Anda di halaman 1dari 20

EVAPORASI A.

Pengenalan tentang Evaporasi Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul di dalam keadaan cair (contohnya air) dengan spontan menjadi gas (contohnya uap air). Proses ini adalah kebalikan dari kondensasi. Evaporasi ialah untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang sudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi, pelarutnya adalah air. Evaporasi dilaksanakan dengan menguapkan sebagian pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan; dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair-kadang-kadang zat cair yang sangat viskos- dan bukan zat padat. Evaporasi berbeda pula dengan distilasi, karena disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi tidak ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Evaporasi lain dari kristalisasi dalam penekanannya disini ialah pada pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat padat atau kristal. Dalam situasi tertentu, misalnya pada penguapan air asin untuk membuat garam, garis pemisah antara evaporasi dan kristalisasi tidaklah dikatakan tegas. Evaporasi kadang-kadang menghasilkan Lumpur kristal di dalam larutan induk. Umumnya penguapan dapat dilihat dari lenyapnya cairan secara berangsur-angsur ketika terpapar pada gas dengan volume signifikan.

Gambar 1. Uap air yang telah menguap dari teh panas terkondensasi menjadi tetesan air. Gas air tidak terlihat, tetapi awan tetesan air adalah petunjuk dari penguapan yang diikuti oleh kondensasi. Evaporasi merupakan pengambilan sebagian uap air yang bertujuan utuk meningkatkan konsentrasi padatan dari suatu bahan makanan cair. Salah satu tujuan lain dari operasi ini adalah untuk mengurangi volume dari suatu produk sampai batas-batas tertentu tanpa menyebabkan kehilangan zat-zat yang mengandung gizi. Pengurangan volume produk, akan mengakibatkan turunnya biaya pengangkutan. Disamping itu, juga akan meningkatkan efisiensi penyimpanan dan dapat membantu pengawetan, atas dasar berkurangnya jumlah air bebas yang dapat digunakan oleh microorganisma untuk kehidupannya. Operasi penguapan yang mungkin digunakan untuk suatu produk sangat bervariasi, hal ini tergantung pada karakteristik bahan produk. Dalam banyak kasus, karakteristik bahan ini berpengaruh pada design evaporator (alat penguap). Adapun contoh dari karakteristik bahan adalah kekentalan bahan dan kepekatan bahan terhadap suhu serta kemampuan bahan untuk membuat alat mengalami korosi. Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam produk bahan makanan cair adalah dengan

menguapkan air bebas yang ada didalam produk. Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan temperatur produk sampai titik didih dan menjaganya untuk beberapa waktu sampai konsentrasi yang diinginkan.

Gambar 2. Evaporator Tabung dan Pipa Ada empat komponen dasar yang dibutuhkan untuk melakukan penguapan. Keempat komponen tersebut terdiri dari : a) sebuah tabung penguapan, b) sebuah alat pindah panas, c) sebuah kondensor, dan d) sebuah metode untuk menjaga tekanan vakum. Keempat komponen ini harus diperhatikan dalam merencanakan suatu evaporator. Sistem tekanan vakumnya harus dapat mengalirkan gas yang tidak terkondensasi agar bisa menjaga tekanan vakum yang diinginkan didalam tabung penguapan. Panas yang cukup harus dialirkan/ diberikan ke produk untuk penguapan sejumlah air yang diinginkan, serta sebuah kondensor yang berguna untuk mengembangkan dan memindahkan uap air yang diproduksi melalui penguapan. Keseimbangan massa dapat digunakan untuk menentukan laju penguapan untuk mendapatkan derajad konsentrasi yang diinginkan. Hubungan ini akan membawa kita untuk dapat menentukan jumlah medium pemanas yang dibutuhkan untuk mencapai penguapan yang diinginkan. Kunci penting lainnya yang perlu mendapat perhatian dalam perencanaan adalah pindah panas yang terjadi dari medium pemanas ke produk, dengan memperhatikan bahwa kebutuhan luas permukaan pindah panas tidak akan dapat dihitung tanpa terlebih dahulu menduga koefisien pindah panas keseluruhan bagi permukaan pemanas. Walaupun parameter-parameter untuk design sudah dapat diduga secara tepat, akan tetapi masih ada faktor-faktor khusus yang ada pada produk yang berpengaruh pada design evaporator. Faktor-faktor ini akan mengakibatkan perhitungan menjadi lebih kompleks. Sebagai contoh adalah banyaknya padatan yang ada pada produk bahan makanan cair akan mengakibatkan titik didih yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan titik didih dari air pada tekanan yang sama. Perbedaan titik didih ini menjadi lebih besar dengan bertambah tingginya konsentrasi bahan makanan cair. Kerumitan ditambah lagi dengan tidak konstannya koefisien pindah panas konveksi, karena koefisien pindah panas ini merupakan fungsi dari kekentalan. Padahal telah diketahui bahwa

