Anda di halaman 1dari 39

BAB I PENDAHULUAN Skenario Pak Joko 48 tahun datang ke klinik dokter gigi dengan keluhan gigi tiruannya telah

pecah setelah mengunyah kacang dan ingin menggantinya dengan yang baru. Gigi tiruan yang berlapis porcelain tersebut dibuat dua tahun yang lalu. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis diketahui, gigi penyangga 35 dan 37 menggunakan desain extracoronal retainer berupa porcelain fused to metal. Pontic pada gigi 36 dengan tipe ridge lap pontic. Pada retainer gigi 37 menunjukkan lapisan porcelain bagian oklusalnya telah hilang. Pada gigi penyangga 35 terdapat fraktur gigi tiruan dan adanya karies pada bagian servikal gigi tersebut. Pada gigi tersebut diindikasikan tidak dapat dilakukan perawatan restorasi. Selanjutnya dokter gigi telah membongkar gigi tiruan tetap dengan menggunakan crown remover dan akan dilakukan perawatan rehabilitative pada pasien tersebut. 1.1. Latar Belakang Kasus kehilangan gigi karena pencabutan merupakan kasus yang banyak dijumpai di bidang kedokteran gigi. Restorasi pengganti gigi setelah pencabutan tersebut salah satunya berupa gigi tiruan tetap (GTT). Gigi tiruan tetap yang baik adalah yang dapat mengembalikan fungsi kunyah, fungsi estetik, fungsi bicara, mengembalikan kesehatan jaringan penyangga gigi dan kesehatan syaraf serta otot pengunyahan. Salah satu komponen GTT yang perlu mendapat perhatian guna tercapainya tujuan pembua tan GTT tersebut adalah pontik yaitu bagian GTT yang menggantikan gigi yang hilang. Ketidakpuasan pasien pemakai GTT seringkali terjadi karena GTT kurang nyaman dipakai, penampilan atau estetika yang kurang alami, tidak nyaman ketika

berbicara dan terjadinya penumpukan sisa makanan. Tidak hanya kepuasan pasien, dari proses perawatan serta pembuatan dari gigi tiruan ini sendiri juga beperan sangat penting dalam keberhasilan perawatan gigi tetap. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. Apa sajakah macam-macam faktor kegagalan perawatan gigi tiruan tetap? Bagaimana tatalaksana perawatan selanjutnya pada kasus kegagalan perawatan gigi tiruan tetap? 1.3 Tujuan 1. 2. Untuk mengetahui berbagai macam-macam faktor kegagalan perawatan gigi tiruan tetap. Untuk mengetahui tatalaksana perawatan selanjutnya pada kasus kegagalan perawatan gigi tiruan tetap.

1.4 MAPPING Kegagalan Perawan Gigi Tiruan Tetap

ETIOLOGI

BIOLOGIS

MEKANIS

ESTETIS

PEMERIKSAAN ULANG

PERENCANAAN PERAWATAN ULANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gigi Tiruan Tetap Pengertian Gigi Tiruan Tetap (GTT) adalah gigi tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang yang dilekatkan pada gigi asli, biasanya digunakan dengan pontik yang didisain untuk memenuhi fungsi dan juga estetika dari gigi yang hilang tersebut (Rosenstiel, dkk.1995). Menurut Simon dan Yanase (2003) gigi tiruan tetap adalah gigi tiruan sebagian yang dilekatkan secara mekanis pada gigi asli, akar gigi dan atau implan gigi sebagai penyangga utama gigi tiruan. Komponen GTT adalah : gigi penyangga (abutment) yaitu gigi asli atau akar gigi yang digunakan untuk menyangga GTT; retainer yaitu mahkota yang dilekatkan pada gigi penyangga; pontik yaitu bagian GTT yang menggantikan gigi yang hilang; dan konektor yaitu yang menghubungkan retainer dengan pontik (Shillingburg, dkk. 1997). Gigi tiruan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu gigi tiruan penuh ( Full Crown) dan gigi tiruan sebagian (Partial Crown). Gigi tiruan sebagian dapat dibagi lagi menjadi gigi tiruan lepasan /Removable (yang dapat dilepas pasang sendiri oleh pasien) dan gigi tiruan tetap/ Fixed/ GTT (yang disemenkan ke gigi pasien secara permanen). Gigi tiruan cekat atau disingkat dengan GTT diklasifikasikan menjadi dua yaitu crown dan bridge. Crown Prosthetic adalah cabang ilmu prothesa yang mempelajari tentang penggantian gigi asli sebagian atau seluruhnya dengan satu crown pengganti. Crown adalah suatu restorasi berupa crown penuh atau sebagian dari satu gigi yang terbuat dari logam, porselen, akrilik atau kombinasi. Bridge / Jembatan adalah disebut juga fixed partial denture yaitu suatu prothesa (geligi tiruan) yang menggantikan kehilangan satu atau lebih gigi asli yang terbatas

