Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini wirausaha bukan hanya menjadi alternatif masyarakat tetapi merupakan pilihan yang sangat dipertimbangkan. Hal ini seiring dengan target pemerintah untuk menjadikan negara Indonesia sebagai negara maju, yaitu dengan 4% masyarakat di Indonesia adalah wirausahawan. Pemerintah juga berusaha agar masyarakat Indonesia bisa menjadi pengusaha yang dapat membantu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Budidaya jamur merupakan salah satu usaha yang sangat menjanjikan di masa sulit seperti ini. Budidaya jamur tidak memerlukan modal yang tinggi serta tidak mengenal musim dan memberikan laba yang menjanjikan. 1.2 Rumusan Masalah 1 Bagaimana proses produksi jamur tiram putih? 2 Bagaimana keadaan umum lokasi budidaya jamur tiram? 3 Bagaimana pemasaran jamur tiram? 4 Apa saja hambatan dalam proses produksi sampai pemasarannya? 5 Bagaimana aspek keuangannya? 1.3 Tujuan Penelitian 1 Untuk mengetahui proses produksi jamur tiram 2 Untuk mengetahui keadaan umum lokasi budidaya jamur tiram 3 Untuk mengetahui pemasaran jamur tiram 4 Untukk mengetahui hambatan dalam proses produksi sampai pemasarannya 5 Untuk mengetahui aspek pemasarannya 1.4 Manfaat Penelitian a. Bagi Mahasiswa 1. Mengetahui proses budidaya jamur tiram 2. Mahasiswa belajar melihat peluang usaha di sekitarnya b. Bagi pembudidaya jamur 1 Mendapatkan pengetahuan lebih tentang budidaya jamur yang efektif c. Bagi Masyarakat Umum 1. Mendapat pengetahuan tentnag budidaya jamur tiram 2. dapat mengetahui jamur tiram dengan kualitas yang baik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. Merupakan salah satu jamur konsumsi yang bernilai tingi. Beberapa jenis jamur tiram yang biasa dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia yaitu jamur tiram putih (P.ostreatus), jamur tiram merah muda P.flabellatus), jamur tiram abu-abu (P. sajor caju), dan jamur tiram abalone (P.cystidiosus). Pada dasarnya semua jenis jamur ini memiliki karateristik yang hampir sama terutama dari segi morfologi, tetapi secara kasar, warna tubuh buah dapat dibedakan antara jenis yang satu dengan dengan yang lain terutama dalam keadaan segar. Di alam liar, jamur tiram merupakan tumbuhan saprofit yang hidup dikayukayu lunak dan memperoleh bahan makanan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan organik. Jamur tiram termasuk tumbuhan yang tidak berklorofil (tidak memliliki zat hijau daun) sehingga tidak bisa mengolah bahan makanan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, jamur tiram sangat tergantung pada bahan oranik yang diserap untuk keperluan pertumbuhan dan perkembangan. Nutrisi utama yang dibutuhkan jamur tiram adalah sumber karbon yang dapat disediakan melalui berbagai sumber seperti sebuk kayu gergajian dan berbagai limbah organik lain. Pertumbuhan jamur tiram sangat tergantung pada faktor fisik seperti suhu, kelembaban, cahaya, pH media tanam, dan aerasi, udara jamur tiram dapat menghasilkan tubuh buah secara optimum pada rentang suhu 26-28 C, sedangkan pertumbuhan miselium pada suhu 28-30 C, kelembaban udara 80-90% dan pH media tanam yang agak masam antara 5-6. Aerasi merupakan hal penting bagi pertukaran udara lingkungan tumbuh jamur yaitu engab mempertahankan perdediaan Oksigen (O2) dan membuang karbon dioksida (CO2), cahaya matahari yang dibutuhkan untuk pertumbuhan jamur sangat sedikit berkisar antara 50-300 lux atau masih terbacanya huruf dikoran dalam jarak sedepa. Beberapa jenis jamur yang telah dikenal petani Indonesia seperti Jamur merang, jamur kuping, jamur shitake, jamur tiram, jamur merang dan jamur lingzhi mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk dikembangnkan karena cara budidaya relatif mudah,tidak memerlukan lahan yang luas, prospeknya menjanjikan. Sebagai bahan pangan jamur menjadi salah satu sumber protein seperti thiamine (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin dan vitmin C serta mineral. Sebagai bahan fungsional jamur mengandung bahan aktif yang terdiri dari senyawa polisakarida (glikan), triterpen, nukleotida, monitol, alkoloid dan lain-lain yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Menurut Crisan dan Sands (1978) rata-rata kandungan protein (% berat kering) dari jamur kuping adalah 4-9%, jamur kancing 24-44%, jamur shitake 10-17%, jamur tiram 10-30%, jamur merang 21-30%. Daya cerna tubuh
2

