Anda di halaman 1dari 27

NAMA : Aditya Arya Putra NPM : 1102008008 SKENARIO 1 : PELAYANAN ANTENATAL TIU 1 : Pelayanan Antenatal (Ante Natal Care)

di Puskesmas a. Pengertian ANC (Antenatal Care) Antenatal Care adalah merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal, ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal. (Sarwono Prawirohardjo, 2002 hal 89 ). Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditentukan. (Depkes RI, 2001). b. Tujuan Antenatal Care Antenatal Care bertujuan memfasilitasi hasil yang sehat dan positif, bagi ibu maupun bayinya dengan jalan menegakkan hubungan kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran, dan memberikan pendidikan. (Depkes RI, 2001). Pemeriksaan selama hamil pada intinya bertujuan menekan angka kematian ibu melahirkan dan menirunkan angka kematian bayi, serta mendeteksi dini seandainya terdapat gangguan, agar bisa segera diatasi. Pemeriksaan kehamilan penting dlakukan mengingat perkembangan penyakit

sering kali berjalan cepat. Selain itu kesehatan ibu hamil dapat dipantau misalnya: kondisi jantung, tekanan darah, dan sebagainya. (Ayurai, 2009 ) Menurut Sarwono prawirahardjo tahun 2002 : 90, tujuan antenatal care adalah : 1. memantau kemampuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2. meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi. 3. mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. 4. mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5. mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif. 6. mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar tumbuh kembang secara normal. c. Pelayanan Antenatal Care Pelayanan ANC adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional ibu selama kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan. (Depkes RI, 2001) Pelayanan ANC merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilannya yang mencakup banyak hal meliputi

Anamnesa, pemeriksaan fisik baik umum dan khusus. Pemeriksaan psikologis, pemerikasaan laboratorium atas intervensi dasar dan khusus sesuai dengan resiko yang ada. Namun dalam penerapan secara operasionalnya dikenal dengan standart 7T untuk pelayanan Antenatal Care ( ANC ), yang terdiri atas : 1. (Timbang) berat badan 2. Ukur (Tekanan) darah 3. Ukur (tinggi) fundus uteri 4. Pemberian imunisasi (tetanus toksoid) TT lengkap 5. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan 6. Tes terhadap penyakit menular sexsual 7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.(Sarwono Prawirahardjo, 2002: 90 ). d. Standart Pelayanan Antenatal Care Terdapat 6 (enam) standart dalam standart pelayanan antenatal care yang terdiri dari : 1. Standart 1 : Identifikasi Ibu Hamil Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan motivasi ibu, suami dan anggota keluarga agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur. 2. Standart 2 : Pemeriksaan dan pemantuan antenatal

Bidan memberikan sedikitnya 4X pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesa dan pemantuan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan resiko tinggi atau kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mencatat data yang tepat setiap kunjungan, bila ditemukan kelainan, maka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya. 3. Standart 3 : Palpasi Abdominal Bidan melakukan pemeriksaan abdominal dengan seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan dan bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah dan masuknya kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. 4. Standart 4 : Pengelolaan Anemia pada kehamilan Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Standart 5 : Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenai tanda serta gejala pre-eklampsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

6. Standar 6 : Persiapan Persalinan Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami/keluarga pada trimester III. Untuk memastikan bahwa persiapan persalinan bersih dan aman dan suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, bila terjadi keadaan gawat darurat. (Depkes, 2001). e. Jadwal Kunjungan ANC 1. Kunjungan Ibu Hamil Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai standart yang ditetapkan. Istilah kunjungan disini tidak hanya mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung kefasilitas pelayanan, tetapi adalah setiap kontak tenaga kesehatan baik di posyandu, pondok bersalin di desa, kunjungan rumah dengan ibu hamil tidak memberikan pelayanan ANC sesuai dengan standart dapat dianggap sebagai kunjungan ibu hamil. 2. Kunjungan Baru Hamil / K1 Kunjungan baru hamil adalah kunjungan ibu hamil yang pertama kali pada masa kehamilan. 3. Kunjungan Ulang Kunjungan ulang adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standart selama satu periode kehamilan. 4. K4