dan tertentu, dilekatkan secara permanen dengan semen didukung sepenuhnya oleh 1 atau lebih gigi atau akar gigi yang telah dipersiapkan. Menurut Martanto (1981) ada beberapa istilah dalam ilmu mahkota dan jembatan yaitu : 1. Mahkota (Crown) adalah suatu restorasi berupa mahkota penuh atau sebagian dari suatu gigi yang dibuat dari logam, porselen, atau kombinasi. 2. Jembatan (Bridge) adalah prothesa (geligi tiruan) yang menggantikan kehilangan satu atau lebih gigi asli yang terbatas dan tertentu, dilekatkan secara permanen dengan semen didukung sepenuhnya oleh 1 atau lebih gigi atau akar gigi yang telah dipersiapkan. 3. Jembatan Lepas (Removable Bridge) adalah protesa sebagian dimana daya kunyah seluruhnya didukung oleh gigi-gigi asli yang masih ada dan dilekatkan padanya dengan pengait/ attachment lain yang memungkinkan jembatan ini dibuka-pasang 4. Geligi Tiruan Sebagian (Partial Denture) adalah protesa yang mengganti satu atau lebih dari suatu gigi yang disangga sebagian besar oleh gusi. Protesa ini dipertahankan pada tempatnya dengan cangkolan atau attachment lainnya. Menurut Prayitno (dalam Taqwim 2008), tujuan dari perawatan gigi tiruan jembatan yaitu : 1. Mencari Keserasian oklusi Harus ada keserasian geligi terhadap sendi temporomandibula. Ini terjadi kalau mandibula dapat menutup langsung dalam oklusi sentris tanpa danya kontak prematur mandibula. Jadi terdapat keserasian antara geligi dengan sendi dan otot kunyah. Keadaan seperti ini disebut keserasian oklusi. 2. Peningkatan Fungsi Bicara / Fonetik Alat bicara dibagi dalam dua bagian. Pertama, bagian yang bersifat statis, yaitu gigi, palatum dan tulang alveolar. Kedua yang bersifat dinamis, yaitu lidah, bibir, vulva, tali suara dan mandibula. Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi suara penderita, misalnya pasien 6

yang kehilangan gigi depan atas dan bawah. Kesulitan bicara dapat timbul, meskipun hanya bersifat sementara. Dalam hal ini geligi tiruan dapat meningkatkan dan memulihkan kemampuan bicara, artinya ia mampu kembali mengucapkan kata-kata dan berbicara dengan jelas, terutama bagi lawan bicaranya. 3. Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan Jika ada gigi yang hilang otomatis pola kunyah terganggu, atau terselipnya makanan di bagian yang tidak bergigi 4. Pelestarian Jaringan mulut yang masih tinggal Pemakaian geligi tiruan berperan dalam mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi. 5. Pencegahan Migrasi Gigi Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang kosong tadi. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya menyebabkan renggangnya gigi lain. Dengan demikian terbukalah kesempatan makanan terjebak disitu, sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental. Hal ini menjurus kepada peradangan jaringan periodontal serta dekalsifikasi permukaan proksimal gigi. Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinya overerupsi gigi antagonis dengan akibat serupa. Bila overerupsi ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada rahang lawannya, maka akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari. 6. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah. Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tinggal. Keadaan ini memperburuk kondisi periodontal, apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya gigi jadi goyang dan miring, terutama ke labial untuk gigi depan atas. Bila perlekatan periodontal gigi-gigi ini kuat, beban berlebih tadi akan menyebabkan abrasi berlebih pula pada permukaan oklusal/insisal atau 7

merusak restorasi yang dipakai. Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perlu waktu lama. Overerupsi gigi pada keadaan tertentu dapat pula mengakibatkan terjadinya kontak oklusi premature atau interfernsi oklusal. Pola kunyah jadi berubah, karena pasien berusaha menghindari kontak prematur ini. Walaupun beban oklusal sekarang berkurang. Perubahan pola ini mungkin saja menyebabkan disfungsi otot kunyah. 7. Manfaat Psikologik. Terutama kehuilangan gigi depan dapat membawa dampak psikologik pada penderita yaitu karena estetika terganggu. Terutama berhubungan dengan profesi penderita yang harus selalu berhadapan dengan khalayak ramai, misal penyiar tv atau guru dan lain-lain. 8. Pemulihan Fungsi Estetik Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik, baik yang disebabkan hilangnya, berubah bentuk, susunan, warna maupun berjejalnya gigi geligi. Nampaknya banyak sekali pasien yang dapat menerima kenyataan hilangnya gigi, dalam jumlah besar sekalipun, sepanjang penampilan wajahnya tidak terganggu. Penderita dengan gigi depan malposisi,pr otr usif atau berjejal dan tak dapat diperbaiki dengan perawatanort odontik, tetapi tetap ingin memperbaiki penampilan wajahnya, biasanya dibuatkan suatu geligi tiruan imidiat yang dipasang langsung segera setelah pencabutan gigi. 2.2 Perawatan Gigi Tiruan Tetap Tahap 1 : Preparasi Gigi Penyangga Langkah I : a. Anestesi lokal agar tidak ngilu saat preparasi b. Mengurangi permukaan mesial dan distal Gunakan bur intan untuk membuat chamfer, dimulai pada marginal ridge. Jurusan pemotongan harus sesuai dengan arah jurusan masuk

mahkota. Penggerindaan ini menghasilkan suatu permukaan dinding yang lurus rata sampai ke permukaan gusi. Untuk mendapatkan retensi gesekan (trictional retention) yang cukup. Permukaan-permukaan tersebut sebaiknya memiliki kemiringan 5 derajat ke arah permukaan oklusal Langkah II : Mengurangi permukaan bukal Menggunakan bur turpedo, penggerindaan bertujuan untuk menghilangkan kecembungan permukaan bukal dan undercut dan diperoleh bentuk chamfer. Rata-rata permukaan-permukaan ini dikurangi 0,5 sampai 1 mm. Langkah III : Pengurangan permukaan lingual Gunakan bur turpedo sampai diperoleh bentuk chamfer. Bagian 2/3 gingiva dngan kemiringan 5 derajat, bagian 1/3 oklusal sebaiknya melengkung ke dalam untuk menyesuaikannya dengan permukaan lingual. Langkah IV : Mengurangi permukaan oklusal Dengan bur intan bentuk buah pir pada airotor dan buang substansi gigi 0,5 mm dari permukaan oklusal. Lingir tepi dihilangkan seluruhnya tapi bila tidak permukaan yang dipreparasi sebaiknya mengikuti konfigurasi tonjol aslinya. Tahap 2 : Pengecekan hasil preparasi, Paralisme dinding aksial : a. Makin paralel makin kuat b. Pengerucutan preparasi dinding aksial 3-5 derajat c. Bila sudut > 5 derajat makin mudah lepas d. Bila sudut < 3 pada waktu penyemenan semen tidak dapat keluar

