Anda di halaman 1dari 21

AUDITING DAN ATESTASI

PENERAPAN PROSEDUR AUDIT

• PIUTANG

PROSES KONFIRMASI

DEFINISI PROSES KONFIRMASI

Konfirmasi adalah proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi langsung dari pihak
ketiga sebagai jawaban atas suatu permintaan informasi tentang unsur tertentu yang berdampak terhadap
asersi laporan keuangan. Proses konfirmasi mencakup:

• Pemilihan unsur yang dimintakan konfirmasi.

• Pendesainan permintaan konfirmasi.

• Pengkomunikasian permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga yang bersangkutan.

• Pemerolehan jawaban dari pihak ketiga.

• Penilaian terhadap informasi, atau tidak adanya informasi, yang disediakan oleh pihak ketiga
mengenai tujuan audit, termasuk keandalan informasi tersebut.

HUBUNGAN PROSEDUR KONFIRMASI DENGAN PENAKSIRAN RISIKO AUDIT OLEH


AUDITOR

Konfirmasi dilaksanakan untuk memperoleh bukti dari pihak ketiga mengenai asersi laporan
keuangan yang dibuat oleh manajemen. SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit menyatakan bahwa, pada
umumnya, diariggap, bahwa "Bukti audit yang diperolch dari sumber independen di luar entitas
memberikan keyakinan yang lebih besar atas keandalan untuk tujuan audit independen dibandingkan
dengan bukti audit yang disediakan hanya dari dalam entitas tersebut. "

Semakin besar gabungan tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diterapkan,
semakin besar keyakinan yang diperlukan auditor dari pengujian substantif yang bersangkutan dengan
asersi laporan keuangan. Sebagai konsekuensinya, dengan kenaikan gabungan tingkat risiko bawaan dan

1
risiko pengendalian, auditor menclesain pengujian substantiveuntuk memperoleh lebih banyak bukti atau
bukti yang berbecla mengenai asersi laporan keuangan. Dalam keadaan ini, auditor kemungkinan
menggunakan prosedur konfirmasi, bukan pengujian terhadap dokumen dari dalam entitas tersebut, atau
menggunakan prosedur konfirmasi bersamaan dengan pengujian terhadap, dokumen atau pihak dari
dalam entitas itu sendiri.

ASERSI YANG DITUJU DENGAN KONFIRMASI

 Keberadaan atau keterjadian.

 Kelengkapan.

 Hak dan kewajiban.

 Penilaian dan alokasi.

 Penyajian dan pengungkapan

PROSES KONFIRMASI

Auditor harus menerapkan tingkat skeptisme profesional pada tingkat memadai selama proses
konfirmasi (lihat SA Seksi 230 [PSA No. 04) Penggunaan Kemahiran profesional dengan Cermat dan
Seksama). Skeptisme profesional adalah penting dalam mendesain permintaan konfirmasi, pelaksanaan
prosedur konfirmasi, dan dalam penilaian hasil prosedur konfirmasi.

PENDESAINAN PERMINTAAN KONFIRMASI

Bentuk Permintaan Konfirmasi

Terdapat dua bentuk permintaan konfirmasi: (a) bentuk positif dan (b) bentuk negatif. Beberapa
konfirmasi bentuk positif meminta responden untuk menunjukkan apakah ia setuju dengan informasi
yang dicantumkan dalam permintaan konfirmasi. Bentuk konfirmasi positif lain tidak menyebutkan
jumlah (atau informasi lain) pada permintaan konfirmasi meminta meinta responden untuk mengisi saldo
atau informasi lain pada ruang kosong y Zg disediakan dalam formulir permintaan konfirmasi.

Bentuk konfirmasi negatif meminta penerima konfirmasi untuk memberikan jawaban hanya jika
ia tidak setuju dengan informasi yang disebutkan dalam permintaan konfirmasi. Permintaan konfirmasi
negatif dapat digunakan untuk mengurangi risiko audit tingkat yang dapat diterima jika (a) gabungan
tingkat risiko bawaan dan risiko pengendendalian taksiran adalah rendah, (b) terdapat sejumlah besar

2
saldo akun yang kecil, (c) auditor tidak yakin bahwa penerima permintaan konfirmasi akan
mempertimbangkan permintaan tersebut.

Pengalaman Sebelumnya

Dalam menentukan efektivitas dan efisiensi penggunaan prosedur konfirmasi, auditor dapat
mempertimbangkan informasi dari audit tahun yang sebelumnya atau audit terhadap entitas yang serupa.
Informasi ini meliputi tingkat respon yang diterima, pengetahuan mengenai salah saji yang diidentifikasi
dalam audit tahun sebelumnya, dan pengetahuan tentang keticlakakuratan informasi dalam konfirmasi
yang diterima kembali. Sebagai contoh, jika auditor mempunyai pengalaman tentang rendahnya tingkat
respon yang diperoleh dari permintaan konfirmasi yang didesain secara memadai dalam audit tahun
sebelumnya, auditor dapat mempertimbangkan untuk memperoleh bukti audit dari sumber lain selain dari
konfirmasi.

Sifat Informasi yang Dikonfirmasi

Pada waktu mendesain permintaan konfirmasi, auditor harus mempertimbangkan tipe informasi
yang siap dikonfirmasi oleh responden, karena sifat informasi yang dimintakan konfirmasi dapat secara
langsung berdampak terhadap kompetensi bukti dan tingkat respon yang diperoleh. Sebagai contoh,
sistem akuntansi yang diselenggarakan responden tertentu lebih memudahkan konfirmasi terhadap
transaksi tunggal daripada konfirmasi terhadap keseluruhan saldo akun. Tambahan pula, responden
kemungkinan tidak dapat memberikan konfirmasi saldo utang angsuran, namun ia dapat memberikan
konfirmasi apakah pembayaran yang dilakukan mutakhir (up-to-date), jumlah pembayaran, dan syarat
pokok pinjaman yang ditariknya.

