Anda di halaman 1dari 69

SKENARIO

Mrs.Deasy, 55 years old came to emergency room (ER) with pain on her right wrist after fell
down on slippery bathroom one day before admission. She fell on her outstretched and dorsiflex
hand. From physical examination, there was “dinner fork” deformity, tenderness, and painful
range of movement (ROM) at her right wrist. No open wound.

When Mrs. Deasy asked about x-ray film, the doctor just said that there is fracture and some
abnormality at distal forearm and wrist region.

I. KLARIFIKASI ISTILAH

1. Pain : Perasaan sedih, menderita, atau agoni disebabkan oleh


rangsangan pada ujung-ujung saraf.

2. Wirst : Daerah persendian antara lengan bawah dan tangan.

3. Outstretched : Menjulur

4. Dorsiflex hand : Tangan menekuk atau flexi ke arah belakang.

5. Dinner fork deformity : Deformitas yang terjadi pada fraktru colles (ujung distal
radius patah ke bagian posterior).

6. Tenderness : Keadaan sensitivitas yang tidak biasa terhadap sentuhan


atau tekanan.

7. Painful ROM : Nyeri yang dirasakan ketika melakukan fleksi / ekstensi.

8. Wound : Luka badan yang disebabkan oleh cara fisik dengan


terganggunya kontinuitas struktur yang normal.

9. X ray film : Getaran elektromagnetik gelombang pendek (kira-kira


0,01-10 nm) atau kuantum setara yang dihasilkan
ketika elektron yang bergerak dengan kecepatan
tinggi membentur berbagai substansi.
1
10. Fracture : Pecahan atau ruktur pada tulang.

11. Distal forearm : Bagian anggota badan atas diantara siku dan pergelangan
tangan bawah.

II. IDENTIFIKASI MASALAH

1. Ny. Deasy , 55 th, datang ke ruang emergensi dengan nyeri pada lengan kanan setelah
terjatuh di kamar mandi yang licin, dengan posisi tangan terjulur dan dorsifleksi
sehari sebelumnya.

2. Pemeriksaan Fisik : “dinner fork” deformity, nyeri tekan, nyeri ROM pada
pergelangan tangan kanan dan tidak ada luka terbuka.

3. Pemeriksaan X-ray : fraktur dan abnormalitas pada lengan bagian distal dan regio
pergelangan tangan.

III. ANALISIS MASALAH

1. a. Bagaimana anatomi dan fisiologi lengan bawah dan pergelangan tangan ? (jari-jari)

b. Bagaimana patofisiologi nyeri pada pergelangan tangan ?

c. Bagaimana hubungan usia dengan kasus ini ?

d. Apa akibat terjatuh dengan posisi tangan terjulur dan dorsifleksi ?

e. Bagian apa saja yang terganggu ?

f. Apa pertolongan pertama yang dapat dilakukan ?

g. Bagaimana mekanisme biomekanikanya ?

2. a. Apa itu “dinner fork” deformity ?


2
b. Bagaimana mekanisme “dinner fork” deformity, nyeri tekan dan nyeri ROM pada
pergelangan tangan ? (hubungan dengan posisi jatuh)

c. Bagaimana cara pemeriksaan fisik pergelangan tangan ?

d. Mengapa tidak terjadi luka terbuka ?

3. a. Apa saja macam-macam fraktur ?

b. Apa saja faktor resiko fraktur ?

c. Bagaimana mekanisme fraktur ?

d. Bagaimana gambaran radiologi pergelangan tangan normal dan setelah terjadinya

fraktur ?

4. a. Bagaimana diagnosis banding dan diagnosis kerja pada kasus ini ?

b. Bagaimana etiologi dan epidemiologi pada kasus ini ?

c. Bagaimana patogenesis pada kasus ini ?

d. Apa saja manifestasi klinis pada kasus ini ?

e. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan ?

f. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini ?

g. Bagaimana prognosisnya ?

h. Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus ini ?

i. Bagaimana rehabilitasinya ?

j. Bagaimana kompetensi Dokter Umum pada kasus ini ?

3
IV. HIPOTESIS

Ny. Deasy , 55 th, mengalami nyeri pergelangan tangan karena frakture colles.

V. KERANGKA KONSEP

4
Ny. Deasy,55 th

Jatuh dengan posis tangan


terjulur dan dorsifleksi

UGD

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Penunjang (X-


Ray)

Dinner fork Tenderness Painful Fraktur Abnormalitas regio distal


deformity ROM pergelangan tangan

Fraktur colles

Penatalaksanaan

-Reposisi

- Imobilisasi
5
Rehabilitasi

VI. SINTESIS

FRAKTUR

Fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang. Fraktur merupakan salah satu
masalah kegawatdaruratan yang harus segera ditangani. Berbagai musibah bencana alam yang
terjadi di Indonesia menuntut kita untuk belajar dan mencari tahu lebih dalam tentang
penanganan medis bagi para korban.

Salah satu masalah yang sering dialami para korban adalah kasus patah tulang, selain luka-
luka tentunya. Namun keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana menolong korban patah
tulang, membuat kita hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Disaat
seperti itu, menunggu datangnya pertolongan dokter bukanlah hal yang bijak karena ada banyak
hal yang terjadi (yang mungkin akan memperburuk kondisi si korban) karena tidak segera
ditolong.

Masalah-masalah fraktur yang banyak terjadi antara lain adalah fraktur pada kaki dan
tangan. Misalnya, pada bagian femur dan distal tangan.

6
A. Definisi

Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan


para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan
terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan
Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin
(1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi
karena tekanan pada tulang yang berlebihan.

B. Etiologi

Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup
kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa
hal yaitu:

1. Fraktur akibat peristiwa trauma. Sebagisan fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-
tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran
atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang
terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran
kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak
yang luas.
2. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan. Retak dapat terjadi pada tulang seperti
halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling
sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau
calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.

7
3. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang. Fraktur dapat terjadi oleh tekanan
yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang
tersebut sangat rapuh.