Tahap 3 : Pencetakan Teknik Pencetakan / retraksi gingiva: periksa keadaan gigi & karingan lunak sekitarnya harus sehat, bebas dari radang tepi preparasi harus rapi. Retraksi gingiva adalah Usaha pendorongan gingiva gigi penyangga ke arah lateral dengan maksud agar tepi akhir preparasi gigi dapat tercetak dengan baik. a. Cara Retraksi gingiva: 1. Daerah preparasi keringkan 2. Benang direndam dengan bahan kimia selama 2 menit 3. Potong benang 5 cm seperti U 4. Tempatkan melingkar pada gigi penyangga 5. Tekan benang ke dalam celah gusi dengan plastis instrumen 6. Penekanan dimulai dari mesio-proksimal terus palatal akhirnya ke distal 7. Kembali ke permukaan bukal sampai mesio proksimal 8. Potong kelebihan benang. b. Cara Mencetak: 1. Bahan cetak double impression dengan tenik one stage/ phase (direct) Putty (kotak) : aduk bahan putty, letakkan didasar sendok cetak yang tujuannya untuk menstabilkan kedudukan sendok cetak didalam mulut, ambil perbandingan 1:1 rubber base : katalis lalu aduk hingga warna berubah hijau, lalu letakkan pada dasar sendok cetak dan pada daerah yang telah dipreparasi harus dicekungkan untuk menyediakan bahan yang kedua. Aduk light body, setelah homogen, masukkan kedalam injeksi kemudian injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi pada mulut pasien, sisanya pada bagian yang dicekungkan tadi. Kemudian cetakkan kedalam mulut pasien Cor cetakan dengan hard stone.

10

2. Bahan double impression dengan teknik two phase Aduk bahan putty sampai homogen letakkan ke sendok cetak, setelah rata masukkan ke dalam mulut pasien tanpa melepas crown sementara. Pada bagian anterior gigi yang dipreparasi tidak perlu dicekungkan. Setelah mengeras ambil sendok cetak tersebut dari mulut pasien, kemudian aduk light body yang terdiri dari basa dan katalis, setelah homogen masukan ke dalam injeksi kemudian injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi tadi. Masukkan cetakan putty tadi ke dalam mulut. Setelah keras keluarkan dari mulut pasien. Tahap 4 : Pemilihan warna gigi Sesuai dengan warna gigi tetangga dengan bantuan pedoman warna (shade guide) untuk menentukan value (tingkat warna gelap ke terang), chroma(kepekatan warna), hue (merah atau kuning). Tahap 5 : Temporary Bridge Dilakukan wax up pada work model untuk proses Bridge. Setelah preparasi selesai, maka pasien dipasangkan mahkota sementara. Selanjutnya lakukan wax up pada model kerja untuk proses bridge, kemudian dilakukan pemilihan warna gigi yang sesuai dengan gigi asli. Jembatan sementara yang baik adalah mampu memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Pelindungan pulpa b. Stabilitas kedudukan c. Fungsi oklusal d. Mudah dibersihkan e. Tepi retainer yang tepat (tidak menyebabkan peradangan mukosa) f. Kekuatan dan retensi g. Estetis (terutama pada gigi depan) Bahan : ethil metacrylate, epimine resin, methyl metacrilate 11

Cara pembuatan: 1. Direct ; lebih dari 1 x kunjungan Cetak gigi sebelum preparasi, kemudian di preparasi, isi cetakan 1 dengan self curing akrilik, masukkan catakan 1 ke dalam mulut (pada gigi yang dipreparasi) 2. Indirect : lebih dari 1 x kunjungan Cetakan 1 isi dengan gips (model) , lalu preparasi , cetakan 2 (isi dengan gips/model 2) , lalu masukkan cetakan 1 pada model 2. 3. Penyemenan jembatan sementara : dengan semen zinc oxide eugenol yang cukup tebal. Dicampur sedikit vaselin untuk mengurangi kekuatan semen dan akan mempermudah pembongkaran kembali nantinya. Setelah penyemenan selesai, sisa-sisa semen dihilangkan sebab dapat mengiritasi jaringan lunak. Tahap 6 : Proses Laboratorium Proses laboratorium a. Pembuatan Die : bagian dari model kerja yang slicing untuk dapat dibuka dan dipasangkan lagi pada model yang bertujuan untuk membuat mahkota terutama bagian proksimal Alat : Bowl dan spatula Strock tray Lekron Pin Jarum pentul Gergaji triplek Bur bulat Kuas kecil Mikromotor dan handpiece Pencil

Bahan : Bahan cetak rubber base Gips bentuk atau plaster of paris (gips type 1) 12 Gips keras Vaselin

Wax merah

Cara Kerja : 1. Pencetakan gigi yang telah dipreparasi dengan bahan rubber base (silicon). 2. Penentuan letak pin. Tandai lebar masing-masing gigi. Tusukkan jarum pentul pada posisi bukkal atau labial dan palatal atau lingual gigi yang telah dipreparasi dengan posisi tegak lurus, tandai lebar gigi (bagian proximal). 3. Pengisian gips keras (sampai linggir alveolar). 4. Penanaman pin (bentuk retensi lingkaran). Setelah gips keras, tanamkan pin. Posisi harus sejajar dengan jarum pentul. Sisa gips dibuat bulatan-bulatan kecil Gips mengeras, lepaskan jarum pentul dengan menggunakan bur bulat, buat lekukan setengah lingkaran. Ambil wax merah (bulatkan), letakkan pada ujung pin. Olesi permukaan gigi dengan vaselin menggunakan kuas kecil.