Responden

Auditor harus mengarahkan permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga yang diyakini oleh
auditor memiliki pengetahuan mengenai informasi yang dikonfirmasi. Sebagai contoh, untuk
mengkonfirmasi jaminan lisan dan tertulis klien kepada lembaga keuangan. auditor harus mengarahkan
permintaan konfirmasinya kepada pejabat lembaga keuangan yang bertanggung jawab atas hubungan
antara lembaga keuangan tersebut dengan klien atau yang mengetahui informasi mengenai transaksi atau
jaminan tersebut.

3
PELAKSANAAN PROSEDUR KONFIRMASI

Selama pelaksanaan prosedur konfirmasi, auditor harus mengawasi permintaan konfirmasi dan
jawabannya. Pengawasan permintaan konfirmasi berarti diadakannya komunikasi langsung antara
penerima yang dituju dan auditor untuk meminimumkan kemungkinan terjadinya hasil konfirmasi yang
memihak karena adanya campur tangan dan pengubahan terhadap permintaan dan jawaban konfirmasi.

PROSEDUR ALTERNATIF

Bila auditor tidak menerima jawaban atas permintaan konfirmasi positif, la harus menerapkan
prosedur alternatif terhadap informasi yang ticlak diperoleh untuk memperoleh bukti yang diperlukan
guna mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah. Namun, penghilangan prosedur alternatif
dapat dilakukan (a) jika auditor tidak mengidentifikasi adanya faktor-faktor kualitatif yang tidak biasa
atau adanya karakteristik sistematik yang bersangkutan dengan informasi yang diperoleh jawabannya,
seperti semua jawaban yang tidak diterima bersangkutan dengan transaksi akhir tahun, (b) jika pengujian
terhadap jumlah lebih saji (overstatement), jawaban yang tidak diterima secara keseluruhan, bila
diproyeksikan sebagai 100% salah saji ke populasi dan ditambah dengan jumlah semua perbedaan lain
yang disesuaikan, tidak akan berdampak terhadap keputusan auditor mengenai apakah laporan keuangan
salah saji secara material.

PENILAIAN TERMDAP HASIL PROSEDUR KONFIRMASI

Setelah melaksanakan prosedur alternatif, auditor harus menilai gabungan bukti yang diperoleh
dari konfirmasi dan dari prosedur alternatif untuk menentukan apakah bukti yang cukup telah diperoleh
mengenai semua asersi laporan keuangan yang bersangkutan. Dalam melaksanakan penilaian, auditor
harus mempertimbangkan (a) keandalan konfirmasi dan prosedur alternatif, (b) sifat penyimpangan,
termasuk implikasi penyimpangan tersebut, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, (c) bukti yang
dihasilkan dari prosedur lain, dan (d) apakah bukti tambahan diperlukan. jika gabungan bukti yang
dihasilkan dari konfirmasi, prosedur alternatif, dan prosedur lain tidak cukup, auditor harus meminta
konfirmasi tambahan atau memperluas pengujian lain, seperti pengujian secara rinci atau prosedur
analitik.

4
KONFIRMASI PIUTANG USAHA

Piutang usaha adalah:

 Klaim entitas terhadap pelanggan yang timbul Sebagai akibat penjualan barang atau jasa dalam,
kegiatan bisnis normal, dan

 Pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan.

Auditor akan meminta konfirmasi piutang usaha dalam suatu audit, kecuali jlka terdapat salah satu
dari keadaan berikut ini :

• Piutang usaha merupakan jumlah yang tidak material dalam laporan keuangan.

• Penggunaan konfirmasi akan tidak efektif

• Gabungan tingkat risiko bawaan dart risiko pengendalian taksiran sedemikian rendah, dari tingkat
risiko taksiran tersebut, bersamaan dengan bukti yang diharapkan untuk diperoleh dari prosedur
analitik atau pengujian substantif rinci, adalah cukup untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang
cukup rendah untuk asersi laporan keuangan yang bersangkutan.

• PERSEDIAAN

PENGAMATAN TERHADAP PENGHITUNGAN FISIK SEDIAAN

Jika kuantitas sediaan hanya ditentukan melalui penghitungan fisik, dan semua penghitungan
dilakukan pada tanggal neraca atau pada suatu tanggal dalam periode yang tepat, baik sebelum maupun
sesudah tanggal neraca, maka perlu bagi auditor untuk hadir pada saat penghitungan fisik sediaan dan,
melalui pengamatan, pengujian dan permintaan keterangan memadai, untuk meyakinkan dirinya tentang
efektivitas metode penghitungan fisik sediaan dan mengukur keandalan yang dapat diletakkan atas
representasi klien tentang kuantitas dan kondisi fisik sediaan.

SEDIAAN YANG BERADA DI GUDANG UMUM

Jika sediaan berada di tangan gudang umum atau disimpan di tangan pihak lain, auditor biasanya
akan memperoleh konfirmasi langsung secara tertulis dari pengelola tempat penyimpanan tersebut. Jika
sediaan tersebut merupakan jumlah yang signifikan dalam aktiva lancar atau total aktiva, maka untuk

5
memperoleh keyakinan memadai atas keberadaannya, auditor harus menerapkan satu atau lebih prosedur
berikut ini, jika dipandang perlu sesuai dengan kondisi yang dihadapinya.

• Menguji prosedur yang digunakan oleh pemilik barang untuk menyelidiki operator gudang dan
penilaian kinerja operator gudang.

• Memperoleh laporan auditor independen atas prosedur pengawasan yang digunakan oleh operator
gudang yang berhubungan dengan penyimpanan barang dan, jika dimungkinkan, atas tanda terima
gudang yang digadaikan oleh klien sebagai jaminan penarikan utang, atau menerapkan prosedur
alternatif di gudang untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa informasi yang diterima dari
operator gudang dapat diandalkan.

• Melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik barang, jika dapat dilaksanakan dan beralasan.

• Jika tanda terima barang gudang telah digadaikan oleh klien sebagai jaminan utang, maka auditor
perlu mendapatkan konfirmasi dari kreditur yang bersangkutan mengenai tanda terima gudang yang
digadaikan tersebut (dalam bentuk pengujian, jika dimungkinkan).

DAMPAK TERHADAP LAPORAN AUDIT

Pembahasan kondisi yang berkaitan dengan piutang dan sediaan yang mempengaruhi laporan
audit dapat dilihat dalam SA Seksi 508 [PSA No. 29] Laporan Audit atas Laporan Keuangan Auditan
paragraf 24 dan paragraf 67.

• INVESTASI SURAT BERHARGA

AUDITING INVESTASI

Auditor harus mengetahui dengan pasti apakah investasi diperlakukan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, termasuk pengungkapan memadai mengenai hal-hal yang
material.

Keberadaan, Kepemilikan , dan Kelengkapan

Prosedur yang dilakukan oleh auditor untuk memperoleh bukti tentang keberadaan. kepemilikan,
dan kelengkapan investasi akan bervariasi menurut tipe investasi dan penilaian auditor mengenai risiko
audit. Prosedur tersebut harus mencakup satu atau lebih prosedur berikut ini:

6
• Inspeksi fisik

• Konfirmasi dengan penerbit (issuer)

• Konfirmasi dengan kustodian

• Konfirmasi dengan pialang mengenai transaksi yang belum diselesaikan.

• Konfirmasi dengan pihak imbangan (counterparty)

• Membaca perjanjian pelaksanaan kemitraan atau perjanjian sejenis

KETEPATAN KEBIJAKAN AKUNTANSI

Auditor harus mengetahui dengan pasti apakah kebijakan akuntansi yang diadopsi oleh entitas
untuk investasi telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Investasi tertentu
wajib diperlakukan sesuai dengan PSAK No. 50 Akuntansi Investasi Efek Tertentu. Investasi lainnya
dapat diperlakukan dengan menggunakan metode kos (cost method) atau ekuitas (equity method).

PSAK No. 50

Bagi entitas yang wajib mengikuti PSAK No. 50 Akuntansi Investasi Efek Tertentu, kebijakan
akuntansi untuk investasi tergantung pada klasifikasinya. Secara khusus, PSAK No. 50 menyatakan
sebagai berikut:

Jika perusahaan mempunyai maksud untuk memiliki efek utang hingga jatuh tempo, maka
investasi dalam efek utang tersebut harus diklasifikasikan dalam kelompok "dimiliki hingga jatuh tempo"
dan disajikan dalam neraca sebesar biaya pemerolehan setelah amortisasi premi atau diskonto (paragraf 8)

Efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat harus diklasifikasikan
dalam kelompok "diperdagangkan." Efek dalam kelompok "diperdagangkan" biasanya menunjukkan
frekuensi pembelian dan penjualan yang sangat sering dilakukan. Efek ini dimiliki dengan tujuan untuk
menghasilkan laba dari perberdaan harga jangka pendek. Laba atau rugi yang belum direalisasikan atas
efek dalam kelompok "diperdagangkan" harus diakui sebagai penghasilan (paragraf 13 a dan 14)

Efek yang tidak diklasifikasikan dalam kelompok "diperdagangkan" dan dalam kelompok
"dimiliki hingga jatuh tempo", harus diklasifikasikan dalam kelompok "tersedia untuk dijual". Laba atau
rugi yang belum direalisasi atas efek dalam kelompok "tersedia untuk dijual" (termasuk efek yang
diklasifikasikan sebagai aktiva lancar) harus dimasukkan sebagai komponen ekuitas yang disajikan secara
7
terpisah, dan tidak boleh diakui sebagai penghasilan sampai saat laba atau rugi tersebut dapat direalisasi
(paragraf 13 b dan 14)

INVESTASI ORGANISASI NIRLABA

Bagi entitas yang wajib mengikuti aturan investasi untuk organisasi nirlaba, kebijakan akuntansi
untuk investasi dalam efek ekuitas wajib mengikuti aturan dalam PSAK No. 45 Akuntansi Organisasi
Nirlaba.

PENILAIAAN DAN PENYAJIAN

Harga pemerolehan

Auditor harus mendapatkan bukti mengenai kos investasi jika entitas mencatat investasinya pada
biaya pemerolehan (cost) atau biaya pemerolehan amortisasian (amortized cost) atau diwajibkan membuat
pengungkapan khusus mengenai basis kos investasi yang dicatat pada nilai wajar serta laba dan rugi yang
direalisasikan dan belum direalisasikan. Prosedur yang harus dilakukan untuk memperoleh bukti
mengenai biaya pemerolehan (cost) dapat termasuk inspeksi dokumen yang menunjukkan harga
pembelian efek, konfirmasi dengan penerbit atau kustodian, dan penghitungan ulang (recomputation)
amortisasi diskonto atau premi (discount or premium amortization).

Nilai Wajar

Jika investasi dicatat pada nilai wajar atau jika nilai wajar diungkapkan untuk investasi yang
dicatat selain pada nilai wajar, auditor harus memperoleh bukti yang menguatkan nilai wajar tersebut.
Pada beberapa kasus, metode penentuan nilai wajar dispesfikasikan oleh prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Sebagai contoh, prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengatur bahwa
nilai wajar sebuah investasi dapat ditentukan dengan menggunakan harga pasar yang telah ditetapkan
(quoted marketprice) atau penentuan sebagai kebalikan (quotations as opposed to) teknik estimasi. Pada
kasus-kasus tersebut auditor harus menilai apakah penentuan nilai wajar konsisten dengan metode
penilaian. Paragrap-paragrap berikut memberikan panduan tentang bukti audit yang dapat digunakan
untuk menguatkan asersi mengenai nilai wajar: panduan harus dipertimbangkan dalam konteks kondisi
akuntansi tertentu .