selama proses penguapan, kekentalan produk selalu berubah karena terjadinya penguapan. Keadaan ini mengakibatkan koefisien pindah panas konveksi juga selalu berubah sesuai dengan kekentalan produk. Akhirnya, persoalan menjadi lebih kompleks dengan adanya sifat panas produk yang berubah menurut temperatur dan kadar air produk. Beberapa sifat zat cair yang di evaporasikan : 1. Konsentrasi Jika konsentrasi meningkat, larutan akan bersifat individual. Densitas dan viskositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, hingga larutan menjadi jenuh, atau jika tidak menjadi terlalu lamban sehingga tidak dapat melakukan perpindahan kalor secara memadai. Jika zat cair jenuh di panaskan terus menerus maka akan terjadi pembentukan kristal, dan kristal-kristal ini harus dipisahkan karena dapat menyebabkan tabung evaporator tersumbat. Titik didih pun semakin bertambah jika kandungan zat padat bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan yang sama. Walaupun cairan encer yang diumpankan kedalam evaporator mungkin cukup encer sehingga beberapa sifat fisiknya sama dengan air, tetapi konsentrasinya meningkat, larutan itu akan makin bersifat individual. Densitas dan vikositasnya meningkat bersamaan dengan kandungan zat padatnya, sehingga larutan itu menjadi jenuh atau jika tidak menjadi terlalu lambat, sehingga tidak dapat mlakukan perpindahan kalor yang memadai. Jka zat cair jenuh dididihkan terus, maka akan terjadi pembentukan kristal: dan kristal ini harus dipisahkan karena jika menyebabkan tabung evporator tersumbat. Titik didih larutan pun akan meningkat dengan sangat bila kandungan zat padatnya bertambah, sehingga suhu didih larutan jenuh mungkin jauh lebih tinggi dari titik didih air pada tekanan yang sama.

2. Pembentukan busa Beberapa bahan tertentu, terutama zat organik, membusa pada waktu di uapkan. Busa yang stabil akan ikut keluar evaporator bersama uap, dan menyebabkan banyaknya bahan yang terbawa ikut. Dalam hal ekstrim, keseluruhan massa zat cair itu mungkin meluap ke dalam saluran uap keluar dan terbuang. 3. Kepekaan terhadap suhu Beberapa bahan kimia farmasi,dan bahan makanan dapat rusak bila di panaskan pada suhu sedang, selama waktu singkat saja. Dalam mengkonsentrasikan bahan-bahan seperti itu diperlukan teknis khusus untuk mengurangi suhu zat cair dan menurunkan waaktu pemanasan. 4. Kerak Beberapa larutan tertentu menyebabkan pembentukan kerak pada permukaan pemanasan. Hal ini menyebabkan koefisien menyeluruh makin lama makin berkurang sampai akhirnya kita

terpaksa menghentikan operasi evaporator itu untuk membersihkannya. Bila kerak itu keras dan tidak dapat larut, maka perlu waktu yang lama dan biaya yang mahal untuk membersihkannya. 5. Bahan konstruksi Kita perlu menentukan bahan konstruksi dari evaporator, bila mungkin evaporator di buat dari baja. Akan tetapi, banyak larutan yang merusak bahan-bahan besi, atau menjadi terkontaminasi oleh bahan itu. Karena itu digunakan bahan konstruksi khusus, seperti tembaga, nikel, bja tahan karat, aluminium, grafit tak tembus, dan timbal. Tetapi bahan-bahan ini relatif mahal, oleh karena itu laju perpindahan kalor harus cepat/ tinggi agar dapat menurunkan biaya pokok peralatan. 6. Karakteristik zat cair Variasi dalam karakteristik cairan ituah yang menyebabkan operasiini meluas dari perpindahan kalor sederhana menjadi suatu seni tersendiri. Berikut ini adalah beberapa sifat penting dari zat cair yang dievaporaikan. Sifat-sifat lainnya yang penting yaitu:Kalor spesifik, Kalor konsentrasi, Titik beku, Pembebasan gas pada waktu mendidih, Sifat racun, Radioaktivitas, Bahaya ledak, persyaratan operasi steril ( bebas hama), dan lain-lain.Tentunya, hal ini semua akan memberikan pengaruh tersendiri terhadap design operator. B. Jenis-jenis Evaporator Jenis-jenis utama evaporator tabung dengan pemasukan uap yang banyak dipakai dewasa ini ialah : 1. Evaporator Vertikal Tabung Panjang a. Aliran ke Atas (film panjat) b. Aliran ke Bawah (film jatuh) c. Sirkulasi Paksa 2. Evaporator Film - Aduk Evaporator satu lintas dan Evaporator sirkulasi. Evaporator dapat dioperasikan sebagai unit satu lintas atau sebagai unit sirkulasi dalam operasi satu lintas, cairan umpan dilewatkan melalui tabung hanya satu kali saja, uapnya lepas dan keluar dari unit itu sebagai cairan pekat. Seluruh evaporasi dilaksanakan dalam satu lintas saja. Rasio evaporasi terhadap umpan dalam unit satu lintas itu terbatas : jadi evaporator ini cocok untuk operasi efek berganda dimana pemekatan total terbagi-bagi dalam beberapa efek. Evaporator film aduk selalu dioperasikan dalam satu lintas saja. Tetapi evaporator film jatuh dan evaporator film panjat dapat pula dioperasikan dengan cara ini. Suhu zat cair dapat dijaga rendah dengan mengoperasikan unit ini dalam vakum tinggi. Dengan sekali lewatan cepat melalui

