Anda di halaman 1dari 29

Byzantium Arsitektur

Sudah menjadi mimpi para arsitek dan calon arsitek di dunia ini untuk mengunjungi kota Istanbul. Di kota ini mereka bisa belajar bagaimana menyatukan berbagai gaya arsitektur dari era yang berbeda menjadi suatu kesatuan yang unik dan bisa saling berdampingan. Arsitektur jaman Byzantine, jaman Ottoman Empire, ataupun arsitektur eklektik Islam bisa berdampingan dengan

gaya Art Noveau maupun yang modern. Dari jaman Byzantine: Kota Istanbul dibangun di jaman kerajaan Romawi dan selama 1123 tahun berfungsi sebagai kota dibawah pengaruh agama Kristen. Bangunan-bangunan terkenal yang mewakili era ini yang sempat saya kunjungi adalah: 1. Aya Sofia (Haghia Sofia): mungkin merupakan monumen paling terkenal di Istanbul, dibangun pada tahun 537. Kubahnya berdiameter lebih dari 30 meter. Berfungsi sebagai gereja sampai ditaklukannya Konstantinopel (nama Istanbul sebelumnya) oleh Sultan Mehmet pada tahun 1453 dan menjadikannya sebagai mesjid. Pada tahun 1934, Ataturk menjadikan bangunan ini sebagai museum. 2. Basilica Cistern (The Sunken Cistern): Bangunan ini dulunya digunakan untuk penyimpanan air dari Kerajaan Byzantine dan sekitarnya, bisa menampung sekirar 80.000 meter kubik air. Ada 336 kolom dalam bangunan ini. Baru pertama kali ini saya masuk bangunan seperti ini. 3. Hippodrome dan Egyptian Obelisk.

Dibangun pada tahun 1786 (Abad ke 18) oleh Tuan Tschoa (Kapten Tamien Dosol Seeng) merupakan masjid pertama yang didirikan bagi masyarakat peranakan China Muslim di Glodok, dibangun diatas tanah milik Kapten China yang telah masuk agama Islam. Di belakang masjid terdapat makam Islam, pada nisannya bertuliskan huruf China yang berbunyi Fatimah Hwu , tulisan lain yaitu H. Sienpi Chai Men Tsu Mow serta angka angka Arab yang menyebutkan tahun 1792, dan ornament-ornamen seperti kepala naga. Yang disimpulkan bahwa ini adalah makam seorang wanita dari keluarga Chai, yaitu Fatimah Hwu, yang juga merupakan istri dari Kapten Tamien Dosol Seeng. Bangunan dilindungi SK. Mendikbud R.I. No. 0128/M/1998. Arsitektur : China Arab (Eklektik). Golongan : A. Sumber : Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Landmark Jakarta

Kampung Tua Gedung Balaikota Bangunan Cagar Budaya

Great People & City


Masyarakat Madani di Kota Manusiawi

Arsitektur modern fungsionalism, rasionalism & kubism ( bag.4 )


tinggalkan komentar IV. ARSITEKTUR MODERN FUNGSIONALISME, RASIONALISME DAN KUBISME (1900-1940) Perkembangan Arsitektur Modern Fungsionalisme diwarnai dengan anti pada pengulangan bentuk-bentuk lama dengan teknologi baru (beton bertulang, baja). Dan pada awal abad XX terjadi perubahan besar, radikal, cepat, dan revolusioner dalam pola pikir. Dalam pandangan arsitektur modern (1910-1940-an), terjadi perubahan dalam pola dan konsep keindahan arsitektur, di mana keindahan timbul semata-mata oleh adanya fungsi dari elemenelemen bangunan. Oleh karena itu aliran ini disebut sebagai Arsitektur Fungsionalisme atau Rasionalisme (berdasarkan rasio/pemikiran yang logis). Bangunan terbentuk oleh bagianbagiannya apakah dinding, jendela, pintu, atap, dll tersusun dalam komposisi dari unsure-unsur yang semuanya mempunyai fungsi. Teori, bentuk dan konsep lama tentang keindahan seni termasuk arsitektur telah lalu ditinggalkan. Hubungan dengan masa lampau berusaha diputus oleh para arsitek modern menjadi bentuk baru yang murni tanpa dekor selain bagian bangunan yang masing-masing berfungsi, disebut aliran arsitektur murni atau Purism. Dalam penerapan konsep Fungsionalisme, Pusrime atau rasionalisme mewujudkan bangunan bersih,murni tanpa hiasan, sederhana berupa komposisi bidang, kotak, balok, dan kubus. Memandang bahwa seluruhnya merupakan kesatuan bentuk, sehingga disebut arsitektur Cubism. Aliran ini menekankan pada dimensi waktu dalam bangunan, diwujudkan dengan menyatunya ruang luar-dalam oleh jendela-jendela lebar, jarak antar kolom yang relatif lebar, saling berhubungan secara berkesinambungan. Contoh Bangunan dan Ciri Bangunan Modern Fungsionalisme

Maison La Roche (1923), Paris, Le Corbusier dan Pierre Jeanneret

Maison Laroche Denah rumah berbentuk huruf L, dimaksudkan untuk memisahkan 2 penghuni berbeda. Sisi utama di depan (untuk gallery) berupa ruang, luas dan tinggi karena adanya mezzanine kombinasi dengan 2 atau 3 lantai dengan sisi lainnya. Di atas terdapat sebuah balkon menjorok melayang dan ada semacam jembatan menghubungkan ruang-ruang berseberangan dengan mezzanine. Selain tangga, Le Corbusier juga merancang jalur naik landai (ramp). Banyak jendela besar dan lebar di atas dan disamping. Jendela ini bentuknya tidak lagi seperti dinding dilubangi pada bangunan klasik, tetapi berupa bidang membentuk komposisi horizontal-vertikal (terdiri dari bidang kaca dan rangka aluminium).

La Samaritene (1926), Paris, Henry Sauvage dan Frantz Jourdan

Konstruksi beton bertulang dinding dan lantainya dipadukan dengan baja cetak prefabricated pada ruang dalamnya yang bergaya Art Deco. Jendela kaca sangat lebar mendominasi bagian depan dan mezzanine menyatukan ruang-ruang di lantai berbeda. Merupakan penerapan Cubism.

Notre Dame du Raincy (1922-1924), Paris, Auguste Perret

Interior Notredame

Bentuk monumental gereja dicapai dengan pola simetris, menggunakan sistem kons-truksi beton bertulang exposed, dengan kolom-ko-lom dalam hal ini bentuknya silindris, menjulang tinggi pada setiap sudut sebuah me-nara di tengah-depan. Menara makin ke atas semakin ram-ping seperti bentuk gereja Gothik. Nave (ruang utama umat) atapnya melengkung, dindingnya berupa krawang beton (concrete grilles), untuk menghindari angin dan air tetapi tetap tembus pandang, krawang ditutup kaca. Bentuk dan susunan krawang geometris perpaduan segi empat, bujur sangkar, dan diagonal-diagonalnya membentuk segi tiga. Bekas perancah beton membentuk garis-garis sesuai dengan pemasangannya. Sistem beton exposed temuan Auguste Perret diterapkan dengan sangat baik dan pada akhirnya banyak diikuti oleh arsitek-arsitek lain dalam publikasi, perencanaan,maupun pelaksanaan.

Apartment House (1902-1903); Paris; Auguste Perret

Menggunakan sistem beton bertulang, yang dapat dilihat pada facadenya. Sistem beton exposed-nya diberikan ornamen-ornamen panel. Faade yang menjorok kedalam dengan bukaan jendela yang lebar memperlihatkan pembagian lantai yang indah pada bangunan tersebut. Penggunaan kaca (termasuk kaca hias) memperindah tampilan bangunan pada lantai dasar. Di mana kantor Perret berada.

