Anda di halaman 1dari 143

Operasi Teknik Kimia 2

KATA PENGANTAR

Operasi Teknik Kimia 2 (OTK 2) merupakan mata kuliah yang termasuk dalam
kelompok ilmu terapan pada program D-IV Teknik Kimia Polimer dengan
beban 3 SKS. Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu memahami
peristiwa perpindahan massa difusional serta mampu memahami prinsip-
prinsip proses pemisahan di bidang teknik kimia. Penyusunan Diktat Operasi
Teknik Kimia 2 (OTK 2) ini disusun dengan mempedomani beberapa pustaka
yang sesuai dengan keilmuan teknik kimia.

Penyusun menyadari diktat Operasi Teknik Kimia 2 (OTK 2) ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh sebab itu diharapkan kritik dan saran masukan demi
kesempurnaan diktat ini ke depannya. Mudah-mudahan diktat ini bermanfaat
bagi kita semua terutama bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan
Operasi Teknik Kimia 2 (OTK 2).

ii | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

DESKRIPSI MATA KULIAH


Capain Pembelajaran Lulusan Prodi Teknik Kimia Polimer adalah :
SIKAP:
1. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius;
2. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan
agama, moral, dan etika;
3. menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
4. berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki
nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
5. menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan,
serta pendapat atau temuan orisinal orang lain;
6. berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
7. bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap
masyarakat dan lingkungan;
8. taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara
9. menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan
10. memiliki karakter yang kuat untuk jujur, amanah, kerja keras, dan jiwa
kepemimpinan;
11. menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya
secara mandiri.

PENGETAHUAN:
1. menguasai konsep teoretis sains alam, aplikasi matematika rekayasa; prinsip-
prinsip rekayasa (engineering principles), sains rekayasa dan perancangan
rekayasa yang diperlukan untuk analisis dan perancangan proses, sistem
pemrosesan, dan peralatan yang diperlukan untuk mengubah bahan baku
menjadi produk yang mempunyai nilai tambah; (basic science & engineering)
2. menguasai pengetahuan tentang codes dan standard yang berlaku untuk
penyelesaian masalah rekayasa; (industrial codes & standards)
3. menguasai pengetahuan prosedural dan operasional kerja bengkel/studio dan
kegiatan laboratorium, serta pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3);
(SOP & Safety, Health, Environment)
4. menguasai prinsip dan teknik perancangan proses, sistem pemrosesan, dan
peralatan yang diperlukan untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang
mempunyai nilai tambah; (production method/technique)
5. menguasai prinsip dan issue terkini dalam ekonomi, sosial, ekologi secara umum;
(current economic, social, ecological issues)
6. menguasai pengetahuan tentang teknik komunikasi dan perkembangan
teknologi terbaru dan terkini. (state of the art and future technology)

KETERAMPILAN UMUM:
1. menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam konteks
pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan/atau teknologi sesuai
dengan bidang keahliannya; (critical & logical thinking)
2. mengkaji implikasi pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan,
teknologi atau seni sesuai dengan keahliannya berdasarkan kaidah, tata cara dan
etika ilmiah untuk menghasilkan solusi, gagasan, desain, atau kritik seni serta

iii | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

menyusun deskripsi saintifik hasil kajiannya dalam bentuk skripsi atau laporan
tugas akhir; (analysis & problem solving)
3. mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah di
bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis terhadap informasi dan data;
(decision making)
4. mengelola pembelajaran secara mandiri; (self- long life learning)
5. mengembangkan dan memelihara jaringan kerja dengan pembimbing, kolega,
sejawat baik di dalam maupun di luar lembaganya. (team work & networking)

KETERAMPILAN KHUSUS:
1. mampu menerapkan matematika, sains, dan prinsip rekayasa ke dalam prosedur,
proses, sistem, atau metodologi rekayasa terapan untuk menyelesaikan masalah
rekayasa umum (broadly-defined); (applied science & engineering for problem
solving)
2. mampu mengidentifikasi, memformulasikan, melakukan penelusuran referensi/
standar/ codes/database, menganalisis, dan menyelesaikan masalah rekayasa
umum menggunakan perangkat analisa untuk suatu bidang spesialisasi dengan
memperhatikan faktor-faktor ekonomi, kesehatan dan keselamatan publik,
kultural, sosial, dan lingkungan (environmental consideration); (social &
enviromentally engineering solution)
3. mampu melakukan riset yang mencakup identifikasi, formulasi dan analisis
masalah rekayasa pada proses, sistem pemrosesan, dan peralatan yang
diperlukan untuk mengolah bahan baku menjadi produk polimer (khususnya
plastik dan karet) yang mempunyai nilai tambah; (research for polymer
engineering)
4. mampu memilih sumberdaya dan memanfaatkan perangkat perancangan dan
analisis rekayasa berbasis teknologi informasi dan komputasi yang sesuai untuk
melakukan aktivitas rekayasa di bidang proses, sistem pemrosesan, dan
peralatan yang diperlukan untuk pengolahan bahan baku menjadi polimer yang
bermanfaat di industri otomotif; (ICT for design & engineering)
5. mampu memilih, memanfaatkan dan merawat peralatan pembuatan compound
plastik dan karet, pencetakan dengan teknologi moulding untuk menghasilkan
produk polimer yang memenuhi standar yang berlaku, serta peralatan
pembuatan produk hilir plastik dan karet dalam kondisi apa pun tergantung pada
perlengkapan yang ada (baik perangkat manual ataupun komputasi).
(plastic/rubber compounding & fabrication)

iv | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ........................................................................................................... ii
DESKRIPSI MATA KULIAH ............................................................................................ iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... v
BAB I : Perpindahan Massa Secara Diffusional .............................................. 1
BAB II : Prinsip Keseimbangan ......................................................................... 31
BAB III : Distilasi ..................................................................................................... 48
BAB IV : Ekstraksi Cair-Cair ................................................................................ 87
BAB V : Absorbsi dan Stripping ...................................................................... 108
BAB IV : Drying dan Humidifikasi ................................................................... 115
BAB VII : Evaporasi ................................................................................................ 124

v|Page
Operasi Teknik Kimia 2

BAB I
PERPINDAHAN MASSA SECARA DIFFUSIONAL
1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a) Jenis-jenis pemisahan dalam industri kimia
b) Driving force masing-masing proses pemisahan.
c) Hukum Fick’s untuk Difusi molekular
d) Equimolar counter diffusion in gases
e) General case of diffusion of gases A and B plus convection
f) Special case for A diffusing through stagnant, nondiffusing B
g) Diffusion coefficients for gases
h) Equations for diffusion in liquids
i) Prediction of diffusivities in liquids
j) Diffusion in solids following Fick’s law
k) Diffusion in porous solids that depends on structure

2. Capaian pembelajaran matakuliah


a) Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar pemisahan difusional, Hukum
Ficks’s, Koefisien transfer massa
b) Mahasiswa mampu memahami difusi molekuler dalam gas
c) Mahasiswa mampu memahami difusi molekuler dalam cairan dan padatan

3. Isi materi perkuliahan


Banyak bahan proses kimia dan biologi merupakan campuran komponen yang
berbeda dalam fase gas, cair, atau padat. Untuk memisahkan atau melepaskan satu
atau lebih komponen dari campuran aslinya, harus dikontakkan dengan fase lain.
Kedua fase tersebut dikontakkan dengan fase yang lebih atau kurang rapat satu sama
lain sehingga zat yang terlarut atau zat yang dilarutkan dapat berdifusi satu sama lain.
Dua fase terbesar biasanya hanya sedikit tercampur satu sama lain. Dua fase tersebut
dapat berupa gas-cair, padat-gas, cair-cair, atau cair-padat. Selama kontak dari dua
fase, komponen campuran asli mendistribusikan kembali kedua fase tersebut. Fase
kemudian dipisahkan dengan metode fisik sederhana. Dengan memilih kondisi dan
fase yang tepat, satu fase diperkaya sementara yang lainnya habis dalam satu atau
lebih komponen.

A. Jenis-Jenis Pemisahan dalam Industri Kimia


1. Absorpsi
Bila dua fase kontak adalah gas dan cairan, operasi unit disebut dengan
absorpsi. Suatu zat terlarut (A) atau beberapa zat terlarut diserap dari fasa
gas ke dalam fase cair dalam absorpsi. Proses ini melibatkan difusi molekuler
dan turbulen atau perpindahan massa zat terlarut (A) melalui gas (B) yang
tidak berdifusi menjadi cairan yang stagnan (C). Contohnya adalah absorpsi
amonia (A) dari udara B oleh air (C). Biasanya, keluaran larutan amonia
didistilasi untuk mendapatkan amonia yang lebih murni.

Contoh lain adalah absorpsi SO2 dari gas buang dengan penyerapan dalam
larutan alkali. Dalam hidrogenasi minyak nabati dalam industri makanan, gas

1|Page
Operasi Teknik Kimia 2

hidrogen digelembungkan ke minyak dan diserap. Hidrogen dalam larutan


kemudian bereaksi dengan minyak dengan keberadaan katalis. Kebalikan dari
absorpsi adalah stripping atau desorpsi, dengan teori dan prinsip dasar yang
sama berlaku. Contohnya adalah stripping (pelecutan) uap minyak
nonvolatile, dimana uap dikontakkan dengan minyak dan sejumlah kecil
komponen volatil minyak keluar bersama dengan uap.

L2 , x2 G2, y2 V

L 1 , x1 G1, y1 L

Gambar 1.1 Skema Proses Absorpsi dan Stripping

Keterangan
G1 = Laju gas masuk F = Laju alir umpan masuk
y1 = Fraksi mol gas masuk V = Laju alir gas keluar
G2 = Laju gas keluar L = Laju alir cairan keluar
y2 = Fraksi mol gas keluar
L1 = Laju cairan masuk
X1 = Fraksi cairan masuk
L2 = Laju cairan keluar
X2 = Fraksi cairan keluar

2. Distilasi
Dalam proses distilasi, terdapat fase uap yang mudah menguap dan fasa cair
yang menguap. Contohnya adalah distilasi larutan air etanol, dimana uap
mengandung konsentrasi etanol lebih besar dari pada cairan. Contoh lainnya
adalah distiliasi larutan amonia air untuk menghasilkan uap lebih kaya
amonia. Contoh proses distilasi dalam penyulingan minyak mentah adalah
distilasi berbagai fraksi seperti bensin, minyak tanah, dan minyak pemanas.

2|Page
Operasi Teknik Kimia 2

3. Ekstraksi Cair – Cair


Bila kedua fasa adalah cairan, dimana zat terlarut atau zat yang dilarutkan
dikeluarkan dari satu fasa cair ke fasa cair lainnya, prosesnya disebut
ekstraksi cair-cair. Salah satu contohnya adalah ekstraksi asam asetat dari
larutan air oleh isopropil eter. Di industri farmasi, antibiotik dalam larutan
fermentasi cair kadangkala terlepas dari ekstraksi dengan pelarut organik.

4. Leaching
Jika cairan digunakan untuk mengekstrak zat terlarut dari padatan, prosesnya
disebut Leaching. Terkadang proses ini juga disebut ekstraksi. Contohnya
adalah leaching tembaga dari bijih padat dengan asam sulfat dan leaching
minyak nabati dari kedelai padat dengan pelarut organik seperti heksana.
Minyak nabati juga dapat di leaching dari produk biologis lainnya, seperti
kacang tanah, rapeseeds, dan biji bunga matahari.

5. Proses Membran
Pemisahan molekul dengan penggunaan membran adalah operasi unit yang
relatif baru dan menjadi lebih penting. Membran padat yang relatif tipis
mengendalikan laju pergerakan molekul di antara dua fase. Contoh
pemisahan menggunakan membran adalah untuk menghilangkan garam dari
air, memurnikan gas, dalam pengolahan makanan, dan sebagainya.

6. Kristalisasi
Komponen terlarut yang larut dalam larutan dapat dilepaskan dari larutan
dengan menyesuaikan kondisinya, seperti suhu atau konsentrasi, sehingga
kelarutan satu atau lebih komponen zat terlarut terlampaui dan mengkristal
menjadi fase padat. Contoh dari proses pemisahan secara kristalisasi adalah
kristalisasi gula dari larutan dan kristalisasi garam logam dalam pengolahan
bijih logam.

7. Adsorpsi
Dalam proses adsorpsi, satu atau lebih komponen aliran cairan atau gas
diserap pada permukaan atau di dalam pori-pori adsorben padat. Contohnya
adalah penghilangan senyawa organik dari air yang tercemar, pemisahan
parafin dari aromatik, dan penghilangan pelarut dari udara.

Perbedaan absorpsi dan adsorpsi:


Absorpsi adalah suatu peristiwa penyerapan atau peresapan zat cair ke zat
cair lain atau zat padat hingga keduanya menyatu. Misalnya ada kopi tumpah,
terus tumpahan itu dibersihkan dengan kertas tissue atau kain. Kopi meresap
ke kertas tissue/kain hingga tissue/kain menjadi basah.

Adsorpsi merupakan proses penyerapan zat dapat berupa gas atau cairan
yang hanya terserap pada suatu permukaan zat padat atau zat cair. Zat yang
diserap hanya berapa di sekeliling permukaan zat. Karena zat yang terserap
hanya di permukaan, maka zat itu menutupi seluruh permukaan zat. Contoh
peristiwa adsorpsi adalah peristiwa koloid.

3|Page
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 1.2 Perbedaan Adsorpsi dan Absorpsi


• Driving Force Masing-Masing Proses Pemisahan

No Proses Driving Force


1 Absorpsi Perbedaan kelarutan
2 Distilasi Perbedaan titik didih
3 Ekstraksi cair-cair Perbedaan kelarutan
4 Leaching Perbedaan kelarutan
5 Proses Membran Perbedaan tekanan dan konsentrasi
6 Kristalisasi Perbedaan kelarutan dan perbedaan titik beku
7 Adsorpsi Perbedaan kelarutan

B. Hukum Fick’s untuk Difusi Molekular


Berbagai operasi unit dapat dikelompokkan menjadi tiga proses transfer yaitu:
perpindahan momentum, perpindahan panas, dan perpindahan massa. Proses dasar
transfer momentum terjadi pada operasi unit seperti aliran fluida, mixing,
sedimentasi, dan filtrasi. Perpindahan panas terjadi pada perpindahan kalor secara
konduksi dan konveksi, evaporasi, distilasi, dan pengeringan.

Proses transfer dasar ketiga yaitu perpindahan massa, terjadi pada distilasi, absorpsi,
drying, ekstraksi cair-cair, adsorpsi, dan proses membran. Ketika massa dipindahkan
dari satu fase yang berbeda ke fase lain atau melalui fase tunggal, mekanisme
dasarnya sama apakah fasenya adalah gas, cairan, atau padat. Hal ini juga ditunjukkan
dalam perpindahan panas, dimana transfer panas oleh konduksi mengikuti hukum
Fourier dalam gas, padat, atau cair.

Difusi molekuler atau transportasi molekuler dapat didefinisikan sebagai transfer


atau pergerakan unit molekul cairan melalui gerakan acak. Molekul hanya bergerak
dalam garis lurus dan berubah arah dengan memantul dari molekul lain setelah
bertabrakan. Karena molekul bergerak dalam jalur acak, difusi molekuler sering
disebut proses acak.

4|Page
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 1.3 Skema Proses Difusi Molekular

Proses difusi molekuler ditunjukkan secara skematis. Jalur acak yang mungkin
diambil oleh molekul A adalah menyebar melalui molekul B dari titik (1) sampai (2).
Jika ada sejumlah besar molekul A dekat dengan titik (1) daripada titik (2), maka
karena molekul berdifusi secara acak dalam dua arah, maka akan lebih banyak
molekul A berdifusi dari (1) ke (2) daripada dari (2) ke (1). Difusi molekul A berasal
dari daerah konsentrasi tinggi ke rendah.

Sebagai contoh lain, setetes cairan cair biru ditambahkan ke secangkir air. Molekul
pewarna akan berdifusi secara perlahan dengan difusi molekuler ke seluruh bagian
air. Untuk meningkatkan laju pencampuran zat warna ini, cairan dapat secara
mekanis diaduk oleh sendok dan perpindahan massa konvektif akan terjadi. Dua
mode perpindahan panas, konduksi dan perpindahan panas konvektif, analog dengan
difusi molekuler dan perpindahan massa konvektif.

Difusi molekul ketika seluruh cairan dalam jumlah besar tidak bergerak namun
bersifat stasioner. Difusi pada molekul disebabkan oleh gradien konsentrasi.

Persamaan Hukum Ficks umum untuk campuran biner A dan B dapat ditulis sebagai
berikut:
dxA
J*AZ = -cDAB …………………….…..………………………………1.1)
dz
kg mol A + B
dimana c adalah konsentrasi total A dan B dalam , dan xA adalah fraksi mol A
m3
dalam campuran A dan B. Jika c konstan, maka cA = cxA.
c dxA = d(c xA ) = d cA … … … … … … … . . … … … … … … … … … 1.2)
maka
dc
J*AZ = -DAB A ……………………………..……………..……………1.3)
dz
kg mol A
dimana J*AZ adalah flux molar komponen A dalam arah z dengan satuan , DAB
s.m2
m2
adalah difusi molekular dari molekul A dalam B dengan satuan , CA adalah
s
kg mol
konsentrasi A dalam , dan z adalah jarak difusi dalam satuan m.
m3

5|Page
Operasi Teknik Kimia 2

Driving force lainnya untuk difusi (selain perbedaan konsentrasi) juga terjadi karena
suhu, tekanan, potensi listrik, dan gradien lainnya.

Contoh Soal 6.1-1 : Difusi Molekul Helium dan Nitrogen


Campuran gas He dan N2 berada dalam pipa pada suhu 298 K dan tekanan total 1 atm
yang konstan sepanjang pipa. Pada salah satu ujung pipa pada titik 1 tekanan parsial
pA1 He adalah 0,60 atm dan pada ujung lain 0,2 m (20 cm) p A2 = 0,20 atm. Hitung fluks
He pada keadaan steady state jika DAB campuran He-N2 adalah 0,687 x 10-4 m2/s.

Jawaban:
Karena tekanan total (P) konstan, maka c konstan, dimana c mengikuti hukum gas
ideal:
pV = nRT …………………………………………….…………..1.4)
n P
= =c……………..………………………………………….1.5)
V RT
dimana n dalam kgmol A + B, V dalam m3, T adalah suhu dalam K, R = 8314,3 m3.Pa/kg
kg mol A + B
mol.K atau R = 82,057 x 10-3 m3.atm/kgmol.K dan c dalam .
m3
Dalam keadaan steady state, flux J* AZ sesuai dengan persamaan 1.3 bernilai konstan,
DAB untuk gas juga bernilai konstan, persamaan 1.3 disusun kembali dengan integrasi:
z2 cA2
J*AZ ∫ dz = -DAB ∫ dcA … … … … … … … . … … . . … … … . .1.6)
z1 cA1
J*AZ (z2 - z1 ) = -DAB (cA2 - cA1 )……………………..…………………..1.7)
DAB (cA1 - cA2 )
J*AZ = … … … … … … … … … . . … … … … . .1.8)
z2 - z1
dengan hukum gas ideal, pA.V = nA.R.T dan
p nA
cA1 = A1 = … … … … … … … … … … . … . … … … … 1.9)
RT V
substitusi persamaan 1.9 ke persamaan 1.8
DAB (pA1 - pA2 )
J*AZ = … … … … … . … … … … . … … … . .1.10)
RT( z2 - z1 )
dengan:
DAB = 0,687 x 10-4 m2/s
pA1 = 0,6 atm = 0,6 x 1,01325 x 105 = 6,08 x 104 Pa
pA2 = 0,2 atm = 0,2 x 1,01325 x 105 = 2,027 x 104 Pa
z2 = 0,2 m
(0,687 x 10-4 ) (6,08 x 104 - 2,027 x 104 ) kg mol A
J*AZ = =5,63 x 10-6
(8314,3)(298)(0,2 - 0) s.m2

C. Koefisien Transfer Massa Konvektif


Transfer massa penting di banyak bidang sains dan teknik. Perpindahan massa terjadi
ketika komponen dalam campuran bermigrasi dalam fase yang sama atau dari fase ke
fase karena perbedaan konsentrasi antara dua titik. Banyak fenomena yang dikenal
melibatkan perpindahan massa. Cairan dalam ember terbuka, air menguap menjadi
udara karena perbedaan konsentrasi uap air di permukaan dan udara sekitarnya. Ada
"driving force" dari permukaan ke udara. Sedikit gula yang ditambahkan ke secangkir
kopi akhirnya larut dengan sendirinya dan berdifusi dengan larutan di sekitarnya.
Ketika kayu yang baru dipotong dan lembab terkena atmosfer, kayu akan kering
sebagian saat air di kayu berdifusi melalui kayu ke permukaan dan kemudian ke

6|Page
Operasi Teknik Kimia 2

atmosfer. Dalam proses fermentasi, nutrisi dan oksigen terlarut dalam larutan
berdifusi dengan mikroorganisme. Dalam reaksi katalitik, reaktan berdifusi dari
media sekitarnya ke permukaan katalis dimana reaksi terjadi.

Banyak proses pemurnian melibatkan perpindahan massa. Dalam pengolahan


uranium, garam uranium dalam larutan diekstraksi dengan pelarut organik. Distilasi
untuk memisahkan alkohol dari air melibatkan perpindahan massa. Pelepasan SO2
dari gas buang dilakukan dengan absorpsi dalam larutan cairan.

Perpindahan massa mirip dengan perpindahan panas menggunakan Hukum Fourier.


Namun, perbedaan penting adalah bahwa dalam perpindahan massa molekul satu
atau lebih komponen media bergerak. Dalam perpindahan panas dengan konduksi
medium biasanya tidak bergerak dan hanya energi dalam bentuk panas yang
bergerak.

Bila fluida mengalir di luar permukaan padat dalam gerakan konveksi paksa, laju
perpindahan massa konvektif dari permukaan ke cairan atau sebaliknya
menggunakan persamaan berikut:
NA = kc (cL1 -cLi )……………………………….….…………….1.11)
dimana kc adalah koefisien mass transfer dalam satuan m/s, c L1 adalah konsentrasi
kg mol A
bulk fluid dalam , dan cLi adalah konsentrasi cairan di dekat permukaan
m3
padatan. Koefisien perpindahan massa ini sangat mirip dengan koefisien perpindahan
panas h dan merupakan fungsi dari sistem geometri, sifat fluida, dan kecepatan aliran.

Tugas di Pertemuan Minggu 1 : Problems 6.1-1 dan Problems 6.1-2.


D. Equimolar Counterdiffusion in Gases
Dua gas A dan B pada tekanan total (P) konstan dalam dua ruang besar dihubungkan
oleh sebuah pipa terjadi difusi molekuler pada kondisi steady state. Pengadukan di
setiap ruang untuk menjaga konsentrasi agar sama di setiap ruangan. Tekanan parsial
pA1> pA2 dan pB2> pB1. Molekul A berdifusi ke kanan dan molekul B berdifusi ke kiri.
Tekanan total (P) konstan, mol A yang berdifusi ke kanan harus sama dengan mol B
yang berdifusi ke kiri. Jika tidak demikian, tekanan total tidak akan tetap konstan,
sehingga
J*AZ = -J*BZ…………………………………….....……………..1.12)
Hukum Fick’s untuk B dengan c konstan
dcB
J*B = -DBA ………………………………………..……………1.13)
dz
dengan, P = pA + pB konstan, maka
c = cA + cB………………………………………..……………….1.14)
diturunkan dalam dua sisi, maka
dcA = -dcB……………………………………….………………..1.15)
persamaan 1.3 sampai persamaan 1.13
dcA dcB
J*A = -DAB = −J*B= -(-)DBA … … … … … … . . … … … … … .1.16)
dz dz
substitusi persamaan 1.15 ke persamaan 1.16
DAB = DBA………………………………………..………………..1.17)
Jadi, untuk campuran gas biner A dan B, koefisien difusivitas D AB untuk A yang
berdifusi ke B sama dengan DBA untuk B yang berdifusi ke A.

7|Page
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 1.4 Equimolar Counterdiffusion Gas A dan B

Contoh Soal 6.2-1 : Equimolar Conterdiffusion


Gas amonia (A) berdifusi melalui tabung dengan panjang 0,10 m yang mengandung
gas N2 (B) pada tekanan 1,0132 x 105 Pa dan suhu 298 K. Diagramnya mirip dengan
Gambar 1.4. Pada titik 1, pA1 = 1,013 x 104 Pa dan pada titik 2, pA2 = 0,507 x 104 Pa.
Difusivitas DAB = 0,230 x 104 m2/s.
a) Hitung fluks J*A pada keadaan steady state
b) Ulangi untuk J*B

Jawaban:
P = 1,0132 x 105 Pa
z2 – z1 = 0,10 m
T = 298 K
a) sesuai dengan persamaan 1.10
DAB (pA1 - pA2 )
J*AZ =
RT( z2 - z1 )
* 0,230 x 10 .(1,013 x 10 -0,507 x 104 )
-4 4
kg mol A
JAZ = = 4,7 x 10-7
(8314,3)(298)(0,10-0) s.m2
b) J*B
pB1 = P – pA1 = 1,0132 x 105 – 1,013 x 104 = 9,199 x 104 Pa
pB2 = P – pA2 = 1,0132 x 105 – 0,507 x 104 = 9,625 x 104 Pa
0,230 x 10-4 .(9,199 x 104 -9,625 x 104 ) kg mol B
J*BZ = = - 4,7 x 10-7
(8314,3)(298)(0,10-0) s.m2
Nilai ( - ) pada J B menyatakan bahwa flux bergerak dari titik 2 ke 1.
*

E. General Case for Diffusion of Gases A and B Plus Convection


Hukum Fick’s untuk difusi dalam cairan diam yaitu tidak ada pergerakan atau aliran
secara konvektif dari keseluruhan fase campuran biner A dan B. Fluks difusi J*A terjadi
karena gradien konsentrasi. Nilai mol A melewati titik pasti ke kanan, yang akan
dianggap sebagai fluks positif, adalah J*A kg mol A/s.m2. Fluks ini dapat diubah
menjadi kecepatan difusi A ke kanan oleh
m kg mol A
J*A ( kg mol A⁄s.m2 ) = vAd cA ( ) … … … … … … .1.18)
s m3

8|Page
Operasi Teknik Kimia 2

dimana vAd adalah kecepatan difusi A dengan satuan m/s.

Ketika seluruh cairan bergerak dalam bentuk bulk atau konvektif mengalir ke kanan.
Kecepatan rata-rata molar seluruh cairan relatif terhadap titik stasioner adalah vM
dengan satuan m/s. Komponen A berdifusi ke kanan, namun kecepatan difusi v Ad
diukur relatif terhadap fluida bergerak. Di titik stationer, komponen A bergerak lebih
cepat dari fasa yang berbentuk bulk karena kecepatan difusi vAd ditambah dengan fase
bulk vM. Secara matematis, kecepatan A relatif terhadap titik stasioner adalah jumlah
kecepatan difusi dan kecepatan rata-rata atau konvektif.
vA = vAD + vM………………………………..……….…………….1.19)
dimana vA adalah kecepatan A relatif terhadap titik stasioner.
vA

vAD vM

cA dikali dengan persamaan 1.19


cA.vA = cA.vAD + cA.vM………………………………….…………….1.20)
Masing-masing dari ketiga istilah tersebut merupakan fluks. Istilah pertama, cA, vA,
dapat ditunjukkan oleh fluks NA kg mol A/s.m2. Ini adalah fluks total A relatif terhadap
titik stasioner. Istilah kedua adalah J* A, fluks difusi relatif terhadap fluida bergerak.
Istilah ketiga adalah fluks konvektif A relatif terhadap titik stasioner. Oleh karena itu,
Persamaan 1.20 menjadi
NA = J*A + cA vM……………………………..….…………………1.21)
misalkan N adalah fluks konvektif keseluruhan dari keseluruhan aliran dibandingkan
dengan titik stasioner, kemudian
N = cVM = NA + NB…..………………………….…………………1.22)
atau, penyelesaian untuk vM,
NA +NB
vM = … … … … . … … … … . . … … … … … … … 1.23)
c
substitusi persamaan 1.23 ke persamaan 1.21
cA
NA = J*A + (NA +NB )……………………………………………1.24)
c
karena J*A adalah hukum Fick, Persamaan 1.1
dxA cA
NA = -cDAB + (N +N )………………….……………………1.25)
dz c A B
Persamaan 1.25 adalah persamaan umum akhir untuk difusi ditambah konveksi
untuk digunakan saat flux NA digunakan yang relatif terhadap titik stasioner.
Persamaan yang sama dapat ditulis untuk NB
dxB cB
NB = -cDBA + (N +N )………………….……………………1.26)
dz c A B
Untuk menyelesaikan Persamaan 1.25 atau 1.26, hubungan antara fluks NA dan NB
harus diketahui. Persamaan 1.25 dan 1.26 berlaku untuk difusi dalam gas, cair, atau
padat.
Untuk equimolar counterdiffusion, NA = - NB dan istilah konvektif pada persamaan
1.25 menjadi nol. Kemudian, NA = J*A = -NB = -J*B.

Tugas Pertemuan Minggu ke – 2 : Problems Nomor 6.2.2 (Geankoplis)

9|Page
Operasi Teknik Kimia 2

F. Special Case for A Diffusing Through Stagnant, Nondiffusing B


Sering terjadi difusi A stagnan atau tidak berdifusi melalui B pada keadaan steady
state. Salah satu ujung jalur difusi tidak bisa dilalui menuju komponen B. Salah satu
contoh ditunjukkan pada Gambar 1.5 adalah dalam penguapan cairan murni seperti
benzena (A) di dasar tabung sempit, dimana sejumlah besar udara inert atau
komponen (B) yang tidak berdifusi dilewatkan dari atas. Uap benzena (A) berdifusi
melalui udara (B) di dalam tabung. Batas pada permukaan cair pada titik 1 tidak dapat
dilewati udara karena udara tidak dapat larut dalam cairan benzena. Oleh karena itu,
udara (B) tidak dapat berdifusi ke atau dari permukaan. Pada titik 2 tekanan parsial
pA2 = 0 karena volume udara yang lewat besar.

