Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Tablet
2.1.1 Pengertian Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk sediaan yang
paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada
serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran,
bentuk dan penandaan permukaan tergantung pada desain cetakan. Tablet berbentuk kapsul
umumnya disebut kaplet (Depkes RI, 2014). Tablet dapat bervariasi dari segi ukuran, bentuk,
bobot, kekerasan, disintegrasi, karakteristik disolusi, dan aspek lain, tergantung dari
penggunaan dan metde pembuatan. Tablet yang paling banyak digunakan adalah tablet untuk
pemberian oral (Loyd V. Allen, Jr., et al., 2011).
2.1.2 Pembuatan Tablet
Pada proses pembuatan tablet, zat berkhasiat dan zat tambahan, kecuali bahan
pelicin dibuat granul (butiran kasar), karena serbuk yang halus tidak dapat mengisi cetakan
tablet dengan baik. Jadi dengan dibuat granul, akan terjadi free flowing, mengisi cetakan
secara tetap dan dapat dihindari tablet menjadi capping (retak) (Anief, 1984). Menurut
Siregar (2010), ada tiga metode pembuatan tablet, yaitu:
1) Metode granulasi basah
Zat aktif dan eksipien dicampurkan, lalu dibuat cairan pengikat dalam alat campur.
Pengeringan granul basah 50 sampai 600C dalam lemari pengering. Granul yang sudah
kering diayak dengan ayakan ukuran 14 sampai 20 mesh dalam mesin granulator. Kemudian
dicampur zat tambahan ke dalam mesin campur khusus, menjadi massa kempa. Massa kempa
dikempa menjadi tablet jadi dalam mesin tablet.

2) Metode Granulasi Kering (Slugging)


Campur semua bahan (zat aktif dan zat tambahan) atau hanya zat aktif saja dalam alat
campur. Kemudian ayak bahan dengan mesin granulator. Campur granul dengan zat
tambahan lain dalam mesin pencampur khusus menjadi massa kempa. Massa kempa dikempa
menjadi tablet jadi dalam mesin tablet.
3) Kempa langsung
Campur semua bahan (zat aktif dan zat tambahan) dalam alat campur menjadi massa
kempa. Massa kempa dikempa menjadi tablet jadi dalam mesin tablet.
2.1.3

Kekurangan dan Kelebihan Sediaan Tablet


Menurut Lachman (1994), tablet memiliki kelebihan dibandingkan dengan sediaan

padat lainnya, diantaranya:


1) Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan terbaik dari
semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang
paling rendah.
2) Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling rendah.
3) Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak.
4) Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah untuk dikemas
serta dikirim.
5) Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak
memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang
bermonogram atau berhiasan timbul.
6) Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal ditenggorokan,
terutama bila bersalut yang pecah atau hancurnya tablet tidak segera terjadi.
7) Tablet bisa dijadikan produk dengan profil penglepasan khusus, seperti penglepasan
diusus atau produk lepas lambat.
8) Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling mudah untuk diproduksi secara besarbesaran.
9) Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia,
mekanik dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.
Menurut Lachman (1994), tablet memiliki kekurangan sebagai berikut:
1) Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak, tergantung pada
keadaan amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis.
2) Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukupan atau tinggi, absorbsi
optimumnya tinggi melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat diatas, akan
sukar atau tidak mungkin diformulasi dan dipabrikasi dalam bentuk tablet yang masih
menghasilkan bioavailabilitas obat cukup.

3) Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan, atau obat yang
peka terhadap oksigen atau kelembaban udara perlu pengapsulan atau penyelubungan
dulu sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan dahulu. Pada
2.1.4

keadaan ini kapsul dapat merupakan jalan keluar yang terbaik serta lebih murah.
Komposisi Sediaan Tablet
Tablet oral umumnya di samping zat aktif mengandung, pengisi, pengikat, penghancur,

