Anda di halaman 1dari 83

STRUKTUR DINDING

Struktur dan Konstruksi I

Spesifikasi Dinding

Ada 3 spesifikasi dinding, yaitu: permanen, antara lain:


beton bertulang atau tidak batu bata dan sejenisnya kosen/rangka kayu/aluminium dinding penahan tanah krawang/rooster

semi permanen, antar lain :


dinding rangka/partisi kayu panel precast/prefab dinding rangka bahan lain (baja, aluminum, gipsum, multipleks)

non-permanen, antara lain :


dinding partisi fleksible kisi-kisi tralis

Jenis-Jenis Dinding

Dilihat dari segi kekuatannya , maka ada 2 jenis dinding : Dinding Struktural Dinding yang menahan beban bangunan, disebut juga dinding pendukung atau bearing wall Dinding Non-Struktural Dinding ini hanya berfungsi sebagai pengisi

Dilihat dari segi bentuknya, Bentuk dinding dapat di bagi menjadi : dinding masif dinding transparant dinding penuh (sampai ke plafond) dinding setengah penuh dinding ringan ( Alumunium, kertas, bilik) dinding berat dinding halus/ kasar dinding penahan tanah dinding bak tanaman,dsb Dilihat dari segi konstruksinya ada 2 tipe dinding 1. Dinding padat (homogen) 2. Dinding rangka (framed)

Dilihat dari segi bahan :


1. Dinding Batu Alam : Dibagi menurut konstruksinya : Konstruksi dinding batu alam yang kering Disusun tanpa menggunakan adukan atau plester, Konstruksi dinding batu kali Menggunakan batu kali tanpa persiapan atau pecahan batu kali itu. Jadi, siar-siar (celah) di sekeliling susunan batu kali tersebut akan tidak teratur. Konstruksi dinding batu pecahan Menggunakan batu gunung yang dipecah tetapi tanpa tambahan tarahan.

Konstruksi dinding batu tarahan Pada konstruksi dinding ini, batu perlu tarahan pada bagian muka dan pada sisi atas dan bawah sedikitnya 12cm ( lebar ) dan siku-siku pada bagian muka. Konstruksi dinding batu berlapis Menggunakan batu tarahan, hanya penarahan harus lebih teliti dan sisi atas bawah harus sedikitnya 15cm (lebar). Konstruksi dinding batu bata alam Suatu konstruksi dinding batu berlapis dengan batubatu yang ditarah/di gergaji keliling menjadi bata

Konstruksi dinding batu campur Konstruksi dinding ini terdiri dari 2 bagian dinding, yaitu bagian luar konstruksi dinding berlapis dan bagian dalamnya terdiri dari konstruksi batu merah.

(A) Batu kali (bulat) untuk pelapis luar dinding

bata

(B) Batu pecah (batu muka) untuk finishing dinding bata (C) Pasangan batu belah (batu gunung)

2. Dinding Beton Dinding beton (dinding portland) didapat kan dengan cara mencampur bahan-bahan seperti agregat kasar maupun halus + air + pasta

3. Dinding Batu Buatan

Batu bata
Merupakan bahan dinding yang sangat populer karena sudah begitu memasyarakat. Batu bata berasal dari tanah liat/lempung yang dicampur rata dengan air.

Batu batako

Batako dibuat dari campuran semen, tras kapur dan pasir yag dicetak dan dipadatkan tanpa proses pembakaran

4. Dinding Kayu
Dinding kayu sering digunakan untuk membagi ruang saja, bukan sebagai dinding struktur suatu rumah. Dinding yang digunakan berupa balok kayu dan papan yang bersifat keras dan kuat. Kayu yang baik untuk digunakan sebagai bahan dinding antara lain kayu jati, kayu bengkirai, kayu meranti, kayu merbau dan kayu sengo

Keuntungan menggunakan dinding rangka papan

adalah: Menghemat 50% bahan Stabilitas tinggi terhadap buckling/lendutan Stabilitas tinggi terhadap gaya horisontal

Dinding Batu Bata


Susunan Batu Bata

Syarat penyusunan

Bata harus di susun bersilangan. Jarak silang antara rusuk satu dengan lainnya tidak boleh < panjang bata.

Susunan bata

Tebal pasangan / susunan bata dipakai satuan batu (bt).

Ukuran bata

Ukuran standart yang umum di pakai, yaitu: - Panjang 230 mm - Lebar 110 mm - Tebal 50 mm

Dinding batu bata terdiri atas :

Spesi
Pasangan bata adalah susunan batu yang diikat oleh perekat yang disebut spesie. Plesteran Berfungsi sebagai penutup susunan bata yang telah selesai Gunanya: - Melindungi bata dari cuaca panas dan air hujan - Melindungi dari benturan - Estetis ( rapi,diwarna, dsb).

