Anda di halaman 1dari 11

Tugas Resensi Buku

8 ETOS KEGURUAN (Jansen Sinamo)


Tugas resensi ini diserahkan sebagai salah satu syarat penilaian pada Mata Kuliah Kode Etik dan Profesionalisme Guru PAK

Dosen : Susanah, S.Pd., M.A

Mahasiswa: Yanet Kristin Muna NIM : 12 09 015

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI BALA KESELAMATAN PALU FEBRUARI 2014 PENDAHULUAN

Ketika kita melihat keadan di sekeliling kita, kita dapat menemukan berbagai macam permasalahan-permasalahan yang ada, baik itu di bidang sosial, ekonomi, politik, agama dan bidang-bidang lainnya. Tentunya kita menyadari dalam setiap keadaan kehidupan yang kita jalani di dunia ini memiliki sebab-akibat. Sehingga dibutuhkanlah suatu solusi yang dapat membimbing kita dalam setiap permasalahan sebab-akibat tersebut. Menurut penulis buku ini yaitu JANSEN SINAMO yang dijuluki Guru Etos Indonesia permasalahan-permasalahan yang muncul di berbagai bidang kehidupan khususnya di Indonesia disebabkan oleh suatu permasalahan yang dianggap remeh oleh banyak orang, yaitu keguruan. Mengapa keguruan?. Dalam pendapatnya ia mengemukakan bahwa keguruan di Indonesia masih terbilang berada di urutan bawah dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya yang ada di dunia. JANSEN SINAMO sangat prihatin tentang masalah keguruan yang ada di Indonesia dan bertekad ingin mengubah cara pandang kita (secara khusus bagi para guru/calon guru) bahwa keguruan adalah masalah yang serius. Guruyang berasal dari bahasa sansekerta, gu yang berarti gelap dan ru yang berarti terang. Sehingga guru adalah seseorang yang dirahmati untuk membawa, membimbing muridnya dari ketidak tahuan menjadi tahu. Guru memiliki peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Karena dialah yang diberikan rahmat, amanah, panggilan, aktualisasi, ibadah, seni, kehormatan dan pelayanan sebagai hak dan kewajibannya. Jadi guru bukanlah sekedar profesi formal dalam pendidikan dan pengajaran, namun lebih dari pada itu kedua-duanya merupakan tugas yang mulia untuk membentuk akhlak manusia yang penuh budi pekerti, berwawasan, berpengalaman, dan berkarya bagi bangsa dan negara. Itulah sebabnya jika permasalahan dalam keguruan bisa diatasi maka masalah-masalah lain yang timbul di berbagai bidang kehidupan juga dapat diatasi dengan tepat dan akan lebih mudah untuk diselesaikan. Apa sebenarnya yang menjadi masalah dalam keguruan?

Menurut JANSEN SINAMO ada suatu masalah serius dalam keguruan, yaitu masalah Etos. Apa itu Etos? Etos atau Ethos (Yunani) berarti semangat, mentalitas, dan karakter. Etos ini sudah seharusnya disadari dan diamalkan oleh setiap manusia yang bernama guru. Etos guru yang berkualitas akan menentukan kualitas muridnya juga. Peranan pemerintah dalam hal ini perhatian terhadap dunia pendidikan dapat dikatakan cukup baik di Indonesia. Terlebih menonjol ketika pemerintah menerbitkan UU tentang guru dan dosen pada tahun 2005, pasal 31 UUD 1945 agar 20% APBN dialokasikan untuk pendidikan dan dilaksanakannya program sertifikasi guru.

