Anda di halaman 1dari 21

BAB II DASAR TEORI

Untuk melakukan perhitungan pada komponen mesin ini diperlukan dasardasar perhitungan yang sudah menjadi standar internasional. Perhitungan ini akan memperkecil ketidaksesuaian (error factor) dari material maupun komponen mesin. Hal-hal yang berkaitan dengan perancangan mesin ini meliputi: 1. Screw Conveyor Screw Conveyor merupakan suatu alat yang berupa pipa ulir yang disusun pada pipa atau poros yang berputar di dalam tabung tetap untuk memindahkan berbagai jenis material yang mempunyai daya alir menurut CEMA Materials Classification Standart berarti tingkat kebebasan partikel suatu material yang secara individu bergerak saling mendahului satu partikel yang lainnya. Karakteristik ini penting dalam operasi screw conveyor. Dari beberapa jenis penerapan srew conveyor pada dasarnya diambil dari 2 faktor, yaitu karakteristik dari material yang diangkut dan keuntungan dari penggunaan screw conveyor. 1.1 menentukan ukuran dan kecepatan screw conveyor Untuk menentukan ukuran dan kecepatan screw conveyor dapat dilihat pada lampiran 7. Kapasitas scew conveyor dalam ft3/jam tiap rpm ( CEMA-screw conveyor, 1971: 25 ) : = Dimana : C Ds Dp = kapasitas screw conveyor dalam ft3 / jam = diameter scew conveyor dalam inchi = diameter pipa dalam inchi .........................................( 2.1 )

p K -

= pitch dari screw conveyor dalam inchi = prosentase dari pembebanan tabung ( % )

Kecepatan screw conveyor dapat dhitung dengan rumus ( CEMA-screw conveyor, 1971:25 ) : N= Dimana : N = kecepatan dari ulir ( rpm ) ( N tidak boleh lebih dari kecepatan maksimum yang dianjurkan ) ..( 2.2 )

Daya untuk memuter screw conveyor Daya yang dibutuhkan adalah daya total dari gesekan conveyor ( HPf ) dan daya untuk memindahkan material pada ukuran tertentu ( HPm ) dikalikan dengan faktor beban lebih ( FO ) dan dibagi efisiensi penggerak total ( e ). ( CEMA-screw conveyor 1971:36 ) : HPf = Dimana : L = panjang dari conveyor dalam ft N = kecepatan screw conveyor dalam rpm Fd = diameter conveyor factor Fb = hanger bearing factor HPm = Dimana : C = kapasitas screw conveyor dalam ft3 / jam W = berat jenis material dalam lbs / ft3 Ff = flight factor Fm = material factor Fp = paddle factor ..( 2.4 ) ..( 2.3 )

HP =

............................................................( 2.5 )

Dimana : Fo = over load factor e = efisiensi penggerak ( % ) HPm = daya untuk memindahkan material ( HP ) HPf = daya total karena gesekan conveyor ( HP )

2. Puli dan Sabuk Puli merupakan salah satu elemen dalam mesin yang mereduksi putaran dari motor bensin menuju reducer, ini juga berfungsi sebagai kopling putaran motor bensin dengan reducer. Puli dapat terbuat dari besi cor, baja cor, baja pres, atau aluminium. Sabuk berfungsi sebagai alat yang meneruskan daya dari satu poros ke poros yang lain melalui dua puli dengan kecepatan rotasi sama maupun berbeda. Tipe sabuk antara lain: sabuk flat, sabuk V, dan sabuk circular. Faktor-faktor dalam perencanaan sabuk: 1. Perbandingan kecepatan Perbandingan antara kecepatan puli penggerak dengan puli pengikut ditulis dengan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 2002):
N 2 D1 ...( 2.6 ) = N1 D2

dengan: D1 D2 N1 N2 = Diameter puli penggerak (mm) = Diameter puli pengikut (mm) = Kecepatan puli penggerak (rpm) = Kecepatan puli pengikut (rpm)

