Anda di halaman 1dari 14

SIZE ENLARGEMENT (PEMBESARAN UKURAN PARTIKEL)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Satuan Operasi Mekanik

Kelompok 2 : Abraham Trisning Eka Putra Addina Pradita Nur Ivan Aditya Gunawan Mohammad Taufik Mohar Ahdayani Rosarrah Maharani Kusumaningrum Hapsoro Aruno Aji Dennisya Agung Pambudi Poltak Togar Monroe Samosir Rangga Wanapati L2C009036 L2C009037 L2C009082 L2C009173 L2C009173 L2C009175 21030110130094 21030110141017 21030110141068 21030110141069

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Proses pembesaran (size enlargement )adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar (Fahamsyah, 2010). Pembesaran ukuran dan pembuatan suatu bentuk bahan adalah berperan sangat penting dalam industri pengolahan biji-bijian, gula, coklat dan sebaginya. Butiran-butiran kecil dapat digabungkan untuk menjadi lebih besar agar diperoleh sesuatu bentuk. Selain industri makanan, ternyata size enlargement juga digunakan di industri PDAM, pengolahan limbah, maupun di industri farmasi. Akan tetapi, proses size enlargement pada masing-masing industri berbeda, karena pada dasarnya pembesaran ukuran (size enlargement) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: koagulasi-flokulasi dan granulasi. Pada pengolahan limbah dan PDAM, biasanya menggunakan proses koagulasi-flokulasi. Karena pada proses koagulasi-flokulasi ini, partikel-partikel kecil yang terdapat cairan limbah maupun air yang susah dipisahkan, nantinya akan bergabung menjadi flok-flok besar yang sehingga lebih mudah dipisahkan dan airnya menjadi bersih dari partikel-partikel. Sedangkan pada industri farmasi, digunakan granulasi dalam proses pembesaran ukuran partikelnya, yaitu dalam pembuatan obatobatan. Granulasi merupakan proses pembesaran ukuran campuran serbuk yang menghasilkan obat.

BAB II PERMASALAHAN

II.1 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian size enlargement? 2. Apa saja jenis-jenis proses pada size enlargement? 3. Jelaskan proses-proses size enlargement yang meliputi koagulasi-flokulasi, granulasi, aglomerasi! 4. Bagaimana prinsip dasar proses koagulasi-flokulasi, granulasi, dan aglomerasi? 5. Apa saja aplikasi size enlargement dalam industri? 6. Apa saja alat-alat dalam proses koagulasi-flokulasi, granulasi, dan aglomerasi?

II.2 Tujuan dan Manfaat 1. Mengetahui jenis proses size enlargement 2. Mengetahui prinsip dasar dari proses enlargement yang meliputi koagulasi-flokulasi, granulasi, dan aglomerasi 3. Mengetahui aplikasi size enlargement dalam industry 4. Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam proses size enlargement

