Anda di halaman 1dari 77

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori umum

II.1.1 Definisi tetes mata

1. FI III ; 10

Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi

digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput

lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata.

2. Scovilles ; 231

Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari

alkaloid, garam-garam alkaloid, antibiotik atau bahan-bahan lain yang

ditujukan untuk dimasukkan kedalam mata. Ketika cairan, larutan

harus isotonis larutan mata digunakan untuk antibakterial, anestetik,

midriatik, miotik atau maksud diagnosa larutan ini disebut juga tetes

mata dan collyria (singular collyrium).

3. Textbook of Pharmaceutic ; 358

Tetes mata adalah cairan steril atau larutan berminyak atau suspensi

yang ditujukan untuk dimasukkan kedalam succos konjungtival. Dapat

mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik, bahan anti

inflamasi seperti kortikosteroid, obat miontik seperti fisostigmin sulfat

atau obat midriasis seperti atropin sulfat.

4. Parrot ; 29
Larutan mata (colluria)

Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan disiapkan

dengan pertimbangan yang diberikan untuk tonisitas, pH, stabilitas,

viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini diinginkan karena kornea dan

jaringan lining ruang anterior adalah media yang bagus untuk

mikroorganisme dan masuknya larutan mata yang terkontaminasi ke

dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau pembedahan dapat

menyebabkan kehilangan penglihatan.

5. DOM Martin ; 880

Tetes mata sering diteteskan kedalam mata yang terluka akibat

kecelakaan atau operasi dan tetes mata kemudian secara potensial

lebih berbahaya dibandingkan injeksi intravena.

6. Ansel ; 541
Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang

dicampur dan dikemas untuk dimasukan dalam mata. Selain, steril

preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap

faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas,

dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok.

7. FI IV ; 13
Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing,

merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga

sesuai digunakan pada mata.


8. Formulasi Steril ; 109
Obat tetes mata adalah obat tetes steril, umumnya isotonis dan

isohidris digunakan dengan meneteskan ke dalam mata.


9. Formulasi Nasional ; 316
Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi

digunakan untuk mata dengan meneteskan obat pada selaput mata di

sekitar kelopak mata.


10. DOM King ; 140
Larutan mata adalah cairan steril, pada dasarnya bebas dari partikel

luar, terdiri dari bahan yang cocok dan dikemas untuk instalansi mata.

11. DOP Cooper ; 228

Larutan mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk

pemberian pada mata.

12. DOM Hoover ; 228

Larutan mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk

pemberian pada mata.

13. Lachman ; 1317

Tetes mata adalah produk untuk diteteskan di dalam mata, walaupun

menurut definisi bukan sediaan parenteral, mempunyai karakteristik

yang banyak kesamaannya dan bahkan identik dengan sediaan

parenteral.

Kesimpulan :
Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan minyak atau suspensi

yang digunakan pada mata dengan cara meneteskan pada selaput lendir

mata disekitar kelopak mata atau bola mata yang dalam pembuatannya

harus diperhatikan pH, stabilitas, tonisitas, sterilitas, viskositas dimana dapat

mengandung bahan-bahan seperti antimikroba (antibiotik), antiinflamasi

seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat, obat midriasis

seperti atropin sulfat yang sterilisasi akhirnya dengan penyaringan atau

dengan autoklaf.

II.1.2 Syarat-syarat Tetes Mata

1. Scovilles : 211

Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan larutan mata:

a. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan;

b. Sterilitas akhir dari collyrium dan kehadiran bahan antimikroba

yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari banyak

mikroorganisme selama penggunaan dari sediaan;

c. Isotonisitas dari larutan;

d. pH yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan stabilitas

yang optimum

2. DOP Cooper : 543

Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya

harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

a. Ia seharusnya steril ketika dihasilkan


b. Ia seharusnya bebas dari partikel-partikel asing

c. Ia seharusnya bebas dari efek mengiritasi

d. Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk

mencegah pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat

berbahaya yang dihasilkan selama penggunaan.

e. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan

sekresi lakrimal, konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk

obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral

f. Ia seharusnya stabil secara kimia

3. SDF : 357

Sediaan untuk mata terdiri dari bermacan-macam tipe produk

yang berbeda. Sediaan ini basa berupa larutan (tetes mata/pencuci

mata), suspensi/salep. Kadang-kadang injeksi mata digunakan dalam

kasus khusus. Sediaan mata sama dengan sediaan steril lainnya yaitu

harus steril dan bebas dari bahan partikulat. Dengan pengecualian

jumlah tertentu dari injeksi mata, sediaan untuk mata adalah bentuk

sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal dan karena itu tidak

perlu untuk bebas pirogen.

4. Prescription : 181

Secara umum disetujui sediaan mata harus steril,

menggunakan pengawet, harus memiliki tekanan osmotik yang sama

dengan cairan lakrimal normal.


5. DOM Martin : 880

Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan

larutan mata adalah tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, seleksi

pengawet dan sterilisasi. Sayang sekali, yang paling penting dari itu

ialah sterilitas yang telah menerima sifat/perhatian dari farmasis dan

ahli mata.

Ini diinginkan bahwa larutan mata stabil, isotonis, dan sifat pH,

dan tidak ada pernah terjadi kebutaan karena larutan sebagian terurai

atau mengiritasi. Penggunaan larutan tidak steril ke dalam mata yang

terluka, di lain hal sering menyebabkan kecelakaan.

6. Parrot : 29

Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan

disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan terhadap tonisitas, pH,

stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi diinginkan karena kornea

dan jaringan lining ruang anterior adalah media yang baik untuk

pertumbuhan mikroorganisme dan masuknya cairan mata yang

terkontaminasi dalam mata yang trauma oleh kecelakaan atau

pembedahan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

7. DOM King : 145

Mata manusia adalah organ yang paling sensitif. Maka bereaksi

dengan cepat. Sampai mendekati perubahan apapun dalam

lingkungannya. Untuk alasan ini larutan yang digunakan pada mata


sebaik suspensi dan salep harus dibuat dengan perhatian yang sangat

teliti. Syarat-syarat harus dipertimbangkan dalam perbuatan dan

kontrol terhadap produk optalmik untuk:

Sterilitas Pengawet

Kejernihan Bahan aktif

Buffer Viskositas

pH Stabilitas

Isotonisitas

Banyak dari syarat ini saling berkaitan dan tidak dapat

dipandang sebagai faktor terisolasi yang dipertimbangkan secara

individual. Sterilisasi misalnya, dapat dihubungkan dengan pH, buffer,

dan pengemasan. sistem buffer harus dipertimbangkan dengan

pemikiran tonisitas dan dengan pemikiran kenyamanan produk.

8. RPS 18 th ; 1589

a. Bebas dari partikel asing dan secara normal harus jernih yang

dicapai dengan filtrasi

b. Kestabilan dan obat pada sediaan mata tergantung dari sifat kimia

bahan obat, pH, cara penyiapan (biasanya oleh pemaparan suhu)

larutan tambahan.
c. Buffer dan pH idealnya, sediaan mata harus diformulasi pada pH

yang ekuivalen dengan nilai cairan mata yaitu 7,4

d. Tonisitas, sediaan atau larutan mata dipertimbangkan isotonik yaitu

tonisitas sama dengan 0,9 % NaCl

e. Viskositas

f. Bahan tambahan

9. Lachman ; 1317

Satu karakteristik yang tidak begitu kritis untuk obat mata

adalah bebas pirogen karena pirogen tidak diabsorpsi secara sistemik

dari mata, tetapi sampai sejauh ini karena pirogen merupakan

petunjuk dari suatu proses pembersihan secara mikrobiologis, maka

pirogen seharusnya tidak ada.

Formulasi preparat obat mata dengan zat aktif yang stabil

secara terapetis membutuhkan kemurnian bahan yang tinggi, juga

bebas dari kontaminan kimia, fisika (partikel) dan kontaminan mikroba.

Preparat-preparat ini biasanya membutuhkan dapar untuk

menstabilkan pH dari produk tersebut, bahan penambah untuk

membuatnya isotonis.

10. FI III ; 10

Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan membawa

berair yang mengandung zat pengawet terutama fenilraksa (II) nitrat

atau fenilraksa (II) asetat 0,002 % b/v atau klorheksidina asetat 0,01 %
b/v, yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuaran zat pengawet

terhadap obat yang terkandung didalamnya selama waktu tetes mata

itu dimungkinkan untuk digunakan. Benzalkonium klorida tidak cocok

digunakan sebagai pengawet untuk tetes mata yang mengandung

anestetikum lokal. Tetes mata berupa larutan harus jernih, bebas

zarah asing, serat dan benang.

Kecuali dinyatakan lain, tetes mata dibuat dengan salah satu cara

berikut :

a. Obat dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandung

salah satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang

cocok dan larutan dijernihkan dengan penyaringan, masukkan ke

dalam wadah, tutup wadah dan sterilkan dengan cara sterilisasi A

yang tertera pada injections

b. Obat dilarutkan ke dalam cairan pembawa berair yang

mengandung salah satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet

lain yang cocok dan larutan disterilkan degan cara sterilisasi C

yang tertera pada injections, masukkan ke dalam wadah secara

aseptik dan tutup rapat

c. Obat dilarutkan ke dalam cairan pembawa berair yang

mengandung salah satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet

lain yang cocok dan larutan dijernihkan dengan sterilisasi B yang

tertera pada injections


Semua alat yang digunakan untuk pembuatan tetes mata, begitu

juga wadahnya, harus bersih bersih betul sebelum digunakan, jika

perlu disterilkan. Kejernihan memenuhi syarat kejernihan yang

tertera pada injections, sterilisasi memenuhi uji sterilisasi seperti

yang tertera pada uji keamanan hayati,

11. Formulasi Steril ; 156

a. Steril

Farmakope modern mensyaratkan sterilisasi kuman bagi

opthalmika (angka human harus = 0) pembuatan tetes mata pada

dasarnya dilakukan pada kondisi kerja aseptik

b. Kejernihan

Persyaratan larutan bebas partikel bertujuan menghindari

rangsangan akibat bahan padat. Filtrasi dengan kertas saring atau

kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas partikel

melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita

menggunakan leburan gelas, misalnya jenaer fritten berukuran pori

63-65

c. Pengawetan (antimicrobial preservative)

Bahan pengawet yang digunakan adalah thiomersal 0,002 untuk

garam fenilmerkuri 0,002 %, garam alkonium dan garam

benzalkonium 0,002-0,01 %, dalam kombinasinya dengan


Na2EDTA 0,1 % lalu yang lain adalah kadar heksidil 0,05- 0,01 %

klorbutanol 0,5 % dan benzalkohol 0,5-1 %

Tabel 10.1 obat tetes mata menggunakan antimicrobial

preservative

Benzalkonium Chlorheksidine asetat Fenil merkuri nitrat 0,02


klorida 0,01 % 0,01 % %
Atropin sulfat Cocaine Tetracaine
Corbechol Cocain & Chloramphenicol
Homatropine
Cyclopentolate Fluorescein
Homatropine Hydrocortisone &
neomisin
Hyoscine Lochesine
Hypromellose Neomycin
Phenylepherine Sulfacetamide
Physostigmin Zinc sulphate
Pilocarpine Zinc sulfat & adrenalin
Prednisolone Epinefrin

d. Tonisitas

Karena kandungan elektrolit dan koloid didalamnya, cairan air mata

memiliki tekanan asmotik yang nilainya sama dengan darah dan

cairan jaringan. Besarnya adalah 0,65-0,8 mPa (6,5-8 atm),

penurunan titik bekunya terhadap air 0,52 o K atau konsentrasinya

sesuai dengan larutan NaCl 0,9 % dalam air. Larutan hipertonis

relatif lebih dapat diterima daripada hipotonis. Larutan yang

digunakan pada mata luka atau yang telah dioperasi menggunakan


larutan isotonis. Pada larutan yang mengandung perak, kita

memakai garam nitrat 1,2-1,6 %.

e. Stabilitas

Pendaparan

Harga pH mata sama dengan darah yaitu 7,4. Pada pemakaian

tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah

larutan dengan pH 7,3-9,7. Namun, daerah pH 5,5-11,4 masih

dapat diterima. Pengaturan pH sangat berguna untuk mencapai

rasa bebas nyeri, meskipun kita sangat kulit merealisasikannya.

