Anda di halaman 1dari 108

Luclo C.nonlca. MSc. C�. �THZ.

e E

I

rtiKA

penerbit

ctiJ

ANGKASA

bandung

L u c l o C a n on tc a , M Sc .

Luclo Canontca, MSc. CE.

ETHZ.

£
£
C a n on tc a , M Sc . C E . ETHZ. £ Memahami
C a n on tc a , M Sc . C E . ETHZ. £ Memahami

Memahami

ME

tc a , M Sc . C E . ETHZ. £ Memahami ME NI TEKNIK 2

NI

tc a , M Sc . C E . ETHZ. £ Memahami ME NI TEKNIK 2

TEKNIK 2

Edisi

Ke-1, Tahun 1991

.-

penerbit

cij)

ANGKASA

bandung

JALAN

P.O.

MEADEKA

BOX

NO.

1:!53180.

6

TELP.

BANDUNG

439183

-

444795

INDONESIA

-

1991 .- penerbit cij) ANGKASA bandung JALAN P.O. MEADEKA BOX NO. 1:!53180. 6 TELP. BANDUNG 439183
1991 .- penerbit cij) ANGKASA bandung JALAN P.O. MEADEKA BOX NO. 1:!53180. 6 TELP. BANDUNG 439183

-

O<J".-!itt'"*_ · ;=e

.-

Hak cipta © dilindungi Undang-undang Hak Penerbitan pada Penerbit ANGKASA Anggota IKAPI

Cetakan ke (angka terakhir)

10987654321

1991

ISBN :

979 - 404 - 963 - 8

979 - 404 - 965 - 4

1991 ISBN : 979 - 404 - 963 - 8 979 - 404 - 965 -

Dilarang memperbanyak penerbitan ini dan/atau menyebarkan berupa cetakan, fotokopi, mikrofilm atau dalam bentuk apa pun, tanpa izin tertulis dari penerbit

I BM typesetting, Lay-out, Film, Pencetakan oleh Percetakan Offset ANGKASA Jl. Kiaracondong No. 437

Telp. 304531

Bandung

KATA PENGANTAR Buku ini merupakan hasil pengalaman saya sebagai insinyur konsultan dan pengajar selama 20

KATA PENGANTAR

Buku ini merupakan hasil pengalaman saya sebagai insinyur konsultan dan pengajar selama 20 tahun. Akan tetapi, dorongan untuk menulisnya muncul dari kegiatan saya yang terakhir sebagai tenaga ahli pada Proyek Pendidikan Politeknik di Indonesia. Sasaran proyek ini adalah menyiapkan para profesional yang erat kaitannya dengan praktek pembangunan. Karena alasan-alasan inilah saya telah memilih bidang-bidang yang dibutuhkan oleh para insinyur dalam kegiatannya sehari-hari dan bukan hal-hal yang lebih berhubungan dengan penelitian dan pengembangan ilmu. Penekanan buku ini diletakkan pada pemahaman atas apa yang terjadi dalam praktek dan bagai­ mana kenyataan tersebut dapat disederhanakan oleh seorang insinyur agar ia dapat bekerja dengan cara-cara yang sederhana, aman dan ekonomis. Pendekatan yang menyangkut pemahaman dasar gejala-gejala fisika ini diperlukan juga bagi pekerjaan-pekerjaan yang lebih canggih, yang data input untuk perhi t ungan komputernya harus dipilih oleh pendesain berdasarkan metode-metode yang sederhana, namun cukup teliti. Hasil perhitungan-perhitungan diperlukan juga agar ia dapat meme­ riksa keluaran perhitungan komputer, oleh karena kemungkinan adanya kekurangan tersembunyi pada perangkat lunaknya. Pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas hasil-hasilnya adalah pen­ desain, bukan komputer! Di samping itu,. proses penguasaan pengetahuan baru dalam pe n didikan haruslah berakar oada apa yang telah diketahui oleh para siswa dan pengenalan unsur-unsur baru harus diulang-ulang dengan menghubungkannya dengan masalah dan lambang-lambang yang sederhana la1n oula penting bagi siswa. Karena itulah banyak digunakan gambar untuk menjelaskan teori, sebab gambar mengandung informasi yang hubungannya satu dengan yang lain dapat cepat dipahami. Harapan saya adalah, melalui pemaliaman yang jelas atas suatu gejala, kepercayaan diri para siswa akan meningkat, sehingga ia akan berani menghadapi apa yang terjadi dan dapat memecahkan masalah­ masalahnya secara mandiri dan bertanggung jawab. Saya sangat berterima kasih kepada Ir. Tonny Soewandito, Pemimpin Proyek Pendidikan Politek­ nik yang telah menyetujui naskah ini diterbitkan. Hal ini membuktikan adanya usaha pengembangan di bidang pendidikan teknik yang dijalankan oleh proyek, yang selah1 ditingkatkan dan disempur­ nakan. Saya pun mengucapkan terima kasih atas segala nasihat dan saran-saran yang diberikan, sehingga naskah ini dapat sejalan dengan tujuan proyek tersebut. Selain itu, saya berhutang budi kepada Ir. Drs. Affan Effendi yang telah membantu secara sak­ sama persiapan penyusunan naskah ini, serta atas sumbangannya, sehingga isi buku ini sesuai dengan ukuran-ukuran dan kelaziman yang berlaku saat ini di Indonesia. Karena naskah ini disusun dalam waktu yang singkat dan terbatas, dapat saj a terjadi kekurangan-kekurangan . Saya akan berterima kasih kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya.

kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya. Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland
kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya. Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland

Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland

kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya. Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland

iii

kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya. Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland
kepada para pembaca yang dapat menunjukkannya kepada saya. Ir. Lucio Canonica Via Coremmo 3 6900 Lugano-Switzerland

25

6.5

7.2

DAFTARISI

Halaman

Kata Pengantar : iii
Kata Pengantar
:
iii

I.

Ilmu Kekuatan Bahan

 

.

.

I I 2 7 7 9 11 11 I2 13 I3
I
I
2
7
7
9
11
11
I2
13
I3

I.I

Gaya-gaya dalam dan tegangan-tegangan Batang-batang dengan gaya normal N

Gaya-gaya dalam dan tegangan-tegangan Batang-batang dengan gaya normal N

I.2

1.3

Deformasi-deformasilperubahan bentuk

:

 

.

11.

Titik berat/titik pusat

 

:

2.I

Titik berat suatu penampang

2.2

Titik berat secara umum

Ill.

