Anda di halaman 1dari 36

1

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Lalu lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang
lain, oleh karena itu lalu lintas merupakan salah satu hal penting. Apabila lalu
lintas terganggu, maka mobilitas manusia juga akan mengalami gangguan.
Gangguan-gangguan ini akan berdampak negatif bagi kita.
Masalah lalu lintas merupakan suatu masalah pelik yang harus dipecahkan
bersama dan sangat penting untuk segera diselesaikan. Apabila masalah lalu lintas
tidak terpecahkan, maka semua kerugian yang timbul akibat masalah ini akan
ditanggung oleh kita sendiri, dan apabila masalah ini dapat terpecahkan dengan
baik, maka kita sendiri yang akan mendapatkan manfaatnya.
Sebagai salah satu Negara yang sedang berkembang, Indonesia seperti
negara sedang berkembang lainnya mengalami permasalahan-permasalahan lebih
kompleks dibandingkan dengan negara-negara maju, mulai dari pertumbuhan
penduduk yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga kurangnya sarana dan prasarana
yang menunjang pembangunan itu sendiri. Kemacetan atau kongesti adalah salah
satu diantaranya.
Kemacetan lalu lintas merupakan suatu kejadian yang sudah biasa kita lihat,
baik di pagi hari, sore hari maupun di malam hari terutama di kota-kota besar
Indonesia. Masalah ini juga menyebabkan meningkatkannya angka kecelakaan
lalu lintas.
Kemacetan adalah masalah lama yang sampai saat ini belum dapat
ditemukan solusi yang tepat. Untuk itu perlu adanya kerja sama yang baik antara
semua pihak baik dari pemerintah juga pihak lainnya agar masalah ini cepat
terselesaikan dengan sebuah solusi terbaik.
Kali ini penulis akan mencoba memberikan opini penulis mengenai masalah
lalu lintas yang terjadi di Jalan Gejayan atau yang sekarang lebih dikenal dengan
nama Jalan Affandi.

B. TUJUAN
Pembuatan makalah ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya :
a) Memenuhi tugas mata kuliah Sistem Transportasi.
2


b) Melatih penulis untuk bisa menganalisis dampak lalu lintas yang timbul
akibat suatu pekerjaan perbaikan di Jalan Gejayan, adanya badan jalan
yang digunakan untuk lahan parkir, dan kapasitas jalan yang tersedia
dibandingkan dengan jumlah pengguna.
c) Membuat suatu catatan ilmiah yang mungkin bisa sangat bermanfaat bagi
penulis maupun pembaca.
d) Menyalurkan opini-opini warga sekitar tentang permasalahan lalu lintas
yang terjadi di Jalan Gejayan Yogyakarta.
e) Mencoba mencari solusi untuk meminimalisir masalah yang terjadi di
Jalan Gejayan yang mungkin memang sudah sangat sulit untuk
dihilangkan.

C. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang dan tujuan pembuatan makalah ini diatas dapat
diketahui rumusan masalah sebagai berikut :
a) Dimanakah Jalan Gejayan itu?
b) Bagaimana situasi di Jalan Gejayan?
c) Dimana saja titik kemacetan di Jalan Gejayan?
d) Apa penyebab terjadinya kemacetan di Jalan Gejayan?
e) Bagaimana opini masyarakat sekitar tentang kemacetan di Jalan Gejayan
tersebut?
f) Bagaimana solusi untuk meminimalisir masalah tersebut?

D. MANFAAT
Pembuatan makalah ini memiliki beberapa manfaat yang cukup baik,
makalah ini bisa dijadikan sebagai bahan referensi untuk catatan ilmiah yang lebih
baik selanjutnya, sebagai bahan informasi tentang masalah lalu lintas yang ada di
Jalan Gejayan Yogyakarta, sebagai bahan latihan untuk menganalisis dampak lalu
lintas yang terjadi pada suatu daerah bagi penulis, dan mungkin masih banyak
manfaat yang bisa diambil dari pembuatan makalah ini yang tidak terpikirkan oleh
penulis.

3


E. TINJAUAN PUSTAKA
a) Jalan Affandi (ex Gejayan)
Tahun 2007, jalan gejayan berubah nama menjadi jalan Afandi. Berat juga
rasanya meninggalkan nama yang sudah terkenang dan membawa banyak
kenangan. Jalan ini bisa dikatakan sebagai jalan mahasiswa. UGM, UNY, Sadar
(kampus mrican), dan Atmajaya (kampus mrican) berada dekat dengan jalan ini.
Gejayan merupakan jalan dua arah yang relatif lebar dan dibagi dua ruas. Jalan ini
merupakan sentra pedagang handphone. Berpuluh - puluh pedagang handphone
berderet dengan kios yang bervariasi ukurannya. Selain handphone, banyak pula
terdapat butik, kafe, dan berbagai usaha yang berkaitan dengan mahasiswa seperti
toko komputer, fotokopy, dan sebagainya.
Ujung bagian selatan merupakan perempatan dimana bertemu jalan
Laksda Adisucipto, Urip Sumohardjo, dan jalan Munggur. Selain terdapat pasar,
yaitu pasar demangan, bagian selatan jalan ini didominasi oleh pedagang
elektronik.
http://jalanjogja.blogspot.com/2007/07/jalan-affandi-ex-gejayan.html

b) Eksistensi Jalan Gejayan
Eksistensi Jalan Gejayan | Joogja Circles - Setiap warga jogja pasti sudah
familiar dengan Jalan Gejayan. Ya, jalan yang membentang dari simpang empat
Ring Road Utara Condong Catur hingga Daerah Demangan. Sejak tanggal 20 Mei
2007 lalu jalan ini telah berganti nama menjadi Jalan Affandi. Jalan Affandi telah
diremsikan oleh Pemda Sleman bertepatan dengan hari Hari Kebangkitan
Nasional, HUT Kab. Sleman dan Peringatan 100 Tahun Affandi.
Gejayan, setelah berganti nama menjadi jalan Affandi, kini perkembangan
di jalan tersebut kian pesat. Banyak gedung-gedung baru berdiri di jalan ini. Jogja
merupakan kota tujuan oleh para wisatawan. Dan Jalan Gejayan pun telah
menunjukkan perkembangannya untuk memanjakan para wisatawan. Mari kita
ulas pembangunan jalan gejayan dari ujung utara hingga selatan. Peresmian
perubahan Jalan Gejayan menjadi Jalan Affandi oleh Pemda Sleman ditandai
4