Viskositas dan aktivitas permukaan

Tetes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat

ditekan keluar dari satuan konjungtiva oleh gerakan pelupuk

mata. Namun, melalui peningkatan viskositas tetes mata dapat

mencapai distribusi ahan aktif yang lebih baik di dalam cairan

dan dalam waktu kontak yang lebih panjang sebagai peningkat

viskositas. Kita memakai metal selulosa dan polivinilprolidon

(PVP) dan sangat disarankan menggunakan polivinilalkohol

(PVA) 1-2 %. Viskositas sebaiknya tidak melampaui 49-50 mPa

detik (40-50 cp) sebab jika tidak, maka akan terjadi

penyumbatan saluran air mata. Kita memakai larutan dengan

harga viskosotas 5-15 mPa detik (5-15 cp). Apabila zat padat
sulit larut, maka kita dapat menambahkan tween 80,

polioksietilen, 40 sterat, dan benzalkonium klorida atau

benzalkonium bromida.

12. FI IV ; 10

Cairan mata isotonis dengan darah dan mempunyai nilai isotonis

sesuai dengan NaCl 0,9 %. Banyak obat, khususnya garam alkaloid

paling efektif pada pH optimal bagi pembentukan basa bebas tidak

terdisosiasi. Pada larutan yang digunakan untuk mata sterilitas yang

paling penting. Larutan obat mata dapat dikemas dalam wadah

takaran ganda bila digunakan secara perorangan pada pasien dan

tidak terdapat kerusakan pada permukaan mata sedangkan untuk

penggunaan antibakteri Karena dapat menimbulkan iritasi pada

jaringan mata.

13. Encyclopedia ; 58

Ukuran partikel (m) Batas yang diusulkan (partikel/ml)


10 50
25 5
50 Tidak diizinkan
Kesimpulan :

Syarat-syarat tetes mata :

a. Steril dan sterilitas

b. Menggunakan dapar yang tepat


c. Wadah harus steril dan cocok dengan bahan yang digunakan

d. Isotonik dan pH mendekati pH larutan mata

e. Ukuran partikel untuk ukuran 10 m hanya boleh terdapat

50/mL, ukuran 2 m hanya terdapat 5/mL dan tidak dibolehkan

partikel berukuran > 50 m.

f. Viskositas dan aktivitas permukaan

g. Mengandung pengawet yang cocok

h. Jernih

i. Stabil

II.1.3 Keuntungan Tetes Mata

1. AMA Drugs ; 1624

Secara umum larutan berair lebih stabil daripada salep,

meskipun salep dengan obat yang larut dalam lemak diabsorpsi lebih

baik dari larutan/salep yang obat-obatnya larut dalam air.

2. RPS 18 th ; 1584

Tidak menganggu penglihatan ketika digunakan USP XXI

menggambarkan 48 larutan mata. Dengan definisi, semua bahan-

bahan adalah lengkap dalam larutan, keseragaman tidak menjadi


masalah, hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan tujuan ini. Salep

mata umumnya menghasilkan bioavailabilitas yang lebih besar

daripada larutan berair.

3. Ansel ; 553

Larutan mata yang viskositasnya bertambah, tinggal dalam

terdesak untuk periode waktu yang lama sehingga dapat

meningkatkan bioavailabilitas obat.

4. Encyclopedia ; 50

Untuk beberapa penyakit dan kondisi mata, sediaan topikal

adalah lebih dipilih daripada sediaan sistemik karena toksisitas dari

sediaan sistemik, onset lebih cepat dan dosis yang diberikan kecil

daripada sediaan sistemik.

Kesimpulan :

a. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan

b. Keseragaman bahan dalam tetes mata lebih baik karena larut

c. Lebih stabil dibandingkan salep mata

d. Viskositas dapat diatur sehingga aliran lebih lembut dan

bioavailabilitas obat meningkat

e. Lebih dipilih daripada salep karena onset dan durasi yang diberikan

kecil

II.1.4 Kerugian Tetes Mata


1. RPS18th ; 1585

Kerugian yang prinsip dari larutan mata adalah waktu kontak yang

relatif singkat antara obat dan permukaan yang terabsobsi. Hanya

bekerja pada bagian kornea, iris, dan konjungtiva.

2. DOM King ; 142

Bioavailabilitas obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan

secara topikal untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3 % dari dosis

yang dimasukkan melewati kornea sampai ke ruang anterior.

3. Modern Pharmaceutical ; 515

Penggunaan tetes mata pada anak-anak adalah tugas yang sulit.

4. Ansel Indonesia ; 540

Diberikan pada volume yang kecil karena kapasitas mata menahan

dan menyimpan terbatas.

5. Scovilles ; 223

Kontaminasi dari larutan mata dapat menyebabkan kerusakan mata

dan kenyataannya kerusakan tersebut menghasilkan tipe serius dari

borok kornea yang dijumpai dalam optalmik.

6. Formulasi Steril ; 109

Sediaan obat mensyaratkan kualitas yang lebih tajam. Tetes mata

harus efektif dan tersatukan secara fisiologis (bebas dari rasa nyeri

dan tidak merangsang) dan steril.

Kesimpulan :
a. Waktu kontak relatif singkat antara obat dan permukaan yang

terabsorbsi karena mudah tercuci oleh air mata sehingga

bioavaibilitasnya rendah

b. Tempat kerjanya sempit hanya bekerja di konjungtiva, iris, dan

kornea

c. Sulit digunakan pada anak-anak

d. Hanya dapat diberikan pada volume yang kecil karena

kapasitas mata yang terbatas dalam menyimpan cairan obat

e. Harus efektif dan tersatukan secara fisiologis

II.1.5 Penggunaan Tetes Mata

1. RPS 18th : 1584

a. Cuci tangan

b. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian

bawah

c. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes

dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke dalam

penetes
d. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak

mata bagian bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan

penetes pada mata atau jari.

e. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka

dan jangan berkedip paling kurang 30 detik

f. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup

rapat

Jika penetesnya terpisah, selalu tempatkan

penetes dengan ujung menghadap ke bawah

Jangan pernah menyentuhkan penetes dengan

permukaan apapun

Jangan mencuci penetes

Ketika penetes diletakkan diatas botol, hindari

kontaminasi pada tutup ketika dipindahkan

Ketika penetes adalah permanen dalam botol,

ketika dihasilkan oleh industri farmasi uunutk farmasis,

peraturan yang sama digunakan menghindari kontaminasi

Jangan pernah menggunakan tetes mata yang

telah mengalami perubahan warna

Jika anda mempunyai lebih dari satu botol dari

tetes yang sama, buka hanya satu botol saja


Jika kamu menggunakan lebih dari satu jenis tetes

pada waktu yang sama, tunggu beberapa menit sebelum

menggunakan tetes mata yang lain

Sangat membantu penggunaan obat dengan

latihan memakai obat didepan cermin

Setelah penggunaan tetes mata jangan menutup

mata terlalu rapat dan tidak berkedip lebih sering dari biasanya

karena dapat menghilangkan obat tempat kerjanya.

2. Ansel ; 554

Jumlah larutan untuk mata yang telah ditentukan oleh resep harus

diteteskan pada mata atau sekeliling jaringan dengan penetes, waktu

memakai obat-obat untuk mata, penetes harus dipegang di atas mata

dan dengan tangan lainnya. Si pasien menarik kelopak mata bagian

bawah ke bawah, lalu obat diteteskan pada mata sambil melihat ke

atas. Pasian harus tetap diam kurang lebih 30 detik sambil matanya

tetap terbuka. Setelah penetes dipasang, pasien harus diperintahkan

untuk tidak menutup mata rapat-rapat atau berkedip-kedip lebih sering

dari biasanya (yang dapat menyebabkan hilangnya obat dari mata).

Larutan untuk mata yang mengandung benda-benda tertentu atau

menampakkan kekeruhan sedikit harus dibuang.

Kesimpulan :
a. Cuci tangan

b. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian

bawah

c. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes

dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke dalam

penetes

d. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak

mata bagian bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan

penetes pada mata atau jari.

e. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka

dan jangan berkedip paling kurang 30 detik

f. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup

rapat

Jika penetesnya terpisah, selalu tempatkan

penetes dengan ujung menghadap ke bawah

Jangan pernah menyentuhkan penetes dengan

permukaan apapun

Jangan mencuci penetes

Ketika penetes diletakkan diatas botol, hindari

kontaminasi pada tutup ketika dipindahkan


Ketika penetes adalah permanen dalam botol,

ketika dihasilkan oleh industri farmasi uunutk farmasis,

peraturan yang sama digunkahn menghindari kontaminasi

Jangan pernah menggunakan tetes mata yang

telah mengalami perubahan warna

Jika anda mempunyai lebih dari satu botol dari

tetes yang sama, buka hanya satu botol saja

Jika kamu menggunakan lebih dari satu jenis tetes

pada waktu yang sama, tunggu beberapa menit sebelum

menggunakan tetes mata yang lain

Sangat membantu penggunaan obat dengan

latihan memakai obat didepan cermin

Setelah penggunaan tetes mata jangan menutup

mata terlalu rapat dan tidak berkedip lebih sering dari biasanya

karena dapat menghilangkan obat tempat kerjanya.

II.2.6 Karakteristik tetes mata

1. RPS 18th : 1589


a. Kejernihan
Larutan mata didefinisikan bebas dari partikel asing dan

jernih yang secara normal diperoleh dengan filtrasi. Peralatan

filtrasi penting agar jernih dan tercuci baik sehingga bahan-bahan

partikulat tidak dikontribusikan pada larutan dan menghilangkannya


dengan desain peralatan. Pengerjaan untuk larutan dilakukan

dalam lingkungan yang bersih, penggunaan LAF memberikan

kebersihan untuk penyiapan larutan jernih bebas dari partikel

asing. Dalam beberapa permasalahan kejernihan dan sterilisasi

dilakukan dengan langkah filtrasi yang sama . Penting untuk

menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk

membersihkan wadah dan tutup. Keduanya harus bersih, steril dan

tidak tertumpahkan. Wadah atau tutup tidak membawa partikel

dalam larutan selama penyimpanan. Normalnya dilakukan

sterilisasi.

b. Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan seperti produk mata tergantung

sifat kimia bahan obat, pH produk, metode penyiapan (khususnya

penggunaan suhu) zat tambahan larutan tipe pengemasan. Obat

seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pH

6,8. Namun demikian pH satbilitas kimia (ketidakstabilan) dapat

diukur dalam beberapa hari atau bulan. Dengan obat ini, bahan

kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pada

pH 5 kedua obat stabil dalam beberapa tahun


c. Buffer dan pH
Idealnya sediaan mata sebaiknya diformulasi pada pH yang

ekuivalen dengan cairan mata yaitu 7,4 tapi dalam prakteknya

jarang dicapai. Mayoritas bahan aktif dalam ophthalmology adalah


garam basa lemah dan stabil pada pH asam. Ini umumnya dapat

dibuat dalam suspense kortikosteroid tidak larut. Suspensi

biasanya paling stabil pada pH asam. pH optimum umumnya

menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi

optimum untuk kestabilan. Sistem buffer diseleksi agar mempunyai

kapasitas akurat untuk memperoleh pH dengan range stabilitas

untuk durasi umur produk. Kapasitas buffer adalah kunci utama

situasi ini.

d. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh

garam-garam dalam larutan berair, larutan mata adalah isotonik

dengan larutan lain ketika magnetudo sifat koligatif larutan adalah

asam. Larutan mata dipertimbangkan isotonis ketika tonisitasnya

sama dengan 0,9% larutan NaCl.


Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas dari

pada suatu waktu yang diusulkan. Biasanya dapat ditoleransi

larutan dengan range 0,5 1,8 % NaCl. Memberi pilihan,

isotonisitas selalu dikehendaki dan penting dalam larutan

intraokuler. Namun hal ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas

produk dipertimbangkan.
e. Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas

untuk memperpanjang lama kontak dalam mata dan untuk absorbsi

obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti meil selulosa, polivinil


alcohol dan hidroksi metil selulosaditambahkan secara berkala

untuk meningkatkan viskositas. Para peneliti telah mempelajari

peningkatan viskositas dalam waktu kontak dalam mata. Umumnya

viskositas meningkat 25-50 cps range yang signifikan

meningkatkan lama kontak dalam mata.

f. Additives / Tambahan
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata

diperbolehkan namun demikian pemilihan dalam jumlah tertentu.

Antioksidan, khususnya natrium bisulfate atau metabisulfat,

digunakan dengan konsentrasi sampai 0,3% khususnya dalam

larutan yang mengandung garam epinefrin. Antioksidan lain seperti

asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan. Antioksidan

berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin.


Penggunaan surfaktan delam sediaan mata dibatasi hal

yang sama. Surfaktan nonionik, kelas tiksis kecil seperti bahan

campurandigunakan dalam konsentrasi rendah khususnya seperti

suspense dan berhubungan dengan kejernihan larutan.

Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan

sebaiknya dengan karakteristik bahan-bahan surfaktan nonionik,

khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dan komponen

pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet.


Surfaktan kationik digunakan secara bertahap dalam

larutan mata tetapi hampir invariable sebagai pengawet


antimikroba. Benzalkonium dalam range 0,01 0,02 % dengan

toksisitas faktor pembatas konsentrasi. Benzalkonium klorida

sebagai pengawet digunakan dalam jumlah besar dalam larutan

dan suspensi mata komersial.


2. Ansel :541
a. Sterilitas dan pengawetan
Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan

dan bila mungkin ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk

menjamin sterilitas selama pemakaian. Larutan yang dimaksudkan

untuk digunakan selama oprasi pada mata yang terkena trauma,

umumnya tidak mengandung pengawet, karena hal ini akan

menyebabkan iritasi pada jaringan di dalam mata. Larutan ini

biasanya dikemas dalam wadah dosis tunggal dan semua larutan

yang tidak dipakai harus dibuang.


b. Nilai isotonis
Cairan tubuh termasuk darah dan cairan air mata

mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan natrium klorida

dalam air 0,9%. Jadi suatu larutan natrium klorida dengan

konsentrasi tersebut dikatakan isoosmotik atau memiliki suatu

tekana osmosis yang seimbang dengan cairan fisiologi. Dalam

prakteknya, batas-batas isotonisitas suatu larutan untuk mata

berupa natrium klorida atau ekuivalennya dapat berkisar dari 0,6

2,0 % tanpa rasa tidak nyaman pada mata.


c. Pendaparan
Dapar mungkin digunakan dalam suatu larutan untuk mata

karena salah satu atau semua alasan berikut ini :


Untuk memberi kenyamana si pasien
Untuk menjamin kestabilan obat, dan
Untuk mengawasi aktifitas terapeutik bahan obat
pH air mata normal 7,4 memiliki suatu kemampuan dapar,

pemakaian suatu larutan yang mengandung obat pada mata

merangsang aliran air mata yang mencoba menetralkan setiap

kelebiahan ion hidrogen atau hidroksil yang dikenakan pada mata

bersama larutan.
d. Viskositas dan zat pengental
Viskositas adalah suatu sifat cairan yang lebih bertahan

untuk mengalir. Kebalikan dari fiskositas adalah fluiditas. Viskositas

dijelaskan dalam kekuatan yang dibutuhkan untuk memindahkan

satu permukaan datar ke permukaan lainnya di bawah ketentuan

tertentu apabila ruang antaranya yang dipenuhi oleh cairan menjadi

permasalahan. Suatu bahan cair yang 10x kental (viscous)

daripada air pada suhu yang sama viskositasnya sama dengan 10

centipose.

3. Prescription : 181
a. Sterilitas
Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata

dijelaskan bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti

darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk


memproduksinya. Mekanisme pertama untuk melawan infeksi yaitu

aksi sederhan pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang

ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan

menghidrolisis selubung polisakarida dari beberapa

mikroorganisme.
b. Pengawetan
Perlu diperhatikan untuk penggunaan produk juga penting

jika larutan digunakan dalam kantor physician atau klinik.

Kemungkinan patogen inokular yang masuk dalam larutan

meningkat. Dibutuhkan larutan mata untuk penggunaan seperti

self-sterizing. Lartan yang digunakan dirumah sedikit lebih banyak

dikenal seperti infeksi silang sehinggadilihat perlu menggunakan

pengawet untuk tipe sediaan ini. Ada 3 tipe pengobatan mata yang

disukai terlihat pada rumah sakit. Sediaan untuk penggunaan

trauma berat pada mata atau selama pembedahan. Bahan-bahan

digunakan hanya untuk satu pasien. Sediaan ini hanya digunakan

sekali dan oleh karena itu penggunaan pengawet diabaikan.


c. Tekanan osmotik
Beberapa tahun lalu tidak banyak kesepakatan dikeluarkan

dalam upayamenjamin kebenaran tekanan osmosis dalam larutan

mata. Kemudian dibaca dalam jurnal Italia Pharmaceutical, sebuah

kutipan dari jurnalSwiss Pharmaceutical, bahwa jaminan tekanan

osmotik relatif tidak penting. Poin ini didasrkan dari fakta bahwa

mata insensitif pada range yang luas dari tekana osmotik. Konsep
ini ditentang atas dasar meskipun nyeri tidak dirasakan, air mata

dihasilkan dan obat tercuci dari air mata. Oleh karena itu terlihat

bahwa metode yang paling aman adalah menambahkan tekanan

osmotik dari larutan untuk penggunaan dalam mata dengan range

yang praktis.
d. Konsentrasi ion hidrogen
pH normal dari larutan lakrimal kira-kira sama dengan darah

7,4. Hal ini diperlihatkan untuk dapar semua sediaan mata pada

range pH ini. Namun demikian, faktor lain harus dipertimbangkan

sebagai contoh kelarutan dan stabilitas dari kebanyakan obat mata

tergantung pada pH. Kelarutan asam lemak (contoh atropin sulfat,

pilokarpin nitrat)akan menurun dengan kedudukan pH dan

kelarutan basa lemah (contoh sodium fluoresin, sodium sulfadiazin)

akan menurun dengan penurunan pH.

e. Penyesuaian viskositas
Penggunaan dari 0,32 % (4000 cps) metal selulosa dengan

1 : 50000 benzalkonium klorida telah direkomendasikan sebagai

pengganti air mata. Metil selulosa dalam konsentrasi 1% dapat

digunakan untuk meningkatkan viskositas dari sebuah larutan mata

memperlambat aliran pencucian dari larutan.


4. DOM King : 146
a. Kejernihan
Sebagai definisi resmi, produk optalmik harus bebas dari

partikel asing. Kejernihan biasanya dapat melalui filtrasi.


b. Buffer dan pH
pH dan buffer dibutuhkan untuk membuat pH sebagai tanda

produk dan biasanya penting untuk kestabilan produk. pH cairan air

mata secara umum dikenal kira-kira 7,4 meskipun nilai ini dapat

berubah-ubah. Bahan aktif yang digunakan dalam larutan optalmik

biasanya basa lemah garam asam, yang biasanya stabil pada pH

asam.
c. Viskositas
Selama tahun 1950, peningkatan viskositas dikesankan

sama dengan peningkatan waktu kontak larutan optalmik pada

mata. Sejak waktu itu, USP mengizinkan penggunaan zat

tambahan seperti metil selulosa, hidroksipropil metil selulosa, dan

polifinil alcohol untuk memperpanjangwaktu kontak. Viskosotas

larutan dapat ditingkatkan kira-kira 25-50 cpsmelalui beberapa

penambahan. Bagaimanapun, pelindung partikel harus digunakan

untuk memastikan bahwa kejernihan larutan dapat dicapai dalam

kehadiran beberapa agent impart-viskositas.


d. Tonisitas
Praktek dan teori toisitas diatur dan dijelaskan dalam pasal

7. Tonisitas ini berarti tekanan osmotik dihasilkan oleh garam

dalam larutan. Larutan optalmik merupakan larutan isotonik yang

benar-benar dipertimbangkan secara umum dengan larutan lain,

saat magnitude sifat koligatif larutan adalah sama sebagai saat

yang baik, larutan optalmik dibuat isotonik sama untuk digunakan

0,8% larutan aqueous sodium klorida. Maka biasanya dapat


mentoleransi ekuivalen larutan pada range 0,5-1,8% sodium

klorida.
e. Pengawet
Dengan salah satu pengecualian dosis tunggal, larutan

optalmik steril harus berisi pengawet antimikrobial yang cocok

untuk mencegah timbulnya mikroorganisme dalam kekuranghatian

selama penggunaan.

Substansi pengawet ideal dapat dilihat dengan kriteria

berikut:
Aktifitas antibakterial spektrum luas yang meliputi kemampuan

melawan antara organic gram positif, gram negatif dan fungi


Stabilitas fisika dan kimia memuaskan dengan range pH yang

luas
Kompatibel dengan komponen kimia dan dengan dasar bahan

material
Aman dan tidak mengiritasi selama pemakaian.
5. Ensiklopedia : 57-61
a. Kejernihan
Definisi resmi larutan optalmik mengharuskan bahan ini

bebas partikulat. Kejernihan larutan biasanya dapat dicapai salah

satunya melalui filtrasi dengan filter penjernih atau bagian prosedur

penjernih steril. Bebas partikulat yang dianjurkan pada materi

partikulat preparat optalmik :

Ukuran Partikel (m) Bahan yang dianjurkan (partikel/ml)


> 10 50
> 25 5
> 50 Tidak dibolehkan
b. Stabilitas
Stabilitas bahan aktif dalam larutan optalmik tergantung

pada kimia alam bahan aktif, pH, prosedur pempabrikan tipe zat

tambahan, dan tipe wadah. Pemeliharan pH yang konsisten

dengan stabilitas yang cocok sering menimbulkan pertentangan

dengan pH yang member penetrasi corneal optimum obat

dipertanyakan dan penerimaan pasien optimum terhadap produk.


c. pH yang sesuai dan Buffer
pH larutan optalmik yang diatur dengan pemilihan buffer

yang tepat adalah salah satu pertin\mbangan formula yang sangat

penting. Buffer dapat digunakan dalam larutan optalmik untuk satu

atau lebih alasan :


1) untuk mempertahankan pH fisiologis air mata untuk mengurangi

keluarnya air mata dan ketidaknyamanan pasien


2) untuk mengotimalkan aktifitas terapeutik bahan aktif dengan

mengubah penetrasi kornea melalui pengubahan dalam tingkat

ionisasi, dan untuk mengoptimalkan stabilitas produk


pH cairan mata dilaporkan dapat berubah-ubah antara 6,9 dan

7,5 selama bertambahnya jam dalam sehari


d. Tonisitas
Tonisistas mengacu pada tekanan osmotik larutan karena

adanya bahan kimia dan zat tambahan. Tekanan osmotik adalah

sifat koligatif dan karena itu tergantung pada jumlah magnitudo

partikel yang ada dalam larutan, terlepas dari apakahbahan ini

molekul atau ion.


