Anda di halaman 1dari 47

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JANIN/EMBRIO

BAB I. PENDAHULUAN

Setelah peristiwa fertilisasi normal terjadi di ampula yang menghasilkan zigot maka
proses selanjutnya adalah perubahan zigot tersebut menjadi morula dan pada bentuk blastokist
peristiwa selanjutnya yang tidak kalah penting adalah implantasi dari jaringan tersebut. Proses ini
akan terus berlanjut karena harapan akhir dari suatu peristiwa awal fertilisasi adalah hidup dan
berkembangnya janin dalam rahim hingga dilahirkannya janin tersebut ke dunia.

Selama minggu ke-3 setelah fertilisasi, mulai muncul garis-garis primitif dan pada ujung
kepalanya terdapat nodus primitif. Di daerah nodus dan garis ini sel-sel epiblas bergerak masuk
(invaginasi) dan membentuk lapisan baru yaitu endoderm dan mesoderm. Hingga akhir
perkembangan minggu ke-3 ektoderm telah melengkapi lapisan mudigah selain endoderm dan
mesoderm.

Proses selanjutnya, hasil fertilisasi tersebut akan melalui masa embrio dan kemudian
masa janin yang nantinya akan terus berkembang sampai kelahiran. Masa embrionik atau masa
organogenesis ini dimulai pada minggu ke-4 sampai minggu ke-8/ke-9. Pada masa inilah lapisanlapisan ektoderm, mesoderm dan endoderm akan mulai mengadakan perubahan untuk menjadi
organ-organ tubuh manusia. Peristiwa ini sangat penting karena populasi sel induk yang
membangun setiap organ primordial dan interaksi-interaksi ini sangat peka terhadap gangguan
pengaruh genetik dan pengaruh lingkungan.

Perubahan pada masa janin akan lebih terlihat lagi, karena pada masa ini hasil fertilisasi
yang pada masa embrio belum terlihat jelas sebagai individu manusia secara bertahap tumbuh
dan berkembang menjadi bentuk manusia. Masa ini selain bentuk fisik yang berubah, aktivitas
janin juga sudah ditemukan melalui gerakan-gerakan janin yang dapat dirasakan ibu.
Mempersiapkan janin untuk dapat hidup dan bertahan selama awal-awal masa segera setelah

proses bersalin tentu membutuhkan kesiapan yang matang dari janin. Sehingga menjadi
tanggung jawab semua pihak baik ibu, ayah dan tenaga kesehatan untuk terus mengawasi
perkembangan janin. Memastikan seluruh masa baik embrio dan janin berlangsung dengan
aman dan lancar menjadi salah satu alternatif yang sangat penting.

BAB II. TINJAUAN TEORI

A. PERTUMBUHAN NORMAL JANIN

1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran
atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan berat, ukuran
panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik (Soetjiningsih, 1988).

Perkembangan adalah bertambah kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam pola teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses
pematangan. Perkembangan menyangkut adanya proses pematangan sel-sel tubuh,
jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa,
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya termasuk juga emosi, intelektual
dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (Soetjiningsih, 1988).

2. Janin

Microsoft Encarta (2006) menyebutkan bahwa janin merupakan suatu hewan bertulang
belakang yang belum lahir pada suatu fase dimana semua ciri struktural orang dewasa
sudah dapat dikenal, terutama keturunan manusia yang belum lahir setelah delapan
minggu pertumbuhan.

Masa embrio dimulai sejak 4 minggu sampai dengan 8 minggu setelah fertilisasi. Pada
masa ini seluruh struktur embrio baik dalam maupun bagian luar mengalami

perkembangan. Hasil akhir dari perkembangan masa ini adalah embrio yang telah
memiliki ciri-ciri atau karakteristik seperti manusia 1. Pada masa embrio atau juga dikenal
dengan masa organogenesis2, masingmasing lapisan dari ketiga lapisan mudigah
membentuk banyak jaringan dan organ yang spesifik. Menjelang akhir masa embrio ini,
sistem sistem organ utama telah terbentuk. Karena pembentukan organ ini, bentuk
mudigah banyak berubah dan ciri-ciri utama bentuk tubuh bagian luar sudah dapat
dikenali menjelang bulan kedua.

Sedangkan masa janin berlangsung sejak 9 minggu sampai dengan dilahirkan. Ciri-ciri
utama masa ini adalah pertumbuhan dan perubahan jaringan serta organ. Struktur baru
mulai terlihat seperti rambut dan kuku dari janin. Pada masa ini pergerakan janin terjadi
dan ditemukan bukti-bukti bahwa reflek-reflek guna mempertahankan hidup (reflek
menghisap dan menelan) janin telah ada1.

3. Fertilisasi

Jika sanggama/coitus terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut "masa subur" wanita),
maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu
dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi.
Pertemuan/penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai
pembuahan atau fertilisasi.
Menurut Sri Sudarwati (1990) fertilisasi merupakan proses peleburan dua macam gamet
sehingga terbentuk suatu individu baru dengan sifat genetic yang berasal dari kedua
parentalnya. Sedangkan menurut Wildan Yatim (1990) fertilisasi merupakan masuknya
spermatozoa kedalam ovum. Setelah spermatozoa masuk, ovum dapat tumbuh menjadi
individu baru.

Gambar 1 : Konsepsi
Dalam keadaan normal, pembuahan terjadi di daerah tuba Falopii umumnya di
daerah ampula/infundibulum.
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba.
Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontraksi miometrium dan
dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama. Kemudian spermatozoa mengalami
peristiwa :
1) Reaksi kapasitasi : selama beberapa jam, protein plasma dan glikoprotein yang
berada dalam cairan mani diluruhkan.
2) Reaksi akrosom : setelah dekat dengan oosit, sel sperma yang telah menjalani
kapasitasi akan terpengaruh oleh zat-zat dari corona radiata ovum, sehingga isi
akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan
corona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan
corona radiata, trypsine-like agent dan lysine-zone yang dapat melarutkan dan
membantu sperma melewati zona pellucida untuk mencapai ovum.
Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pellucida, terjadi perlekatan yang kuat
dan penembusan yang sangat cepat.

Sekali telah terjadi penembusan zona oleh satu sperma, terjadi reaksi khusus di zona
pellucida (zone-reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh
sperma lainnya. Dengan demikian sangat jarang sekali terjadi penembusan zona
oleh lebih dari satu sperma.
Setelah sel sperma mencapai oosit, terjadi :
1) Reaksi zona/reaksi kortikal pada selaput zona pellucida.
2) Oosit menyelesaikan pembelahan miosis keduanya, menghasilkan oosit definitif
yang kemudian menjadi pronukleus wanita.
3) Inti sel sperma membesar membentuk pronukleus pria
4) Ekor sel sperma terlepas dan berdegenerasi.
5) Pronukleus pria dan wanita, masing-masing haploid, bersatu dan membentuk
zigot yang memiliki jumlah DNA genap/diploid.
Hasil utama pembuahan
1) Penggenapan kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid
dari ayah dan dari ibu menjadi suatu bakal individu baru dengan jumlah
kromosom diploid.
2) Penentuan jenis kelamin bakal individu baru, tergantung dari kromosom x atau y
yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
3) Permulaan pembelahan dan stadium-stadium pembentukan dan perkembangan
embrio (embriogenesis)

4. Awal terjadinya Embrio

a. Pembelahan
Awalnya zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi, kemudian tingkat 4 sel,
diteruskan tingkat 8 sel, dan terus menerus hingga terbentuk blastomer yang terdiri
dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif yang disebut morula.

