Anda di halaman 1dari 15

Page 1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
Vitamin B1 atau Tiamin merupakan salah satu vitamin yang
dibutuhkan untuk menimbulkan nafsu makan dan membantu penggunaan
karbohidrat dalam tubuh dan sangat berperan dalam sistim saraf. Kebutuhan
vitamin bagi tubuh sebenarnya sangat cukup tersedia, ada unsur-unsur
vitamin alami di dalam makanan yang di santap setiap hari. Kebutuhan harian
akan vitamin berbeda-beda berdasarkan jenis usia, jenis kelamin dan bisa juga
berdasarkan jenis pekerjaanya.
Tiamin atau aneurin, sangat penting dalam metabolisme karbohidrat.
Peran utama tiamin adalah sebagai bagian dari koenzim dalam dekarboksilasi
oksidatif asam alfa-keto. Gejala defisiensi akan muncul secara spontan berupa
beri-beri pada manusia. Penyakit tersebut ditandai dengan penimbunan asam
piruvat dan asam laktat, terutama dalam darah dan otak serta kerusakan daru
sistem kardiovaskuler, syaraf dan alat pencernaan.
Tiamin dalam makanan dalam bantuk bebas atau dalam bentuk
kompleks dengan protein atau kompleks protein phosfat, pada prinsipnya
tiamin berperan sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan
energi dari karbohidrat dan memudahkan pembentukan senyawa kaya energi
yang disebut ATP (adenosil triposfat ).

Page 2

I.2. RUMUSAN MASALAH
Menentukan kadar vitamin B1 (tiamin) pada beras merah tumbuk,
beras merah giling, dan beras putih giling secara spektrofotometri uv- visibel
I.3. TUJUAN PENELITIAAN
Untuk mengetahui kadar vitamin B1 (tiamin) pada beras merah tumbuk,
beras merah giling, dan beras putih giling secara spektrofotometri uv- visibel
I.4. MANFAAT PENELITIAN
Menentukan kadar vitamin B1 (tiamin) pada beras merah tumbuk, beras
merah giling, dan beras putih giling secara spektrofotometri uv- visibel

Page 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. DEFINISI VITAMIN B1 (TIAMIN)
Vitamin B1 atau Tiamin merupakan salah satu vitamin yang
dibutuhkan untuk menimbulkan nafsu makan dan membantu penggunaan
karbohidrat dalam tubuh dan sangat berperan dalam sistim saraf. Kebutuhan
vitamin bagi tubuh sebenarnya sangat cukup tersedia, ada unsur-unsur
vitamin alami di dalam makanan yang di santap setiap hari. Kebutuhan harian
akan vitamin berbeda-beda berdasarkan jenis usia, jenis kelamin dan bisa juga
berdasarkan jenis pekerjaanya. Tiamin, dikenal juga dengan B
1
atau aneurin,
sangat penting dalam metabolisme karbohidrat. Peran utama tiamin adalah
sebagai bagian dari koenzim dalam dekarboksilasi oksidatif asam alfa-keto.
Gejala defisiensi akan muncul secara spontan berupa beri-beri pada manusia.
Penyakit tersebut ditandai dengan penimbunan asam piruvat dan asam laktat,
terutama dalam darah dan otak serta kerusakan daru sistem kardiovaskuler,
syaraf dan alat pencernaan. Masing-masing jumlah vitamin B1 yang di
butuhkan untuk bayi 0,4-0,5 mg/hari, anak-anak 0,7-1,0 mg/hari, pria dewasa
1,2-1,3 mg/hari, wanita dewasa 1,0-1,1 mg/hari, ibu hamil 1,5 mg/hari dan
ibu menyusui 1,6 mg/hari.
II.2. STRUKTUR KIMIA TIAMIN
Struktur kimia tiamin, merupakan gabungan dari molekul basa
pirimidin dan tiazol yang dirangkai jembatan metilen. Kokarboksilase adalah
pirofosfat dari tiamin yang disintesis oleh tubuh dari kombinasi tiamin
dengan ATP (Adenosisn Trifosfat) (Gambar 1.).
Page 4