T2

DP1 T1

Dp2

Gambar 2.1. Panjang sabuk dan sudut kontak pada sabuk terbuka (Khurmi dan Gupta, 2002) 2. Perhitungan panjang sabuk ( Sularso dan Suga,170,1978 ) L = 2C + /2 ( Dp + dp ) + c ( Dp dp ) ( 2.7 ) dengan: L = panjang sabuk ( cm ) C = jarak sumbu poros ( m ) Dp = diameter puli besar ( m ) dp = diameter puli kecil ( m ) 3. jarak antara kedua poros ( Sularso dan Suga,170,1978 ) C = b + b - 8 ( Dp dp )........................................................................( 2.8 ) 8 dimana : b = 2h 3,14 ( Dp dp )............................................................................( 2.9 ) 4. Sudut singgung sabuk dan puli (Khurmi dan Gupta, 2002 )

sin =

r1 - r2 ...........................................................................................( 2.10 ) X

dengan : R r = sudut singgung sabuk dan puli ( ) = jari-jari puli besar ( m ) = jari-jari puli kecil ( m )

5. Sudut kontak puli (Khurmi dan Gupta, 621, 1980 )

q = ( 180 + 2. ) 180 ...............................................................................( 2,11 ) q = sudut kontak puli ( )


6. Kecepatan linier sabuk V=

p .d .n 60

( m/s )

dengan : d = diameter puli roll ( m ) n = putaran roll ( rpm ) 7. Gaya sentrifugal (Khurmi dan Gupta, 621,1980 ) Tc = m . ( V )( 2.12 ) dengan : Tc m V = tegangan sentrifugal = massa sabuk ( kg/m ) = kecepatan keliling sabuk ( m )

8. Besarnya gaya yang bekerja pada sabuk V (Khurmi dan Gupta, 621,1980 )

2,3 log

Tt1 - Tc = mq .( 2.13 ) Tt 2 - Tc

Tt1 = tegangan total sisi kencang (N) Tt 2 = tegangan total sisi kendor (N)

m = koefisien geser antara sabuk dan puli


q = sudut kontak puli (rad)
9. Perhitungan Penggunaan Jumlah Sabuk ( Khurmi dan Gupta, 621,1980 ) Ps = ( T1 T2 ) . V....................................................................................( 2.14 ) P = Ps : daya yang ditransmisikan sabuk ( watt ) = F1 : gaya tegang sabuk sisi kencang ( kg ) = F2 : gaya tegang sabuk sisi kendor ( kg ) = kecepatan linier ( m/s )

T1 T2
V

10. Jumlah Sabuk Yang Diperlukan (Sularso dan Suga,173,1987) N=

Pd ..( 2.15 ) Ps

3. Bantalan Bantalan adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk menumpu poros yang berbeban dan mengurangi gesekan pada poros, sehingga putaran poros dapat berlangsung secara halus. Pelumas digunakan untuk mengurangi panas yang dihasilkan dari gesekan tersebut. Secara garis besar bantalan dapat

diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu (Sularso dan Suga, 1987): 1. Bantalan Luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan antara poros dengan bantalan yang dapat menimbulkan panas yang besar sehingga untuk mengatasi hal tersebut diberikan lapisan pelumas antara poros dengan bantalan.

10

2. Bantalan Gelinding Pada bantalan gelinding ini terjadi gesekan antara bagian yang berputar dengan bagian yang diam melalui elemen gelinding, sehingga gesekan yang terjadi menjadi lebih kecil.Berdasarkan arah beban terhadap poros bantalan dibagi menjadi 3 macam yaitu (Sularso dan Suga, 1987): 1. Bantalan radial Pada bantalan ini arah beban adalah tegak lurus dengan sumbu poros. 2. Bantalan aksial Pada bantalan ini arah beban adalah sejajar dengan sumbu poros. 3. Bantalan gelinding khusus Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus dengan sumbu poros.