Tegangan geser

 

3.1 Gaya geser dan tegangan geser

 

:

3.2 Deformas1 akibat geser

 

IV.

Lebih lanjut tentang gaya-gaya dalam dan tegangan

 

4.I

Lenturan sebuah Balok

4.2

Pembahasan secara umum teori lenturan/lengkungan

 

I4

4.3

Momen. Inersia

I5

4.4

Penerapan teori lenturan

I9

4.5

Hubungan antara lx dan Wx dan penerapannya pada penampang tak simetris

 

20

4.6

Bending/lenturan untuk balok I : perhitungan dengan cara pendekatan

 

20

4.7

Memilih bentuk penampahl'> balok

22

V.

Geser dalam Balok

 

23

5.I Distribusi gaya geser pada penampang melintang

 

24

5.I Distribusi gaya geser pada penampang melintang   24

5.2

DistribusiT pada penampang empat persegi panjang DistribusiTuntuk penampang

5.3 26
5.3
26

5.4 Distribusi tegangan gesendalam balok T

5.5 DistribusiTuntuk suatu bentuk penampang

28

29

VI. Torsi/puntir

:

31

6.1

6.2

6.3

6.4

Pengertian Dasar Tegangan geser puntir Tegangan geser puntindi dalam pipa atau panampang "bo x " Tegangan geser puntindalam penampang empat persegi panjang Tegangan geser puntindi dalam baja propil Superposisi dariTgeser danTpuntir

3I

35

35

36

37

38 6.6 VII. Tegangan-tegangan kombinasi 40
38
6.6
VII. Tegangan-tegangan kombinasi
40

7.I

Kombinasi M dan N

Keadaan khusus : pondasi

""'

7.3 Tegangan Tumpu (Bearing Stresses)

,

40

4I

42

V

M dan N K e a d a a n khusus : pondasi ""' 7.3 Tegangan

·

VIII. Deformasi Akibat pembebanan 8 . 1 Deformasi sebuah Balok 8 . 2 Perputaran "{)

VIII. Deformasi Akibat pembebanan

8.1 Deformasi sebuah Balok

8.2 Perputaran"{) dari balok pada suatu tumpuan

 

8.3 Lendutan (y)

dari Balok

 

,

8.4 Deformasi Kontilever

 

8.5

Dua penerapan

 

8.6 Elemen-elemen statis tak tentu

 

IX. Perencanaan Balok

 
 

9.1 Syarat-syarat

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

9.2 Masalah-masalah

 

perencanaan

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

9.3 Perancah untuk pelatBeton

 

X. Tegangan-tegangan Utama

 

••••••••••

0

••••

0.

 

•••

0

••••••••••

•••••••••

0

XI. Batang-batang tekan

: kolom

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

11.1 Tekuk pada

kolom

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

11.2 Pengaruh bentuk kolom terhadap tekuk

 

11.3 Pengaruh keadaan ujung kolom terhadap

11.4 Bracing

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

0

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

11.5 Tekuk dari batang-batang dalam rangka

 

11.6 Tekuk ke samping dari

 

11.7 Tekuk

Eksentris

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

XII. Pelat-pelat

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

12.1 Macam-macam

pelat

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

12.2 Reaksi-reaksi untuk pelat dua arah

   

XIII. Tegangan Geser Spons (punching

shear)

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 
   
 

XIV. Stabilitas

Structure

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

14.1 Stabilitas vertikal

14.2 Stabilitas horisontal

XV. Sistem statis tak tentu : Analisa pendekatan (approximate analysis)

15.1 Pengantar

15.2 Dasar analisa pendekatan

15.3 Balok menerus: analisa pendekatan

15.4 Pembebanan urituk M m ax. dan M m in yang diakibatkan beban hidup P

15.5 Saran-saran untuk praktek

15.6 Pengaruh settlement (penurunan) tumpuan A

15.7 Penyederhanaan analisa metode cross

15.8 Frame : Analisa

15.9 Pergeseran arah lateral dari frame

15.10 Rangka batang statis tak tentu dalam: analisa perkiraan/pendekatan

pendekatan

XVI. Jaringan struktur (sistem struktur)

16.1 Syarat-syarat

16.2 Pemilihan suatu sistim struktur

16.3 Perhitungan- Model sebuah struktur

16.4 Luas penyebaran beban

Model sebuah struktur 16.4 Luas penyebaran beban vi   43 43 44 45 47 48 49

vi

 

43

43

44

45

47

48

49

54

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

54

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

55

 

56

0

0.

0

•••

•••••••

 

62

.

.

.

.

.

.

.

.

63

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

63

 

65

65

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

66

 

67

67

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

69

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

70

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

70

 

71

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

73

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

75

 

75

I

76

77

 

.

77

 

77

79

81

81

82

83

 

.

84

 

88

90

92

92

93

 

·

95

 

97

I. ILMUKEKUATAN BAHAN Kita dapat memerik.sa gaya-gaya dalam N, L dan M yang bekerja pada

I. ILMUKEKUATAN BAHAN

Kita dapat memerik.sa gaya-gaya dalam N, L dan M yang bekerja pada sebuah batang dari suatu struk­ tur jika; Batang mempunyai cukup kekuatan untuk memikul gaya yang bekerja tanpa hancurfpatah.

Batang

struktur sia-sia. Batang mempunyai cukup stabilitas, ini berarti bahwa batang tidak runtuh tiba-tiba akibat gaya yang bekerja pada batang tersebut.

membuat

akibat gaya yang bekerja pada batang tersebut. membuat mempunyai cukup kekakuan, sehingga deformasi/perubahan

mempunyai

cukup

kekakuan,

sehingga deformasi/perubahan

bentuk

tidak

Pemeriksaan di atas dapat diselesaikan dengan ilmu Kekuatan Bahan.

1.1. Gaya-gaya dalam dan tegangan-tegangan

Jika ingin memeriksa bahwa batang mempunyai cukup kekuatan, kita harus membandingkan gaya­ gaya d a lam yang ada dalam batang dengan ketahanan/kekuatan bahan dari batang. Kita ingin menggambarkan ketahanan/kekuatan bahan dengan suatu pengertian yang tak tergantung banyaknya bahan. Untuk itu kita memakai konsep tegangan.

tegangan = intensitas gaya-ga ya dalam tiap satuan luas.

