Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH FORMULASI DASAR KONSELING, INFORMASI DAN EDUKASI

SEDIAAN STERIL : TETES MATA

Oleh : Riesa Uzvi Flowerini (1011014038) Nur Rahmi (1011014003)

Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang 2013

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak dalam lingkaran bertulang berfungsi untuk member perlindungan maksimal dan sebagai pertahanan yang baik dan kokoh. Penyakit mata dapat dibagi menjadi 4 yaitu, infeksi mata, iritasi mata, mata memar dan glaucoma. Mata mempunyai pertahanan terhadap infeksi karena secret mata mengandung enzim lisozim yang menyebabkan lisis pada bakteri dan dapat membantu mengeleminasi organism dari mata. Obat mata dikenal terdiri atas beberapa bentuk sediaan dan mempunyai mekanisme kerja tertentu. Obat mata dibuat khusus. Salah satu sediaan mata adalah obat tetes mata. Obat tetes mata ini merupakan obat yang berupa larutan atau suspensi steril yang digunakan secara local pada mata. Karena mata merupakan organ yang paling peka dari manusia maka pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dan yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian sediaan tetes mata ini haruslah diiringi dengan konseling yang tepat kepada pasien agar pasien dapat menggunakannya dengan benar. B. Tujuan Memberikan Konseling, Informasi dan Edukasi seputar penggunaan sediaan steril tetes mata. C. Manfaat Pasien yang mendapat terapi tetes mata mengetahui bagaimana menggunakan tetes mata yang benar dan mengetahui informasi-informasi terkait sediaan ini.

BAB II ISI Konseling, Informasi dan Edukasi A. Pendahuluan


Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Yang paling sering dipakai adalah larutan dalam air, akan tetapi juga biasa dipakai suspensi, cairan bukan air dan salep mata. Akhirakhir ini pengobatan dengan penyisipan dan meresapkan obat telah dikembangkan untuk memberikan penglepasan obat secara terus-menerus. Penyisipan obat ini mempunyai kegunaan khusus pada obat-obatan yang pemberiannya diperlukan siang dan malam (Ansel Indonesia :540). Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering dibentuk dalam bentuk sediaan tetes dan salep dengan mengoleskan salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata (Ansel Indonesia:540). Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Selain steril, preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas, dan pengemasan yang cocok (Ansel Indonesia:540).

B. Teori Umum 1. Pengertian Tetes Mata


FI III ; 10 Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata. Scovilles ; 231 Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari alkaloid, garam-garam alkaloid, antibiotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial, anestetik, midriatik, miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria (singular collyrium). Text book of pharmaceutik ; 358 Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. Dapat mengandung bahan-bahan AM seperti AB, bahan anti inflamasi seperti kortikosteroid, obat miontik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriasis seperti atropin sulfat.

Parrot ; 290 Bahan obat diteteskan kedalam mata harus diformulasi dengan tepat dan disiapkan dengan pemberian pertimbangan antara lain tonisitas, pH, kestabilan kekentalan dan sterilitas. Dom Martin ; 880 Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena. Kesimpulan : Tetes mata adalah suatu sediaan steril yang mengandung air maupun minyak harus bebas dari partikel asing baik dalam bentuk alkalk atau garamnya atau bahan lain, digunakan dengan cara meneteskan pada konjungtiva mata dengan memperhatikan stabilitasnya. 2. Syarat-Syarat Sediaan Mata Scovilles ; 221 Faktor- faktor dibawah ini sangat penting dalam pembuatan sediaan mata : 1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan. Sterilitas akhir dari collyrium (tetes mata) dan adanya bahan antimikrobauntuk menahan pertumbuhan dari suatu organisme yang ada selama penggunaan sediaan. 2. Isotonisitas dari larutan 3. Kesesuaian pH dari pembawa untuk menjamin stabilitas optimum SDF ; 357 Sediaan untuk mata terdiri dari bermacam-macam tipe produk yang berbeda. Sediaan ini bisa berupa larutan (tetes mata/pencuci mata), suspensi/salep kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam kasus khusus. Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikalat. Dengan pengeculian tertentu dari injeksi mata, sediaan untuk mata adalah bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak perlu bebas pirogen. Scovilles ; 247 Farmasi seharusnya menyiapkan larutan mata yang : 1. steril 2. Dalam pembawa yang mengandung bahan germisidal untuk meningkatkan sterilitas 1. Bebas dari partikel yang tersuspensi 2. Bahan-bahan yang akurat 3. Isotonik/mendekati isotonik 4. Pendaparan yang sesuai 5. Dimasukkan dalam wadah yang kecil 6. Dimasukkan dalam wadah yang steril DOM king ; 145 Mata manusia adalah organ yang sangat sensitif, mata itu bereaksi secara cepat terhadap tiap perubahan dari lingkungan. Untuk alasan ini, larutan yang digunakan pada mata

