Anda di halaman 1dari 11

Sintesis Proses dari Vinil Klorida (Vinyl Chloride / C2H3Cl)

Vinil klorida atau kloroetilena merupakan bentuk monomer intermediet untuk produksi
polivinil klorida (polyvinyl chloride / PVC), bentuk plastik kaku yang sering digunakan
sebagai bahan pipa, fitting, dan produk sejenis lainnya. Monomer vinil klorida bersifat sangat
beracun, oleh karena itu baik proses pembuatan vinil klorida maupun plant industri yang
berproduksi harus dirancang secara hati-hati untuk memenuhi ketetapan peraturan kesehatan
dan keamanan.

Langkah 1 : Eliminasi Perbedaan Tipe Molekular


Cara-cara reaksi pembuatan vinil klorida:
1. Klorinasi Langsung dari Etilena
C2 H 4 Cl 2 C2 H 3Cl HCl

....(1)

Reaksi (1) terjadi pada suhu beberapa ratus derajat Celcius, namun tidak dapat
menghasilkan yield vinil klorida yang tinggi tanpa terbentuknya produk samping yang besar
secara simultan, yaitu dikloroetilena. Kerugian lain, satu dari dua atom klorin yang mahal
terkonsumsi membentuk produk samping hidrogen klorida (HCl), yang tidak boleh dijual
dengan mudah.

Tabel 1. Reaktan-reaktan kimia yang dapat bereaksi membentuk vinil klorida


Bahan Kimia
Berat Molekul Rumus Kimia
Struktur Kimia
(BM)
Asetilena
26,04
C2H2
Klorin
70,91
Cl2
1,2-Dikloroetana
98,96
C2H4Cl2

Etilena

28,05

C2H4

Hidrogen Klorida
Vinil Klorida

36,46
62,50

HCl
C2H3Cl

2. Hidroklorinasi Asetilena
C2 H 2 HCl C2 H 3Cl

...(2)

Reaksi (2) bersifat eksotermal. Konversi vinil klorida yang dihasilkan bagus (98%)
pada suhu 150oC dengan adanya katalis merkuri klorida (HgCl2) yang terkandung dalam
karbon aktif pada tekanan atmosfer. Kondisi reaksi cenderung moderat, sehingga diperlukan
studi lebih lanjut.

3. Thermal Cracking dari Dikloroetana pada Reaksi Klorinasi Etilena


C 2 H 4 Cl 2 C 2 H 4 Cl 2

...(3)

C 2 H 4 Cl 2 C 2 H 3Cl HCl
C 2 H 4 Cl 2 C 2 H 3Cl HCl

...(4)
(overall )

...(1)

Total reaksi (3) dan (4) sama dengan reaksi (1). Cara reaksi 3 berisi dua langkah ini
memberi keuntungan, yaitu konversi etilena menjadi 1,2-dikloroetana pada reaksi eksotermik
(3) sekitar 98% pada 90oC dan 1 atm, dengan katalis Friedel-Crafts berupa ferri klorida
(FeCl3). Kemudian intermediet dikloroetana dikonversi menjadi vinil klorida dengan thermal
cracking berdasarkan reaksi endotermik (4), disebut reaksi pirolisis, yang terjadi secara
spontan pada suhu 500oC dengan konversi setinggi 65%. Secara reaksi keseluruhan (overall)
memperkirakan semua dikloroetana yang tak bereaksi di-recycle. Cara ini secara positif tidak
membentuk dikloroetana dalam jumlah signifikan, namun kerugian terdapat pada produksi
HCl sesuai cara reaksi 1.