Tegangan didapat dengan mendistribusikan gaya pada penampang elemen : intensitas tiap satuan luasnya adalah tegangan.

elemen : intensitas tiap satuan luasnya adalah tegangan. 1.2. Batang-batang dengan gaya normal N. Kita perhatikan

1.2. Batang-batang dengan gaya normal N.

Kita perhatikan sebuah batang yang dibebani secara axial oleh gaya normal N. Gaya normal N akan didistribusikan pada seluruh penampang batang. Penyebaran/pendistribusian gaya normal tiap satuan luas disebut tegangan normal a N.

batang dibebani: ba ta ng dibebani

:

Contoh:

'� - x . ga ya da lam pa da pe nampa ng x-x. Batang
'�
-
x .
ga ya da lam
pa da pe nampa ng
x-x.
Batang tarik dengan
N =
T =
56 KN =
A =
56000
Tegangan tariknya
a t
=
=
400
Tegangan pada penampang x-x � I UN = N = gaya normal A =
Tegangan pada
penampang x-x
I UN =
N = gaya normal
A =

aN= tegangan normal

luas penampang

56000 N.

20 X 20 mm2 = 400 mm2

140 N/mm2•

1

Jika batang tarik dibuat dari baja St37 , kita dapat mengetahui dalam peraturan bahwa kita

Jika batang tarik dibuat dari baja St37 , kita dapat mengetahui dalam peraturan bahwa kita diijinkan untuk mengambil tegangannya 160 N/mm2 • Dad sini dapat kita katakan bahwa batang mempunyai kekuatan yang cukup untuk memikul beban tanpa patah.

1.3. Deformasi-deformasi/perubahan bentuk

sifat-sifat

bahan. Beban - sifat-sifat deformasi bahan.

Sebuah gaya dikerjakan pada sebuah batang menyebabkan batang tersebut berubah bentuk (meng­ alami deformasi).

Pertama, deformasi

beban kita hilangkan, maka batang akan kembali pada bentuk semula (perilakunya sama dengan sebuah P perfpegas): kita sebut daerah ini dengan daerah elastis dan deformasinya ialah deformasi elastis.

yang

Jika

Untuk

mengetahui deformasi-deformasi pada batang-batang di atas, kita lihat :beberapa

sebanding

dengan beban

ditingkatkan dalam batas-batas tertentu.

bersifat elastis

A

Bila beban ditingkatkan maka deformasi pada banyak bahan tidak meningkat secara proporsional/sebanding. Pada daerah ini struktur dalam dari bahan akan berubah bentuk secara tetapjpermanen akibat gaya-gaya yang bekerja. Jika beban kita hilangkan, benda tidak dapat kembali pada bentuk semula dan akan terjaai deformasi permanen. Da erah ini disebut daerah plastis dan deformasinya

adalah deformasi plastis;

p

sifat elastis dan plastis

.--;

I

I

I

I

deformasi plastis; p sifat elastis dan plastis .--; I I I I A plastis Dan kita

A plastis

Dan kita dapat melihat bentuk hubungan Beban - Deformasi dalam daerah elastis adalah sederhana. Secara umum perilaku/sifat bahan-bahan dalam daerah ijin gaya-gaya adalah "elastis' ill.tau dapat dianggap dalam sifat elastis. Inilah mengapa kita ingin mengetahui perilaku dan sifat-sifat ini lebih jelas.

Sifatjperilaku elastis

dan sifat-sifat ini lebih jelas. Sifatjperilaku elastis Telah kita katakan bahwa sifatjperilaku sebuah bahan adalah

Telah kita katakan bahwa sifatjperilaku sebuah bahan adalah elastis jika suatu bentuk hubungan lineair (lurus) di antara gaya-gaya dalam dan deformasi batang dan deformasinya hilang jika beban dihilangkan.

deformasi batang dan deformasinya hilang jika beban d i h i l a n g k
deformasi
deformasi

contoh: sifat elastis

Dalam rangka membebaskan dari dimensi<limensi elemen-elemen dan menyatakan perilaku/sifat-sifat bahan sesungguhnya, kita dapat menyatakan:

Gaya Deformasi
Gaya
Deformasi
bahan sesungguhnya, kita dapat menyatakan: Gaya Deformasi sebagai gaya tiap satuan luas = tegangan = a

sebagai gaya tiap satuan luas = tegangan = a =

sebagai deformasi tiap satuan panjang (atau deformasi spesifik)

= regangan

=

E =

* Dari dua buah gambar di samping dapat

kita lihat, jika gaya total K berbeda,

maka gaya tiap satuan luas

dan bahan akan berperilaku sama dalam dua kejadian di atas, tidak tergantung dari luas elemen benda.

10 10 KN/m2

K
K

A=

4 m2

A=

1 m2

K =

40 KN

K =

10 KN

a = 10 KN/m2a = 10 KN/m2

a tetap sama,

* Dari dua buah gambar di samping jika kita ambil sebuah batang dengan panjang dua kali panjang batang satunya, maka deformasi totalnya akan dua kali deformasi batang satunya. Tetapi deformasi tiap satuan panjang E (regangan) akan sama pula dan bahan akan berperilaku sama dalam dua peristiwa di atas, tidak tergantung dari panjang elemen.

A£ o) I T,OKN/m2 Perp anja nga n sp esifik A£ A£ = - 1
o)
I
T,OKN/m2
Perp anja nga n sp esifik
= - 1
= - 1
a
E
E
t
E.E1
a t
a
tg C¥
E E

Ca tatan:

a dan E sama, tetapi gaya total K dan berbeda .

Panjang total = 1 Perpanjangan total =

Panjang total = 2 Perpanjangan total = 2 A£

Da pat kita katakan sekarang, bahwa ada bentuk hubungan lineair di antara tegangan-tegangan dan regangan dari suatu batang.

a dan E sebanding satu sama lain melalui faktor E.

a= E .E
a= E .E

Hukum Hook

Ini adalah hukum dasar elastisitas. E disebut modulus elastisitas dan merupakan sifat tiap-tiap bahan. jika bahannya berbeda, maka akan di­ dapatkan sebuah perilaku elastis, dengan modulus elastisitas E yang berbeda pula.

jika bahannya berbeda, maka akan di­ dapatkan sebuah perilaku elastis, dengan modulus elastisitas E yang berbeda

Deformasi Elastis : contoh

Kita ingin menghitung deformasi dua buah batang yang dibuat dari baja.