II.3. SIFAT-SIFAT TIAMIN
Tiamin larut dalam alkohol 70 % dan air, dapat rusak oleh panas,
terutama dengan adanya alkali. Pada kondisi kering, tiamin stabil pada
suhu100
o
C selama beberapa jam. Kelembaban akan mempercepat
kerusakannya. Hal ini menunjukkan bahwa pada makanan segar, tiamin
kurang stabil terhadap panas jika dibandingkan dengan makanan kering.
II.4. FUNGSI TIAMIN
Tiamin diperlukan dalam metabolisme semua spesies hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Pada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi, tiamin dapat
dibuat sendiri, begitu pula halnya pada beberapa tumbuhan tingkat rendah.
Pada semua hewan, tiamin diperoleh dari makanannya, kecuali bila zat
tersebut disintesis oleh mikroorganisme di dalam traktus digestivus (saluran
pencernaan) hewan ruminansia.
Fungsi metabolik tiamin antara lain pada reaksi oksidasi piruvat - Asetil-
KoA, rekasi oksidasi - keto glutarat dan reaksi transketolasi HMP
(Heksosa Monofosfat). Di dalam otak dan hati, segera diubah menjadi TPP
(thiamin pyrohosphat) oleh enzim thiamin difosfotransferase, dimana
reaksinya membutuhkan ATP. Berperan penting sebagai koensim
dekarboksilasi senyawa asam-keto. Beberapa enzim yang menggunakan TPP
Gambar 1. Struktur kimia tiamin pirofosfat (TPP)
Page 5

sbg koensim adalah pyruvate decarboxylase, pyruvate dehydrogenase, dan
transketolase.
Tiamin penting sebagai koensim pyruvate dan -ketoglutarate
dehydrogenase, sehingga jika terjadi defisiensi, maka kapasitas sel dalam
menghasilkan energi menjadi sangat berkurang Juga diperlukan untuk reaksi
fermentasi glukosa menjadi etanol, di dalam yeast.
II.5. SUMBER TIAMIN
Tiamin disintesis oleh bakteri di dalam alat pencernaan hewan
ruminansia. Bakteri mensintesis tiamin dalam caecum kuda, tetapi ternyata
tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumber- sumber tiamin
antara lain tumbuhan biji-bijian, kacang-kacangan, daging, ikan dan susu.
II.6. METABOLISME TIAMIN
Tiamin dari makanan setelah dicerna, diserap langsung oleh usus dan
masuk ke dalam saluran darah. Penyerapan maksimum terjadi pada konsumsi
2,5 5 mg tiamin per hari. Pada jumlah kecil, tiamin diserap melalui proses
yang memerlukan energi dan bantuan natrium, sedangkan dalam jumlah
besar, tiamin diserap secara difusi pasif. Kelebihan tiamin dfikeluarkan lewat
urine. Metabolit tiamin adalah 2-metil-4-amino-5-pirimidin dan asam 4-metil-
tiazol-5-asetat.
Tubuh manusia dewasa mampu menyimpan tiamin sekitar 30 -70 mg,
dan sekitar 80%-nya terdapat sebagai TPP (tiamin pirofosfat). Separuh dari
tiamin yang terdapat dalam tubuh terkonsentrasi di otot. Meskipun tiamin
tidak disimpan di dalam tubuh, level normal di dalam otot jantung, otak, hati,
ginjal dan otot lurik meningkat dua kali lipat setelah terapi tiamin dan segera
menurun hingga setengahnya ketika asupan tiamin berkurang.


Page 6

II.7. DEFISIENSI TIAMIN
Defisiensi tiamin akan menyebabkan gangguan saraf pusat, antara lain
memori berkurang atau hilang, nistagmus, optalmoplegia, dan ataksia.
Gangguan juga terjadi pada saraf tepi, berupa neropati perifer. Gangguan
yang lain berupa kelemahan simetrik (badan sangat lemah), kehilangan fungsi
sensorik, motorik dan reflek kaki. Timbul beri-beri jantung, dengan gejala
jantung membesar, aritma, hipertensi, odema, dan kegagalan jantung.
Normal asupan tiamin untuk orang dewasa adalah antara 1,0 1,5
mg/hari. Jika makanan terlalu banyak mengandung karbohidrat, maka
dibutuhkan lebih banyak tiamin. Tanda-tanda defisiensi tiamin antara lain
menurunnya nafsu makan, depresi mental (Peripheral neurophaty) dan
lemah. Pada defisiensi kronis, maka muncul gejala kelainan neurologist,
seperti kebingungan (mental), dan kehilangan koordinasi mata. Penyakit
karena defisiensi tiamin, yaitu beri-beri. Penyakit ini disebabkan akibat
makanan yang kaya akan karbohidrat tetapi rendah tiamin.
II.8. ANTIVITAMIN ATAU ANTIMETABOLIT TERHADAP TIAMIN
Pada keadaan tertentu bahan pangan dapat mengandung suatu zat yang
bisa menghalangi aktivitas suatu vitamin dan bahkan merusaknya. Zat yang
demikian disebut antivitamin atau antimetabolit untuk vitamin tersebut. Suatu
contoh adalah gejala paralisis pada tikus yang diberi ikan mentah.. Paralisis
tersebut disebabkan oleh suatu antivitamin yang terkandung pada ikan
mentah tertentu yang merusak tiamin. Antivitamin tersebut berupa enzim
tiaminase, yang memecah molekul tiamin menjadi dua bagian komponen
penyusunnya, sehingga tidak berfungsi lagi. Pada ransum untuk tikus putih
dengan kadar tiamin cukup, penambahan antivitamin berupa piritiamin, yang
merupakan formula dengan struktur kimia hampir mirip dengan tiamin, hanya
Page 7

