Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

SISTEM OPERASI DAN PEMELIHARAAN TENAGA LISTRIK

MUHAMMAD ALFIAN
0541 10 005 | TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS PAKUAN - BOGOR

PEMELIHARAAN SISTEM SUPLAI AC DC PADA GARDU INDUK

I.

Pendahuluan
Selain sumber AC, di Gardu Induk juga diperlukan sumber arus searah (DC). Sumber tenaga untuk kontrol selalu harus mempunyai keandalan dan stabilitas yang tinggi. Karena persyaratan inilah dipakai Batere sebagai sumber arus searah. Catu daya DC bersumber dari Rectifier dan Batere terpasang pada instalasi secara paralel dengan beban, operasionalnya disebut Sistem DC. Tujuan Pemeliharaan Sistem DC adalah untuk mengusahakan agar Rectifier dan Batere berikut rangkaiannya selalu bekerja sesuai karakteristiknya, sehingga diharapkan Sistem DC mempunyai keandalan yang tinggi. sehingga dalam

1.1. Latar Belakang

1.2. Maksud Dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : 1. Mengetahui secara umum sistem pemeliharaan sumber AC dan DC berdasarkan pada standar yang telah ditetapkan oleh PLN. 2. Mengetahui metode pemeliharaan pada Baterai, meliputi uji Kapasitas, uji Elektrolit dan rekondisi Baterai.

1.3. Pembatasan Masalah Dalam makalah ini pembahasan akan dibatasi pada pembahasan tentang pemeliharaan sumber AC & DC secara umum dan praktek pemeliharaan Baterai.

II. Kajian Pustaka


1

2.1. Gambaran Umum Pengoperasian suatu Gardu Induk memerlukan fasilitas pendukung yaitu sumber tegangan rendah AC 380 Volt yang diperlukan untuk sistem Kontrol, Proteksi, maupun untuk sistem mekanik penggerak peralatan di

Gardu Induk. Pada gardu Induk 150 kV sumber AC dipasok dari Trafo pemakaian sendiri (PS) sedangkan pada GITET 500 KV, selain Trafo PS dilengkapi juga dengan Generator Set yang diperlukan untuk keadaan darurat atau pada saat Trafo pemakaian sendiri (PS) mengalami gangguan atau sedang dipelihara. Pemakaian sendiri di Gardu Induk berfungsi untuk memenuhi

kebutuhan Tenaga Listrik peralatan bantu,

pada umumnya dibutuhkan

untuk memasok daya listrik ke peralatan di Gardu Induk antara lain : Pengisian Baterai ( Charger ) Motor kipas pendingin Motor sirkulasi minyak Penerangan gedung Telekomunikasi

Selain sumber AC, di Gardu Induk juga diperlukan sumber arus searah (DC). Sumber tenaga untuk kontrol selalu harus mempunyai keandalan dan stabilitas yang tinggi. Karena persyaratan inilah dipakai Baterai sebagai sumber arus searah. Untuk kebutuhan operasi relai dan kontrol di PLN terdapat dua sistem catu daya pasokan arus searah yaitu DC 110V dan DC 220V, sedangkan untuk kebutuhan scadatel menggunakan sistem

Catu Daya DC 48V. Diagram instalasi Sistem DC dapat dilihat pada Gambar 2. 1.

Gambar 2.1. Diagram Instalasi Sistem DC 2.2. Sistem AC 2.2.1. Transformator Pemakaian Sendiri Pengoperasian suatu Gardu Induk memerlukan fasilitas pendukung yaitu sumber tegangan rendah AC 380 Volt yang diperlukan untuk sistem Kontrol, Proteksi, maupun untuk sistem mekanik penggerak peralatan di Gardu Induk. Umumnya peralatan instalasi Suplai AC yang terpasang di Gardu Induk adalah sebagai berikut : 1. Load Breaker Switch ( LBS ) 2. Trafo PS 3. NFB ( No Fuse Breaker ) 4. Panel Distribusi AC. Peralatan sistem Suplai AC dapat dilihat pada Gambar 2.2 dibawah ini :

Gambar 2.2. Peralatan sistem Suplai AC

Pada gardu Induk 150 kV sumber AC dipasok dari Trafo pemakaian sendiri (PS) sedangkan pada GITET 500 KV, selain Trafo PS dilengkapi

juga dengan Generator Set yang diperlukan untuk keadaan darurat atau pada saat Trafo pemakaian sendiri (PS) mengalami gangguan atau sedang

dipelihara.