* Sifat/perilaku baja dilukiskan dengan

E=

2 ,1 .105 N/mm2

* 1uas penampang baja A= 50 mm2

* Gaya tarik T= 5250 N.

* Panjang 11 =

1000 mm.

12 = 2000 mm.

* Tegangan pada tiap-tiap batang adalah sama.

a

=

T

5250

50

105 N/mm2

a

T=5250

Lt= l OOO

0

a

a

T=5250

* Tegangan ini bekerja pada setiap tempat batang. Deformasi elastis akan sebanding dengan tegangan yang ada di dalam batang melalui faktor E .

E =

a 105

E =

2,1 .105 =

55 . 10-5

deformasi spesifik atau regangan.

* Maka tiap-tiap bagian batang akan mengalami deformasi tiap satuan panjang dari E= 55. 10-5 kali.

Jika £ 0

=

1 mm,

maka deformasinya

l.E =

55 . 1(J5

mm.

Q 0

1000

mm, maka deformasinya

1000 .E

55.1(J 2 mm

= 0,55 mm.

£0

2000 mm,

maka deformasinya 2000 E =

1 10. l(f2 mm = 1,10 mm.

maka deformasinya 2000 E = 1 10. l(f2 mm = 1,10 mm. Deformasi total secara umum

Deformasi total secara umum dinyatakan dengan :

I

�Q= E .Q 0

Ca tatan :

I

yang

mana

struktur .

diijinkan

untuk

dipertimbangkan jika

Bahwa untuk tegangan yang sama :

deformasi

tidak membahayakar

deformasi adalah lebih besar untuk elemen yang lebih panjang. Regangan E adalah sama untuk keduanya karena tegangan dan sifat/perilaku bahan ditunjukkan dengan E yang sama pula.

Jika kita gabungkan tiga rumus terakhir kita dapat mengalami rumus langsung .

[

�Q=

E

X&_

A.E

dapat dipercaya untuk gaya tarik maupun tekan.

Pe nerapan:

Jika sebuah beban dikerjakan di atas dua kolom kayu dan satu kolom baja, kayu akan lebih mudah mengalami deformasi dibandingkan dengan baja. Karena deformasinya harus sama maka kolom baja lebih banyak menerirna beban.

bj

bj halok beton M·t kayu baja kayu r--- r--- kayu : A = O mm baja
halok beton M·t kayu baja kayu r--- r--- kayu : A = O mm baja
halok beton
M·t
kayu
baja
kayu
r---
r---
kayu :
A
=
O mm
baja :
A =
I
\
'(' pondasi beton
P.Q o
.6.Q =
A.E
.6.Q kayu
=
.6.Q Baja
Pbaja ----%"
�· E bj
dan
+
P.
2 Pk ayu
Pbaja
1.104
1
=
P kay u
Pb aja
Pbaja·
2 1.104
21
1
2P kay u
+ Pbaja
p
-+
2(
Pbaja ) + Pbaja
p
30
KN
21
21
21
p
=
23 . 30
27 ,39 KN.
23
1
1
Pbaja
27 ,39
1,30 K N.
21
21 .

4000 mm2 , EK =

1 .104 N/mm2

4000 mm2 ,

E bj = 21 .104 Nfmm2

E k

-

E

· lbaja

* Batang yang lebih kaku (baja) akan menerima lebih banyak beban.

yang lebih kaku (baja) akan menerima lebih banyak beban. 1Je{orn1asi la teral J i k a

1Je{orn1asi la teral

Jika suatu batang mengalami deformasi sepanjang sumbunya maka akan ada perubahan dimensi dalam arah lateral.

disederhanakan menjadi: angka poisson/ konstanta poisson 1'} = - � E x Perbandingan antara perubahan
disederhanakan
menjadi:
angka poisson/
konstanta poisson
1'}
=
- �
E
x
Perbandingan antara perubahan arah lateral dan longitudinal (sepanjang garis sumbunya) adalah
merupakan karakteristik tiap-tiap bahan dan disebut angka Poisson atau konstanta Poisson 1'J.

Untuk

Untuk beton

baja

1Je{orn1asi thern1al

=

=

0 ,3

0.15

Perubahan temperatur dalam sebuah batang dapat menyebabkan deformasi pada batang tersebut.

Perbandingan antara deformasi spesifik E t dan perubahan temperatur AT adalah faktor at disebut koefisien muai panjang yang mana ini adalah karakteristik tiap-tiap bahan.

Et

=

at . AT

untuk.baja

untuk beton

atau

A Q t =

Q 0 ·at· AT

at

at

1,2. 10"5

=

1. 1<Ts

}

hampir sama.

1.4. Tegangan ijin;

Untuk bahan-bahan konstruksi yang berbeda dimungkinkan menentukan perilaku bahan -di bawah pembebanan- dengan percobaari, dan digambarkan dalam diagram a - E.

sebuah alatfsarana

Diagram hubungan

a - E

a

ba ta s tegangan pata h baja

�-----�

bata s tega ngan pa ta h beton

ba ta s teganga n pa ta h ka yu

Tegangan yang diijinkan didapat dengan membagi tegangan patah dengan suatu faktor keamanan.

Tega nga n ij in

a

· ·

lJ

faktor keamanan

a

a=OJ.j

,

,

/_,

/

I

, - - -

ba ta s pa ta h

ba ta s ij in

E

a

=

ij a ke =

tegangan ij in

tegangan patah

Karena perilaku bahan dalam diagram a-€ tidak lurus (lineair) maka perilaku bahan disederhanakan

menjadi sebuah garis luru� (lineair), sehingga modulus elastisitas dapat ditentukan dengan pendekatan

tersebut :

E= tga.

Peraturan-peraturan untuk bahan yang berbeda (baja, beton, kayu) memberikan harga-harga tegangan ij in dan modulus elastisitasnya untuk keperluan perhitungan.

Pemeriksaan kekuatan sebuah batang

Jika tegangan yang timbul dalam sebuah batang lebih kecil dibanding tegangan.ijin bahan yang diberi­ kan
Jika tegangan yang timbul dalam sebuah batang lebih kecil dibanding tegangan.ijin bahan yang diberi­
kan dalam peraturan, maka hatang tersebut aman (kuat).
a
a ij

6

kecil dibanding tegangan.ijin bahan yang diberi­ kan dalam peraturan, maka hatang tersebut aman (kuat). a �

11.

TITIKBERAT/TITIKPUSAT

2 .1.