Gambar 2.2. Jenis-jenis bantalan gelinding (Sularso dan Suga, 1987)

11

4. Poros Poros merupakan bagian yang berputar, dimana terpasang elemen pemindah gaya, seperti roda gigi, bantalan dan lain-lain. Poros bisa menerima beban-beban tarikan, lenturan, tekan atau puntiran yang bekerja sendiri-sendiri maupun gabungan satu dengan yang lainnya. Kata poros mencakup beberapa variasi seperti shaft atau axle (as). Shaft merupakan poros yang berputar dimana akan menerima beban puntir, lenturan atau puntiran yang bekerja sendiri maupun secara gabungan. Sedangkan axle (as) merupakan poros yang diam atau berputar yang tidak menerima beban puntir (Khurmi, R.S., 2002). Jenis poros yang lain (Sularso, 1987) adalah jenis poros transmisi. Poros ini akan mentransmisikan daya meliputi kopling, roda gigi, puli, sabuk, atau sproket rantai dan lain-lain. Poros jenis ini memperoleh beban puntir murni atau puntir dan lentur. Untuk merencanakan suatu poros maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Sularso dan Suga, 1987): 1. Kekuatan Poros. Suatu poros transmisi dapat mengalami beban puntir atau gabungan antara puntir dan lentur, juga ada poros yang mendapatkan beban tarik atau tekan. Oleh karena itu, suatu poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atas. 2. Kekakuan Poros. Meskipun suatu poros mempunyai kekuatan cukup tetapi jika lenturan puntirnya terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian atau getaran dan suara, karena itu disamping kekuatan poros, kekakuannya juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan macam mesin yang akan dilayani poros tersebut.

12

3. Korosi. Baja tahan korosi dipilih untuk poros. Bila terjadi kontak fluida yang korosif maka perlu diadakan perlindungan terhadap poros supaya tidak terjadi korosi yang dapat menyebabkan kekuatan poros menjadi berkurang. 4. Bahan Poros. Poros untuk mesin biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin dan finishing, baja konstruksi mesin yang dihasilkan dari ingot yang di kill (baja yang dideoksidasikan dengan ferrosilikon dan dicor, kadar karbon terjamin). Meskipun demikian, bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena tegangan yang kurang seimbang. Porosporos untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang tahan terhadap keausan.

Pertimbangan-pertimbangan

yang

digunakan

untuk

poros

menggunakan persamaan sebagai berikut (Khurmi dan Gupta, 2002): 1. Torsi

T =

60 . P .................................................................................(2.16) 2.p . N

Keterangan : T = Torsi maksimum yang terjadi (kg.m). P = Daya motor (W). N = Kecepatan putaran poros (rpm). 2. Torsi ekivalen
Te = M 2 + T 2 ...................................................................... ( 2.17 )

Diameter poros :

d =3

16 . Te ..........................................................................( 2. 18 ) p .ts

13

Keterangan : Te = Torsi ekivalen (kg.m). T = Torsi maksimum yang terjadi (kg.m). M = Momen maksimum yang terjadi (kg.m).

t
d

= Tegangan geser maksimum yang terjadi (kg/cm2). = Diameter poros (cm).

3. Momen ekivalen Me =
1 M + 2

M2 + T2

....................................................( 2.19

Diameter poros :
d =3 32 . M e ... ( 2.20 ) p . sb

Keterangan : Me = Momen ekivalen (kg.m). = Tegangan tarik maksimum yang terjadi (kg/cm2).

s
5. Statika

Statika adalah ilmu yang mempelajari tentang statika dari suatu beban terhadap gaya-gaya dan juga beban yang mungkin ada pada bahan tersebut. Dalam ilmu statika keberadaan gaya-gaya yang mempengaruhi sistem menjadi suatu obyek tinjauan utama dan meliputi gaya luar dan gaya dalam. Gaya luar adalah gaya yang diakibatkan oleh beban yang berasal dari luar sistem yang pada umumnya menciptakan kestabilan konstruksi.

14

Beban Reaksi

Reaksi

Reaksi

Gambar 2.3. Sketsa prinsip statika kesetimbangan ( Popov, 1996 ) Jenis bebannya dibagi menjadi: 1. Beban dinamis adalah beban sementara dan dapat dipindahkan pada konstruksi. 2. Beban statis adalah beban yang tetap dan tidak dapat dipindahkan pada konstruksi. 3. Beban terpusat adalah beban yang bekerja pada suatu titik. 4. Beban terbagi adalah beban yang terbagi merata sama pada setiap satuan luas. 5. Beban terbagi variasi adalah beban yang tidak sama besarnya tiap satuan luas. 6. Beban momen adalah hasil gaya dengan jarak antara gaya dengan titik yang ditinjau. 7. Beban torsi adalah beban akibat puntiran.