4. Thermal Cracking dari Dikloroetana pada Reaksi Oksiklorinasi Etilena

C 2 H 4 2HCl
C 2 H 4 Cl 2
C 2 H 4 HCl

1
O 2 C 2 H 4 Cl 2 H 2 O
2
C 2 H 3Cl HCl
1
O 2 C 2 H 3Cl H 2 O
2

...(5)
...(4)
(overall )

..(6)

Pada reaksi (5), yaitu etilena di-oksiklorinasi membentuk 1,2-dikloroetana, HCl ialah
sumber klorin. Reaksi sangat-eksotermis ini dapat mencapai konversi 95% dari etilena mejadi
dikloroetana pada 250oC dengan adanya katalis tembaga (II) klorida (CuCl2), dan merupakan
pilihan reaksi paling baik apabila harga HCl rendah. Seperti cara reaksi 3, dikloroetana
dipecah (cracked) menjadi vinil klorida dengan cara pirolisis.

5. Proses Seimbang untuk Klorinasi Etilena

C 2 H 4 Cl 2
C 2 H 4 2HCl
2C 2 H 4 Cl 2
2C 2 H 4 Cl 2

C 2 H 4 Cl 2

...(3)

1
O 2 C 2 H 4 Cl 2 H 2 O
2
2C 2 H 3Cl 2HCl

...(5)
...(4)

1
O 2 2C 2 H 3Cl H 2 O (overall ) ..(6)
2

Cara reaksi ini mengombinasikan reaksi (3) dan (4). Keuntungan dari cara reaksi 5
ialah dapat mengonversi kedua atom dari molekul klorin menjadi vinil klorida. Semua HCl
yang diproduksi pada reaksi pirolisis terkonsumsi pada reaksi oksiklorinasi.

Tabel 2. Perkiraan Biaya Bahan Kimia yang Dibeli atau Dijual dalam Jumlah Besar
Bahan Kimia
Biaya (sen/lb)
Etilena
18
Asetilena
50
Klorin
11
Vinil klorida
22
Hidrogen klorida
18
Air
0
Oksigen (udara)
0
Berdasarkan informasi yang didapat, perkiraan jelas bahwa tim desain akan menolak
(reject) cara reaksi 1 pada dasar selektivitas rendah dengan adanya reaksi saingan yang
memproduksi produk samping yang tidak diinginkan. Sehingga reaksi-reaksi yang lain dapat
menjadi pertimbangan dan diseleksi berdasarkan harga. Walaupun terlalu awal untuk
memperkirakan biaya peralatan dan operasinya, sebelum operasi-operasi proses berlanjut, tim
desain umumnya menentukan gross profit / laba bruto (misal: keuntungan mengurangi biaya
peralatan dan operasi) untuk setiap cara reaksi. Gross profit digunakan sebagai alat untuk
menyisihkan cara-cara reaksi yang tidak menguntungkan. Data harga representatif dari
bahan-bahan kimia utama dalam pembuatan vinil klorida ditunjukkan pada Tabel 2. Gross
profit dihitung sebagai pendapatan turunan dari penjualan produk utama dan produk samping
dikurangi dengan biaya bahan baku.
Misal dalam cara reaksi 3, mengacu pada Tabel 1 dan Tabel 2:
Mol (lbmol)
Berat Molekul
Berat (lb)
lb/lb vinil klorida
Harga (sen/lb)