seperti suspensi dan salep harus disiapkan dengan perawatan yang sangat teliti. Persyaratan yang harus dipertimbangkan pada sediaan dikontrol dari produk sediaan mata : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Sterilitas Kejernihan Buffer pH Tonisitas Pengawet Zat tambahan Kekentalan Pengemasan Stabilitas

3. Komposisi Tetes Mata FI III ; 10 Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa berair yang mengandung zat pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil raksi (II), asetat 0,002%, benzolkonium klorida 0,01 atau klorhebsidine asetat 0,01%, yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat pengawet terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata itudimungkinkan untuk digunakan. Dom Cooper ; 184 Disamping bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensinya dan mencegah kemunduran zat aktifnya. Antara lain dapat mengandung hal-hal sebagai berikut : 1. Pengawet pada dasarnya, pengawet dimasukkan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang dapat ada selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan feril merkuri, nitrat, fenil etil alkohol dan benzol konium klorida. 2. Pengaturan isotonisitas dengan sekresi laknimal. Secara normal digunakan untuk mengatur tekana osmatik yang cocok dari larutan tetes mata, namun dalam beberapa kasus bahan obat membuat larutan hipertonis, seperti tetes mata sulfisetanid, mata dapat sedikit bertoleransi pada variasi yang luas dalam tekana osmotik dari larutan mata tapi ini biasa dan mungkin untuk mengaturnya menjadi isotonis dengan sekresi lakrimal. 3. Oksidasi bahan obat. Banyak obat mata dengan mudah dioksidasi dan biasanya dalam suatu kasus, dimasukkansetelah pereduksi natrium meta bisulfit dalam konsentrasi 0,1% sering digunakan untuk tujuan ini. Ini digunakan untuk contoh dalam tetes mata BDS dari fisostigmin, fenilefrin dan sulfatamia. 4. Konsentrasi ion hidrogen. Perlu suatu konsentrasi ion H+ yang stabil dan beberapa larutan buffer umumnya digunakan. Contoh dari penggunaan bahan pendapar Na sitrat digunakan dalam tetes mata perilefrin. Asam borat dan boraks dalam tetes mata dari krednisolon Na sulfat.