15

Beban (Gaya luar)

Gaya dalam

Reaksi (Gaya luar)

Reaksi (Gaya luar)

Reaksi (Gaya luar)

Gambar 2.4. Sketsa gaya dalam ( Popov, 1996 )

Gaya dalam dapat dibedakan menjadi : 1. Gaya normal (normal force) adalah gaya yang bekerja sejajar sumbu batang. 2. Gaya lintang/geser (shearing force) adalah gaya yeng bekerja tegak lurus sumbu batang. 3. Momen lentur (bending momen). Persamaan kesetimbangannya adalah (Popov, E.P., 1996): -F Fy -M = 0 atau Fx = 0 Mx = 0

= 0 (tidak ada gaya resultan yang bekerja pada suatu benda) = 0 atau

My = 0 (tidak ada resultan momen yang bekerja pada suatu benda) 4. Reaksi. Reaksi adalah gaya lawan yang timbul akibat adanya beban. Reaksi sendiri terdiri dari :

16

1. Momen. Momen (M)= F x s .......................................................................( 2.21 )

di mana : M = momen (N.mm). F = gaya (N). S 2. Torsi. 3. Gaya. Tumpuan Dalam ilmu statika, tumpuan dibagi atas: 1. Tumpuan roll/penghubung. Tumpuan ini dapat menahan gaya pada arah tegak lurus penumpu, biasanya penumpu ini disimbolkan dengan: = jarak (mm).

Reaksi
Gambar 2.5. Sketsa reaksi tumpuan rol (Popov, 1996 ) 2. Tumpuan sendi. Tumpuan ini dapat menahan gaya dalam segala arah

Reaksi Reaksi
Gambar 2.6. Sketsa reaksi tumpuan sendi (Popov, 1996 )

17

3. Tumpuan jepit. Tumpuan ini dapat menahan gaya dalam segala arah dan dapat menahan momen.

Momen Reaksi

Reaksi
Gambar 2.7. Sketsa reaksi tumpuan jepit (Popov, 1996 )

4. Diagram gaya dalam. Diagram gaya dalam adalah diagram yang menggambarkan besarnya gaya dalam yang terjadi pada suatu konstruksi. Sedang macam-macam diagram gaya dalam itu sendiri adalah sebagai berikut : 1. Diagram gaya normal (NFD), diagram yang menggambarkan besarnya gaya normal yang terjadi pada suatu konstruksi. 2. Diagram gaya geser (SFD), diagram yang menggambarkan besarnya gaya geser yang terjadi pada suatu konstruksi. 3. Diagram moment (BMD), diagram yang menggambarkan besarnya momen lentur yang terjadi pada suatu konstruksi.

6. Proses Pengelasan Dalam proses pengelasan rangka, jenis las yang digunakan adalah las listrik DC dengan pertimbangan akan mendapatkan sambungan las yang kuat. Pada dasarnya instalasi pengelasan busur logam terdiri dari bagianbagian penting sebagai berikut (Kenyon, 1985): 1. Sumber daya, yang bisa berupa arus bolak balik (ac) atau arus searah (dc). 2. Kabel timbel las dan pemegang elektroda.

