Anda di halaman 1dari 35

Materi Penyuluhan Kehutanan Seri : 1 / 2011

KEMENTERIAN KEHUTANAN

PENDAMPINGAN HUTAN TANAMAN RAKYAT ( HTR )

BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM KEHUTANAN PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN KEHUTANAN

Jakarta, 2011

Kata Pengantar Salah satu tugas pokok dan fungsi Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan ialah melaksanakan penyiapan perumusan, kebijakan, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang metode, materi dan alat bantu penyuluhan kehutanan. Materi penyuluhan kehutanan berupa booklet ini disusun berkaitan dengan program pembangunan kehutanan yang saat ini sedang menjadi fokus perhatian Kementerian Kehutanan. Booklet dengan judul Pendampingan Hutan Tanaman Rakyat merupakan materi penyuluhan yang ditulis berdasarkan kebutuhan informasi berkaitan dengan kegiatan pendampingan dalam program Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dan. Diharapkan booklet ini dapat membuka dan memperluas wawasan bagi para pengambil kebijakan dalam pembangunan kehutanan baik di pusat maupun daerah, para pemerhati terhadap pembangunan kehutanan, serta penyuluh dan pendamping di lapangan. Booklet tentang pendampingan masyarakat dalam pembangunan kehutanan ini baru pertama kali diterbitkan, sehingga disadari masih ada banyak kekurangan. Oleh karena itu sangat diharapkan masukan dari para pembaca untuk perbaikan booklet ini di waktu mendatang. Semoga booklet ini bermanfaat.

Jakarta,

Nopember 2011

KEPALA PUSAT,

Ir. M. Ali Arsyad, MSc. NIP. 19530511 198203 1 002

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................. I. PENDAHULUAN ................................................................ Latar Belakang ....................................................................... Tujuan HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR) .............................. Pengertian ............................................................................. Prinsip penyelenggaraan HTR .............................................. Sasaran Program HTR ........................................................... Pola Penyelenggaraan HTR ................................................... Dasar Hukum ......................................................................... Mekanisme Penetapan Pencadangan Lokasi HTR................. Mekanisme Penetapan Perizinan Pembangunan HTR ........... i ii 1 1 2 3 3 3 3 4 5 5 7

II.

III. PENGERTIAN, PRINSIP DAN TUJUAN PENDAMPINGAN HTR..................................................... Pengertian Pendampingan...................................................... Prinsip pendampingan HTR................................................... Tujuan Pendampingan ........................................................... IV. PERAN DAN KOMPETENSI PENDAMPING................ Peran Pendamping ................................................................. Kompetensi Pendamping HTR .............................................. 1. Pengetahuan dan Ketrampilan Pendamping .....................

9 9 13 13 15 15 17 18

ii

a. Aspek Teknis kehutanan ............................................. b. Aspek Sosial ............................................................... c. Aspek Ekonomi ......................................................... 2. Sikap Pendamping............................................................ Peningkatan Kompetensi Pendamping................................... V. TAHAPAN PENDAMPINGAN HTR ................................ Tahap Persiapan .................................................................... Tahap Penilaian ..................................................................... Tahap Perencanaan Alternatif Program Atau Kegiatan.......... Tahap Pelaksanaan Program Atau Kegiatan .......................... 1. Pembentukan kelompok ................................................... 2. Pembinaan Aktivitas Kelompok ...................................... 3. Pemberdayaan Kelompok................................................. a. Pengembangan SDM .................................................. b. Pengembangan Kelembagaan ..................................... 4. Pengembangan Kemampuan Permodalan ........................ 5. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan ........................... Tahap Evaluasi ....................................................................... Tahap Terminasi ..................................................................... PENUTUP ............................................................................

18 19 20 20 21 22 22 23 23 24 24 26 26 27 27 28 28 28 28 30 31

VI.

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................

iii

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

alah satu dari enam kebijakan prioritas pembangunan kehutanan tahun 2010-2014 adalah Revitalisasi Pemanfaatan Hutan dan Industri Kehutanan. Pemanfaatan hutan alam dalam memenuhi kebutuhan industri kehutanan saat ini sudah tidak dapat diharapkan lagi. Kondisi hutan alam yang terdegradasi akibat illegal logging dan kebakaran hutan, menyebabkan kurangnya suplai kayu untuk industri kehutanan. Pengembangan hutan tanaman, baik hutan tanaman industri maupun hutan tanaman rakyat merupakan salah cara untuk memenuhi kebutuhan industri kayu nasional. Sejak tahun 2007 Pemerintah, khususnya Kementerian Kehutanan menggiatkan program Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Kebijakan HTR merupakan kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan (pro-poor), menciptakan lapangan kerja baru (pro-job) dan memperbaiki kualitas pertumbuhan melalui investasi yang proporsional antar pelaku ekonomi (pro-growth). Kebijakan HTR memberikan akses lebih kepada masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan serta Pemanfaatan Hutan, khususnya pasal 40 dan 41 mengatur mengenai penetapan areal untuk HTR, akses ke lembaga keuangan, dan penetapan harga dasar kayu HTR untuk melindungi dan memberikan akses pasar kepada masyarakat. Dengan demikian kebijakan HTR juga merupakan salah satu upaya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk mengatasi kemiskinan melalui pemberian akses yang lebih luas ke hukum, lembaga keuangan dan pasar. Direktorat Jenderal Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Kehutanan mencatat bahwa sejak diluncurkan pada tahun 2007 sampai dengan saat ini telah 103 kabupaten yang memperoleh pencadangan HTR dari Menteri Kehutanan dengan total tareal seluas 650.663 hektar, serta telah diterbitkan IUPHHK-HTR di 30 kabupaten dengan 49 IUPPHHK HTR koperasi dan 1

1.827 IUPHHK-HTR perorangan dengan total areal seluas 126,978 hektar (19,5%). Kementerian Kehutanan mentargetkan HTR seluas 5,4 juta hektar. Implementasi program HTR dalam 4 tahun ini tergolong masih rendah, oleh karena itu untuk mencapai target yang diharapkan diperlukan upayaupaya untuk mempercepat implementasi program HTR tersebut. Salah satu kelemahan berbagai program yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk Kementerian Kehutanan adalah kurangnya perhatian pada proses pembelajaran, baik bagi masyarakat maupun para pihak yang terlibat dalam program tersebut. Diperlukan suatu pra kondisi agar masyarakat dapat memanfaatkan akses yang disediakan dengan sebaikbaiknya, dan dapat berpartisipasi, meningkatkan kapasitas dan kesejahteraannya melalui akses yang didapat tersebut. Untuk mempersiapkan pra kondisi masyarakat tersebut dibutuhkan proses pendampingan secara intensif. Dalam mencapai program HTR yang berhasil guna dan berdaya guna, kegiatan pendampingan agar masyarakat dapat aktif berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kegiatan HTR merupakan proses penting. Apakah yang dimaksud dengan pendampingan HTR?, bagaimana pendampingan HTR yang diharapkan, apa prinsip pendampingan HTR, dan lainnya merupakan pokok bahasan yang akan diuraikan dalam buku ini. Tujuan Buku ini berisi informasi singkat mengenai pendampingan HTR, yang ditujukan bagi pada para pengambil kebijakan pembangunan kehutanan di daerah, pemerhati pembangunan kehutanan dan pemberdayaan masyarakat, serta para praktisi di lapangan (penyuluh dan pendamping). Diharapkan informasi mengenai pendampingan HTR ini dapat membuka dan memperluas wawasan mengenai pendampingan, sehingga program HTR dapat dilaksanakan dengan baik dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat, pemerintah dan pihakpihak yang berkepentingan. 2