dan pelincir. Tablet tertentu mungkin memerlukan pemacu aliran, zat warna, zat perasa, dan
pemanis (Lachman, et al, 1994). Menurut Syamsuni, H. A. (2006), komponen tablet terdiri
dari:
1) Zat aktif
Harus memenuhi syarat yang ditentukan farmakope.
2) Eksipien atau bahan tambahan
Eksipien yang digunakan antara lain:
(1) Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah
dicetak atau dibuat. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit
dikempa. Misalnya laktosa, pati, kalsium fosfat dibase, dan selulosa mikrokristal.
(2) Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk
sewaktu granulasi serta menambah gaya kohesi pada bahan pengisi. Misalnya
gom akasia, gelatin, sukrosa, povidon, metilselulosa, CMC, pasta pati
terhidrolisis, selulosa mikrokristal.
(3) Bahan penghancur/pengembang (disintegrant) berfungsi membantu hancurnya
tablet setelah ditelan. Misalnya pati dan selulosa yang dimodifikasi secara kimia,
asam alginat, selulosa mikrokristal, dan povidon sambung silang.
(4) Bahan pelicin (lubrikan/lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses
pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada
cetakan. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam, asam stearat, minyak
nabati terhidrogenasi, dan talk. Umumnya lubrikan bersifat hidrofob, sehingga
dapat menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet. Oleh karena itu,
kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Polietilen glikol dan garam lauril
sulfat dapat digunakan, tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal
dan diperlukan dalam kadar yang lebih tinggi.
(5) Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalir serbuk,
umunya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Misalnya silika
pirogenik koloid.
(6) Bahan penyalut (coating agent)
(7) Bahan pewarna (colouring agent) berfungsi meningkatkan nilai estetika atau
untuk identitas produk misalnya zat warna dari tumbuhan.

(8) Bahan pengaroma (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang
tidak enak, biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama dimulut.
Misalnya macam-macam minyak atsiri.
Evaluasi Tablet
Evaluasi tablet yang dilakukan yaitu:
1) Kekerasan tablet
Ketahanan tablet terhadap goncangan saat pengangkutan, pengemasan dan peredaran

2.1.5

bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan yang lebih tinggi menghasilkan tablet yang
bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya porositas dari tablet sehingga sukar
dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya waktu hancur. Kekerasan dinyatakan dalam kg
tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet. Kekerasan untuk tablet secara umum yaitu
4 sampai 8 kg, tablet hisap 10 sampai 20 kg, tablet kunyah 3 kg (Soekemi, dkk, 1987).
Kekerasan tablet dipengaruhi oleh perbedaan massa granul yang mengisi die pada saat
pencetakan tablet dan tekanan kompressi. Selain itu, berbedanya nilai kekerasan juga dapat
diakibatkan oleh variasi jenis dan jumlah bahan tambahan yang digunakan pada formulasi.
Bahan pengikat adalah contoh bahan tambahan yang bisa menyebabkan meningkatnya
kekerasan tablet bila digunakan terlalu pekat (Lachman, et al, 1994).
2) Friabilitas
Tablet mengalami capping atau hancur akibat adanya goncangan dan gesekan, selain itu
juga dapat menimbulkan variasi pada berat dan keseragaman isi tablet. Pengujian dilakukan
pada kecepatan 25 rpm, menjatuhkan tablet sejauh 6 inci pada setiap putaran, dijalankan
sebanyak 100 putaran. Kehilangan berat yang dibenarkan yaitu lebih kecil dari 0,5 sampai
1% (Lachman, et al, 1994). Kerenyahan tablet dapat dipengaruhi oleh kandungan air dari
granul dan produk akhir. Granul yang sangat kering dan hanya mengandung sedikit sekali
persentase kelembaban, sering sekali menghasilkan tablet yang renyah daripada granul yang
kadar kelembabannya 2 sampai 4% (Lachman, et al, 1994).
3) Waktu hancur
Waktu hancur yaitu waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikel-partikel kecil
atau granul sebelum larut dan diabsorpsi. Menyatakan waktu yang diperlukan tablet untuk
hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya seluruh partikel melalui saringan
mesh 10 (Lachman, dkk, 1994). Hancurnya tablet tidak berarti sempurna larutnya bahan obat
dalam tablet. Tablet memenuhi syarat jika waktu hancur tablet tidak lebih dari 15 menit
(Soekemi, dkk, 1987). Kebanyakan bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang
berlebihan akan memperlambat waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang besar akan
mudah dimasuki air sehingga hancur lebih cepat daripada tablet yang keras dengan ronggarongga yang kecil (Soekemi, dkk, 1987).