terhadap protein yang dikandung jamur pun sangat tinggi berkisar antara 71-90%. Selain mengandung kandungan senyawa yang penting bagi tubuh jamur juga telah memerankan peranan penting dalam upaya pengobatan masyarakat sejak berabad-abad yang lampau. Seorang ahli fisika dari dinasti Ming, Wu Shui, dalam abad ke-15 telah melaporkan manfaat obat dari jamur shitake. Dilaporkan bahwa jamur ini dapat meningkatkan fitalitas dan energi, meningkatkan seksualitas dan mencegah penuaan (Jones, 1990). Akhir-akhir ini produk kesehatan dari ekstrak jamur lingzhi murni dalam bentu tablet maupun kapsul dengan nama Reishi di Amerika dan Daxen di Malaysia dan Indonesia telah menjadi primadona yang dapat menyembuhkan banyak penyakit terutama kanker dan penyakit gula. Secara umum manfaat jamur Bagi pengobatan dan penyembuhan. Berdasarkan media tumbuhnya jamur dapat dapat dikatagorikan menjadi jamur dengan media kayu (tubuh kayu) dan jamur dengan media campuran. Untuk jamur merang banyak berkembang didaerah dataran rendah teruatama di daerah persawahan. Pada saat ini Kabupate Kerawang, Jawa Barat dikenal sebagai sentra jamur merang. Sedangkan jamur dengan media yang berasal dari serbuk kayu antara lain jamur kuping, jamur tiram putih, jaur tiram abu-abu, jamur shitake. Jamur jenis ini banyak dikembangkan didaerah dataran tinggi seperti propinsi Jawa Barat (Kabuapten Bandung, Garut, dan Bogor), Propinsi Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo, Kab.Magelang, Kab. Solo), Propinsi DIY (Kabupaten Sleman), Propinsi Bali (Kab. Badung) dan Propinsi Jawa Timur (Kota Batu).

Tabel 1. Manfaat jamur Bagi pengobatan dan penyembuhan.

Sumber : Paul Stamets, 1999, Chang dan Miles, 1978. Keterangan : Vv : Jamur merang (Volvariella volvaceae) Le : Jamur shitake (Lentinula edodes) Ab : Jamur kancing (Agaricus bisporus dan A.bitorquis) Ap : Jamur kuping (Auricularia polytricha) Po : Jamur tiram (Pleourotus ostreatus var florida) Gl : Jamur lin zhi (Ganoderma lucidum) Jamur tiram putih jenis Florida

Ciri-ciri umum dari jamur tiram putih jenis ini adalah : 1. Bentuk jamur tiram putih seperti tudung / payung. Beberapa dari jenis ini dalam pertumbuhannya bergerumbul (banyak) berkelompok.Namun ada pula yang merupakan tangkai tunggal. Tapi ciri umumnya tetap berbentuk tudung. 2. Kisi-kisi bawah (sirip) relatif lebih lebar dari pada jenis osteron 3. Warna jamur putih bersih. Jika terkadang seperti ada warna kecoklatan (seperti tiram coklat atau tiram kelabu) hal ini bukan dikarenakan warna aslinya. Tetapi lebih disebabkan cuaca. Terkadang jika siang hari suhu agak panas dengan kelembaban rendah, lalu pada sore harinya disiram dan mengenai tubuh buah, ini yang menyebabkan jamur menjadi sedikit kecoklatan. 4. Kadar air optimal pada jamur tiram jenis florida cenderung lebih tinggi dibandingkan jenis oystern. Ciri umum jamur yang memiliki kadar air baik adalah warna jamur tetap putih bersih. Jika memiliki kadar air berlebihan, cenderung jamur tiram berwarna kekuningan dan lebih cepat membusuk. 5. Karakteristik panen. Karakteristik panen jamur tiram seperti yang telah kami sebutkan dalam posting-posting kami sebelumnya cenderung stabil. Dalam 100 hari pertama, panen masih cenderung stabil dan baik. Contoh dari karakteristik panen jamur tiram jenis ini dapat anda download pada data-data hasil panen kami. 6. Jamur tiram jenis florida sangat cocok untuk jenis sayuran, untuk usaha jenis kripik jamur, dan juga jamur goreng. Strukturknya masih cukup kuat walaupun telah disimpan dalam lemari es.

