Anda di halaman 1dari 7

PROSES DAPUR TINGGI

Dapur tinggi terbuat dari susunan batu tahan api yang diperkuat dengan tiang-tiang baja.
Dalam dapur tinggi akan terjadi proses reduksi bijih besi menjadi besi kasar (besi mentah).
Selain itu, juga terjadi reaksi-reaksi kimia yang menyertai proses reduksi tersebut. Berikut
adalah gambar dapur tinggi beserta bagian-bagiannya.


Gambar 1. Dapur tinggi
Dapur tinggi tersebut dapat berukuran : 30 m
Garis tengah maksimum : 7 m
Garis tengah puncak : 4,5 m
Garis tengah bawah : 4 m

Dapur tinggi didirikan diatas fondasi yang diperkuat oleh tiang-tiang baja. Bagian dalam dapur
tinggi dilapisi batu tahan api yang mempunyai sifat tahan terhadap suhu tinggi dan dan
merupakan penyekat panas. Pada bagian atas dapur terdapat corot pengisi yang bekerja secara
bergantiansehingga kehilangan gas dapur tinggi dapat dicegah sekecil mungkin. Dapur tinggi ini
dilengkapi dengan alat pemanas udara (pesawat Cowper), alat pemisah debu dan sebagainya.



Gambar 2. Skema Dapur Tinggi
B. Pengisian Bahan
Bahan-bahan yang akan diisikan ke dalam dapur tinggi ialah : bijih besi, kokas, dan batu kapur.
a. Bijih Besi.
Bijih besi didapat dari tambang setelah melalui proses pendahuluan. Bijih besi merupakan
bahan pokok dari dapur tinggi.
b. Batu Kapur.
Batu kapur digunakan untluk mengikat bahan-bahan yang ikut campur dalam cairan besi
untuk menjadikan terak.
c. Bahan Bakar.
Dahan bakar yang diqunakan dalam proses dapur tinggi ialah kokas, arang kayu, juga
antrasit,
d. Udara panas.
Udara panas digunakan untuk mengadakan pembakaran dengan bahan bakar menjadi CO2
dan gas CO guna menimbulkan panas,juga untuk mereduksi bijih-bijih besi. Udara panas
dihembuskan dengan maksud agar pembakaran sempurna, hingga kebutuhan kokas berkurang.
Pemanasan udara dilakukan pada dapur pemanas cowper.
e. Udara panas
Udara panas digunakan untuk mengadakan pembakaran dengan bahan bakar menjadi CO2
dan gas CO guna menimbulkan panas,juga untuk mereduksi bijih-bijih besi. Udara panas
dihembuskan dengan maksud agar pembakaran sempurna, hingga kebutuhan kokas berkurang.
Pemanasan udara dilakukan pada dapur pemanas cowper.
Bahan ini disimpan di dekat dapur tinggi supaya pengisiannya mudah. Bahan-bahan
diangkut ke puncak dapur tinggi dengan alat pengangkut selapis demi selapis. Mula-mula
diisikan bijih besi 3 m
3
, dan seterusnya secara bergantian sehingga pengisian bahan akan
berlangsung secara terus menerus.

C. Proses Dapur Tinggi
Bahan-bahan pengisi dapur tinggi ialah bijih besi, kokas dan batu kapur yang akan mengalami
proses fisika ataupun kimia. Mula-mula bahan tersebut akan mengalami pemanasan
pendahuluan, kemudian disusul oleh reaksi reduksi dan terjadi peleburan besi.


1. Pemanasan pendahuluan
Di dalam dapur tinggi gas-gas hasil pembakaran yang suhunya masih panas akan naik ke atas
sambil memanaskan bahan-bahan yang diisikan. Akibatnya air dan zat-zat yang mudah menguap
yang terdapat dalam bahan-bahan pengisi akan menguap sehingga akhirnya bahan-bahan akan
menjadi cukup kering.
2. Proses reduksi
Dalam daerah reduksi yaitu daerah dapur tinggi dan suhu berkisar 800
o
C 1400
o
C, akan terjadi
serangkaian reaksi-reaksi kimia antara lain reaksi reduksi bijih besi, reaksi pembakaran kokas,
dan peruraian batu kapur.
Karena pengaruh udara maka kokas akan terbakar menurut reaksi sebagai berikut:
C + O
2 ---------------
CO
2