4) Kadar zat berkhasiat


Untuk mengevaluasi kemanjuran suatu tablet, jumlah obat dalam tablet harus dipantau
pada setiap tablet atau batch, begitu juga kemampuan tablet untuk melepaskan zat atau obat
yang dibutuhkan harus diketahui (Lachman, et al, 1994). Persyaratan kadar berbeda-beda,
dan tertera pada masing-masing monografi masing-masing bahan obat.
5) Keseragaman sediaan
Dapat ditentukan dengan salah satu dari dua metode :
(1) Keseragaman bobot dilakukan terhadap tablet yang 50% bahan aktifnya lebih
besar atau sama dengan 50 mg.
(2) Keseragaman kandungan dilakukan terhadap tablet yang 50% bahan aktifnya
kurang dari 50 mg (Depkes RI, 2014).
2.2 CTM
2.2.1 Tinjauan Umum
CTM atau klorfeniramin maleat Khlorfeniramin maleat adalah golongan alkilamin dari
golongan obat anti histamine, obat ini dapat menetralkan histamin yang dilepaskan oleh
tubuh(Tjay dan Raharja, 2007) bahan aktif yang merupakan serbuk hablur yang berwarna
putih, tidak berbau, dan larutan mempunyai pH ntara 4 dan 5. Klorfeniramin maleat memiliki
kelarutan mudah larut dalam air, larut dalam etanol, dalam kloroform, sukar larut dalam eter
dan dalam benzen(Depkes RI, 2014). CTM tidak ada degredasi CTM dilaporkan ketika
larutan mengandung 15mg/ml (Buffer untuk pH 2, 4, 6, dan 8) dalam ampul kaca tertutup
disimpan di bawah sinar fluoresent atau dalam gelap selama 3buln pada 25 o (The
Pharmaceutical Codex). Namun CTM memiliki pH yaiut dari pH larutan klorfeniramin
maleat 1% 4,0-0,5. CTM menyerap lembab dalam jumlah tidak signifikan pada suhu 130135C. Klorfeniramin maleat inkompatibel dengan kalium klorida, kamanisin sulfat,
norodienolum, asam tatrat, Na.Penobarbital(The Pharmaceutical Codex). Disimpan dalam
wadah terlindung dari cahaya (Martindale, 36th)

Gambar Struktur Klorfeniramin maleat


Sumber: Depkes RI, 2014
2.2.2

Farmakologi

Klorfeniramin maleat merupakan obat golongan Antihistamin generasi


pertama untuk terapi antihistamin. Mekanisme kerja klorfeniramin maleat adalah
sebagai antagonis reseptor H1, klorfeniramin maleat akan menghambat efek histamin
pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos; selain itu
klorfeniramin maleat dapat merangsang maupun menghambat susunan saraf pusat
(Tjay, 2002).
Klorfeniramin maleat memberikan efek samping walaupun juga bersifat serius
dan kadang-kadang hilang bila pengobatan diteruskan. Efek samping yang sering
terjadi adalah sedatif, gangguan saluran cerna, mulut kering, kesukaran miksi.
Kontraindikasi dari klorfeniramin maleat ini menimbulkan aktivitas antikolinergik yang
dapat memperburuk asma bronkial, retensi urin, glaukoma. Klorfeniramin maleat
memiliki interaksi dengan alkohol, depresan syaraf pusat, anti kolinergik (Tjay, 2002).