II. HUTAN TANAMAN RAKYAT (HTR) Apa yang dimaksud HTR? Hutan Tanaman Rakyat, yang selanjutnya disebut HTR adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan atau koperasi untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan (PP 6/2007 Bab 1 Pasal 1:19) Hutan Tanaman Rakyat (HTR) berbeda dengan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Rakyat (HR). HTR hanya dikembangkan pada areal kawasan hutan produksi yang tidak dibebani hak. HKM dimungkinkan dikembangkan di hutan konservasi (kecuali Cagar Alam dan zona inti Taman Nasional), kawan hutan produksi dan hutan lindung. Sedangkan HR dibangun di luar kawasan hutan negara atau berada pada hutan hak (hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah). Prinsip penyelenggaraan HTR 1. Masyarakat mengorganisasikan dirinya berdasarkan kebutuhannya yang berarti pembangunan hutan tanaman rakyat bukan digerakkan oleh proyek ataupun bantuan luar negeri. Prinsip ini dikembangkan dalam kelembagaan kelompok sehingga ada tanggung renteng atas kewajiban terhadap lahan atau hutan, keuangan dan kelompok. Kegiatan pembangunan HTR harus bersifat padat karya; Pemerintah memberikan pengakuan atau rekognisi dengan memberikan aspek legal berupa SK Ijin Usaha Pengelola Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) HTR sehingga kegiatan masyarakat yang tadinya informal di sektor kehutanan dapat masuk ke sektor formal ekonomi kehutanan.

2. 3.

Sasaran Program HTR 1. Masyarakat yang menjadi sasaran program hutan tanaman rakyat adalah masyarakat yang berada di dalam dan atau di sekitar hutan 3

2.

3.

4.

yang merupakan kesatuan komunitas sosial yang didasarkan pada persamaan mata pencaharian yang bergantung pada hutan, kesejarahan, keterikatan tempat tinggal, serta pengaturan tata tertib kehidupan bersama dalam wadah kelembagaan; Kawasan hutan yang dapat menjadi sasaran lokasi HTR adalah kawasan hutan produksi yang tidak produktif, tidak dibebani izin atau hak lain, letaknya diutamakan dekat dengan industri hasil hutan dan telah ditetapkan pencadangannya sebagai lokasi HTR oleh Menteri Kehutanan. Dalam hal ini tidak dibenarkan adanya kegiatan IPK dari hutan alam dan atau IPK dari hasil reboisasi; Kegiatan yang menjadi sasaran program HTR berupa fasilitasi yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya antara lain melakukan pengakuan status legalitas, penguatan kelembagaan, bimbingan dan penyuluhan teknis, pendidikan dan latihan, akses ke pembiayaan, akses terhadap pasar; Kegiatan IUPHHK-HTR adalah pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman yang meliputi tahapan kegiatan penyiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan dan pemasaran hasil hutan kayu dari HTR.

Pola Penyelenggaraan HTR HTR diselenggarakan dengan tiga pola yaitu : 1. HTR Pola Mandiri adalah HTR yang dibangun oleh Kepala Keluarga pemegang IUPHHK-HTR; 2. HTR Pola Kemitraan adalah HTR yang dibangun oleh Kepala Keluarga pemegang IUPHHK-HTR bersama dengan mitranya berdasarkan kesepakatan bersama dengan difasilitasi oleh pemerintah agar terselenggara kemitraan yang menguntungkan kedua pihak; 3. HTR Pola Developer adalah HTR yang dibangun oleh BUMN atau BUMS dan selanjutnya diserahkan oleh Pemerintah kepada Kepala Keluarga pemohon IUPHHK-HTR dan biaya pembangunannya menjadi tanggung jawab pemegang ijin dan dikembalikan secara mengangsur sejak Surat Keputusan IUPHHKHTR diterbitkan. 4

Dasar Hukum 1. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.23/Menhut-II/2007 tentang Tata Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat Dalam Hutan Tanaman; Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.5/Menhut-II/2008 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.23/Menhut-II/2007 tentang Tata Cara Permohonan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman Rakyat Dalam Hutan Tanaman; Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.9/Menhut-II/2008 Tentang Persyaratan Kelompok Tani Hutan Untuk Mendapatkan Pinjaman Dana Bergulir Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat; Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.62/Menhut-II/2008 Tentang Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat; Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2009 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.62/Menhut-II/2008 Tentang Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Industri dan Hutan Tanaman Rakyat; Peraturan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan P.06/VIBPHT/2008 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan P.06/VI-BPHT/2007 tentang Petunjuk Teknis Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR); Peraturan Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan P.02/VIBPHT/2009 tentang Pedoman Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat Pola Kemitraan dan Pola Developer; Peraturan Kepala Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan Nomor P.02/Pusat P2H-1/2008 tentang Pedoman Penyusunan Proposal Permohonan Pinjaman Dana Bergulir Untuk Usaha Pembangunan Hutan Tanaman.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Mekanisme Penetapan Pencadangan Lokasi HTR 1. Alokasi dan Penetapan Areal Pembangunan HTR dilakukan oleh Menteri Kehutanan dengan Kriteria : Kawasan HP yang tidak 5

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

produktif, tidak dibebani izin/hak dan diutamakan dekat dengan Indunstri Hasil Hutan; Untuk pembangunan HTR, Kepala Baplan atas nama Menteri Kehutanan menyampaikan peta arahan indikatif lokasi HTR per provinsi kepada Bupati dengan tembusan kepada : Dirjen BPK, Sekjen, Gubernur, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota dan Kepala Balai BPKH; Dirjen BPK melakukan sosisalisasi program Pembangunan HTR dan peta arahan indikatif lokasi HTR kepada Gubernur dan Bupati/Walikota; Sekjen DepHut melaksanakan sosialisasi tentang Pembiayaan Pembangunan HTR melalui BLU cq. Pusat Pembiayaan Pembangunan K e h u t a n a n k e p a d a G u b e r n u r d a n B u p a t i / Wa l i k o t a ; Kepala BPKH memberikan asistensi teknis kepada Dinas Kehutanan provinsi/kabupaten/kota berdasarkan petunjuk teknis dari Kepala Baplan; Kepala Dinas Kehutanan kabupaten/kota menyampaikan pertimbangan teknis kawasan areal tumpang tindih perizinan, rehabilitasi dan reboisasi, program pembangunan daerah kepada Bupati/Walikota dilampiri dengan peta lokasi HTR Skala 1: 50.000; Bupati/Walikota menyampaikan usulan rencana pembangunan HTR kepada Menteri Kehutanan dilampiri peta usulan lokasi HTR Skala 1: 50.000 yang ditembuskan kepada Dirjen BPK dan Kepala Baplan; Kepala Baplan melakukan verifikasi peta usulan lokasi HTR lalu menyiapkan lokasi pencadangan areal HTR dan hasilnya disampaikan kepada Dirjen BPK; Dirjen BPK melakukan verifikasi administrasi dan teknis lalu menyiapkan konsep keputusan Menteri Kehutanan tentang penetapan lokasi pencadangan areal HTR dan dilampiri peta pencadangan areal HTR serta mengusulkannya kepada Menteri Kehutanan ; Menteri Kehutanan menerbitkan pencadangan areal untuk pembangunan HTR dan disampaikan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan Gubernur;

11.