Gambar 2.3. Transformator PS

2.2.2. Genset Genset merupakan bagian dari sistem suplai AC yang sangat penting sebagai salah satu satu sumber tenaga bagi instalasi di dalam sistem kelistrikan Gardu Induk, baik untuk sistem kontrol maupun sistem-sistem penggerak

peralatan Gardu Induk. Genset diperlukan sekali untuk keadaan darurat, apabila penyediaan listrik utama terganggu, misalnya suplai dari Trafo PS ( pemakaian sendiri ) mengalami gangguan, pemeliharaan atau kondisi sistem Black-Out. Sehingga kondisi demikian Generator set dapat menggantikan dan dapat

menyediakan sumber daya listrik untuk keperluan mensuplai Charger, penerangan ruangan operator, penggerak kipas pendingin Transformer, penggerak Genset. motor PMT dan keperluan lainnya sesuai dengan kemampuan

Gambar 2.4. Genset Prinsip kerja dari Genset adalah gabungan antara mesin penggerak dan Generator pembangkit listrik. Penggerak mula menggunakan prinsip Motor bakar untuk merubah energi kimia dalam bahan bakar menjadi energi

mekanis.

2.2.3. Generator Prinsip kerja dari Generator adalah mesin listrik yang mengkonversi energi mekanis menjadi energi listrik. Prinsip dasar generator adalah menggunakan hukum Faraday.

e = d / d t,
5

Generator terdiri dari lilitan stator dan lilitan rotor. Lilitan rotor dialiri arus searah melalui sikat arang pada cincin slip. Lilitan stator terdiri dari beberapa buah lilitan (N),

Gambar 2.5. Prinsip kerja Generator serempak dasar

Rotor yang terdiri dari lilitan rotor yang telah dialiri arus searah diputar dengan kecepatan tetap oleh penggerak mula. Dengan adanya putaran rotor maka pada kumparan stator akan teinduksi fluks magnet dengan e = d / d t, Keterangan : e d : tegangan induksi pada kumparan stator : fluksi yang timbul pada periode waktu kumparan stator bentuk

gelombang sinusoidal seperti rumus dibawah ini :

dt : periode waktu

Tegangan yang terinduksi ke kumparan stator akan membentuk sinusoida setiap satu putaran penuh (untuk generator 2 kutub). Sedangkan besarnya frekuensi yang timbul tergantung dari banyaknya kutub, putaran dan waktu, seperti rumus di bawah ini :

Keterangan : f : frekuensi pada kumparan stator


6

P n

: jumlah kutub kumparan stator : jumlah putaran rotor

2.3.Sistem DC 2.3.1. Rectifier atau Charger Rectifier atau Charger sering disebut juga Konverter adalah suatu rangkaian alat listrik untuk mengubah arus listrik bolak-balik (AC)

menjadi arus searah (DC) yang berfungsi untuk suplai DC dan mengisi Batere agar kapasitasnya tetap terjaga penuh, oleh karena itu Batere

tersebut harus selalu tersambung ke Rectifier sehingga keandalan sumber DC pada Gardu Induk terjamin. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka kapasitas Rectifier harus disesuaikan dengan kapasitas Batere terpasang, paling tidak

kapasitas arusnya harus mencukupi untuk pengisian Batere : Jenis alkali sebesar 0, 2 C ( 0, 2 X Kapasitas) dan 0, 1 C untuk Batere asam, beban statis Gardu Induk, 200 Ah maka minimum ditambah

misalkan kapasitas Batere terpasang sebesar Kapasitas arus Rectifier terpasang dengan

kapasitas arus sebesar : 0, 2 x 200 A = 40 A + I statis misal 10 A maka minimum kapasitas Rectifier 50 A. Oleh karena sumber AC Rectifier tidak boleh padam maka pengecekan tegangan tegangan input AC maupun tegangan output DC harus diperiksa secara rutin / periodik. Prinsip kerja dari rectifier yaitu Sumber AC baik 1 fasa maupun 3 fasa masuk melalui terminal input Rectifier itu ke Trafo step-down dari

tegangan 220 V / 380 V menjadi tegangan 110 V atau 48 V kemudian oleh Diode penyearah / Thyristor arus bolak balik (AC) tersebut dirubah

menjadi arus searah dengan ripple / gelombang DC tertentu. Kemudian untuk memperbaiki ripple / gelombang DC yang terjadi diperlukan suatu rangkaian penyaring (filter) yang dipasang sebelum ke terminal Output.