2.2.3 Sifat Fisik Klorfeniramin maleat


Karena kadar klorfeniramin maleat yang yang rendah dan kompaktibilitas serta
alirannya yang baik, maka pada proses pembuatannya dapat menggunakan metode cetak
langsung. Pada metode cetak langsung, kadar bahan aktif haruslah rendah dan jika
memungkinkan memiliki kompaktibilitas serta aliran yang baik (Siregar, Charles J. P., dan
Saleh Wikasra., 2011).
2.3 Amilum Manihot
2.3.1 Tinjauan Umum
Amilum manihot atau tapioca starch yang memiliki rumus molekul C 27H48O20
digunakan sebagai penghancur atau disintegrant pada tablet. Amylum berbentuk serbuk
sangat halus dan berwarna putih. Amilum memiliki kelarutan yang praktis tidak larut dalam
air dingin dan dalam etanol (Depkes RI, 2014). Amilum kering stabil jika terlindung dari
kelembaban tinggi. Amilum secara kimia dan mikrobiologi inert dalam kondisi penyimpanan
normal. Larutan amilum atau pasta amilum secara fisika tidak stabil dan segera
dimetabolisme oleh mikroorganisme, maka dari itu harus dibuat baru ketika digunakan untuk
granulasi basah. Amilum juga inkompatibel dengan zat pengoksidasi kuat. Amylum disimpan
dalam wadah tertutup rapat, sejuk, dan kering (Rowe, Raymond C Paul J Sheskey, dkk.
2009).

Gambar 2.2 Struktur Amilum Manihot


Sumber: National Center of Biotechnology Information

2.4 Talkum
2.5.1 Tinjauan Umum
Talkum atau Magnesium kalsium silikat (Mg 6(Si2O5)4(OH)4) bisa digunakan sebagai
lubrikan dan deluen pada pembuatan tablet. Talkum berbentuk serbuk hablur yang berwarna
putih atau putih keabuan, tidak berbau, sangat halus, licin, mudah melekat pada kulit, dan
bebas dari butiran. Talkum memiliki kelarutan praktis didak larur dalam larutan asam atau
basa, pelarut organik, dan air (Rowe, Raymond C Paul J Sheskey, dkk. 2009). Talkum
merupakan bahan stabil dan dapat disterilisasi dengan suhu 160C selama 1 jam. Talk juga
dapat disterilisasi dengan gas etilen oksida dan ridiasi gamma namun inkompatibel dengan
senyawa amonium kuarterner. Talkum disimpan pada wadah tertutup baik ditempat sejuk dan
kering (Rowe, Raymond C Paul J Sheskey, dkk, 2009).

Gambar 2.4 Struktur Talkum


Sumber: Anonim, 2016

2.5 Magnesium Stearat


2.6.1 Tinjauan Umum

Magnesium stearat atau Octadecanoic acid magnesium salt (C36H70MgO4) digunakan


sebagai pelicin atau lubricant pada pembuatan tablet. Magnesium stearat ini berupa serbuk
halus yang berwarna putih, tidak berasa, dan memiliki bau sedikit seperti asam stearat.
Magnesium stearat juga memiliki kelarutan yang praktis tidak larut dalam etanol 95%, eter,
air, agak sukar larut dalam benzena hangat, dan etanol 95% hangat. Magnesium stearat ini
merupakan zat yang stabil namun inkompatibel dengan asam kuat, alkali, dan garam besi,
serta tidak dapat digunakan pada produk seperti aspirin, vitamin, dan garam alkaloid.
Magnesium stearat disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering (Rowe, Raymond
C Paul J Sheskey, dkk, 2009).

Gambar 2.5 Struktur Magnesium Stearat


Sumber: Anonim, 2016
2.6 Kerangka Konsep
Kerangka konsep antara beberapa zat pengikat dengan berbagai kadar yang berbeda
dengan hasil akhir tablet yang dibuat.
Variasi kadar zat
pengikat

Kualitas hasil akhir


tablet yang dibuat
Gambar Kerangka Konsep

2.7 Definisi Operasional


Tabel Definisi Operasional
Variasi kadar zat pengikat adalah jumlah zat pengikat yang digunakan
bermacam-macam.
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan
bentuk sediaan yang paling banyak digunakan.

1) Bobot Jenis (BJ nyata, BJ mampat dan % Kompresibilitas (%K)


Uji Bobot Jenis ini bertujuan untuk mengetahui Bobot Jenis Nyata dan Bobot Jenis
Mampat dari sediaan yang dibuat sehingga dapat menjamin aliran granul tetap baik.

