P. 1
ca endometrium

ca endometrium

|Views: 582|Likes:
Dipublikasikan oleh k_4_josh_799565916
ca endometrium
ca endometrium

More info:

Published by: k_4_josh_799565916 on Jan 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2015

pdf

text

original

Adanya ovulasi baru bisa dilihat pada endometrium setelah 36 jam dari saat
ovulasi terjadi, kira-kira hari kedua setelah ovulasi. Terlihat vakuolisasi basalis
pada epitel kelenjar. Di samping itu bentuk kelenjar lebih berkelok-kelok. Mitosis
mulai bisa ditemukan pada beberapa sel. Pada hari kelima setelah ovulasi, inti sel
epitel kelenjar akan turun, sampai ke bagian bawah sel. Pada waktu ini sekresi
dimulai, sehingga lumen menjadi membesar.
Pada fase pertengahan, stroma mulai edema lagi, mencapai kondisi
maksimum pada hari kedelapan. Sehari kemudian arteriol menjadi lebih nyata.
Dari fase proliferatif sampai sekresi akhir, pembuluh darah tumbuh menjadi 3 kali
besarnya dan 5 kali panjangnya. Dengan lebih nyatanya arteriol, maka sel stroma
disekelilingnya berubah menjadi lebih besar. Pada hari kesepuluh sel tersebut
menjadi sel pseudodesidua, di antaranya mulai terlihat sebukan sel radang.
Pseudodesidua bertambah banyak ditemukan pada hari berikutnya. Sedang
kelenjar mulai kolaps. Kondisi ini berlanjut sampai menstruasi terjadi pada hari
ke-14 setelah menstruasi3
.
Struktur histologik fase-fase di atas kadang-kadang tidak seluruhnya
ditemukan dalam seluruh endometrium. Pada keadaan ini maka penentuan hari
dari fase endometrium diambil berdasarkan struktur kelenjar yang paling lanjut
atau matang.

Hampir semua kelainan hormon estrogen atau progesteron, serta penyakit
pada endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan. Secara klinik, perdarahan

6

tersebut sering tidak jelas sebabnya. Untuk menegakkan diagnosis, klinikus perlu
melakukan kerokan endometrium yang kemudian penentuan diagnosis dilakukan
secara pemeriksaan histopatologik. Dengan materi kerokan yang cukup, maka
diagnosis perdarahan dapat ditegakkan. Untuk mengevaluasi perubahan
endometrium perlu dilakukan kerokan. Berbagai penyebab perdarahan dapat
dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu perdarahan karena penyakit sistemik,
kelainan fungsional, kelainan lokal. Dua kelainan terakhir, biasanya dapat
ditegakkan diagnosisnya dengan pemeriksaan histopatologik kerokan
endometrium. Kelainan fungsional yang berkaitan dengan perubahan hormonal,
banyak ditemukan.

Kelainan fungsional misalnya: disfungsi ovarium, tumor ovarium yang
memproduksi hormon, dan pemberian hormon dari luar (pil KB). Kelainan lokal
misalnya pada endometrium: radang, abortus, polip, tumor, dan benda dalam
cavum uteri (IUD). Pada miometrium: myoma, radang, dan adenomiosis4
.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->