Gambar 1.5 Difusi A stagnan atau tidak berdifusi melalui B: (a) benzena yang
menguap menjadi udara, (b) amonia di udara diserap ke dalam air

Contoh lain yang ditunjukkan pada gambar terjadi pada penyerapan uap NH3 (A) yang
berada di udara (B) oleh air. Permukaan air tidak tiak dapat dilewati udara karena
hanya sedikit udara yang larut dalam air. Jadi, karena B tidak dapat berdifusi, NB = 0.

Untuk mendapatkan kasus difusi A stagnan atau tidak berdifusi melalui B, NB = 0


Persamaan umum diganti menjadi
dxA cA
NA = -cDAB + (NA +0) … … … . … … … … … … … … … 1.27)
dz c
tekanan total P konstan, subtitusi c = P/RT, pA = x A.P, dan cA/c = pA/P menjadi
persamaan 1.28
DAB dpA pA
NA = - + NA ………………..……………………….…1.28)
RT dz P
disusun kembali dan dintegrasi
p DAB dpA
NA (1 - A ) = - … … … … … . … … … … … … … .1.29)
P RT dz
z2
DAB pA2 dpA
NA ∫ dz = - ∫ ………………..…………………1.30)
z1 RT p 1- pA ⁄P
A1
DAB .P P - pA2
NA = ln …………………...………..………1.31)
RT (z2 - z1 ) P - pA1
Persamaan (1.31) adalah persamaan akhir yang digunakan untuk menghitung fluks
A. Namun, sering ditulis dalam bentuk lain sebagai berikut. Nilai log mean dari inert

10 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

B didefinisikan sebagai berikut. Karena P = pA1 + pB1 = pA2 + pB2, pB1 = P - pA1, dan pB2 =
P - pA2
pB2 - pB1 pA1 - pA2
pBM = = … … … … … … … .1.32)
ln (pB2 ⁄pB1 ) ln[(P - pA2 )⁄(P - pA1 )]
Substitusi persamaan 1.32 ke persamaan 1.31
DAB .P
NA = (p -p )………………………..………1.33)
RT (z2 - z1 )pBM A1 A2

Contoh Soal 6.2-2 : Diffusion of Water through Stagnant, non Diffusing Air
Air di dasar tabung logam yang sempit ditahan pada suhu konstan 293 K. Tekanan
total udara (diasumsikan kering) adalah 1,01325 x 105 Pa (1,0 atm) dan suhunya
adalah 293 K (20oC). Air menguap dan berdifusi melalui tabung udara dan jalur difusi
z2 - z1 adalah 0,1524 m (0,5 ft). Diagramnya mirip dengan gambar 1.5-a. Hitung laju
penguapan pada kondisi steady state dalam kg.mol/s.m 2. Difusivitas uap air pada
tekanan 293 K dan 1 atm adalah 0,250 x 10-4 m2/s. Asumsikan bahwa sistem
isotermal. Gunakan unit SI.

Jawaban:
DAB = 0,250 x 10-4 m2/s

Dari Appendix A.2, tekanan uap air pada 20oC adalah 17,54 mmHg atau pA1 =
17,54/760 = 0,0231 atm . (1,01325 x 10 5) = 2,341 x 103 Pa.
pA2 = 0 (murni air)

11 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Dari Appendix A.1, nilai R adalah:


R = 8314,34 J/kg mol.K
Hitung pBM dengan persamaan 1.32:
pB1 = P - pA1 = 1 – 0,0231 = 0,9769 atm
pB2 = P - pA2 = 1 – 0 = 1 atm
pB2 - pB1 1 - 0,9769
pBM = = = 0,988 atm = 1,001 x 105 Pa
ln (pB2 ⁄pB1 ) ln(1⁄0,9769)
Dengan persamaan 1.33 nilai NA
DAB .P
NA = (p -p )
RT (z2 - z1 )pBM A1 A2
(0,25 x 10-4 )(1,01325 x 105 )(2,341 x 103 -0)
= =1,569 x 10-7 kg. mol⁄s.m2
8314,34(298)(0,1524)(1,001 x 105 )

G. Diffusion Coefficients for Gases


Beberapa data difusivitas eksperimental diberikan pada Tabel 1.1. Data lainnya
ditabulasikan di buku Perry dan Green dan Reid dkk. Nilai berkisar dari sekitar 0,05
x 10-4 m2/s, dimana untuk molekul besar sampai sekitar 1,0 x 10 -4 m2/s dengan
Hidrogen (H2) berada pada suhu kamar. Hubungan antara difusivitas dalam m 2/s dan
ft2/jam adalah 1 m2/s = 3,875 x 104 ft2/jam.

12 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 1.1 Koefisien Difusivitas Gas pada Tekanan 1 atm

Dengan menggunakan persamaan Chapman Enskog untuk memprediksi difusivitas


gas biner molekul A dan B dengan persamaan

13 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

1,8583 x 10-7 T3⁄2


1 1 1⁄2
DAB = ( + ) … … … … … … … … … 1.34)
Pσ2AB D.AB MA MB
dimana DAB difusivitas dalam m2/s, suhu T dalam K, MA berat molekul A dalam kg
massa/kg mol, MB berat molekul B, dan tekanan absolut P dalam atm. Termo AB
adalah "diameter tumbukan rata-rata" dan D,AB adalah integral tumbukan
berdasarkan potensi Lenhard-Jones. Nilai D,AB akan menjadi 1,0 untuk gas tanpa
interaksi. Persamaan 1.34 memprediksi difusivitas dengan deviasi rata-rata sekitar
8% sampai sekitar 100 K. Untuk campuran gas polar-non polar persamaan 1.34 dapat
digunakan jika konstanta gaya yang benar digunakan untuk gas polar.

Pengaruh konsentrasi A dan B pada persamaan 1.34 tidak disertakan. Namun, untuk
gas nyata dengan interaksi, konsentrasi maksimum pada difusivitas sekitar 4%.
Dalam kebanyakan kasus efeknya jauh lebih sedikit, dan karenanya biasanya
dianggap 0.

Persamaan 1.34 relatif rumit untuk digunakan dan seringkali beberapa konstanta
seperti AB tidak tersedia atau sulit untuk diperkirakan. Oleh karena itu, metode
semiempiris Fuller dkk yang jauh lebih mudah digunakan. Persamaan ini diperoleh
dengan menghubungkan banyak data terkini dan menggunakan volume atom dari
Tabel 1.2 yang dijumlahkan untuk setiap molekul gas. Persamaannya adalah
1,00 x 10-7 T1,75 (1⁄MA + 1⁄MB )1⁄2
DAB = … … … … … … … … .1.35)
P[(∑ vA )1⁄3 +(∑ vB)1⁄3 ]2
dimana vA = jumlah kenaikan volume struktur yang ada pada Tabel 1.2. dan D AB = m2/s.
Metode ini dapat digunakan untuk campuran gas nonpolar atau campuran polar-nonpolar.
Akurasinya tidak sebaik persamaan 1.34.

Tabel 1.2 Volume Difusi Atom yang digunakan untuk Metode Fuller, Schettler, dan
Gidding

14 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Persamaan ini menunjukkan DAB sebanding dengan 1/P dikali T1,75. Jika nilai
eksperimen DAB diberikan pada T dan P tertentu, jika diinginkan untuk mencari nilai
DAB pada T dan P yang lain, maka diperlukan nilai T dan P yang baru dengan hubungan
DAB  T1,75/P.

Contoh Soal 6.2-5 : Estimasi difusivitas campuran gas


Normal butanol (A) berdifusi melalui udara (B) pada 1 atm abs. Dengan menggunakan
metode Fuller dkk, perkirakan DAB difusivitas untuk suhu berikut dan bandingkan
dengan data eksperimen.
a) untuk 0oC
b) untuk 25,9oC
c) untuk 0oC dan 2,0 atm absolut
Jawaban:
a) P = 1,00 atm, T = 273 + 0 = 273 K
MA butanol (C4H9OH) = berat molekul butanol = 74,1 kg/kg mol
MB udara = berat molekul udara = 29 kg/kg mol
Dari Tabel 1.2, maka

vA = (4 x 16,5) + (10 x 1,98) + (1 x 5,48) = 91,28 (butanol)


vB = 20,1 (udara)
Dengan menggunakan persamaan 1.35 maka

15 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

1,0 x 10-7 (273)1,75 (1⁄74,1+ 1⁄29)1⁄2


DAB = =7,701 x 10-6 m2 ⁄s
1[(91,28)1⁄3 +(20,1)1⁄3 ]2
Hasil ini menyimpang 9,5% dari nilai eksperimen yaitu 7,03 x 10-6 m2/s yang bisa dilihat
dari Tabel 1.1.

b) T = 25,9 + 273 = 298,9 K. Sehingga


1,0 x 10-7 (298,9)1,75 (1⁄74,1+ 1⁄29)1⁄2
DAB = =9,025 x 10-6 m2 ⁄s
1[(91,28)1⁄3 +(20,1)1⁄3 ]2
Hasil ini menyimpang +3,6% dari nilai eksperimen yaitu 8,70 x 10-6 m2/s.

c) P = 2,0 atm dengan menggunakan data pada point a. Sehingga


1,0 x 10-7 (273)1,75 (1⁄74,1+ 1⁄29)1⁄2
DAB = =3,851 x 10-6 m2 ⁄s
2,0[(91,28)1⁄3 +(20,1)1⁄3 ]2

Tugas Pertemuan Minggu ke – 3 : Problems Nomor 6.2.4 dan 6.2.6 (Geankoplis)

16 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

H. Equations for Diffusion in Liquids


Difusi zat terlarut dalam cairan sangat penting dalam banyak proses industri,
terutama dalam operasi pemisahan seperti ekstraksi cair-cair atau ekstraksi pelarut,
absorpsi, dan distilasi. Difusi cairan juga terjadi dalam banyak situasi di alam, seperti
oksigenasi sungai dan danau oleh udara dan difusi garam dalam darah.

Difusi molekuler dalam cairan jauh lebih lambat dari pada gas. Molekul dalam cairan
sangat berdekatan satu sama lain dibandingkan dengan gas. Oleh karena itu, molekul
zat terlarut A akan berbenturan dengan molekul cairan B lebih sering dan berdifusi
lebih lambat daripada gas. Secara umum, koefisien difusi dalam gas akan berada di
urutan besarnya sekitar 105 kali lebih besar dari pada cairan. Namun, fluks dalam gas
tidak begitu cepat, hanya sekitar 100 kali lebih cepat karena konsentrasi cairan lebih
tinggi daripada gas.

Kerapatan dan ketahanan terhadap difusi dalam cairan jauh lebih besar pada molekul
digabungkan dalam cairan daripada dalam gas,. Selain itu, karena jarak molekul yang
lebih dekat, kekuatan tarik antara molekul memainkan peran penting dalam difusi.
Persamaan untuk difusi dalam cairan sama dengan gas.

Dalam difusi cairan, perbedaan penting dari difusi dalam gas adalah bahwa difusivitas
seringkali sangat bergantung pada konsentrasi komponen difusi.

1. Equimolar counterdiffusion
Dimulai dengan persamaan umum 1.25, persamaan equimolar counterdiffusion
dimana NA = -NB, persamaan yang mirip dengan persamaan 1.8 untuk gas pada
keadaan steady state.
DAB (cA1 -cA2 ) DAB cav (xA1 -xA2 )
NA = = … … … … … … … .1.36)
z2 -z1 z2 -z1
dimana NA adalah fluks A dalam kg mol A/s.m2, DAB difusivitas A dalam B dalam m2/s,
CA1 konsentrasi A dalam kg mol A/m3 pada titik 1, xA1 fraksi mol A pada titik 1 dan cav
ditentukan oleh
ρ ρ ρ
cav = ( ) = ( 1 + 2 )⁄2…………….……………….1.37)
M av M1 M2
dimana cav adalah konsentrasi total rata-rata A + B dalam kg mol/m3, M berat
molekul rata-rata larutan pada titik 1 dalam kg massa/kg mol dan 1 adalah densitas
rata-rata larutan dalam kg/m3 pada titik 1.

Persamaan 1.36 menggunakan nilai rata-rata DAB yang bervariasi dengan beberapa
konsentrasi dan nilai rata-rata c yang juga dapat bervariasi dengan konsentrasi.
Biasanya rata-rata linear c digunakan pada persamaan 1.37. Kasus equimolar
counterdiffusion pada persamaan 1.36 sangat jarang terjadi pada cairan.

2. Diffusing of A through non diffusing B


Difusi cairan yang paling penting adalah dimana zat terlarut A berdifusi dan pelarut
B stagnan atau tidak berdifusi. Contohnya adalah larutan encer dari asam propionat
(A) dalam larutan air (B) yang dikontakkan dengan toluena. Hanya asam propionat
(A) yang berdifusi melalui fasa air ke batas dan kemudian ke fase toluena. Antarmuka
air toluena adalah penghambat difusi B dan NB = 0. Kasus semacam itu sering terjadi
di industri. Jika persamaan 1.33 ditulis ulang dalam hal konsentrasi dengan

17 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

mengganti cav = P/RT, cA1 = pA1/RT dan xBM = pBM/P, diperoleh persamaan untuk cairan
pada keadaan steady state.
DAB cav
NA = (x - x )…………………….…………….1.38)
(z2 - z1 )xBM A1 A2
dimana
xB2 - xB1
xBM = … … … … … … … … … … … … … .1.39)
ln(xB2 ⁄xB1 )
dimana xA1 + xB1 = xA2 + xB2 =1. Untuk larutan encer xBM mendekati 1 dan c dasarnya
konstan. Persamaan 1.38 disederhanakan menjadi
DAB (cA1 -cA2 )
NA = ……………………………………………1.40)
z2 -z1
Contoh Soal 6.3-1 : Difusi Etanol (A) melalui Air (B)
Larutan etanol (A) air (B) dalam bentuk lapisan tipis film stagnan 2 mm pada suhu
293 K berada dalam kontak di satu permukaan dengan pelarut organik dimana etanol
larut dan air tidak dapat larut. Oleh karena itu, N B = 0. Pada titik 1 konsentrasi etanol
adalah 16,8% dan densitas larutannya adalah 1 = 972,8 kg/m3. Pada titik 2
konsentrasi etanol adalah 6,8 wt% dan 2 = 988,1 kg/m3. Difusivitas etanol adalah
0,740 x 10-9 m2/s. Hitung fluks NA dalam kondisi steady state.

Jawaban:
Difusivitas, DAB = 0,740 x 10-9 m2/s. Berat molekul A dan B MA = 46,05 dan MB = 18,02.
Fraksi mol etanol (A) pada titik 2 dengan konsentrasi etanol 6,8% dan bila umpan
100 kg larutan
%fraksi mol A⁄MA
xA2 =
(%fraksi mol A⁄MA )+((100% - %fraksi mol A)⁄MB )
6,8⁄46,05 0,1477
xA2 = = =0,0277
6,8⁄46,05 + ((100-6,8))⁄18,02 0,1477+5,17
xB2 = 1- xA2 = 1 – 0,0277 = 0,9723

pada titik 1
%fraksi mol A⁄MA
xA1 =
(%fraksi mol A⁄MA )+((100% - %fraksi mol A)⁄MB )
16,8⁄46,05 0,365
xA1 = = =0,0732
16,8 ⁄46,05 + ((100 − 16,8))⁄18,02 0,365+4,617
xB1 = 1- xA1 = 1 – 0,0732 = 0,9268

berat molekul pada titik 2


m
M2 =
(%fraksi mol A MA ) + (%fraksi mol B⁄MB )

100 kg
M2 = =18,75 kg⁄kg mol
(0,1477+5,17)kg mol

berat molekul pada titik 1


m
M1 =
(%fraksi mol A⁄MA ) + (%fraksi mol B⁄MB )
100 kg
M1 = =20,07 kg⁄kg mol
(0,365+4,617)kg mol

18 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

dari persamaan 1.37


ρ1 ⁄M1 + ρ2 ⁄M2
cAV =
2
972,8⁄20,07 + 988,1⁄18,75
cAV = = 50,6 kg mol⁄m3
2
karena nilai xB1 dan xB2 berdekatan, maka dapat digunakan persamaan linear untuk
menghitung nilai xBM
xB1 +xB2 0,9268+0,9723
xBM = = =0,949
2 2
sesuai persamaan 1.38 dengan z2 – z1 = 2 mm = 0,002 m
DAB cav
NA = (x - x )
(z2 - z1 )xBM A1 A2
(0,74 x 10-9 )(50,6)(0,0732-0,0277)
NA = = 8,98 x 10-7 kg mol⁄s.m2
0,002 (0,949)

I. Prediction of Diffusivities in Liquids


Data difusivitas eksperimental untuk campuran biner dalam fasa cair ditampilkan
dalam Tabel 1.3. Semua data adalah untuk larutan encer difusi zat terlarut dalam
pelarut. Difusivitas dalam cairan seringkali bervariasi tergantung konsentrasi. Oleh
karena itu, nilai pada Tabel 1.3 harus digunakan secara hati-hati apabila bukan
larutan encer. Seperti data dalam Tabel 1.3, nilai difusivitasnya cukup kecil dan
berkisar antara 0,5 x 10-9 sampai 5 x 10-9 m2/s untuk cairan yang relatif nonviskos.
Difusivitas dalam gas lebih besar dengan faktor 104 sampai 105.

19 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 1.3 Koefisien Difusivitas untuk Larutan Cair Encer

Persamaan untuk memprediksi difusivitas zat terlarut dalam cairan adalah dengan
pendekatan semiemperis, karena teori difusi cairan belum mapan. Persamaan Stokes
- Einstein, salah satu teori pertama, diturunkan untuk molekul spherical yang sangat
besar (A) yang menyebar dalam molekul kecil pelarut cair (B). Hukum Stokes
digunakan untuk menggambarkan hambatan pada molekul zat terlarut yang
bergerak. Kemudian persamaan tersebut dimodifikasi dengan mengasumsikan
bahwa semua molekul sama dan diatur dalam kisi kubik dan dengan
mengekspresikan jari-jari molekuler dalam hal volume molar.
9,96 x 10-16 T
DAB = … … … … … … … … … … … … . .1.41)
μ.V1A⁄3
dimana DAB adalah difusivitas m2/s, T adalah suhu dalam K, µ adalah viskositas
larutan dalam Pa.s atau Kg/m.s, dan v A adalah volume molar terlarut pada titik didih
normal dalam m3/kg mol. Persamaan ini berlaku untuk molekul unhidrat dan
spherical yang sangat besar seperti sekitar 1000 molekul atau lebih atau di mana v A
di atas sekitar 0,500 m3/kg mol dalam larutan cairan.

20 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Untuk volume molar terlarut yang lebih kecil, persamaan 1.41 tidak bisa digunakan.
Beberapa turunan teoritis lainnya telah dicoba, namun persamaan tersebut tidak
memprediksi kecocokan dengan sangat akurat. Oleh karena itu, sejumlah ekspresi
semitheoretis telah dikembangkan. Korelasi Wilke-Chang dapat digunakan untuk
tujuan umum dimana zat terlarut (A) diencerkan dalam pelarut (B)
T
DAB =1,173 x 10-16 (φMB )1⁄2 … … … … … . . … … .1.42)
μB V0,6
A
dimana MB adalah berat molekul pelarut B, µB adalah viskositas B dalam Pa atau
Kg/m.s, vA adalah volume molar terlarut pada titik didih yang dapat diperoleh dari
Tabel 1.4 dan merupakan "parameter asosiasi" dari pelarut, dimana nilai  adalah 2,6
untuk air, 1,9 metanol, 1,5 etanol, 1,0 benzena, 1,0 eter, 1,0 heptana, dan 1,0 pelarut
tak berasosiasi lainnya. Bila nilai vA di atas 0,500 m3/kg mol (500 cm3/g mol)
sebaiknya digunakan Persamaan 1.41.

Tabel 1.4 Volume Atom dan Volume Molar pada Titik Didih Normal

21 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Bila air adalah zat terlarut, nilai dari persamaan 1.42 harus dikalikan dengan faktor
1/2,3. Persamaan 1.42 memprediksi difusivitas dengan deviasi rata-rata 10-15%
untuk larutan cairan dan sekitar 25% pada non larutan cairan . Di luar kisaran 278 -
313 K, persamaan harus digunakan dengan hati-hati. Untuk air sebagai zat terlarut,
persamaan oleh Reddy dan Doraiswamy lebih disukai. Skelland merangkum korelasi
yang tersedia untuk sistem biner. Geankoplis membahas dan memberikan sebuah
persamaan untuk memprediksi difusi dalam sistem terner, dimana zat terlarut A
tersebar dalam campuran pelarut B dan C. Kasus ini sering terjadi dalam proses
industri.

Contoh Soal 6.3-2 : Prediksi Difusivitas Cairan


Prediksi difusivitas Aseton (CH3COCH3) dalam air pada 25oC dan 50oC menggunakan
Persaman Wilke-Chang. Data percobaan adalah 1,28 x 10-9 m2/s pada suhu 25oC (298
K).

Jawaban:
Dari Appendix A.2, viskositas air pada suhu 25oC adalah µB = 0,8937 x 10-3 Pa.s dan
pada 50oC adalah µB = 0,5494 x 10-3 Pa.s.

Dari Tabel 1.4 CH3COCH3 dengan 3 atom Carbon + 6 atom Hidrogen + 1 atom oksigen
VA = 3 (0,0148) + 6(0,0037) + 1(0,0074) = 0,0740 m3/kg mol

22 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Parameter asosiasi air  = 2,6 dan MB = 18,02 kg/kg mol. Saat T = 25oC = 298 K,
substitusi Persamaan 1.42
T
DAB = 1,173 x 10-16 (φMB )1⁄2
μBV0,6
A
-16 298
DAB = 1,173 x 10 (2,6 x 18,02)1⁄2
(0,8937 𝑥 10−3 )(0,0740)0,6
= 1,277 x 10-9 m2 ⁄s
Saat T = 50oC = 323 K
323
DAB = 1,173 x 10-16 (2,6 x 18,02)1⁄2
(0,5494 𝑥 10−3 )(0,0740)0,6
-9 2
= 2,251 x 10 m ⁄s

Elektrolit dalam larutan seperti KCl terdisosiasi menjadi kation dan anion dan
berdifusi lebih cepat daripada molekul yang tidak terdisosiasi karena ukurannya yang
kecil. Koefisien difusi dapat diestimasi dengan menggunakan konduktansi ionik pada
pengenceran tak terbatas dalam air. Baik ion negatif maupun bermuatan positif
berdifusi pada tingkat yang sama sehingga netralitas listrik dipertahankan.

Tugas Pertemuan Minggu ke – 4 : Problems Nomor 6.3.1 dan 6.3.3 (Geankoplis)

23 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

J. Diffusion in Solids Following Fick’s Law


1. Penurunan persamaan
Kecepatan difusi padatan dalam padatan lebih lambat dibandingkan kecepatan difusi
gas dan difusi cairan, perpindahan massa dalam bentuk padat sangat penting dalam
proses kimia dan biologi. Beberapa contohnya adalah leaching makanan, seperti
kedelai, dan bijih logam; pengeringan kayu, garam, dan makanan; reaksi difusi dan
katalitik dalam katalis padat; pemisahan cairan dengan membran; difusi gas melalui
film polimer yang digunakan dalam kemasan dan pengolahan logam pada suhu tinggi
oleh gas.

Difusi dalam fase padatan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu difusi yang dianggap
mengikuti hukum Fick dan tidak bergantung terutama pada struktur aktual padatan,
dan difusi pada padatan berpori dimana struktur aktual dan saluran void penting.

Jenis difusi padatan tidak bergantung pada strutur padatan sebenarnya. Difusi terjadi
ketika cairan atau zat terlarut berdifusi benar-benar dilarutkan dalam padatan untuk
membentuk larutan yang lebih atau kurang homogen - misalnya dalam pencucian,
dimana zat padat mengandung sejumlah besar air dan zat terlarut yang berdifusi
melalui larutan atau di dalam larutan difusi seng melalui tembaga. Juga, difusi
nitrogen atau hidrogen melalui karet atau dalam beberapa kasus difusi air dalam
bahan makanan dapat diklasifikasikan disini karena persamaan tipe serupa dapat
digunakan.

Umumnya persamaan sederhana yang digunakan adalah persamaan umum untuk


difusi biner
dxA cA
NA = -cDAB + (NA +NB )…………………….……………….1.43)
dz c
aliran bulk (cA/c)(NA + NB) biasanya bernilai kecil. Karena cA/c atau xA cukup kecil
biasanya diabaikan. Nilai c diasumsikan konstan untuk difusi dalam padatan
DAB dcA
NA = - … … … … … … … … … … … … … … . … . .1.44)
dz
dimana DAB difusivitas dalam m2/s dari A sampai B dan biasanya diasumsikan konstan
terlepas dari tekanan padatan. Perhatikan bahwa DBA  DAB dalam padatan.

Integrasi persamaan 1.44 untuk pelat padatan pada keadaan steady state
DAB (cA1 - cA2 )
NA = ………………………....……………………..1.45)
(z2 - z1 )

Untuk kasus difusi secara radial melalui dinding silinder jari-jari dalam r1 dan jari-jari
luar r2 dan panjang L
̅A
N dcA
= -DAB …………………..…………….……………….1.46)
2πrL dr
2πL
̅ A =DAB (cA1 -cA2 )
N ……………………….………………..1.47)
ln(r2 ⁄r1 )

Koefisien difusi DAB dalam padatan seperti yang dinyatakan di atas tidak tergantung
pada tekanan gas atau cairan di bagian luar padatan. Misalnya, jika gas CO 2 berada di
luar lapisan karet dan berdifusi melalui karet, DAB akan terlepas dari pA, tekanan
parsial CO2 di permukaan. Kelarutan CO2 dalam padatan berbanding lurus dengan pA.

24 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Hal ini serupa dengan kasus kelarutan O 2 dalam air yang berbanding lurus dengan
tekanan parsial O2 di udara sesuai dengan Hukum Henry.

Kelarutan suatu gas terlarut (A) dalam padatan biasanya dinyatakan sebagai zat
terlarut S dalam m3 (pada STP 0oC dan 1 atm) per m3 padatan per tekanan parsial atm
(A). Juga, S = cm3(STP)/atm.cm3 padatan dalam sistem cgs. Untuk mengubahnya
menjadi konsentrasi cA dalam padatan dalam kg mol A/m3 dengan menggunakan
satuan SI
S m3 (STP)⁄m3 solid.atm SpA kg mol A
cA = 3 pA atm = …………….1. 48)
22,414 m (STP)⁄kg mol A 22,414 m3 solid
dalam unit cgs
S.pA g mol A
cA = …………………………………………….1.49)
22414 cm3 solid

Contoh Soal 6.5.1 : Difusi H2 melalui Membran Neoprene


Gas Hidrogen pada suhu 17oC dan tekanan parsial 0,010 atm berdifusi melalui
membran karet neoprene vulkanisasi dengan ketebalan 0,5 mm. Tekanan H 2 diluar
neoprene adalah 0. Hitung flux pada keadaan steady state, dengan asumsi bahwa
satu-satunya resistensi terhadap difusi ada di dalam membran. Kelarutan (S) gas H2
dalam neoprene pada suhu 17oC adalah 0,051 m 3 (pada STP 0oC dan 1 atm)/m3
padatan.atm dan difusivitas DAB adalah 1,03 x 10-10 m2/s pada suhu 17oC.

Jawaban:
Sketsa pada Gambar 1.6 menampilkan konsentrasi. Kesetimbangan konsentrasi cA1 di
dalam permukaan karet sesuai dengan Persamaan 1.48.

Gambar 1.6 Konsentrasi

S 0,051.(0,010)
cA1 = pA1 = =2,28 x 10-5 kg mol H2 ⁄m3 solid
22,414 22,414
karena pA2 pada sisi lain adalah 0, maka cA2 adalah 0. z2 = 0,5 mm = 0,0005 m.
Substitusi ke persamaan 1.45
DAB (cA1 - cA2 )
NA =
(z2 - z1 )
(1,03 𝑥 10−10 )(2,28 𝑥 10−5 − 0)
= =4,69 x 10-12 kg mol H2 ⁄s.m2
(0,0005 − 0)

25 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

2. Persamaan permeabilitas untuk difusi dalam padatan


Dalam banyak kasus, data eksperimen untuk difusi gas dalam padatan tidak diberikan
sebagai difusivitas dan kelarutan tetapi sebagai permeabilitas, P M dalam m3 gas
terlarut A pada tekanan STP (0oC dan 1 atm) difusi per detik per m 2 luas penampang
melintang melalui padatan tebal 1 m dibawah tekanan tekanan 1 atm. Hal ini dapat
dikaitkan dengan persamaan Fick (1.45) sebagai berikut
DAB (cA1 - cA2 )
NA = ……………..……………………….……..1.45)
(z2 - z1 )
Dari persamaan 1.48
S.pA1 S.pA2
cA1 = cA2 = … … … … … … … … . .1.50)
22, 414 22, 414
Substitusi Persamaan 1.50 ke Persamaan 1.45
DAB . S (pA1 - pA2 ) PM (pA1 - pA2 )
NA = = kg mol⁄s.m2 ………..1.51)
22,414 (z2 - z1 ) 22,414 (z2 - z1 )
Dimana permeabilitas PM adalah
m3 (STP)
PM = DAB .S … … … … … … … … . … … . .1.52)
s.m2 C.S. atm⁄m
Permeabilitas juga diberikan dalam literatur dengan beberapa cara lain. Untuk sistem
cgs, permeabilitas diberikan sebagai P'M, cc(STP)/(s.cm2C.S.atm/cm). Hal ini terkait
dengan PM
PM = 10-4 P’M……………………………………..…………..1.53)
Dalam beberapa kasus dalam literatur, permeabilitas diberikan sebagai ketebalan
P"M, cc(STP)/(s.cm2C.S.cmHg/mm). Hal ini terkait dengan PM
PM = 7,6 x 10-4 P”M………………………………..…………..1.54)
Bila ada beberapa padatan 1, 2, 3, ,,,, secara seri dan L 1, L2, ..., mewakili ketebalan
masing-masing, maka persamaan menjadi
p -p 1
NA = A1 A2 …………………….………1.55)
22,414 L1 ⁄PM1 + L2 ⁄PM2 +…
dimana pA1 - pA2 adalah perbedaan tekanan parsial secara keseluruhan.