Air mata dan cairan tubuh lain memiliki tekanan osmotik

302-318 mosm/kg yang mana ekuivalen dengan 0,9% w/v larutan

sodium klorida (garam normal) cairan mata dan garam normal

dikatakan isoosmotik, itu karena memiliki tekanan osmotik yang

sama. Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah dari garam

normal dikatakan hipotonik, sebaliknya dengan tekanan osmotik

lebih tinggi disebut hipertonik. Dalam praktek sekarang, diobservasi

bahwa mata dapat mentoleransi nilai tekanan osmotik pada range

0,6-2,0% sodium klorida tanpa tanda ketidaknyamanan.


e. Viskositas
Viskositas larutan optalmik sering ditingkatkan dengan

maksud memperpanjang waktu kontak corneal, pengurangan

kecepatan pengeringan, dan peningkatan bioavailabilitas bahan

aktif.
f. Stabilitas
Penggunaan penstabil dapat diizinkan dalam larutan

optalmik jika sangat dibutuhkan

g. Surfaktan
Penambahan surfaktan pada larutan optalmik dibolehkan,

meskipun penggunaanya sangat terbatas. Toksisitas surfaktan

adalah pada batasan anionik > kationik > nonionic. Nonionik

digunakan pada konsentrasi rendah untuk meningkatkan dispersi

obat yang ditunda, seperti steroid, dengan cara demikian

memperbaiki kejernihan larutan.


6. www.FormulasiSteril.com (diambil dari buku

pelajaran Teknologi Farmasi, Voight)


a. Steril
Pemakaian tetes mata yang tekontaminasi mikroorganisme

dapat terjadi rangsangan berat yang dapat menyebabkan

hilangnya daya penglihatan atau tetap terbukanya mata sehingga

sebaiknya dilakukan sterilisasi akhir (sterilisasi uap) atau

menyaring larutan dengan filter pembatas bakteri.


b. Kejernihan
Persyaratan ini dimaksudkan untuk menghindari rangsangan

akibat bahan padat, sebagai penyaring digunakan leburan gelas,

misalnya Jenaer Fritten dengan ukuran pori G3 G5


c. Pengawetan
Dengan pengecualian sediaan yang digunakan mata luka

atau untuk tujuan pembelajaran, dan dapat dibuat hingga obat

bertakaran tunggal, maka obat tetes mata perlu diawetkan.

Pengawet yang sering digunakan adalah thiomersal (0,002%),

garam fenil merkuri (0,002%), garam alkonium dan garam

benzalkonium (0,002-0,01%) dalam kombinasinya dengan natrium

edetat (0,1%), klorheksidin (0,005-0,01%), klorbutanol (0,5%) dan

benzil alkohol (0,5-1%)


d. Tonisitas
Sediaan tetes mata sebaiknya dibuat mendekati isotonis

agar dapat diterima tanpa rasa nyeri dan tidak dapat menyebabkan

keluarnya air mata yang dapat mencuci keluar bahan obat. Untuk

membuat larutan isotonis, da[pat menggunakan medium isotonik


atau sedikit hipotonik, umumnya digunakan natrium klorida (0,7

0,9 %) atau asam borat (1,5-1,9%) steril.


e. Pendaparan
Mirip seperti darah, cairan mata menunjukan kapasitas

dapar tertentu, yang sedikit lebih rendah oleh karena sistem yang

terdapat pada darah seperti asam karbonat, plasprotein amfoter

dan fosfat primer-sekunder, juga dimilikinya kecuali system

hemoglobin-oksihenoglobin. Harga pHnya juga seperti darah 7,4

akan tetapi hilangnya karbon dioksida dapat meningkatkan harga

pHnya dapat meningkat 8-9. Pada pemakaian tetes biasanya yang

nyata tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan harga pH 7,3-9,7.

Daerah pH dari 5,5-11,4 masih dapat diterima. Tetes mata didapar

atas dasar beberapa alasan yang sangat berbeda. Misalnya untuk

memperbaiki daya tahan untuk mengoptimalkan kerja (misalnya

oksitetrasiklin) atau untuk mencapai kelarutan yang memuaskan

(misalnya kloramfenikol). Pengaturan larutan pada kondisi isohidris

(pH 7,4) adalah sangat berguna untuk mencapai rasa nyeri yang

sempurna, meskipun hal ini sangat sulit direaisasi oleh karena

kelarutan dan stabilitas bahan obat dan sebagian pembantu juga

kerja optimum disamping aspek fisiologis (tersatukan) turut

berpengaruhi
f. Viskositas dan aktifitas permukaan
Tetes mata dalam air mempunyai kerugian oleh karena

mereka dapat ditekan keluar dari saluran konjungtiva oleh gerakan


kelopak mata. Oleh karena itu waktu kontaknya pada mata

menurun. Melalui peningkatan viskositas dapat dicapai distribusi

bahan aktif yang lebih baik di dalam cairan dan waktu kontak yang

lebih lama atau panjang. Lagipula sediaan tersebut memiliki sifat

lunak dan licin sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. Oleh karena

itu sediaan ini sering dipakai pada pengobatan konjungtiva,

sebagai peningkat viskositas digunakan metil selulosa dan polivinil

piroridon (PVP)

Kesimpulan :
a. Steril, karena mata tidak memiliki antibody yang dapat melawan

beberapa bakteri yang dapat menyebabkan kebutaan maka tetes

mata harus steril


b. Kejernihan, untuk menghindari bahan padat yang dapat

merangsang dan menyebabkan iritasi


c. Pengawetan, untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme

selama pemakaian
d. Tonisitas, tekanan osmotik larutan (sediaan) harus isoosmotik

dengan cairan air mata


e. pH dan buffer, pH sediaan harus mendekati pH cairan mata yaitu

7,4, dengan range 5,5-11,4 diperbolehkan, selain itu juga harus

memperhatikan stabilitas pH zat aktif dan mempertahankannya


f. Viskositas, untuk memberikan waktu kontak yang lebih lama antara

obat dan kornea


II.2.7 Mengapa Tetes Mata Harus Steril

1. SDF : 357-358
Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting. larutan mata yang

dibuat dapat membawa banyak organisme, yang paling berbahaya

adalah Pseudomonas aeruginosa. infeksi mata dari organiosme ini

yang dapat menyebabkan kebutaan. Ini khususnya berbahaya untuk

penggunaan produk nonsteril didalam mata ketika kornea dibuka.

bahna-bahan partikulat dapat mengiritasi mata, ketidaknyamanan

pada pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya.

2. Prescription : 181

Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan

mata, bahwa sediaan mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak

mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh

karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata

secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim

ditemukan dalam air mata (lyzozim) dimana mempunyai kemampuan

untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini.

Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozym. satu yang paling

mungkin yang menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas

aeruginosa (Bacillus pyocyneas).

3. RPS 18 th : 1588

Bahaya Obat Nonsteril

Pseudomonas aeruginas (B. pyocyaneus; P. pyocyanea; Blue

pas bacillus) ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan upportunis


yang tumbuh baik pada kultur media yang menghasilkan toksin dan

zat/produk antibakteri. cenderung untuk membunuh kontaminan lain

dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur

murni. Bacillus gram negatif menjadi sumber dari infeksi yang serius

pada kornea. Ini dapat menybabkan kehilangan penglihatan pada 24-

48 jam. pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata,

menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian

berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini.

4. DOM Martin ; 892

Jika lapisan epitel sesekali rusak maka tidak ada pertahanan

dari organisme mungkin memasuki mata secara bebas dan

menyebabkan infeksi. Satu organisme sangat berbahaya dan

oportunis yang tumbuh baik dalam kornea dikenal dengan

Pseudomonas aeruginosa.

5. Parrot ; 290

Sterilitas diinginkan karena kornea dan jaringan yang segaris

dengan daerah arteri adalah media yang baik untuk mikroorganisme

dan penetesan dari larutan mata yang terkontaminasi ke dalam mata

yan luka oleh kecelakaan atau operasi dapat menghasilkan kebutaan.

6. Lachman ; 1292

Sediaan untuk mata meskipun tidak dimasukkan ke dalam

rongga bagian dalam tubuh, ditempatkan berhubungan dengan


jaringan-jaringan yang peka terhadap kontaminan. Oleh karena itu

dibutuhkan standar sejenis untuk sediaan obat mata.

7. Ansel ; 544

Cairan tubuh, termasuk darah dan cairan mata mempunyai tekanan

osmotik yang sebanding dengan larutan NaCl dalam air 0,9 %. Jadi

satu larutan NaCl dengan konsentrasi tersebut dikatakan isoosmotik

atau memiliki suatu tekanan osmosis yang seimbang dengan cairan

fisiologis. Istilah isotonik berarti persamaan sifat tonisitas biasa

digunakan bergantian dengan isoosmotik walaupun istilah isotonik

harus harus digunakan dengan rujukan pada sejumlah cairan tubuh

dan isoosmotik sebenarnya merupakan istilah kimia fisik yang

membandingkan tekanan kedua cairan di mata salah satunya dapat

berupa cairan tubuh atau 0,9 % larutan NaCl biasanya dianggap

sebagai hipertonik sedangkan larutan dengan tekanan osmotik yang

lebih besar jadi dari cairan fisiologi disebut hipertonik.

Secara teoritis larutan hipertonik yang ditambahkan ke dalam

sistem tubuh cenderung akan menarik air dari jaringan tubuh dan

membawanya ke dalam larutan, dalam suatu usaha mengencerkan

dan membentuk keseimbangan konsentrasi, suatu injeksi hipertonik

dapat menyebabkan sel darah menciut pada alirannya, pada mata

larutan akan menarik air menuju tempat dimana larutan tadi dikenakan

sebaliknya bila larutan hipertonik mungkin menimbulkan hemolisis sel


darah darah merah, atau lintasan air dari tempat pemakaian obat mata

melalui jaringan mata.

Kesimpulan :

Sediaan mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak

mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Oleh

karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata

secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim

ditemukan dalam air mata (lyzozim). Bacillus gram negatif menjadi

sumber dari infeksi yang serius pada kornea. Ini dapat menyebabkan

kehilangan penglihatan pada 24-48 jam, salah satu yang paling

berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa.