tabung-tabung evaporator cairan pekat itu hanya sebentar saja berada pada suhu didihnya dan dapat didinginkan dengan cepat begitu keluar dari evaporator. Pada evaporator sirkulasi terdapat suatu kolam zat cair didalam alat itu. Umpan masuk bercampur dengan zat cair itu dalam kolam, dan campuran itu lalu dialirkan melalui tabung-tabung evaporator. Zat cair tidak menguap dikeluarkan dari tabung dan kembali ke kolam, sehingga hanya sebagian saja dari keseluruhan evaporasi yang berlangsung dalam satu lewatan. Evaporator sirkulasi paksa smuanya dioperasikan dengan cara ini, evaporator film panjat biasanya adalah unit sirkulasi. Cairan pekat dari evaporator sirkulasi dikeluarkan dari kolam. Semua cairan dalam kolam, oleh karena itu, harus selalu berada dalam kondisi maksimum. Oleh karena zat cair yang masuk tabung itu mengandung beberapa bagian cairan pekat di dalam setiap bagian umpan, maka konsentrasinya, serta densitas, viskositas, dan titik didihnya selalu mendekati maksimum. Akibatnya, koefisien perpindahan kalornya akan cenderung rendah. Evaporator sirkulasi tidak terlalu cocok untuk memekatkan zat cair yang peka panas. Dengan menggunakan vakum yang cukup baik, suhu cair lindak dapat dijaga pada tingkat yang tidak merusak, tetapi zat cair akan berulang kali berada dalam kontak dengan tabung panas. Sebagian dari zat cair itu, dengan demikian, akan terpanaskan pada suhu yang terlewat tinggi. Walaupun waktu menetap pada zat cair itu dalam zone pemansan barangkali singkat saja, sebagian dari zat cair itu, mungkin tertahan di dalam evaporator selama beberapa waktu. Pemanasan yang terlalu sama atas sbagian kecil saja pun dari bahan peka panas sperti makanan akan dapat menyebabkan keseluruhan produk itu rusak. Evaporator sirkulasi, di lain pihak, dapat beroperasi dengan jangkau konsentrasi yang cukup luas antara umpan dan cairan pekat dalam satu unit sja, dan cocok pula untuk evaporasi efek tunggal. Alat ini dapat dioperasikan deangan sirkulasi alamiah, dimana aliran berlangsung melalui tabung dengan disebabkan oleh perbedaan densitas; dapat pula dengan sirkulasi paksa, di mana alirannya dilaksanakan dengan pompa. 1.Evaporator Vertikal Tabung Panjang A. Evaporator tabung panjang dengan aliran naik. Pada evaporator tipe ini, pendidihan berlangsung di dalam tabung dengan sumber panas berasal dari luar tabung (biasanya uap). Buih air akan timbul dan menimbulkan sirkulasi. Contoh evaporator vertikal tabung panjang dengan aliran zat cair ke atas. Bagian-bagian utamanya ialah sebuah penukar kalor jenis tabung deangan uap dalam selongsong, dan zat cair yang akan dipekatkan dalam tabung, sebuah separator atau ruang uap untuk memisahkan zat cair yang terbawa uap ikut dari uap, dan bila alat ini dioperasikan sebagai unit sirkulasi, sebuah kaki penulang untuk mengembalikan zat cair dari separator ke bagian bawah pebukar kalor.

Alat ini mempunyai lubang masuk masing-masing untuk zat cair umpan dan untuk uap, lubang keluar masing-masing untuk uap, cairan pekat, kondesat uap, dan gas tak mampu kondensasi yang terkandung dalam uap. Tabung-

tabungnya biasana mempunyai diameter 1 sampai 2 in, dan panjang samapi 32 ft. Zat cair dan uap mengalir ke atas di dalam tabung sebagai akibat dari peristiwa didih; zat cair yang terpisah kembali ke dasar tabung dengan gravitasi. Umpan encer, biasanya pada suhu di sekitar suhu kamar, masuk kedalam sistem dan bercampur dengan zat cair yang kembali dari separator. Umpan itu mengalir ke atas di dalam tabung sebagai zat cair dalam jarak tertentu, yang tidak panjang, sambil menerima kalor dari uap. Di dalam zat cair itu lalu terbentuk gelembung-gelembung, sehingga meningkatkan kecepatan linearnya dan meningkatkan laju perpindahan kalor. Didekat puncak tabung, gelembung itu bertambah besar dengan cepat. Pada zone ini gelembung uap ganti-ganti dengan potongan zat cair dalam tabung naik dengan cepat melalui tabung dan keluar dengan kecepatan yang tinggi dari ujung atas tabung. Dari tabung itu, campuran zat cair selanjutnya masuk ke dalam sepaator. Diameter seperator itu lebih besar dari diameter penuka-kalor, sehingga kecepatanlinear uap menjadi jauh berkurang. Untuk membantu pemisahan tetes zat cair itu, uap itu dibuat separator. Evaporator vertikal tabung panjang sangat efektif untuk memekatkan zat cair yang mempunyai kecenderungan membentuk busa. Busa itu akan pecah bila campuran zat cair dan uap berkecepatan tinggi menumbuk sekat di bagian kepala uap. B.Evaporator film jatuh. Evaporator ini berbentuk tabung panjang (4-8 meter) yang dilapisi dengan jaket uap (steam jacket). Distribusi larutan yang seragam sangat penting. Larutan masuk dan memperoleh gaya gerak karena arah larutan yang menurun. Kecepatan gerakan larutan akan mempengaruhi karakteristik medium pemanas yag juga mengalir menurun. Tipe ini cocok untuk menangani larutan kental sehingga sering digunakan untuk industri kimia, makanan, dan fermentasi. Pemkatan bahan-bahan yang sangat peka terhadap panas, seperti air jeruk, mengharuskan waktu kontak yang singkat seklai dengan permukaan panas, hal ini dapat dicapai dengan menggunakan evaporator jatuh sekali lintas, dimana zat cair masuk dari atas, lalu mengalir ke bawah di dalam tabung panas itu dalam bentuk fim, kemudian keluar dari bawah. Tabung-tabungnya biasanya agak besa.