Dalam pembakaran ini akan dihasilkan panas sehingga mampu untuk meleburkan bijih besi dan
juga dapat mempercepat reaksi-reaksi yang lain. Selanjutnya gas CO
2
yang terjadi akan naik ke
atas bersinggungan dengan lapisan kokas diatasnya dan bereaksi menurut reaksi sebagai berikut :
CO
2
+ C ------- 2CO

Gas CO yang terjadi akan mereduksi bijih besi menurut reaksi berikut :

Fe
3
O
4
+ CO ----------- 3FeO + CO
2

Fe
2
O
3
+ CO ---------- 2FeO + CO
2


Kedua reaksi di atas disebut reaksi reduksi tidak langsung.
Pada daerah reduksi juga terjadi peruraian batu kapur dan mungkin juga peruraian MgCO
3

ataupun FeCO
3
yang mungkin terdapat dalam batu kapur tersenut menurut reaksi berikut :

CaCO
3
---------- CaO + CO
2

MgCO
3
---------- MgO + CO
2

FeCO
3 ----------------
FeO + CO
2


Gas CO
2
hasil dari peruraian ini akan bersinggungan dan bereaksi dengan lapisan kokas menurut
reaksi berikut :

CO
2
+ C --------- 2CO

3. Proses Peleburan
Pada daerah hentian suhu mencapai 1400
o
C 1600
o
C. Disini akan terjadi peleburan hasil reduksi
tak langsung dan juga terjadi pembentukan terak . Disamping itu juga akan terjadi reduksi
langsung FeO oleh kokas. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada daerah ini adalah sebagai
berikut :
Reduksi langsung FeO + C ---- Fe + CO
Pembentukan terak CaO + SiO
2
---- CaSiO
3

Kalau bijih besi mengandung Mangan MnO + SiO
2
---- MnSiO
3


Karena berat jenis terak lebih ringan daripada berat jenis besi, maka terak akan mengapung pada
bagian atas.
Besi mentah yang dihasilkan bukan merupakan besi murni tetapi masih mengandung unsure
yang lain seperti karbon (C) yang berasal dari kokas, silisium (Si), mangan (Mn) dan Phospor (P)
yang berasal dari bijih besi.

Input dapur tinggi :
1 biji besi.
2 kokas.
3 batu kapur.
Out put dapur tinggi :
1 Gas Buang (CO2 dan Gas Lainnya).
2 besi kasar.
3 kerak.


Diagram Fe-Fe
3
C

Diagram kesetimbangan fasa Fe-Fe
3
C adalah alat penting untuk memahami
struktur mikro dan sifat-sifat baja karbon, suatu jenis logam paduan besi (Fe) dan
karbon (C). Karbon larut di dalam besi dalam bentuk larutan padat (solidsolution)
hingga 0,05% berat pada temperatur ruang. Baja dengan atom karbon terlarut hingga
jumlah tersebut memiliki alpha ferrite pada temperatur ruang.Pada kadar karbon lebih
dari 0,05% akan terbentuk endapan karbon dalam bentuk hard intermetallic
stoichiometric compound (Fe3C) yang dikenal sebagai cementite atau carbide. Selain
larutan padat alpha-ferrite yang dalam kesetimbangan dapat ditemukan pada
temperatur ruang terdapat fase-fase penting lainnya, yaitu delta-ferrite dan gamma-
austenite.
Logam Fe bersifat polymorphism yaitu memiliki struktur kristal berbeda pada
temperatur berbeda. Pada Fe murni, misalnya, alpha-ferrite akan berubah
menjadi gamma-austenite saat dipanaskan melewati temperature 910
o
C. Pada
temperatur yang lebih tinggi, mendekati 1400
o
C gamma-austenite akan kembali
berubah menjadi delta-ferrite. (Alpha dan Delta) Ferrite dalam hal ini memiliki
struktur kristal BCC sedangkan (Gamma) Austenite memiliki struktur kristal FCC.