II.2.8 Mengapa Tetes Mata Harus Isotonis

1. Scoville's ; 234

Isotonisitas dalam larutan mata. Ketika sekresi lakrimal

sekarang dipertimbangkan untuk mempunyai tekanan osmotik yang

sama sebagai cairan darah, dan kemudian menjadi isotonis dengan

0,9% larutan natrium klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan

mata isotonis telah disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu

menuntut, sebagai bagian dari praktek profesionalnya, untuk

menyiapkan larutan mata yang isotonis.

2. RPS 18th ; 1590


Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh garam

dalam larutan berair. Larutan mata adalah isotonik dengan cairan lain

ketika magnetudo sifat koligatif larutan adalah sama. Larutan yang

dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan larutan

NaCl 0,9%. Perhitungan isotonisitas dalam suatu waktu mendapat

penekanan yang lebih berat. Calon farmasis harus diajar persyaratan

yang lebih mendetail dan peralatan untuk mencapai tonisitas, kadang-

kadang kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas dan

stabilitas. Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas

daripada suatu waktu yang diusulkan. Mata biasanya dapat

mentoleransi larutan yang ekuivalen dalam rentang 0,5-1,8% NaCl.

Memberikan pilihan, isotonisitas selalu diinginkan dan khususnya

penting dalam larutan intraokuler. Namun demikian, ini tidak

dibutuhkan menjadi perkara yang berlebihan ketika total stabilitas

produk dipertimbangkan.

3. Textbook Of Pharmaceutics ; 360

Seperti yang telah lalu untuk alas an kenyamanan pada

penggunaan, tetes dibuat isotonik dengan sekresi lakrimal.

Bagaimanapun, tidak bisa dipungkiri bahwa mata dapat mentoleransi

range tonisitas dari 0,5 2,0% NaCl sebelum ketidaknyamanan

dialami. Bahan obat itu sendiri yang biasanya sering menyebabkan

nyeri atau menyengat pada penggunaan. Sebagai contoh,


Amethotaine HCl memiliki aktivitas permukaan yang menyebabkan

nyeri ketika larutan digunakan kedalam mata dan untuk alasan ini

konsentrasi diatas 1% tidak digunakan. Sekarang bukan syarat umum

dalam The British Pharmaceutical Codex untuk tetes mata dibuat

isotonik.

4. Modern Pharmaceutical ; 516

Dahulu suatu kesepakatan terbaik dari perhatian ditempatkan

pada pengajaran farmasis untuk mengatur dengan benar larutan mata

menjadi isotonik (menggunakan suatu tekanan osmotik setara dengan

0,9% NaCl). Pada komponen larutan mata ini penting

mempertimbangkan sterilitas, stabilitas dan pengawetan, dan tidak

membahayakan untuk memperoleh larutan isotonik yang tepat range

dari 0,5 2,0% tidak menyebabkan respon nyeri dan range 0,7 1,5%

masih dapat diterima pada sebagian besar orang.

5. SDF : 358

Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan

dari keberadaan padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan

cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama dengan

garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai

jumlah bahan terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut

hipertonik. Sebaliknya, cairan yang mempunyai sedikit zat terlarut


mempunyai tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik. Mata

dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai tonisitas dalam

range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tnapa ketidaknyamanan

yang besar. Tonisitas pencuci mata mempunyai hal penting lebih besar

daripada tetes mata karena volume larutan yang digunakan. Dengan

pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata, mata dicuci dengan

larutan kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk

mengatur beberapa perbedaan tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata

tidak mendekati cairan mata, dapat, menghasilkan nyeri dan iritasi.

Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan dapat diatur sama

cairan lakrimal dengan penambahan zat terlarut yang cocok seperti

NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat diinginkan konsentrasi

melalmpaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika

konsentrasi obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan

hipertonik. Contohnya 10 dan 30% larutan natrium sulfasetamid

adalah hipertonik, konsentrasi kurang dari 10% tidak memberikan efk

klinik yang diinginkan. Untuk larutan hipotonik sejumlah metode

disiapkan untuk menghitung jumlah NaCl untuk mengatur tonisitas

larutan mata, salah satu metodenya adalah metode penurunan titik

beku.

6. Ansel ; 541
Cairan tubuh termasuk darah dan cairan mata mempunyai

tekana osmotis yang sebanding dengan larutan NaCl dalam air 0,9 %.

Jadi, suatu larutan NaCl dengan konsentrasi tersebut dikatakan

mempunyai tekanan osmotik yang seimbang dengan cairan fisiologis.

Dalam prakteknya, batas-batas isotonis suatu larutan mata berupa

NaCl atau ekuivalennya dapat berkisar dari 0,6-2,0 % tanpa rasa tidak

nyaman pada mata.

7. Lachman ; 1307

Senyawa yang membantu ke isotonisan suatu produk

mengurangi sakit pada daerah injeksi yang berakhir ke saraf. Dapar

bertindak sebagai pembantu tonisitas serta penstabil pH larutan. Zat

penambah lain yan membantu ke sifat koligatif dan preparat tersebut

juga bisa digunakan. Bila memungkinkan, aktivitas rangkap seperti itu

diinginkan.

Walaupun penurunan titik beku larutan paling sering digunakan

untuk menentukan apakah suatu larutan bersifat isotonis, isotonisitas

sebenarnya tergantung pada permeabilitas suatu membran

semipermeabel, yang memisahkan larutan dari sistem biologis. Untuk

preparat-preparat farmasi steril seringkali membran yang

dikhawatirkan adalah membran yang menutupi sel-sel darah merah.

Oleh karena itu, suatu sediaan tidak dapat dianggap isotonis sampai

sediaan tersebut diuji dalam suatu sistem biologis.


8. Formulasi Steril ; 110

Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air

mata memiliki tekanan osmotik yang nilainya sama dengan darah dan

cairan jaringan. Besarnya adalah 0,65-0,8 Pa (6,5-8 atm). Penurunan

titik bekunya terhadap air 0,12 K atau konsentrasinya sesuai dengan

larutan NaCl 0,9 % dalam air. Larutan hipertonis relative lebih dapat

diterima daripada hipotonis. Larutan yang digunakan pada mata luka

atau yang telah dioperasi menggunakan larutan isotonis. Pada larutan

yang mengandung perak, memakai garam nitrat1,2-1,6 %.

9. DOM King ; 146

Tonisitas berarti tekanan osmotik dihasilkan oleh garam dalam

larutan. Larutan opthalmic merupakan larutan isotonis yang benar-

benar harus dipertimbangkan secara umum dengan larutan lain, saat

magnitudo sifat koligatif larutan adalah sama. Larutan mata disebut

isotonis ketika tonisitas sama untuk digunakan 0,9 % larutan NaCl.

Mata biasanya dapat mentoleransi ekuivalen larutan pada range 0,5-

1,8 % NaCl.

10. Parrot ; 296

Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus diformulasi dan

disiapkan dengan pertimbangan tonisitas

Kesimpulan :
Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh larutan dalam

sediaan berair. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan

tekanan osmotik yang sama dengan garam normal atau 0,9% NaCl.

Larutan yang mempunyai jumlah bahan terlarut lebih besar dari pada

cairan mata disebut hipertonik, sedangkan cairan yang memiliki sedikit

zat terlarut memiliki tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik.

Keadaan hipertonik maupun isotonik dapat diterima sebagai suatu

sediaan karena keadaan ini memungkinkan osmosis cairan mata

keluar sel sehingga sel mengkerut, namun dalam beberapa waktu sel

dapat kembali ke keadaan semula (bersifar reversible). Sebaliknya

pada keadaan hipotonik, dapat terjadi lisis pada sel karena konsentrasi

diluar sel lebih kecil dibandingkan konsentrasi di dalam sel sehingga

cairan sel cenderung akan masuk atau tertarik ke dalam sel. Selain itu,

tetes mata yang isotonik dapat memberikan rasa nyaman pada

penggunaan karena tidak timbul rasa nyeri ketika suatu tetes mata

digunakan.

II.2.9 pH cairan mata

1. Scovilles ; 224
Ada persetujuan umum tentang konsentrasi ion hydrogen dari cairan

lakrimal adalah mendekati normal. Namun demikian, variasi nilai telah

dilaporkan oleh beberapa peneliti. Kemudian Hosfor Hids, Buchs dan

Baeschilin, Foldman, Dekking, Baylereld, Ran Bost dan Hild dan


goyan dilaporkan telah menemukan pH cairan mata berhubungan

dengan arah dari 6,3 8,4, Lipschults 8,0, Oguchi dan Nakashima dari

8,4 sampai 8,6, Fedeisen Biergoard menemukan pH cairan mata

lakrimal sekurang-kurangnya 7,4 dan mungkin lebih alkali


2. DOP Cooper ; 192
Konsentrasi ion hidrogen dari cairan mata berkisar 7,2 -7,4

3. Text book ; 360


Sekresi lakrimal mempunyai pH antara 7,2 -7,4 dan mempunyai

kapasitas membuffer yang tinggi, akibatnya mata dapat mentoleransi

larutan yang mempunyai pH dari 3,5-10. Mereka tidak didapar dengan

kuat ketika cairan mata akan dengan cepat memperbaiki nilai pH

normal dari mata.


4. Parrot ; 223
Larutran lakrimal normalnya pH 7,4
5. DOM martin ; 882
pH fisiologi dari cairan mata ke larutan lakrimal adalah 7,4
6. Modern Pharmaceutical ; 517
pH normal fisiologis dari cairan mata adalah 7,4
7. Ansel ; 548
pH air mata normal adalah 7,4
8. DOM King ; 141
pH air mata adalah sekitar 7,4 dengan range 7,3-7,7
9. Formulasi steril ; 111
Harga pH mata sama dengan darah yaitu 7,4
10. FI IV ; 13
Dalam beberapa hal, pH dapat berkisar antara 3,5 dan 8,5. Oleh

karena itu sistem dapar harus dipilih sedekat mungkin dengan pH

fisiologis yaitu 7,4


Kesimpulan :
Sekresi lakrimal mempunyai range pH dari 3,5-10 dan mempunyai

kapasitas membuffer dan mungkin lebih alkali


II.2.10 pH Sediaan Mata

1. Scoville's ; 225

pH dari larutan mata sebaiknya antara 4,5 dan 9

2. DOM Martin : 898

Dalam banyak perumpamaan, kita dapat mencapai obat dengan

seratus kali lebih stabil pada pH 5,0 dan kemudian pH 7,0

3. Parrot ; 223

Larutan lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih

bisa ditoleransi oleh larutan mata dengan range pH 5-7

4. RPS 21 th ; 862

Secara ideal, sediaan mata diformulasi sama dengan pH mata yaitu

7,4

5. FI IV ; 13

Obat mata berkisar antara 3,5-8,5

6. SDF ; 359

Larutan penbuffer dari garam alkaloid sekitar pH 7 dan larutan alkaloid

stabil pada pH 3-5

7. Ansel ; 548

pH sediaan mata yang baik adalah 3,0-3,8

8. Formulasi Steril ; 111

Dengan mempertimbangkan keseimbangan fisiologis, larutan

dieuhidrikan dari pH 5,5-6,5


9. DOM King ; 150

pH sediaan yaitu 6,5

Kesimpulan :