3. Percobaan difusivitas, kelarutan, dan permeabilitas


Prediksi yang akurat dari difusivitas dalam padatan umumnya tidak dimungkinkan
karena kurangnya pengetahuan tentang teori keadaan padatan. Oleh karena itu
diperlukan nilai eksperimen adalah. Beberapa data eksperimental untuk difusivitas,
kelarutan, dan permeabilitas diberikan pada Tabel 1.5 untuk difusi gas dalam padatan
dan difusi padatan dalam padatan.

Untuk gas sederhana seperti He, H2, O2, N2, dan CO2 dengan tekanan gas sampai 1 atau
2 atm, kelarutan dalam padatan seperti polimer dan gelas umumnya mengikuti
hukum dan persamaan Henry. Juga untuk gas-gas ini, difusivitas dan permeabilitas
saling bergantung pada konsentrasi dan tekanan. Untuk efek suhu T dalam K, maka
PM kira kira fungsi linear 1/T. Juga difusi gas, katakanlah H 2 rata-rata bebas dari gas
lain yang ada, seperti O2 dan N2.

Untuk logam seperti Ni, Cd, dan Pt, dimana difusivitas gas seperti H 2 dan O2 ditemukan
secara eksperimental bahwa fluks rata-rata sebanding dengan (√pA1 -
√pA2 ) sehingga Persamaan 1.51 tidak dapat digunakan. Ketika air berdifusi melalui

26 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

polimer, tidak seperti gas sederhana, PM mungkin agak bergantung pada perbedaan
tekanan relatif. Data lebih lanjut tersedia dalam monograf Crank dan Park dan Barrer.

Tabel 1.5 Difusivitas dan Permeabilitas Padatan

Contoh Soal 6.5-2 : Difusi melalui film menggunakan permeabilitas


Sebuah lapisan film polietilena dengan tebal 0,00015 m (0,15 mm) sedang
dipertimbangkan untuk digunakan dalam mengemas produk farmasi pada suhu 30 oC.
Jika tekanan parsial O2 diluar adalah 0,21 atm dan didalam kemasannya adalah 0,01
atm, hitunglah difusi fluks O2 pada kondisi steady state. Gunakan data permeabilitas
dari Tabel 1.5. Asumsikan bahwa hambatan terhadap difusi diluar film dan
didalamnya dapat diabaikan dibandingkan dengan ketahanan film.

Jawaban:
Dari Tabel 1.5 PM = 4,17 x 10-12 m2 terlarut(STP)/(S.m2.atm/m). Substitusi ke
persamaan 1.51

27 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

PM (pA1 - pA2 ) 4,17 x 10-12 (0,21-0,01)


NA = = =2,48 x 10-10 kg mol⁄s.m2
22,414 (z2 - z1 ) 22,414 (0,00015 - 0)
Lapisan film yang terbuat dari nilon memiliki nilai permeabilitas P M yang jauh lebih
kecil dari O2 dan akan membuat hambatan yang lebih sesuai.

K. Diffusion in Porous Solids that Depends on Structure


1. Difusi cairan dalam padatan berpori
Dalam bagin ini akan dipelajari padatan berpori yang memiliki pori-pori atau void
yang saling berhubungan dalam padatan yang mempengaruhi difusi. Penampang
melintang seperti padatan berpori khas ditunjukkan pada Gambar 1.7.

28 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 1.7 Sketsa padatan berpori

Untuk situasi dimana void diisi sepenuhnya dengan air, konsentrasi garam dalam air
pada batas 1 adalah cA1 dan pada titik 2 adalah cA2. Garam yang berdifusi melalui air
dalam volume void membutuhkan jalur berliku yang tidak diketahui dan lebih besar
dari (z2 - z1) oleh suatu faktor , yang disebut tortuosity. Difusi tidak terjadi pada
padatan inert. Untuk larutan encer menggunakan Persamaan 1.40 untuk difusi garam
dalam air pada keadaan steady state.
DAB (cA1 - cA2 )
NA = …………………………………1.56)
(z2 - z1 )
dimana  adalah fraksi void terbuka, DAB adalah difusivitas garam dalam air, dan
merupakan faktor yang mengoreksi (z2 - z1). Untuk padatan jenis inert  dapat
bervariasi dari sekitar 1,5 sampai 5. Seringkali digabungkan menjadi difusivitas
efektif.
ε
DA eff = DAB m2 ⁄s …………………..1.57)
τ

Contoh Soal 6.5-3 : Difusi KCl dalam silika berpori


Padatan tebal silika 2,0 mm berpori dengan fraksi void  adalah 0,30 dan tortuositas
 adalah 4,0. Pori-pori diisi dengan air pada 298 K. Pada satu bagian konsentrasi KCl
ditahan pada 0,10 g mol/liter dan air mengalir dengan cepat pada bagian yang lain.
Hitunglah difusi KCl pada keadaan steady state dengan mengabaikan penghambat
yang lainnya.
Jawaban:
Difusivitas KCl dari Tabel 1.5 adalah DAB = 1,87 x 10-9 m2/s. cA1 = 0,10/1000 = 1,0 x 10-
4 g mol/cm3 = 0,1 kg mol/m3, c
A2 = 0, dan z2 = 2 mm/1000 = 0,002 m. Substitusi ke
Persamaan 1.56
DAB (cA1 - cA2 ) 0,30(1,87 x 10-9 )(0,1-0)
NA = = =7,01 x 10-9 kg mol KCl⁄s.m2
(z2 - z1 ) (0,002-0)

2. Difusi gas dalam padatan berpori


Jika void yang ditunjukkan pada Gambar 1.7 dipenuhi dengan gas, maka ada situasi
yang agak mirip. Jika pori-pori sangat besar sehingga difusi hanya terjadi oleh difusi
tipe Fickian, maka persamaan 1.56 menjadi, untuk gas

29 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

DAB (cA1 - cA2 ) DAB (pA1 - pA2 )


NA = = …………………………………1.58)
(z2 - z1 ) RT(z2 - z1 )
Sekali lagi nilai tortuosity harus ditentukan secara eksperimental. Difusi diasumsikan
hanya terjadi melalui rongga atau pori-pori dan tidak melalui partikel padat yang
sebenarnya.

Sebuah korelasi tortuosity versus fraksi void dari berbagai media berpori yang tidak
digabungkan dengan media bola kaca, pasir, garam dan seterusnya memberikan
perkiraan nilai  yang berbeda dari  = 0,2,  = 2,0 ;  = 0,4,  = 1,75 ;  = 0,6,  = 1,65.

Tugas Pertemuan Minggu ke – 5 : Problems Nomor 6.5.1 dan 6.5.3 (Geankoplis)

4. Rangkuman
a. Flux molar
DAB (pA1 - pA2 )
J*AZ =
RT( z2 - z1 )
b. Laju difusi
DAB .P
NA = (p -p )
RT (z2 - z1 )pBM A1 A2
c. Persamaan Fuller untuk menghitung difusivitas
1,00 x 10-7 T1,75 (1⁄MA + 1⁄MB )1⁄2
DAB =
P[(∑ vA )1⁄3 +(∑ vB)1⁄3 ]2
d. Laju diffusing of A through non diffusing B
DAB cav
NA = (x - x )
(z2 - z1 )xBM A1 A2
e. Korelasi Wilke Chang untuk memprediksi koefisien difusivitas
T
DAB =1,173 x 10-16 (φMB )1⁄2
μBV0,6A
f. Permeabilitas
PM = DAB .S
g. Laju difusi dengan Permeabilitas diketahui
DAB . S (pA1 - pA2 ) PM (pA1 - pA2 )
NA = = kg mol⁄s.m2
22,414 (z2 - z1 ) 22,414 (z2 - z1 )
h. Laju difusi dalam padatan berpori
DAB (cA1 - cA2 )
NA =
(z2 - z1 )

5. Pertanyaan/Diskusi
a. Geankoplis : Problems Nomor 6.1-1 dan 6.1-2.
b. Geankoplis : Problems Nomor 6.2.2
c. Geankoplis : Problems Nomor 6.2.4 dan 6.2.6
d. Geankoplis : Problems Nomor 6.3.1 dan 6.3.3
e. Geankoplis : Problems Nomor 6.5.1 dan 6.5.3

30 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB II
PRINSIP KESEIMBANGAN
1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a. Perpindahan massa antarfasa
b. Teori lapisan film
c. Prinsip keseimbangan
d. Keseimbangan gas-cair, padat-cair, cair-cair, gas-padat

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami prinsip keseimbangan

3. Isi materi perkuliahan


A. Perpindahan Massa Antarfasa
1. Definisi Koefisien Transfer Massa
Untuk transfer massa turbulen untuk konstanta c, persamaan 2.1 adalah
dcA
J*A = -(DAB + εM ) … … … … … … … … … … … … … .2.1)
dz
di mana DAB adalah difusivitas molekul dalam m2/s dan M adalah difusivitas massa
eddy dalam m2/s. Nilai M adalah variabel dan mendekati nol pada antarmuka atau
permukaan dan meningkat ketika jarak dari dinding meningkat. Kemudian digunakan
nilai rata - rata M karena variasi M umumnya tidak diketahui. Mengintegrasikan
Persamaan 2.1 antara titik 1 dan 2.
DAB + ε̅M
J*A1 = (cA1 - cA2 )………………………………….2.2)
z2 - z1
Fluks J*A1 didasarkan pada luas permukaan A1 karena luas penampang dapat
bervariasi. Nilai z2 - z1 sering tidak diketahui. Oleh karena itu, persamaan
disederhanakan dan ditulis menggunakan transfer massa konvektif koeefisien k'c.
J*A1 = k'c (cA1 - cA2 )………….………………………….2.3)
Dimana J*A1 adalah fluks A dari permukaan A1 relatif terhadap seluruh fasa massal, k'c
adalah (DAB + M)/(z2 - z1) koefisien perpindahan massa eksperimental dalam kg
mol/s.m2 (kg mol/m3) atau disederhanakan sebagai m/s dan cA2. Persamaan ini
mendefinisikan koefisien perpindahan massa konvektif k'c yang sangat mirip dengan
koefisien perpindahan panas konvektif h.

2. Koefisien transfer massa untuk equimolar counterdiffusion


Untuk NA, fluks A relatif terhadap koordinat stasioner dan bisa dimulai dengan yang
mirip dengan difusi molekuler dengan menambahkan M
dxA
NA =-c (DAB + εM ) + xA (NA + NB )………………..2.4)
dz
Untuk kasus equimolar counterdiffusion, dimana NA = -NB, dan integrasi pada kondisi
steady state, dengan k'c = (DAB + ε̅M)/(z2 - z1),
NA = k'c (cA1 - cA2 )………….………………………….2.5)
Persamaan 2.5 adalah persamaan yang menentukan koefisien perpindahan massa.
Konsentrasi cairan didefinisikan dalam bentuk fraksi mol dan konsentrasi gas
didefinisikan dalam bentuk tekanan parsial. Oleh karena itu, koefisien transfer massa
dapat didefinisikan dalam beberapa cara. Jika yA adalah fraksi mol dalam fasa gas dan

31 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

xA dalam fasa cair, maka persamaan 2.5 dapat ditulis sebagai berikut untuk
menghitung equimolar counterdiffusion.
Gas : NA = k’c (cA1 – cA2) = k’G (pA1 – pA2) = k’y (yA1 – yA2)…………………2.6)
Cairan : NA = k’c (cA1 – cA2) = k’L (cA1 – cA2) = k’x (xA1 – xA2)………………..2.7)
Semua koefisien perpindahan massa ini dapat dihubungkan satu sama lain. Misalnya,
menggunakan Persamaan 2.6 dan mengganti yA1 = cA1/c dan yA2 = cA2/c ke dalam
persamaan
' ' ' cA1 cA2 k'y
NA = kc (cA1 - cA2 ) = ky (yA1 - yA2 ) = ky ( - ) = (cA1 - cA2 ) … … … … 2.8)
c c c
karena
k'y
k'c = … … … … … … … … … … … … … . … … … 2.9)
c
Hubungan - hubungan antara koefisien perpindahan massa, dan berbagai persamaan
fluks, ditampilkan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Hubungan - hubungan antara koefisien perpindahan massa dan berbagai
persamaan fluks

32 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

3. Koefisien transfer massa untuk A yang berdifusi secara stagnan dan B yang tidak
berdifusi
Untuk A secara stagnan, dan B yang tidak berdifusi, dimana N B = 0. Persamaan 2.4
untuk keadaan steady state
k'c
NA = (c - c ) = kc (cA1 - cA2 ) … … … … … … … .2.10)
xBM A1 A2
dimana xBM dan bagian counternya yBM sama dengan persamaan 1.32 dan kc adalah
koefisien perpindahan massa untuk A menyebar secara stagnan melalui B.
xB2 - xB1 yB2 - yB1
xBM = yBM = … … … … … … 2.11)
ln (xB2 ⁄xB1 ) ln (yB2 ⁄yB1 )
Penulisan ulang Persamaan 2.10 menggunakan unit
Gas : NA = kc (cA1 – cA2) = kG (pA1 – pA2) = ky (yA1 – yA2)…………………2.12)
Cairan : NA = kc (cA1 – cA2) = kL (cA1 – cA2) = kx (xA1 – xA2)…………..………..2.13)
Semua koefisien transfer massa dapat dihubungkan satu sama lain dan ada dalam
Tabel 2.1. Misalnya, atur Persamaan 2.10 sama dengan persamaan 2.13
k'c cA1 cA2
NA = (cA1 - cA2 ) = kx (xA1 – xA2) = kx ( - ) … … … … .2.14)
xBM c c
dimana
'
k'c ky
= ………………………………….………2.15)
xBM c

Contoh soal 7.2-1 : Penguapan A dan Transfer Massa Konvektif


Gas murni B dengan volume besar pada tekanan 2 atm mengalir di atas permukaan
dari gas A murni yang menguap. Cairan A sepenuhnya membasahi permukaan, yang
merupakan kertas blotting. Oleh karena itu, tekanan parsial A di permukaan adalah
tekanan uap A pada 298 K, yaitu 0,20 atm. k'y adalah 6,78 x 10-5 kg mol/s.m2 mol frac.
Hitung NA, tingkat penguapan, dan juga nilai ky dan kG.

Jawaban:
A berdifusi melalui B, dimana fluks B normal ke permukaan adalah nol, karena B tidak
larut dalam cairan A. pA1 = 0,20 atm dan pA2 = 0 dalam gas murni B. yA1 = pA1/P =
0,20/2,0 = 0,10 dan yA2 = 0. Dengan persamaan 2.12 dengan fraksi mol
NA = ky (yA1 - yA2)
Namun, nilai k'y yang berhubungan dengan ky di Tabel 2.1
ky yBM = k'y……………………………….2.16)
yBM mirip dengan xBM dan dari persamaan 2.11
yB2 - yB1
yBM =
ln (yB2 ⁄yB1 )
yB1 = 1 - yA1 = 1 - 0,10 = 0,90 yB2 = 1 – yA2 = 1 – 0 =1,0
substitusi ke Persamaan 2.11
1,0 - 0,90
yBM = = 0,95
ln (1,0⁄0,90)
Kemudian, dari Persamaan 2.16
k'y 6,78 x 10-5
ky = = =7,138 x 10-5 kg mol⁄s.m2 .mol frac
yBM 0,95
dari Tabel 2.1
kG yBM P = ky yBM…………………………………2.17)

33 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

sehingga kG
ky 7,138 x 10-5
kG = = = 3,522 x 10-10 kg mol⁄s.m2 .Pa
P 2 x 1,01325 x 105 Pa
ky 7,138 x 10-5
kG = = =3,569 x 10-5 kg mol⁄s.m2 .atm
P 2,0 atm
Untuk flux gunakan Persamaan 2.12
NA = ky (yA1 – yA2) = 7,138 x 10-5 (0,10 – 0) = 7,138 x 10-6 kg mol/s.m2
Juga,
pA1 = 0,20 atm = 0,20 (1,01325 x 105) = 2,026 x 104 Pa
dengan Persaman 2.12
NA = kG (pA1 – pA2) = 3,522 x 10-10 (2,026 x 10-4 – 0) = 7,138 x 10-6 kg mol/s.m2
NA = kG (pA1 – pA2) = 3,569 x 10-5 (0,20 – 0) = 7,138 x 10-6 kg mol/s.m2
Perhatikan bahwa dalam kasus ini, karena konsentrasi encer, y BM mendekati 1,0 dan
ky dan k'y berbeda sangat sedikit.

B. Teori Lapisan Film


Di alam suatu bahan dapat dikategorikan menjadi 3 fase yaitu fase padat, cair,
dan gas. Gas dan cairan disebut fluida. Jika dalam suatu sistem terdapat lebih dari satu
fase, misalnya untuk antar fase padat dengan fluida, maka ada satu lapisan film di
fluida, sedangkan antar fase fluida – fluida, terdapat 2 lapisan film. Pada dua fluida
misalnya cair dengan gas atau cair dengan cair yang tidak bercampur (immiscible)
akan membentuk dua lapisan film (two film theory) atau dua hambaan (two
resitance).
Pada lapisan laminer, perpindahan massa sebagian besar terjadi secara difusi
molekuler dan beda konsentrasi terbesar terjadi di lapisan film , Nernst (1904)
mengajukan teori lapisan film
dxA
Fluks molar : NA = -c.DAB … … … … … … … . . … … … … … … 2.18)
dz
xA1 − xA2
NA = -c.DAB … … … … … … … … … … … … … … … 2.19)

NA = kx (xA1 - xA2 )……………………………..………….…………2.20)
c.DAB
kx = = koefisien film…………………….…………………….2.21)

Gambar 2.1 Lapisan film

Konsentrasi yAG fase gas besar menurun ke yA1 pada antarmuka. Konsentrasi cairan
dimulai pada xAi pada antarmuka dan jatuh ke xAL. Pada antarmuka, karena tidak ada
resistensi untuk mentransfer seluruh antarmuka ini, y Ai dan xAi berada dalam
kesetimbangan dan terkait dengan hubungan distribusi kesetimbangan

34 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

C. Prinsip Keseimbangan
Untuk memprediksi konsentrasi zat terlarut di masing - masing dua fase dalam
kesetimbangan, data ekuilibrium eksperimental harus tersedia. Jika dua fase tidak
berada pada kesetimbangan, laju perpindahan massa sebanding dengan gaya
penggerak, yang merupakan permulaan dari ekuilibrium. Dalam semua kasus yang
melibatkan kesetimbangan, dua fase terlibat, seperti gas - cair atau cair - cair. Variabel
penting yang mempengaruhi keseimbangan zat terlarut adalah suhu, tekanan, dan
konsentrasi.

Kesetimbangan antara dua fase dalam situasi tertentu dibatasi oleh aturan fase:
F = C - P + 2………………….……………………………..2.22)
dimana P adalah jumlah fase pada kesetimbangan, C jumlah total komponen dalam
dua fase ketika tidak ada reaksi kimia yang terjadi, dan F jumlah varian atau derajat
kebebasan sistem. Misalnya, untuk sistem gas - cair (CO2 - air – udara) ada dua fase
dan tiga komponen (mempertimbangkan udara sebagai salah satu komponen inert).
Kemudian, dengan persamaan
F = C - P + 2 = 3 -2 + 2 = 3
Ini berarti ada 3 derajat kebebasan. Jika tekanan total dan suhu diketahui, hanya satu
variabel yang tersisa yang dapat ditetapkan secara bebas. Jika komposisi fraksi mol
xA CO2 (A) dalam fasa cair diketahui, komposisi fraksi mol yA atau tekanan pA dalam
fasa gas secara otomatis dapat dihitung.

Aturan fase tidak memberi tahu tekanan parsial pA dalam kesetimbangan dengan xA
yang dipilih. Nilai pA harus ditentukan secara eksperimental. Dua fase tentu saja dapat
menjadi gas - cair, cair - padat, dan seterusnya. Sebagai contoh, distribusi
keseimbangan asam asetat antara fase air dan fase isopropil eter telah ditentukan
secara eksperimental untuk berbagai kondisi.

D. Keseimbangan Uap - Cair, Padat - Cair, Cair - Cair, Gas - Padat


1. Kesetimbangan Uap – Cair
Kesetimbangan dalam sistem uap - cair dibatasi oleh aturan fase sesuai dengan
Persamaan 2.22. Sebagai contoh, sistem amonia - air, uap - cair. Untuk dua komponen
dan dua fase, F dari persamaan 2.22 adalah 2 derajat kebebasan. Empat variabel
adalah suhu, tekanan, dan komposisi y A NH3 dalam fase uap dan xA dalam fase cair.
Komposisi air (B) dapat dihitung jika yA atau xA diketahui, karena yA + yB = 1,0 dan xA
+ xB = 1,0. Jika tekanan tetap, hanya satu variabel lagi yang bisa dicari. Jika komposisi
cairan diketahui, suhu dan komposisi uap secara otomatis dapat dihitung.

Hukum Raoult dapat didefinisikan untuk fase uap - cair dalam kesetimbangan
pA = PA . xA…………………………………………………………2.23)
dimana pA adalah tekanan parsial komponen A dalam uap dengan satuan Pa (atm), PA
adalah tekanan uap murni A dalam Pa (atm), dan xA adalah fraksi mol A dalam cairan.
Hukum Raoult ini hanya berlaku untuk larutan ideal seperti benzena - toluena,
heksana - heptana, dan metil alkohol - etil alkohol yang biasanya adalah zat yang
sangat mirip satu sama lain. Banyak sistem yang ideal atau non ideal mengikuti
hukum Henry dalam larutan encer.

Seringkali hubungan kesetimbangan uap - cair untuk campuran biner A dan B


ditampilkan sebagai diagram titik didih yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 untuk

35 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

sistem benzena (A) - toluena (B) pada tekanan total 101,32 kPa. Garis atas adalah
garis uap jenuh (garis titik embun) dan garis bawah adalah garis cair jenuh (garis titik
gelembung). Daerah dua fase berada di wilayah antara dua garis tsb.

Pada Gambar 2.2, campuran cairan dingin xA1 = 0,318 dan dipanaskan dan akan mulai
mendidih pada 98oC (371,2 K) dan komposisi uap pertama dalam kesetimbangan
adalah yA1 = 0,532. Ketika cairan terus mendidih, komposisi x A akan bergerak ke kiri
karena yA lebih kaya di A.

Tabel 2.2 Tekanan uap dan data kesetimbangan fraksi mol untuk sistem benzena –
toluene

Sistem benzena - toluena mengikuti hukum Raoult, sehingga diagram titik didih dapat
dihitung dari data tekanan uap murni pada Tabel 2.2 dan persamaan berikut:
pA + pB = P…………………………………….…………………2.24)
PAxA + pB (1 – xA) = P……………………………….……………….2.25)
p PA xA
yA = A = … … … … … … … … … … … . … … … … … . .2.26)
P P

Contoh Soal 11.1-1 : Menggunakan Hukum Raoult untuk diagram titik didih
Hitung komposisi uap dan cair dalam kesetimbangan pada suhu 95oC (368,2 K) untuk
benzene – toluene menggunakan tekanan uap yang ada dalam Tabel 2.2 pada tekanan
101,32 kPa.

Jawaban:
Pada suhu 95oC dalam Tabel 2.2 untuk benzene, p A = 155,7 kPa dan pB = 63,3 kPa.
Substitusi ke Persamaan 2.25
155,7 (xA) + 63,3 (1 – xA) = 101,32 kPa (760 mm Hg)
Karena, xA = 0,411 dan xB = 1 – xA = 1 – 0,411 = 0,589. Substitusi ke Persamaan 2.26.
PA xA 155,7 (0,411)
yA = = =0,632
P 101,32

36 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Metode umum untuk menghitung data kesetimbangan ditunjukkan pada Gambar 2.2,
dimana yA diplotkan terhadap xA untuk sistem benzena-toluena. Garis 45o
menunjukkan bahwa yA lebih kaya dalam komponen A daripada xA.

Gambar 2.2 Diagram kesetimbangan untuk sistem benzena (A) toluene (B) pada
101,32 kPa (1 atm)

Diagram titik didih pada Gambar 2.1 adalah tipikal dari sistem yang ideal mengikuti
hukum Raoult. Sistem non ideal sangat berbeda. Pada Gambar 2.3a (Aseton -
kloroform) diagram titik didih ditunjukkan untuk titik didih azeotrop maksimum.
Suhu maksimum Tmax sesuai dengan konsentrasi xAz dan xAz = yAz. Plot yA versus xA
akan menunjukkan kurva yang melintasi garis 45o. Dalam Gambar 2.3b (Etanol – air)
titik didih azeotrop minimum ditunjukkan dengan yAz = xAz pada Tmin.

Gambar 2.3 Diagram kesetimbangan titik didih : (a) titik didih azeotrop maksimum,
(b) titik didih azeotrop minimum

37 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

2. Kesetimbangan Padat – Cair


Untuk menganalisa single stage dan countercurrent stage proses leaching, persamaan
garis operasi atau hubungan keseimbangan material dan hubungan kesetimbangan
antara dua aliran diperlukan seperti dalam ekstraksi cair - cair. Diasumsikan bahwa
padatan terlarut dalam zat terlarut tidak larut dalam pelarut. Dalam leaching, dengan
asumsi cukup pelarut yang ada sehingga semua zat terlarut dalam padatan yang
masuk dapat dilarutkan ke dalam cairan, kesetimbangan tercapai ketika zat terlarut
larut. Oleh karena itu, semua zat terlarut benar-benar larut dalam stage pertama.

Diasumsikan bahwa tidak ada adsorpsi zat terlarut oleh zat padat dalam leaching.
Larutan dalam fase cair melewati suatu stage yang sama dengan larutan yang tersisa
dengan matriks padat dalam slurry yang melewati stage. Komponen di dalam stage
tidak mungkin untuk memisahkan semua cairan dari padatan. Oleh karena itu, fase
padat melewati stage mengandung beberapa cairan terlarut. Aliran padat-cair disebut
aliran underflow atau slurry. Karena itu. konsentrasi minyak atau zat terlarut dalam
aliran cairan atau overflow sama dengan konsentrasi zat terlarut dalam larutan cair
yang menyertai slurry atau aliran bawah. Oleh karena itu, pada plot xy garis
kesetimbangan berada di garis 45o.

Jumlah larutan yang disaring dengan padatan di bagian pengendapan masing-masing


stage dapat bergantung pada viskositas dan densitas cairan dimana padatan
tersuspensi, tergantung pada konsentrasi zat terlarut dalam larutan. Oleh karena itu,
diperoleh data percobaan menunjukkan variasi jumlah dan komposisi larutan yang
disaring dalam padatan sebagai fungsi dari komposisi zat terlarut. Data-data ini harus
diperoleh di bawah kondisi konsentrasi, waktu, dan suhu yang sama dengan yang ada
dalam proses dan perhitungan stage harus ada.

Data kesetimbangan dapat diplot pada diagram persegi panjang sebagai fraksi berat
untuk tiga komponen: zat terlarut (A), inert atau padatan yang di leaching (B), dan
pelarut (C). Kedua fase adalah fase overflow (cair) dan fase underflow (slurry).
Konsentrasi B padat atau tidak larut dalam campuran larutan atau campuran slurry
dapat dinyatakan dalam satuan kg.
kg B kg padatan lb padatan
N= = = … … … … … 2.27)
kg A + kg C kg larutan lb larutan
Akan ada nilai N untuk overflow dimana N = 0 dan untuk limpahan N akan memiliki
nilai yang berbeda, tergantung pada konsentrasi zat terlarut dalam cairan. Komposisi
zat terlarut A dalam cairan akan dinyatakan sebagai fraksi berat.

kg A kg zat terlarut
xA = = (overflow cairan)……………2.28)
kg A+kg C kg larutan
kg A kg zat terlarut
yA = = (cairan di dalam slurry)………2.29)
kg A+kg C kg larutan

dimana xA adalah fraksi berat dari zat terlarut A dalam luapan cairan dan y A adalah
fraksi berat A pada basis B tanpa padatan dalam cairan yang terkait dengan slurry
atau underflow. Agar umpan padat yang masuk di leaching, N adalah kg inert
padatan/kg zat terlarut A dan yA = 1,0. Untuk pelarut murni yang masuk N = 0 dan x A
= 0.

38 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 2.4 Beberapa tipe diagram kesetimbangan ; (a) kasus untuk hubungan
garis vetikal dan yA = xA, (b) kasus dimana hubungan garis yA  xA

Pada Gambar 2.4a diagram ekuilibrium umum menunjukkan dimana zat terlarut A
sangat larut dalam pelarut C, yang akan terjadi pada sistem minyak kedelai (A)
kedelai inert padatan (B) pelarut heksana (C). Kurva atas N versus y A untuk slurry
underflow merepresentasikan padatan yang terpisah dalam kondisi eksperimental
yang mirip dengan proses tahap aktual. Garis bawah N versus x A, dimana N = 0 pada
sumbu, mewakili komposisi cairan luapan dimana semua padatan telah dihilangkan.
Dalam beberapa kasus, sejumlah kecil padatan mungkin tetap meluap. Hubungan
garis adalah vertikal, dan pada diagram yx, garis kesetimbangan adalah y A = xA pada
garis 45o. Pada Gambar 2.4b, hubungan garis tidak vertikal, yang dapat dihasilkan dari
waktu kontak yang tidak mencukupi, sehingga semua zat terlarut tidak terlarut;
adsorpsi zat terlarut A pada padatan; atau zat terlarut yang larut dalam padatan B.

Jika garis underflow N versus y lurus dan horisontal, jumlah cairan yang terkait
dengan padatan dalam slurry adalah konstan untuk semua konsentrasi. Laju cairan
underflow konstan sepanjang berbagai stage dan aliran melimpah.

Pada Gambar 2.5a menunjukkan proses leaching single stage dimana V adalah kg/jam
larutan pelimpah dengan komposisi x A dan L adalah kg/jam cairan dalam larutan
slurry dengan komposisi yA berdasarkan laju alir yang diberikan B kg/jam larutan
terlarut kering padat.

