Anda di halaman 1dari 29

1

M A K A L A H B I O F A R M A S E T I K A
Biofarmasetika Sediaan yang Diberikan Melalui Kulit



Disusun Oleh :
G 701 11 051 IKALIANA
G 701 11 056 PRAMITA PUTRI
G 701 11 066 NI WAYAN SWINTARI
G 701 11 071 MOH. FAJRIN
G 701 11 080 ASWADI
G 701 11 084 MUHAMMAD NAJIB
G 701 11 088 ZAHRA MEGAWATI
G 701 11 099 MUH. YUSUF ISLAMI

Kelompok :
I ( Satu )
Dosen Penanggung jawab :
Muh. Rinaldhi T, S.Farm., M.,Sc., Apt.,

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2013 / 2014

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan
rahmat-Nya yang diberikan kepada kami berupa kesehatan rohani dan jasmani
sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Biofarmasetiks yang berjudul
Biofarmasetika Sediaan yang Diberikan Melalui Kulit , yang dapat
diselesaikan dengan baik.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami banyak menemukan
hambatan, tetapi berkat dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang telah
membantu serta para dosen-dosen farmasi yang telah banyak membantu kami
dengan baik, kami dapat menyelesaikannya dengan baik. Untuk itu tidak lupa
kami mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membantu dalam
membuat makalah ini hingga makalah biofarmasetika ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Tidak lupa kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum
sempurna, oleh karena itu untuk memperbaiki makalah ini kami mengharapkan
kritik-kritik dan saran-saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat
bagi kami khususnya dan para pembaca pada umumnya, serta dapat dimanfaatkan
dengan baik untuk menjadi pedoman bagi mata kuliah biofarmasetika selanjutnya.
Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.


Palu, 02 Mei 2014


Kelompok I (Satu)


3
DAFTAR ISI

Sampul ................................................................................................................ 1
Kata Pengantar .................................................................................................... 2
Daftar Isi.............................................................................................................. 3
Bab. I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang............................................................................. 4
1.2 Tujuan .......................................................................................... 5
Bab. II Pembahasan
2.1 Anatomi dan fisiologi kulit .......................................................... 6
2.2 Pembuluh darah yang melewati tiap lapisan kulit ....................... 9
2.3 Komponen dan karakteristik tiap lapisan kulit ............................ 10
2.4 Faktor yang mempengaruhi liberasi, disolusi, serta absorbsi obat 14
2.5 Evaluasi biofarmasetika sediaan.................................................. 21
2.6 Kondisi yang memungkinkan dan tidak memungkinkan untuk
digunakan sediaan topikal ........................................................... 25

Bab III. Penutup
3.1 Kesimpulan .................................................................................. 26
3.2 Saran ............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA


4
B A B I
P E N D A H U L U A N

1.1 Latar Belakang
Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang sempurna terhadap
pengaruh luar, baik pengaruh fisik maupun kimia. Kulit merupakan sawar
fisiologik yang penting karena ia mampu manahan penembusan bahan gas,
cair maupun padat baik yang berasal dari lingkungan luar tubuh maupun
dari komponen organisme. Meskipun kulit relatif permeable terhadap
senyawa-senyawa kimia, namun dalam keadaan-keadaan tertentu kulit dapat
ditembus oleh senyawa obat atau bahan berbahaya yang dapat menimbulkan
efek terapetik atau efek toksik, baik yang bersifat setempat maupun sistemik
(Yusriadi, 2014).
Kulit memiliki fungsi sebagai ; perlindungan awal dari tubuh
dengan lingkungan luar tubuh, melindungi jaringan yang lebih dalam dari
kerusakan fisik, kimia, dan mencegah masuknya mikroorganisme,
melindungi tubuh dari kehilangan cairan tubuh dengan mencegah,
penguapan air yang berlebihan, bertindak sebagai pengatur panas, tempat
penyimpanan pro vitamin d dan pembentukan vitamin D, merupakan salah
satu organ ekskresi, yaitu melalui keringat, sebagai organ pengindra,
sebagai tempat pembentukan kolagen.
Kulit, organ terbesar dalam tubuh manusia, terdiri dari dua lapisan:
epidermis dan dermis. Di bawah dermis terletak subkutan, yang sebagian
besar terdiri dari sel lemak. Epidermis membentuk lapisan luar. Di dasar
lapisan ini, sel-sel terus menerus terbagi, membentuk sel-sel baru. Dermis
membentuk lapisan di bawah epidermis dan lebih tebal dari epidermis.
Dermis terutama terdiri dari serat kolagen dan elastin. Hal ini juga berisi
pembuluh darah, saraf, organ-organ sensorik, kelenjar sebaceous, kelenjar
keringat, dan folikel rambut. Subkutan, lapisan ini terletak di bawah dermis
dan terdiri dari sel-sel lemak (Shai, A., dkk., 2009).