Kualitas bata adalah :

a. Mudah menyerap air & menyimpannya dalam waktu yang lama b. Mempunyai warna alami c. Mudah korosi d. Hancuran bata -> semen merah = bahan perekat

Konstruksi Dinding Bata

Terutama bagi susunan bata batu, maka

diperlukan konstruksi penguat bagi pasangan tersebut. Berupa kolom-kolom (kolom praktis) dan balok. Secara prakstis dapat dikatakan untuk setiap luas 9-12m2 pasangan bata diperlukan penguat yang merangkai bidang dinding bata tersebut.

Konstruksi penguat tersebut dipasang pada: Setiap jarak + 3m (untuk dinding bata yang mempunyai tinggi > 3m) Setiap pertemuan atau persilangan atau sudut tembok Pada bagian tembok yang menahan beban terpusat, mis : dibawah kuda-kuda kolom struktur. Pada ujung / akhir pasangan dan kiri kanan lubang Bahan untuk konstruksi penguat dapat dari beton bertulang (disebut kolom praktis, sloof & ringbalok). Sehingga pemasangan dinding bata, kolom dan balok ketebalanya > tebal dindingya.

Syarat-syarat ikatan bata Untuk mendapat ikatan tembok yang kokoh,ikatan\hubunganya harus harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Hubungan harus dibuat sesederhana mungkin, Hindari menggunakan potongan bata kurang dari 1\2 bata, Dalam arah mendatar maupun tegak , siar harus meliputi tebal tembok, Pad dua lapis berturut-turut siar tegak Saling berselisih (tidak berimpit) pada bagian luar maupun dalam Pada sudut pertemuan persilangan dari 2 tembok lap-is bata disususn berganti-ganti Tembok yang mempunyai tebal 1 bata atau lebih lapisanya disusun dari bata utuh yang diletakan memanjang atau melintang.

Pada sebuah bata yang masih utuh, nama bidang yang :

Terpanjang disebut strek. Terkecil disebut kop Terbesar disebut bidang datar. Syarat mutlak ukuran bata : 1strek = 2 kop + 1 siar Siar adalah adukan setebal 1 cm yang meletakan bata satu dengan lainya. Tebal siar tidak boleh terlalu besar, tetapi berkisar 0,8 1,5 cm. Oleh karena tebal siar telah ditentukan, maka ukuran bata telah disesuaikan ukurannya antara perbandingan tebal, lebar, dan panjangnya. Contouh : Misalkan Tebal bata = 5 cm, maka : Lebar menjadi : 2 x 5 + siar 1cm = 11 cm Panjang menjadi : 2 x 11 + 1 = 23 cm

Siar tegak pada 2 lapis tidak boleh berimpit, maka

akan terjadi pemotongan bata sesuai dengan kebutuhan.dalam pemasangan tembok akan digunakan bata utuh dan potongan potongan bata sebagai berikut :

1 bujur, ialah satu bata utuh ( panjang = bujur ) bata , ialah bata dengan panjang bata utuh. bata, ialah bata dengan panjang bata utuh. bata, ialah bata dengan panjang bata utuh. kepala, ialah bata panjang utuh dengan lebar nya ( gambar 2 )

Ada 3 macam siar untuk meletakkan bata ialah : siar lintang. siar bujur / siar datar. siar tegak, sejenis siar lintang.

Macam macam tebal tembok : tembok bata mempunyai tebal ; 1 kop tembok 1 bata mempunyai tebal ;1 strek atau 2 kop tembok 1 bata mempunyai tebal ; 1 sterk + 1 kop atau 1 kop + 1 strek tembok 2 bata mempunyai tebal ; 1 kop + 1 sterk + 1 kop atau 2 strek Tembok yang mempunyai ukuran tebal lebih dari 2 bata, jarang atau tidak dibuat. Lapis strek adalah lapis tembok bila dipandang dari luar kelihatan streknya. Lapis kop adalah lapis tembok bila di pandang dari luar kelihatan kopnya.

Bentuk Tembok
Bentuk tembok yang sering ditemui pada suatu bangunan adalah : Memanjang : tembok kearah panjang seperti pada tembok batas halaman. menyudut : dua ujung tembok menyatu pada suatu titik dan membentu sudut . sudut yang dibentuknya bisa siku ( 90 0 ) tumpul, ( lebih dari 90 derajat dan lancip ( lebih kuranfg dari 90 derajat ) pertemuan : dua tembok yang bertemu pada suatu titik , dimana salah satu ujung tembok\ berada diantara panjang tembok . pertemuan dapat berupa : siku dan miring. persilangan : dua tembok yang bersilangan pada suatu titik. Persilangandapat berupa : siku dan miring. Bentuk bentuk tembok pada bangunan dapat dibuat dari bermacam macam ukuran tebal tembok yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Syarat Ikatan/sambungan
hubungan harus dibuat sesederhana mungkin, artinya hubungan itu