Abattoirs de La Mouche (1909); Lyons; Tony Garnier

Ruang utama (markethall) luas lebar tanpa tiang di tengah, dapat terbentuk berkat sistem konstruksi dari rangka baja. Menggunakan atap kaca yang tegak lurus memasukkan sinar dari samping dan atap metal datar sehingga konstruksi atap ini membentuk undak-undakan. Bentuk atap ditunjukkan pada wajah depan dan belakang, sehingga pandangan depan simetris juga undak-undakan ke arah kiri-kanan.

AEG High-Tension Plant (1909-1910), Berlin, Peter Bahrens

Menggunakan atap kaca diletakkan diantara dua atap parallel lainnya. Bangunan bertingkat enam lantai terbagi menjadi dua, yang berupa sayap. Bangunan melintang empat lantai, menerus melalui hall yang menghubungkan bagian bangunan yang terpisah tersebut.

Fagus Shoe Last Factory (1910-1914), Alfeld/ Leine, Walter Gropius, Adolf Meyer, Eduard Werner

Faade sebagai bagian yang mendominasi bangunan tersebut membedakan dengan jelas dari lingkungannya. Rangka besi (ironframe) di-letakkan di antara kolom dinding bata kuning mendukung penampilan kaca (glazing) dan lem-baran-lembaran baja (metal heets) pada area dinding. Emphatic, kesolidan pada sudut diperlihat-kan pemecahannya, transparan penuh yang menyatukan ruang luar dan dalam. Kesederha-naan dan penerapan bahan bangunan modern diutama-kan dalam rancangannya.

Goldman & Salatsch Building (1909-1911), Wina, Adolf Loos

Menggunakan beton bertu-lang dengan din-ding bata. Lantai 1-4 diplester dengan lapisan halus, ringan-stuc-co berwarna lantai dasar dan mezzanine dibungkus dengan hijau Yunani ber-corak marmer, didasari de-ngan granit. Pilar-pilarnya monolit dengan corak marmer, terbuat dari kayu dikelilingi oleh kaca yang sudah berbentuk (formal glass cabinet) searah dengan sumbu utama. Berkembangnya Fungsionalisme atau sering disebut pula Rasionalisme ke seluruh dunia membuatnya disebut Langgam Internasional atau International Style, yang sangat erat terkait dengan perkembangan arsitektur modern berikutnya. The International Style Ludwig Mies van der Rohe

German Pavilion at the International Exhibition in Barcelona (1929)

Semua dinding jendela dan pintu utuh dari atas sampai bawah membentuk bidang-bidang vertikal. Atap datar dari beton bertulang berwarna kontras dengan dinding dalam komposisi keseluruhan menjadi unsur horizontal, seolah melayang ringan di atas dinding kaca dan marmer. Selain itu kolam di dalam dengan karakter dan warna air, juga menjadi elemen bidang horizontal dalam komposisi ini. Dalam rancangannya terlihat kederhanaan dan kemurnian dan kesatuan ruang luar-dalam, komposisi blok, kotak dan kubus. Hubungan antara ruang dalam dan ruang luar, salah satu ciri khas dari arsitektur Cubism, dikuatkan dengan pintu-jendela lebar, luas dan transparan, bidang-bidang menerus dari luar (halaman) menyatu dengan dinding ruang dalam. Hans Scharoun

Villa Schminke in Lobau, Saxony (1933)

Bentuk dan orientasi bangunan diperoleh dari keadaan tapak dan lingkungannya. Banyak ruangan terbuka yang memang dengan sengaja dibuat untuk memperoleh sinar dan menyatukan ruang luar-dalam. Penggunaan material kaca dengan buka-an besar dan lebar, menggunakan kusen dan rangka alumunium banyak mendomi-nasi bangunan ini. Sederhana namun ele-gan. Pada bagian taman terdapat kaca dengan kemiringan tertentu, untuk men-dapatkan sinar bagi tanaman. Lingkaran-lingkaran pada atap datar diwarnai de-ngan lampu-lampu yang memantulkan sinarnya pada kolam taman di malam hari. Alvar Aalto Tuberculosis Sanatorium in Paimio (1928-1933) Bangunan ini tercipta berdasarkan dua pertimbangan yang diambil Alvar Aalto, yaitu: 1. adanya area yang ditujukan khusus untuk pekerja/personel dengan lingkungan yang tenang, seperti : perawat/suster, dokter, administrasi, dan lainnya. 2. Pemecahan yang baik untuk akomodasi pasien: dengan ketinggian, pengakhiran blok yang ramping dengan teras yang menjorok keluar. Ia meran-cang ruang-ruang berdasarkan garis-garis linear yang berorientasi ke arah dimana dapat diperoleh sinar matahari dan udara yang maksimal sehingga kelihatannya tidak beraturan.

Interiornya mencerminkan gambaran lamanya jam pasien yang terbaring di tempat tidur. Plafondnya di warna berbeda, berkesan lebih dalam dan penataan lampunya secara tidak langsung (indirect). Penerapan konsep modern berupa keseder-hanaan tanpa elemen dekorasi, dimana yang mejdi elemen dekorasi itu sendiri ialah jendela memanjang (ribbon window), lantai, balustrade dan atap datar, semua dindingnya berwarna cerah. Bangunan ini, dengan pembagian bangunan berdasarkan fungsi dan kegunaan yang berbeda kedalam area yang berbeda pula menjadikannya sebagai contoh dalam pem-buatan bangunan rumah sakit di seluruh dunia Richard Neutra

Health House, Villa for Philip Lovell in Los Angeles (1927-1929)

Menampilkan penerapan stuktur baja yang ringan perpaduan dengan beton bertulang sebagai dasar pembentuk dari bangunan ini. Dibangun di sisi gunung. Jendela berkerangka baja dengan berbagai bentuk dan ukurannya, semuanya menyatu dengan konstruksi dinding dan balustrade putih, horizontal berkesan ringan melayang. Bentuk tiga dimensional dari lantai dan dinding menjorok ke luar dari balkon, lantai atas dan atap datar semakin terlihat bila timbul warna gelap dan terang oleh bayangan matahari. Merupakan penerapan dari konsep Cubism. Prinsip kesederhanaan ungkapan dari fungsional dan purism terlihat pula pada ruang dalamnya. Frank Lloyd Wright

Falling Water, Villa for Edgar J. Kaufmann, Bear Run, Pennsylvania (1935-1939)

Interior Falling water house, karya Frank Lloyd Wright Sebuah tower batu dengan perapian sebagai pusat dari bentuk yang berdasarkan sumbu vertikal-horizontal sebagai elemen utama terlihat sebagai sentral dari orientasi bangunan ini. Pewarnaan yang sederhana dan ringan pada dinding beton teras dan beranda menggambarkan kejinakan hutan belantara. Selain itu penggunaan batu alami menjadi bagian itu sendiri dari alam sekitarnya. Atapnya adalah atap plat datar terbuat dari beton bertulang.