Gambar 2 : Morulla
Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil yang disebut
blastomer. Pembelahan itu bisa meliputi seluruh bagian, bisa pula hanya sebagian
kecil zigot. Pembelahan ini terjadi secara mitosis. Bidang yang ditempuh oleh arah
pembelahan ketika zigot mengalami mitosis terus-menerus menjadi banyak sel,
disebut bidang pembelahan. Ada 4 macam bidang pembelahan yaitu meridian,
vertical, ekuator dan latitudinal.
b. Blastulasi dan Nidasi
Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk
rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang
memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan
blastula disebut blastulasi. Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduct
dan berlangsung selama 5 hari.

Gambar 3 : Blastula
Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus. Setelah memasuki uterus, mulamula blastosis terapung-apung di dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah
fertilisasi embrio akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat
berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embrio pada
endometrium uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada
12 hari setelah fertilisasi (Yatim, 1990: 136)
c. Gastrulasi
Menurut Tenzer (2000 : 212) Setelah tahap blastula selesai dilanjutkan dengan tahap
gastrulasi. Gastrula berlangsung pada hari ke 15. Tahap gastrula ini merupakan
tahap atau stadium paling kritis bagi embrio. Pada gastrulasi terjadi perkembangan
embrio yang dinamis karena terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan
pengorganisasian embrio dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula
terletak berjauhan, sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interaksi yang
bersifat merangsang dalam pembentukan sistem organ-organ tubuh. Gastrulasi ini
menghasilkan 3 lapisan yaitu lapisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm
disebelah tengah dan ektoderm di sebelah luar.

1) Lapisan Mudigah Ektoderm

Pada permulaan perkembangan minggu ketiga, lapisan mudigah ektoderm


berbentuk cakram datar, yang lebih luas didaerah kepala daripada daerah
kaudal. Dengan terbentuknya notokord dan karena pengaruh induktifnya,
ektoderm yang terletak di atas notokord menebal membentuk lempeng saraf.
Sel-sel lempeng saraf membentuk neuroektoderm dan induksi pembentukan
neuroektoderm ini merupakan peristiwa awal dalam proses neurolasi 2

Gb.4A. Mudigah presomit 18 hari dilihat dari dorsal.


Mudigah berbentuk buah pir dengan daerah kepala sedikit
lebih luas daripada ujung kaudalnya. Gb.4B. Mudigah
manusia kira-kira 20 hari dilihat dari dorsal. Perhatikan
untuk somit dan pembentukan alur saraf dan lipatan saraf.

Proses induksi bersifat kompleks, yang memerlukan perangsangan suatu


jaringan atau sekelompok sel yang responsive oleh suatu jaringan penginduksi,
dalam hal ini epiblas oleh notokord. Ini merupakan proses yang berulang-ulang
sepanjang masa organogenesis, seperti misalnya induksi jaringan metanefros
oleh bakal ureter untuk membentuk ginjal. Sinyal-sinyal untuk proses-proses ini
dan gen-gen yang mengatur peristiwa-peristiwa ini sekarang sedang diselidiki.

Lempeng saraf yang memanjang dan berbentuk mirip sandal berangsur-angsur


meluas menuju ke garis primitive (Gb.4B). pada akhir minggu ketiga, tepi-tepi
lateral lempeng saraf menjadi lebih terangkat naik membentuk lipatan-lipatan
saraf, sementara di daerah tengah yang cekung terbentuk alur, yaitu alur saraf.
Perlahan-lahan kedua lipatan saraf saling mendekat digaris tengah, tempat

mereka menyatu (Gb.4C). penyatuan ini mulai didaerah bakal leher (somit ke-4)
dan berjalan menuju ke arah kepala dan kaudal. Akibatnya terbentuklah tuba
neuralis. Sampai penyatuan ini selesai, ujung kaudal dan kepala tuba neuralis
masih berhubungan dengan rongga amnion masing-masing melalui neuroporus
cranial dan kaudal (Gb. 4C dan 4D).

Gb. 4C. Mudigah manusia kira-kira hari ke-22 dilihat dari


dorsal. Tujuh buah somit jelas terlihat pada kedua sisi
tuba neuralis. 4D. Mudigah manusia kira-kira hari ke-23
dilihat dari dorsal. Perhatikan tonjilan pericardium pada
ke-2 sisi garis tengah bagian kepala mudigah.

Penutupan neuroporus cranial terjadi kira-kira pada hari ke-25 (tingkat 18-20
somit), sedangkan neuroporus posterior menutup pada hari ke-27 (tingkat 25
somit). Neurilasi kemudian selesai dan sistem saraf pusat diwakili oleh sebuah
struktur tabung tertutup yang bagian kaudalnya sempit, sumsum tulang belakang
dan bagian kepala jauh lebih lebar yang ditandai oleh banyak dilatasi, yaitu
vesikel-vesikel otak.

Pada saat lipatan-lipatan saraf tersebut naik dan menyatu, sel-sel pada tepi
lateral atau Krista pada neuroektoderm mulai mendesak jaringan-jaringan
sebelahnya. Populasi sel ini dikenal sebagai Krista neuralis dan sel-sel ini akan
mengalami transisi dari epitel menjadi sel mesenkim ketika meninggalkan
neuroektoderm dengan migrasi aktif dan bergeser memasuki mesoderm yang
ada di bawahnya (Mesoderm merujuk pada sel yang berasal dari epiblas dan
jaringan ekstraembrional. Mesenkim adalah jaringan penyambung embrional

yang tersusun longgar. Sel-sel Krista kemudian menghasilkan sederetan aneka


macam jaringan, termasuk ganglia spinalis (sensorik) dan ganglia otonomi,
bagian dari ganglia saraf cranial V, VI, VII, IX dan X; sel Schwann dan selaput
otak (pia dan arakhnoid); melanosit; medulla kelenjar suprarenal (adrenal);
tulang dan jaringan penyambung untuk struktur-struktur kraniofasial; dan sel-sel
bantalan konotrunkal untuk jantung.

Menjelang penutupan tuba neuralis, didaerah kepala mudigah mulai nampak dua
penebalan ektoderm, lempeng telinga dan lempeng lensa mata (Gb.5). Pada
perkembangan

selanjutnya,

lempeng

telinga

melakukan

invaginasi

dan

membentuk gelembung telinga, yang akan berkembang membentuk jaringan


yang perlu untuk pendengaran dan keseimbangan. Kira-kira pada saat yang
sama, muncul lempeng lensa mata. Lempeng ini menjalani invaginasi dan
selama minggu kelima membentuk lensa mata.

Secara umum dapat dikatakan bahwa lapisan mudigah ektoderm membentuk


organ dan sistem yang memelihara hubungan dengan dunia luar ; (a) sistem
saraf pusat; (b) sistem saraf tepi; (c) epitel sensorik telinga, hidung dan mata; (d)
epidermis, termasuk rambut dan kuku. Selain itu, lapisan ini juga membentuk
kelenjar-kelenjar bawah kulit, kelenjar mammae, kelenjar hipofisis, serta email
gigi.

Gb. 5A. Mudigah 14 somit dilihat dari lateral (kira-kira 25 hari).


Perhatikan daerah penonjolan pericardium dan lengkung faring pertama
dan kedua. B dan C Gambar skematik yang memperlihatkan sisi kiri
mudigah 25 somit kira-kira b dan berusia 27-29 hari. Dapat dilihat tiga
lengkung faring pertama, lempeng lensa mata (placode) dan lempeng
telinga.