mudah dikerjakan. hindari menggunakan potongan bata yang kurang dari bata untuk menghemat waktu dan tenaga. dalam arah mendatar maupun tegak siar harus meliputi seluruh tebal tembok untuk memperluas bidang lekat antara siar dengan bata. pada dua lapis berturut turut siar tegak saling berselisih sterk ( tidak berimpit ) pada bagian luar maupun dalam. pada sudut, pertemuan, persilangan dari 2 tembok, lapis bata berganti gantiberjalan terus sehingga didalamnya seperti dianyam. tembok yang memiliki tebal 1 bata atau lebih, lapisanya disusun dari bata utuh yang diletakan memanjang dan melintang . pada tembok tebal 1 bata atau lebih lapis strek nberakhir dengan bata. Dan pada tembok ikatan berdiri ( 1 bata ) siar lintang pada gigi menyatu membentuk tangga geser dan bata dari lapisan bawah dan diatasnya. gunakan adukan yang sesuai dengan aturan.

Macam-macam ikatan Bata


1. 2. 3. 4. 5. 6.

ikatan bata : untuk tembok tebal bata. ikatan tegak : untuk tembok tebal lapisan 1 bata dan kombinasinya. ikatan silang : untuk tembok tebal lapisan 1 bata dan kombinasinya. ikatan valm : untuk tembok tebal lapisan 1 bata atau lebih. ikatan rantai : untuk tembok tebal lapisan bata atau lebih. ikatan kop : untuk tembok tebal lapisan 1 bata atau lebih.

Untuk butir 4,5 ,6 jarang digunakan karena kurang efisien dalam pembuatan dan kurang efktif hasilnya.

Nomenklatur ikatan bata adalah petunjuk atau cara pemberian nama secara singkat dan jelas dari suatu ikatan bata. Nomenklatur ini dimaksudkan untuk menghindari ketidakjelasan pemberian nama ikatan bata mengingat ikatan bata sangat banyak macamnya.
Syarat syarat penentuan nomen klatur adalah : Perhatikan jenis / macam ikatan bata yang dimaksud. perhatikan bentuk ikatan bata yang dimaksud. perhatikan tebal lapisan bata yang dimaksud.

Ikatan bata
A. Tembok bata
Tembok dengan tebal bata yang tiap lapisannya terdiri dari bata utuh yang dipasang dalam arah panjang tembok disebut lapis strek. Sifat sifat hubungan pada ( ikatan ) tembok bata adalah :

Tiap lapis berturut turut siar lintang berselisih sterk. Lapis I: bata, strek, strek, sterek, dan seterusnya. Lapis II : strek, strek, strek, dan seterusnya. Lapis I adalah lapis ganjil sedangkan lapis II adalah lapisan genap. Pada pengakhiran tegak, tiap lapis ditambah dengan bata. Pada tembok ini terdapat gigi tegak , untuk tembok berikutnya, supaya didapat sambungan yang siar siarnya terisi penuh. Biasanya digunakan spesi ( adukan ) yang terdiri dari : 1 kp + 1 sm + 3 ps

Ikatan bata
B. Tembok bata pada sudut siku 2 tembok x bata

Penyusunan bata tembok rumah, pagar halaman dapat berbentuk siku ( = 90 derajat ) , sudut tumpul ( > 90 derajat ). Sifat ikatanya : Lapisanya berganti ganti berjalan terus supaya seolah olah bagai dianyam untuk menambah kekuatan sudut tembok.

Ikatan bata
C. Ikatan bata pada pertemuan siku 2 tembok x bata.
Sifat dari pertemuan siku 2 tembok x bata ialah : Lapis lapis tembok berganti ganti berjalan terus. Kop dari lapis tembok yang satu berseling seling menatap dan menembus lapis tembok lainya Agar siar tegak saling berselisih sterk serta siar tegak tidak saling berimpit pada 2 lapis berturut turut perlu dipasang 2 buah bata dengan ukuran panjang bata.

Ikatan bata
D. Ikatan bata pada persilangan siku 2 tembok x bata. Ditempat persilangan dua tembok, lapisannya berganti ganti berjalan terus. Agar siar tegak tidak saling berimpit pada dua lapis berturut turut dipasang 2 buah bata dengan ukuran panjang bata.