Etiologi berdasarkan jenis masing-masing fraktur:

1. Fraktur pada kaki

Hampir setiap tulang di kaki dapat mengalami patah tulang (fraktur).


banyak diantara patah tulang ini yang tidak membutuhkan pembedahan, sedangkan
yang lainnya harus diperbaiki melalui pembedahan untuk mencegah kerusakan yang
menetap. Di daerah diatas tulang yang patah biasanya membengkak dan nyeri.
Pembengkakan dan nyeri bisa menjalar ke luar daerah patah tulang jika jaringan
lunaknya mengalami memar. Patah tulang di dalam dan di sekitar pergelangan kaki
paling sering terjadi jika pergelangan kaki berputar ke dalam sehingga kaki terputar ke
luar atau pergelangan kaki berputar ke luar. Nyeri, pembengkakan dan perdarahan
cenderung terjadi. Fraktur ini bisa berakibat serius jika tidak ditangani dengan baik.
semua fraktur pergelangan kaki harus digips. Untuk patah tulang pergelangan kaki yang
berat, dimana tulang terpisah jauh atau salah menempel, mungkin perlu dilakukan
pembedahan.

Fraktur tulang metatarsal (tulang pertengahan kaki) sering terjadi.


Penyebab yang paling sering adalah terlalu banyak berjalan atau penggunaan berlebihan
yang menyebabkan tekanan tidak langsung. penyebab lainnya adalah benturan hebat
yang terjadi secara mendadak. Untuk memungkinkan penyembuhan tulang, maka
dilakukan imobilisasi dengan sepatu bertelapak keras. Jika tulang terpisah sangat jauh,
mungkin diperlukan pembedahan untuk meluruskan pecahan-pecahan tulang yang
patah.

Tulang sesamoid (2 tulang bulat kecil yang terletak di ujung bawah tulang
metatarsal ibu jari kaki) juga bisa mengalami patah tulang.
fraktur tulang sesamoid bisa disebabkan oleh berlari, berjalan jauh dan olah raga
(misalnya basket dan tenis). Menggunakan bantalan atau penyangga sepatu khusus bisa
8
mengurangi nyeri. Jika nyeri berkelanjutan, mungkin tulang sesamoid harus diangkat
melalui pembedahan.

Cedera pada jari kaki (terutama jari-jari yang kecil) sering terjadi, apalagi jika
berjalan tanpa alas kaki. Fraktur simplek pada keempat jari kaki yang kecil akan
sembuh tanpa perlu memasang gips. Dilakukan pembidaian jari kaki dengan pita atau
velcro selama 4-6 minggu. Menggunakan sepatu beralas keras atau yang berukuran agak
besar bisa membantu mengurangi nyeri. Biasanya fraktur pada ibu jari kaki (hallux)
cenderung lebih berat, dan menyebabkan nyeri yang lebih hebat, pembengkakan dan
perdarahan dibawah kulit. Patah tulang hallux bisa terjadi karena kaki menendang
sesuatu atau karena sebuah benda yang berat jatuh diatasnya. Perlu dilakukan
pembedahan untuk memperbaiki patah tulang hallux.

Fraktur patella pextra merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai
dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang
berlebihan yang terjadi pada tempurung lutut pada kaki kanan.

Batang femur dapat mengalami fraktur oleh trauma langsung, puntiran (twisting),
atau pukulan pada bagian depan lutut yang berada dalam posisi fleksi pada kecelakaan
jalan raya. Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh dan batang femur pada orang
dewasa sangat kuat. Dengan demikian, trauma langsung yang keras, seperti yang dapat
dialami pada kecelakaan automobil, diperlukan untuk menimbulkan fraktur batang
femur. Perdarahan interna yang masif dapat menimbulkan renjatan berat.
Penatalaksanaan fraktur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu 10 tahun
terakhir ini. Traksi dan spica casting atau cast bracing, meskipun merupakan
penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak, mempunyai kerugian dalam hal
memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama. Oleh karena itu,
penatalaksanaan ini tidak banyak digunakan pada orang dewasa.

2. Fraktur pada tangan

Kejadian fraktur Colles cukup tinggi, tetapi sampai sekarang masih banyak
perbedaan mengenai klasifikasi, cara reposisi, metoda fiksasi, faktor yang
9
mempengaruhi hasil akhir serta prognosis (Kreder dkk, 1996). Hasil yang baik dapat
dicapai dengan diagnosa yang tepat, reposisi yang akurat, fiksasi yang adekuat serta
rehabilitasi yang memadai. Reposisi tertutup biasanya tidak sulit, tetapi sulit untuk
mempertahankan hasil reposisi, terutama pada fraktur kominutif (Linden dkk,1981;
Manjas, 1996). Selama ini metoda fiksasi yang banyak dianut adalah dengan gips
sirkuler 0, lengan bawah panjang sampai di atas siku dengan posisi siku fleksi 90
pronasi, pergelangan tangan fleksi dan deviasi ulna seperti yang dianjurkan oleh Salter
atau Walstrom yang dikenal dengan “Cotton Loader“ (Salter, 1984).

Sejak jaman Hipocrates sampai awal abad 19, fraktur distal radius masih disalah
artikan sebagai dislokasi dari npergelangan tangan. Abraham Colles (1725 – 1843) pada
tahun 1814 mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul ‘On the fracture of the carpal
extremity of the radius’. Sejak saat itu fraktur jenis ini diberi nama sebagai fraktur
Colles sesuai dengan nama Abraham Colles (Appley,1995; Salter,1984).

Fraktur Colles’ adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius bagian distal yang
berjarak 1,5 inchi dari permukaan sendi radiocarpal dengan deformitas ke posterior,
yang biasanya terjadi pada umur di atas 45-50 tahun dengan tulangnya sudah
osteoporosis. Kalau ditemukan pada usia muda disebut fraktur tipe Colles’ (Appley,
1995; Jupiter, 1991; Salter, 1984).

Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-
kira 1,5 – 2 inchi distal radius. Pada tempat ini ditemui bagian tulang distal radius yang
relatif lemah karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang spongiosa
dekat sendi. Dorsal radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk
tempat lewatnya tendon ekstensor. Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot
pronator quadratus. Sisi lateral radius distal memanjang ke bawah membentuk prosesus
styloideus radius dengan posisi yang lebih rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian
ini merupakan tempat insersi otot brakhioradialis (Appley, 1995; Brumfeeld et al, 1984;
Salter, 1984).

10
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi
radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas permukaan
sendi. Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :

a. Ligamentum Carpeum volare (yang paling kuat).


b. Ligamentum Carpaeum dorsale.
c. Ligamentum Carpal dorsale dan volare.
d. Ligamentum Collateral.

C. Patofisiologi

Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika
patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan
jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan
jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi
tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya
respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari
plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses
penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan
tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum
tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk
kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkn
dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi
histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke
interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan
ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement.