Jamur Tiram Putih Oystern (Osteron)

1. Bentuk jamur tiram putih jenis ini menyerupai terompet. Pada saat berumur 2 hari dan jamur masih kecil, bentuknya relatif masih berbentuk tudung, tetapi ketika membesar bentuknya membesar ke atas dan seperti terompet. 2. Kisi-kisi bawah (sirip) jamur jenis osteron lebih halus dan kecil daripada jenis florida. 3. Kadar air jamur tiram jenis osteron relatif lebih sedikit. Ini yang menyebabkan osteron relatif lebih kesat dari pada jenis florida. 4. Karakteristik panen jamur tiram jenis osteron relatif kurang stabil. Pada saat banyak, panen cenderung bersamaan dan banyak, tetapi kemudian habis. Karena itulah jenis jamur ini kurang umum dibudidayakan, karena pemasarannya menjadi sulit karena kurang stabilnya panen tadi. 5. Jamur tiram jenis osteron lebih banyak dimanfaatkan untuk olahan. Walaupun untuk sayuran pun juga enak. (http://jamursekolahdolan.blogspot.com/2009/02/jenis-jamur-tiramputih.html)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Lokasi Penelitian Lokasi penelitian kami di Desa Slorok dan Ngadirejo Kromengan,

Kabupaten Malang 3.2. Metode Pengumpulan Data Dalam pelaksanaan proyek ini kami mengambil dari berbagai sumber, yaitu: a. b. Menggunakan metode wawancara. Memberikan beberapa pertanyaan kepada narasumber secara langsung Menggunakan metode observasi. Mengamati langsung di lingkungan dan dari pengamatan tersebut kami memperoleh tambahan data yang nantinya akan kami olah

3.3.

Jenis Data Jenis data yang kami gunakan adalah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber asli. Sumber asli disini diartikan sebagai sumber pertama darimana data tersebut diperoleh. Dalam ha ini data diperoleh langsung dari interview ataupun observasi lapangan

3.4.

Analisa Data Dalam penelitian ini kami menggunakan analisa kualitatif. Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan
7

distandardisasi. (Analisis Kualitatif: Pertimbangan-pertimbangan Umum) Tujuan dari analisis data, dengan mengabaikan jenis data yang dimiliki dan mengabaikan tradisi yang sudah dipakai pada koleksinya, apakah untuk menentukan beberapa pesanan dalam jumlah besar informasi sehingga data dapat disintesis, ditafsirkan, dan dikomunikasikan. Walaupun tujuan utama dari kedua data kualitatif dan kuantitatif adalah untuk mengorganisir, menyediakan struktur, dan memperoleh arti dari data riset. Satu perbedaan penting adalah, di dalam studi-studi kualitatif, pengumpulan data dan analisis data pada umumnya terjadi secara serempak, pencarian konsep-konsep dan tema-tema penting mulai dari pengumpulan data dimulai.

BAB IV HASIL OBSERVASI

4.1 Analisa aspek produksi 4.1.2 Alat dan bahan Peralatan produksi Nama peralatan Skop Kaleng Ember Plastik Cincin Plastik Karet gelang Kertas Plastik penutup Jumlah barang 1 1 1 300 (biji) 300 (biji) 300 (biji) 300 (biji) 300 (biji) Alat Inokulasi Nama peralatan Stik tanam Alkohol 70% Bunzen Sprayer Bibit Corong Spirtus Jumlah 1 1 1 1 3 1 1

Nama peralatan Drum Tungku Kayu Gas elpiji 3 kg

Jumlah 3 1 1,5 2,5

Peralatan sterilisasi

4.1.3 Pembuatan bibit Jika terdapat bibit yang berwarna putih, maka bibit tersebut
9

berkualitas buruk. Dan tumbuhnya jamur cenderung hijau bahkan tidak bisa tumbuh jamur. Agar tidak merusak, maka bibit yang berwarna putih harus dibuang terlebih dahulu. Harga bibit F0 adalah Rp. 500.000 per botol, 1 botol bibit F0 bisa jadi 40 botol F1. Media untuk membuat bibit F0 terdiri dari sari kentang, agar-agar dan gula dekstros. Bibit yang terbaik adalah dari jamur juga. Bibit jamur F3 hasil jamurnya lebih kecil dan kualitasnya lebih rendah dari pada bibit jamur F1 dan F2. Bibit jamur yang terbaik adalah bibit jamur F2. Dari 129 bag log bibit jamur yang di buat oleh Pak Sis hanya 20 bag log jamur yang berhasil. Dari 1 botol kaca bibit jamur bisa menghasilkan 28 bag log jamur. Untuk komposisi bibit jamur yang terbuat dari bag log terdiri dari 3kg serbuk kayu, 2kg katul, 1kg empok jagung dan gula dekstros.