ETOS 1 KEGURUAN ADALAH RAHMAT Aku Mengajar Dengan Ikhlas Penuh Syukur Sari pati etos I, keguruan adalah rahmat. Rahmat adalah kebaikan yang kita terima tanpa syarat, ia tidak terkait dengan prestasi, kebaikan atau jasa yang kita perbuat. Kisah insipirasi yang dipaparkan sudah cukup jelas menggambarkan keguruan adalah rahmat. Di mana dituliskan tentang seorang dosen yang berasal dari India Chandrasekhar pemegang bulan (sansekerta) dia memiliki dedikasi yang tinggi di dunia pendidikan khususnya dunia fisika. Ia tidak kecewa melihat jumlah siswa pasca sarjana yang mengikuti kuliah Asmofisikanya bahkan ia rela membimbing kedua mahasiswanya untuk belajar tanpa menghitung jarak, waktu dan tenaga yang ia keluarkan. Pada akhirnya sang guru ini benar-benar melihat hasil dari kesetiannya mengerjakan tugasnya. Ia berhasil membuat kedua mahasiswanya meraih nobel fisika, dan menjadikan mereka berguna/bermanfaat bagi orang banyak. Chandrasekhar sendiri telah mendapat rahmat lewat kedua orang tuanya yang bekerja keras. Khususnya sang ibu yang telah mengabdi kepada anank-anaknya dan bercita-cita tinggi buat mereka. Rahmat berupa kasih sayang, perhatian, dukungan, kebaikan, motifasi, inspirasi inilah yang membuatnya menyadari bahwa ia juga harus menjadi buluh bambu bagi murid-muridnya dan memang terbukti rahmat memiliki

makna yang sama dengan anugerah, berkah, dan karunia yang kita terima karena kasih sayang sang pemberi yang ia salurkan melalui orang-orang di sekitar kita. Terdapat dua macam rahmat, yaitu rahmat umum dan khusus. Rahmat umum adalah kebaiakan yang Tuhan berikan bagi setiap manusia (ciptaannya) tanpa terkecuali sehingga setiap orang tidak ada yang memegahkan diri melainkan bersujud syukur kepada-Nya . Rahmat umum bersifat imanen (berada dalam kesadaran/akal budi) dan bersifat interen (melekat) dalam segala aspek kehidupan kita. Rahmat umum antara lain kemampuan untuk: 1. kemampuan hidup dan bersemangat 2. kemampuan berbahasa baik kepada sesama maupun TUHAN 3. kemampuan beriman dan berpengharapan 4. kemampuan berkendak bebas, mengambil, dan menolak pilihan 5. kemampuan mengasihi 6. kemampuan berhati nurani 7. kemampuan berimajinasi penuh kreasi 8. kemampuan berkesenian 9. kemampuan berfikir kreatif-inovatif 10. kemampuan berfikir perseptual-konseptual 11. kemampuan bernalar-rasional

Rahmat khusus yaitu kebaikan yang hanya diberikan kepada kita saja yang tidak kepada orang lain. Keguruan adalah rahmat khusus karena tidak semua orang mampu dan layak menjadi guru. Keguruan merupakan profesi mulia yang khusus kerana bukan hanya berurusan dengan ahli pengetahuan (kognitif) tetapi juga pembentukan watak (afektif) dan karakter (psikomotor) siswa guna mencerdaskan anak-anak bangsa dan dengan demikian ikut membangun peradaban dunia yang lebih baik. Rahmat khusus dikenal dengan nama-nama sebagai berikut:

1. Serendipitas, yaitu menemukan suatu yang bernilai tanpa mengusahkannya 2. sinkronisitas dan koinsidensi yaitu terjadinya dua peristiwa secara bersamaan tanpa diduga namun saling memenuhi arti istilah klasiknya kebetulan.