C2H4 + Cl2
1
1
28,05
70,91
28,05
70,91
0,449
1,134
18
11

C2H3Cl
1
62,50
62,50
1
22

HCl
1
36,46
36,46
0,583
18

Gross profit-nya adalah: 22(1) + 18(0,583) 18(0,449) 11(1,134) = 11,94 sen/lb vinil
klorida. Hasil perhitungan gross profit reaksi keseluruhan (overall) pada semua cara reaksi,
dengan asumsi konversi sempurna dapat tercapai tanpa adanya reaksi samping, ditampilkan
pada Tabel 3. (reaksi samping tidak ditampilkan)
Tabel 3. Gross Profit Produksi Vinil Klorida (Berdasarkan Harga Bahan Kimia pada Tabel 2)
Cara reaksi
Reaksi keseluruhan
Gross profit
(sen/lb vinil klorida)
2
C2H2 + HCl = C2H3Cl
-9,33
3
C2H4 + Cl2 = C2H3Cl + HCl
11,94
4
C2H4 + HCl + O2 = C2H3Cl + H2O
3,42
5
2C2H4 + Cl2 + O2 = 2C2H3Cl + H2O
7,68
Untuk cara reaksi 2 memiliki gross profit negatif, bahkan belum termasuk biaya kapital
(untuk konstruksi plant, pembelian tanah, dan sebagainya). Hal ini disebabkan asetilena
berharga lebih mahal daripada etilena. Didukung dengan harga HCl yang relatif mahal,
sehingga vinil klorida tidak diproduksi dengan cara reaksi 2 yang merugikan. Perlu dicatat
bahwa harga HCl sangat peka terhadap ketersediaannya dalam kompleks petrokimia.
Beberapa situasi menyebutkan bahwa HCl didapat dalam jumlah banyak sebagai produk
samping dari proses lainnya pada harga rendah. Apabila harga HCl turun cukup banyak, cara
reaksi 2 bisa menghasilkan gross profit positif, namun masih kurang menguntungkan
daripada ketiga reaksi (etilena). Jadi apabila semua reaksi memiliki gross profit positif,
dilihat manakah yang lebih menguntungkan. HCl juga sangat berperan pada gross profit cara
reaksi 3, 4, dan 5. Sebelum meneruskan sintesis produk, tim desain akan diminta untuk
memeriksa bagaimana gross profit dapat bervariasi dengan adanya harga HCl.
Langkah pertama menuju pembuatan flowsheet dari cara reaksi 3 ini ditunjukkan pada
Gambar 1. Reagen sumber dan penerima (sources and sinks) tidak ditunjukkan karena
mereka bergantung pada distribusi bahan kimia, langkah berikut dari sintesis proses. Laju
sumber dan penerima luar dihitung dengan perkiraan sumber etilena dan klorin terkonversi
sempurna menjadi penerima vinil klorida dan hidrogen klorida. Dalam hal ini, laju kapasitas
produksi menjadi kunci keputusan yang penting untuk mengatur skala proses. Pada kasus,
kapasitas laju alir vinil klorida 100.000 lb/jam (~800 juta lb/tahun, perkiraan operasi tahunan
330 harifaktor operasi sebesar 0,904) dijalankan sesuai pernyataan primitive problem pada
Section 1.2. Dengan diketahui laju alir produk (bahan penerima utama dalam proses), laju alir
penerima HCl dan sumber bahan baku dapat dihitung dengan asumsi bahan baku terkonversi
menjadi produk berdasarkan pada reaksi keseluruhan. Bahan baku yang tidak bereaksi
dipisahkan dari produk reaksi dan di-recycle.

Flowsheet yang mirip untuk cara reaksi 4 dan 5 diperlukan untuk melengkapi langkah 1
dari sintesis. Dan langkah-langkah semua cara reaksi dipresentasikan dalam satu pohon
sintesa (synthesis tree). (total ada lima langkah)