5. Bahan pengkhelat. Ketika ion logam dapat menyebabkan peruraian dari bahan obat dalam larutan. Suatu bahan pengkholat yang mengikat ion-ion dalam kompleks organik akan memberikan perlindungan Na EDTA adalah satu dari bahan pengkhelat terbaik yang dikenal. 6. Viskositas. Untuk menghasilkan larutan kental yang akan memperpanjang aksi dari larutan mata untuk penahanan yang lebih lama dalam kontak dengan permukaan mata, bahan pengental digunakan yaitu metil selulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini. 4. Syarat Utama Sediaan Mata : Steril SDF ; 357 Sterilitas adalah persyaratan yang sangat penting pembuatan larutan mata yang tidak layak dapat membawa banyak organisme yang paling berbahaya adalah pseodomonas aeroginosa, infeksi mata dari organisme ini telah membuat kebutaan khususnya, berbahaya bagi produk non steril yang dimasukkan dalam mata ketika kornea terbuka. Parrot ; 290 Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris dengan daerah arteria adalah media yang baik untuk m.o dan penetesan dari larutan mata yang terkontanimasi kedalam mata yang luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kehilangan penglihatan. Prescription ; 181 Jika satu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata, maka jelas dengan sendirinya bahwa dengan sediaan mata harus steril. Air mata, tidak seperti darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Kemudian mekanisme utama dalam pertahanan melawan injeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata, dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lisosim) yang mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa m.o. salah satu mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lisozim, yakni paling mampu menyebabkan kerusakan mata adalahn pseudomonos aeroginosa (bacillus pyocyneus). Infeksi serius yang disebabkan organisme ini ditunjukan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukanlah organisme yang jarang; namun juga ditemukan dalam saluran intestinal dari kulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada di udara (komersil atau persewaan) tidak mengejutkan jika tidak dirawat yang pantas. 5. Keuntungan Dan Kerugiaan Sediaan Tetes Mata Keuntungan RPS 18th ;1584 1. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan 2. USP XXI menggambarkan larutan mata, dengan definisi semua bahan-bahan adalah lengkap dalam larutan, keseragaman tidak menjadi maslah, hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini.

3. Salep mata umumnya menghasilkan bentuk yang lebih besar daripada larutan berair. AMA Drugs : 1624 Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep, meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih baik dari larutan, salep yang obat-obatnya larut dalam air. Kerugian RPS 18th : 1585 Kerugian yang prinsipil dari larutan mata adalah waktu kontak yang relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsorpsi DOM King ; 142 Bahan aktif obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara topikal untuk kebanyakan obat kurang 1-3% dari dosis yang dimasukkan melewati kornea. Sampai kurang interior. Sejak BA obat sangat lamvat, pasien yang mematuhi aturan dari tekhnik pemakaian yang tepat. 6. Pewadahan DOP Cooper : 185 Tipe wadah yang biasa digunakan untuk tetes mata adalah vertikal dilipat ambar atau gelas botol hijau layak dengan tutup bakelite yang membawa tube tetes dengan sebuah pentil dan kemampuan untuk ditutup sebagaimana untuk menahan mikroorganisme. Sifat-sifat yang penting sebagai berikut : 1.Mereka (wadah) dilengkapi dengan uji untuk membatasi alkali gelas. Copper (1963) menunjukkan bahwa kadang-kadang botol dapat dibebasalkalikan tetapi tube tetes tidak. Ini dapat dicontohkan oleh tetes mata fisostigmin dalam larutan dalam botol tidak berwarna tetapi pada tube tetes berwarna merah muda. 2.Mereka melindungi isi bahan terhadap cahaya. Banyak bahan obat sensitif terhadap cahaya. 3.Mereka mempunyai segel yang memuaskan. Norton (1963) menunjukkan test warna. 4.Pentil karet atau pentil dari bahan-bahan lain adalah penyerap dan sebaiknya dijenuhkan dengan pengawet yang digunakan dalam larutan mata dimana mereka digunakan. 5.Mereke menyiapkan penetes yang siap digunakan dan melindungi terhadap kerusakan dan kontaminasi. 6.Mereka dilengkapi dengan pengaturan racun. Banyak obat mata adalah racun.

7.Wadah non gelas tidak bereaksi dengan obat-obat atau partikel lain yang menjadi isi larutan.