18

3. Kabel balik las (bukan timbel hubungan ke tanah) dan penjepit. 4. Hubungan ke tanah. Fungsi lapisan elektroda dapat diringkaskan sebagai berikut : 1. Menyediakan suatu perisai yang melindungi gas sekeliling busur api dan logam cair. 2. Membuat busur api stabil dan mudah dikontrol. 3. Mengisi kembali setiap kekurangan yang disebabkan oksidasi elemenelemen tertentu dari genangan las selama pengelasan dan menjamin las mempunyai sifatsifat mekanis yang memuaskan. 4. Menyediakan suatu terak pelindung yang juga menurunkan kecepatan pendinginan logam las dan dengan demikian menurunkan kerapuhan akibat pendinginan. 5. Membantu mengontrol (bersamasama dengan arus las) ukuran dan frekuensi tetesan logam cair. 6. Memungkinkan dipergunakannya posisi yang berbeda. Dalam las listrik, panas yang akan digunakan untuk mencairkan logam diperoleh dari busur listrik yang timbul antara benda kerja yang dilas dan kawat logam yang disebut elektroda. Elektroda ini terpasang pada pegangan atau holder las dan didekatkan pada benda kerja hingga busur listrik terjadi. Karena busur listrik itu, maka timbul panas dengan temperatur maksimal 3450oC yang dapat mencairkan logam. 1. Sambungan las Ada beberapa jenis sambungan las, yaitu: Butt join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang yang sama. Lap join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang yang pararel.

19

Edge join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas berada pada bidang paparel, tetapi sambungan las dilakukan pada ujungnya. T- join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas tegak lurus satu sama lain. Corner join Yaitu dimana kedua benda kerja yang dilas tegak lurus satu sama lain. 2. Memilih besarnya arus Besarnya arus listrik untuk pengelasan tergantung pada diameter elektroda dan jenis elektroda. Tipe atau jenis elektroda tersebut misalnya: E 6010, huruf E tersebut singkatan dari elektroda, 60 menyatakan kekuatan tarik terendah setelah dilaskan adalah 60.000 kg/mm2, angka 1 menyatakan posisi pengelasan segala posisi dan angka 0 untuk pengelasan datar dan horisontal. Angka keempat adalah menyatakan jenis selaput elektroda dan jenis arus. Besar arus listrik harus sesuai dengan elektroda, bila arus listrik terlalu kecil, maka: Pengelasan sukar dilaksanakan. Busur listrik tidak stabil. Panas yang terjadi tidak cukup untuk melelehkan elektroda dan benda kerja. Hasil pengelasan atau rigi-rigi las tidak rata dan penetrasi kurang dalam.

Apabila arus terlalu besar maka: - Elektroda mencair terlalu cepat. - Pengelasan atau rigi las menjadi lebih besar permukaannya dan penetrasi terlalu dalam.

20

7. Proses Permesinan Proses permesinan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan elemenelemen mesin, yang meliputi proses kerja mesin dan waktu pemasangan. Pada umumnya mesin-mesin perkakas mempunyai bagian utama sebagai berikut : Motor penggerak (sumber tenaga). 1. Kotak transmisi (roda-roda gigi pengatur putaran). 2. Pemegang benda kerja. 3. Pemegang pahat/alat potong. Macam-macam gerak yang terdapat pada mesin perkakas. 1. Gerak utama (gerak pengirisan). Adalah gerak yang menyebabkan mengirisnya alat pengiris pada benda kerja. Gerak utama dapat dibagi : Gerak utama berputar Misalnya pada mesin bubut, mesin frais, dan mesin drill. Mesin perkakas dengan gerak utama berputar biasanya mempunyai gerak pemakanan yang kontinyu. Gerak utama lurus Misalnya pada mesin sekrap. Mesin perkakas dengan gerak utama lurus biasanya mempunyai gerak pemakanan yang periodik. 2. Gerak pemakanan. Gerak yang memindahkan benda kerja atau alat iris tegak lurus pada gerak utama. 3. Gerak penyetelan. Menyetel atau mengatur tebal tipisnya pemakanan, mengatur dalamnya pahat masuk dalam benda kerja

21

Adapun macam-macam mesin perkakas yang digunakan antar lain: Mesin bubut Prinsip kerja mesin mesin bubut adalah benda kerja yang berputar dan pahat yang menyayat baik memanjang maupun melintang. Benda kerja yang dapat dikerjakan pada mesin bubut adalah benda kerja yang silindris, sedangkan macam-macam pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan mesin ini adalah antara lain : (Scharkus dan jutz, 1996) pembubutan memanjang dan melintang pengeboran pembubutan dalam atau memperbesar lubang membubut ulir luar dan dalam