2) Lapisan Mudigah Mesoderm

Mula-mula, sel-sel dari lapisan mudigah mesoderm membentuk sebuah


lembaran tipis jaringan longgar pada kanan kiri garis tengah. Akan tetapi, kirakira menjelang hari ke-17, sebagian sel yang berada di dekat garis tengah
berproliferasi dan membentuk sebuah lempeng jaringan yang tebal, yang disebut
mesoderm paraksial. Lebih ke lateral, lapisan mesoderm tetap tipis dan disebut
sebagai lempeng lateral. Dengan timbulnya serta bersatunya rongga-rongga
inter seluler dilempeng lateral, jaringan ini terpecah menjadi dua lapisan 2 :

a) Satu lapisan yang bersambungan dengan mesoderm yang membungkus


amnion, disebut sebagai lapisan mesoderm somatik atau parietal.

b) Satu lapisan yang bersambungan dengan mesoderm pembungkus kantung

kuning telur; dikenal sebagai lapisan mesoderm splanknik atau viseral.

Bersama-sama kedua lapisan ini membatasi sebuah rongga yang baru


terbentuk, rongga selom intraembrional, yang mempunyai hubungan dengan
selom ekstraembrional pada kedua sisi mudigah. Jaringan yang menghubungkan
mesoderm paraksial dan mesoderm lempeng lateral disebut mesoderm
intermediat.

Pada awal minggu ketiga, mesoderm paraksial tersusun dalam segmen-segmen


yang dikenal sebagai somitomer, pertama terlihat di daerah leher mudigah dan
pembentukkannya berjalan terus dengan arah sefalokaudal. Masing-masing
somitomer terdiri dari sel-sel mesoderm yang tersusun seperti lingkar-lingkar
konsentrik mengelilingi bagian tengah unit tersebut. Didaerah kepala, somitomer
seperti ini kalau dikaitkan dengan segmentasi lempeng saraf, membentuk
neuromer dan ikut membentuk sebagian besar mesenkim kepala.

Dari daerah oksipital ke arah kaudal, somitomer akan terorganisasi lagi menjadi
somit. Pasangan somit muncul di daerah servikal embrio pada umur kira-kira 20
hari. Dari sini, somit-somit baru terlihat berurutan dari kepala ke arah kaudal,
dengan kecepatan kira-kira 3 pasang/hari, hingga pada akhir minggu kelima
terdapat : 42 44 pasang somit 1. Ada 4 pasang somit oksipital, 8 pasang
servikal, 12 pasang torakal, 5 pasang lumbal, 5 pasang sakral dan 8 10 pasang
koksigeal. Somit oksipital pertama dan 5 7 somit koksigeal yang terakhir
kemudian menghilang, sedangkan somit-somit lainnya membentuk kerangka
sumbu badan. Selama masa perkembangan ini, umur mudigah biasanya
dinyatakan dalam jumlah somit dan tabel dibawah ini menunjukkan umur
perkiraan mudigah dalam kaitan dengan jumlah somit 2.

Tabel 1. Jumlah somit dihubungkan dengan perkiraan umur dalam hari 2

PERKIRAAN UMUR (HARI)

JUMLAH SOMIT

20

14

21

47

22

7 10

23

10 13

24

13 17

25

17 20

26

20 23

27

23 26

28

26 29

30

34 35

a) DIFERENSIASI SOMIT

Pada awal minggu ke-4, sel-sel yang membentuk dinding ventral dan medial
somit terpisah, menjadi polimorf dan bergeser posisinya hingga mengelilingi
notokord (korda dorsalis). Sel-sel ini disebut sklerotom yang membentuk
jaringan yang tersusun longgar (mesenkim). Sel tersebut akan mengelilingi
sumsum

tulang

belakang

dan

korda

dorsalis membentuk kolumna

vertebralis.

Dinding dorsal somit yang masih tertinggal, dinamakan dermomiotom yang


membentuk sebuah lapisan baru yang ditandai oleh inti pucat dan nukleolus
inti berwarna gelap. Sel-sel ini merupakan miotom dan setiap miotom
mempersiapkan otot-otot untuk segmennya sendiri.

Setelah sel-sel dermiotom membentuk miotom, mereka kehilangan sifat-sifat

epitelnya dan menyebar dibawah ektoderm yang berada diatasnya. Disini


sel-sel itu membentuk dermis dan jaringan subkutan di kulit. Karena itu
setiap somit membentuk sklerotom (komponen tulang rawan dan tulang),
miotomnya

sendiri

(mempersiapkan

komponen otot

segmental) dan

dermatomnya sendiri, komponen kulit segmental. Setiap miotom dan


dermatom juga mempunyai komponen saraf segmentalnya sendiri.

b) MESODERM INTERMEDIAT

Jaringan yang untuk sementara menghubungkan mesoderm paraksial


dengan lempeng lateral, ini berdiferensiasi dengan cara yang berbeda
dengan diferensiasi somit. Di daerah servikal dan torakal atas, jaringan ini
secara segmental menyusun kelompok-kelompok sel (kelak menjadi
nefrotim), sedangkan di sebelah lebih kaudal lagi membentuk massa
jaringan yang tak bersegmen yang dikenal sebagai korda nefrogenik. Dari
mesoderm intermediat yang sebagian bersegmen dan sebagian lagi tidak
bersegmen ini berkembanglah unit-unit ekskresi sistem kemih dan gonad 2.

c) LAPISAN-LAPISAN MESODERM PARIETAL DAN VISERAL

Lapisan mesoderm parietal dan viseral membatasi selom intra embrional.


Mesoderm parietal, bersama ektoderm di atasnya akan membentuk dinding
lateral dan ventral tubuh. Mesoderm viseral dan endoderm embrional akan
membentuk dinding usus. Sel-sel yang menghadap ke rongga selom akan
membentuk selaput tipis, selaput mesotel atau selaput serosa yang akan
melapisi rongga perut, rongga pleura dan kantung jantung 2.

d) DARAH DAN PEMBULUH DARAH

Kira-kira permulaan minggu ketiga, sel-sel mesoderm yang terletak di


mesoderm viseral dinding kantung kuning telur berdiferensiasi menjadi sel-

sel darah dan pembuluh darah. Sel-sel ini dikenal sebagai angioblas,
membentuk kelompok-kelompok dan berkas-berkas terpisah (kelompok sel
angiogenik) yang berangsur-angsur menjadi berongga karena bergabungnya
celah-celah antar sel. Sel-sel yang terletak ditengah kemudian membentuk
sel darah primitif, sedangkan sel yang terletak ditepi menipis dan membentuk
sel-sel endotel yang membatasi sel-sel darah. Sel-sel darah segera saling
mendekati satu sama lain dengan bertunasnya sel endotel dan setelah
bersatu akan membentuk pembuluh-pembuluh darah kecil. Pada saat yang
bersamaan

sel-sel

darah

dan

kapiler

tumbuh

didalam

mesoderm

ekstraembrional pada vili-vili dan tangkai penghubung. Dengan berlanjutnya


pembentukan tunas pembuluh darah, pembuluh darah ekstraembrional
membentuk hubungan dengan pembuluh darah di dalam embrio sehingga
menghubungkan embrio dan plasenta.

Sel-sel darah dan pembuluh darah intraembrional, termasuk tabung jantung


dibentuk dengan cara yang sama seperti yang diuraikan untuk pembuluh
ekstraembrional. Sebagai ringkasan, jaringan dan organ-organ berikut
diperkirakan berasal dari mesoderm :

(1) Jaringan penunjang seperti jaringan penyambung, tulang rawan, dan


tulang.

(2) Otot lurik dan otot polos.

(3) Sel darah dan sel getah bening serta dinding jantung, pembuluh darah
dan pembuluh getah bening.

(4) Ginjal, kelenjar kelamin dan saluran-salurannya.

(5) Korteks adrenal.

(6) Limpa.