39 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Lo + V2 = L1 + V1 = M………………………………….……….….2.30)
Lo yAo + V2 xA2 = L1 yA1 + V1 xA1 = M xAM………………………..………..2.31)
B = No Lo + 0 = N1 L1 + 0 = NM M.........................................………2.32)
dimana M adalah laju alir total dalam kg A + C/jam dan x AM dan NM adalah koordinat
titik M. Keseimbangan pada C tidak diperlukan, karena x A + xC = 1,0 dan yA + yC = 1,0 .
Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, L 1, MV1, harus terletak pada garis lurus dan Lo
MV2 juga harus berada pada garis lurus yang ditunjukkan pada Gambar 2.5b. L1 dan V1
harus terletak di garis vertikal. Titik M adalah perpotongan dari dua garis. Jika L o yang
masuk adalah umpan padat segar yang akan di leaching tanpa ada C pelarut, maka L o
berada di atas garis N versus y pada Gambar 2.5b.

Gambar 2.5 Proses flow dan neraca massa untuk leaching single stage : (a) proses
flow, (b) neraca massa

Contoh soal 12.9-1 : Single stage leaching kedelai


Dalam single stage leaching minyak kedelai dari kedelai yang dipipihkan dengan
heksana, 100 kg kedelai mengandung 20% berat minyak yang tercuci dengan 100 kg
pelarut heksana segar. Nilai N untuk slurry underflow pada dasarnya konstan yaitu
1,5 kg larutan padat/kg yang tidak larut yang disaring. Hitung jumlah dan komposisi
overflow V1 dan slurry underflow L1 yang melewati stage.

Jawaban:
Proses flow diagram sama dengan Gambar 2.5a. Variabel proses yang diketahui
adalah:
Pelarut yang masuk, V2 = 100 kg
xA2 = 0
xC2 = 1,0
Slurry yang masuk, B = 100 (1,0 – 0,2) = 80 kg padatan yang tidak larut
Lo = 100 (1,0 – 0,8) = 20 kg A
No = 80/20 = 4,0 kg solid/kg larutan
yAo = 1,0

Untuk menentukan titik M, substitusi Persamaan 2.30 dan 2.31 dan 2.32
Lo + V2 = 20 + 100 = 120 kg = M

40 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Lo yAo + V2 xA2 = 20(1,0) + 100(0) = 120 xAM


xAM = 0,167
B = No Lo = 4,0 (20) = 80 = NM (120)
NM = 0,667
Subsitusi ke Persamaan 2.32 : N1 L1 = NM M = 1,5 L1 = 0,667 (120)
L1 = 53,3 kg
Substitusi ke Persamaan 2.30 : L1 + V1 = M
53,3 + V1 = 120
V1 = 66,7 kg

3. Kesetimbangan Cair – Cair


Umumnya dalam sistem cair - cair memiliki tiga komponen, A, B, dan C, dan dua fase
dalam kesetimbangan. Substitusikan ke dalam aturan fase, Persamaan 2.22, jumlah
derajat kebebasan adalah 3. Variabelnya adalah suhu, tekanan, dan empat
konsentrasi. Empat konsentrasi terjadi karena hanya dua dari tiga konsentrasi fraksi
massa dalam fase yang dapat ditentukan. Yang ketiga harus membuat total fraksi
massa total menjadi 1,0. xA + xB + xC = 1,0. Jika tekanan dan suhu diatur, yang
merupakan kasus biasa, maka pada kesetimbangan, pengaturan satu konsentrasi di
kedua fase akan memperbaiki sistem.

Gambar 2.6 Koordinat Triangular Diagram

Koordinat segitiga sama sisi sering digunakan untuk merepresentasikan data


ekuilibrium dari sistem tiga komponen, karena ada tiga sumbu. Ini ditunjukkan pada
Gambar 2.6. Masing-masing dari tiga sudut mewakili komponen murni, A, B, atau C.
Titik M merupakan campuran A, B, dan C. Jarak tegak lurus dari titik M ke basis AB

41 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

mewakili fraksi massa xC dari C dalam campuran pada M, jarak ke basis CB fraksi
massa xA dari A, dan jarak ke basis AC fraksi massa x B dari B. Jadi
xA + xB + xC = 0,40 + 0,20 + 0,40 = 1,0

Gambar 2.7 Diagram fase cair – cair dimana komponen A dan B sebagian
bercampur
Diagram fasa umum di mana sepasang komponen A dan B sebagian dapat dicampur
ditunjukkan pada Gambar 2.7. Contoh umum adalah metil isobutil keton (A) air (B)
aseton (C), air (A) kloroform (B) aseton (C), dan benzena (A) air (B) asam asetat (C).
Mengacu pada Gambar 2.7, C cair terlarut sepenuhnya dalam A atau dalam B. Cairan
A hanya sedikit larut dalam B dan B yang sedikit larut dalam A. Wilayah dua fase
termasuk di dalam di bawah kurva yang melengkung. Campuran komposisi M yang
asli akan terpisah menjadi dua fase a dan b yang berada pada garis hubungan
kesetimbangan melalui titik M. Garis - garis lain juga ditunjukkan. Kedua fase identik
pada titik P, titik Plait.

42 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 2.8 Diagram asam asetat (A), air (B), isopropil eter (C) fase cair – cair pada
suhu 293 K (20oC)

43 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 2.3 Sistem kesetimbangan asam asetat, air, isopropil eter cair – cair pada 293
K (20oC)

Karena diagram segitiga memiliki beberapa kelemahan karena koordinat khusus,


metode yang lebih berguna untuk merencanakan tiga data komponen adalah dengan
menggunakan koordinat persegi panjang. Ini ditunjukkan pada Gambar 2.8 untuk
sistem asam asetat (A) air (B) pelarut isopropil eter (C). Data berasal dari Lampiran
A.3 untuk sistem. Pasangan pelarut B dan C sebagian dapat larut. Konsentrasi
komponen C diplot pada sumbu vertikal dan sumbu A pada sumbu horizontal.
Konsentrasi komponen B diperoleh dengan perbedaan dari Persamaan 2.33 atau
2.34.
xB = 1,0 – xA - xC……………………………..……………….……..2.33)
yB = 1,0 – yA - yC……………………………..……………………...2.34)
Daerah dua fase pada Gambar 2.8 berada di dalam kurva dan satu fase di luar daerah.
Garis hubungan gi menunjukkan hubungan lapisan kaya air i, yang disebut komposisi
rafinat ditunjuk oleh x dan ekstrak oleh y. Oleh karena itu, fraksi massa C ditetapkan
sebagai yC pada lapisan ekstrak dan sebagai x C pada lapisan rafinat. Untuk
membangun garis hubungan gi menggunakan kesetimbangan yA - plot xA di bawah
diagram fasa, garis vertikal ke g dan i.

Contol soal 12.5-1 : Neraca massa untuk kesetimbangan lapisan


Campuran asli dengan berat 100 kg dan mengandung 30 kg isopropil eter (C), 10 kg
asam asetat (A), dan 60 kg air (B) disetimbangkan dan fase kesetimbangan
dipisahkan. Bagimana komposisi dari dua fase kesetimbangan?

Jawaban:
xC = 0,30
xA = 0,10

44 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

xB = 0,60
Komposisi xC = 0,30, xA = 0,10 di plot pada titik h di Gambar 2.8. Garis hubungan gi
digambar melalui titik h secara trial dan error. Komposisi lapisan fase ekstrak (eter)
pada titik g adalah yA = 0,04, yC = 0,94, and yB = 1,00 – 0,04 – 0,94 = 0,02 fraksi massa.
Komposisi lapisan fase rafinat (air) pada titik i x A = 0,12, xC = 0,02, and xB = 1,0 – 0,12
-0,02 = 0,86.

4. Kesetimbangan Gas – Padat


Kesetimbangan antara konsentrasi zat terlarut dalam fase fluida dan konsentrasinya
pada padatan menyerupai sedikit kelarutan ekuilibrium suatu gas dalam suatu cairan.
Data diplot sebagai isoterm adsorpsi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.9.
Konsentrasi dalam fasa padat dinyatakan sebagai q, kg adsorbat (zat terlarut)/kg
adsorben (padat) dan dalam fasa fluida (gas atau cair) sebagai c, kg adsorbat/m 3
cairan.

Gambar 2.9 Beberapa tipe isoterm adsorpsi

Data yang mengikuti hukum linier dapat dinyatakan dengan persamaan yang mirip
dengan hukum Henry
q = Kc……………………..………………..2.35)
dimana K adalah konstan ditentukan secara eksperimental, m 3/kg adsorben. Isoterm
linear ini tidak umum, tetapi di daerah encer dapat digunakan untuk memperkirakan
data dari banyak sistem.

Persamaan isoterm Freundlich, yang bersifat empiris, sering mendekati data untuk
banyak sistem adsorpsi fisik dan sangat berguna untuk cairan.
q = Kcn……………………..………………..2.36)
dimana K dan n adalah konstanta dan harus ditentukan secara eksperimental. Jika
plot log - log dari q versus c dibuat, kemiringan adalah eksponen dimmensionless n.
Dimensi K bergantung pada nilai n. Persamaan ini kadang-kadang digunakan untuk
mengkorelasikan data untuk gas hidrokarbon pada karbon aktif.

The Langmuir isoterm memiliki dasar teoritis dan diberikan oleh yang berikut, di
mana qo dan K adalah konstanta empiris.

45 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

qo c
q= ………………………………………..……….2.37)
K+c
dimana qo adalah konstanta, kg adsorben/kg padat; dan K adalah konstanta, kg/m 3.
Persamaan ini berasal dengan asumsi bahwa hanya ada sejumlah situs aktif yang
tersedia untuk adsorpsi, hanya monolayer yang terbentuk, dan adsorpsi bersifat
reversibel dan mencapai kondisi kesetimbangan. Dengan memplot 1/q versus 1/c,
slope adalah K/qo dan intersep adalah 1/qo.

Hampir semua sistem adsorpsi menunjukkan bahwa ketika suhu meningkat, jumlah
yang teradsorpsi oleh adsorben menurun dengan kuat. Ini berguna karena adsorpsi
biasanya pada suhu kamar dan desorpsi dapat dicapai dengan menaikkan suhu.

Contoh soal 12.1-1 : Adsorpsi isoterm untuk fenol dalam air limbah
Tes batch dilakukan di laboratorium menggunakan larutan fenol dalam air dan
partikel karbon aktif granular. Data ekuilibrium pada suhu kamar ditunjukkan pada
Tabel 2.4. Tentukan isoterm yang sesuai dengan data.

Jawaban:
Data sebagai 1/q versus 1/c, hasilnya bukan garis lurus dan tidak mengikuti
persamaan Langmuir 2.37. Sebuah plot dari log q versus log c pada Gambar 2.10
memberikan garis lurus dan, karenanya, mengikuti Persamaan Freudlich isoterm
yaitu Persamaan 2.36. Kemiringan n adalah 0,229 dan konstanta K adalah 0,199,
q = 0,199c0,229

46 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 2.10 Plot data untuk contoh soal 12.1-1

47 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB III
DISTILASI
1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a) Prinsip distilasi
b) Macam-macam distilasi
c) Penentuan jumlah tray dan tray minimum, refluks dan refluks minimum untuk
umpan tunggal dengan metode Mc Cabe –Thiele
d) Penentuan jumlah tray dan tray minimum, refluks dan refluks minimum untuk
distilasi multikomponen

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami proses pemisahan secara distilasi umpan tunggal
dan distilasi multikomponen.

3. Isi materi perkuliahan


A. Prinsip Distilasi
Distilasi adalah suatu cara pemisahan larutan dengan menggunakan panas
sebagai pemisah atau “separating agent”. Jika larutan yang terdiri dari dua buah
komponen yang cukup mudah menguap, misalnya larutan benzena-toluena, larutan
n-Heptan dan n-Heksan dan larutan lain yang sejenis didihkan, maka fase uap yang
terbentuk akan mengandung komponen yang lebih menguap dalam jumlah yang
relatif lebih banyak dibandingkan dengan fase cair. Jadi ada perbedaan komposisi
antara fase cair dan fase uap, dan hal ini merupakan syarat utama supaya pemisahan
dengan distilasi dapat dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi
fase cair, maka pemisahan dengan jalan distilasi tidak dapat dilakukan.
Proses pemisahan secara distilasi dengan mudah dapat dilakukan terhadap
campuran:
a. Dalam keadaan standar berupa cairan, saling melarutkan menjadi campuran
homogen.
b. Mempunyai sifat penguapan relatif (α) cukup besar.
c. Tidak membentuk cairan azeotrop.
Diagram yang dibutuhkan dalam penyelesaian persoalan distilasi :
a. Harus tersedia data - data keseimbangan uap - cair
b. Data keseimbangan uap - cair dapat berupa tabel atau diagram
c. Tiga macam diagram kesetimbangan
 Diagram titik didih adalah diagram yang menyatakan hubungan antara
temperatur atau titik didih dengan komposisi uap dan cairan yang
berkeseimbangan. Di dalam diagram titik didih tersebut terdapat dua buah
kurva, yaitu kurva cair jenuh dan uap jenuh
 Diagram keseimbangan uap - cair adalah diagram yang menyatakan
hubungan keseimbangan antara komposisi uap dengan komposisi cairan.
Diagram keseimbangan uap - cair dengan mudah dapat digambar, jika
tersedia titik didihnya.
 Diagram entalpi - komposisi adalah diagram yang menyatakan hubungan
antara entalpi dengan komposisi sesuatu sistim pada tekanan tertentu.
Didalam diagram tersebut terdapat dua buah kurva yaitu kurva cair jenuh dan
kurva uap jenuh. Setiap titik pada kurva cair jenuh dihubungkan dengan garis

48 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

hubung “tie line” dengan titik tertentu pada kurva uap jenuh, dimana titik -
titik tersebut dalam keadaan keseimbangan.
Pada proses pemisahan secara distilasi, fase uap akan segera terbentuk setelah
sejumlah cairan dipanaskan. Uap dipertahankan kontak dengan sisa cairannya
(dalam waktu relatif cukup) dengan harapan pada suhu dan tekanan tertentu, antara
uap dan sisa cairan akan berada dalam keseimbangan, sebelum campuran dipisahkan
menjadi distilat dan residu. Fase uap yang mengandung lebih banyak komponen yang
lebih mudah menguap relatif terhadap fase cair, berarti menunjukkan adanya suatu
pemisahan. Sehingga kalau uap yang terbentuk selanjutnya diembunkan dan
dipanaskan secara berulang - ulang, maka akhirnya akan diperoleh komponen -
komponen dalam keadaan yang relatif murni.

Kinerja kolom distilasi ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya :


1. Kondisi umpan (feed) (q)
Keadaan campuran dan komposisi feed (q) mempengaruhi garis operasi dan
jumlah stage dalam pemisahan. Itu juga mempengaruhi lokasi feed tray.
2. Kondisi refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk mendapatkan
tingkat pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah kondisi total refluks,
yakni tidak ada penarikan distilat. Sebaiknya refluks berkurang, garis operasi
untuk seksi rektifikasi bergerak terhadap garis kesetimbangan.
3. Kondisi Aliran Uap
Kondisi aliran uap yang merugikan dapat menyebabkan :
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi cairan melewati uap atau gas. Walaupun menghasilkan
kontak antar fase cair - uap yang tinggi, foaming berlebihan sering mengarah
pada terbentuknya cairan pada tray.
b. Entrainment
Mengacu pada cairan yang terbawa uap menuju tray di atasnya dan disebabkan
laju alir uap yang tinggi menyebabkan efisiensi tray berkurang. Bahan yang
sukar menguap terbawa menuju plate yang menahan cairan dengan bahan yang
mudah menguap. Dapat mengganggu kemurnian distilat. Enterainment
berlebihan dapat menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan yang dihasilkan uap
tidak cukup untuk menahan cairan pada tray. Karena itu cairan mulai
merembes melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi karena aliran uap berlebih menyebabkan cairan terjebak pada uap di
atas kolom. Peningkatan tekanan dari uap berlebih menyebabkan kenaikkan
cairan yang tertahan pada plate di atasnya. Flooding ditandai dengan adanya
penurunan tekanan diferensial dalam kolom dan penurunan yang signifikan
pada efisiensi pemisahan. Jumlah tray aktual yang diperlukan untuk pemisahan
khusus ditentukan oleh efisiensi plate dan packing. Semua faktor yang
menyebabkan penurunan efisiensi tray juga akan mengubah kinerja kolom.
Effisiensi tray dipengaruhi oleh fooling, korosi, dan laju dimana ini terjadi
bergantung pada sifat cairan yang diproses. Material yang sesuai harus dipakai
dalam pembuatan tray. Kebanyakan kolom distilasi terbuka terhadap
lingkungan atmosfer. Walaupun banyak kolom diselubungi, perubahan kondisi

49 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

cuaca tetap dapat mempengaruhi operasi kolom. Reboiler harus diukur secara
tetap untuk memastikan bahwa dihasilkan uap yang cukup selama musim
dingin dan dapat dimatikan selama musim panas.

Dasar peralatan distilasi dan pengoperasiannya:


a. Komponen utama kolom distilasi
Sebuah sistem distilasi umumnya mengandung beberapa komponen utama:
 Sebuah shell vertikal dimana pemisahan komponen cairan terjadi, terdapat
pada bagian dalam kolom (internal column) seperti tray atau plate dan packing
yang digunakan untuk meningkatkan derajat pemisahan komponen.
 Sebuah reboiler untuk menyediakan penguapan yang cukup pada proses
distilasi.
 Kondensor untuk mendinginkan dan mengkondensasikan uap yang keluar dari
atas kolom.
 Refluks drum untuk menampung uap yang terkondensasi dari top kolom
sehingga cairan (refluks) dapat di recycle kembali ke kolom.

Rumah shell vertikal bagian dalam kolom beserta kondenser dan reboiler
membentuk sebuah kolom distilasi. Gambaran unit distilasi dengan satu umpan
dan dua aliran produk adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Skema distilasi sederhana

b. Pengoperasian distilasi :
Campuran cairan yang akan diproses dikenal sebagai umpan (feed) dan diinput
pada bagian tengah kolom pada sebuah tray yang dikenal sebagai feed tray. Feed
tray dibagi menjadi kolom atas (enriching or rectification) dan kolom bottom
(stripping). Feed mengalir ke bawah kolom dikumpulkan pada bagian bawah
reboiler.

50 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 3.2 Bottom distilasi


Panas di suplai ke reboiler untuk menghasilkan uap. Sumber panas dapat berasal
dari fluida, tetapi kebanyakan juga digunakan steam. Pada penguapan, sumber
panas di dapat dari aliran keluar dari kolom lain. Uap terbentuk pada reboiler
diinput kembali pada bagian bottom. Cairan dikeluarkan dari reboiler dikenal
sebagai produk bottom.

Gambar 3.3 Top distilasi


Uap bergerak ke atas kolom, didinginkan oleh kondensor. Cairan yang
dikondensasi ditampung pada vessel yang dikenal sebagai refluks drum. Sebagian
cairan di recycle kembali ke top yang dikenal refluks. Cairan yang terkondensasi
dikeluarkan dari sistem dikenal sebagai destilat atau produk top.

Tipe dari kolom distilasi berdasarkan tipe internal kolom :


1. Tray dan Plate
Istilah “tray” dan “plate” adalah sama. Ada banyak tipe desain tray, tetapi yang
paling umum adalah:
a. Bubble cap tray
Bubble cap biasanya didesain di atas plate pada sudut equilateral triangular,
dengan baris yang disesuaikan secara normal dengan arah aliran menyilang
plate. Bubble cap tray mempunyai tingkat - tingkat atau cerobong yang
terpasang di atas hole (lubang), dan sebuah “cap” yang menutupi tingkat -
tingkat. Bubble cap tray digunakan pada kondisi aliran rendah, dimana tray
harus tetap basah, kecuali kondisi bentuk polimer, cooking, atau fouling yang
tinggi.
b. Valve Tray
Pada valve tray, perforasi (lubang - lubang kecil) ditutupi dengan valve yang
mudah dilepas. Uap naik melalui perforasi pada tray, bubble pada cairan
berbentuk sama. Valve yang terangkat menunjukkan uap mengalir
horizontal ke dalam cairan, dengan demikian menyediakan campuran yang
mungkin terjadi dalam sieve tray.

51 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

c. Sieve Tray
Sieve tray adalah plate metal sederhana dengan lubang diantaranya. Uap
lewat ke atas melalui cairan pada plate. Jumlah dan ukuran lubang menjadi
parameter desain. Karena luas range operasi, kemudahan perawatan, dan
faktor biaya, kebanyakan aplikasinya sieve dan valve tray diganti dengan
bubble cap tray.

Gambar 3.4 Jenis – jenis tray


2. Packing
Ada kecenderungan untuk meningkatkan pemisahan dengan penambahan
penggunaan tray dengan packing. Packing adalah peralatan pasif yang didesain
untuk meningkatkan kontak area interfacial uap cairan.
Aliran cairan dan uap dalam kolom tray:

52 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar berikut menunjukkan aliran cairan dan uap sepanjang tray dan
sepanjang kolom.

Gambar 3.5 Aliran cairan dan uap


Setiap tray mempunyai dua sisi bersebelahan pada setiap sisinya yang disebut
“downcomers”. Cairan jatuh melalui downcomer oleh gaya gravitasi dari satu
tray ke bagian bawahnya. Aliran sepanjang tiap plate diperlihatkan pada
diagram.

Gambar 3.6 Aliran pad tiap plate


Sebuah weir pada tray didesain agar selalu ada sebagian cairan yang tertahan
pada tray dengan tinggi yang masih diperbolehkan, seperti bubble cap yang
ditutupi oleh cairan. Yang lebih ringan, aliran uap ke atas dan bergerak melewati
cairan, melalui buka-an pada setiap tray. Area rendah untuk aliran uap pada
setiap tray disebut aktif tray area.
Diantara beberapa tipe packing adalah:
1. Rashing ring
Kelebihan :
 Harganya lebih murah
 Tidak terlalu berat
 Sensitivitas lebih rendah terhadap kualitas distribusi cair dan uap
 Dapat digunakan untuk bahan yang tidak tahan suhu tinggi
Kelemahan :
 Efisiensinya lebih rendah
 Kontaknya berlangsung secara cepat

53 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

2. Lessing ring
Kelebihan :
 Harganya murah
 Tidak terlalu berat
 Dapat digunakan untuk bahan yang tidak tahan suhu tinggi
 Sensitivitas lebih rendah terhadap kualitas distribusi cair dan uap
Kelemahan :
 Efisiensinya lebih rendah
 Kontaknya berlangsung secara cepat
3. Berl saddle
Kelebihan :
 Distribusi uap-cair didistribusikan secara merata sama pada kedua sisi
 Stabilitas kimia tinggi, dan daya tahan panas yang sangat baik,
 Sensitivitas lebih rendah terhadap kualitas distribusi cair dan uap
 Luas permukaannya besar
Kelemahan :
 Kontaknya berlangsung secara cepat
 Harganya mahal
4. Pall ring
Kelebihan :
 Kapasitas lebih tinggi dan Pressure drop rendah (di bawah separuh
Raschig Rings)
 Nilai HTU lebih rendah dari Berl Saddle
 Distribusi cairan baik dan kapasitas besar
Kelemahan :
 Pembersihannya sulit dilakukan.
 Harganya lebih mahal dibandingkan raschig ring, lessing ring, berl saddle
dan intalox saddle

Gambar 3.7 Tipe – tipe packing

Packing Versus Trays:


Kolom tray menghadapi masalah throughput (keluaran) dan dapat diatasi
dengan menganti tray dengan packing dikarenakan :
 Packing memberikan area interfacial ekstra untuk kontak cairan - uap.
 Efisiensi pemisahan meningkat untuk tinggi kolom yang sama.
 Packed kolom lebih pendek daripada trayed kolom.

54 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Packed kolom dikenal sebagai continuous - contact columns, sedangkan trayed


columns dikenal sebagai staged – contact columns karena karateristiknya kontak
uap dan cairan..

B. Macam – Macam Distilasi


Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Distilasi kontinu
2. Distilasi batch
Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Distilasi atmosferis (0,4-5,5 atm mutlak)
2. Distilasi vakum (≤ 300 mmHg pada bagian atas kolom)
3. Distilasi tekanan (≥ 80 psia pada bagian atas kolom)
Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Distilasi sistem biner
2. Distilasi sitem multi komponen
Berdasarkan sistem operasinya terbagi dua, yaitu :
1. Single stage Distillation
2. Multi stage Distillation
Umumnya Distilasi juga dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Distilasi kilat (Flash Distillation)
Distilasi kilat merupakan distilasi kontinu (steady state) satu tahap tanpa refluks.
Distilasi kilat ini terdiri dari penguapan sebagian dari suatu zat cair sedemikian
rupa sehingga uap yang keluar berada dalam keseimbangan dengan zat cair yang
tersisa. Uap tersebut dipisahkan dari zat cair dan dikondensasikan. Distilasi ini
digunakan untuk memisahkan komponen – komponen yang memiliki titik didih
yang berbeda. Distilasi ini tidak efektif untuk memisahkan komponen - komponen
yang volatilitasnya sebanding.
2. Distilasi kontinu dengan refluks (Rektifikasi)

Gambar 3.8 Neraca bahan plate n


Dari Gambar 3.8 terlihat di dalam kolom terdapat plate ideal. Jika plate ini diberi
nomor dari atas ke bawah maka plate acuan adalah plate ke-n dari puncak, di
atasnya adalah plate ke-n-1 dan di bawahnya adalah plate ke-n+1. Ada dua arus fluida
yang masuk ke plate ke-1 dan dua arus keluar, yaitu arus zat cair Ln-1 mol/jam dari

55 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

plate ke-n-1 dan arus uap Vn- 1 mol/jam dari plate ke-n+1 yang mengalami kontak
akrab di plate ke-n:
 Uap keluar dari plate, Yn
 Zat cair yang keluar dari plate, Xn
 Uap masuk ke plate, Yn+1
 Zat cair masuk ke plate, Xn+1

Gambar 3.9 Proses distilasi


3. Distilasi Vakum
Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan operasinya 0,4 atm (300 mmHg
absolut).

C. Penentuan Jumlah Tray dan Tray Minimum, Refluks, dan Refluks Minimum
untuk Umpan Tunggal dengan Metode Mc Cabe and Thiele
Distilasi adalah pemisahan komponen - komponen dalam larutan cair dengan
mempergunakan panas sebagai separating agent (berdasarkan beda titik didih
masing-masing komponen dalam larutan). Chemical Engineering Tools yang
digunakan dalam perancangan menara distilasi adalah:
a. Neraca Massa
b. Neraca Panas Grafik Entalpi - Komposisi
c. Kesetimbangan
1. Mc. Cabe and Thiele
Syarat yang harus dipenuhi dalam metode Mc. Cabe and Thiele adalah
kecepatan alir molar L dan V tetap, serta tidak memerlukan entalpi data. Adapun
langkah yang harus dilakukan dalam perancangan menara distilasi dengan
menggunakan metode Mc. Cabe and Thiele adalah:
a. Buat diagram Y Vs X
b. Hitung q
c. Tentukan titik fraksi distilat (XD), fraksi umpan (XF), dan fraksi bottom (XB)
d. Buat garis q melalui titik fraksi umpan (XF) dengan slope (q/q–1)
e. Hitung nilai (XD/R + 1 )
f. Buat garis operasi atas, dengan cara menarik garis lurus dari titik XD yang
memotong garis q dengan slope (XD/R + 1 )

56 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

g. Buat garis operasi bawah, dengan cara menarik garis lurus dari perpotongan garis
operasi atas dengan q ke titik XB
h. Hitung jumlah tray (stage)
Catatan: titik XD, XF, dan XB terletak pada garis lurus kurva kesetimbangan (garis
kesetimbangan)
Y

q
1
2

XD / (R+1) 4

XB XF XD
Gambar 3.10 Langkah perancangan menara dengan metode Mc. Cabe and Thiele
Keterangan : fraksi distilat (hijau), fraksi umpan (orange), fraksi bottom (ungu), garis
operasi atas (biru), garis opearsi bawah (pink), jumlah tray (merah)

Dari gambar diatas didapatkan jumlah tray sebenarnya adalah 4 buah.

Metode Perhitungan
Pada metode Mc. Cabe and Thiele tidak membutuhkan data entalpi karena
entalpi komposisi tidak selalu didapatkan.
Enriching Section (seksi atas)

G,y

X1 Y1 L, Xo D , XD

L G
Xi yn+1

Dari gambar di atas dapat disusun neraca massa sebagai berikut:


Neraca massa total:
G = L + D……………………………………………………...……..3.1)
R = L / D (refluks)……………………………………………………..3.2)
G = D (R + 1).................................................................................3.3)
Neraca massa komponen:
G . yn+1 = L Xi + D . XD.....................................................................3.4)
yn+1 = (L / G). Xi + (D / G) XD............................................................3.5)

57 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

atau
yn+1 = (R / R+1 ) Xi + XD / R+1 Persamaan garis operasi atas.................3.6)
garis operasi ini merupakan garis lurus pada koordinat x,y dengan slope (L / G) atau
(R / R+ 1) dan intersepnya (D / G).XD atau (XD/R+1)

(R / R +1)

XD / (R + 1)

XD
Gambar 3.11 Langkah menentukan garis operasi atas dengan metode Mc. Cabe and
Thiele

Stripping Section (seksi bawah)


L’ G’

XM yM+1

B , XB

Neraca massa total:


L’ = G’ + B....................................................................................3.7)
Neraca massa komponen:
L’ . XM = G’ . yM+1 + B . XB..................................................................3.8)
yM+1 = (L’ / G’). XM – (B / G’). XB ......................................................3.9)
atau
yM+1 = (L’ / G’ – B). XM – (B / G’ – B). XB Garis operasi bawah...........3.10)
Garis operasi ini merupakan garis lurus pada koordinat x, y dengan slope (L’ / G’)
atau (L’ / G’ – B) dan intersepnya (B / G’) atau (B / G’ – B).