Perhitungan waktu kerja mesin bubut adalah: 1. Kecepatan pemotongan (v). V= .D.N ....................................................................................... ( 2.22 ) dimana : D = diameter banda kerja (mm). N = kecepatan putaran (rpm). 2. Pemakanan memanjang waktu permesinan pada pemakanan memenjang adalah : n=

v .1000 .........................................................................................( 2.23 ) p .d L ..........................................................................................( 2.24 ) S r .n

Tm =

Dimana : Tm = waktu permesinan memanjang (menit) L = panjang pemakanan (mm) S = pemakanan (mm/put) N = putaran mesin (rpm)

22

d = diameter benda kerja (mm) v = kecepatan pemakanan (m/mnt) 3. Pada pembubutan melintang waktu permesinan yang dibutuhkan pada waktu pembubutan melitang adalah : Tm =

r .......................................................................................... ( 2.25 ) Sr . n

Dimana : r = jari-jari bahan (mm) Mesin Bor Mesin bor digunakan untuk membuat lubang (driling) serta memperbesar lubang (boring) pada benda kerja. Jenis mesin bor adalah sebagai berikut: 1. Mesin bor tembak 2. Mesin bor vertikal 3. Mesin bor horisontal Pahat bor memiliki dua sisi potong, proses pemotongan dilakukan dengan cara berputar. Putaran tersebut dapat disesuaikan atau diatur sesuai dengan bahan pahat bor dan bahan benda kerja yang dibor. Gerakan pemakanan pahat bor terhadap benda kerja dilakukan dengan menurunkan pahat hingga menyayat benda kerja. Waktu permesinan pada mesin bor adalah: Tm = n=
L ...................................................................................... ( 2.26 ) Sr .n

v .1000 ...................................................................................... ( 2.27 ) p .d

L = l + 0,3 . d................................................................................... ( 2.28 ) `Dimana: d = Diameter pelubangan (mm)

23

8. Pemilihan Mur dan Baut Pemilihan mur dan baut merupakan pengikat yang sangat penting. Untuk mencegah kecelakaan, atau kerusakan pada mesin, pemilihan baut dan mur sebagai alat pengikat harus dilakukan secara teliti dan direncanakan dengan matang di lapangan. Tegangan maksium pada baut dihitung dengan persamaan di bawah ini (Khurmi dan Gupta, 621,1980): maks = =
F ........................................................................................ ( 2.29 ) A

F d 2 p . 4

Bila tegangan yang terjadi lebih kecil dari tegangan geser dan tarik bahan, maka penggunaan mur-baut aman. Baut berbentuk panjang bulat berulir, mempunyai fungsi antara lain: Sebagai pengikat Baut sebagai pengikat dan pemasang yang banyak digunakan ialah ulir profil segitiga (dengan pengencangan searah putaran jarum jam). Baut pemasangan untuk bagian-bagian yang berputar dibuat ulir berlawanan dengan arah putaran dari bagian yang berputar, sehingga tidak akan terlepas pada saat berputar. Sebagai pemindah tenaga Contoh ulir sebagian pemindah tenaga adalah dongkrak ulir, transportir mesin bubut, berbagai alat pengendali pada mesin-mesin. Batang ulir seperti ini disebut ulir tenaga (power screw). Tegangan geser maksimum pada baut tmax =
F

p 2 . d c .n 4

..............................................................................( 2.30 )

24

Dimana : tmax = Tegangan geser maksimum (N/mm2) F dc r n 9. Reducer Fungsi utama dari reducer adalah sebagai pereduksi putaran input dari motor listrik menjadi putaran yang diinginkan. Sesuai dengan perbandingan reducer yang digunakan pada mesin pemeras singkong ini, misalnya menggunakan reducer 1:20, artinya input reducer dari putaran motor 20 rpm maka poros output reducer menjadi 1 rpm. Adapun bagian dari reducer adalah roda gigi cacing berpasangan dengan roda gigi miring yang akan membentuk sudut 90. = Beban yang diterima (N) = Diameter baut (mm) = Jari-jari baut (mm) = Jumlah baut