Bupati/Walikota menyampaikan sosialisasi ke desa/masyarakat, bisa melalui LSM pusat, provinsi atau kabupaten/kota.

Mekanisme Penetapan Perizinan Pembangunan HTR Perorangan atau Kelompok Tani 1. Pemohon (perorangan atau kelompok tani) mengajukan permohonan IUPHHKHTR kepada Bupati/Walikota melalui Kepala Desa, pada areal yang telah dialokasikan dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan; Persyaratan permohonan yang diajukan oleh Pemohon yakni Foto copy KTP, Surat Keterangan dari Kepala Desa bahwa benar pemohon berdomisili di desa tersebut dan Sketsa areal yang dimohon dilampiri dengan susunan anggota Kelompok; Kepala Desa melakukan verifikasi keabsahan persyaratan permohonan oleh perorangan atau Kelompok Tani dan membuat rekomendasi kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Camat dan Kepala BP2HP; Kepala BP2HP melakukan verifikasi persyaratan administrasi dan sketsa/peta areal yang dimohon hasilnya disampaikan kepada Bupati sebagai pertimbangan teknis; Kepala BPKH atau pihak lain yang mewakili melakukan pengukuran, verifikasi lahan dan perpetaan dan hasilnya disampaikan kepada Bupati sebagai pertimbangan teknis; Bupati/ Walikota menerbitkan Keputusan IUPHHK-HTR kepada perorangan atau Kelompok atas nama Menteri Kehutanan yang dilampiri peta areal kerja skala 1: 50.000 dengan tembusan Menteri Kehutanan, Dirjen BPK, Kepala Baplan dan Gubernur; Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang menangani bidang kehutanan melaporkan kepada Menteri kehutanan, rekapitulasi penerbitan Keputusan IUPHHK-HTR secara periodik tiap 3 (tiga) bulan.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Koperasi 1. Pemohon mengajukan permohonan IUPHHK-HTR kepada Bupati/Walikota pada areal yang telah dialokasikan dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan; 7

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Persyaratan permohonan yang diajukan oleh Pemohon yakni Foto copy Akte Pendirian koperasi, Surat Keterangan dari Kepala Desa bahwa benar Koperasi dibentuk di desa tersebut dan Peta areal yang dimohon dilampiri dengan Skala 1:5000 atau 1:10.000 serta dilampiri dengan susunan anggota Koperasi; Kepala Desa melakukan verifikasi keabsahan persyaratan permohonan oleh koperasi dan membuat rekomendasi kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Camat dan Kepala BP2HP; Kepala BP2HP melakukan verifikasi persyaratan administrasi dan sketsa/peta areal yang dimohon hasilnya disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai pertimbangan teknis; Kepala BPKH atau pihak lain yang mewakili melakukan pengukuran, verifikasi lahan dan perpetaan dan hasilnya disampaikan kepada Bupati/Walikota sebagai pertimbangan teknis; Bupati/ Walikota menerbitkan Keputusan IUPHHK-HTR kepada koperasi atas nama Menteri Kehutanan yang dilampiri peta areal kerja skala 1: 50.000 dengan tembusan Menteri Kehutanan, Dirjen BPK, Kepala Baplan dan Gubernur; Kepala Dinas Kabupaten/Kota yang menangani bidang kehutanan melaporkan kepada Menteri kehutanan, rekapitulasi penerbitan Keputusan IUPHHK-HTR secara periodik tiap 3 (tiga) bulan.

III. PENGERTIAN, PRINSIP DAN TUJUAN PENDAMPINGAN HTR Berbagai program Kementerian Kehutanan, termasuk HTR memerlukan proses pembelajaran bersama, baik bagi masyarakat maupun para pihak yang terlibat dalam program tersebut, sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan bersama. Bagi masyarakat, diperlukan suatu pra kondisi agar masyarakat memiliki kapasitas sehingga dapat memanfaatkan akses yang disediakan dengan sebaik-baiknya, berpartisipasi secara aktif, dan dapat meningkatkan kesejahteraannya. Untuk mempersiapkan pra kondisi masyarakat tersebut dibutuhkan proses pendampingan secara intensif. Pengertian Pendampingan Ada banyak definisi pendampingan antara lain yang digunakan oleh Kementerian Kehutanan : a. Proses belajar bersama dalam mengembangkan hubungan kesejajaran, hubungan pertemanan atau persahabatan, antara dua subyek yang dialogis untuk menempuh jalan musyawarah dalam memahami dan memecahkan masalah, sebagai suatu strategi mengembangkan partisipasi masyarakat menuju kemandirian (Permenhut No. P.03/Menhut-V/2004); Kegiatan yang dilakukan bersama-sama masyarakat dalam mencermati persoalan nyata yang dihadapi di lapangan selanjutnya didiskusikan bersama untuk mencari alternatif pemecahan ke arah peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat (Kepmenhut 132/Menhut-II/2004);

b.

Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Kementerian Kehutanan mendefinisikan pendampingan sama dengan butir b di atas, hanya lebih menegaskan pelaku kegiatan pendampingan, yaitu : agen pembangunan (Pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi, Swasta) dan masyarakat. Definisi pendampingan lainnya, adalah kegiatan memfasilitasi proses pembelajaran secara nonfomal untuk mencapai keberdayaan masyarakat. (Najiyati et.al, 2005). 9

Pendampingan sangat erat kaitannya dengan penyuluhan dan pelatihan. Supaya pemahaman pendampingan yang dimaksudkan dalam tulisan ini tidak disalahmengertikan, maka berikut ini diuraikan secara singkat pemahaman pendampingan, penyuluhan dan pelatihan. Pendampingan dan penyuluhan Pendampingan seringkali dipertentangkan dengan penyuluhan. Banyak pendapat yang mengatakan pendampingan bukanlah penyuluhan dan penyuluhan bukanlah pendampingan. Istilah pendampingan muncul bersamaan dengan munculnya konsep pemberdayaan, pendampingan dianggap merupakan salah satu cara untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan petani. Kalangan LSM yang aktif dalam kegiatan Community Development (pembangunan masyarakat) adalah pihak yang terlebih dahulu menggunakan dan menyebarluaskan konsep pendampingan. Berawal dari sinilah istilah pendampingan muncul dan dibedakan dengan penyuluhan yang selama ini dilakukan oleh kalangan pemerintah. Konsep penyuluhan dan pendampingan lebih mudah dipahami dengan memperhatikan definisi kedua kata tersebut. Penyuluhan menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun 2006 adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyuluhan diselenggarakan berasaskan demokrasi, manfaat, kesetaraan, keterpaduan, keseimbangan, keterbukaan, kerja sama, partisipatif, kemitraan, berkelanjutan, berkeadilan, pemerataan, dan bertanggung gugat. Dengan memperhatikan definisi pendampingan dan penyuluhan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendampingan dan penyuluhan memiliki kesamaan, antara lain: (1) merupakan proses belajar (2) mengutamakan musyawarah dan pemecahan permasalahan (3) menekankan partisipasi masyarakat ke arah kemandirian (4) peningkatan kapasitas dan produktivitas. 10