58 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

(L’ / G’) atau (L’ / G’ – B)

XB X

Gambar 3.12 Langkah menentukan garis operasi bawah dengan metode


Mc. Cabe and Thiele

Pemasukan umpan
L G
HLf-1 HGf

F, GF, LF, ZF

L’ G’
HL’f HGf+1

Neraca massa total:


F + L + G’ = G – L’ ……………………………………....................................3.11)
Neraca panas:
F. HF + L. HLf-1 + G’. HGf+1 = G. HGf + L’. HGf…………………………………3.12)
Saturated liquid:
HGf = HGf+1 dan HLf-1 = HLF……………………………………….……………3.13)
(L’ – L) HL = (G’ – G) HG + F. HF ……………………………….…………..3.14)
Substitusi Persamaan 3.14 ke Persamaan 3.11
L ' - L HG - HF
= = q……………………………….……………………3.15)
F HG - HL
atau
G’ – G = F (q - 1)………………………………….………………….3.16)
Kembali ke persamaan enriching dan stripping yang ditulis tanpa notasi:
yG = L . X + D . XD……………….......................…………………...3.17)
y. G’ = L’ . X – B . XB …………............................………………….3.18)
Substitusi Persamaan 3.17 ke Persamaan 3.18
(G’ – G).y = (L’ – L). X – (B.XB + D.XD)………..........................………..3.19)

59 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Material balance
F. XF = D. XD + B. XB ……………………..............................………………3.20)
Dari persamaan 3.15 dan 3.19 diperoleh:
q xF
y= .X- − −−→ garis untuk kondisi umpan. . . . . . . . . . . . … . . . . . . .3.21)
q-1 q-1
q = (panas yang dibutuhkan untuk menguapkan 1 mol umpan)/(panas penguapan)

Umpan cair jenuh


H F = HL q = 1................................3.22)
Umpan uap jenuh
H F = HG q = 0……………………….3.23)
Umpan cairan dingin (cold liquid)
CPL (Tb - TF)
q=1+ q>1…………………………….…3.24)

Umpan uap lewat panas
CPV (TF - Td )
q=- q<0…………………………….…3.25)

HG - HF L ' - L
q= = ………………………………………3.26)
HG - HL F

Tabel 3.1 Kondisi garis operasi untuk berbagai kondisi umpan


Kondisi VF LF HGF HLF HF q (q / q-1)
1. Cairan dingin 0 F - hF H F < HL >1 +
2. Cairan jenuh 0 F - hF H F = HL =1 
3. Cairan dan uap VF LF HF hF hL<hF<HL 0-1 -
4. Uap jenuh F 0 HF - HF = HV 0 0
5. Uap lewat panas F 0 HF - H F > HV <0 +

Yi (2) (1)
(3)

(4)

(5)

Xi
Gambar 3.13 q Line pada berbagai kondisi

Beban Kondensor
Neraca panas disekitar kondensor:
QC = ho. Lo + hD. D – HG1 . G1..............................................................................3.27)
QC = ho. L + hD. D – HG1 . G……………………………………………………3.28)

60 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Kondensor total:
ho = hD……………………….……….3.29)
kondensor parsial:
ho = cairan , hD = uap

Beban Reboiler
Neraca panas bila tidak ada panas yang hilang lewat dinding ( Qloss = 0 )
QC + QB = hD. D + hB . B – hF . F.....................................................................3.30)
Bila ada panas yang hilang lewat dinding dapat dituliskan sebagai berikut:
QC + QB + Qloss = hD. D + hB . B – hF . F.............................................................3.31)
Variabel Operasi
L
( ) − − − − − −−→ N = tak terhingga. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3.32)
D min
L
Nmin --------------------------→ ( ) =tak terhingga (refluks total)……………...3.33)
D

Refluks Total
R xD
Yn+1 = xn + …………………………………….3.34)
R+1 R+1
dengan R = tak terhingga
Jika R = tak terhingga maka
Yn+1 = Xn, sehingga garis operasi = garis diagonal. Atau pada keadaan refluks total D =
0, B = 0, dan F = 0. Maka L = G = L’ = G’ dengan slope garis opearsi = 1 (garis diagonal
= garis operasi).

Gambar 3.14 Cara menentukan tray (stage) minimum

Refluks Minimum
Jika nilai “R” semakin kecil, maka slope garis operasi juga akan semakin kecil
dan intersepnya akan semakin besar. Bila “R” diperkecil garis operasinya, maka pada
suatu saat akan menjadi semakin besar memotong atau menyinggung kurva
kesetimbangan di suatu titik.

61 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Y q

( XD / (R+1))Min

XB XF XD

Gambar 3.15 Refluks minimum

Untuk q = 1
1 xD α(1 - xD)
Rm = [ - ] … … … … … … … . … … … … . .3.35)
α - 1 xF (1 - xF )
Untuk q = 0
1 .xD (1 - xD)
Rm = [ - ] − 1 … … … … … … . … … … . .3.36)
α - 1 yF (1 - yF)
Catatan:
R nyata : diantara Rmax s/d Rmin
Rmax Jumlah tahap minumum
Rmin Jumlah tahap maksimum  0
R naik Jumlah tahap turun investasi turun, biaya operasi naik
R turun Jumlah tahap naik investasi naik, biaya operasi turun
Ada R optimum total cost paling rendah
R optimum = 1,2 – 1,5 kali Rmin

1,25

Menghitung jumlah plate minimum menggunakan Persamaan 3.37


x 1 - xB
log ( D )
1 - xD xB
Nm = … … … … … … … … … … … … .3.37)
log α
Menghitung efisiensi tray menggunakan Persamaan 3.38
Jumlah tray yang dibutuhkan
Efisiensi tray = … … … … … … … … … … 3.38)
Jumlah tray sebenarnya (aktual)
Range efisiensi untuk distilasi hidrokarbon berkisar 50 sampai 85%.
Menghitung rasio refluks minimum menggunakan Persamaan 3.39
Rm xD - y'
= … … … … … … . . … … … … … … 3.39)
Rm +1 xD - x'

62 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Contoh soal :
Suatu menara distilasi kontinu dirancang untuk memisahkan 30.000 kg/jam umpan.
Umpan merupakan campuran yang terdiri dari 40% berat benzen (BM = 78) dan 60%
berat Toluen (BM = 92) menjadi produk atas yang berisi 97% berat benzen dan
produk bawah berisi 98% toluen. Rasio refluks yang digunakan adalah 3,5. Panas
laten molal dari benzen dan toluen adalah 7.360 kal/gmol dan 7.960 kal/gmol.
Benzen dan toluen membentuk campuran ideal dengan relatif volatilitas sebesar 2,5.
Umpan mempunyai titik didih campuran 95oC pada tekanan 1 atm.
a. Hitunglah jumlah mol produk atas dan mol produk bawah
b. Hitung jumlah plate dan tentukan letak plate umpan bila umpan cair jenuh, uap
jenuh, dan umpan campuran terdiri dari 2/3 uap
c. Hitung jumlah plate minimum
d. Hitung jumlah tray sebenarnya jika efisiensi 80% bila umpan cair jenuh, uap jenuh,
dan umpan campuran terdiri dari 2/3 uap
e. Hitung Refluks Minimum (Rm) bila umpan cair jenuh, uap jenuh, dan umpan
campuran terdiri dari 2/3 uap

Jawab:

D
Umpan A = 97% wt
B = 3% wt
F = 30.000 kg/jam
A = 40% wt
B = 60% wt

R = 3,5 B
 = 2,5 A = 2% wt
B = 98% wt

Basis, umpan = 1 kg/jam


A = 40% wt = 0,4 kg/jam
B = 60% wt = 0,6 kg/jam
Laju umpan masuk:
mA mB
F= +
BMA BMB
0,4 0,6
F= + =0,0116
78 92
F = 0,0116 x 30.000 kg/jam = 349,4983 kmol/jam
nA
Fraksi mol umpan masuk = XF =
nA +nB
0,4
XF = 78 = 0,4402
0,4 0,6
+
78 92

63 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

nA
Fraksi mol produk atas = XD =
nA +nB
0,97
XD = 78 = 0,9744
0,97 0,03
+
78 92
nA
Fraksi mol produk bawah = XB =
nA +nB
0,02
XB = 78 = 0,0235
0,02 0,98
+
78 92
Neraca massa total : F = D + B
0,0116 = D + B
D = 0,0116 – B……………………………………………………………………a)
Neraca massa komponen (Persamaan 3.20) = F. XF = D. XD + B. XB
0,0116 . 0,4402 = D . 0,9744 + B . 0,0235
0,0051 = 0,9744D + 0,0235B…………………………………………..………...b)
Substitusi Persamaan a dan b sehingga menjadi
0,0051 = 0,9744 . (0,0116 – B) + 0,0235B
0,0051 = 0,0114 – 0,9744B + 0,0235B
0,0051 – 0,0114 = – 0,9744B + 0,0235B
-0,0062 = -0,9509B
-0,0062
B= = 0,0065
-0,9509
B = 0,0065 x 30.000 kg/jam = 196,3545 kmol/jam
Maka, D = 0,0116 – 0,0065 = 0,0051
D = 0,0051 X 30.000 kg/jam = 153,1438 kmol/jam
Membuat kurva kesetimbangan
α. x
y= … … … … … … … . … … … … … … .3.40)
(1+(α - 1)x)
 = 2,5
x y
0 0
0,1 0,2174
0,2 0,3846
0,3 0,5172
0,4 0,6250
0,5 0,7143
0,6 0,7895
0,7 0,8537
0,8 0,9091
0,9 0,9574
1 1

R = 3,5
xD 0,9744
Intersep = = = 0,2165
R+1 3,5 + 1
Menggunakan data :
XB = 0,0235

64 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

XF = 0,4402
XD = 0,9744
xD
Intersep = = 0,2165
R+1

65 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Umpan cair jenuh, maka q = 1 (Persamaan 3.22)

Jumlah plate 11

66 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Umpan uap jenuh, maka q = 0 (Persamaan 3.23)

Jumlah plate 1

67 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Umpan campuran terdiri dari 2/3 uap


Umpan campuran, 2/3 uap dan 1/3 cair
q = 1/3
q
q line = ……………………..……….…3.38)
q-1
1⁄3
q line = = -0,5
1⁄3 -1
tan-1 (-0,5) = -26,5

68 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Jumlah plate 14

69 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Jumlah plate minumum untuk contoh soal di atas adalah:


0,9744 1 - 0,0235
log ( )
1 - 0,9744 0,0235
Nm = = 8,0410  9 plate
log 2,5
a. Jumlah tray sebenarnya
Umpan cair jenuh
11
Jumlah tray sebenarnya (aktual) = =13,75  14 tray
0,8
Umpan uap jenuh
15
Jumlah tray sebenarnya (aktual) = =18,75  19 tray
0,8
Umpan campuran, 2/3 uap dan 1/3 cair
14
Jumlah tray sebenarnya (aktual) = =17,5  18 tray
0,8
b. Refluks minimum
Umpan cair jenuh
Rm 0,9744 - 0,6650
= =0,5792
Rm +1 0,9744 - 0,4402
Rm
=0,5792
Rm +1
Rm = 0,5792 Rm +0,5992
Rm - 0,5792 Rm = 0,5992
0,4208 Rm = 0,5992
Rm =1,3766
XD
Dari grafik diperoleh, = 0,41
Rm +1
XD
Rm +1 =
0,41
0,9744
Rm +1 = =2,3767
0,41
Rm = 2,3767 − 1 = 1,3767
Hasil perhitungan dan hasil dari grafik terbukti sama.

Umpan uap jenuh


Rm 0,9744 - 0,44
= =0,7277
Rm +1 0,9744 - 0,24
Rm
=0,7277
Rm +1
Rm = 0,7277 Rm +0,7277
Rm - 0,7277 Rm = 0,7277
0,2723 Rm = 0,7277
Rm =2,6722
XD
Dari grafik diperoleh, = 0,2675
Rm +1
XD
Rm +1 =
0,2675
0,9744
Rm +1 = =3,6428
0,2675

70 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Rm = 3,6428 − 1 = 2,6428
Hasil perhitungan dan hasil dari grafik terbukti sama.

Umpan campuran, 2/3 uap dan 1/3 cair


Rm 0,9744 - 0,59
= =0,6308
Rm +1 0,9744 - 0,365
Rm
=0,6308
Rm +1
Rm = 0,6308 Rm +0,6308
Rm - 0,6308 Rm = 0,6308
0,3692 Rm = 0,6308
Rm =1,7087
XD
Dari grafik diperoleh, = 0,36
Rm +1
XD
Rm +1 =
0,36
0,9744
Rm +1 = =2,7068
0,36
Rm = 2,7068 − 1 = 1,7068
Hasil perhitungan dan hasil dari grafik terbukti sama.

Tugas Pertemuan ke – 8:
Suatu menara distilasi digunakan untuk memisahkan campuran biner yang terdiri
dari 50% berat A BM = 76 dan 50% berat B BM = 154 menjadi produk atas yang berisi
95% berat A dan produk bawah yang berisi 99,5% berat B. Umpan masuk terdiri dari
30% uap, relatif volatility dari campuran biner adalah 2,35.
a. Hitung laju produk (D dan B)
b. Carilah tray dan refluks minimum
c. Carilah jumlah tray yang sebenarnya (aktual) bila digunakan R = 2Rm dan efisiensi
80%

D. Penentuan Bubble Point, Dew Point, dan Jumlah Stage Minimum untuk
Refluk Total Distilasi Multikomponen
Dalam industri banyak proses distilasi melibatkan pemisahan lebih dari dua
komponen. Prinsip umum desain menara distilasi multikomponen sama dengan yang
dijelaskan untuk sistem biner. Ada satu keseimbangan massa untuk setiap komponen
dalam campuran multikomponen. Entalpi atau heat balance dibuat serupa dengan
yang digunakan untuk kasus biner. Data ekuilibrium digunakan untuk menghitung
titik didih dan titik embun. Konsep refluks minimum dan refluks total sebagai kasus
pembatas juga digunakan.

71 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 3.16 Distilasi Multikomponen


Dalam distilasi biner, satu menara digunakan untuk memisahkan dua
komponen A dan B menjadi komponen yang relatif murni dengan A pada bagian atas
dan B pada bagian bawah. Namun, dalam campuran multikomponen komponen n,
fractionator n-1 diperlukan untuk pemisahan. Misalnya, untuk sistem tiga komponen,
komponen A, B, dan C, dimana A adalah yang paling mudah menguap dan C paling
tidak stabil, dibutuhkan dua kolom, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.16.
Umpan A, B, dan C didistilasi dalam kolom 1 dan A dan B dimurnikan pada bagian atas
dan C pada bagian bawah. Karena pemisahan dalam kolom ini adalah antara B dan C,
bagian bawah yang mengandung C akan mengandung sejumlah kecil B dan seringkali
jumlah A yang dapat diabaikan (sering disebut trace komponen). Jumlah trace
komponen A pada bagian bawah seringkali dapat diabaikan jika volatilitas relatif
cukup besar. Di kolom 2, umpan A dan B didistilasi dengan A dalam distilasi yang
mengandung sejumlah kecil komponen B dan jumlah yang jauh lebih kecil dari C.
Bagian bawah yang mengandung B juga akan terkontaminasi dengan sejumlah kecil
C dan A. Bergantian, kolom 1 dapat digunakan untuk memurnikan A pada bagian atas
dengan B plus C yang diumpankan ke kolom 2 untuk pemisahan B dan C.
Dalam distilasi multikomponen, seperti dalam biner, tahapan ideal atau stages
diasumsikan dalam perhitungan stages ke stages. Dengan menggunakan data
kesetimbangan, perhitungan kesetimbangan digunakan untuk mendapatkan titik
didih dan komposisi uap kesetimbangan dari komposisi uap yang diberikan.
Dalam desain kondisi umpan umumnya ditentukan (suhu, tekanan, komposisi,
laju aliran). Kemudian, dalam banyak kasus, prosedur perhitungan mengikuti salah
satu dari dua metode umum. Dalam metode pertama, pemisahan yang diinginkan
antara dua komponen ditentukan dan jumlah stages teoritis dihitung untuk rasio
refluks yang ditentukan. Lebih dari dua komponen dalam umpan komposisi dari
distilat dan bottom tidak diketahui dan prosedur trial and error harus digunakan.
Dalam metode kedua, jumlah stages di bagian enriching dan di bagianbottom dan
rasio refluks ditentukan atau diasumsikan dan pemisahan komponen dihitung
menggunakan asumsi aliran cairan dan uap dan suhu untuk trial yang pertama.
Untuk sistem multikomponen yang dianggap ideal, hukum Raoult dapat
digunakan untuk menentukan komposisi uap dalam kesetimbangan dengan cairan.
Misalnya, untuk sistem yang terdiri dari empat komponen A, B, C, dan D.

pA = PA xA pB = PB xB pC = PC xC pD = PD xD … … … 3.41)

72 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

pA PA pB PB pC PC pD PD
yA = = x yB = = x yC = = x yD = = x … . .3.42)
P P A P P B P P C P P D

Dalam sistem hidrokarbon, karena non-ideal, data kesetimbangan sering diwakili


oleh
yA =KA xA yB =KB xB yC =KC xC yD =KD xD … … … … . … … … 3.43)
dimana KA adalah konstanta kesetimbangan uap cair atau koefisien distribusi untuk
komponen A. Nilai-nilai K untuk sistem hidrokarbon ringan (metana sampai dekana)
telah ditentukan secara semiempiris dan setiap K adalah fungsi temperatur dan
tekanan. Untuk sistem hidrokarbon ringan, K umumnya diasumsikan tidak berfungsi
sebagai komposisi, yang cukup akurat untuk sebagian besar perhitungan teknik.
Perhatikan bahwa untuk sistem yang ideal, KA = PA/P, dan seterusnya.
Relatif volatilitas untuk masing - masing komponen dalam campuran
multikomponen dapat didefinisikan dengan cara yang serupa dengan campuran
biner. Jika komponen C dalam campuran A, B, C dan D dipilih sebagai komponen dasar
Ki KA KB KC KD
αi = αA = αB = αC = αD = … … .3.44)
KC KC KC KC KC

Bubble point
Pada tekanan tertentu, titik didih atau titik gelembung dari campuran
multikomponen tertentu harus memenuhi relasinya. Untuk campuran A, B, C, dan D
dengan C sebagai komponen dasar
∑ yi = ∑ Ki xi = Kc ∑ αi xi = 1,0…………………………3.45)

Perhitungannya adalah proses trial and error sebagai berikut. Pertama suhu
diasumsikan dan nilai - nilai dihitung dari nilai - nilai Ki pada suhu tsb. Kemudian nilai
KC dihitung dari KC = 1/i.xi. Suhu yang sesuai dengan nilai terhitung dari KC =
1/i.xi. Suhu yang sesuai dengan nilai terhitung K C dibandingkan untuk
mengasumsikan suhu. Jika nilai berbeda, suhu yang dihitung digunakan untuk iterasi
berikutnya. Setelah suhu akhir diketahui, komposisi uap dihitung dari
αi xi
yi = ……………………….……………….3.46)
∑ (αi xi )

Dew point
Untuk perhitungan titik embun juga dengan trial and error
y 1 y
∑ xi = ∑ ( i ) = ( ) ∑ ( i ) =1,0 ……………….3.47)
Ki KC αi
Nilai KC dihitung dari KC = (yi/i). Setelah suhu akhir diketahui, komposisi cair
dihitung dari
yi /αi
xi = ……………………….……………….3.48)
∑ (yi /αi )

Key komponen dalam distilasi multikomponen


Fraksinasi campuran multikomponen dalam menara distilasi akan memungkinkan
pemisahan hanya antara dua komponen. Untuk campuran A, B, C, dan D dan
seterusnya, pemisahan dalam satu menara hanya dapat dilakukan antara A dan B atau
B dan C, dan seterusnya. Komponen - komponen tsb memisahkan yang disebut light
key (komponen ringan), yang lebih mudah menguap (diidentifikasi oleh subscript L),

73 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

dan komponen berat (H). Komponen lebih mudah menguap daripada light key
disebut light komponen dan akan ada di bagian bawah dalam jumlah kecil. Komponen
yang kurang stabil daripada light key disebut heavy key (komponen berat) dan
berada dalam distilat dalam jumlah kecil. Dua komponen utama hadir dalam jumlah
yang signifikan baik di bagian distillate maupun bottom.

Stages minimum untuk refluks total


Sama seperti dalam distilasi biner, jumlah stages minimum, Nm, dapat ditentukan
untuk distilasi multikomponen untuk refluks total. Persamaan Fenske juga berlaku
untuk setiap komponen dalam sistem multikomponen. Ketika diterapkan ke
komponen berat (H) dan komponen ringan (L) menjadi
log[(yLDD⁄yHD D)(xHBB⁄xLB B)]
Nm = ……………….………….3.49)
log(αL,av )
dimana xLD adalah fraksi mol komponen ringan (light key) dalam distilat, x LB adalah
fraksi mol di bagian bawah, xHD adalah fraksi mol komponen berat (heavy key) dalam
distilat, dan xHB adalah fraksi mol di bagian bawah. Nilai rata-rata L light key dihitung
dari LD pada suhu atas dan LB pada suhu bottom.
αL, av = √αLD . αLB … … … … … . . . … … … … … … … 3.50)
Perhatikan titik embun distilat (dew point) dan titik didih diestimasi secara trial and
error, karena distribusi komponen dalam distilat dan bottom tidak diketahui dan
dapat mempengaruhi nilai-nilai yang lain.

Distribusi komponen lain


Untuk menentukan distribusi atau konsentrasi komponen lain dalam distilat dan
bagian bottom pada refluks total, persamaan dapat disusun kembali dan ditulis untuk
setiap komponen lainnya
yiDD Nm y D
= (αL,av ) . HD … … … … … … … … . . … … … . .3.51)
xiBB xHB B
Konsentrasi komponen lain yang ditentukan pada refluks total dapat digunakan
sebagai perkiraan dengan rasio refluks minimum tidak terhingga.

Refluks rasio minimum untuk distilasi multikomponen


Rasio refluks minimum, Rm adalah rasio refluks ketika jumlah stages tak terhingga
untuk pemisahan key komponen. Untuk distilasi biner hanya ada satu "pinch point"
dimana jumlah stages menjadi tak hingga, dan ini biasanya disebut stages umpan.
Untuk distilasi multikomponen, dua pinch points atau zona komposisi konstan
terjadi: satu di bagian atas plate umpan dan yang lain di bagian bawah plate umpan.
Metode underwood untuk menghitung Rm menggunakan nilai rata-rata konstan dan
juga mengasumsikan aliran konstan di bagian menara. Metode ini memberikan nilai
yang cukup akurat. Kedua persamaan yang harus dipecahkan untuk menentukan
rasio refluks minimum adalah
αi xiF
1-q=∑ ………………………………….………...……..3.52)
αi - θ
αi xiD
Rm + 1= ∑ …………………………………………...……..3.53)
αi - θ
Untuk menyelesaikan Rm, nilai  pada Persamaan 3.52 yang pertama diperoleh
dengan trial and error. Nilai  berkisar antara nilai  light key dan nilai  heavy key,
yaitu 1,0.

74 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Jumlah stages pada operasi refluks rasio


Penentuan jumlah stages minimum untuk refluks total dan refluks minimum berguna
untuk menetapkan rentang jumlah stages dan kondisi aliran yang diizinkan. Rentang
ini sangat membantu untuk memilih kondisi operasi tertentu untuk perhitungan
desain alat distilasi.

Gambar 3.17 Korelasi Erbar dan Maddox antara refluks rasio dan jumlah stages (R m
berdasarkan Persamaan Underwood (Persamaan 3.53)

Metode penting untuk menentukan jumlah stages teoritis dari stages yang diperlukan
untuk rasio refluks operasi R adalah korelasi empiris Erbar dan Maddox yang
ditampilkan pada Gambar 3.17. Pada Gambar 3.17 rasio refluks operasi R (untuk laju
aliran di bagian atas kolom) berkorelasi dengan Rm minimum yang diperoleh dengan
menggunakan metode Underwood, jumlah stages minimum N m yang diperoleh
dengan metode Fenske, dan jumlah stages N pada operasi R .

Kirkbride telah menyusun metode perkiraan untuk memperkirakan jumlah stages


teoritis di atas dan di bawah umpan yang dapat digunakan untuk memperkirakan
lokasi stages umpan. Relasi emperikal ini adalah sebagai berikut:

2
Ne xHF B xLB
log = 0,206 log [( ) ( ) ] ……………………………..3.54)
Ns xLF D yHD
N = Ne + Ns…………………………………………………….3.55)

75 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

di mana Ne adalah jumlah stages teoritis di atas plate umpan dan N s jumlah stages
teoritis di bawah plate umpan.

Contoh soal 11-7.2 : Menghitung laju alir produk, dew point, bubble point,
refluks rasio minimum dan jumlah stages pada saat refluks total
Umpan cair diumpankan ke menara distilasi pada 405,3 kPa abs. Komposisi dalam
fraksi mol adalah sebagai berikut: n-butana (xA = 0,40), n-pentana (xB = 0,25), n-
heksana (xC = 0,20), n-hepatne (xD = 0, 15). Hitunglah:
a. Laju alir dan komposisi di distilat dan bottom
b. Dew point dan bubble point
c. Jumlah stages minimum untuk refluks total dan distribusi komponen lain dalam
distilat dan bottoms
d. Rasio refluks minimum menggunakan metode Underwood
e. Jumlah stages teoritis pada rasio refluks operasi R = 1,5 Rm menggunakan korelasi
Erbar – Maddox
f. Lokasi stages umpan menggunakan metode Kirkbride

Jawab:

Distillate
A
F = 100 mol/jam B = 90%
P = 405,3 kPa C

A (n-butana) = 40%
B (n-pentana) = 25%
C (n-heksana) = 20%
D (n-heptana) = 15%
Bottom
B
C = 90%
D
a. Laju alir dan komposisi di distilat dan bottom
Yang menjadi key komponen adalah n-pentana (B) dan n-heksana (C).
Light key adalah n-pentana (B). Heavy key adalah n-heksana (C).
Base komponen (komponen dasar) adalah komponen n-heksana (C).