pH sediaan mata umumnya mendekati pH mata yakni 7,4, namun pH

sediaan tetes mata dengan range 3,0-9,0 masih dapat diterima

II.2.11 Pewadahan Tetes Mata

1. DOP Cooper ; 185

Tipe wadah yang biasa digunakan untuk tetes mata adalah vertikal

dilipat ambar atau gelas botol hijau layak dengan tutup bakelite yang

membawa tube tetes dengan sebuah pentil dan kemampuan untuk

ditutup sebagaimana untuk menahan mikroorganisme. Sifat-sifat yang

penting sebagai berikut :

a. Wadah dilengkapi dengan uji untuk membatasi alkali

gelas. Copper (1963) menunjukkan bahwa kadang-kadang botol

dapat dibebasalkalikan tetapi tube tetes tidak. Ini dapat

dicontohkan oleh tetes mata fisostigmin dalam larutan dalam botol

tidak berwarna tetapi pada tube tetes berwarna merah muda

b. Wadah melindungi isi bahan terhadap cahaya. Banyak

bahan obat sensitif terhadap cahaya

c. Wadah mempunyai segel yang memuaskan. Norton (1963)

menunjukkan test warna


d. Pentil karet atau pentil dari bahan-bahan lain adalah

penyerap dan sebaiknya dijenuhkan dengan pengawet yang

digunakan dalam larutan mata dimana mereka digunakan

e. Wadah menyiapkan penetes yang siap digunakan dan

melindungi terhadap kerusakan dan kontaminasi

f. Wadah dilengkapi dengan pengaturan racun. Banyak obat

mata adalah racun

g. Wadah non gelas tidak bereaksi dengan obat-obat atau

partikel lain yang menjadi isi larutan

2. Scoville's ; 247

Wadah untuk larutan mata. Larutan mata sebaiknya digunakan

dalam unit kecil, tidak pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai

yang lebih kecil. Botol 7,5 ml adalah ukuran yang menyenangkan

untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil

memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan

meminimalkan jumlah pemaparan kontaminasi. Botol plastik untuk

larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun beberapa botol plastik

untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran, mereka masih

melengkapi dan yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung

produksi untuk menghasilkan informasi teknik dalam perkembangan

terakhir.

3. SDF ; 367
Larutan mata disiapkan secara terus-menerus dikemas dalam

wadah tetes (droptainers) polietilen atau dalam botol tetes gelas.

Untuk mempertahankan sterilitas larutan, wadah harus steril. Wadah

polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara penetes gelas

dapat dengan dibungkus dan diotoklaf. Secara komersial disiapkan

unit dosis tunggal dengan volume 0,3 ml atau kurang dikemas dalam

tube polietilen steril dan disegel dengan pemanasan.

4. RPS 18th ; 1590

Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi

penetes gelas telah dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes

polietilen densitas rendah yang disebut "Droptainer". Hanya sejumlah

kecil wadah gelas yang masih digunakan, biasanya karena

pembatasan sterilitas. Larutan intraokuler volume besar 250-500 ml

telah dikemas dalam gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai

dikemas dalam pabrik khusus wadah polietilen/polipropilen. Satu yang

masih perlu dipikirkan adalah wadah plastik, biasanya polietilen

densitas rendah, adalah tidak dengan alat tergantikan dengan gelas.

Wadah plastik adalah permeable terhadap beberapa bahan termasuk

cahaya dan air. Wadah plastik dapat mengandung variasi bahan-

bahan ekstraneous seperti bahan pelepas jamur, antioksidan, reaksi

quenchers dan yang mirip, siap dapat menggunakan plastik dalam

wadah larutan. Lem label, tinta dan warna juga dapat berpenetrasi
polietilen dengan cepat, sebaliknya bahan-bahan menguap dapat

menyerap dari larutan ke dalam atau melalui wadah plastik.

Wadah gelas memberikan bahan yang menyenangkan untuk

penyiapan terus-menerus larutan mata. Tipe I digunakan. Wadah

sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril kemudian disterilisasi

dengan otoklaf. Penetes normalnya disterilkan dan dikemas dalam

blister pack yang menyenangkan.

5. Ensyclopedia 11 ; 61 dan 231

Biasanya larutan mata dikemas dalam wadah gelas beserta

sebuah drop gelas. Sejak perkenalan wadah drop LDPE, wadah gelas

tergantikan, kecuali pertimbangan stabilitas penggunaannya.

Keuntungan dari wadah drop meliputi potensi kontaminasi lebih

rendah, penggunaannya menyenangkan, lebih ringan, dan lebih

murah. Plastik LDPE tembus cahaya dan untuk obat yang sensitif

terhadap cahaya, tambahan dalam pewadahan (seperti agen

pengopak titanium dioksida) atau label papan tidak tembus cahaya

pada bagian luar wadah bila diperlukan. Wadah plastik LDPE tidak

dapat diautoklaf dan biasanya disterilisasi dengan etilen dioksida atau

radiasi gamma 60 Co. Wadah gelas drop botol masih digunakan untuk

preparasi larutan mata yang dilakukan tanpa persiapan. Wadah ini

juga digunakan untuk produk yang mudah teroksidasi atau

mengandung komponen yang dapat terbagi kedalam wadah plastik.


Wadah gelas digunakan untuk sediaan parenteral yang

diklasifisikasikan dalam tipe I, II, dan III (Tabel 8). Tipe I merupakan

tingkat kualitas terbaik, kandungan utamanya borosilikat (silikon

dioksida), yang dibuat secara kimia, bahan asam dan kondisi alkali.

Wadah gelas tipe I, meskipun mahal, lebih dipilih untuk kebanyakan

sediaan parenteral, khususnya untuk sediaan dosis tunggal (sediaan

yang langusng digunakan). Juga dapat digunakan untuk beberapa

wadah sediaan parenteral. Wadah felas tipe II, gelas soda lime

(digunakan dengan natrium sulfit atau natrium sulfida untuk

menetralisasi permukaan akali oksida). Tipe III tidak digunakan gelas

soda lime. Tipe II dan III juga digunakan untuk serbuk kering dan

larutan berminyak untuk sediaan parenteral. Tipe II dapat digunakan

untuk sediaan larutan dengan pH dibawah 7,0 sama baiknya dengan

asam dan sediaan netral.

Formulator harus mempertimbangkan tiap-tiap gelas yang

mempunyai tipe berbeda dan tingkat bahan tambahan (boron, sodium,

potasium, kalsium, besi dan magnesium), dimana komponen kimia

dan fisikanya mempengaruhi.

Tabel 8. Gelas digunakan untuk sediaan parenteral

Batasan
Tipe Deskripsi umum Tes USP Vol. 0,02 N asam
ukuran (ml)
Borosilika daya tahan
I Serbuk gelas Semua 1,0
tinggi
100
Gelas soda lime yang
II Menarik air > 100 0,7 dan 0,2
diproses

Gelas yang
III Gelas soda lime Semua 8,5
diserbukkan
Gelas soda lime untuk Gelas yang
IV Semua 15,0
tujuan umum diserbukkan
6. DOM Martin ; 901

Botol drop merupakan wadah sangat baik yang paling banyak

digunakan pada pengepakan larutan mata di tahun ini. Seperti wadah

yang terdapat dengan ukuran dari 4-60 ml.

Ini penting ketika menggunakan plastik atau botol drop dengan karet

untuk berhati-hati dengan membersihkannya, khususnya sebelum

penggunaan dropes. Ketika permukaan luar droper sudah kelihatan

bersih, bagian dalam permukaan droper sebagai botol seluruhnya,

harus mampu dibilas dengan larutan deterjen dengan air destilasi

bersih. Ini dilakukan untuk memindahkan larutan/partikel yang sering

hadir selama pempabrikan botol. Sayangnya beberapa sumber

kormersial telah diganti tube drop polietilen untuk tube kaca masa.

Pengepakan dibuat sepenuhnya dari polietilen yang terdapat dari

beberapa sumber komersial. Ini mencakup pemasukan drop polietilen

dalam pembagian drop modifikasi ketika botol dibalik dan ditekan

dengan lembut.
7. Modern Pharmacetical ; 519

Tetes mata dikemas kebanyakan sepenuhnya dalam botol drop

plastik sejak perkenalan droptainer plastik pada tahun 1950. Sedikit

produk masih tetap dalam botol drop gelas karena pertibambangan

stabilitas. Keuntungan utama dari droptainer dan dengan cara yang

sama drop plastik didesain menyenangkan untuk digunakan oleh

pasien, penurunan potensi kontaminasi, berat yan lebih rendah dan

biaya yang mahal. Botol plastik memiliki ujung yang keluar sebagai

bagian integral dari wadah. Pasien dengan mudah memindahkan tutup

dan membalik botol ke bawah dan menekan hati-hati sebagai satu

tetes drop jatuh dalam mata. Pengeluaran ujung dapat didesain hanya

untuk mengeluarkan 1 drop atau 1 aliran dari cairan untuk irigasi,

tergantung pada tekanan. Ketika digunakan larutan sisa dalam botol

hanya dibuka sedikit untuk mengurangi kontaminasi selama

pemakaian. Jadi, ini akan memelihara sagat rendah ketidakadaan

mikroba dibanding dengan botol gelas yang lama dengan

pemasangan pemisah drop.

Botol plastik dan saluran ujung dibuat dari resin low density

polyethylene (LDPE), yang memberikan fleksibilitas dan sifat inert

karena komponen-komponennya kontak dengan produk selama

hidupnya, harus hati-hati dalam memilih dan diuji untuk pemilihannya,

untuk penggunaan optalmik.


Resin LDPE digunakan untuk botol dan ujung salurannya tidak

diautoklaf, dan disterilisasi dengan radiasi 60 Co gamma ataupun

etilen oksida. Tutup didesain seperti ketika ditutup rapat pada botol ini

cocok dengan ujung saluran dan membentuk segel. Tutup biasanya

terbuat dari resin yang lebih keras dari botol, seperti polystrene dan

juga distelisasi oleh radiasi gamma atau gas etilen oksida.

Sebuah wadah plastik spesial optalmik telah diperkenalkan

bahwa penggunaan grade spesial dari polypropylen resisten terhadap

perubahan bentuk temperatur autoklaf. Dengan pewadahan yang

spesial, botol dapat diisi, ujung saluran dan tutup dipasang dan segala

produk disterilkan melalui uap lembab pada tekanan 121 o C.

Botol drop gelas masih digunakan untuk produk yang sangat

sensitif terhadap oksigen atau mengandung komponen-komponen

permeabel yang tidak cukup stabil dalam plastik, penggabungan

serbuk-serbuk juga menggunakan wadah gelas, karakteristik, traspor,

panas dibutuhkan selama proses freezer drying.

Wadah gelas disterilkan melalui panas kering atau disterilisasi

uap lembab autoklaf. Gelas amber digunakan untuk juga resisten

cahaya dan lebih unggul dari gelas green.

8. Ansel ; 553-554

Larutan untu mata harus dikemas sehingga mudah ditatanya dan

dijaga sterilitasnya. Kebanyakan larutan untuk mata yang digunakan


dalam cara tetesan, dikemas dalam wadah gelas atau plastik yan

memiliki penetesan. Beberapa wadah plastik memiliki penetes yan

tetap dan terpasang yang akan mengeluarkan obat apabila dipegang

pada posisi terbalik. Pasien harus dilatih cara melindungi larutan untuk

mata dari pencemaran (kontaminasi). Gelas larutan untuk mata yang

dikemas dengan penetes yang tetap tidak mudah mendapatkan

pencemaran dari udara, daripada botol jenis sekrup yang harus

dibuka.