• SURAT REPRESENTASI MANAJEMEN


8
REPRESENTASI MANAJEMEN

KEPERCAYAAN ATAS REPRESENTASI MANAJEMEN

Selama audit berlangsung, manajemen membuat banyak representasi bagi auditor, balk lisan
maupun tertulis, dalam menanggapi pertanyaan khusus atau melalui laporan keuangan. Representasi
manajemen tersebut merupakan bagian dari bukti audit yang diperoleh auditor, tetapi tidak merupakan
pengganti bagi penerapan prosedur audit yang diperlukan untuk memperoleh dasar memadai bagi
pendapat auditor atas laporan keuangan. Representasi tertulis dari manajemen biasanya menegaskan
representasi lisan yang disampaikan oleh manajemen kepada auditor, dan menunjukkan serta
mendokumentasikan lebih lanjut ketepatan representasi tersebut, dan mengurangi kemungkinan salah
paham mengenai masalah yang direpresentasikan.

PEMEROLEHAN REPRESENTASI TERTULIS

Representasi tertulis dari manajemen harus diperoleh untuk semua laporan keuangan dan periode
yang dicakup oleh laporan audit. Sebagai contoh, jika laporan keuangan komparatif dilaporkan,
representasi tertulis yang diperoleh pada penyelesaian audit yang terkini harus mencakup semua periode
yang dilaporkan. Representasi tertulis tertentu yang diperoleh auditor akan tergantung pada keadaan
perikatan dan sifat dan basis penyajian laporan keuangan.

Dalam hubungannya dengan audit laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, representasi tertentu harus berhubungan dengan hal-hal
berikut ini:

Laporan Keuangan

a. Pengakuan manajemen mengenai tanggung jawabnya untuk menyajikan laporan keuangan secara
wajar, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
di Indonesia.

b. Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia.

Kelengkapan Informasi

c. Ketersediaan catatan keuangan dan data yang berkaitan.

d. Kelengkapan dan ketersediaan semua notulen rapat pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris.

9
e. Komunikasi dari badan pengatur tentang ketidakpatuhan dengan atau kekurangan dalam praktik
pelaporan keuangan.

f. Tidak adanya transaksi yang tidak dicatat.

Pengakuan, Pengukuran, dan Pengungkapan

g. Informasi tentang kecurangan yang melibatkan (1) manajemen, (2) karyawan yang memiliki peran
signifikan dalam pengendalian intern, atau (3) pihak lain yang kecurangannya berdampak material
atas laporan keuangan.

h. Rencana atau maksud yang mungkin akan mempengaruhi nilai atau klasifikasi aktiva atau kewajiban.

i. Informasi mengenai transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa dan piutang atau utang
antar pihak yang memiliki hubungan istimewa.

j. Jaminan, tertulis atau lisan, yang menyebabkan entitas memiliki utang bersyarat.

k. Estimasi signifikan dan pemusatan material yang diketahui oleh manajemen yang harus diungkapkan
sesuai dengan peraturan yang berlaku.

l. Pelanggaran atau kemungkinan pelanggaran hukum atau peraturan yang dampaknya harus
dipertimbangkan untuk diungkapkan dalam laporan keuangan atau sebagai dasar untuk mencatat rugi
bersyarat.

m. Tuntutan yang belum dinyatakan atau prakiraan yang telah dikemukakan oleh penasihat hukum
merupakan tuntutan yang kemungkinan besar akan terjadi harus diungkapkan sesuai dengan PSAK
Akuntansi untuk Kontijensi.

n. Tuntutan yang tidak diungkapkan meskipun telah diberitahukan kemungkinannya oleh penasihat
hukum klien.

o. Hak atas aktiva, hak gadai atas aktiva, dan aktiva yang dijaminkan.

p. Kepatuhan dengan pasal-pasal perjanjian kontrak yang mungkin berdampak terhadap laporan
keuangan.

Peristiwa Kemudian

q. Informasi tentang peristiwa kemudian.

10
PEMBATASAN LINGKUP

Penolakan manajemen untuk melengkapi representasi tertulis merupakan pembatasan terhadap


lingkup audit yang menghalangi auditor untuk memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dan
biasanya cukup menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat atau menarik diri dari perikatan.10
Namun berdasarkan pada sifat representasi yang tidak dapat diperoleh tersebut atau keadaan penolakan,
auditor dapat menyimpulkan bahwa pendapat wajar dengan pengecualian adalah layak. Di samping itu,
auditor harus mempertimbangkan dampak penolakan tersebut terhadap kemampuannya untuk
mengandalkan representasi manajemen yang lain.

• TRANSAKSI HUBUNGAN ISTIMEWA

PIHAK YANG MEMILIKI HUBUNGAN ISTIMEWA

PERTIMBANGAN AKUNTANSI

Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan pengungkapan pihak yang memiliki
hubungan istimewa.

Transaksi-transaksi yang karena sifatnya mungkin memberikan indikasi adanya pihak yang
memiliki hubungan istimewa, antara lain:

• Transaksi peminjaman atau pemberian pinjaman tanpa beban bunga atau dengan suku bunga yang
secara signifikan di atas atau di bawah suku bunga pasar yang berlaku umum pada saat transaksi.

• Transaksi penjualan real estate pada tingkat harga yang berbeda secara signifikan dari nilai taksiran.

• Transaksi pertukaran property dengan property yang serupa dalam transaksi nonmoneter.

• Transaksi pemberian pinjaman tanpa ketentuan mengenai jadwal dan cara pengembaliannya.