5
Pada molekul yang dapat diserap, derajat penembusan dapat
diubah dengan menggunakan bahan pembawa yang sesuai, dengan
komposisi yang dapat mendorong pelepasan zat aktif sedemikian agar dapat
mencapai jaringan tempat ia menunjukkan aksi teraupetiknya (Yusriadi,
2014).
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai anatomi fisiologi kulit
; pembuluh darah yang melewati tiap lapisan kulit ; komponen dan
karakteristik tiap lapisan kulit ; faktor yang mempengaruhi liberasi, disolusi,
serta absorbsi obat ; evaluasi biofarmasetika sediaan ; dan kondisi yang
memungkinkan dan tidak memungkinkan untuk digunakan sediaan topikal.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi kulit
2. Mengetahui dan memahami pembuluh darah yang melewati tiap lapisan
kulit
3. Mengetahui dan memahami komponen dan karakteristik tiap lapisan
kulit
4. Mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi liberasi,
disolusi, serta absorbsi obat
5. Mengetahui dan memahami evaluasi biofarmasetika sediaan
6. Mengetahui dan memahami kondisi yang memungkinkan dan tidak
memungkinkan untuk digunakan sediaan topikal




6
B A B II
P E M B A H A S A N

2.1 Anatomi Dan Fisiologi Kulit
Menurut Anonim, (2011), anatomi dan fisiologi kulit adalah
sebagai berikut :
2.1.1 Struktur Kulit
1. Kulit ari (epidermis), sebagai lapisan yang paling luar,
2. Kulit jangat (dermis, korium atau kutis), dan
3. Jaringan penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis
atau subkutis)

Sumber : Shai, A., dkk., 2009

7
2.1.2 Fisiologi Kulit
Menurut Anonim, (2011), fisiologi kulit berdasarkan
anatominya, terbagi atas 3 lapisan yaitu :
a) Kulit Ari (epidermis)
Epidermis melekat erat pada dermis karena secara
fungsional epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan
antar sel dari plasma yang merembes melalui dinding-dinding
kapiler dermis ke dalam epidermis.
Lapisan tanduk (stratum corneum),
Proses pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung
sepanjang hidup, menjadikan kulit ari memiliki self repairing
capacity atau kemampuan memperbaiki diri.
Lapisan bening (stratum lucidum)
Lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang
kecil kecil, tipis dan bersifat translusen sehingga dapat
dilewati sinar (tembuscahaya). Lapisan ini sangat tampak
jelas pada telapak tangan dan telapak kaki. Proses keratinisasi
bermula dari lapisan bening.
Lapisan berbutir (stratum granulosum)
tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang
mengandung butir-butir dalam protoplasmanya, berbutir kasa
dan berinti mengkerut. Lapisan ini paling jelas pada kulit
telapak tangan dan kaki.
Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Di antara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang
berguna untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan
pengantaran butir-butir melanin.
Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah banyak
melalui mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan
lebih atas, akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan

8
benih terdapat pula sel-sel bening (clear cells, melanoblas
atau melanosit) pembuat pigmen melanin kulit.
b) Kulit Jangat (dermis)
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat,
memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar.
Masing-masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf
dengan fungsi mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas,
dan dingin.
Kelenjar keringat
Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu
membuang sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kegiatannya
terutama dirangsang oleh panas, latihan jasmani, emosi dan
obat-obat tertentu.
Kelenjar palit
pada kulit kepala, kelenjar palit menghasilkan minyak untuk
melumasi rambut dan kulit Kepala.
c) Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis)
Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan
atau penyangga benturan bagi organorgan tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.




9
2.2 Pembuluh Darah Yang Melewati Tiap Lapisan Kulit
Menurut Elizabeth J., Corwin, (1975), pembuluh darah yang berada
di tiap lapisan kulit :
a) Epidermis
Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah.
b) Dermis
Diseluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan
simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat dan
palit (sebasea). Pembuluh darah didermis menyuplai makanan dan
oksigen dermis dan epidermis, dan membuang produk sisa.
Pembuluh darah di dermis. Fungsi utama darah adalah untuk
mengangkut nutrisi dan oksigen ke setiap organ dalam tubuh, termasuk
kulit, dan untuk menghilangkan produk-produk limbah dan karbon
dioksida yang dihasilkan dalam berbagai sel tubuh. Perhatikan bahwa
tidak ada pembuluh darah di epidermis. epidermis menerima nutrisi dan
oksigen langsung dari dermis, yang kaya dengan pembuluh darah (Avi
Shai, 2009).
Dalam dermis, pembuluh darah (kelanjutan dari pembuluh darah
yang lebih besar lebih dalam tubuh) cabang yang kecil dan pembuluh
darah yang lebih kecil yang menutupi seluruh area kulit. Pelebaran dan
penyempitan (dilatasi dan penyempitan) pembuluh darah terjadi sebagai
respon terhadap perubahan suhu, untuk membentuk suatu mekanisme
penting untuk mengendalikan suhu tubuh. Dilatasi hasil pembuluh
darah dalam kulit menjadi merah jambu, atau bahkan merah seperti
merona atau ketika suhu naik (Avi Shai, 2009).



10
2.3 Komponen dan Karakteristik Tiap Lapisan Kulit
Menurut Anonim, (2011), komponen dan karakteristik tiap lapisan
kulit adalah sebagai berikut :
a) Epidermis
Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional epidermis
memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel dari plasma yang
merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis ke dalam epidermis.
Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu :
Lapisan tanduk (stratum corneum),
Lapisan tanduk sebagian besar terdiri atas keratin yaitu
sejenis protein yang tidak larut dalam air dan sangat resisten
terhadap bahan-bahan kimia, dikenal dengan lapisan horny. Lapisan
horny, terdiri dari milyaran sel pipih yang mudah terlepas dan
digantikan sel baru setiap 4 minggu, karena usia setiap sel biasanya
28 hari. Pada saat terlepas, kondisi kulit terasa sedikit kasar. Proses
pembaruan lapisan tanduk, terus berlangsung sepanjang hidup,
menjadikan kulit ari memiliki self repairing capacity atau
kemampuan memperbaiki diri. Dengan bertambahnya usia, proses
keratinisasi berjalan lebih lambat. Ketika usia mencapai sekitar 60-
tahunan, proses keratinisasi membutuhkan waktu sekitar 45-50 hari,
akibatnya lapisan tanduk yang sudah menjadi kasar, lebih kering,
lebih tebal, timbul bercak putih karena melanosit lambat bekerjanya
dan penyebaran melanin tidak lagi merata serta tidak lagi cepat
digantikan oleh lapisan tanduk baru. Daya elastisitas kulit pada
lapisan ini sangat kecil, dan lapisan ini sangat efektif untuk
mencegah terjadinya penguapan air dari lapis-lapis kulit lebih dalam
sehingga mampu memelihara tonus dan turgor kulit. Lapisan tanduk
memiliki daya serap air yang cukup besar.
Lapisan bening (stratum lucidum)
Lapisan bening (stratum lucidum) disebut juga lapisan
barrier, terletak tepat di bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagai

11
penyambung lapisan tanduk dengan lapisan berbutir. Lapisan bening
terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang kecil-kecil, tipis dan
bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar (tembus cahaya).
Lapisan ini sangat tampak jelas pada telapak tangan dan telapak
kaki. Proses keratinisasi bermula dari lapisan bening.
Lapisan berbutir (stratum granulosum)
Lapisan berbutir (stratum granulosum) tersusun oleh sel-sel
keratinosit berbentuk kumparan yang mengandung butir-butir dalam
protoplasmanya, berbutir kasa dan berinti mengkerut. Lapisan ini
paling jelas pada kulit telapak tangan dan kaki.
Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Lapisan bertaju (stratum spinosum) disebut juga lapisan
malphigi terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan
perantaraan jembatan-jembatan protoplasma berbentuk kubus. Jika
sel-sel lapisan saling berlepasan, maka seakan-akan selnya bertaju.
Setiap sel berisi filamen-filamen kecil yang terdiri atas serabut
protein. Sel-sel pada lapisan taju normal, tersusun menjadi beberapa
baris. Bentuk sel berkisar antara bulat ke bersudut banyak
(polygonal), dan makin ke arah permukaan kulit makin besar
ukurannya. Di antara sel-sel taju terdapat celah antar sel halus yang
berguna untuk peredaran cairan jaringan ekstraseluler dan
pengantaran butir-butir melanin. Sel-sel di bagian lapis taju yang
lebih dalam, banyak yang berada dalam salah satu tahap mitosis.
Kesatuan-kesatuan lapisan taju mempunyai susunan kimiawi yang
khas; inti-inti sel dalam bagian basal lapis taju mengandung
kolesterol, asam amino dan glutation.
Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris sel
torak (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan
dermis. Alas sel-sel torak ini bergerigi dan bersatu dengan lamina

12
basalis di bawahnya. Lamina basalis yaitu struktur halus yang
membatasi epidermis dengan dermis. Pengaruh lamina basalis cukup
besar terhadap pengaturan metabolisme demoepidermal dan fungsi-
fungsi vital kulit. Di dalam lapisan ini sel-sel epidermis bertambah
banyak melalui mitosis dan sel-sel tadi bergeser ke lapisan-lapisan
lebih atas, akhirnya menjadi sel tanduk. Di dalam lapisan benih
terdapat pula sel-sel bening (clear cells, melanoblas atau melanosit)
pembuat pigmen melanin kulit.
b) Kulit Jangat (dermis)
Kulit jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa,
tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar
palit atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening,
dan otot penegak rambut (muskulus arektor pili). Sel-sel umbi rambut
yang berada di dasar kandung rambut, terus-menerus membelah dalam
membentuk batang rambut. Kelenjar palit yang menempel di saluran
kandung rambut, menghasilkan minyak yang mencapai permukaan kulit
melalui muara kandung rambut. Kulit jangat sering disebut kulit
sebenarnya dan 95 % kulit jangat membentuk ketebalan kulit. Ketebalan
rata-rata kulit jangat diperkirakan antara 1-2 mm dan yang paling tipis
terdapat di kelopak mata serta yang paling tebal terdapat di telapak
tangan dan telapak kaki. Susunan dasar kulit jangat dibentuk oleh serat-
serat, matriks interfibrilar yang menyerupai selai dan sel-sel. Pada
dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis yang dapat
membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein
ini yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen ini disebut juga jaringan
penunjang, karena fungsinya adalah membentuk jaringan-jaringan kulit
yang menjaga kekeringan dan kelenturan kulit. Berkurangnya protein
akan menyebabkan kulit menjadi kurang elastis dan mudah mengendur
hingga timbul kerutan. Faktor lain yang menyebabkan kulit berkerut
yaitu faktor usia atau kekurangan gizi. Dari fungsi ini tampak bahwa
kolagen mempunyai peran penting bagi kesehatan dan kecantikan kulit.