9. Text Book ; 361

Wadah dosis tunggal untuk penggunaan dalam praktek dirumah sakit,

selama dan setela operasi pada mata, tetes mata disalurkan dalam

wadah dosis tunggal. Tetes mata yang digunakan pada mata yang

sakit (flouresia) dibagikan cara yang sama. Wadah dosis ganda untuk

penggunaan dan untuk mata lengkap dalam praktek rumah sakit.

Tetes mata dibagikan dalam wadah ini adalah dosis ganda. Tipe

konvensional botol tetes mata terbuat dari kaca dan ditutup dengan

sumbat sekrup dengan penetes mata serta pentil.

10. Parrot ; 291

Larutan optalmik biasanya dikeluarkan dengan botol drop untuk

memudahkan pasien. Penetes boleh dari plastik atau tembaga atau

karet. Bisa dicuci dengan larutan deterjen dan dibilas dengan air steril

untuk menghilangkan bahan partikulat. Kaca atau karet dari penetes


dapat disterilkan denga autoklaf. Bahan plastik umumnya memiliki titi

lebur yan lebih rendah sehingga tidak boleh dengan autoklaf.

Kesimpulan :

Pewadahan tetes mata meliputi :

a. Wadah drop plastik, biasanya terbuat dari LDPE. Wada ini

merupakan wadah yang sering digunakan karena menyenangkan,

potensi kontaminasi mikroba relatif kecil, lebih ringan, dan murah.

Wadah ini tidak dapat disterilisasi dengan autoklaf, tetapi

disterilisasi dengan radiasi gamma 60 Co atau gas etilen dioksida.

b. Wadah drop gelas, biasanya digunakan untuk produk yang

sensitif terhadap oksigen dan bagi produk yang mengandung

komponen-komponen yang tidak cukup stabildalam wadah plastik.

Wadah ini dapat disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121 0C.

II.2.12 Komposisi Tetes Mata

1. DOP Cooper : 184

Selain bahan obat, tetes mata dapat mengandung sejumlah bahan

tambahan untuk mempertahankan potensi dan mencegah peruraian.

Bahan tambahan itu meliputi :

a. Pengawet
Sebagaimana yang telah dikatakan, ada bahan untuk mencegah

perkembangan mikroorganisme yang mungkin terdapat selama

penggunaan tetes mata. Larutan untuk tetes mata khusus, yang

paling banyak tetes mata dan yang lain menggunakan fenil merkuri

nitrat, fenil etil alcohol dan benzalkonium klorida.

b. Isotonisitas dengan Sekresi Lakrimal

NaCl normalnya digunakan untuk mencapai tekanan osmotik yang

sesui dengan larutan tetes mata.

c. Oksidasi Obat

Banyak obat mata dengan segera dioksidasi dan biasanya dalam

beberapa kasus termasuk bahan pereduksi. Natrium metasulfit

dalam konsentrasi 0,1% umumnya digunakan untuk tujuan ini.

d. Konsentrasi Ion Hidrogen

Butuh untuk kestabilan konsentrasi ion hidrogen, dan beberapa

buffer telah digambarkan. Sodium sitrat digunakan dalam tetes

mata fenilefrin.

e. Bahan Pengkhelat

Ketika ion-ion dan logam berat dapat menyebabkan peruraian obat

dalam larutan digunakan bahan pengkhelat yang mengikat ion

dalam kompleks organik, akan memberikan perlindungan.

Na2EDTA, satu yang paling dikenal sebagai pengkhelat.

f. Viskositas
Untuk menyiapkan larutan kental dengan memberi aksi yang lama

pada larutan mata dengan tetap kontak lebih lama pada

permukaan mata, bahan pengental dapat digunakan, metilselulosa

1% telah digunakan untuk tujuan ini.

2. FI III ; 10

Tetes mata berair umumnya dibuat menggunakan cairan pembawa

berair mengandung pengawet terutama fenil raksa (II) nitrat atau fenil

raksa (II) asetat 0,002 %. Benzalkonium klorida 0,01 atau kolheksidin

asetat 0,01 yang pemilihannya didasarkan atas ketercampuran zat

pengawet terhadap obat mata yang terluka dari lain hal sering

menyebabkan kecelakaan.

3. SDF ; 34

Penggunaan larutan mata melalui instalasi lebih mempertimbangkan

topikal daripada parenteral. Oleh karena itu, dalam formulasi larutan

mata tidak biasanya digunakan perbedaan pada bahan tambahan,

memasukkan buffer, pengawet, antimikroba, bahan kimia untuk

penggunaan tonisitas dan bahan pengental. Beberapa dokter, lebih

suka larutan mata yang dikemas dalam dosis tunggal tanpa

kekurangan penambahan yang dapat menimbulkan hipersensitivitas

dari bahan kimia.

4. Modern Pharmaceutical ; 516


Bahan-bahan tambahan dalam larutan dan suspensi mata

memerlukan satu atau lebih sesuai dengan fungsinya : tonisitas,

buffer, dan pengatur pH, bahan penstabil, peningkat kelarutan,

penambah viskositas dan aksi pelarut.

a. Tonisitas dan bahan pengatur tonisitas

Pada kompnen larutan mata, ini penting mempertimbangkan

sterilitas, stabilitas yang tepat. Range dari 0,5-2,0 % NaCl tidak

menyebabkan respon nyeri dan range 0,4-1,5 % masih dapat

diterima pada sebagian besar orang. Bahan pengatur tonisitas

yang digunakan biasanya meliputi NaCl, KCl, garam buffer,

dekstrosa, gliserin dan propilenglikol.

b. Pengatur pH dan buffer

pH dan buffer dalam sediaan mata adalah sama pentingnya

dengan pengawet sejak stabilitas menjadi sangat penting pada

penggunaan obat mata adalah sebagian besar control pH

lingkungan.

Pada penambahan untuk efek stabilitas pengatur pH dapat

mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan aktifitas dari produk.

Kenyamanan dapat dideskripsikan sebagai respon subjektif dari

pasien setelah instalasi dari produk dalam culdesac. Iritasi mata

adalah yang pada umumnya disertai dengan peningkatan sekresi

cairan air mata untuk membantu dalam pemulihan dari kondisi


psikologi normal. Idealnya, setiap produk dibuffer hingga pH 7,4

yang dipertimbangkan pH psikologi normal dari cairan air mata.

c. Bahan penstabil

Bahan penstabil ditambahkan pada formulasi untuk menurunkan

dikomposisi dari bahan aktif. Antioksidan adalah bahan penstabil

yang penting ditambahkan pada beberapa larutan mata, utamanya

yang mengandung epinefrin dan bahan pengoksid lain, sodium

bisulfit atau larutan bitartrat. Larutan epinefrin borat mempunyai pH

dengan range 5,5-7,5 dan memberi lebih banyak kesulitan bagi

formulator untuk mencegah oksidasi. Beberapa sistem dari

antioksidan paten dikembangkan secara spesifik untuk komponen

ini. Asam iso askorbat juga antioksidan efektif untuk obat ini.

Sodium thiosulfat juga digunakan dengan larutan sodium

sulfacetamid.

d. Surfaktan

Penggunaan dari surfaktan dabatasi dalam formulasi larutan mata.

Tingkat toksisitas dari surfaktan adalah anionik > kationik >>

nonionik. Beberapa surfaktan nonionik digunakan pada konsentrasi

relative rendah untuk membantu dalam penyalran lemak dalam

suspensi dan untuk mencapai atau memperbaiki kejernihan


larutan. Pada prinsipnya digunakan polisorbat 20 dan 80, tyloxapol

dan polyoxyl 40 stearat, konsentrasi terendah mungkin digunakan

untuk mencapai fungsi yang diinginkan.

e. Bahan pemberi viskositas

Polivinil alcohol, metal selulosa, hidroksi propil metil selulosa,

hidroksi etil selulosa dan salah satu dari beberapa bahan dengan

berat molekul tinggi Cross-Linked polimer dari crerylic acid,

seperti karbomer (162) yang umunya digunakan untuk

meningkatkan viskositas dari larutan suspensi mata.

f. Pembawa

Tetes mata dengan sedikit pengecualian, cairan agneous

menggunakan air murni USP sebagai pelarut. Air untuk injeksi tidak

diperlukan seperti pada parenteral. Air murni standar USP dapat

diperoleh melalui destilasi dan deionisasi atau osmosis balik.

Minyak digunakan sebagai pembawa untuk beberapa produk tetes

mata topikal yang sangat sensitive terhadap kelembaban.

5. Scovilles ; 234-235

a. Buffer dalam larutan mata

Ada 2 kelompok hal gagasan penggunaan buffer dalam larutan

optalmik, mempertahankan bahwa penggunaan buffer tidak penting

dan dalam beberapa kasus tidak dibutuhkan. Contohnya, Murphy

dan kawan-kawannya meningktakan posisi ini melalui penjelasan


berikut pH sebagian besar garam alkaloid dalam larutan aqueous

adalah antara 4 dan 5 dan ini adalah range dimana bahan ini juga

kebanyakan stabil.

Oleh karena itu, penambahan buffer untuk mengatur pH tidak bisa

dibenarkan sebagai mana peningkatan stabilitas obat juga, ketika

sebuah larutan drop tidak terbuffer ditanamkan pada kantung

bantuan, aksi buffer air mata hampir langsung mengatur pH netral

atau sedikit alkalinitas dan saat yang sama membuat kemampuan

peningkatan konsentrasi basa bebas untuk penetrasi dalam

corneal epitalium. Murphy dan kawan-kawannya lebih jauh

menyatakan bahwa beberapa larutan buffer digunakan untuk ari

larutan mata isotonik jadi lebih sederhanamengubah pH larutan

alkaloid, tidak terelakkan bercampur dengan aksi buffer air mata

dan kemudian mengurangi jumlah basa bebas yang ada untuk

absorbs. Mereka merekomendasikan bahwa penggunaan buffer

dapat dihindari sedapat mungkin dan menyatakan bahwa ketika

menggunakan buffer itu sangat penting, maka satu kapasitas buffer

rendah dipilih.

b. Isotonisitas dalam larutan mata

Sejak sekresi lakrimal sekarang dipertimbangkan sama dengan

tekanan osmotik darah dan menjadi isotonis dengan 0,9 % larutan

NaCl, kalkulasi untuk preparasi dari larutan mata isotonik jadi lebih
sederhana. Farmasis harus selalu berusaha sehingga sebuah

bagian dari praktek profesionalnya untuk menyediakan larutan

mata yang isotonik.

c. Pengawet dalam larutan mata

Tehnik pharmaceutical sebaiknya menghormati keselamatan

pasien yang meminta bahwa semua larutan mata dibuat dengan

penambahan pengawet. Pengawet yang dipilih harus mampu

mencegah pertumbuhan atau bahay mikroorganisme secara

kebetulan ketika tutup wadah terbuka selama penggunaan, yang

harus diingat, bagaimanapun penggunaan pengawet tidak

mengubah kebutuhan untuk preparasi dari larutan mata steril yang

menggunakan tehnik bersih dan hati-hati.