3) Lapisan Mudigah Endoderm

Saluran pencernaan merupakan sistem organ utama yang berasal dari lapisan
mudigah endoderm. Pembentukannya sangat tergantung pada pelipatan
mudigah dengan arah sefalokaudal dan lateral. Pelipatan sefalokaudal terutama
disebabkan oleh pertumbuhan memanjang sistem saraf pusat yang cepat,
sementara pelipatan melintang atau lateral timbul karena pembentukan somitsomit yang tumbuh dengan cepat. Karena itu pembentukan usus yang
menyerupai tabung merupakan kejadian yang pasif dan merupakan penyusupan
(inversi) dan pencakupan (inkoporasi) bagian kantung kuning telur yang dilapisi
endoderm ke dalam rongga tubuh. Sebagai akibat lain dari gerak pelipatan,
hubungan antara mudigah dan kantung kuning telur yang pada mulanya lebar
menjadi menyempit hingga hanya tinggal menjadi sebuah saluran yang sempit
dan panjang (duktus vitellinus).

Lapisan

mudigah

endoderm

menutupi

permukaan

ventral

embrio

dan

membentuk kantung kuning telur. Tetapi dengan berkembang dan tumbuhnya


gelembung otak, cakram mudigah tersebut mulai menonjol ke dalam rongga
amnion dan melipat ke arah sefalokaudal. Pelipatan ini paling menonjol di daerah
kepala dan ekor, ditempat terbentuknya lipatan kepala dan lipatan ekor.

Sebagai akibat pelipatan sefalokaudal, kian lama kian bertambah besar rongga
yang dilapisi endoderm dicakup ke dalam tubuh mudigah. Pada bagian anterior,
endoderm membentuk usus depan; didaerah ekor membentuk usus belakang.
Bagian diantara usus depan dan usus belakang disebut usus tengah. Untuk
sementara, usus tengah berhubungan dengan kantung kuning telur melalui
sebuah tangkai lebar, duktus omfalomesenterikus atau vitallinus. Saluran ini
mula-mula lebar, tetapi dengan tumbuhnya mudigah lebih lanjut, saluran ini

menjadi sempit dan jauh lebih panjang.

Usus depan untuk sementara dibatasi oleh lempeng prokordal, suatu selaput
ekto-endoderm yang kini disebut membran bukofaringeal yang pada akhir
minggu ketiga akan pecah dan membentuk hubungan terbuka antara rongga
amnion dan usus primitif. Usus belakang untuk sementara juga berujung pada
sebuah selaput ekto-endoderm yang disebut membran kloaka.

Sebagai akibat pertumbuhan somit yang cepat, cakram mudigah yang pada
mulanya rata, mulai melipat kearah lateral dan mudigah menjadi berbentuk bulat.
Bersamaan dengan itu, terbentuklah dinding badan ventral mudigah, kecuali
sebagian kecil di daerah ventral perut, tempat tungkai kantung kuning telur
berhubungan.

Meskipun usus depan dan usus belakang terbentuk, sebagai hasil dari
pembentukan lipat kepala dan lipat ekor, usus tengah tetap berhubungan dengan
kantung kuning telur. Mula-mula hubungan ini lebar, tetapi karena terjadi
pelipatan lateral, hubungan ini menjadi panjang dan sempit hingga membentuk
duktus vitellinus. Sesudah itu, ketika duktus vitellinus mengalami obliterasi, usus
tengah kehilangan hubungannya dengan rongga asal yang dilapisi endoderm
dan akhirnya kedudukannya menjadi bebas di dalam rongga perut.

Akibat penting lain dari pelipatan sefalokaudal dan lateral adalah pencakupan
sebagian allantois ke dalam tubuh mudigah, ditempat terbentuknya kloaka.
Bagian atas allantois tetap di dalam tangkai penghubung. Pada minggu kelima,
tangkai kantung kuning telur dan tangkai penghubung bersatu membentuk tali
pusat (Gb. 6)

Gb. 6. Mudigah manusia

Pada manusia kantung kuning telur hanya terdapat sepintas saja dan mungkin
sekali hanya memainkan peranan sebagai sumber makanan pada tingkat
perkembangan dini. Pada perkembangan bulan kedua, organ ini ditemukan di
dalam rongga korion. Oleh karena itu lapisan mudigah endoderm mula-mula
membentuk epitel yang melapisi usus primitif dan bagian-bagian allantois yang
mencakup

intraembrional

dan

duktus

vitellinus.

selanjutnya, lapisan ini menghasilkan :

a) Lapisan epitel saluran pernafasan

b) Parenkim tiroid, kelenjar paratiroid, hati dan pankreas

c) Stroma retikular tonsil dan timus

d) Lapisan epitel kandung kemih dan uretra

e) Lapisan epitel kavum timpani dan tuba eustachii

Dalam

perkembangan

5. TAHAP PERKEMBANGAN LANJUT JANIN

1) MINGGU KE-8
Pada akhir masa embrional ini, ukuran embrio mencapai kisaran 27-31 mm.
Kepalanya membulat dan wajah polos kekanak-kanakan mulai tampak nyata
dengan tertariknya bagian antara dahi dan pangkal hidung ke arah dalam,
hingga kian memperjelas cikal-bakal kemancungan hidung si janin.

Gambar 7 : Janin usia 8 minggu


Langit-langit mulut mulai terbentuk, begitu juga kelopak mata serta daun telinga
luar. Secara keseluruhan makin menyerupai bayi dengan taksiran berat sekitar 5
gram. Meski masih lemah, permulaan dari rangka tubuh secara keseluruhan
sudah selesai dan lengkap terbentuk dalam minggu ini. Semua organ tubuh juga
mulai bekerja, meski belum sempurna, misalnya otak yang mulai mengirim
sinyal/perintah ke organ-organ tubuh atau hati yang mulai memproduksi sel-sel
darah. Tubuh yang masih rentan ini pun mulai bisa bergerak secara tak teratur,
rata-rata sebanyak 60 kali gerakan dalam satu jam.
2) MINGGU KE-9

Bila jenis kelaminnya laki-laki, di usia ini sudah bisa jelas dipastikan. Sementara
perempuan masih sesekali meragukan. Aktivitas menelan janin, rata-rata
sebanyak 25 kali dalam satu jam. Tangan janin pun mulai bergerak bebas. Kuku
pada setiap jari tangan dan kakinya muncul di minggu ini. Panjangnya menjadi
sekitar 10 cm dengan berat 20 gram. Dalam minggu ini pula pembentukan kulit
dan fungsinya berkembang menuju penyempurnaan.
3) MINGGU KE-10
Pada beberapa janin, aktivitas menelan dan menggerakkan tangannya secara
bebas baru dimulai minggu ini. Jenis kelamin perempuan bisa diidentifikasikan
secara jelas. Sistem otot dan saraf sudah mencapai tingkat kematangan. Selain
telah mampu pula mengirim dan menerima pesan dari otak. Dengan mulai
berfungsinya sistem saraf, janin sudah mampu melakukan gerak refleks. Bahkan
kaki sudah mampu melakukan gerakan menendang.
4) MINGGU KE-11
Panjang tubuh mencapai sekitar 6,5 cm. Baik rambut, kuku jari tangan dan
kakinya mulai tumbuh. Sesekali di usia ini janin sudah menguap.
Gerakan demi gerakan kaki dan tangan, termasuk gerakan menggeliat,
meluruskan tubuh dan menundukkan kepala, sudah bisa dirasakan ibu. Bahkan,
janin kini sudah bisa mengubah posisinya dengan berputar, memanjang,
bergelung, atau malah jumpalitan yang kerap terasa menyakitkan sekaligus
memberi sensasi kebahagiaan tersendiri.
5) MINGGU KE-12
Struktur yang telah terbentuk akan terus bertumbuh dan berkembang kian
sempurna. Di usia ini umumnya ibu bisa mendengar denyut jantung bayinya,
dengan memakai alat khusus yang disebut fetal dophtone (doppler).
Di minggu ini sistem rangka tubuh memiliki pusat pembentukan tulang/osifikasi
pada sebagian besar tulang. Sistem pencernaan mampu menghasilkan kontraksi
untuk mendorong makanan ke seluruh usus dan mampu menyerap glukosa

secara aktif.