Gambar 2.6. Prinsip Kerja Rectifier

2.3.2. Mode Operasi Pengisian Pada Rectifier Umumnya jenis pengisian pada Rectifier yang diperlukan oleh Batere adalah Floating, Equalizing dan Boosting. 2.3.2.1. Pengoperasian Rectifier a. Persiapan : 1. Pastikan semua switch/NFB/MCB dalam kondisi OFF. 2. Posisikan VR V-Ajust dan VR A-Ajust pada posisi minimum 3. Sambungkan kabel input tegangan AC 3 phasa ke terminal Rectifier 4. Sambungkan kabel Batere ke terminal DC Rectifier sesuai polaritasnya 5. Masukkan kabel tegangan AC ke sumber tegangan AC (Stop contact) b. Pengoperasian : 1. Hidupkan Rectifier dengan memasukkan NFB Input 2. Posisikan VR A-Ajust pada posisi maximum 3. Atur VR V-Ajust sampai Voltmeter pada Rectifier menunjuk harga tegangan sesuai yang diminta (selanjutnya jangan diputar-

putar lagi), (maximum).

setting ini adalah setting tegangan akhir

4. Posisikan VR A-Ajust pada posisi minimum. 5. Masukkan switch / NFB / MCB Output (tersambung ke Baterai / beban). 6. Atur VR A-Ajust sampai menunjuk besarnya arus yang dibutuhkan. (Pengaturan ini adalah setting arus yang

dibutuhkan dalam pengisian) 7. Khusus untuk Pengisian Boosting : a) Atur Timer keposisi waktu yang dibutuhkan b) Tekan tombol BA (Pengoperasian untuk setting waktu pengisian). timer ini adalah

c. Proses Pengisian : Setelah langkah - langkah pengoperasian dilakukan, berarti Rectifier sudah operasi (mengisi) ke Baterai, selanjutnya dan lakukan diamati

proses pengisian pengisian Baterai.

sesuai dengan kektentuan dalam

d. Selesai Pengoperasian : 1. Posisikan semua VR ke posisi minimum. 2. Lepas switch/MCB/NFB output dan input Selesai

2.3.2.2. Floating Charge Adalah jenis pengisian ke Baterai untuk menjaga Baterai dalam keadaan full charge dan Baterai tidak mengeluarkan maupun menerima arus listrik saat mencapai ke tegangan floating dan Batere tetap

tersambung

Charger dan beban. Di Gardu Induk umumnya

menggunakan sistem floating. Bila sumber AC hilang atau pengisi Baterai terganggu, maka beban langsung di suplai dari Baterai. Tegangan Floating : Standard : 1, 40 V 1, 44 V tiap sel (Batere alkali) Standard : 2, 10 V 2, 2 V tiap sel (Batere asam).
9

Arus Floating : Standard : 0, 01 x C (Alkali / Asam)

2.3.2.3. Equalizing Charge Adalah jenis pengisian Batere untuk menyamakan / meratakan

tegangan karena terjadi perbedaan tegangan tiap sel. Tegangan Equalizing : Standard : 1, 5 V 1, 6 V tiap sel (alkali) Standard : 2, 25 V 2, 3 V tiap sel (asam) Arus Equalizing : Standard : Max. 0, 2 x C (Alkali) Standard : Max. 0, 1 x C (Asam)

2.3.2.4. Boosting Charge Adalah jenis pengisian cara cepat yang digunakan untuk initial charge atau pengisian kembali pada Baterai setelah Baterai mengalami

pengosongan yang besar atau setelah di test kapasitas. Tegangan Boosting : Standard : 1, 65 V 1, 7 V tiap sel (Batere alkali) Standard : 2, 35V 2, 4 V tiap sel (Batere asam) Arus Boosting : Standard : 0, 1 ~ 0, 2 x C (Alkali) Standard : 0, 05 ~ 0, 1 x C (Asam)