Penggunaan unsur garis, bidang-bidang menerus dari luar sampai dalam, banyak jendela (tranparansi bangunan), menunjukkan masih dipengaruhi oleh aliran Cubism namun dengan ciri dan style yang berbeda menurut Franl Llyod itu sendiri, Penggunaan material bangunan yang bervariatif, simplicity, perpaduan dengan alam, memberikan gaya arsitektur tersendiri bagi arsitek pada masa itu. Rudolf M. Schindler

House for Victoria McAlmon in Los Angeles (1935)

Masih menonjolkan elemen-elemen garis dengan bukaan-bukaan yang terbilang sedikit. Menggunakan beton bertulang sebagai bahan utama bangunan ini. Seperti kumpulan segi empat yang dicoak/dilubangi yang memberi khas tersendiri gaya Schindler. Le Corbusier dan Pierre Jeanneret

Salvation Army Shelter in Paris (1929-1933)

Tubuh bangunan yang menunjukkan kesan individual stereometrik ditempatkan sebelum bangunan utama yang panjang. Sebuah jembatan menuntun dari pintu utama terbuka yang berbentuk kubus ke ruang resepsionis berbentuk silinder. Disampingnya terdapat ruang duduk (lounge). Bangunan diperuntukkan sebagai tempat asrama mahasiswa berkapasitas 900-1500 mahasiswa. Facadenya berupa kaca-kaca dengan besar dan ukuran yang berbeda-beda. Sebuah sistem ventilasi yang diterapkan masih kurang tepat. Pada musim panas, bangunan tersebut terkena efek rumah kaca, menimbulkan panas, yang akibatnya menimbulkan ketidaknyamanan bagi si pengguna. Eugene Beaudoin dan Marcel Lods

Open- Air School in Surenes ( 1932-1935 )

Bangunan terbuat dari beton baja bertulang, sisi/ dindingnya terbuat dari beton prefab sebagai elemen, dikembangkan dalam kolaborasi dengan Eugene Freyssinet. Pavilion untuk mengajar dapat langsung diubah menjadi terbuka hanya dengan membuka dinding kaca lipat. Kesan open space, ringan, dan fungsional terlihat dengan jelas di sini.

hit counter

Written by Savitri 10 Juli 2009 at 18:44 Ditulis dalam arsitektur Ditandai dengan Eropa

Arsitektur modern awal ( bag.3 )


tinggalkan komentar III. ARSITEKTUR MODERN MULA Fungsionalisme dan Purisme dalam Arsitektur Modern Mula Dalam kurun waktu 1880-1890 terjadi semacam revolusi industri kedua dalam bentuk rasionalisasi dan penggunaan mesin secara besar-besaran. Timbulnya sistem fabrikasi dimana sebagian besar unsur bangunan di buat di pabrik, penggunaan mesin-mesin, teknologi baja tuang dan sebagainya, memungkinkan pembangunan hanya dalam waktu relatif singkat. Terjadinya spesialisasi dan terpisahnya dua keahlian: arsitek dalam hal bentuk, ruang dan fungsi di satu pihak dan keahlian konstruksi dan struktur dalam hal perhitungan dan pelaksanaan bangunan di lain pihak. Dalam masa modernisasi awal teori-teori keindahan khususnya dalam arsitektur oleh Pugin, Ruskin, Moris, dan lain-lain berkembang secara lebih radikal menentang Classicissm, sebaliknya menekankan pada fungsionalisme dan purisme atau kemurnian. Pertentanganpertentangan dalam dunia arsitektur tersebut dapat dikatakan sebagai berikut : 1. arsitektur sebagai art vs arsitektur sebagai science 2. arsitektur sebagai form vs arsitektur sebagai space 3. arsitektur sebagai craft vs arsitektur sebagai assembly 4. arsitektur sebagai karya manual vs arsitektur sebagai karya machinal Ciri Umum dari gaya arsitektur yang melanda dunia pada akhir abad XIX dan awal abad XX ini adalah asimetris, kubis, atau semua sisi (depan samping dan belakang) dalam komposisi dan kesatuan bentuk, elemen bangunan jendela, dinding, atap, dan lain-lain menyatu dalam komposisi bangunan. Selain itu hanya terdapat sedikit atau tanpa ornamen pada bangunan. Hal ini memperlihatkan dengan jelas sebagai perlawanan arah dari arsitektur klasik dan juga sangat berbeda dengan Modern-Eklektik, di mana ornamen, elemen-elemen bangunan (pondasi, kolom, atap, jendela, dinding, dan lain-lain) yang terlihat jelas sebagai unsur tersendiri satu dengan lain lepas, tidak dalam kesatuan. Pada masa ini muncul berbagai macam pergerakan yaitu antara lain: Art and Craft, Art Nouveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School,dan yang lainnya.. Ciri dan Bentuk Bangunan Arsitektur Modern Awal

Post Savings Bank Office (1904-1906), Wina, Otto Wagner

Merupakan bangunan Free Renaissance (bebas dalam mengolah namun masih terli-hat cirinya). Bagian-bagian sudah mulai menya-tu dalam komposisi, misalnya antara dinding, pintu, dan jen-dela. Merupakan gedung pertama di Wina yang menggunakan aluminium dan beton bertulang. Hall utama beratap kaca dua lapis (yang atas sebagai atap berbentuk pelana dan di bawah-nya berfungsi sebagai plafond melengkung pada bagian ping-girnya). Sistem atap ini menggantung pada dinding-dinding yang mengelilingi hall tersebut.

La Majolikahaus (1898-1899), Wina, Otto Wagner

Majolikahaus, karya Otto Wagner Bangunan bersejarah yang menandai mulainya Arsitektur Modern Rasionalis dan Art Nouveau. Bagian depannya berupa bidang datar seperti dekor dengan deretan mono-ton vertikal horizontal jendela dan pintu pada bagian bawah. Kesan simetris diperkuat dengan adanya balkon di kanankiri. Adaptasi dan pemanfaatan hasil industri ter-lihat pada penggunaan baja rangka atap, balustrade pada lantai 2 & 3 juga bergaya Art Nouveau. Penggunaan keramik sebagai pelapis dinding dengan oranamen Art Nouveau, berupa penyerdehanaan bentuk floral. Berlatar belakang kekuning-kuningan hiasan tersebut terlihat kontras dan mencolok.

Casa Batllo (1904-1906); Barcelona; Antonio Gaudi

Modernisasi Gothik terlihat pada menara-menara runcing. Tetapi, dalam langgam Art Nouveau ini, di bagian depan bangunan dibuat penonjolan-penonjolan balkon berbentuk plastis lengkunglengkung seperti batu karang. Pintu-jendela kaca lantai dasar, dua, dan tiga mirip seperti gua dan kolom-kolom berbentuk silindris seperti batang pohon di hutan (ber-wujud suatu bentukan yang berkesan metaphoric). Konsep bangun-annya berwarna-warni hingga seperti lukisan.

Casa Mila Apartment (1906-1910), Barcelona, Antonio Gaudi

Casa Mila, karya Antoni Gaudi Bentuknya seperti lahar meleleh dan mem-berikan kesan seperti formasi tebing karang terkikis oleh angin dan air. Art Nouveau diterapkan dalam balustrade, teralis, pintu, dan lainnya. Merupakn bentuk kreasi yang sama sekali baru, dikatakan istimewa dan juga aneh. Bentuk teralis besi, beton cetak berbentuk sangat plastis melengkung, silindris.

Sagrada Familia (1883-1926); Barcelona; Antonio Gaudi

Sebuah Gereja dengan Modernisasi Arsitektur Gothik dalam bentuk lebih rumit, lebih besar dengan lebih 12 menara. Permukaan dinding tidak ada yang rata, semuanya dihias dengan patung, relief, atau bentuk Art Nouveau lainnya. Art Nouveau ala Gaudi, ornamenornamennya dibuat dengan di cor atau dicetak dengan beton. Pengembangan bentuk klasik dalam konsep kejujuran, kemurnian terlihat pada bangunan-bangunannya yang tidak diperhalus lebih lanjut baik dinding dari bata, batu mau pun sistem beton exposed setelah cetakannya dibuka. Sistem konstruksi (kolom, lengkungan, bidang parabolic/hiperbolik, bentangan lebar,dll) menuntu adanya ketepatan dan perhitungan teknik struktur yang kompleks dan rumit, bagian dari teknologi modern.