Gambar 1 Diagram Kesetimbangan Fe
3
C



1.1 Ferrite
Ferrite adalah fase larutan padat yang memiliki struktur BCC (body centered cubic).
Ferrite dalam keadaan setimbang dapat ditemukan pada temperatur
ruang, yaitu alpha-ferrite atau pada temperatur tinggi, yaitu delta-ferrite.
Secara umum fase ini bersifat lunak (soft), ulet (ductile), dan magnetik
(magnetic) hingga temperatur tertentu, yaitu T
curie
. Kelarutan karbon di dalam fase
ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kelarutan karbon di dalam fase larutan
padat lain di dalam baja, yaitu fase Austenite. Pada temperatur ruang,kelarutan
karbon di dalam alpha-ferrite hanyalah sekitar 0,05%.
Berbagai jenis baja dan besi tuang dibuat dengan mengeksploitasi sifat-sifat
ferrite. Baja lembaran berkadar karbon rendah dengan fase tunggal ferrite
misalnya, banyak diproduksi untuk proses pembentukan logam lembaran.
Dewasa ini bahkan telah dikembangkan baja berkadar karbon ultra rendah untuk
karakteristik mampu bentuk yang lebih baik. Kenaikan kadar karbon secara
umum akan meningkatkan sifat-sifat mekanik ferrite sebagaimana telah dibahas
sebelumnya. Untuk paduan baja dengan fase tunggal ferrite, faktor lain yang
berpengaruh signifikan terhadap sifat-sifat mekanik adalah ukuran butir.

1.2 Austenite
Fase Austenite memiliki struktur atom FCC (Face Centered Cubic). Dalam keadaan
setimbang fase Austenite ditemukan pada temperatur tinggi. Fase ini bersifat non
magnetik dan ulet (ductile) pada temperatur tinggi. Kelarutan atom karbon di
dalam larutan padat Austenite lebih besar jika dibandingkan dengan kelarutan
atom karbon pada fase Ferrite. Secara geometri, dapat dihitung perbandingan
besarnya ruang intertisi di dalam fase Austenite (atau kristal FCC) dan fase Ferrite
(atau kristal BCC). Perbedaan ini dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena
transformasi fase pada saat pendinginan Austenite yang berlangsung secara cepat.
Selain pada temperatur tinggi, Austenite pada sistem Ferrous dapat pula
direkayasa agar stabil pada temperatur ruang. Elemen-elemen seperti angan dan
Nickel misalnya dapat menurunkan laju transformasi dari gamma-ustenite menjadi
alpha-ferrite. Dalam jumlah tertentu elemen-elemen tersebut akan menyebabkan
Austenite stabil pada temperatur ruang. Contoh baja paduan dengan fase
Austenite pada temperatur ruang misalnya adalah Baja Hadfield (12%Mangan) dan
Baja Stainless 18-8 (8%Ni).

1.3 Cementite
Cementite atau carbide dalam sistem paduan berbasis besi adalah
stoichiometric inter-metallic compund Fe
3
C yang keras (hard) dan getas
(brittle). Nama cementite berasal dari kata caementum yang berarti stone chip
atau lempengan batu. Cementite sebenarnya dapat terurai menjadi bentuk
yang lebih stabil yaitu Fe dan C sehingga sering disebut sebagai fase
metastabil. Namun, untuk keperluan praktis, fase ini dapat dianggap sebagai
fase stabil. Cementite sangat penting perannya di dalam membentuk sifat-sifat
mekanik akhir baja. Cementite dapat berada di dalam sistem besi baja dalam
berbagai bentuk seperti: bentuk bola (sphere), bentuk lembaran (berselang
seling dengan alpha-ferrite), atau partikel-partikel carbide kecil. Bentuk,
ukuran, dan distribusi karbon dapat direkayasa melalui siklus pemanasan dan
pendinginan. Jarak rata-rata antar karbida, dikenal sebagai lintasan Ferrite
rata-rata (Ferrite Mean Path), adalah parameter penting yang dapat
menjelaskan variasi sifat-sifat besi baja. Variasi sifat luluh baja diketahui
berbanding lurus dengan logaritmik lintasan ferrite rata-rata.


1.4 Reaksi-reaksi Invarian dan Konstituen Mikro Penting
Secara keseluruhan ada tiga reaksi penting di dalam diagram Kesetimbangan Fase
Fe-Fe
3
C, yaitu: Reaksi Peritectic, Reaksi Eutectic, dan Reaksi Eutectoid sebagaimana
terlihat di dalam diagram kesetimbangan. Untuk sistem Besi Baja, reaksi
Eutectoid adalah reaksi yang sangat penting karena dengan mengontrol Reaksi
Eutectoid kita dapat memperoleh berbagai konstituen mikro atau micro