Anda di halaman 1dari 36

1.

KONSEP DASAR AKUNTANSI BIAYA

Akuntansi Biaya merupakan salah satu pengkhususan dalam akuntansi, sama halnya dengan
akuntansi keuangan, akuntansi pemerintahan, akuntansi pajak, akuntansi perbankan, dan
sebagainya. Ciri utama yang membedakan akuntansi biaya dengan akuntansi yang lain adalah
kajian datanya. Akuntansi biaya mengkaji data-data biaya untuk digolongkan, dicatat, dianalisis
dan dilaporkan dalam laporan informasi akuntansi. Akuntansi secara garis besar dibagi menjadi
2 tipe, yaitu Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen. Akuntansi biaya bukan merupakan
tipe akuntansi tersendiri yang terpisah dari dua tipe akuntansi tersebut, namun merupakan
bagian dari keduanya.

PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA


Ditinjau dari aktivitasnya, akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan,
penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya-biaya pembuatan dan penjualan produk atau
jasa dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya.
Apabila dilihat dari fungsinya akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang
menghasilkan informasi biaya yang dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam
pengambilan keputusan manajemen

HUBUNGAN AKUNTANSI BIAYA DENGAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI


MANAJEMEN
Akuntansi secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu Akuntansi Keuangan
dan Akuntansi Manajemen. Akuntansi biaya merupakan bagian tak terpisahkan dari kedua tipe
akuntansi tersebut.

1. Hubungan antara Akuntansi Biaya dengan Akuntansi Keuangan


Akuntansi keuangan mempunyai tujuan utama untuk menyediakan informasi keuangan berupa
laporan keuangan bagi pihak-pihak di luar perusahaan, seperti pemegang saham, pemerintah,
kreditor, investor dan masyarakat umum, laporan keuangan tersebut berupa laporan rugi-laba,
neraca dan laporan arus kas. Untuk menyusun laporan rugi-laba dan neraca pada perusahaan
manufaktur, diperlukan informasi harga pokok barang jadi dan harga pokok barang dalam
proses pada akhir periode. Harga pokok barang jadi secara formal dihitung dan disajikan dalam
Laporan Harga Pokok Produksi yang merupakan lampiran dari laporan rugi-laba. Dengan
demikian akuntansi biaya merupakan bagian integral dengan akuntansi keuangan, karena
akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya yang diperlukan untuk penyusunan laporan
keuangan.

2. Hubungan antara Akuntansi Biaya dengan Akuntansi Manajemen


Akuntansi manajemen mempunyai tujuan utama menyediakan informasi keuangan bagi
manajemen yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, sebagai contoh seorang manajer
akan memutuskan apakah perusahaan menerima atau menolak pesanan khusus (special
order), menghentikan atau melanjutkan suatu produk yang mengalami kerugian. Untuk
mengambil keputusan tersebut, manajer memerlukan informasi yang relevan dengan keputusan
yang diambil, yaitu informasi biaya produksi. Informasi tersebut dihasilkan oleh bagian akuntansi
biaya.

KESAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA AKUNTANSI KEUANGAN DENGAN AKUNTANSI


MANAJEMEN
Akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen memiliki dua kesamaan.
1. Kedua tipe akuntansi tersebut merupakan sistem pengolah informasi yang menghasilkan
informasi keuangan.
Meskipun informasi non keuangan merupakan informasi penting yang digunakan oleh
manajemen dalam pengelolaan perusahaan, namun hampir seluruh informasi non
keuangan tersebut berada di luar lingkup akuntansi.
2. Kedua informasi tersebut berfungsi sebagai penyedia informasi keuangan yang bermanfaat
bagi seseorang dalam pengambilan keputusan.

Perbedaan pokok antara akuntansi keuangan dengan akuntansi manajemen terletak pada :

Akuntansi Keuangan Akuntansi Manajemen


Para manajer puncak dan Para manajer dari berbagai jenjang
1. Pemakai Utama
pihak luar perusahaan organisasi
Perusahaan secara
2. Lingkup Informasi Bagian dari perusahaan
keseluruhan
Berorientasi pada masa yang akan
3. Fokus Informasi Berorientasi pada masa lalu
datang
Kurang fleksibel, biasanya
mencakup jangka waktu Fleksibel, bervariasi dari harian,
4. Rentang Waktu
kuartalan, tengah tahun dan mingguan dan bulanan
tahunan
Tidak ada batasan, kecuali manfaat
yang diperoleh oleh manajemen
5. Kriteria bagi Dibatasi oleh Standar
dari informasi dibandingkan dengan
informasi akuntansi Akuntansi
pengorbanan untuk memperoleh
informasi tersebut
6. Disiplin sumber Ilmu ekonomi Ilmu ekonomi dan psikologi sosial
Laporan berupa ringkasan
Laporan bersifat rinci mengenai
7. Isi laporan perusahaan secara
bagian dari perusahaan
keseluruhan
Ketepatan informasi Unsur taksiran dalam informasi
8. Sifat informasi
merupakan hal yang penting sangat besar

TUJUAN AKUNTANSI BIAYA

Akuntansi Biaya mempunyai tiga tujuan pokok, yaitu :


1. Penentuan Harga Pokok Produk (product costing)
Untuk memenuhi tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya mencatat,
menggolongkan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa
dengan cara-cara tertentu. Umumnya akuntansi biaya untuk penentuan harga pokok
produk ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan.
2. Pengendalian Biaya (cost control)
Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan
untuk memproduksi satu satuan produk. Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan,
akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya
sesuai dengan biaya yang seharusnya tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan
analisis terhadap penyimpangan biaya sesungguhnya dengan biaya yang seharusnya dan
menyajikan informasi mengenai penyebab terjadinya selisih atau penyimpangan tersebut.
Dari analisis penyimpangan dan penyebabnya tersebut manajemen dapat
mempertimbangkan tindakan koreksi juga dapat melakukan penilaian prestasi para
manajer di bawahnya. Akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya ini lebih ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan pihak intern perusahaan.
3. Pengambilan Keputusan Khusus (special decision making)
Untuk pengambilan keputusan khusus, akuntansi biaya menyediakan informasi biaya masa
yang akan datang (future cost), karena pengambilan keputusan berhubungan dengan
masa yang akan datang. Informasi biaya masa yang akan datang tersebut jelas tidak dapat
diperoleh dari catatan karena memang tidak dicatat, melainkan diperoleh dari hasil
peramalan. Proses pengambilan keputusan khusus ini, sebagian besar merupakan tugas
manajemen perusahaan dengan memanfaatkan informasi biaya tersebut.

KONSEP HARGA POKOK, BIAYA, RUGI DAN PENGELUARAN


Sebelum mempelajari akuntansi biaya secara luas, sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu
istilah-istilah harga pokok, biaya, rugi dan pengeluaran

HARGA POKOK
Secara umum harga pokok (cost) didefinisikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk
memperoleh aktiva. Istilah harga pokok juga dapat digunakan untuk menunjukkan pengorbanan
sumber ekonomi berupa bahan baku yang dibeli dan dipakai dalam proses produksi. Misalnya
pengeluaran uang tunai untuk membayar pembelian mesin sebesar Rp. 50.000.000
pengorbanan uang sebesar Rp. 50.000.000 tersebut merupakan harga pokok mesin dan
disajikan di neraca sebagai aktiva. Begitu juga misalnya apabila sebuah perusahaan mebel
membeli bahan baku kayu untuk kebutuhan produksinya sebesar Rp. 10.000.000. Harga
pembelian tersebut merupakan harga pokok bahan baku yang dibeli dan membentuk harga
pokok persediaan bahan baku. Apabila pada bulan tersebut misalnya persediaan bahan baku
terpakai sebesar Rp. 6.000.000, ini berarti terjadi pengorbanan sumber ekonomi berupa bahan
baku untuk menghasilkan barang jadi. Pengorbanan sumber ekonomi tersebut disebut harga
pokok bahan baku yang dipakai. harga pokok ini biasanya disebut biaya bahan baku yang
membentuk harga pokok produksi. Harga pokok produksi kemudian dipertemukan dengan hasil
penjualan dari produk tersebut untuk menghitung laba (rugi) kotor.

BIAYA
Dalam arti sempit biaya (expense) didefinisikan sebagai bagian dari harga pokok yang
dikorbankan didalam usaha untuk memperoleh penghasilan
Sedangkan dalam arti luas biaya didefinisikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi yang
diukur dalam satuan mata uang yang telah terjadi dan mungkin terjadi untuk mencapai tujuan
tertentu.

RUGI
Rugi (loss) didefinisikan sebagai berkurangnya kekayaan perusahaan yang bukan terjadi karena
pengambilan modal oleh pemiliknya dan tidak ada kompensasi yang dapat diterima. Misalnya,
pengorbanan sumber ekonomi untuk menghasilkan barang jadi yang tidak dapat di tutup dari
hasil penjualan barang tersebut maka terjadi kerugian. Pemborosan pemakaian bahan baku
juga merupakan kerugian.
Secara umum dapat dikatakan kerugian terjadi apabila biaya yang dikeluarkan lebih besar
daripada pendapatan yang diterima.

PENGELUARAN
Konsep pengeluaran (expenditure) berbeda dengan biaya, harga pokok maupun rugi, meskipun
sama-sama merupakan pengeluaran. Pengeluaran tidak selalu merupakan biaya, harga pokok,
maupun rugi. Pembayaran kewajiban atau utang adalah contoh pengeluaran dan merupakan
biaya harga pokok maupun rugi. Biaya tidak selalu merupakan pengeluaran, misalnya
pembebanan biaya penyusutan.

PENGGOLONGAN BIAYA
Informasi biaya yang lengkap dibutuhkan oleh manajemen untuk tujuan-tujuan tertentu antara
lain: perencanaan, pengukuran, pengendalian dan penilaian terhadap operasi perusahaan. Oleh
karena itu, biaya yang banyak ragamnya perlu diadakan penggolongan sesuai dengan
kebutuhan manajemen. Ada beberapa cara penggolongan biaya dimana masing-masing cara
penggolongan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda (different cost for
different purpose)
Beberapa penggolongan biaya tersebut antara lain, berdasarkan :
1. Objek pengeluaran
2. Fungsi pokok dalam perusahaan
3. Hubungan biaya dengan produk yang dibiayai
4. Perilaku biaya dalam hubungannya dengan volume kegiatan
5. Hubungannya dengan pusat biaya
6. Periode pembukuan
Penggolongan-penggolongan biaya tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran


Berdasarkan cara ini, biaya digolongkan berdasarkan untuk apa suatu biaya itu dikeluarkan atau
berdasarkan objek yang dibiayai. Misalnya penggolongan biaya berdasarkan objek pengeluaran
pada perusahaan transportasi antara lain, Biaya bahan bakar, biaya perbaikan, biaya
pemeliharaan, biaya asuransi, biaya makan, dsb.

Penggolongan biaya atas dasar Fungsi pokok dalam perusahaan


Penggolongan biaya ini dihubungkan dengan fungsi-fungsi yang ada dalam perusahaan. Dalam
perusahaan manufaktur terdapat tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi administrasi
umum dan fungsi pemasaran. Oleh karena itu, apabila didasarkan atas fungsi-fungsi pokok di
dalam perusahaan manufaktur biaya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :

1. Biaya Produksi
Biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk
dijual.
2. Biaya Pemasaran
Biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contoh, biaya
promosi, biaya iklan, gaji karyawan bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, dan
sebagainya.
3. Biaya Administrasi dan Umum
Biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.