Pengukuran BJ nyata dan BJ mampat yang dilakukan berdasarkan perbandingan bobot granul
terhadap volume sebelum dan setelah dimampatkan (diketuk 500x). Kemudian hitung Bobot
Jenis Nyata, Bobot Jenis Mampat dan % kompresibilitas (berdasarkan Carrs Index) dengan
menggunakan persamaan di bawah ini.
BJ nyata

bobot granul
volume granul

BJ mampat

bobot granul
volume mampat
...................................................(3.3)

%K

BJ mampat BJ nyata
BJ mampat

100%

Penafsiran hasil (Siregar dan Wikarsa, 2010)


Jika % K :
5 10 %
11 20 %
21 - 25 %
>26 %

aliran sangat baik


aliran cukup baik
aliran cukup
aliran buruk

Pengukuran Bobot Jenis Nyata granul dilakukan dengan cara menimbang granul
sebanyak 20 g. Kemudian granul yang telah ditimbang dimasukkan kedalam gelas ukur 100
ml, lalu di ratakan permukaan granulnya dan dibaca volume gelas ukur yang ditempati
granul, dilakukan pengujian triplo.
Sedangkan pengukuran Bobot Jenis Mampat dilakukan dengan cara menimbang
granul sebanyak 20 g. Granul yang telah ditimbang dimasukkan kedalam gelas ukur 100 ml,
lalu diratakan permukaan granulnya. Setelah diratakan baca dan catat volume gelas ukur yang
ditempati granul. Setelah diratakan lakukan pengetukan pada gelas ukur sebanyak 100x
ketukan kemudian baca lagi volume gelas ukur yang ditempati granul, apabila volumenya
berkurang lebih dari 2 ml dari volume awal pengetukan dilanjutkan sampai 500x ketukan.
Setelah selesai 500x ketukan maka baca kembali volume gelas ukur yang ditempati oleh
granul, apabila volumenya berkurang lebih dari 2 ml dari volume setelah pengetukan 100x
maka

pengetukan dilanjutkan sampai 1250x ketukan. Apabila setelah 100x atau 500x

ketukan volume yang berkurang kurang dari 2 ml dari volume sebelumnya maka pengetukan
dihentikan.
Kerapatan adalah turunan besaran karena menyangkut satuan massa dan volume.
Batasan kerapatan adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu,
dan dinyatakan dalam sistem cgs dalam gram per senti meter kubik (gram/cm3). Sifat ini
merupakan salah satu sifat fisika yang paling sederhana dan sekaligus merupakan salah satu
sifat fisika yang paling definitif, dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan
kemurnian suatu zat (Martin, 1993). Dalam hal ini, kerapatan berlaku untuk padatan atau
serbuk seperti hal-nya pada granul.
Bobot jenis atau kerapatan jenis ini menggunakan teori Hauster ratio yang ditentukan
dengan menentukan terlebih dahulu BJ Nyata dan BJ Mampat suatu bahan/serbuk/granul.
Hauster ratio merupakan suatu angka yang berhubungan dengan kemampuan alir suatu
serbuk atau granul, dan tidak bernilai mutlak untuk suatu bahan tertentu. Umumnya nilai
Hauster ratio tidak lebih dari 1,25 (Shervington & Shervington, 1998).
Tabel BJ Nyata dan BJ Mampat F1 sampai F4
Evaluasi Granul

F1

Formula
F3

F2

F4

BJ nyata (g/ml)

0,51

0,33

0,44

0,33

BJ mampat (g/ml)

0,52

0,43

0,65

0,45

Berdasarkan Tabel .... dapat dilihat bahwa pada keseluruhan formula menunjukkan
angka hasil BJ Nyata dan BJ Mampat dengan perbedaan yang jauh. Hasil BJ Nyata dan BJ
Mampat pada F2 lebih kecil dari formula lainnya. Hal ini mungkin terjadi karena pada
formula tersebut bahan aktif atau bahan lain sebagian telah menjadi fines halus. Sedangkan
BJ Mampat pada F1 paling besar jika dibandingkan dengan formula lainnya. Berdasarkan
data pada Tabel .... sehingga dapat ditentukan nilai Porositas atau Hausner ratio dari masingmasing formula.