dengan simbol berupa patung Affandi yang dibangun di ujung utara. Patung
tersebut merupakan tanda bahwa jalan tersebut adalah Jalan Affandi.
Sejak pergantian nama tersebut, Jalan Gejayan kini mengalami perubahan
drastis. Banyak bangunan baru yang berdiri di sepanjang jalan Gejayan. Tahun
2012 lalu saja telah berdiri beberapa bangunan baru seperti Hotel Edelweis, UNY
Autocar, Bank BCA dan masih banyak lagi. POM Bensin di Jalan Gejayan pun
tak luput dari proses renovasi.Jangan Lewatkan Harga Tiket Pesawat Termurah di
Wego.co.id !! Dan meluncur ke Jogja. Selain bangunan besar, jalan gejayan pun
telah dipenuhi dengan bermacam-macam tempat kuliner seperti Mie Ayam Mas
Yudi, Bebek Goreng Pak Slamet. Dan sepertinya masih ada beberapa bangunan
lagi yang akan berdiri. Selain itu, ada apa saja di gejayan? Ada Toko Buku,
Barang Elektronik, Busana, Bakery dan masih banyak lagi. Jangan dilupakan, ada
pula Pasar Demangan yang merupakan pasar tradisional.
Dilihat dari bentuk jalannya, Jalan Gejayan hanya memiliki dua jalur.
Yang menarik disini, Jalan Gejayan sedikit banyak telah memberikan ruang
terbuka hijau untuk Yogyakarta. Ruang terbuka hijau di Jalan Gejayan nampak
pada pembatas di tengah jalan di membentang dari utara ke selatan. Selain itu, di
ujung utara terdapat taman hijau. Dari hasil pengamatan, jalur hijau tersebut
keberadaannya cukup baik dengan tanaman dan pohon.
Dari perkembangan Jalan Gejayan tersebut, tak luput dari beberapa
masalah yang muncul. Dengan banyaknya bangunan yang berdiri, mobilitas
kendaraan yang berlalu-lalang di jalan tersebut menjadi padat. Jalan Gejayan
sering sekali terjadi kemacetan, khususnya pada jam berangkat dan pulang kantor.
Selain itu ditambah dengan adanya kendaraan yang parkir di memakan badan
jalan menambah kemacetan. Banyak bangunan di jalan gejayan yang tidak
memperhatikan lahan parkir sehingga banyak yang parkir di pinggir jalan. Perlu
diketahui bahwa jalan gejayan hanya memiliki 2 lajur yang masing-masing
lebarnya kira-kira 2 mobil lebih sedikit. Bisa dibayangkan bukan apabila ada
mobil yang parkir di pinggir jalan. Selain kemacetan, yang perlu diperhatikan lagi
adalah masalah sampah visual, di Jalan Gejayan memang banyak sekali terpasang
baliho, reklame, spanduk dan lainnya. Iklan-iklan visual tersebut ada yang
memang sudah mendapatkan ijin, ada pula yang terpasang tanpa ijin. Perlu adanya
5


penataan yang baik agar menambah keindahan jalan gejayan. Setelah mengalami
pergantian nama, sekiranya Jalan Gejayan mampu menunjukkan eksistensinya.
Jalan Affandi, itulah Jalan Gejayan. Jogja Istimewa ! (-Joogja Circles-)

http://joogjacircles.blogspot.com/2013/02/eksistensi-jalan-gejayan.html
c) Akankah Yogyakarta menjadi seperti Jakarta ?
Kemacetan memang sudah hal yang biasa terjadi di kota-kota besar di
Indonesia, tidak hanya di Indonesia saja, mungkin diluar negeri sana masih ada
sebagian negara yang masih sering terjadi kemacetan di jalan-jalan raya. Untuk
luar negeri mungkin sudah jarang terjadi kemacetan karena penataan infrastruktur
kota yang rapi, Indonesia perlu mencontoh kinerja pemerintah lauar negeri dalam
menata kotanya, seperti halnya di Jakarta, kemacetan sudah tidak menjadi sesuatu
yang aneh lagi, karena di Jakarta tiada hari tanpa adanya kemacetan.
Di Yogyakarta atau yang sering kita sebut dengan Jogja atau terkenal dengan
kota pelajarnya merupakan kota yang saat ini sudah lumayan padat dihuni oleh
penduduk, tidak hanya penduduk asli Jogja saja yang berada di Kota jogja tetapi
banyak pendatang dari luar daerah yang sengaja datang untuk melanjutkan
keperguruan tinggi dan untuk bekerja, tidak sedikit yang berbondong-bondong
menyerbu kota ini, bahkan sudah ribuan orang yang datang ke kota pelajar
tersebut.
Kita tahu sekarang sudah banyak orang yang memiliki kendaraan roda dua dan
roda empat, bahkan tiap rumah tidak hanya memiliki motor bahkan lebih, sepeda
motor sekarang sudah bukan barang mewah lagi, bahkan sudah menjadi
kebutuhan sehari-hari, apa lagi untuk membeli sebuah sepeda motor saja sekarang
sudah sangat mudah sekali, dengan uang muka 500 ribu saja kita sudah bisa
membeli sepeda motor dengan cara ansuran atau kredit. Di Jogja pun sekarang
sudah banyak sekali orang menggunakan kendaraan, tidak hanya pekerja kantor
yang menggunakan sepeda motor dan mobil, tetapi banyak juga mahasiswa yang
sudah menggunakan kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari, misal untuk kulyah,
main, bahkan hanya ke warung dengan jarak 100 meter, dan lain-lain.
6