5. Boxing dan pembuatan basis Dengan menggunalan base plate wax setelah cetakan di boxing.

6. Penggergajian Buat pola : garis dengan pensil pada model di sisi mesial dan distal gigi yang diperbaiki Gergaji sampai batas gips keras

7. Trimming die Menggunakan bur bulat, trimming tepat di bawah servikal dengan kedalaman 1 mm.

13

b. Pembuatan Model/ pola malam mahkota/ bridge & pembuatan pontik: Pembuatan pola malam (retainer dan pontik) diusahakan: 1. Kontak oklusal merata dengan gigi lawan 2. Pengurangan dimensi buko-palatal untu mengurangi beban kunyah (long span bridge) Pembuatan pontik : dengan jenis ridge lap pontik dengan bahan kombinasi metal keramik (porselen fused to metal), lalu siapkan kontak bentuk garis antara logam dengan mukosa labial/bukal berbentuk cembung atau lurus, sifatnya self cleansing Cara kerja : 1. Oleskan permukaan preparasi pada die dengan air sabun, tunggu sampai kering. 2. Panaskan malam. 3. Gunakan lekron untuk mengukir mahkota atau bridge. 4. Pada bridge bentuk pola pontik sesuai dengan bentuk anatomis gigi yang digantikan. 5. Lepaskan pola malam dari dai, letakkan pada model kerja. Pada bridge, dengan bantuan sonde, sambungkan pontik dengan gigi penyangga. 6. Periksa hubungan dengan gigi tetangga, pola malam harus mencapai kontak yang baik. 7. Jika pola malam berkontak berlebihan maka untuk koreksinya taburkan bedak. c. Prossesing Mahkota dan Bridge 1. Penanaman dalam Kuvet (Flasking) Cara kerja :

14

Cara kerja :

Model malam atau die ditanamkan di tengah kuvet bawah yang telah diisi gips putih dengan bagian labial menghadap ke atas. Permukaan gips dihaluskan. Permukaan gips dan model malam diolesi vaselin sebagai separating medium. Olesi model malam dengan gips menggunakan kuas, tunggu keras. Pasang kuvet atas dan isi dengan gips, dipres agar tidak lepas.

2. Mengeluarkan malam (Wax Elimination) Kuvet direbus utnuk mengeluarkan malam atau kuvet yang dipres dan gips sudah mengeras, dibuka lalu wax dihilangkan dengan mengalirkan air panas. Setelah kuvet dibuka, wax harus sudah tidak ada lagi dalam permukaan gips. Dinginkan permukaan kuvet.

3. Pengisian aklirik (Packing) Ruangan cetakan model malam (mould) dan sekitarnya diolesi Could Mould Seal (CMS) tunggu kering. Pengisian aklirik yang sudah diaduk, sambil mengetok kuvet. Tutup bagian atas aklirik dengan selopan atau plastic, tutup dengan kuvet atas, press lalu buka dan potong kelebihan aklirik dengan pisau model. Pasang dan tutup kuvet atas lalu press.

4. Pengisian akrilik (Prossesing) Kuvet dalam keadaan dipress dimasukkan ke dalam wadah perebusan Polimerisasi dengan cara direbus 1 jam

5. Membuka kuvet (Deflasking)

15

Keluarkan model (dai) dengan tang potong gips atau gergaji kecil. Gips yang masih melekat dibersihkan dengan brush.

6. Finishing Membersihkan sisa aklirik dengan bur protesha (cardide bur, disc bur) dan kertas pasir. 7. Polishing Menghaluskan, melicinkan, dan mengkilatkan mahkota (stone bur, rubbercup, wool bur dengan bubuk pumis) Tahap 7 : Pemasangan / insersi dan penyemenan 1. Try in bridge yang harus diperhatikan adalah keadaan estetis (warna dan bentuk), kontak proksimal antara tepi mahkota jaket dengan gigi sebelahnya dan tidak boleh menekan gingiva serta pemeriksaan kontak oklusal dan kontak marginal. 2. Penyemenan Bridge a. Mahkota bridge dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan , gigi yang akan dipasangi mahkota bridge juga dikeringkan b. Menggunakan zinc phospat cement, cara mengaduk ZnPO4 : Letakkan powder dan liquid pada glass plate 1:1 Aduk sengan semen spatel, powder mencapai liquid sedikit demi sedikit hingga homogen Siap masuk ke dalam crown apabila semen ditarik sudah terbentuk benang dan tidak putus Semenkan ada gigi penyangga dengan ditekankan dan pasien disuruh menggigit kapas

16

Setelah semen mengeras bersihkan sisa semen Periksa oklusi sebelum pasien pulang Operator perlu memberi tahu cara membersihkan jembatan tersebut.

3. Instruksi untuk memelihara gigi tiruan jembatan yang telah dipasangkan : Penyikatan yang baik ( tekanan ringan dan sikat yang lunak) Pemakaian dental floss, oral irigating & alat pembersih lainnya yangberfungsi untuk membersihkan daerah yang sukar terlihat (daerah interdetal/ dasar pontik) Tahap 8 : kontrol Kontrol dilakukan untuk mengatahui kesalahan atau kegagalan dalam perawatan. Kegagalan yang mungkin terjadi : 1. Kegagalan sementasi 2. Jemabaatn patah secara mekanikal 3. Iritasi dan resesi gingiva 4. Kelainan jaringan periodontal 5. Karies 6. Nekrosis pulpa

17

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Berbagai Macam Faktor Kegagalan Perawatan Gigi Tiruan Tetap

A. Perasaan tidak nyaman (discomfort ) Perasaan tidak nyaman saat menggunakan GTJ dapat ditimbulkan karena adanya : 1. Kontak prematur oklusi yang tidak sesuai 2. Penimbunan sisa makanan di bagian retainer ataupun pontik (pada celah celah gigi atau embrasur) 3. Tekanan yang terlalu berat atau tidak ada kontak 4. Penyemenan yang dilakukan pada GTJ yang kurang tepat dapat mengakibatkan tarikan atau dorongan pada gigi penyangga. 5. shock termis maupun rasa sakitpada daerah servikal gigi