Ikatan bata
E. Kombinasi Pada sudut siku 2 tembok x 1 bata F. Kombinasi pada pertemuan 2 tembok bata x 1 bata G. Kombinasi pada persilangan 2 tembok x 1 bata H. Kombinasi pada sudut 2 tembok bata x 1 bata

Ikatan tegak
A. Tembok 1 bata Tembok untuk ikatan tegak yang banyak di gunakan mempunyai tebal lapisan 1 bata, atau juga dapat dibuat lebih. Sifat hubungan pada ( ikatan ) tembok 1 bata adalah : Tembok terdiri dari 2 macam lapisan yaitu lapisan strek dan lapisan kop. Dalam 2 lapis berturut turut siar lintang saling berselisih panjang bata. Gigi tegak panjang bata, gigi tangga panjang berseling seling bata dan bata, pada pengakhiran tegak yang selalu ada disamping kop, lapis strek berakhir dengan bata. Panjang tembok jika dengan lebar bata akan terdapat jumlah k ( kepala ) genap dan ganjil

Ikatan tegak
B. Ikatan 1 bata pada sudut 2 tembok 1 x 1 bata Pada sudut tembok, pertemuan dan persilangan pada lapisan bujur ( sterk )berjalan terus,diawalai dan diakhiri dengan bata. Jika lapisan pertama merupakan bujur sangkar, maka lapisan diatasnya menjadi lapisan kepala . C. Ikatan 1 bata pada pertemuan 2 tembok 1 x 1 bata. D. Ikatan 1 bata pada persilangan 2 tembok 1 x 1 bata.

Ikatan Silang
A. Tembok 1 bata.

Dinamakan ikatan silang karena : pada tiap 3 lapis berturut turut disembarang tempat selalu dapat dibuat silang atau palang palang. Ikatan silang dengan tebal lapisan 1 bata mempunyai 4 lapisan yaitu :

Lapisan pertama terdiri dari lapisan bujur ( streek ) , diawali dan diakhiri bata. Lapisan kedua menjadi lapisan kepala. Lapisan ketiga menjadi lapisan bujur, diawali dengan bata ditambah 1 kepala ( kop ) selanjutnya bujur. Lapisan keempat merupakan kepala, seperti pada lapisan kedua.

Ikatan Silang
B. Ikatan 1 bata pada sudut 2 tembok 1 x 1 biasa. Sudut tembok 1 bata pada ikatan silang yang banyak dibuat adalah : Sudut siku ( 90 derajat ) dan sudut tumpul ( > 90 derajat ) jarang/ tidak dibuat karena kurang efisien dalam pengerjaanya.Pada ikatan ini terdiri dari empat lapisan. C. Ikatan 1 bata pada pertemuan 2 tembok 1 x 1 biasa. Petemuan tembok satu bata ada 2 macam pertemuan siku. pertemuan miring. D. Ikatan 1 bata pada persilangan 2tembok 1 x 1 biasa.

Ikatan Vlam
A. Tembok 1 bata

Ikatan Vlam jarang digunakan karena dalam tiap lapis ada strek yang berjejer, akibatnya akan ada selalu siar tegak bergeser sejauh panjang bata. Ikatan Valm terdiri dari 2 macam lapisan dengan tebal minimum 1 bata. Tiap lapis terdiri dari strek dan kop yang berselang seling, dimana lapisan kop dalam lapis yang satu menumpang di tengah strek pada lapis lain.

Ikatan Vlam
B. Ikatan bata pada sudut 2 tembok 1 x 1 bata.

Sudut siku tembok 1 bata ikatan valm terlihat adanya penggunaan potongan bata kecil ( bata ) , ( bata ) , bata dan potongan bata serong utuh.Pada ikatan ini ada siar tegak yang berimpit sejauh panjang bata.

C.Ikatan bata pada pertemuan 2 tembok 1 x 1 bata D. Ikatan bata pada persilangan 2 tembok 1 x 1 bata

Ikatan Rantai
A. Tembok 1 bata

Ikatan rantai serupa dengan ikatan valm, akan tetapi pada ikatan rantai lebih sederhana tidak lagi menggunakan bata ukuran kecil seperti bata. Ikatan rantai juga untuk tembok tebal lapisan 1 bata dengan 2 macam lapisan.

B. Ikatan untuk membuat cerobong.

Cara menyusun bata dengan ikatan rantai dapat juga digunakan untuk pembuatan cerobong asap sederhana, yang terdiri dari 2 macam lapisan, baik untuk tebal bata atau 1 bata.

Ikatan Kop
Dinamakan ikatan kop karena semua

lapisanya dibuat dari kop melintang. Ikatan ini dibuat minimum untuk tebal 1 bata, yang terdiri dari susunan bata bata utuh atau pecah. Tembok yang terbuat dari ikatan kop kurang kokoh, oleh karena itu dipakai untuk tembok yang tidak menerima beban.