PROSEDUR AUDIT

11
Dalam penentuan lingkup pekerjaan yang harus dilakukan berkenaan dengan kemungkinan adanya
transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa, auditor harus memperoleh pemahaman tentang
tanggung jawab manajemen dan hubungan masing-masing bagian dari entitas secara keseluruhan. Auditor
harus mempertimbangkan pengendalian atas aktivitas manajemen, dan ia harus mempertimbangkan
tujuan bisnis yang dilayani oleh berbagai bagian dari entitas. Umumnya, struktur bisnis dan gaya operasi
didasarkan atas kemampuan manajemen, pertimbangan hukum dan pajak, diversifikasi produk, dan lokasi
geografis. Pengalaman menunjukkan bahwa struktur bisnis dan gaya operasi kadang-kadang dirancang
dengan sengaja untuk mengaburkan transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa.

Auditor harus waspada terhadap kemungkinan bahwa transaksi antarpihak yang memiliki hubungan
istimewa didorong semata-mata, atau dalam ukuran yang lebih besar, oleh kondisi yang mirip dengan
kondisi berikut ini:

• Tidak cukupnya modal kerja atau pinjaman untuk melanjutkan bisnis.

• Keinginan yang mendesak untuk mencatat tingkat laba yang tinggi secara berkelanjutan dalam upaya
untuk mendukung harga saham perusahaan.

• Prakiraan laba yang terlalu optimis.

• Ketergantungan pada satu atau beberapa produk, customers, atau transaksi untuk kelangsungan
keberhasilan perusahaan.

• Penurunan industri yang ditandai dengan sejumlah besar kegagalan bisnis.

• Kelebihan kapasitas.

• Tuntutan perkara hukum yang signifikan, terutama perkara hukum antara pemegang saham dengan
manajemen.

• Ancaman keuangan yang signifikan karena perusahaan beroperasi dalam industri berteknologi tinggi.

PENTENTUAN KEBERADAAN PIHAK YANG MEMILIKI HUBUNGAN ISTIMEWA

Penentuan ada atau tidak adanya pihak yang memiliki hubungan istimewa lainnya memerlukan
penerapan prosedur audit khusus, yang meliputi prosedur-prosedur berikut:

• Mengevaluasi prosedur perusahaan untuk pengidentifikasian dan pencatatan memadai atas transaksi
antarpihak yang memiliki hubungan istimewa.
12
• Meminta keterangan dari pejabat manajemen yang berwenang tentang nama pihak-pihak yang
memiliki hubungan istimewa dan menanyakan apakah ada transaksi antarpihak yang memiliki
hubungan istimewa selama periode yang diperiksa.

• Me-review dokumen yang dilaporkan oleh entitas kepada Bapepam atau instansi pemerintah yang
lain mengenai nama pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa, dan bisnis lain yang di dalamnya
para direktur entitas yang diperiksa menduduki jabatan direksi atau manajemen.

• Menentukan nama semua dana pensiun yang dibentuk untuk kesejahteraan karyawan dan nama para
pejabat dan dewan pengawasnya.

• Me-review daftar pemegang saham perusahaan tertutup untuk mengidentifikasi pemegang saham
utama.

• Me-review kertas kerja audit tahun lalu untuk mengidentifikasi nama pihak-pihak yang memiliki
hubungan istimewa.

• Meminta keterangan kepada auditor pendahulu, auditor utama atau auditor entitas yang memiliki
hubungan istimewa yang lain, mengenai pemahaman mereka akan adanya hubungan dan lingkup
keterlibatan manajemen dalam transaksi-transaksi yang material.

• Me-review transaksi investasi yang material selama periode yang diperiksa untuk menentukan
apakah sifat dan luas investasi selama periode tersebut menimbulkan pihak yang memiliki hubungan
istimewa.

• Meminta pendapat hukum dari konsultan hukum independen apabila diperlukan.

IDENTIFIKASI ATAS TRANSAKSI ANTARPIHAK YANG MEMILIKI HUBUNGAN ISTIMEWA

Prosedur-prosedur berikut ditujukan untuk memberikan panduan dalam mengidentifikasi transaksi


yang material yang diketahui merupakan transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa dan
dalam mengidentifikasi transaksi material yang mungkin merupakan indikasi adanya hubungan yang
sebelumnya belum ditentukan:

• Membekali staf audit yang melaksanakan audit dengan nama-nama yang dikenal sebagai pihak yang
memiliki hubungan istimewa sehingga staf audit menjadi waspada terhadap transaksi antarpihak
tersebut selama audit.

13
• Me-review catatan rapat dewan komisaris dan direksi mengenai informasi transaksi material yang
diotorisasi atau dibahas dalam rapat.

• Me-review surat kuasa (proxy) dan hal lain yang dilaporkan kepada Bapepam, dan data pembanding
lainnya yang dilaporkan kepada instansi lain untuk mengidentifikasi transaksi material antarpihak
yang memiliki hubungan istimewa.

• Me-review pernyataan benturan kepentingan (conflict of interest) yang diperoleh dari manajemen
perusahaan.

• Me-review lingkup dan sifat transaksi usaha dengan customers utama, pemasok, pemberi pinjaman,
dan penerima pinjaman utama untuk memperoleh indikasi hubungan yang belum diungkapkan.

• Mempertimbangkan apakah transaksi telah terjadi, tetapi belum memperoleh perlakuan akuntansi,
seperti menerima atau memberikan jasa akuntansi, manajemen atau jasa lain tanpa dipungut biaya,
atau pemegang saham utama menanggung biaya-biaya perusahaan.

• Me-review catatan akuntansi yang berisi transaksi atau saldo yang besar, luar biasa atau tidak Bering
terjadi, hal ini dilakukan terutama dengan menaruh perhatian khusus pada transaksi yang terjadi pada
atau dekat akhir periode pelaporan.

• Me-review konfirmasi saldo kompensasi perjanjian untuk memperoleh indikasi bahwa saldo dicatat
untuk atau oleh pihak yang memiliki hubungan istimewa.