Auditorium Building (1887-1890), Chicago, Louis Henry Sullivan

Gedung ini merupakan Landmark kota Chicago, menyatukan kegiatan komersial dan kesenian dalam satu atap. Memadukan konfigurasi persegi-empat (rectangular) segi empat yg banyak dipa-kai pada masa itu, dengan pelengkung Ro-manesque dan Queen Anne, menara kecil berpuncak runcing, atap Chateausqe dan dormers. Dinding luar dan lantai bawah terlihat sebagai susunan batu berkesan ko-koh, dengan deretan jendela seperti pada bangunan bergaya Renaissance. Pintu masuk menuju hall utama dan theatre terdiri dari tiga pintu besar berpelengkung di atasnya. Diatasnya

terdapat kolom-kolom silindris bergaya Dorik dari lantai 2-5 menyangga pelengkungpelengkung Romanesque.

Hotel Tassel (1892-1893), Brussel, Victor Horta

Menyatunya elemen konstruksi dengan dekorasi terlihat pada tiang, balustrade (terbuat dari tembaga). Ornamen dilukis pada dinding dengan corak Art Nouveau. Atap di atas menggunakan kaca, dihias dengan warna kekuning-kuningan serasi dengan warna sekitarnya. Perabot, interior rumah ini bentuk dan karakternya menyatu seirama mengikuti bagian-bagian lainnya. Balok dan kusen pintu-jendela semuanya bergaya Art Nouveau selaras menyatu dengan elemen-elemen konstruksi.

Amsterdam Exchange (1896-1903), Belanda, Hendrik Petrus Berlage

Permukaan dindingnya rata tanpa penon-jolan elemen bangunan maupun hiasan. Pada permukaan dinding rata tersebut terdapat lubang-lubang pintu, jendela, ventilasi ter-susun dalam irama tidak monoton dan tidak simetris. Menara yg lebih tinggi dari atap bangunan pada sudutnya, menjadikan pan-dangan depan dan samping menjadi tidak simetris. Masuk utama melalui tiga buah pintu bagian atasnya melengkung seperti pada bangunan Roma-nika.Di atas pintu masuk terdapat deretan jendela kaca tersu-sun horizontal vertikal membentuk suatu bidang bermotif kotak-kotak. Ruang utama-nya beratap setengah lingkaran berkerangka baja beratap kaca. Di bagian dalam kons-truksi dinding sama dengan di luar, yaitu menggunakan bata merah tidak diplester. Konsep baru menandai modernisasi dalam arsitektur ditemui dalam sistem rangka atap, kesederhanaan bentuk dan kreatifitasnya. Susunan kuda-kuda baja selain berfungsi sebagai struktur, bagian-bagiannya termasuk kabel-kabel penahan gaya tarik menjadi unsur dekoratif ruang yang selaras dengan bagian bangunan lainnya.

hit counter

Written by Savitri 10 Juli 2009 at 18:28 Ditulis dalam arsitektur Ditandai dengan Eropa

Arsitektur modern ekletik & neo-klasik ( bag.2 )


with one comment II. ARSITEKTUR MODERN EKLETIK DAN NEO-KLASIK

Arsitektur Eklektikisme abad XIX Eklektik artinya memilih terbaik dari yang sudah ada sebelumnya. Arsitektur Eklektisme adalah aliran memilih, memadukan unsur-unsur atau gaya ke dalam bentuk tersendiri. Arsitek, pemilik bangunan atau keduanya bersama memilih secara bebas, gaya-gaya atau bentuk-bentuk paling cocok dan pantas menurut selera dan status sosio-ekonomi mereka. Arsitektur modern perkembangnnya dimulai dengan Eklektisme, selain karena kejenuhan pola klasik lama juga karena semakin banyak pilihan untuk digabungkan atau diulang tetapi da-lam pola, konsep, bentuk baru. Pada abad XIX bentuk, langgam, konstruksi dan bahan-bahan bangunan dalam arsitektur semakin berkembang bervariasi sehingga pilihan pun semakin banyak. Dalam sejarah perkembangan arsitektur, istilah Eklektisme dipakai untuk menandai ge-jala pemilihan atau pencampuran gaya-gaya pada abad XIX masa berakhirnya Klasikisme, masa awal Modernisme dan bukan pencampuran mau pun perkembangan pada masa sebelumnya. Eklektisme menandai perkembangan arsitektur abad XIX, dengan ketidakpastian lang-gam. Pencampuran bentuk menghasilkan langgam tersendiri, memperlihatkan adanya pola pikir akademis, tetapi dalam bentuk yang masih konservatif. Fungsi bangunan disesuaikan dengan tun-tutan kebutuhan yang lebih banyak dibandingkan dengan masa sebelumnya, seperti misalnya balai kota; opera; pavilliun; museum; dan lain-lainnya. Arsitektur Eklektikisme pada awal abad XIX mengandung rasa sentimen dan nostalgia pada keindahan langgam masa lampau. Mengulang keindahan unasur-unsur kla-sik dan dipadukan atau diterapkan secara utuh. Pengulangan kembali secara utuh kadang-kadang disebut NeoKlasik. Eklektikisme dan Neo-Klasikisme Contoh-contoh Bangunan dan Ciri bangunan Eklektik:

British Museum London (1823-1846); Sir Robert Smirke

Pada bagian depan atau pinti masuk terdapat portico mendukung sebuah pedimen bergaya Romawi dengan kolom-kolom ionic octastyle, menerus berderet hingga sayap kanan dan kirinya.

Albert Memorial (1863-1872); London; Sir George Gilbert Scott

Patung duduk Pangeran Albert sebagai bagian utama monumen; diatas sebuah ketinggian pedestal (landasan berbentuk segi empat terbuat dari granit dan marmer, penuh dengan relief); berada dibawah sebuah ciborium (cungkup dengan empat buah kolom bentuk Romawi).

House of Parliament (1795-1860);London; Sir Charles Barry

House of Parliament Detail otentiknya memancarkan karakter kuno dari kebangkitan kembali Gothic pada masa itu. Penampilannya dapat memberikan kesan formal meskipun kompleks gedung ini tidak sepenuhnya simetris, dan adanya menara-menara menjulang ke atas pada bagian dalam kompleks yang letaknya beraturan. Pada bagian atas keempat sisi sebuah menara yang lainnya terdapat jam besar, diberi nama Big Ben, menjadi pertanda kota London.

Roman Chatolic Cathedral British Museum London (1894-1903); J. F. Bentley

Memakai konsep arsitektur Byzantium, ditandai dengan sebuah menara menjulang tinggi di bagian depan kiri dengan atap kubah. Tiga buah kubah berderet dari depan ke belakang mengatapi nave (ruang umat yang cukup luas). Sebuah kubah agak kecil dan ramping, menutup sanctuary (bag.gereja dimana terdapat altar). Dibelakangnya terdapat apse (ruang melengkung setengah-lingkaran di belakang altar) untuk paduan suara.

Fitzwilliam Museum (1837-1847); Cambridge; George Basevi

Bercorak Korinthian, dengan kolom-kolom langsing berkepala penuh ukiran, menyangga pedimen penuh ukiran pula, diadaptasikan dalam bentuk portico raksasa jauh lebih besar dari aslinya. Pada ujung kiri-kanan terdapat penonjolan dengan kolom-kolom pada sudutnya membentuk pandangan depan simetris, dalam hal ini ciri Barok lebih dominan.

