Anda di halaman 1dari 9

Dilema Kehadiran UU No. 44/2008 tentang Pornografi dalam Realitas Multikultural (dalam Tinjauan Sociological Jurisprudence)1 Oleh: M.

Fatkhul Damanhury (09401241012)* Pipit Cahyowulan (09401241047)* Putra Sidiq N. (09401241049*

Abstrak Dalam artikel ini akan dibahas mengenai Dilema Kehadiran UU No.44/2008 tentang Pornografi dalam Realitas Multikultural yang ditinjau dari salah satu aliran filsafat hukum yaitu Sociological Jurisprudensi. Pada hakekatnya hukum yang baik dalam kacamata sociological jurisprudence adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Jadi titik tolak pembahasan dalam jurnal ini akan melihat apakah keberhasilan pembuatan UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi telah sesuai dengan hukum yang hidup (the living law)dalam masyarakat Indonesia atau justru sebaliknya. Mengingat hadirnya UU tersebut memunculkan pro dan kontra yang cukup tajam. Kata Kunci: Pornografi, Multikultural

Pendahuluan Diskursus adanya landasan yuridis-formal terhadap permasalahan pornografi di Indonesia sudah muncul lama, setidaknya ditahun 1999sebelum pada akhirnya dicapai dengan ditetapkannya UU No. 44 Tahun 2008. Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) pertama kali muncul dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada masa periode DPR 1999-2004, yakni sejak Presiden Habibie (1999), Gus Dur, Megawati hingga Susilo Bambang Yudhoyono (2006).2 RUU APP

Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Filsafat Hukum yang diampu oleh Halili, S. Pd. *Mahasiswa Jurusan PKn&Hukum, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta 2 Republika tanggal 9 Februari 2006, RUU Antipornografi Harus Jalan Terus.

merupakan RUU inisiatif DPR, artinya fraksi-fraksi yang mengusulkan adanya RUU APP. Pada tahun 2006 silam, dilakukan berbagai kampanye melalui berbagai aksi damai, seminar, workshop dan statement serta opini di berbagai media massa PANSUS RUU APP bahkan sampai melakukan kunjungan ke Bali untuk menyerap aspirasi dan melakukan sosialisasi terhadap RUU APP.3 Hal ini dikarenakan Bali salah satu daerah yang kuat menolak keberadaan RUU APP. RUU APP dinilai tidak urgen karena dalam pandangan mereka permasalahan kesusilaan dan kesopanan sebenarnya sudah diatur dalam produk hukum lain. Dinamisasi RUU APP pada saat itu terus mengalami eskalasi. Pro kontra tentang perlu tidaknya UU yang mengatur pornografi dan pornoaksi terus berkembang. RUU Anti Pornografi harus berhadapan dengan penolakan dari berbagai kelompok identitas lain seperti model, seniman, pelaku bisnis industri pariwisata sampai kelompok-kelompok agama di Bali, Sulawesi Utara, dan Papua. Wacana penolakan mereka terhadap RUU Anti-Pornografi yang berkembang saat itu didorong oleh makna berbeda mengenai kehidupan seksual maupun gaya berpakaian sebagai bagian kebudayaan. Kebudayaan manusia berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Perbedaan kebudayaan ini merupakan realitas bagi bangsa Indonesia yang harus dijaga dari upaya penyeragaman. Sebagai bentuk penghormatan atas nilai-nilai kebudayaan yang plural.4 Penolakan RUU APP ini semakin meluas ke daerah-daerah lain yang merasa adat istiadat dan budayanya terancam dengan RUU APP, seperti Papua, Maluku, Kabupaten Nias, NTT dan Kabupaten Tapanuli. Dari kalangan pro tidak tinggal diam. Sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, termasuk Majelis Ulama Indonesia, turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa, untuk menyetakan dukungannya agar Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) segera disahkan menjadi undnag-undang. Ketua MUI (pada waktu itu) Amindhan menyatakan, aksi turun ke jalan merupakan upaya untuk menunjukan ke publik bahwa RUU APP memiliki pendukung, karena selama ini publik