• Me-review faktur tagihan dari kantor penasihat hukum atas jasa yang telah diterima perusahaan secara
teratur atau khusus, untuk memperoleh indikasi adanya pihak yang memiliki hubungan istimewa atau
transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa.

• Me-review konfirmasi pinjaman yang diberikan atau yang diterima untuk memperoleh indikasi
adanya penjaminan. jika terdapat penjaminan, tentukan sifat dan hubungan, jika ada, antara penjamin
dengan entitas pelapor.

PEMERIKSAAN ATAS TRANSAKSI ANTAR PIHAK YANG MEMILIKI HUBUNGAN ISTIMEWA


YANG BERHASIL DIIDENTIFIKASI

14
Setelah mengidentifikasi adanya transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa, auditor
harus menerapkan prosedur yang dipandang perlu untuk memperoleh keyakinan mengenai tujuan, sifat,
dan luas transaksi tersebut dan dampaknya pada laporan keuangan. Prosedur audit harus diarahkan untuk
memperoleh dan mengevaluasi bahan bukti yang cukup dan kompeten serta harus diperluas sampai di
luar batas manajemen.

Prosedur-prosedur berikut ini perlu dipertimbangkan untuk mematuhi standar auditing yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, jika auditor perlu memahami transaksi tertentu sepenuhnya:

• Mengkonfirmasi jumlah dan syarat transaksi, termasuk jaminan dan data signifikan lainnya, dengan
pihak lain dalam transaksi.

• Menginspeksi bukti yang dimiliki oleh pihak lain dalam transaksi.

• Mengkonfirmasi atau membahas informasi signifikan dengan pihak perantara, seperti bank, penjamin,
agen, atau penasihat hukum, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai transaksi.

• Merujuk ke publikasi keuangan, jurnal perdagangan, lembaga kredit, dan sumber informasi lain untuk
memperoleh dasar yang dapat dipercaya dalam menilai ada atau tidaknya transaksi dengan jumlah
material dengan pelanggan, pemasok atau perusahaan lain yang luar biasa.

• Memperoleh informasi mengenai kemampuan keuangan pihak lain terhadap transaksi yang berkenaan
dengan saldo yang tidak tertagih, jaminan dan kewajiban lain yang material.

PENGUNGKAPAN

Untuk setiap transaksi material antarpihak yang memiliki hubungan istimewa (atau gabungan
transaksi serupa) atau kepemilikan bersama (common ownership) atau hubungan pengendalian
manajemen yang pengungkapannya diharuskan dalam prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,
auditor harus mempertimbangkan apakah ia telah memperoleh bukti audit yang cukup dan kompeten
untuk memahami hubungan dan transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa, serta dampaknya
terhadap laporan keuangan. Ia kemudian harus mengevaluasi semua informasi yang tersedia baginya
mengenai transaksi antarpihak yang memiliki hubungan istimewa atau hubungan pengendalian dan
memperoleh keyakinan yang didasarkan atas pertimbangan profesionalnya tentang memadai atau
tidaknya pengungkapan hal tersebut dalam laporan keuangan.

15
• PENGGUNAAN PEKERJAAN SPESIALIS

KEPUTUSAN UNTUK MENGGUNAKAN PEKERJAAN SPESIALIS

Berbagai contoh tipe masalah yang mungkin menurut pertimbangan auditor memerlukan
pekerjaan spesialis meliputi, namun tidak terbatas pada hal-hal berikut ini:

• Penilaian (misalnya, sediaan untuk tujuan khusus, bahan atau ekuipmen teknologi tinggi, produk
farmasi, instrumen keuangan yang kompleks, real estat, sekuritas terbatas, karya seni, kontijensi
lingkungan)

• Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia atau kondisi
(misalnya, kuantitas atau kondisi mineral, cadangan mineral, atau bahan yang disimpan dalam
timbunan).

• Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik atau metode khusus (misalnya, beberapa
perhitungan aktuarial dalam penentuan kewajiban manfaat pensiun dan dalam penentuan kewajiban
manfaat polis masa depan).

• Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan (misalnya, pengaruh potensial suatu kontrak
atau dokumen hukum lainnya, atau hak atas properti).

KUALIFIKASI DAN PEKERJAAN SPESIALIS

Auditor harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini untuk mengevaluasi kualifikasi profesional
spesialis dalam menentukan bahwa spesialis tersebut memiliki keterampilan atau pengetahuan dalam
bidang tertentu yang diperlukan:

• Sertifikat profesional, lisensi, atau pengakuan kompetensi dari spesialis lain dalam bidangnya.

• Reputasi dan kedudukan spesialis di mata para rekan sejawat dan pihak lain yang mengenal
kemampuan atau kinerjanya.

• Hubungan, jika ada, antara spesialis dengan klien.

Auditor harus memperoleh pemahaman tentang sifat pekerjaan yang dilaksanakan atau akan
dilaksanakan oleh spesialis. Pemahaman tersebut harus mencakup berikut ini:

• Tujuan dan lingkup pekerjaan spesialis.

16
• Hubungan spesialis dengan klien (lihat paragraf 10 dan 11).

• Metode dan asumsi yang digunakan.

• Suatu perbandingan metode atau asumsi yang digunakan dengan yang digunakan di tahun
sebelumnya.

• Kelayakan penggunaan pekerjaan spesialis untuk tujuan yang dimaksudkan.

• Bentuk dan isi temuan spesialis yang akan memungkinkan auditor untuk membuat evaluasi.