K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang ditetapkan (Depkes RI, 2001) Menurut buku pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, saifudin tahun 2002 hal 91 jadwal kunjungan Antenata Care adalah : 1. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu) 2. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 28). 3. dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 36 dan sesudah minggu ke 36). Untuk mendapatkan semua informasi yang diperlukan, sehubungan dengan hal-hal diatas, petugas kesehatan akan memberikan asuhan antenatal yang baik dengan langkah-langkah seperti berikut : 1. Sapa Ibu (dan keluarganya) dan membuatnya merasa nyaman 2. mendapatkan riwayat kehamilan ibu dan mendengarkan dengan teliti apa yang diceritakan oleh ibu. 3. Melakukan pemeriksaan fisik. 4. Melakukan pemeriksaan laboratorium 5. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk menilai apakah kehamilannya normal : a. Tekanan darah dibawah 140/90 mmhg b. Edema hanya pada ekstrimitas c. Tinggi fundus dalam cm atau menggunakan jari-jari tangan sesuai dengan usia kehamilan

d. Denyut jantung janin 120 sampai 160 denyut permenit e. Gerakan janin terasa setelah 18-20 minggu hingga melahirkan. 6. Membantu ibu dan keluarganya, untuk mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan keadaan darurat. a. Bekerja sama dengan ibu keluarganya serta msyarakat untuk mempersiapkan rencana kelahiran termasuk mengidentifikasi penolongan dan tempat bersalin, serta perencanaan tabungan untuk mempersiapkan biaya persalinan. b. Bekerja sama dengan ibu, keluarganya dan masyarakat untuk mempersiapkan rencana jika terjadi komplikasi termasuk : 1. mengidentifikasi kemana harus pergi dan transportasi untuk mencapai tempat tersebut. 2. mempersiapkan donor darah 3. mengadakan persiapan finansial 4. mengidentifikasi pembuat keputusan kedua jika pembuat keputusan pertama tidak ada ditempat. 7. Memberikan Konseling a. Gizi : Penigkatan konsumsi makanan hingga 300 kalori perhari, mengkonsumsi makanan mengandung protein, zat besi, minum cukup cairan (menu seimbang). b. Menasehati ibu untuk mencari pertolongan segera jika ia mendapati tanda-tanda bahaya berikutnya, seperti : 1. Perdarahan pervaginam

2. Sakit kepala lebih dari biasa 3. Gangguan penglihatan 4. Pembengkakan pada wajah atau tangan 5. Nyeri abdomen (epigastrik) 6. Janin tidak bergerak sebanyak biasanya. c. Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman dirumah. d. Menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dan dikeringkan. e. Menjelaskan cara merawat payudara terutama pada ibu yang mempunyai putting susu rata atau masuk ke dalam. Dilakukan 2 kali sehari selama 5 menit. 8. Memberikan zat besi 90 hari mulai minggu ke-20 9. Memberikan imunisasi tetanus 0,5 cc, jika sebelumnya telah mendapatkan 10. Menjadwalkan kunjungan berikutnya. 11. Mendokumentasikan kunjungan tersebut (Saifuddin, 2002 : 15 )

1.Jadwal Kunjungan Ibu HamilKunjungan antenatal sebaiknya di lakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan a. Satu kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu) b. Satu kali pada trimester ke dua (antara minggu 14-28) c. Dua kali pada trimester ke tiga (antara minggu 28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36). 2. Pemberian Vitamin Zat Besi Di mulai dengan memberikan satu sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 M (zat besi 60 Mg) dan Asam Folat

500 Mg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak di minum bersama teh atau kopi, karena mengganggu penyerapan. Zat besi paling baik di konsumsi di antara waktu makan bersama jus jeruk (vitamin C) (Konsep Kebidanan ; 2003). 3. Jadwal Imunisasi TTAntigen Interval(selang waktu minimal) Lama perlindungan % perlindungan a. TT1 Pada kunjungan antenatal pertama - b. TT2 4 minggu setelah TT 1 c. TT3 6 bulan setelah TT2 d. TT4 1 tahun setelah TT 3 e. TT5 1 tahun setelah TT4 4. Jadwal Kunjungan Ulang a. Kunjungan I (16 minggu) di lakukan untuk : Penapisan dan pengobatan anemia. Perencanaan persalinan. Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya. b. Kunjungan II (24 28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu) dilakukan: Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya Penapisan pre eklamesia, gamelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan. Mengulang perencanaan persalinan. c. Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir) : Sama seperti perkunjungan II dan III. Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi. Mengenali tanda-tanda persalinan. http://bejocommunity.blogspot.com/2010/05/pengetahuan-ibu-hamil-tentangantenatal.html imunisasi TT pada ibu hamil Jenis imunisasi TT yang diberikan pada ibu hamil : Imunisasi yang diberikan pada ibu hamil adalah imunisasi TT (Tetanus Toksoid). Bagi yang belum pernah mendapatkan vaksinasi TT, imunisasi TT pada ibu hamil diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak waktu antara 2 pemberian tersebut minimal 1 bulan. Bila sudah pernah mendapatkan vaksinasi TT , ibu hamil cukup diberikan vaksinasi TT 1 kali. Berikan imunisasi segera setelah diketahui ibu tersebut hamil 1. Pengertian Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).

Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan, 2006). Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I s/d trismester III (Dinkes Jateng, 2005) 1. Manfaat imunisasi TT ibu hamil a. Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000). Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001). b. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000) Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004) 1. Jumlah dan dosis pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN, 2005; Saifuddin dkk, 2001), dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam (Depkes RI, 2000). 1. Umur kehamilan mendapat imunisasi TT Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005). TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000) 1. Jarak pemberian imunisasi TT1 dan TT2 Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu (Saifuddin dkk, 2001; Depkes RI, 2000). 1. Efek samping imunisasi TT Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001). Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000). 1. Tempat pelayanan untuk mendapatkan imunisasi TT a. Puskesmas b. Puskesmas pembantu c. Rumah sakit d. Rumah bersalin e. Polindes f. Posyandu g. Rumah sakit swasta h. Dokter praktik, dan i. Bidan praktik (Depkes RI, 2004). Tempat-tempat pelayanan milik pemerintah imunisasi diberikan dengan gratis

http://putriazka.wordpress.com/2005/04/20/imunisasi-tt-tetanus-toxoid-pada-ibu-hamilbumil/ TIU 2 : Program Kesehatan Dasar (Primary Health Care) di Puskesmas Pengertian program kesehatan dasar : Perawatan kesehatan berdasarkan atau menggunakan metode praktis , ilmiah dan diterima secara sosiologi dan teknologi dan dapat diakses secara universal oleh masyarakat melalui partisipasi penuh mereka dan diarahkan untuk kemandirian mereka serta agar masyarakat dpat menentukan keputusan dan pertimbangan diri sendiri . Tujuan. Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar yang bermutu dan memuaskan di Puskesmas dalam rangka terwujudnya peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggitingginya. PENYELENGGARAAN UPAYA KESEHATAN Untuk tercapainya visi pembangunan Kesehatan tersebut, Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, dimana keduanya jika ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional, merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya pelayanan tersebut dikelompokan dalam 2 kelompok besar yaitu : Upaya Kesehatan Wajib. 1. Upaya Promosi Kesehatan. 2. Upaya Kesehatan Lingkungan. 3. Upaya KIA/KB 4. Upaya Perbaikan Gizi. 5. Upaya P2M. 6. Upaya Pengobatan Dasar. 7. Pencatatan dan Pelaporan Upaya Kesehatan Pengembangan. Dilaksanakan sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat yang ada dan kemampuan Puskesmas Bila ada masalah kesehatan tapi puskesmas tidak mampu maka pelaksanaan oleh dinkes kab/Kota Upaya Lab (medis dan kes masy) dan Perkesmas serta Pencatatan Pelaporan merupakan kegiatan penunjang dari tiap upaya wajib atau pengembangan. Contohnya : 1. Upaya Kesehatan Sekolah / Upaya Kes. Gigi Sekolah. 2. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat 3. Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Upaya Kesehatan Jiwa Upaya Kesehatan Olahraga Upaya Kesehatan Lansia. UGD. Rawat Inap / K. Bersalin Upaya Kesehatan Kerja. PTKBM ( Pembinaan Tumbuh Kembang Balita Mandiri ). Upaya kesehatan keluarga miskin

C. PROGRAM PUSKESMAS Pelaksanaan program kesehatan di Puskesmas dapat dikelompokkan kedalam dua program utama puskesmas yaitu program kesehatan dasar dan program kesehatan pengembangan.