1)

BJ nyata

Evaluasi Granul
BJ Nyata (g/ml)

Formula
F1

F2

F3

F4

20 g
=0,5
40 ml

20 g
=0,317
63 ml

20 g
=0,454
44 ml

20 g
=0,327
61 ml

20 g
=0,5
40 ml

20 g
=0,333
60 ml

20 g
=0,435
46 ml

20 g
=0,322
62 ml

20 g
=0,526
38 ml

20 g
=0,327
61 ml

18,192 g
0,444
41 ml

20 g
=0,344
58 ml

0,51

0,33

Rata-rata (g/ml)

2)

0,44

0,33

BJ Mampat
Formula 3
Jumlah
Ketukan
10
500
1000
BJ Mampat

Percobaan I
37 mL
31 mL
31 mL

20 g
31 mL

= 0,645

Volume granul
Percobaan II
39 mL
31 mL
31 mL

20 g
31 mL

= 0,645

g/mL
g/mL
Rata-Rata BJ Mampat = 0,65 g/Ml

Percobaan III
30 mL
28 mL
27 mL

18,1929 g
27 mL

0,673 g/mL

Formula 2
Jumlah
Ketukan
100
500
BJ Mampat

Percobaan I
46 mL
46 mL

Volume granul
Percobaan II
46 mL
46 mL

Percobaan III
47 mL
45 mL

20 g
46 mL

20 g
46 mL

20 g
45 mL

= 0,43

= 0,43

g/mL
g/mL
Rata-Rata BJ Mampat = 0,43 g/mL

= 0,44

g/mL

Formula 1
Jumlah
Ketukan
10
BJ Mampat

Percobaan I
39 mL

Volume granul
Percobaan II
39 mL

Percobaan III
37 mL

20 g
39 mL

20 g
39 mL

20 g
37 mL

= 0,51

= 0,51

g/mL
g/mL
Rata-Rata BJ Mampat = 0,52 g/mL

Formula 4

= 0,54

g/mL

Interval
Pengetukan
10
500
1250
Df (W/V1250)

Volume (ml)
2
54
45
44

1
53
46
44

20 g
44 ml =0,4

3
51
45
43

20 g
44 ml =

20 g
43 ml = 0,46

5
0,45
Rata-rata BJ Mampat = 0,45 g/ml

Tabel 4.3 Nilai Porositas atau Hausner ratio F1 sampai F4


Evaluasi Granul
Porositas atau
Hausner ratio

Formula
F1

F2

1,02

1,30

F3
1,47

F4
1,36

Berdasarkan Tabel .... diatas, dapat dilihat bahwa hanya formula 1 yang memiliki nilai
porositas atau Hausner ratio yang baik karena tidak lebih dari persyaratan yang ditentukan
yaitu 1,25. Pada F2, F3, dan F4 memiliki nilai porositas lebih dari syarat yang ditentukan
yaitu 1,25. Maka semakin besar nilai porositas maka akan semakin kecil kontak antar partikel
sehingga kecepatan alir akan semakin baik.
Uji kompresibilitas dilakukan dengan alat yang disebut bulk density. Persen
kompresibilitas dapat dihitung dengan menentukan terlebih dahulu BJ Nyata dan BJ Mampat
pada granul. Data pengetukan yang diperoleh juga digunakan untuk menghitung %
kompresibilitas granul. Pada praktikum pembuatan tablet Paracetamol ini, diperoleh hasil
indeks kompresibiltas sebagai berikut:

%KOMPRESIBILITAS
35.00%
30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%

1.92%

F1

23.25%

F2

32.31%

F3

26.67%

F4

Gambar Diagram Persen Kompresibilitas


Hasil pada Gambar.... menunjukkan bahwa F1 memiliki %K sebesar 1,92%, F2
23,25%, F3 32,31%, dan F4 26,67%. Dari hasil uji kompresibilitas tersebut menunjukkan
granul pada semua formula tidak memenuhi persyaratan sifat alir karena tidak ada yang
masuk dalam rentang persen kompresibilitas antara 5-15%. Granul yang memiliki nilai
kompresibilitas yang baik, hanya membutuhkan sedikit tekanan pengempaan untuk
menghasilkan tablet yang keras. Semakin tidak mampat serbuknya maka granul yang
dihasilkan akan semakin baik karena tidak terdapat ruang kosong pada granul tersebut.
Terdapatnya ruang kosong pada granul dapat menyebabkan mudahnya pencetakan granul.
Kompresibilitas akan sangat berpengaruh pada keseragaman bobot pada sediaan yang akan
dibentuk walaupun ukuran sama, apabila keseragaman granul kurang baik maka sediaan
tablet yang dicetak pun akan kurang baik pula. Syarat % Kompressibilitas yang baik adalah
5-15% menurut tabel berikut:
Tabel Presentase Kompresibilitas Terhadap Sifat Alir Granul
Kompresibilitas (%)
5-15
12-16
18-21
23-35
35-38
>40
Sumber: Siregar & Wikarsa, 2010

Sifat Aliran
Sangat Baik
Baik
Cukup Baik
Buruk
Sangat Buruk
Sangat Buruk Sekali

Pengetapan atau pengetukan granul merupakan penurunan sejumlah granul atau


serbuk akibat hentakan (tapped) dan getaran (vibrating). Hasil uji pengetapan granul
menunjukkan bahwa granul dari F4 lah yang mempunyai nilai persen kompressibilitas <20%
sehingga memenuhi persyaratan sifat alir yang baik dan granul pada F1 yang memiliki sifat
alir cukup baik.
Porositas atau Hausner ratio

Evaluasi
Granul
Porositas

Formula
F1

F2

F3

F4

0,52 g/ml
0,51 g/ml

0,43 g /ml
0,33 g /ml

0,65 g /ml
0,44 g /ml

0,45 g /ml
0,33 g /ml

= 1,02

= 1,30

= 1,47

= 1,36

Kompressibilitas
Formula

% Kompressibilitas

F1

( 0,52 g/ml0,51 g/ml )


K=
x 100=1,92
0,52 g/ml

F2

K=

( 0,43 g /ml0,33 g/ ml )
x 100=23,25
0,43 g/ ml

F3

K=

( 0,65 g /ml0,44 g /ml )


x 100=32,31
0,65 g /ml

F4

K=

( 0,45 g /ml0,33 g/ ml )
x 100=26,67
0,45 g/ ml

KADUNGAN MC KELOMPOK 3

Kandungan Lembab
Pengujian kandungan lembab dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol kandungan
lembab granul, sehingga dapat mengantisipasi masalah yang terjadi selama proses
pengempaan tablet, terutama kandungan lembab menjadi faktor penyebabnya. Cawan
penguap dikeringkan pada suhu 105C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam
desikator dan ditimbang. Pengerjaan ini dilakukan hingga penimbangan berturut-turut tidak
melebihi 0,001 g. Granul sebanyak 1 g dimasukkan ke dalam cawan penguap yang sudah
dikeringkan tersebut. Cawan penguap berisi granul dikeringkan pada suhu 40C hingga bobot
granul konstan. Kandungan lembab yang baik berkisar antara 2-4 % dan dinyatakan
berdasarkan rumus berikut (Lachman, 1994).

% MC =

w 0w 1
w1

x 100%...................................................................................

..................................................................................(3.4)
Dengan:
Wo : bobot granul + bobot cawan sebelum dipanaskan
W1 : bobot granul + bobot cawan setelah dipanaskan

Tabel Kandungan Lembab KELOMPOK 3


Formula
1

Kandungan Lembab Granul


0,288%

Dari tabel data MC yang diperoleh nilai MC yang baik dengan nilai MC rata-ratanya
0,8324% karena mendekati 1%. Formula ini memiliki nilai MC baik karena nilai MC yang
baik adalah 1 sampai 2% .
Percobaan 1
23,477 g
23,221 g

Wo
W1

% MC

Formula kel.3
Percobaan 2
37,506 g
37,252 g

23,477 g23,221 g
23,477 g
100%
= 1,0904%

Ratarata

DAFTAR PUSTAKA:

37,506 g37,252 g
37,506 g
100%
= 0,6772%

1,0904 +0,6772 +0,7297


=0,8324
3

Percobaan 3
33,988 g
33,740 g
=

33,988 g33,740 g
33,988 g
100%
= 0,7297%