13
Perlu diperhatikan bahwa luka yang terjadi di kulit jangat dapat
menimbulkan cacat permanen, hal ini disebabkan kulit jangat tidak
memiliki kemampuan memperbaiki diri sendiri seperti yang dimiliki kulit
ari. Di dalam lapisan kulit jangat terdapat dua macam kelenjar yaitu
kelenjar keringat dan kelenjar palit.
Kelenjar keringat
Kelenjar keringat terdiri dari fundus (bagian yang melingkar)
dan duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada
permukaan kulit, membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh
dilengkapi dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat di
permukaan telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak.
Kelenjar keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang
sisa-sisa pencernaan dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang
oleh panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat tertentu.
Kelenjar palit
Folikel rambut mengeluarkan lemak yang meminyaki kulit
dan menjaga kelunakan rambut. Kelenjar palit membentuk sebum
atau urap kulit. Terkecuali pada telapak tangan dan telapak kaki,
kelenjar palit terdapat di semua bagian tubuh terutama pada bagian
muka. Pada umumnya, satu batang rambut hanya mempunyai satu
kelenjar palit atau kelenjar sebasea yang bermuara pada saluran
folikel rambut. Pada kulit kepala, kelenjar palit menghasilkan
minyak untuk melumasi rambut dan kulit kepala. Pada kebotakan
orang dewasa, ditemukan bahwa kelenjar palit atau kelenjar sebasea
membesar sedangkan folikel rambut mengecil. Pada kulit badan
termasuk pada bagian wajah, jika produksi minyak dari kelenjar palit
atau kelenjar sebasea berlebihan, maka kulit akan lebih berminyak
sehingga memudahkan timbulnya jerawat.
c) Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis)
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh
darah dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan

14
kulit. Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju
lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan
atau penyangga benturan bagi organorgan tubuh bagian dalam,
membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan dan
kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling
tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia
menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga
menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak, akan
berkurang lemaknya dan akibatnya kulit akan mengendur serta makin
kehilangan kontur.

2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Liberasi, Disolusi, Serta Absorbsi Obat
Menurut M.T Simanjuntak (2006), berbagai faktor yang
mempengaruhi proses LDA obat pada pemberian secara perkutan
a) Penyerapan (Absorbsi)
Sampai saat ini secara keseluruhan dari proses penyerapan
secara perkutan obat, belum diketahui. Kajian yang telah dilakukan
hanya terbatas pada faktor-faktor yang dapat mengubah ketersediaan
hayati zat aktif yang terdapat dalam sediaan yang dioleskan pada kulit,
seperti :
Lokalisasi Sawar (Barrier)
Kulit mengandung sejumlah tumpukan lapisan spesifik
yang dapat mencegah masuknya bahan-bahan kimia dan hal ini
terutama disebabkan oleh adanya lapisan tipis lipida pada
permukaan, lapisan tanduk dan lapisan epidermis malfigi. Pada
daerah ini, ditemukan juga suatu celah yang berhubungan langsung
dengan kulit bagian dalam yang dibentuk oleh kelenjar sebasea
yang membatasi bagian luar dan cairan ekstraselular, yang juga
merupakan sawar tapi kurang efektif, yang terdiri dari sebum dan
deretan sel-sel germinatif.

15
Peranan lapisan lipids yang tipis dan tidak beraturan
pada permukaan kulit (0,4 - 4 m) terhadap proses penyerapan
(absorpsi) dapat diabaikan. Peniadaan dari lapisan tersebut oleh
eter, alkohol atau sabun-sabun tertentu tidak akan mengubah secara
nyata permeabilitas kulit (Tregear, R, T. thn 1966), keadaan yang
sama juga terjadi setelah pengolesan pada permukaan kulit yang
mempunyai sebum setebal 30 m (Eligman, A, M. thn 1963).
Lapisan lipida dapat ditembus senyawa-senyawa lipofilik
dengan cara difusi dan adanya kolesterol menyebabkan senyawa
yang larut dalam air dapat teremulsi.
Sawar (barrier) kulit terutama disusun oleh lapisan tanduk
(stratum corneum), namun demikian pada cuplikan lapisan tanduk
(stratum corneum) terpisah, juga mempunyai permeabilitas yang
sangat rendah dan kepekaan yang sama seperti kulit utuh (Sprott
W, E,. thn 1965 dan Scheuplein R, J,. dkk, thn 1669). Lapisan
tanduk berperan melindungi kulit (TregearR, T, thn 1966; Blank I.
H, dkk, thn1969). Deretan sel-sel pada lapisan tanduk saling
berikatandengan kohesi yang sangat kuat dan merupakan
pelindung kulit yang paling efisien. Sesudahpenghilangan lapisan
tanduk (stratum corneum), impermeabilitas kulit dipengaruhi oleh
regenerasi sel; dalam 2 (dua) atau 3(tiga) hari meskipun ketebalan
lapisan tanduk (stratum corneum) yang terbentuk masih sangat
tipis, namun lapisan tersebut telah mempunyaikapasitas
perlindungan yang mendekati sempurna (Matoltsy A, G, dkk, thn
1962; Monash S,dkk, thn 1963).
Dengan demikian epidermis mempunyai 2 (dua) jenis
pelindung, yang pertama adalah pelindung sawar spesifik yang
terletak pada lapisan tanduk (stratum corneum) yang salah satu
elemennya berasal dari kulit dan bersifat impermeabel, dan
pelindung yang kedua terletak di sub-junction dan kurang efektif,
dibentuk oleh epidermis hidup yang permeabilitasnya dapat