Gambar 8 : Janin usia 12 minggu


Bila diinginkan, di minggu ini pun bisa diagnosa penyakit keturunan misalnya
thalassemia dan sindroma Down, yang bisa dilakukan lewat pemeriksaan
Chorion Villus Sampling (CVS) guna memastikan ada tidak kerusakan pada
kromosom.
6) MINGGU KE-13
Panjang janin (dari puncak kepala sampai sakrum/bokong) ditaksir sekitar 65-78
mm dengan berat kira-kira 20 gram. Rahim dapat teraba kira-kira 10 cm di
bawah pusar. Pertumbuhan kepala bayi yang saat ini kira-kira separuh panjang
janin mengalami perlambatan dibanding bagian tubuh lainnya. Perlambatan ini
berlangsung terus, hingga di akhir kehamilan akan tampak proporsional, yakni
kira-kira tinggal sepertiga panjang tubuhnya.
Kedua cikal bakal matanya makin hari kian bergeser ke bagian depan wajah
meski masih terpisah jauh satu sama lain. Sementara telinga bagian luar terus
berkembang dan menyerupai telinga normal. Kulit janin yang masih sangat tipis
membuat pembuluh darah terlihat jelas di bawah kulitnya.

Seluruh tubuh janin ditutupi rambut-rambut halus yang disebut lanugo.


Kerangka/tulang belulangnya sudah terbentuk di minggu-minggu sebelumnya
dan di minggu-minggu selanjutnya akan berosifikasi/menahan kalsium dengan
sangat cepat, hingga tulangnya jadi lebih keras.
7) MINGGU KE-14
Panjangnya mencapai kisaran 80 mm atau 8 cm dengan berat sekitar 25 gram.
Telinga janin menempati posisi normal di sisi kiri dan kanan kepala. Demikian
pula mata mengarah ke posisi sebenarnya. Leher pun terus memanjang
sementara dagu tak lagi menyatu ke dada. Sedangkan alat-alat kelamin bagian
luar juga berkembang lebih nyata, hingga lebih mudah membedakan jenis
kelaminnya.
8) MINGGU KE-15
Panjang janin sekitar 10-11 cm dengan berat kira-kira 80 gram. Kehamilan makin
terlihat, hingga demi kenyamanan si ibu maupun janinnya. Garis-garis regangan
yang disebut striae umumnya muncul di daerah perut, payudara, bokong dan
panggul.
9) MINGGU KE-16
Kini panjangnya mencapai taksiran 12 cm dengan berat kira-kira 100 gram.
Refleks gerak bisa dirasakan ibu, meski masih amat sederhana yang biasanya
terasa sebagai kedutan. Rambut halus di atas bibir atas dan alis mata juga
tampak melengkapi lanugo yang memenuhi seluruh tubuhnya. Bahkan, jarijemari kaki dan tangannya dilengkapi dengan sebentuk kuku. Tungkai kaki yang
di awal pembentukannya muncul belakangan, kini lebih panjang daripada
lengan.

Gambar 9 : Janin usia 16 minggu


Pada usia ini janin memproduksi alfafetoprotein, yaitu protein yang hanya
dijumpai pada darah ibu hamil. Bila kadar protein ini berlebih bisa merupakan
pertanda ada masalah serius pada janin, seperti spina bifida, yakni kelainan
kongenital yang berkaitan dengan saraf tulang belakang. Sebaliknya, kadar
alfafetoprotein yang rendah bersignifikasi dengan Sindrom Down. Sementara
jumlah alfafetoprotein ini sendiri dapat diukur dengan pemeriksaan air
ketuban/amniosentesis.
Sistem pencernaan janin pun mulai menjalankan fungsinya. Dalam waktu 24 jam
janin menelan air ketuban sekitar 450-500 ml.
Hati yang berfungsi membentuk darah, melakukan metabolisme hemoglobin dan
bilirubin, lalu mengubahnya jadi biliverdin yang disalurkan ke usus sebagai
bahan sisa metabolisme. Bila terjadi asfiksia (gangguan oksigenasi) akan muncul
rangsangan yang membuat gerak peristaltik usus janin meningkat sekaligus
terbukanya sfingter ani (klep anus). Akibatnya, janin mengeluarkan mekoneum
yang membuat air ketuban jadi kehijauan.
Di usia ini, janin juga mulai mampu mengenali dan mendengar suara-suara dari

luar kantong ketuban. Termasuk detak jantung ibu bahkan suara-suara di luar
diri si ibu, seperti suara gaduh atau teriakan maupun sapaan lembut.
10)MINGGU KE-17
Panjang tubuh janin meningkat lebih pesat ketimbang lebarnya, menjadi 13 cm
dengan berat sekitar 120 gram, hingga bentuk rahim terlihat oval dan bukan
membulat. Akibatnya, rahim terdorong dari rongga panggul mengarah ke rongga
perut. Otomatis usus ibu terdorong nyaris mencapai daerah hati, hingga kerap
terasa menusuk ulu hati.
Pertumbuhan rahim yang pesat ini pun membuat ligamen-ligamen meregang,
terutama bila ada gerakan mendadak. Rasa nyeri atau tak nyaman ini disebut
nyeri ligamen rotundum. Lemak yang juga sering disebut jaringan adiposa mulai
terbentuk di bawah kulit bayi yang semula sedemikian tipis pada minggu ini dan
minggu-minggu berikutnya. Lemak ini berperan penting untuk menjaga
kestabilan suhu dan metabolisme tubuh. Sementara pada beberapa ibu yang
pernah hamil, gerakan bayi mulai bisa dirasakan di minggu ini. Kendati masih
samar dan tak selalu bisa dirasakan setiap saat sepanjang hari. Sedangkan bila
kehamilan tersebut merupakan kehamilan pertama, gerakan yang sama
umumnya baru mulai bisa dirasakan pada minggu ke-20.
11)MINGGU KE-18
Taksiran panjang janin adalah 14 cm dengan berat sekitar 150 gram. Rahim
dapat diraba tepat di bawah pusar. Pertumbuhan rahim ke depan akan
mengubah keseimbangan tubuh ibu.
Mulai usia ini hubungan interaktif antara ibu dan janinnya kian terjalin erat. Tak
mengherankan setiap kali si ibu gembira, sedih, lapar atau merasakan hal lain,
janin pun merasakan hal sama.
12)MINGGU KE-19
Panjang janin diperkirakan 13-15 cm dengan taksiran berat 200 gram. Sistem
saraf janin yang terbentuk di minggu ke-4, di minggu ini makin sempurna

perkembangannya, yakni dengan diproduksi cairan serebrospinalis yang


mestinya bersirkulasi di otak dan saraf tulang belakang tanpa hambatan.
13)MINGGU KE-20
Panjang janin mencapai kisaran 14-16 cm dengan berat sekitar 260 gram. Kulit
yang menutupi tubuh janin mulai bisa dibedakan menjadi dua lapisan, yakni
lapisan epidermis yang terletak di permukaan dan lapisan dermis yang
merupakan lapisan dalam. Epidermis selanjutnya akan membentuk pola-pola
tertentu pada ujung jari, telapak tangan maupun telapak kaki. Sedangkan lapisan
dermis mengandung pembuluh-pembuluh darah kecil, saraf dan sejumlah besar
lemak.