Laju alir umpan = 100 mol/jam


Laju alir komponen di umpan adalah:
xAF.F = 0,4 x 100 = 40 mol/jam
xBF.F = 0,25 x 100 = 25 mol/jam
xCF.F = 0,20 x 100 = 20 mol/jam
xDF.F = 0,15 x 100 = 15 mol/jam

Neraca massa komponen


xiF.F = yiD.D + xiB.B

76 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Komponen A :
xAF.F = yAD.D + xAB.B = 40 = yAD.D + 0
yAD.D = 40
Komponen B :
xBF.F = yBD.D + xBB.B
yBD.D = 90% . xBF.F = 0,9 . 25 = 22,5 mol/jam
xBB.B = xBF.F - yBD.D = 25 – 22,5 = 2,5 mol/jam
Komponen C
XCF.F = yCD.D + xCB.B
xCB.B = 90% . xCF.F = 0,9 . 20 = 18 mol/jam
yCD.D = xCF.F - xCB.B = 20 – 18 = 2 mol/jam
Komponen D
XDF.F = yDD.D + xDB.B = 15 = 0 + xDB.B
xDB.B = 15

Laju alir total di distilat, D = yAD.D + yBD.D + yCD.D = 40 + 22,5 + 2 = 64,5 mol/jam
Fraksi mol masing – masing komponen di distilat :
yAD.D = 40
yAD = 40/64,5 = 0,6202
yBD.D = 22,5
yBD = 22,5/64,5 = 0,3488
yCD.D = 2
yCD = 2/64,5 = 0,0310

Laju alir total di bottom, B = xBB.B + xCB.B + xDB.B = 2,5 + 18 + 15 = 35,5 mol/jam
Fraksi mol masing – masing komponen di bottom :
xBB.B = 2,5
xBB = 2,5/35,5 = 0,0704
xCB.B = 18
xCB = 18/35,5 = 0,5070
xDB.B = 15
xDB = 15/35,5 = 0,4225

Laju alir di distilat dan bottom serta komposisi masing – masing komponen di distilat
dan bottom
Komponen xiF xiFF yiD yiDD XiB xiBB
A (n-Butane) 0,4 40 0,6202 40 0,0000 0
B (n-Pentane) L 0,25 25 0,3488 22,5 0,0704 2,5
C (n-Hexane) H 0,2 20 0,0310 2 0,5070 18
D (n-Heptane) 0,15 15 0,0000 0 0,4225 15
Total 1 100 1 64,5 1 35,5

77 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

b. Dew point dan bubble point


Dew point
Komponen A B C
A (n-Butane) 13,6608 2154,7 238,789
B (n-Pentane) 13,7667 2451,88 232,014
C (n-Hexane) 13,8193 2696,04 224,317
D (n-Heptane) 13,8622 2910,26 216,432

B
ln P (kPa) = A - o
t ( C) + C
Asumsi T dew point = 70oC
2154,7
(13,6608 - 70 + 238,789 )
pA = e = 798,629 kPa
2451,88
(13,7667 - 70 + 232,014 )
pB = e = 283,800 kPa
2696,04
(13,8193 - 70 + 224,317 )
pC =e = 105,528 kPa
2910,26
(13,8622 - )
pD = e 70 + 216,432 = 40,251 kPa
Ptot = 405,3 kPa
pi
Ki =
Ptot
pA 798,629
KA = = = 1,97
Ptot 405,3
p 283,800
KB = B = = 0,70
Ptot 405,3
p 105,528
KC = C = = 0,26
Ptot 405,3
p 40,251
KD = D = = 0,10
Ptot 405,3
Ki
αi =
KC
KA 1,97
αA = = = 7,568
KC 0,26
KB 0,70
αB = = = 2,689
KC 0,26
KC 0,26
αC = = = 1,00
KC 0,26
KD 0,10
αD = = = 0,384
KC 0,26
yiD ⁄αi
yAD 0,6202
= = 0,0819
αA 7,568
yBD 0,3488
= = 0,1297
αB 2,689
yCD 0,0310
= = 0,0310
αC 1,00

78 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

yDD 0
= =0
αD 0,384
y y y y
∑ yiD ⁄αi = AD + BD + CD + DD
αA αB αC αD
∑ yiD ⁄αi = 0,0819 + 0,1297 + 0,0310 + 0 = 0,2427

KC = ∑ yiD ⁄αi
0,26 = 0,2427
Karena Kc  yiD/i , maka dilakukan trial and error terhadap T dengan menggunakan
Goal Seek di Ms Excel, sehingga diperoleh T dew point adalah 67,39oC dan Kc = yiD/i
yaitu 0,239. Komposisi cairan di distilat adalah
yi /αi
xi =
∑ (yi /αi )
0,0801
xA = = 0,3347
0,2349
0,1283
xB = = 0,5358
0,2349
0,0310
xC = = 0,1295
0,2349
0
xD = =0
0,2349
Komposisi distilat dengan T dew point = 67,39oC adalah
Komponen yiD Ki = pi/Ptot ai = Ki/KC yiD/ai xi
A (n-Butane) 0,6202 1,86 7,740 0,0801 0,3347
B (n-Pentane)
L 0,3488 0,65 2,720 0,1283 0,5358
C (n-Hexane)
H 0,0310 0,24 1,000 0,0310 0,1295
D (n-Heptane) 0,0000 0,09 0,380 0,0000 0,0000
Total 0,2394 1

Bubble point
Asumsi T dew point = 70oC
2154,7
(13,6608 - 130 + 238,789 )
pA = e = 2485,337 kPa
2451,88
(13,7667 - 130 + 232,014)
pB = e = 1089,869 kPa
2696,04
(13,8193 - 130 + 224,317)
pC =e = 497,792 kPa
2910,26
(13,8622 - 130 + 216,432)
pD = e = 235,458 kPa
Ptot = 405,3 kPa
pi
Ki =
Ptot
pA 2485,337
KA = = = 6,13
Ptot 405,3
p 1089,869
KB = B = = 2,69
Ptot 405,3

79 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

pC 497,792
KC = = = 1,23
Ptot 405,3
p 235,458
KD = D = = 0,58
Ptot 405,3
Ki
αi =
KC
KA 6,13
αA = = = 4,993
KC 1,23
KB 2,69
αB = = = 2,189
KC 1,23
KC 1,23
αC = = = 1,00
KC 1,23
KD 0,58
αD = = = 0,473
KC 1,23
i . xiB
A . xAB = 4,993 . 0 = 0
B . xBB = 2,189 . 0,0704 = 0,1542
C . xCB = 1 . 0,5070 = 0,5070
D . xDB = 2,473 . 0,4225 = 0,1999
∑ i . xi B = A . xA B + B . xB B + C . xC B + D . xDB

∑ i . xi B = 0 + 0,1542 + 0,5070 + 0,1999 = 0,8611


1 1
= = 1,1613
∑ i . xiB 0,8611
1
KC =
∑ i . xiB
1,23 = 1,1613
Karena Kc  1/i.xiB , maka dilakukan trial and error terhadap T dengan
menggunakan Goal Seek di Ms Excel, sehingga diperoleh T bubble point adalah
127,45oC dan Kc = 1/i.xiB yaitu 0,161. Komposisi uap di bottom adalah
αi xi
yi =
∑ (αi xi )
0
yA = =0
0,8608
0,1553
yB = = 0,1804
0,8608
0,5070
yC = = 0,5891
0,8608
0,1984
yD = = 0,2305
0,8608

80 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Komposisi bottom dengan T bubble point = 127,45oC adalah


Komponen xiB Ki = pi/Ptot ai = Ki/KC ai . xiB yi
A (n-Butane) 0,0000 5,89 5,065 0,0000 0,0000
B (n-Pentane) L 0,0704 2,56 2,205 0,1553 0,1804
C (n-Hexane) H 0,5070 1,16 1,000 0,5070 0,5891
D (n-Heptane) 0,4225 0,55 0,470 0,1984 0,2305
Total 1 0,8608 1

c. Jumlah stages minimum untuk refluks total dan distribusi komponen lain
dalam distilat dan bottoms
Relatif volatility light key di distilat, LD = 2,720
Relatif volatility light key di bottom, LB = 2,205
Relatif volatility rata − rata, αL, av = √αLD . αLB
αL, av = √αLD . αLB = √2,720 . 2,205 = 2,449
log[(yLDD⁄yHD D)(xHBB⁄xLB B)]
Nm =
log(αL,av )
log[(0,3488 . 64,5⁄0,0310 . 64,5)(0,5070 . 35,5⁄0,0704 . 35,5)]
Nm = = 4,907
log (2,449)
Jumlah stages minimum untuk refluks total adalah 4,907 stages (3,9 stages + 1 stages
reboiler).

Distribusi komponen lain dalam distilat dan bottoms


Komponen A
Relatif volatility komponen A di distilat, AD = 7,740
Relatif volatility komponen A di bottom, AB = 5,065
Relatif volatility rata − rata, αA, av = √αAD . αAB
αA, av = √7,740 . 5,065 = 6,261
yAD D Nm y D
= (αA,av ) . HD
xAB B xHBB
yAD D 0,0310 . 64,5
= 6,261 4,907 . = 901,1292
xAB B 0,5070 . 35,5
yAD D = 901,1292 xABB
Neraca Massa Total Komponen A : xAFF = yADD + xABB
xAF F = 40
40 = 901,1292 xAB B + xABB
40 = 902,1292 xAB B
40
xAB B = = 0,044
902,1292

B = 35,5
0,044
xAB = = 0,0012
35,5
yAD D = xAF F - xABB
yAD D = 40 - 0,044 = 39,956
D = 64,5

81 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

39,956
yAD = = 0,6195
64,5

Komponen D
Relatif volatility komponen D di distilat, DD = 0,38
Relatif volatility komponen D di bottom, DB = 0,470
Relatif volatility rata − rata, αD, av = √αDD . αDB
αD, av = √0,38 . 0,470 = 0,422
yDD D Nm y D
= (αD,av ) . HD
xDB B xHBB
yDD D 0,0310 . 64,5
= 0,422 4,907 . = 0,0016
xDB B 0,5070 . 35,5
yDD D =0,0016 xDBB
Neraca Massa Total Komponen D : xDFF = yDD D + xDB B
xDF F = 15
15 = 0,0016 xDB B + xDB B
15 = 1,0016 xDB B
15
xDB B = = 14,976
1,0016
B = 35,5
14,976
xDB = = 0,4219
35,5
yDD D = xDF F - xDB B
yDD D = 15 - 14,976 = 0,024
D = 64,5
0,024
yAD = = 0,0004
64,5
Sehingga distribusi komponen lain dapat dilihat pada Tabel di bawah ini
Distillate, D Bottom, B
Komponen
yiD yiDD xiB xiBB
A (n-Butane) 0,6195 39,956 0,0012 0,044
B (n-Pentane) L 0,3488 22,500 0,0704 2,500
C (n-Hexane) H 0,0310 2,000 0,5070 18,000
D(n-Heptane) 0,0004 0,024 0,4219 14,976
Total 1 64,480 1 35,520

d. Rasio refluks minimum menggunakan metode Underwood


Dew point = 67,39oC
Bubble point = 127,45oC
Suhu rata – rata = (67,39 + 127,45)/2 = 97,42oC
Maka nilai P pada suhu rata – rata adalah:
2154,7
(13,6608 - 97,42 + 238,789 )
pA = e = 1410,98 kPa
2451,88
(13,7667 - )
pB = e 97,42 + 232,014 = 557,83 kPa
2696,04
(13,8193 - 97,42 + 224,317)
pC =e = 230,38 kPa

82 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

2910,26
(13,8622 - )
pD = e 97,42 + 216,432 = 98,45 kPa

Ptot = 405,3 kPa


pi
Ki =
Ptot
pA 1410,98
KA = = = 3,48
Ptot 405,3
p 557,83
KB = B = = 1,38
Ptot 405,3
p 230,38
KC = C = = 0,57
Ptot 405,3
p 98,45
KD = D = = 0,24
Ptot 405,3
Ki
αi =
KC
KA 3,48
αA = = = 6,12
KC 0,57
KB 1,38
αB = = = 2,42
KC 0,57
KC 0,57
αC = = = 1,00
KC 0,57
KD 0,24
αD = = = 0,43
KC 0,57

Sehingga data – data pada suhu rata – rata adalah


Komponen xiF yiD xiB Pi Ki = pi/Ptot i = Ki/KC
A (n-Butane) 0,4 0,6195 0,0012 1410,98 3,48 6,12
B (n-Pentane) L 0,25 0,3488 0,0704 557,83 1,38 2,42
C (n-Hexane) H 0,2 0,0310 0,5070 230,38 0,57 1,00
D(n-Heptane) 0,15 0,0004 0,4219 98,45 0,24 0,43
Total 1 1 1

q = 1 ((karena umpan pada boiling point (cairan jenuh))


αi xiF
1-q=∑
αi - θ
Nilai  untuk pertama kali diasumsikan dan berada di antara nilai L s/d H yaitu
antara 1 s/d 2,42.
Asumsi  = 1,5, Sehingga
6,12 . 0,4 2,42 . 0,25 1,00 . 0,2 0,43 . 0,15
1-q=( )+ ( )+ ( )+ ( ) = 0,727
6,12 − 1,5 2,42 − 1,5 1,00 − 1,5 0,43 − 1,5
1–q=0
dan 0  0,727
Karena 1 – q  i.xiF/i-, maka dilakukan trial and error terhadap  dengan
menggunakan Goal Seek di Ms Excel, sehingga diperoleh  = 1,217.
αi yiD
Rm + 1= ∑
αi - θ

83 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

6,12 . 0,6195 2,42 . 0,3488 1,00 . 0,0310


Rm + 1= ( )+ ( )+ ( )
6,12 − 1,217 2,42 − 1,217 1,00 − 1,217
0,43 . 0,0004
+( ) = 1,332
0,43 − 1,217
Rm = 1,332 – 1 = 0,332

e. Jumlah stages teoritis pada rasio refluks operasi R = 1,5 Rm menggunakan


korelasi Erbar – Maddox
R = 1,5 . 0,332 = 0,498
R 0,498
= = 0,3323
R + 1 0,498 + 1
Rm 0,332
= = 0,2491
Rm + 1 0,332+1
Dari Gambar Grafik korelasi Erbar - Maddox, dengan memplot nilai R/R+1 dan
Rm/Rm+1 diperoleh nilai Nm/N = 0,49

Nm/N = 0,49
Nm = 4,907
N = 0,49/4,907 = 10,014  11 (10 stages teoritis + 1 stages reboiler)

g. Lokasi stages umpan menggunakan metode Kirkbride


2
Ne xHF B xLB
log = 0,206 log [( ) ( ) ]
Ns xLF D yHD

84 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Ne 0,2 35,5 0,0704 2


log = 0,206 log [( ) ( ) ] = 0,07339
Ns 0,25 64,5 0,0310
Ne/Ns = log-1 (0,07339) = 1,184
Ne = 1,184Ns
N = Ne + Ns
11 = Ne + Ns
11 = 1,184Ns + Ns
11 = 2,184Ns
Ns = 11/2,184 = 5,04  5
11 = Ne + 5
Ne = 11 – 5 = 6
Hal ini berarti stages umpan berada di stages ke 6 stages dari atas.

4. Rangkuman
Langkah yang harus dilakukan dalam perancangan menara distilasi dengan
menggunakan metode Mc. Cabe and Thiele adalah:
1. Buat diagram Y Vs X
2. Hitung q
3. Tentukan titik fraksi distilat (XD), fraksi umpan (XF), dan fraksi bottom (XB)
4. Buat garis q melalui titik fraksi umpan (XF) dengan slope (q/q–1)
5. Hitung nilai (XD/R + 1 )
6. Buat garis operasi atas, dengan cara menarik garis lurus dari titik X D yang
memotong garis q dengan slope (XD/R + 1 )
7. Buat garis operasi bawah, dengan cara menarik garis lurus dari perpotongan garis
operasi atas dengan q ke titik XB
8. Hitung jumlah tray (stage)
Catatan: titik XD, XF, dan XB terletak pada garis lurus kurva kesetimbangan (garis
kesetimbangan)

q
1

XB XF XD

85 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 1.1 Kondisi garis operasi untuk berbagai kondisi umpan


Kondisi VF LF HGF HLF HF q (q / q-1)
1. Cairan dingin 0 F - hF H F < HL >1 +
2. Cairan jenuh 0 F - hF H F = HL =1 
3. Cairan dan uap VF LF HF hF hL<hF<HL 0-1 -
4. Uap jenuh F 0 HF - HF = HV 0 0
5. Uap lewat panas F 0 HF - H F > HV <0 +

Yi (2) (1)
(3)

(4)

(5)

Xi
Gambar 1.13 q Line pada berbagai kondisi

5. Pertanyaan/Diskusi
1. Suatu menara distilasi digunakan untuk memisahkan campuran biner yang
terdiri dari 50% berat A BM = 76 dan 50% berat B BM = 154 menjadi produk
atas yang berisi 95% berat A dan produk bawah yang berisi 99,5% berat B.
Umpan masuk terdiri dari 30% uap, relatif volatility dari campuran biner
adalah 2,35.
a. Hitung laju produk (D dan B)
b. Carilah tray dan refluks minimum
c. Carilah jumlah tray yang sebenarnya (aktual) bila digunakan R = 2Rm dan
efisiensi 80%
2. Problems 11.7-4 di Buku Geankoplis
Dikumpul dalam bentuk Ms Excel (tidak boleh copy paste excel teman) dikirim
ke email ellamelyna@kemenperin.go.id paling lambat Selasa, 1 Mei 2018
Pukul 23.59 WIB.

86 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB IV
EKSTRAKSI CAIR - CAIR
1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a) Prinsip ekstraksi
b) Single stage ekstraksi cair - cair
c) Continuous multistage countercurrent extraction
d) Continuous multistage crosscurrent extraction

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami proses ekstraksi cair-cair

3. Isi materi perkuliahan


A. Prinsip Ekstraksi
Ekstraksi cair-cair adalah pemisahan komponen dari suatu campuran cair
dengan mengontakkan pada cairan lain, sering disebut juga ekstraksi cair – cair atau
ekstraksi pelarut (solvent extraction). Pemisahannya berdasarkan perbedaan
kelarutan.
Alat - alat utama dan tahapan ekstraksi cair – cair:
1. Pencampuran atau mengkontakkan antara campuran dengan solvent
2. Pemisahan 2 fasa yang terbentuk
3. Pengambilan kembali (removal and recovery) solvent dari tiap fasa yang
terbentuk

Gambar 4.1 Tahapan ekstraksi cair - cair

Solute = zat terlarut


Solvent = fase yang menerima solute
Rafinat = fase darimana solute terambil / arus produk yang miskin solute
Ekstrak = arus produk yang kaya solute

Contoh - contoh proses ekstraksi:


a. Dalam produksi bahan bakar pada industri nuklir, proses cairan - cairan coal tar,
dan terutama pada pemisahan hidrokarbon pada industri petrokimia
b. Pemisahan aromatik dari minyak bakar berbasis kerosin untuk meningkatkan
kualitas pembakaran

87 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

c. Pemisahan aromatik dari senyawaan parafin atau nafta untuk meningkatkan


karakter viskositas suhu suatu minyak pelumas
d. Pengambilan senyawa relatif murni seperti benzena, toluen dan xylene dari
reformat yang dihasilkan secara katalitis pada industri
e. Produksi asam asetat anhidrat
f. Ekstraksi phenol dari larutan coal tar
g. Pemurnian penicilin (dari senyawaan lain sebagai hasil fermentasi yang sangat
kompleks)
h. Pada industri bioteknologi (biokimia) diperlukan ekstraktan (solvent) yang sangat
“lembut” dan khusus (misal: campuran air - polyethylene glycol – phosphat)
mengingat banyak solvent organik dapat mendegradasi bahan - bahan yang
sensitif (seperti protein)

Dalam operasi ekstraksi solvent, suatu solute C diambil dari salah satu fase
cairan dan ditransfer ke fase cairan yang lain. Sifat fisis yang mendasari operasi
pemisahan ini adalah kelarutan. Solute harus memiliki kelarutan yang lebih besar
didalam fasa solvent.

Alasan menggunakan ekstraksi solvent dibanding proses pemisahan lain:


1. Bila solute memiliki volatilitas yang rendah (susah menguap), proses ekstraksi
lebih disukai. Karena kalau menggunakan distilasi akan membutuhkan energi
yang sangat besar
2. Distilasi juga tidak dapat dilakukan apabila solute berupa padatan
3. Jika solute dan pelarut tidak tahan terhadap panas.
4. Ketiga alasan tersebut bisa diatasi dengan distilasi vakum, tapi biasanya sangat
mahal.

Kelemahan proses ekstraksi cair - cair:


1. Membutuhkan pemisahan lanjut untuk mendapatkan produk murni (C) dan
solvent (B) harus diambil kembali (recycle)
2. Solvent semakin lama berkurang (loss) padahal beberapa jenis solvent berharga
mahal
3. Membutuhkan peralatan multi stage.

Hubungan keseimbangan untuk ekstraksi solvent


Pada operasi ekstraksi yang paling sederhana, ada 3 komponen yang terdapat
dalam sistem (komponen A, B dan C). Campuran dari tiga komponen secara umum
ditunjukkan dalam diagram tiga dimensi. Diagram segitiga ini biasanya sama sisi. Kita
harus terlebih dahulu memahami cara penyusunan dan penggunaan diagram segitiga
untuk meyelesaikan persoalan - persoalan ekstraksi solvent.

88 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 4.2 Diagram segitiga

Hubungannya:
xA + xB + xC = 1……………………..………………….…….4.1)

Contoh:

Gambar 4.3 Diagram terner


Gambar 4.3 menunjukkan suatu diagram segitiga sama sisi. Skala dinyatakan dalam
persen berat. Tiap ujung segitiga mewakili kondisi 100% berat untuk tiap komponen.
Komposisi untuk tiap titik internal dapat ditentukan dari diagram dengan menarik
garis yang dari titik pada sisi sisi segitiga hingga membentuk sudut siku - siku. Garis
ini akan tegak lurus dengan sisi segitiga. Dibuat garis pembantu yang sejajar dengan
sisi segitiga untuk memudahkan pembacaan persen berat suatu titik.

Data kesetimbangan pada kordinat segitiga


Suatu digram fasa dimana pasangan komponen A dan B melarut sebagian
(partially miscible) diperlihatkan pada Gambar 4.4.

89 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 4.4 Digram fasa komponen A dan B melarut sebagian (partially miscible)
Contoh:
1. Methyl Isobutyl Ketone (A) – Air (B) – Acetone (C)
2. Air (A) – Chloroform (B) – Acetone (C)
3. Benzene (A) – Air (B) – Asam Asetat (C).

Terlihat pada Gambar 4.4, komponen C melarut secara sempurna di dalam A atau di
dalam B. Komponen A hanya sedikit melarut di dalam B dan B sedikit melarut didalam
A. Daerah dua fasa termasuk didalam kordinat segitiga (daerah diarsir kuning). Suatu
campuran awal M akan memisah menjadi 2 fasa a dan b yang berada dalam garis
kesetimbangan (tie line) melalui titik M. Garis kesetimbangan lain juga terlihat. Dua
fasa identik pada titik P yang disebut dengan Plait Point.
Pada Plait point, tie line tereduksi menjadi satu titik dimana ekstrak dan rafinat
adalah identik. Kedua fasa cair mempunyai komposisi yang sama, dua fasa menjadi
satu fasa.
Tie line digunakan untuk menghubungkan titik - titik pada ”miscibility
boundary” yang mewakili komposisi fasa kesetimbangan.

Data kesetimbangan pada koordinat rektangular


Karena diagram segitiga memiliki beberapa kekurangan, suatu metode yang
berguna adalah dengan memplotkan data ke tiga komponen ke koordinat
rektangular. Diagramnya terlihat pada Gambar 4.5 untuk sistem Asam asetat (A) – Air
(B) – isopropil ether (C). Data untuk sistem ini diperoleh dari Appendix A.3-24.
Pelarut B dan C adalah melarut sebagian.

90 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 4.5 Sistem Asam asetat (A) – Air (B) – Isopropil ether (C)

Konsentrasi komponen C diplotkan pada kordinat vertikal, dan A pada kordinat


horizontal. Sedangkan konsentrasi komponen B diperoleh dari persamaan:
xB = 1- xA - xC…………………………...………..4.2)
yB = 1- yA - yC…………………….………………4.3)
Dari gambar diatas, daerah dua fasa adalah yang didalam kurva/envelope (berwarna
kuning) sedangkan daerah 1 fasa adalah yg diluar kurva. Tie Line (garis g-i) terlihat
menghubungkan lapisan kaya air yang disebut lapisan rafinat, dan lapisan pelarut
kaya ether yang disebut lapisan ekstrak. Komposisi rafinat ditandai dengan x dan
komposisi ekstrak oleh y. Oleh karena itu fraksi massa C ditandai sebagai y C didalam
lapisan ekstrak dan xC didalam lapisan rafinat.

Penurunan aturan ”lever arm” secara grafik

Gambar 4.6 Grafik lever arm rule a) aliran proses, b) grafik tambahan

Pada Gambar 4.6a terlihat dua buah aliran L dan V , yang mengandung komponen A,
B dan C, dicampur menghasilkan aliran campuran M.

91 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Neraca massa total


V + L = M…………………………………………………..……..4.4)

Neraca massa komponen A


V . yA + L . xA = M . xAM ………………………………………….……..4.5)
dimana xAM = fraksi massa A didalam aliran M.

Neraca massa komponen C


V . yC + L . xC = M . xCM ……………………………………..………..4.6)
dengan menggabungkan Persamaan 4.4 dan Persamaan 4.5
V . yA + L . xA = (V + L) . xAM …………………………………………..4.7)
V . yA - V . xAM = L . xAM - L . xA …………………………………………..4.8)
V (yA - xAM) = L (xAM - xA) ……………………………………..……..4.9)
L yA - xAM
= … … … … … … … … … … … … … . … … . .4.10)
V xAM - xA
dengan menggabungkan Persamaan 4.4 dan Persamaan 4.6
V . yC + L . xC = (V + L) . xCM ……………………………….………..4.11)
L yC - xCM
= … … … … … … … … … … … … . . . … … . .4.12)
V xCM - xC
Persamaan 4.11 sama dengan Persamaan 4.12
yA - xAM y - xCM
= C … … … … … … … … … . … . .4.13)
xAM - xA xCM - xC
disederhanakan menjadi:
xC - xCM xCM - yC
= … … … … … … … … … . … . .4.14)
xA - xAM xAM - yA
Persamaan 4.14 menunjukkan titik – titik L, M, dan V harus terletak pada satu garis
seperti yang ditunjukkan Gambar 4.6b
L (kg) VM ̅̅̅̅
= ̅̅̅̅ … … … … … … … … . … … … … .4.15)
V (kg) LM
Aturan “lever arm” yang menyatakan bahwa kgL/kgV sama dengan panjang garis
VM/garis LM. Dalam bentuk matematik:
L (kg) ̅̅̅̅
VM
= ̅̅̅̅ … … … … … … … … . … … … … .4.16)
M (kg) LV

B. Single stage ekstraksi cair - cair


Pemisahan komponen A dari suatu campuran A dan B menggunakan pelarut C pada
kolom kesetimbangan single stage.

92 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 4.7 Kesetimbangan single stage ekstraksi cair – cair a) diagram aliran
proses, b) plot pada diagram fase
Terlihat dari skema, pelarut (V2) masuk bersamaan dengan aliran L0. Aliran dicampur
dan mengalami kesetimbangan kemudian keluar masing - masing dengan aliran V1
dan L1.

Persamaan untuk proses ini adalah sama seperti pada bagian sebelumnya, dimana y
adalah komposisi aliran V dan x komposisi aliran L.
Input = Output
L0 + V2 = L1 + V1 = M………………………..……….………4.17)
L0 xA0 + V2 yA2 = L1 xA1 + V1 yA1 = M xAM……………………..……….4.18)
L0 xC0 + V2 yC2 = L1 xC1 + V1 yC1 = M xCM……………………………….4.19)
xA + xB + xC = 1………………………………………...……4.20)
Karena jumlah dan komposisi L 0, V2 diketahui, maka M, xAM dan xCM dapat dihitung
dari persamaan 4.17, 4.18 dan 4.19. Titik - titik L0, V2 dan M dapat diplot seperti
ditunjukkan dalam Gambar 4.7b.

Dengan cara ”trial and error” dapat ditarik ”tie line” melalui titik M yang
menghasilkan komposisi L1 dan V1. Jumlah L1 dan V1 dapat ditentukan dari substitusi
ke dalam Persamaan 4.17 s/d Persamaan 4.19 atau dengan menggunakan aturan
lever arm.

Contoh soal 12.5-1 Geankoplis : Neraca Massa Ekstraksi Single Stage


Laju alir campuran 100 kg yang mengandung 30 kg isopropyl eter (C), 10 kg asam
asetat (A) dan 60 kg air (B) berada dalam kesetimbanagn kemudian dilakukan
pemisahan fase. Bagaimana komposisi dalam kesetimbangan?

Jawab:
Komposisi campuran umpan :
xC = 0,30
xA = 0,10
xB = 0,60
Komposisi xC dan xA diplot pada titik h dan g dengan cara trial error. Komposisi
lapisan ekstrak (eter) pada titik g adalah y A = 0,04, yC = 0,94, dan yB = 1,00 – 0,04 –

93 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

0,94 = 0,02 fraksi massa. Komposisi lapisan rafinat (air) pada titik I adalah x A = 0,12,
xC = 0,02, dan xB = 1,00 – 0,12 – 0,02 = 0,86.

1
0,95
g
0,9
0,85
0,8
Fraksi massa C ( xC, yC )

0,75
0,7
0,65
0,6
0,55
0,5
0,45
0,4
0,35
0,3 h
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05 i
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 0,5 0,55 0,6 0,65 0,7 0,75 0,8 0,85 0,9 0,95 1

Fraksi massa A ( xA, yA )


0,5
Komposisi Lapisan Ether ( Ekstrak ), yA

0,4

0,3

0,2

0,1

0
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1

Komposisi Lapisan Air (Rafinat), xA

Contoh soal 12.5-2 Geankoplis : Jumlah Fase dalam Ekstraksi Pelarut


Komposisi pada dua lapisan kesetimbangan sesuai dengan contoh soal 12.5-1 dengan
komposisi pada lapisan ekstrak (V) y A = 0,04, yB = 0,02, dan yC = 0,94 dan komposisi
pada lapisan rafinat (L) xA = 0,12, xB = 0,86, dan xC = 0,02. Laju campuran awal umpan
adalah 100 kg dan xAM = 0,10. Tentukan laju alir V dan L!

Jawab:
Substitusi ke Persamaan 4.4
V + L = M = 100

94 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Substitusi ke Persamaan 4.5 dimana M =100 kg dan x AM = 0,10.


V(0,04) + L(0,12) = 100(0,10)
Subsitusi hasil persamaan di atas:
V + L = 100
V = 100 – L
(100 – L) . (0,04) + L(0,12) = 10
4 – 0,04L + 0,12L = 10
4 – 0,08L = 10
0,08 L = 10 – 4
0,08 L = 6
L = 6/0,08 = 75
V = 100 -75 = 25
Menggunakan aturan ”lever arm” , berdasarkan panjang garis hg dan garis gi pada
grafik, maka:
L L ̅̅̅
hg 4,2
= = = = 0,725
M 100 ̅
gi 5,8
L = 0,725 M
L = 72,5
V = 100 – 72,5 = 27,5

95 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

1 g
0,95
0,9
0,85
0,8
Fraksi massa C ( xC, yC )

0,75
0,7
0,65
0,6
0,55
0,5
0,45
0,4
0,35
0,3 h
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05 i
0
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 0,5 0,55 0,6 0,65 0,7 0,75 0,8 0,85 0,9 0,95 1

Fraksi massa A ( xA, yA )


0,5
Komposisi Lapisan Ether ( Ekstrak ), yA

0,4

0,3

0,2

0,1

0
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1

Komposisi Lapisan Air (Rafinat), xA

c. Continuous multistage countercurrent extraction


Aliran proses ekstraksi dapat dilihat pada Gambar 4.8. Aliran umpan yang
mengandung zat terlarut A yang akan diekstraksi masuk pada salah satu ujung proses
dan aliran pelarut masuk dari ujung yang lain. Aliran ekstrak dan aliran raffinat
berlawanan arah dari stages ke stages, dan produk akhir adalah aliran ekstrak V 1
keluar dari stages 1 dan aliran raffinat LN keluar dari stages N.

96 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 4.8 Proses flow diagram multistage countercurrent extraction


Neraca massa kesetimbangan untuk semua stages adalah:
L0 + VN + 1 = LN + V1 = M………………………….4.21)
di mana M adalah neraca massa total dalam kg/jam, L 0 adalah laju aliran umpan
masuk dalam kg/jam, VN+1 laju aliran pelarut masuk dalam kg/jam, V1 aliran pelarut
keluar, dan LN aliran rafinat keluar. Neraca massa kesetimbangan pada komponen C
adalah:
L0 . xC0 + VN+1 . yCN+1 = LN . xCN + V1 . yC1 = M . xCM……4.22)
Substitusi Persamaan 4.21 dan Persamaan 4.22 menjadi:
L0 . xC0 + VN+1 . yCN+1 LN . xCN + V1 . yC1
xCM = = … … … … … . .4.23)
L0 + VN+1 LN + V1
Persamaan yang sama untuk komponen A:
L0 . xA0 + VN+1 . yAN+1 LN . xAN + V1 . yA1
xAM = = … … … … … . .4.24)
L0 + VN+1 LN + V1
Persamaan 4.23 dan Persamaan 4.24 dapat digunakan untuk menghitung koordinat
titik M pada diagram fase dan dua aliran masuk L0 dan VN+1 dan dua aliran keluar V1
dan LN. Biasanya, aliran dan komposisi L0 dan VN+1 diketahui dan komposisi keluar
yang diinginkan xAN diatur. Jika diplot poin L0, VN+1, dan M seperti pada Gambar 4.9,
garis lurus harus menghubungkan ketiga titik ini. Kemudian LN, M, dan V1 juga harus
berada pada satu garis. Titik LN dan V1 juga harus terletak pada garis kesetimbangan.