Penggolongan biaya atas hubungan biaya dengan objek yang dibiayai


Dalam hubungannya dengan produk yang dibiayai, biaya dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Biaya produksi langsung
Biaya yang sejak terjadinya sudah mempunyai hubungan kausal (sebab akibat) dengan
kesatuan produk yang dibiayai. Apabila biaya produksi langsung tidak terjadi maka tidak
akan ada produk yang dihasilkan.
2. Biaya produksi tidak langsung
Biaya produksi yang tidak mempunyai hubungan kausal dengan kesatuan produk yang
dibiayai. Biaya produksi tidak langsung pasti terjadi meskipun pada suatu saat tidak ada
produk yang dihasilkan. Yang termasuk biaya produksi langsung adalah : Biaya bahan baku
dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya produksi tidak langsung disebut juga Biaya
Overhead Pabrik (BOP),
contohnya adalah biaya bahan penolong, upah tidak langsung, gaji pengawas pabrik, biaya
penyusutan gedung pabrik, penyusutan mesin dan biaya pemeliharaan mesin. Dalam
perusahaan manufaktur, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut Biaya
Utama (prime cost), sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead Pabrik
(BOP) secara bersama-sama disebut Biaya Konversi (conversion cost),
Biaya pemasaran dan biaya administrasi umum merupakan Biaya Komersial (commercial
expense)
Hubungan antara kedua penggolongan biaya yang terakhir diatas dapat digambarkan pada
gambar 1.1 dibawah ini.
Biaya Produksi Langsung
Biaya Bahan Baku Biaya Utama
Biaya Biaya Tenaga Kerja
Produksi Langsung

Biaya Konversi
Biaya Produksi Tidak Langsung
Biaya Overhead Pabrik

Biaya Biaya Pemasaran

Biaya Komersial
Biaya Administrasi
dan Umum

Penggolongan biaya atas dasar perilaku biaya dalam hubungannya dengan volume kegiatan
Dalam hubungannya dengan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1. Biaya Tetap
Biaya yang jumlah totalnya tidak berubah atau tetap dalam kisaran volume kegiatan
tertentu. Contoh biaya tetap antara lain biaya penyusutan, biaya gaji mandor, biaya
asuransi, dsb.
2. Biaya Variabel
Biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan volume
kegiatan. Contoh biaya variabel antara lain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
langsung
3. Biaya Semi Variabel
Biaya yang jumlah totalnya berubah tidak proporsional dengan volume kegiatan. Contoh
biaya semi variabel antara lain biaya lembur karyawan, biaya rekening listrik, Biaya
rekening telepon, dsb.

Penggolongan biaya atas dasar hubungannya dengan pusat biaya


Pusat biaya (expense center) adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi
manajernya diukur berdasarkan masukannya. Contoh pusat biaya dalam perusahaan tekstil
adalah departemen pintal, departemen tenun dan departemen bengkel.
Dalam hubungannya dengan pusat biaya, maka biaya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
Biaya langsung departemen dan Biaya tidak langsung departemen.

1. Biaya langsung departemen


Biaya yang secara langsung dapat dibebankan kepada departemen tertentu. Misalnya gaji
pegawai di departemen pintal, biaya penyusutan mesin pintal adalah biaya langsung
departemen pintal. Sedangkan biaya penyusutan mesin tenun dan gaji pegawai
departemen tenun adalah biaya langsung departemen tenun.
2. Biaya tidak langsung departemen
Biaya yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Misalnya departemen
pintal dan departemen tenun berada dibawah satu atap gedung pabrik, maka biaya
penyusutan gedung pabrik dan biaya pemeliharaan gedung pabrik tersebut digolongkan
sebagai biaya tidak langsung departemen pintal maupun departemen tenun.
Penggolongan biaya atas dasar hubungannya dengan periode pembukuan
Dalam hubungannya dengan periode pembukuan, biaya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Pengeluaran Modal (capital expenditure)
Pengeluaran biaya yang manfaatnya dapat dinikmati untuk lebih dari satu periode
akuntansi, misalnya biaya perbaikan gedung sebesar Rp. 10.000.000. apabila biaya
perbaikan tersebut jumlahnya dipandang relatif besar dan dapat menambah manfaat
gedung tersebut, maka biaya ini harus dianggap sebagai tambahan nilai investasi.
Pengeluaran tersebut di kapitalisasi dan disusut untuk beberapa periode.
2. Pengeluaran Penghasilan (revenue expenditure)
Pengeluaran biaya yang manfaatnya hanya dinikmati pada periode yang bersangkutan,
yaitu periode terjadinya biaya tersebut. Contoh pengeluaran jenis ini adalah biaya
pemeliharaan bangunan, biaya pemeliharaan mesin dan servis kendaraan.
Suatu pengeluaran biaya digolongkan sebagai pengeluaran modal ataukah sebagai
pengeluaran penghasilan ditentukan manajer berdasarkan kriteria sebagai berikut :
1. Besarnya jumlah pengeluaran
2. Manfaat pengeluaran tersebut untuk masa yang akan datang
3. Kebijakan manajemen

METODE PENGUMPULAN HARGA POKOK PRODUKSI


Pengumpulan harga pokok produksi sangat ditentukan oleh cara produksi. Secara garis
besar, cara memproduksi produk dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu : Produksi atas dasar
pesanan dan produksi massa.

1. Produksi atas dasar pesanan


Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melakukan pengolahan produknya
atas dasar pesanan yang diterima dari pemesan, contoh perusahaan semacam ini antara
lain adalah perusahaan percetakan, perusahaan mebel, perusahaan dok kapal.
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan, mengumpulkan harga pokok
produksinya dengan menggunakan Metode Harga Pokok Pesanan (job order cost
methods), dimana dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan
tertentu dan harga pokok produksi per satuan produk yang dihasilkan untuk memenuhi
pesanan tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk tersebut
dengan jumlah satuan produk dari pesanan yang bersangkutan.

2. Produksi massa
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan produksi massa melakukan pengolahan
produksinya untuk memenuhi persediaan di gudang. Umumnya produknya berupa produk
standar. Contoh perusahaan yang berproduksi massa antara lain adalah perusahaan
semen, pupuk, tekstil, farmasi dan sebagainya.
Perusahaan yang berproduksi massa, mengumpulkan harga pokok produksinya dengan
menggunakan Metode Harga Pokok Proses (process cost methods}, dimana dalam metode
ini biaya-biaya produksi dikumpulkan dalam satu periode tertentu dan harga pokok produksi
per satuan produk yang dihasilkan dalam periode tersebut dihitung dengan cara membagi
total biaya produksi untuk periode tersebut dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan
dalam periode yang bersangkutan.

METODE PENENTUAN HARGA POKOK PRODUKSI


Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur
biaya ke dalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam
harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan, yaitu Full Costing dan Variable Costing
1. Full Costing
Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur
biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik, baik berperilaku tetap maupun variabel.
Dengan demikian harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari unsur biaya
produksi berikut ini :
Biaya bahan baku xxxxx
Biaya tenaga kerja langsung xxxxx
Biava overhead pabrik variabel xxxxx
Biaya overhead pabrik tetap xxxxx
Harga pokok produksi xxxxx

Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan full costing terdiri dari unsur harga
pokok produksi ditambah dengan biaya non produksi (biaya pemasaran, biaya administrasi
dan umum)

2. Variable Costing
Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya
produksi variabel ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Dengan demikian harga pokok
produksi menurut metode ini terdiri dari unsur biaya produksi berikut ini :
Biaya bahan baku xxxxx
Biaya tenaga kerja langsung xxxxx
Biaya overhead pabrik variabel xxxxx
Harga pokok produksi xxxxx
Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan variable costing terdiri dari unsur
harga pokok produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya
overhead pabrik variabel) ditambah dengan biaya nonproduksi variabel (biaya pemasaran
variabel, biaya administrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik
tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap)

SISTEM HARGA POKOK


Secara garis besar sistem harga pokok dapat dibagi menjadi dua; yaitu sistem harga
pokok historis dan sistem harga pokok yang ditentukan di muka.

1. Sistem harga pokok historis (historical cost system)


Sistem harga pokok historis adalah sistem perhitungan harga pokok berdasarkan biaya
yang sesungguhnya terjadi. dalam sistem ini harga pokok produk dihitung dengan cara
menjumlahkan seluruh biaya produksi yang terjadi selama periode tertentu setelah proses
produksi selesai. Harga produk per satuan dihitung dengan membagi jumlah biaya produksi
dengan jumlah produk yang dihasilkan pada periode yang bersangkutan.
Misalnya, pada tahun 2001 perusahaan memproduksi semacam barang sebanyak 100.000
unit. Untuk menghasilkan barang tersebut telah dikeluarkan biaya produksi sebagai berikut :
Biaya bahan baku Rp. 150.000.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 200.000.000
Biaya overhead pabrik Rp. 100.000.000
Harga pokok produksi Rp. 450.000.000
Berdasarkan contoh tersebut harga pokok per satuannya adalah :
Rp . 450.000.00 0
= Rp. 4.500
100 .000
2. Sistem harga pokok yang ditentukan di muka (pre determined cost system)
Sistem harga pokok yang ditentukan di muka adalah sistem perhitungan harga pokok
berdasarkan biaya yang ditentukan terlebih dahulu sebelum proses produksi atau
penyerahan jasa dilakukan, misalnya sistem harga pokok standar (standard cost system).
Dalam sistem harga pokok standar, harga pokok barang per satuan ditetapkan berdasarkan
standar biaya yang seharusnya terjadi. Misalnya sebelum proses produksi selesai,
perusahaan menetapkan harga pokok kemeja per satuan berdasarkan standar sebagai
berikut:
Biaya bahan baku 1,5 meter @ Rp. 9.000 per meter
Biaya tenaga kerja langsung 3 jam @ Rp. 1.500 per jam
Biaya overhead pabrik 3 jam @ Rp. 1.000 per jam
Harga pokok standar per unit

Sistem harga pokok ini dapat diterapkan pada metode harga pokok pesanan maupun
metode harga pokok proses pada perusahaan yang sudah mapan (established) dan
menggunakan teknologi maju.

PERBEDAAN ANTARA AKUNTANSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN AKUNTANSI


PERUSAHAAN DAGANG
Akuntansi perusahaan manufaktur dan akuntansi perusahaan dagang berbeda dalam hal
rekening-rekening yang disajikan dalam laporan keuangan, yaitu neraca dan laporan laba-rugi.
Disamping itu dalam perusahaan manufaktur harus membuat laporan biaya produksi.
Perbedaan keduanya diuraikan sebagai berikut:

Perbedaan dalam neraca


Di dalam neraca perusahaan dagang, hanya terdapat satu rekening persediaan barang, yaitu
Persediaan barang dagangan, sedangkan rekening persediaan dalam neraca perusahaan
manufaktur meliputi persediaan bahan baku, persediaan bahan penolong, persediaan barang
dalam proses, persediaan barang jadi dan persediaan suplai perlengkapan pabrik.

Perbedaan dalam laporan laba rugi


Perbedaan dalam laporan laba-rugi antara perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur
terletak pada perhitungan harga pokok penjualan. Pada perusahaan dagang barang tersedia
untuk dijual diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal dan pembelian bersih, sedangkan
pada perusahaan manufaktur diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal barang jadi dan
harga pokok produksi.
Untuk lebih jelasnya, diilustrasikan pada gambar 2.1 dibawah ini

Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur

Harga Pokok Penjualan Harga Pokok Penjualan


Persediaan awal barang dagang Rp. 10.000 Persediaan awal barang jadi Rp. 20.000
Pembelian bersih Rp. Harga Pokok Produksi Rp.
Barang tersedia untuk dijual Barang tersedia untuk dijual
125.0 215
Persediaan akhir barang dagang Persediaan akhir barang jadi
00 .00
Harga Pokok Penjualan Harga Pokok Penjualan 0
Rp. 135.000
Rp. Rp. 235.000
Rp.
15.00
0 25.
Rp. 120.000 000
Rp. 210.000
Perusahaan Manufaktur
Laporan Harga Pokok Produksi
Persediaan awal barang dalam proses Rp. 12.000
Biaya produksi :
Biaya bahan baku Rp. 65.000
Biaya tenaga kerja langsung Rp. 73.000
Biaya overhead pabrik Rp.
Rp. 218.000
80.0
Rp.
00
Persediaan awal barang dalam proses
23
Harga pokok produksi
0.0
00
Rp. 15.000
Rp.