10

4.1.4 Pembuatan bag log Hasil jamur dari bag log tergantung dari adonan, jika katul lebih banyak maka jamur akan tumbuh lebih bagus. Menurut pak Agus jika mengikuti sistem dari buku atau pelatihan maka akan banyak mengalami kerugian dan tidak bertahan lama, karena dalam pelatihan atau buku takaran katul lebih sedikit. Rasa dari jamur adalah yang terpenting, dan tetes tebu lebih baik dari pada air gula karena rasanya lebih enak. Campuran media bag log dalam praktek - Campuran I o 5 ember besar (1 kuintal) serbuk gergaji o 5 kg katul o 1 kg empok jagung o kg kalsium o kg gula dilarutkan pada 4 ember air (150 liter) - Campuran II o 10 ember besar (2 kuintal) serbuk gergaji o 15 kg katul o 5 kg katul o 1 kg kalsium o 1 kg gula dilarutkan dengan 6 ember air (225 liter) 4.1.5 Proses sterilisasi bag log

Sterilisasi bag log menggunakan drum yang disusun ke atas sehingga dapat menampung bag log secara teratur. Suhu saat sterilisasi adalah 105 pada bagian dalam bag log. Dengan waktu yang di butuhkan sekitar 10-12 jam. Proses tersebut memerlukan 2,5 tabung gas elpiji 3kg untuk 150 bag log serta 35 liter air untuk 150 bag log. Setelah di sterilisasi lalu di diamkan sampai suhu 40 dan diangin-anginkan dengan posisi berdiri dan tidak boleh berdempetan 4.1.6 Pembibitan Ada 2 versi tentang pembibitan 1. Pak Suselo Utoyo Pembibitan di dalam inkubator steril Waktu pembibitan harus cepat (dalam hitungan detik) Takaran bibit sendok teh Bagian tengah atas bag log ditusuk sampai kedalaman 1/3 bag log, lalu di masukkan bibit.
11

2. Pak Sis Pembibitan tidak di dalam inkubator tetapi cukup di ruangan beratap yang steril Waktu pembibitan tidak perlu tergesa-gesa Takaran bibit sekitar 1 cm dari permukaan atas ring Waktu memasukkan bibit harus ditekan agar bisa padat. Waktu dari sterilisasi sampai ke pembibitan tidak boleh lebih dari 24 jam. Kalau lebih dari 24 jam bag log akan menjadi asam. Pembibitan di lakukan pada malam hari, karena udara pada malam hari lebih steril dan tidak banyak virus dan bakteri. Pada waktu pembibitan tidak boleh terkena angin karena banyak virus dan bakteri. Pada saat hujan tidak dapat dilakukan pembibitan karena pada saat hujan banyak terdapat virus dan bakteri. Satu botol kaca bibit bisa digunakan untuk 28 bag log jamur. Resiko memakai bibit botol kaca lebih besar, karena harus lebih steril dan limbah kacanya juga mencemari lingkungan jika tidak di daur ulang lagi. Kamar yang digunakan untuk pembibitan dan ruang inkubator harus di semprot dengan alkohol 70% agar steril dari virus dan kuman. Ruang inkubator harus ada lampu api dari spirtus. Tangan juga harus di semprot alkohol 70% dan ada beberapa alat yang harus di sterilkan dengan di semprot alkohol dan di panaskan di api spirtus, yaitu : 1. Sendok 2. Kertas/koran 3. Stik tanam 4. Corong Setelah pembibitan, bag log di inkubasi dengan kelembapan 60-80 dan suhu 25-28. Posisi bag log pada waktu inkubasi harus berdiri. Waktu inkubasi jamur sampai spora turun setengah dari atas bag log. Syarat Tumbuh Syarat lingkungan yang dibutuhkan pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram antara lain ; 1. Air a. Kandungan air dalam substrak berkisar 60-65% b. Apabila kondisi kering maka pertumbuhan akan terganggu atau berhenti begitu pula sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati c. Penyemprotan air dalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban.