Gambar 1. Operasi reaksi untuk thermal cracking dikloroetana dari klorinasi etilena (cara
reaksi 3).
Langkah 2 : Penyebaran zat kimia
Pada tahap ini akan membahas pemasukan dan pengeluaran dari setiap zat kimia pada
gambar 3.5 yang disesuaikan sehingga laju alir massa (mass flow) keseluruhan yang masuk
reaktor sama dengan laju alir massa yang keluar.
Pada gambar 3.5, etilen dan klorin masuk ke dalam reaktor klorinasi yang beroperasi
pada suhu 90oC dan tekanan 1,5 atm. Diasumsikan bahwa etilen dan klorin masuk ke reactor
dengan perbandingan stoikiometri yaitu 1:1 sesuai reaksi 3.3. Karena bahan baku sudah
memiliki perbandingan yang sama dan tidak ada perbedaan laju alir antar pemasukan dan
pengeluaran maka tidak diperlukan pengaduk/mixer. Sehingga,
laju alir total yang masuk ke reaktor klorinasi = laju alir klorin + laju alir etilen
= 113.400 lb/hr + 44900 lb/hr
= 158300 lb/hr
laju alir total yang keluar dari reaktor klorinasi = laju alir dikloroetana = 158300 lb/hr.
Selanjutnya, dikloroetana hasil reaktor klorinasi masuk ke reaktor pirolisis yang
beroperasi pada suhu 500oC dan tekanan 26 atm. Pada pirolisis ini, hanya 60% dikloroetana
yang dikonversi ke vinil klorida dengan hasil samping HCl. Konversi ini tidak lebih dari 65%
yang merupakan patent.
Berdasarkan perhitungan diatas, diketahui bahwa laju alir keluar reaktor klorinasi
yang berarti masuk ke reaktor pirolisis adalah 158300 lb/hr. Untuk memenuhi keseimbangan
neraca massa keseluruhan harus dihasilkan 100.000 lb/hr vinil klorida dan 58300 produk
samping HCl. Tetapi, dengan konversi 60%, hanya dapat dihasilkan 60.000 lb/hr vinil klorida.
Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan baku reaktor pirolisis yaitu dikloroetana.

Penambahan dikloroetana dihitung melalui neraca massa


=

10,6
0,6

158.300 = 105.500 .

Laju alir 105.500 lb/hr ini adalah laju alir recycle dikloroetana keluaran reaktor
pirolisis yang tidak membentuk vinil klorida. Sehingga,
Laju alir total yang masuk ke reaktor pirolisis adalalah
= laju alir dikloroetana hasil klorinasi + laju alir dikloroetana recycle
=

158300 lb/hr

+ 105.500 lb/hr

= 263.800 lb/hr.
Laju alir total yang keluar dari reaktor pirolisis adalah
= laju alir vinil klorida + laju alir HCl + laju alir dikloroetana recycle
= 100.000 lb/hr

+ 58300 lb/hr + 105.500 lb/hr

= 263.800 lb/hr.
Hasil dari operasi pirolis adalah vinil klorida sebagai produk, HCl sebagai produk
samping, dan recycle dikloroetana.

Gambar 3.5 Flowheet yang menunjukkan penyebaran zat kimia selama thermal cracking
dikloroetana dari klorinasi etilen.
Pada gambar 3.5 dapat dilihat bahwa pada operasi klorinasi menghasilkan banyak
sumber enerdi yaitu 150 juta BTU/hr tetapi dengan suhu yang rendah yaitu 90oC. Sedangkn
operasi pirolisis membutuhkan energy lebih sedikit yaitu 52 juta BTU/hr namun dengan suhu
yang tinggi yaitu 500oC. Karena panas yang dihasilkan saat klorinasi tidak mampu digunakan
untuk menaikkan suhu suhu saat pirolisis, maka dibutuhkan sumber energi lain.
Untuk tekanan pada operasi reaksi, 1,5 atm dipilih untuk tekanan operasi klornasi
untuk mencegah adanya udara masuk ke dalam reaktor. Pada tekanan atmosferik, udara dapat
masuk kedalam reaktor dan membentuk konsentrasi yang cukup besar hingga melebihi batas
flammabilitynya. Untuk operasi pirolisis, tekanan 26 atm direkomendasikan oleh patent B. F.
Godrich (1963). Karena reaksinya searah, peningkatan suhu tidak akan berpengaruh terhadap

konversi. Kebanyakan, patent merekomendaikan tekanan 26 atm ini untuk mempercepat laju
reaksi dan untuk mengurangi ukuran reaktor pirolisis walaupun konstruksi reaktor pirolisis
harus memiliki dinding yang tebal dan dilengkapi dengan alat-alat precautions.