BAB III PEMBAHASAN

Pada makalah ini akan dibahas mengenai proses size enlargement yang meliputi : III.1 Proses Koagulasi-Flokulasi a. Koagulasi Koagulasi secara umum didefinisikan sebagai penambahan zat kimia (koagulan) ke dalam air baku dengan maksud mengurangi gaya tolak-menolak antar partikel koloid, sehingga partikel partikel tersebut dapat bergabung menjadi flok-flok halus. Senyawa koagulan adalah senyawa yang mempunyai kemampuan mendestabilisasi koloid dengan menetralkan muatan listrik pada permukaan koloid sehingga terbentuk inti gumpalan (inti flok) dan dapat bergabung satu sama lain membentuk flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga mudah mengendap. Proses koagulasi hanya dapat berlangsung bila ada pengadukan. Prinsip kerja koagulasi adalah untuk mendestabilisasi partikel tersuspensi (koloid) dan memperbesar laju pembentukan flok. Koagulasi terpenuhi dengan penambahan ion-ion yang mempunyai muatan berlawanan dengan partikel koloid. Partikel koloid umunya bermuatan negatif oleh karena itu ion-ion yang ditambahkan harus kation atau bermuatan positif. Kekuatan koagulasi ion-ion tersebut bergantung pada bilangan valensi atau besarnya muatan. Ion bivalen (+2) 30-60 kali lebih efektif dari ion monovalen (+1). Ion trivalen (+3) 700-1000 kali lebih efektif dari ion monovalen. b. Flokulasi Flokulasi, yaitu penggabungan inti flok yang terbentuk dalam proses koagulasi menjadi flok berukuran lebih besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap. Penggabungan flok kecil menjadi flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok. Tumbukan ini terjadi akibat adanya pengadukan lambat. Prinsip kerja flokulasi adalah memanfaatkan ketidakstabilan dari partikel-partikel koloid sehingga flok-flok tersebut dapat berikatan satu sama lain (Azwarali, 2012). c. Mekanisme Reaksi Proses Koagulasi-Flokulasi Contoh mekanisme reaksi proses koagulasi-Flokulasi adalah pada penggunaan Alumunium Sulfat sebagai bahan koagulan dan akan terjadi reaksi dalam air sebagai berikut :

1.Al2(SO4)3.14H2O + 2PO4-3 2Al (OH)3 + 3SO4-2 + 6CO2 + 14H2O 2.Al2(SO4)3.18H2O + 3Ca(HCO3)2 3Ca(SO4) + 2Al(OH3) + 6CO2 + 18H2O Alumunium hidroksida akan mengendap perlahan sambil membawa bahan tersuspensi dan bahan-bahan yang dihasilkannya. Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah : Al2(SO4)3.14H2O+3Ca(HCO3)2 2Al(OH)3+3CaSO4+14H2O+6CO2 Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida. Al2(SO4)3.14H2O + 3Ca(HCO3)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 14H2O Ferro sulfat membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan reaksi yang cepat. Untuk itu, Ca(OH)2 ditambahkan untuk mendapatkan pH pada level dimana ion besi diendapkan sebagai Fe(OH)3. Reaksi ini adalah reaksi oksidasi-reduksi yang membutuhkan oksigen terlarut air. Dalam reaksi koagulasi, oksigen direduksi dan ion besi dioksida menjadi ferri, dimana akan mengendap sebagai Fe(OH)3. 2FeSO4.7H2O + 2Ca(OH)2 + 1/2 O2 2Fe(OH)3 + 2CaSO4 + 13H2O Untuk berlangsungmya reaksi ini, pH harus sekitar 9,5 dan kadang-kadang stabilisasi membutuhkan kapur berlebih. Penggunaan ferri sulfat sebagai koagulan berlangsung mengikuti reaksi : Fe2(SO4)3 + 3Ca(HCO3)2 2Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6CO2 Reaksi ini biasanya menghasilkan flok yang padat dan cepat mengendap. Jika alkilinitas alami tidak cukup untuk reaksi, diperlukan penambahan kapur. Rentang pH optimum adalah sekitar 4 hingga 12, karena ferri hidroksida relatif tidak larut dalam rentang pH ini. Reaksi ferri klorida sebagai koagulan berlangsung sebagai berikut: 2FeCl3+3Ca(OH)2 2Fe(OH)3+CaCl2+6CO2 Penambahan kapur diperlukan bila alkalinitas alami tidak mencukupi. 2FeCl3+3Ca(OH)2 2Fe(OH)3+3CaCl2 d. Faktor yang Mempengaruh Proses Koagulasi Flokulasi Faktor penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan. Berdasarkan kecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua, yaitu pengadukan cepat dan

pengadukan lambat. Kecepatan pengadukan dinyatakan dengan gradien kecepatan (G), yang merupakan fungsi dari tenaga yang disuplai (P):