Scovilles : 247 Wadah untuk larutan mata. Larutan mata sebaiknya digunakan dalam unit kecil, tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. Botol 7,5 ml adalah ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah pemaparan kontaminasi. RPS 18th : 1590 Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polietilen densitas rendah yang disebut Droptainer. Hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan, biasanya karena pembatasan sterilitas. Larutan intraokuler volume besar 250-500 ml telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polietilen/polipropilen. Satu yang masih perlu dipikirkan adalah wadah plastik, biasanya polietilen densitas rendah, adalah tidak dengan alat tergantikan dengan gelas. Wadah plastik adalah permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-bahan ekstraneous seperti bahan pelepas jamur, antioksidan, reaksi quenchers dan yang mirip, siap dapat menggunakan plastik dalam wadah larutan. Lem label, tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat, sebaliknya bahan-bahan menguap dapat menyerap dari larutan ke dalam atau melalui wadah plastik. Wadah gelas memberikan bahan yang menyenangkan untuk penyiapan terusmenerus larutan mata. Tipe I digunakan. Wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilisasi dengan otoklaf. Penetes normalnya disterilkan dan dikemas dalam blister pack yang menyenangkan. 7. Komposisi Tetes Mata (DOP Cooper : 184) : Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan tambahan untuk mempertahankan potensi dan mencegah peruraian. Bahan tambahan itu meliputi : Pengawet Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan untuk mencegah perkembangan mikroorganisme yang mungkin terdapat selama penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus, yang paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan fenil merkuri nitrat, fenil etil alcohol dan benzalkonium klorida.

Isotonisitas dengan Sekresi Lakrimal NaCl normalnya digunakan untuk mencapai tekanan osmotik yang sesui dengan larutan tetes mata. Oksidasi Obat Banyak obat mata dengan segera dioksidasi dan biasanya dalam beberapa kasus termasuk bahan pereduksi. Natrium metasulfit dalam konsentrasi 0,1% umumnya digunakan untuk tujuan ini. Konsentrasi Ion Hidrogen Butuh untuk kestabilan konsentrasi ion hidrogen, dan beberapa buffer telah digambarkan. Sodium sitrat digunakan dalam tetes mata fenilefrin. Bahan Pengkhelat Ketika ion-ion dan logam berat dapat menyebabkan peruraian obat dalam larutan digunakan bahan pengkhelat yang mengikat ion dalam kompleks organik, akan memberikan perlindungan. Na2EDTA, satu yang paling dikenal sebagai pengkhelat. Viskositas Untuk menyiapkan larutan kental dengan memberi aksi yang lama pada larutan mata dengan tetap kontak lebih lama pada permukaan mata, bahan pengental dapat digunakan, metilselulosa 1% telah digunakan untuk tujuan ini.

C. Konseling, Informasi dan Edukasi Sediaan Tetes Mata


a. Mengapa Tetes Mata Harus Steril ? SDF : 357-358 : Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting. larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak organisme, yang paling berbahaya

adalah Pseudomonas aeruginosa.infeksi mata dari organisme ini yang dapat

menyebabkan kebutaan. Ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka. bahan-bahan partikulat dapat mengiritasi mata, ketidaknyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya. (Prescription : 181) : Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini. Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang paling mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalahPseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas). C. Mengapa Tetes Mata Harus Isotonis? (Scovilles : 234) Isotonisitas dalam larutan mata. Ketika sekresi lakrimal sekarang dipertimbangkan untuk mempunyai tekanan osmotik yang sama sebagai cairan darah, dan kemudian menjadi isotonis dengan 0,9% larutan natrium klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan mata isotonis telah disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu menuntut, sebagai bagian dari praktek profesionalnya, untuk menyiapkan larutan mata yang isotonis. (RPS 18th : 1590) Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh garam dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik dengan cairan lain ketika magnetudo sifat koligatif larutan adalah sama. Larutan yang dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan larutan NaCl 0,9%. Perhitungan isotonisitas dalam suatu waktu mendapat penekanan yang lebih berat. Calon farmasis harus diajarkan persyaratan yang lebih mendetail dan peralatan untuk