16
disamakan dengan membran biologis lainnya. Pada sebagian besar
kasus, proses pergantian kulit diatur oleh lapisan tanduk (stratum
corneum) yang impermeabel dan akan membentuk suatu pelindung
terbatas.
Jalur Penembusan (Absorbsi)
Penembusan = penetrasi = absorbsi perkutan, terdiri dari
pemindahan obat dari permukaan kulit ke stratum corneum,
dibawah pengaruh gradien konsentrasi, dan berikutnya difusi obat
melalui stratum corneum yang terletak dibawah epidermis,
melewati dermis dan masuk kedalam mikro sirkulasi.
Jumlah total daya difusi (Rkulit) untuk penembusan
melalui kulit dijelaskan oleh Chen sbb :
R = Rsc + Re + Rpd
Dimana :
R = Daya difusi
sc = stratum corneum
E = epidermis
pd = lapisan papilla dari dermis
Kulit, karena sifat impermeabilitasnya maka hanya dapat
dilalui oleh sejumlah senyawa kimia dalam jumlah yang sedikit.
Penembusan molekul dari luar ke bagian dalam kulit secara nyata
dapat terjadi, baik secara difusi melalui lapisan tanduk (stratum
corneum) maupun secaradifusi melalui kelenjar sudoripori atau
organ pilosebasea.
Penahanan Dalam Struktur Permukaan Kulit dan Penyerapan
Perkutan
Surfaktan amonik dan kationik juga tertahan di lapisan
tanduk atau rambut (Scott G. V, dkk, thn 1669), adanya muatan ion
mempakan penyebab terjadinya pembentukan ikatan ionik dengan
protein dari keratin (Idson B, J, thn 1967). Intensitas penahanan
akan berbanding lurus dengan ukuran dan muatan kation atau

17
anion. Akibat pengikatan ini maka umumnya surfaktan dengan
konsentrasi tinggi akan merusak struktur lapisan tanduk
(Scheuplein R, J, dkk, thn 1970), menyebabkan peningkatan
kehilangan air dan terjadi suatu iritasi yang bermakna. Pada
konsentrasi surfaktan yang rendah terjadi keadaan sebaliknya,
ikatan sediaan kosmetika tertentu dengan lipida akan
mempermudah penyerapan sediaan ini pada lapisan tanduk dan
dengan demikian meningkatkan kerja pelembutan kulit (Idson B, J,
thn 1967).
Penahanan senyawa pada lapisan tanduk akan mengurangi
resiko keracunan karena akan mencegah terjadinya penyerapan
sistemik. Lapisan tanduk (stratum corneum) bukan merupakan satu
satunya penyebab terjadinva fenomena penahanan senyawa pada
kulit; dalam hal tertentu dermis berperanan sebagai depo.
b) Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan
Keadaan dan Umur Kulit
Kulit utuh merupakan suatu sawar (barrier) difusi yang
efektif dan efektivitasnya berkurang bila terjadi perubahan dan
kerusakan pada sel-sel lapisan tanduk.Pada keadaan patologis yang
ditunjukkan oleh perubahan sifat lapisan tanduk (stratum corneum);
dermatosis dengan eksim, psoriasis, dermatosis seborheik, maka
permiabilitas kulit akan meningkat. Scott, thn 1959, telah
membukfkan bahwa kadar hidrokortison yang melintasi kulit akan
berkurang bila lapisan tanduk berjamur dan akan meningkat, pada
kulit dengan eritematosis. Hal yang sama juga telah dibuktikan bila
kulit terbakar atau luka.Bila stratum corneum rusak sebagai akibat
pengikisan oleh plester , maka kecepatan difusi air, hidrokortison
dan sejumlah senyawa lain akan meningkat secara nyata
Aliran Darah
Perubahan debit darah ke dalam kulit secara nyata akan
mengubah kecepatan penembusan molekul. Pada sebahagian besar

18
obat obatan, lapisan tanduk merupakan faktor penentu pada proses
penyerapan dan debit darah selalu cukup untuk menyebabkan
senyawa menyetarakan diri dalam perjalanannya. Namun, bila kulit
luka atau bila dipakai cara iontoforesis untuk zat aktif, maka
jumlah zat aktif yang menembus akan lebih banyak dan peranan
debit darah merupakan faktor yang menentukan. Demikian pula
bila kapasitas penyerapan oleh darah sedikit atau hiperemi yang
disebabkan pemakaian senyawa ester nikotinat, maka akan terjadi
peningkatan penembusan. Akhimya, penyempitan pembuluih darah
sebagai akibat pemakaian setempat dari kortikosteroida akan
mengurangi kapasitas alir dari darah, menyebabkan pembentukan
suatu timbunan (efek depo) pada lapisan kulit dan akan
mengganggu penyerapan senyawa yang bersangkutan.
Tempat pengolesan
Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama, akan
berbeda dan tergantung pada susunan anatomi dari tempat
pengolesan: kulit dada, punggung, tangan atau lengan. Perbedaan
ketebalan terutama disebabkan oleh ketebalan lapisan tanduk
(stratum corneum) yang berbeda pada setiap bagian tubuh, tebalnya
bervariasi antara 9 pm untuk kulit kantung zakar sampai 600 pin
untuk kulit telapak tangan dan telapak kaki.
Kelembaban dan Temperatur
Pada keadaan normal, kandungan air dalam lapisan tanduk
rendah, yaitu 5-15%, namun dapat ditingkatkan sampai 50%
dengan cara pengolesan pada permukaan kulit suatu bahan
pembawa yang dapat menyumbat: vaselin, minyak atau suatu
pembalut impermeabel. Peranan kelembaban terhadap
penyerapan perkutan telah dibuktikan oleh Scheuplein R, J,
dkk, thn 1971; stratum corneum yang lembab mempunyai
afinitas yang sama terhadap senyawa-senyawa yang larut dalam
air atau dalam lipida. Sifat ini disebabkan oleh struktur histologi sel