HUBUNGAN SPESIALIS DENGAN KLIEN

Bila spesialis tidak memiliki hubungan dengan klien, pekerjaan spesialis biasanya akan memberikan
keyakinan lebih besar bagi auditor tentang keandalan. Namun, pekerjaan spesialis yang memiliki
hubungan dengan klien dapat diterima dalam keadaan tertentu. jika spesialis memiliki hubungan dengan
klien, auditor harus menaksir risiko bahwa objektivitas spesialis tersebut mungkin terganggu. jika auditor
yakin hubungan tersebut akan mengganggu objektivitas spesialis, auditor harus melakukan prosedur
tambahan berkaitan dengan semua asumsi, metode, atau temuan spesialis untuk menentukan bahwa
temuannya masuk akal (dapat diterima) atau harus menugasi spesialis lain untuk tujuan tersebut.

PENGGUNAAN TEMUAN SPESIALIS

Ketepatan dan kelayakan metode dan asumsi yang digunakan dan penerapannya merupakan
tanggung jawab spesialis. Auditor harus (a) memahami metode dan asumsi yang digunakan oleh spesialis,
(b) melakukan pengujian semestinya atas data yang disediakan oleh spesialis, dengan memperhitungkan
taksiran risiko pengendalian auditor, dan (c) mengevaluasi apakah temuan spesialis mendukung asersi
yang berkaitan dalam laporan keuangan. Biasanya, auditor akan menggunakan pekerjaan spesialis,
kecuali jika prosedur auditor menyebabkan ia yakin bahwa temuan spesialis tersebut tidak masuk akal
dalam keadaan tersebut. Jika auditor yakin bahwa temuan spesialis tidak masuk akal, ia harus
menerapkan prosedur tambahan, yang dapat mencakup pemerolehan pendapat dari spesialis lain.

DAMPAK PEKERJAAN SPESIALIS TERHADAP LAPORAN AUDITOR

Jika auditor menentukan bahwa temuan spesialis dapat mendukung penyajian laporan keuangan
yang berkaitan, maka la dapat menyimpulkan bahwa la telah memperoleh bukti audit cukup dan
kompeten. Jika terdapat perbedaan material antara temuan spesialis dengan penyajian laporan keuangan,
17
atau jika auditor yakin bahwa penentuan yang dibuat oleh spesialis tidak wajar, maka auditor harus
melakukan prosedur tambahan. Jika setelah menerapkan prosedur tambahan ternyata ia belum dapat
memecahkan masalah, maka auditor harus memperoleh pendapat dari spesialis lain, kecuali jika mehurut
pandangan auditor masalah tersebut tidak akan dapat dipecahkan. Masalah yang tidak dapat dipecahkan
biasanya menyebabkan auditor menyimpulkan bahwa ia harus memberikan pendapat wajar dengan
pengecualian atau menyatakan tidak memberi pendapat karena tidak dapat diperolehnya bukti audit
kompeten yang cukup berkenaan dengan suatu asersi yang cukup signifikan dalam laporan keuangan
yang disebabkan oleh adanya pembatasan lingkup audit (lihat SA Seksi 508 [PSA No. 29] Laporan
Auditor atas Laporan Keuangan Auditan paragraf 22 dan 23)

PENGACUAN KE SPESIALIS DALAM LAPORAN AUDITOR

Sebagai hasil laporan atau temuan spesialis, auditor dapat memutuskan untuk menambahkan bahasa
penjelasan dalam laporan audit bentuk baku atau menyimpang dari pendapat wajar tanpa pengecualian.
Pengacuan ke dan identifikasi tentang spesialis dapat dibuat dalam laporan auditor, jika auditor yakin
bahwa pengacuan tersebut akan membantu menjelaskan alasan untuk tidak memberikan pendapat wajar
tanpa pengecualian atau menambahkan bahasa penjelasan dalam laporan audit bentuk baku.

PERMINTAAN KETERANGAN DARI PENASIHAT HUKUM KLIEN TENTANG LITIGASI,


KLAIM DAN ASESMEN

PERTIMBANGAN AUDIT

Berkaitan dengan litigasi, klaim, dan asesmen, auditor independen harus memperoleh bukti audit yang
relevan dengan faktor-faktor berikut ini:

• Keberadaan suatu kondisi, situasi, atau serangkaian keadaan yang menunjukkan suatu
ketidakpastian tentang kerugian yang mungkin terjadi bagi suatu entitas yang timbul dari litigasi,
klaim, dan asesmen

• Periode terjadinya penyebab yang melandasi tindakan hukum yang terjadi.

• Tingkat kemungkinan terjadinya hasil yang tidak menguntungkan.

• Jumlah atau kisar kerugian potensial.

PROSEDUR AUDIT

18
prosedur yang digunakan oleh auditor independen yang berkaitan dengan litigasi, klaim, dan asesmen
harus mencakup berikut ini:

• Meminta keterangan dan membahas dengan manajemen kebijakan dan prosedur yang dipakai untuk
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan litigasi, klaim, dan asesmen

• Memperoleh informasi dari manajemen tentang gambaran dan evaluasi terhadap litigasi, klaim,
dan asesmen yang ada pada tanggal neraca yang dilaporkan, dan dalam periode dari tanggal neraca
sampai dengan tanggal penyerahan informasi tersebut, termasuk identifikasi terhadap hal-hal
tersebut yang dirujuk ke penasihat hukum, dan memperoleh keyakinan dari manajemen, biasanya
dalam bentuk pernyataan tertulis, bahwa mereka telah mengungkapkan semua hal tersebut.

• Memeriksa dokumen milik klien tentang litigasi, klaim, dan asesmen, termasuk korespondensi
dan dokumen penagihan dari penasihat hukum.

• Memperoleh keyakinan dari manajemen, biasanya dalam bentuk tertulis, bahwa telah
diungkapkan semua klaim yang belum diajukan (unasserted claim) yang oleh penasihat hukum
telah diberitahukan tentang kemungkinannya menjadi suatu klaim yang telah dinyatakan dan
harus diungkapkan. Dengan izin klien, auditor juga memberikan informasi kepada penasihat hukum
bahwa klien telah memberikan kepada auditor tentang keyakinan tersebut. Representasi klien ini
dapat dikomunikasikan oleh klien dalam surat permintaan keterangan atau oleh auditor dalam
suatu surat terpisah.