Menurut Putri salah satu mahasiswa UNY mengatakan di Jogja ini banyak
yang memiliki kendaraan dari pada yang tidak memiliki kendaraan seperti sepeda
motor dan mobil, setiap hari jalan-jalan di Jogja dipenuhi dengan kendaraan,
hampir semua aktifitas dilakukan dengan menggunakan kendaraan, pada saat jam
sibuk seperti pagi-pagi dan siang hari menjelang sore jogja selalu dipenuhi oleh
para pengguna jalan, kemacetan sering terjadi di sela-sela jam sibuk, saya sendiri
merasakan sekali kemacetan yang terjadi di kota jogja ini, kemacetan yang terjadi
biasanya karena faktor jalan raya yang sempit, parkir kendaraan yang
menggunakan badan jalan, kendaraan yang tidak mau mengalah satu dengan yang
lainnya, ditambah adanya sopir angkot yang memberhentikan kendaraanya secara
sembarangan dan menurut saya faktor lampu rambu-rambu lalu lintas juga sangat
berpengaruh sekali dengan terjadinya kemacetan di kota Jogja ini, seperti lampu
rambu-rambu lalu lintas yang tidak seimbang antara waktu berhenti atau lampu
merah dan waktu untuk rambu berjalan atau rambu lampu hijau, biasanya waktu
lampu merah dan lampu hijau itu perbedaannya sangat jauh jadi sering sekali
terjadi kemacetan.
Titik kemacetan yang sering terjadi adalah arah J alan Solo(jalan laksda
Adisucipto), pasar Demangan, daerah pertigaan jalan Colombo, dari arah
Gejayan menuju ke ring road utara, dari terminal Condong Catur ke arah ring
road dan sebagainya yang dan ia menuturkan masih banyak titik-titik
kemacetan yang berada di Kota J ogja, untuk pengguna jalan sendiri pasti
banyak yang merasa tidak nyaman dengan adanya kemacetan yang sudah
menjadi hal yang sangat biasa.
Sebenarnya ini adalah PR untuk pemerintah Yogyakarta menata kembali
tata ruang kota agar memberi kenyamanan para pengguna jalan dan lebih merasa
nyaman dalam berkendara, seperti halnya menertibkan parkir-parkir liar yang
berada di pinggiran jalan-jalan raya mungkin dengan membuat lahan khusus
untuk parkir kendaraan, dan untuk para pedagang juga ditertibkan agar tidak
secara liar berjualan dipinggir jalan raya, dengan begitu pasti akan memberikan
rasa nyaman untuk para pengendara, untuk para POLANTAS pun harus rajin
untuk membantu para pengguna jalan ketika berada dijalan raya agar tidak terjadi
7


kemacetan yang sangat panjang. Dan memberikan ruang untuk bebas
kendaraan(car free day) di setiap akhir pekan
http://regional.kompasiana.com/2012/12/30/akankah-yogyakarta-menjadi-seperti-
jakarta--520916.html
d) KEMACETAN LALU LINTAS DI YOGYAKARTA: SELAYANG
PANDANG
Kemacetan Lalu Lintas di Yogyakarta: Dari Masa Ke Masa
Saya masih ingat, ketika tahun 1994, tidak terlalu sulit untuk melintas atau
menyeberang di Jl Kaliurang mulai dari Gedung Pusat sampai dengan perempatan
Ringroad Utara. Di masa itu, satu-satunya titik yang dikenal sukar untuk
menyeberang hanya terdapat di Jl Malioboro. Pada tahun 1997, saya pun masih
ingat ketika betapa mudahnya menyeberang di sejumlah ruas jalan di sepanjang Jl
Babarsari. Masih di tahun yang sama, tidak sulit pula untuk menyeberang di Jalan
Solo, tepat di depan Hotel Ambarukmo. Salah satu titik yang dikenal cukup tinggi
frekuensi kendaraan bermotor, yaitu di sepanjang kawasan Pojok Benteng itu pun
masih relatif mudah untuk menyeberang. Bahkan di sepanjang Jl Godean masih
sangat sedikit sekali kendaraan yang melintas.
Situasi lalu lintas di awal dekade 1990an bisa dikatakan tidak kalah
semerawutnya dengan saat ini di tahun 2012. Bedanya, di masa itu jumlah
pesepeda bisa dikatakan mampu mengimbangi jumlah kendaraan bermotor.
Berbaur menjadi satu antara becak, pesepeda, dokar, sepeda motor (roda dua),
sedan (roda empat), dan angkutan umum. Sekalipun demikian, kesemerawutan di
masa itu masih belum menciptakan situasi kepadatan jalan yang menyebabkan
kemacetan lalu lintas. Sepanjang jalan Malioboro itu pun masih terlihat lancar,
terutama di masa musim liburan.
Indikasi kemacetan lalu lintas di Yogyakarta sesungguhnya sudah mulai
bisa terdeteksi mulai dekade 1990an. Hampir setiap sekolah menegah atas (SLTA)
di Yogyakarta menyediakan lahan parkir khusus siswa yang sudah dipadati oleh
kelompok pengguna kendaraan bermotor. Tidak tanggung-tanggung, bahkan lahan
parkir tersebut semakin diperluas hingga hampir mencapai sepertiga dari luas
8


lahan sekolah. Pada tahun 1997, telah muncul sejumlah laporan yang
menyebutkan tingginya tingkat kepadatan parkir di kawasan kampus di PTN
maupun PTS di Yogyakarta. Kali ini tidak hanya dipadati oleh pengguna
kendaraan bermotor roda dua, melainkan dipadati oleh pengguna kendaraan
bermotor jenis sedan.

Pada awal tahun 2000, tingkat kepadatan lalu lintas meningkat drastis di
sejumlah titik jalan dan jalan raya. Di sepanjang Jl Kaliurang, mulai dari
Balairung hingga perempatan Ringroad Utara sudah semakin padat di sepanjang
hari. Volume kendaraan yang melintas bisa dikatakan nyaris tidak mengalami
perubahan yang berarti mulai pukul 07.00 hingga 21.00. Situasi yang tidak
berbeda ditemukan di sejumlah titik jalan dan jalan raya di Yogyakarta. Titik
kepadatan tertinggi masih berada di Jl Malioboro. Tetapi di sejumlah titik jalan
dan jalan raya lain pun mengalami laju kenaikan tingkat kepadatan lalu lintas
yang cukup cepat. Sekarang ini, bukan hanya J l Malioboro, tetapi di sepanjang
J l Solo sudah terdapat 3 titik kemacetan lalin yang masuk kategori
mengkhawatirkan, seperti di depan Ambarukmo Plaza, mulai dari pertigaan
UI N hingga perempatan J l Demangan, dan sepanjang jalan dari perempatan J l
Demangan hingga perempatan dekat Plaza Galeria. Tingkat kepadatan tinggi itu
pun nampaknya mulai menjadi semakin terhubung dari sepanjang Jl Solo hingga
Jl Mangkubumi.
Apabila berpedoman pada tingkat keparahan kemacetan lalin, Yogyakarta
di tahun 2012 ini bisa dikatakan masuk kategori berisiko kemacetan dengan
tingkat keparahan tinggi. Titik-titik kemacetan menjadi semakin bertambah dan
mulai saling terhubung. Sebelumnya, kemacetan di depan Ambarukmo Plaza
tidak terhubung dengan kemacetan di sepanjang jalan Solo dari perempatan
Demangan sampai perempatan Galeria. Tetapi kini sudah mulai tersambung,
bahkan hingga ke J l Malioboro melalui J l Mangkubumi maupun titik jalan di
depan Gereja Kotabaru. Walalupun belum sampai pada taraf atau kategori
kemacetan parah, tetapi dengan melihat trend tingkat kepadatan lalu lintas, serta
penambahan titik temu di antara titik-titik kemacetan, kemacetan lalin di
Yogyakarta bisa dikatakan mulai memprihatinkan.
9


