Anda di halaman 1dari 4

Pabrik Aluminium Sulfat Padat dan Cair

Agustina Gunawan / 5203011010


Antonius Fredi K / 5203011042

Aluminium Sulfat atau yang lebih dikenal dengan tawas memiliki rumus
molekul Al2(SO4)3 .xH2O. Proses pembuatan aluminium sulfat pada dasarnya adalah
mereaksikan bahan yang mengandung aluminium hidroksida (Al(OH)
3
) dengan asam
sulfat. Sumber bahan yang mengandung alumina dalam proses ini adalah bauksit
sesuai dengan reaksi :
2Al(OH)3 + 3H2SO4 + 8H2O Al2(SO4)3 .14H2O H
f
= -156 kJ/mol
Reaksi dilakukan dengan menggunakan H
2
SO
4
60% dengan perbandingan mol asam
sulfat dengan bauksit 3:2. Tujuan digunakan H
2
SO
4
berlebihan agar asam sulfat dapat
menyerap semua Al(OH)
3
yang terdapat dalam bauksit.

1. Bahan Baku
Bauksit
Kandungan dalam bauksit terdiri dari Al
2
O
3
(55%), Fe
2
O
3
(12%),
SiO
2
(5%), TiO
2
(3%), dan pengotor-pengotor lainnya/ khususnya H
2
O
sebanyak 25%.
Asam sulfat 60%
Merupakan konsentrasi optimum dalam pembuatan aluminium
sulfat.
Air yang bebas dari mineral
Digunakan air bebas mineral (aqua demineralization) mencegah
adanya pengotor-pengotor lain yang mengganggu proses pembuatan
aluminium sulfat dan dapat mempengaruhi kualitas dari aluminium
sulfat.

2. Kegunaan produk
Aluminium sulfat merupakan bahan penunjang yang penting untuk
bermacam-macam industri. Adapun kegunaan aluminium sulfat adalah :
1) Sebagai pelekat kertas yang digunakan pada proses pembuatan pulp dan
kertas.
2) Untuk menjernihkan air, mengontrol pH air dan sebagai koagulan yang dapat
mengendapkan bermacam-macam kotoran.
3) Sebagai koagulan pada industri karet sintetis, sebagai bahan pembantu pada
proses pencelupan batik (tekstil), pembuatan bahan-bahan kimia, katalis,
kosmetik, obat-obatan, bahan cat, semen, plastik.

3. Proses
Proses pembuatan aluminium sulfat padat dan cair dengan menggunakan
bahan baku bauksit dibedakan menjadi dua proses utama, yaitu proses pemurnian
Al(OH)
3
(proses Bayer) dan proses pembuatan aluminium sulfat.

3.1. Proses Pemurnian Al(OH)
3
(Proses Bayer)
Dalam pembuatan aluminium sulfat digunakan bahan baku bauksit yang
mengandung Al(OH)
3
atau Al
2
O
3
trihidrat yang dilakukan dengan tahap pemurnian
Al(OH)
3
. Tahapan pemurnian Al(OH)
3
dilakukan dengan proses bayer. Pertama-tama
dilakukan penambahan lime (CaO) sebanyak 200g/L dan NaOH 50% pada bauksit.
Perbandingan bauksit dengan NaOH adalah 10:6 (b/b). Fungsi dari penambahan lime
adalah untuk mengendapkan kandungan SiO
2
yang terdapat dalam bauksit. Setelah
itu, bahan-bahan tersebut masuk ke wet milling untuk dilakukan pengecilan ukuran.
Proses wet milling dipilih karena proses pengecilan ukuran ini tidak menghasilkan
debu sehingga tidak diperlukan unit pemisah gas-solid seperti cyclone. Larutan NaOH
50% digunakan untuk melarutkan Al(OH)
3
dalam bentuk AlO
2
Na sesuai dengan
reaksi:





Reaksi tersebut berlangsung pada proses digestion dengan suhu 120
0
C-200
0
C
pada tekanan 3-7 bar. Karena reaksi yang terjadi adalah reaksi reversible, maka
dibutuhkan suhu, tekanan, dan konsentrasi reaktan yang tinggi agar reaksi tetap
berlangsung kearah produk. Pada proses digestion ini, Al(OH)
3
akan larut dalam
NaOH, sedangkan zat-zat pengotor lainnya tidak larut sehingga akan menghasilkan
endapan merah (red mud). Untuk memisahkan larutan dari endapan dibutuhkan
tangki sedimentasi. Pada tangki sedimentasi, endapan yang dihasilkan akan
dibawa menuju tangki pencucian untuk mengurangi kandungan NaOH sebelum
dibuang ke lingkungan. Sedangkan cairannya akan dipompa untuk dilakukan proses
kristalisasi. Sebelum masuk ke dalam tangki presipitasi, cairan dilewatkan melalui
Security Filtration untuk memisahkan cairan dengan padatan yang mungkin terbawa
pada saat proses sedimentasi. Setelah itu, cairan akan melewati Heat Exchanger
untuk didinginkan hingga mencapai suhu 50-60
0
C. Selanjutnya, cairan masuk ke
dalam tangki presipitasi dimana pada tangki ini, Al(OH)
3
akan mengkristal karena
reaksi revesribel di atas akan berlangsung ke arah reaktan. Cairan dan Al(OH)
3
yang
terbentuk akan masuk ke dalam Seed Filtration dimana terjadi pemisahan Al(OH)
3

dan cairan. Cairan ini akan di recycle pada saat awal proses karena masih
mengandung NaOH sedangkan Al(OH)
3
yang dihasilkan sebagian di recycle ke
tangki presipitasi. Proses recycle ini dilakukan karena proses pengkristalan
berlangsung sangat lambat sehingga diperlukan seed kristal Al(OH)
3
untuk
mempercepat proses pengkristalan. Kristal Al(OH)
3
yang tidak mengalami proses
recycle difiltrasi, dicuci, dan dikeringkan sebelum disimpan. Untuk mendapatkan
Al
2
O
3
, Al(OH)
3
dimasukkan ke dalam Rotary Kiln untuk mengalami proses
kalsinasi pada suhu 1100-1250
0
C.



3.2. Proses Pembuatan Aluminium Sulfat
Tahap pertama dalam proses pembuatan aluminium sulfat adalah
mencampurkan Al(OH)
3
yang telah dimurnikan dalam proses Bayer dengan air
dengan rasio massa Al(OH)
3
dengan air sebesar 3:2. Hal ini dilakukan karena
Al(OH)
3
dalam bentuk padatan akan sulit bereaksi dengan asam sulfat. Proses
pencampuran ini dilakukan dengan menggunakan tangki berpengaduk dengan
impeller tipe standard pitched three-blade turbine pada suhu ruang. Impeller jenis ini
dipilih karena viskositas larutan yang dihasilkan tidak tinggi dan cocok digunakan
untuk proses pencampuran solid-liquid. Selanjutnya Al(OH)
3
yang telah dilarutkan
dalam air direaksikan dengan asam sulfat di dalam sebuah reaktor yang dilengkapi
dengan jaket pemanas dan pengaduk dengan impeller tipe standard pitched three-
blade turbine. Reaksi yang terjadi adalah reaksi eksotermis yang menghasilkan panas,
tetapi dibutuhkan jaket pemanas untuk menjaga temperatur pada 100-110
o
C. Hal ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya kristalisasi di dalam reaktor karena aluminium
sulfat yang dihasilkan adalah saturated liquid yang mulai memadat pada temperatur
85
o
C. Aluminium sulfat yang dihasilkan dari proses ini dibagi menjadi 2 aliran.
Aliran yang pertama menuju tangki pengenceran untuk menghasilkan aluminium
sulfat cair dan aliran kedua dialirkan menuju belt cooler untuk membentuk
aluminium sulfat padat. Untuk aluminium sulfat padat, dilakukan proses pengecilan
ukuran menggunakan jaw crusher dan dilakukan screening untuk mendapatkan
aluminium sulfat berbentuk bongkahan, granular, dan serbuk. Belt cooler dipilih
karena dapat digunakan sebagai alat untuk mendinginkan aluminium sulfat dari 100-
110
o
C menjadi 50
o
C sekaligus membawa aluminium sulfat padat menuju jaw
crusher. Untuk mengecilkan ukuran aluminium sulfta padat dipilih jaw crusher
karena jaw crusher cocok digunakan untuk mengecilkan ukuran benda yang keras
seperti batu-batuan. Pada proses pembuatan aluminium sulfat cair pada tangki
pengenceran dilakukan pencampuran saturated liquid aluminium sulfat dengan air
dengan perbandingan massa 2:5. Temperatur air yang digunakan pada proses ini
adalah 25-30
o
C, sehingga diharapkan temperatur aluminium sulfat cair keluar adalah
40-50
o
C. Aluminium sulfat cair yang telah terbentuk disimpan di dalam tangki
penyimpanan yang terbuat dari fiberglass, rubber lined steel, atau stainless steel tipe
316. Selain itu, temperatur dari tangki penyimpanan ini tidak boleh kurang dari 10
o
C
karena pada temperatur tersebut dimungkinkan terbentuk kristal aluminium sulfat.