21
5.0
00

Gambar 2.1. Perbedaan antara perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur dalam perhitungan
harga pokok produksi

HARGA POKOK PRODUKSI


Harga pokok produksi adalah biaya yang terjadi dalam rangka untuk menghasilkan barang atau
produk jadi yang siap untuk dijual. Biaya produksi dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

1. Biaya Bahan Baku


Biaya bahan baku adalah Bahan yang digunakan untuk menghasilkan barang jadi dan
secara fisik menjadi bagian dari produk tersebut. Misalnya, pemakaian bahan berupa kulit,
benang, paku, lem dan cat pada perusahaan sepatu.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung


Merupakan biaya yang dibayarkan kepada tenaga langsung Istilah tenaga kerja langsung
digunakan untuk menunjuk tenaga kerja (karyawan) yang terlibat langsung dalam
pengolahan bahan langsung atau bahan baku menjadi barang jadi. Misalnya upah yang
dibayarkan kepada karyawan bagian pemotongan atau bagian perakitan atau bagian
pengecatan pada perusahaan mebel.

3. Biaya Overhead Pabrik


Biaya overhead pabrik (biaya produksi tidak langsung) adalah biaya produksi selain biaya
bahan baku dan tenaga kerja langsung. Misalnya biaya tenaga kerja tidak langsung, bahan
pembantu atau penolong, reparasi dan pemeliharaan mesin, pemeliharaan gedung pabrik,
biaya listrik pabrik, biaya penyusutan mesin dan lain-lain.

LAPORAN LABA-RUGI DAN LAPORAN HARGA POKOK PRODUKSI


Untuk menyusun laporan laba rugi, perusahaan manufaktur memerlukan informasi
mengenai harga pokok produksi dalam periode yang bersangkutan. Informasi tersebut diperoleh
dari perhitungan harga pokok produksi yang secara formal merupakan laporan harga pokok
produksi dan menjadi lampiran dari laporan laba-rugi.
SOAL LATIHAN

1. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara tipe akuntansi keuangan dan tipe akuntansi
manajemen
2. Jelaskan bahwa akuntansi biaya merupakan bagian tak terpisahkan dengan akuntansi
keuangan dan akuntansi manajemen.
3. Sebutkan tiga tujuan pokok akuntansi biaya dan Jelaskan apa yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut.
4. Apakah betul bahwa penerapan akuntansi biaya terbatas pada perusahaan manufaktur ?
Jelaskan
5. Klasifikasikan dengan memberikan tanda “√” pada kolom yang tersedia, apakah pos-pos
berikut merupakan biaya, harga pokok ataukah pengeluaran

Keterangan Harga Pokok Biaya Rugi Pengeluaran


Pembelian bahan baku
Pembayaran gaji dan upah
Persekot sewa gudang
Pembayaran utang dagang
Pembayaran premi asuransi
Pembelian peralatan kantor
Penyusutan gedung
Pemakaian bahan baku
Pengambilan uang tunai untuk prive
Bahan baku rusak tidak normal
Bahan baku rusak normal

6. Klasifikasikan dengan memberikan tanda “√” pada kolom yang tersedia, apakah biaya-biaya
berikut merupakan biaya tetap, biaya variabel atau biaya semi variabel.
Keterangan Biaya tetap Biaya Variabel Biaya semi variabel
Biaya bahan baku
Biaya asuransi
Biaya listrik
Penyusutan metode garis lurus
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya sewa
Reparasi dan pemeliharaan
Gaji mandor
Bahan penolong

7. Klasifikasikan dengan memberikan tanda “√” pada kolom yang tersedia, apakah pos-pos
berikut merupakan biaya utama, biaya konversi ataukah biaya komersial
Keterangan Biaya umum Biaya Variabel Biaya semi
Biaya bahan baku variabel

Penyusutan kendaraan bagian penjualan


Penyusutan kendaraan bagian produksi
Penyusutan kendaraan direktur
Gaji pimpinan perusahaan

8. Klasifikasikan dengan memberikan tanda “√” pada kolom yang tersedia, apakah pos-pos
berikut merupakan biaya langsung ataukah biaya tidak langsung departemen

Biaya Langsung Biaya Tidak Langsung


Keterangan
Departemen Departemen
Penyusutan mesin departemen A
Penyusutan mesin departemen B
Penyusutan gedung pabrik
Gaji pengawas pabrik
Gaji mandor departemen A
Gaji mandor departemen B
Biaya asuransi pabrik
Pajak bumi dan bangunan
Reparasi mesin departemen A

9. Jelaskan perbedaan antara metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok
proses
10. Jelaskan tipe produksi yang pengumpulan harga pokoknya menggunakan metode
harga pokok pesanan dan berikan contohnya.
11. Jelaskan ripe produksi yang pengumpulan harga pokoknya menggunakan metode
harga pokok proses dan berikan contohnya.
2. METODE HARGA POKOK PESANAN
Metode harga pokok pesanan adalah suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk
menentukan harga pokok produk pada perusahaan yang menghasilkan produk atas dasar
pesanan. Tujuan dari penggunaan metode harga pokok pesanan adalah untuk menentukan
harga pokok produk dari setiap pesanan baik harga pokok secara keseluruhan dari tiap-tiap
pesanan maupun untuk per satuan.

SIKLUS AKUNTANSI BIAYA DALAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR


Siklus akuntansi biaya dari suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh siklus kegiatan
usaha perusahaan tersebut. Siklus kegiatan perusahaan dagang dimulai dengan pembelian
barang dagangan tanpa melalui pengolahan lebih lanjut yang diakhiri dengan penjualan kembali
barang dagangan tersebut. Dalam perusahaan dagang, siklus akuntansi biaya dimulai dengan
pencatatan harga pokok barang dagangan yang dibeli dan berakhir dengan penyajian harga
pokok barang dagangan yang dijual. Tujuan akuntansi biaya dalam perusahaan dagang adalah
untuk menyajikan informasi harga pokok barang dagangan yang dijual, biaya administrasi dan
umum serta biaya pemasaran.
Siklus kegiatan usaha perusahaan jasa dimulai dengan persiapan penyerahan jasa dan
berakhir dengan penyerahan jasa kepada penggunannya. Dalam perusahaan jasa, siklus
akuntansi dimulai dengan pencatatan biaya persiapan penyerahan jasa dan berakhir dengan
disajikannya harga pokok jasa yang diserahkan. Akuntansi biaya dalam perusahaan jasa
bertujuan untuk menyajikan informasi harga pokok per satuan jasa yang diserahkan kepada
pemakai jasa.
Siklus kegiatan usaha perusahaan manufaktur dimulai dari pengolahan bahan baku pada
bagian produksi dan berakhir dengan penyerahan produk jadi ke bagian gudang. Dalam
perusahaan manufaktur, siklus akuntansi biaya dimulai dengan pencatatan harga pokok bahan
baku yang dimasukkan dalam proses produksi dan berakhir dengan disajikannya harga pokok
barang jadi yang diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang. Akuntansi biaya dalam
perusahaan manufaktur bertujuan untuk menyajikan informasi harga pokok produksi per satuan
produk jadi yang diserahkan ke bagian gudang.
Siklus akuntansi biaya dalam perusahaan manufaktur digunakan digunakan untuk
mengikuti proses pengolahan produk, sejak dari dimasukkannya bahan baku ke dalam proses
produksi sampai dengan selesai atau dihasilkannya produk jadi dari proses produksi tersebut.
Hubungan antara siklus pembuatan produk dan siklus akuntansi biaya dapat dilihat pada
gambar 2.1.
SIKLUS PEMBUATAN PRODUK SIKLUS AKUNTANSI BIAYA

Pembelian dan Penentuan Harga


penyimpanan Pokok bahan
bahan baku baku yang dibeli

Penentuan harga Biaya


Biaya Tenaga
pokok bahan baku Overhead
Kerja Langsung
Pengolahan bhn yang dipakai Pabrik
baku menjadi
barang jadi

Pengumpulan
biaya produksi

Penyimpanan
Barang Jadi
dalam Gudang Penentuan harga
pokok barang
jadi

Gambar 2.1 Siklus Pembuatan Produk dan Siklus Akuntansi Biaya

Siklus akuntansi biaya dapat juga digambarkan melalui hubungan rekening-rekening


dalam buku besar. Untuk menampung biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku
menjadi produk atau barang jadi, di dalam buku besar dibentuk rekening-rekening berikut:

Barang Dalam Proses Digunakan untuk mencatat pemakaian biaya bahan baku,
(Work In Process) biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik
(debet) dan harga pokok barang jadi yang di transfer ke
gudang (kredit)
Persediaan Bahan Baku Digunakan untuk mencatat harga pokok bahan baku yang
dibeli (debet) dan harga pokok bahan baku yang dipakai
dalam produksi (kredit)
Gaji dan Upah Rekening ini merupakan rekening antara (clearing account) yang
digunakan untuk mencatat
Biaya Overhead Pabrik Digunakan untuk mencatat biaya overhead pabrik yang
(BOP) sesungguhnya terjadi (debet) dan yang dibebankan kepada
produk berdasarkan tarif (kredit)
Persediaan Barang Jadi Digunakan untuk mencatat harga pokok barang jadi yang di
transfer dari bagian produksi ke bagian gudang (debet) dan
harga pokok produk yang dijual (kredit)

Sedangkan siklus akuntansi biaya yang digambarkan melalui hubungan rekening-rekening


dalam buku besar dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini.
Gambar 2.2 Aliran Biaya Produksi dalam Rekening Buku Besar

KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PESANAN


Pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh karakteristik
kegiatan produksi perusahaan tersebut. Untuk itu sebelum membahas metode harga pokok
pesanan, terlebih dahulu diuraikan beberapa karakteristik kegiatan usaha perusahaan yang
produksinya berdasarkan pesanan yang berpengaruh terhadap metode pengumpulan biaya
produksi.

Karakteristik Kegiatan Usaha Perusahaan yang Produksinya Berdasarkan Pesanan


Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan mengolah bahan baku menjadi barang
jadi berdasarkan pesanan dari luar atau dari dalam perusahaan. Karakteristik kegiatan usaha
perusahaan tersebut antara lain :
1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus (intermitteri).]ika pesanan tertentu
selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan<i)ulai dengan pengerjaan pesanan
berikutnya.
2. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yarig telah ditentukan oleh pemesan.
Sehingga pesanan yang satu dapat berbeda dengan pesan?.n yang lain.
3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan di
gudang.

Karakteristik Metode Harga Pokok Pesanan


Karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan tersebut diatas
berpengaruh terhadap pengumpulan biaya produksinya. Metode pengumpulan biaya produksi
dengan metode harga pokok pesanan digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan
pesanan memiliki ka rakteristik sebagai berikut :
1. Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi yang
ditentukan pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara
individual.
2. Biaya produksi harus diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan produk menjadi
dua kelompok, yaitu : Biaya Produksi Langsung dan Biaya Produksi Tidak Langsung
3. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung,
sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan istilah Biaya Overhead Pabrik (BOP).
4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok produksi pesanan
tertentu biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan
harga pokok pesanan berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
5. Untuk mengumpulkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan BOP pada setiap
pesanan digunakan Kartu Harga Pokok Pesanan (Job Order Cost Sheet)
6. Harga pokok produksi per unit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara
membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah
unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.

MANFAAT INFORMASI HARGA POKOK PRODUKSI PER PESANAN


Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi harga pokok produksi per
pesanan bermanfaat bagi manajemen dalam :
1. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan
2. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan terhadap pesanan tertentu.
3. Memantau realisasi biaya produksi
4. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan
5. Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan barang dalam proses yang disajikan dalam
neraca.

Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan


Perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan memproses produknya berdasarkan
spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan demikian biaya produksi pesanan yang satu
akan berbeda dengan biaya produksi pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang
dikehendaki oleh pemesan. Oleh karena itu harga jual yang dibebankan kepada pemesan
sangat ditentukan oleh besarnya produksi yang akan dikeluarkan untuk memproduksi pesanan
tertentu.

Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan


Ada kalanya harga jual produk yang dipesan oleh pemesan telah terbentuk di pasar,
sehingga keputusan yang perlu dilakukan oleh manajemen adalah menerima atau menolak
pesanan. Untuk memungkinkan pengambilan keputusan tersebut, manajemen memerlukan
informasi total harga pokok pesanan yang akan diterima tersebut. Informasi total harga pokok
pesanan memberikan perlindungan bagi manajemen agar dalam menerima pesanan
perusahaan tidak mengalami kerugian.