2.4. Baterai Batere atau akumulator adalah sebuah sel listrik dimana didalamnya berlangsung dengan efisiensinya yang tinggi. Yang dimaksud dengan proses elektrokimia proses elektrokimia yang reversibel (dapat berbalikan)

reversibel, adalah didalam Batere dapat berlangsung proses pengubahan kimia menjadi tenagan listrik ( proses pengosongan ), dan sebaliknya dari tenaga listrik menjadi tenaga kimia pengisian kembali dengan cara
10

regenerasi

dari

elektroda-elektroda

yang dipakai,

yaitu

dengan

melewatkan arus listrik dalam arah (polaritas) yang berlawanan didalam sel. Jenis sel Batere ini disebut juga Storage Battery , adalah suatu Batere yang mana dapat digunakan berulangkali pada keadaan sumber listrik arus bolak balik (AC) terganggu. Tiap sel Batere ini terdiri dari dua macam elektroda yang berlainan, yaitu elektroda positif dan elektroda negatif yang

dicelupkan dalam suatu larutan kimia. Menurut pemakaian Batere dapat : Stationary (tetap) Portable (dapat dipindah-pindah)

2.4.1. Prinsip kerja a) Proses discharge pada sel berlangsung menurut skema Gambar 1. 1 Bila sel dihubungkan dengan beban maka, elektron mengalir dari anoda melalui beban ke katoda, kemudian ion-ion negatif mengalir ke anoda

dan ion-ion positif mengalir ke katoda. b) Pada proses pengisian menurut skema Gambar 3. 10. Bila sel

dihubungkan dengan power suplai maka, Elektroda positif menjadi anoda dan elektroda negatif menjadi katoda dan proses kimia yang terjadi adalah sbb : Jadi Aliran elektron menjadi terbalik, mengalir dari anoda melalui power suplly ke katoda. Ion-ion negatif mengalir dari katoda ke anoda Ion-ion positif mengalir dari anoda ke katoda. kimia pada saat pengisian (charge) berlangsung

reaksi

sebaliknya.

11

Gambar 2. 7. (a). Reaksi elektrokimia Pada sel Batere ( discharge) Gambar2. 7. (b )Reaksi elektrokimia pada sel Batere ( charge )

2.5. Uji Kadar Potassium Karbonat Electrolit Baterai ( K2Co3 ) 2.5.1. Tujuan Adapun Tujuan pengujian kandungan potassium carbonate (K2CO3) adalah untuk memperoleh infomasi apakah elektrolit Baterai masih efektif untuk direkondisi atau sudah tidak efektif lagi untuk direkondisi.

2.5.2. Prosedur Pelaksanaan Uji Kadar Potassium Karbonat Elektrolit Baterai a. Pengambilan sampel pengujian Satu unit Baterai, sampel diambil beberapa tetes larutan elektrolit tiap sel Baterai sehingga untuk satu unit Baterai terkumpul + 200 ml elektrolit. b. Pembuatan 50 ml larutan HCL 10 % - Masukkan 50 ml air murni ke gelas erlenmeyer Memakai pipet 5 ml, masukkan 5 ml HCL pekat ke gelas

erlenmeyer lalu aduk secukupnya Larutan tersebut cukup untuk satu kali pengujian.
12

Untuk pembuatan larutan yang lebih banyak dapat dilakukan seperti langkah tersebut diatas. c. Prosedur pengukuran dilaksanakan sebagai berikut : 1. Isilah gelas burette dengan HCL 10 % sampai penuh (larutan sampai pada batas titik nol) 2. Dengan menggunakan pipet, teteskan 5 ml larutan sampel (Potassium hydroxide) ke gelas erlenmayer 3. Masukkan 50 ml air murni (H2O) ke dalam gelas Erlenmeyer

