Anda di halaman 1dari 10

MASYARAKAT & KEBUDAYAAN: Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

KELAS MPKT A 07 FOCUS GROUP 5 RACHMAH RIZKY (1306368785) LAPORAN TUGAS MANDIRI MPKT A

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2014

PENDAHULUAN Banyak definisi mengenai masyarakat dan kebudayaan yang kita ketahui atau telah kita baca dari buku. Dan ada juga pengertian-pengertian yang disampaikan oleh berbagai ahli dari Indonesia bahkan dari dunia barat. Namun untuk arti pasti dari kedua hal tersebut masih diperdebatkan karena jika dipandang dari berbagai sudut keduanya memang terbuka untuk didefinisikan. Jika kita mendengar kata masyarakat maka yang terlintas dalam benak kita adalah mengenai sekumpulan manusia yang tinggal di suatu tempat seperti komunitas. Atau mungkin kita terpikiri mengenai beberapa golonganorang yang melakukan interaksi pada suatu wilayah. Itulah garisgaris besar yang kita ketahui mengenai definisi masyrakat. Para ahli dan sarjana di bidang sosial humaniora pun telah membuat definisi versi mereka sendiri yang tidak terlepas dari garis besar yang telah kita ketahui. Setiap kita mendengar kata kebudayaan maka yang terpikir oleh kita adalah suatu tradisi yang telah mendarah daging pada suatu masyarakat di suatu tempat. Bisa jadi yang kita ketahui tentang kebudayaan adalah peradaban pada suatu masyarakat. Namun kadang kita justru menyalahartikan peradaban dengan kebudayaan. Definisi-definisi yang masih bisa diperdebatkan ini akan kita bahas menurut pendapat para ahli dan rujukan berbagai sumber yang bisa dibilang cukup valid. Dan di akhir lembar tugas ini akan ditarik kesimpulan mengenai definisi masyarakat dan kebudayaan yang mungkin dapat kita terima sebagai acuan.

1|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

A. PENGERTIAN MASYARAKAT Masyarakat adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Contoh yang memberi penerangan: Di suatu tempat di Benares terdapat beberapa orang fakir; siang-malam mereka hidup bersama dalam kesulitan. Mereka tidur diatas tikar berduri, berpuasa dan hanya makan jika ada orang yang datang untuk memberi. Walaupun mereka hiduppada suatu tempat yang sama, tetapi mereka hanya hidup sendiri-sendiri dan tiada mengadakan perhubungan satu sama lain. Kehidupan masyarakat tidak dapat dinamakan sebagai masyarakat sesuai definisi tersebut. Menurut beberapa pihak masyarakat tidak dapat dilihat menurut waktu dan tempat sebagaimana kita melihat suatu barang yang konkret dengan mata kepala. Dengan demikian mereka keberatan kalau hanya memperhatikan masyarakat ini dalam bentuknya. Mereka lebih suka mengutamakan proses kemasyarakatan yang memberi hidup kepada kehidupan bersama itu. Masyarakat adalah suatu kesatuan yang selalu berubah, yang hidup karena proses masyarakat yang menyebabkan perubahan itu. Dalam zaman biasa masyarakat mengenal kehidupan yang teratur dan aman, disebabkan oleh pengorbanan sebagian kemerdekaan dari anggotaanggotanya, baik dengan paksaan maupun sukarela. Pengorbanan disini dimaksudkan menahan kehendak sewenang-wenang untuk mengutamakan kepentingan dan keamanan bersama. Dengan paksa berarti tunduk kepada hukum-hukum yang telah ditetapkan (Negara, dsb); dengan sukarela berarti menuruti adat dan berdasarkan keinsyafan akan persaudaraan dalam kehidupan bersama itu.

Asal Masyarakat:

Bermacam-macam penyelidikan dilakukan untuk mendapat jawab tentang asal masyarakat tetapi tiada satupun yang dapat menegaskan dengan benar , semua pendapat hanya perkiraan dan pandangan semata. Seperti orang berkesimpulan bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri, ia akan selalu tertarik pada kehidupan bersama dalam masyarakat karena: 1. Kelemahan manusia selalu mendesak ia untuk mencari kekuatan bersama yang terdapat dalam berserikatan dengan orang lain, sehingga berlindung bersama-sama dan dapat pula mengejar kebutuhan kehidupan sehari-hari dengan tenaga bersama. 2. Pendapat Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politikon (makhluk social) yang menyukai hidup bergolongan atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama daripada hidup menyendiri. Pendapat Darwin mengenai manusia satu keturunan dengan kera menguatkan pendapat tersebut karena kera sebangsanya selalu terdapat hidup dalam bergolongan.