Tingkat kemacetan tertinggi masih terjadi pada jam tertentu dan hari
tertentu pula. Misalnya, di hari Sabtu mulai pukul 19.00 hingga 22.00, akhir
pekan, dan ketika masuk ke musim liburan. Di hari-hari tersebut, titik-titik
kemacetan lalin semakin bertambah luas hingga menghubungkan ke titik-titik
kemacetan lalin lainnya. Waktu tundaan masih relatif pendek di mana waktu bagi
kendaraan bermotor untuk terhenti lajunya relatif masih di bawah 5 menit (rata-
rata waktu berhenti) dengan frekuensi tundaan sekitar 2-3 (maksimal) untuk setiap
1 km. Suatu kondisi yang mungkin relatif mendekati kondisi di kota-kota besar
seperti Kota Jakarta dan Kota Bandung. Di hari-hari biasa, tingkat kepadatan
relatif lebih cepat terurai. Tetapi yang cukup mengkhawatirkan, tingkat
kemampuan untuk mengurai kepadatan di hari-hari normal cenderung menurun.
Beberapa Upaya Penanggulangan dan Solusi
Upaya untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Yogyakarta sudah
berulangkali dipikirkan dan direalisasikan ke dalam kebijakan publik di tingkat
propinsi maupun kabupaten/kota. Upaya yang paling dominan adalah dengan
melakukan pembenahan fisik, seperti penambahan panjang jalan dan pelebaran
ruas jalan. Pemkot Yogyakarta sebelumnya telah mempelopori dibangunnya
armada bis patas dalam kota yang disebut Bis TransJogja.
Sekitar tahun 1995 telah diresmikan pengoperasian jalur lingkar (ringroad)
dalam kota yang menghubungkan di seluruh titik wilayah di Kabupaten Bantul,
Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Pembangunan ringroad tersebut
bertujuan untuk mengurangi konsentrasi kendaraan dari luar kota yang melintas
ke dalam kota, terutama untuk jenis angkutan umum. Jalur ringroad terdiri atas
sisi kendaraan roda empat ke atas sebanyak dua jalur dan sisi untuk kendaraan
bermotor roda dua (termasuk pesepeda). Untuk jalur kendaraan bermotor roda
empat ke atas memiliki lebar yang mampu dilalui dua truk besar untuk setiap
jalurnya. Kehadiran infrastruktur fisik tersebut dianggap cukup mampu untuk
mengurai tingkat kepadatan lalu-lintas di dalam ruang wilayah perkotaan.
Penambahan jalan-jalan baru relatif masih sedikit. Yogyakarta sendiri
dikenal sebagai salah satu daerah yang tergolong paling sedikit melakukan
penambahan panjang jalan. Pada tahun 1994 telah dibuka jalur penghubung yang
menghubungkan ringroad utara di dekat UPN hingga ke selokan Mataram.
10


Panjangnya sekitar hampir mencapai 3 km. Penambahan panjang jalan memang
relatif sedikit, bahkan terkesan tidak dilakukan di Yogyakarta. Upaya yang selama
ini terlihat adalah memanfaatkan jalan yang sudah ada untuk dibuka menjadi
akses umum. Misalnya, pelebaran jalan di sepanjang Selokan Mataram yang
direncanakan akan memanjang dari J l Gejayan sampai menghubungkan ke
J alan Solo. J alan tersebut bukanlah jalan baru, melainkan jalan yang sudah
ada sebelumnya agar lebih layak dilewati oleh lebih banyak kendaraan
bermotor. Dalam waktu yang tidak relatif lama, akan dibuatkan akses jalan
khusus dengan merenovasi dan melebarkan jalan kampung yang nantinya akan
menghubungkan Blok O hingga ke Jalan Wonosari.
Kedatangan bis TransJogja belumlah terlalu lama, yaitu sekitar akhir tahun
2007 yang dipelopori oleh Pemkot Yogyakarta. Dengan diberikannya fasilitas
pendingin (AC), ruang tunggu khusus, dan tanpa harus berdiri selama di dalam
bis. Jalur yang dilewati bis TransJogja merupakan jalur-jalur utama di Kota
Yogyakarta. Dalam perkembangannya, jalur-jalur bis TransJogja terus bertambah,
bahkan memiliki akses khusus ke Bandara Adisucipto. Harga karcisnya lebih
tinggi dibandingkan dengan harga karcis bis kota pada umumnya. Tetapi harga
tersebut masih relatif terjangkau untuk kalangan masyarakat menengah di
Yogyakarta. Sayangnya, kedatangan bis TransJogja bukanlah yang menjadi
penyebab semakin hilangnya bis-bis kota yang dikelola oleh Primkopar
Yogyakarta.

http://leo4kusuma.blogspot.com/2013/02/kemacetan-lalu-lintas-di-
yogyakarta.html#.Ula4JNJyAhG

e) Jogja Mulai Dilanda Kemacetan

Masalah lalu lintas seakan akan tidak pernah selesai jika dibahas, berbagai
cara pun di tempuh namun hasilnya masih tetap belum maksimal, apakah
penyebab utama dari masalah masalah ini.?
11


Jika tidak segera ditemukan solusi yang tepat maka akan selamanya seperti
ini, dan mungkin bisa semakin parah , kenyamanan berkendara pun menjadi
terganggu akibat kemacetan di jalan raya. Pada jam-jam tertentu kendaraan akan
memadati jalan di perkotaan maupun jalan di pinggiran kota, misalnya saat
masyarakat mayoritas akan mulai beraktivitas sekitar pukul 07.00 08.00 pada
jam tersebut jalan akan sangat padat dengan kendaraan pribadi maupun angkutan
umum, misalnya jalan soedirman, jalan kusuma Negara, jalan godean (sekitar
mirota godean) , dll . Pada pukul 09.00-14.00 jalan mulai longgar dari kemacetan,
apabila jam menunjukan pukul 15.00-17.30 jalan mulai dipadati kendaraan lagi,
begitulah seterusnya seperti telah menjadi rutinitas yang biasa.
Kurangnya lahan parkir
Sebenarnya penyebab-penyebab masalah kemacetan tidaklah rumit,
kurang ketersediaanya lahan parkir, akibatnya badan jalan pun menjadi alternatif
untuk memarkirkan kendaraan, namun hal tersebut mengakibatkan penyempitan
badan jalan dan ketika jam jam sibuk pasti menimbulkan kemacetan, pasar-pasar
tradisional atau toko-toko yang berjualan di pinggir jalan yang rawan kemacetan
direkomendasikan memiliki sebuah parkir terpadu berdaya tampung besar
jadi kendaraan yang akan berbelanja bisa di tampung di parkir tersebut, sehingga
jalan bisa menampung kendaraan yang melintas dan bisa mengurangi kemacetan.
Transportasi umum
Kurang ketersediaanya sarana transportasi umum yang memadai
mengakibatkan masyarakat enggan menggunakan trasnportasi umum, mereka
menilai bahwa menggunakan kendaraan pribadi lebih nyaman , namun apabila
transportasi umum sudah mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan terpelihara
sepanjang waktu, sehingga timbul kesan dimasyarakat lebih nyaman memakai
transportasi umum dari pada kendaraan pribadi maka masyarakat perlahan mulai
beralih menggunakan transportasi umum dan menggunakan kendaraan pribadi
hanya untuk beberapa aktivitas tertentu saja.
Perbaikan jalan
12


