Anda di halaman 1dari 2

TP SUBLIMASI

1. Apa yang dimaksud dengan : a. Titik leleh b. Titik didih 2. Apa yang dimaksud dengan : a. Tekanan vakum b. Tekanan uap 3. Apa yang dimaksud dengan sublimasi dan sebutkan contoh zat yang dapat menyublim (min. 3) ? 4. Sebutkan syarat zat padat yang dapat dimurnikan dengan cara sublimasi ! 5. Gambarkan rangkaian alat sublimasi beserta keterangannya ! 6. Sebutkan judul, tujuan, prinsip ! 7. Tuliskan skema kerja sublimasi pada percobaan ini ! 8. Sebutkan sifat kimia dan sifat fisik naftalen (MSDS Naftalen) ! 9. Gambarkan struktur naftalen dan sebutkan pelarut yang dapat melarutkan naftalen! 10. Apa kegunaan(fungsi ) alat Thiele dan aluminium foil/ parafin pada percobaan ini ! 11. Mengapa perlu dilakukan pengujian titik leleh? 12. Bagaimana prinsip penggunaan alat Thiele? Jawaban : 1. a. Titik leleh : Temperatur tetap di saat zat padat berada dalam kesetimbangan dengan fase cairnya pada tekanan standar, di atas temperatur tersebut zat padat akan melebur. (Temperatur dimana suatu zat yang semula berbentuk padat menjadi cair). b. Titik didih : Temperatur pada waktu tekanan uap zat cair sama dengan tekanan atmosfer. (Temperatur dimana suatu zat yang semula berbentuk cair menjadi uap, P uap = P atm). a. Tekanan vakum : Tekanan di bawah P atm (tekanan di ruang hampa), untuk vakum rendah tekanannya > 10-4 mmHg , vakum tinggi tekanannya 10-9 - 10-4 mmHg, vakum sangat tinggi tekanannya < 10-9 mmHg. b. Tekanan uap : Besarnya tekanan yang didesakkan oleh uap pada temperatur tertentu di saat terjadi kesetimbangan antara uap dengan zat cair atau zat padatnya.

2.

3. Sublimasi adalah proses perubahan zat dari fasa padat menjadi uap, dan uap dikondensasi

langsung menjadi padat tanpa melalui fasa cair.


Sublimasi (pada modul praktikum) adalah perubahan zat padat secara langsung menjadi gas tanpa melalui fasa cair, kemudian terkondensasi menjadi padatan. Contonya : naftalen (kamper), belerang, es kering 4. -Zat tersebut mudah menyublim - Zat tersebut memiliki tekanan uap tinggi pada suhu dibawah titik lelehnya - Zat tersebut memiliki titik lebur yang tinggi - Zat tersebut harus memiliki perbedaan titik didih yang besar - Jumlah pengotor lebih kecil dari zat yang diinginkan

5.

6. Judul : Sublimasi Tujuan : untuk memperoleh zat padat murni dengan cara memisahkan zat padat (murni) dari pengotornya. Prinsip : Perbedaan titik didih atau titik leleh, pengembunan uap menjadi padatan (kristal), penguapan 7. - diletakkan dalam cawan porselen sebanyak 1 gram - dipasang cawan diatas klem bundar yang cocok - dipasang diatas cawan,kaca asbes yang bersih dengan cara diklem - dipasang corong gelas yang telah disumbat glasswool diatas asbes - dilakukan pemanasan langsung dengan api kecil - dikumpulkan kristal yang menempel diasbes - ditimbang dan ditentukan titik leleh kristal tersebut Hasil

8. Naftalen juga dikenal sebagai nafthalin, tar kapur, tar putih, albokarbon, atau nafthene. Sifat fisik naftalen : rumus kimia C10H8, massa molar 128.17 g/mol, density 1.14 gcm-3, tidak dapat larut dalam air, alkohol, larut dalam eter dan benzen, titik cair 80.5 C, titik didih 128,17 g/mol, Berwarna putih kristal dan memiliki bau yang kuat.Naftalen mudah menguap dan mudah terbakar. Naftalen merupakan hidrokarbon padat berwarna putih, yang diperoleh dari penyulingan fraksional batu bara. 9. Struktur naftalen :

Naphatalene adalah senyawa nonpolar. Jadi pelarut yang cocok adalah nonpolar juga seperrti: aseton, eter, benzen 10. Alat Thiele : Untuk menentukan titik leleh kristal yang diperoleh sehingga dapat diketahui bahwa kristal yang diperoleh merupakan kristal naftalen murni. Parafin/alumium foil : agar udara luar tidak masuk kie dalam beaker gelas / cawan penguap yang dapat mempengaruhi proses penyubliman. 11. Pemisahan dengan cara sublimasi terjadi tanpa melalui fase cair. Dengan pengujian titik leleh, akan diketahui bahwa naphtalen lebih mudah menjadi gas dibandingkan menjadi cair (titik leleh naphtalen: 80,5 C) 12. Sampel diletakkan dalam pipa kapiler dan dipanaskan hingga mencapai titik lelehnya.. Selanjutnya, suhu saat pelelahan pertama kali dicatat sebagai titik leleh dan dicocokkan dengan referensi.