Pada kenyataannya penyuluhan yang dilakukan oleh Pemerintah selama ini memang seringkali masih dijalankan dengan penekanan pada transfer informasi dan teknologi yang bersifat top down, dimana petani diposisikan sebagai obyek sasaran penyuluhan. Sebagian besar orang masih memahami penyuluhan hanya sekedar proses pemberian informasi atau penerangan saja. Penyuluh mengunjungi masyarakat binaannya bila ada kegiatan, dan lebih menitikberatkan perhatian pada pencapaian target fisik kegiatan. Biasanya setelah kegiatan selesai maka berakhirlah hubungan penyuluh dengan masyarakat tersebut, tanpa memperhatikan perkembangan kapasitas masyarakat, apakah masyarakat sudah mandiri atau belum. Penyuluhan yang dilaksanakan oleh Pemerintah saat ini memang masih belum benar-benar dilaksanakan sebagai proses pembelajaran bersama untuk membantu petani sehingga dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam usahataninya. Padahal bila dipahami lebih mendalam sebenarnya konsep penyuluhan sejak awal mulanya mencakup kegiatan pendampingan. Mosher (1978) secara eksplisit menyatakan adanya kegiatan pendampingan dalam penyuluhan. Menurut Mosher (1978) penyuluhan adalah process of working with rural people through out-of-school education, along those lines of their current interest and need which are closely related to gaining a livelihood, improving the physical level of living of rural families, and fostering rural community welfare (proses bekerja bersama dengan masyarakat melalui pendidikan non formal, dengan memperhatikan kebutuhan dan minat masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan meningkatkan kemampuan keluarga petani dan kesejahteraan komunitas masyarakat pedesaan). Pendampingan dan pelatihan konvensional Pendampingan seringkali dikaitkan dengan kegiatan pelatihan, dan tidak dapat dilepaskan dari pelatihan, tetapi pelatihan dalam pendampingan tidak sama dengan pelatihan yang konvensional. Najiyati et.al. (2005) menyebutkan bahwa pelatihan konvensional dipersepsikan sebagai training dengan materi tertentu sesuai standar yang telah dibakukan, dilakukan dalam jangka waktu tertentu, terbatas dan formal, dilakukan secara individu, dan umumnya berorientasi pada 11

penambahan pengetahuan. Dalam pendampingan, pelatihan lebih dipahami sebagai sarana peningkatan kapasitas, kompetensi, motivasi dan penyadaran masyarakat/kelompok. Di dalamnya tercakup berbagai kegiatan yang saling berkaitan sesuai kebutuhan riil masyarakat. Penilaian kebutuhan pelatihan dilakukan secara terus menerus sesuai dengan perkembangan kemampuan dan aspirasi masyarakat. Pelatihan dalam pendampingan merupakan proses pembelajaran terus menerus dan berkelanjutan, dilakukan di lokasi, dalam kelompok dan tidak formal. Sumber informasi dalam pelatihan adalah berbagai pihak yang relevan dan kompeten, antara lain pendamping, instansi teknis yang di lingkungan pemerintah, lembaga pengembang keswadayaan masyarakat, mitra usaha dan masyarakat itu sendiri). Untuk lebih jelasnya, perbandingan antara pendampingan dengan pelatihan konvensional diuraikan pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan antara Pendampingan dengan Pelatihan Konvensional
Ciri Pendampingan Pelatihan Konvensional Dilakukan dalam waktu terbatas dan pada tahapan tertentu saja Pemberian informasi satu arah (training) Terbatas dan tertentu Sesuai standar pemerintah/ paket Individual Biasanya berasal dari luar dan datang pada saat pelatihan saja Mengajar Penelusuran Dilakukan terus menerus sesuai dengan kebutuhan pelatihan perkembangan kemampuan dan aspirasi masyarakat Pemahaman tentang Peningkatan kapasitas yang terdiri dari berbagai kegiatan pelatihan Waktu Materi pelatihan Trainer pelatihan Peranan trainer Sumber informasi Kedudukan masyarakat Formal pelatihan Dasar pelatihan Terus menerus (on going process) Sesuai kebutuhan riil masyarakat Hidup bersama masyarakat Memandu dan memfasilitasi

Pendekatan pelatihan Individual, kelompok

Berbagai pihak yang relevan dan kompeten, Trainer dan lembaga pemerintah termasuk warga masyarakat sendiri Sebagai penerima pesan dan Sebagai subyek belajar yang aktif dan pengguna bertanggung jawab terhadap proses belajar Informal Kompetensi Formal Pengetahuan/ketrampilan Tidak ada, terpisah

Hubungan pelatihan Merupakan satu pendekatan menyeluruh dan pengembangan masyarakat


Sumber: Adaptasi dari Najiyati et. al., 2005.

12

Prinsip pendampingan HTR Ada beragam pendapat mengenai pendampingan dan prinsip-prinsip pendampingan, tetapi beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pendampingan HTR antara lain: 1. Keterbukaan antara pendamping dan kelompok tani yang didampingi; 2. Demokratisasi dalam setiap kegiatan pendampingan yang dilaksanakan; 3. Adanya kepastian hak, kewajiban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembangunan HTR; 4. Mendorong masyarakat memecahkan masalahnya sendiri; 5. Menggali dan mengembangkan potensi kelompok tani untuk melaksanakan pembangunan HTR; 6. Kesetaraan dan kesejajaran antara pendamping dan kelompok tani yang didampingi dalam proses belajar bersama; 7. Tidak memaksakan sesuatu di luar kemampuan dan kebiasaan yang dimiliki kelompok tani dan anggotanya; 8. Saling melengkapi antara pendamping dan kelompok tani serta anggotanya; 9. Membuka dialog dan kerjasama dengan pemerintah dan pihak-pihak lainnya. Tujuan Pendampingan Tujuan pendampingan pada dasarnya mencakup dua elemen pokok yaitu tumbuhnya kemandirian dan partisipasi aktif masyarakat . Kemandirian merupakan kemampuan untuk pelepasan diri dari keterasingan, atau kemampuan untuk bangkit kembali pada diri manusia yang mungkin sudah hilang karena adanya ketergantungan, eksploitasi dan sub ordinasi (Najiyati et.al, 2005). Kemandirian adalah perwujudan kemampuan seseorang untuk memanfaatkan potensi dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, yang dicirikan oleh kemampuan dan kebebasan menentukan pilihan yang terbaik. Dari berbagai referensi, secara singkat dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kondisi yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk memanfaatkan potensi dirinya 13

secara bebas, sesuai dengan pilihan dan kemauannya sendiri, dan kemampuan melakukan kerja sama dengan pihak di luar dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Partisipasi aktif masyarakat merupakan proses keterlibatan masyarakat secara aktif dalam keseluruhan proses pendampingan, mulai dari pengambilan keputusan dalam identifikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan program, pelaksanaan program serta evaluasi dan menikmati hasil. Masyarakat akan terlibat secara aktif dalam kegiatan pendampingan bila didasari oleh adanya kesadaran masyarakat tentang penting dan bermanfaatnya kegiatan tersebut. Oleh karenanya proses pendampingan penting sekali didahului dengan proses penyadaran masyarakat, sehingga tidak menghasilkan partisipasi yang semu.

