Anda di halaman 1dari 4

Umumnya proses ekstraksi terbagi menjadi dua kelompok umum, yaitu : 1.

Proses yang mengakibatkan/menghasilkan pembentukan keseimbangan konsentrasi antara larutan dan residu padat. 2. Proses dimana simplisia diekstraksi secara penuh (Terus Menerus)

A. Metode Pembentukan Keseimbangan Konsentrasi Pada dasarnya proses ekstrasi akan berakhir setelah terjadi adanya keseimbangan konsentrasi sehingga tidak ada perpindahan atau difusi lagi dari simplisia ke dalam pelarutnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ekstraksi simplisia. Pada dasarnya, hal-hal yang mempengaruhi ekstraksi simplisia dengan berbagai macam jenis atau cara ekstraksi adalah hampir sama dimana faktor umum yang mempengaruhi adalah dari sifat simplisia dan pelarut yang digunakan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekstraksi, untuk ekstraksi yang paling sederhana yaitu maserasi. Posisi keseimbangan konsentrasi disini dipengaruhi oleh dua parameter, yaitu sifat dari simplisia, seperti jenis, jumlah, dan ukuran partikelnya. Selain itu dipengaruhi oleh pelarutnya, seperti selektivitas dan kuantitas (jumlah). Selain kedua parameter tersebut, proses maserasi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pada gambar di bawah ini :

1. Rasio Campuran Jumlah ekstrak akan menurun dengan jumlah pelarut yang konstan dan proporsi material simplisia yang meningkat. Dalam artian, walaupun simplisia terus ditambah, jika pelarut yang digunakan tetap maka ekstrak yang dihasilkan juga tidak akan bertambah, karena keseimbangan konsentrasi akan cepat tercapai tetapi tidak seluruh kandungan dalam simplisia terlarut dalam pelarut yang digunakan. Semakin besar rasio antara pelarut dan bahan baku, maka akan memperbesar pula jumlah senyawa yang terlarut. Akibatnya laju ekstraksi akan semakin meningkat.

2. Proses pelarutan (disolusi) dari sel terdesintegrasi Substansi lebih cepat terlarut dari sel terdisintegrasi dibandingkan dari sel utuh. Dengan sel-sel terdisintegrasi yang berarti sel-sel dengan ukuran lebih kecil karena terbagi-bagi akan lebih cepat untuk berdifusi ke pelarut sehingga keseimbangan lebih cepat tercapai.

Dibandingkan dengan sel utuh, akan lebih sulit untuk berdifusi karena ukurannya yang terlalu besar. Maka dari itu, simplisia yang lebh halus pada dasarnya akan lebih disukai asalkan tidak menyebabkan kesulitan saat proses pemisahan. 3. Perendaman (steeping) dan pengembangan (swelling) simplisia Hal ini merupakan faktor yang sangat penting dalam proses ekstraksi, dimana terjadi pelebaran sel kapiler sehingga dapat meningkatkan proses difusi. Namun, ekstraksi dapat terhenti jika pada simplisia mengandung sejumlah besar lendir. Idealnya, pengembangan hanya berfungsi memfasilitasi proses difusi substansi ekstrak tanpa menghalangi terjadinya proses ekstraksi. 4. Difusi dari sel utuh (intact cell) Pelarut harus dapat berdifusi ke dalam sel utuh terlebih dahulu sebelum dapat melarutkan substansi ekstraknya. Substansi yang diinginkan harus dapat larut dalam pelarutnya untuk dapat menghasilkan suatu konsentrasi tinggi di dalam sel sehingga keseimbangan konsentrasi dengan pelarut sekitar dapat terjadi dengan cara difusi. 5. Laju penetapan keseimbangan Hal ini mempengaruhi waktu selesainya atau terpenuhinya proses ekstraksi. Dimana faktor ini dipengaruhi oleh: a. Ukuran partikel dan derajat pengembangan (swelling) simplisia Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar luas bidang kontak antara padatan dan solven, sehingga mempercepat penetrasi pelarut ke dalam bahan yang akan diekstrak serta semakin pendek jalur difusinya, yang menjadikan laju transfer massa semakin tinggi dan mempercepat waktu ekstraksi. Laju ekstraksi juga meningkat apabila ukuran partikel bahan baku semakin kecil. Dalam arti lain, rendemen ekstrak akan semakin besar bila ukuran partikel semain kecil. Tetapi, ukuran partikel juga tidak boleh terlalu kecil karena akan menyulitkan saat proses filtrasi. Begitu juga dengan pengembangan, dimana semakin cepat terjadinya pengembangan akan semakin cepat pula terjadi proses difusi yang mempercepat proses ekstraksi karena terjadi pelebaran kapiler. Namun, adanya pengembangan karena mukus atau lender yang terlalu banyak akan menghalangi proses ekstraksi karena proses difusii