Langkah 3 : Menghilangkan Beda Komposisi (Proses Separasi)


Proses separasi merupakan salah satu unit operasi dalam sebuah industri yang
memiliki untuk memisahkan produk utama dari bahan kimia lain sampai dicapai produk yang
sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Berdasarkan gambar 3.5 terdapat tiga aliran
keluaran bahan kimia, yaitu aliran produk vinyl klorida, aliran produk samping HCl, dan
aliran umpan recycle 1,2-dichloroethane. Ketiga bahan kimia ini merupakan produk hasil
thermal cracking (pirolisis) 1,2-dichloroethane. Proses separasi yang digunakan untuk
memisahkan campuran ketiga bahan ini adalah destilasi. Berdasarkan gambar 3.6, rancangan
proses separasi dalam diagram alir menggunakan dua menara destilasi yang disusun secara
seri.

Gambar 3.6 Flowsheet termasuk operasi pemisahan untuk proses vinil klorida
Proses destilasi dipilih karena ketiga bahan kimia memiliki perbedaan volatilitas yang
cukup jauh. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data titik didih dalam tabel 3.4.

Pada kolom destilasi pertama dilakukan pemisahan HCl sedangkan di kolom kedua
dilakukan pemisahan vinyl klorida. Proses pemisahan pada kolom detilasi pertama dilakukan
pada tekanan 12 atm mengikuti rekomendasi B.F Goodrich. Pada kondisi ini HCl mendidih
pada suhu -26,2oC dan dihasilkan vinyl chloride dan dichloroethane sebagai produk bawah.
Pada menara destilasi ke dua proses destilasi dilakukan pada kondisi tekanan sebesar 4,8 atm
dengan hasil produk destilat (vinyl chloride hampir murni) mendidih pada suhu 33oC dan
dapat terkondensasi dengan air pendingin pada suhu 25oC sedangkan 1,2-dichloroethane
sebagai produk bawah yang mendidih pada suhu 146oC akan digunakan sebagai umpan yang
dicampur dengan produk diklorinasi.
Beberapa pilihan operasi proses pemisahan lainnya, yaitu memisahkan sedikit
mungkin senyawa volatil dichloroethane pada kolom pertama dan memisahkan HCl pada
kolom kedua, atau dapat digunakan kolom tunggal dengan aliran utama adalah produk vinyl
klorida. Proses pemisahan HCl menggunakan absorpsi air pada tekanan 1 atm dan aliran uap
vinyl klorida dan dichloroethane dapat dipisahkan menggunakan destilasi.

Langkah 4 : Mengeliminasi perbedaan suhu, tekanan, dan fase.

Gambar 3.7 Flowsheet dengan peubahan suhu, tekanan, dan fasa operasi pada proses
pembentukan vinil klorida
Langkah 4 merupakan pengembangan dari langkah 3 dengan penambahan keterangan
adanya perubahan temperature, tekanan, dan fase selama proses operasi. Terjadinya
perubahan temperature, tekanan, dan fase selama proses operasi dimaksudkan untuk

