Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA KEHALALAN OBAT, MAKANAN, DAN KOSMETIK

PENETAPAN NATRIUM BENZOAT

Kelompok 4-B: Elsa Elfrida Karimah Yulianti A. Laila Novilia M. Syaima M. Saiful Amin Tiara Aprilia Sonia Ulfah 1111102000032 1111102000033 1111102000050 1111102000056 1111102000043 1111102000044 1111102000116

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Keberadaan bahan pengawet pada bahan makanan tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Pengawet merupakan bahan yang ditambahkan untuk mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan atau pembusukan minuman atau makanan. Dengan penambahan pengawet tersebut, produk minuman diharapkan dapat terpelihara kesegarannya. Namun, produsen hendaknya tidak menambahkan bahan pengawet sesuka hati karena bahan pengawet akan jadi berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan. Bahan pengawet benzoat banyak digunakan sebagai pengawet salah satunya digunakan pada minuman soft drink. Meski kandungan bahan pengawet tersebut umumnya tidak terlalu besar, akan tetapi jika dikonsumsi secara terus-menerus tentu akan berakumulasi dan menimbulkan efek terhadap kesehatan. Dampak lain dari bahan pengawet minuman adalah kanker, dikonsumsi secara berlebihan dapat timbul efek samping berupa edema (bengkak) yang dapat terjadi karena retensi atau tertahannya cairan di dalam tubuh. Bisa juga naiknya tekanan darah sebagai akibat bertambahnya volume plasma lantaran pengikatan air oleh natrium (Fadliwdt, 2007). Maka diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap pengawet benzoat pada minuman jenis soft drink. 1.2 Tujuan Menghitung kadar zat pengawet Na-Benzoat yang terdapat pada suatu bahan pangan.

BAB II LANDASAN TEORI Menurut FDA, bahan tambahan pangan (BTP) adalah zat yang secara sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk menghasilkan sifat fungsional tertentu pada makanan baik secara langsung atau tidak langsung dan menjadi bagian dari makanan tersebut (termasuk zat yang digunakan selama produksi, pengemasan, pengolahan, transportasi, penyimpanan). Kegunaan BTP adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi, nilai sensori, dan umur simpan makanan (Belitz dan Grosch 1999). BTP tidak boleh digunakan bila bertujuan untuk menyembunyikan kerusakan atau kebusukan makanan atau untuk menipu konsumen (Fennema 1996). Salah satu golongan BTP adalah bahan pengawet. Sejak dahulu, bahan kimia telah ditambahkan untuk mengawetkan pangan segar. Beberapa bahan pengawet kimia seperti gula, garam, nitrit, dan sulfit telah digunakan selama bertahun-tahun. Salah satu alasan meningkatnya penggunaan bahan pengawet kimia adalah perubahan dalam cara produksi dan pemasaran makanan. Sekarang ini, konsumen mengharapkan makanan yang selalu tersedia, bebas dari mikroba patogen, dan memiliki umur simpan yang panjang. Walaupun telah dikembangkan sistem pengolahan dan pengemasan untuk mengawetkan makanan tanpa bahan kimia, namun bahan pengawet tetap memiliki peranan yang penting dalam melindungi suplai makanan. Hal ini disebabkan perubahan pemasaran makanan menjadi sistem yang lebih global sehingga makanan jarang dipasarkan secara lokal seperti zaman dahulu. Makanan yang diproduksi di satu wilayah, dikirim ke wilayah lain untuk diolah maupun untuk didistribusikan. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dari sejak makanan diproduksi hingga dikonsumsi. Untuk mencapai kebutuhan umur simpan yang panjang, beberapa cara pengawetan sering diperlukan.U.S. Food and Drug Administration (FDA; 21CFR 101.22(a)(5)) mendefinisikan bahan pengawet kimia sebagai any chemical that, when added to food, tends to prevent or retard deterioration thereof, but does not include common salt, sugars, vinegars, spices, or oils extracted from spices, substances added to food by direct exposure thereof to wood smoke, or chemicals applied for their insecticidal or herbicidal properties. Bahan pengawet digunakan untuk mencegah atau memperlambat kerusakan baik kerusakan kimia maupun kerusakan