2|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

Masyarakat menurut pandangan bilogis:

Pengikut paham sosiologis-organis (pelajaran sosiologi yang memandang masyarakat ini sebagai suatu badan yang hidup, tak berbeda daripada hewan) khususnya menyamakan masyarakat dengan suatu organisme itu, melihat masyarakat sebagai suatu organisme hidup yang memiliki jantung (pemerintah) beranggotan dan berurat syaraf (media komunikasi). Masyarakat dapat sakit (endemik, pandemik, epidemik)sebagaimana tubuh manusia dapat menderita sakit. Manusia juga memiliki nafsu dan memiliki isnting untuk bertahan hidup (struggle for life). Tapi masih banyak pula yang menentang pandangan ini karena: 1. Bahwa manusia yang berakal dan berpikir, yang dipandang sebagai suatu sel dalam organisme masyarakat, tidak dapat disamakan dengan sel dalam organisme hewan. 2. Segala rintangan atau pertentangan dalam tubuh biologis mendatangkan sakit, sedangkan pertentangan dalam masyarakat seperti perdebatan dlama parlemen yang bertujuan memperbaiki negara seringkali mendatangkan kebaikan bagi Negara seluruhnya.

Proses Masyarakat:

Tiap tindakan manusia dalam kehidupan bersama menyebabkan hubungan baru yang bersifat permanen ataupun sementara. Hubungan tersebut dapat bersifat mengikat atau justru menceraikan. Selanjutnya jika seseorang keluar dari suatu golongan atau perhimpunan maka di lain waktu dan tempat ia harus pula memasuki lingkungan baru yang ain. Perpisahan disini menyebabkan perhubungan disana dengan orang baru yang berbeda. Von Wiese membagi hubungan menjadi empat macam: 1. Hubungan yang sesungguhanya dimana motif dan tindakan tidak saling bertentangan. 2. Hubungan yang tidak sesungguhanya dimana motif dan tindakan saling bertentangan. 3. Hubungan terbuka yaitu hubungan yang tidak tertutup oleh hubungan lain atau tidak ada hubungan yang dapat disembunyikan. 4. Hubungan berkedok yaitu dimana hubungan yang sifatnya tidak tegas karena tertutup dengan adanya hubungan lain sehingga menghiraukan maksud hubungan yang sebenarnya. Pembagian proses masyarakat: Aliran baru dalam sosiologi yang dalam ajarannya lebih memperhatikan proses masyarakat daripada bentuk masyarakat selanjutnya membagi proses masyarakat sebagai berikut: 1. Proses mengikat (asosiatif, integratif) mendekati, ikat-mengikat, bersatu, dsb. 2. Proses memisah (disosiatif, diferensiatif) bercerai, berpisahan, hidup masing-masing, dsb. 3|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

3. Proses campuran atau pertengahan, yang tidak dapat dengan tegas dimasukkan dalam kategori a atau b.

Definisi menurut Antropologi:

Paham mengenai masayarakat adalah hal yang sangat luas dan dapat dipandang dari banyak sekali sudut. Seperti halnya kebudayaan, masayarakat memiliki banyak definisi yang berbedabeda . Hanya saja berapa kah jumlahnyakita tidak tahu karena belum pernah ada sarjana yang mengumpulkan dan menghitung jumlah definisi tentang society atau masyarakat seperti yang dilakukan oleh A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn yang menerbitkannya dengan judul Culture: A Critical Review of Concepts and Definitions (1952) yang menghitung segala definisi tentang culture. Semua definisi yang berbeda-beda tersebut tentu mengandung kebenran karena tiap definisi tersebut ditentukan oleh definisi masing-masing. Masyarakat juga merupakan suatu kesatuan individu yang dipandangan dalam keseluruhannya satu sama lain, berada dalam hubungan berinteraksi yang berulang tetap. Interaksi tersebut terjadi sedemikian rupa sehingga menimbulkan reaksi antara individu-individu yang lain. Hubungan Masyarakat dan Kebudayaan:

