Anda di halaman 1dari 3

A. Definisi Anemia secara umum didefinisikan sebagai berkurangna volume eritrosit atau konsentrasi hemoglobin (Kliegman, 2007).

Anemia bukan merupakan suatu keadaan spesifik, melainkan dapat disebabkan oleh bermacam-macam reaksi patologis dan fisiologis. Anemia ringan hingga sedang mungkin tidak menimbulkan gejala objektif, namun dapat berlanjut ke keadaan, takipnea, napas pendek saat beraktivitas, takikardia, dilatasi jantung, dan gagal jantung (Nathan, 2008 ; Khusun, 1999). Anemia dapat diklasifiksikan menurut faktor-faktor morfologik SDM, yaitu mikrositik dan makrositik. Klasifikasi tersebut menunjukkan ukuran SDMnya. Anemia Megaloblastik adalah contoh anemia markositik (Price, 2005). Anemia Megaloblastik adalah gangguan yang disebabkan oleh sintesis DNA yang terganggu. Selsel yang pertama dipengaruhi adalah yang secara relatif mempunyai sifat perubahan yang cepat, terutama sel-sel awal hematopoetik dan epitel gastrointestinal. Kelainan ini ditandai dengan sel megaloblastik (Soenarto, 2009). Dapus : Kliegman, R.M., Behrman, R.M., Jenson, H.B., Stanton, B.F. 2007. Nelson Textbook of Pediatrics, 18th ed. Philadelphia : Elsevier Inc Nathan, D.G., Orkin, S.H., Oski, F.A., Ginsburg D.N. 2008. Hematology of Infancy and Childhood, 7th ed. Philadelphia : Saunders Khusun H., Yip R., Schultink W., Dilon, D.H.S. 1999. World Health Organization Hemoglobin Cut-Off Points for the Detection of Anemia Are Valid for An Indonesian Population. J Nutrition. 129 : 1669-74 Price, S.A., Wilson, M.L. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC Seonarto. 2009. Sudoyo dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Volume II. Jakarta : Internal Publishing

B. Epidemiologi Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia; diperkirakan terdapat pada 43% anak-anak usia kurang dari 4 tahun (Ezzati, 2002). Survei Nasional di Indonesia (1992) mendapatkan bahwa 56% anak dibawah umur 5 tahun menderita anemia, pada survey tahun 1995 ditemukan 41% anak dibawah 5 tahun dan 24-35% dari anak sekolah menderita anemia (Sari, 2001). Gejala yang samar pada anemia ringan hingga sedang menyulitkan deteksi sehingga sering terlambat ditanggulangi. Keadaan ini berkaitan erat dengan meningkatnya resiko kematian pada anak (Khusun, 1999).

Ezzati, M., Lopez, A.D., Rodgers, A., Vander, H.S., Murray, C.J. 2002. The Comparative Risk Assessment Collaborating Group. Selected major risk factors and global and regional burden of disease. Lancet. 360 : 1347 60 Sari, M., De, P.S., Martini, E., Herman, S., Sugiatmi, Bloem, M.W., et al. Estimating The Prevalence of anemia : a comparasion of three methods. Bulletin of the World Health Organization. 79 : 506-11

C. Patofisiologi

Defisiensi asam folat dan vit. B12 Gangguan maturasi sel Kromatin lebih longgar Sel lebih besar, karena pembelahan sel lambat Sel megaloblast Fungsinya tidak normal Dihancurkan saat masih dalam sumsum tulang Eritropoesis inefektif, masa hidup SDM pendek Anemia Viskositas darah menurun Resistensi aliran darah perifer Penurunan transport O2 ke jaringan Hipoksia, pucat, lemah (5L) Beban jantung meningkat Kerja jantung meningkat Payah jantung
(Price, 2005 ; Soenarto, 2009)

Dapus :