12

2. Suhu a. Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium dipertahankan antara 60-70% b. Suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16 22 C 3. Kelembaban a. Kelembaban udara selama masa pertumbuhan miselium dipertahankan antara 60-70% b. Kelembaban udara pada pertumbuhan tubuh buah dipertahankan antara 80-90% 4. Cahaya a. Pertumbuhan jamur sangat peka terhadap cahaya matahari secara langsung b. Cahaya yidak langsung (cahaya pantul biasa 50-15000 lux) bermanfaat dalam perangsangan awal terbentuknya tubuh buah. c. Pada pertumbuhan miselium tidak diperlukan cahaya d. Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Namur sekitar 200 lux (10%) 5. Aerasi Dua komponen penting dala udara yang berpengaruh pada pertumbuhan jamur yaitu oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Oksigen merupakan unsur penting dalam respirasi sel. Sumber energi dalam sel dioksida menjadi karbondioksida. Konsentrasi karbondioksida (CO2) yang terelalu banyak dalam kumbung menyebabkan pertumbuhan jamur tidak normal. Di dalam kumbung jamur konsentrasi CO2 tidak boleh lebih dari 0,02%. 6. Tingkat Keasaman (pH) Tingkat keasaman media tanam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram putih. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mempengaruhi penyerapan air dan hara, bahkan kemungkinan akan tumbuh jamur lain yang akan menganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri, pH optimum pada media tanam berkisar 6-7. Hama yang menyerang jamur adalah : 1. Bekicot yang tidak ada rumahnya (klelet) 2. Kumbang kecil

13

4.1.7 Mesin pengaduk adonan Spesifikasi mesin : 1. Tegangan 110/220 volt 2. Type JYIA Bartex 3. Putaran mesin 1400 rpm 4. Daya 372,85 watt 5. Kekuatan mesin HP 4.2 Analisa aspek keuangan Pada fakta di lapangan banyak perhitungan modal awal sampai perhitungan laba atau rugi yang hanya diperkirakan saja , sehingga tidak ada laporan keuangan yang tertulis dan berkala dengan jelas dan akurat pada setiap bulannya atau periode. Disamping itu mereka juga tidak pernah melakukan pembukuan kas apapun mengenai jamur tiram ini sehingga grafik tingkat keuntungan dan kerugian tidak dapat diketahui secara pasti dan tidak adanya history dari apa yang sudah mereka keluarkan untuk proses produksi jamur ini baik berupa modal awal, kas, persedian ataupun pencatatan hasil penjualan jamur tiram ini. Di lapangan terdapat berbagai mesin produksi, seperti : a) Mesin penggiling bahan produksi b) Mesin oven Dan juga pada fakta lapangan membuktikan bahwa nilai guna suatu peralatan kurang maksimal yaitu mesin penggiling bahan produksi. Disini mesin penggiling tidak berfungsi sama sekali, sehingga pada akhirnya mereka menggunakan metode tradisional dalam proses produksinya. Tidak maksimalnya penggunaan alat ini menyebabkan kerugian pada modal. Harga penjulan jamur tiram ini mereka mengikuti harga pasaran sehingga jika sewaktu-waktu harga bahan produksi meningkat maka prosentanse tingkat pendapatan mereka tidak sampai mengalami kerugian tetapi hanya ada penurunan pendapatan saja. 4.3 Analisa aspek pemasaran Pendistribusian petani jamur di wilayah Desa Slorok bisa dikatakan masih konvensional. Para petani menunggu tengkulak untuk mengambil produk mereka. Produk petani jamur di sini, selain jamur, mereka juga memproduksi baglog. Untuk harga jamur sendiri rata-rata per kilonya 7.000 rupiah, sedangkan untuk baglog seharga 2.500 rupiah.
14

Pendistribusian ini, khususnya jamur, harus dilakukan segera setelah dipanen. Jamur harus didistribusikan dalam keadaan fresh. Ketahanan jamur cenderung sangat singkat, maksimal dua hari jamur dapat bertahan di dalam suhu dingin. Berikut adalah analisa SWOT usaha jamur tiram putih di desa Slorok dan Ngadirejo: Strength Usaha jamur ini tidak memerlukan modal yang besar dan memberikan laba yang cukup menjanjikan serta mudah dikembangkan. Harga yang diberikan ke masyarakat juga sangat terjangkau. Untuk relasi usaha jamur ini sudah baik, mereka mempunyai relasi untuk bertukar pengalaman di berbagai wilayah, khususnya Malang dan sekitarnya. Weakness Jamur ini tidak dapat bertahan lama, jadi harus didstribusikan dalam keadaan fresh. Marketing dan pendistribusiannya masih menggunakan sistem yang konvensional. Mereka masih menunggu pasar. Opportunity Jamur tiram merupakan komoditi yang mudah dikembangkan dan sedang marak di pasaran. Di samping itu, dewasa ini kesehatan adalah sebuah hal yang menjadi sorotan masyarakat dan pemerintah, sedangkan nutrisi yang terkandung dalam jamur tiram putih cukup tinggi karena setara dengan 4 butir telur. Threats Jika tidak cepat dikembangkan dan ditreatment secara profesional, usaha ini rawan untuk dibajak oleh pengusaha yang bermodal besar.