Lihat Republika pada 4 Maret 2006 dengan judul berita Pansus RUU APP di Bali Disambut Senam Erotis. Seperti dikutip Dewita Hayu Shinta. Penelitian: Analisis Perspektif Gender dalam Penanganan Kasus-kasus dalam implementasi UU Pornografi. FISIP UI. 2010, hal: 1 4 Novri Susan. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta:Prenada Media Group, 2010, hal:235

lebih banyak memperoleh informasi bahwa RUU APP mendapat tantangan dari banyak kalangan.5 Walau kemudian kelompok pro-lah yang bergembira dengan diundangkannya UU No.44/2008 tentang Pronografi, kalangan kontra tidak mau diam mereka terus menyuarakan gagasan-gagasan untuk menolak kehadiran UU tersebut. Alasan yang paling kuat disuarakan adalah bangsa ini merupakan bangsa yang memiliki banyak kebudayaan, yang masing-masing memiliki ciri khas masing-masing. Dengan adanya UU ini ditakutkan akan mengganggu eksistensi tiap-tiap kebudayaan lokal. Untuk itulah dalam artikel ini akan dikaji permasalahan adanya UU No.44/2008 tentang Pornografi yang berbenturan dengan relaitas multikultural Bangsa Indonesia.

Realitas Multikultural dan Polemik Pornografi Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang terdiri dari banyak suku bangsa. Selain itu bangsa ini juga multi-religius. Yang setiap unsur tadi saling melengkapi dan mengisi menjadi bangsa yang bernama Indonesia. Selain itu masing-masing memiliki budaya yang beragam-ragam yang mewarnai kebudayaan nasional. Kondisi demikian memunculkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama menguatkan integrasi nasional yang dijargonisasi dengan Semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kemungkinan kedua dapat memunculkan disintegrasi bangsa yang menimbulkan perpecahan. Dalam polemik pornografi keadaan multikultural ini menjadi tantangan tersendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam perjalanan panjang pembuatan UU Pornografi yang menuai kontra atau penolakan dari berbagai daerah. Kita dapat mencermati dalam kasus penolakan di Bali, Sulawesi Utara, dan Papua. Yang secara umum dapat dilihat dari ketakutan akan eksistensi adat istiadat mereka. Bali merupakan salah satu daerah yang memiliki catatan penolakan terhadap hadirnya UU Pornografi. Tokoh-tokoh yang menentang UU tersebut bahkan sempat mengajukan uji materi ke MK UU No. 44/2008 terhadap UUD 1945 di tahun 2010 silam, namun permohonan tersebut ditolak atau tidak dikabulkan oleh MK. Hal ini membuktikan bahwa UU No. 44/2008 tidak bertentangan dengan konstitusi.

http://www.antara.co.id/seenws/?id=30650

Walaupun demikian Bali tetap gencar melakukan penolakan terhadap UU Pornografi. Bahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika ditahun mengutarakan provinsi Bali tetap menolak UU No.44/2008 dan tidak bisa dilaksanakan di Bali. Produk hukum ini dinilai tidak sesuai nilai sosiologis dan filosofis masyarakat Bali.6 Suatu hal yang patut dicatat adalah apa yang disampaikan hakim konstitusi saat menolak permohonan uji materi UU No. 44/2008 oleh Farhat Abbas, seorang pengacara, dan Agus Wahid, mewakili lembaga swadaya masyarakat. Saat itu hakim konstitusi berpendapat UU pornografi tidak mendiskriminasi perempuan seperti tuduhan kalangan penentang UU ini. mahkamah juga menegaskan bahwa sejumlah tarian daerah, seperti tayub, jaipong, ronggeng, pendet, dan sejenisnya, bukanlah pornografi karena undangundang itu mengatur soal pengecualian. Begitu pula semua ketelanjangan lain yang berkaitan dengan seni, adat-istiadat, ilmu pengetahuan, dan olahraga. Selain masalah budaya ada pandangan lain yang mengemuka mengenai alasan penolakan terhadap UU Pornografi. Sikap kontra sehubungan dengan diundangkannya UU Pornografi yang terjadi di Propinsi Bali dan Sulawesi Utara dapat dipahami melalui sudut pandang sejarah. Penelitian Schurhammer membuktikan, di Sulawesi Utara pada masa pra-Islam, perzinaan dengan perempuan yang belum menikah diperbolehkan, tetapi jika perzinaan dilakukan dengan perempuan yang telah terikat perkawinan, dikenai hukuman mati.7 Sementara itu, di Bali, Hirschfeld menemukan, hampir semuanya, tanpa kecuali, perempuan dewasa dan remaja telanjang dada sampai pusar, sedangkan perempuan kecil telanjang bulat. Mereka dengan bangga menunjukkan keindahan dada. Dr. Kruse, dokter berwarga negara Jerman yang lama praktik di Bali, melukiskan dalam bukunya, hanya pelacur yang menutup dada mereka untuk membangkitkan rasa penasaran dan memikat laki-lakimeski pendapat ini perlu diuji kebenarannya lebih lanjut.8