3. mukjizat, yaitu rahmat yang palinhg menajubkan tak bisa dijelaskan oleh nalar dan logika. 4. Berkat terselubung yaitu rahmat yang terjadi ketika kita mengalami suatu peristiwa yang tidak menyenangkan terlihat merugikan, menjengkelkan namun seiring berjalannya waktu kita akan mengerti mengapa semua itu terjadi, kita merasa menyesal dan malu lalu mensyukuri keadaan yang tidak menyenangkan itu sehingga kita mengatakan tidak semua seperti apa yang klau lihat di sini di ajar untuk tidak kita tidak melihat dengan mata fisik tetapi dengan mata batin, mata nurani, mata iman, dan mata hati untuk melihat tangan-tangan tak kelihatan dibalik peristiwa merugikan seperti penyakit, kerugian, kehilangan, kegagalan, kemalangan, kecelakaan, kekecewaan, bahkan kematian. Keguruan adalah rahmat merupakan kesadaran dan pengakuaan bahwa profesi keguruan adalah anugerah Tuhan dan karena itu harus disyukuri.

ETOS 2 KEGURUAN ADALAH AMANAH Aku Mengajar Dengan Benar Penuh Tanggung Jawab Amanah keguruan yaitu tugas suci berupa tanggung jawab moral dan teknis untuk membebaskan generasi mudah dari tempurung kepicikan, suramnya masa depan tanpa pendidikan. Konsep utama amanah adalah suatu titipan, bisa berupa harta atau pesan penting lainnya, yang dipercayakan seseorang kepada kita. Sebgai penerima amanah, kita terikat secara moral untuk melaksanakan amanah tersebut dengan baik dan benar. Amanah keguruan diterima oleh sekolah dan guru dari orangtua, masyarakat, dan negara untuk membimbing anak didik mereka. Empat sikap dalam mengajar:

Sikap e-ge-pe. Tidak peduli terhadap perkembangan SQ, EQ dan IQ peserta didik. Ia bekerja karena tugasnya sebagai pengajar formal, tak lebi dan tak kurang.

Sikap doykrit, doyan kritik. Berteorinya hebat, berbuatnya nol. Mengajar ala kadarnya, mendidik seenak perutnya, selalu berusaha meloloskan diri dari tanggung jawab.

Sikap es-te-ha, setengah hati. Mula-mula bersemangat, tetapi di tengah jalan disergap kemalasan, ogah-ogahan, lalu mandek tanpa progres. Sikap Bonar. Inilah guru yang penuh tanggung jawab, guru sejati, guru ideal. Tidak pernah berhenti bekerja sampai beres. Guru yang menyadari profesinya sebagai amanah, tidak akan merasa puas jika

proses mengajar dan hasil belajarnya belum memenuhi standar profesional, berkomitmen, punya hati, mau berkeringat, dan tak usai berikhtiar mengajar secara cerdas sehingga memuaskan murid, sekolah, orang tua dan mereka sendiri. Menunaikan tugas amanah tidak boleh sekadar formalitas. Melainkan harus dilaksanakan dengan lengkap: esensinya, semangatnya, maupun teknis dan

administrasinya. Etos amanah di dalam jiwa melahirkan komitmen untuk bekerja benar, penuh tanggung jawab.

ETOS 3 KEGURUAN ADALAH PANGGILAN Aku Mengajar Tuntas Penuh Integritas Jika mengingkari panggilannya, orang niscaya gagal. Bukan karena dihambat, tetapi mustahil orang mencapai sukses pada bidang yang bukan panggilannya. Orang yang terpanggil menjadi guru sejak semula sudah dianugerahi bakat mengajar, rasa cinta pada pengetahuan, dan rasa sayang pada siswa, khususnya rasa bahagia melihat perkembangan dan pertumbuhan anak didik. Ini adalah modal insaniah untuk menjawab panggilan itu sampai tuntas.

Panggilan dibagi menjadi 2 bentuk, umum dan khusus. Secara Umum adalah panggilan/darma semua orang tanpa terkecuali wajib melakukan kebaikan, membela kebenaran, dan menegakkan keadilan dalam segala perkara. Secara Khusus adalah terpanggil secara partikular melakukan tugas tertentu dan tidak semua orang menerima kepercayaan itu. Istilah panggilan disebut vocation dalam bahasa Inggris yang akar katanya juga berasal dari bahasa Latin vocare yang artinya suara yang memanggil - suara Tuhan melalui profesi. Keterpanggilan biasanya muncul berbentuk kecenderungan hati, dorongan hati, atau kerinduan hati yang kuat. Mulanya dirangsang oleh yang muncul di dalam pikiran kita. Kemudian ada keyakinan yang perlahan berkembang; ke sanalah aku harus pergi; itulah hal yang harus kukerjakan.