Memantau realisasi biaya produksi


Jika suatu pesanan telah diputuskan untuk diterima, manajemen memerlukan informasi
biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan di dalam memenuhi pesanan tertentu. Oleh
karena itu, akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi tiap
pesanan yang diterima untuk memantau apakah proses produksi untuk memenuhi tertentu
menghasilkan total biaya produksi pesanan sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya.

Menghitung laba atau rugi dap pesanan


Untuk mengetahui apakah suatu pesanan menghasilkan laba atau tidak, manajemen memerlukan
informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk memproduksi pesanan tertentu. Informasi laba
atau rugi tiap pesanan diperlukan untuk mengetahui kontribusi tiap pesanan dalam menutup biaya
non produksi dan menghasilkan laba atau rugi. Oleh karena itu, metode harga pokok pesanan
oleh manajemen untuk mengumpulkan informasi biaya produksi sesungguhnya keluarkan untuk
tiap pesanan guna menghasilkan informasi laba atau rugi tiap pesanan.
Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan batang dalam proses yang disajikan
neraca
Pada saat perusahaan dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik,
manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Di dalam
neraca manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan barang jadi dan harga pokok
yang sampai dengan tanggal neraca masih dalam proses. Untuk tujuan tersebut, manajemen
perlu menyelenggarakan pencatatan biaya produksi untuk setiap pesanan. Berdasarkan catatan
biaya produksi tiap pesanan tersebut manajemen dapat menentukan biaya produksi yang
melekat pada pesanan yang telah selesai diproduksi, namun pada tanggal neraca belum
diserahkan kepada pemesan. Di samping itu, berdasarkan catatan itu pula manajemen dapat
menentukan harga pokok dari produk yang sampai dengan tanggal penyajian neraca masih
dalam proses pengerjaan.

REKENING KONTROL DAN REKENING PEMBANTU


Untuk mengumpulkan biaya produksi dari setiap pesanan dipergunakan sebuah Kartu
Harga Pokok (Job cost sheet). Jumlah kartu harga pokok yang harus dibuat disesuaikan
dengan banyaknya jumlah pesanan yang dikerjakan. Kartu harga pokok dibuat bernomor urut.
Kartu harga pokok disamping dipergunakan untuk menghitung harga pokok untuk setiap
pesanan juga berfungsi sebagai rekening pembantu (subsidiary account) dari rekening barang
dalam proses dalam buku besar (rekening kontrol) yang berfungsi untuk mencatat biaya produksi
secara keseluruhan. Akuntansi biaya menggunakan banyak rekening pembantu untuk merinci
biaya-biaya produksi. Rekening-rekening pembantu ini dikontrol ketelitiannya dengan
menggunakan rekening kontrol (controlling account) di dalam buku besar. Rekening kontrol
menampung data yang bersumber dari jurnal, sedangkan rekening pembantu digunakan untuk
menampung data yang bersumber dari dokumen sumber.
Jadi Hubungan antara rekening kontrol dengan rekening pembantu, yaitu bahwa
rekening pembantu merupakan perincian daripada rekening kontrol. Hubungan antara rekening
kontrol dengan rekening pembantu dapat digambarkan pada gambar 2.3.
Untuk mencatat biaya, di dalam akuntansi biaya digunakan rekening kontrol dan rekening
pembantu berikut ini:

Rekening Kontrol Rekening Pembantu


Persediaan Bahan Baku Kartu Persediaan
Persediaan Bahan Penolong Kartu Persediaan
Barang Dalam Proses Kartu Harga Pokok (Job cost sheet)
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Kartu Biaya
Biaya Administrasi dan Umum Kartu Biaya
Biaya Pemasaran Kartu Biaya
Persediaan Barang Jadi Kartu Persediaan

Buku Besar Neraca


Dokumen Neraca
Jurnal Rekening kontrol
Sumber Lajur
Barang Dlm Proses
Laporan
Laba Rugi

Buku Besar Pembantu


Laporan Biaya
Kartu Harga Pokok Produksi
Gambar 2.3 Hubungan antara Rekening Kontrol dan Rekening Pembantu
Karena transaksi terjadinya biaya yang dicatat dalam buku besar berasal dari jurnal,
maka melaksanakan identifikasi transaksi yang terjadi, harus disebutkan nama rekening yang harus
debet atau di kredit dalam buku besar. Oleh karena itu penggolongan transaksi pada waktu
membuat jurnal selalu menyebut nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
Untuk mencatat biaya produksi, di dalam buku besar dibentuk rekening kontrol Barang Proses.
Rekening ini dipecah lagi menjadi unsur biaya produksi, sehingga ada tiga macam rekening
Barang Dalam Proses berikut ini :

Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku


Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik

Jika produk diolah melalui beberapa departemen produksi, rekening Barang Dalam
Proses dapat dirinci lebih lanjut menurut departemen dan unsur biaya produksi seperti contoh berikut
ini :
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Departemen A
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen A
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Departemen A
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Departemen B
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Departemen B
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik Departemen B

Untuk mencatat biaya non produksi, dalam buku besar dibentuk rekening kontrol sesuai
dengan kelompok pengeluaran dari biaya itu sendiri, yaitu Biaya Administrasi dan Umum dan Biaya
pemasaran. Biaya administrasi dan umum digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi
ada fungsi administrasi dan umum, misalnya biaya yang terjadi di bagian akuntansi, bagian
personalia, bagian hubungan masyarakat, sekretariat dan bagian pemeriksa intern. Sedangkan biaya
pemasaran digunakan untuk menampung biaya-biaya yang terjadi pada fungsi pemasaran.

KARTU HARGA POKOK (JOB ORDER COST SHEET)


Kartu harga pokok merupakan catatan penting dalam metode harga pokok pesanan,
kartu harga pokok ini berfungsi sebagai rekening pembantu yang digunakan untuk mengumpulkan
biaya produksi tiap pesanan produk. Biaya produksi untuk pengerjaan suatu pesanan dicatat
secara rinci di dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan.
Biaya produksi dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak
langsung dalam hubungannya dengan pesanan tersebut. Biaya produksi langsung dicatat dalam
kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya produksi
tidak langsung dicatat dalam kartu harga pokok berdasarkan suatu tarif tertentu. Contoh kartu
harga pokok dapat dilihat pada gambar 2.4
PT. RIFANI
BOGOR

KARTU HARGA POKOK PESANAN


No. Pesanan : 101 Pemesan : PT. Rizki
Jenis Produk : Undangan Sifat Pesanan : Segera
Tgl. Pesan : 9 September 2000 Jumlah : 2.000 eksemplar
Tgl. Selesai : 23 September 2000 Harga Jual : Rp. 1.500

Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik


Langsung
Dasar
No. Keteranga No.
Tgl Jumlah Tgl Jumlah Tgl Pembebana Tarif Jumlah
BPBG n KJK
n
Gambar 2.4 Kartu Harga Pokok (Job Cost Sheet)

METODE HARGA POKOK PESANAN


Setelah diuraikan karakteristik metode harga pesanan, berikut mi diuraikan proses
pengumpulan tiap unsur biaya produksi dengan menggunakan metode harga pokok pesanan.
Pembahasan metode harga pokok produksi diawali dengan uraian prosedur pencatatan biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik dan pencatatan harga pokok
barang jadi yang di transfer dari bagian produksi ke bagian gudang.
Untuk menggambarkan penggunaan metode harga pokok pesanan, berikut ini disajikan
contoh pengumpulan biaya produksi dengan metode harga pokok pesanan dan pendekatan full
costing dalam penentuan harga pokok produksi.

Contoh:
PT. Rifani berusaha dalam bidang percetakan. Semua pesanan diproduksi berdasarkan
spesifikasi dari pemesan dan biaya produksi dikumpulkan menurut pesanan yang diterima.
Pendekatan yang digunakan perusahaan dalam penentuan harga pokok produksi adalah full
costing. Untuk dapat mencatat biaya produksi, tiap pesanan diberi nomor dan setiap dokumen
sumber dan dokumen pendukung diberi identitas nomor pesanan yang bersangkutan. Pada
Bulan September 2000, PT. Rifani menerima pesanan dari PT. Rizki untuk mencetak undangan
sebanyak 2000 eksemplar lengan harga Rp 1.500 per lembar. Selain itu pada bulan itu juga PT.
Rifani menerima pesanan untuk mencetak pamflet iklan sebanyak 10.000 per lembar dari PT.
Amelia, dengan harga yang disepakati sebesar Rp. 1.000 per lembar . Amelia diberi nomor 102.
Berikut ini adalah kegiatan produksi dan kegiatan lain untuk memenuhi pesanan tersebut.
Pembelian Bahan Baku dan Bahan Penolong
Pada tanggal 3 September perusahaan membeli bahan baku dan bahan penolong
sebagai berikut:
Bahan Baku :
Kertas X .250 lembar @ Rp 2.000 Rp 500.000
Kertas Y 25 rim @ Rp 25.000 625.000
Jumlah bahan baku yang dibeli Rp 1.125.000
Bahan Penolong:
Macam-macam bahan penolong Rp 175.000
Jumlah total Rp 1.300.000
Bahan baku dan bahan penolong tersebut dibeli oleh Bagian Pembelian. Bahan tersebut
kemudian disimpan dalam gudang menunggu sampai saatnya dipakai dalam proses produksi
untuk memenuhi pesanan tersebut

JURNAL #1
Ada dua metode yang dapat digunakan dalam pencatatan ini, yaitu Metode Perpetual dan
Metode Phisik.
− Metode perpetual (perpetual inventory methods)
Persediaan Bahan Baku Rp 1.125.000
Persediaan Bahan Penolong 175.000
Utang Dagang Rp 1.300.000

− Metode Phisik (Physical inventory methods)


Pembelian Rp 1.300.000
Utang dagang Rp 1.300.000

2. Pemakaian Bahan Baku dan Bahan Penolong dalam Produksi


Untuk mencatat pemakaian bahan baku dan bahan penolong untuk setiap pesanan,
perusahaan M enggunakan dokumen Bukti Permintaan dan Pengeluaran Barang Gudang.
Dokumen ini diisi oleh bagian Produksi dan diserahkan ke Bagian Gudang untuk meminta
bahan yang diperlukan oleh bagian produksi.
Untuk memproses pesanan # 101 dan 102, bahan baku dan penolong yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Untuk pesanan 101 :
Kertas X 215 lembar @ Rp. 2000 Rp 430.000
Untuk pesanan 102 :
Kertas Y 21 rim @ Rp 25.000 Rp 525.000
Jumlah bahan baku yang dipakai Rp 955.000
Pada saat memproses dua pesanan tersebut, perusahaan menggunakan bahan penolong
sebesar Rp 200.000
Pencatatan pemakaian bahan baku dalam metode harga pokok pesanan dilakukan dengan
mendebet rekening Barang Dalam Proses dan mengkredit rekening Persediaan Bahan
Baku. Pendebetan rekening Barang Dalam Proses ini diikuti dengan pencatatan rincian
bahan baku yang dipakai dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan (lihat garnbar
2.5 dan 2.6) Karena dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara biaya
produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung, maka bahan penolong yang
merupakan unsur biaya produksi tidak langsung dicatat pemakaiannya dengan mendebet
rekening kontrol BOP sesungguhnya.
JURNAL # 2
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 955.000
BOP Sesungguhnya 200.000
Persediaan Bahan Baku Rp 955.000
Persediaan Bahan Penolong 200.000

3. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja


Dalam metode harga pokok pesanan harus dipisahkan antara upah tenaga kerja langsung
dengan upah tenaga kerja tidak langsung. Upah tenaga kerja langsung dicatat dengan
mendebet rekening Barang Dalam Proses dan dicatat juga dalam kartu harga pokok
pesanan yang bersangkutan.
Upah tenaga kerja tidak langsung dicatat dengan mendebet rekening BOP sesungguhnya. Dari
contoh diatas, misalnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh departemen produksi
adalah sebagai berikut:
Upah langsung untuk pesanan #101, 250 jam @ 2.000 Rp 500.000
Upah langsung untuk pesanan # 102, 800 jam @ 2.500 2.000.000
Upah tidak langsung 800.000
Jumlah upah Rp. 3.300.000
Gaji karyawan administrasi dan umum 1.200.000
Gaji karyawan bagian pemasaran 1.500.000
Jumlah biaya tenaga kerja Rp 3.300.000