Seringnya aktifitas memperbaiki jalan atau pun penambalan jalan
berlubang juga mengakibatkan jalan menjadi macet, pengendara juga merasa
dirugikan karena setelah pekerjaan perbaikan jalan selesai ternyata hasilnya
kurang memuaskan bahkan jalanan menjadi bergelombang, ini juga
membahayakan pengendara, seharusnya jalan di buat dengan kualitas sebaik
mungkin, untuk meminimalisir perbaikan jalan, sehingga turut berkontribusi
untuk meminimalisir kemacetan.
Penggalian gorong-gorong
Penggalian gorong-gorong di beberapa tempat misalnya di daerah
pasar demangan jl.Gejayan yogyakarta, selama pekerjaan itu
berlangsung mengakibatkan kemacetan karena timbunan material maupun
alat-alat berat, setelah pekerjaan itu selesai ternyata juga kondisi jalan
memburuk karena hanya di tambal dengan ala kadarnya, kondisi jalan malah
bergelombang ini memaksa pengendara harus pelan-pelan sekali, maka akan
menimbulkan masalah baru mengingat di depan pasar demangan ini kondisi
jalanya sempit dan juga pengunjung pasar memarkir kendaraan nya di badan
jalan .
Jika kita ingin berkontibusi dalam mengurangi kemacetan alangkah
baiknya jika menggunakan kendaraan pribadi diusahakan jangan sampai ada
kursi yang kosong, misalnya menggunakan motor diusahakan jangan sendiri tapi
berboncengan dengan keluarga atau kerabat yang lain dengan begitu tidak
mubadzir menggunakan kendaraan, kalau satu orang menggunakan satu sepeda
motor itu kan juga menyumbang kemacetan apalagi yang mengendarai mobil
yang hanya diisi satu orang saja. Memang untuk mengatasi masalah kemacetan
diperlukan kerjasama dari semua pihak misalnya polisi bekerja untuk mengatur
lalu lintas, pemerintah mengatur tata letak dan tata ruang kota, masyarakat agar
bijaksana dalam menggunakan kendaraan pribadi, kita tidak mau kan jogja yang
dulunya nyaman untuk refresing tapi kenyamanannya terganggu karena
kemacetan.
13


http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/15/jogja-mulai-dilanda-kemacetan-
591918.html

f) Parkiran Jogja Menuai Masalah

Masalah parkir di jogja seakan menjadi topik yang tidak pernah habis
untuk dibicarakan. Semakin majunya perkembangan bisnis maka semakin banyak
pun tempat parkir. Saat ini kalau mau parkir pasti ada juru parkirnya (di tempat
umum maupun lahan milik pribadi) seperti tukang palak. Hal ini yang terjadi di
sebuah toko jalan Laksda Adi Sujipto sebelah mirota kampus babarsari. Para
pemilik toko memperkerjakan karyawannya untuk menjaga tempat parkir.
Menurut Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 18 Tahun 2009 tempat parkir
seperti ini disebut sebagi Tempat Khusus Parkir yaitu tempat parkir yang dimiliki
oleh swasta yang dikelola oleh orang pribadi atau badan. Dulunya toko tersebut
tidak mempunyai juru parkir, tapi saat setelah beberapa bulan belakangan ini toko
tersebut dijaga oleh juru parkir.
Pengelola Tempat Khusus Parkir swasta juga wajib untuk menjalankan
tanggung jawabnya yang terdapat pada Pasal 11 a. bertanggung jawab atas segala
kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan tempat parkir, termasuk
kebersihan, keamanan dan ketertiban tempat parkir; b. bertanggung jawab atas
keamanan kendaraan beserta perlengkapannya; c. memenuhi kewajiban atas
pungutan Negara dan pungutan Daerah; d. memasang papan tarif parkir dan
rambu di tempat parkir; e. menyediakan pakaian seragam petugas parkir di tempat
parkir; f. menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan parkir serta
menyediakan tempat sampah di lingkungan tempat parkir.
Sementara dalam Pasal 13 juru parkir juga wajib untuk a. menggunakan
pakaian seragam, tanda pengenal serta perlengkapan lainnya; b. menjaga,
keamanan dan ketertiban tempat parkir, serta bertanggung jawab atas keamanan
kendaraan beserta perlengkapannya; c. menjaga kebersihan, keindahan dan
kenyamanan lingkungan parkir; d. menyerahkan karcis parkir sebagai tanda bukti
untuk setiap kali parkir dan memungut retribusi sesuai dengan ketentuan yang
14


berlaku;e. menata dengan tertib kendaraan yang diparkir, baik pada waktu datang
maupun pergi.
Jika merujuk pada Peraturan Daerah tersebut maka yang terjadi pada toko
tersebut adalah berbeda. Pengelola toko tidak memasang papan tarif parkir. Dan
petugas parkir juga tidak memberikan karcis sebagai tanda bukti untuk para
pembeli. Jadi orang-orang yang akan berbelanja di toko tersebut dengan sukarela
membayar parkir. Namun tetap saja ketika membayar Rp. 1000 dan menunggu
kembaliaannya, juga tidak akan diberikan.
Toko tersebut juga dilengkapi dengan ATM. Inilah yang paling disesali,
karena beberapa orang sangat tidak setuju untuk membayar parkir apabila hanya
untuk mengambil uang di ATM. Ryan salah satunya, ia lebih memilih untuk
memarkir motornya dipinggir jalan ketimbang harus membayar parkir.
Menurutnya toko tersebut tidak perlu ada juru parkir karena mereka (para
pembeli) masih bisa untuk menjaga motornya tanpa harus di jaga.
Usaha parkir seperti ini semakin menjadi pekerjaan mudah. Mulai dari
anak-anak sampai dengan orang tua pun belomba-lomba untuk menjadi juru
parkir. Namun hal ini sangat tidak masuk akal apalagi ketika hanya
untuk mengambil uang di ATM, dalam beberapa detik saja mereka harus
memabayar uang seribuan bagi juru parkir.
Adanya juru parkir di setiap tempat, tentunya dengan tujuan untuk
menjaga kendaraan baik motor maupun mobil dari segala tindak kejahatan yang
marak terjadi. Namun, entah mengapa, tahun-tahun ini juru parkir begitu
menjamur dimana-mana. Salah satu penyebab kemungkinannya adalah karena
kurangnya lahan pekerjaan bagi orang-orang dengan tingkat ekonomi dan
pendidikan yang rendah.
Tempat parkir yang tidak menunjukkan karcis saat ini lebih banyak dari
yang yang menunjukkan karcis. Para juru parkir pun kerap melakukan pemaksaan
apabila yang dibayarkan kepada mereka tidak sesuai, padahal pada kenyataannya
tidak ada patokan untuk membayar. Tapi sebagian orang tetap memegang prinsip
bahwa no karcis no money. Jadi jika juru parkir tidak memberi karcis, maka
mereka juga tidak akan membayar.
15