11
D. Klasifikasi Fraktur

Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi fraktur sebagaimana yang dikemukakan


oleh para ahli:

1. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi :

a. Fraktur komplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi
menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta
mengenai seluruh kerteks.

b. Fraktur inkomplit

Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak
menyeberang, sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh).

2. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia
luar, meliputi:

a. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang
tidak menonjol malalui kulit.
b. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan
dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi.Fraktur
terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu:

• Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit otot


• Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot
• Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah,
syaraf otot dan kulit.

3. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu:


12
a. Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang, sering terjadi pada anak-anak
dengan tulang lembek
b. Transverse yaitu patah melintang
c. Longitudinal yaitu patah memanjang
d. Oblique yaitu garis patah miring
e. Spiral yaitu patah melingkar

4. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan


fragmen yaitu:

a. Tidak ada dislokasi


b. Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:

• Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut


• Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh
• Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang
• Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan
memendek.

E. Gambaran Klinik

Lewis (2006) menyampaikan manifestasi kunik fraktur adalah sebagai berikut:

1. Nyeri

Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme
otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.

2. Bengkak/edama

Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah
fraktur dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.
13
3. Memar/ekimosis

Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan
sekitarnya.

4. Spame otot

Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadu disekitar fraktur.

5. Penurunan sensasi

Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.

6. Gangguan fungsi

Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang frkatur, nyeri atau spasme otot. paralysis
dapat terjadi karena kerusakan syaraf.

7. Mobilitas abnormal

Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak
terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.

8. Krepitasi

Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.

9. Deformitas

Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan
pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan
menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.

10. Shock hipovolemik

Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.


14
11. Gambaran X-ray menentukan fraktur

Gambaran ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur

F. Komplikasi

Komplikasi akibat fraktur yang mungkin terjadi menurut Doenges (2000) antara lain:

1. Shock
2. Infeksi
3. Nekrosis divaskuler
4. Cidera vaskuler dan saraf
5. Mal union
6. Borok akibat tekanan

G. Penatalaksanaan

Terdapat beberapa tujuan penatalaksanaan fraktur menurut Henderson (1997),


yaitu mengembalikan atau memperbaiki bagian-bagian yang patah ke dalam bentuk semula
(anatomis), imobilisasi untuk mempertahankan bentuk dan memperbaiki fungsi bagian
tulang yang rusak.

Beberapa tindakan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan awal untuk


menangani korban luka patah tulang:

1. Kenali ciri awal patah tulang dengan memperhatikan riwayat trauma yang terjadi
karena; benturan, terjatuh atau tertimpa benda keras yang menjadi alasan kuat pasien
mengalami patah tulang. Biasanya, pasien akan mengalami rasa nyeri yang amat sangat
dan bengkak hingga terjadinya perubahan bentuk yang kelihatannya tidak wajar
(seperti; membengkok atau memuntir).

15
2. Jika ditemukan luka yang terbuka, bersihkan dengan antiseptik dan usahakan untuk
menghentikan pendarahan dengan dibebat atau ditekan dengan perban atau kain bersih.

Lakukan reposisi (pengembalian tulang yang berubah ke posisi semula) namun hal ini
tidak boleh dilakukan secara paksa dan sebaiknya dilakukan oleh para ahli atau yang
sudah biasa melakukannya.

3. Pertahankan daerah patah tulang dengan menggunakan bidai/ papan dari kedua sisi
tulang yang patah untuk menyangga agar posisinya tetap stabil.

Jenis-jenis fraktur reduction yaitu:

1. Manipulasi atau close red

Adalah tindakan non bedah untuk mengembalikan posisi, panjang dan bentuk. Close
reduksi dilakukan dengan local anesthesia ataupun umum.

2. Open reduksi

Adalah perbaikan bentuk tulang dengan tindakan pembedahan sering dilakukan dengan
internal fixasi menggunakan kawat, screlus, pins, plate, intermedullary rods atau nail.
Kelemahan tindakan ini adalah kemungkinan infeksi dan komplikasi berhubungan
dengan anesthesia. Jika dilakukan open reduksi internal fixasi pada tulang (termasuk
sendi) maka akan ada indikasi untuk melakukan ROM.

3. Traksi

Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk
meluruskan bentuk tulang. Ada 3 macam yaitu:

4. Skin traksi

Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester
langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme

16
otot pada bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72
jam).

5. Skeletal traksi

Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera dan sendi panjang
untuk mempertahankan traksi, memutuskan pins (kawat) ke dalam tulang.

6. Maintenance traksi

Merupakan lanjutan dari traksi, kekuatan lanjutan dapat diberikan secara langsung pada
tulang dengan kawat atau pins.

FRAKTUR COLLES

Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang biasa terjadi pada
pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan tangan menumpu dan
biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila seseorang jatuh dengan tangan yang
menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi kaku, dan kemudian menyebabkan tangan memutar dan
menekan lengan bawah. Jenis luka yang terjadi akibat keadaan ini tergantung usia penderita.
Pada anak-anak dan lanjut usia, akan menyebabkan fraktur tulang radius.

Fraktur radius distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa.
Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis pada
tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. (Armis, 2000). Ini adalah fraktur
yang paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan
permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki
riwayat jatuh pada tangan yang terentang. (Apley & Solomon, 1995).

Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan
menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan
persendian pergelangan tangan. Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal,
17
radial dan supinasi. Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus
styloideus ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial
menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal (Reksoprodjo, 1995)
Momok cedera tungkai atas adalah kekakuan, terutama bahu tetapi kadang-kadang siku atau
tangan. Dua hal yang harus terus menerus diingat :

(1) pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi berkonsentrasi pada
pengembalian gerakan;

(2) apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus mendapatkan latihan
sejak awal. (Apley & Solomon, 1995)

Melihat masih cukup tingginya angka kejadian fraktur Colles maka perlu diketahui
insidensi fraktur Colles di RSUD Saras Husada Purworejo, agar dapat dilakukan perawatan dan
penanganan secara intensif pada tiap-tiap kasusnya.