Pencatatan biaya tenaga kerja dilakukan melalui 3 tahap berikut ini:


a. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan
b. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja.
c. Pencatatan pembayaran gaji dan upah
Dari data diatas jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut:
a. Pencatatan biaya tenaga kerja yang terutang oleh perusahaan
Atas dasar daftar gaji dan upah yang dibuat, jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
yang terutang oleh perusahaan adalah sebagai berikut:
JURNAL # 3
Gaji dan Upah Rp 3.300.000
Utang Gaji dan Upah Rp 3.300.000

b. Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja


Karena biaya tenaga kerja tersebut terdiri dari berbagai unsur biaya, maka perlu
diadakan distribusi biaya tenaga kerja sebagai berikut:
Biaya Tenaga Kerja Langsung : Dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan
dengan mendebet rekening Barang Dalam
Proses dan juga sekaligus dicatat dalam Kartu
Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan
Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung : Merupakan unsur biaya produksi tidak langsung
dan dicatat sebagai unsur BOP serta didebetkan
dalam rekening BOP sesungguhnya
Biaya Tenaga Kerja Non produksi : Merupakan unsur biaya non produksi dan
dibebankan ke dalam rekening kontrol Biaya
Administrasi dan Umum atau Biaya Pemasaran
Jurnal distribusi biaya tenaga kerja dari contoh diatas adalah sebagai berikut:
JURNAL #4
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga, Kerja Langsung Rp 2.500.000
BOP Sesungguhnya 800.000
Biaya Administrasi dan Umum 1.200.000
Biaya Pemasaran 1.500.000
Gaji dan Upah Rp 3.300.000

c. Pencatatan pembayaran gaji dan upah


Pencatatan pembayaran gaji dan upah yang terutang dicatat dengan jurnal berikut ini :
JURNAL #5
Utang Gaji dan Upah Rp 3.300.000
Kas Rp 5.300.000

4. Pencatatan Biaya Overhead Pabrik (BOP)


Pencatatan BOP dibagi menjadi dua, yaitu Pencatatan BOP yang dibebankan kepada
produk atas dasar tarif yang ditentukan dimuka dan Pencatatan BOP yang sesungguhnya
terjadi.
Di dalam metode harga pokok pesanan, produk dibebani BOP dengan menggunakan tarif
yang telah ditentukan di muka. Tarif BOP ini dihitung pada awal tahun anggaran,
berdasarkan anggaran BOP. Pembebanan BOP atas dasar tarif ini dicatat dengan
mendebet rekening Barang Dalam Proses dan mengkredit rekening BOP rang dibebankan
(BOP Applied).
BOP yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebet rekening kontrol BOP
sesungguhnya dan mengkredit berbagai macam rekening dari perincian BOP yang
sesungguhnya terjadi tersebut.
Selanjutnya secara periodik (misalnya setiap akhir bulan), BOP yang dibebankan
berdasarkan tarif tersebut dibandingkan dengan BOP yang sesungguhnya terjadi dan
dihitung selisihnya.
Perbandingan ini dilakukan dengan menutup rekening BOP yang dibebankan ke dalam rekening
BOP sesungguhnya.
Dari contoh diatas, misalnya BOP yang dibebankan kepada produk atas dasar tarif sebesar
150 % dari biaya tenaga kerja langsung. Dengan demikian BOP yang dibebankan kepada
tiap pesanan adalah sebagai berikut:
Pesanan # 101 : 150 % x Rp 500.000 Rp. 750.000
Pesanan # 101 : 150 % x Rp 2.000.000 3.000.000
Jumlah BOP yang dibebankan Rp 3.750.000

Jurnal untuk mencatat pembebanan BOP kepada pesanan tersebut adalah sebagai berikut:
JU R N A L # 6
Barang Dalam Proses - BOP Rp 3.750.000
BOP yang dibebankan Rp 3.750.000

Misalnya BOP yang sesungguhnya terjadi (selain biaya bahan penolong Rp 200.000 dan
biaya tenaga kerja tidak langsung Rp 800.000, seperti tercatat pada jurnal # 2 dan jurnal #
4) adalah sebesar Rp 2.700.000. dengan perincian sebagai berikut:
Biaya penyusutan mesin Rp 800.000
Biaya penyusutan gedung pabrik 1.000.000
Biaya asuransi gedung dan mesin 300.000
Biaya pemeliharaan gedung dan mesin 600.000
Jumlah Rp 2.700.000

Jurnal untuk mencatat BOP yang sesungguhnya terjadi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
JURNAL #7
BOP sesungguhnya Rp 2.700.000
Akumulasi penyusutan mesin Rp 800.000
Akumulasi penyusutan gedung 1.000.000
Persekot asuransi 300.000
Persediaan bahan bangunan dan suku cadang 600.000
Untuk mengetahui apakah BOP yang dibebankan berdasarkan tarif tidak menyimpang dan
BOP yang sesungguhnya terjadi, saldo rekening BOP yang dibebankan ditutup ke rekening
BOP sesungguhnya. Jurnal penutup tersebut adalah sebagai berikut :
JURNAL #8
BOP yang dibebankan Rp 3.730.000
BOP sesungguhnya Rp 3.750.000
Selisih BOP yang dibebankan kepada produk dengan BOP yang sesungguhnya terjadi
dalam suatu periode akuntansi ditentukan dengan menghitung saldo rekening BOP
sesungguhnya. Setelah Jurnal # 8 dibukukan, saldo rekening BOP sesungguhnya menjadi
sebagai berikut:
Debet:
jurnal #2 Rp 200.000
jurnal # 4 800.000
jurnal # 7 2..700.000
Jumlah Debet Rp 3.700.000
Kredit:
jurnal #8 Rp 3.750.000
BOP dibebankan lebih (over applied) Rp 50.000

Selisih BOP pada akhirnya dipindahkan ke rekening Selisih BOP. Jika terjadi selisih
pembebanan lebih (over applied), maka jurnal yang dibuat adalah :
BOP sesungguhnya Rp 50.000
Selisih BOP Rp 50.000

Bila kondisi sebaliknya terjadi atau terjadi selisih BOP dibebankan kurang (under applied) jurnal
yang harus dibuat adalah
Selisih BOP xxxxx
BOP sesungguhnya xxxxx
5. Pencatatan Harga Pokok Barang Jadi
Pesanan yang telah selesai di produksi di transfer ke Bagian Gudang oleh Bagian Produksi.
Harga pokok pesanan yang telah selesai diproduksi ini dihitung dari informasi biaya yang
dikumpulkan dalam kartu harga pokok pesanan yang bersangkutan. (lihat gambar 2.5)
Misalnya dari contoh diatas pesanan # 101 telah selesai di produksi, maka dari kartu harga
pokoknya (lihat gambar 2.5) akan dapat dihitung biaya produksi yang telah dikeluarkan
untuk pesanan yang bersangkutan. Harga pokok pesanan #101 dihitung sebagai berikut:

Biaya bahan baku Rp 430.000


Biaya tenaga kerja langsung 500.000
Biaya bahan baku 750.000
Jumlah harga pokok pesanan #101 Rp 1.680.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok barang jadi (pesanan # 101) adalah sebagai berikut:
JURNAL # 10
Persediaan Barang Jadi Rp 1.680.000
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp. 430.000
Barang Dalam Proses - Biaya TK Langsung 500.000
Barang Dalam Proses – BOP 750.000

Gambar 2.5 Hubungan Rekening Kontrol BDP dan Kartu Harga Pokok
6. Pencatatan Harga Pokok Barang Dalam Proses
Pada akhir periode kemungkinan terdapat pesanan yang belum selesai diproduksi. Biaya
yang telah dikeluarkan untuk pesanan tersebut dapat dilihat dalam kartu harga pokok
(gambar 2.5) yang bersangkutan. Kemudian dibuat jurnal untuk mencatat persediaan
barang dalam proses dengan mendebet rekening Persediaan Barang Dalam Proses dan
mengkredit rekening Barang Dalam Proses.
Misalnya dari contoh diatas, pesanan # 1 0 2 pada akhir periode akuntansi belum selesai
dikerjakan. Harga pokok pesanan #102 dihitung dengan menjumlahkan biaya-biaya
produksi yang telah dikeluarkan sampai dengan akhir bulan September 2000 yang telah
dicatat dalam kartu harga pokok pesanan (lihat gambar 2.5).
Jurnal untuk mencatat harga pokok pesanan yang belum selesai adalah sebagai berikut:

JURNAL # 11
Persediaan Barang Dalam Proses Rp 5.525.000
Barang Dalam Proses - Bkya Bahan Baku Rp. 525.000
Barang Dalam Proses - Biaya TK Langsung Rp. 2.000.000
Barang Dalam Proses - BOP Rp. 3.000.000

7. Pencatatan Harga Pokok Barang yang Dijual (HPP)


Harga pokok produk yang diserahkan kepada pemesan dicatat dalam rekening Harga
Pokok Penjualan dan rekening Persediaan Barang Jadi.
Dari contoh diatas, jurnal untuk mencatat harga pokok pesanan # 101 yang diserahkan
kepada pemesan adalah sebagai berikut:

JURNAL # 12
Harga Pokok Penjualan Rp 1.680.000
Persediaan Barang Jadi Rp. 1.680.000

8. Pencatatan Pendapatan Penjualan Produk


Pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk kepada pemesan dicatat dengan
mendebet rekening Piutang dagang dan mengkredit rekening Hasil Penjualan.
Dari soal diatas disebutkan bahwa pesanan 101 berupa surat undangan yang dipesan oleh
PT. Rizki sebanyak 2000 lembar dengan harga jual Rp 1.500 per lembar atau harga total
Rp 3.000.000. Sehingga jurnal yang harus dibuat adalah sebagai berikut:
JURNAL#13
Piutang Dagang Rp 3.000.000
Hasil Penjualan Rp 3.000.000

SOAL LATIHAN
1. Jelaskan siklus kegiatan usaha perusahaan dagang dan jelaskan siklus kegiatan akuntansi I:
biayanya
2. Jelaskan siklus kegiatan usaha perusahaan manufaktur dan jelaskan siklus kegiatan akuntansi
biayanya
3. Gambarkan hubungan antara siklus siklus kegiatan perusahaan manufaktur dengan siklus akuntansi
biayanya.
4. Gambarkan siklus akuntansi biaya dengan menggunakan hubungan rekening-rekening buku besar
5. Sebutkan karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan 5.
6. Sebutkan karakteristik metode harga pokok pesanan
7. Gambarkan hubungan antara rekening kontrol dengan rekening pembantu
8. Berikut adalah data dan informasi dari PT. Rifani yang menerapkan Job Order Costing
A. Persediaan 1 Januari 2001
Bahan Baku
Bahan Baku Unit Harga Per unit Total
X 2.000 200 Rp. 400.000
Y 5.000 100 500.000
Total 7.000 - Rp. 900.000

Bahan Penolong Rp 125.000


Barang jadi: (kode ; # 301857) : 80 unit @ Rp 1.250 = Rp 100.000
Barang Dalam Proses : Rp 3.900.000, terdiri dari:
Bahan Baku Upah Langsung BOP Total
Job #401.858 Rp. 1.000.000 Rp. 200.000 Rp. 300.000 Rp. 1.500.000
Job #402.859 1.400.000 400.000 600.000 2.400.000
Total BDP Rp. 2.400.000 Rp. 600.000 Rp. 900.000 Rp. 3.900.000