Sampai sekarang kita telah membicarakan batang-batang yang dibebani secara axial. Untuk batang-batang ini distribusi tegangannya meratajseragam pada penampang tersebut.

Titikberat suatu penampang

aA= 1 Distribusi tegangan pada batang yang dibebani secara axial. * gaya tiap satuan luas:
aA= 1
Distribusi tegangan pada batang yang dibebani secara axial.
*
gaya
tiap satuan luas: a ( a A = 1).
*
gaya total P yang bekerja pada batang harus : P = .8 a.
*
luas total A =
8.
Jika j e�s untuk me nentukan po sisi P kita harus menghitung resultan ga ya-gaya tiap satuan luas.
y
t
Peny elesaian secara grafis
dengan
polygon
gaya
dan
segi
banyak
batang
dalam
dua
arah
xdany
0
3a
a
a
3a

atau

Pe nyelesa ian cara

Analitis

4a .0,5 + 2a.1 ,5 + 2a.2,5

4.0 ,5

+ 2.1,5

+

2 .2 ,5

Xc = 8a 3a.0,15 + 1a.1,5 + 1a.2,5 + 3a.3,5 Ye = 8a 3.0,5 +
Xc
=
8a
3a.0,15
+ 1a.1,5
+ 1a.2,5
+ 3a.3,5
Ye
=
8a
3.0,5
+ 1.1,5
+
1 .2,5
+ 3.3,5
=
=
8

2,0

8

Ye = 8a 3.0,5 + 1.1,5 + 1 .2,5 + 3.3,5 = = 8 2,0 8

1 ,25

gaya P yang bekerja pada TB (titik berat) adalah gaya aX.ial. Titik TB disebut titik

gaya P yang bekerja pada TB (titik berat) adalah gaya aX.ial. Titik TB disebut titik berat/titik pusat penampang.

gaya P yang bekerja pada TB (titik berat) adalah gaya aX.ial. Titik TB disebut titik berat/titik

7

Mengapa kita sebut "TB" sebagai titik berat penampang ? Karena gaya-gaya tiap satuan luas a dapat juga disebabkan berat sendiri G dan tidak oieh gaya P. Dalam hal ini letak TB menjadi pusat gaya dari gaya berat. Dari ilmu Fisika diperoleh bahwa titik berat dari potongan tipis sebuah benda dapat ditentukan dengan menggantung benda tersebut dengan seutas benang dan memberi tanda pada jalur yang dilewati benang. Hal di atas dilakukan dalam situasi yang berbeda dalam keadaan seimbang.

t I
t
I

I vertikal

I 1

I vertikal

I

2

Perpotongan garis-garis vertikal (garis kerja G) memberi­ kan titik berat/titik pusat.

Un tuk potonga n yang sederhana dapat kita tentukan sebagai berikut :

h b a Jf �------- -- - - �:;::� b 2a +b 3(a + b)
h
b
a
Jf
�-------
--
- -
�:;::�
b
2a +b
3(a + b)
.h

Letak titik berat dalam arah vertikal.

%h EB %h f
%h
EB
%h
f
2.2. Titik berat secara umum. J i k a a m b i l a

2.2. Titik berat secara umum.

Jika ambil a = 1 kita dapat melihat bahwa contoh terdahulu dapat pula dijabarkan sebagai berikut.

menunjukkan su mbu a LlA1 .x1 + LlA2. x2 + AA3 .x3 I:LlA.x s b
menunjukkan
su mbu a
LlA1 .x1 + LlA2. x2 + AA3 .x3
I:LlA.x
s b
X e
=
ilA1 + AA2 + LlA3
A
A
ilA1 Yt + LlA2·Y 2 + ilA3 · · YJ
I: .!l A. y
S a
=
=
ilA1 + LlA2 + ilA3
A
A
menunjukkan su mbu b
Ye

S a dan S b

disebut statis momen terhadap sumbu a dan b.

Kesimp ulan.

Jika kita ingin menghitung letak titik berat (T. B) untuk bentuk-bentuk yang sukar, hendaknya bentuk tersebut kita bagi menjadi bagian-bagian sederhana yang telah diketahui luasnya AA dan letak titik beratnya terhadap dua sumbu yang dipilih bekas sebagai referensi.

I:ilA.x X = e A Rumus-rumus I:ilA.y S a ---- = = Ye A A
I:ilA.x
X
=
e
A
Rumus-rumus
I:ilA.y
S a
----
=
=
Ye
A
A
Rumus di atas akan memberikan letak titik berat.
lb
Co ntoh :
elemen
AA
y
.!l S a
X
AS b
1
20
11
220
0
0
4,5.
2
9
40.5
-3
- 13,5
4,5
3
9
40. 5
+3
+13,5
4
40
5
200
0
0
-
7
A =
69
S a
501
s b
0
j_�
;501
7,26
S
-
a
X
A
69
s
b
,0
y
0
I
x
>
A
69
jb
9
Statis momen dan titik berat. Statis momen S x = � AA.y terhadap titik berat

Statis momen dan titik berat.

Statis momen S x = AA.y terhadap titik berat T.B. sebuah potongan adalah nol.

Contoh:

sumbu x

-·-·l-·

-Y

AA.y terhadap titik berat T.B. sebuah potongan adalah nol. Contoh: sumbu x -·-·l-· -Y A 2.

A

2. y +

A

2(-y) = 0

AA.y terhadap titik berat T.B. sebuah potongan adalah nol. Contoh: sumbu x -·-·l-· -Y A 2.

Ill.

3.1. Gaya geser dan Tegangan geser

Ill. 3.1. Gaya geser dan Tegangan geser TEGANGAN GE SER Pada umumnya jika sebuah gaya bekerja

TEGANGAN GE SER

Pada umumnya jika sebuah gaya bekerja memotongjmenggunting sebuah permukaan, kita sebut ia

gaya geser L.

L

gaya geser Secara nyata sebuah gaya geser adalah resultan gaya-gaya kecil tiap satuan luas yang
gaya geser
Secara nyata sebuah gaya geser adalah resultan
gaya-gaya kecil tiap satuan luas yang disebut
tegangan g eserr (tau)
L
= T
luas
Tegangan geser.
Co ntoh :
Ba ut
H
dalam pelat menghasilkan
H = L
L
pada baut.
L
L
=
A
Co ntoh :
sambungan.
"
1
H =
L
= T . A
= T. b
.

Mekanika Teknik 2- 2

11

3.2 .