Berbeda yang terjadi di daerah sekitar selokan mataram, tepatnya pada
jejeran kios yang menjual jersey sepak bola tiruan. Seharusnya mereka
menyediakan lahan buat parkir kendaraan yang ingini mengunjungi kios tersebut.
Dan berdasarakan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 16 Tahun 2011 BAB
IV tentaang Penetapan Sudut Parkir Pasal 5 bahwa (1) Sudut parkir kendaraan
pada ruas-ruas jalan di Kota Yogyakarta diatur sesuai dengan pengaturan
manajemen lalu lintas pada ruas jalan setempat. (2) Penentuan sudut parkir
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan marka jalan. Tapi pada
kenyataannya sudut jalan selokan mataram yang ditetapkan marka jalan malah
menjadi tempat buat parkir. Sehingga membuat jalan semakin sempit, dan alhasil
harus berdesak-desakkan dengan motor lain karena macet.
Hal serupa juga terjadi di jalan gejayan mendekati lampu merah.
J ejeran kios yang menjual barang-barang elektronik juga menyalahi aturan.
Tempat parkir juga memberi dampak kemacetan yang parah terutama pada
hari sabtu dan minggu. Seorang pembeli di kios tersbut mengeluhkan ketika
harus mengeluarkan motornya harus menunggu lampu hijau agar kendaraan
yang lain tidak menghalanginya. Parkir TJ U seperti ini memang sudah banyak
yang mengeluhkan. Sebab jalan-jalan yang seharusnya tidak boleh jadi tempat
parkir, malah digunakan untuk tempat parkir.
Sementara jika pusat perbelanaan galeria mall terdapat hal aneh yang
terjadi beberapa bulan ini. Tempat parkir di mall tersebut tersedia khusus karcis
parkir buat penitipan helm. Jadi ketika sebuah kendaraan motor berparkir disana,
maka orang terbut harus membayar 1000 buat parkir motor dan 500 buat penitipan
helm. Padahal jelas-jelas di dalam Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 18
Tahun 2009 tentang penyelenggara parkir di tepi jalan umum pasal 5 huruf b
menjelaskan bahwa juru parkir wajib untuk menjaga keamanan dan ketertiban
tempat parkir, serta bertanggung jawab atas keamanan kendaraan beserta
perlengkapannya. Kelengkapan yang dimaksudkan tidak lain dan tidak bukan
adalah helm itu sendiri.
Tentu saja juru parkir di galleria mall juga melanggar peraturan daerah ini.
Seorang pengunjung megeluhkan perlakuan ini, menurutnya jika helm diletakkan
diatas motor harus dibayar, berarti orang yang naik motor tidak perlu
16


manggunakan helm lagi untuk mengunjugi galleria mall. Padahal seharusnya juru
parkir sudah wajib untuk menjaga itu. Tapi lagi-lagi semua berurusan dengan para
penguasa lahan parkir. Mereka yang merasa menguasai dan memiliki kewenangan
atas lahan tersebut.

http://sheindira.blogspot.com/2012/05/parkiran-jogja-menuai-masalah.html
g) ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS: Kondisi yang bagaimanakah
Andalalin tersebut perlu dilakukan? *)

Oleh
Aji Suraji
Dosen Teknik Sipil
Universitas Widyagama Malang
Pengembangan kawasan di perkotaan dewasa ini dipandang cukup pesat
sejalan dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap fasilitas umum dan
fasilitas sosial untuk kegiatan dan/atau usaha terkait dengan perkantoran, pusat
perbelanjaan, pendidikan, dan lain sebagainya.
Setiap pengembangan kawasan akan menimbulkan dampak bagi
lingkungan dan sekitarnya, termasuk terhadap lalu lintas jalan. Namun
pengembangan kawasan di perkotaan yang dilakukan selama ini masih kurang
memperhatikan dampaknya terhadap lalu lintas jalan, sehingga mengakibatkan
penurunan tingkat pelayanan jalan yang cukup signifikan.
Setiap rencana pengembangan kegiatan dan/atau usaha di suatu kawasan
akan memberikan dampak terhadap wilayah di sekitarnya, termasuk dampaknya
terhadap lalu lintas jalan. Dampak lalu lintas jalan tersebut perlu diantisipasi dan
ditangani secara tepat sesuai dengan lokasi, jenis, dan skala dampak yang akan
ditimbulkannya. Oleh karena itu, setiap proposal pengembangan kawasan harus
diverifikasi terlebih dahulu oleh Instansi terkait di Pemerintah Daerah setempat.
17


Sebelum pengembangan kawasan dilaksanakan, maka proposal
pengembangan kawasan yang diusulkan oleh pemrakarsa harus diverifikasi
terlebih dahulu oleh Instansi terkait di Pemerintah Daerah setempat. Verifikasi ini
terkait dengan:
a) Apakah pengembangan kawasan yang diusulkan tersebut wajib melakukan
andalalin atau tidak;
b) Untuk memastikan bahwa rencana sirkulasi lalu lintas di dalam kawasan dan
akses hubungannya dengan jaringan jalan di sekitarnya tidak akan menyebabkan
gangguan terhadap tingkat pelayanan jalan.
Suatu rencana pengembangan kawasan wajib melakukan andalalin jika
memenuhi salah satu dari beberapa kriteria berikut:
a) Pengembangan kawasan yang direncanakan tersebut langsung mengakses ke
jalan arteri;
b) Pengembangan kawasan yang direncanakan tersebut tidak mengakses ke jalan
arteri, maka berlaku kriteria sebagai berikut:
(1) skala kegiatan dan/atau usaha yang direncanakan lebih besar atau sama dengan
dari ukuran minimal pengembangan kawasan yang ditetapkan sesuai dengan
Tabel 1;
(2) pengembangan kawasan tersebut diprakirakan akan membangkitkan
perjalanan lebih besar dari atau sama dengan 100 perjalanan orang per jam;
(3) terdapat beberapa rencana pengembangan kawasan yang mengakses ke ruas
jalan yang sama, sehingga secara kumulatif memenuhi kriteria pada (1) dan (2);
(4) pengembangan kawasan tersebut langsung mengakses ke ruas jalan yang saat
ini sudah memiliki nilai derajat kejenuhan lebih dari atau sama dengan 0,75
dan/atau jika persimpangan jalan terdekat dengan lokasi pengembangan kawasan
sudah memiliki nilai derajat kejenuhan lebih dari atau sama dengan 0,75.
18