19
tanduk dan oleh benang-benang keratin yang dapat mengembang
dalam air dan pada media lipida amorf yang meresap di sekitarnya.
Kelembaban dapat mengembangkan lapisan tanduk dengan cara
pengurangan bobot jenisnya atau tahanan difusi. Air mula-mula
meresap di antara janngan jaringan, kemudian menembus ke dalam
benang keratin, membentuk suatu anyaman rangkap yang stabil
pada daerah polar yang kaya air dan daerah non polar yang kaya
lipida.
Menurut Howard C., Ansel (2008), faktor-faktor yang berperan
dalam absorbsi perkutan dari obat adalah sifat dari obat itu sendiri, sifat dari
pembawa, kondisi dari kulit dan adanya uap air. Walaupun sukar untuk
diambil kesimpulan umum, yang dapat diberlakukan pada kemungkinan
yang dihasilkan oleh kombinasi obat, pembawa dan kondsi kulit, tapi
konsensus temuan hasil penelitian mungkin dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Obat yang dicampurkan dalam pembawa tertentu harus bersatu pada
permukaan kulit dalam konsentrasi yang cukup.
2. Konsentrasi obat umumnya merupakan faktor yang penting, jumlah
obat yang diabsorbsi secara perkutan perunit luas permukaan setiap
periode waktu, bertambah sebanding dengan bertambahnya
kkonsentrasi obat dalam suatu pembawa.
3. Semakin banyak obat diserap dengan cara absorbsi perkutan apabila
bahan obat dipakai pada permukaan yang lebih luas.
4. Bahan obat harus mempunyai suatu daya tarik fisiologi yang lebih besar
pada kulit dari pada terhadap pembawa, supaya obat dapat
meninggalkan pembawamenuju kulit.
5. Beberapa derajat kelarutan bahan obat baik dalam minyak dan air
dipandang penting untuk efektivitas absorbsi perkutan. Pentingnya
kelarutan obat dalam air ditunjukan oleh adanya konsentrasi pada
daerah absorbsi dan koefisien partisi sangat mempengaruhi jumlah yang

20
dipindahkan melalui tempat absorbsi. Zat terlarut bobot molekul yang
dibbawah 800 sampai 100 dengan kelarutan yang sesuai dalam minyak
mineral dan air (>1mg/mL) dapat meresapkedalam kulit.
6. Absorbsi obat nampaknya ditingkatkan dari pembawa yang dapat
dengan mudah menyebar dipermukaan kulit, sesudah dicampur dengan
cairan berlemak dan membawa obat untuk berhubungan dengan
jaringan sel untuk absorbsi.
7. Pembawa yang meningkatkan jumlah uap air yang ditahan kulit
umumnya cenderung baik bagi absorbsi pelarut obat. Pembawa yang
bersifat lemak bekerja sebagai penghalang uap air sehingga keringat
tidak dapat menembus kulit dan tertahan pada kulit sehingga umunya
menahasilkan hidrasi dari kulit dibawah pembawa.
8. Hidrasi dari kulit umunya fakta yang paling penting dalam absorbsi
perkutan. Hidrasi sratum corneum tampaknya meningkatkan derajat
lintasan dari semua obat yang mempenetrasi kulit. Peningkatan absorbsi
mungkin disebabkan melunaknya jaringan dan akibat pengaruh bunga
karang dengan penambahan ukuran pori-pori yang memungkinkan
arus bahan lebih besar, besar dan kecildapat melaluinya.
9. Hidrasi kulit bukan saja dipengaruhi oleh jenis pembawa (misalnya
bersifat lemak) tetapi juga oleh ada tidaknya pembungkus dan
sejenisnya ketika pemakaian obat. Pada umunya pemakaian
pembungkusyang tidak menutup seperti pembawa yang bercampur
dengan air, akan mempengaruhi efek pelembab dari kulit
melaluipenghalang penguapan keringat dan oleh karena itu
mempengaruhi absorbsi. Penutup yang menutup lebih efektif daripada
anyaman jarang dari pembungkus yang tidak menutup.
10. Pada umunyan penggosokan atau pengolesan waktu pemakaian pada
kulit akan meningkatkan jumlah obat yang diabsorbsi dan semakin lama
mengoleskan dengan digosok-gosok, semakin banyak piula obat yang
diabsorbsi.

21
11. Absorbsi perkutan nampaknya apabila obat dipakai pada kulit dengan
lapisan tanduk yang tipis daripada yang tebal. Jadi, tempat pemakaian
mungkin bersangkut paut dengan derajat absorbsi, dengan absorbsi dari
kulit yang ada penebalannya atau tempat yang tebal seperti telapak
tangan dan kaki secara komparatif lebih lambat.
Pada umumnya, semakin lama waktu pemakaian obat
menempel pada kulit, semakin banyak kemungkinan absorbsi.
Bagaimanapun juga perubahan dahidrasi kulit sewaktu pemakaian atau
penjenuhan kulit oleh obat, akan menghambat tambahan absorbsi.
2.5 Evaluasi Biofarmasetika Sediaan
Menurut Swastika A. Et. Mufrod., (2013) evaluasi sediaan (baik
salep, krim, gel) yang diberikan melalui kulit pada umumnya sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan organoleptis
Pengamatan meliputi perubahan warna, bau (ketengikan),
konsistensi, dan terjadinya pemisahan fase. Pengamatan dilakukan tiap
minggu selama 5 minggu.
2. Pemeriksaan homogenitas
Pengamatan dilakukan secara visual dengan mengoleskan krim
pada lempeng kaca, kemudian dilihat warnanya seragam atau tidak.
Pengamatan dilakukan tiap minggu selama 5 minggu.
3. Uji viskositas
Viskositas krim ditetapkan dengan viscotester VT-04E (Rion CO,
Ltd), rotor no 1. Pengamatan dilakukan tiap minggu selama 5 minggu.
4. Uji daya sebar
Setengah gram krim diletakkan di pusat antara 2 lempeng gelas,
dimana lempeng sebelah atas ditimbang terlebih dahulu kemudian
diletakkan diatas krim dan biarkan selama 1 menit. Di atasnya diberi