ETOS 4 KEGURUAN ADALAH AKTUALISASI Aku Mengajar Dengan Serius Penuh Semangat Kerja keras penuh keseriusan adalah arena aktualisasi diri bagi manusia. Potensi manusia hanya berkembang melalui kerja keras, melalui kerja serius dan intensif penuh semangat, melintasi medan perjuangan. Aktualisasi adalah proses mengubah potensialitas menjadi aktualitas, mengubah kemungkinan menjadi kenyataan. Aktualisasi berhubungan dengan pengembangan diri karena di dalamnya terdapat usaha untuk bekerja serius dan intensif atau bekerja penuh semangat. Aktualisasi diri adalah hal yang mudah dilakukan, tidak menjadi beban bahkan menjadi sangat alami jika pekerjaan bisa kita hayati sebagai profesi yang adalah panggilan hidup.

Namun, kerja keras yang dilakukan haruslah memiliki suatu arah, target, visi dan tujuan yang jelas, agar setiap energi yang dikeluarkan tidak terbuang sia-sia. Cara memperkuat etos kerja, antara lain: Mengembangkan visi besar sebagai sumber motivasi untuk bekerja keras. Melihat kerja keras sebagai ongkos mengembangkan benih pengembangan diri. Menyadari bahwa bekerja keras itu baik karena menyehatkan dan menguatkan tubuh secara fisik, mental dan spiritual. Mengembangkan falsafah hidup yang positif, baik bersumber dari buku-buku inspiratif, media sosial, pertemanan, sebagai inspirasi dan motivasi.

ETOS 5 KEGURUAN ADALAH IBADAH Aku Mengajar Dengan Cinta Penuh Dedikasi Hidup keagamaan tidak terpisahkan dari kehidupan kerja, ibadah itu menyatu dengan kehidupan profesional kita. Sehingga, dalam profesi keguruan yang dipandang sebagai ibadah, berarti kita harus senantiasa menghayati kehadiran Tuhan di tempat kikta bekerja. Dengan demikian, maka setiap orang akan menyajikan yang terbaik dengan segenap cinta, segenap pengabdian. Esensi mendasar dalam etos ini adalah: kita bekerja dengan cinta, penuh dedikasi dan suka cita untuk Tuhan dan sesama. Dalam setiap hal atau apapun yang kita kerjakan, seyogiayanya harus dalam rangka memenuhi tujuan-tujuan ilahi. Pekerjaan tidak lagi dipandang sekadar derdimensi profesional-sosial-finansial, melainkan melampaui semua itu, yaitu dimensi transenden. Kerja yang dihayati sebagai ibadah, sebagai bakti, sebagai pengdabdian, kita tunjukan dengan cara: Membuktikan diri/eksistensi

Membagikan pengetahuan Memberikan waktu Memberikan sepenuh hati kepada murid-murid kita. Sebagai bonusnya, kita hidup dengan gembira dan bahagia yang tak dapat dinilai, dihargai dan didapatkan dengan uang.

