Anda di halaman 1dari 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP GENDER DAN JENIS KELAMIN (SEKS) Pengertian gender sering disamaratakan dengan pengertian jenis kelamin. Akan tetapi dua konsep tersebut memiliki makna yang sangat berbeda. Konsep jenis kelamin (seks) lebih menekankan pada perbedaan ciri biologis antara laki-laki dan perempuan. Menurut Moore dan Sinclair (dalam Sunarto, Kamanto, 2004) jenis kelamin menekankan pada perbedaan yang disebabkan oleh kandungan kromosom pada janin. Sedangkan menurut Hungu (2007) seks adalah perbedaan antara perempuan dengan lakilaki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsinya tetap dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras yang ada di muka bumi. Konsep gender pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stoller (1968) untuk memisahkan pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya dengan ciriciri fisik biologis. Ann Oakley (1972) yang mengartikan gender sebagai konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia. Gender pada awalnya

diambil dari kata dalam bahasa arab Jinsiyyun yang kemudian diadopsi dalam bahasa Perancis dan Inggris menjadi Gender. Hilary M. Lips mengartikan Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa gender merupakan suatu konstruksi sosial yang membedakan peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang dilatarbelakangi oleh factor sosial dan budaya. B. SOSIALISASI GENDER Menurut Laswell dan Laswell dalam Sunarto, Kamanto (2004) seorang manusia terlahir sebagai laki-laki dan perempuan , kemudian ia belajar untuk menjadi feminine atau maskulin selama hidupnya. Gender bukanlah suatu hal yang diwariskan secara genetic melalui kedua orang tuanya, akan tetapi suatu hal yang didapatkan seseorang melalui proses sosialisasi. Sosialisasi adalah proses mengenalkan warga terhadap suatu kebudayaan. Dengan kata lain, masyarakat melakukan suatu rangkaian kegiatan tertentu untuk menserahterimakan kebudayaan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Sementara itu, masyarakat mengajar dan memberi latihan bagi angkatan baru untuk membiasakan diri dengan seluruh sistem nilai budaya yang dimiliki masyarakat tersebut. Dalam proses sosialisasi ini terdapat tiga tahapan penting yakni:

1. Tahapan Sosialisasi Primer Lewat keluarga (Bill dan Hardgrave, 1973; Saptari, 1997); 2. Sosialisasi sekunder melalui lingkungan eksternalnya yaitu sekolah. Bersamaan dengan sekolah pengalaman awal di sekolah bagi anak merupakan elemen penting dalam pembentukan orientasi politik (Elton dan Hess, 1978, Greenstein, 1965). Konsepsi pertama tentang otoritas politik lebih bersifat afeksi disosialisa-sikan lewat sekolah. 3. Sosialisasi tersier melalui antara lain teman sekerja, mass media, gereja, kelompok, partai dan sebagainya. Pada tahap ini sosialisasi politik terjadi pada masa kedewasaan seseorang. Bahkan peranan media massa perlu diperhitungkan dalam analisis sosialisasi politik masa depan (Kraus dan Davis, 1978:218). Keluarga merupakan lembaga sosialisasi gender yang pertama dan utama dalam

kehidupan anak. Melalui keluarga diperkenalkan tentang sifat maskulin kepada anak laki-laki melalui peran yang dicontohkan ayah, kakek, paman atau saudara laki-lakinya, serta sifat feminine kepada naka perempuan melalui peran yang dicontohkan oleh ibu, nenek, bibi atau saudara perempuannya. Proses sosialisasi peran gender tersebut dilaksanakan melalui berbagai cara, dari mulai pembedaan pemilihan warna pakaian, accessories, permainan, perlakuan dan sebagainya yang kesemuanya diarahkan untuk mendukung dan memapankan proses pembentukan seseorang menjadi seorang laki-laki atau seorang perempuan sesuai dengan ketentuan sosial budaya setempat. Menurut Giddens (1989), Moore dan Sinclair (1995) mainan merupakan media efektif untuk memperkuat identitas gender. Para orang tua biasanya akan memberikan jenis-jenis mainan yang berbeda untuk tiap jenis kelamin. (sex-differentiated toys atau gender-typed toys). Semakin dewasa umur anak jenis mainan yang diberikanpun akan lebih mengarah pada peranan gender mereka.

Selain mainan buku cerita anak-anak merupakan media yang efektif dalam sosialisasi gender. Seringkali dijumpai penggambaran perwatakan pria yang penuh ambisi, bersifat rasional, selalu berperan penting dalam berbagai kesempatan, dan menyukai pekerjaan yang matematis. Sedangkan tokoh perempuan lebih digambarkan sebagai sosok yang pasif, telaten dalam mengurus anak, bersifat halus, lemah lembut, dan menyukai pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sosial.