biologis. Bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kerusakan kimia di antaranya antioksidan, untuk mencegah autoksidasi pigmen, flavor, lipid, dan vitamin; antibrowning, untuk mencegah pencoklatan enzimatik dan nonenzimatik; dan antistaling untuk mencegah perubahan tekstur. Bahan pengawet yang digunakan untuk mencegah kerusakan biologis disebut dengan antimicrobial agents (Davidson dan Branen 2005). FDA mendefinisikan antimicrobial agents (21CFR 170.3(o)(2)) sebagai substances used to preserve food by preventing growth of microorganism and subsequent spoilage, including fungistats, mold, and rope inhibitors. Fungsi utama bahan antimikroba adalah untuk memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitas makanan melalui penghambatan mikroba pembusuk (Davidson dan Branen 2005). Mekanisme penghambatan bahan antimikroba pada umumnya adalah reaksi dengan membran sel mikroba yang menyebabkan perubahan permeabilitas atau gangguan pada pengambilan dan transpor, inaktivasi enzim-enzim yang penting, gangguan pada mekanisme genetik, atau penghambatan sintesis protein (Davidson dan Branen 2005). Bahan antimikroba juga telah banyak digunakan untuk penghambatan atau inaktivasi mikroorganisme patogen di dalam makanan. Beberapa bahan antimikroba telah digunakan untuk mengontrol pertumbuhan patogen tertentu. Misalnya, nitrit dapat menghambat Clostridium botulinum pada cured meats; asam organik bertindak sebagai sanitizer terhadap patogen pada karkas sapi; nisin dan lysozyme menghambat Clostridium botulinum dalam keju pasteurisasi; laktat dan diacetate dapat menginaktivasi Listeria monocytogenes dalam daging olahan (Davidson dan Branen 2005). Menurut Winarno (1992), bahan pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik dalam bentuk asam atau garamnya. Bahan pengawet organik lebih banyak dipakai daripada bahan pengawet anorganik karena bahan pengawet organik lebih mudah dibuat. Bahan pengawet organik yang sering dipakai yaitu asam sorbat, asam propionat, asam benzoat, asam asetat, dan epoksida. Sementara bahan pengawet anorganik yang masih sering dipakai adalah sulfit, nitrit, dan nitrat. Dalam memilih bahan antimikroba, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan (Branen 1983). Pertama, spektrum bahan antimikroba dari komponen yang digunakan. Hal ini bertujuan agar penggunaan bahan antimikroba sesuai dengan target mikroba yang dituju. Bahan pengawet ini memiliki daya kerja yang berbeda-beda, ada yang khusus menghambat bakteri atau khamir atau kapang. Bahan pengawet yang baik adalah bahan yang memiliki

spektrum antimikroba yang luas sehingga untuk menghambat beberapa jenis mikroba cukup menggunakan satu jenis bahan pengawet. Kedua, sifat fisik dan kimia bahan antimikroba dan produk pangan. Faktor faktor seperti pKa, kelarutan bahan antimikroba dan pH dari makanan akan mempengaruhi efisiensi penggunaan bahan antimikroba. Bahan antimikroba seperti asam-asam organik mempunyai efektivitas hanya pada makanan berasam tinggi dengan pH kurang dari pH 4.5 (Davidson dan Branen 2005)Faktor ketiga adalah kondisi penyimpanan produk dan interaksi produk dengan proses yang lain. Hal ini untuk memastikan bahan antimikroba tetap berfungsi selama penyimpanan produk. Proses pengawetan tertentu akan berpengaruh pada jenis dan kadar bahan antimikroba yang dibutuhkan. Sebagai contoh, penurunan Aw akan menyebabkan tumbuhnya kapang dan khamir, sehingga membutuhkan bahan antimikroba yang berbeda (Davidson dan Branen 2005). Keempat, keadaan mikroba awal bahan pangan sebelum ditambahkan bahan pengawet. Bahan pangan harus memiliki kualitas awal mikrobiologi yang tinggi yang berarti bahwa jumlah mikroba awal pada bahan pangan tersebut berada pada level yang rendah. Oleh karena itu, bahan pengawet dilarang digunakan jika tujuannya untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk makanan. Pertimbangan lain dalam memilih bahan antimikroba adalah keamanan dan legalitas komponen bahan antimikroba. Natrium benzoat berupa bubuk kristalin yang stabil, tidak berbau, berwarna putih dengan rasa menyengat (astringent) yang manis. Natrium benzoat sangat larut dalam air (62.8, 66.0, dan 74.2 gram larut dalam 100 ml air pada 0oC, 20oC, dan 100 oC), higroskopik pada RH di atas 50 %, memiliki pH sekitar 7.5 pada konsentrasi 10 g/liter air, larut dalam etanol, metanol, dan etilen glikol (WHO 2000; Chipley 2005). Karena kelarutan natrium benzoat dalam air jauh lebih besar daripada asam benzoat, maka natrium benzoat lebih banyak digunakan.

