Anda di halaman 1dari 12

PERCOBAAN ANALISIS ASAM CUKA

LAPORAN INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS PRAKTIKUM MATA KULIAH KIMIA DASAR 1 YANG DIBINA OLEH : Dra. Ani Iriani. M.Si Drs. Sutanto, M.Si

DI SUSUN OLEH : NAMA : FEBRIANTIN WISNU WARDANI NPM : 062109034 KELOMPOK : I TANGGAL PRAKTIKUM : 12-04-2010

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN IKMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PAKUAN Jl. Pakuan PO. Box 452 Telp. (0251) 8312206 8380141 http://www.unpak.ac.id e-mail: unpack@indo.net.id

BAB I

PENDAHULUAN

Tujuan
Menentukan normalitas larutan NaOH dengan larutan standar Asam Oksalat Menetapkan kadar asam cuka yang ada di pasar

Dasar Teori
Berdasarkan reaksi asam basa, maka suatu asam dapat ditentukan kadarnya dengan mereaksikan asam tersebut dengan basa yang sudah diketahui konsentrasinya. Reaksi yang berlangsung adalah reaksi penetralan. Untuk mengetahui bahwa reaksi itu telah selesai, dapat digunakan suatu indicator yang memberikan warna tertentu pada titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi diharapkan sama atau paling tidak mendekati tiitik setara dari reaksi itu. Larutan yang mempunyai konsentrasi molar yang diketahui, dapat dengan mudah digunakan untuk reaksi-reaksi yang melibatkan prosedur kuantitaif. Kuantitas zat terlarut dalam suatu volume larutan itu, di mana volume itu diukur dengan teliti, dapat diketahui dengan tepat dari hubungan dasar berikut ini.Mol = liter x konsentrasi molar atau mmol = mL x konsentrasi molar. Perhitungan-perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan yang diketahui normalitasnya bahkan lebih sederhana lagi. Dengan definisi bobot ekuivalen, dua larutan akan bereaksi satu sama lain dengan tepat bila keduanya mengandung gram ekuivalen yang sama yaitu, jika V1 x N2 = V2 x N2.Dalam hubungan ini kedua normalitas harus dinyatakan dengan satuan yang sama, demikian juga kedua volum, satuan-satuan itu dapat dipilih secara sembarang.Larutan-larutan yang mempunyai normalitas yang diketahui sangat berguna walaupun hanya satu di antara pereaksi itu yang terlarut. Dalam hal ini jumlah gram ekuivalen (atau miliekuivalen) pereaksi yang tidak terlarut dapat dihitung dengan cara biasa, yaitu dengan membagi massa contoh dalam gram (atau miligram) dengan bobot ekuivalennya. Jumlah g-ek (atau mek) satu pereaksi tetap harus sama dengan g-ek (atau mek) zat yang lain (Brady, 1999). Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung (Syukri, 1999).Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:

1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer. 2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder. Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan dibawah ini : 1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 % 2. Harus stabil 3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air, tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan (Sukmariah, 1990). Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut : 1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. 2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan. 3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna. 4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah.

BAB II ALAT dan BAHAN


Alat Botol timbang

Batang pengaduk

Corong

Neraca

Buret 50 ml

Erlenmeyer 250 ml

Aquades

Bahan Asam Oksalat 0,63 gr

NaOH encer

Indicator Fenolphtalein

Cuka perdagangan

BAB III METODE PERCOBAAN

A. Menentukan Normalitas Larutan NaOH dengan larutan standar Asam Oksalat

a. Asam Oksalat ditimbang 0,63 gr, dilarut dengan labu ukur 100 ml b. 2 buah buret dicuci masing-masing diisi dengan larutan asam oksalat yang dibuat dan larutan NaOH. c. Larutan asam oksalat diteteskan 15 ml ke dalam Erlenmeyer, ditambah 10 ml air suling dan 1 2 tetes indicator Fenolphtalein, lalu di titrasi dengan NaOH hingga warna merah jambu d. Dilakukan penitrasi sebanyak 3 kali

B. Menetapkan Kadar Asam Cuka

a. Larutan asam cuka perdagangan diambil 25 ml dengan menggunakan pipet gondok b. Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan air suling sampai volume tepat 100 ml c. Larutan encer tersebut diambil menggunakan pipet sebanyak 10 ml, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml ditambahkan 2 tetes indicator PP

d. Larutan tersebut dengan larutan standar NaOH dititrasi sampai terjadi perubahan warna e. Dilakukan penitrasi sebanyak 3 kali

BAB IV DATA PENGAMATAN

A. Menentukan normalitas larutan NaOH dengan larutan standar asam oksalat.

Berat botol timbang + (COOH)2 . 2H2O Berat botol timbang kosong Berat (COOH)2 . 2H2O Normalitas asam oksalat