4. Tambahkan sedikit bubuk phenolphtalein ke dalam larutan tersebut hingga berubah warna menjadi ungu Sambil

mengocok perlahan gelas Erlenmeyer, 5. Perlahan teteskan HCL 10 % dari gelas burette sampai larutan dalam gelas Erlenmeyer berubah warna menjadi

bening (tanpa warna ) 6. Bacalah jumlah HCL 10 % yang telah dipakai pada gelas burette dan catatlah batas permukaannya dengan tanda p 7. Tambahkan sedikit bubuk methylorange ke dalam larutan bening pada Gelas Erlenmeyer hingga berubah warna

menjadi kuning jernih 8. Sambil mengocok perlahan-lahan gelas Erlenmeyer,

perlahan-lahanteteskan HCL 10 % dari gelas burette sampai larutan dalam gelas Erlenmeyer orange 9. Bacalah jumlah HCL 10 % yang telah dipakai pada gelas burette dan catatlah batas permukaannya dengan tanda m 10. Dari langkah - langkah tersebut kandungan K2CO3 dari berubah warna menjadi

sampel dapat diketahui dengan rumus : ( m - p ) x 2 x 69. 1/5 = . . . Gr/liter Standard kadar maksimum K2CO3 untuk

Baterai yang diproduksi Nife adalah 100 Gr/liter.

2.6. Rekondisi 2.6.1. Prinsip Melakukan Rekondisi Baterai : 1. Pengosongan/discharge


13

2. Pembersihan sel Batere 3. Penggantian elektrolit 4. Pengisian arus/charging 5. Pengosongan/discharge

2.6.2. Tujuan Untuk meningkatkan kembali kapasitas Batere atau memperbaiki dan mengembalikan proses kimiawi didalam sel Baterai dengan cara melakukan penggantian elektrolit.

2.6.3. Tahapan Rekondisi 1. Batere bebas dari beban sistem 2. Discharge/kosongkan Batere 3. Lepas conector dan sel Batere 4. Bersihkan sel Batere : Buang elektrolit lama Bersihkan dalam sel Baterai dengan mengisi air murni dan di keluarkan lagi sampai cairan yang keluar bersih 5. Isi kembali sel Batere dengan elektrolite yang masih baik Jarak waktu diisi setelah selesai dibersihkan tidak boleh melebihi 1 jam Karena bila terlalu lama, elektroda akan bersenyawa dengan udara bisa menyebabkan panas ( Batere rusak) 6. Pasang sel Batere kembali dirak dan disambung / dirangkai seperti semula 7. Setelah selang waktu 5 - 24 jam dari pengisian elektrolite, lakukan pengisian arus (charging) dengan mode Boosting.

III.

Analisa Dan Pembahasan

3.1. Data Hasil Pengukuran 3.1.1. Data Hasil Pengukuran Equalizing Charge

14

3.1.2. Data Hasil Pengukuran Boosting Charges

15

3.1.3. Data Hasil Uji Potasium Karbonat Dari pengujian kadar potasium karbonat elektrolit Batere didapatkan data sebagai berikut:
16

M = 5. 3 ; P = 2. 2 Dimana: P = jumlah HCL 10 % yang terpakai untuk membuat larutan dalam gelas erlenmeyer (H2O + potassium hydroxide + phenolphtalein + HCL 10%) menjadi bening. M = jumlah HCL 10 % yang terpakai untuk membuat larutan dalam gelas erlenmeyer (H2O + potassium hydroxide + phenolphtalein + HCL 10 % + methylorange) menjadi orange.

3.2. Aalisa Data 3.2.1. Equalizizng Charge Dari data dokumen pengukuran pada saat Equalizing charge dapat kita lihat bahwa tegangan per-sel sebelum di Equalizing memiliki range antara 1. 31-1. 35 V. Setelah di Equalizing maka tegangan per-sel mengalami peningkatan menjadi 1. 55-1. 61 V. Berdasarkan teori yang ada bahwa tegangan standard per-sel setelah diEqualizing memiliki range 1. 5-1. 6 V per-sel. Dan apabila terdapat salah satu sel yang memiliki tegangan di bawah 1. 5 V maka perlu dilakukan rekondisi Batere. Dan dari data diatas tegangan tiap-tiap sel setelah dilakukan Equalizing memiliki nilai diatas 1. 5 V. Namun terdapat beberapa sel yang memiliki tegangan diatas 1. 60 V, yaitu sel 30-32. Sel 30-32

memiliki tegangan tiap sel sebesar 1. 61 V. Nilai ini melampaui nilai standard tegangan dipermasalahkan. Equalizing. Namun hal ini tidak terlalu