14

IV. PERAN DAN KOMPETENSI PENDAMPING Peran Pendamping Keberhasilan pendampingan HTR banyak ditentukan oleh kemampuan atau keberhasilan pendamping menjalankan fungsi atau perannya dengan baik. Pendamping HTR diharapkan dapat memainkan perannya sebagai edukator, motivator, fasilitator, dinamisator, inspirator, konselor, mediator dan advokator secara bergantian, sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Edukator Inti pendampingan dalam mendidik masyarakat dengan cara yang tidak formal, tidak otoriter, dengan memberikan ruang gerak bagi berkembangnya pemikiran dan kreativitas masyarakat untuk secara aktif belajar dan berlatih atas dasar kesadaran yang tumbuh dari dalam. Pada saat memotivasi masyarakat, pendamping melatih pola pikir, kesadaran dan kepercayaan diri masyarakat. Motivator Pendamping sebagai motivator berperan dalam menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan diri masyarakat. Pendamping memotivasi masyarakat untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan yang direncanakan, seperti melakukan peningkatan kapasitas dalam teknis budidaya, pengelolaan keuangan, membangun kerja sama dan menguatkan kelembagaan usaha dan lainnya. Fasilitator, dinamisator dan inspirator Pendamping juga berperan dapat sebagai fasilitator. Fasilitator dalam hal ini melakukan kegiatan untuk memperlancar proses pembelajaran masyarakat, seperti memfasilitasi pelatihan, konsultasi atau bantuan teknis lainnya seperti mengembangkan kelompok, memberikan saran untuk memecahkan permasalahan masyarakat dan lainnya. Selain itu, pendamping 15

juga berfungsi sebagai dinamisator dan inspirator, yakni menggerakkan dan mendorong masyarakat, memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Konselor Pada situasi tertentu, peran pendamping sebagai konselor juga dibutuhkan. Dalam hal ini masyarakat dapat berkonsultasi dan meminta bimbingan pendamping untuk dapat mengambil keputusan atau mengatasi permasalahannya. Apabila permasalahan itu berada di luar kapasitas atau kompetensi pendamping, maka pendamping perlu memfasilitasi masyarakat untuk bisa memperoleh jawaban, misalnya dengan berkonsultasi dengan pihak lain atau menghadirkan seorang atau beberapa narasumber. Mediator Pendamping juga dapat berperan sebagai mediator, yaitu menjembatani masyarakat dan kelompok atau institusi lainnya berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Misalnya menjadi mediator untuk memperoleh bimbingan teknis atau fasilitas lainnya, menjembatani dengan lembaga keuangan untuk memperoleh fasilitas permodalan usaha, menjembatani dengan mitra usaha. Advokasi Dalam kondisi posisi tawar masyarakat yang rendah, misalnya dalam hal sengketa dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan, pendamping dapat melakukan pembelaan terhadap masyarakat dalam batas-batas kebenaran dan kewajaran. Fungsi ini bisa diwujudkan antara lain dengan memfasilitasi masyarakat untuk berdialog dengan para pemimpin formal di daerah untuk membicarakan implikasi kebijakan terhadap masyarakat atau kelompok. Peran Pendamping dalam program HTR ialah: a. Menjaga agar semangat, kemauan, ide-ide dan gagasan kelompok tani tetap tinggi, sehingga kegiatan pembangunan HTR berjalan lancar;

16

b. c.

d. e. f. g.

Memacu dan meningkatkan kegiatan kelompok tani sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok tani HTR; Mengurangi, menghentikan dan mengingatkan apabila ada kegiatan atau sikap yang menyimpang dan tidak mendukung kegiatan kelompok tani HTR; Mendinginkan konflik dan ketegangan yang merugikan kelompok tani; Membantu kelompok tani dalam menghadapi permasalahan yang muncul, khususnya dalam pelaksanaan pembangunan HTR; Membimbing kelompok tani untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama; Mengembangkan jaringan kerjasama dalam kelompok tani dan antar kelompok, instansi terkait, lembaga keuangan dan mitra usaha.

Kompetensi Pendamping HTR Keberhasilan program HTR ditentukan oleh sejauhmana keberhasilan dalam berbagai aspek antara lain : produksi, kelembagaan, pemasaran dan aspek sosial lainnya. Oleh karena itu diperlukan kompetensi pendamping bukan saja pada aspek teknis kehutanan yang berkaitan dengan HTR, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi. Kompetensi Pendamping yang diperlukan bukan saja dalam ranah pengetahuan, tetapi yang lebih penting dan sangat menentukan dalam mendukung keberhasilan pendampingan HTR ialah kompetensi pendamping berkaitan dengan ranah sikap dan ketrampilannya. Beberapa hal di bawah ini merupakan kompetensi pendamping yang diperlukan agar program HTR dalam mencapai sasaran dan tujuan yang diharapkan. Adalah hal yang sangat sulit mendapatkan pendamping yang memenuhi semua kompetensi di bawah ini. Oleh karena itu, pendamping tidaklah mutlak harus memenuhi kompetensi ini, terutama dalam hal pengetahuan dan ketrampilan teknis kehutanan. Kompetensi dalam ranah sikap merupakan modal dasar dan utama yang perlu dimiliki pendamping, bila kompetensi sikap tersebut telah dimiliki oleh seorang pendamping, 17

maka kompetensi lainnya dapat ditingkatkan melalui pembelajaran mandiri, pelatihan, magang, maupun metode pembelajaran lainnya. 1. Pengetahuan dan Ketrampilan Pendamping a. Aspek Teknis kehutanan Teknologi kehutanan yang diperlukan berkaitan dengan HTR adalah teknologi budidaya/silvikultur dan teknologi pengolahan hasil kayu HTR. Teknologi Budidaya/Silvikultur yang pokok antara lain: Teknologi perbenihan dan pembibitan Teknologi penanaman/silvikultur intensif Teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman Teknologi agroforestry Teknologi budidaya Hasil Hutan Bukan Kayu HHBK Sedangkan berkaitan dengan teknolgi pengolahan hasil kayu HTR meliputi: Teknologi pemanenan Teknologi pengolahan kayu