B. Ikhtisar transaksi yang berhubungan dengan produksi selama bulan Januari 2001
adalah sebagai berikut:
1. Bahan Baku
a. Pembelian (2/10,n/30)
Bahan baku X 25.000 unit @ Rp 210 Rp. 5.250.000
Bahan baku Y 40.000 unit @ Rp 105 Rp. 4.200.000
Pembelian Bahan Penolong Rp. 250.000
b. Pemakaian bahan baku dan bahan penolong (metode FIFO) :
Bahan baku
Unit
Pesanan
Bahan Baku X Bahan Baku Y
Job #401.858 3.000 5.000
Job #402.859 2.500 4.000
Job #301.860 12.500 17.500
Job #410.861 7.000 15.000
Total 25.000 41.500
Pemakaian Bahan Penolong Rp 200.000
2. Total Gaji dan upah yang berhubungan dengan kegiatan produksi selama bulan Januari
2001
a. Total gaji dan upah Rp 6.000.000 : dari jumlah ini dipotong untuk disetorkan pada
hal-hal berikut : Pajak Penghasilan 5 %, Iuran premi Jamsostek 2 % dan Iuran
dana pension 10 %
b. Distribusi gaji dan upah, sebagai berikut : Gaji tenaga kerja tidak langsung 35 %
dari total gaji dan upah, sedangkan upah tenaga kerja langsung 65 % yang
didistribusikan ke Job # 401.858 : 2P %,Job # 402.859 : 15 %,Job # 301.860 : 30
% , dan Job # 410.861 sebesar 35 °/T
c. Atas gaji dan upah tersebut, maka perusahaan juga harus menanggung iuran
Jamsostek dan dana pensiun, masing-masing sebesar 5 % untuk premi
Jamsostek dan 15 % dari total gaji dan upah untuk iuran dana pensiun
3. BOP sesungguhnya yang terjadi selain daripada biaya pemakaian bahan penolong dan
yang berhubungan dengan gaji dan upah, untuk periode Januar1 2001 Rp 3.225.000
4. BOP dibebankan dengan tarif 150 % dari Upah Langsung
5. Job nomor 858,859 dan 860 telah selesai, karen? ini diselesaikan kartu harga pokoknya
6. Barang jadi hasil job # 858 dan # 859 karena merupakan pesanan, telah dikirim
kepada pemesannya. Harga jual yang disepakati adalah 160 % dari Harga Pokoknya.
7. Job # 860 membuat 100 unit barang jadi kode 301.860 ; harga jual ditetapkan dengan
memperhitungkan laba kotor sebesar 40 % dari harga jualnya (dibulatkan keatas dalam
rupiah penuh) ; dalam bulan januari telah terjual sejumlah 76 unit
8. Persediaan awal barang jadi telah terjual semuanya. Harga jualnya ditetapkan dengan
memperhitungkan laba kotor sebesar 50 % dari harga pokoknya.
9. BOP sesungguhnya dibandingkan dengan BOP yang dibebankan untuk menghitung
under/over applied (dibebankan kurang/lebih) untuk bulan Januari 2001
Instruksi :
a) Siapkan Kartu Harga Pokok (job cost sheet) yang diperlukan
b) Catat transaksi yang terjadi ke jurnal, termasuk perhitungan harga pokok barang jadi,
yang terjual dan harga jual
c) Bukukan ke akun masing-masing
d) Hitung under/over applied factory overhead bulan Januari 2001
e) Hitung laba kotor yang diperoleh perusahaan untuk bulan Januari 2001
3. Biaya Bahan Baku
Menurut standar akuntansi yang diterima umum, semua biaya yang terjadi untuk memperoleh
bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah, merupakan unsur
harga pokok bahan baku yang dibeli. Harga pokok bahan baku terdiri dari harga beli yang
tercanturn dalam faktur penjual ditambah biaya angkutan, biaya pembelian lain serta biaya yang
dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah.
Pencatatan biaya bahan baku dapat dilakukan dengan metode mutasi persediaan atau metode
persediaan fisik. Dalam proses produksi tidak semua produk akan menghasilkan produk seperti
yang telah ditentukan, ada kalanya proses produksi menghasilkan sisa bahan maupun produk
yang rusak yang memerlukan pengelolaan dan pencatatan yang sesuai.

PEN GERTIAN BIA YA B AH AN BAKU


Dalam perusahaan manufaktur, bahan dibedakan menjadi bahan baku dan bahan
penolong. Bahan baku (direct materials) merupakan bahan yang membentuk bagian
menyeluruh dari produk jadi. Bahan baku ini dapat diidentifikasi dengan produk atau pesanan
tertentu dan nilainya relatif besar .
Bahan penolong (indirect materials) merupakan bahan yang dipakai dalam proses
produksi yang sulit diidentifikasikan dengan produk jadi dan nilainya relatif kecil. Biaya yang
timbul karena pemakaian bahan penolong disebut biaya bahan penolong. Biaya bahan
penolong dipertimbangkan sebagai biaya overhead pabrik.

AKUNTANSI BIAYA BAHAN BAKU


Dalam perusahaan manufaktur, akuntansi bahan baku terdiri dari dua aktivitas, yaitu
aktivitas pembelian dan aktivitas pemakaian bahan baku.

PEMBELIAN BAHAN BAKU


Biasanya perusahaan manufaktur memiliki departemen pembelian yang berfungsi melakukan
pembelian bahan baku yang diperlukan untuk produksi. Manajemen bagian pembelian
tanggungjawab atas kualitas bahan baku yang dibeli yaitu yang sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan oleh perusahaan dengan harga yang menguntungkan dan diterima tepat pada
waktunya. ada tiga formulir yang digunakan dalam pembelian bahan baku, yaitu Surat
Permintaan Pembelian purchase requisition), Surat Order pembelian (purchase order) dan
Laporan Penerimaan Barang :receiving report).
Surat permintaan pembelian dibuat oleh bagian gudang kepada bagian pembelian apabila
persediaan bahan baku yang ada di gudang sudah mencapai tingkat minimum pemesanan
kembali (reorder point). Dokumen ini dibuat oleh bagian pembelian sebanyak dua rangkap,
lembar pertama :diserahkan ke bagian gudang dan lembar kedua arsip bagian gudang.
Bagian pembelian selanjutnya berdasarkan Surat Permintaan Pembelian melakukan pembelian
dengan menerbitkan Surat Order Pembelian atas dasar kebutuhan bahan baku yang diminta
bagian gudang. Beberapa rangkap yang harus dibuat nantinya akan didistribusikan kepada
bagian-bagian antara lain, pemasok, bagian akuntansi, bagian utang, bagian penerimaan
barang dan arsip untuk bagian pembelian.
Bagian penerimaan barang akan membuat Laporan Penerimaan Barang apabila barang yang
dipesan [ah datang. Bagian ini kemudian melakukan pencocokkan antara barang yang diterima
dengan barang yang dipesan, baik dari jumlahnya maupun kualitasnya.

1. HARGA POKOK BAHAN YANG DIBELI


Menurut standar akuntansi yang diterima umum, semua biaya yang terjadi untuk
memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap untuk diolah,
merupakan unsur harga pokok bahan baku yang dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan
baku tidak hanya berupa harga yang tercantum dalam faktur pembelian saja. Harga pokok
bahan baku terdiri dari harga beli ditambah dengan biaya-biaya pembelian dan biaya-biaya
yang dikeluarkan untuk menyiapkan bahan baku tersebut dalam keadaan siap untuk diolah.
Harga beli dan biaya angkutan merupakan unsur yang mudah diperhitungkan sebagai
harga pokok bahan baku, sedangkan biaya pemesanan (order costs), biaya penerimaan,
pembongkaran, pemeriksaan, asuransi, pergudangan dan biaya akuntansi bahan baku,
merupakan unsur-unsur yang sulit diperhitungkan kepada harga pokok bahan baku yang
dibeli. Di dalam praktek, umumnya harga pokok bahan baku hanya dicatat sebesar harga
beli menurut faktur pembelian. Hal ini dilakukan karena pembagian biaya pembelian kepada
masing-masing jenis bahan baku dalam faktur seringkali memerlukan biaya akuntansi yang
mungkin lebih besar dibandingkan dengan manfaat ketelitian perhitungan harga pokok yang
diperoleh. Sehingga, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku dan untuk
menjadikan bahan baku dalam keadaan siap untuk diolah, pada umumnya diperhitungkan
sebagai unsur biaya overhead pabrik (BOP). Apabila di dalam pembelian bahan baku,
pemasok memberikan potongan tunai (cash discount), maka potongan tunai ini diperlakukan
sebagai pengurang terhadap harga pokok bahan baku yang dibeli.
Apabila dalam pembelian bahan baku, perusahaan membayar biaya angkutan untuk
berbagai macam bahan baku yang dibeli. Perlakuan terhadap biaya angkutan ini dapat
dibedakan sebagai berikut:
1). Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli.
2). Biaya angkutan tidak diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang
dibeli, namun diperlakukan sebagai unsur BOP

Biaya angkutan diperlakukan sebagai tambahan Harga Pokok Bahan Baku yang
Dibeli
Berdasarkan cara ini alokasi biaya angkutan kepada masing-masing jenis bahan baku yang
dibeli dapat didasarkan pada :
a. Perbandingan kuantitas tiap jenis bahan baku yang dibeli
Pembagian ini hanya dapat dilakukan jika bahan baku tersebut memiliki satuan
ukuran yang sama atau satuan ukurannya dapat disamakan.
Contoh 1.
Sebuah perusahaan membeli 3 jenis bahan baku senilai Rp 6.000.000. Biaya
angkutan yang dibayar untuk ketiga jenis bahan baku tersebut sebesar Rp
300.000. Misalnya kuantitas masing-masing bahan tersebut, bahan A 400 Kg,
bahan B 250 Kg dan bahan C 350 Kg. Pembagian biaya angkutan kepada tiap jenis
bahan adalah sebagai berikut:
Berat Alokasi biaya
% angkutan
Jenis Bahan Baku Kg
(1) : 1.00 (2) x Rp. 300.000
(1) (2) (3)
A 400 40 Rp 120.000
B 250 25 75.000
C 350 35 105.000
1.000 100 Rp 300.000

b. Perbandingan harga faktur tiap jenis bahan baku yang dibeli Contoh 2.
Dengan menggunakan contoh 1 diatas pembelian bahan baku senilai Rp 6.000.000
tersebut terdiri dan Bahan A Rp 2.500.000/Bahan B Rp 3.000.000 dan Bahan C Rp
500.000, Biaya angkutan untuk ketiga jenis bahan tersebut Rp 300.000. Jika biaya
angkutan tersebut dibagikan atas dasar perbandingan harga faktur tiap jenis bahan
baku, harga pokok tiap jenis bahan baku akan dibebani dengan tambahan biaya
angkutan sebesar Rp 0,05 (yaitu Rp 300.000 dibagi Rp 6.000.000)
Jenis Bahan Baku Harga Faktur Pembagian Harga Pokok
Biaya Angkutan Bahan Baku
(1) x 0,05 (1) + (2)
(1) (2) (3)
A Rp 2.500.000 Rp 125.000 Rp 2.625.000
B Rp 3.000.000 Rp 150.000 Rp 3.150.000
C Rp 500.000 Rp 25.000 Rp 525.000
Rp 6.000.000 Rp 300.000 Rp 6.300.000