Diameternya antara 2 sampai 10 in. Uap yang keluar dari zat cair itu biasanya terbawa turun bersama zat cair, dan keluar dari bagian bawah unit itu. Evaporator ini bentuknya menyerupai suatu penukar kalor jenis tabung, yang panjang, vertikal, dan diperlengkapi dengan separator zat cair-uap dari bawah, dan distributor zat cair di atas. Masalah utama dengan evaporator film jatuh ialah dengan mendistribusikan zat cair secara seragam menjadi fim dibagian dalam tabung. Ha ini dilakukan dengan menggunakan seperangkat plat logam berlubang-lubang yang ditempatkan lebih tinggi di atas plat tabung yang dipasang dengan teliti agar benar-benar horisontal. Tabung-tabung itu diberi sisip pada ujungnya yang memungkinkan zat cair mengalir dengan teratur ke setiap ujung itu. Atau, dapat pula dipasang distributor dengan lengan-lengan radial untuk menyemprotkan umpan dengan laju stedi ke dalam permukaan dalam setiap tabung. Cara lain ialah dengan menggunakan nosel penyemprot di dalam setiap tabung. Bila sirkulasi dapa dilakukan tanpa menimbukan kerusakan pada zat cair, distribusi zat cair ke dalam tabung itu dapat dipercepat dengan melakukan daur ulang zat cair itu ke puncak tabung. Ha ini memungkinkan volume aliran yang lebih besar melalui tabung dibandingkan dengan pada operasi sekali lintas. Untuk mendapatkan perpindahan kalor yang baik, angka reynolds film jatuh itu harus lebih besar dari 2.000 pada setiap titik di dalam tabung. Selama berlangsung evaporasi, kuantitas zat cair berkurang secara kontinyu sekala ia mengalir dari puncak tabung ke dasarnya, sehingga jumlah pemekatan yang dapat dilaksanakan dalam satu lewatan terbatas sekali. Evaporator film jatuh, tanpa sirkulasi dan tangan waktu menetap yang sangat singkat dapat menangani produk-produk yang peka yang tidak dapat ditangani dengan cara lain. Alat ini juga cocok sekali untuk memekatkan zat cair viskos. C. Evaporator Sirkulasi Alami/paksa Evaporator sirkulasi alami bekerja dengan memanfaatkan sirkulasi yang terjadi akibat perbedaan densitas yang terjadi akibat pemanasan. Pada evaporator tabung, saat air mulai mendidih, maka buih air akan naik ke permukaan dan memulai sirkulasi yang mengakibatkan pemisahan liquid dan uap air di bagian atas dari tabung pemanas.Jumlah evaporasi bergantung dari perbedaan temperatur uap dengan larutan. Sering kali pendidihan mengakibatkan sistem kering, Untuk menghidari hal ini dapat digunakan sirkulasi paksa, yaitu dengan manambahkan pompa untuk meningkatkan tekanan dan sirkulasi sehingga pendidihan tidak terjadi.

Pada evaporator sirkulasi alamiah, zat cair masuk ke dalam tabung dengan kecepatan 1 sampai 4 ft/s. Kecepatan linearnya bertambah dengan cepat dengan terbentuknya uap di dalam tabung, sehingga pada umumnya laju perpindahan kalor cukup memuaskan. Akan tetapi, dengan zat cair viskos, koefisien menyeluruh unit sirkulasi alamiah mungkin sangat rendah sehingga tidak ekonomis. Koefisien yang dapat dicapai pada evaporator sirkulasi paksa. Disini, zat cair itu didorong dengan pompa sentrifugal sehingga measuk ke dalam tabung dengan kecepatan 6 sampai 18 ft/s. Tabung itu berada dalam tinggi tekan statik yang cukup untuk menjaga agar zat cair tidak mendidih di dalam tabung. Zat cair itu menjadi panas lanjut dengan berkurangnya tinggi tekan statik pada waktu zat cair mengalir dari pemanas ke ruang uap, dan mengkilat menjadi campuran uap dan semprotan pada pipa keluar dari penukar kalor sebelum masuk ke badan evaporator. Campuran zat cair dan uap itu menumbuk plat deflektor di dalam ruang uap. Zat cair lalu kembali ke lubang masuk pompa dimana ia bercampur dengan umpan masuk; sedang uap keluar dari puncak badan evaporator ke dalam kondensor atau ke dalam efek berikutnya. Sebagian dari zat cair yang meniggalkan separator itu ditarik keluar secara kontinyu sebagai konsentrat. 3. Evaporator Film - Aduk Tahanan pokok terhadap perpindahan kalor menyeluruh dari uap kepada zat cair yang mendidih di dalam evaporator terletak pada sisi zat cair. Oleh karena itu, setiap cara yang dapat mengurangi tahanan itu akan memberikan perbaikan yang berarti terhadap koefisien perpindahan kalor menyeluruh. Dalam evaporator tabung panjang, lebih-lebih yang menggunakan sirkulasi paksa, kecepatan zat cair di dalam tabung itu tinggi. Zat cair itu sangat turbulen, dan laju perpindahan kalornya besar. Cara lain untuk meningkatkan keturbulenan ialah dengan pengadukan mekanik terhadap film zat cair itu, evaporator ini merupakan modifikasi daripada evaporator film jatuh yang mempunyai tabung tunggal bermantel, dimana didalam tabung itu terdapat sebuah pengaduk. Umpan masuk dari puncak bagian bermantel dan

disebarkan menjadi film tipis yang sangat turbulen dengan bantuan daun-daun partikel agitator itu. Konsentrat keluar dari bawah bagian bermantel, uap naik dari zona pengguapan masuk ke dalam bagian tak bermantel yang diameternya lebih besar dari tabung evaporasi. Dalam separator, zat cair yang terbawa ikut lalu dilemparkan ke arah luar oleh daun-daun agitator, sehingga menumbuk plat-plat vertikal yang stasioner. Lapisan itu bergabung pada plat ini dan kembali ke bagian evaporasi. Uap bebas zat cair lalu keluar melalui lubang keluar pada bagian atas unit itu.

3.