Penguatan Tembok
Penguatan tembok adalah untuk mempertebal tembok

ditempat tempat tertentu, agar lebih kuat untuk menahan beban atau getaran getaran dari luar. Penguatan ini biasanya dilakukan pada tembok dengan tebal lapisan bata, seperti pada tembok rumah, pagar halaman dan juga tembok dipinggir jalan yang dilalui kendaraan kendaraan berat. Penguatan tembok ini seolah-olah merupakan tiang, sehingga di namakan pilaster ( pilar ). Penentuan letak pilar ini dengan cara membagi bagi bidang bidang tembok yang menjadi beberapa panil yang luasnya lebih kurang 10 m2 . Bila tembok tembok itu mempunyai tinggi 3,00 m, Maka jarak pilar satu dengan yang lainnya 10 m2 : 3,00 m = 3,33 m dapat diambil 3,50 m

Jenis-jenis Penguatan Tembok


Penguatan pada sisi tembok
Penguatan tembok bata pada satu sisi Penguatan tembok 1 bata pada satu sisi Penguatan tembok bata pada dua sisi Penguatan tembok bata pada sudut siku Penguatan tembok 1 bata pada sudut siku
Penguatan tembok bata pada pertemuan siku Penguatan tembok 1 bata pada pertemuan siku

Penguatan pada sudut tembok.


Penguatan pada pertemuan tembok


Penguatan pada persilangan siku tembok bata

Penutup Diatas Lobang Dalam Tembok


Bangunan membutuhkan : lobang untuk jendela, lobang

untuk jendela terang atas (ventilasi), lobang untuk pintu. Konstruksi diatas lobang dalam tembok harus kuat, awet dan indah dipandang mata. Lapis pasangan tembok yang merupakan tepi atas dari lobang itu akan runtuh akibat beratnya sendiri atau karena ada beban-beban lain. Reruntuhan tembok ini akan berbentuk segitiga. Reruntuhan tembok segitiga yang pertama akan disusul oleh keruntuhan tembok segitiga yang berikutnya. Untuk memikul segitiga yang akan runtuh harus dipasangi balok pemikul yang dinamakan latei. Hubungan antara lebar lobang, besar segitiga dan ukuran latei adalah berbanding lurus artinya makin lebar lobang (lengkang) makin besar segitiga yang akan runtuh dan makin besar balok memikul (latei) yang dibutuhkan.

Bila tidak dikehendaki adanya balok pemikul,

maka sebagai gantinya dapat dibuat dari susunan bata yang dipasang dengan spesi 1 pe ; 3 ps (1 takar semen dicampur dengan 3 takar pasir). Hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan bata ini adalah siar-siar (adukan harus betul-betul penuh serta padat).

Cara menyusun bata diatas lobang


1. Lapis Rol Lapis Rol ini terdiri dari susunan bata yang dipasang pada sisinya. Pemasangan mengerasnya siar-siar (adukan) bersamaan sehingga seluruh merupakan satu kesatuan yang utuh. Tebal (tinggi) rol adalah 2/5 x bentang. Misalnya : Bentang 25 cm, tinggi rol : 2/5 x 25 cm = 10 cm = bata Bentang 50 cm, tinggi rol : 2/5 x 50 cm = 20 cm = 1 bata Bentang 90 cm, tinggi rol : 2/5 x 90 cm = 36 cm = 1 bata Bentang 100 cm, tinggi rol : 2/5 x 100 cm = 40 cm = 2 bata Agar lobang ventilasi tidak dimasuki oleh binatang-binatang yang beterbangan, maka perlu dipasangi plat beton yang berlobang-lobang (roosteer). Rooster ini dapat dibuat dengan bermacam-macam bentuk.

2. Strek Kalau pada lapis rol siar-siar (tegak) arahnya sejajar, akan tetapi pada strek semua siar mengarah atau menuju pada satu titik pusat (P). P berada ditengahtengah bentang (l) dan berjarak 1 l dari tengahtengah bagian bawah strek dan berkisar 1 l dari tepi kiri/kanan bawah panjang strek. Tebal strek harus 3/ 10 x bentang. Misalnya: Bentang 80 cm, tebal strek 3/10 x 80 = 24 cm = 1 bata. Bentang 120 cm, tebal strek 3/10 x 120 = 36 cm = 1 bata. Bentang 160 cm, tebal strek 3/10 x 160 = 48 cm = 2 bata.

Syarat-syarat untuk membuat strek adalah : Tiap-tiap batu dikupas pada kedua sisinya, supaya berbentuk baji (trapesium). Jumlah bata yang dipasang harus ganjil, untuk mendapatkan bata tutup (diarsir). Mengukur bilangan bata harus ditengah-tengah tebal tinggi strek. Memasang bata harus mulai dari kedua tepi: dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri, bertemu ditengah-tengah. Pemasangan diselesaikan sekaligus, supaya didapat satu kesatuan yang utuh. Untuk memperoleh bidang tahanan yang baik : Ujung bawah bata strek harus berada ditengah-tengah tebal bata tembok. Ujung atas bata strek harus berimpit dengan sisi atas bata tembok (lihat detail tepi kiri strek).