Islam: Semangat Anti-Pornografi

http://www.elsam.or.id/new/index.php?id=448&lang=in&act=view&cat=c/101, diakses tanggal 4 Juni 2012 7 ___.Pornografi dalam Budaya Indonesia. 2010, diakses dari www.menegpp.go.id tanggal 23 April 2012 8 Ibid

Keberadaan Islam dalam realitas multikultural atau multi-religius Bangsa Indonesia merupakan hal yang vital. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Jadi menghadirkan perspektif Islam dalam kajian ini tepat kiranya. Dalam Islam keberadaan pornografi maupun pornoaksi merupakan hal yang destruktif dan bertentangan dengan ajaran maupun nilai-nilai agama Islam. Agama Islam menuntut setiap insan menutup aurat9 ketika berada dalam ruang publik. Sedang ketika dengan orang yang merupakan muhrimnya berbeda lagi aturannya. Islam memberikan definisi yang jelas dan tidak mengambang tentang pornografi dan pornoaksi. Pornografi adalah produk grafis (tulisan, gambar, film) baik bentuk majalah, tabloid, VCD, film-film atau acara-acara di TV, situs-situs porno dari internet, ataupun bacaaan-bacaan porno lainnya yang mengubar sekaligus menjual aurat, artinya aurat menjadi titik pusat perhatian. Sedangkan pornoaksi adalah sebuah perbuatan memamerkan aurat yang digelar dan ditonton secara langsung; dari mulai aksi yang biasa-biasa saja seperti aksi para artis di panggung-panggung hiburan umum hingga yang luar biasa dan atraktif seperti tarian telanjang atau setengah telanjang di tempattempat hiburan khusus (diskotek-diskotek, klab-klab malam, dll).10 Dalam konteks pornografi dan pornoaksi yang mengumbar aurat ini, yang dimaksud adalah aurat menurut syariat Islam. Seorang wanita yang memperlihatkan sekadar rambut atau bagian bawah kakinya misalnya, jelas termasuk orang yang mengumbar aurat11. Sebab, aurat wanita dalam pandangan Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Secara fiqh, menyaksikan secara langsung aurat seseorang yang bukan haknya (pornoaksi) adalah haram, kecuali untuk tujuan yang dibolehkan oleh syara, misalnya memberi pertolongan medis. Hal Ini akan berlaku juga
9

Aurat khususnya bagi perempuan dalam Islam masih diperdebatkan. Hal ini terjadi karena perbedaan pandangan dari para ulama terhadap firman Allah dalam Surat An-Nur: 31 dan Al Ahzab: 59.
10

http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=24096&kat_id=105kat_id1=147&kat_id2=21 7 11 Walaupun sebenarnya batas aurat dalam Islam masih diperdebatkan. Ada ulama yang tidak mewajibkan seorang muslimah berjilbab, seperti pendapat Quraish Shihab. Dia salah satu ulama yang beranggapan tidak ada kewajiban seorang muslimah berjibab. Menurut Quraish Shihab, ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Selain itu, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni dugaan semata. Quraish juga bersikap, bahwa adanya perbedaan pendapat para pakar hukum tentang batasan aurat adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan masyarakat mereka, serta pertim-bangan-pertimbangan nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas, pasti dan tegas.

