Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM ANESTESI LOKAL

Kelompok 2 : Andan sari nurbaty ( 2012104103111094) Dini aprilia (2012104103111095) Kartika puspa Dewi (2012104103111097) Rawina Nurmarianita (2012104103111098) Elida rizki mujihardianti (2012104103111100) Yudha Sasmita Rachman (2012104103111102) Syamsul hadi (2012104103111080) Muhammad Riduan (2012104103111)

ANESTESI LOKAL
Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf
bila dikenakan secara local pada jaringan saraf dengan kadar cukup.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kimiawi Absorbsi Distribusi Metabolisme dan Ekskresi Mekanisme Kerja Perbedaan Sensitivitas Serat Saraf Komplikasi

Absorbsi sistemik suntikan anastesi lokal dari tempat suntikan


dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

1.dosis 2.tempat suntikan 3.ikatan obat-jaringan 4.adanya bahan vasokonstriktor 5.sifat fisikokimia obat

Kecepatan metabolisme senyawa amida didalam hati ini bervariasi bagi setiap individu, perkiraan urutannya adalah prilokain (tercepat) > etidokkain > lidokain > mepivakain > bupivakain (terlambat) Akibatnya, toksisitas dari anestesi lokal tipe amida ini akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi hati. Penurunan pembersihan anestesi lokal oleh hati ini harus diantisipasi dengan menurunkan aliran darah ke hati. Sebagai contoh, pembersihan lidokain oleh hati pada binatang yang dianestesi dengan halotan lebih lambat dari pengukuran binatang yang diberi nitrogen oksida dan kurare. Penurunan pembersihan ini berhubungan dengan penurunan aliran darah ke dalam hati dan penekanan mikrosom hati karena halotan

Kerja anestesi lokal juga dipengaruhi : pka : Obat anestesi lokal yang mempunyai pka mendekati PH fisiologis mis: 7,4 akan mempunyai konsentrasi basa nonionisasi yang tinggi dan akan mudah menembus membran sel syaraf sehingga onset of action akan lebih cepat. Lipid Solubility : Kemampuan obat anastesi lokal untuk menembus lingkungan hydrophobic sehingga makin mudah larut dalam lemak, maka duration of action semakin panjang. Protein Binding : Obat anastesi lokal yang berikatan dengan plasma protein (1-acid glycoprotein), maka duration of action obat anastesi lokal menjadi lebih panjang. Oleh karena itu sangat hati-hati pada pasien dengan plasma protein yang rendah, dan obat akan bebas dalam sirkulasi darah sehingga akan timbul efek toksik pada pasien. (Rusda, 2004)

Komplikasi
Menurut De Jong respons yang tidak enak / tidak dapat dikendalikan dari anastesi lokal sering disebut reaksi yang dibagi terpisah dalam 2 kategori, yaitu reaksi sistemik dan reaksi lokal.
Reaksi sistemik terjadi jika obat menyebar dalam darah dan memungkinkannya mencapai organ-organ yang jauh.

Reaksi lokal berupa nyeri pada penyuntikan, rasa terbakar, anastesia persisten, infeksi, edema, toksisitas lokal.

Refleks Kornea
Refleks kornea atau refleks kedip adalah gerak involunter berupa kedipan dari kelopak mata yang disebabkan oleh stimulasi (seperti sentuhan atau benda asing) di permukaan kornea

Refleks ini bertujuan untuk melindungi mata dari benda asing dan cahaya yang terlalu terang.
Selain itu refleks kedip juga terjadi jika ada bunyi yang lebih besar dari 40-60dB

Refleks ini melibatkan : 1. Cabang nasosiliaris dari cabang optalmicus nervus V yang menerima rangsang dari kornea. 2. Nervus VII yang menginisiasi respon motor

Pemeriksaan refleks kornea merupakan bagian dari tes neurologis yang biasa dilakukan pada pemeriksaan pasien koma.