Tabel 1: Ukuran minimal pengembangan kawasan yang wajib melakukan
andalalin
Jenis pengembangan kawasan Ukuran minimal
Permukiman 50 unit
Apartemen 50 hunian
Perkantoran 1000 m2 luas lantai bangunan
Pusat perbelanjaan 500 m2 luas lantai bangunan
Hotel/motel/penginapan 50 kamar
Rumah sakit 50 tempat tidur
Klinik bersama 10 ruang praktek dokter
Sekolah/universitas 500 siswa
Tempat kursus Bangunan dengan kapasitas 50
siswa/waktu
Restoran 100 tempat duduk
Tempat pertemuan/tempat
hiburan/pusat olah raga
Kapasitas 100 tamu atau 100
tempat duduk
Stasiun pengisian bahan bakar 4 slang pompa
19


umum (SPBU)
Gedung/lapangan parkir 50 petak parkir
Bengkel kendaraan bermotor 2000 m2 luas lantai bangunan
Drive-through untuk
bank/restoran/pencucian mobil
Wajib

http://widyagama.ac.id/ajisuraji/?p=345
h) ~ Karakteristik Umum Arus Lalu Lintas
Ada tiga karakteristik primer dalam teori arus lalu lintas yang saling terkait
yaitu volume, kecepatan dan kepadatan. Pada gambar 1 ditunjukkan hubungan
antara kecepatan dan kepadatan berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia
dan kepadatan untuk jalan 4 lajur, dua arah yang dipisah serta pada gambar 2
ditunjukkan hubungan antara kecepatan dan arus.


20



~ Definisi Kemacetan Dan Keterlambatan
Kemacetan adalah kondisi dimana arus lalu lintas yang lewat pada ruas
jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang mengakibatkan
kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati 0 km/jam atau bahkan menjadi 0
km/jam sehingga mengakibatkan terjadinya antrian. Terjadinya kemacetan dapat
dilihat dari nilai derajat kejenuhan yang terjadi pada ruas jalan yang ditinjau,
dimana kemacetan terjadi jika nilai derajat kejenuhan tercapai lebih dari 0.8
(MKJI, 1997). Keterlambatan adalah kondisi dimana terjadinya penurunan
kecepatan bebas ruas jalan yang ditinjau tanpa terjadinya adanya kemacetan.
Keterlambatan lebih dipengaruhi oleh sikap pengemudi, bukan oleh nilai
kelebihan kapasitas jalan. Pada kondisi ini tidak terjadi kejenuhan lalu lintas
dimana nilai derajat kejenuhan di bawah atau sama dengan 0,8 (MKJI, 1997).

~ Perhitungan Kapasitas Jalan Kota
Menurut Buku Standard Desain Geometrik Jalan Perkotaan yang
dikeluarkan oleh Ditjen Bina Marga, Kapasitas Dasar didefinisikan sebagai :
Volume maksimum perjam yang dapat lewat suatu pctongan lajur jalan (untuk
jalan multi lajur) atau suatu potongan. jalan (untuk jalan dua lajur) pada kondii
jalan dan arus lalu lintas ideal.
Kondisi ideal terjadi bila :
- lebar lajur tidak kurang dari 3.5 m
- kebebasan lateral tidak kurang dari 1,75 m
- standard geometrik baik
- hanya kendaraan ringan/light vehicle yang menggunakan jalan
- tidak ada batas kecepatan

Rumus yang digunakan untuk menghitung kapasitas jalan kota berdasarkan
Manual Kapasitas Jalan Indonesia adalah sebagai berikut :
C = Co x FW x FSP x FSF x FCS
dimana :

C = Kapasitas (SMP/jam)
21


Co = Kapasitas dasar
FW = Faktor penyesuaian lebar jalan
FSP = Faktor penyesuaian arah lalu lintas
FSF = Faktor penyesuaian gesekan samping dan kerb
Fcs = Faktor ukuran kota
~ Data Arus Kendaraan

~ Hubungan Tingkat Kecepatan Dengan Arus Lalu Lintas
Dalam gambar 3 hubungan antara jumlah arus (smp/jam) dengan
kecepatan yang terjadi (km/jam) sesuai dengan pemahaman dasar bahwa semakin
besar arus semakin kecil kecepatannya, atau dengan kata lain kecepatan
berbanding terbalik dengan besarnya arus lalu lintas.

22


~ Kapasitas dasar untuk ruas jalan gejayan adalah 1.650 SMP/jam
per lajur sehingga kapasitas dasar untuk 4 lajur adalah 6.600 SMP/jam.
Faktor penyesuaian lebar jalan, besarnya 1,08.
Faktor penyesuaian arah lalu lintas besarnya 1,0.
Faktor penyesuaian gesekan samping dan kerb besarnya 0,96.
Faktor ukuran kota besarnya 1,0.
Sehingga Kapasitas jalan gejayan 6.843 SMP/jam.
Kondisi pengamatan jalan gejayan dilewati sejumlah 1.017,79 SMP/jam
untuk satu arah atau sejumlah sekitar 2.035 SMP/jam sehingga karena
masih sangat jauh dibawah kapasitasnya maka jalan Gejayan dapat
dikatakan tidak mengalami kemacetan. Namun apabila dilihat dari
kecepatannya, dimana kecepatan pada Jalan Gejayan berdasarkan
kecepatan desain tipikal jalan lokal adalah sebesar 30 km/jam maka arus
lalu lintas pada jalan Gejayan mengalami kelambatan. Kelambatan yang
terjadi ditunjukan dalam tabel 4.