Deformasi akibat geser

Jika kita mengerjakan sebuah gaya H pada sebuah elemen yang sangat pendek < b ), maka elemen akan mengalami deformasi.

H= L=t. A
H= L=t. A
< b ), maka elemen akan mengalami deformasi. H= L=t. A G a y a H

Gaya H diimbangi oleh gaya-gaya L dalam elemen. Gaya L bekerja merata pada luasan : L =T.A.

Sudut deformasi 'Y (gamma) adalah sebanding denganT. Faktor perbandingan seharga adalah �.

sebanding denganT. Faktor perbandingan seharga adalah �. ( sejalan dengan a = E, E) G disebut

( sejalan dengan a = E, E)

G disebut modulus geser dan ia adalah karakteristik dari bahan yang dipakai.

Sebagian besar G 0,4E

Catatan:

bahan yang dipakai. Sebagian besar G � 0,4E Catatan: Jika elemen panjangnya lebih besar dua kali

Jika elemen panjangnya lebih besar dua kali tingginya (£ > 2h) maka kita berbicara tentang "beam" (balok). Dalam hal ini berlaku prinsip elastisitas. Jika Q <; 2h maka dibutuhkan perlakuan khusus.

12

"beam" (balok). Dalam hal ini berlaku prinsip elastisitas. Jika Q <; 2h maka dibutuhkan perlakuan khusus.
IV. LEBIH LANJUTTENTANGGAY A-GAY A DALAM DAN TEGANGAN 4.1. Lenturan sebuah Balok Jika suatu batang

IV. LEBIH LANJUTTENTANGGAY A-GAY A

DALAM DAN TEGANGAN

4.1. Lenturan sebuah Balok

Jika suatu batang tidak dibebani gaya aksial, seperti dalam hal ini sebuah balok dibebani oleh sebuah gaya melintang, maka balok akan melengkungjmelentur.

gaya melintang, maka balok akan melengkungjmelentur. Co ntoh : b I. '( 1 jo.sP b) c.)
Co ntoh : b I. '( 1 jo.sP b) c.) -€ -(j - - +�
Co ntoh :
b
I.
'(
1
jo.sP
b)
c.)
-€
-(j
-
-
+� .e
+<r
sumbu
tegangan
acuan

a=

E.E

Penampang

mh

.e +<r sumbu tegangan acuan a = E.E Penampang mh Deformasi diperlihatkan untuk sebuah balok yang

Deformasi diperlihatkan untuk sebuah balok yang dibebani.

lebih baik kita perhatikan sebuah elemen balok dengan panjang semula £0• Untuk elemen ini didapatkan :

serat atas bertambah pendek dengan

serat bawah bertambah panjang dengan AQ.

Elemen balok :

deformasi diperlihatkan.

panjang dengan AQ. Elemen balok : deformasi diperlihatkan. * Kita anggap (Hipotesa Bernoulli) bahwa deformasi disebar

* Kita anggap (Hipotesa Bernoulli) bahwa deformasi disebar merata pada tinggi h, dari -A£ pada serat atas sampai +AQ pada serat bawah, dan nol pada ketinggian titik berat (T.B. ), pada ketinggian ini disebut garis ne tra l/sum bu netral dari deoformasi.

* Kita anggap bahwa perilaku elastis bahan sesuai dengan hukum Hooke : a = E.E.

Pada

a).

Kita gambarkan deformasi berdasar pada sumbu vertikal yang dipilih.

b). Kita ubah deformasi menjadi regangan:

c).

Kita gunakan hukum Hooke a= E.E.

menjadi regangan: c). Kita gunakan hukum Hooke a= E.E. Dari sini kita dapat menentukan pembagian tega

Dari sini kita dapat menentukan pembagian

tega nga n pada penampang

balok .

Kita

dapatkan

.tegangan

tekan

pada

serat

atas

dan

tegangan

tarik

pada

serat bawah.

AQ

E =
E
=

Tanda:

e untuk tekan

0 untuk tarik

Tegangan lenturflengkung yang bekerja pada penampang melintang adalah seharga dengan

gaya

yang bekerja dengan

lengan gayaZ.

kopel

D

dan

T

Kopel ini membentuk momen yang dibutuh­ kan untuk keseimbangan Freebody.

(Catatan: perilakunya sama dengan rangka

batang, dalam mana momen dilengkapi oleh

sebuah gaya kopel).

h Tegangan Kopel Momen :0
h
Tegangan
Kopel
Momen
:0

Freebody

Gaya-gaya D dan T dibentuk oleh tegangan total a yang bekerja pada penampang melin­ tang D sama dengan volume tegangan tekan dan T sama dengan volume tegangan tarik.

D

T

Z

tekan dan T sama dengan volume tegangan tarik. D T Z ; h (lihat gambar). D

; h (lihat gambar).

D +

T

volume tegangan tarik. D T Z ; h (lihat gambar). D + T 0 (seimbang) ID

0

(seimbang)

ID

�· b �
�· b
+a
+a

Z ;

Momen

adalah jarak antara titik berat volume tegangan tekan dan volume tegangan tai'ik.

dalam M

menjadi:

tekan dan volume tegangan tai'ik. dalam M menjadi: I M D = gaya = D .
tekan dan volume tegangan tai'ik. dalam M menjadi: I M D = gaya = D .
I M D = gaya = D . Z=T.Z T 1 h 2 bh2 M=
I M
D
= gaya
= D . Z=T.Z
T
1
h
2
bh2
M= 2 a ( 2 .b). 3 h=a .
6
6 bh2
I M = a. Wx I

tekan

= gaya tarik

Untuk penampang segi empat :

Jika Wx

Wx tergantung dari bentuk penampang melintang dan disebut "Modulus Ketahanan" atau "Momen Tahanan"

Karenanya dapat juga kita tulis :

4.2. Pembahasan secara umum teori lenturan/lengkungan

Kita ambil sebatang balok yang melentur dengan penampang melintang sembarang dan kita amati deformasi pada elemennya. Hipotesa Bernoulli dan Hukum Hook tetap dipakai. Jika titik berat penampang tidak di tengah-tengah tinggi balok, deformasi pada serat atas dan serat bawah akan berbeda (menurut hipotesa Bernoulli). Sebagaimana deformasi, menurut hukum Hook tegangan pada serat atas akan berbeda dengan tegangan pada serat bawah.

14

Sebagaimana deformasi, menurut hukum Hook tegangan pada serat atas akan berbeda dengan tegangan pada serat bawah.

