar. Dalam
percobaannya, Skinner memasukkan seekor tikus ke dalam kotak. Secara tidak sengaja tikus
itu menyentuh pengungkit kotak kecil, kotak kecil itu terbuka dan makanan jatuh di dekat tikus.
Tikus memakan makanan itu. Ketika tikus menyentuh pengungkit berulang-ulang, makanan

keluar lagi. Keluarnya makanan itu merangsang tikus untuk mengulangi perbuatannya untuk
menyentuh pengung-kit. Sebagai hasil percobaan, Skinner berkesimpulan bahwa tingkah laku
me-nyentuh pengungkit pada tikus itu merupakan tingkah laku yang dikendalikan ke-salahan.
Tingkah laku demikian disebut tingkah laku operan (Slavin, 1994 dalam Darmawan, 2005).
Makanan yang keluar dari dalam kotak kecil ketika pengungkit disentuh merupakan penguatan
(reinforcement) bagi munculnya tingkah laku operan (Darmawan, 2005).
Belajar pemahaman (insight learning) adalah tingkah laku yang terbentuk melalui
asosiasi-asosiasi kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan yang telah di-pelajari sebelumnya.
Tingkah laku yang terbentuk adalah tingkah laku yang dapat memecahkan masalah baru yang
sedang dihadapi. Belajar pemahaman pada hewan ditunjukkan oleh Koliler (1925) seperti yang
dikutip oleh Drickamer (1982 dalam Darmawan, 2005) melalui percobaan pada simpanse.
Seekor simpanse di-masukkan ke dalam ruang. Di dalam ruang itu digantungkan sebuah pisang
pada langit-langit dan disediakan sebatang tongkat. Simpanse tidak dapat menggapai pisang
karena tangannya tidak sampai. Kemudian simpanse mengambil tongkat yang telah disediakan
dan menjolok pisang tersebut. berdasarkan fakta tersebut di-ambil kesimpulan bahwa simpanse
dapat mengasosiasikan panjang tongkat dengan ketinggian posisi pisang (Darmawan, 2005).
Belajar laten (latent learning) yaitu pembuatan asosiasi tanpa adanya pe-nguatan atau
bukti dari perbuatan yang terbentuk pada saat kegiatan belajar ber-langsung. Kegiatan belajar
itu muncul sebagai akibat dari dorongan atau motivasi dari dalam, sehingga tidak perlu ada
penguatan yang berasal dari akibat atau hasil dari kegiatan belajar yang pernah dialami. Sifat
yang demikian mungkin lebih banyak terjadi pada manusia. Manusia mempunyai sifat belajar
yang disebutkan diatas, yaitu refleks, trial and error, pemahaman, dan belajar laten
(Darmawan, 2005).

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian literatur dan pembahasan pada bab II, maka dapat di-ambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut.
1.

Adaptasi merupakan sifat dan kemampuan mahluk hidup untuk menye-suaikan diri dengan
kondisi habitatnya. Sifat yang teradaptasi itu diwarisi dari nenek moyangnya. Sifat dan
kemampuan adaptif terbentuk melalui seleksi alam. Spesies yang hidup saat ini menempati
habitat yang kondisinya kebetu-lan sama dengan habitat nenek moyangnya.

2.
B. Saran

DAFTAR RUJUKAN

Darmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. Malang: UM Press.


Sukarsono. 2009. Pengantar Ekologi Hewan. Malang: UMM Press.
Campbell, N.A., et al. 2006. Biology Concept and Connection. California: The
Benjamin/Commings Publishing Company.