6. Ansel ; 542-550

a. Pengawet

Pengawet yang tepat dari konsentrasi maksimum pada larutan

yaitu :

0,013 % Benzalkonium klorida

0,01 % Benzalkonium klorida


0,5 % klorobutanol

0,004 % fenil merkuri nitrat

0,004 % fenil merkuri asetat

0,01 % hinerasal

b. Pendapar

USP menyediakan formula untuk pembuatan larutan dapar yang

sesuai untuk dipekatkan oleh obat-obatan tertentu. Dapar mungkin

digunakan dalam suatu larutan untuk mata karena :

Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasien

Untuk menjamin kestabilan obat

Untuk mengawasi aktivitas terapetik bahan obat

c. Penambah viskositas/zat pengental

Pada pembuatan larutan untuk mata, suatu tingkat metal selulosa

yang sesuai atau zat pengental lainnya, seringkali ditambahkan

untuk menaiikan viskositas dengan demikian membantu menahan

obat pada jaringan sehingga menambah efektifitas terapinya.

d. Pengisotonis

Dalam prakteknya batas-batas isotonisitas suatu larutan untuk

mata berupa NaCl atau ekuivalennya dapat berkisar 0,6-2,0 %

tanpa rasa tidak nyaman pada mata. NaCl tidak dapat dipakai
untuk membentuk tekanan osmotik yang sama dengan yang

dibentuk 0,9 % NaCl.

Kesimpulan :

Komposisi tetes mata :

1. Zat aktif yang memiliki efek terapetik

2. Zat tambahan

a. Pengawet untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme dan

memelihara stabilitas. Contohnya : benzalkonium klorida,

klorobutanol, metal dan propel paraben serta pengawet lainnya.

b. Antioksidan yang merupakan bahan penstabil untuk

menurunkan dekomposisi bahan aktif. Contoh : sodium bisulfit

dan meta sulfit.

c. Pengkhelat yang merupakan bahan yang dapat mengikat ion

dan logam berat dalam kompleks organic sehingga zat aktif

tidak terurai. Contoh : Na2EDTA.

d. Pendapar yaitu bahan yang digunakan untuk mengatur pH

larutan mata sehingga sesuai dengan pH larutan lakrimal dan

menjaga obat/zat aktif tetap stabil. Contoh : dapar borat dan

dapar fosfat.

e. Pengisotonis yaitu bahan untuk menjaga tetes mata tetap

isotonis. Contoh : NaCl, KCl


f. Pengental/penviskositas yaitu bahan yang dapat meningkatkan

viskositas sediaan sehingga menyebabkan peningkatan kontak

yang lebih lama antara obat dan permukaan mata ketika tetes

mata digunakan. Contoh : metal selulosa.

g. Surfaktan yaitu bahan yang digunakan untuk memperbaiki

kejernihan dalam sediaan dalam sediaan. Contoh : polisorbat

20 dan 80.

h. Pembawa yaitu pelarut yang digunakan pada tetes mata dapat

berupa air destilasi murni/minyak untuk obat yang sensitive

terhadap kelembaban.

II.2.13 Teori Kinsey

1. DOM King : 882

Banyak obat mata adalah basa lemah dimana bentuk garamnya

digunakan pada mata dalam larutan air. Karena kemampuan

netralisasi dari air mata, pH dari tetes mata dengan cepat dirubah

menjadi pH fisiologis. Tergantung dari sifat disosiasi dari alkaloid,

sebagian dari garam akan dirubah menjadi bentuk basa bebas yang

biasanya lebih larut lemak sehingga ion mudah ditransfer dalam sel

epitel yang kaya akan lemak. Bentuk lemak dari alkaloid R 3N melewati

lapisan epitel ke dalam substansia propria (stroma). Lapisan stroma ini

berlapis-lapis, kurang mengandung lipid dan kaya akan air. Obat yang

berpenetrasi sebagian akan dirubah menjadi bentuk terprotonasi


tergantung dari pH dan lingkungan berair pada stroma. Pada saat

melewati lapisan lemak endothelium, obat masuk ke dalam cairan

humor dimana obat akan berdifusi dengan cepat ke dalam iris dan

badan siliar yaitu sisi/tempat dimana obat mempunyai aksi

farmakologinya.

BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan

III.1.1 Alat yang digunakan

1. Batang pengaduk

2. Botol wadah

3. Gelas Ukur

4. Labu Erlenmeyer

5. Penutup karet

6. Sendok tanduk
7. Timbangan dan anak timbangan

8. Autoklaf

9. Oven

III.1.2 Bahan yang digunakan

1. Polimiksin B sulfat

2. Neomisin sulfat

3. Deksametason natrium fosfat

4. Aqua pro injeksi

5. Benzalkonium klorida

6. Dinatrium edetat

7. Dinatrium hidrogen fosfat

8. Kertas timbang

9. Natrium hidrogen fosfat

10. Natrium klorida

III.2 Perhitungan

III.2.1 Perhitungan Kapasitas Dapar

Kapasitas dapar

pH = 6,5

NaH2PO4 = 0,56 %b/v BM = 120,01

Na2HPO4 = 0,284%b/v BM = 142,14

gram 0,56
M NaH 2 PO4 BM V 120,01 0,1 0,047 M
gram 0,284
M Na 2 HPO4 BM V 142,14 0,1 0,02 M

pKa dapar fosfat = 7,2

Ka = - antilog pKa

= 6,3 x 10-8

pH dapar fosfat = 6,5

[H+] = - antilog pH

= 3,16 x 10-7

C = C NaH2PO4 + C Na2HPO4

= 0,047 + 0,02

= 0,067 M

Kapasitas dapar B 2,3 C


H Ka

H Ka
2

2,3 0,067
3,16 10 7
.6,3 10 8
3,16 10 7
6,3 10 8 2

0,021M

Untuk pH = 7

[H+] = - antilog pH

= 10-7
0,021 2,3 C
H Ka

H Ka
2

0,021 2,3 C
10 7
.6,3 10 8
10 7
.6,3 10
8 2
0,021 2,3 C
6,3 10
15

1,063.10 6 2

0,021 2,3 C 0,237

0,021 0,545C

C 0,0385

pH pKa log
garam
asam

7 7,2 log
garam
asam

log
garam 0,2
asam
garam anti log 0,2
asam
garam 0,63
asam
C asamfosfat garamfosfat

0,0385 asamfosfat 0,63 asamfosfat

0,0385 1 0,63 asamfosfat

asamfosfat 0,0236 M

garamfosfat 0,63 asamfosfat


0,63 0,0236

0,0148M
g M BM L

g 0,0148 142,14 1

g 2.1036

% b 2,1036 g
v L

2,1036 g
1000ml

0,21g 0,21%
100ml

asamfosfat 0,0236M
g M BM L

g 0,0236 120,01 1

g 2,832

% b 2,832 g
v L

2,832 g
1000ml

0,28 g 0,28%
100ml

III.2.2 Perhitungan Isotonisitas

1. Rumus PTB

0,52 a.c
W
b

PTB Polimiksin B Sulfat = 0,04 a1 = 2 %


PTB Neomisin sulfat = 0,06 a2 = 0,07 %

PTB Benzalkonium Cl = 0,09 a3 = 0,01 %

PTB Na2EDTA = 0,13 a4 = 0,1 %

PTB Na2HPO4 = 0,24 a5 = 0,28 %

PTB NaH2PO4 = 0,26 a6 = 0,21 %

PTB NaCl = 0,576

0,52 0,04 2 0,06 0,07 0,09 0,01 0,13 0,1 0,24 0,28 0,26 0,21
W
0,576

W

0,52 0,08 4,2.10 3 9.10 4 0,013 0,0672 0,0546
0,576

0,52 0,2199
W
0,576

0,3001 0,521g
W
0,576 100ml

10 0,521g
NaCl yang ditambahkan 0,00521g
100 100ml 10ml

5,21mg
10ml

III.2.3 Perhitungan Bahan

Dibuat 5 ml, dilebihkan untuk pembilasan sebanyak 5 ml jadi 10 ml

1. Polimiksin B sulfat = 0,2 % x 10 ml = 0,02 g = 20 mg

2. Neomisin sulfat = 0,07 % x 10 ml = 0,007 g = 7 mg


3. Deksametason Na fosfat = 0,05 % x 10 ml = 0,005 g = 5 mg

4. Benzalkonium klorida = 0,01 % x 10 ml = 0,001 g = 1 mg

5. Na2EDTA = 0,1 % x 10 ml = 0,01 g = 10 mg

6. NaH2PO4 = 0,28 % x 10 ml = 0,028 mg = 28 mg

7. Na2HPO4 = 0,21 % x 10 ml = 0,021 mg = 21 mg

8. API ad 10 ml

III.2.4 Perhitungan Pengenceran

1. Polimiksin B sulfat = 20 mg

60 mg ad 6 ml API

2 ml

2. Neomisin sulfat = 7 mg

70 mg ad 10 ml API

1 ml

3. Deksametason Na. fosfat = 5 mg

50 mg ad 10 ml API

1 ml

4. Benzalkonium klorida 1 mg

50 mg ad 50 ml API

1 ml
5. Na2EDTA = 10 mg

50 mg ad 5 ml API

1 ml

6. Na2HPO4 = 21 mg

105 mg ad 10 ml API

2 ml

7. NaH2PO4 = 28 mg

170 mg ad 10 ml API

2 ml

III.3 Cara Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan. Bahan disterilkan sesuai

dengan metode masing-masing.

2. Botol yang digunakan dicuci dengan deterjen lalu dibebasalkalikan

dengan cara direndam dalam HCl 0,1 N panas selama 30 menit lalu

dibilas dengan API lalu disterilkan dengan otoklaf.

3. Tutup karet dibersihkan dan dibebas sulfurkan dengan cara direndam

dalam Na2CO3 2% mengandung 0,1% Na Lauril Sulfat, dipanaskan

selama 15 menit, didinginkan dan disterilkan dalam otoklaf selama 20

menit.
4. Dibuat pengenceran Polimiksin B sulfat dengan cara menimbang 60 mg

Polimiksin B sulfat dilarutkan dalam 6 ml API kemudian dipipet 2 ml.

5. Dibuat pengenceran Neomisin sulfat dengan cara menimbang 70 mg

Neomisin sulfat dilarutkan dalam 10 ml API kemudian dipipet 1 ml.

6. Dibuat pengenceran Deksametason dengan cara menimbang 50 mg

Deksametason benzalkonium klorida dilarutkan dalam 50 ml API,

dipipet 1 ml.

7. Dibuat pengenceran benzalkonium klorida dengan cara menimbang 50

mg benzalkonium klorida dilarutkan dalam 50 ml API, dipipet 1 ml.

8. Dibuat pengenceran Na2EDTA dengan cara menimbang 50 mg Na2EDTA

dilarutkan dalam 50 ml API, dipipet 1 ml.

9. Dibuat dapar fosfat dengan cara :

a. Dibuat pengenceran Na2HPO4 dengan cara 105 mg Na2HPO4

dilarutkan dalam 10 ml API kemudian dipipet 2 ml.

b. Kemudian ditambahkan NaH2PO4 dengan cara 170 mg NaH2PO4

dilarutkan dalam 10 ml API kemudian dipipet 2 ml.

10.Dicampur hasil pengenceran Polimiksin B sulfat, Neomisin sulfat,

Deksametason, Na2EDTA, benzalkonium klorida, dihomegenkan.

11. Dicek pH dengan kertas pH.

12.Apabila pH yang diinginkan telah sesuai maka ditambahkan dapar fosfat

untuk mempertahankan pH.

13.Dicukupkan volume hingga 10 ml


14.Dimasukkan dalam wadah

15.Disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121 o C selama 15 menit atau

dengan penyaringan

16.Diberi etiket