Anda di halaman 1dari 6

Transplantasi Ginjal

1. Definisi :
a Transplantasi adalah pengangkatan suatu organ atau jaringan dari satu organisme,
kemudian diimplantasikan melalui pembedahan ke organisme lain untuk
memberikan struktur dan/atau fungsi (Grance,2006:185).
b Transplantasi ginjal merupakan insersi pembedahan ginjal manusia dari sumber
yang hidup atau ginjal cadaver kepada klien dengan penyakit ginjal tahap
akhir,untuk mengganti hilangnya fungsi ginjal yang normal (Gorzemen and
Bawdain).

Transplantasi ginjal dilakukan karena pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir (end-stage
renal disease). Beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit ginjal tahap akhir adalah hipertensi,
infeksi, kencing manis (diabetes mellitus), kelainan bentuk dan fungsi ginjal bawaan, dan kondisi
autoimun seperti lupus.

2. Indikasi :
Pada pelaksanaan transplantasi ginjal terdapat beberapa indikasi antara lain;
a Usia 13-60 tahun
b Tidak mengidap penyakit berat, keganasan, TBC, hepatitis, Jantung
c Harus dapat menerima terapi imunosupresif dalam waktu yang lama dan harus
patuh minum obat
d Sudah mendapat HD yang teratur sebelumnya
e Mau melakukan pemeriksaan pasca transplantasi ginjal.

3. Syarat Donor Ginjal :
a. Donor:
Usia 18-50 tahun
Mempunyai motivasi yang tinggi tanpa paksaan
Kedua ginjal normal, tidak terinfeksi
Kecocokan golongan darah ABO, HLA dan tes silang darah (cross match) reaksinya
negatif.
Tidak mengidap penyakit berat yang dapat memperburuk fungsi ginjal dan komplikasi
setelah operasi maupun penyakit menular.
Hasil laboratorium semuanya dalam batas normal.



Tahapan Transplantasi Ginjal :
1. Persiapan transplantasi ginjal
a. Persiapan resipient dan keluarga
Perawat mempunyai peran penting sebagai advokat untuk memastikan
bahwa semua upaya dilaksanaan atas keinginan pasien berkenan dengan
pendonoran.
Perawat juga berperan vital dalam mendukung keluarga secara psikologis,
terutama saat menerima donor dari mayat, serta sebagai koordinator transplant
yaitu memastikan bahwa keluarga mendapatkan informasi yang diperlukan untuk
memberikan surat persetujuan.
Selanjutnya, tim akan menjelaskan mengenai operasi dan perawatannya:
1. Lokasi dan letak ginjal baru
2. Penggunaan bermacam-macam peralatan yang mungkin diperlukan
selama perawatan
3. Pengambilan darah yang sering dilakukan untuk mencegah infeksi pasien
ditempatkan ditempat khusus, dimana anggota keluarga tidak
diperbolehkan masuk
4. Kemungkinan timbul komplikasi seperti infeksi, rejeksi setelah operasi
5. Mobilisasi: merubah posisi, membatukkan, latih duduk dan berdiri serta
cara nafas efektif.
Dengan demikian diharapkan pasien dan keluarga akan merasa aman dan
dapat bekerja sama dan bersikap lebih terbuka untuk membantu perawatan.

b. Persiapan donor dan keluarga
spesifikasinya 2 jam sebelum operasi baik resipient dan donor
dikompres dengan cairan bethadin pada daerah yang akan dioperasi dan
setelah operasi resipient masuk kedalam ruangan khusus dan steril.

c. Persiapan ruangan dan peralatan
Ruangan yang akan dipakai setelah operasi 2 hari sebelumnya harus
dibersihkan,semua peralatan dan obat-obatan dimasukkan ke ruangan
tersebut dengan disinari ultraviolet selama 24jam. Resipient transplantasi
biasanya dirawat dalam area lengkap yang dirancang secara khusus baik untuk
fase penyembuhan maupun fase pemulihan, hal ini untuk menghindari
pemindahan pasien, menurunkan resiko terhadap infeksi bagi pasien yang
mengalami imunosupresan.

d. Persiapan pasien sebelum operasi
Persiapan ini termasuk pengkajian yang berhubungan dengan riwayat
penyakit yang lalu (mis: HT,DM,kanker), tingkat kecemasan pasien,
pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur transplan,efek samping
dari pembedahan juga termasuk pemeriksaan laboratorium, ECG, pemeriksaan
radiologi (mis: foto thorak,USG ginjal,CT scan ginjal, IVP),pemeriksaan fisik
(mis: BB, TTV, pola eliminasi urine, adakah tanda-tanda infeksi, gangguan
pernafasan, tanda-tanda kelebihan/kekurangan cairan elektrolit) dan dialisis
dalam 24 jam pembedahan. Tujuannya untuk menggembalikan kimia darah ke
kadar mendekati normal, memperbaiki perubahan agregasi trombosis yang
ditimbulkan oleh uremia dan mengeluarkan kelebihan cairan. Bila donor
hidup, persiapan dapat dilakukan sehari sebelum transplantasi, tetapi bila
donor mayat/cadaver semua persiapan harus selesai dalam beberapa jam.