DEFINISI

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Cedera
yang digambarkan oleh Abraham Colles pada tahun 1814 adalah fraktur melintang pada radius
tepat di atas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. (Apley & Solomon,
1995)

EPIDEMIOLOGI

Fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ lebih sering ditemukan pada wanita, dan
jarang ditemui sebelum umur 50 tahun (Clancey, 1984; Cooney, 1982). Secara umum insidennya
kira-kira 8 – 15% dari seluruh fraktur dan diterapi di ruang gawat darurat. Dari suatu survey
epidemiologi yang dilakukan di Swedia, didapatkan angka 74,5% dari seluruh fraktur pada
lengan bawah merupakan fraktur distal radius (Cooney,1980). Umur di atas 50 tahun pria dan
wanita 1 berbanding 5. Sebelum umur 50 tahun, insiden pada pria dan wanita lebih kurang sama
18
di mana fraktur Colles’ lebih kurang 60% dari seluruh fraktur radius (Cooney,1980). Sisi kanan
lebih sering dari sisi kiri. Angka kejadian rata-rata pertahun 0,98%. Usia terbanyak dikenai
adalah antara umur 50 – 59 tahun (Dias dkk, 1980; Sarmiento dkk, 1980).

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

• usia lanjut

• postmenopause

• massa otot rendah

• osteoporosis

• kurang gizi

• olaraga seperti sepakbola dll

• aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding

• kekerasan

• ACR (albumin-creatinin ratio) yang tinggi efek ini kemungkinan disebabkan oleh
gangguan sekresi 1,25-dihidroksivitamin D, yang menyebabkan malabsoprsi
kalsium.

ANATOMI DAN KINESIOLOGI

Tulang radius ke arah distal membentuk permukaan yang lebar sampai persendian
dengan tulang carpalia. Dan peralihan antara dense cortex dan cancellous bone pada bagian distal
merupakan bagian yang sangat lemah dan mudah terjadi fraktur. Penting sekali diketahuii
kedudukan anatomis yang normal dari pergelangan tangan, terutama posisi dari ujung distal
radius.

19
Perlu diperhatikan 3 ukuran yang utama :

1. Radial height :

Yaitu jarak proccesus styloideus radii terhadap ulna. Diukur dari jarak antara garis
horizontal yang ditarik melalui ujung procesus styloideus radii dan melalui ujung distal
ulna. Ukuran normalnya kira-kira 1 cm.

2. Derajat “ulna tilt” atau “ulna deviation” dari permukaan sendi ujung distal radius
pada posisi anterior posterior.
Normal, permukaan sendi ini letaknya miring menghadap ke ulnar. Derajat miringnya
diukur dari besarnya sudut antara garis horizontall yang tegak lurus pada sumbu radius dan
garis yang sesuai dengan permukaan sendi. Normal : 15 – 30 derajat, rata-rata 23 derajat.

3. Derajat “volar tilt” (volar deviation) dari permukaan sendi radius pada posisi lateral.
Normal : permukaan sendi ini miring menghadap kebawah dan kedepan. Besarnya diukur
dengan sudut antara garis horizontal tegak lurus sumbu radius dan garis yang sesuai dengan
permukaan sendi. Normal : 1 – 23 derajat, rata-rata 11 derajat.

Alat-alat gerak yang meliputi ini ialah :

1. Posterior :

Berbentuk cembung dan terdapat sekumpulan tendon/otot extensor yang mempunyai fungsi
ekstensi.

2. Anterior :

Berbentuk cekung dan terdapat sekumpulan tendon/otot fleksor yang mempunyai fungsi
fleksi lengan bawah dan tangan. Dan pada bagian dalam ada: m. pronator quadratus yang
berjalan menyilang dan berfungsi terutama untuk pronasi.

3. Lateral :

20
Tampak m. supinator longus yang mempunyai insersi pada procesus. styloideus radii yang
mempunyai fungsi utama sebagai supinasi.

Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang lunatum dan navikulare
ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian distal ke arah medial. Bagian distal sendi
radiokarpal diperkuat dengan simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament radiokarpal
kolateral ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan simpai yang
memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus artikularis, yang melekat dengan semacam
meniskus yang berbentuk segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen kolateral
ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis bersama ligament radioulnar
dorsal dan volar, yang kesemuanya menghubungkan radius dan ulna, disebut kompleks rawan
fibroid triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage complex) (Sjamsuhidayat & de Jong,
1998)
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensi pergelangan tangan serta gerakan
deviasi radius dan ulna. Gerakan fleksi dan ekstensi dapat mencapai 90 derajat oleh karena
adanya dua sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-kapitatum dan sendi
lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar distal adalah gerak rotasi. (Sjamsuhidayat & de
Jong, 1998)

Gambar 1a. Sudut normal sendi radiokarpal di bagian ventral (tampak lateral)

21
Gambar 1b. Sudut normal yang dibentuk oleh ulna terhadap sendi radiokarpal
Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada bagian palmar (ventral)
seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur yang melibatkan angulasi ventral umumnya
berhasil baik dalam fungsi, tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal sendi
radiokarpal yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak sempurna. Gambar
1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15
- 30 derajat. Evaluasi terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah bagian
distal, karena kegagalan atau reduksi inkomplit yang tidak memperhitungkan angulasi akan
menyebabkan hambatan pada gerakan tangan oleh ulna. (Simon & Koenigsknecht, 1987)

Anatomi dan Biomekanik Antebrakhii Distal

Bagian antebrakhii distal sering disebut pergelangan tangan, batas atasnya kira-kira 1,5 –
2 inchi distal radius. Pada tempat ini ditemui bagian tulang distal radius yang relatif lemah
karena tempat persambungan antara tulang kortikal dan tulang spongiosa dekat sendi. Dorsal
radius bentuknya cembung dengan permukaan beralur-alur untuk tempat lewatnya tendon
ekstensor.

Bagian volarnya cekung dan ditutupi oleh otot pronator quadratus. Sisi lateral radius
distal memanjang ke bawah membentuk prosesus styloideus radius dengan posisi yang lebih
rendah dari prosesus styloideus ulna. Bagian ini merupakan tempat insersi otot brakhioradialis
(Appley, 1995; Brumfeeld et al, 1984; Salter, 1984).