saja piritiamin mengandung kelebihan dua sulfur, gejala defisiensi tiamin
terjadi. Gejala yang timbul tersebut dapat diatasi dengan penambahan level
tiamin yang lebih tinggi. Ion-ion bisulfit dari piritiamin bersifat sangat
merusak tiamin dengan cara memecah molekul tiamin menjadi pirimidin dan
tiazol.

Page 8

BAB III
METODE KERJA
III.1. Alat
Spektrofotometer UV-Visibel (Shimadzu 265), erlenmeyer, gelas
piala, gelas ukur, corong, batang pengaduk, pipet takar, pipet tetes, karet
hisap, labu semprot, timbangan digital, labu ukur, pH meter.
III.2. Bahan
Polivinyl alkohol 1%, etanol netral 40 %, larutan biru bromotimol
0,05 %,larutan dapar NH4CL-NH4OH 0,2 M (49:1) pH 7,6, kalium
heksasianoferat (III) 5% timbal (II) asetat 10 %, indikator fenolftalein, asam
klorida 3 N, tiamin HCL ( BDH Biochemical), kertas saring, aquadest.
III.3. Prosedur
Persiapan sampel
Sampel yang digunakan adalah beras merah tumbuk, beras merah
giling dan beras putih giling yang diambil dari daerah Kayu Aro Kerinci,
Jambi. Sampel di haluskan dengan blender kemudian timbang 5 gram
sampel masukan dalam erlenmeyer 50 ml cukupkan dengan aquadest
sampai tanda batas, kocok, kemudian saring dengan kertas saring masukan
dalam labu ukur 50 ml, cukupkan dengan aquadest sampai tanda batas.
Pembuatan Larutan Induk Vitamin B1 500 g/ml (Liu, S.,et al., 2002)
Ditimbang 25 mg Vitamin B1 kemudian larutkan dengan air suling
dalam labu takar 50 ml tepatkan sampai tanda batas.
Page 9

Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum (Liu, S.,et al.,
2002)
Dari larutan induk di pipet 4 ml masukkan dalam labu ukur 25 ml,
sehingga diperoleh konsentrasi 80 g/ml, tambahkan 2 ml dapar amonia,
ditambah 3,3 ml biru bromotimol 0,05 % dan 1,5 ml polivinyl alkohol 1 %,
cukupkan dengan aquadest sampai tanda batas, kocok homogen, lalu
tentukan panjang gelombang serapan maksimum dengan spektrofotometer
VV VIS antara (400-800) nm.
Pengukuran Kadar Vitamin B1
Larutan induk Vitamin B1 (500 g/ml) dipipet sebanyak 2; 2,5; 3; 3,5;
4 ml dan masing-masing larutan dimasukkan dalam labu ukur 25 ml. Ke
dalam masingmasing labu ditambahkan 1,2 ml dapar amonia, 2,7 ml biru
bromotimol 0,05 % dan 0,7 ml polivinyl alkohol 1% kemudian cukupkan
dengan aquadest sampai tanda batas, dikocok homogen, sehingga diperoleh
konsentrasi larutan vitamin B1 berturut-turut 40,50,60,70, dan 80 g/ml.
Ukur serapan masing-masing larutan pada panjang gelombang maksimum
yaitu 441 nm kemudian data absorban dan konsentrasi larutan standar
digunakan untuk membuat kurva kalibrasi. Pengukuran vitamin B1 pada
sampel dilakukan dengan memipet 5 ml filtrat sampel dan masukan dalam
labu ukur 25 ml tambahkan 1,5 ml dapar amonia, tambahkan 3 ml biru
bromotimol 0,05 %, tambahkan 1ml polivinyl alkohol 1 %, kemudian
cukupkan dengan aquadest sampai tanda batas, kocok homogen dan ukur
Page 10

serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang 441
nm.