1. Program Kesehatan Dasar Program kesehatan dasar merupakan program wajib (minimal) yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas. Program kesehatan dasar terdiri dari enam program. a. Program Promosi Kesehatan. Program promosi kesehatan dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan menumbuhkan sikap positif (kemauan) dan perilaku (kesadaran) individu, keluarga dan masyarakat secara mandiri untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan sendiri dan lingkungannya. b. Program Kesehatan Lingkungan. Tujuan program kesehatan lingkungan adalah untuk mewujudkan lingkungan hidup yang sehat agar masyarakat dapat terlindungi dari ancaman dan bahaya penyakit yang berasal dari lingkungan. c. Program Pemberantasan Penyakit Menular. Penyelenggaraan program pemberantasan penyakit menular dimaksudkan untuk mencegah terjadinya dan tersebarnya penyakit menular serta menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat. d. Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB).

Program kesehatan ibu dan anak bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak sejak dalam kandungan. Sasaran program : ibu hamil, ibu melahirkan dan bayinya serta ibu menyusui dan wanita usia subur. e. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Program perbaikan gizi masyarakat dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat melalui penemuan dan perbaikan / penanggulangan gizi buruk terutama pada balita dan ibu hamil. f. Program Pengobatan Pengobatan dilaksanakan dengan memberikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga melalui upaya rawat jalan dan rujukan.

g. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) 2. Program Kesehatan Pengembangan a. Upaya Kesehatan Sekolah : pembinaan sekolah sehat, pelatihan dokter kecil b. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Reproduksi Remaja : penyuluhan, konseling c. Upaya Kesehatan Gigi Dan Mulut meningkatkan kesadaran untuk pemeriksaan minimal 6 bulan sekali d. Upaya Kesehatan Jiwa Program ini bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan jiwa masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. e. f. Upaya Kesehatan Olahraga : senam kesegaran jasmani Upaya Kesehatan Usia Lanjut (USILA)

Program ini bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan para usia lanjut usia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. g. UGD. : Peningkatan infrastruktur dan system kerja h. i. j. Rawat Inap / K. Bersalin : sistematis yang baik dan infrastruktur Upaya Kesehatan Kerja. : meningkatkan sdm-sdm yang merata di berbagai puskesmas PTKBM ( Pembinaan Tumbuh Kembang Balita Mandiri )

Memberikan pelatihan dan edukasi secara baik kepada para ibu agar dapat melakukan pengawasan tumbuh kembang anak dari usia dini k. Upaya Kesehatan Keluarga Miskin (GAKIN) Program pelayanan kesehatan gakin diselenggarakan secara nasional. Program ini mendapatkan pembiayaan sepenuhnya dari Pemerintah Pusat. (Disadur dan dirangkum kembali dari berbagai sumber pelayanan ) http://www.puskel.com/pelayanan/program-puskesmas/

TIU 3 : Imunisasi Dasar pada Bayi Pada masa awal kehidupannya bayi sangat rentan terkena penyakit berbahaya, seperti penyakit saluran pernapasan akut, polio, kerusakan hati, tetanus, campak. Bayi yang terkena penyakit tersebut memiliki risiko kematian yang lebih tinggi. Atau menyebabkan derita fisik dan mental berkepanjangan, bahkan bisa menimbulkan cacat permanen. BAYI yang kelihatannya sehat belum tentu kebal terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi dasar lengkap adalah pemberian 5 vaksin imunisasi sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk bayi dibawah 1 tahun. Jadwal pemberian imunisasi tersebut, meliputi : 1. HEPATITIS-B : umur pemberian kurang dari 7 hari, sebanyak 1 kali, untuk mencegah penularan Hepatitis B dan kerusakan hati 2. BCG : umur pemberian 1 bulan, sebanyak 1 kali, untuk mencegah penularan TBC (tuberkulosis) yang berat 3. DPT-Hepatitis B : umur pemberian 2 bulan , 3 bulan, 4 bulan , sebanyak 3 kali, untuk mencehah penularan Difteri yang menyebabkan penyumbatan jalan nafas, batuk rejan (batuk 100 hari), Tetanus, Hepatitis B. Imunisasi Wajib Untuk Bayi 1. BCG : Bacille Calmette Guerin Vaksin ini ditemukan pertama kali pada tahun 1921 oleh Albert Calmette seorang mikrobiologi dan Camille Guerin seorang dokter hewan, yang keduanya berasal dari Perancis. Vaksin ini dibuat dari bakteri penyebab tuberkulosis (mycobacterium bovis) yang sudah dilemahkan. Manfaat : Perlindungan terhadap Tuberkulosis (TB). Diberikan pada : Bayi baru lahir sebelum usia 2 bulan.

