Anda di halaman 1dari 4

MAKALAH TUGAS AKHIR STUDI KARAKTERISTIK TANAH DAN TEKANAN MENGERMBANG TANAH EKSPANSIF TERHADAP PEMBASAHAN DAN PENGERINGAN

DENGAN ALAT TEKANAN TANAH MENGEMBANG (SWELLING PRESSURE)

saat pengambilan sampel tanah, menyebabkan kandungan air pada tanah inisial tidak jauh berbeda dengan tanah yang mengalami pembasahan 100% (Sr=100%), yang menyebabkan nilai tekanan pengem-bangannya juga tidak jauh berbeda. Tanah yang mengalami pengeringan 50%, tekanan pengembangan terbesar terjadi pada kedalaman 5 meter yaitu sebesar 1,207 kg/cm2 dengan pengembangan 3,146%. Dan yang mengalami pengeringan 100%, tekanan pengembangan terbesar terjadi pada kedalaman 5 meter yaitu sebesar 1,397 kg/cm2 dengan pengembangan 6,00%. Kata kunci : Tanah Lempung, Tekanan Pengembangan, Pengembangan, Pembasahan dan Pengeri-ngan.

BAB I PENDAHULUAN

ABSTRAK Faktor utama yang mempengaruhi perilaku mengembang tanah lempung adalah kandungan air dan kandungan mineral yang terdapat di dalam tanah lempung. Perubahan kadar air pada tanah lempung ekspansif akan mengakibatkan adanya tekanan pengembangan dan pengembangan yang mengakibatkan perubahan volume pada tanah. Pada penelitian ini sampel tanah diambil dari Citraland, Surabaya. Pengambilan sampel tiap meter pada kedalaman 1 meter sampai 5 meter dan tiap 2 meter pada kedalaman 6 meter sampai 30 meter. Pengujian yang dilakukan adalah untuk mengetahui sifat fisik dan mekanis dari tiap sampel kedalaman. Sifat mekanis yang diuji meliputi triaksial, tegangan air pori negatif (suction), pengembangan serta tekanan pengembangan tanah inisial, dengan pembasahan 100% serta pengeringan 50% dan 100%. Dari hasil pengujian tekanan pengembangan, pada tanah inisial terjadi pada kedalaman 5 meter yaitu sebesar 0,280 kg/cm2 dengan pengembangan sebesar 0,817%. Pada proses pembasahan 100%, tekanan pengembangan terbesar terjadi pada kedalaman 6 meter yaitu sebesar 0,239 kg/cm2 dengan pengembangan sebesar 0,492%. Cuaca yang mendung dan hujan yang tidak menentu pada

1.1. Latar Belakang Masalah yang sering timbul di negaranegara yang mempunyai tanah lempung ekspansif yaitu kerusakan pada bangunan khususnya pada pondasi bangunan (bentuk/macam pondasi yang lebih tepat, gerakan-gerakan pondasi, penurunan yang terjadi) yang semua ini karena pengaruh kembang susut tanah lempung ekspansif tersebut. Pada umumnya tanah ekspansif sangat sensitif terhadap pengaruh musim, terjadi retakan/rekahan pada musim kemarau dan menutup kembali bila musim basah. Sifat-sifat tanah dan kondisi lingkungan merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi perilaku susut dan kembang pada tanah ekspansif. Wilayah Surabaya Barat sebagian besar terdiri dari tanah ekspansif. Tanah ekspansif ini mengandung mineral montmorillonite dan illite. Hal ini yang dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya. Pada umumnya tanah ekspansif merupakan tanah berbutir halus sebagai koloidkoloid yang terdiri dari butiran tanah lempung dengan jumlah kandungan lempungnya bervariasi dan mempunyai tekanan kembang

yang sangat tinggi berinteraksi dengan air. Apabila suatu struktur terletak di atas tanah lempung ekspansif selalu menimbulkan masalah, baik struktur atas maupun struktur bawahnya. Salah satu masalah yang terjadi adalah terangkatnya tiang pancang pada proyek UC Aparment di Citraland. Tiang pancang yang sudah dipancang naik setinggi 50 cm dari permukaan tanah.
Pondasi Terangkat hingga 50 cm

Analisa saringan Analisa hidrometer Sifat mekanis tanah : Kohesi (c) dan sudut geser dalam (). 4. Penelitian dilakukan untuk mengamati karakteristik mengembang dan tekanan pengembangan akibat pembasahan dan pengeringan. 5. Penelitian dilakukan dengan alat swelling pressure. 1.4. Tujuan 1. Mengetahui jenis tanah berdasarkan sifat fisik dan mekanik tanah ekspansif dari daerah citraland, surabaya, jawa timur. 2. Mengetahui tekanan pengembangan (swelling pressure) dan besarnya pengembangan pada tanah ekspansif dengan kondisi kadar air yang berbedabeda. 1.5. Manfaat

Drying andweting Terjadinya Zone Aktif

Diam eter Pondasi 0,5 m

W eting

Gambar 1.1 Terangkatnya Tiang Pancang

1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Berapa besar tekanan pengembang dan besar pengembangan, bila tanah dibiarkan menyerap air dan dikeringkan? 2. Bagaimana pengaruh perbedaan kondisi awal tekanan mengembang dan besar pengembangan ? 1.3. Batasan Masalah 1. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mekanika Tanah Teknik Sipil ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya. 2. Digunakan tanah lempung dari Citraland 3. Penelitian dilakukan untuk mengetahui : a) Sifat fisik tanah : Berat jenis Kadar air Atterberg limit

Manfaat dalam kegiatan geoteknik di lapangan, hasil studi ini diharapkan bisa membantu untuk lebih mengerti perilaku pengembangan tanah di Surabaya Timur khususnya di daerah Citraland, sehingga masalah yang diakibatkan pengembangan tanah pada konstruksi sipil bisa diatasi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Penelitian ini berupa pengujian eksperimental di Laboratorium Mekanika Tanah Teknik Sipil ITS. Menggunakan benda uji dari tanah lempung natural (tanah lempung dari Citraland). Pengujian dilakukan untuk mengetahui besar pengembangan (swelling) dan tekanan pengembangan (swelling pressure) yang dilakukan dengan alat swelling pressure.