Dalam bukunya Koentjananingrat (Pengantar Antropologi, 1974) definisi masyarakat yang dipakai adalah suatu hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat tertentu. Definisi tersebut adalah yang paling mendekati makna dari definisi yang diajukan oleh J.L. Gilin dan J.P. Gilin dalam buku mereka yang berjudul Cultural Sociology (1954. halaman 139). Masyarakat merupakan wadah kebudayaan. Definisi tersebut membuat pandangan bahwa masyarakat dan kebudayaan selalu terkait satu sama lain. Kebudayaan tanpa masyarakat tidak namun sebaliknya tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan. Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, berasal dari kata socius yang berarti kawan. Adapun masyarakat berasal dari bahasa Arab, yaitu syirk yang artinya bergaul. Para ahli seperti Maclaver, J.L. Gillin, dan J.P. Gillin sepakat bahwa adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara, dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama sehingga masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu, yang bersifat kontinu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Untuk arti khusus masyarakat disebut pula kesatuan sosial, mempunyai ikatan-ikatan kasih sayang yang erat.

4|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

B. PENGERTIAN KEBUDAYAAN Kebudayaan = cultuur (Bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab, berasal dari bahasa Latin colere yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Ditinjau dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan kebudayaan dan budaya. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut. Mengenai definisi kebudayaan, telah banyak sarjana-sarjana ilmu sosial yang mencoba menerangkan, atau setidaknya telah menyusun definisinya. Seperti yang dilakukan oleh A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dimana mereka menampung 160 macam definisi tentang kebudayaan yang kemudian dianalisis dan diklasifikasikan dalam berbagai golongan. Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sitematis dan ilmiah E.B. Taylor, dalam bukunya yang terkenal yaitu Primitive Culture, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks. Yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Definisi lain dikemukakan oleh R. Linton dalam buku The Cultural Background of Personality, bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu. C. Kluckhohn dan W.H. Kelly mencoba merumuskan definisi tentang kebudayaan sebagai hasil tanya jawab dengan ahli-ahli antropologi, ahli hukum, ahli psikologi, ahli sejarah, filsafat, dan lain-lain. Rumusan itu berbunyi bahwa: Kebudayaan adalah pola untuk hidup yang tercipta dalam sejarah, yang eksplisit, implisit, rasiona, dan irasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman-pedoman yang potensial bagi tingkah laku mansusia. Di dalam masyarakat ramai sering diartikan sebagai the general body of the arts, yang meliputi seni sastra, seni musik, seni pahat, seni rupa, pengetahuan filsafat, atau bagian-bagian yang indah dari kehidupan manusia. Dalam penggunaan seperti ini pengertian kebudayaan ditempatkan di samping pengertian ekonomi, politik, hukum, sedangkan dalam ilmu social kebudayaan adalah seluruh cara hidup sesuatu masyarakat. Selain definisi-definisi di atas masih banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana-sarjana Indonesia, seperti: a. Sutan Takdir Alisyahbana: Kebudayaan adalah manifestasi dari suatu bangsa. b. Dr. Moh. Hatta: Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa. c. Mangunsarkoro: Kebudayaan adalah segala yang bersifat hasil kerja manusia dalam arti yang seluas-luasnya. 5|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

d. Haji Agus Salim: Kebudayaan merupakan persatuan istilah budi dan daya menjadi makna sejiwa dan tidak dapat dipisah-pisahkan. e. Dawson dalam bukunya Age of The Gods , Kebudayaan adalah cara hidup bersama (Culture is a common way of life). f. Drs. Sidzi Gazalba: Kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia, yang membentuk kesatuan social dalam suatu ruang dan waktu. Sepintas lalu definisi-definisi tersebut kelihatan berbeda namun merujuk pada satu kesamaan yaitu sama-sama mengakui adanya ciptaan manusia. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Hasil buah budi (budidaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi: 1. Kebudayaan material: berwujud kebendaan seperti rumah, gedung, alat-alat senjata, mesin, pakaian, dan sebagainya. 2. Kebudayaan immaterial: berwujud berupa adat istiadat, bahasa, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.