Contoh soal 12.7-1 Geankoplis : Neraca Massa Proses Countercurrent


Isopropil eter murni dengan kecepatan VN+1 = 600 kg/jam digunakan untuk
mengekstraksi larutan L0 = 200 kg/jam yang mengandung 30% berat asam asetat (A)
dengan ekstraksi countercurrent. Konsentrasi asam asetat yang diinginkan dalam
cairan adalah 4%. Hitung komposisi dan jumlah ekstrak ether V 1 dan LN pada fase
rafinat dan tentukan jumlah stage yang dibutuhkan!. Gunakan data Kesetimbangan
dari Apendiks A.3.

Jawab:
Data kesetimbangan asam asetat (A) – air (B) – isopropyl eter (C) dari Appendix A.3

97 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 4.1 Data untuk membuat kurva kesetimbangan antara ekstrak (A) dengan
pelarut (C)
Lapisan air Lapisan Ether
Asam asetat (xA) Isopropyl ether (yA) Asam asetat (xC) Isopropyl ether (yC)
0 0,012 0 0,994
0,0069 0,012 0,0018 0,993
0,0141 0,015 0,0037 0,989
0,0289 0,016 0,0079 0,984
0,0642 0,019 0,0193 0,971
0,133 0,023 0,0482 0,933
0,255 0,034 0,114 0,847
0,367 0,044 0,216 0,715
0,443 0,106 0,313 0,581
0,463 0,165 0,362 0,487

98 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Tabel 4.2 Data untuk membuat kurva komposisi lapisan ether (ekstrak) dan
komposisi lapisan air (rafinat)
Asam asetat di lapisan Asam asetat di lapisan
air (rafinat) (xA) ether (ekstrak) (yA)
0 0
0,0069 0,0018
0,0141 0,0037
0,0289 0,0079
0,0642 0,0193
0,133 0,0482
0,255 0,114
0,367 0,216
0,443 0,311
0,463 0,362

Solute (A) : Asam asetat


Campuran (B) : Air
Solvent (C) : Isopropil eter

VN+1 = 600
yAN+1 = 0
yCN+1 = 1
L0 = 200
xA0 = 0,30
xB0 = 0,70
xC0 = 0
xAN = 0,04
L0 . xC0 + VN+1 . yCN+1 200 . 0 + 600 . 1
xCM = = = 0,75
L0 + VN+1 200 + 600
L0 . xA0 + VN+1 . yAN+1 200 . 0,30 + 600 . 0
xAM = = = 0,075
L0 + VN+1 200 + 600

Langkah – langkah untuk menghitung stage ekstraksi counter current:


1. Tentukan titik L0 (xA0, xC0), VN+1 (yAN+1, yCN+1), dan LN (xAN, xCN)
2. Tentukan titik M (xAM, xCM)
3. Tentukan titik V1 (yA1, yC1) dengan menarik garis lurus dari titik L N ke kurva
ekstrak melalui titik M
4. Tentukan titik Δ dari perpotongan perpanjangan garis L 0V1 dengan garis LNVN+1
5. Tarik garis lurus dari titik V1 ke garis kurva kesetimbangan komposisi lapisan
ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis xA, yA, kemudian tarik garis lurus ke garis
lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L1 (hubungan garis – garis ini disebut
sebagai stages ke - 1)
6. Dari titik L1 tarik garis ke titik Δ sehingga memotong garis lapisan ekstrak yang
ditandai sebagai titik V2
7. Tarik garis lurus dari titik V2 ke garis kurva kesetimbangan komposisi lapisan
ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis xA, yA, kemudian tarik garis lurus ke garis

99 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L2 (hubungan garis – garis ini disebut
sebagai stages ke - 2)
8. Dari titik L2 tarik garis ke titik Δ sehingga memotong garis lapisan ekstrak yang
ditandai sebagai titik V3
9. Ulangi langkah 7 sampai garis VN+1 telah melewati titik LN
10. Hitung laju alir rafinat keluar (LN) dan laju alir ekstrak keluar (V1) dengan
Persamaan 4.21 dan 4.22
11. Hitung jumlah stage yang dibutuhkan

100 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

1 VN+1 (yAN+1, yCN+1)


0,95
0,9 V3 V2 V1 (yA1, yC1)
0,85
0,8
Fraksi massa C ( xC, yC )

0,75 M (xAM, xCM)


0,7
0,65 Lapisan ekstrak
0,6
0,55
0,5
0,45 3 2 1
0,4
0,35
0,3
0,25
0,2
0,15 Lapisan rafinat
0,1
0,05 LN (xAN, xCN) L2 L1
0 L0 (xA0, xC0)
0 0,020,040,060,080,10,120,140,160,180,20,220,240,260,280,30,320,340,360,380,40,420,440,460,480,5

Fraksi massa A ( xA, yA )


0,5
Komposisi Lapisan Ether ( Ekstrak ), yA

0,45

0,4

0,35

0,3

0,25

0,2

0,15

0,1

0,05

0
0 0,020,040,060,080,10,120,140,160,180,20,220,240,260,280,30,320,340,360,380,40,420,440,460,480,5

Komposisi Lapisan Air (Rafinat), xA

Warna merah = stage

101 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Dari hasil grafik di atas diperoleh:


yA1 = 0,08
yC1 = 0,90
xCN = 0,017
dengan substitusi Persamaan 4.21 dengan Persamaan 4.22
L0 + VN + 1 = LN + V1 = M = 200 + 600 = 800
LN = 800 – V1
LN . xCN + V1 . yC1 = M . xCM = (800 – V1) . 0,017 + V1 . 0,90 = 800 . 0,75
13,6 – 0,017.V1 + 0,90.V1 = 600
13,6 + 0,883.V1 = 600
0,883.V1 = 600 – 13,6
0,883.V1 = 586,4
V1 = 586,4/0,883 = 664 kg/jam
LN = 800 – V1 = 800 – 664 = 136 kg/jam
Jumlah stage yang dibutuhkan adalah 3 stage.

d. Continuous multistage crosscurrent extraction

S1 (yA0, yC0) S2 (yA0, yC0) SN-1 SN

1 2
L0, (xA0, xC0) L1 LN-2 LN-1 LN
L2

(xA1, (xA2, xC2)
xC1)

E1 (yA1, yC1) E2 (yA2, yC2) EN-1 EN

Neraca massa total:


L0 + S1 = L1 + E1 = M……………………………………………………4.25)
Neraca massa komponen A pada stage 1:
L0 . xA0 + S1 . yA0 = L1 . xA1 + E1 . yA1 = M . xAM1…………………….…………4.26)
L0 . xA0 + S1 . yA0
xAM1 = … … … … … … … … … … … … . … … … .4.27)
L0 + S1
Neraca massa komponen C pada stage 1:
L0 . xC0 + S1 . yC0 = L1 . xC1 + E1 . yC1 = M . xCM1……………………..…………4.28)
L0 . xC0 + S1 . yC0
xCM1 = … … … … … … … … … … … … . … … … .4.29)
L0 + S1

Contoh soal : Ekstraksi cair – cair crosscurrent


Isopropil eter murni dengan kecepatan S1 = S2 = SN = 600 kg/jam digunakan untuk
mengekstraksi larutan L0 = 200 kg/jam yang mengandung 30% berat asam asetat (A)
dengan ekstraksi countercurrent. Konsentrasi asam asetat yang diinginkan dalam
cairan adalah 4%. Hitung laju alir dan komposisi pada fase rafinat (L N) dan fase
ekstrak (EN) serta tentukan jumlah stage yang dibutuhkan!. Gunakan data
Kesetimbangan dari Apendiks A.3.

102 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Jawab:
S1 = 600
yA0 = 0
yC0 = 1
L0 = 200
xA0 = 0,30
xB0 = 0,70
xC0 = 0
xAN = 0,04

Stage 1 :
L0 . xC0 + S1 . yC0 200 . 0 + 600 . 1
xCM1 = = = 0,75
L0 + S1 200 + 600
L0 . xA0 + S1 . yA0 200 . 0,30 + 600 . 0
xAM1 = = = 0,075
L0 + S1 200 + 600

Langkah – langkah untuk menghitung stage ekstraksi cross current:


1. Tentukan titik M1 (xAM1, xCM1)
2. Tarik garis dari lapisan rafinat ke lapisan ekstrak yang melalui titik M 1, kemudian
tarik garis lurus ke garis kurva kesetimbangan komposisi lapisan ether (ekstrak)
dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva kesetimbangan tarik garis
lurus ke garis xA, yA, kemudian tarik garis lurus ke garis lapisan rafinat yang
ditandai sebagai titik L1 (hubungan garis – garis ini disebut sebagai stages ke - 1)
3. Dari grafik, dapat diperoleh data nilai komposisi lapisan rafinat keluar stage 1
(L1) yaitu xA1, xC1 dan komposisi lapisan ektrak keluar stage 1 (E1) yaitu yA1, yC1
4. Hitung laju alir rafinat keluar stage 1 (L1) dan laju alir ekstrak keluar stage 1 (E1)
dengan Persamaan 4.25 dan 4.26
5. Hitung posisi titik M2 (xAM2, xCM2) dengan Persamaan 4.32 dan 4.34 untuk
membuat stage 2
6. Tarik garis dari lapisan rafinat ke lapisan ekstrak yang melalui titik M 2, kemudian
tarik garis lurus ke garis kurva kesetimbangan komposisi lapisan ether (ekstrak)
dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva kesetimbangan tarik garis
lurus ke garis xA, yA, kemudian tarik garis lurus ke garis lapisan rafinat yang
ditandai sebagai titik L2 (hubungan garis – garis ini disebut sebagai stages ke - 2)
7. Dari grafik, dapat diperoleh data nilai komposisi lapisan rafinat keluar stage 2
(L2) yaitu xA2, xC2 dan komposisi lapisan ektrak keluar stage 2 (E2) yaitu yA2, yC2
8. Ulangi langkah 5 s/d langkah 7 sampai garis VN+1 telah melewati titik LN
9. Hitung laju alir rafinat keluar stage terakhir (L N) dan laju alir ekstrak keluar stage
terakhir (EN) dengan mempedomani Persamaan 4.30 dan 4.31
10. Hitung jumlah stage yang dibutuhkan

103 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

1 V2 (yA2, yC2)
0,95 V1 (yA1, yC1)
0,9
0,85
0,8 M2 (xAM2, xCM2)
Fraksi massa C ( xC, yC )

0,75 M1 (xAM1, xCM1)


0,7
0,65 Lapisan ekstrak
0,6
0,55
0,5
0,45
0,4
0,35
0,3
0,25
0,2
0,15 Lapisan rafinat
0,1
0,05 LN (xAN, xCN) L1 (xA1, xC1)
0
L2 (xA2, xC2)
0 0,020,040,060,080,10,120,140,160,180,20,220,240,260,280,30,320,340,360,380,40,420,440,460,480,5

Fraksi massa A ( xA, yA )


0,5
Komposisi Lapisan Ether ( Ekstrak ), yA

0,45

0,4

0,35

0,3

0,25

0,2

0,15

0,1

0,05

0
0 0,020,040,060,080,10,120,140,160,180,20,220,240,260,280,30,320,340,360,380,40,420,440,460,480,5

Komposisi Lapisan Air (Rafinat), xA


Warna merah = Stage 1
Warna biru = Stage 2

Dari grafik di atas diperoleh titik untuk stage 1:


xA1 = 0,14
xC1 = 0,025
yA1 = 0,058
yC1 = 0,91

maka nilai L1 adalah:


L0 + S1 = L1 + E1 = M = 200 + 600 = 800
L 1 = M – E1
Substitusi ke Persamaan 4.26
(M – E1) . xA1 + E1 . yA1 = M . xAM

104 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

(800 - E1) . 0,14 + E1 . 0,058 = 800 . 0,075


112 – 0,14E1 + 0,058E1 = 60
112 – 0,082E1 = 60
0,082E1 = 112 – 60
0,082E1 = 52
E1 = 52/0,082 = 634,15
L1 = M – E1 = 800 – 571,43 = 165,85

Stage 2
Neraca massa total untuk stage 2
L1 + S2 = L2 + E2 = M…………………………………….……4.30)
Neraca massa komponen A pada stage 2:
L1 . xA1 + S2 . yA0 = L2 . xA2 + E2 . yA2 = M . xAM2………………4.31)
L1 . xA1 + S2 . yA0
xAM2 = … … … … … … … … … … .4.32)
L1 + S2
L1 . xA1 + S2 . yA0 165,85 . 0,14 + 600 . 0
xAM2 = = = 0,030
L1 + S2 165,85 + 600
Neraca massa komponen C pada stage 2:
L1 . xC1 + S2 . yC0 = L2 . xC2 + E2 . yC2 = M . xCM2………………4.33)
L1 . xC1 + S2 . yC0
xCM2 = … … … … … … … … … … .4.34)
L1 + S2
L1 . xC1 + S2 . yC0 165,85 . 0,025 + 600 . 1
xCM2 = = = 0,789
L1 + S2 165,85 + 600

Dari grafik di atas diperoleh titik untuk stage 2:


xA2 = 0,07
xC2 = 0,02
yA2 = 0,024
yC2 = 0,97
maka nilai L2 adalah:
L1 + S2 = L2 + E2 = M = 165,85 + 600 = 765,85
L 2 = M – E2
Substitusi ke Persamaan 4.31
L2 . xA2 + E2 . yA2 = M . xAM2
(M – E2) . xA2 + E2 . yA2 = M . xAM2
(765,85 – E2) . 0,07 + E2 . 0,02 = 765,85 . 0,030
53,61 – 0,07E2 + 0,028E2 = 23,22
53,61 – 0,046E2 = 23,22
0,046E2 = 53,61 – 23,22
0,046E2 = 30,39
E2 = 30,39/0,046 = 660,66
L2 = M – E2 = 765,85 – 660,66 = 105,19
Jumlah stage yang dibutuhkan adalah 2 stage.

Tugas Pertemuan ke 11 : Ekstraksi Cross Current


Isopropil eter murni dengan kecepatan S1 = S2 = SN = 400 kg/jam digunakan untuk
mengekstraksi larutan L0 = 400 kg/jam yang mengandung 25% berat asam asetat (A)
dengan ekstraksi cross current. Konsentrasi asam asetat yang diinginkan dalam
cairan adalah 3%. Hitung laju alir dan komposisi pada fase rafinat (L N) dan fase

105 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

ekstrak (EN) serta tentukan jumlah stage yang dibutuhkan!. Gunakan data
Kesetimbangan dari Apendiks A.3. (Perbedaan titik dalam menentukan stage tidak
dipermasalahkan, yang penting langkah – langkah dan perhitungannya benar).

4. Rangkuman
a. Neraca massa total ekstraksi
L0 + V2 = L1 + V1 = M
b. Neraca massa komponen ekstraksi
L0 xA0 + V2 yA2 = L1 xA1 + V1 yA1 = M xAM
c. Titik M
L0 . xC0 + VN+1 . yCN+1 LN . xCN + V1 . yC1
xCM = =
L0 + VN+1 LN + V1
L0 . xA0 + VN+1 . yAN+1 LN . xAN + V1 . yA1
xAM = =
L0 + VN+1 LN + V1
d. Langkah – langkah untuk menghitung stage ekstraksi counter current:
1. Tentukan titik L0 (xA0, xC0), VN+1 (yAN+1, yCN+1), dan LN (xAN, xCN)
2. Tentukan titik M (xAM, xCM)
3. Tentukan titik V1 (yA1, yC1) dengan menarik garis lurus dari titik LN ke kurva
ekstrak melalui titik M
4. Tentukan titik Δ dari perpotongan perpanjangan garis L 0V1 dengan garis
LNVN+1
5. Tarik garis lurus dari titik V1 ke garis kurva kesetimbangan komposisi
lapisan ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis x A, yA, kemudian tarik garis lurus
ke garis lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L 1 (hubungan garis –
garis ini disebut sebagai stages ke - 1)
6. Dari titik L1 tarik garis ke titik Δ sehingga memotong garis lapisan ekstrak
yang ditandai sebagai titik V2
7. Tarik garis lurus dari titik V2 ke garis kurva kesetimbangan komposisi
lapisan ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis x A, yA, kemudian tarik garis lurus
ke garis lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L 2 (hubungan garis –
garis ini disebut sebagai stages ke - 2)
8. Dari titik L2 tarik garis ke titik Δ sehingga memotong garis lapisan ekstrak
yang ditandai sebagai titik V3
9. Ulangi langkah 7 sampai garis VN+1 telah melewati titik LN
10. Hitung laju alir rafinat keluar (L N) dan laju alir ekstrak keluar (V1) dengan
Persamaan 4.21 dan 4.22
11. Hitung jumlah stage yang dibutuhkan

e. Langkah – langkah untuk menghitung stage ekstraksi cross current:


1. Tentukan titik M1 (xAM1, xCM1)
2. Tarik garis dari lapisan rafinat ke lapisan ekstrak yang melalui titik M 1,
kemudian tarik garis lurus ke garis kurva kesetimbangan komposisi
lapisan ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis x A, yA, kemudian tarik garis lurus
ke garis lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L 1 (hubungan garis –
garis ini disebut sebagai stages ke - 1)

106 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

3. Dari grafik, dapat diperoleh data nilai komposisi lapisan rafinat keluar
stage 1 (L1) yaitu xA1, xC1 dan komposisi lapisan ektrak keluar stage 1 (E 1)
yaitu yA1, yC1
4. Hitung laju alir rafinat keluar stage 1 (L1) dan laju alir ekstrak keluar stage
1 (E1) dengan Persamaan 4.25 dan 4.26
5. Hitung posisi titik M2 (xAM2, xCM2) dengan Persamaan 4.32 dan 4.34 untuk
membuat stage 2
6. Tarik garis dari lapisan rafinat ke lapisan ekstrak yang melalui titik M 2,
kemudian tarik garis lurus ke garis kurva kesetimbangan komposisi
lapisan ether (ekstrak) dan komposisi lapisan air (rafinat), dari garis kurva
kesetimbangan tarik garis lurus ke garis x A, yA, kemudian tarik garis lurus
ke garis lapisan rafinat yang ditandai sebagai titik L 2 (hubungan garis –
garis ini disebut sebagai stages ke - 2)
7. Dari grafik, dapat diperoleh data nilai komposisi lapisan rafinat keluar
stage 2 (L2) yaitu xA2, xC2 dan komposisi lapisan ektrak keluar stage 2 (E 2)
yaitu yA2, yC2
8. Ulangi langkah 5 s/d langkah 7 sampai garis VN+1 telah melewati titik LN
9. Hitung laju alir rafinat keluar stage terakhir (L N) dan laju alir ekstrak keluar
stage terakhir (EN) dengan mempedomani Persamaan 4.30 dan 4.31
10. Hitung jumlah stage yang dibutuhkan

5. Pertanyaan/Diskusi
Isopropil eter murni dengan kecepatan S1 = S2 = SN = 400 kg/jam digunakan untuk
mengekstraksi larutan L0 = 400 kg/jam yang mengandung 25% berat asam asetat
(A) dengan ekstraksi cross current. Konsentrasi asam asetat yang diinginkan
dalam cairan adalah 3%. Hitung laju alir dan komposisi pada fase rafinat (L N) dan
fase

107 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB V
ABSORPSI DAN STRIPPING

1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a) Absorbsi
b) Stripping

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami proses absorbsi dan stripping.

3. Isi materi perkuliahan


Absorpsi adalah operasi pemisahan solute dari fase gas ke fase cair, yaitu dengan
mengontakkan gas yang berisi solute dengan pelarut cair (solvent/absorben) yang
tidak menguap. Stripping adalah operasi pemisahan solute dari fase cair ke fase gas,
yaitu dengan mengontakkan cairan yang berisi solute dengan pelarut gas (stripping
agent) yang tidak larut ke dalam cairan.

A. Absorpsi

Gambar 5.1 Aliran proses absorpsi


dengan :
VN+1 = gas masuk
YN+1 = mol gas masuk
V1 = gas keluar
y1 = mol gas keluar
L0 = cairan masuk
x0 = mol cairan masuk
L0 = cairan keluar
x0 = mol cairan keluar

108 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Dalam absorpsi, zat terlarut (A) menyebar melalui gas stagnan (B) dan
kemudian menjadi cairan stagnan, seperti dalam absorpsi aseton (A) dari udara (B)
oleh air, mol udara inert atau stagnan dan air inert tetap konstan di seluruh kolom.
Jika laju alirnya adalah V' kg mol inert air/s dan L' kg mol inert pelarut air/s, neraca
massa total pada komponen A pada Gambar 5.1 adalah
x0 y xN y
L' ( ) + V' ( N+1 ) = L' ( ) + V' ( 1 ) … … … .5.1)
1 - x0 1 - yN+1 1 - xN 1 - y1
Neraca massa di sekitar kotak yang diberi garis putus – putus adalah
x0 y xn y
L' ( ) + V' ( N+1 ) = L' ( ) + V' ( 1 ) … … … .5.2)
1 - x0 1 - yN+1 1 - xn 1 - y1
Plot garis operasi dari Persamaan 5.2 sebagai y versus x akan memberikan garis
lengkung. Jika x dan y sangat encer, penyebut 1 - x dan 1 - y akan mendekati 1,0 dan
garis akan kira-kira lurus, dengan kemiringan  L’/ V’.

Contoh soal 10.6-1 : Absorpsi SO2 pada tray tower


Sebuah tray kolom dirancang untuk menyerap SO 2 dari aliran udara dengan
menggunakan air murni pada 293 K (68oF). Gas yang masuk mengandung 20 mol%
SO2 dan keluar kolom 2 mol% pada tekanan total 101,3 kPa. Laju aliran udara inert
adalah 150 kg udara/jam.m2, dan laju aliran air yang masuk adalah 6000 kg
air/jam.m2. Dengan asumsi efisiensi stage keseluruhan 25%, berapa banyak stage
teoritis dan stage yang sebenarnya diperlukan? Asumsi bahwa kolom beroperasi
pada 293 K (20oC).

Jawab:
BM udara = 29 kg/kmol
BM air = 18 kg/kmol
150 kg⁄jam.m2
V= = 5,17 kmol⁄jam.m2
29 kg/kmol
6000 kg⁄jam.m2
L= = 333,33 kmol⁄jam.m2
18 kg/kmol
yN+1 = 0,20
y1 = 0,02
x0 = 0
Substitusi ke Persamaan 5.1.
0 0,20 xN 0,02
333,33 ( ) + 5,17 ( ) = 333,33 ( ) + 5,17 ( )
1-0 1 - 0,20 1 - xN 1 - 0,02
xN
0 + 1,295 = 333,33 ( ) + 0,106
1 - xN
xN
333,33 ( ) = 1,295 − 0,106
1 - xN
xN
333,33 ( ) = 1,189
1 - xN
xN 1,189
( )= = 0,00356
1 - xN 333,33
xN = 0,00356 (1 – xN)
xN = 0,00356 – 0,00356xN
0,00356 = xN + 0,00356xN
0,00356 = 1,0036xN

109 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

0,00356
xN = =0,00355
1,0036
Untuk membuat garis operasi digunakan nilai atas yN+1 = 0,20 dan nilai bawah y =
0,02. Dipilih rentang untuk membuat garis operasi kemudian substitusi ke Persamaan
5.2:
x0 y xn y
L' ( ) + V' ( N+1 ) = L' ( ) + V' ( 1 )
1 - x0 1 - yN+1 1 - xn 1 - y1
Contoh untuk y = 0,04
0 0,0,4 xn 0,02
333,33 ( ) + 5,17 ( ) = 333,33 ( ) + 5,17 ( )
1-0 1 - 0,04 1 - xn 1 - 0,02

Sehingga menjadi:
yN+1 xn
0,02 0,0000
0,04 0,0003
0,06 0,0007
0,08 0,0010
0,1 0,0014
0,12 0,0018
0,14 0,0022
0,16 0,0026
0,18 0,0031
0,2 0,0035

Data kesetimbangan SO2 – air dari Appendix A.3-19 Geankoplis


x y
0 0
0,0000562 0,00079
0,00014 0,00223
0,00028 0,00619
0,000422 0,01065
0,000564 0,0155
0,000842 0,0259
0,001403 0,0473
0,001965 0,0685
0,00279 0,104
0,0042 0,1645
0,00698 0,284

110 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

SO2 - Air
0,2
0,18
0,16
0,14 3
0,12
0,1
y

2
0,08
0,06
0,04
1
0,02
0
0,000 0,001 0,002 0,003 0,004 0,005 0,006 0,007 0,008
x

= garis kurva kesetimbangan


= garis operasi

Dari grafik di atas diperoleh jumlah stage teoritis adalah 3 stage. Jumlah stage
sebenarnya yang dibutuhkan adalah:
jumlah stage teoritis 3
Jumlah stage sebenarnya = = = 12 stage
efisiensi 25%

B. Stripping
Dalam beberapa kasus, umpan yang akan di distilasi tidak di umpankan dari
bagian tengah kolom tetapi di umpankan dari bagian atas kolom stripping seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 5.2. Umpan tersebut biasanya berupa cairan jenuh
pada titik didih dan produk overhead VD adalah uap yang naik dari stage atas yang
menuju ke kondensor tanpa refluks atau cairan yang kembali ke kolom.
Produk bawah W biasanya memiliki konsentrasi tinggi dari komponen kurang
volatil B. Oleh karena itu, kolom beroperasi sebagai kolom stripping dengan uap yang
lebih mudah menguap daripada cairan ketika mengalir ke bawah. Dengan asumsi laju
alir molar konstan, keseimbangan material dari komponen A yang lebih mudah
menguap di sekitar garis putus-putus pada Gambar 5.2.

111 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 5.2 Aliran proses stripping


Jika umpan adalah cairan jenuh, maka L m = F. Jika umpan adalah cairan dingin
di bawah titik didih, garis q harus digunakan dan q > 1.
Lm = qF…………………………………..…………………...……5.3)
Pada Gambar 5.2, persamaan garis operasi stripping diplot mengikuti Persamaan 5.4
dan garis q mengikuti Persamaan 5.5, juga untuk q = 1,0. Stage dimulai dari x F
kemudian dilanjutkan ke bagian bawah.
Lm W . xW
ym+1 = xm - … … … … … … … … … … … … … . … … 5.4)
Vm+1 Vm+1
q xF
𝑦= x- … … … … … … … … … … . . … … … … … … 5.5)
q-1 q-1

Contoh soal 11.4-3 : Jumlah stage pada kolom stripping


Suatu umpan cair pada titik didih dengan laju alir 400 kg mol/jam mengandung 70
mol% benzen (A) dan 30 mol% toluen (B) diumpankan ke kolom stripping pada
tekanan 101,3 kPa. Aliran produk bawah adalah 60 kg mol/jam yang hanya
mengandung 10 mol% A dan sisanya B. Hitunglah kg mol/jam overhead vapor,
komposisinya, dan jumlah stage teoritis yang diperlukan!.

Jawab:
F = 400 kg mol/jam
xF = 0,70
W = 60 kg mol/jam
xW = 0,10
F=W+D
D = F –W
D = 400 – 60

112 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

D = 340 kg mol/jam
Maka, VD = 340 kg mol/jam. Neraca massa komponen untuk komponen A adalah
F. xF = W.xW + D.yD
400 (0,70) = 60 (0,10) + 340 (yD)
280 = 6 + 340.yD
340.yD = 280 – 6
340.yD = 274
yD = 274/340 = 0,806
Untuk umpan saturated liquid, maka q = 1. Garis opeasi diplot sampai sumbu y titik
xW = 0,10 dan persimpangan titik yD = 0,806.
Data kesetimbangan Benzene – Toluene Tabel 11.1-1 Geankoplis
x y
1,000 1,000
0,780 0,900
0,581 0,777
0,411 0,632
0,258 0,456
0,130 0,261
0 0

Benzene - Toluene
xF
1
0,9
yD
0,8 1
0,7
2
0,6
0,5 3
y

0,4
4
0,3
0,2 5
0,1
0
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
xW x

= garis operasi

Dari grafik di atas diperoleh jumlah stage teoritis adalah 5 stage (4 stage + 1 reboiler).

Tugas Pertemuan ke – 12 : Problem 10.6-3 Geankoplis

113 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

4. Rangkuman
a. Neraca massa total pada komponen A pada Gambar 5.1 adalah
x0 y xN y
L' ( ) + V' ( N+1 ) = L' ( ) + V' ( 1 )
1 - x0 1 - yN+1 1 - xN 1 - y1

b. Neraca massa di sekitar kotak yang diberi garis putus – putus adalah
x0 y xn y
L' ( ) + V' ( N+1 ) = L' ( ) + V' ( 1 )
1 - x0 1 - yN+1 1 - xn 1 - y1
c. Jika umpan pada stripping adalah cairan jenuh, maka Lm = F. Jika umpan adalah
cairan dingin di bawah titik didih, garis q harus digunakan dan q > 1.
Lm = qF
d. Pada Gambar 5.2, persamaan garis operasi stripping diplot mengikuti
Persamaan 5.4 dan garis q mengikuti Persamaan 5.5, juga untuk q = 1,0. Stage
dimulai dari xF kemudian dilanjutkan ke bagian bawah.
Lm W . xW
ym+1 = xm -
Vm+1 Vm+1
q xF
𝑦= x-
q-1 q-1

5. Pertanyaan/Diskusi
Problem 10.6-3 Geankoplis

114 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB VI
DRYING, HUMIDIFIKASI, DEHUMIDIFIKASI
1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas:
a) Drying
b) Humidifikasi

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami proses drying dan humidifikasi.