B. GTJ lepas dari gigi penyangga GTJ yang terlepas dari penyangga dapat terjadi karena : 1. Torsi atau ungkitan

18

2. Kesalahan teknik penyemenan (bahan semen yang kurang baik atau pengadukan yang kurang sempurna) 3. Terlarutnya semen karena terbukanya tepi restorasi 4. Gigi penyangga goyah 5. Gigi penyangga mengalami karies 6. Kesalahan dalam pemilihan retainer 7. Restorasi tidak akurat

C. Hilangnya facing (porcelen) Hilangnya facing atau lapisan estetik dapat disebabkan karena : 1. Kurangnya retensi 2. Perubahan bentuk dari kerangka logam 3. Maloklusi 4. Pengolahan bahan pelapis yang salah dan keausan bahan Hilangnya facing ini dapat diperbaiki dengan cara : a. Retainer atau pontik. Apabila facing telah terkikis atau hilang, sebaiknya oklusi diperiksa dengan cermat. Malam untuk mengganti bagian yang hilang dapat membantu memperlihatkan gangguan oklusi yang terjadi. Komposit merupakan bahan utama untuk perbaikan tambahan dan tersedia screw pin repair kit.

19

b. Hanya pontik. Kadang kadang rangka pontik yang ada dapat diasah menjadi bentuk bar yang bebas dari gigi oklusi sekurang kurangnya 1 mm. Kemudian dibuat mahkota lapis porcelen dengan kunci yang melewati mesial ke distal yang tepat masuk pada bar dan disemen dengan semen fosfat. (Allan, dkk., 1994).

D. Kegagalan mekanis Kegagalan mekanis anatara lain dapat disebabkan karena fraktur konektor dan retainer yang longgar. 1. Fraktut konektor Rangka jembatan atau konektor yang kaku seperti pertutan yang disolder dapat patah. Mobilitas tiap bagian akan menyebabkan kegagalan tersebut, tetapi perlu diperiksa juga gangguan oklusi dengan palpasi jari (selagi oklusi), kertas artikulasi, atau malam indicator oklusal. Untuk memperbaiki hal ini, mungkin jemabatan harus dibuat kembali

2. Retainer yang longgar Jika salah satu retainer longgar pada abutment, kemungkina hal ini telah dirasakan penderita, atau jika gigi abutment vital, mungkin penderita meras tidak enak, karena adanya kebocoran cairan. Jembatan dpata digerakkan secara manual ke atasa dan ke bawah, dan terlihat saliva keluar masuk pada sambungan. Maslah ini memerlukan pengeluaran jembatan dan analis kegagalan (Allan, dkk., 1994). E. Karies pada abutment (gigi penyangga)

20

Mungkin penderita tidak menyadarai adnya karies dibawah retainer. Pemeriksaan dilakukan pada semua jembatan dengan mencari adanya lubang di retainer logam dan dilakukan sondasi untuk menemukan karies yang sering terjadi. Juga sebagaimana biasa, perlu dilakukan sondasi disekeliling tepi perifer semua retainer. Kadang kadang tambalan servical cukup dalam mengatasi masalah ini, terutamapada karies dpat terlihat, tetapi biasanya jembatan memerlukan preparasi untuk jalan masuk (Allan, dkk., 1994). Karies pada abutment ini disebabkan karena : a. Tepi retainer yang terlalu panjang b. Tepi retainer terbuka c. Kerusakan atau keausan pada retainer d. Oral hygiene yang buruk e. Kesalahan pemilihan retainer

F. Pulpa (Endodontik) Perawatan endodontik mungkin diperlukan pada gigi yang sebelumnya vital sewaktu jembatan dibuat. Sebaliknya, jika struktur gigi masih sehat, seringkali dimungkinkan untuk melakukan perawatan endodontik dengan baik, melalui jalan masuk kavitas pada retainer jembatan (dan bahkan digunakan pasak penguat bila diinginkan). Jika terjadi nekrosis pulpa karena karies, jembatan perlu dikeluarkan dnan dilakuakan pembuangan semua jaringan karies (Allan, dkk., 1994).

21

G. Struktur pendukung (periodontik) Sebaiknya hal ini ditelusuri dalam hubungannya dengan keadaan umum periodontal. Jika baik, berarti jembatan menahan beban terlalu besar karena oklusi taumatis atau kekuatan yang tidak memadai pada pemilihan gigi gigi abutment. Biasanya perlu mencari tamabahan gigi gigi abutment yang lebih sesuai atau mempertimbangkan protesa lepasan (Allan, dkk., 1994).

3.2.

Perawatan Lanjutan pada Kasus Kegagalan Gigi Tiruan Tetap Syarat-syarat bahan secara umum adalah memiliki aspek: 1. Biologis Non iritan Non toksik Kariostatik