c. Biaya angkutan diperhitungkan dalam Harga Pokok Bahan Baku yang dibeli
berdasarkan tarif yang ditentukan di muka
Untuk menyederhanakan perhitungan harga pokok bahan baku, biaya angkutan
dibebankan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif yang ditentukan di muka
(predetermined rate). Perhitungan tarif dilakukan dengan menaksir biaya angkutan
yang akan dikeluarkan dalam tahun anggaran tertentu. Taksiran biaya angkutan ini
kemudian dibagi dengan dasar yang akan digunakan untuk mengalokasikan biaya
angkutan tersebut. Pada saat terjadi pembelian bahan baku. Harga bahan baku harus
ditambah dengan biaya angkutan sebesar tarif yang telah ditentukan. Biaya
angkutan yang sesungguhnya dikeluarkan dicatat dalam rekening biaya angkutan.
Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya angkutan atas dasar tarif dan biaya
angkutan yang sesungguhnya terjadi adalah sebagai berikut:
a) Pembebanan biaya angkutan kepada bahan baku yang dibeli.
b) Pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya
c) Pencatatan selisih biaya angkutan yang dibebankan dengan biaya angkutan yang
sesungguhnya.
Contoh 3.
Biaya angkutan yang diperkirakan akan dikeluarkan pada tahun 2001 adalah sebesar Rp
1.500.000 dan jumlah bahan baku yang diangkut diperkirakan sebanyak 50. 000 Kg.
Jadi tarif biaya angkutan untuk tahun 2001 adalah sebesar Rp.30 per Kg bahan baku
yang diangkut. Perhitungan dan jumlah bahan baku yang dibeli serta alokasi biaya
angkutan atas dasar tarif tersebut disajikan dibawah ini
Pembagian Harga Pokok
Jenis Bahan Kg Harga Faktur Biaya Angkutan Bahan Baku
Baku (1) x Rp. 30 (2) + (3)
(1) (2) (3) (4)
A 25.000 Rp 7.500.000 Rp 750.000 Rp 8.250.000
B 15.000 Rp 6.000.000 Rp 450.000 Rp 6.450.000
C 10.000 Rp 4.000.000 Rp 300.000 Rp 4.300.000
Rp 17.500.000 Rp 1.500.000 Rp 19.000.000
Jika misalnya biaya angkutan yang sesungguhnya dibayar dalam tahun 2001 adalah
sebesar Rp 1. 425.000, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:
a) Jurnal pembelian bahan baku
Persediaan bahan baku Rp 17.500.000
Utang dagang Rp 17.500.000
b) Jurnal pembebanan biaya angkutan atas dasar tarif
Persediaan bahan baku Rp 1.500.000
Biaya angkutan Rp 1.500.000
c) Jurnal pencatatan biaya angkutan yang sesungguhnya terjadi
Biaya angkutan Rp 1.425.000
Kas Rp 1.425.000
d) Jurnal penutupan saldo rekening biaya angkutan ke rekening harga pokok
penjualan
Biaya angkutan Rp. 75.000
Harga pokok penjualan Rp 75.000
Apabila saldo rekening biaya angkutan tidak material, selisih tersebut ditutup
langsung ke rekening harga Pokok Penjualan

Biaya angkutan tidak diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok bahan


baku yang dibeli, tetapi diperlakukan sebagai unsur BOP

Dengan cara ini, biaya angkutan tidak diperhitungkan sebagai tambahan harga pokok
bahan yang dibeli, namun diperlakukan sebagai unsur BOP. Pada awal tahun
anggaran, jumlah biaya angkutan yang akan datang ditaksir. Jumlah taksiran biaya
angkutan ini diperhitungkan sebagai unsur BOP dalam penentuan tarif BOP. Biaya
angkutan yang sesungguhnya kemudian dicatat dalam sebelah debet rekening BOP
sesungguhnya.

2. PENCATATAN HARGA POKOK BAHAN BAKU YANG DIBELI


Dalam akuntansi ada dua metode yang dapat digunakan dalam mencatat pembelian bahan
baku, yaitu : Metode Pencatatan Fisik (physical methods) dan Metode Pencatatan
Perpetual (perpetual methods).
Bagi perusahaan yang relatif kecil masih dapat menggunakan metode pencatatan fisik,
karena jumlah barang relatif tidak banyak dan mutasi persediaan juga tidak tinggi sehingga
pimpinan perusahaan masih mampu melakukan pengendalian persediaan. Sebaliknya bagi
perusahaan yang relatif lebih besar lebih banyak menggunakan metode perpetual dengan
tujuan untuk mempermudah pengendalian persediaan.

PEMAKAIAN BAHAN BAKU


Pemakaian bahan baku dalam perusahaan manufaktur melibatkan bagian produksi, bagian
gudang dan bagian akuntansi. dalam rangka melakukan pengendalian bahan baku
perusahaan menetapkan prosedur permintaan dan pengeluaran bahan baku.
1. Prosedur Permintaan dan Pengeluaran Bahan Baku
Bagian produksi mengisi bukti permintaan barang (materials recquisition form) yang
selanjutnya diserahkan ke bagian gudang. Bukti permintaan barang ini akan digunakan
sebagai dokumen pembukuan atas transaksi pemakaian bahan.
Bukti permintaan barang tersebut dibuat tiga rangkap. Lembar pertama diserahkan ke
bagian akuntansi, lembar kedua diarsipkan oleh bagian gudang dan lembar ketiga
diserahkan ke bagian produksi bersamaan dengan penyerahan bahan baku.
2. Pencatatan Pemakaian Bahan Baku
Bagian akuntansi melakukan pembukuan berdasarkan Bukti Permintaan Bahan ke dalam
kartu persediaan dan ke dalam Buku jurnal. Misalnya dari contoh 1 diatas bahan baku
yang dibeli senilai Rp. 6.000.000 dipakai senilai Rp 5.600.000 dan bahan penolong yang
dipakai sebesar Rp 150.000. Atas dasar pemakaian bahan baku dan bahan penolong
tersebut, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut:
a) Jurnal pemakaian bahan baku
Barang Dalam Proses - Bahan Baku Rp 5.600.000
Persediaan Bahan Baku Rp 5.600.000
b) Jurnal pemakaian bahan penolong
Biaya Overhead Pabrik Rp 150.000
Persediaan Bahan Penolong Rp 150.000

Bahan penolong ini bukan bahan baku utama, namun keberadaannya diperlukan
dalam proses produksi. Biasanya bahan penolong ini tidak dapat diikuti jejak biayanya
ke dalam masing-masing produksi. Oleh karena itu, pemakaian bahan penolong ini
dimasukkan ke dalam biaya overhead pabrik.

3. Perhitungan Pemakaian Bahan Baku


Dalam perhitungan pemakaian bahan baku, ada berbagai metode penentuan harga pokok
bahan yang dipakai. Metode tersebut antara lain : Metode Masuk Pertama Keluar
Pertama (First In First Out/FIFO), Metode Terakhir Masuk Keluar Pertama (Last In First
Out/LIFO) dan Metode Rata-rata (average)
a) Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (first in first out/FIFO)
Metode ini beranggapan bahwa bahan yang dibeli (masuk) lebih awal dipakai
(keluar) lebih awal pula. Metode ini lebih menekankan pada arus kas biayanya dan
bukan pada arus bahan secara fisik. Penekanan ini berarti bahwa secara fisik dapat
terjadi bahan yang dibeli lebih awal tidak dipakai lebih awal, tetapi dalam penentuan
harga pokok bahan yang dipakai berpedoman pada bahan yang masuk pertama
keluar pertama.
b) Metode Terakhir Masuk Keluar Pertama (last in first out/LIFO
Metode ini beranggapan bahwa bahan yang dibeli (masuk) terakhir dipakai (keluar)
lebih awal pula. Metode ini lebih menekankan pada arus biayanya dan bukan pada
arus bahan secara fisik. Penekanan ini berarti bahwa secara fisik dapat terjadi
bahan yang dibeli lebih awal dipakai lebih awal, tetapi dalam penentuan harga pokok
bahan yang dipakai tetap berpedoman pada bahan yang terakhir masuk yang keluar
pertama.
c) Metode rata-rata (average)
Dalam sistem pencatatan perpetual, metode rata-rata yang digunakan adalah
metode rata-rata bergerak (moving average). Dalam metode ini harga pokok per
unit bahan yang ada dalam persediaan di gudang ditentukan dengan membagi
jumlah harga pokok semua bahan yang dibeli dengan jumlah kuantitasnya. Harga
pokok persediaan bahan yang ada di gudang hanya ada satu harga pokok, yang
dapat berubah setiap ada pembelian dengan harga dibawah atau diatas harga rata-
rata yang telah ditentukan atau apabila ada retur pembelian.

MASALAH- MASALAH KHUSUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN BAHAN BAKU


Dalam proses produksi tidak selalu bahan baku yang dimasukkan dalam proses produksi
akan menghasilkan produk jadi yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan.
Adakalanya dalam proses produksi menghasilkan sisa bahan (scrap materials}, produk rusak
(spoiled goods} dan produk cacat (deffective goods)

SISA BAHAN (SCRAP MATERIALS)


Dalam proses produksi, tidak semua bahan dapat menjadi bagian produk jadi. Bahan yang
mengalami kerusakan didalam proses pengerjaannya disebut sisa bahan. Perlakuan terhadap
sisa bahan tergantung dari harga jual sisa bahan itu sendiri. Jika harga jual sisa bahan rendah,
biasanya tidak dilakukan pencatatan jumlah dan harganya sampai saat penjualannya. Tetapi jika
harga jual sisa bahan tinggi, perlu dicatat jumlah dan harga jual sisa bahan tersebut dalam kartu
persediaan pada saat sisa bahan diserahkan oleh bagian produksi ke bagian gudang. Jika dalam
proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul adalah bagaimana memperlakukan
hasil penjualan sisa bahan tersebut. Hasil penjualan sisa bahan dapat diperlakukan sebagai
berikut:
1. Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang menghasilkan sisa bahan
tersebut.
2. Pengurang terhadap biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
3. Penghasilan di luar usaha (other income)

Sisa bahan diperlakukan sebagai pengurang biaya bahan baku dari pesanan tertentu
Jika sisa bahan terjadi karena karakteristik proses pengolahan pesanan tertentu, maka hasil
penjualan sisa bahan dapat diidentifikasikan dengan pesanan tersebut. Jurnal yang dibuat pada
saat penjualan sisa bahan adalah :
Kas/Piutang Dagang xxxxx
Barang dalam Proses - Biaya Bahan Baku xxxxx

Sisa Bahan diperlakukan sebagai pengurang BOP sesungguhnya


Jika sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu dan sisa bahan merupakan
hal yang biasa terjadi dalam proses pengerjaan suatu produk, maka hasil penjualannya dapat
diperlakukan sebagai pengurang BOP yang sesungguhnya terjadi. Jurnal yang dibuat pada saat
penjualan sisa bahan adalah sebagai berikut:
Kas/Piutang Dagang xxxxx
BOP sesungguhnya xxxxx

Hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai other income


Hasil penjualan sisa bahan dapat juga diperlakukan sebagai penghasilan di luar usaha dan tidak
sebagai pengurang biaya produksi. Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah
sebagai berikut ::
Kas/Piutang Dagang xxxxx
Penjualan sisa bahan xxxxx

Pencatatan Sisa Bahan


Jika jumlah dan nilai sisa bahan relatif tinggi, maka diperlukan pengawasan terhadap
persediaan sisa Bahan. Untuk menggambarkan pencatatan sisa bahan dijelaskan pada contoh
dibawah ini.

Contoh 4
Bagian produksi menyerahkan 2.000 Kg sisa bahan ke bagian gudang. Sisa bahan tersebut
ditaksir dap at laku dijual Rp 7.500 per kg. Sampai akhir periode akuntansi, sisa bahan
tersebut laku dijual seb anyak 1.500 Kg dengan harga jual Rp 9.000 per Kg.
Jika hasil penjualan sisa bahan diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha, jurnal
yang diper lukan adalah sebagai berikut :

Persediaan Sisa Bahan (2.000 Kg x Rp 7.500) Rp 15.000.000


Penghasilan yang belum terealisasi Rp 15.000.000

Jurnal penjualan sisa bahan :


Kas/Piutang Dagang (1.500 Kg x Rp 9.000) Rp 13.500.000
Penjualan Sisa Bah an Rp 13.500.000
Penghasilan belum terealisasi Rp 11.250.000
Persediaan Sisa Bahan Rp 11.250.000

PRODUK RUSAK (SPOILED GOODS)


Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, yang
secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Produk rusak berbeda
dengan sisa bahan , karena sisa merupakan bahan yang mengalami kerusakan dalam proses
produksi, sehingga belum sempat menjadi produk, sedangkan produk rusak merupakan
produk yang telah meny erap biaya bahan, biaya tenaga kerja dan BOP.
Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya.
1. Jika produk rusak terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa
lainnya, maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga pokok produk
yang baik dalam pesanan yang bersangkutan. Jika produk rusak tersebut masih laku dijual,
maka hasil penjualannya diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi pesanan yang
menghasilkan produk rusak tersebut.
2. Jika produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk,
maka kerugian yang terjadi dibebankan kepada produksi secara keseluruhan, dengan cara
memperhitungkan kerugian tersebut dalam tarif BOP. Oleh karena itu anggaran BOP yang
akan digunakan untuk menentukan BOP harus diperhitungkan juga faktor produk rusak ini.
Sehingga apabila terjadi produk rusak, maka kerugian yang sesungguhnya terjadi dilakukan
dengan mendebet rekening BOP sesungguhnya.