mencapai tonisitas, kadang-kadang kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas dan stabilitas. Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan yang ekuivalen dalam rentang 0,5-1,8% NaCl. Memberikan pilihan, isotonisitas selalu diinginkan dan khususnya penting dalam larutan intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan menjadi perkara yang berlebihan ketika total stabilitas produk dipertimbangkan. (SDF : 358) Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan dari keberadaan padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah bahan terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya, cairan yang mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik. Mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai tonisitas dalam range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa ketidaknyamanan yang besar. Tonisitas pencuci mata mempunyai hal penting lebih besar daripada tetes mata karena volume larutan yang digunakan. Dengan pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata, mata dicuci dengan larutan kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk mengatur beberapa perbedaan tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata tidak mendekati cairan mata, dapat, menghasilkan nyeri dan iritasi. Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan dapat diatur sama cairan lakrimal dengan penambahan zat terlarut yang cocok seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat diinginkan konsentrasi melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika konsentrasi obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan hipertonik. Contohnya 10 dan 30% larutan natrium sulfasetamid adalah hipertonik, konsentrasi kurang dari 10% tidak memberikan efek klinik yang diinginkan. Untuk larutan

hipotonik sejumlah metode disiapkan untuk menghitung jumlah NaCl untuk mengatur tonisitas larutan mata, salah satu metodenya adalah metode penurunan titik beku.

D. Mengapa tetes mata harus Isohidris?


pH Cairan Mata Scovilles : 224 Ada persetujuan umum tentang konsentrasi ion hidrogen dari cairan lakrimal adalah mendekati netral. Namun demikian, variasi nilai telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Kemudian Hasford dan Hicks, Buchr dan Baeschlin, Feldman, Dekking, Byleveld, van Grosz dan Hild dan Goyan dilaporkan telah menemukan pH cairan mata berhubungan dengan darah. Yang lain telah mendapatkan nilai yang berbeda: Gyorffy dari 6,3-8,4, Lipschultz 8,0, Oguchi dan Nakasima dari 8,4-8,6. federsenBjergaard menemukan pH cairan lakrimal dari sepuluh orang normal dan menemukan nilai 8,2. Dia membuat ketentuan dengan cara kolorimetri dan elektrometri, dan ditemukan hasil yang sama pada kedua metode. Hind dan Goyan dalam pekerjaan terakhir, menemukan pH air mata adalah 7,4. Berdasarkan hal itu, pH cairan lakrimal sekurang-kurangnya 7,4 dan mungkin lebih alkali. (DOP Cooper : 192) Konsentrasi ion hidrogen dari cairan mata berkisar 7,2-7,4. (Textbook of Pharmaceutics : 360) Sekresi lakrimal mempunyai nilai pH antara 7,2-7,4 dan mempunyai kapasitas membuffer yang tinggi. Akibatnya, mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai pH dari 3,5-10, mereka tidak didapar dengan kuat ketika cairan mata akan dengan cepat memperbaiki nilai pH normal dari mata. pH Sediaan Mata Scovilles : 225

pH dari larutan mata sebaiknya antara 4,5 dan 9. DOM Martin : 898 Dalam banyak perumpamaan, kita dapat mencapai obat dengan seratus kali lebih stabil pada pH 5,0 dan kemudian pH 7,0. Parrot : 223 Larutan lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh larutan mata dengan range pH ini, disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2) buffer cairan mata, dan (3) peningkatan produksi air mata. D. Cara Penggunaan Tetes Mata Yang Benar RPS 18th ; 1584 1. Cuci tangan

2.

Jangan terjadi kontak langsung antara ujung tube dengan tangan, mata atau permukaan lain.

3.

Dengan satu tangan tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah

4. Jika penetes terpisah tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan kedalam botol pembawa. 5. Tempatkan penetes diatas mata, jangan menyentuhnya penetes pada mata atau jari 6. Lepaskan penutup, usahakan untuk menjaga mata tetap terbuka dengan tidak berkedip paling kurang 30 detik 7. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup erat 8. Jika penetes terpisah, selalu tempatkan penetes dengan ujung mengarah kebawah 9. Jangan pernah menyentuh penetes pada permukaan apapun 10. Jangan pernah mencuci penetes 11. Jangan menggerakkan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna 12. Jika anda mempunyai lebih dari satu jenis botol tetes yang sama, buka satu tutup botol saja beberapa menit sebelum menggunakan tetes mata yang lain 13. Akan sangat membantu untuk latihan memakai obat dalam posisi didepan cermin 14. Setelah penggunaan jangan menutup mata terlalu cepat dan usahakan jangan berkedip lebih sering dari biasanya karena dapat menghilangkan obat dari tempat efektifnya. 15. Jika Anda menggunakan lensa kontak, maka lepas 15 menit sebelum pemakaian tetes mata dan pasang kembali 15 menit setelah penggunaan tetes mata.