• PERMINTAAN KETERANGAN KEPADA PENASIHAT HUKUM KLIEN

Suatu surat permintaan keterangan kepada penasihat hukum klien merupakan cara utama yang
dipakai oleh auditor untuk memperoleh bukti penguat informasi yang disediakan oleh manajemen
tentang litigasi, klaim, dan asesmen.

Hal-hal yang harus dicakup dalam suatu surat permintaan keterangan meliputi, namun tidak
terbatas pada berikut ini:

• Identifikasi perusahaan, termasuk anak perusahaan, dan tanggal audit.

• Suatu daftar yang dibuat oleh manajemen (atau suatu permintaan dari manajemen agar
penasihat hukum membuat suatu daftar) yang menggambarkan dan mengevaluasi litigasi, klaim, dan
asesmen yang masih belum selesai atau yang bersifat ancaman yang ditangani oleh penasihat hukum

19
yang bersangkutan dan memerlukan perhatian besar dari penasihat hukum yang bertindak atas
nama klien, dalam bentuk konsultasi atau pemberian kuasa hukum.

• Suatu daftar yang dibuat oleh manajemen yang menggambarkan dan mengevaluasi klaim dan
asesmen yang belum diajukan (unasserted claim and assessment) yang menurut pertimbangan
manajemen merupakan asersi yang mungkin, dan jika diasersi, akan mempunyai paling tidak
kemungkinan yang inasuk akal berakibat merugikan klien, yang terkait dengan perikatan yang dibuat
antara klien dengan penasihat hukum dan yang menjadi perhatian besar penasihat hukum tersebut atas
nama perusahaan dalam bentuk konsultasi atau pemberian kuasa secara hukum.

• Untuk setiap hal yang dicanturnkan dalam daftar yang dijelaskan pada butir b di atas, suatu
permintaan yang dipenuhi oleh penasihat hukum atau komentar penasihat hukum atas hal-hal tersebut
yang menurut pandangan penasihat hukum kemungkinannya berbeda dengan apa yang dinyatakan
oleh manajemen.

• Suatu gambaran tentang sifat hal-hal tersebut, kemajuan perkara sampai dengan saat ini, dan
tindakan yang menurut maksud perusahaan akan dilaksanakan (misalnya melawan atau mencari
penyelesaian di luar pengadilan)

• Suatu evaluasi tentang kemungkinan hasil yang tidak menguntungkan dan suatu estimasi, jika hat
ini dapat dilakukan, tentang umlah atau kisaran kerugian potensial.

• Berkaitan dengan daftar yang dibuat oleh manajemen, suatu identifikasi terhadap
penghilangan adanya litigasi, klaim, dan asesmen yang masih belum selesai atau yang bersifat
ancaman atau suatu pernyataan bahwa daftar tentang hat-hal tersebut telah selesai.

• Terhadap setiap hal yang tercantum dalam butir c, suatu permintaan kepada penasihat hukum untuk
memberikan komentar atas hal-hal tersebut tentang pandangannya mengenai penjelasan atau
evaluasi terhadap hat-hal tersebut yang kemungkinan berbeda dengan yang dinyatakan oleh
manajemen.

• Suatu pernyataan oleh klien bahwa klien memahami bahwa bilamana dalam pelaksanaan jasa legal
bagi kepentingan klien berkaitan dengan suatu hal yang disadari melibatkan suatu klaim yang
mungkin timbul namun belum dinyatakan, asesmen yang mungkin memerlukan pengungkapan
dalam laporan keuangan, penasihat hukum telah merumuskan simpulan profesional bahwa klien
harus mengungkapkan atau mempertimbangkan pengungkapan klaim atau asesmen yang mungkin
tersebut, sebagai tanggung jawab profesionalnya terhadap klien, penasihat hukum akan menasihati
20
kliennya atau memberikan konsultasi kepada kliennya mengenai pernyataan yang berkaitan
dengan pengungkapan tersebut dan persyaratan yang lain.

• Suatu permintaan bahwa penasihat hukum menegaskan apakah pemahaman sebagaimana yang
dijelaskan dalam butir f adalah benar.

• Suatu permintaan bahwa penasihat hukum secara khusus mengidentifikasi sifat dan alasan tentang
adanya pembatasan terhadap jawaban yang diberikannya.

BATASAN ATAS LINGKUP JAWABAN PENASIHAT HUKUM

Seorang penasihat hukum dapat membatasi jawabannya pada hal-hal yang ia memberikan
perhatian besar dalam bentuk konsultasi atau representasi hukum. Jawaban penasihat hukum juga
dapat terbatas pada hal-hal yang dipandang material baik secara individual atau kolektif terhadap
laporan keuangan, dengan syarat penasihat hukum dan auditor telah mencapai suatu pemahaman
tentang batasan materialitas untuk tujuan tersebut. Batasan seperti ini bukan merupakan batasan atas
lingkup audit.

Penolakan penasihat hukum untuk memberikan informasi yang diminta dalam Surat permintaan
keterangan, secara tertulis atau lisan (lihat paragraf 09 clan 10) akan merupakan batasan terhadap
lingkup audit yang cukup untuk menghalangi auditor untuk menyatakan pendapat wajar tanpa
pengecualian (lihat SA Seksi 508 [PSA 29] Laporan Auditor atas Laporan Keuangan Auditan, paragraf
22 clan 23) .

BATASAN LAIN ATAS JAWABAN PENASIHAT HUKUM

Penasihat hukum mungkin tidak dapat memberikan jawaban tentang kemungkinan hasil yang
ticlak menguntungkan dari litigasi, klaim, dan asesmen atau tentang jumlah atau kisaran kerugian
potensial, karena ketidakpastian bawaan.

21