Pencatatan Produk Rusak


1. Produk rusak dibebankan kepada pesanan tertentu
Contoh 5
PT. Amelia berproduksi atas dasar pesanan. Dalam Bulan Juni 2002 perusahaan menerima
pesanan pembuatan 1.000 unit produk A. karena pesanan ini pesanan yang membutuhkan
ketepatan spesifikasi yang ditentukan pemesan, maka produk rusak yang terjadi
dibebankan kepada pesanan ini. Untuk memenuhi pesanan tersebut perusahaan
memproduksi 1.050 satuan produk A dengan biaya produksi sebagai berikut : biaya bahan
baku Rp. 675.000, biaya tenaga kerja langsung Rp 1.200.000 dan BOP dibebankan atas
dasar tarif 150 % biaya tenaga kerja langsung. Pada saat pesanan tersebut selesai
dikerjakan ternyata terdapat 50 unit produk yang rusak, yang secara ekonomis tidak dapat
diperbaiki. Produk rusak tersebut diperkirakan laku dijual Rp 2.100 per unit.
Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah 1.050 unit produk adalah sebagai
berikut:
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 675.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 1.200.000
Barang Dalam Proses - BOP 1 .800.000
Persediaan Bahan Baku Rp 675.000
Gaji dan Upah 1.200.000
BOP dibebankan 1.800.000

Seandainya 50 unit produk yang rusak tersebut tidak rusak, maka harga pokok produk A
adalah Rp 3.500 (3.675.000 : 1050). Harga pokok produk rusak dibebankan kepada
produk yang baik, sehingga harga pokok produk yang baik adalah Rp 3.675 per unit
( 3.675.000 : 1000)
Jika produk rusak tersebut laku dijual, maka hasil penjualan produk rusak dikurangkan dari
biaya produksi yang seluruhnya telah dibebankan kepada produk yang baik. Jurnal
untuk mencatat nilai jual produk rusak dan pengurangan biaya produksi pesanan yang
bersangkutan adalah sebagai berikut :
Total Biaya Biaya Persatuan Harga Pokok
Elemen Harga Pokok Produk Produksi (1) : 1.050 Produk Rusak
(1) (2) (3) = (2) x 50
Biaya Bahan Baku Rp 675.000 Rp 643 Rp 32.150
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 1.200.000 Rp 1.143 Rp 57.150
BOP Rp 1.800.000 Rp 1.714 Rp 85.700
Rp 3.675.000 Rp 3.500 Rp 175.000

Persediaan Produk Rusak (50 unit x Rp 2.100) Rp 105.000


Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 19.290
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 34.290
Barang Dalam Pr oses – BOP 51 .420
Pembagian nilai jual produk rusak sebagai pengurang terhadap tiap-tiap rekening Barang Dalam
Proses diatas disajikan pada perhitungan dibawah ini.
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku 60%xRp 32.150 = Rp. 19.290
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 60 % x Rp 57.150 = Rp. 34.290
Barang Dalam Proses - Biaya Overhead Pabrik 60 % x Rp 85.700 = Rp. 51.420
Jumlah = Rp. 105.000
Jurnal pencatatan harga pokok produk jadi adalah sebagai berikut:
Persediaan Produk Jadi Rp. 3.570.000
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp. 655.710
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 1.165.710
Barang Dalam Proses – BOP 1.748.580

2. Kerugian produk rusak dibebankan kepada seluruh produk


Contoh 6
PT. Rizki berproduksi atas dasar pesanan. Karena produk rusak merupakan hal yang biasa
terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian karena adanya produk rusak
sudah diperhitungkan dalam penentuan tarif BOP pada awal tahun. Tarif BOP adalah
sebesar 160 % dari biaya tenaga kerja langsung.
Pada Bulan Juni 2002, perusahaan menerima pesanan produk B sebanyak 2.000 unit.
Biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengerjakan pesanan tersebut adalah : biaya
bahan baku Rp 748.000, biaya tenaga kerja langsung Rp 495.000 dan BOP Rp 792.000.
Setelah pesanan ini selesai diproduksi ternyata dari 2.200 unit produk selesai yang
dihasilkan terdapat 200 unit produk yang rusak, yang diperkirakan masih laku dijual Rp 500
per unit.
Jurnal untuk mencatat biaya produksi untuk mengolah pesanan produk B tersebut adalah :
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 748.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 495.000
Barang Dalam Proses - BOP 792.000
Persediaan Bahan Baku Rp 748.000
Gaji dan Upah 495.000
BOP dibebankan 792.000
Karena dalam tarif BOP telah diperhitungkan kerugian produk rusak, maka seluruh produk yang
diproduksi akan dibebani dengan kerugian karena adanya produk rusak tersebut. Oleh
karena itu, kerugian sesungguhnya yang timbul dari produk rusak di debet dalam rekening
BOP sesungguhnya.
Dalam contoh ini kerugian karena adanya produk rusak dihitung sebagai berikut:
Nilai jual produk rusak 200 unit x Rp 500 = Rp 100.000
Harga pokok produk rusak 200 unit x Rp 925 * = 185.000
Kerugian Produk Rusak Rp 85.000

* Perhitungan harga pokok per unit:


Biaya Total Biaya Perunit
Elemen Harga Pokok
(1) (2) = (1) : 2.200 unit
Biaya bahan Baku Rp 748.000 Rp 340
Biaya Tenaga Kerja Langsung 495.000 225
Biaya Overhead Pabrik 792.000 360
Rp 2.035.000 Rp 925

Jurnal pencatatan produk rusak dan kerugiannya adalah sebagai berikut:


Persediaan Produk rusak Rp 100.000
BOP sesungguhnya 85.000
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp. 68.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 45.000
Barang Dalam Proses – BOP 72.000

Jurnal pencatatan produk jadi yang baik adalah sebagai berikut:


Persediaan Produk Jadi Rp 1.850.000
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp. 680.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 450.000
Barang Dalam Proses – BOP 720.000

PRODUK CACAT (DEFECTIVE GOODS)


Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditentukan, tetapi
dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk memperbaikinya, produk tersebut secara
ekonomis dapat disempurnakan lagi menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana memperlakukan biaya tambahan untuk
pengerjaan kembali (rework cost) produk cacat tersebut. Perlakuan terhadap biaya pengerjaan
kembali produk cacat adalah serupa dengan yang telah dibicarakan pada produk rusak (spoiled
goods).

Pencatatan Produk cacat


Jika produk cacat bukan merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses produksi, tetapi karena
karakteristik pengerjaan pesanan tertentu, maka biaya pengerjaan kembali produk cacat dapat
bersangkutan.
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pengerjaan produk, maka
biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada seluruh produksi dengan cara
memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut kedalam tarif .BOP. Biaya pengerjaan
kembali produk cacat yang sesungguhnya terjadi di debet dalam rekening BOP sesungguhnya.

Biaya pengerjaan kembali dibebankan kepada pesanan tertentu


Contoh 7
PT. Amelia menerima pesanan 1.000 satuan produk X. biaya produksi yang dikeluarkan untuk
mengolah produk tersebut adalah : biaya bahan baku Rp 400.000, biaya tenaga kerja langsung
Rp 300.000 dan BOP dibebankan atas dasar tarif 150 % biaya tenaga kerja langsung. Setelah
pengolahan 1.000 unit produk X itu selesai, ternyata terdapat 50 unit produk cacat yang secara
ekonomis masih dapat diperbaiki lagi. Biaya-biaya pengerjaan kembali 50 satuan produk cacat
tersebut terdiri dari biaya tenaga kerja langsung Rp 50.000 dan BOP pada tarif yang biasa
digunakan.
Jurnal pencatatan produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pencatatan biaya produksi
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 400.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 300.000
Barang Dalam Proses - BOP 450.000
Persediaan Bahan Baku Rp 400.000
Gaji dan Upah 300.000
BOP dibebankan 450.000

2. Pengerjaan kembali produk cacat


Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 50.000
Barang Dalam Proses - BOP 75.000
Gaji dan Upah Rp 50.000
BOP dibebankan 75.000

3. Pencatatan harga pokok ptoduk selesai


Persediaan Produk Jadi Rp 1.275.000
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 400.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 350.000
Barang Dalam Proses - BOP 525.000

Biaya pengerjaan kembali dibebankan kepada produksi secara keseluruhan C ontoh 8


Dalam proses produksi PT. Mentari selalu terjadi produk cacat, oleh karena itu pada waktu
menentukan tarif BOP dalam anggaran BOP telah diperhitungkan taksiran biaya pengerjaan
kembali produk cacat yang akan dikeluarkan selama periode anggaran. Tarif BOP ditentukan
sebesar 150 % dari biaya tenaga kerja langsung. Pada periode tersebut perusahaan menerima
pesanan pembuatan 2.000 unit produk Y, biaya produksi yang dikeluarkan untuk mengolah
produk tersebut adalah : biaya bahan baku Rp 1.250.000, biaya tenaga kerja langsung Rp
1.500.000. Setelah pengolahan 2.000 unit produk Y selesai, ternyata terdapat 100 unit produk
cacat. Biaya pengerjaan ;kembali 50 satuan produk cacat tersebut terdiri dari biaya tenaga
kerja langsung Rp 100.000 dan 5OP pada tarif yang biasa dipakai.

Jurnal pencatatan biaya produksi pesanan tersebut dan biaya pengerjaan kembali produk cacat
adalah sebagai berikut:
1. Pencatatan biaya produksi
Barang Dalam Proses - Biaya Bahan Baku Rp 1.250.000
Barang Dalam Proses - Biaya Tenaga Kerja Langsung 1.500.000
Barang Dalam Proses - BOP 2.250.000
Persediaan Bahan Baku Rp 1.250.000
Gaji dan Upah 1.500.000
BOP dibebankan 2.250.000

2. Pengerjaan kembali produk cacat


BOP sesungguhnya Rp 250.000
Gaji dan Upah Rp 100.000
BOP dibebankan 150.000

3. Pencatatan harga pokok produk selesai


Persediaan Produk Jadi Rp 5.000.000
Persediaan Bahan Baku Rp 1.250.000
Gaji dan Upah 1.500.000
BOP dibebankan 2.250.000

SOAL LATIHAN
1. Sebutkan pengertian dari biaya bahan baku dan berikan contohnya
2. Yang membentuk harga pokok bahan baku yang dibeli tidak hanya dari harga pembelian
bahan yang tercantum dalam faktur saja. Sebutkan biaya-biaya lain yang juga
diperhitungkan dalam harga pokok bahan baku yang dibeli
3. Ada dua perlakuan terhadap biaya angkutan yang dikeluarkan dalam pembelian bahan
baku. Sebutkan dan jelaskan kedua macam perlakuan terhadap biaya angkutan tersebut.
4. Sebutkan dan jelaskan dua metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam
produksi.
5. Jelaskan pengertian dari scrap material dan perlakuan akuntansinya
6. Jelaskan pengertian dari defective goods dan perlakuan akuntansinya
7. PT. Amelia menerima pesanan 5.000 satuan produk X. Biaya produksi yang dikeluarkan
untuk mengolah produk tersebut adalah :'biaya bahan baku Rp 2.500.000, biaya tenaga
kerja langsung Rp 3.000.000 dan BOP dibebankan atas dasar tarif 150 % biaya tenaga
kerja langsung. Setelah pengolahan 5.000 unit produk X itu selesai, ternyata terdapat 400
unit produk cacat yang secara ekonomis masih dapat diperbaiki lagi. Biaya-biaya
pengerjaan kembali 400 satuan produk cacat tersebut terdiri dari biaya tenaga kerja
langsung Rp 600.000 dan BOP pada tarif yang biasa digunakan.
Berdasarkan data diatas, Buatlah jurnal yang diperlukan, apabila produk cacat tersebut
merupakan:
a) Merupakan hal yang tidak biasa terjadi (tidak normal)
b) Merupakan hal yang sering terjadi (normal)