22
Pada antebrakhii distal ini ditemui 2 sendi yaitu sendi radioulna distal dan sendi
radiocarpalia. Kapsul sendi radioulna dan radiocarpalia melekat pada batas permukaan sendi.
Kapsul ini tipis dan lemah tapi diperkuat oleh beberapa ligamen antara lain :

1. Ligamentum Carpeum volare (yang paling kuat).

2. Ligamentum Carpaeum dorsale.

3. Ligamentum Carpal dorsale dan volare.

4. Ligamentum Collateral.

Anatomi Pergelangan Tangan

Anatomi

WRIST = REGIO CARPALIS

23
24
Anterior

a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum flexorum dari medial ke
lateral

1) Tendo musculus flexor carpi ulnaris

2) N. Ulnaris

3) A. Ulnaris

4) Ramus cutaneus palmaris nervi ulnaris

5) Tendo musculus palmaris longus

6) Ramus cutaneus nervi medianus

b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum flexorum dari medial ke lateral

1) Tendo musculus flexor digitorum superficialis

2) N. Medianus

3) Tendo musculus flexor policis longus

4) Tendo musculus flexor carpi radialis

25
26
27
Posterior

a. Struktur ini berjalan superficial terhadap retinaculum musculorum extensorum dari medial
ke lateral

1) Ramus cutaneus dorsalis(posterior)nervi ulnaris

2) Vena basilica

3) Vena cepalica

4) Ramus superficialis nervi radialis

b. Struktur ini berjalan di bawah retinaculum musculorum extensorum dari medial ke lateral

1) Tendo musculus extensorum carpi ulnaris

2) Tendo musculus extensor digiti minimi

3) Tendo musculus extensor digitorum et indicis

4) Tendo musculus extensor policis longus

28
Persarafan

1. Lateral cord

a. Lateral pectoral nerve

b. Musculocutaneous nerve

c. Lateral root of median nerve

2. Medial cord

a. Medial pectoral nerve

29
b. Medial cutaneous nerve of arm

c. and medial cutaneous nerve of forearm

d. Ulnar nerve

e. Medial root of median nerve

3. Posterior cord

a. Upper and lower subscapular nerves

b. Thoracodorsal nerve

c. Axillary nerve

d. Radial nerve

Jenis Pergerakan pada Pergelangan Tangan/Articulatio radiocarpalis(sendi pergelangan


tangan)

a. Articulatio : antara ujung distal radius dan discus articulaticularis di sebelah tas
dengan os lunatum, os triquetrum, dan os scapoideum

Tipe : sendi episoidea sinovial

Persarafan : N. Interossea anterior dan ramus profundus nervi radialis

1) Flexio, dilakukan oleh M. Flexor carpi radialis, M. Flexor carpu ulnaris, M. Palmaris
longus, dan dibantu otot lain

2) Extentio, dilakuakn oleh M. Carpi radialis longus, M. Extensor capi radialis brevis, M.
Extensor carpi ulnaris

3) Abductio, M. Flexor carpi radialis

30
b. Articulatio radioulnaris distalis

Aryticulatio : antara caput ulan dan incisura ulanris radii

Tipe : sendi pivot sinovila

Persarafan : nervus interosseus anterior dan ranmus profundus nervi radialis

1) Pronatio, dilakukan oleh M. Pronator teres dan M. Pronator quadratus

2) Supinatio, dilakukan oleh M. biceps brachii damn M. Supinator

Wrist Joint Motions (Adapted from Luttgens & Hamilton, 1997)

31
TABLE. 1 Average ROMs (Adapted from Luttgens & Hamilton, 1997)

Source Source Source Source


Joint/Segment Movement
1* 2* 3* 4*

Flexion 140 145 145 145


Elbow
Hyperextension 0 0 0 0-10

Pronation 80 90 90 80
Forearm
Supination 80 85 90 90

Extension (Dorsiflexion) 60 70 70 50

Flexion (Palmar flexion) 60 90 - 60


Wrist
Radial Deviation 20 20 20 20

Ulnar Deviation 30 30 35 30

Shoulder Flexion 180 170 130 180

Hyperextension 50 30 80 60

Abduction 180 170 180 180

32
Adduction 50 - - -

Internal Rotation 90 90 70 60-90

Shoulder External Rotation 90 90 70 90


w/ Abducted
Arm Horizontal Adduction - - - 135

Horizontal Adduction - - - 45

Flexion 100 120 125 120

Hyperextension 30 10 10 30
Hip
Abduction 40 45 45 45

Adduction 20 - 10 0-25

Internal Rotation 40 35 45 40-45


Extended Hip
External Rotation 50 45 45 45

Knee Flexion 150 120 140 130

Plantar flexion 20 45 45 50
Ankle
Dorsiflexion 30 15 20 20

Flexion 60 - - 40

Hyperextension 75 - - 40
Cervical Spine
Lateral Flexion 45 - - 45

Rotation 80 - - 50

Lumbar-thoracic Flexion 45-50 - - 45


Spine
Hyperextension 25 - - 20-35

Lateral Flexion 25 - - 30
33
Rotation 30 - - 45

Dilihat dari anatomi pergelangan tangan dan posisi tangan saat jatuh, maka bagian mana
saja yang mungkin mengalami kerusakan ?

Berdasarkan dari penjelasan anatomi sebelumnya dan berhubungan dengan posisi tangan
pada saat jatuh, bagian yang mungkin mengalami kerusakan adalah radius distal, ulna distal, ossa
carpal serta jaringan yang ada disekitar tulang yang mengalami fraktur.

Pada saat jatuh terpeleset, posisi tangan berusaha untuk menahan badan dalam posisi
terbuka dan pronasi. . Lalu dengan terjadinya benturan yang kuat, gaya akan diteruskan ke
daerah metafisis radius distal dan mungkin akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana
garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.

Sehingga tulang yang kemungkinan


mengalami fratur pada posisi tersebut adalah radius
distal dan os scaphoideum.

34
Colles fracture Scaphoid fracture

Dengan posisi tangan pada saat jatuh seperti gambar di atas, maka gaya yang kuat akan
berlawanan arah ke daerah pergelangan tangan. Dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya
bahwa yang mungkin mengalami fraktur adalah distal radius sebab dilihat dari struktur
jaringannya saja tulang daerah tersebut memang rawan patah.

Gerakan Pada Pergelangan Tangan

Sendi radioulnar distal adalah sendi antara ‘cavum sigmoid radius’ (yang terletak pada
bahagian dalam radius) dengan ulna. Pada permukaan sendi ini terdapat ‘fibrocartilago
triangular’ dengan basis melekat pada permukaaan inferior radius dan puncaknya pada prosesus
styloideus ulna. Sendi ini membantu gerakan pronasi dan supinasi lengan bawah, di mana dalam
keadaan normal gerakan ini membutuhkan kedudukan sumbu sendi radioulnar proksimal dan
distal dalam keadaan ‘coaxial’.
35
Adapun nilai maksimal rata-rata lingkup sendi dari pronasi dan supinasi sebagai berikut :

1. pronasi = 80 - 900

2. supinasi = 80 – 900

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini, siku
harus dalam posisi fleksi 900 sehingga mencegah gerakan rotasi pada humerus (Kaner, 1980;
Kapanji, 1983).