Menurut FDA, benzoat hingga konsentrasi 0.1 % digolongkan sebagai generally recognized as safe (GRAS). Di negara-negara selain Amerika Serikat, natrium benzoat digunakan hingga konsentrasi 0.15% dan 0.25%. Batas European Commision untuk asam benzoat dan natrium benzoat adalah 0.015-0.5%. Di Indonesia, penggunaan asam benzoat dan natrium benzoat telah diatur dalam SNI 01-0222-1995 tentang Bahan Tambahan Makanan yang kadarnya berkisar dari 0.06 %-0.1 %. Batas maksimum penggunaan asam benzoat dan natrium benzoat pada berbagai jenis makanan dapat dilihat pada Tabel

Bahan makanan atau minuman yang menggunakan bahan pengawet seperti natrium benzoat, jika dikonsumsi jangka panjang akan menimbulkan penyakit Lupus atau Systemic Lupus Erithematosus (SLE). Dalam beberapa literatur, penetapan kadar kombinasi natrium benzoat dapat ditentukan antara lain dengan metode spektrofotometri UV (AOAC, 1995;SNI, 1992), kromatografi gas (AOAC, 1995) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan menggunakan fase gerak methanol-dapar fosfat (8:92) dengan laju alir 0,3 ml/menit pada panjang gelombang 225 nm (Tekto, 2009) Penentuan kadar natrium benzoat menurut Association of Official Analytical Chemist (AOAC) dilakukan dengan cara Spektrofotometri UV.

Metode analisis mempunyai atribut tertentu seperti ketepatan, ketelitian, spesifisitas, sensitivitas, kemandirian, dan kepraktisan yang harus dipertimbangkan ketika memilih metode yang cocok untuk memecahkan masalah tertentu (Garfield et al. 2000). Pemilihan metode yang tepat sangat penting dalam analisis. Pemilihan sebuah metode sangat tergantung dari tujuan pengukuran. Metode yang dipilih adalah metode yang telah diuji dan divalidasi; metode yang telah direkomendasikan dan diadopsi oleh organisasi internasional; metode yang sederhana, biaya rendah, atau cepat; metode yang banyak diaplikasikan ke banyak substrat atau analit (Garfield et al. 2000). Untuk mendapatkan data yang valid, di samping pengujian dilakukan oleh personel yang kompeten dengan peralatan dan instrumentasi yang telah dikalibrasi, penggunaan metode yang valid juga memegang peranan yang sangat penting (Hadi 2007). Dengan metode yang valid, tingkat akurasi dan presisi data hasil pengujian dapat diketahui. Konsekuensinya, laboratorium harus memvalidasi metode sebelum metode tersebut digunakan. Validasi metode adalah suatu proses untuk mengkonfirmasi bahwa prosedur analisis yang dilakukan untuk pengujian tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Huber 2001). Sedangkan menurut Garfield et al (2000), validasi metode adalah sebuah proses yang penting dari program jaminan mutu hasil uji dimana sifat-sifat dari sebuah metode ditentukan dan dievaluasi secara obyektif. Hasil dari validasi metode dapat digunakan untuk menilai kualitas, tingkat kepercayaan (reliability), dan konsistensi hasil analisis; itu semua menjadi bagian dari praktek analisis yang baik (Huber 2001). Pemilihan parameter validasi tergantung pada beberapa faktor seperti aplikasi, sampel uji, tujuan metode, dan peraturan lokal atau internasional. Parameter-parameter validasi meliputi ketepatan/recovery, ketelitian, spesifisitas, limit deteksi, limit kuantisasi, linearitas, rentang, robustness, dan ruggedness (ICH 1996).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Alat dan Bahan Alat : Bahan : Fanta (minuman ringan) Kloroform NaOH 10% NaCl 30% Aquades HCl (1:3) Alkohol (4:1) NaOH 0,05 N Indikator PP Labu ukur Gelas ukur Erlenmeyer Gelas piala Pipet tetes Corong dan kertas saring whatman no 4 Kertas pH Corong pemisah Buret Hot plate