Jenis Evaporator lain 1. Plate Evaporator Mempunyai luas permukaan yang besar, Plate biasanya tidak rata dan ditopangoleh bingkai (frame). Uap mengalir melalui ruang-ruang di antara plate. Uap mengalir secara co-current dan counter current terhadap larutan. Larutan dan uap masuk ke separasi yang nantinya uap akan disalurkan ke condenser. Eveporator jenis ini sering dipakai pada industri susu dan fermntasi karena fleksibilitas ruangan. Tidak efektif untuk larutan kental dan padatan 2. Multi-effect Evaporator Menggunakan uap pada tahap untuk dipakai pada tahap berikutnya. Semakin banyak tahap maka semakin rendah konsumsi energinya. Biasanya maksimal terdiri dari tujuh tahap, bila lebih seringkali ditemui biaya pembuatan melebihi penghematan energi. Ada dua tipe aliran, aliran maju dimana larutan masuk dari tahap paling panas ke yang lebih rendah, dan aliran mundur yang merupakan kebalikan dari aliran maju. Cocok untuk menangani produk yang sensitive terhadap panas sepertienzum dan protein.

C. Prinsip Kerja Evaporasi ( Penguapan ) Proses evaporasi dengan skala komersial di dalam industri kimia dilakukan dengan peralatan yang namanya evaporator. Perlengkapan peralatan : Evaporator, kondensor, Injeksi uap, perangkap uap, perangkap tetes. Proses evaporasi didokumentasikan dalam lembar pelaporan sesuai data : 1. Kerja kondensor

2. Kerja injeksi uap 3. Kerja perangkap uap 4. Kerja perangkap tetes

Dengan sistem downstream, beberapa tahap dapat digunakan untuk isoloasi dan pemurnian produk. Struktur keseluruhan dari proses adalah pra-treatment, pemisahan solid-liquid, konsentrasi, purifikasi dan formulasi. Proses evaporasi terjadi pada tahap konsentrasi dari proses downstream dan digunakan secara luas untuk proses pembuatan makanan, kimia, dan mendaur ulang pelarut. Tujuan dari evaporasi adalah menguapkan air yang ada pada larutan yang mengandung produk yang diinginkan. Setalah proses pra-treatment dan separasi, luratan sering kali mengandung 85% air. Hal ini tidak cocok dengan penggunaan industri karena biaya yang dikeluarkan dalam proses dengan jumlah larutan yang banyak, karena membutuhkan peraltan yang lebih besar. Air dapat dihilangkan dari larutan dengan dengan cara lain dari evaporasi, antara lain yaitu ekstrasi liquid-liquid, kristalisasi, dan presepsiasi. Perbedaan evaporasi dengan metode pengeringan lain adalah produk akhir evaporasi adalah liquid terkonsentrasi, bukan solid. Uap air digunakan sebagai pengubah fasa saat mengkonsentrasi komponen yang tidak tahan panas seperti protein dan gula. Panas diberikan pada larutan dan sebagian dari solvent berubah menjadi uap. Proses evaporator berlangsung pada temperature tinggi dengan tekanan yang rendah. Panas diperlukan sebagai energi untuk molekul pada solvent pindah dari larutan menuju udara sekitar. Energi yang diperlukan molekul dapat disebut potensial termodinamika dari air pada larutan. Saat menguapkan air, lebih dari 99% energi diperlukan untuk memasok panas penguapan. Energi juga diperlukan untuk menghilangkan tegangan permukaan dari larutan. Energi yang diperlukan pada proses ini juga besar karena harus merubah fase, dari air menjadi uap air. Saat merancang evaporator, jumlah uap yang diperlukan tiap unit massa pada konsentrasi yang telah ditentukan. Keseimbangan energi harus digunakan dengan asumsi panas yang hilang keluar sistem sangat kecil. Panas yang harus dipasok oleh uap pendingin sama dengan panas yang dibutuhkan untuk memanaskan larutan dan menguapkan air. Cara kerja lainnya yaitu: Larutan yang mengandung produk diinginkan dimasukkan ke dalam evaporator dan melawati sumber panas. Panas akan merubah air pada larutan menjadi uap air. Uap air dibuang dari larutan dan dikondensasikan saat larutan konsentrasi tersebut masuk ke evaporasi tahap dua

atau dikeluarkan dari sistem. Pada umumnya mesin evaporator terdiri dari empat bagian, bagian pemanas terdiri dari medium pemanas dimana uap dimasukkan. Bagian konsentrasi dan pemisahan dimana uap air yang dihasilkan dari penguapan air pada larutan dikeluarkan., bagian kondensasi yang akan mengkondesasi uap air, dan bagian pompa vakum yang menyediakan tekanan untuk meningkatkan sirkulasi sistem. Untuk evaporator vakum, prinsip kerja peralatan ini berdasarkan pada kenyataan bahwa penurunan tekanan akan menyebabkan turunnya titik didih cairan. Pada Anhydro laboratory Vacum Evaporator, keadaan vakum tersebut terutama dihasilkan dari pompa air yang memindahkan uap terkondensasi dan mendinginkan air dari kondensor. Kevakuman yang sebenarnya dalam evaporator ditentukan oleh efisiensi pompa, yang mana hal itu tergantung pada derajat kondensi uap dalam kondensor. Pada kondensi itu sendiri mengambil tempat (berlangsung) sesuai dengan banyaknya semprotan air yang didinginkan ke bagian puncak dari kondensornya. Inilah apa yang dimaksud dengan : kita bisa mengatur suhu didih yang sebenarnya pada alat tersebut. Panas yang dibutuhkan untuk penguapan cairan adalah berasal dari steam yang sudah jenuh. Steam tersebut mengalami pengembunan (dikondensikan) pada tabung, dan bersamaan dengan itu memberikan panasnya untuk penguapan. Steam yang telah diambil panasnya itu disebut juga kondensat, kemudian dipindahkan dari dasar calandria dan ditarik melalui kondensor menuju pompa. Calandria adalah tabung dimana terjadi pergerakan bahan pangan. Bahan cair yang akan ditingkatkan konsentrasinya itu bersirkulasi terus menerus pada alat dalam upaya untuk memperoleh perpindahan/pergerakan yang maksimal didalam calandria. Sirkulasi yang cepat akan mengurangi resiko terjadinya pengendapan pada permukaan tabung, dan dengan cepat membebaskan gelembung-gelembung uap dari bahan cair selama dalam perjalanan melalui evaporator.

