Anda di halaman 1dari 10

X

Oleh :
 Alievya Brilianty A.K (P27838117003)
 Haris Alpen A. (P27838117016)
 Nila Nurmala Apriana (P27838117022)
 Isna Fatimatuz Zahra (P27838117026)
 Amanda Eka Adistya (P27838117036)
Pengertian

Hemodialisa adalah metode pencucian darah


dengan membuang cairan berlebih dan zat zat yang
berbahaya bagi tubuh melalui alat dyalisis untuk
menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Hemodialisa
dilakukan bila ginjal sudah tidak bisa melaksanakan
fungsinya atau biasa disebut dengan gagal ginjal.

X
Tujuan
1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi,
yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh.

2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan


cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai
urin saat ginjal sehat.

3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang


menderita penurunan fungsi ginjal.

4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu


program pengobatan yang lain.

X
Bagian-Bagian Alat
Mesin hemodialisis (HD) terdiri dari pompa darah, sistem
pengaturan larutan dialisat, dan sistem monitor. Pompa
darah berfungsi untuk mengalirkan darah dari tempat
tusukan vaskuler ke alat dializer. Dializer adalah tempat
dimana proses HD berlangsung sehingga terjadi
pertukaran zat-zat dan cairan dalam darah dan dialisat.
Sedangkan tusukan vaskuler merupakan tempat keluarnya
darah dari tubuh penderita menuju dializer dan
selanjutnya kembali lagi ketubuh penderita.

X
X
X
X

• Pada dialiser terdapat 2 ruang ( berisi darah dan


dialisat) serta sebuah selaput di tengahnya.
Keduanya dipisahkan oleh selaput semipermeabel.
Zat-zat sampah dan zat racun yang ada dalam
darah dapat berpindah melalui selaput
semipermeabel menuju dialisat.
• Ukuran molekul sel-sel dan protein darah lebih
besar dari zat sampah dan racun, sehingga tidak
ikut menembus selaput semipermeabel. Darah yang
telah tersaring menjadi bersih dan dikembalikan ke
dalam tubuh penderita. Dialisat yang menjadi
kotor karena mengandung zat racun dan sampah,
lalu dialirkan keluar ke penampungan dialisat.
Komplikasi Hemodialisis
1) Pembekuan darah
Pembekuan darah disebabkan karena dosis pemberian heparin yang
tidak kuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat. Tentukan
program pasien dengan menghitung BB datang – BB standar + jumlah
makan saat hemodialisa
2) Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit
dapat dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan
heparin selama hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya
perdarahan.
3) Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,
rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik,
neuropati otonomik, dan kelebihan tambahan berat cairan.
4) Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya
hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram
otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat
dengan volume yang tinggi.

X
SOP (Standart Operasional Peralatan)
 Sebelum memulai hemodialisa, ukur tanda-tanda vital dan berat badan pre
hemodialisa.
1) Lakukan reset data untuk menghapus program yang telah dibuat, mesin
otomatis menunjukkan angka nol (0) pada UV, UFR, UFG dan time left
2) Tentukan program pasien dengan menghitung BB datang – BB standar + jumlah
makan saat hemodialisa
3) Tekan tombol UFG = target cairan yang akan ditarik
4) Tekan tombol time left = waktu yang akan diprogram
5) Tekan tombol temperatur (suhu mesin = 360C – 370C)
6) Berikan kecepatan aliran darah 100 rpm

 PENATALAKSANAAN SELAMA HEMODIALISA


1. Memprogram dan memonitor mesin hemodialisa
a. Lamanya HD
b. QB (kecepatan aliran darah) 150 – 250 cc/menit
c. QD (kecepatan aliran dialisa) 500 cc/menit
d. Temperatur dialisat 370C

X
SOP (Standart Operasional Peralatan
 1) Mesin dihidupkan
 2) Sambungkan normal saline dengan set infus, set infus dengan selang arteri,
selang darah arteri dengan dialyzer, dialyzer dengan selang darah venous
 3) Tekan tombol start pada pompa darah
 4) Setelah selang darah dan dialyzer terisi semua dengan normal saline, habiskan
cairan normal sebanyak 500 cc
 3) Lanjutkan priming dengan normal saline sebanyak 1000 cc.
 4) Sambungkan ujung selang darah arteri dan ujung selang darah venous
 5) Semua klem dibuka kecuali klem heparin
 6) mesin akan ke posisi dialysis, start layar menunjukkan “preparation”, artinya:
petunjuk conductivity telah mencapai normal. Pada keadaan “preparation”, selang
concentrate boleh disambung ke dialyzer
 7) Ganti cairan normal saline dengan yang baru 500 cc
 8) Putarlah kecepatan aliran darah (pump) 350 rpm
 9) Hidupkan tombol UF ke posisi “on” mesin akan otomatis melakukan ultrafiltrasi

X
SOP (Standart Operasional Peralaran
 10) Setelah UV mencapai 500 cc, akan muncul pada layar “UFG reached” artinya
UFG sudah tercapai
 11) Pemberian heparin pada selang arteri
Berikan heparin sebanyak 1500 unit sampai 2000 unit pada selang arteri. Lakukan
sirkulasi selama 5 menit agar heparin mengisi ke seluruh selang darah dan
dialyzer, berikan kecepatan 100 rpm
 12) Sambung selang darah venous ke ujung AV fistula outlet (kedua ujungnya
diberi kassa betadine sebagai desinfektan). Masing-masing sambungan
dikencangkan
 13) Menyambung selang darah venous dengan fistula outlet
 14) Klem pada selang arteri dan venous dibuka, sedangkan klem infus ditutup
 15) Pastikan pada selang venous tidak ada udara, lalu hidupkan pompa darah dari
100 rpm sampai dengan yang diinginkan
 16) Tekan tombol UF pada layar monitor terbaca “dialysis”
 17) Selama proses hemodialisa ada 7 lampu hijau yang menyala (lampu monitor,
on, dialysis start, pompa, heparin, UF dan Flow)
 18) Rapikan peralatan