22
beban 150 g, dibiarkan 1 menit dan diukur diameter sebarnya.
Pengamatan dilakukan tiap minggu selama 5 minggu.
5. Uji waktu lekat
Gelas objek ditandai 4 x 2,5 cm kemudian sebanyak 0,25 g krim
diletakkan di titik tengah uasan tersebut dan ditutup dengan gelas objek
lain. Beri beban 1 kg selama 5 menit. Kedua gelas objek yang telah
saling melekat 1 sama lain dipasang pada alat uji yang diberi beban 80
gram. Setelah itu dicatat waktu yang diperlukan hingga dilakukan tiap
minggu selama 5 minggu.
6. Uji rasio pemisahan krim
Krim dimasukkan ke dalam tabung reaksi berskala tertentu.
Masing-masing disimpan pada suhu kamar selama 5 minggu
penyimpanan. Amati volume pemisahan tiap 3 hari sekali dan dihitung
volume pemisahannya dengan menggunakan rumus persamaan berikut :
F =


Keterangan : F = rasio volume pemisahan;
Hu =tinggi emulsi yang memisah;
Ho = tinggi emulsi mula-mula
Bila tidak terjadi pemisahan selama penyimpanan pada suhu
kamar, dapat dilakukan uji pemisahan fase dipercepat dengan metode
sentrifugasi. Sebanyak 2 gram lotion dimasukkan kedalam tabung
sentrifuga, sentrifugasi 3750 rpm selama 5 jam dengan interval waktu
pengamatan setiap 1 jam. Amati pemisahan fase minyak dan fase air
yang terjadi dalam setiap interval waktu pengamatan (Lachman dkk.,
1986).
7. Pemeriksaan pH
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH merk
universal. Pengamatan dilakukan setelah pembuatan krim yaitu pada
minggu ke-0 dan minggu ke-5.
8. Evaluasi Tipe Krim
a. Metode Pengenceran

23
Krim yang jadi dimasukkan ke dalam vial, kemudian diencerkan
dengan air. Jika emulsi dapat diencerkan maka tipe emulsi adalah
tipe m/a.
b. Metode Dispersi Zat Warna
Emulsi yang dibuat dimasukkan ke dalam vial, kemudian ditetesi de-
ngan beberapa tetes larutan biru me-tilen. Jika warna biru segera
terdispersi ke seluruh emulsi maka tipe emulsinya adalah tipe m/a.
Menurut M.T Simanjuntak (2006), evaluasi ketersediaan hayati
obat yang diberikan melalui kulit :
a) Studi difusi in vitro
Berdasarkan dari penilaian biofarmasetik obat-obatan yang
diberikan melalui kulit, maka sesudah dilakukan uji kekentalan bentuk
sediaan, ketercampuran, pengawetan, selanjutnya dilakukan uji
pelepasan zat aktif in vitro, dengan maksud agar dapat ditentukan bahan
pembawa yang paling sesuai digunakan untuk dapat melepaskan zat
aktif di tempat pengolesan. Ada beberapa metoda, yang dapat dilakukan
di antaranya adalah
- Difusi sederhana dalam air atau difusi dalam gel
- Dialysis melalui membran kolodion atau selofan
b) Studi penyerapan (absorbsi)
Penyerapan perkutan dapat diteliti berdasarkan dua aspek utama yaitu
penyerapan sistemik dan lokalisasi senyawa dalam strukiur kulit.
Dengan cara in vitro dan in vivo dapat dipastikan lintasan penembusan
dan tetapan permeabilitas, serta membandingkan efektivitas dari
berbagai bahan pembawa. Absorbsi perkutan telah lama diteliti baik
secara in vivo dengan mempergunakan senyawa radioaktif atau dengan
tehnik in vitro mempergunakan sayatan kulit manusia.
c) Pembuktian Mekanisme Absorpsi Perkutan Dari Sifat Fisiko Kimia
Tehnik Umum untuk karakterisasi Membran
Seluruh membran mahluk hidup adalah bersifat heterogenous
dan disusun dalam fase makroskopis yang berbeda, dan menentukan

24
difusi pasif molekul melalui total barrier pada membran sangat
diperlukan, dan hal ini tergantung pada pengaturan dan rangkaian dari
fase yang dialami selama proses transpor. Hukum difusi yang
sebenamya adalah bahwa molekul mengikuti lintasan yang bersifat
diffusional resistance yang paling sedikit. Lintasan yang bersifat
diffusional resistance yang paling sedikit ini ditentukan dari sifat fisiko
kimia alamiah fase membran atau dengan densisitas, viskositas dun,
dimana terdapat protein dun makro molekul yang lain, keberadaan
ikatan silang dun susunan dari bahan polimer dalam masing masing
fase, seluruh hal diatas memberikan pengaruh terhadap kecepatan
pergerakan difusi. Lintasan yang bersifat sedikit resisten. juga
dipengaruhi oleh afinitas relatip dari fase terhadap bahan yang
terpermiasi (permeant), terakhir akan berperanan untuk distribusi
internal dari permeant melalui pengaturan sifat fisiko kimia dari
komponen membran, dun oleh volume relatip dari fase. Resistensi dari
setiap fase yang terdapat dalam membran dapat dikarakterisasikan
dalam istilah khusus yang berhubungan dengan difusi dalam fase,
terhadap seluruh variabel lengkap secara umum. Secara keseluruhan,
membran mungkin dianggap sebagai sejenis penghambat (resistor)
rangkaian antara 2 (dua) fase. Masing masing fase membran
menentukan aliran difusi melalui channel dalam elemen bahagian
sebelah dalam (interior) membran, yang menghasilkan masing masing
resistensinya dan pengaturannya.