e. Aplikasi Koagulasi-Flokulasi pada Proses Pengolahan Air Air baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh partikel koloid yang tidak bisa diendapkan secara alamiah dalam waktu singkat. Partikel-partikel koloid dibedakan berdasarkan ukuran. Jarak ukurannya antara 0,001 mikron (10-6 mm) sampai 1 mikron (10-3 mm). Partikel yang ditemukan dalam kisaran ini meliputi (1) partikel anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, (2) presipitat koagulan, dan (3) partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton. Dispersi koloid mempunyai sifat memendarkan cahaya. Sifat pemendaran cahaya ini terukur sebagai satuan kekeruhan. Koloid merupakan partikel yang tidak dapat mengendap secara alami karena adanya stabilitas suspensi koloid. Stabilitas koloid terjadi karena gaya tarik van der Waal's dan gaya tolak/repulsive elektrostatik serta gerak brown. Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Untuk penghilangan zat-zat berbahaya dari air, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah proses koagulasi dan flokulasi. Koagulasi dan flokulasi merupakan proses yang terjadi secara berurutan untuk mentidakstabilkan partikel tersuspensi, menyebabkan tumbukan partikel dan tumbuh menjadi flok. Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar. Tahap awal dimulai dengan proses koagulasi, koagulasi melibatkan netralisasi dari muatan partikel dengan penambahan elektrolit. Dalam hal ini bahan yang ditambahkan biasanya disebut sebagai koagulan atau dengan jalan

mengubah pH yang dapat menghasilkan agregat/kumpulan partikel yang dapat dipisahkan. Hal ini dapat terjadi karena elektrolit atau konsentrasi ion yang ditambahkan cukup untuk mengurangi tekanan elektrostatis di antara kedua partikel. Agregat yang terbentuk akan saling menempel dan menyebabkan terbentuknya partikel yang lebih besar yang dinamakan mikroflok, dimana mikroflok ini tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Pengadukan cepat untuk mendispersikan koagulan dalam larutan dan mendorong terjadinya tumbukan partikel sangat diperlukan untuk memperoleh proses koagulasi yang bagus. Biasanya proses koagulasi ini membutuhkan waktu sekitar 1-3 menit. Tahap selanjutnya dari proses koagulasi adalah proses flokulasi. Flokulasi disebabkan oleh adanya penambahan sejumlah kecil bahan kimia yang disebut sebagai flokulan. Mikroflok yang terbentuk pada saat proses koagulasi sebagai akibat penetralan muatan, akan saling bertumbukan dengan adanya pengadukan lambat. Tumbukan tersebut akan menyebabkan mikroflok berikatan dan menghasilkan flok yang lebih besar. Pertumbuhan ukuran flok akan terus berlanjut dengan penambahan flokulan atau polimer dengan bobot molekul tinggi. Polimer tersebut menyebabkan terbentuknya jembatan, mengikat flok, memperkuat ikatannya serta menambah berat flok sehingga meningkatkan rate pengendapan flok. Waktu yang dibutuhkan untuk proses flokulasi berkisar antara 15-20 menit hingga 1 jam. Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat, (seperti terlihat pada gambar 1.3) . Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.

Gambar 3.1 Proses Koagulasi-Flokulasi

f. Alat-alat pada Proses Koagulasi-Flokulasi

Gambar 3.2

Tangki Flokulasi

Tangki Koagulasi

III.2 Granulasi a. Pengertian dan Prinsip Dasar Granulasi Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu. Dapat juga diartikan, granulasi adalah proses pembuatan ikatan partikel-partikel kecil membentuk padatan yang lebih besar atau agregat permanen melalui penggumpalan massa, sehingga dapat dibuat granul yang lebih homogen dari segi kadar, massa jenis,ukuran serta bentuk partikel. Adapun fungsi granulasi adalah untuk memperbaiki sifat alirandan kompressibilitas dari massa cetak tablet, memadatkan bahan-bahan, menyediakancampuran seragam yang tidak memisah, mengendalikan kecepatan pelepasan zat aktif,mengurangi debu, dan memperbaiki penampakan tablet. Dalam granulasi, terdapat 2 metode, yaitu : 1. Granulasi Basah Granulasi Basah, yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak baik. 2. Granulasi Kering Metode Granulasi Kering disebut juga slugging, merupakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara mengempa campuran bahan kering (partikel zat aktif dan eksipien) menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar (granul) dari serbuk semula. Prinsip dari metode ini adalah

membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya (Noven, 2012). Pada proses ini komponen-komponen tablet dikompakkan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakkan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya lebih baik dari campuran awal. Bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. 3.Mekanisme Reaksi Proses Granulasi Salah satu mekanisme reaksi proses granulasi adalah dalam proses pengolahan Granul effervescent.Pengolahan granul effervescent dapat diolah dengan metode

granulasi basah dan metode granulasi kering, serta pencampuran dengan cairan nonreaktif. Granulasi sendiri diartikan sebagai pembentukan partikel- partikel granul dengan mekanisme pengikatan tertentu (Anonim, 1979). Granul effervescent adalah salah satu bentuk sediaan farmasi yang diolah dari zat aktif, campuran asam-asam organik dan natrium bikarbonat. Apabila granul ini dimasukan dalam air akan membentuk reaksi asam dan basa yang akan langsung membebaskan karbondioksida yang ditandai dengan timbulnya buih, keuntungannya akan menghasilkan sensasi menyegarkan oleh reaksi karbondioksida, serta mampu menutupi rasa pahit dari bahan obat. CO2 yang dihasilkan dapat mempercepat

penyerapan bahan obat didalam lambung (Scoville, 1957). Reaksi antara asam sitrat dengan natrium bikarbonat, serta asam tartrat dengan natrium a. bikarbonat dapat dilihat sebagai berikut: H3C6H5O7H2O + 3NaHCO3 (Asam sitrat) b. (Na Bikarbonat) H2C4H4O6 + 2NaHCO3 Na3C6H5O7 + 4H2O + 3CO2 (Na Sitrat) Na2C4H4O6 + 2H2O + 2CO2 (Na Tartrat)

(Asam tartrat) ( Na bikarbonat)

Reaksi diatas menjelaskan bahwa dibutuhkan 3 molekul natrium bikarbonat untuk menetralkan 1 molekul asam sitrat dan dibutuhkan 2 molekul natrium

bikarbonat untuk menetralisasi 1 molekul asam tartrat (Ansel, 1989).

Reaksi ini akan memberikan efek sparkle atau rasa seperti minuman soda yang berlangsung cukup cepat, umumnya selesai dalam waktu kurang dari lima menit dan menghasilkan larutan yang jernih (Pulungan dkk, 2004).

b. Aplikasi Granulasi Proses pembesaran ukuran dengan granulasi biasanya dipakai di bidang farmasi, seperti pembuatan obat tablet. Berikut terdapat penjelasan mengenai pembuatan tablet dengan metode granulasi basah. Pada metode granulasi basah diawali dari pengambilan bahan baku dari gudang yang telah diluluskan oleh bagian QC. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk proses produksi harus disertai dokumen Raw Material Requisition. Bahan baku yang telah diambil dari gudang ditimbang di dalam ruang timbang. Bahan yang telah ditimbang diberilabel / penandaan dan dimasukkan ke ruang produk antara untuk menunggu proses granulasi dalam pembuatan tablet (Anonim, 2013). Proses selanjutnya adalah proses mixing, hingga terbentuk massa granul basah. Massa granul basah diayak. Granul basah yang diperoleh dikeringkan dengan fluid bed dryer (FBD) hingga diperoleh granul kering. Pada proses ini dilakukan cek kadar air oleh bagian IPC. Granul yang diperoleh dan telah kering dicampur dengan bahan penghancur dan bahan pelicin di dalam mixer, pada proses ini dilakukan pemeriksaan keseragaman kadar zat aktif terhadap granul oleh bagian analisa (laboratorium analisa). Granul selanjutnya dicetak. Tablet yang dihasilkan diperiksa oleh bagian IPC meliputi pemeriksaan keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur Sedangkan untuk pengujian disolusi dan kadar zat aktif dilakukan oleh bagian analisa. Setelah tablet lulus uji, dimasukkan pada pengemasan primer yang meliputi proses stripping. Dilakukan pemeriksaan kebocoran strip oleh bagian IPC. Selanjutnya dikemas sekunder dan diperiksa penampilan, kelengkapan, dan penandaan oleh QC. Jika lulus uji, dimasukkan ke dalam gudang produk jadi. Secara skematis alur proses pembuatan tablet dengan metode granulasi basah disajikan dalam gambar berikut.