Sendi Radio Carpalia merupakan suatu persendian yang kompleks, dibentuk oleh radius
distal dan tulang carpalia ( os navikulare dan lunatum ) yang terdiri dari ‘inner dan outer facet’.
Dengan adanya sendi ini tangan dapat digerakkan ke arah volar, dorsal, radial dan ulnar secara
sirkumdiksi. Sedangkan gerakan rotasi tidak mungkin karena bentuk permukaan sendi ellips.

Rata-rata gerakan maksimal pada pergelangan tangan adalah sebagai berikut :

1. fleksi dorsal = 50 – 800.

2. fleksi volar/palmar= 60 – 850

3. deviasi radial = 15 - 290

4. deviasi ulnar = 30 – 460

Menurut American Acadeny of Orthopaedic Surgeon untuk pengukuran lingkup sendi ini
dilakukan dengan memakai goniometer, dalam posisi pronasi secara normal sendi radio carpalia
ini mempunyai sudut 1 – 230 ke arah palmar polar, jadi fraktur yang mengarah pada volar akan
mempunyai prognosa baik (Appley, 1995; Brumfield & Champoux, 1984; Kaner, 1980).

Fungsi Tangan

Kelainan pada pergelangan tangan sebagai akibat fraktur distal radius akan
mempengaruhi fungsi tangan karena pergelangan tangan merupakan kunci untuk mendapatkan
fungsi tangan yang baik (Auliffe dkk, 1995;Brumfield dkk, 1984).

36
Di bawah ini dikemukakan beberapa fungsi tangan (Appley, 1995; Palmer dkk, 1984;
Kaner, 1980) :

1. Gerakan membuka tangan merupakan gerakan ekstensi jari dan abduksi ibu jari.

2. Gerakan menutup tangan merupakan gerakan fleksi dan adduksi jari-jari serta gerakan fleksi,
adduksi dan oposisi dari ibu jari.

3. Gerakan menggenggam :

a. Power grip : saat menggenggam tabung

b. Ball grip : saat menggenggam bola

c. Pinch grip : saat mengambil barang yang tipis

d. Three point grip : saat memegang pensil

e. Key grip : saat membuka pintu dengan kunci

Anatomi Radiologi

Terdapat tiga pengukuran radiologi yang sering dipakai untuk melakukan evaluasi
radiologis dari distal radius. Pengukuran dilakukan dengan mengacu kepada axis longitudinal
dari radius. Pada foto AP dan lateral, garis ini ditentukan sebagai garis yang menghubungkan dua
titik pada jarak 3 cm dan 6 cm proksimal dari permukaan sendi yang terletak di garis tengah.
Ketiga pengukuran tersebut terdiri dari ( Bunger, 1974; Charnley, 1984) :

1. Volar Angle / Dorsal Angle

Diukur dari foto lateral, merupakan sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan
tepi dorsal dan tepi volar radius dengan garis yang tegak lurus pada axis longitudinal
(Gartland & Werley, 1951;Sarmiento,1981) :

• Nilai rata-rata : 11 – 120

• Range : 1 – 210
37
• Standar deviasi : 4,3

2. Radial Angle / Radial Inklinasi

Diukur dari foto antero posterior (AP), merupakan sudut yang dibentuk antara garis yang
menghubungkan ujung radial styloid dengan sudut ulnar dari distal radius dengan garis yang
tegak lurus pada axis longitudinal (Gartland & Werley, 1951; Sarmiento, 1981) :

• Nilai rata-rata : 230

• Range : 13 – 300

• Standar deviasi : 2,2

3. Radial Length

Diukur dari foto AP, merupakan jarak antara dua garis yang tegak lurus pada axis
longitudinal, garis pertama melalui tepi ujung dari radial styloid, garis kedua merupakan
garis yang melalui permukaan sendi ulna (Gartland & Werley, 1951; Sarmiento, 1981) :

• Nilai rata-rata : 12 mm

• Range : 8 – 18 mm

• Standar deviasi : 2,3

38
Skema Volar Angle, Radial Angle dan Radial Length

Ada satu pengukuran lagi yang penting pada fraktur Colles’ yaitu ‘Radial Width’. Diukur dari
foto AP, merupakan antara garis axis longitudinal dan garis yang melalui tepi paling lateral dari
radial styloid.

Pemeriksaan foto rontgen diperlukan untuk konfirmasi diagnosa, menilai tipe fraktur,
kestabilan dan penilaian derajat peranjakan. Penilaian terutama pada :

1. Apakah prosesus styloid / kolumn ulna ikut patah.

2. Apakah fraktur mengenai DRUJ (distal radioulnar joint).

3. Apakah fraktur mengenai radiocarpalia.

KLASIFIKASI
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur ekstensi dari radius distal.
Namun yang paling sering digunakan adalah sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan
sistem ini maka fraktur Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut : (Simon & Koenigsknecht,
1987)
39
Tipe IA : Fraktur radius ekstra artikuler

Tipe IB : Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler

Tipe IIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal

Tipe IIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal

Tipe IIIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar

Tipe IIIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radioulnar

Tipe IVA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi radioulnar

Tipe IVB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi radiokarpal dan sendi

radioulnar

Trauma/Kelainan yang Berhubungan

40
Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi berbarengan dengan trauma atau luka yang
berhubungan, antara lain : (Simon & Koenigsknecht, 1987)

1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)

2. Fraktur collum ulna

3. Fraktur carpal

4. Subluksasi radioulnar distal

5. Ruptur tendon fleksor

6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris

PATOGENESIS

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah penderita
terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan (Appley, 1995 ; Salter, 1981).

Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan
persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah
tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.

Khusus pada fraktur Colles’ biasanya fragmen distal bergeser ke dorsal, tertarik ke
proksimal dengan angulasi ke arah radial serta supinasi. Adanya fraktur prosesus styloid ulna
mungkin akibat adanya tarikan triangular fibrokartilago atau ligamen ulnar collateral ( Salter,
1984).