S. Georges Hall (1840-1854);Liverpool; Harvey Lonsdale Elmes

Bangunan Neo-Klasik dengan interior ruang konser berbentuk elips, dikelilingi oleh balkon disangga oleh deretan caryatid (kolom berbentuk patung manusia). Aspek klasik dalam hal ini adalah Yunani, Romawi dengan sumbu melintang membujur yang sangat kuat, sehingga membentuk bangunan simetris dan membuatnya berkesan megah.

La Fontaine Saint Micahel Paris (1856-1860); Perancis; Gabriel Davioud

Monumen berbentuk air mancur, sebagai pengakhiran sebuah deretan apartemen. Hasil kolaborasi arsitek dan pematung, mengambil bentuk pelengkung dan tiang-tiang dari berbagai monumen di Itali. Patung dan hiasan lebih menonjol dari unsur arsitektural lainnya. Bagian utama monumen berupa patung terletak di bawah pelengkung, sebagai simbol kemenangan Santo Michael. Di atas terdapat pedimen berbentuk kombinasi antara segi empat dan pelengkungpelengkung.

Opera de Paris (1861-1874); Jean Louis Charles Garnier

Opera de Paris, karya Charles Garnier Banyak dipengaruhi oleh prinsip Beaux-Arts, khususnya dalam pengambilan unsureunsur Renaisans dan Barok. Terlihat pada ornamen dan bentuk dekorasi yang bermodel klasik Barok hampir memenuhi semua bagian bangunan; juga pada denahnya yang simetris diperkuat oleh sumbu-sumbu apabila ditarik garis diantara ruang-ruangnya.

Arc de Triomphe de LEtoile Paris (1806-1836); Jean Franqois Therese Chalgrin

Monumen yang pada dinding-dindingnya penuh dengan relief dan patung. Pada keempat kakinya terdapat tangga untuk naik kelantai yang berada di atas pelengkung, saat ini digunakan untuk museum. Menggambarkan kemenangan dan kejadian penting dalam masa pemerintahan Napoleon.

Gereja Katolik Madelaine (1807-1842); Pierre Vignon

Merupakan contoh representatif dari arsitektur Eklektik. Mengambil gaya kuil antik Romawi berciri Korinthian, octastyle, dan peripteral sebagaimana terlihat pada kolom-kolom, kepala-tiang, dan pedimen penuh dengan hiasan dan patung.

Mausoleum untuk Queen Louise(1810);Schloss Charlottenburg; Karl Friedrich Schinkel

Berlanggam arsitektur yang berbentuk kuil Yunani dari order Dorik, dalam hal ini terdapat pedimen (konstruksi segi tiga disangga oleh kolom-kol0m) ganda yang satu di atas lainnya.

Schausspielhaus (1819-1821); Berlin; Karl Friedrich Schinkel

Pengaruh aspek Yunani terlihat pada ketegasan bentuk geometrik, segitiga, balok, segiempat, dan pada denahnya. Portico atau bagian depan untuk pintu masuk bercorak Yunani-Ionik hexastyle (berkolom 6). Identik dengan mauseloum untuk Ratu Louise di atas pedimen dari portico terdapat sebuah lagi lebih besar, elemen paling dominan dari bangunan. Entablature semacam kolom melintang antara kolom dengan pedimen menerus sekeliling bagian atas dinding-dinding luar. Unsur Renaisans terdapat pada bag. Bawah dari sayap kiri dan kanan pada bangunan simetris ini, berupa konstruksi berkesan kokoh dengan garis-garis horizontal dan deretan jendela yang monoton.

Jefferson Memorial (1934-1943); Amerika Serikat; John Russel Pope

Identik dengan Pantheon Roma dengan portico berkolom Dorik delapan buah menyangga sebuah pedimen. Portico ini menempel pada sebuah rotunda (ruangan berdenah lingkaran) dikelilingi oleh kolom Dorik. Ditengah rotunda terdapat patung Thomas Jefferson menghadap ke Tidal Basin. Kemegahan memorial ini selain dibentuk oleh arsitekturnya sendiri, lokasinya yang luas terbuka juga oleh ketinggian letaknya dengan tangga selebar portico. Written by Savitri 10 Juli 2009 at 18:18 Ditulis dalam arsitektur Ditandai dengan Eropa

Sejarah perkembangan arsitektur ( bag.1 )


with 6 comments PENDAHULUAN I. Sejarah Perkembangan Arsitektur Arsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia, dan ia merupakan ungkapan fisik dan peninggalan budaya dari suatu masyarakat dalam batasan tempat dan waktu tertentu. Dari dahulu sampai sekarang bahkan yang akan datang, arsitektur akan selalu berkembang dalam bentuk semakin kompleks, sejalan dengan perkembangan peradaban dan budaya termasuk ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan kebutuhan manusia baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sejarah perkembangan arsitektur mencakup dimensi ruang dan waktu yang sukar ditentukan batasnya. Dan untuk mempermudah di dalam mempelajarinya, suatu karya arsitektur dibedakan menurut ciri-ciri bentuk dan karakter arsitektural dalam kurun waktu tertentu. Pengelompokan-

pengelompokan perkembangan arsitektur antara lain adalah: primitif, tradisional, klasik barat, dan modern. Kebudayaan sangat mempengaruhi perkembangan arsitektur, mencakup interaksi antar kebudayaan manusia dengan alam, dalam hal ini termasuk iklim, topografi, dan faktor lingkungan lainnya. Oleh karena itu dalam mempelajarinya, dibagi ke dalam periode, tempat, siapa, atau masyarakat mana yang membangun. Arsitektur Modern sendiri merupakan perkembangan dari klasik Barat, berubah secara revolusioner sejalan dengan revolusi industri mulai awal abad XIX dengan terjadinya perubahan besar-besaran dalam pola hidup dan pola pikir. Dan perkembangannya itu sendiri tidak lepas dari pengaruh atau perubahan-perubahan yang terjadi sejalan dengan perkembangan budaya berbagai bangsa. Oleh karena itu semakin sulit menentukan batas-batas sosial-budaya, ruang atau tempat dan waktu. Berdasarkan hal tersebut di atas, pembahasan mengenai sejarah perkembangan arsitektur di sini membatasinya dalam lingkup budaya, termasuk pola hidup, pola pikr masyarakat pada periode tertentu. Uraian dimulai dari awal perubahan besar masyarakat dari tradisional, pertanian, klasik konservatif dalam kehidupan modern industrial. Arsitektur Modern Barat Disebut Modern-Barat karena pola pikir dan hidup lahir, tumbuh, dan berkembang di mulai dari Barat atau Eropa sejak abad XVI. Kehidupan pertanian klasik, tradisonal dengan proses langsung dan sederhana mulai ditinggalkan dengan ditemukannya alat-alat produksi, perhubungan dan komunikasi yang lebih maju. Sejak jaman Renaissance, perkembangan arsitektur modern sudah dimasukkan dalam jaman modern. Masa ini di mulai dengan konsep-konsep baru dari Italia sejak abad XV disebut modern ditandai dengan adanya percampuran antara Gothik dan Renaissance melanda Eropa hingga masa Neo-Klasik, dinamakan Post Renaissance abad XVIII. Pada abad XIX, meskipun unsur dan bentuk klasik masih mendominasi banyak bangunan, konsep dasarnya sudah tidak diterapkan lagi. Masa berakhirnya arsitektur klasik terjadi sejak revolusi industri di Inggris, sehingga menimbulkan revolusi sosial-ekonomi, tidak hanya melanda Eropa tetapi seluruh dunia. Dalam arsitektur, perubahan mendasar terjadi antara lain dalam ornamen atau hiasan ditempatkan dalam perspektif lebih bebas dibandingkan dengan struktur dan ruang. Hiasanhiasan untuk keindahan dalam arsitektur klasik masih tetap menjadi aspek penting dalam masa akhir arsitektur klasik ini, akan tetapi pencampuran berbagai gaya, konsep dan hiasan terlihat sangat menonjol. Akhir arsitektur klasik disusul dengan timbulnya gaya Eklektikisme, yang berarti mengambil unsur-unsur terbaik, digabung, dan disusun ke dalam satu bentuk tersendiri. Setelah

masa itu, dunia arsitektur berkembang lebih cepat dimulai dari modernisme awal, fungsionalisme, internasionalisme, kubisme hingga post-modern. RENTANG MASA PERKEMBANGAN ARSITEKTUR BARAT