Mulai Pengambila Tanah Citraland Undisturbed

Uji Karakteristik : - Berat Jenis - Kadar Air - Atterberg Limit - Analisa Saringan dan Hidrometer

A
Analisa Kesimpulan

Selesai

Gambar : Diagram alir tahapan pengujian


A

Proses Pengeringan (Drying) Benda Uji


w1 = win (Kedalaman 1m - 5m) w2 Dikeringkan 50% (Kedalaman 1m - 5m) w3 Dikeringkan 100% (Kedalaman 1m - 5m)

Pengujian Triaksial Kohesi (c) dan Sudut Geser Dalam (f )

Pengukuran Kertas Filter

Pengujian Swelling Pressure Pengembangan dan Tekanan Pengembangan

Pengujian Triaksial Kohesi (c) dan Sudut Geser Dalam (f )

Pengukuran Kertas Filter

Pengujian Swelling Pressure Pengembangan dan Tekanan Pengembangan

Pengujian Triaksial Kohesi (c) dan Sudut Geser Dalam (f )

Pengukuran Kertas Filter

Pengujian Swelling Pressure Pengembangan dan Tekanan Pengembangan

Tegangan Air Pori Negatif

Tegangan Air Pori Negatif

Tegangan Air Pori Negatif

Proses Pembasahan ( Wetting ) Benda Uji


w 1 = w in (Kedalaman 1m - 30m) w 2 = w sat Dibasahkan 100% (Kedalaman 1m - 30m)

Pengujian Triaksial Kohesi (c) dan Sudut Geser Dalam ( f )

Pengukuran Kertas Filter

Pengujian Swelling Pressure Pengembangan dan Tekanan Pengembangan

Pengujian Triaksial Kohesi (c) dan Sudut Geser Dalam ( f )

Pengukuran Kertas Filter

Pengujian Swelling Pressure Pengembangan dan Tekanan Pengembangan

Tegangan Air Pori Negatif

Tegangan Air Pori Negatif

3.2 Pengujian Sifat fisik Tanah 3.2.1 Uji Berat Jenis Pengujian berat jenis (specific gravity) dilakukan dengan menggunakan standar uji ASTM D 854-72. Nilai specific gravity (G s ) yang diperoleh akan membantu dalam mengklasifikasikan jenis tanah yang diuji. 3.2.2 Uji Kadar Air

3.2.5

Uji Hidrometer

untuk Pengujian ini bertujuan mengetahui persentase fraksi lempung, hasil ini dapat digunakan untuk mengetahui jenis dan klasifikasi tanah serta aktivitas tanah. 3.3 Pengujian Sifat Mekanis Tanah Pengujian ini ber-tujuan untuk mengetahui kohesi (c) dan sudut geser dalam (), yang mana dilakukan dengan pengujian triaksial. 3.4 Pengukuran Tegangan Air Pori Negatif. Tegangan air pori negatif ditentukan dengan menggunakan kurva kalibrasi kertas filter whatman no. 42 dari Fawcett dan Collis (1967), dengan terlebih dahulu menentukan kadar air kertas filter setelah kondisi keseimbangan tercapai, lebih kurang 7 hari (Panjaitan, 2000). 3.5 Proses Pembasahan dan Pengeringan. Proses pengeringan dan pembasahan dilakukan secara bertahap berdasarkan persentase pengurangan dan penambahan kadar air (Gambar 3.2). Persentase pengurangan dan penambahan air ditentukan dari fungsi selisih antara kadar air (w f ) dengan kadar air awal (w i ) atau w f w i . Pada proses pengeringan, benda uji dengan kondisi awal (initial condition) dijenuhkan (inundation) hingga mencapai kadar air 100%. Sedangkan pada proses pembasahan, benda uji dengan kondisi inisial dijenuhkan secara bertahap dengan penambahan air hingga mencapai jenuh 100% (inundation). Untuk pengukuran tegangan air pori negatif, kertas filter tipe whatman no. 42 diletakkan pada 1/3 tinggi benda uji. Dalam hal ini kertas fikter diletakkan pada benda uji triaksial.

Pengujian kadar air (water content, w c ) berdasarkan standar uji ASTM D 2216-71 yang bertujuan untuk menentukan berat air terhadap tanah asli. 3.2.3 Uji Atterberg limit

Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai batas perubahan wujud tanah. Uji ini meliputi : a. Batas Cair (Liquid Limit) Merupakan kadar air dimana suatu tanah berubah dari keadaan cair menjadi keadaan padat. b. Batas Plastis (Plastic Limit) Merupakan kadar air minimum dimana suatu tanah masih dalam keadaan elastis. c. Batas Susut (Shrinkage Limit) Untuk menentukan kadar air dari contoh tanah pada batas mengkerut, di mana sudah tidak ada lagi pengurangan volume apabila air diuapkan atau dikeringkan d. Indeks Plastis (IP) Merupakan nilai batas cair yang dikurangi nilai batas plastis. 3.2.4 Uji Analisa Saringan

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui gradasi pembagian butiran dan mengklasifikasikan tanah dari suatu contoh tanah berbutiran kasar.