Untuk sebuah elemen dengan panjang £0 akan kita dapatkan :

a A EA Penampang Deformasi Tegangan Gaya melintang
a A
EA
Penampang
Deformasi
Tegangan
Gaya
melintang

X

{,-·

y

a=E. E

�K=a. �A

Momen

AM=�K.y

Pad a elemen kecil tak terhingga AA bekerja sebuah tegangan a. Seperti a . AA=AK dapat kita kata­ kan bahwa pada tiap elemen bekerja gaya AK. Gaya ini menyebabkan momen AM=�K.y mengacu pada garis netral NA.

B YB . y o n y . � A
B
YB
. y
o n
y .
� A

VD

Tegangan o dapat dinyatakan sebagai: o=g

Sehingga A K

= a .

� A

=

a a

Dan AM=AK.y=--

YB

. y2 �A

Sebagaimana tiap-tiap elemen mepghasilkan sebuah AM kita dapat m�njumlahkan semua elemen­ elemen dan didapatkan:

M= a a

"' YB

. Y2 �A

YB OB

karena - konstan, kita menulis:

Jika

Momen inersia penampang terhadap sumbu x melalui T.B. penampang.

Jika M diketahui dari statika balok, kita dapat menghitung tegangan dalam balok

M

a = �·Y

0 M=- . lx y Ix Wx= I y
0
M=- .
lx
y
Ix
Wx=
I
y

Catatan:

Jika kita bandingkan rumus umum

dengan

rumus M=a . Wx

kita dapat melihat ada

bentuk hubungan :

di antara Modulus Ketahanan/Momen Tahanan dengan

momen inersia.

4.3. Momen lnersia

Untuk penampang empat persegi.panjang, kita dapatkan:

M=a.

b 6 h2
b 6 h2
penampang empat persegi.panjang, kita dapatkan: M=a. b 6 h2 a = tegangan pada serat paling atas

a = tegangan pada serat paling atas atau serat paling bawab.

a --- -.� h 2 TB h - !-·-·-· r-:--· • h 2 .J -.1'-
a
---
-.�
h
2
TB
h
- !-·-·-· r-:--·
h
2
.J
-.1'-
1

Dan dari rumus umum,

k:ita dapatkan :

untuk

y

 

h

=

-

2

0 M = h/2 .Ix b . h2 lx 0 - 0 • 6 -
0
M =
h/2
.Ix
b . h2
lx
0
-
0
6 -
=
.
h/2

Kedua rumus di atas menggambarkan keadaan yang sama :

h/2 Kedua rumus di atas menggambarkan keadaan yang sama : '* Momen inersia untuk penampang empat

'* Momen inersia untuk penampang empat persegi panjang.

Momen melintang: lnersia menggambarkan ketahanan bahanterhadap lenturan dihubungkan dengan penampang

bahanterhadap lenturan dihubungkan dengan penampang terhadap I kecil berarti lentur ketahanan kecil I terhadap

terhadap I kecil berarti lentur ketahanan kecil

I terhadap besar, berarti lentur ketahanan besar

Momen Inersia terhadap sebuah garis sembarang

Ketentuan-ketentuan : G X ASa = AA.y · - · -· - ·-1- · ·-·
Ketentuan-ketentuan :
G
X
ASa =
AA.y
· - · -· -
·-1- ·
·-· �
y
A Ia =
AA.r
y 'YG
a
Y = Yo -"'y
-2 Y
-2
-
2
=
YG - 2 Yo·Y + Y

= y{; :E AA - 2 Yo :E AA.y + :E AA.y2

Ala = AA.y{;- 2.y0.AA.y + AA.y2

la

'-:v-' A

Sx = 0

lx

Sx = 0 terhadap titik.berat, persamaan di atas menjadi:

la

lx

=

A.y{; + lx

la- A.y fi

x S x = 0 terhadap titik.berat, persamaan di atas menjadi: l a lx = A.y{;

t !

Ini berarti bahwa I minimum sebuah penampang adalah I terhadap titik beratnya sendiri.

lmi n

=

I x

Momen Inersia untuk penampang gabungan

Jika dahulu sebuah untuk penampang tiap-tiap bagian dibentuk kemudian dari beberapa menjumlahkan bagian, hasilnya. kita dapat menggunakan rumus-rumus ter­

a a
a
a

a

----- - -- -- ---r

,-

I

I

�----

I

I

_,

a

x--�-4�--�;---x

a

------ ��������

h /6

-

c

* Momen inersia untuk segitiga

Momen tengah Ix inersia 1 untuk Ix untuk empat sebuah persegi segitiga empat ditambah sama dengan ·akibat se­ perpindahan tempat terhadap sumbu yang dipilih dengan

1

-I

2

x l

h

D-A� (-)2

6

* Momen inersia untuk sebuah lingkaran

Suatu sangkar pendekatan dengan luas yang yang sama. baik telah didapat, dengan mengganti lingkaran dengan sebuah bujur

nr>2 }

lingkaran

bujur sangkar

A

=

A - ;

H� 0.8$ D

* Penampang dengan lobang

¥

0

b

j.

Momen inersia:

Dengan:

lx 1

lx2

A o

A o

bh3

12

D4

20

b.h

rr D2

4

l x 1 lx2 A o A o bh3 12 D4 20 b.h rr D2 4

lobang dianggap luas negatip

luas :

letak titik berat (T.B.)

A

=

bh

- 1,4 rr D2

S

a

h

(b.h) 2 - (rrD 2 / 4

1

y

= -

A

h

) (2- e)

Perhitungan momen inersia penampang melintang

Untuk penampang kompo sit, hasil perhitungan biasanya dibuatkan dalam bentuk tabel.

Co ntoh :

30 c m

a

1

-·-

y

r�.

El .i

AAi

-

Y

i

AA i Y i

lxi

AA iYt

60

29

50460

2 CD

26

2

1740 20

26

15

390

1 465

5850

® 60

1

60

60 20

146

cm2

56370

cm4

2190 1505

cm3

cm4

Titik berat :

yc

=

2190

146

15 cm

la

lx

=

=

la

lxi

-

+

Ay

AA :yr

i

=

-= 57875

1505

+

56370

-

146.15

2

=

57875 cm4.

25025 cm4

.