3. Lengkung Segmen Lengkung segmen ini lebih kuat dari pada strek, akan tetapi pembuatannya lebih susah karena sisi bawah/atas melengkung yang merupakan busur. Tebal lengkung (busur) harus 1/5 x bentang (l). Misalnya: Bentang 120 cm, tebal busur 1/5 x 120 = 24 cm = 1 bata. Bentang 180 cm, tebal busur 1/5 x 180 = 36 cm = 1 bata. Bentang 240 cm, tebal busur 1/5 x 240 = 48 cm = 2 bata.

Cara membuat lengkung segmen adalah : A dan B adalah titik pangkal busur yang telah ditentukan. Bentang AB = 1 yang telah ditentukan dan AD = BD =l=C Tinggi porring CD = p = 1/8 l dapat dicari. Garis AC dibagi dua sama besar, kemudian dari titik bagi ini ditarik garis sampai memotong perpanjangan garis CD dititik P. Dengan deraikan jari-jari (R) didapat. c p Atau didapat dengan rumus R = 2 p Tebal lengkung segmen = d = 1/5 x 1
2 2

PERBANDINGAN LAPIS ROL, STREK DAN BUSUR SEGMEN


No 1. 2. 3. 4. Tebal bata 1 bata 1 bata 2 bata Lapis Rol : 2/5 x l 25 50 90 100 Strek : 3/10 x l -*) 80 120 160 Busur Segmen -*) 120 180 240

*)

Tidak dibuat, karena lebih mudah dibuat dengan lapis rol 1 bata.

4. Lengkung Ellips Bila dibandingkan pembuatan strek maupun lengkung segmen dengan lengkung ellips, dilihat dari segi melukis/pembuatannya tidak melebihi lengkung (busur) segmen. Oleh karenanya lengkung ellips ini tidak atau jarang dibuat pada penutup diatas lobang tembok suatu bangunan. Cara Melukis Lengkung Ellips Sebagai Berikut :
Tarik garis AB yang sama dengan bentang, dan tentukan titik M ditengah-tengah AB (AM = MB). Sumbu pendek CD tegak lurus AB = 2 x tinggi porring (2 x MC). Lukislah dengan titik M sebagai titik pusat persekutuan lingkaran, didapat 2 lingkaran sepusat dengan jari-jari MA dan MC. Kemudian keliling lingkaran luar dibagi dalam beberapa bagian (segmen) yang sama besar. Buat garis 1 memotong lingkaran dalam di titik 2. Dari titik 1 ditarik garis sejajar dengan CD, sedang dari titik 7. ditarik garis sejajar dengan AB. Titik potong dari kedua garis ini merupakan satu titik pertolongan ( Q ) untuk melukis ellips. Cara ini dilakukan berturut-turut dari titik 3 serta 4, 5 serta dan seterusnya, sehingga banyak didapat titik pertolongan. Melalui titik-titik pertolongan ini ditarik garis melengkung yang merupakan ellips. Makin banyak bilangan garis tengah yang ditarik, akan makin banyak didapat titik pertolongan akhirnya didapat lengkung ellips yang cukup teliti

5. Lengkung Keranjang Melukis dan membuat lengkung, keranjang lebih sederhana dan mudah dari pada membuat lengkung ellips. Cara Melukis Lengkung Keranjang Sebagai Berikut :
Tarik garis AB = bentang dan tentukan titik M ditengah-tengah AB (AM = MB). Lukislah segi tiga sama sisi AJM. Garis MD = tinggi porring dan buat MD = MF. Tariklah garis mulai dari titik D melalui titik F yang diteruskan sampai garis ini memotong busur AJ dititik E. Tarik dari E, garis sejajar dengan JM yang memotong perpanjangan DM dititik H. G itu titik tarik untuk bagian busur AE1 dan H itu titik-tarik untuk bagian busur E1 FDC. Siar-siar dari bagian busur AE1 mengarah ketitik G, dan siar-siar dari bagian busur E1 FDC mengarah ketitik H (Lihat Gambar 44a.). Dapat disimpulkan bahwa siar-siar pada lengkung keranjang tidak mengarah kesatu titik pusat, berbeda dengan lengkung segmen yang mengarah pada siatu titik pusat.

6. Lengkung Bundar Melukis lengkung bundar sangat mudah, dan mengenai pelaksanaannya sama halnya dengan lengkung segmen. Siar-siar pada lengkung bundar semua mengarah pada satu litik pusat P.

7. Lengkung Tajam Lengkung tajam dapat dibedakan menjadi 3 jenis : Normal R = 1 artinya jari-jari sama dengan lebar bentang. Diperendah R lebih kecil dari 1 artinya : jari-jari lebih kecil dari lebar bentang. Dipertinggi R lebih besar dan 1 artinya : jari-jari lebih besar dari lebar bentang.