akan terhalangi oleh adanya lendir tersebut. Pengembangan simplisia ini juga dipengaruhi oleh ukuran partikel, jika partikel lebih kecil maka simplisia akan lebih cepat mengembang. b. Suhu ekstraksi Kelarutan bahan yang diekstraksi dan difusivitas umumnya akan meningkat dengan meningkatnya suhu, sehingga diperoleh laju ekstraksi yang tinggi. c. Sifat pelarut yang digunakan Sifat pelarut yang mempengaruhi laju keseimbangan konsentrasi yaitu seperti viskositas. Dimana jika viskositas besar maka akan memperlambat proses ekstraksi karena lebih membutuhkan waktu dalam proses difusinya. d. Intensitas pergerakkan simplisia dan pelarut Pergerakan disini maksudnya adalah adanya proses pengadukkan dalam ekstraksi. Sama halnya jika kita melakukkan pengadukan pada larutan gula, pengadukan yang semakin cepat akan mempercepat proses kelarutan. Saat dilakukkan pengadukan saat proses ekstraksi, maka akan lebih cepat terjadi kesetimbangan konsentrasi karena difusi semakin cepat. 6. Temperatur Secara umum, kenaikan temperatur akan meningkatkan jumlah zat terlarut ke dalam pelarut. Temperatur pada proses ekstraksi terbatas hingga suhu titik didih pelarut yang digunakan dan perlu diperhatikan sifat termostablitas senyawa yang akan di ekstraksi. Ekstraksi akan lebih cepat dilakukan pada suhu tinggi. Suhu tinggi meningkatkan pengeluaran (desorption) senyawa dari bagian aktif (active sites) karena perusakan sel bahan meningkat. Suhu ekstraksi meningkatkan suhu pelarut secara konvektif. Pelarut panas mengalami penurunan tegangan permukaan (surface tension) dan viskositas (viscosity). Keadaan ini meningkatkan daya pembasahan (wetting) bahan dan penetrasi matriks (Jain et al., 2009). Akan tetapi, suhu tinggi ini juga memerlukan perhatian keselamatan (safety) yang lebih intensif dalam menggunakan pelarut mudah terbakar (Kaufmann dan Christen, 2002). Suhu tinggi yang berlebihan dapat berdampak pada degradasi senyawa target secara termal (Alupululai et al., 2012)

7. Nilai pH pH pelarut akan mempengaruhi selektivitas ekstraksi. Selektivitas berhubungan dengan nilai kualitatif dan kuantitatif substansi aktif yang terekstraksi maupun substansi asing lain. Dimana pH harus berada pada rentan pH substansi aktif tersebut, jika tidak sesuai maka proses ekstraksi akan sulit dan bisa jadi substansi lain dapat terekstraksi. pH disini dapat diatur dengan adjust atau penambahan dapar.

8. Jumlah proses ekstraksi Jumlah proses ekstraksi juga meningkatkan efisiensi ekstraksi. Misalnya, empat ekstraksi dengan 50 ml pelarut lebih efisien dibanding satu ekstraksi dengan 200 ml pelarut. Biasanya, rendemenen dapat maksimal dengan 3-5 proses ekstraksi bahan secara berturut-turut (Teresa, 2003). 9. Interaksi substansi terlarut dengan material tanaman lain yang tidak terlarut Bahkan dengan pemilihan pelarut yang sudah selektif dan berada pada kemungkinannya, masih terjadi kemungkinan ekstrak yang terlarut dapat terabsorbsi pada material tanaman penunjang. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya proporsi material tanaman dalam ekstraksi untuk jumlah ekstrak yang relatif kecil. 10. Derajat lipofilisitas Pemilihan derajat lipofilisitas sangat penting untuk penggunaan pelarut organik atau campuran pelarut. Adanya perubahan akan merubah perbandingan jumlah substansi yang terekstraksi dan komposisi kualitatif suatu ekstrak. Sehingga diperlukan pemeriksaan ekstrak lagi jika agen pengekstraksi diubah.

11. Waktu ekstraksi Waktu merupakan parameter penting dalam ekstraksi. Umumnya, waktu ekstraksi berkorelasi positif terhadap jumlah senyawa target, walaupun terdapat resiko terjadinya degradasi senyawa target itu sendiri. Waktu ekstraksi tergantung pada bahan yang diekstrak.