15

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan yang kami lakukan tentang budidaya jamur di desa slorok kab. Malang, jamur merupakan komoditas menjanjikan untuk pengembangan wirausaha. Tetapi masih banyak kekurangan dan perlu di kembangkan lagi agar budidaya jamur tersebut dapat lebih efisien dan menguntungkan. Kami memberikan beberapa saran dan masukan agar para petani jamur dapat mengembangkan usaha jamurnya. Kami berharap kedepannya para petani jamur bisa lebih sukses dan berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di negara ini. 5.2 Saran Mesin pengaduk Menurut hasil pengamatan dari kelompok kami mesin tersebut mempunyai beberapa kekurangan. Dikarenakan pembuatan mesin tersebut lebih mengacu kepada proses dan hasil. Akibatnya mesin tidak berfungsi dengan baik. berikut beberapa saran yang kami peroleh dari hasil pengamatan : 1. Pisau pengaduk di buat melingkar. Agar hasil adonan dapat merata dan donan tidak menggumpal. Pisau di buat pipih.

16

2. Kapasitas adonan di sesuaikan dengan kekuatan mesin dan kapasitas volume. Kami menghitung untuk kapasitas mesin HP dengan daya 372,85 watt mampu mengaduk adonan kurang lebih 4 kg adonan. Dengan spesifikasi : 1. 2,5 kg serbuk gergaji 2. 750 g katul 3. 250 g empok jagung 4. 75 g kalsium 5. 0,05 kg larutan gula 6. Air secukupnya
3. Sabuk karet diganti rantai Menurut kami dengan penggantian dengan rantai dapat mengurangi slip akibat gesekan yang terjadi pada sabuk karet. Apabila menggunakan rantai biaya penggantian rantai lebih besar. Usia pakai pada rantai dapat bertahan lebih lama dari pada karet, dengan memberikan pelumasan pada rantai secara teratur. 4. Memusatkan hasil adonan Hasil adonan dari mesin pengaduk di pindahkan ke suatu tempat dengan membuat dinding pembatas terbuat dari seng atau kayu. Dengan dinding tersebut hasil adonan dapat di keluarkan dengan rapi. 5. Penambahan roda pada bagian bawah mesin pengaduk Dengan penambahan roda pada mesin akan memudahkan dalam memindahkan mesin tersebut ke suatu tempat yang diinginkan.

17

Alat Sterilisasi Baglog Jamur Dari hasil pengamatan kami untuk mesin sterilisasi jamur masih ada beberapa kekurangan terutama pada konstruksi bahan alat sterilisasi yang masih menggunakan penutup plastik, kurangnya keaamanan pada alat tersebut, tidak adanya pengukur dan pengatur suhu yang tepat. Sehingga mengakibatkan banyak kerugian, dari beberapa kekurangan alat tersebut kami mencoba untuk member saran untuk dapat memaksimalkan alat sterilisasi dan meminimalisasi kerugian. 1. Penambahan Pengaman Dari hasil pengamatan kami alat seterilisasi ini terdapat kekurangan pada segi keamanan alat,yang kita maksud adalah keamanan pada saat pengoperasiaan alat tersebut , kita dapat menambahkan katup pengaman pada alat tersebut dan juga regulator pada LPG, serta penggantian penutup plastik dengan bahan lain seperti alumunium untuk penutup. 2. Penambahan Alat sensor suhu Alat ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan kalor yang di butuhkan untuk mengukus baglog jamur.alat ini. Penamabahan sensor suhu mempunyai banyak keuntungan karena dapat memimalisir kebutuhan gas LPG karena jika pada saat suhu yang di inginkan telah tercapai maka gas yang di keluarkan akan di sesuaikan lebih sedikit dan juga apabila suhu yang diinginkan belum tercapai maka pasokan gas juga akan lebih banyak. 3. Penggunanaan Boiler Fire Tube Boiler merupakan alat untuk menghasilakan uap darei pemanasan air di dalamnya, yang kemudian uap air tersebut akan di alirkan ke runag pengukus baglog. Boiler mempunyai banyak keuntungan yaitu : Uap panas yang dihasilkan memiliki tekanan yang tinggi Pemanasan di dalam steamer hanya membutuhkan waktu yang singkat Memperbesar tingkat keberhasilan dalam proses sterilisasi Efektif dalam penggunaan bahan bakar