menyesuaikan perancangan alat operasi agar memenuhi spesifikasi kerjanya. Pada dasarnya
operasi yang terjadi setelah klorinasi adalah proses pirolisis kemudian diseparasi untuk
mendapatkan C2H3Cl murni sehingga terdapat dua alat operasi utama yaitu alat pirolisis dan
alat separasi.
Operasi dimulai dengan proses klorinasi C2H4 menghasilkan C2H4Cl2 pada suhu 90oC
dan tekanan 1,5 atm. Untuk mendapatkan C2H3Cl diperlukan operasi pirolisis, karenanya
perlu dilewatkan alat operasi pirolisis dengan spesifikasi : bahan masuk berupa gas, pada
suhu 500oC dan tekanan 26 atm karenanya dilakukan beberapa operasi untuk mengubah
C2H4Cl2 cair 90oC 1,5 atm menjadi C2H4Cl2 gas 500oC dan tekanan 26 atm. Operasi yang
pertama dilakukan adalah menaikkan tekanan dari 1,5 atm menjadi 26 atm. Operasi penaikan
tekanan ini berdampak naiknya suhu menjadi 112oC. Dilanjutkan operasi menaikkan suhu
menjadi 242oC agar terjadi perubahan fase C2H4Cl2 menjadi gas. Terbentuklah C2H4Cl2 26
atm 242oC sehingga memungkinkan terjadi perubahan fase menjadi gas. Agar C2H4Cl2 gas
dapat dipirolisis harus dinaikkan suhunya agar memenuhi spesifikasi alat pirolisis menjadi
500oC karenanya dilakukan proses penambahan panas. Setelah memenuhi spesifikasi yang
diinginkan alat, maka C2H4Cl2 gas dipirolisis menghasilkan C2H3Cl sebanyak 100.000 lb/hr,
HCl sebanyak 58.300 lb/hr, dan C2H4Cl2 sebanyak 105.500lb/hr.
Dalam rangka memenuhi spesifikasi alat separasi, senyawa-senyawa hasil pirolisis
akan diubah suhunya hingga mencapai Dew point gas menjadi liquid sehingga tercapai pada
buble point yang dapat diterima alat separasi. Operasi separai pertama dilakukan dalam
rangka memisahkan HCl kemudian masuk ke alat separasi kedua untuk memisahkan C2H4Cl2
dan produk yang diinginkan yaitu C2H3Cl. C2H4Cl2 hasil pemisahan kemudian direcycle
kembali dengan cara menyesuaikan suhu operasinya yang telah berubah. C2H4Cl2 yang telah
diubah suhunya dapat kembali digunakan untuk menghasilkan produk dengan proses operasi
sebagaimana sebelumnya.

Langkah 5 : Proses Integrasi


Langkah 5 merupakan gambaran besar dari seluruh proses, setelah dilakukan langkah
4 yaitu menghilangkan perbedaan suhu, C2H4Cl2 masuk ke dalam kolom disitilasi. Pada
kolom distilasi C2H4Cl2 dipisahkan menjadi Cl2 dan C2H4, yang mana nanti pengotornya akan
masuk ke dalam Reaktor Klorinasi. C2H4Cl2 cair akan dialirkan ke pompa yang mengubah
tekanannya yang dari 1,5 atm menjadi 26 atm. Lalu setelah spesifikasi bahan sesuai dengan
spesifikasi yang diinginkan, C2H4Cl2 masuk ke dalam evaporator untuk diupkan menjadi
suhu 242C. Setelah itu masuk ke dalam langkah pirolisis furnish yang mana disini suhu

dinaikan menjadi 500C dan tekanan masih tetap yaitu 26 atm. Hasil dari pirolisis masuk ke
dalam tangki Spray Quench, di tangki dilakukan proses pendinginan. Yang mana uap dari
C2H4Cl2 akan mengisi ruang kosong uap dan H2O hasil pendinginan akan masuk kedalam
Cooling Tower. C2H4Cl2 akan keluar dari Spray Quench Tank pada suhu 170C dan akan
masuk ke dalam condenser untuk diubah fasenya. Setelah melalui Kondenser C2H4Cl2 akan
diumpankan ke kolom distilasi untuk dipisahkan menjadi HCl yang merupakan produk
samping dan C2H3Cl menjadi produk utama.

TUGAS
PERANCANGAN PRODUK DAN PROSES KIMIA

LANGKAH-LANGKAH OPERASI
PEMBUATAN VINIL KLORIDA

DISUSUN OLEH :
APRILIA LAILA FAJRIN

(21030112130049)

BRAMANTYA BRIAN SUWIGNJO (21030112140169)


DANUGRA MARTANTYO

(210301121300..)

HARI WISNU MURTI

(210301121300..)

NUGRAHENI DWIANDINI

(21030112130118)

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015