Lembaga penelitian kehutanan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan) terus berupaya melakukan berbagai penelitian yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat. Beberapa di antaranya yang berkaitan dengan HTR ialah: penyiapan lahan tanpa bakar; perbanyakan bibit tanaman dengan sistem KOFFCO; aplikasi mikoriza untuk menghasilkan bibit berkualitas, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan serapan nutrisi, menghemat pemakaian pupuk dan meningkatkan daya hidup tanaman; tabel volume untuk mengukur pertumbuhan dan hasil tegakan hutan; pengendalian penyakit karat tumor pada sengon; Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK): lebah madu unggul; 18

Nyamplung sebagai sumber energi biofuel; Budidaya dan rekayasa gaharu; Teknologi arang kompos aktif.

b. Aspek Sosial Di dalam masyarakat terdapat energi sosial yang merupakan modal penting dalam mendukung keberhasilan berbagai program kehutanan. Di berbagai daerah di Indonesia, pengetahuan dan kearifan tradisional telah terbukti memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kelestarian hutan. Oleh karenanya, modal sosial dan aspek sosial, seperti kepercayaan, kejujuran, jiwa gotong royong, kepemimpinan lokal/tradisional, nilai-nilai atau norma sosial budaya merupakan hal yang sangat penting dan perlu digali, dikuatkan serta dikembangkan dalam pelaksanaan berbagai program di tengah-tengah masyarakat. Program HTR tidak saja ditujukan untuk perorangan, tetapi juga bagi kelompok tani maupun koperasi. Dalam masyarakat Indonesia budaya berorganisasi secara formal masih sangat sulit dilakukan, walaupun budaya gotong royong telah cukup kuat mengakar terutama pada masyarakat di pedesaan. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan dan ketrampilan pendamping untuk menguatkan dan mengembangkan kelembagaan di masyarakat, baik lembaga informal dan formal yang ada dan akan dibentuk dalam masyarakat. Kompetensi pendamping yang diperlukan berkaitan dengan aspek sosial antara lain: penggalian nilai-nilai sosial budaya dalam masyarakat yang didampingi; penelusuran pola kepemimpinan dalam masyarakat yang didampingi; pengenalan kelembagaan informal dan formal dalam masyarakat; pembentukan dan penguatan kelompok; fasilitasi dan dinamika kelompok; 19

komunikasi dan dialog (mendengarkan); administrasi dan manajemen kelompok; penelusuran dan pemanfaatan berbagai akses: informasi, kemitraan.

c. Aspek Ekonomi HTR memiliki tujuan pada peningkatan usaha masyarakat dalam bidang kehutanan, yang menguntungkan, dapat meningkatan pendapatan masyarakat, dan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian HTR juga harus berorientasi pada keuntungan (profit oriented). Oleh karena itu pendamping perlu memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam aspek ekonomi, khususnya dalam hal analisis kelayakan usaha, pembukuan keuangan, dan pemasaran. 2. Sikap Pendamping HTR merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, sehingga keberhasilan pendampingan HTR sangat ditentukan oleh sikap mental pendamping. Pendamping HTR diharapkan memiliki sikap mental sebagai berikut: a. Jujur dan Ikhlas Untuk dapat dipercaya oleh masyarakat, modal pertama yang harus dimiliki oleh pendamping ialah jujur dan ikhlas dalam melakukan pendampingan masyarakat. b. Ramah dan tegas Pendamping mudah berkomunikasi dengan semua kalangan, golongan, dan latar belakang masyarakat, tetapi tetap menjaga sikap tegas; c. Demokratis d. Rendah hati e. Mempunyai komitmen kuat pada kemajuan masyarakat f. Mengenali dan menghormati adat istiadat setempat g. Semangat belajar dan meningkatkan potensi diri 20

Peningkatan Kompetensi Pendamping Mengingat peranan penting yang harus dilakukan pendamping dan kompetensi yang perlu dimiliki pendamping untuk menjalankan peran tersebut, maka tahapan perekrutan tenaga pendamping HTR merupakan proses awal yang menentukan keberhasilan pendampingan HTR. Pendamping HTR dapat berasal dari berbagai kalangan, baik penyuluh pemerintah, penyuluh swasta dari perusahaan, ataupun penyuluh swadaya yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat, aktivis kehutanan/lingkungan, masyarakat lokal maupun masyarakat umum lainnya. Darimana pun asal pendamping HTR, tetapi harus memenuhi kompetensi sebagaimana telah diuraikan di atas. Oleh karena itu, sangat penting mempersiapkan, melengkapi dan meningkatkan kapasitas pendamping dengan berbagai kompetensi dimaksud melalui berbagai pelatihan dan metode pembelajaran lainnya, seperti magang, studi banding dan lain sebagainya. Untuk meningkatkan kompetensi aspek teknis kehutanan, dapat dilakukan pelatihan pendamping melalui kerja sama dengan lembaga penelitan dan lembaga diklat baik di pusat maupun di daerah. Untuk meningkatkan kompetensi dalam aspek sosial, dapat dilakukan dengan bekerja sama atau magang di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi Non Pemerintah (ornop) yang telah berpengalaman dan berhasil melakukan pendampingan masyarakat. Sedangkan untuk meningkatkan kompetensi dalam aspek ekonomi, dapat dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga perkreditan, lembaga perbankan atau perkoperasian.

21

V. TAHAPAN PENDAMPINGAN HTR Pendampingan HTR perlu dilakukan dengan mengikuti urutan tahapan-tahapan yang benar, sehingga pendampingan HTR dalam berjalan efektif dan efisien. Urutan tahapan pendampingan ini disusun berdasarkan berbagai pengalaman pendampingan yang telah dilakukan, dan tidak bersifat baku sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Tahapan pendampingan HTR yang diuraikan berikut di bawah ini merupakan hasil rangkuman dari beberapa literatur antara lain Isbandi (2003), Suharto (2005), Najiyati et al.(2005), Soetomo (2006), KEMENHUT (2010). Tahap Persiapan Keberlanjutan suatu program membutuhkan komitmen berbagai pihak mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir suatu program. Tahap awal, yaitu tahap persiapan merupakan prasyarat sukses atau tidaknya sebuah program, walaupun pada kenyataannya seringkali kurang diperhatikan. Tahap persiapan pendampingan ditekankan pada dua hal penting yaitu : (1) penyiapan petugas yang melakukan pendampingan; dan (2) penyiapan masyarakat yang akan didampingi. Persiapan petugas pendamping meliputi perekrutan dan pelatihan calon pendamping sehingga memiliki kompetensi sebagaimana diuraikan sebelumnya. Sedangkan penyiapan masyarakat meliputi kegiatan perkenalan dengan pejabat formal dan tokoh masyarakat setempat serta pemberitahuan maksud dan tujuan pendampingan. Dalam kegiatan perkenalan dengan masyarakat, pelibatan tokoh masyarakat yang disegani merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dengan tujuan memperoleh dukungan dari masyarakat. Penyiapan masyarakat ini seringkali disebut sosialisasi. Pada tahap persiapan ini penting sekali untuk menyadarkan dan meyakinkan masyarakat bahwa program HTR sangat bermanfaat bagi masyarakat. Manfaat HTR untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat menjadi materi utama yang perlu disosialisasikan untuk menarik minat masyarakat terlibat dalam program HTR. Keterlibatan 22