18

Alat ini menggunakan prinsip fire tube yaitu penambahan pipa-pipa yang terbuat dari besi pipa ini berfungsi untuk mempercepat pemanasan, ketika api dari bawah memanaskan boiler udara dalam pipa akan memuai sehingga menghasilakan panas dari samping untuk mempercepat kenaikan suhu. Setelah uap air tercipata, uap akan di salurkan ke dalam ruangan baglog jamur untuk sterilisasi.

4. Penambahan Blower Penambahan blower berfungsi untuk bertujuan untuk menyalurkan api lebih sempurna ke dalam pipa pengumpan panas.

19

Denah Lumbung Jamur

20

21

22

Untuk menjaga kelembapan ruang tempat jamur tumbuh, maka lantai yang terbuat dari batu bata harus disiram air setiap harinya, penyiraman air dapat dijalankan secara otomatis menggunakan instalasi pompa air dan pipa yang disambung dengan sensor kelembapan, biaya yang dibutuhkan kurang lebih rp.1.000.000 berikut flowchart nya,

23

Sensor membaca kelembapan udara

Kelemba pan < 70

pompa bekerja menyemprotkan air dengan vol tertentu

Kelemba pan > = 70

24

Atau dapat juga menggunakan rangkaian timer, yaitu kita kondisikan pada jam berapa pompa air akan bekerja secara otomatis.

Baglog diberi air setiap hari, jika baglog sudah ditumbuhi jamur maka cukup diperciki air (di embuni) Baglog harus diberi tanda kapan memulai menaruh, kapan akan dipetik, kapan pemetikan pertama, ke dua dst, hal ini bermaksud agar kita dapat mengontrol perkembangan dari jamur tersebut, apakah jamur yang kita tanam tumbuh dengan benar, atau terjadi hambatan untuk tumbuh, atau bahkan mengalami kematian

25

Pengatur suhu ruangan otomatis

Dengan pembuatan alternative alat baru merupakan salahsatu solusi masalah tersebut, yaitu dengan pembuatan alat pengontrol suhu dengan mengunakan sensor SHT 10 maupun SHT11. Sensor SHT 10 berfungsi untuk mendeteksi tingkat kelembaban pada ruangan produksi jamur, yang kemudian tingkat suhu dan kelembaban yang telah terdeteksi dan dikonversikan menjadi sinyal digital oleh rangkaian ADC yang telah menjadi satu modul dengan sensor tersebut. Setelah berupa sinyal digital, sinyal kemudian di teruskan ke sebuah mikrokontroler, mikrokontroler tersebut berfungsi mengatur sistem pengairan yang juga membutuhkan driver solid state untuk mengaktifkan sistem pengairan. Dianjurkan juga, untuk output/keluaran di salurkan ke display LCD untuk mempermudah pengguna mengetahui secara rinci, kondisi pembacaan suhu atau kelembaban yang dibaca oleh sensor SHT 10.

SHT 10

Mikrokontroler

LCD

D river solid state

Media Peng airan

26

Spesifikasi dari SHT 10 adalah: 1. Berbasis sensor suhu dan kelembaban relatif Sensirion SHT10. 2. Mengukur suhu dari -40C hingga +123,8C atau dari -40F hingga +254,9F dan kelembaban relatif dari 0% RH hingga 100% RH. 3. Memiliki ketetapan (akurasi) pengukuran suhu hingga 0,5oC dan ketepatan (akurasi) pengukuran kelembaban relatif hingga 4,5%RH. 4. 5. 6. 7. Memiliki antarmuka serial synchronous 2-wire. Jalur antarmuka telah dilengkapi dengan rangkaian pencegah kondisi sensor lock-up. Membutuhkan catu daya +5V DC dengan konsumsi daya rendah30 W. Modul ini memiliki faktor bentuk 8 pin DIP 0,6 sehingga memudahkan pemasangannya.