3.2

Langkah Kerja Dimasukkan 50 mL sampel (Fanta) dan diencerkan sampai 150 mL

Ditambahkan 5 mL NaOH 10% dan 5 mL NaCl 30%, kemudian ditambahkan dengan air sampai volumenya 200 mL dan disaring, kemudian dikocok selama 15 menit

Ditambahkan air suling ke dalam labu takar sampai volumenya 250 mL kemudian disaring dengan kertas saring whatman no.4

Dipipet 50 mL filtrat hasil saringan dalam botol pengocok lalu dinetralkan dengan HCl (1:3) dan dites dengan kertas pH

Ditambahkan 25 mL kloroform dan dikocok perlahan-lahan untuk menghindari terbentuknya emulsi

Dipindahkan ke dalam botol pemisah dan dipisahkan larutannya, kemudian diambil 12,5 mL cairan melalui kran (bagian bawah), dan dimasukkan ke dalam gelas piala, didiamkan beberapa waktu sampai kloroform menguap habis

Dilarutkan residu dengan 5 mL alkohol (4:1), kemudian ditambahkan 5 mL air suling dan dititrasi dengan NaOH 0,05 N sampai pH tepat 0,1 atau merah jambu dengan menggunakan indikator PP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil N NaOH Berat jenis Na Benzoat Berat sampel awal Volume larutan pada persiapan sampel Volume larutan sampel yang diambil Volume hasil titrasi pertama Volume hasil tirasi kedua = 0,05 N = 144 = 50 ml = 250 ml = 12,5 ml = 0,1 mL = 0,1 mL

Perhitungan kadar natrium benzoat (hidrat) dalam minuman Fanta = V.Titer x N NaOH x BJ Na Benzoat x V. Larutan pada persiapan sampel x 106 V. larutan sampel yang diambil x berat awal sampel x 1000 = 0,1 ml x 0,05 N x 144 x 250 ml x 106 12,5 ml x 50 ml x 1000 = 180000000 625000 = 288 ppm (b/b) = 288 mg/kg

Menurut SNI 01-0222-1995, batas penggunaan sodium benzoat untuk produk minuman adalah sebesar 600 ppm. Hal ini menunjukan bahwa sampel minuman yang kami uji yaitu Fanta masih dalam rentang normal dalam penggunaan sodium benzoat.

3.2

Pembahasan Pada praktikum kali ini kami melakukan penetapan kadar natrium benzoat yang

terdapat pada bahan pangan. Natrium benzoat merupakan garam dari senyawa asam benzoat. Senyawa tersebut banyak digunakan sebagai pengawet dalam makanan dan minuman yang dikemas, salah satunya minuman ringan. Sampel yang kami gunakan adalah minuman ringan bermerk Fanta yang didapat dari Mini Market di daerah Kertamukti, Ciputat. Pada label minuman ringan tersebut tercantum komposisi pengawet berupa natrium benzoat. Namun,

tidak tercantum kadar natrium benzoat yang digunaka pada tiap botol minuman ringan tersebut. Analisis penetapan kadar natrium benzoat perlu dilakukan untuk mnegetahui apakah bahan pangan yang beredar memenuhi syarat sesuai peraturan peredaran bahan pangan yang berlaku atau tidak.