Page 11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penetapan kadar vitamin B1 yang terdapat pada beras merah tumbuk, beras
merah giling dan beras putih giling dilakukan dengan metoda spektrofotometer
UV-VIS menggunakan kompleks asosiasi ion antara vitamin B1 dengan biru
bromotimol. Metoda ini sederhana, mudah dan selektif dengan menggunakan
sampel dalam jumlah yang sedikit dengan waktu yang singkat, dan dapat
diterapkan untuk penentuan spektrofotometri secara langsung pada vitamin B1
dalam fase air tanpa melakukan ekstraksi dengan pelarut organik.
Vitamin B1+ bereaksi dengan biru bromotimol pada pH 7,6 ditunjukkan
dengan perubahan warna larutan dari tidak berwarna menjadi kuning. Kompleks
vitamin B1+ dengan biru bromotimol merupakan kompleks asosiasi ion yang
berwarna yang dapat diamati pada panjang gelombang serapan maksimum 441
nm (Liu, S., etal.,2002). Keadaan pH yang lebih tinggi atau lebih rendah dari 7,6
dapat mempengaruhi peranan biru bromotimol yang merupakan indikator, karena
keasaman larutan berperan besar pada reaksi warna, oleh karena itu untuk
mengontrol keasaman larutan dapat digunakan larutan dapar NH4Cl NH4OH
0,2M agar tidak terjadi penurunan nilai serapan (Liu, S., et al.,2002).
Untuk meningkatkan kelarutan senyawa kompleks vitamin B1 dengan biru
bromotimol dalam air perlu ditambahkan polivinyl alkohol sebagai zat
pensolubilisasiyang merubah kompleks asosiasi ion yang bersifat hidrofob
menjadi bentuk misel selain itu penambahan polivinyl alkohol juga membentuk
Page 12

larutan tetap jernih sehingga perubahan warna yang terjadi dapat diamati dengan
jelas.

Ketelitian adalah ukuran yang menunjukan derajat kesesuaian antara hasil
uji individual dan rata rata jika prosedur ditetapkan secara berulangulang.
Ketelitian diukur sebagai simpangan baku dan koefisien variasi dari masing
masing pengukuran. Untuk pengukuran kadar vitamin B1 pada sampel dengan 3
kali pengulangan diperoleh SD untuk beras merah tumbuk 0,243, beras merah giling
0,198 dan beras putih giling 0,190. Sedangkan nilai KV yang di peroleh untuk beras
merah tumbuk 0,419 %, beras merah giling 0,437 % dan beras putih giling 0,449 % hasil
ini memenuhi kriteria, karena nilai standar deviasi atau koefisien variasi 2 % atau kurang.

Page 13


Hasil pemeriksaan kadar vitamin B1 dalam sampel beras diperlihatkan pada tabel 1.
Beras merah tumbuk mengandung vitamin B1 dengan kadar tertinggi yaitu 2,887 mg/g,
yang diikuti dengan beras merah giling 2,265 mg/g dan beras putih giling 2,129 mg/g.
Pada uji statistik menggunakan ANOVA satu arah dilanjutkan uji beda nyata terkecil
diperoleh perbedaan yang sangat signifikan (p<0,01) antara kadar vitamin B1 dari
masing-masing sampel. Proses penyosohan atau penggilingan dapat mengurangi kadar
vitamin B1 dalam beras.

Page 14

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa kadar
Vitamin B1 yang tertinggi terdapat dalam Beras merah tumbuk 0,2887 % 0,243
yang terendah dalam Beras putih giling 0,2129 %, 0,190 sedangkan Beras merah
giling 0,2265 %, 0,198.
V.2. SARAN
Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan bisa dilakukan penelitian
selanjutnya.

Page 15

DAFTAR PUSTAKA
Andi, H.N., 1987, Pengetahuan GiziMutakhir : Vitamin , PT Gramedia,Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1974, Ekstra Farmakope Indonesia,
Cetakan Pertama, Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope I ndonesia, Ed IV, Jakarta

Gan, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, Ed.4, Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta

Garrat, D.C., 1964, The Quantitative Analisys of Drugs, Toppan Company,London

Herlich, K, 1990, Official Methods of Analisis, 15 th ed, Volume 1, USA

Liu, S., Zhuyuan, Z., Qin, L., Hongqun, L., and Wenxu, Z., 2002, Spectrophotometric
Determination of Vitamin B1 in a Pharmaceutical Formulation using
Tryphenylmethane Acid Dyes, J ournal of Pharmaceutical and Biomedical
Analysis, Volume 30, Issue 3

Miller. JC., 1991, Statistika Untuk Kimia Analitik, Edisi II, Penerbit ITB, Bandung
Murray, R.K., Granner, D. K., Mayes, P. A.,

Rodwell, V. W., 1997, Biokimia Harper, Edisi 24, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta

Soeharto, P.K., 1991, Biokimia Nutrisi (Vitamin), Edisi 1, Fakultas Peternakan UGM
Yogyakarta