2. Proses transplantasi ginjal
Ginjal yang rusak diangkat. Arteri dan vena renal diikat. Ginjal transplan
diletakan pada difosa iliaka. Arteri renal dari donor dijahit ke arteri iliaka dan vena
renal dijahit kevena iliaka. Ureter ginjal donor dijahit ke kandung kemih atau vesika
urinari. Setelah terhubung, ginjal akan dialiri darah yang akan dibersihkan. Urine
biasanya langsung diproduksi. Tetapi beberapa keadaan, urine diproduksi bahkan
setelah beberapa minggu.Ginjal lama akan dibiarkan di tempatnya. Tetapi jika ginjal
tersebut menyebabkan infeksi atau menimbulkan penyakit darah tinggi, maka harus
diangkat.

3. Penanganan post transplanitasi ginjal
Setelah proses transplantasi ginjal selesai, maka prosedur pasca operasi antara lain;
1. Tempatkan pasien langsung diruangan khusus yang telah disediakan
peralatan dan obat-obatan
2. Memonitor tanda-tanda vital, tingkat kesadaran pasien dan derajat nyeri
3. Menghitung jumlah line intravena yang terpasang, catat tempat insisi, jenis
cairan dan kecepatan tetesan
4. Monitor balutan abdomen dan catat apakah ada drain
5. Catat dan amati letak kateter urether serta drainase urine dari tiap kateter
6. Temukan akses vaskuler dan tentukan patensinya dengan stetoskop tepat
diatas tempat akses dan raba atau dengarkan karakteristik bunyi denyutan
disebut desiran (bruit)
7. Bila terpasang NGT sambungkan selang tersebut ke sistim drainase yang
sesuai
8. Ukur lingkar abdomen pada insisura iliaka, ini merupakan informasi dasar
yang digunakan nanti untuk pengkajian ada tidaknya komplikasi (mis:
kebocoran uretra, limfosel atau perdarahan)
9. Pada pasien anak dipantaunya lebih sering daripada pasien dewasa karena
sifat dinamik dari cairan anak dan status kardiovaskuler seperti tekanan
darah, BB
10. Rungan harus ditutup dan hanya anggota tim transplantasi ginjal yang
diperkenankan masuk dan harus memakai masker dan baju serta alas kaki
yang khusus
11. Keluarga pasien tidak diperkenankan masuk ruangan tersebut, hanya
diperbolehkan melihat melalui kaca, semua itu dilakukan untuk mencegah
infeksi.

4. Rejeksi
Transplant rejection (reaksi penolakan tubuh terhadap ginjal yang telah di-
cangkok), yaitu sebuah serangan dari sistem kekebalan terhadap organ donor asing
yang dikenal oleh tubuh sebagai jaringan asing. Reaksi tersebut dirangsang oleh
antigen dari kesesuaian organ asing. Ada tiga jenis utama penolakan secara klinik,
yaitu hiperakut, akut, dan kronis

1. Reaksi hiperakut
Terjadi segera dengan beberapa menit atau beberapa jam setelah klem pembuluh darah dilepas.
Disebabkan adanya antibodi terhadap sistem ABO atau sistem HLA yang tidak cocok. Rejeksi
hiperaktif tidak bisa diatasi harus dilaksanakan nefrektomi ginjal cangkok. Rejeksi hiperakut saat
ini jarang terjadi oleh karena dapat dihindarkan dengan pemeriksaan reaksi silang.

2. Rejeksi akut
Biasanya terjadi dalam waktu 3 bulan pasca transplantasi, dapat dicetuskan oleh penghentian
atau pengurangan dosis obat imunoisupresi. Manifestasi klinis : demam, mialgia malaise, nyeri
pada ginjal baru, produksi urine menurun, berat badan meningkat, tekanan darah naik, kreatinin
serum meningkat, histopatologi.

3. Rejeksi kronik
Terjadi setelah berbulan-bulan atau bertahun-tahun pasca transplantasi. Pada rejeksi kronik
terjadi penurunan fungsi ginjal cangkok.

Pemberian terapi imunnosupresi
Terapi imunosupresi diperlukan untuk menekan respon imun sehingga memungkinkan
penerimaan organ yang ditanam. Kesulitan dari terapi ini adalah pemberian supresi yang cukup
untuk mencegah penolakan tanpa menyebabkan resipien menjadi rentan terhadap infeksi
oportunistik. Biasanya obat yang diberikan untuk mengontrol respon imun antara lain Metil
Prednisolon, Prednison, Azatioprin, siklosporin dll.