E. Jangan Menggunakan Tetes Mata Untuk Berbagai Indikasi Sakit Mata. Harus Konsultasi Ke Dokter Terlebih Dahulu ! Tetes mata saat ini terdapat bermacam-macam jenis, tahukah kita bahwa masingmasing jenis tetes mata tersebut memiliki indikasi yang berbeda pula? Mari kita telisik lebih jauh bagaimana indikasi tetes mata yang sering diresepkan di Farmasi Rumah Sakit kita yang tercinta ini. Tetes Mata bisa digolongkan ke dalam beberapa golongan, yaitu:

Antiinfeksi Antiinflamasi Midriatik dan Cycloplegic Miotik dan Anti Glaukoma Anastetik Lokal Tonik Lain-lain GOLONGAN TETES MATA

Antiinfeksi Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau kornea mata luka/ulkus. Kandungan obat antiseptik dan antiinfeksi mata selain pembawa yang harus steril dan inert (tidak menimbulkan efek pada mata atau tidak bereaksi dengan zat aktifnya/obat) dalam bentuk tetes atau salep, juga zat aktifnya merupakan antibiotik/antiseptik atau antivirus dengan berbagai golongan. Berikut ini jenis zat aktif yang ada dalam obat antiseptik dan antiinfeksi mata : 1. Sulfacetamid Na (Albucid) 2. Ciprofloxacin HCl (Baquinor TM) Ulkus kornea yang disebabkan oleh Pseudomonas aeroginosa, Serratia marcescens, Staphyllococcus aureus, Streptococcus epidermidis, Streptococcus pneumoniae, Streptococcus viridans. 1.Tobramycin (Tobradex) 2.Chloramphenicol dan kombinasinya Sediaan Chloramphenicol: Colsancetine, Cendo Fenicol, Ikamicetin. Sediaan dgn kombinasi: Cendo Mycos (dgn Hydrocortison). 1. 2. 3. 4. 5. Dibekacin Sulfat (Dibekacin Meiji TM) 6. Ofloxacin (Tarivid TM, Cendo Floxa) Gentamycin Sulfat (Garamycin TM, Sagestam TM, Cendo Gentamycin TM) Oxytetracycline dan turunannya (Terra-cotril) Kombinasi Neomycin Sulfat dan antibiotik lainnya

Untuk sediaan tetes mata Neomisin Sulfat dikombinasi dengan Polymixin B Sulfat dan Phenylephrine atau Polymixin B Sulfat dan Gramicidin. Sedangkan sediaan salep matanya Neomycin Sulfat dikombinasi dengan Polymixin B Sulfat atau Bacitracin 10. Ofloxacin (Tarivid TM) 11. Acyclovir

Antiinflamasi Peradangan pada mata sering disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur dan alergi. Gejala yang dirasakan pasien misalnya mata berair dan gatal, tampak kemerahan, adanya