pada para pembuat pornografi (kamerawan, pengarah gaya, sutradara, dsb). Sementara itu, sebuah benda dengan muatan pornografi dihukumi sebagai benda, yaitu mubah. Namun demikian, kemubahan ini bisa berubah menjadi haram ketika benda (baca: sarana/wasilah) itu dipastikan dapat menjerumuskan pada tindakan keharaman. Sebab, kaidah usul fiqh yang mutabar menyebutkan: Sarana yang menjerumuskan pada tindakan keharaman adalah haram.12 Karena itu, kemubahan ini juga tidak berlaku untuk penyebarluasan dan propaganda pornografi/pornoaksi yang akan memiliki dampak serius di masyarakat. Seseorang yang dihadapkan pada suatu media porno, misalnya, memang dipandang belum melakukan aktivitas haram (karena media sebagai benda adalah mubah). Akan tetapi, bila orang itu ikut dalam usaha membuat dan/atau menyebaluaskan media porno, maka menurut syariat, dia dianggap telah melakukan aktivitas yang haram.13

Keberadaan UU No. 44 Tahun 2008 ditengah Kebhinnekaan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang kemudian disetujui oleh DPR dan Pemerintah (dengan penggantian nama menjadi UU Pornografi) pada 30 Oktober 2008 silam terus menuai kritik dan penolakan dari berbagai pihak. Hal ini mencuat karena keberadaan UU ini dinilai menegasikan realitas kebhinnekaan Bangsa Indonesia. Ada semacam upaya penyeragaman terhadap nilai-nilai tertentu.14 Selain itu definisi pornografi yang termaktub dalam ayat 1 UU No. 44 Tahun 2008 dinilai terlalu luas, dan multi interpretatif. Jika kemudian UU ini dituduh membawa atau memperjuangkan nilai-nilai moral Islam, ada yang mengatakan itu sah-sah saja. Mengingat Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Seperti dikatakan oleh Kustiariyah Staf Peneliti PKSPL yang juga Dosen THP IPB15, bahwa diadopsinya aturan-aturan yang bersumber dari Islam dalam beberapa aturan yang diterapkan di negara ini, merupakan hal yang wajar mengingat mayoritas warga negara adalah Muslim. Justru aneh jika warga negara yang notabene (mayoritas) Muslim lebih memilih hukum warisan Belanda darupada hukum yang berasal dari Islam. Penerapan beberapa aturan yang di dalamnya diadopsi

12 13

Ibid. Rahmania Timorita. Y. Pro dan Kontra Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Al-Mawarid Edisi XV, 2006, hal: 39 14 Baca Permohonan Pengujian UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi terhadap UUD 1945, oleh Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika, April 2009, hal: 5 15 Rahmania Timorita. Y. Op. cit, hal: 41

hukum-hukum Islam, sering kali dianggap sebagai sebuah aturan yang tidak membumi. Sehingga wajar kemudian muncul pendapat untuk apa dibuat aturan jika kemudian banyak menimbulkan pelanggaran? Lebih baik tidak perlu ada aturan tersebut. Namun pendapat demikian perlu diperdebatkan lebih lanjut, mengingat dalam pengalaman kesejarahan terbentuknya Republik Indonesia ada hal-hal yang penting yang dapat dijadikan pertimbangan dalam pendapat yang semacam itu. Dulu ketika masa prakemerdekaan para pendiri negara terus memperdebatkan mengenai atas dasar apa negara ini akan dibangun. Saat itu ada dua kubu besar yang saling berdebat, kubu pertama sering disebut Golongan Islam yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam; kubu kedua sering disebut Golongan Nasionalis-Sekuler tidak menginginkan hal tersebut. Pada akhirnya Pancasila dipilih menjadi jalan tengah sebagai dasar negara. Dengan dipilihnya Pancasila sebagai dasar negara, berkonsekuensi tidak ada satu golongan pun yang diistimewakan (entah Islam ataupun golongan lain) sehingga semboyan Bhinneka Tunggal Ika tetap hidup dalam sanubari kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi jika saja dulu tidak ada pemaksaan dari mayoritas (Islam) terhadap minoritas, kenapa sekarang hal ini terus dimunculkan? Bukankah lebih baik jika jalan tengah16 diambil sehingga tidak ada tirani mayoritas ataupun tirani minoritas. Disamping itu dalam kacamata yuridis hukum nasional Indonesia dibentuk dari 3 hukum, yaitu: hukum warisan Belanda yang diwariskan dari kolonialisme Belanda; kedua, hukum adat yang telah hidup dan berkembang di berbegai daerah yang memiliki bermacam-macam suku di bumi Nusantara; ketiga, hukum Islam. Dalam perspektif sosiological jurisprudence yang inti ajarannya menganggap pentingnya hukum yang hidup (the living law) adanya ketiga komponen yang membentuk hukum nasional Indonesia menjadi suatu hal yang urgen. Mengingat ketiga sumber hukum itu telah ada, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia jadi bisa dipersepsikan ketiga hukum ini adalah hukum yang hidup (the living law). Ketika ketiga sumber hukum (Belanda, Adat, dan Islam) menjadi the living law berarti aturan yang kemudian lahir dari pemerintah (eksekutif, yudikatif, dan legislatif) jika ingin baik harus sejalan dengan ketiga sumber tadi. Begitu pula dalam polemik pornografi ini, aturan yang dikeluarkan dalam mengatasi polemik pornografi ini harus
16