Pemakaian asam benzoat relatif menguntungkan karena dapat mempertahankan mutu bahan dengan memberikan daya tahan kualitas produk makanan / minuman lebih lama. Akan tetapi asam benzoat yang berlebih dapat menimbulkan efek atau pengaruh tertentu bagi yang mengkonsumsinya seperti : penyakit kulit dermatitis (penyakit kulit yang ditandai dengan gatal-gatal dan bentol-bentol), asma, artikaria (biduran yang ditandai dengan timbulnya cairan pada lapisan kulit yang dalam yang dapat terjadi pada saluran pernafasan atau pencernaan) dan jika dikonsumsi jangka panjang akan menimbulkan penyakit Lupus atau Systemic Lupus Erithematosus (SLE). Untuk menjamin keamanan dari produk yang beredar penggunaan natrium benzoat pada makanan dan minuman perlu dibatasi. Penggunaannya ke dalam minuman ringan dan dibatasi oleh ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 722/Menkes/Per/IX/88, tentang Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang mencatumkan batas maksimum penggunaan natrium benzoat 600 mg/kg. Menurut prosedur kami menimbang 50 gr sampel, namun karena sampel kami berupa cairan dan dianggap memiliki masa jenis yang sama kami menakar sampel sebanyak 50 ml (b/v=1), lalu kami mengencerkannya sampai 150ml. Selanjutnya kami menambahkan 5ml NaOH 10% dan 5 ml NaCl 30% dengan tujuan menjenuhkan menggunakan NaCl , larutan sampel dari asam benzoat menjadi natrium benzoat yang larut air dengan penambahan NaOH, kemudian dilakukan penambahan air sampai volume 200ml dan disaring memisahkan endapan yang terbentuk dari filtratnya, kemudian di kocok selama 30 menit namun kami hanya melakukan pengocokan selama 15 menit karena tujuan pengocokan adalah menyempurnakan pancampuran dari zat-zat yang ditambahkan dan menurut kelompok kami telah tercampur sempurna. Setelah itu tambahkan air suling ke labu takar sampai volumenya

250ml, jika masih terlihat adanya endapan disaring lagi dengan kertas whatman no 4, namun kelompok kami tidak melakukan penyaringan karena sudah jernih. Lalu filtrat hasil penyaringan diambil 50 ml lalu ditambahkan dengan HCl (1:3) dan si tes dengan kertas pH sampai didapatkan pH netral, perubahan yang terjadi saat kami melakukan proses penetralan adalah pada saat perpindahan pH dari basa ke netral warna larutan kami sedikit mengalami perubahan dari merah menjadi merah muda. Penambahan HCl ini akan mengubah natrium benzoat menjadi asam benzoat yang akan larut dalam air, yang dapat di ekstrak dengan kloroform untuk memisahkan fase nonpolar dengan fase polarnya. Selanjutnya kami memindahkan filtrat yang telah netral ke corong pisah, lalu ditambahkan 25ml kloroform dan dikocok perlahan (agar tidak terbentuk emulsi) tujuan penambahan kloroform adalah untuk mengekstraksi natrium benzoat agar tertarik seluruhnya ke fraksi kloroform. Pada praktikum yang kami lakukan kami hanya melakukan satu kali proses ekstraksi, seharusnya proses ekstraksi dengan tujuan penarikan natrium benzoat

dilakukan berulang agar dapat semua natrium benzoat yang terdapat pada filtrat tsb tertarik seluruhnya. Setelah itu kami mengambil cairan bagian bawah (fraksi kloroform) sebanyak 12,5ml lalu diuapkan kloroformnya sehingga didapatkan residu natrium benzoat. Setelah itu residu dilarutkan dengan 5ml alkohol (4:1), kemudian ditambah 5 ml air suling dan dititrasi dengan NaOH 0,052 N sampai warna berubah merah muda, sebelumnya ditambahkan PP sebagai indikator. Berikut reaksi yang terjadi :