A. Perawatan bahan

2. Kelarutan Bahan tersebut harus tahan terhadap saliva ( tidak larut dalam saliva)

3. Mekanis Memiliki daya tahan abrasi yang baik Modulus elasticitysama dengan enamel dan dentin

4. Sifat termis Koefisien muai panas sama dengan enamel dan dentin.

Macam macam bahan gigi tiruan : 1. All porcelain bridge 22

Bahan porselen adalah bahan yang sangat populer saat ini. Kelebihannya adalah pilihan gradasi warna yang sangat estetis dan permukaannya mengkilat.Bahan porselen sulit dibedakan dengan gigi yang asli.Kekuatannya lebih besar daripada akrilik tetapi tidak sekuat logam.Kekurangan dari bahan porselen ini bersifat rapuh dan sehingga tidak dapat diasah dan tidak dapat diletakkan pada permukaan kunyah gigi belakang.Biasaya juga digunakan untuk gigi yang memerlukan estetik tinggi. Bahan porselen ini tidak cocok digunakan pada pasien dengan kebiasaan buruk bruxism karena gesekan yang terus menerus dengan gigi antagonisnya akan menyebabkan porcelain cepat pecah. 2. All acrylic bridge Bahan akrilik biasanya digunakan untuk pembuatan mahkota jaket sementara (menunggu mahkota jaket permanen).Bahan akrilik biasanya dikombinasikan dengan logam karena sifat bahan akrilik tidak kuat menahan beban kunyah.Kelebihan dari bahan akrilik warnanya dapat disesuaikan dengan gigi asli, namun mudah berubah warnanya.Harganya pun murah tetapi tampilan menarik.Kontraindikasi dari bahn ini adalah tidak digunakan pada gigi yang memiliki beban kunyah yang besar karena kekerasan akrilik hanya 1/16 kekerasan dentin.Gigi tiruan yang menggunakan bahan ini juga tidak cocok digunakan pada penderita dengan bruxism. 3. All metal bridge Gigi tiruan permanen yang terbuat dari logam atau emas mempunyai kekuatan yang sangat bagus bahkan dapat bertahan sampai bertahun-tahun, keuntungan yang lain adalah logam dan emas tidak korosif dan tidak berkarat. Tetapi gigi tiruan dari bahan logam dan emas tampilan warnanya sangat berbeda dengan gigi asli.Biasanya diindikasikan pada gigi posterior dan

23

kontraindikasinya adalah gigi abutmen yang digunakan mempunyai ketebalan dentin yang kecil. Salah satu contohnya adalah Gold Crowns : Keuntungan: metode simple karena struktur gigi yang dkurangin lebih minimal. Lebih tahan lama pada saat tekanan berat seperti menggigit dan mengunyah. Mudah menyesuaikan sesuai daerah di mana gigi dan mahkota memenuhi Sehat lingkungan untuk jaringan gusi

Kerugian: estetik kurang karena warna gigi tidak seperti gigi asli.

4. Kombinasi (porselen dan metal) Porcelain fuse to metal adalah jenis hibrida antara mahkota logam dan mahkota porselen. Mereka terutama dipilih untuk gigi depan tetapi tidak menutup kemungkinan juga digunakan pada gigi posterior. Porcelen fuse to metal ini lebih kuat daripada all porselen bridge. Meskipun porcelen fuse to metal dipilih untuk penampilan yang sangat baik karena keestetikannya, ada beberapa kelemahan utama yang terkait dengan logam menyatu di dalamnya. Berikut adalah beberapa kelemahan dicatat oleh pengguna dan dokter gigi mahkota ini: Ketidaknyamanan-gigi mungkin sensitif setelah prosedur. Jika gigi dimahkotai masih mengandung beberapa saraf, saraf yang akan sensitif terhadap panas dan dingin. Ada beberapa kasus di mana permukaan mahkota menciptakan keausan pada gigi antagonisnya. Hal ini kadang-kadang menjadi begitu menonjol sehingga tidak dapat diawasi.Bagian porselen bisa terkelupas mati dan logam yang mendasari dapat terlihat sebagai garis gelap. 24

5. In Ceram (keramik bridge) Terbuat dari porselen alumina yang sangat tangguh. Memiliki estetika yang sangat baik dan cukup kuat untuk dapat disemen dengan semen gigi tradisional. a. SPINELL - untuk kasus anterior unit tunggal yang memerlukan estetika unggul dan tembus. b. ALUMINA - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 3-unit jembatan. c. Zirkonia - untuk posterior unit tunggal dan kasus anterior, dan sampai restorasi 5-unit jembatan. Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan : 1. Pontik logam Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari alloy yang setara dengan alloy emas tipe III. Alloy ini memiliki kekuatan dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau berubah bentuk(deformasi) akiba tekanan pengunyanhan. Pontik logam biasanya dibuat untuk daerah-daerah yang kurang mementingkan factor estetis, namun lbih mementingkan factor fungsi dan kekuatan seperti pada jembatan posterior. 2. Pontik porselen Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen.Pontik ini biasanya diiindikasikan untuk jembatan anterior dimana factor estetis menjadi hal yang utama. Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama. 25

3. Pontik akrilik Pontik akrilik ini adalah pontik yang dibuat dengan pemakaian bahan resin akrilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak dan tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar mampu menahan daya kunyah/gigit.Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis saja. 4. Koimbinasi logam dan porselen Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini memberikan estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat dikombinasikan dengan logam yang bertitik leburtinggi (lebih tinggi dari temperature porselen). Tidak berubah warna jika dikombinasikan dengan logam, sangat keras, kuat, kaku dan memiliki pemuaian yang sama dengan porselen. Porselen ditempatkan pada bagian bukal/labial dan daerah yang menghadap linggir, sedangkan logam ditempatkan pada oklusal dan lingual.Pontik ini dapat digunakan pada jembatan anterior maupun posterior. 5. Kombinasi logam dan akrilik Pada kombinasi logam dan akrilikini, akrilik hanya berfungsi sebagai bahan estetik sedangkan logam yang member kekuatan dan dianggap lebih dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi dengan akrilik. B. Perawatan pendahuluan

26

Perawatan pendahuluan adalah tindakan yang dilakukan terhadap gigi, jaringan lunak maupun keras, dalam rangka mempersiapkan mulut untuk menerima gigi tiruan. Keberhasilan atau gagalnya gigi tiruan cekat tergantung pada beberapa factor diantarnya meliputi: Kondisi mulut pasien Keadaan periodontal gigi abutment