masyarakat, yang dilakukan atas dasar kesadaran dan keinginan masyarakat sendiri merupakan modal awal bagi partisipasi aktif masyaraka dalam program HTR. Tahap Penilaian Pada tahapan ini penting untuk melibatkan masyarakat secara aktif, karena masyarakat setempat yang sangat mengetahui keadaan dan masalah di tempat mereka berada. Tahapan ini memiliki penekanan pada faktor identifikasi masalah dan sumber daya yang ada dalam sebuah wilayah yang akan menjadi pelaksanaan program HTR. Inventarisasi dan identifikasi dilakukan terhadap: a. b. c. d. e. Pertumbuhan penduduk, kesempatan kerja dan berusaha, tingkat ketergantungan masyarakat dengan hutan; Ada dan tidaknya kelembagaan dalam masyarakat; Keberadaan kelompok adat, kelompok keagamaan dan kelompok sosial lainnya; Tata nilai/pranata budaya yang berkembang di masyarakat; Informasi kerusakan hutan dan lahan yang telah terjadi, upaya-upaya RHL dan konservasi tanah dan air yang telah dilaksanakan, jenis tanaman pokok yang telah dibudidayakan (MPTS dan tanaman unggulan setempat).

Tahap Perencanaan Alternatif Program Atau Kegiatan Pada tahap ini program perencanaan dibahas secara maksimal dengan melibatkan peserta aktif dari pihak masyarakat guna memikirkan solusi atau pemecahan atas masalah yang mereka hadapi di wilayahnya, khususnya berkaitan dengan rencana pelaksanaan program HTR. Dalam tahap ini dipikirkan secara mendalam agar program pendampingan tidak hanya dititikberatkan pada kegiatan fisik atau kegiatan yang hanya bersifat pemberian bantuan (filantropi). Program diharapkan merupakan kegiatan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang. Melibatkan masyarakat sejak dalam perencanaan memberikan dampak yang sangat positif terhadap 23

pelaksanaan program, karena akan tumbuh sense of belonging masyarakat terhadap program HTR tersebut sehingga dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam keseluruhan proses pendampingan. Dalam merencanakan alternatif program atau kegiatan, pendamping perlu mempertibangkan inovasi yang akan diperkenalkan dalam HTR ini. Secara umum masyarakat cenderung mudah menerapkan inovasi yang memiliki ciri-ciri: bermanfaat, mudah diterapkan dan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu pada tahapan ini penting sekali untuk memperhatikan keinginan, harapan, serta pengalaman masyarakat dalam melakukan berbagai program, termasuk kegagalan dan keberhasilan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Pada tahapan ini penting sekali pendamping memperhatikan peranannya sebagai fasilitator, yang memberikan berbagai alternatif tetapi tidak mengambil keputusan untuk masyarakat. Masyarakat sendiri yang menentukan pilihan program yang ditawarkan pendamping, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Tahap Pelaksanaan Program Atau Kegiatan Tahap ini pada dasarnya terdiri dari tiga proses atau kegiatan pendampingan yaitu : (1) meningkatkan kapasitas masyarakat dalam hal teknis HTR (pengetahuan, sikap dan ketrampilan); (2) meningkatan kemampuan organisasi dan manajemen kelompok; dan (3) meningkatkan kemampuan mendapatkan akses atau kemitraan, baik akses informasi, permodalan dan lainnya. Pada tahapan ini peran pendamping yang menonjol adalah sebagai fasilitator, mediator dan pembimbing teknis. Secara konkrit kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini adalah: pembentukan kelompok, pembinaan aktivitas kelompok, pemberdayaan kelompok, pengembangan permodalan dan pengembangan kemitraan. 1. Pembentukan kelompok

Masyarakat pelaku HTR diharapkan dapat membentuk kelompok baru dengan menginduk kepada kelompok tani yang telah ada atau 24

meningkatkan aktivitas kelompok yang telah ada, karena dengan adanya kelompok maka kelompok akan berfungsi sebagai: a. Wahana dalam membangun kebersamaan dan kekeluargaan di antara sesama anggota; b. Wahana peranserta dan pemberdaya dalam menghadapi kendala dan tantangan yang dihadapi oleh para anggotanya; c. Media pembelajaran antara anggotanya melalui tukar menukar pengalaman, aksi dan refleksi di antara usaha produktif; d. Pendamping memfasilitasi masyarakat dalam pembentukan kelompok melalui beberapa tahap di antaranya: 1) Pertemuan harian informal Proses belajar bersama dalam pembentukan kelompok dengan mekanisme pertemuan secara informal, mingguan, bulanan, triwulan. Pendamping dan masyarakat menjalin pertemuan yang akrab dengan diisukan untuk mendirikan sebuah kelompok yang mencakup seluruh lapisan dan starata sosial budaya dalam rangka mensejahterakan, melestarikan hutan dan lahan melalui HTR; 2) Pengorganisasian kelompok Hasil pertemuan tersebut ditindaklanjuti untuk membahas bentuk organisasi, susunan pengurus, anggaran dasar, anggaran rumah tangga serta juga bentuk aktivitas apa yang akan dilakukan dalam pelaksanaan HTR. Belajar bersama masyarakat dalam proses ini, pendamping berperan sebagai mediator, negosiator fasilitator; 3) Pengembangan organisasi kelompok Pendampingan yang sudah berjalan pada tahap pembentukan kelompok ditingkatkan pada tingkat kelompok secara menyeluruh dengan desa-desa di sekitarnya. Belajar bersama dalam pendampingan pada gabungan kelompok ini dapat membahas beberapa hal penting yang berhubungan dengan pengelolaan hutan, antara lain: pelaksanaan HTR, kebijakan pembangunan kawasan lindung, pengembangan ekonomi masyarakat, jaringan komunikasi pelestarian dan lahan. Forum ini diharapkan dapat 25

menghasilkan kesepakatan pelaksanaan pengeloalan hutan dana lahan melalui HTR. 2. Pembinaan Aktivitas Kelompok