ETOS 6 KEGURUAN ADALAH SENI Aku Mengajar Dengan Cerdas Penuh Kreativitas Seni berhubungan dengan kreativitas. Kreativitas adalah suatu solusi yang tak lazim, namun efektif dan sangat hemat: cerdas, orisinil, dan sangat mudah; jitu dan luar biasa. Mengajar sebagai seni adalah sebuah kompetensi mengajar dengan mutu tinggi baik dilihat dari segi esensinya, tekniknya, maupun prosesnya. Guru yang tidak memiliki seni membuat kegiatan belajar menajdi tidak bergairah, monoton, kering, tanpa daya tarik. Sumber-sumber gairah mengajar, yaitu: Dari hasil mengajar itu sendiri Keguruan menyediakan status sosial Keguruan menyediakan identitas psikis Mengajar menyediakan aktivitas yang teratur dan terstruktur Menyediakan tantangan yang membuat guru berulang-ulang menikmati keberhasilan Menyediakan aktivitas kreatif, artistik dan estetik

Kegairahan dan seni tidak dapat dipisahkan. Sebab orang yang memiliki seni harusnya orang yang memiliki gairah. Untuk menikmati keguruan sebagai seni, maka hal yang

pertama yang perlu diubah adalah persepsi negatif mengenai profesi ini. Pandangan/persepsi negati tersebut adalah: Menganggap kerja sebagai beban dan libur sebagai kesukaan Tidak melihat keindahan apapun dari profesi ini Referensi yang salah tentang profesi ini. Menganggap profesi ini kalah martabat dibandingkan dengan profesi yang lain.

ETOS 7 & 8 KEGURUAN ADALAH KEHORMATAN & KEGURUAN ADALAH PELAYANAN Aku Mengajar Dengan Tekun Penuh Kesungguhan Dalam etos keguruan adalah kehormatan, kita harus menghindari sifat kompromi dalam bidang mutu: mutu etika, mutu etos kerja, mutu kompetensi, mutu komitmen, dan secara khusus kinerja Citra diri (self image) dan hormat diri (self respect) keguruan perlu dipulihkan agar setiap guru kembali memiliki nilai-nilai malu, antara lain: Malu terlambat Malu korupsi Malu menyogok Malu disogok Malu menjiplak Malu mengemis Malu menerima sesuatu yang bukan haknya Selanjutnya sesudah menyingkirkan rasa malu tersebut kita harus membangun kembali kehormatan profesi keguruan, antara lain: Bangga berprestasi Bangga tepat waktu Bangga kerja keras

Bangga berdisiplin Bangga berintegritas Bangga bersahaja Bangga berkualitas Kita harus mengamali doktrin ini, keguruan adalah kehormatan. Oleh karena itu

kita wajib menjaga kehormatan itu dengan menampilkan etika kerja, cara kerja dan kinerja mengajar yang unggul Aku Mengajar Sebaik-baiknya Penuh Kerendahan Hati Jansen Sinamo dalam Etos ke-8, keguruan adalah pelayanan merupakan rangkuman dari keseluruhan etos yang dipaparkan sebelumnya. Dalam prosesnya sendiri guru berkembang menjadi manusia yang lebih mulia, yaitu bahwa dirinya terbentuk karakter melayani dengan rendah hati menuju kesempurnaan akhlak insani. Pada dasarnya semua profesi memiliki esensi yang sama jika benar-benar dihayati, yaitu untuk melayani. Jadi, keguruan harus melampaui makna sederhananya yakni mengajar untuk sekedar mencari nafkah, gaji, honor, uang dan jabatan. Di tengah dunia yang semakin mengedepankan teknologi informasi dan komunikasi dan serba instan, setiap orang harus memegang idealisme dirinya dalam melayani, menjauhkan diri dari sifat dan sikap materialisme dan hedonisme yang egoistik. Semuanya memang tidak bisa dihindari akan tetapi dihadapi dengan hati yang teguh dengan pegangan, pengamalan, kesadaran penuh akan ke-8 etos keguruan yang telah secara luas dan dalam telah dipaprkan oleh Jansen Sinamo dalam bukunya yang sangat bermanfaat ini. Akhir kata, saya sangat senang meresensi buku ini. Semoga semua yang telah diberikan dapat menjadi bekal ketika terjun ke dalam dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Agama Kristen di mana Tuhan berkenan saya untuk melayani sebagai guru.

Soli Deo Gloria