3.2.2. Boosting Charge Dari data dokumen pengukuran pada saat Boosting charge dapat kita lihat bahwa tegangan awal yaitu tegangan sebelum dilakukan Boosting charge memiliki range sebesar 0. 98-1. 27 V tiap sel. Setelah satu jam pertama dilakukan Boosting charge range tegangan tiap sel meningkat menjadi 1. 42-1. 64 V. Setelah dua jam dilakukan Boosting charge

17

range tegangan tiap sel meningkat lagi menjadi 1. 66-1. 74 V . Dapat kita lihat bahwa tegangan persel terus mengalami peningkatan. Standard tegangan akhir Boosting charge untuk Batere alkali ialah 1. 65-1. 7 V tiap sel. Dari data yang diperoleh setelah dua jam dilakukan Boosting charge tegangan yang diperoleh secara keseluruhan sudah berada dalam range 1. 65-1. 7 V tiap sel. Namun ada beberapa sel yang

memiliki tegangan yang diatas 1. 7 V. Dari data teknis Batere yaitu: C (kapasitas) = 2 58 AH KP (kapasitas pengisian) = 361, 2 AH Jumlah sel = 40 Ich 1 = 0. 1 X 258 = 25.8 A Ich 2 = 0. 2X258=51.6 A T1 = KP / Ich 1 = 140 / 10 = 14 jam T2 = KP / Ich 2 = 140 / 20 = 7 jam Vakhir = 1. 7 x 40 = 68 V

3.2.3. Uji Kadar Potasium Karbonat Kadar potasium karbonat (K2CO3) dapat diperoleh dengan

memasukannilai M dan P ke dalam persamaan :

Dengan

memasukkannya

kedalam persamaan

diatas

maka

didapatkan kadar K2CO3 sebesar 85. 684 gram/liter. Dengan mengacu pada standar kadar maksimum yang dibuat oleh Nife yaitu 100 gr / liter, maka berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa kandungan K2CO3 masih berada dalam batas maksimum, sehingga tidak perlu dilakukan penggantian Elektrolit. Dengan kata lain Batere masih dapat digunakan.
18

IV.

Penutup
1. Untuk mengetahui kapasitas Baterai yang sesungguhnya, dapat

4.1. Kesimpulan

dilakukan Uji kapasitas. 2. Terdapat tiga metode pengisian, yaitu : Equalizing charge, Boosting charge, dan Floating charge. Dimana metode pengisian dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. 3. Masingmasing metode pengisian memiliki Arus, Tegangan, dan lama waktu pengisian yang berbeda-beda. 4. Penggantian Elektrolit dapat meningkatkan kapasitas dari Baterai. 5. Rekondisi / Penggantian elektrolit dilakukan setelah didapatkan data dari hasil Uji Elektrolit ( kadar pottasium karbonat ) yang melebihi standard. 6. Berdasarkan hasil uji elektrolit yang dilakukan pada praktek ini

terhadap Batere produksi nife, didapatkan kadar pottasium karbonat sebesar 85.684 gram/liter.Jika dibandingkan dengan standard kadar maksimum pottasium karbonat yang ditetapkan oleh nife, yaitu sebesar 100 gram / liter maka dapat dikatakan elektrolit Batere tersebut masih baik.

4.2. Saran Untuk melihat pelaksanaan Pemeliharaan Sistem Suplai AC & DC yang sesungguhnya, sebaiknya mahasiswa melakukan Kerja Praktek di unit-unit operasional PLN, seperti di Gardu Induk.

19

DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonim. 2009. Pemeliharaan Sistem Suplay AC & DC B.1.1.2.14.3. Jakarta: PT PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan

[2]http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?submit.x=22&submit.y=15&page=2 &qual=high&submitval=prev&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Felkt%2F1995 %2Fjiunkpe-ns-s1-1995-23489065-14928-baterai chapter2.pdf

[3] Theodore Wildi, Electrical Machines, Drives, And Power System third edition, Prentice Hall International Inc, 1997.

[4] B.L. Theraja, Electrical Technology, Nirja Construction & Dev. Co. Ltd, 1980.

20