Bila sudah berusia lebih dari 2 bulan, maka harus dilakukan test Mantoux (tuberkulin) lebih dahulu untuk mengetahui apakah bayi positif atau negatif terinfeksi "Mycobacterium tuberculosis". Bila negatif, baru boleh diberikan vaksinasi. Lama perlindungan : Sampai 15 tahun dengan tingkat efektifitas optimal sebesar 40%. Tidak perlu diulang karena vaksinnya terbuat dari bakteri hidup yang dilemahkan, sehingga antibodi yang dihasilkan akan selalu diproduksi tubuh. 2. Hepatitis B : Diwajibkan di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia. Manfaat : Mencegah infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan penyakit sirosis (pengerutan hati) dan akhirnya bisa menjadi kanker hati. Diberikan pada : Bayi berumur minimal 12 jam, kondisinya stabil, tidak ada gangguan paru paru dan jantung. Lama perlindungan : Bila kadarnya sesuai, anak sudah terproteksi. Tidak perlu diulang, dengan syarat pemberiannya sesuai jadwal yaitu : umur 0, umur 1 bulan, dan umur 6 bulan. 3. Polio : Dibuat dari virus polio yang sudah dimatikan. Vaksin ini sudah dikembangkan dan diberikan secara oral sejak tahun 1962. Vaksin yang diberikan dengan suntikan dikenal sebagai IPV (Inactivated Polio Vaccine), sedangkan yang diberikan secara oral disebut OPV (Oral Polio Vaccine). Manfaat : Mencegah infeksi virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Diberikan pada : Bayi yang baru lahir. Selanjutnya diberikan lagi pada umur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, atau umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan. Lama perlindungan : Seumur hidup, asal pemberiannya hingga umur 6 tahun sesuai jadwal. Pemberian vaksin, diulang setelah umur 18 - 24 bulan (ulangan pertama), dan 5-6 tahun (ulangan ke-2) saat anak masuk sekolah. Total seluruh imunisasi polio adalah 6 kali.

Vaksinasi perlu diulang pada saat Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI. 4. DPT : Terbuat dari komponen bakteri (toksoid) Difteri dan Tetanus yang telah dimurnikan, serta bakteri Pertusis yang telah dilemahkan. Manfaat : Mencegah infeksi penyakit difteri, tetanus, dan batuk partusis. Diberikan pada : Bayi umur 6-8 minggu, dilanjutkan pada umur 3-4 bulan atau 4-6 bulan. Boleh diberikan bersamaan dengan vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV dan IPV), hepatitis B, HiB, dan vaksin "yellow fever". Lama perlindungan : Seumur hidup, asal pemberian vaksin hingga umur 12 tahun sesuai jadwal. Diulang pada umur 18 bulan (pertama), dan 1 kali pada usia 5 tahun. Selanjutnya pada usia 12 tahun diberikan imunisasi TT (Tetanus Toxoid). 5. Campak : Dibuat dari virus hidup yang dilemahkan. Di negara - negara yang memiliki angka kejadian dan kematian tinggi, vaksinasi diberikan mulai umur 9 bulan. Sedangkan di negara-negara dengan kasus kejadian rendah, vaksinasi campak diberikan dalam bentuk MMR (Mumps Measles Rubella) yang diberikan pada bayi setelah usia 12 bulan. Manfaat : Memberikan perlindungan dari infeksi virus Paramyxovirus penyebab campak atau morbil. Diberikan pada : Bayi berumur 9 bulan (vaksin campak) atau dalam bentuk MMR diberikan pada rentang umur 12 - 15 bulan. Lama perlindungan : 5 tahun Diulang : Setelah anak usia 6 tahun saat masuk sekolah dasar, baik untuk campak maupun MMR. Sumber: http://id.shvoong.com/lifestyle/family-and-relations/2052196-imunisasiwajib-untuk-bayi/#ixzz1MUBrdTJO

4. POLIO : umur pemberian 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, sebanyak 4 kali, untuk mencegah penularan polio yang menyebabkan lumpuh layuh pada tungkai dan atau lengan. 5. CAMPAK : umur pemberian 9 bulan, sebanyak 1 kali, untuk mencegah penularan campak yang dapat mengakibatkan komplikasi radang paru, radang otan dan kebutaan. Dengan memberikan imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal, maka tubuh bayi dirangsang untuk memiliki kekebalan sehingga tubuhnya mampu bertahan melawan serangan penyakit berbahaya. Membawa bayi ke posyandu, puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan terdekat merupakan wujud tanggung jawab terhadap buah hati tercinta. (dirangkum dari brosur promosi kesehatan, Departemen Kesehatan RI, 2009) Vaksinasi IDAI

http://www.elhooda.com/2011/03/download-jadwal-imunisasi-2010-rekomendasi-idai/ Hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. Demam yang tidak terlalu tinggi bukan merupakan penghalang bagi anak untuk mendapatkan imunisasi.