Argumentasi mengenai jalan tengah dalam penyelesaian pro kontra mengenai pornografi ini juga diungkapkan dalam Novri Susan. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta:Prenada Media Group, 2010, hal:236. Hal ini penting mengingat realitas multikultural Bangsa Indonesia tidak dapat dinafikan atau dinegasikan oleh kepentingan golongan tertentu.

sejalan dengan ketiga sumber tadi. Apalagi dalam ketiga sumber hukum ini telah diatur mengenai masalah pornografi yang menyangkut ranah kesusilaan dan kesopanan. Dalam Islam telah kita ulas panjang lebar diatas. Dalam hukum warisan Belanda kita dapat melihat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Didalam Buku Kedua (Kejahatan) KUHP Bab XIV diatur mengenai kejahatan terhadap kesusilaan17.

Kesimpulan Dilema mengenai kehadiran UU No.44 Tahun 2008 dalam realitas multikultural di Bumi Nusantara menjadi hal yang sampai saat ini terus diperbincangkan. Dengan diundangkannya UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi tidak serta merta menyurutkan kalangan kontra untuk melakukan perlawanan. Hal ini dapat kita lihat dari adanya permohonan-permohonan uji materi terhadap UU No. 44 Tahun 2008 dengan UUD 1945 yang dimotori oleh beberapa advokat ditahun 2009, tokoh dan LSM di Bali tahun 2010, dan oleh pengacara dan LSM di tahun 2011. Dalam kajian sosiological jurisprudence fenomena pro kontra terhadap kehadiran UU No. 44/2008 tentang Pornografi perlu dipandang dari hukum yang hidup (the living law) di Indonesia, yaitu: hukum warisan Belanda, Hukum Adat, dan Hukum Islam. Selain itu fakta yang menunjukan bahwa budaya-budaya lokal telah terwadahi dan terlindungi eksistensinya dalam UU Pornografi perlu diperhatikan. Hal semacam ini menunjukan bahwa realitas multikultural di Indonesia juga menjadi salah satu pertimbangan dalam pembuatan UU ini.

17

Tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan dalam KUHP diatur dari Pasal 281 sampai Pasal 303 Bis.

Daftar Pustaka

Ali, Zainuddin. 2006. Filsafat Hukum. Jakarta: Sinar Grafika Darmodiharjo, Darji&Shidarta. 2006. Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Kusdarini, Eny. 2012. Bahan Kuliah: Filsafat Hukum. Jurusan PKnH, FIS, UNY Rasjidi, Lili. Filsafat Hukum Mazhab dan Refleksinya. Bandung: Remadja Karya Offset. 1989. Susan, Novri. 2010. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Timorita. Y, Rahmania. 2006. Pro dan Kontra Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Al-Mawarid Edisi XV

Media Massa Republika tanggal 9 Februari 2006, RUU Antipornografi Harus Jalan Terus

Internet ___.Pornografi dalam Budaya Indonesia. 2010, diakses dari www.menegpp.go.id tanggal 23 April 2012 http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=24096&kat_id=105kat_id1= 147&kat_id2=217 Penelitian Dewita Hayu Shinta. 2010. Penelitian: Analisis Perspektif Gender dalam Penanganan Kasus-kasus dalam implementasi UU Pornografi. FISIP UI

Lain-lain Permohonan Pengujian UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi terhadap UUD 1945, oleh Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika, April 2009.