D. UNJUK KERJA EVAPORATOR TABUNG Ukuran pokok untuk menilai unjuk kerja evaporator jenis tabung dengan pemanasan uap adalah kapasitas dan ekonominya. Kapasitas didefinisikan sebagai banyaknya pon air yang diuapkan per jam. Ekonomi ialah banyaknya pon yang diuapkan per pon uap yang diumpankan ke dalam unit itu. Pada evaporator efek tinggal, ekonominya hampir selalu kurang dari 1, tetapi pada alat efefk ganda ekonominya mungkin jauh lebih besar. Konsumsi uap, dalam pon per jam, juga tidak kalah pentingnya. Nilainya sama dengan kapasitas dibagi ekonomi.

Kapasitas Evaporator Laju perpindahan kalor q melalui permukaan pemanasan suatu evaporator, menurut definisi dari koefisien perpindahan kalor menyeluruh pada persamaan ialah hasil kali dari 3 faktor: luas permukaan perpindahan kalor A, koefisien perpindahan menyeluruh U dan penurunan suhu menyeluruh T atau q= UAT Kenaikan titk didih dan kaidah Duhuring. Tekanan uap kebanyakan larutan dalam air lebih kecil daripada tekanan uap air pada suhu yang sama. Akibatnya, untuk suatu tekanan tertentu, titik didih dari larutan lebih tinggi dari titik didih air murni. Kenaikan titik didih diatas titik didih air ini dikenal sebagai kenaikan titik didih larutan. Nilainya kecil untuk larutan encer dan koloida organik, tetapi bisa sampai lebih tinggi 150 F pada larutan pekat garam anorganik. Kenaikan titik didih ini harus dikurangkan dari penurunan suhu yang diramalkan dari tabel uap. Efek tinggi tekan zat cair dan efek gesekan terhadap penurunan suhu. Jika kedalaman zat cair didalam evaporator itu cukup besar, titik didih yang berkaitan dengan tekanan didalam ruang uap dialah titik didih lapisan permukaan zat cair itu saja. Suatu tetesan zat cair yang berada pada jarak Z ft dibawah permukaan berada pada tekanan ruang uap ditambah tinggi tekan Z ft zat cair, dan karena itu titik didihnya lebih tinggi. Di samping itu, bila kecepatan zat cair itu besar, rugi gegsekan didalam tabung akan meningkatkan lagi tekanan rata-rata zat cair itu. Dalam evaporator nyata, oleh karena itu, titik didih rata-rata zat cair didalam tabung lebih tinggi dari titik didih yang ditunjukkan oleh tekanan ruang uap. Kenaikan titik didih ini akan menyebabkan kekurangan penurunan suhu rata-rata antara uap dan zat cair dan mengurangi kapasitas.

Berapa pengurangannya tinggi tekan zat cair itu tidak dapat diabaikan, lebih-lebih bila tinggi permukaan

dengan kecepatan zat cair itu tinggi. Koefisien perpindahan kalor. Fluks kalor dan kapasitas evaporator dipengaruhi oleh perubahan beda suhu maupun perubahan koefisien perpindahan kalor tersebut. Penurunan suhu itu ditentukan oleh perubahan sifat-sifat uap dan zat cair yang mendidih, dan kecuali karena pengaruh tinggi tekanan dibawah statik bukanlah merupakan fungsi konstruksi evaporator. Tetatpi koefisien menyeluruh, di lain pihak sangat

dipengaruhi oleh rancang evaporator dan metode evaporasinya.

Koefisien film uap. Koefisien film uap selalu tinggi, jika kondensasi film itu mendapatkan kondennsasi tetes, dan dengan demikian koefisien yang lebih tinggi, kepada arus uap itu biasanya ditambahkan promotor. Oleh adanya gas yang tak mampu kondensasi dapat menyebabkan turunnya koefisien film uap, maka harus ada ventilasi untuk membuang gas-gas yang tak mampu kondensasi dari rongga uap dan mencegah udara masuk bila tekan uap lebih rendah dari tekanan atmosfer. Koefisien zat cair. Ini sangat bergantung pada kecepatan zat cair diatas permukaan panas. Pada kebanyakan evaporator dan lebih-lebih pada yang menangani zat cair viskos, tahanan pada zat cair lah yang menentukan laju perpindahan kalor menyeluruh ke zat cair yang mendidih itu. Dalam evaporator sirkulasi alamiah, koefisien sisi zat cair untuk larutan encer dalam air, fluks kalor dapat ditafsir secara konservatif untuk larutan yang tak mengkerak. Koefisien menyeluruh. Oleh karena koefisien film individual didalam evaporator itu tinggi dan karena itu sulit diukur, maka hasil percobaan biasanya dinyatakan dalam bentuk koefisien menyeluruh. Koefisien ini didasarkan atas penurunan suhu netto yang dikoreksi terhadap kenaikan titik didih. Koefisen menyeluruh itu tentulah dipengaruhi juga oleh faktor-faktor yang sama dengan faktor yang mempengaruhi koefisien individual. Tetapi jika ada satu tahanan yang ternyata menentukan, maka perubahan-perubahan besar sekali pada tahanan lain hampir tidak akan ada pengaruhnya terhadap kofisien menyeluruh. D.Perpindahan Panas Di dalam Evaporator Beberapa peralatan penguapan dapat langsung dipanasi dengan api. Api memanasi dinding ketel dan secara konduksi akan memanasi bahan yang terletak di dalam alat penguap. Akan tetapi umumnya evaporator mempergunakan panas tidak langsung dalam proses penguapannya.