= = = =

gram gram gram gram

No 1 2 3

NaOH (ml) 8,5 8,4 8,2

(COOH)2 (ml) 10 10 10

NaOH (N) 0,1176 0,1190 0,1219

1. (NaOH) N =

= 0,1176 N

2. (NaOH) N =

= 0,1190 N

3. (NaOH) N =

= 0,1219 N

B. Menetapkan kadar asam cuka

Merek asam cuka = cap zebra

Pembacaan buret ml cuka/asam asetat 10

I (ml NaOH) 4,4

II (ml NaOH) 4,3

III (ml NaOH) 4,2

VNaOH x NNaOH = Vas cuka x Nas cuka

Normalitas asam cuka yang dititrasi adalah :

Nas cuka

= (VNaOH x NNaOH) / Vas cuka = (4,3 ml x 0,1195 N) / 10 ml = 0,0513 M

Nas cuka perdagangan

= Nas cuka x factor pengenceran = 0,0513 M x 100/10 = 0,513 N

Kadar as cuka

= 0,513 N x bobot ekivalen as cuka = 0,513 N x 60 = 30,78 g/l = 3,078 g/100ml =3,08 %

BAB V PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini kita melakukan analisis kuantitatif untuk menentukan kadar asam asetat dalam asam cuka komersial, yang beredar di pasaran. Di mana pada percobaan ini digunakan asam cuka botol cap sendok. Analisis yang dilakukan adalah analisis tirimetri karena kadar komposisi ditetapkan berdasarkan volum pereaksi (konsentrasi diketahui). Penggunaan analisi tirimetri ini menggunakan larutan NaOH 0,1 N sebagai larutan standarnya. Karena NaOH merupakan larutan standar sekunder, maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut distandarisasi dengan larutan asam oksalat yang merupakan suatu standar primer. Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa antara asam oksalat dan larutan standar NaOH 0,1 N dan asam asetat dengan larutan standar NaOH. Pada pembuatan larutan standar asam oksalat indikator yang digunakan yaitu fenophtalein. Perubahan warna yang terjadi pada proses penitrasian ini adalah berubah menjadi merah jambu dengan warna asal mula adalah tak berwarna. Jangka pH pada saat terjadi perubahan warna adalah berkisar antara 8-10. Perubahan warna ini terjadi karena telah tercapainya titik ekuivalen, yaitu titik di mana jumlah larutan standar NaOH dengan larutan asam oksalat. Pada penentuan Konsentrasi asam asetat terjadi reaksi antara asam lemah (CH 3COOH) dengan basa kuat (NaOH). Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Karena asam asetat adalah asam monoproptik, maka n asam asetat sebesar 1 ek/mol. Reaksi yang terjadi pada saat penitrasian adalah : CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O Pada proses penitrasian antara asam asetat dengan larutan standar NaOH 0,1 M terjadi perubahan warna dimana setelah ditetesi indikator fenophtalein sebanyak 2 tetes warna yang terjadi yaitu tak berwarna menjadi berwarna merah jambu. Seperti halnya dengan titrasi di atas, perubahan warna ini terjadi pada pH dengan kisaran 8-10. Penyebab perubahan warna ini karena telah terjadi pencapaian titik ekuivalen. Volume NaOH yang diperlukan pada saat titrasi sebanyak 4.3 mL.Pada penentuan konsentrasi NaOH didapat normalitas NaOH sebesar 0,1195 N, Analisis kesalahan 1. Pada tritasi asam asetat dengan NaOH yang pertama diperlukan 4.4 NaOH untuk merubah warna larutan.akan tetapi warna yang harusnya hanya merah seulas,tapi yang dihasilkan adalah merah muda sangat tua.sehingga titik ekivalennya tidak tepat.

BAB VI KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan analisis asam cuka dengan tujuan menentukan normalitas larutan NaOH dengan larutan standar asam oksalat,maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Setelah melakukan titrasi volume NaOH yang paling akurat adalah 8,4 ml,karena perubahan warnanya sangat tepat yakni merah muda seulas. 2. Menurut hasil percobaan dan perhitungan didapatkan normalitas larutan NaOH adalah sebesar 0,1 N.Angka tersebut telah mengalami pembulatan. Berdasarkan hasil percobaan analisis cuka yakni dengan tujuan menentukan kadar cuka yang ada di pasar, maka dapat di simpulkan sebagai berikut: 1. Analisis cuka dalam asam asetat dan natrium hidroksida dengan menambahkan satu tetes indikator PP, supaya bisa mendapatkan hasil percobaan yang akurat maka praktikan harus betul-betul teliti (di aduk serata mungkin) pada setiap tetesan larutan NaOH pada saat titrasi. 2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa volume NaOH sebesar4,4mL larutan sangat akurat jika dibandingkan dengan volume NaOH4,2 mL dan4,5mL. 3. Kadar asam cuka perdagangan adalah 3,08%.

DAFTAR PUSTAKA

Hart, Harold. Craine, E.,Leslie. Hart, J., David. 2003. Kimia Organik. Bandung. Erlangga. Senam, dkk . 2005 . Penuntun Praktikum Kimia. Program Pascasarjana UNY, Yogyakarta Bambang Purwono, dkk. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta: UGM Press. Maggy Thenawijay Lehninger, 2005. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Bandung :Erlangga