Menelusuri sejarah Masjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, Laksana melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. Mulai masa kesultanan, Penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. Mulai DOM, Tsunami, Dan Perjanjian Damai. Rumah Allah ini menyaksikan semuanya. Masjid Raya Baiturrahman adalah merupakan simbol Aceh. Masjid ini menjadi saksi bisu keganasan badai Tsunami, 26 Desember 2004, yang menewaskan ratusan ribu warga Aceh. Kalau Anda ke Banda Aceh, pasti akan menyaksikan kemegahan Masjid Raya Baiturrahman. Sebab, di samping arsitekturnya yang indah, juga letaknya persis di jantung kota. Karena itu, terasa belum lengkap jika berkunjung ke kota paling ujung Pulau Sumatra ini bila belum menyaksikan keindahan masjid yang merupakan termasuk salah satu masjid terindah di Asia Tenggara.

Sebagai masjid kebanggaan rakyat Aceh sejak dahulu sampai sekarang, Masjid Raya Baiturrahman menyimpan sejarah yang sangat panjang dan menarik. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Ada yang menyebutkan nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama masjid raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612 M. Riwayat lain menyebutkan bahwa masjid ini sudah dibangun jauh sebelumnya. Sultan Iskandar Muda hanya melakukan perbaikan.

Model Terbaik
Secara umum, arsitektur Masjid Raya Baiturrahman bercorak eklektik, yaitu suatu rancangan yang dihasilkan dari gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri sehingga bangunan masjid menjadi begitu megah dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, masjid ini diposisikan di tengah lapangan yang luas dan terbuka sehingga semua bagian masjid bisa terlihat dengan jelas dari kejauhan.

Bagian pertama masjid adalah gerbang yang posisinya menempel dengan unit utama. Setelah gerbang, terdapat serambi yang berbentuk persegi panjang. Bagian depan, kiri, dan kanan serambi dikelilingi oleh tangga yang membentuk huruf U. Pada ujung tangga depan, terdapat tiga bukaan (jendela tanpa pintu) yang dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish yang banyak terdapat di masjid-masjid Afrika Utara dan Spanyol. Dan, antara tiang satu dengan lainnya dihubungkan dengan pintu gerbang patah model Persia. Karena ada empat tiang, itu berarti terdapat tiga pintu gerbang. Pada bagian atas dan sisi pintu gerbang, terdapat hiasan relief lengkung-legkung, seperti corak Arabesk (motif daun, cabang, dan pohon). Di atas ketiga pintu gerbang ini, terdapat semacam tympanum yang berbentuk jenjang seperti penampang sebuah tangga. Corak ini merupakan model khas rumah klasik Belanda. Pada setiap jenjang, dihias dengan miniatur sebuah gardu atau cungkup yang dihiasi kubah bawang pada bagian puncaknya. Corak ini menunjukkan adanya pengaruh India. Jadi, dari bagian luar saja, sudah begitu jelas nuansa ekletik bangunan masjid ini. Sisi kiri dan kanan serambi mempunyai dua tiang yang dihubungkan oleh sebuah pintu gerang, dekorasinya sama dengan serambi bagian depan. Setelah melewati serambi, kemudian masuk ke ruang utama masjid yang digunakan untuk shalat. Namun, sebelum masuk ke ruang utama ini, terdapat lagi gerbang dan tiang yang sama dengan bagian depan. Gerbang tersebut tanpa pintu, seperti kebanyakan masjid kuno di India. Bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar yang diatapi oleh kubah utama yang indah dan megah bercorak bawang. Pucuknya dihiasi cunduk, seperti masjid-masjid kuno di India. Penyangga kubah berdenah segi delapan. Pada masing-masing sisinya, terdapat sepasang jendela yang dipergunakan sebagai sirkulasi udara. Pada bagian bawah, terdapat tritisan berdenah segi delapan. Pada bagian kiri dan kanan ruang shalat utama ini, terdapat unit sayap kembar sehingga bangunan ini menjadi simetris. Atap masjid berbentuk limasan berlapis dua. Pada jendela yang terdapat di masjid ini, tampak sekali pengaruh Moorish, terutama dari hiasan yang bercorak intricate. Tak hanya itu, keberadaan kolam air yang berada di depan masjid makin menambah indah Masjid Baiturrahman. Sebab, posisinya yang berada di tengah-tengah jalan antara kiri dan kanan

dengan luas sekitar lima hingga tujuh meter tersebut turut menambah keindahan dan kemegahan masjid warga Banda Aceh.

Mengikuti Sejarah Aceh


Panas terik kota Banda Aceh serasa langsung enyah begitu kaki menginjak halaman masjid Baiturrahman. Udara dalam masjid berkubah lima ini sejuk. Lima pintu dan jendela yang lebar, kubah tinggi serta ruang dalam masjid yang luas membuat udara bergerak bebas. Januari lalu, rumah ibadah ini baru saja tuntas berbenah dari kerusakan akibat tsunami. Sisa-sisa bencana itu tak terlihat lagi. Tapi sejarah mencatat, sekali lagi Baiturrahman melewati satu babak sejarah masyarakat Aceh. Masjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan masjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok masjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya. Masjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun masjid ini pada abad ke 13. Namun versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Tapi nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu masjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik Masjid mengikuti Sejarah Bumi Serambi Mekah. Bangunan sekarang bukan lagi bangunan zaman Kesultanan.

Di samping sebagai tempat ibadah; pada masa penjajahan, Masjid Raya Baiturrahman berfungsi sebagai markas pertahanan terhadap serangan kompeni. Fungsi tersebut mulai terasa semasa pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870-1874). Di masjid ini, sering pula diadakan musyawarah besar untuk membicarakan strategi penyerangan dan kemungkinan serangan tentara Belanda terhadap Kesultanan Aceh.

Saat Pemerintah Hindia Belanda menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh pada 1873, Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud Syah menolak mentah-mentah kedaulatan pemerintahan penjajah tersebut. Penolakan ini membuat pihak Belanda merasa tersinggung dan murka. Buntutnya, Pemerintah Hindia Belanda memaklumatkan perang terhadap Kesultanan Aceh. Karena posisinya yang sangat penting dan strategis, tidak pelak Masjid Raya Baiturrahman menjadi ajang perebutan. Tercatat dalam sejarah, dua kali masjid kebanggaan kaum Muslim di Tanah Rencong ini dibakar Belanda. Pertama, pada 10 April 1873, ketika pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran sebagai upaya balas dendam atas kekalahan mereka. Dalam serangan besar itu, Masjid Raya Baiturrahman tidak saja berhasil direbut, bahkan kemudian dibakar sebagian. Dan pada saat itu terjadi pertempuran besar antara tentara Aceh dengan tentara Belanda. Terjadi tembak menembak. Sehingga demikian gugurlah perwira tinggi Belanda bernama Kohler Pertempuran di masjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman masjid. Letak prasasti di bawah pohon Geuleumpang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang masjid. Kedua, pada 6 Januari 1874. Meskipun masjid ini dipertahankan mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh, karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya rakyat Aceh harus merelakan masjidnya jatuh ke tangan musuh. Tidak hanya direbut, kali ini pihak penjajah membakar habis bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Saat bersamaan, Belanda juga mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh sudah berhasil ditaklukkan dan berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Dirancang Arsitek Belanda

Namun, untuk mengambil hati rakyat Aceh, Pemerintah Hindia Belanda berjanji akan membangun kembali masjid yang telah hancur itu. Peletakan batu pertama pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan masjid sebagian didatangkan dari Penang Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma.