Pindah panas didalam alat penguapan diatur oleh persamaan pindah panas untuk pendidihan bahan cair dan dengan persamaan konveksi serta konduksi. Panas yang dihasilkan dari sumber harus dapat mencapai suhu yang sesuai untuk menguapkan bahan. Umumnya medium pembawa panasnya adalah uap yang diperoleh dari boiler atau dari suatu tahapan penguapan dalam alat penguapan lain. Perputaran bahan cair didalam alat penguapan merupakan hal yang penting, sebab perputaran mempengaruhi laju pindah panas dan dengan perputaran bahan yang baik akan meningkatkan laju penguapan. Evaporasi dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut pada titik didihnya, sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Uap yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari satu komponen, dan jika uapnya berupa campuran umumnya tidak diadakan usaha untuk memisahkan komponenkomponennya. Dalam evaporasi zat cair pekat merupakan produk yang dipentingkan, sedangkan uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Disinilah letak perbedaan antara evaporasi dan distilasi.

E. Jenis evaporator Ekonomi Evaporator Faktor utama yang mempengaruhi ekonomis sistem evaporator ialah banyaknya efek. Melalui suatu perancangan yang baik, entalpi penguapan uap pemanas ke efek pertama dapat digunakan satu kali atau lebih, bergantung kepada jumlah efeknya. Ekonomi evaporator juga dipengaruhi oleh suhu umpan. 1. Evaporator efek tunggal (single effect) Yang dimaksud dengan single effect adalah bahwa produk hanya melalui satu buah ruang penguapan dan panas diberikan oleh satu luas permukaan pindah panas.

Pada evaporator evek tunggal , kalor laten kondensasi uap pamanas berpindah melalui permukaan pemanasan dan menguapkan air dari larutan yang mendidih. Neraca entalpi evaporator efek-tunggal. Pada evaporator efek tunggal, kalor laten kondensasi uap pemanas berpindah melalui permukaan pemanasan dan menguapkan air dari larutan yang mendidih. Ada dua neraca entalpi yang diperlukan, satu untuk uap pemanas dan satu lagi untuk sisi cairan ke uap larutan. Neraca entalpi bila kalor pengenceran diabaikan. Untuk larutan yang kalor pengencernya dapat diabaikan, neraca entalpi pada evaporator efek tunggal dapat dihitung dari kalor spesifik dan suhu larutan. Larutan perpindahan kalor q pada sisi cairan mencakup kalor yang berpindah kecairan encer q f untuk mengubah suhunya dari Tf menjadi titik didih T, dan kalor yang diperlukan untuk evaporasi q V. Jadi, q=qf+qv neraca entalpi dengan kalor pengenceran diagram entalpi konsentrasi. Jika kalor pengenceran zat cair yang akan dipekatkan itu cukup besar sehingga tidak dapat diabaikan, entalpi tidak linear dengan konsentrasi pada suhu tetap. Sumber yang terbaik untuk mendapatkan nilai entalpi digunakan diagram entalpi konsentrasi, dimana entalpi dalam Btu per pon atau joule per gram larutan, digambarkan grafiknya terhadap konsentrasi, dalam fraksi massa atau persen bobot yang terlarut.

2.Evaporator efek ganda Di dalam proses penguapan bahan dapat digunakan dua, tiga, empat atau lebih dalam sekali proses, inilah yang disebut dengan evaporator efek majemuk. Penggunaan evaporator efek majemuk berprinsip pada penggunaan uap yang dihasilkan dari evaporator sebelumnya. Tujuan penggunaan evaporator efek majemuk adalah untuk menghemat panas secara keseluruhan, hingga akhirnya dapat mengurangi ongkos produksi. Keuntungan evaporator efek majemuk adalah merupakan penghematan yaitu dengan menggunakan uap yang dihasilkan dari alat penguapan untuk memberikan panas pada alat penguapan lain dan dengan memadatkan kembali uap tersebut. Apabila dibandingkan antara alat penguapan n-efek, kebutuhan uap diperkirakan 1/n kali, dan permukaan pindah panas berukuran n-kali dari pada yang dibutuhkan untuk alat penguapan berefek tunggal, untuk pekerjaan yang sama. Pada evaporator efek majemuk ada 3 macam penguapan, yaitu : a. Evaporator Pengumpan Muka b. Evaporator Pengumpan Belakang c. Evaporator Pengumpan Sejajar