Hasil praktikum kami menunjukan bahwa NaOH yang digunakan hanyalah 0,1ml dalam dua kali pemgulangan. Sehingga di dapat bahwa kadar Natrium benzoat yang berada pada minuman ringan tersebut adalah 288 mg/kg. Kadar tersebut telah memenuhi peraturan pemerintah mengenai pembatasan jumlah Natrium benzoat yang digunakan. Namun pada praktikum yang kami lakukan ada beberapa kelemahan sehingga kadar Natrium benzoat pada minuman ringan tersebut tidak mutlak seperti hasil praktikum kami. Kelemahan-kelemahan tersebut diantaranya: 1. Tidak digunakannya standar Natrium benzoat sehingga tidak ada yang dapat dijadikan sebagai kontrol pembanding. 2. Pada proses pengocokan kami hanya melakukan pengocokan selama 15 menit jika sesuai prosedur seharusnya 30 menit. 3. Penyaringan kami lakukan hanya 1 kali, karena menurut kami larutan sudah jernih jika sesuai prosedur seharusnya 2 kali. 4. Pada proses ekstraksi tidak dilakukan berulang, sehingga kami tidak dapat memastikan apakah Natrium benzoat yang ada telah tertarik seutuhnya atau belum. Kesalahan-kesalahan dalam proses preparasi sampel tentu saja akan mempengaruhi kadar yang didapat. Namun kami tidak dapat membdaningkan hasil praktikum dengan label pada minuman ringan tersebut, karena pada minuman ringan tsb hanya di cantumkan komposisi tanpa mencantumkan kadar natrium benzoat.

Penetapan kadar natrium benzoat menggunakan metode titrasi merupakan metode yang sederhana. Dalam beberapa literatur, penetapan kadar kombinasi natrium benzoat dapat ditentukan antara lain dengan metode spektrofotometri UV (AOAC, 1995;SNI, 1992), kromatografi gas (AOAC, 1995) dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan menggunakan fase gerak methanol-dapar fosfat (8:92) dengan laju alir 0,3 ml/menit pada panjang gelombang 225 nm dan penentuan kadar natrium benzoat menurut Association of Official Analytical Chemist (AOAC) dilakukan dengan cara Spektrofotometri UV.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Hasil analisa kadar natrium benzoat dari sampel kami memenuhi persayaratan peraturan penggunaan bahan tambahan yaitu kadarnya 288 mg/kg dari kadar maksimal yang diperboleh kan adalah 600 mg/kg. Hasil analisa kadar natrium benzoat kami tidak bisa dibandingkan dengan label di kemasan karena pada kemasan minuman ringan tidak dicantumkan kadarnya. Hasil analisa yang kami dapatkan tidaklah mutlak kadar yang sebenarnya berada di dalam minuman ringan tersebut, karena terdapat kesalahan-kesalahan pada prosedur praktikum yang kami lakukan.

DAFTAR PUSTAKA Concise International Chemical Assessment Document 26: Benzoic Acid and Sodium Benzoate. World Health Organization, Geneva 2000. F.G. Winarno. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia. Ryan Bernhadt, 2007. Journal The Generation of Benzene in Soft Drinks: Sodium Benzoate in the Presence of Ascorbic Acid. Sevita, Vivi. 2013. Jurnal Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV Dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik Trenggono, dkk. 1990. Buku dan monogram bahan tambahan pangan (food aditif). Pusat antar universitas pangan dan gizi. Yogyakarta: Ugm Winarno F.G, 1994. Bahan Tambahan Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Penerbit Pustaka Sinar Harapan.

LAMPIRAN

Sampel diambil 50 mL

Diencerkan sampai 150 mL

Ditambah 5 mL NaOH 10%

Ditambah 5 mL NaCl 30%

Ditambah air hingga 200 mL

Disaring

Dikocok

Disaring lagi setelah ditambah air suling hingga 250 mL

50 mL filtrat dinetralkan dengan HCl (1:3)

Ditambah 25 mL kloroform lalu dipisahkan dengan botol pemisah

12,5 ml cairan hasil pemisahan diuapkan dari kloroform. Residu dilarutkan dengan 5 mL alkohol (4:1) & 5 mL air suling

Hasil titrasi (pertama) dengan NaOH 0,05 N

Hasil titrasi kedua