Gambar 10 : Janin usia 20 minggu


Seiring perkembangannya yang pesat, kebutuhan darah janin pun meningkat
tajam. Agar anemia tak mengancam kehamilan, ibu harus mencukupi
kebutuhannya akan asupan zat besi, baik lewat konsumsi makanan bergizi
seimbang maupun suplemen yang dianjurkan dokter.
14)MINGGU KE-21
Beratnya sekitar 350 gram dengan panjang kira-kira 18 cm. Pada minggu ini,

berbagai sistem organ tubuh mengalami pematangan fungsi dan perkembangan.


15)MINGGU KE-22
Berat mencapai taksiran 400-500 gram dan panjang sekitar 19 cm.
Ciri khas usia kehamilan ini adalah substansi putih mirip pasta penutup kulit
tubuh janin yang disebut vernix caseosa. Fungsinya melindungi kulit janin
terhadap cairan ketuban maupun kelak saat berada di jalan lahir. Di usia ini pula
kelopak mata mulai menjalankan fungsinya untuk melindungi mata dengan
gerakan menutup dan membuka. Jantung janin yang terbentuk di minggu ke-5
pun mengalami modifikasi sedemikian rupa dan mulai menjalankan fungsinya
memompa darah sebagai persiapannya kelak saat lahir ke dunia.
16)MINGGU KE-23
Tubuh janin tak lagi terlihat rentan karena bertambah montok dengan berat
hampir mencapai 550 gram dan panjang sekitar 20 cm. Kendati begitu, kulitnya
masih tampak keriput karena kandungan lemak di bawah kulitnya tak sebanyak
saat ia dilahirkan kelak. Namun wajah dan tubuhnya secara keseluruhan amat
mirip dengan penampilannya sewaktu dilahirkan nanti. Hanya saja rambut
lanugo yang menutup sekujur tubuhnya kadang berwarna lebih gelap di usia
kehamilan ini.
17)MINGGU KE-24

Janin makin terlihat berisi dengan berat yang diperkirakan mencapai 600 gram dan panjang
sekitar 21 cm. Rahim terletak sekitar 5 cm di atas pusar atau sekitar 24 cm di atas simfisis
pubis/tulang kemaluan.

Gambar 11 : Janin usia 24 minggu

Kelopak-kelopak

matanya

makin

sempurna

dilengkapi

bulu

mata.

Pendengarannya berfungsi penuh. Terbukti, janin mulai bereaksi dengan


menggerakkan tubuhnya secara lembut jika mendengar irama musik yang
disukainya. Begitu juga ia akan menunjukkan respon khas saat mendengar
suara-suara bising atau teriakan yang tak disukainya.
18)MINGGU KE-25
Berat bayi mencapai sekitar 700 gram dengan panjang dari puncak kepala
sampai bokong kira-kira 22 cm. Sementara jarak dari puncak rahim ke simfisis
pubis sekitar 25 cm.
19)MINGGU KE-26
Di usia ini berat bayi diperkirakan hampir mencapai 850 gram dengan panjang
dari bokong dan puncak kepala sekitar 23 cm. Denyut jantung sudah jelas-jelas
terdengar, normalnya 120-160 denyut per menit.
20)MINGGU KE-27
Beratnya melebihi 1000 gram. Panjang totalnya mencapai 34 cm dengan
panjang bokong ke puncak kepala sekitar 24 cm. Di minggu ini kelopak mata
mulai membuka. Sementara retina yang berada di bagian belakang mata,
membentuk lapisan-lapisan yang berfungsi menerima cahaya dan informasi
mengenai pencahayaan itu sekaligus meneruskannya ke otak.
Jika terjadi kesalahan pembentukan lapisan-lapisan inilah yang kelak

memunculkan katarak kongenital/bawaan saat bayi dilahirkan. Lensa jadi


berkabut atau keputihan. Walaupun dipicu oleh faktor genetik, katarak bawaan
ini ditemukan pada anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang terserang rubella
pada usia kehamilan di minggu-minggu akhir trimester dua.
21)MINGGU KE-28
Puncak rahim berada kira-kira 8 cm di atas pusar. Gerakan janin makin kuat
dengan intensitas yang makin sering, sementara denyut jantungnya pun kian
mudah didengar. Tubuhnya masih terlihat kurus meski mencapai berat sekitar
1100 gram dengan kisaran panjang 35-38 cm. Kendati dibanding minggu-minggu
sebelumnya lebih berisi dengan bertambah jumlah lemak di bawah kulitnya yang
terlihat kemerahan. Jumlah jaringan otak di usia kehamilan ini meningkat. Begitu
juga rambut kepalanya terus bertumbuh makin panjang. Alis dan kelopak
matanya pun terbentuk, sementara selaput yang semula menutupi bola matanya
sudah hilang.
22)MINGGU KE-29
Beratnya sekitar 1250 gram dengan panjang rata-rata 37 cm. Kelahiran prematur
mesti diwaspadai karena umumnya meningkatkan keterlambatan perkembangan
fisik maupun mentalnya. Bila dilahirkan di minggu ini, ia mampu bernapas meski
dengan susah payah. Ia pun bisa menangis, kendati masih terdengar lirih.
Kemampuannya bertahan untuk hidup pun masih tipis karena perkembangan
paru-parunya belum sempurna.

23)MINGGU KE-30
Beratnya mencapai 1400 gram dan kisaran panjang 38 cm. Puncak rahim yang
berada sekitar 10 cm di atas pusar memperbesar rasa tak nyaman, terutama
pada panggul dan perut seiring bertambah besar kehamilan.

Gambar 12 : Janin usia 30 minggu


Mulai dirasakan denyutan halus, sikutan/tendangan sampai gerak cepat meliukliuk yang menimbulkan rasa nyeri pada ibu. Aktifnya gerakan ini tak mustahil
akan membentuk simpul-simpul. Bila sampai membentuk simpul mati tentu
sangat membahayakan karena suplai gizi dan oksigen dari ibu jadi terhenti atau
paling tidak terhambat.
24)MINGGU KE-31
Berat bayi sekitar 1600 gram dengan taksiran panjang 40 cm.
25)MINGGU KE-32
Pada usia ini berat bayi berkisar 1800-2000 gram dengan panjang tubuh 42 cm.
Umumnya hemodilusi atau pengenceran darah mengalami puncaknya.
26)MINGGU KE-33
Beratnya lebih dari 2000 gram dan panjangnya sekitar 43 cm.
27)MINGGU KE-34
Berat bayi hampir 2275 gram dengan taksiran panjang sekitar 44 cm.

28)MINGGU KE-35
Secara fisik bayi berukuran sekitar 45 cm dengan berat 2450 gram. Namun yang
terpenting, mulai minggu ini bayi umumnya sudah matang fungsi paru-parunya.
Ini sangat penting karena kematangan paru-paru sangat menentukan life
viabilitas atau kemampuan si bayi untuk bertahan hidup. Kematangan fungsi
paru-paru ini sendiri akan dilakukan lewat pengambilan cairan amnion untuk
menilai lesitin spingomyelin atau selaput tipis yang menyelubungi paru-paru.
29)MINGGU KE-36

Berat bayi harusnya mencapai 2500 gram dengan panjang 46 cm. Tes kematangan paru di
minggu ini perlu dilakukan bila muncul keragu-raguan akan taksiran usia kehamilan. Terutama
pada pasien yang tak ingat kapan menstruasi terakhir dan bagaimana pola/siklus haidnya.
Ataupun pada bayi besar namun tak cocok dengan pertumbuhan usia sebenarnya.