Macam Peralatan Pemanas / Penukar Panas : Tabung Pemanas, Ketel Uap (Boiler), Penukar Panas Spiral Melingkar, Penukar Panas Tipe Permukaan, Penukar Panas Dengan Tabung Dibagian Dalam, Pembangkit Ulang, Penukar Panas Tipe Tong, Penyemprot Air Panas, Pemasukan Uap Panas dan Penukar Panas Tipe Skrup. Macam Peralatan Penguapan / Evaporator : Evaporator Kancah Terbuka, Evaporator dengan Tabung Pendek yang Melintang, Evaporator dengan Tabung Pendek yang Tegak, Evaporator yang Mempunyai Sirkulasi Alamiah dengan Kalandria dibagian Luar, Evaporator dengan Sirkulasi yang Dipaksa, Evaporator Bertabung Panjang, Evaporator Piring, Evaporator Sentrifugal dan Evaporator Pengaruh Berganda. Macam Peralatan Pengering : Pengeringan dengan udara panas terdiri Pembakaran (kiln dyer), Pengering lemari, Pengering terowongan, Pengering konveyor, Pengering kotak, Pengering tumpukan bahan butiran/tepung, Pengering pneumatic, Pengering berputar, Pengering semprot, Pengering menara. Pengering dengan persentuhan dengan permukaan yang dipanasi terdiri Pengering tong (pengering lapisan, pengering rol), Papan pengering hampa udara, Pengering dengan roda dalam hampa udara. Pada banyak sistem pendinginan, refrigeran akan menguap di evaporator dan mendinginkan fluida yang melalui evaporator. Evaporator ini disebut sebagai direct-expansion evaporator. Berdasarkan zat yang didinginkan, evaporator dibedakan menjadi evaporator pendingin udara dan pendingin cairan. Berdasarkan konstruksinya, evaporator pendingin udara dibedakan menjadi plat, bare tube, dan finned evaporator. Evaporator plat biasa digunakan pada kulkas rumah. Evaporator pendingin udara ini umumnya digunakan untuk sistem pengkondisian udara (AC).

Gambar 3. Evaporator

Evaporator pendingin cairan umumnya digunakan untuk mendinginkan air, susu, jus, dan kegunaan industri lainnya. Jenis evaporator yang sering digunakan adalah evaporator bare-tube karena proses pengambilan panas terjadi langsung dari bahan ke ferigeran. Terdapat bebrapa tipe evaporator yang sering digunakan, seperti pipa ganda, Baudelot cooler, tipe tank, shell and coil cooler dan shell and tube cooler.

Tiga buah evaporator sirkulasi alamiah tabung-panjang yang dihubungkan satu sama lain sehingga didapatkan system efek-tiga ( triple-effect ). Hubungan itu dibuat sedemikian rupa sehingga uap dari satu efek berfungsi sebagai medium panas bagi efek berikutnya. Sebuah kondensor dan enjektor udara membangkitkan vakum pada efek ketiga dalam rangkaian itu, dan menarik keuar gas-gas tak-mampukondensasi dari system itu. Efek pertama dalam evaporator efek-berganda ialah efek tempat mengumpankan uap mentah, dan tekanan ruangan uap cairannya paling tinggi. Efek terakhir ialah efek dimana tekanan ruang uap cairan minimum. Dengan demikian selisih tekanan antara uap dan kondensor, pada sistem efek-beganda, terbagi pada dua efek atau lebih. Tekanan di dalam setiap efek lebih rendah dari tekanan efek tempat ia menerima uap dan lebih tinggi dari tekanan efek tempat ia memberikan uap. Masing-masing efek, sendiri-sendiri, bekerja sebagai evaporator efek-tunggal, masing-masing mempunyai beda suhu melintas permukaan pemanasan yang berkaitan dengan peunurunan tekanan dalam efek itu. Umpan encer masuk pada efek pertama, dan dipekatkan sedkit disini. Cairan itu lalu mengalir ke efek kedua untuk di pekatkan lebih lanjut, dan lalu ke efek ke tiga untuk mendapatkan kepekatan akkhir. Cairan pekat lalu di pompakan keluar dari efek ketiga.

4 metode pengumpan pada evaporator efek berganda 1.umpan maju Metode yang biasa digunakan untuk pengumpan evaporator efek-berganda ialah dengan memompakan zat cair encer kedalam efek pertama dan mengalirkan seterusnya ke efek-efek berikutnya. Konsentrasi zat cair dalam hal ini meningkat dari efek pertama sampai efek terakhir. 2. umpan mundur Zat cair diumpankan ke efek terakhir, lalu dipompakan ke efek-efek lainnya secara berurutan sampai ke efek pertama. Umpan mundur sering menghasilkan kapasitas yang lebih besar dari pada umpan

mau bila cairan pekat itu kental, tetapi mungkin menghasilkan ekonomi yang lebih rendah dari umpan maju bila umpan itu dingin 3.umpan campuran Zat cair encer masuk kedalam suatu efek antara, mengalirkan keujung deret itu, lalu di pompakan kembali ke efek pertama untuk pemekatan terakhir 4.umpan paralel Dalam sistem umpan paralel tidak terdapat perpindahan zat cair dari efek yang satu ke efek yang

lain.

F. Aplikasi dari evaporasi Proses evaporasi telah dikenal sejak dahulu, yaitu untuk membuat garam dengan cara menguapkan air dengan bantuan energi matahari dan angin. Kegunaan utama dari evaporator adalah menguapkan air pada larutan sehingga larutan memiliki konsentrasi tertentu. Pada industri makanan dan minuman, agar memiliki mutu yang sama pada jangka waktu yang lama, dibutuhkan evaporasi. Misalnya untuk pengawetan adalah pembuatan susu kental manis. Evaporasi merupakan satu unit operasi yang penting dan biasa dipakai dalam industri kimia dan mineral, misalnya industri aluminium dan gula. Evaporator

juga digunakan untuk mengolah limbah radioaktif cair. Kegunaan lainnya adalah mendaur ulang pelarut mahal seperti hexane ataupun sodium hydroxide pada kraft pulping bisa juga untuk menguapkan limbah agar proses penanganan limbah lebih murah. Contoh-contoh Operasi Evaporasi dalam Industri Kimia lainnya yaitu : Pemekatan larutan NaOH, Pemekatan larutan KNO3, Pemekatan larutan NaCL, Pemekatan larutan nitrat dan lain-lain.