II. PEMBAHASAN
Jalan Gejayan atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Affandi
adalah jalan yang bisa dibilang menjadi titik kemacetan dengan level tinggi di
Yogyakarta. Walaupun jalan ini sudah berganti nama namun warga sekitar tetap
menyebut jalan ini dengan nama Jalan Gejayan.
Jalan ini memiliki beberapa hal yang mendukung terjadinya kemacetan, di
ujung selatan jalan ini terdapat sebuah pasar tradisional yaitu Pasar Demangan,
diutara jalan ini juga terdapat Terminal Condong Catur. Jalan Gejayan sendiri
memiliki beberapa titik yang menjadi titik kemacetan yaitu di simpang empat
tempat bertemunya Jalan Laksda Adisucipto, Jalan Urip Sumohardjo, dan Jalan
Munggur diujung selatan dari jalan ini. Hal itu juga diperkuat dengan adanya
Pasar Demangan. Kemudian disebelah utara sendiri di daerah Condong Catur
menjadi langganan titik kemacetan setiap pagi dan sore hal itu juga diperkuat
dengan adanya terminal Condong Catur.
23


Di sepanjang Jalan Gejayan juga banyak berdiri tanaman-tanaman beton.
Hotel, perkiosan, dan masih banyak jenis bangunan lainnya. Letak bangunan-
bangunan itu juga mepet dengan badan jalan sehingga mau tak mau memakan
badan jalan untuk lahan parkir yang memang kurang tersedia. Selain badan jalan
digunakan untuk lahan parkir beberapa waktu lalu juga mulai dilakukan perbaikan
jalan yang semakin mengurangi kapasitas dari jalan tersebut.





Kawasan Pasar Demangan, terlihat
lalu lintas yang padat sementara
jalur berlawanan terlihat sepi. Foto
diambil Jumat, 11 Oktober 2013
sekitar pukul 17.00 WIB.
Kawasan Condong Catur, lalu
lintas juga terlihat sangat
padat. Menurut warga sekitar
tidak ada suatu pekerjaan yang
dilakukan namun sudah
menjadi rahasia umum warga
Jogja bahwa lalu lintas di
Condong Catur selalu menjadi
langganan macet di pagi dan
sore hari. Foto diambil Jumat,
11 Oktober 2013 sekitar pukul
17.00 WIB.
24




Foto-foto lain yang diambil pada hari Jumat, 11 Oktober 2013 sekitar pukul
17.00 WIB.

Lokasi perbaikan jalan,
menurut warga sekitar
perbaikan jalan dilakukan
merata namun dengan waktu
yang bergantian. Tetap saja
pekerjaan itu menimbulkan
berkurangnya kapasitas jalan.
Menjadikan dititik tersebut
menjadi titik kemacetan di pagi
dan sore hari. Foto diambil
Jumat, 11 Oktober 2013
sekitar pukul 17.00 WIB.
Terlihat kepadatan di
persimpangan jalan.
25







Berkurangnya kapasitas jalan
akibat digunakannya badan
jalan sebagai lahan parkir.
Dibeberapa titik terlihat sepi.
Dibeberapa titik terlihat lancar.
26






Dibeberapa titik terlihat lancar.
27






Kawasan persimpangan arah UNY
terlihat sangat padat.
28







Lahan parkir memakan badan jalan
sehingga mengurangi kapasitas
jalan.
29



Foto lain diambil pada hari Jumat, 11 Oktober 2013 sekitar pukul 11.30 WIB
untuk perbandingan. Jalanan terlihat lumayan sepi karena memang sudah
memasuki waktu Jumatan.

Kawasan Condong
Catur, lalu lintas padat
merayap.
Lalu lintas terlihat lancar.
30






Lalu lintas terlihat lancar.
31





Lalu lintas terlihat lancar.
Lalu lintas terlihat lancar.
Lalu lintas terlihat lancar.
32





Lalu lintas terlihat lancar.
Lalu lintas terlihat lancar.
33





Lalu lintas terlihat lancar.
Lalu lintas terlihat lancar.
34





III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Lalu lintas memang sangat rawan terhadap masalah, sebenarnya tak hanya
lalu lintas saja tetapi semua hal sangat rentan terhadap masalah. Di Jalan Gejayan
khususnya terdapat masalah kemacetan dibeberapa titik yang mungkin sulit
dipecahkan jika pihak-pihak yang terlibat tidak dapat berkomunikasi dengan baik.
Berikut beberapa opini warga disekitar Jalan Gejayan yang namanya
macet ya ngeganggu sih, apalagi saya sebagai mahasiswa punya beberapa hal
yang kudu dikejar cepat tapi keganggu gegara kena macet. Jalan Gejayan
emang udah langganan macet, terutama itu tuh wilayah Condong Catur, gatau
kenapa bisa macet tapi emang tiap hari begitu.
Lalu lintas terlihat lancar.
Lalu lintas terlihat lancar.
35


Jadi, kesimpulan dari pembahasan tadi adalah perlu adanya pengkajian
penyebab terjadinya kemacetan tersebut dari pihak pemerintah juga adanya
kesadaran dari pihak pengguna lalu lintas di jalan tersebut.
B. SARAN
Beberapa saran yang penulis ajukan untuk meminimalisir kemacetan yang
terjadi di Jalan Gejayan diantaranya adalah :
a) Pengkajian secara teratur kapasitas Jalan Gejayan.
b) Penataan kembali jalur-jalur seperti penerapaan jalan satu arah jika
memungkinkan.
c) Penataan lahan parkir di komplek perkiosan yang membuat berkurangnya
nilai kapasitas jalan.
d) Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi mubadzir, secara tegas.
e) Lebih memanfaatkan transportasi umum seperti Trans Jogja, menurut
penulis armada Trans Jogja itu sendiri sudah bagus dan nyaman untuk
digunakan karena penulis pernah memanfaatkannya juga.
f) Memperbaiki mental pengendara pengguna jalan itu sendiri.

IV. DAFTAR PUSTAKA
http://jalanjogja.blogspot.com/2007/07/jalan-affandi-ex-gejayan.html

http://joogjacircles.blogspot.com/2013/02/eksistensi-jalan-gejayan.html

http://regional.kompasiana.com/2012/12/30/akankah-yogyakarta-menjadi-
seperti-jakarta--520916.html

http://leo4kusuma.blogspot.com/2013/02/kemacetan-lalu-lintas-di-
yogyakarta.html#.Ula4JNJyAhG

http://sosbud.kompasiana.com/2013/09/15/jogja-mulai-dilanda-
kemacetan-591918.html
36



http://sheindira.blogspot.com/2012/05/parkiran-jogja-menuai-
masalah.html

http://widyagama.ac.id/ajisuraji/?p=345

Foto-foto diambil oleh Irwan Agung, http://facebook.com/irwan.luciffer

http://cpanel.petra.ac.id/ejournal/index.php/uaj/article/view/17546/17651