Anda di halaman 1dari 17

Kolik Lambung (Distensi lambung)

Berlangsung secara akut, terjadi sebagai akibat meningkatnya volume lambung yang berlebihan. Ditandai dengan ketidak tenangan, anoreksia total, rasa sakit yang terjadi mendadak atau sedikit-demi sedikit dan muntah. Dalam keadaan lanjut, gejala kelesuhan dan shock terlihat lebih dominan.

Etiologi
Jarang dijumpai dan biasanya berlangsung secara akut, timbul setelah pengambilan pakan yang berupa biji-bijian, atau air minum dalam jumlah yang berlebihan. Terjadi karena hewan diberi pakan yang sulit dicernakan secara berlebihan dan kurang diberi air minum. Kemungkinan terjadinya kolik diperbesar setelah hewan kenyang dan langsung dipekerjakan lagi.

Patogenesis
Timbunan ingesta dalam lambung, karena kualitas ataupun macamnya bahan pakan merangsang bertambahnya sekresi air liur dan kelenjar lambung. Distensi yang berlebihan merangsang reflex muntah yang akan keluar melalui lubang hidung atau mulut. Muntah terjadi karena hebatnya rangsangan. Eksresi keringat berlebihan, tertariknya cairan kedalam lambung (oleh kenaikan tekanan osmosis), hilangnya cairan yang dimuntahkan, serta tidak adanya penyerapan air dalam usus menyebabkan dehidrasi. Distensi yang berlebihan menyebabkan luka pada selaput lendir lambung (ulcus pepsicum) yang lebih lanjut lagi dan menyebabkan rupturnya dinding lambung hingga kematian mendadak.

Gejala Klinis
Pada keadaan akut proses berlangsung cepat dalam 2-3 hari, sedang pada proses yang terjadi karena obstruksi distensi lambung terjadi secara perlahan. Kesakitan berlangsung akut menyebabkan penderita berguling-guling, menyepaknyepak perutnya, duduk seperti anjing, berkeringat profus, yang dalam waktu singkat akan menghabiskan tenaganya. Kematian terjadi karena shock. Muntah mungkin tidak sempat terjadi, atau bila terjadi akan dilewatkan melalui lubang hidung dengan cara disentakan. Peredaran darah perifer akan mengalami bendungan, vasa injeksi, dan pulsus yang lemah mempunyai frekuensi yang tinggi. Apabila sonde kerongkongan dimasukkan, kecuali pada lambung yang berisi ingesta padat, yang keluar adalah ingesta cair yang berbau busuk. Pada proses berlangsung kronik, distensi lambung menyebabkan kurangnya nafsu makan, perasaan sakit perut yang berlangsung berulang-ulang. Tinja yang di keluarkan berjumlah sedikit dan berbentuk seperti pasta. Dalam waktu beberapa minggu penderita menjadi kurus.

Pemeriksaan patologi-klinis
Dari pemeriksaan Ph bahan yang dimuntahkan dapat diketahui asal bahan tersebut. Bila bersifat asam bahan tersebut berasal dari lambung.

Pemeriksaan patologi-anatomis
Pada seksi ditemukan distensi lambung dengan isi yang liat serta berbau busuk. Pada keadaan akut terlihat perdarahan submukosa lambung, dan mungkin perdarahan terbuka yang terjadi karena kuatnya regangan dari jaringan lamubung. Pada robeknya lambung dijumpai perdarahan dengan isi lambung yang terhambur bercampur darah di dalam rongga peritoneal.

Diagnosis
Diagnosis kolik ditentukan jelas dengan melihat gejala klinis dan dihubung dengan anamnesis. Adanya kemungkinan muntah berasal dari gastritis, atau enteritis secara kualitatif tidak akan seberat dibandingkan muntah yang disebabkan oleh distensi lambung.

Terapi
distensi dikurangi dengan gastric lavage, menggunakan sonde kerongkongan ukuran besar. Lambung diisi dengan 5-10 l faali dan kemudian dikeluarkan dengan pompa atau dengan jalan disifon dengan menggunakan dua sonde kerongkongan. Pemberian minyak mineral (paraffinum liquidum) yang disusul dengan obat parasimpatomimetik. Bahaya pemberian obat yang terakhir adalah makin menghebatnya kontraksi lambung. Cara operasi tidak menjamin karena sulitnya pengawasan dan pengelolaan pasca operasi.

Kolik Trombo-Emboli (Arteritis mesenterica verminosa, Aneurisma verminosa)

Etiologi
Disebabkan oleh cacing Strongylus vulgaris yang menyebabkan gangguan aliran darah ke dalam segmen usus. Infeksi berat pada kuda umumnya tanpa disertai gejala klinis. Paling sering menyerang anak kuda umur 6 bulan keatas.

Pathogenesa
Larva cacing menembus dinding usus dan berada di rongga peritoneal, sampai ke cabang arteri usus, a. mesentrika kranialis. Diding usus rusak, penyempitan/sumbatan pembuluh darah rumen.

Aliran darah ke segmen usus berkurang, depresi syaraf

atoni

Tekanan pada ganglion simpatis kolik spasmodic yang rekuren Kerusakan pembuluh darah terbentuknya jaringan ikat bentu jendolan (aneurisma). Infeksi sekunder (Str. equi, Actinobacillus equuli, atau Salmonella sp.) kolik rekuren disertai demam. Apabila pada aneurisma juga terjadi abses, dan abses tersebut pada suatu saat pecah maka akan terjadi peritonitis difus, yang selanjutnya oleh karena terjadinya sepsis dapat membawa kematian penderita

Gejala Klinis
Kolik spasmodic ringan secara berulang hingga beberapa bulan karena rangsangan ganglion simpatis meninggkat. Kolik konstipasi akibat kematian syaraf Bila terjadi kolik konstipasi, penderita mengalami depresi, peristaltic usus menurun hingga menghilang. Infeksi sekunder ; demam, rasa sakit meningkat, peningkatan frekuensi kolik Kematian penderita karena robeknya dinding usus, peritonitis atau karena toksemia.

Pemeriksaan patologi-anatomis
Pemeriksaan post-mortem terlihat adanya aneurismata disepanjang arteri usus besar. Oleh terhambatnya pengaliran darah dalam vena, perdarahan sub mukosa juga ditemukan dan berbentuk sebagai ptechiae ecchymosae. Larva dapat ditemukan dalam lumen dan dinding arteri yang membesar. Blockade saluran darah, kematian jaringan dan gangguan pada segmen usus karena thrombus dan embolus

Pemeriksaan patologi-klinis
Pada pemeriksaan tinja akan ditemukan banyak telur cacing. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan eosinophilia.

Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnesa Riwayat timbulnya kolik yang bersifat rekuren di dalam suatu peternakan dapat membantu dalam penentuan diagnosis. Pemeriksaan rektal dapat menentukan ada tidaknya aneurisma pada bagian-bagian yang dapat diraba. laparotomy percobaan

Terapi dan pencegahan


Penderita yang memiliki aneurismata dalam jumlah yang banyak, pengobatan tidak akan bermanfaat. Pencegahan dilakukan dengan pemberian obat cacing yang sesuai seperti Thiabendazole, Mebendazole, Dichlorfos dan Phenothiazine. Pengobatan terhadap hewan yang menderita cacingan juga dapat berguna untuk mencegah terjadinya kolik trombo-emboli.