Pembangunan kembali masjid dengan satu kubah, selesai dua tahun kemudian. Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh masjid ini kembali diperluas. Kemudian setelah itu, masyarakat Aceh semakin besar, untuk mengupahi dan meredakan kemarahan rakyat Aceh maka masjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nanggroe beralih pada Indonesia. Pada 1957, Setelah Indonesia merdeka, masjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Pada kurun 1992-1995, masjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima

menara. Setelah dipugar, masjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman masjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar.

Saksi Bisu Kedahsyatan Tsunami


Masjid Raya Baiturrahman seakan menjadi saksi bisu peristiwa kelam yang telah meluluhlantakkan wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) beserta seluruh isinya pada 26 Desember 2004. Masjid yang terletak di tengah Kota Banda Aceh ini merupakan satu bukti kebesaran Tuhan yang tetap kokoh dan berdiri tegak kendati gempa dan gelombang tsunami berkekuatan 9,0 skala richter melanda. Walau akibat gempa itu meninggalkan beberapa keretakan di dinding masjid, hal itu tidak mengurangi keindahan dan keunikan masjid kebanggan warga Aceh ini. Bahkan, ketika Republika mengunjungi masjid ini setahun pascatsunami, sisa-sisa keretakan masih ada. Namun, hal itu dijadikan warga sebagai bentuk peringatan agar senantiasa mengingat kebesaran Tuhan. Sulaiman, salah seorang jamaah masjid tersebut, mengatakan, saat tsunami terjadi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat menyelamatkan diri bagi warga yang berlindung di rumah Allah tersebut. Meski gelombang tsunami yang terjadi saat itu tingginya mencapai puluhan meter, airnya hanya masuk ke halaman masjid sebatas pinggang dan tidak sampai masuk ke dalam bangunan masjid.

Namun, tidak demikian dengan bangunan gedung dan rumah toko (ruko) di sekitar lingkungan masjid. Seluruh bangunan yang ada di kiri dan kanan masjid tenggelam, kecuali yang ketinggiannya di atas 20 meter, dan semuanya rusak. ''Utuhnya masjid ini seharusnya menambah keyakinan bagi umat manusia, khususnya umat Islam untuk mempertebal keimanannya, karena kuasa-Nya sudah ditunjukkan dengan menjaga tempat ibadah bagi pengikut Nabi Muhammad tersebut,'' tutur Sulaiman. Usai tsunami yang melanda wilayah Aceh ini, Masjid Raya Baiturrahman kembali direnovasi karena mengalami kerusakan walaupun tidak terlalu parah. Renovasi tersebut dilakukan pada tahun 2005. Semua itu menghabiskan dana Rp. 20 milyar. Pada 15 Januari 2007 proses perbaikan dinyatakan resmi selesai. Kini masjid Baiturahman seolah habis bersolek, tampil cantik menawan.

PW Sindrome,-

Dibalik Cerita Masjid Baiturrahman, Saksi Sejarah Aceh


Agustus 3, 2009 oleh MoeL

Mesjid Baiturrahman telah menjadi simbol Aceh. Menelusuri sejarah Mesjid yang berada di jantung kota Banda Aceh ini, ibarat melihat perjalanan bumi Serambi Mekah. dimulai dari masa kesultanan, penjajahan Belanda dan masa bersama Indonesia lengkap dengan pemberontakannya. Mulai Daerah Operasi Militer, perjanjian damai hingga bencana tsunami. Rumah ibadah ini menyaksikan semuanya Sejarah mencatat, Baiturrahman kembali melewati satu babak dalam sejarah masyarakat Aceh. Mesjid ini merupakan simbol Aceh. Perjalanan Mesjid ini juga merekam sejarah Aceh. Karena itu tak lengkap rasanya bila berkunjung ke Aceh, tanpa menengok Mesjid berkubah lima ini dan sedikit mengenal sejarahnya. Mesjid ini sudah berada di tengah kota Banda Aceh sejak zaman kesultanan. Ada dua versi hikayat pendiriannya. Ada yang menyebut Sultan Alauddin Johan Mahmud Syah membangun Mesjid ini pada abad ke 13. Dalam versi lain menyatakan Baiturahman didirikan pada abad 17, pada masa kejayaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Tak ada yang bisa memastikan mana yang benar. Nama Baiturahman, menurut catatan sejarah, diberikan oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu Mesjid ini menjadi salah satu pusat pengembangan ajaran Islam wilayah kerajaan Aceh. Perubahan fisik mesjid mengikuti alur sejarah bumi Serambi Mekah. Bangunan yang kelihatan sekarang bukanlah lagi bangunan semasa zaman kesultanan. Pada masa kesultanan, gaya arsitektur Baiturahman mirip Mesjid-Mesjid tua di Pulau Jawa. Bangunan kayu dengan atap segi empat dan bertingkat yang memiliki 1 kubah. Pada 1873, mesjid ini dibakar oleh Belanda dikarenakan mesjid dijadikan pusat kekuatan tentara Aceh melawan Belanda. Dan pada tahun itu pula terjadi pertempuran besar antara rakyat Aceh dengan tentara Belanda. Tembak menembak yang membuat gugurnya salah seorang perwira tinggi Belanda bernama Kohler. Pertempuran di Mesjid ini dikenang lewat pembangunan prasasti Kohler pada halaman Mesjid. Letak prasasti di bawah pohon Geulempang, yang tumbuh di dekat salah satu gerbang Mesjid. Peletakan batu pertama pembangunan kembali Mesjid dilakukan tahun 1879 oleh Tengku Malikul Adil, disaksikan oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G. J. van der