secret/kotoran mata, silau, buram atau kelopak mata bengkak. Pengobatan bergantung kepada penyebabnya dapat berupa antibiotika,anti inflamasi, anti alergi, anti jamur dan anti virus. Misalnya Cendo Lyteers, Cendo Vision, Vision dan Voltaren Opthma. Midriatik Dan Cycloplegic Digunakan untuk memperlebar pupil mata, biasanya digunakan bila akan dilakukan pemeriksaan pada mata untuk melihat detail mata. Tetes mata midriatik secara temporer akan menstimulasi pelebaran otot iris pada mata. Midriatik biasa digunakan untuk alasan berikut ini: 1.Relaksasi otot lensa mata dalam melakukan fokus mata. 2.Dalam operasi mata untuk menghindari luka gores dengan memperlebar pupil mata (misal: operasi katarak). 3.Untuk menghindari operasi katarak pada penderita katarak kecil yang masih kecil. 4.Post operatif Glaukoma. 5.Pada anak-anak penderita amblyopia (mata malas), midriatik digunakan sebagai terapi untuk memburamkan pandangan mata agar otak anak terstimulasi. Penggunaan Midriatik menyebabkan pelebaran pupil mata sehingga lebih sensitif terhadap cahaya. Oleh sebab itu penggunaan kacamata UV dapat membantu. Misalnya : Cendo Mydriatil Miotik Dan Anti Glaukoma Miotik digunakan dengan tujuan konstriksi/memperkecil pupil mata. Obat jenis ini bertolak belakang dengan penggunaan tetes mata midriatik. Sedangkan antiglaukoma digunakan untuk mencegah peningkatan Tekanan Intra Okular yang berakibat pada perubahan patologis optik mata yang dapat menyebabkan kebutaan. Contoh sediaan, misalnya: Azopt TM, Betoptima TM, Cendo Carpine TM, Cendo Timolol . Anastetik Lokal Anastetik local mata biasa digunakan untuk menimbulkan kekebalan atau mati rasa. Biasanya digunakan sebelum mengukur tekanan pada mata, menghilangkan objek asing dari mata dan sebelum melakukan beberapa pemeriksaan mata. Efek dari tetes mata anastetik biasanya selama 20 menit. Contoh sediaan Pantocain. Tonik Tonik mata berfungsi sebagai penyegar dan mengatasi kelelahan pada mata. Penggunaannya juga mampu mempertajam penglihatan. Contoh sediaan, misalnya : Cendo Augentonic . ISTILAH PENYAKIT PADA MATA Blefaritis : radang pada kelopak mata. Dakriosistitis : infeksi pada saluran air mata, ada di dekat hidung. Katarak : proses kekeruhan yang terjadi pada sebagian atau seluruh bagian lensa mata. Penyebab katarak adalah karena faktor usia, kecelakaan, terganggunya metabolisme tubuh akibat penyakit berkepanjangan, bawaan lahir atau bahkan keracunan. Keratitis : radang pada kornea mata. Konjungtivitis :

Peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahanbahan kimia. Biasa disebut belekan. Mata terasa kasar menggatalkan, merah dan mungkin berair. Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih Keratokonjungtivitis: kekeringan pada kedua mata yang berlangsung lama akibat menurunnya fungsi kelenjar air mata, yang menyebabkan dehidrasi pada konjungtiva dan kornea. Konjungtivitis Vernalis: penyakit alergi mata sepanjang tahun menahun di daerah tropis seperti Indonesia. Glaukoma: kerusakan penglihatan yang biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan bola mata. Meningkatnya tekanan di dalam bola mata ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi danpembuangan cairan dalam bola mata, sehingga merusak jaringan-jaringan syaraf halus yang ada di retina dan di belakang bola mata. Senile cataract adalah kerusakan penglihatan yang diakibatkan oleh penebalan lensa. Trachoma merupakan infeksi pada mata yg disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Uveitis adalah peradangan pada uvea atau bola mata f. Bedakan Antara Tetes Mata Untuk Penyakit Mata Dan Tetes Mata Untuk Mengatasi Mata Kering (Tetes Air Mata Artificial Guttae) ! Tetes mata untuk penyakit mata harus digunakan sesuai resep dokter dan berisi senyawa aktif untuk mengatasi indikasi penyakit tertentu. Sedangkan tetes mata untuk mata kering adalah sediaan steril yang berisi cairan yang dibuat semirip mungkin dengan air mata untuk mengatasi kurangnya produksi air mata misalnya karena terlalu lama menatap monitor komputer. Tetapi yang harus diperhatikan adalah bahwa penggunaan tetes mata jenis ini tidak di anjurkan dalam jangka waktu lama karena dapat mengiritasi. Selain itu, penggunaan bersamaan dengan tetes mata untuk penyakit mata juga tidak dianjurkan karena akan mempengaruhi efek dari tetes mata tersebut.

g. Apakah cara penggunaan salep mata sama dengan tetes mata? Penggunaan salep mata hampir sama dengan cara penggunaan tetes mata,

perbedaannya hanya pada saat pengolesan salep pada kelopak mata bagian bawah, usahakan ujung tube sedekat mungkin dengan kelopak mata lalu oleskan salep sepanjang 1 cm.