Gambar 13 : Janin usia 36 minggu

30)MINGGU KE-37
Panjang janin sekitar 47 cm dan berat 2950 gram, di usia ini bayi dikatakan
aterm atau siap lahir karena seluruh fungsi organ-organ tubuhnya bisa matang
untuk bekerja sendiri. Kepala bayi biasanya masuk ke jalan lahir dengan posisi
siap lahir.

31)MINGGU KE-38
Berat bayi sekitar 3100 gram dengan panjang 48 cm.
32)MINGGU KE-39
Di usia kehamilan ini bayi mencapai berat sekitar 3250 gram dengan panjang
sekitar 49 cm.
33)MINGGU KE-40
Panjangnya mencapai kisaran 45-55 cm dan berat sekitar 3300 gram. Betul-betul
cukup bulan dan siap dilahirkan. Jika laki-laki, testisnya sudah turun ke skrotum,
sedangkan pada wanita, labia mayora (bibir kemaluan bagian luar) sudah
berkembang baik dan menutupi labia minora (bibir kemaluan bagian dalam).

6. HAL HAL YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN JANIN

a. Faktor Genetik

Faktor genetik dari pihak ibu dan ayah, perlu dipertimbangkan dalam perkembangan dan
pertumbuhan janin yang normal. Faktor genetik mempengaruhi pertumbuhan janin
secara langsung. Alel dari janin sesuai dengan alel yang ada pada gen orang tuanya.
Gen mempunyai faktor penting dalam pengaturan pertumbuhan manusia. Pada sebagian
besar gen ibu menekan pertumbuhan, sedangkan gen ayah mendukung pertumbuhan
seperti IGF-2. IGF-2 muncul dikarenakan adanya konflik antara gen ibu dan ayah dan
transfer nutrisi dari ibu ke janin. IGF-2 menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang
abnormal dikenal dengan syndrome beckwith-wiedemann yang memiliki karakteristik
berat lahir yang lebih, organomegali, makroglosia dan hipoglikemi neonatal.

b. Faktor Plasenta

Perfusi plasenta dan fungsi plasenta yang adekuat sangat penting. Kemampuan plasenta
dalam mentransfer nutrisi dari ibu ke janin menentukan pertumbuhan janin yang normal.
Perkembangan dari plasenta itu sendiri dipengaruhi oleh hormon plasenta. Ukuran

plasenta mempengaruhi kemampuannya untuk pengangkutan bahan gizi dan supply


oksigen. Glukosa merupakan bahan bakar utama yang dapat diperoleh dari darah ibu
secara langsung. Jadi fungsi plasenta; sebagai transfer nutrisi pada janin, sebagai alat
untuk mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi), sebagai alat untuk mengeluarkan zat
asam dan mengeluarkan CO2 (respirasi), sebagai alat untuk membentuk hormon dan
sebagai penyalur berbagai antibodi ke janin.

c. Nutrisi

Nutrisi ibu bertanggung jawab terhadap ketersediaan nutrisi untuk fetoplasental unit. Hal
ini penting yang ditandai dengan adanya fakta bahwa pertumbuhan janin terhambat
disebabkan oleh nutrisi ibu yang buruk pada negara berkembang.

Bagan : Mekanisme kurangnya nutrisi dan supply oksigen pada pertumbuhan janin yang
terhambat

Bagan : Mekanisme Insullin like Growth Factor ( IGF )

d. Faktor Ibu

Berbagai faktor ibu mempengaruhi pertumbuhan janin, meliputi berat badan saat hamil,
kesehatan pada umumnya, genotip. Pada ibu yang memiliki kelebihan berat badan perlu
diperhatikan adanya kemungkinan kehamilan dengan diabetes millitus. Kondisi rahim ibu
yang sehat berpengaruh terhadap proses implantasi dan tumbuh kembang janin yang
normal.

B. PENYIMPANGAN PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN

1. Gangguan pertumbuhan janin

Gangguan pertumbuhan janin dalam kehamilan (IUGR=FGR) merupakan kejadian yang


sering ditemukan dalam bidang obstetri. Kelainan ini meningkatkan morbiditas dan
mortalitas bayi nomor 2 setelah prematuritas.

a. Definisi

IUGR adalah janin yang beratnya dibawah presentil ke 10 usia kehamilannya dan
lingkaran perut dibawah presentil ke 2,5. Standar berat badan bayi yang disebut
cukup bulan adalah 2500 gr.

Grafik presentil kehamilan

a) Penyebab

Penyebab gangguan pertumbuhan janin bisa berasal dari ibu maupun janin. Secara
garis besar penyebabnya adalah insufisiensi Plasenta (terganggunya aliran darah ke
plasenta), Penyakit Kronis ibu (jantung, hipertensi). Masalah plasenta (plasenta tidak
pada tempatnya dan lepasnya plasenta sebelum waktunya, kelainan genetik (trisomi,
triploidi), infeksi (rubella, herpes simplex, toxoplasma), Bahan-bahan (rokok alkohol),
dan sosial ekonomi (ketidak tahuan, kemiskinan).

b.

Pembagian
Ada dua jenis IUGR, simetris dan tidak simetris. Simetris artinya ukuran kepala dan
perut seimbang, sedangkan yang tidak simetris, ukuran kepala normal sedangkan
perutnya kecil dari standar.

c.

Penanganan
Monitoring kondisi janin dengan pengukuran berat 3 minggu sekali, hitung gerak
janin, CTG (rekam denyut jantung janin) 2 minggu sekali, Profil biofisik
(kesejahteraan janin). Jika hasil pemantauan tidak normal, pertimbangkan untuk
melahirkan bayi setelah sebelumnya memberikan obat untuk mematangkan paruparu janin. Jika hasil pemantauan baik maka kehamilan dapat diteruskan. Persalinan
tetap diusahakan pervaginam selama monitoring kondisi bayi masih baik, jika selama
proses persalinan keadaan bayi tidak baik maka dilakukan operasi Caesar. Fungsi
USG adalah mengukur biometri janin, kemudian dibandingkan dengan usia
kehamilan berdasarkan hari haid terakhir (LMP=last menstrual periode). Ukuran yang
dipakai adalah AC, BPD dan FL

2. Kelainan Pada Janin

Tidak semua janin dapat berkembang dengan sempurna, ada kalanya terjadi kelainankelainan pada janin. Kelainan dapat terjadi melalui tiga cara yaitu:
a.

Pengaruh

bahan

berbahaya

dari

lingkungan

luar

selama

periode

awal

perkembangan.
b. Penerusan abnormalitas genetik dari induknya.
c.

Aberasi kromosom yang terdapat pada salah satu gamet atau yang timbul pada
pembelahan pertama.