Syarat-syarat untuk membuat lengkung tajam adalah : Tariklah garis dari titik A sampai dititik B, titik A dan B adalah titik permulaan busur. Letakkan titik M ditengah-tengah bentang AB. Oleh karena R lebih besar dari 1, maka titik tarik berada diluar bentang, C merupakan titik puncak busur bagian dalam. Dari titik A dan B ditarik garis miring 40 - 45 yang memotong busur itu dititik D dan E. Siar-siar yang berada pada busur AF mengarah pada titik P, siar-sial yang berada pada busur BD mengarah pada titik D. Dan untuk dititik C harus dipasangi bata tutup (yang diarsir). Separuh dari bata tutup dihitung termasuk bagian kiri dan separuhnya lagi termasuk bagian kanan. Pemasangan bata pada busur CD dan CE dilakukan cara :
Misalkan jumlah batanya: (x + ) buah. Pengukuran tebal lapis busur itu harus ditengah-tengah tebal busurnya. Untuk busur CD, lebar AM dibagi dalam (x + ) bagian yang sama besar. Pada AM diberi nomor urut yang sama. Bagian yang (kanan) diukur dan sumbu ditengah busur begitu pula rada busur CE.

Untuk menentukan arah dari pada siar-siar itu, angkaangka yang sama saling dihubungkan. Kelemahan dari pembuatan lengkung tajam ini adalah bila dibuat busur yang tebalnya lebih dari 1 bata, misalnya 1 bata, maka bata pada sisi bawah busur CD maupun CE terpaksa harus dikupas sangat banyak, sehingga menjadi agak tipis. Dan siar-siar pada sisi atas busur menjadi sangat tebal yang mengakibatkan

Penutup Diatas Tembok


Untuk melindungi tembok pagar halaman bagian atas dari

tetesan air hujan (hujan deras), perlu dipasangi bata penutup. Jika ini dipasang pada sisinya, yang dinamakan rol. Pekerjaan akhir dari rol pada tembok adalah plester, yang maksudnya agar siar-siar (adukan) tidak hancur oleh air hujan. Bila tidak segera di plester, maka akan mengakibatkan lapis demi lapis tembok itu akan lepas. Plester pada sisi bawah rol perlu dibuatkan lekukan yang dinamakan cekung air, dengan maksud supaya air hujan tidak mengalir terus lewat bidang sisi tembok. Dengan demikian bidang sisi tembok tidak lekas lumutan (kotor). Cekung air dapat dibuat berpenampang : segitiga, trapesium, setengah lingkaran, dengan ukuran lebar 2 cm.

Cara menentukan lebar rol adalah : Untuk tembok tebal bata, lebar rol : + + = 1 bata = 1 strek Untuk tembok tebal 1 bata, lebar rol : + 1 + = 1 bata = 1 strek.( = rol yang menonjol dari bidang sisi tembok). Bila dikehendaki penutup tembok yang ramping, maka dibuat dari beton yaitu dengan campuran 1 pc : 2 ps : 3 kerikil, dapat menjadi ramping/tipis 4 @ 6 cm.

Penyelesaian Tembok
Tembok yang telah selesai dipasang perlu dilindungi

(ditutup) dengan suatu lapisan dari adukan/spesi, agar tembok itu lebih kokoh berdirinya. Khusus bidang tembok bagian bawah yang berhubungan langsung dengan tanah harus segera diplester tipis dengan maksud agar celah-celah yang ada pada bidang luar siar-siarnya tersumbat rapat, sehingga akar tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang kecil tidak menyisip disitu. Sebelum memulai dengan pekerjaan plesteran terlebih dahulu siar tegak maupun siar datar harus digaruk dulu sedalam 1,5 cm. Akibat garukan ini akan ada serpihan-serpihan adukan (siar), debu atau kotoran-kotoran lain, yang menempat pada tembok. Kotoran ini perlu dibersihkan dengan cara menyiramkan air tawar pada tembok itu.

Penyelesaian Tembok
Penggarukan siar-siar dan pembersihan

kotoran ini bertujuan agar lapis adukan plesteran dapat melekat dengan sempurna. Campuran adukan yang dipakai adalah 1 pc : 3 ps untuk tembok bagian bawah (kedap air) dan 1 kp : 1 sm : 3 ps untuk pekerjaan plester pada bagian tengah dan atas yang tidak berhubungan dengan air.

1. Pekerjaan Plester. Pekerjaan plester itu biasanya dilakukan pada bidang tembok, lantai, langit-langit dan pada bagian atas pondasi (trasram ). Pekerjaan trasram nantinya juga untuk plesterannya. Pekerjaan trasram untuk mencegah agar kaki tembok tidak menghisap lembab (air) dari tanah. Adukannya dibuat rapat air yaitu dengan campuran 1 pc : 2 ps. Diantara bagian bawah tembok dengan bagian atas poadasi, sekarang banyak dipasangi batok beton bertulang (sloot) dengan maksud untuk memberi dukungan yang kuat dan merata pada tembok yang sekaligus berfungsi sebaga trasram.