25
2.6 Kondisi Yang Memungkinkan Dan Tidak Memungkinkan Untuk
Digunakan Sediaan Topikal
a) Kondisi yang memungkinkan
Digunakan pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat.
Memungkinkan untuk pemakaian yang merata dan cepat pada
permukaan kulit yang luas
Sebagai pelembut atau pelicin untuk kulit.
Digunakan untuk menghilangkan iritasi atau hanya untuk pijit.
Digunakan untuk melemaskan otot-otot yang kaku
b) Kondisi yang tidak memungkinkan
Tidak digunakan untuk luka yang terbuka
Tidak dapat digunakan pada kulit yang pecah atau lecet sebab
mungkin menimbulkan iritasi yang berlebihan

26
B A B III
K E S I M P U L A N

Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Anatomi dan fisiologi kulit adalah :
a) Kulit ari (epidermis), sebagai lapisan yang paling luar,
Epidermis melekat erat pada dermis karena secara fungsional
epidermis memperoleh zat-zat makanan dan cairan antar sel dari plasma
yang merembes melalui dinding-dinding kapiler dermis ke dalam
epidermis
b) Kulit jangat (dermis, korium atau kutis),
Keberadaan ujung-ujung saraf perasa dalam kulit jangat,
memungkinkan membedakan berbagai rangsangan dari luar. Masing-
masing saraf perasa memiliki fungsi tertentu, seperti saraf dengan fungsi
mendeteksi rasa sakit, sentuhan, tekanan, panas, dan dingin
c) Jaringan penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau
subkutis)
Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau
penyangga benturan bagi organorgan tubuh bagian dalam, membentuk
kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan

2. Pembuluh darah di dermis. Fungsi utama darah adalah untuk mengangkut
nutrisi dan oksigen ke setiap organ dalam tubuh, termasuk kulit, dan untuk
menghilangkan produk-produk limbah dan karbon dioksida yang dihasilkan
dalam berbagai sel tubuh. Perhatikan bahwa tidak ada pembuluh darah di
epidermis. epidermis menerima nutrisi dan oksigen langsung dari dermis,
yang kaya dengan pembuluh darah (Avi Shai, 2009).




27
3. Komponen dan karakteristik tiap lapisan kulit adalah sebagai berikut :
a. Epidermis
Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu
- Lapisan tanduk (stratum corneum)
- Lapisan bening (stratum lucidum)
- Lapisan berbutir (stratum granulosum)
- Lapisan bertaju (stratum spinosum)
- Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
b. Kulit Jangat (dermis)
Di dalam lapisan kulit jangat terdapat dua macam kelenjar yaitu
kelenjar keringat dan kelenjar palit.
c. Jaringan penyambung (jaringan ikat) bawah kulit (hipodermis)
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah
dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit.

4. Faktor yang mempengaruhi proses LDA obat pada pemberian secara
perkutan:
a. Penyerapan absorbsi ;
- Lokalisasi Sawar (Barrier)
- Jalur Penembusan (Absorbsi)
- Penahanan Dalam Struktur Permukaan Kulit dan Penyerapan Perkutan
b. Faktor fisiologik yang mempengaruhi penyerapan perkutan
- Keadaan dan Umur Kulit
- Aliran Darah
- Tempat pengolesan
- Kelembaban dan Temperatur

5. Evaluasi ketersediaan hayati obat yang diberikan melalui kulit :
a. Studi difusi in vitro
b. Studi penyerapan (absorbsi)
c. Pembuktian Mekanisme Absorpsi Perkutan Dari Sifat Fisiko Kimia.

28
6. Kondisi Yang Memungkinkan Dan Tidak Memungkinkan Untuk Digunakan
Sediaan Topikal
a) Kondisi yang memungkinkan
Digunakan pada kulit sebagai pelindung atau untuk obat.
Memungkinkan untuk pemakaian yang merata dan cepat pada
permukaan kulit yang luas
Sebagai pelembut atau pelicin untuk kulit.
Digunakan untuk menghilangkan iritasi atau hanya untuk pijit.
Digunakan untuk melemaskan otot-otot yang kaku
b) Kondisi yang tidak memungkinkan
Tidak digunakan untuk luka yang terbuka
Tidak dapat digunakan pada kulit yang pecah atau lecet sebab
mungkin menimbulkan iritasi yang berlebihan

29
DAFTAR PUSKATA

Anonim, 2011, Buku Ajar ; Anatomi dan Fisiologi Kulit, [file.upi.edu], Diakses
Tanggal 30/04/2014, Pukul 21.11 WITA.
Elizabeth J., Corwin, 1975, Handbook Of Phatophysiology, 3
rd
Ed, Lippincott
Williams & Wilkins, USA.
Howard C., Ansel 2008, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI-Press, Jakarta.
M.T Simanjuntak : Biofarmasi Sediaan Yang Diberikan Melalui Kulit, 2005,
[USU Repository2006].
Shai, A., dkk., 2009, Handbook Of Skin Care, Second Edition, Replika Press Pvt
Ltd, India.
Swastika A. Et. Mufrod., 2013, Jurnal : Antioxidant Activity Of Cream Dosage
Form Of Tomato Ekstrak (Solanum Lycopersicum L.), Universitas Gadjah
Madah Muda, Yogyakarta
Yusriadi, 2014, Materi Kuliah Biofarmasetika, Program Studi Farmasi FMIPA,
Universitas Tadulako, Palu.