Heijden. Pembangunan mesjid ini dirancang arsitek Belanda keturunan Italia, De Brun. Bahan bangunan Mesjid sebagian didatangkan dari Penang Malaysia, batu marmer dari Negeri Belanda, batu pualam untuk tangga dan lantai dari Cina, besi untuk jendela dari Belgia, kayu dari Birma dan tiang-tiang mesjid dari Surabaya. Pembangunan kembali Mesjid dengan satu kubah, selesai dua tahun kemudian. Pada masa residen Y. Jongejans berkuasa di Aceh Mesjid ini kembali diperluas. Kemudian setelah itu, masyarakat Aceh semakin besar, untuk mengupahi dan meredakan kemarahan rakyat Aceh maka Mesjid diperluas lagi kiri kanannya pada tiga tahun kemudian. Ditambahlah dua kubah lagi di atasnya sehingga menjadi tiga kubah. Belanda kemudian meninggalkan Aceh. Bumi Nangroe beralih pada Indonesia. Pada 1957, masa pemerintahan presiden Soekarno, Mesjid ini kembali berubah. Dua kubah baru dibuat di bagian belakang. Dibangun pula dua menara dengan jumlah tiang mencapai 280 buah. Karena perluasan ini, sejumlah toko di pasar Aceh yang berada di sekeliling mesjid tergusur. Peletakan batu pertama dilakukan oleh menteri agama Republik Indonesia pada masa itu KH Ilyas, kemudian dibangun kira-kira empat tahun. Bangunan berikutnya itu sudah sampai pada menara yang berikut ini. Renovasi Mesjid yang dilakukan pemerintah Soekarno terjadi pada masa gerakan Darul Islam pimpinan Daud Beureueh. Sehingga banyak kalangan yang mengaitkan pembangunan itu sebagai usaha pemerintah meredam pemberontakan itu. Lima kubah juga dianggap mewakili Pancasila yang digagas Soekarno. Pada kurun 1992-1995, Mesjid kembali dipugar dan diperluas hingga memiliki tujuh buah kubah dan lima menara. Setelah dipugar, Mesjid itu mampu menampung 10.000 hingga 13.000 jemaah. Halaman Mesjid juga diperluas hingga menjadi 3,3 hektar. Semua pemugaran ini dilakukan dengan mempertahankan arsitektur dan bentuk ornamen lama pada masa Belanda. Salah satu tiang peninggalan Belanda, ketika Mesjid masih berkubah satu, masih dipertahankan. Arsitektur Mesjid ini bercorak eklektik, yaitu gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri.Ini misalnya tampak pada tiga pintu bukaan serta jendela yang bisa berfungsi sebagai pintu masuk. Jendela ini dibentuk oleh empat tiang langsing silindris model arsitektur Moorish, yang banyak terdapat di Mesjid-Mesjid Afrika Utara dan Spanyol. Sementara bagian tengah ruang shalat berbentuk bujur sangkar, diatapi kubah utama yang bercorak bawang. Pucuknya dihiasi kubah, mirip Mesjid-Mesjid kuno di India. Pada jendela yang sekaligus menjadi pintu terdapat ukiran yang tampak kokoh dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahan, Mesjid ini ditempatkan di tengah lapangan terbuka, sehingga semua bagian Mesjid jelas terlihat juga dari kejauhan. Mesjid Baiturrahman menjadi saksi darurat militer di Aceh, ketika muncul Gerakan Aceh Merdeka. Baiturrahman ini menjadi tempat memanjatkan doa dan harapan rakyat Aceh atas tanggungan beban konflik yang dideritanya. Baiturrahman ini juga menjadi sarana singgah pejabat pusat mengunjugi Aceh yang ketika itu tak aman. Baiturrahman yang konon merupakan salah satu Mesjid terindah Asia Tenggara ini juga menjadi saksi bisu bencana tsunami. Bencana memilukan itu juga merusak sejumlah bagian Mesjid. Rakyat menyelamatkan diri kedalam mesjid sembari meneriakkan Asma Allah. Pada halaman Mesjid inilah berdirinya posko bencana pertama pasca tsunami Desember 2004 tersebut. Mesjid ini tangguh bertahan dari gempa dan terjangan air laut yang naik ke daratan. Hanya sedikit bangunan yang retak akibat gempa.

Pasca tsunami perdamaian datang. Mesjid ini kembali menjadi bagian sejarah itu. Di Mesjid inilah warga menggelar doa khusus ketika delegasi Indonesia bertemu dengan wakil Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia. Mesjid Baiturrahman menyaksikan perubahan Aceh pasca tsunami dan perjanjian damai. Ketika syariah Islam berlaku di Serambi Mekah, kawasan Mesjid Baiturahman dinyatakan sebagai area terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat sesuai hukum syariah boleh masuk halaman Mesjid.

Panduan Singkat Liburan di Berlin Rabu, 23 Februari 2011 08:45 WIB

traveldk.com DALAM 100 tahun terakhir, Berlin yang menjabat sebagai ibukota Jerman, telah melakukan revolusi. Museum, galeri eklektik, opera besar, kafe, restoran dan klub malam semuanya muncul di sini. Ini tentu menghadirkan pesona tersendiri buat Berlin dan berikut panduan singkat yang bisa Anda lakukan bila berkesempatan mengunjunginya. Tempat menarik Museum Pergamon adalah tempat yang pas untuk melihat perpaduan Yunani klasik, Babilonia, Romawi, serta seni dan arsitektur Islam dan Timur Tengah. Sorot utama di museum ini adalah Altar Pergamon. Museum ini buka setiap hari Jumat-Rabu pukul 10.00-18.00 waktru setempat, sedangkan Kamis pukul 10.00-22.00 waktu setempat. Biaya masuknya 10 pounds (sekitar Rp143 ribu). Untuk menikmati pemandangan kota yang indah, Anda bisa naik lift ke dek pengamatan Panoramapunkt (panoramapunkt.de). Dari sini sangat mudah untuk melihat jika Potsdamer Platz dibagi menjadi tiga yaitu Daimler City, Sony Centre, dan Beisheim centre. Panoramapunkt buka mulai pukul 10.00-20.00 waktu setempat dengan biaya masuk 4 pounds (sekitar Rp57 ribu).

Bila ingin mengeksplorasi sejarah Yahudi di Jerman, Anda bisa mengunjungi Museum Judisches (jmberlin.de) yang berada di Lindenstrasse 9-14. Di museum ini Anda bisa mempelajari tentang kontribusi budaya Yahudi, tokoh-tokoh terkemukanya, dan Holocaust. Museum Judisches buka mulai pukul 10.00-22.00 waktu setempat pada hari Senin sedangkan Selasa-Minggu buka pukul 10.00-20.00 waktu setempat. Tiket masuk yang dikenakan 4 pounds (sekitar Rp57 ribu). Jika Anda mencari paket tur yang berhubungan dengan gaya hidup atau kuliner, Berlinagenten (berlinagenten.com) menyediakan semua itu. Selama tur Anda akan diantar ke berbagai butik, bar dan restoran, bahkan rumah-rumah pribadi. Biaya tur per orang mulai dari 148 pounds (sekitar Rp2,12 juta). Bagian tembok Berlin yang masih bertahan dijadikan sebagai simbol kebebasan atas penindasan. Salah satu bagian terbaiknya adalah East Side Gallery yang berubah menjadi sebuah galeri terbuka pada 1990. Untuk panduan melihat tembok Berlin, Anda bisa mengunjungi situs mauerguide.de. Biaya turnya 8 pounds (sekitar Rp114 ribu) per hari.

Byzantium Arsitektur

Sudah menjadi mimpi para arsitek dan calon arsitek di dunia ini untuk mengunjungi kota Istanbul. Di kota ini mereka bisa belajar bagaimana menyatukan berbagai gaya arsitektur dari era yang berbeda menjadi suatu kesatuan yang unik dan bisa saling berdampingan. Arsitektur jaman Byzantine, jaman Ottoman Empire, ataupun arsitektur eklektik Islam bisa berdampingan dengan gaya Art Noveau maupun yang modern. Dari jaman Byzantine: Kota Istanbul dibangun di jaman kerajaan Romawi dan selama 1123 tahun berfungsi sebagai kota dibawah pengaruh agama Kristen. Bangunan-bangunan terkenal yang mewakili era ini yang sempat saya kunjungi adalah: 1. Aya Sofia (Haghia Sofia): mungkin merupakan monumen paling terkenal di Istanbul, dibangun pada tahun 537. Kubahnya berdiameter lebih dari 30 meter. Berfungsi sebagai gereja sampai ditaklukannya Konstantinopel (nama Istanbul sebelumnya) oleh Sultan Mehmet pada tahun 1453 dan menjadikannya sebagai mesjid. Pada tahun 1934, Ataturk menjadikan bangunan ini sebagai museum. 2. Basilica Cistern (The Sunken Cistern): Bangunan ini dulunya digunakan untuk penyimpanan air dari Kerajaan Byzantine dan sekitarnya, bisa menampung sekirar 80.000 meter kubik air. Ada 336 kolom dalam bangunan ini. Baru pertama kali ini saya masuk bangunan seperti ini. 3. Hippodrome dan Egyptian Obelisk.