c. Alat-alat pada Proses Granulasi

III.3 Aglomerasi a. Pengertian Aglomerasi Secara fisis aglomerasi adalah cara untuk memperbesar ukuran partikel yaitu dengan menyatukan partikel-partikel kecil agar partikel lebih berat dan mudah mengendap. Partikel kecil yang ada pada suatu cairan terpisah yang kemudian parikel kecil tersebut diikat dengan suatu katalis sehingga partikel bergabung menjadi partikel yang lebih besar dan berat membentuk suatu aglomerat. b. Aplikasi Aglomerasi Proses aglomerasi biasanya digunakan dalam industri farmasi dan keramik. Pada industri farmasi, biasanya digunakan dalam pembuatan obat tablet. Proses pembuatan tablet dilakukan dengan cara pemampatan dengan tekanan sehingga menghasilkan bongkahan yang mempunyai bentuk. Sedangkan pada pembuatan keramik, prosesnya dilakukan dengan bantuan termal. c. Alat-alat pada Proses Aglomerasi

BAB IV PENUTUP

IV.1 Kesimpulan 1. Proses pembesaran (size enlargement )adalah suatu pengerjaan untuk mengubah benda yang berukuran kecil menjadi ukuran yang lebih besar. Size enlargement diklasifikasikan menjadi 3, yaitu flokulasi, granulasi, dan aglomerasi. 2. Pada flokulasi, biasanya sebelumnya harus didahului dengan proses koagulasi. Prinsip dasar dari proses koagulasi adalah untuk mendestabilisasi partikel tersuspensi (koloid) dan memperbesar laju pembentukan flok, sedangkan pada proses flokulasi adalah memanfaatkan ketidakstabilan dari partikel-partikel koloid sehingga flok-flok tersebut dapat berikatan satu sama lain. 3. Proses granulasi merupakan pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu. Granulasi dibagi menjadi 2 metode, yaitu granulasi basah dan granulasi kering. Proses granulasi ini biasanya digunakan dalam pembuatan obat tablet di industry farmasi. 4. Aglomerasi merupakan cara untuk memperbesar ukuran partikel yaitu dengan menyatukan partikel-partikel kecil agar partikel lebih berat dan mudah mengendap.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Tablet-Kaplet-Biasa.http://pharmacy-zone.blogspot.com/2013/01/tabletkapletbiasa.html.Diakses pada 1 April 2013. Anonim.Alat Penggabungan Mixer.http://www.scribd.com/doc/75116741/3-Alat-PenggabunganMixer. Diakses pada 2 April 2013. Azwarali.2012. Prinsip Proses Flokulasi.http://azwarali.wordpress.com/2012/10/25/prinsipproses-flokulasi/.Diakses pada 1 April 2013. Fahamsyah, Onny.2010.Proses Pembesaran. http://onnyfahamsyah.blogspot.com/2010/03/proses-pembesaran.html . Diakses pada 30 Maret 2013 Noven,Andreas.2012.MetodeGranulasiKering.http://pinkiepinkiepinkie.blogspot.com/201 2/10/ metode-granulasi-kering.html.Diakses pada 1 April 2013