Berdasarkan percobaan cadaver didapatkan bahwa fraktur distal radius dapat terjadi, jika
pergelangan tangan berada dalam posisi dorsofleksi 40 – 900 dengan beban gaya tarikan sebesar
195 kg pada wanita dan 282 kg pada pria ( Rychack, 1977).

Pada bagian dorsal radius frakturnya sering komunited, dengan periosteum masih utuh,
sehingga jarang disertai trauma tendon ekstensor. Sebaliknya pada bahagian volar umumnya
fraktur tidak komunited, disertai oleh robekan periosteum, dan dapat disertai dengan trauma
41
tendon fleksor dan jaringan lunak lainnya seperti n. medianus dan n. ulnaris. Fraktur pada radius
distal ini dapat disertai dengan kerusakan sendi radio carpalia dan radio ulna distal berupa luksasi
atau subluksasi. Pada sendi radio ulna distal umumnya disertai dengan robekan dari triangular
fibrokartilago.

PATOFISIOLOGI

Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya merupakan


trauma langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada
permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah distal ke arah
dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping
menyerupai garpu. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)
Benturan mengena di sepanjang lengan bawah dengan posisi pergelangan tangan berekstensi.
Tulang mengalami fraktur pada sambungan kortikokanselosa dan fragmen distal remuk ke dalam
ekstensi dan pergeseran dorsal. (Apley & Solomon, 1995) Garis fraktur berada kira-kira 3 cm
proksimal prosesus styloideus radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal, overlapping dan
bergeser ke radial, sehingga secara klasik digambarkan seperti garpu terbalik (dinner fork
deformity). (Armis, 2000)

Fisiologi dan mekanisme terjadinya fraktur :

• Biasanya disebabkan karena trauma langsung, atau sebagai akibat jatuh dimana sisi dorsal
lengan bawah menyangga berat badan.

• Secara ilmu gaya dapat diterangkan sebagai berikut :Trauma langsung dimana lengan bawah
dalam posisi supinasi penuh yang terkunci dan berat badan waktu jatuh memutar pronasi
pada bagian proximal dengan tangan relatif terfixir pada tanah. Putaran tersebut merupakan
kombinasi tekanan yang kuat dan berat, akan memberikan mekanisme yang ideal dari
penyebab fraktur Smith.

42
• Trauma lain diduga disebabkan karena tekanan yang mendadak pada dorsum manus, dimana
posisi tangan sedang mengepal. Ini biasanya didapatkan pada penderita yang mengendarai
sepeda yang mengalamii trauma langsung pada dorsum manus.

MANIFESTASI KLINIS

Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi
diciptakan) dengan sebutan deformitas garpu makan malam, dengan penonjolan punggung
pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya
terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan. (Apley & Solomon,
1995) Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di
daerah yang terkena.

Gambar 3. Dinner fork deformity

Mekanisme Nyeri Tekan :

Pada saat terjadi fraktur, terjadi kerusakan korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan
lunak. Akibat dari hal tersebut yaitu terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitar.
Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium
dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Lalu terjadilah respon inflammasi akibat sirkulasi
jaringan nekrotik dengan ditandai vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Tentunya hal tersebut
merupakan salah satu upaya tubuh untuk melakukan proses penyembuhan dalam memperbaiki
cidera, dimana tahap tersebut menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom
43
menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, lalu menstimulasi
histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke
interstitial. Hal tersebut menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan
ujung syaraf nyeri, sehingga terjadilah nyeri tekan.

Dinner Fork Deformity

Terjatuh dengan posisi dorsfleksi

Gaya dorong fragmen distal ke posterior dan superior, dan fascies articularis miring ke posterior

Pergeseran fragmen ke posterior

Terbentuk benjolan ke posterior

Dinner fork deformity

Atau

jatuh pada permukaan tangan sebelah dorsal

sepanjang lengan bawah (posisi↓pergelangan tangan berekstensi)

Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis distal

patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian
pergelangan tangan

Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi.

Tenderness Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan


bila dilihat dari samping menyerupai garpu
Fraktur pada daerah ujung radial

44
Penekanan n.medianus dan proses peradangan setempat

Sensitivitas dan nyeri tekan

Atau

Trauma langsung trauma tidak langsung Kondisi patologis

FRAKTUR

pergeseran frakmen tulang (stimulus noxiuos)

stimulasi nosiseptor (perubahan stimulus noxiuos) menjadi potensial aksi proses transduksi
atau aktivasi reseptor

potensial aksi ditaransmisikan menuju neuron susun SSP yang berhubungan dengan nyeri

transmisi, (konduksi impuls dari neurn afferen primer ke kornu dorsalis medula spinalis, pada
kornu drsalis neuron afferent primer bersinap dengan SSP

neuron tsb akan naik ke atas di medula spinalis menuju batang otak dan talamus

terjadi hubungan timbal balik antara talamus dan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang
mengurusi respon persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri

proses modulasi, sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri tsb, tempat modulasi sinyal
adalah kornu dorsalis pada medula spinalis

persepsi, pesan nyeri direlai menuju ke otak dan menghasilakn pengalaman


yang tidak menyenagkan nyeri
Painfull ROM
Terjatuh pada posisi dorsofleksi

Fraktur pada pergelangan tangan


45
Terjadinya gangguan pergerakan

Terasa sakit pada batasan ruang lingkup gerakan sendi

Painfull ROM

DIAGNOSIS
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara
klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa
dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998)

Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur


kominutif dan mengetahui letak persis patahannya (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada
gambaran radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil.

• Stabil bila hanya terjadi satu garis patahan.

• Instabil bila patahnya kominutif dan “crushing” dari tulang cancellous.

Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh.
(Reksoprodjo, 1995). Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan kortikokanselosa, dan
prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2)
bergeser dan miring ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami
peremukan dan kominutif yang hebat (Apley & Solomon, 1995)

46
Gambar 4. (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak masuk dalam sendi
pergelangan tangan, (c) Pergeseran ke belakang dan ke radial

Contoh Hasil Foto Rontgen AP/L dan Parameter Pengukuran RA, RL dan RT

Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk memperlihatkan fragmen fraktur. Dalam
evaluasi fraktur, beberapa pertanyaan berikut perlu dijawab:

1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus styloideus ulna atau pada
collum ulna ?

2. Apakah melibatkan sendi radioulnar ?

47
3. Apakah melibatkan sendi radiokarpal ?