Kelainan-kelainan pada janin diantaranya adalah :


a. Teratoma
Teratoma adalah tumor yang mengandung jaringan derivat dua - tiga lapis benih.
Terjadi saat janin masih embrio. Terjadinya teratoma adalah karena embrio awal
(tingkat morulla, blastula, awal grastula) lepas dari kontrol/terganggu. Ia seperti tubuh
yang kembar tidak seimbang yang satu dapat tumbuh normal yang lain hanya
gumpalan jaringan yang tidak utuh atau tidak wajar. Teratoma disebut juga fetus in
fetu atau bayi dalam bayi
b. Sindrom Down
Sindrom down merupakan kelainan fisik janin dengan ciri-ciri yang khas seperti
retardasi mental, kelainan jantung bawaan, otot-otot melemah (hypotonia), leukemia,
hingga gangguan penglihatan dan pendengaran,. Kelainan ini terjadi karena kelainan
pada kromosom yaitu pada kromosom 21. Pada penderita ini memiliki tiga untai
kromosom 21 (Corebima, 1997).
c. Sindrom Edward
Sindrom Edward adalah kelainan pada janin karena kromosom janin mengalami
kelainan. Kelainan ini terjadi karena kromosom 18 nya mengalami kelebihan yaitu
terdapat tiga untai kromosom 18. Ciri kelainan janin ini adalah retardasi mental berat,
gangguan pertumbuhan, ukuran kepala dan pinggul kecil, kelaianan pada tangan dan
kaki.
d. Sindrom Patau
Nama lain dari Sindrom Patau adalah trisomi 13. Sindrom ini karena terjadi kelainan
pada kromosom ke-13 dari penderita tersebut, yaitu memiliki tiga untai kromosom 13.
Ciri dari kelainan ini adalah bibir sumbing, gangguan berat pada perkembangan otak,
jantung, ginjal, tangan dan kaki. Biasanya jika gejalanya sangat berat janin akan mati
setelah beberapa saat dilahirkan.
e. Talasemia
Talasemia adalah salah satu kelainan pada janin. Talasemia ini memiliki ciri dimana

tubuh kekurangan salah satu zat pembentuk hemoglobin (Hb) sehingga penderita
mengalami anemia berat akibatnya harus menjalani transfusi darah seumur hidup.
f.

Fenilketonuria
Fenilketonuria adalah gangguan metabolisme pembentuk protein yaitu fenilalanin
(salah satu jenis asam amino) yang menyebabkan hambatan atau retardasi mental.
Kelainan ini jika dideteksi sejak dini dapat diminimalkan dengan cara memberi
asupan fenilalanin yang banyak terdapat pada keju, susu, telur, ikan, daging,
pemberian obat atau vitamin tertentu.

g. Hipotiroid Kongenital
Hipotiroid Kongenital merupakan penyakit yang dibawa sejak janin atau bisa
disebut dengan kelainan janin. Hal ini karena tubuh tidak mampu atau hanya
mampu sedikit memproduksi hormon tiroid. Karena hormon tiroid adalah
hormon petumbuhan maka jika kekurangan hormon ini maka pertumbuhan
fisik dan mental akan terganggu. Pencegahan dapat dilakukan dengan
memberi suplemen tiroid sejak dini.
h. Fokomelia
Cacat pada lengan, merupakan cacat yang disebabkan oleh Thalidomide. 10 % dari
wanita hamil yang mengkonsumsi obat ini pada periode sensitive (organogenesis)
akan melahirkan bayi cacat.
i.

Selosomi
Selosomi merupakan kelainan pada waktu menutupnya dinding perut sehingga
organ-organ visceral terdapat di luar rongga perut.

3. Faktor-Faktor Penyebab Kelainan pada Janin

a. Faktor intern
1) Faktor genetic :
Mutasi : Perubahan pada susunan nukleutida gen (DNA).

Mutasi

menimbulkan allel cacat, yang mungkin dominan atau resesif. Contoh :

Polydactil, hemofili.
Aberasi : Perubahan pada susunan kromosom. Contoh : Sindrom Turner,
Sindrom Down
2) Faktor umur ibu
Telah diketahui bahwa mongolisme lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang
dilahirkan oleh ibu yang mendekati masa menopause.
3) Faktor hormonal
Faktor hormonal diduga mempunyai hubungan dengan kejadian kelainan
kongenital. Bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroidisme atau ibu penderita
diabetes mellitus kemungkinan untuk mengalami gangguan pertumbuhan lebih
besar bila dibandingkan dengan bayi yang normal.
b. Faktor Ekstern
1) Infeksi
Cacat dapat terjadi pada janin apabila ibunya terkena penyakit infeksi terutama
oleh virus. Contoh cacar air dan campak. Dikenal pula sitomegalovirus (CMV)
yang menginfeksi ibu yang sedang hamil yang menyebabkan bayinya menjadi
tuli, gangguan hati dan retardasi mental.
2) Obat
Berbagai macam obat yang diminum oleh ibu hamil dapat menimbulkan cacat
pada janinnya. Contoh obat yaitu aminopterin yang mempunyai sifat antagonis
terhadap asam folat.
3) Radiasi
Ibu hamil yang terkena radiasi sinar X akan melahirkan bayi cacat pada otak.

4) Defisiensi
Ibu yang defisiensi vitamin atau hormone dapat menimbulkan cacat pada janin.
Contohnya devisiensi vit. A akan menimbulkan cacat mata.
5) Emosi

Sumbing dan Labio palatosciziz (ada celah di langit langit mulut), kalau terjadi
pada minggu ke-7 sampai ke 10 kehamilan orang, dapat disebabkan emosi ibu.
Emosi itu mungkkin lewat system hormone. Stress psikis ibu membuat cortex
adrenal hyperactive, sehingga pengeluaran hydrocortisone tinggi, hormone ini,
dapat menginduksi terjadinya langit-langit pecah. Pengaruh emosi itu mungkin
juga lewat otak, terus ke hypothalamus, dan merangsang pengeluaran
adrenocorticotropin dari hipofisa, yang akan mendorong korteks adrenal
mengeluarkan hormon tersebut.

BAB III. SIMPULAN

Masa embrio dimulai sejak 4 minggu sampai dengan 8 minggu setelah fertilisasi. Pada
masa ini seluruh struktur embrio baik dalam maupun bagian luar mengalami
perkembangan. Hasil akhir dari perkembangan masa ini adalah embrio yang telah
memiliki ciri-ciri atau karakteristik seperti manusia. Pada masa embrio atau juga dikenal
dengan masa organogenesis, masingmasing lapisan dari ketiga lapisan mudigah
membentuk banyak jaringan dan organ yang spesifik. Menjelang akhir masa embrio ini,
sistemsistem organ utama telah terbentuk. Karena pembentukan organ ini, bentuk
mudigah banyak berubah dan ciri-ciri utama bentuk tubuh bagian luar sudah dapat
dikenali menjelang bulan kedua.

Sedangkan masa janin berlangsung sejak 9 minggu sampai dengan dilahirkan. Ciri-ciri
utama masa ini adalah pertumbuhan dan perubahan jaringan serta organ. Struktur baru
mulai terlihat seperti rambut dan kuku dari janin. Pada masa ini pergerakan janin terjadi
dan ditemukan bukti-bukti bahwa reflek-reflek guna mempertahankan hidup (reflek
menghisap dan menelan) janin telah ada.

Hal hal yang mempengaruhi pertumbuhan janin :

1. Faktor genetik

2. Faktor nutrisi

3. Faktor plasenta

4. Faktor ibu

DAFTAR PUSTAKA

1. Reece, E. A. & Hobbins, J.C.. Clinical Obstetrics : The Fetus and Mother . 3th Edition, UK :
Blackwell Publishing Ltd, 2007, P.19 - 32.
2. Sadler, T.W. Embriologi Kedokteran Langman, Jakarta : EGC,1997, P.67 99.
3. Langman, Embriologi Kedokteran, EGC : Jakarta, 2000.
4. Llewellyn D, Dasar dasar Obstetri dan Ginekologi, Edisi 6, Jakarta, 2001.
5. http:// iqbalali.com.Kelainan Pada Janin, Diakses tanggal 12 Januari 2009.
6. www. Gizi.net. Pertumbuhan janin, Diakses tanggal 12 Januari 2009.
7. www.kesrepro.Pertumbuhan janin Diakses tanggal 12 Januari 2009.
8. http://konsultasi spesialis obsgin blogspot com. Gangguan Pertumbuhan Janin, Diakses
tanggal 12 Januari 2009.