2. Diare ringan bukan merupakan halangan untuk mendapatkan imunisasi. 3. Imunisasi ulangan (DPT4, DT5, TT, POLIO5, POLIO6, CAMPAK2 dll) harus dilakukan untuk memperkuat kekebalan yang sudah didapat pada waktu bayi. TIU 5 : Konsep pendidikan kesehatan dalam IKM A. Prinsip pendidikan kesehatan 1. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan. 2. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri. 3. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri. 4. Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. B. Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi : 1. Dimensi sasaran a. Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu. c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas. 2. Dimensi tempat pelaksanaan a. Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga b. Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar. c. Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau pekerja. 3. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan a. Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal : peningkatan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya. b. Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal : imunisasi c. Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early diagnostic and prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko kecacatan. d. Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal : dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.

C. Metode pendidikan kesehatan 1. Metode pendidikan Individual (perorangan) Bentuk dari metode individual ada 2 (dua) bentuk : a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling), yaitu ; 1) Kontak antara klien dengan petugas lebih intensif 2) Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek dan dibantu penyelesaiannya. 3) Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku) b. Interview (wawancara) 1) Merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan 2) Menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi. 2. Metode pendidikan Kelompok Metode pendidikan Kelompok harus memperhatikan apakah kelompok itu besar atau kecil, karena metodenya akan lain. Efektifitas metodenya pun akan tergantung pada besarnya sasaran pendidikan. a. Kelompok besar 1) Ceramah ; metode yang cocok untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. 2) Seminar ; hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat. b. Kelompok kecil 1) Diskusi kelompok : Dibuat sedemikian rupa sehingga saling berhadapan, pimpinan diskusi/penyuluh duduk diantara peserta agar tidak ada kesan lebih tinggi, tiap kelompok punya kebebasan mengeluarkan pendapat, pimpinan diskusi memberikan pancingan, mengarahkan, dan mengatur sehingga diskusi berjalan hidup dan tak ada dominasi dari salah satu peserta. 2) Curah pendapat (Brain Storming) : Merupakan modifikasi diskusi kelompok, dimulai dengan memberikan satu masalah, kemudian peserta memberikan jawaban/tanggapan, tanggapan/jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart/papan tulis, sebelum semuanya mencurahkan pendapat tidak boleh ada komentar dari siapa pun, baru setelah semuanya mengemukaan pendapat, tiap anggota mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi. 3) Bola salju (Snow Balling) :

Tiap orang dibagi menjadi pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya akhirnya terjadi diskusi seluruh kelas. 4) Kelompok kecil-kecil (Buzz group) : Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil, kemudian dilontarkan suatu permasalahan sama/tidak sama dengan kelompok lain, dan masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya kesimpulan dari tiap kelompok tersebut dan dicari kesimpulannya. 5) Memainkan peranan (Role Play) : Beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peranan tertentu untuk memainkan peranan tertentu, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan, dll, sedangkan anggota lainnya sebagai pasien/anggota masyarakat. Mereka memperagakan bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas. 6) Permainan simulasi (Simulation Game) : Merupakan gambaran role play dan diskusi kelompok. Pesan-pesan disajikan dalam bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), dan papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai nara sumber. 3. Metode pendidikan Massa Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) ini adalah tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Contoh : a. Ceramah umum (public speaking)Dilakukan pada acara tertentu, misalnya Hari Kesehatan Nasional, misalnya oleh menteri atau pejabat kesehatan lain. b. Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa. c. Simulasi, dialog antar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio adalah juga merupakan pendidikan kesehatan massa. Contoh : Praktek Dokter Herman Susilo di Televisi. d. Sinetron Dokter Sartika di dalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan kesehatan massa. Sinetron Jejak sang elang di Indosiar hari Sabtu siang (th 2006) e. Tulisan-tulisan di majalah/koran, baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab /konsultasi tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.

f. Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh : Billboard Ayo ke Posyandu. Andalah yang dapat mencegahnya (Pemberantasan Sarang Nyamuk). D. Alat bantu dan media pendidikan kesehatan 1. Alat bantu (peraga) a. Pengertian ; Alat-alat yang digunakan oleh peserta didik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran, sering disebut sebagai alat peraga. Elgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 (sebelas) macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat bantu tersebut dalam suatu kerucut. Menempati dasar kerucut adalah benda asli yang mempunyai intensitas tertinggi disusul benda tiruan, sandiwara, demonstrasi, field trip/kunjungan lapangan, pameran, televisi, film, rekaman/radio, tulisan, kata-kata. Penyampaian bahan dengan kata-kata saja sangat kurang efektif/intensitasnya paling rendah. b. Faedah alat bantu pendidikan 1. Menimbulkan minat sasaran pendidikan. 2. Mencapai sasaran yang lebih banyak. 3. Membantu mengatasi hambatan bahasa. 4. Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan kesehatan. 5. Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat. 6. Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain. 7. Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik/pelaku pendidikan. 8. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan. 9. Menurut penelitian ahli indra, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75-87% pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui mata, sedangkan 13-25% lainnya tersalurkan melalui indra lain. Di sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan. 10. Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih baik. 11. Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. c. Macam-macam alat bantu pendidikan 1. Alat bantu lihat (visual aids) ; a. alat yang diproyeksikan : slide, film, film strip dan sebagainya. b. alat yang tidak diproyeksikan ; untuk dua dimensi misalnya gambar, peta, bagan ; untuk tiga dimensi misalnya bola dunia, boneka, dsb. 2. Alat bantu dengar (audio aids) ; piringan hitam, radio, pita suara, dsb.

d.

e.

f.

g.

3. Alat bantu lihat dengar (audio visual aids) ; televisi dan VCD. Sasaran yang dicapai alat bantu pendidikan 1. Individu atau kelompok 2. Kategori-kategori sasaran seperti ; kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dsb. 3. Bahasa yang mereka gunakan 4. Adat istiadat serta kebiasaan 5. Minat dan perhatian 6. Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima. Merencanakan dan menggunakan alat peraga Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : 1. Tujuan pendidikan, tujuan ini dapat untuk : 1) Mengubah pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsepkonsep. 2) Mengubah sikap dan persepsi. 3) Menanamkan tingkah laku/kebiasaan yang baru. 2. Tujuan penggunaan alat peraga 1) Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran/pendidikan. 2) Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu masalah. 3) Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi. 4) Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan. Persiapan penggunaan alat peraga Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu belajar dan tetap harus diingat bahwa alat ini dapat berfungsi mengajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan ketrampilan dalam memilih, mengadakan alat peraga secara tepat sehingga mempunyai hasil yang maksimal. Contoh : satu set flip chart tentang makanan sehat untuk bayi/anak-anak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya. Kemudian diadakan pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar terjadi komunikasi dua arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri dan hanya mempertunjukkan lembaran-lembaran flip chart satu demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya maka penggunaan flip chart tersebut mungkin gagal. Cara mengunakan alat peraga Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung dengan alatnya. Menggunakan gambar sudah barang tentu lain dengan menggunakan film slide. Faktor sasaran pendidikan juga harus diperhatikan, masyarakat buta huruf akan berbeda dengan masyarakat berpendidikan. Lebih penting lagi, alat yang digunakan juga harus menarik, sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Ketika mempergunakan AVA, hendaknya memperhatikan : 1. Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati. 2. Tunjukkan perhatian, bahwa hal yang akan dibicarakan/diperagakan

3. 4. 5. 6.

itu, adalah penting. Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar, agar mereka tidak kehilangan kontrol dari pihak pendidik. Nada suara hendaknya berubah-ubah, adalah agar pendengar tidak bosan dan tidak mengantuk. Libatkan para peserta/pendengar, berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut. Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya.