Catatan untuk penampang I

Dalam rumus umum :

Catatan untuk penampang I Dalam rumus umum : Kita lihat bahwa Hens/ sa yap dengan �

Kita lihat bahwa Hens/ sayap dengan A yang besar dan y yang besar pula memberikan sumbangan terbesar kepada Ix.

Suatu harga pendekatan untuk Ix kemudian adalah :

Dalam contoh di atas :

Ix

=

2 .60.14 2

= 23520 cm4 =(

94% dari Ix teoritis).

4.4. Penerapan teori lenturan Contoh lenturan den gan penampang tak sim etr is - -
4.4.
Penerapan teori lenturan
Contoh lenturan den gan penampang tak sim etr is
-
-
E1 i
2
�A i
Ix i
Yi
Yi
�A iYi
�AjY 2
20
13
169
260
6,67
3380
24
6
36
144
288
864
44
404
294,67
42 44
k
cm2
cm 3
cm4
cm4
404
T itik berat
y
9,2 cm
44
Ix
=
294,67 + 4244 - 44(9,2) 2 = 814,5 cm4•
Untuk momen yang bekerja
M= 0 ,10 tm
=
10 .000 kgcm.
M
a
=
-
• y
, y
diukur dari titik berat ke bawah.
1
x
10000
( - 4 8) =
--.JJ 9 kgjcm 2 ( tekan ).
Untuk
.
y
4,8 cm
'
814,5
10000
(tarik).
=
113 kgfcm 2
(+9 2)
y
=
9,2
cm
as = .
--+-
'
814,5
garis
netral
-
a
B
*
Tegangan dalam balok T
Tegangan dalam balok T
(penampang v ertikal melalui T.B.)

1

4.5. Hubungan antara ll[ dan W x dan penerapannya pada penampang tak simetris.

Telah ada hubungan kita ketahui sebagai bahwa berikut di : antara modulus penampang/momen tahanan Wx dan roomen inersia Ix

w

X

=-

y

penampang/momen tahanan Wx dan roomen inersia Ix w X =- y Ix O"s Pada berat. penampang

Ix

O"s

Pada berat. penampang Sehingga kita tak mempunyai simetris, serat-serat dua macam ekstrim Wx. ditempatkan dengan jarak y yang berbeda dari titik

Penampang

Momen

Tegangan

w B = + X M M I dan a = A w A w
w B
= +
X
M
M
I
dan
a
=
A w A
w B
X
X

Tegangan-tegangan yang disebabkan M dapat dinyatakan :

X X Tegangan-tegangan yang disebabkan M dapat dinyatakan : 4.6. Bendirlg/lenturan untuk balok I : perhitungan

4.6. Bendirlg/lenturan untuk balok I : perhitungan dengan cara pendekatan.

Sering Kita Kita perhatikan ingin kali uraikan memakai sebuah di baja sini penampang kemungkinan profil berbentuk balok menyederhanakan I I dengan momen perhitungan. dalam M.

a n m o m e n perhitungan. d a l a m M . M

M

Tegangan dapat dihitung dengan rumus :

a = Ix . � . Tegangan a
a
=
Ix . � .
Tegangan a

'

l

' l Kita badan lihat yang bahwa sempit/tipis. tegangan terbesar pada flensfsayap yang lebar, dan tegangannya
' l Kita badan lihat yang bahwa sempit/tipis. tegangan terbesar pada flensfsayap yang lebar, dan tegangannya

Kita badan lihat yang bahwa sempit/tipis. tegangan terbesar pada flensfsayap yang lebar, dan tegangannya kecil pada web/

Untuk perhitungan secara

""'

·

dari Gaya-gaya D dan D T akan dan T membentuk akan membentuk momen momen dengan lengan M=D.Z momen = T.Z, Z1, sedang M1 = gaya D1Z1=T1.Z1• D1 dan T1 yang lebih kecil M1 lebih kecil dibanding M, karenanya diabaikan.

endekatan : kita anggap bahwa : Momen dalam M bekerja pada penam­

pang (lengan kita dapat melintang momen menentukan Z) balok . Dua sama a b�1ah untuk dengan gaya flens. ini momen kenyataannya dibentuk oleh didistribusikan gaya-gaya D merata dan T pada yang luas bekerja flens, pada sehingga flens

Contoh: Penampang: 2 l --·--· = 1 46 cm2• Anens = 60 cm2 • lx
Contoh:
Penampang:
2
l
--·--·
= 1 46 cm2•
Anens = 60 cm2 •
lx = 25025 cm4•
A
J
26
---·- r--
1
2
I
J
30 cm
k
"'
'I
jika balok pada tengah bentang momennya M=27 +m=2700 000 kgcm.
Perhitungan secara eksak
-1618 kg/cm 2
- -
M
. y
dengan y
cm.
1
= +15
a
2700000
k
2
a =
15
1618
I
+
= +
g cm
·
25025
+1618
kg/cm 2
Perhitungan secara pendekatan
Z = 30 - 2 = 28 cm.
Anens = 60 cm2
M
-
D=T=
2700000
96428,6 kg
z-
28
= +
:�
8
6
-
=
kgjcm2
(perbedaannya sectikit dibanding basil secara eksak).
a
+ 1607
Tegangan secara pendekatan :
-1607 kg/cm 2
+1607 kg/cm 2

Keuntungan cara ini ialah kita tidak membutuhkan lx.

22

4.7. Memilih bentuk penampang balok.

Kita pada jarak akan sejauh mendapat yang penampang dimungkinkan yang dari paling sumbu efisien netral jika N.A. kita menempatkan bagian terbesar bahan Dalam men yang kenyataan besar. kita akan mendapatkan gaya-gaya D dan T yang besar, bekerja dengan lengan mo­ Akibatnya akan didapat momen M yang besar pula. Contoh : Kita perbandingkan yang paling efisien dengan menggunakan 300 cm2 bahan.

Dengan A = 300 cm2 dan M = a.lx

kita dapatkan untuk amax = 100 kgfcm2

y �l-·--·-·-1--·-·-·- * " 30 1 f 10 I. 30 t. 1 'I lx =
y
�l-·--·-·-1--·-·-·-
*
"
30
1
f 10
I.
30
t.
1
'I
lx = 2500 cm4•
lx
lx
22500 cm4•
47 500 cm4•
M
50 000 kgcm.
M
M
150 000 kgcm.
316 667 kgcm.
1
3
6,33

Perbandingan :

lx lx 22500 cm4• 47 500 cm4• M 50 000 kgcm. M M 150 000 kgcm.