Tujuan perawatan pendahuluan selain untuk mengadakan sanitasi mulut, juga untuk menciptakan kondisi oklusi normal, yang menjamin kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya. Perawatan ini meliputi: 1. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung gigi abutment. Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk gigi tiruan. Antara lain : Menghilangkan kalkulus Menghilangkan pocket periodontal Memperbaiki tambalan yang tidakbaik, seperti tambalan menggantung. Menghilangkan gangguan oklusal Mengevaluasi keadaan jaringan periodontal gigi abutment secara radiografi juga perlu dilakukan untuk menilai apakah gigi tersebut masih dapat digunakan sebagai penyangga atau tidak. 2. Tindakan Konservasi Sebelum merencanakan gigitiruan harus diketahui perbaikan yang akurat terhadap gigi-gigi yang ada. Antara lain : Penambalan gigi yang karies Pembuatan inlay, dsb 3. Tindakan Prostetik

27

Setelah semua gigi penyangga dan jaringan pendukungnya dievaluasi tahap berikutnya adalah pembuatan gigi tiruan cekat yang baru. Keuntungan dari perencanaan, pembuatan dan pelaksanaan persiapan didalam mulut yang teliti adalah sangat mendasar. Preparasi yang tepat akan mengarahkan gaya pengunyahan, sehingga desain gigi tiruan akan mendukung satu sama lain. Gaya yang seimbang dan didistribusikan dengan sesuai dapat membantu mempertahankan struktur rongga mulut yang masih ada dan restorasi. Akhirnya keadaan ini dapat menghasilkan ramalan, prognosa yang baik untuk suatu restorasi. Setelah dilakukan perawatan pendahuluan yang baik, barulah dapat dilakukan pengambilan cetakan pada pasien untuk pembuatan gigitiruan, karena gigi tiruan dapat bertindak sebagai pengganti fungsi gigi yang hilang dan mengembalikan kesehatan jaringan mulut.

C. Pemilihan desain Pertimbangan Pemilihan Desain Dasar Gigi Tiruan Cekat 1. Desain Retainer a. Extra Coronal Retainer Yaitu retainer yang meliputi bagian luar mahkota gigi, dapat berupa: 1) Full Veneer Crown Retainer Indikasi: Tekanan kunyah normal/besar Gigi-gigi penyangga yang pendek Intermediate abutment pasca perawatan periodontal Untuk gigi tiruan jembatan yang pendek maupun panjang Indikasi luas Memberikan retensi dan resistensi yg terbaik Memberikan efek splinting yg terbaik

Keuntungan

Kerugian: 28

Jaringan gigi yg diasah lebih banyak Estetis kurang optimal (terutama bila terbuat dari all metal)

Gambar 3. Extra Coronal Retainer 2) Partial Veneer Crown Retainer Indikasi : Gigi tiruan jembatan yang pendek Tekanan kunyah ringan/normal Bentuk dan besar gigi penyangga harus normal Salah satu gigi penyangga miring

Gambar 4. Partial Veneer Crown Retainer

Keuntungan

29

Pengambilan jaringan gigi lebih sedikit Estetis lebih baik daripada FVC retainer Indikasi terbatas Kesejajaran preparasi antar gigi penyangga sulit Kemampuan dalam hal retensi dan resistensi kurang Pembuatannya sulit (dlm hal ketepatan).

Kerugian:

b. Intra Coronal Retainer Yaitu retainer yang meliputi bagian dalam mahkota gigi penyangga. Bentuk: Onlay Inlay MO/DO/MOD Gigi tiruan jembatan yang pendek Tekanan kunyah ringan atau normal Gigi penyangga dengan karies kelas II yang besar Gigi penyangga mempunyai bentuk/besar yang normal Jaringan gigi yang diasah sedikit Preparasi lebih mudah Estetis cukup baik Indikasi terbatas Kemampuan dlm hal retensi resistensi kurang Mudah lepas/patah

Indikasi:

Keuntungan:

Kerugian:

30

Gambar 5.Intra Coronal Retainer Bentuk Onlay. c. Dowel retainer Adalah retainer yang meliputi saluran akar gigi, dengan sedikit atau tanpa jaringan mahkota gigi dengan syarat tidak sebagai retainer yang berdiri sendiri. Indikasi: Gigi penyangga yang telah mengalami perawatan syaraf Gigi tiruan pendek Tekanan kunyah ringan Gigi penyangga perlu perbaikan posisi/inklinasi Estetis baik Posisi dapat disesuaikan Sering terjadi fraktur akar

Keuntungan:

Kerugian:

31

Gambar 6. Dowel Retainer. 2. Desain Pontik a. Berdasarkan bahan Berdasarkan bahan pembuatan pontik dapat diklasifikasikan atas: Pontik logam Logam yang digunakan untuk membuat pontik pada umumnya terdiri dari alloy, yang setara dengan alloy emas tipe III. Alloy ini memiliki kekuatan dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah menjadi patah atau berubah bentuk (deformasi) akibat tekanan pengunyahan. Pontik logam biasanya dibuat untuk daerah-daerah yang kurang mementingkan faktor estetis, namun lebih mementingkan faktor fungsi dan kekuatan seperti pada jembatan posterior. Pontik porselen Pontik jenis ini merupakan pontik dengan kerangka dari logam sedangkan seluruh permukaannya dilapisi dengan porselen.Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dimana faktor estetis menjadi hal yang utama.Pontik porselen mudah beradaptasi dengan gingival dan memberikan nilai estetik yang baik untuk jangka waktu yang lama.

32

Pontik akrilik Pontik akrilik adalah pontik yang dibuat dengan memakai bahan resin akrilik. Dibandingkan dengan pontik lainnya, pontik akrilik lebih lunak dan tidak kaku sehingga membutuhkan bahan logam untuk kerangkanya agar mampu menahan daya kunyah / gigit.Pontik ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan berfungsi hanya sebagai bahan pelapis estetis saja. Kombinasi Logam dan Porselen Pontik ini merupakan kombinasi logam dan porselen dimana logam akan memberikan kekuatan sedangkan porselen pada jenis pontik ini memberikan estetis. Porselen pada bagian labial/bukal dapat dikombinasikan dengan logam yang bertitik lebur tinggi (lebih tinggi dari temperature porselen). Tidak berubah warna jika dikombinasikan dengan logam, sangat keras, kuat dan kaku dan mempunyai pemuaian yang sama dengan porselen. Porselen ditempatkan pada bagian labial/bukal dan daerah yang menghadap linggir, sedangkan logam ditempatkan pada oklusal dan lingual.Pontik ini dapat digunakan pada jembatan anterior maupun posterior. Kombinasi Logam dan Akrilik Pada kombinasi logam dan akrilik ini, akrilik hanya berfungsi sebagai bahan estetika sedangkan logam yang memberi kekuatan dan dianggap lebih dapat diterima oleh gingival sehingga permukaan lingual/palatal dan daerah yang menghadap gusi dibuat dari logam sedangkan daerah labial/bukal dilapisi dengan akrilik.