2. Media pendidikan kesehatan Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (audio visual aids/AVA). Disebut media pendidikan karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan kesehatan karena alatalat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien. Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) : Cetak, elektronik, media papan (bill board) a. Media cetak 1) Booklet : untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar. 2) Leaflet : melalui lembar yang dilipat, isi pesan bisa gambar/tulisan atau keduanya. 3) Flyer (selebaran) ; seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan. 4) Flip chart (lembar Balik) ; pesan/informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku, dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan di baliknya berisi kalimat sebagai pesan/informasi berkaitan dengan gambar tersebut. 5) Rubrik/tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah, mengenai bahasan suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. 6) Poster ialah bentuk media cetak berisi pesan-pesan/informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di tempattempat umum, atau di kendaraan umum. 7) Foto, yang mengungkapkan informasi-informasi kesehatan. b. Media elektronik 1) Televisi ; dapat dalam bentuk sinetron, sandiwara, forum diskusi/tanya jawab, pidato/ceramah, TV, Spot, quiz, atau cerdas cermat, dll. 2) Radio ; bisa dalam bentuk obrolan/tanya jawab, sandiwara radio, ceramah, radio spot, dll. 3) Video Compact Disc (VCD) 4) Slide : slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan. 5) Film strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

c. Media papan (bill board) Papan/bill board yang dipasang di tempat-tempat umum dapat dipakai diisi dengan pesan-pesan atau informasi informasi kesehatan. Media papan di sini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan umum (bus/taksi). TIU 6 : Ilmu Perilaku dan Perilaku Kesehatan A. Konsep perilaku Skinner (1938) seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respons). Ia membagi respons menjadi 2 : 1. Respondent respons/reflexive respons, ialah respons yang ditimbulkan oleh rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut elicting stimuli, karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menimbulkan mata tertutup, dll. Respondent respons (respondent behavior) ini mencakup juga emosi respons atau emotional behavior. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakkan organisme yang bersangkutan. Misalnya menangis karena sedih/sakit, muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa, berjingkat-jingkat karena senang, dll. 2. Operant Respons atau instrumental respons, adalah respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsanganperangsangan tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh karena itu, perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah dilakukan. Contoh : Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan suatu perbuatan, kemudian memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, responsnya akan lebih intensif atau lebih kuat lagi. B. Perilaku kesehatan Yaitu suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku kesehatan mencakup 4 (empat) : 1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespons, baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan penyakit, misalnya : perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan pencegahan

penyakit, misalnya : tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi,dll. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui panca indra. 2. Perilaku terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional maupun modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obat-obatan. 3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsurunsur yang terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll. 4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri (dengan air bersih, pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat, dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya. Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health behavior) sebagai berikut : 1. Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi, dan sebagainya. 2. Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit, serta usaha-usaha mencegah penyakit tersebut. 3. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya sendiri, juga berpengaruh terhadap orang lain, terutama anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatannya. C. Bentuk perilaku Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons berbentuk 2 (dua) macam : 1. Bentuk pasif adalah respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu

bahwa imunisasi itu mencegah suatu penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang yang menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh di atas ibu itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap positif mendukung KB, meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut. Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior). 2. Bentuk aktif, yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi dan orang pada kasus kedua sudah ikut KB dalam arti sudah menjadi akseptor KB. Oleh karena itu perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka disebut overt behavior. D. Domain perilaku kesehatan 1. Menurut Bloom a. Perilku kognitif (kesadaran, pengetahuan) b. Afektif (emosi ) c. Psikomotor (gerakan, tindakan) 2. Menurut Ki Hajar Dewantara a. Cipta (peri akal) b. Rasa (peri rasa) c. Karsa (peri tindak) 3. Ahli-ahli lain a. Knowledge (pengetahuan), yaitu hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan (rasa, lihat, dengar, raba, bau) terhadap suatu obyek tertentu. b. Attitude (sikap), yaitu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek. Ahli lain menyatakan kesiapan/kesediaan seseorang untuk bertindak. c. Practice (tindakan/praktik). Suatu sikap belum tentu otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasikan anaknya. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari fihak lain, misal suami atau istri, orang tua atau mertua, sangat penting untuk mendukung praktek keluarga berencana. TIU 7 : Etika Komunikasi Islam Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Dengan pengertian demikian, maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau

nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yakni : a) QAULAN SADIDA :berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta. b) QAULAN BALIGHA: berarti tepat, lugas, fasih, dan jelas maknanya. Qaulan Baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka. c) QAULAN MARUFA: artinya perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, menggunakan sindiran (tidak kasar), dan tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan. Qaulan Marufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat). d) QAULAN KARIMA : adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam ayat tersebut perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orangtua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka. e) QAULAN LAYINA : berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar. f) QAULAN MAYSURA : bermakna ucapan yang mudah, yakni mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan. Makna lainnya adalah katakata yang menyenangkan atau berisi hal-hal yang menggembirakan