27

Manajemen Pemasaran Sebaiknya pemasaran jamur tiram putih ini dilakukan lebih sistematis dan terorganisir. Petani jamur menyediakan manajemen tersendiri untuk memasararkan, meng-expand dan menjaring relasi lebih luas. Pemasaran dapat dilakukan secara online melalui jejaring sosial yang saat ini sudah akrab di telinga masyarakat, dalam hal ini untuk lingkup promosi. Karena jamur tiram putih harus didistribusikan dan dikonsumsi dengan keadaan fresh, petani jamur dapat melakukan pengembangan usaha dengan membuat rumah makan fresh food atau menjadikan sebuah lahan pariwisata, misalnya wisata petik jamur. Tentunya dengan adanya wisata ini, sosialisasi budidaya jamur menjadi lebih mudah. Selain pemasaran jamur, pemasaran bag log juga harus lebih dikembangkan. Bisa dibuat sistem promosi online seperti jamur atau membuat bag log lebih ramah di telinga masyarakat, jadi juga membantu pengembangan budidaya jamur. Bibit jamur (F0) juga merupakan peluang yang cukup besar, karena bibit tersebut adalah bibit yang banyak dicari para petani jamur. Pembuatan bibit ini termasuk rumit dan rawan gagal, maka jika dapat memecahkannya bibit ini merupakan peluang pasar yang cukup besar. Sistematis Laporan Keuangan Sesuai Metode Akuntansi Modal awal budidaya jamur tiram ini: a. Mesin oven b. Ruang inkubasi c. Ruang atau rak penanaman (terbuat dari bambu dan kayu) d. Alat-alat (sekop, cangkul, timbangan, ember, pinset) e. Pengatur suhu

Biaya Manufaktur ; Bahan baku baglog jamur tiram: a. Serbuk kayu b. Katul c. Jagung d. Calsium atau kapur mati e. Plastik f. Elpiji g. Bibit h. Gula
28

Biaya tenaga kerja langsung Biaya (Biaya Overhaid Pabrik atau biaya yang dikeluarkan untuk produksi) : a. Biaya listrik b. Biaya air c. Biaya elpiji d. Penyusutan mesin e. Biaya perawatan mesin f. Bahan baku tidak langsung (cincin,karet,kertas penutup, spritus, alkohol)

Dalam sebuah usaha sebenarnya harus mempunyai laporan-laporan keuangan. Sistematis laporan keuangan sesuai meode akuntansi adalah sebagai berikut: Analisis Usaha Budidaya Jamur Tiram dalam Kapasitas 5000 baglog. No Kebutuhan Produksi 1. Biaya Tetap/Investasi Pencampuran media Ruang Inokulasi Ruang Inkubasi Kubung Penumbuhan Alat sterilisasi banker Selang Peralatan (cangkul, sekop, ember, dll.) m2 m2 m2 m2 m
2

Satuan Volume

Harga Satuan xx xx xx xx xx xx xx xx

Total Biaya xx xx xx xx xx xx xx xx

Pendapatan xx xx xx xx xx xx xx xx

Buah Set

Jumlah 2. Biaya Produksi Bibit Botol xx xx xx

29

Katul Kg Kapur Kg Plastik Kg Karet Gelang Kg Cincin Buah Alkohol 75 % Liter Koran Kg Lilin Kotak Upah Tenaga Kerja Borongan Jumlah 3 Biaya tenaga kerja tetap Upah Tenaga Kerja (pengadukan, sterilisasi, pemeliharaan, transportasi, dll,) Selama 6 bulan 4 Total Biaya Biayapenyusutan investasi Biaya Produksi Biaya Tenaga kerja tetap Jumlah 5 Pendapatan/hasil Kegagalan 5% 6 Keuntungan =Pendapatan Total Biaya Biaya Produksi tiap baglog Log xx xx xx Hari Kerja xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx

xx xx xx xx xx xx xx xx xx

xx xx

xx xx xx xx xx xx

xx xx xx xx xx xx

xx xx xx x xx xx

= Total biaya produksi + Biaya tenaga kerja

30

Laporan Neraca di buat pada umumnya per tanggal 31, Pada laporan neraca terdapat dua sisi,sisi aktiva yang berupa aset dan sisi pasiva yang berupa kewajiban dan modal akhir. Modal akhir di peroleh dari modal awal + laba Laporan Neraca Sisi Aktiva: Kas Piutang Investasi Kumbung jamur Perlengkapan Total aktiva Sisi Pasiva: Hutang Modal Total Pasiva Total biaya Xx Xx Xx Xx Xx Xx Xx Xx xx

Kedua sisi dalam neraca harus menunjukkan jumlah yang sama

31