Pendamping melakukan pembinaan kelompok tani dalam melakukan kegiatan sebagai berikut : a. Prakondisi yang meliputi pembahasan dan perumusan jenis kegiatan, metode dan teknik pelaksanaan, tugas, tanggung jawab anggota kelompok serta kelengkapan administrasi kelompok; b. Penyusunan rencana pengelolaan hutan pada lokasi HTR baik rencana jangka pendek, maupun jangka panjang; c. persaiapan lahan meliputi: pemasangan batas lahan, pembersihan dan pengolahan lahan; d. Mengembangkan pola tanam yang disesuaikan dengan pengaturan tata letak tanaman berdasarkan rancangan teknis pengelolaan lahan dan pengalaman petani setempat; e. Pendistribusian bibit dan sarana produksi yang kooperatif dan transparan di antara anggota kelompok; f. Memberi bimbingan kelompok dalam pelaksanaan sistem Surat Perjanjian Kerjasama (SPKS); g. Melakukan akses keluar dengna membangun kemitraan antara kelompok dengan pemerintah, swasta dan pihak terkait lainnya; h. Pemantauan dan penilaian pelaksanaan pembangunan HTR. Agar tahapan dalam pendampingan dapat terlaksana secara menyeluruh dan terwujud kelompok yang mampu mandiri, masa pendampingan dilaksanakan minimal selama 3 (tiga) tahun sesuai pelaksanaan kegiatan fisik. 3. Pemberdayaan Kelompok

Upaya pemberdayaan dilakukan terhadap kelompok tani dengan berlandaskan pada peningkatan kemampuan yang menghasilkan pendapatan, sehingga mereka mampu menjangkau terhadap sumberdaya, permodalan, teknologi dan pasar. 26

Dalam pemberdayaan kelompok tani upaya yangdilakukan antara lain: a. Pengembangan SDM Merupakan pembinaan manusia seutuhnya sehingga terwujudlah manusia yang berkualitas, yaitu manusia kreatif, produktif, disiplin dan mandiri melalui tahapan: 1) 2) 3) 4) b. Tahap 1: peningkatan kesadaran dan percaya diri Tahap 2: peningkatan pendapatan Tahap 3: peningkatan kesejahteraan Tahap 4: peningkatan sosial politik dan budaya

Pengembangan Kelembagaan Dalam pelaksanaan HTR maka perlu dikembangkan kelembagaan ekonomi rakyat yaitu suatu kelembagaan yang tumbuh dari, oleh dan untuk kepentingan rakyat, bukan kelembagaan yang dibentuk untuk kepentingan instansi pembina. Untuk mengembangkan kelembagaan usaha yang tangguh dilakukan melalui beberapa langkah sebagai berikut: 1) Langkah 1: Mendorong dan membimbing petani agar mampu bekerjasama di bidang ekonomi secara berkelompok Anggota kelompok haruslah terdiri dari petani yang mempunyai kepentingan sama dan saling percaya sehingga akan tumbuh kerjasama yang kompak dan serasi. Bimbingan dan bantuan kemudahan yang diberikan oleh instansi pembina atau pihak lain haruslah yang mampu menumbuhkan keswadayaan dan kemandirian. 2) Langkah 2: Menumbuhkan gabungan kelompok atau asosiasi Kelompok-kelompok yang sudah tumbuh didorong dan dibimbing agar mau dan mampu bekerjasama antar kelompok dalam bentuk organisasi yang lebih besar yang disebut gabungan kelompok atau asosiasi. Terbentuknya gabungan kelompok/asosiasi haruslah atas dasar kebutuhan atau kepentingan kelompok itu sendiri. 27

Dengan bergabung dalam asosiasi akan mampu memberi manfaat yang lebih besar bagi para anggotanya antara lain: a) Menghimpun modal usaha yang lebih besar b) Memperbesar skala usaha c) Meningkatkan posisi tawar-menawar d) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas usaha 4. Pengembangan Kemampuan Permodalan

Pengembangan kemampuan permodalan adalah kegiatan pemberdayaan bidang permodalan dengan cara pemberian fasilitasi yang sifatnya mendidik sehingga akan mampu menghilangkan ketergantungan dan akan tumbuh keswadayaan dan mampu berusaha dalam sistem pasar. 5. Pengembangan Jejaring dan Kemitraan

Petani di sekitar hutan pada umumnya hanya memiliki aset sumberdaya alam (lahan) dan selalu dihadapkan pada berbagai kendala keterbatasan, khususnya kterbatasan skala usaha, manajemen usaha, modal, teknologi, ketrampilan berusaha, pemasaran hasil. Oleh sebab itu polapola kerjasama kemitraan yang saling menguntungkan kedua belah pihak perlu diciptakan dengan dasar aset-aset yang dimiliki oleh masing-masing pihak tersebut. Tahap Evaluasi Tahap ini memiliki substansi sebagai proses pengawasan dari masyarakat dan petugas terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan dengan melibatkan masyarakat dampingan. Tahapan ini juga akan merumuskan berbagai indikator keberhasilan suatu program yang telah diimplementasikan serta dilakukan pula bentuk-bentuk stabilisasi terhadap perubahan atau kebiasaan baru yang diharapkan terjadi. Tahap Terminasi Tahap terminasi ialah tahap dimana seluruh program telah berjalan secara optimal dan pendamping sudah mengakhiri kerjanya. Tahapan ini 28

adalah pada tahap dimana masyarakat dianggap sudah mencapai tahap mandiri sehingga proses pendampingan harus diakhiri. Pada tahapan ini pendamping harus benar-benar yakin bahwa proses pemberdayaan akan terus berlanjut meskipun masyarakat tidak lagi didampingi. Tahapan ini disebut sebagai tahap pemutusan hubungan antara pendamping dengan para masyarakat yang didampingi. Pendamping tidak keluar dari komunitas secara total, melainkan ia akan meninggalkannya secara bertahap. Kriteria masyarakat sudah mandiri antara lain: (1) masyarakat sudah sadar bahwa proses pendampingan tidak diperlukan lagi karena masyarakat dengan sumberdaya dan kapasitas yang ada mampu mengembangkan usahanya; (2) kelompok masyarakat dampingan sudah mampu mengambil keputusan dan bertindak sebagai pendamping bagi anggotanya; dan (3) kelompok sudah mampu menjadi fasilitator bagi kegiatan usaha yang dilakukan oleh anggota. Pendamping yang sudah mengakhiri tugasnya, diharapkan masih berperan sebagai mitra bagi masyarakat yang sudah didampinginya, sebatas memberikan informasi baru berkaitan dengan usaha HTR; menjembatani kelompok dengan mitra usaha, pemerintah dan mitra lainnya; dan membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi kelompok jika diminta.

29

VI. PENUTUP Informasi singkat dalam buku kecil ini bersifat membuka dan menambah wawasan bagi para pembaca tentang pendampingan HTR. Buku ini bukan merupakan petunjuk teknis yang harus diikuti setiap detailnya secara kaku. Kegiatan pendampingan HTR di lapangan dapat sangat bervariasi sesuai dengan situasi, kondisi masyarakat dampingan. Pengalaman pendampingan HTR yang telah dilakukan di lapangan nantinya akan menjadi masukan dan memperkaya tulisan ini di masa mendatang.

30

DAFTAR PUSTAKA Isbandi RA. 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarkaat dan Intervensi Komunitas. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. [KEMENHUT] Kementerian Kehutanan. 2010. Kumpulan Peraturan Tentang Hutan Tanaman Rakyat . Jakarta: Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman, Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan. Najiyati S, Asmana A, Suryadiputra INN. 2005. Pemberdayaan Masyarakat di Lahan Gambut. Bogor: Wetland International. Suharto E. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama Soetomo. 2006. Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

31