2. Syarat-syarat memplester tembok : 1. Tembok yang akan diplester harus datar. 2. Sebelum memulai memplester tembok harus digaruk dengan sapu lidi dan dibersihkan dengan air tawar (air minum). 3. Tebal lapis plester hanya 1 @ 1,5 cm. 4. Adukan yang dipakai : 1 kapur : 1 tras : 3 pasir, bila perlu dapat dibuat 1 semen : 3 pasir.

3. Pelaksanaan memplester tembok : Tembok yang akan diplester dibagi dalam beberapa bagian (petakpetak). Pada keempat sudut petak tembok dipasang paku dengan kepala menonjol 3 cm dari bidang tembok, untuk merentangkan benang.
Jarak benang dari sisi tembok 1,5 cm, dan bila ada tembok yang

menempel pada benang, maka temboknya harus dipahat dulu supaya didapat plester sama tebal dan rata. Di tempat-tempat tertentu yaitu pada paku dan rentangan benang dibuat plester utama yang berimpit dengan benang-benang tadi, sebagai standar tebal plester. Plester utama yang vertikal ini dibuat tiap-tiap jarak 1,00 meter. Setelah ini selesai, benang dapat dilepas. Diantara 2 lajur plester utama diisi penuh dengan adukan, kemudian digores dengan penggaris besar dan lurus mulai dari bawah keatas untuk memperoleh bidang yang rata.

Kemudian bidang yang paling luar dilapisi dengan

lapisan encer (kapur + semen merah + air) sambit digosok dengan papan gosok supaya permukaan standar yang rata, ini disebut mengaci. Rusuk-rusuk dan sudut pertemuan plester tembok harus merupakan sudut siku ( = 90) dan ini harus diplester dengan adukan 1 semen: 3 pasir supaya tahan benturan-benturan ringan. Setelah lapis ini betul-betul kering, bidang permukaannya disapu dengan kapur tohor sebanyak 3 kali, dan untuk mendapatkan keindahan biasanya kapur ini dicampur dengan zat pewarna yang sesuai sengan selera pemilik rumah.

Cara memplester tembok Lama: Seluruh lapis plester tembok lama harus dikupas. Siar tegak maupun siar datar harus digaruk sedalam 1,5 cm. Bagian bata tembok yang lumutan (licin) harus digaruk supaya permukaannya kasar, agar lapis plester yang baru dapat melekat dengan baik. Bila ada bagian tembok yang terlalu kering, harus dibasahi dengan air tawar. Selanjutnya pelaksanaan memplester mengikuti langkah diatas dari no. 1 s/d no. 9.

4. Hal-hal yang harus diperhatikan : Bahan adukan plester siar pasir, tras dan kapur yang telah dicampur rata harus diayak dulu, supaya butiran-butiran kasar tidak ikut bercampur. Usahakan jangan menggunakan adukan bekas tembok lama karena daya lekatnya kurang. Pada pekerjaan mengaci, bila dalam ember kapur tadi air kapurnya sudah habis, hanya tinggal butiranbutiran kasar yang harus dibuang dan diganti dengan campuran yang sama dan baru.

Dinding Concrete Block


Conblock :- PC agregat (pasir dan krikil) Dicetak dipres, dengan mesin pres(elektrik/manual).mempunyai ukuran dan kekuatan yang standard an seragam. Fungsi : Dinding Pemikul (tanpa beton bertulang) Dinding Pengisi Elemen Statis, ukuran akurat dan bentuk yang standar serta permukaan yang indah: halus dan kasar.

DETAIL CONCRETE BLOCK

Dinding Rangka

Untuk bahan dinding (pengisi) tidak cukup kaku untuk menahan dirinya, maka sebagai pengkaku diperlukan rangka / kerangka yang dapat terbuat dari bahan:

Bambu Kayu Besi Aluminium,dsb.

Bambu A lebih kuat dari B A kurang estetis dibanding B

Kayu

Dinding Partisi

Panel pengisi bersifat non structural, terbuat dari Multipleks dengan rangka kayu (dalamnya dapat diisi dengan serbuk gergaji + lem, sehingga lebih solid) Eternal semen (semen sandwich)

1.Panel Dobel (Panel Rangkap)

Panel Dobel (Panel Rangkap)

Varian Paralel Tunggal

Rangka Aluminium

Panel pengisi Multipleks/ kayu untuk ruang yang kering Panel pengisi eternal gresik/eternal semen untuk ruang yang basah. ternal semen kedap air mempergunakan bahan anti karat (galvanized): sekrup, paku, dll.