Perbedaan Salep Mata Dan Tetes Mata RPS 18th ; 1586-1587 1. Salep mata umumnya menghasilkan bioavauabilitau yang lebih besar dibandingkan dengan larutan berair lainnya. 2. Ditempat kerjanya tetes mata bekerja dari konjungtiva, kornea dan iris sedangkan salep mata bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebaseus konjungtiva dan kornea serta iris. h. Apa bahaya nya jika kita masih menggunakan tetes mata yang telah berubah warna?

Tetes mata ynag telah berubah warna atau tidak jernih lagi menandakan bahwa sudah terjadi kontaminasi kuman. Sudah tidak steril dan tidak aman. Bahaya Obat Nonsteril Pseudomonas aeruginas (B. pyocyaneus; P. pyocyanea; Blue pas bacillus) ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan upportunis yang tumbuh baik pada kultur

media yang menghasilkan toksin dan zat/produk antibakteri, cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. Bacillus gram negative menjadi sumber dari infeksi yang serius pada kornea. Ini dapat menybabkan kehilangan penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini.

Steril merupakan salah satu syarat utama sediaan tetes mata, artinya sangat ditekankan untuk menghindari kontaminasi karena penggunaan nya langsung bersentuhan dengan selaput lendir mata. Maka dilarang keras menggunakan tetes mata atau salep mata bersama-sama karena kemungkinan berpindahnya kuman dari penderita 1 ke penderita lainnya sangat besar apa lagi jika terjadi kontak langsung dengan mata atau tangan penderita. Penyimpanan : 1. Jauhkan dari jangkauan anak. Sebaiknya saat menggunakan tetes mata berada jauh dari anak-anak, karena anak-anak cenderung meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Selain itu untuk lebih menjamin keamanan, simpan dilemari yang dikunci atau tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak. 2. Simpan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya matahari langsung dan tidak lembab. Boleh menyimpannya di kulkas, asalkan memiliki tempat khusus yang tidak bercampur dengan bahan makanan lainnya. 3. Tetapi jangan menyimpan tetes mata di dalam frezzer.

Saran Farmakologi : 1. Jaga kesehatan mata dengan banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin A seperti sayur rimbang, wortel dll. 2. Jangan terlalu lama berapa di ruang ber AC atau terlalu lama berada didepan monitor. 3. Gunakan kacamata untuk perlindungan, jika dibutuhkan, bila berada dikawasan dengan polusi tinggi seperti ditepi jalan raya pusat kota. 4. Jangan mengusap mata dengan tangan yang kotor. 5. Untuk membersihkan pinggiran mata, jangan gunakan tangan atau sapu tangan, gunakan saja tissue yang lembut dan bersih.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta. Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, Burgess Publishing Co, USA. Jenkins, G.L., (1969), Scovilles:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA. Sprowl, J.B., (1970), Prescription Pharmacy, 2nd Edition, JB Lipicant Co, USA. Gennaro, A.R., (1998), Remingtons Pharmaceutical Science, 18th Edition, Marck Publishing Co, Easton Lachman, L, et all, (1986), The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition, Lea and Febiger, Philadelphia. King,R.E., (1984), Dispensing of Medication, Ninth Edition, Marck Publishing Company, Philadelphia. Turco, S.,dkk., (1970), Sterile Dosage Forms, Lea and Febiger, Philadelphia. Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition, Pharmacy Press. AMA Drug Evaluation, (1995), Drug Evaluation Annual, 1995, American Medical Association, American