5. Evaluasi :
6. Kontraindikasi :
Pada tindakan transplantasi ginjal juga terdapat beberapa kontra indikasi seperti;
a. pasien yang berumur lebih dari 70 tahun. Karena pada usia tersebut sudah
sering ditemukan gangguan-gangguan pada organ-organ lain yang akan
mempengaruhi proses pembedahan, karena pada usia tersebut ginjal sudah
mengalami penurunan fungsi.
b. terdapat resiko tinggi pada pasien dengan kanker yang disertai penyebaran
(metastasis)
c. Penyakit lanjut yang sulit diobati
d. Obesitas
e. Ginjal kanan
f. Pembuluh darah ginjal multiple
g. Infeksi akut : tuberkolosis, infeksi saluran kemih, hepatitis akut.
h. Infeksi kronik, bronkietaksis.

VI. Kendala Kendala Transplantasi Ginjal
Pendonor. Untuk pendonor, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hidup dengan satu ginjal. Tidak
ada yang perlu ditakutkan dengan menjadi donor karena setiap orang bisa tetap hidup normal
dengan satu ginjal, Keterbatasan donor menjadi salah satu penyebab transplantasi sulit dilakukan.
Jumlah donor di Indonesia masih sangat kecil, hanya 15 donor ginjal per tahunnya, dibandingkan
dengan 2.000 kasus baru penyakit ginjal kronik tahap akhir per tahunnya.
Biaya. Kendala lain untuk melakukan transplantasi ginjal adalah dari sisi biaya. Cukup banyak
pasien yang tidak memiliki biaya transplantasi, meski sudah ada keluarga yang mau menjadi donor.
Namun menurut Dr. Indrawati Sukadis, Koordinator Tim Transplantasi Ginjal RS Cikini, biaya
transplantasi ginjal di dalam negeri lebih rendah dibandingkan di luar negeri. Subsidi biaya
operasi transplantasi dan sebagian obat imunosupresif dari ASKES meringankan beban biaya
transplantasi, ujarnya. Indrawati mendapatkan kesimpulan tersebut dari penelitian yang
dilakukan bersama koleganya dengan mewawancarai 20 pasien pasca transplantasi ginjal antara
tahun 1996 hingga 2006. Sebanyak 15 pasien menjalani transplantasi di dalam negeri (10 orang di
RS Cikini dan 5 pasien dari rumah sakit lainnya), dan 5 pasien menjalani transolantasi di luar negeri
yaitu China dan Singapore. Data yang dicatat adalah total biaya transplantasi ginjal termasuk biaya
persiapan, perawatan preoperative, operative, dan pasca operative, lama perawatan, dan summer
donor. Namun tidak termasuk obat imunosupresif, obat induksi, obat kegawatan, dan HD bila
diperlukan.
VII. Peran Perawat pada Transplantasi ginjal
Perawat perawatan kritis adalah bagian integral dari tim pendonoran. Hampir semua donor organ
mati di unit perawatan kritis; jadi perawat perawatan kritis adalah orang kunci dalam
mengidentifikasi donor potensial. Lebih jauh lagi, perawat memainkan peran penting sebagai
advokad untuk memastikan bahwa semua upaya dibuat untuk menentukan dan bertindak atas
keinginan pasien berkenaan dengan pendonoran. Perawat juga berperan vital dalam mendukung
keluarga secara psikologis, terutama saat mereka mencoba menerima donor mayat. Bila keputusan
dibuat untuk donor organ, perawat juga memainkan peran yang penting dalam mendukung donor
secara fisiologis.
Saat merawat donor potensial, penting untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik sehingga
organ vital mendapat perfusi adekuat. Untuk melakukan ini, keadaan hipotensi harus pertama
diatasi dengan pemberian cairan dan plasma expander. Selanjutnya bila diperlukan vasopresor,
diberikan dopamin dalam dosis kurang dari 10 g/kg untuk mempertahankan tekanan darah
sistolik diatas 100 mmHg. Bila vasopresor diperlukan untuk mempertahankan tekanan darah
selama lebih dari 24 jam, maka pendonoran ginjal mungkin dihindari.
Juga penting untuk mengkaji saluran urin tiap jam untuk mendeteksi diabetes insipidus. Hal ini
umum terjadi pada donor organ dan berkaitan dengan kegagalan pituitary posterior untuk
membentuk atau melepaskan hormone antidiuretic. Mungkin diberikan vasopressin aquosa atau
desmopressin asetat untuk menurunkan saluran urin dan membantu mempertahankan
keseimbangan cairan.