Kebudayaan dan Peradaban

Peradaban berasal dari kata adab yang artinya kesopanan, kehormatan, budi bahasa, etiket, dan sebagainya. Menurut antroplogi De Haan, peradaban diperlawankan dengan kebudayaan. Peradaban adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan ilmu teknik. Sedangkan kebudayaan adalah semua yang berasal dari hasrat dan gairah yang lebih tinggi dan murni yang berada di atas tujuan praktis dalam hubungan masyarakat seperti musik, puisi, agama, dan lain-lain. Jadi, lapisan atas adalah kebudayaan dan lapisan bawah adalah peradaban. Seorang sarjana lain mengatakan bahwa peradaban adalah khazanah pengetahuan dan kecakapan teknis yang meningkat dari angkatan ke angkatan dan sanggup berlanjut terus. Tak ada satu kawanpun yang suka mencari, memperkaya, mewariskan pengetahuan kebudayaan kecuali manusia. Akhirnya sarjana antropologi Beals dan Hoiyer mengatakan bahwa peradaban (civilization) sama dengan kebudayaan (culture), apabila dipandangn dari segi kualitasya; tetapi berbeda dari segi kuanitas, isi, dan kompleks pola-polanya. Hubungan Manusia dengan Masyarakat:

Manusia selalu hidup di dalam masyarakat. Hal ini bukan hanya ketentuan semata-mata, melainkan memounyai arti yang lebih dalam yaitu bahwa hidup bermasyarakat itu adalah rukun bagi manusia agar benar-benar dapat mengembangkan budayanya dan mencapai kebudayaannya. Tanpa masyarakat kehidupan manusia tiak dapat menunjukkan sifat-sifat kemanusiaannya. 6|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

Hubungan Manusia dengan Kebudayaan:

Dipandang dari sudut antropologi, manusia dapat ditinjau dari 2 segi yaitu: 1. Manusia sebagai makhluk biologi 2. Manusia sebagai makhluk sosio-budaya Terdapat suatu konsepsi tentang kebudayaan manusia yang menganalsis masalah-masalah hidup sosial-kebudayaan manusia. Konsepsi tersebut ternyata memberi gambaran kepada kita bahwa hanya manusialah yang mamou berkebudayaan sedagkan hewan tidak memiliki kemampuan tersebut. Hal ini dikarenakan manusia dapat belajar dan dapat memahami bahasa, yang semuanya bersumber pada akal manusia. Hubungan Masyarakat dengan Kebudayaan:

Dalam masyarakat manusia selalu memperoleh kecakapan, pengetahuan-pengetahuan baru, sehingga penimbunan itu dalam keadaan yang sehat dan selalu bertambah isinya. Diibaratkan manusia adalah sumber kebudayaan, dan masyarakat adalah danau besar dimana air dari sumber-sumber itu mengalir dan tertimbun. Kebudayaan tak mungkin timbul tanpa adanya masyarakat, dan eksistensi masyarakat itu hanya dapat dimungkinkan oleh adanya kebudayaan. Hubungan manusia, masyarakat, dan kebudayaan

Manusia, masyarakat, dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat lagi dipisahkan dalam artinya yang utuh. Karena ketiga unsur inilah kehidupan makhluk sosial berlangsung. Seorang manusia yang tidak pernah mengalami hidup bermasyarakat, tidak dapat menunaikan bakat-bakat manusianya yaitu mencapai kebudayaan. Dengan kata lain dimana oran g hidup bermasayrakat, pasti akan timbul kebudayaan. Setiap kebudayaan adalah sebagai jalajnatau arah di daam bertindak dan berpikir, sehbungan dengan pengalaman-penglaman yang fundamental, dari sebab itulah kebudayaan itu tidak dapat dilepaskan dengan individu dan masyarakat. Dan akhirnya dimana mausia hidup bermasyarakat disanalah kebudayaan, dan semuanya menjadi benda penyelidikan sosisologi.

7|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

PENUTUP Kesimpulan: Terdapat banyak definisi mengenai masyarakat namun memiliki makna yang sama yaitu sekumpulan manusia atau golongan yang berada pada suatu wilayah dan memiliki hubungan atau interaksi sosial pada waktu permanen atau sementara. Seperti definisi masyarakat, definisi kebudayaan juga sangat banyak namun merujuk pada hal yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia. Masyarakat selalu berkaitan dengan kebudayaan karena tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat dan tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan. Ada banyak referensi untuk mendapat interpretasi mengenai masyarakat dan kebudayaan.

8|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan

DAFTAR PUSTAKA

Shadily, Hasan. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan, 1958. Koentjananingrat. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 1974 Soelaeman, Munandar. Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: PT Refika Aditama, 2001 Prasetya, Joko. MKDU Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1998 Liliweri, Alo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS, 2007 Edgar, Andrew., dan Peter Sedgwick. Cultural Theory: The Key Concepts. New York: Routledge, 2002.

9|Pengertian Masyarakat & Kebudayaan