33

b. Berdasarkan hubungan dengan Jaringan Lunak 1) Pontik Sanitary Pada pontik ini, dasar pontik tidak berkontak samasekali dengan linggir alveolus sehingga terdapat ruangan/jarak antara dasar pontik dengan linggir alveolus (1-3 mm), dan permukaan dasar pontik cembung dalam segala aspek. Tujuan pembuatan dasar pontik ini adalah agar sisasisa makanan dapat dengan mudah dibersihkan. Adanya bentuk pontik yang demikian mengakibatkan kekurangan dalam hal estetis sehingga hanya diindikasikan untuk pontik posterior rahang bawah.4

Gambar 7. Pontik Sanitary 2) Pontik Ridge Lap Bagian labial/bukal dari dasar pontik berkontak dengan linggir alveolus sedangkan bagian palatal menjauhi linggir ataupun sedikit menyentuh mukosa dari linggir.Hal ini mengakibatkan estetis pada bagian labial/bukal lebih baik, dan mudah dibersihkan pada bagian palatal.Walaupun demikian menurut beberapa hasil penelitian, sisa makanan masih mudah masuk ke bawah dasar pontik dan sulit untuk dibersihkan. Pontik jenis ini biasanya diindikasikan untuk jembatan anterior dan posterior.4

34

Gambar 8. Pontik Ridge Lap 3) Pontik Conical Root Pontik conical root biasanya diindikasikan untuk jembatan imediat yang dibuatkan atas permintaan pasien yang sangat mengutamakan estetis dalam kegiatan sehari-hari. Pontik ini dibuat dengan cara bagian dasar pontik masuk ke dalam soket gigi yang baru dicabut kira-kira 2 mm. pontik ini dipasang segera setelah dilakukannya pencabutan dan pada pembuatan ini tidak menggunakan restorasi provisional.4

Gambar 9.Pontik Conical Root. 3. Konektor (Connector) Merupakan bagian dari gigi tiruan jembatan yang menghubungkan pontik dengan retainer, pontik dengan pontik atau retainer dengan retainer sehingga menyatukan bagian-bagian tersebutuntuk dapat berfungsi sebagai splinting dan penyalur beban kunyah. Terdapat 2 macam konektor, yakni: 1. Rigid connector 2. Non Rigid Connnector 4. Penyangga (Abutment) Sesuai dgn jumlah, letak dan fungsinya dikenal istilah: 1. Single abutment hanya mempergunakan satu gigi penyangga 2. Double abutment bila memakai dua gigi penyangga

35

3. Multiple abutment bila memakai lebih dari dua gigi penyangga 4. Terminal abutment 5. Intermediate/pier abutment 6. Splinted abutment 7. Double splinted

Gambar 10.Contoh Gambar Double Abutment dan Terminal Abutment.

Gambar 11. Contoh Gambar Intermediet/ Pier Abutment

36

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN Kegagalan perawatan gigi tiruan tetap dapat disebabkan oleh berapa hal, diantaranya yaitu: biologis, mekanis dan estetis. 4.2 SARAN Dalam perawatan gigi tiruan hendaknya operator memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan prosedur, baik prosedur perawatan ataupun pembuatan gigi tiruan serta kondisi pasien itu sendiri, sehingga kegagalan dapat diminimalisir.

37

DAFTAR PUSTAKA Andajani, T. 1993. Penanggulangan Kerusakan Gigi yang Parah dengan Gigi Tiruan Tumpang. Volume 2. Hal 571-580. Jakarta: Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi Usakti. Andlaw, R.J. and W.P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd ed. London: Churchill Livingstone. Blakesslee, R.W., et al. 1980. Dental Technology Theory and Practice. Hal: 113-5, 120-1, 313-15. St. Louis-Toronto-London: C.V. Mosby Company Dykema, E.W, Cunningham, D.M, and Johnston, J.F. 1978. Modern practice in removable partial prosthodontics. Philadelphia- London- Toronto: W.B Saunders Company. Dyson, J.E. 1988. Prosthodontic for Children. Hal: 259-68. Philadelphia: Lea and Febriger. Finn, S.B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th ed. Hal 309-31, 360-3. Philadelphia: W.B Saunders Company inc. Goodarce, C.J dan Brown, T.D, 1994. Prosthodontic Treatment of the Adolescent Patient Care. Editor: Sthephen H.Y.Wei. Philadelphia: Lea and Febiger. Heartwell, C.M. and Rahn, A.O. 1986. Glossary of Prosthodontics. Fourth edition. Philadelphia: Lea and Febriger. Herman, W. 1980. Majalah Kedokteran Gigi. Volume 1. Bandung: Yabina. Lindahl, R.L. 1964. Removable Denture Prosthetis. 4th ed. Hal: 271-285. McGrawHill Book Company Inc. Mathewson, R.J and Primosch, R.E. 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry. 3rd ed. Hal: 356-9. Chicago: Quintessence Books. McCrackens. 1995. Removable Partial Prosthodontics. 9th ed. St. Louis: C.V. Mosby Company. McDonald, R.E. and D.R. Avery, 2000. Dentistry forThe Child and Adolescent. 7th ed. Saint Louis: Mosby

38

39