3. Isi materi perkuliahan


A. Drying
Diskusi pengeringan dalam bab ini berkaitan dengan penghilangan air dari
bahan proses dan zat lainnya. Istilah pengeringan juga digunakan untuk
menghilangkan cairan organik lainnya, seperti benzen atau pelarut organik dari zat
padat. Banyak jenis peralatan dan metode perhitungan yang dibahas untuk
menghilangkan air juga dapat digunakan untuk menghilangkan cairan organik.
Pengeringan, secara umum, biasanya berarti membuang air dalam jumlah yang
relatif sedikit dari bahan. Evaporasi mengacu pada penghilangan air dalam jumlah
yang relatif besar dari material. Dalam evaporasi air dihilangkan sebagai uap pada
titik didihnya. Dalam mengeringkan air biasanya dibuang sebagai uap melalui udara.
Dalam beberapa kasus air dapat dihilangkan secara mekanis dari bahan padat
dengan menekan, sentrifugasi, dan metode lainnya. Ini lebih murah daripada
pengeringan dengan cara termal untuk menghilangkan air. Kadar air dari produk
kering akhir bervariasi tergantung pada jenis produk. Garam kering mengandung
sekitar 0,5% air, batu bara sekitar 4%, dan banyak produk makanan sekitar 5%.
Pengeringan biasanya merupakan langkah pemrosesan akhir sebelum pengemasan
dan membuat banyak bahan, seperti sabun padat dan zat warna.
Pengeringan atau dehidrasi bahan biologis, terutama makanan, digunakan
sebagai teknik pengawetan. Mikroorganisme yang menyebabkan pembusukan
makanan dan pembusukan tidak dapat tumbuh dan berkembang biak dengan tidak
adanya air. Juga, banyak enzim yang menyebabkan perubahan kimia dalam makanan
dan bahan biologis lainnya tidak dapat berfungsi. Ketika kadar air berkurang di
bawah sekitar 10% berat, mikroorganisme tidak aktif. Namun, biasanya diperlukan
untuk menurunkan kadar air di bawah 5% berat dalam makanan untuk
mempertahankan aroma dan nutrisi. Makanan kering dapat disimpan untuk waktu
yang lama.
Metode dan proses pengeringan dapat diklasifikasikan dengan cara yang
berbeda. Proses pengeringan dapat diklasifikasikan menjadi batch, dimana bahan
dimasukkan ke dalam peralatan pengeringan dan hasil proses pengeringan untuk
jangka waktu tertentu, dan sebagai kontinu, dimana bahan tersebut terus
ditambahkan ke pengering dan bahan kering terus menerus dikeluarkan.
Proses pengeringan juga dapat dikategorikan sesuai dengan kondisi fisik yang
digunakan untuk menambahkan panas dan menghilangkan uap air: (1) dalam
kategori pertama, panas ditambahkan oleh kontak langsung dengan udara panas
pada tekanan atmosfer, dan uap air yang terbentuk dihilangkan oleh udara. ; (2)
dalam pengeringan vakum, penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan
rendah dan panas ditambahkan secara tidak langsung dengan kontak dengan dinding

115 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

logam atau dengan radiasi (suhu rendah juga dapat digunakan di bawah vakum untuk
bahan-bahan tertentu yang dapat menghitam atau terurai pada suhu yang lebih
tinggi); dan (3) dalam pengeringan beku, air disublimasikan dari bahan beku.
Drying : - final processing step
- lebih mudah dalam packaging, handling
- salah satu cara pengawetan
Drying : - batch
- kontinu
Berdasarkan cara penghilangan uap air :
 kontak langsung (bahan kontak dengan udara panas)
 vacuum drying, penguapan lebih cepat pada tekanan lebih kecil, panas secara tidak
langsung, yaitu kontak dengan dinding
 Freeze drying : air menyublim dari bahan yang membeku

Kandungan air keseimbangan


Seperti proses perpindahan massa lainnya, drying juga diperlakukan sama, yaitu
pendekatan dengan hubungan keseimbangan dan juga kecepatan perpindahan –
Bahan yang dikeringkan kontak dengan campuran udara uap, maka diperlukan data
keseimbangan antara udara – uap dengan bahan yang dikeringkan.
Variabel yang penting adalah humidity udara yang kontak dengan padatan yang
mempunyai kandungan air tertentu. Suatu padatan basah jika kontak dengan udara
dengan suhu dan kelembaban tetap, setelah lama akan diperoleh kandungan air
dalam bahan mencapai keseimbangan. Kandungan air disebut kandungan air
keseimbangan pada kelembaban suhu udara tertentu.
Kandungan air dinyatakan dalam : kg air/kg.bahan kering.

Untuk bahan padat tertentu, harga kandungan air keseimbangan tergantung arah
dicapainya keseimbangan, apakah desorpsi (bahan kontak dengan udara kering) atau
adsorpsi (bahan kering kontak dengan udara basah). Untuk drying keseimbangan
desorpsi lebih penting.

Contoh:
Padatan non porous yang tidak larut umumnya mempunyai kandungan air
kesetimbangan yang rendah, contoh glass wool, Kaolin, sedang bahan yang berasal
dari mahkluk hidup seperti wool, kulit, kayu mempunyai kandungan air
kesetimbangan yang tinggi.
Pengaruh suhu
Kandungan cairan keseimbangan akan berkurang dengan naiknya suhu.
Contoh : kapas pada kelembaban relatif 50%
 Pada suhu 311 K XC = 7,3 kg H2O/100 kg
 Pada suhu 366 K XC = 5,3 kg H2O/100 kg

Air terikat dan tidak terikat


Air terikat diperoleh dari kurva pada kelembaban relatif 100%, sedang kelebihan air
yang ada disebut air yang tidak terikat. Bahan yang mengandung air yang terikat
disebut material yang higroskopis.
Contoh : untuk kayu, memotong kurva humidity relatif 100% pada 30 kg H 2O/100 kg
maka kayu mempunyai kandungan air < 30 kg H 2O/100kg hanya mengandung air

116 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

terikat. Jika mengandung 34 kg H2O/100 kg maka 4 kg air tidak terikat 30 kg air


terikat.
Air bebas dan kandungan air kesetimbangan
Kandungan air bebas adalah kandungan air diatas kandungan air kesetimbangan dan
kandungan air bebas ini yang dapat dihilangkan dengan drying pada suhu dan
kelembaban udara tertentu.

Gambar 6.1 Diagram pengeringan

Kurva kecepatan pengeringan


Pada proses pengeringan suatu bahan dari X1 ke X2, diharapkan untuk
memperkirakan ukuran pengering yang diperlukan, kondisi (suhu dan kelembaban)
udara yang digunakan, waktu pengeringan. Seperti kandungan air keseimbangan
maka kecepatan pengeringan juga harus diperoleh dari eksperimen.
 Bahan diletakkan pada tray, dan memenuhi seluruh tray
 Jika mungkin digunakan timbangan dalam pengering atau timbangan di luar
 Pada interval waktu tertentu, bahan ditimbang sampai berat bahan konstan
 Agar data sesuai dengan skala sebenarnya :
Sampel jangan terlalu kecil/sedikit, dan harus diletakkan pada tray yang sejenis
(sama dengan skala sebenarnya). Rasio luas bahan yang kontak dengan udara dan
yang tidak, serta tebal bed sama dengan skala sebenarnya. Kecepatan, humidity,
suhu, arah aliran udara sama dan konstan, keadaan ini disebut kondisi
pengeringan tetap.

Gambar 6.2 Kurva kandungan air bebas vs waktu

117 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 6.3 Kurva kecepatan pengeringan vs kandungan air bebas

Ada 4 daerah/periode dari kurva pengeringan :


1. Daerah kecepatan pengeringan awal :
A’B : Jika suhu padatan mula-mula lebih tinggi dari suhu keseimbangan maka
kecepatan pengeringan akan turun
AB : Jika suhu padatan mula-mula lebih rendah dari suhu keseimbangan maka
kecepatan pengeringan akan naik.
2. Daerah pengeringan tetap
BC : permukaan luar bahan selalu basah oleh air, air merupakan air tak terikat,
sehingga pada saat ini seakan-akan tidak ada padatan. Periode ini berlangsung
selama kecepatan penyediaan (supply) air dari dalam bahan sama dengan
kecepatan penguapan air di permukaan.
3. Periode kecepatan pengeringan turun linier
CD : pada kandungan air kritis (Xc), tidak semua permukaan basah dan luas
permukaan basah akan berkurang linier sampai D (kering semua)
4. Kecepatan pengeringan turun tak beraturan
Mulai dari D, permukaan penguapan makin masuk ke dalam padatan, panas harus
ditransfer sampai daerah penguapan, dan uap terbentuk harus keluar dari padatan
ke permukaan. Jumlah cairan yang dapat dihilangkan pada periode ini sedikit tapi
perlu waktu lama. Yang mengontrol adalah kecepatan transfer air di dalam bahan
secara difusi ke bidang penguapan.

B. Humidifikasi
Humidifikasi adalah proses perpindahan/penguapan cairan (A) ke dalam
campuran [gas (B) dan uap cairan (A)] karena adanya kontak antara cairan (A) (yang
temperaturnya lebih tinggi) dengan campurannya. Dehumidifikasi adalah proses
perpindahan/pengembunan uap cairan (A) dari campuran [uap air (A) dan gas (B)]
karena proses pendinginan maupun kontak antara cairan (A) (yang temperaturnya
lebih rendah) dengan campurannya.
Humidity (H) dari udara — campuran uap air didefinisikan sebagai kg uap air
yang terkandung dalam 1 kg udara kering. Humidity yang didefinisikan hanya
bergantung pada tekanan parsial pA uap air di udara dan pada tekanan total P

118 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

(diasumsikan P = 101,325 kPa, 1,0 atm abs, atau 7'60 mm Hg). Menggunakan berat
molekul air (A) sebagai 18,02 dan udara sebagai 28,91 dengan humidity (H) dalam kg
H2O/kg udara kering.
Persamaan untuk menghitung humidity dalam satuan kg H2O/kg bahan kering adalah
18,02 pA
H= … … … … … . . … … … … … … … .6.1)
28,97 P - pA
Udara jenuh (saturated air) adalah udara dimana uap air berada dalam
kesetimbangan dengan air dalam kondisi tekanan dan suhu yang diberikan. Dalam
campuran ini tekanan parsial uap air dalam campuran air-udara sama dengan
tekanan uap dari air murni pada suhu yang diberikan. Oleh karena itu, humidity udara
jenuh HS adalah
18,02 pAS
Hs = … … … … … . . … … … … … … … .6.2)
28,97 P - pAS
Persentase humidity HP didefinisikan sebagai 100 kali humidity aktual H dari udara
dibagi dengan humidity HS jika udara jenuh pada suhu dan tekanan yang sama.
H
HP = 100 … … … … … … … … … … … … … . . .6.3)
HS
Jumlah campuran uap air-air jenuh juga diberikan sebagai persentase kelembaban
relatif HR menggunakan tekanan parsial
p
HR = 100 A ………………………………….………...6.4)
pAS

Contoh soal 9.3-1 : Humidity dari data tekanan uap


Udara dalam ruangan berada pada 26,7oC dan tekanan 101,325 kPa dan berisi uap air
dengan tekanan parsial pA = 2,76 kPa. Hitung:
a) Humidity, H
b) Saturation humidity, HS, dan persentase humidity, HP
c) Persentase kelembaban relatif, HR

Jawaban:
Dari data steam tables (Appendix F, Steam Tables, Smith, Van Ness, Abbott, Sixth
edition) pada suhu 26,7oC, tekanan parsial saurated steam, pAS = 3,508 kP

119 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

120 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

a) Humidity, H
18,02 pA 18,02 2,76
H= = =0,0174 kPa kg H2 O⁄kg udara
28,97 P - pA 28,97 101,325-2,76
b) Saturation humidity, HS, dan persentase humidity, HP
18,02 pAS 18,02 3,508
Hs = = = 0,02230 kg H2 O⁄kg udara
28,97 P - pAS 28,97 101,325 - 3,508
H 0,0174
HP = 100 = 100 = 78,08%
HS 0,02230
c) Persentase kelembaban relatif, HR
2,76
HR = 100 = 78,68%
3,508

Contoh soal 9.3-2 : Menggunakan humidity chart


Udara masuk ke alat pengering pada suhu bola kering (dry bulb) 60oC dan titik embun
(dew point) 26,7oC. Menggunakan humidity chart, tentukan humidity (H) dan
persentase humidity (HP)!

Jawab:
Titik embun (dew point) 26,7oC adalah suhu ketika campuran berada pada persentasi
humidity 100% (saturation). Pada dew point 26,7oC dan persentase humidity 100%,
nilai humidity (H) adalah 0,0225 kg H 2O/kg udara. H = 0,0225 kg H 2O/kg udara dan
suhu = 60oC, persentase humidity diperoleh 14%.

Tugas Pertemuan ke – 13: Problem Nomor 9.32 dan 9.33 Geankoplis.

121 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 6.4 Humidity char

122 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

4. Rangkuman
a. Humidity
18,02 pA
H=
28,97 P - pA
b. Humidity udara jenuh
18,02 pAS
Hs =
28,97 P - pAS
c. Persentase Humidity
H
HP = 100
HS
d. Persentase kelembaban relatif
pA
HR = 100
pAS

5. Pertanyaan/Diskusi
Problem Nomor 9.32 dan 9.33 Geankoplis.

123 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

BAB VII
EVAPORASI

1. Deskripsi singkat
Pada Bab ini akan dibahas single effect evapotator.

2. Capaian pembelajaran matakuliah


Mahasiswa mampu memahami proses evaporasi.

3. Isi materi perkuliahan


Perpindahan kalor ke zat cair mendidih yang sangat sering ditemukan sehingga
biasanya ditangani sebagai suatu operasi tersendiri yang disebut evaporasi atau
penguapan (evaporation). Tujuan evaporasi ialah untuk memekatkan larutan yang
terdiri dari zat terlarut yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap.
Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarutnya adalah air. Evaporasi dilaksanakan
dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat
yang konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam
evaporasi sisa penguapan adalah zat cair, kadang – kadang zat cair yang sangat viskos
dan bukan zat padat. Evaporasi berbeda pula dari distilasi, karena disini uapnya
biasanya komponen tunggal, dan walaupun uap itu merupakan campuran, dalam
proses evaporasi tidak ada usaha untuk memisahkan – misahkannya menjadi fraksi –
fraksi. Evaporasi lain dari kristalisasi dalam hal ini pemekatannya disini ialah pada
pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal. Dalam situasi –
situasi tertentu, misalnya pada penguapan air asin untuk membuat garam, garis
pemisah antara evaporasi dan kristalisasi tidaklah dapat dipisahkan secara jelas.
Evaporasi kadang – kadang menghasilkan lumpur kristal di dalam larutan induk.
Biasanya dalam evaporasi, zat cair pekat itulah yang merupakan produk yang
berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Tetapi, dalam satu
situasi tertentu, kebalikannyalah yang benar. Air yang mengandung mineral sering
kali diuapkan untuk mendapatkan hasil yang bebas zat padat untuk umpan ketel
didih, karena persayaratan khusus proses, atau untuk konsumsi manusia. Teknik ini
biasa disebut distilasi air (water distillation), tetapi dari segi teknik proses itu adalah
evaporasi. Proses – proses evaporasi skala besar sudah banyak dikembangkan dan
digunakan untuk membuat air minum dari air laut. Disini hasil yang dikehendaki ialah
air kondensasi. Hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan air dalam umpan yang
dipulihkan , sebagian besar dikembalikan ke laut.

Karakteristik zat cair:


Penyelesaian praktis terhadap masalah evaporasi sangat ditentukan oleh
karakteristik cairan yang akan dikonsentrasikan. Variasi dalam karakteristik cairan
itulah (yang menuntut keahlian dan pengalaman para insinyur dalam merancang dan
mengoperasikan evaporator) yang menyebabkan operasi ini meluas dari
perpindahan kalor sederhana menjadi suatu seni tersendiri. Berikut ini adalah
beberapa sifat penting dari zat cair yang dievaporasikan.
1. Konsentrasi
Walaupun cairan encer yang diumpankan ke dalam evaporator mungkin cukup
encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi jika konsentrasinya
meningkat, larutan itu akan semakin bersifat individual. Densitas dan
viskositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga

124 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

larutan itu menjadi jenuh, atau, jika tidak, menjadi terlalu lamban sehingga tidak
dapat melakukan perpindahan kalor yang memadai. Jika zat cair jenuh dididihkan
terus, maka akan terjadi pembentukan kristal; dan kristal-kristal ini harus
dipisahkan karena bisa menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih
larutanpun dapat meningkat dengan sangat bila kandungan zat padatnya
bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik
didih air pada tekanan yang sama.
2. Pembentukan busa
Beberapa bahan tertentu, lebih-lebih zat-zat organik, membusa (foam) pada waktu
diuapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar evaporator bersama uap, dan
menyebabkan banyaknya bahan yang terbawa-ikut, Dalam hal-hal yang ekstrem,
keseluruhan massa zat cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar dan
terbuang.
3. Kepekaan terhadap suhu
Beberapa bahan kimia berharga, bahan kimia farmasi, dan bahan makanan dapat
rusak bila dipanaskan pada suhu sedang selama waktu yang singkat saja. Dalam
mengkonsentrasikan bahan-bahan seperti itu diperlukan teknik khusus untuk
mengurangi suhu zat cair dan menurunkan waktu pemanasan.
4. Kerak
Beberapa larutan tertentu menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan
pemanasan. Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin
berkurang, sampai akhirnya kita terpaksa menghentikan operasi evaporator itu
untuk membersihkannya. Bila kerak itu keras dan tak dapat larut, pembersihan itu
tidak mudah dan memakan biaya.
5. Bahan konstruksi
Bilamana mungkin, evaporator itu dibuat dari baja. Akan tetapi, banyak larutan
yang merusak bahan-bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh bahan itu.
Karena itu digunakan juga bahan-bahan konstruksi khusus, seperti tembaga, nikel,
baja tahan karat, aluminium, grafit tak-tembus, dan timbal. Oleh karena bahan-
bahan ini relatif mahal, maka laju perpindahan-kalor harus tinggi agar dapat
menurunkan biaya pokok peralatan.
Banyak karakteristik lain zat cair juga perlu mendapat perhatian dari
perancang evaporator, antara lain ialah kalor spesifik, kalor konsentrasi, titik beku,
pembebasan gas pada waktu mendidih, sifat racun, bahaya ledak, radioaktivitas, dan
persyaratan operasi steril (suci hama). Oleh karena adanya variasi dalam sifat-sifat
zat cair, maka dikembangkanlah berbagai jenis rancang evaporator. Evaporator mana
yang dipilih untuk suatu masalah tertentu bergantung terutama pada karakteristik
zat cair itu.

Operasi efek tunggal dan efek berganda


Kebanyakan evaporator dipanaskan dengan uap yang kondensasi di atas
tabung-tabung logam. Bahan yang akan dievaporasikan biasanya mengalir di dalam
tabung. Uap yang digunakan biasanya uap bertekanan rendah, dibawah 3 atm abs. Zat
cair yang mendidih biasanya berada dalam vakum sedang yaitu sampai kira - kira 0,05
atm abs. Berkurangnya suhu didih zat cair menyebabkan beda suhu antara uap dan
zat cair yang mendidih itu meningkat dan dengan demikian laju perpindahan kalor di
dalam evaporator itu pun meningkat pula.
Bila kita menggunakan satu evaporator saja, uap dari zat cair yang mendidih
dikondensasikan dan dibuang. Metode ini disebut evaporasi efek tunggal (single-

125 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

effect evaporation). Walaupun sederhana, namun proses ini tidak efektif dalam
penggunaan uap. Untuk menguapkan 1 lb air dari larutan, diperlukan l sampai 1,3 lb
uap. Jika uap dari satu evaporator dimasukkan ke dalam rongga uap (steam chest)
evaporator kedua, dan uap dari evaporator kedua dimasukkan ke dalam kondensor
maka operasi itu akan menjadi efek dua kali atau efek dua (double effect). Kalor dari
uap yang semula digunakan lagi dalam efek yang kedua, dan evaporasi yang
didapatkan oleh satu satuan massa uap yang diumpankan ke dalam efek pertama
menjadi hampir lipat dua. Efek ini dapat ditarnbah lagi dengan cara yang sama.
Metode yang umum digunakan untuk meningkatkan evaporasi per pon uap dengan
menggunakan sederetan evaporator antara penyediaan uap dan koudensor itu
disebut evaporasi efek-berganda (multiple-effect evaporation).

Single effect evaporator

Gambar 7.1 Neraca massa evaporator


dengan:
F = laju alir feed (umpan) dalam (kg/jam)
xF = fraksi massa umpan
TF = suhu umpan masuk
hF = entalpi umpan (J/kg)
L = laju alir cairan keluar (kg/jam)
xL = fraksi kandungan padatan
T1 = suhu cairan keluar
hL = entalpi cairan (J/kg)
V = laju alir uap keluar (kg/jam)
yV = kandungan padatan dalam uap = 0
T1 = suhu cairan keluar
HV = entalpi uap (J/kg)
S = laju alir Saturated steam masuk dan keluar (kg/jam)
TS = suhu steam masuk dan keluar
HS = entalpi steam masuk (J/kg)
hS = entalpi steam keluar (J/kg)

Persamaan dasar untuk menyelesaikan kapasitas evaporator efek tunggal adalah


Persamaan 7.1
q = U.A.∆T = U.A.(Ts - T1 )……………..………………..7.1)
dengan :
q = kecepatan perpindahan panas (btu/jam)
U = koefisien perpindahan panas overall (W/m2.K)
A = luas area perpindahan panas (m2)

126 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

TS = suhu kondensasi steam (K)


T1 = suhu didih cairan (K)

Tabel 7.1 Koefisien perpindahan panas overall untuk berbagai macam evaporator

Persamaan untuk mencari panas laten..


 = HS - hS ……………………………………………………….7.2)
Neraca massa total
F = L + V …………………………………………………………7.3)
Neraca massa untuk padatan
F.xF = L.xL………………………………….………………………7.4)
Neraca massa energi
Panas di umpan + panas steam = panas di cairan + panas di uap + panas di
condensed steam…………….……………………………...7.5)
F.hF + S.HS = L.hL + V.HV + S.hS … … … … … … … … … 7.6)
Substitusi Persamaan 7.2 ke Persamaan 7.6
F.hF + S. = L.hL + V.HV … … … … … . . … . . … … … … . … 7.7)
Panas yang ditransfer masuk ke evaporator menjadi
q = S(HS - hS ) = S . ………………………………….…………7.8)

Contoh soal 8.4-1 : Area perpindahan panas pada single efek evaporator
Suatu evaporator efek tunggal kontinu memekatkan 9072 kg/jam larutan garam 1,0%
berat yang masuk pada 311,0 K (37,8°C) hingga konsentrasi akhir 1,5% berat.
Tekanan ruang uap evaporator adalah 101,325 kPa (1,0 atm abs) dan uap jenuh yang
disuplai pada 143,3 kPa. Koefisiensi keseluruhan U = 1704 W/m 2.K. Hitung jumlah
produk uap dan cair dan area transfer panas yang diperlukan. Asumsikan bahwa
karena encer, larutan memiliki titik didih yang sama seperti air.

Jawab:
Diketahui data CpF = 4,14 kJ/kg.K
Dengan Persamaan 7.3
F=L+V
9072 = L + V
V = 9072 - L
Dengan Persamaan 7.4

127 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

F.xF = L.xL
9072 (0,01) = L (0,015)
L = 90,72/0,015 = 6048 kg/jam
V = 9072 – 6048 = 3024 kg/jam

Seringkali untuk umpan garam anorganik dalam air, Cp dapat diasumsikan kira-kira
seperti Cp air saja. Untuk membuat keseimbangan panas menggunakan Persamaan
7.7, akan lebih mudah untuk memilih titik didih larutan encer dalam evaporator, yang
diasumsikan bahwa air pada 101,32 kPa, T 1 = 373,2 K (100oC) , sebagai suhu datum.
Kemudian HV adalah panas laten air pada 373,2 K dari data Steam Tables Appendix
A.2-9:

Dari data Steam Tables Appendix A.2-9, diperoleh panas laten air pada suhu 373,2 K
(100oC) adalah 2676,1 – 419,04 = 2257,06 kJ/kg. Panas laten () steam pada tekanan
143,3 kPa (temperatur jenuh TS = 383,2 K adalah 2691,5 – 461,30 = 2230,2 kJ/kg.

128 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Entalpi umpan bisa dihitung dengan Persamaan


hF = cpF .(TF - T1 )………………………………….……..7.9)
Substitusi ke Persamaan 7.7 dengan hL = 0 karena datum pada suhu 373,15 K
F.hF + S. = L.hL + V.HV
9072 . 4,14 (311 – 373,2) + S. (2230,2) = 6048 (0) + 3024 (2257,06)
S = 4107,91 kg steam/jam
Panas yang ditransfer masuk ke evaporator sesuai Persamaan 7.8
q = 4107,91 . 2230,2 = 9.161.462,016 kJ = 9.161.462,016 . (1000/3600) = 2.544.850,56 Watt
Substitusi ke Persamaan 7.1
q = U.A.(Ts - T1 )
q 2.544.850,56
A= = =149,34 m2
U.(Ts - T1 ) 1704.(383,2-373,2)

Contoh soal 8.4-2 : Menggunakan grafik Duhring untuk menentukan kenaikan


titik didih
Tekanan pada evaporator 25,6 kPa dan larutan 30% NaOH dididihkan. Tentukan titik
didih NaOH dan peningkatan titik didih/boiling point rise (BPR) larutan di atas air
pada tekanan yang sama!.

129 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Jawab:
Dari steam tables pada Appendix A.2, titik didih air pada tekanan 25,6 kPa adalah
65,46oC.
Dengan interpolasi
25,6 - 25,03
[( ) .(70 - 65)] + 65 = 65,46o C
31,19 - 25,03

Dari Grafik Duhring untuk suhu 65,46oC dan 30% NaOH, titik didih larutan NaOH
82oC. Kenaikan titik didih adalah 82 – 65,46 = 16,54oC.

130 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 7.2 Grafik Duhring untuk menentukan kenaikan titik didih

Contoh soal 8.4-3 : Evaporasi larutan NaOH


Evaporator digunakan untuk memekatkan 4536 kg/jam larutan NaOH 20% dalam air
masuk pada 60oC menjadi produk 50% padatan. Tekanan uap jenuh yang digunakan
adalah 172,4 kPa dan tekanan dalam ruang uap dari evaporator adalah 11,7 kPa.
Koefisien transfer panas keseluruhan adalah 1560 W/m 2.K. Hitung jumlah uap yang
digunakan, ekonomi uap dalam kg uap yang diuapkan/kg yang digunakan, dan luas
permukaan pemanasan dalam m2.

Jawab:
F = 4536 kg/jam
xF = 20% wt
TF = 60oC
P1 = 11,7 kPa
Tekanan uap = 172,4 kPa
xL = 50% wt

Neraca massa total, substitusi ke Persamaan 7.3


F = L + V = 4536

131 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

4536 = L + V
V = 4536 - L
Dengan Persamaan 7.4
F.xF = L.xL
4536 (0,2) = L (0,5)
L = 907,2/0,5 = 1814,4 kg/jam
V = 4536 – 1814,4 = 2721,6 kg/jam

Untuk menentukan titik didih (T 1) 50% larutan, terlebih dahulu dicari titik didih air
murni pada 11,7 kPa dari steam tables pada Appendix A2.
Dari steam tables pada Appendix A.2, titik didih air pada tekanan 11,7 kPa adalah
48,82oC.
Dengan interpolasi
11,7 - 9,593
[( ) .(50 - 45)] + 45 = 48,82o C
12,349 - 9,593

132 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Dari Grafik Duhring untuk suhu 48,82oC dan 50% NaOH, titik didih larutan NaOH
88oC. Kenaikan titik didih adalah 88 – 48,82 = 39,18oC.

133 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Dari grafik entalpi – konsentrasi, 20% NaOH pada suhu 60oC, hf = 214 kJ/kg. 50%
NaOH pada suhu 88oC, hL = 505 kJ/kg.

134 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Gambar 7.3 Grafik entalpi – konsentrasi untuk sistem NaOH - air


Untuk saturated vapor pada suhu 48,82oC dan tekanan 11,7 kPa, pada steam tables
Appendix A.2, entalpi Hv = 2590 kJ/kg.
Dengan interpolasi
48,82 - 45
[( ) .(2592,1 - 2583,2)] + 2583,2 = 2590 kJ⁄kg.
50 - 45
Cp = 1,884 kJ/kg.K untuk superheated steam
Hv = 2590 + 1,884 . (88 – 48,82) = 2664,9832 kJ/kg
Untuk saturated steam pada 172,4 kPa, saturation temperature dari steam tables
Appendix A.2 adalah
Dengan interpolasi
172,4 - 169,06
[( ) .(120 - 115)] + 115 = 115,6o C
198,53 - 169,06

135 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

136 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

Untuk saturated steam pada 172,4 kPa, panas laten () dari steam tables Appendix
A.2 adalah
Dengan interpolasi
172,4 - 169,06
 = [( ) .((2706,3 - 503,71) - (2699 - 482,48))]
198,53 - 169,06
+ (2699 − 482,48) = 2214,94 kJ/kg
Dengan Persamaan 7.6
F.hF + S.HS = L.hL + V.HV + S.hS
4536 . (214) + S . (2214,94) = 1814,4 . (505) + 2721,6 . (2664,9832)
S = 3250 kg steam/jam
Panas yang ditransfer masuk ke evaporator sesuai Persamaan 7.8
q = 3250 . 2214,94 = 7.198.586,277 kJ = 7.198.586,277 . (1000/3600) = 1.999.607,299 Watt
Substitusi ke Persamaan 7.1
q = U.A.(Ts - T1 )
q 1.999.607,299
A= = =46,44 m2
U.(Ts - T1 ) 1560.(115,6 - 88)
Steam economy = V⁄S = 2721,6 ⁄3250 = 0,837

137 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

4. Rangkuman
a. Kapasitas evaportor efek tunggal
q = U.A.∆T = U.A.(Ts - T1 )
b. Neraca energi di evaporator
F.hF + S.HS = L.hL + V.HV + S.hS
c. Panas yang ditransfer masuk ke evaporator
q = S(HS - hS ) = S . 

138 | P a g e
Operasi Teknik Kimia 2

DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C.J., 1985, Transport Processes and Unit Operation, Prentice Hall, Inc.,
Singapore.

McCabe, W.L., 1993, Unit Operation of Chemical Engineering, McGraw-Hill


International Editions., Singapore.

Treybal, R.E., 1980, Mass Transfer Operations, McGraw-Hill Book Co.,Singapore.

139 | P a g e