Proyeksi lateral perlu dievaluasi untuk konfirmasi adanya subluksasi radioulnar distal.
Selain itu, evaluasi sudut radiokarpal dan sudut radioulnar juga diperlukan untuk memastikan
perbaikan fungsi telah lengkap. (Simon & Koenigsknecht, 1987)

Gambaran radiologi fraktur dan abnormalitas distal lengan bawah

Pada x-ray menunjukkan fraktur angulasi dorsal dari metaphysis distal radius (2-3 cm proksimal
ke pergelangan tangan).

Fraktur yang mencapai ke persendian, disebut fraktur intra-artikular sedangkan fraktur yang
tidak mencapai persendian disebut fraktur eksta-artikular.

Bentuk keabnormalan di bagan distal lengan bawah dan pergelangan tangan

48
Dinner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada fraktur colles.
Dislokasi dan angulasi dorsal dari fragmen distal radius mengakibatkan suatu bentuk garis pada
proyeksi lateral yang menyerupai kurva garpu makan malam.

Perbandingan radiologi

Interpretasi radiologi

49
Berdasarkan gambaran radiologi dapat diinterpretasikan bahwa pada Ny. Deasy telah terjadi
fraktur pada distal radius dan terdapat deformitas dinner fork yang mengindikasikan bahwa Ny.
Deasy mengalami fraktur colles.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya

b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap

c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai

d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal

e. Pemerikasaan rontgen, menentukan luasnya fraktur, trauma.

f. Scan tulang, tomogram, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk


mengidentifikasi jaringan lunak

g. Ht mungkin meningkat (Hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi


fraktur / organ jauh pada trauma multiple). Kreatmin, trauma otot meningkat beban creatrain
untuk klirens ginjal. ( Doenges, 2000 : 762 )

50
Pemeriksaan Tambahan

Pada pemeriksaan foto polos daerah fraktur, dapat dilihat karakteristik gambaran patahan fraktur
ini, yaitu :

• Garis patahan yang transversal, 2 cm distal dari radius


• Prosesus styloid ulnaris biasanya avulsi
• Biasanya hanya terdapat dua fragmen patahan tulang, tapi pada keadaan tertentu dapat
terjadi banyak patahan yang dinamakan kominutif

Dapat dilihat ada dua tipe fraktur ini, yaitu :

• Stabil, yang ditandai dengan hanya terdapat 1 garis patahan transversal


• Tidak stabil, terdapat banyak garis patahan (kominutif) dan “crushing” dari tulang
cancellous

DIAGNOSIS BANDING

DD Definisi Manifestasi Klinis Penatalaksanaan

Fraktur Colles Deformitas pada fraktur • Fraktur metafisis Pada fraktur Colles tanpa
ini berbentuk seperti distal radius dengan dislokasi hanya
sendok makan (dinner jarak _+ 2,5 cm dari diperlukan imobilisasi
fork deformity). Pasien permukaan sendi dengan pemasangan gips
terjatuh dalam keadaan distal radius sirkular di bawah siku
tangan terbuka dan • Dislokasi fragmen selama 4 minggu. Bila
pronasi, tubuh beserta distalnya ke arah disertai dislokasi
lengan berputar ke ke posterior/dorsal diperlukan tindakan
dalam (endorotasi). • Subluksasi sendi reposisi tertutup.
Tangan terbuka yang radioulnar distal Dilakukan dorsofleksi
terfiksasi di tanah • Avulsi prosesus fragmen distal, traksi
51
berputar keluar kemudian posisi tangan
(eksorotasi/supinasi). volar fleksi, deviasi ulna
(untuk mengoreksi
deviasi radial) dan

stiloideus ulna. diputar ke arah pronasio


(untuk mengoreksi
supinasi). Imobilisasi
dilakukan selama 4 - 6
minggu.

Fraktur Smith Penonjolan dorsal Dilakukan reposisi


merupakan fraktur fragmen proksimal, dengan posisi tangan
dislokasi ke arah fragmen distal di sisi diletakkan dalam posisi
anterior (volar), karena volar pergelangan, dan dorsofleksi ringan,
itu sering disebut deviasi ke radial deviasi ulnar, dan
reverse Colles fracture. (garden spade supinasi maksimal
Fraktur ini biasa terjadi deformity). (kebalikan posisi Colles).
pada orang muda. Lalu diimobilisasi
Fraktur Smith Pasien jatuh dengan dengan gips di atas siku
tangan menahan badan selama 4 - 6 minggu.
sedang posisi tangan
dalam keadaan volar
fleksi pada pergelangan
tangan dan pronasi.
Garis patahan biasanya
transversal, kadang-
kadang intraartikular.

Fraktur Galeazzi Fraktur Galeazzi Tampak tangan bagian Dilakukan reposisi dan
merupakan fraktur distal dalam posisi imobilisasi dengan gips
radius distal disertai angulasi ke dorsal. Pada di atas siku, posisi netral
dislokasi sendi radius pergelangan tangan untuk dislokasi radius
ulna distal. Saat pasien dapat diraba tonjolan ulna distal, deviasi ulnar,
52
jatuh dengan tangan ujung distal ulna. dan fleksi.
terbuka yang menahan
badan, terjadi pula
rotasi lengan bawah
dalam posisi pronasi
waktu menahan berat
badan yang memberi
gaya supinasi.

Fraktur Montegia Terdapat 2 tipe yaitu Dilakukan reposisi


merupakan fraktur tipe ekstensi (lebih tertutup. Asisten
sepertiga proksimal sering) dan tipe fleksi. memegang lengan atas,
ulna disertai dislokasi Pada tipe ekstensi gaya penolong melakukan
sendi radius ulna yang terjadi mendorong tarikan lengan bawah ke
proksimal. Terjadi ulna ke arah distal, kemudian diputar
karena trauma hiperekstensi dan ke arah supinasi penuh.
langsung. pronasi. Sedangkan Setelah itu, dengan jari
pada tipe fleksi, gaya kepala radius dicoba
mendorong dari depan ditekan ke tempat
Fraktur Montegia
ke arah fleksi yang semula. Imobilisasi gips
menyebabkan fragmen sirkuler dilakukan di atas
ulna mengadakan siku dengan posisi siku
angulasi ke posterior. fleksi 90° dan posisi
lengan bawah supinasi
penuh. Bila gagal,
dilakukan reposisi
terbuka dengan
pemasangan fiksasi
interna (plate-screw).

PENATALAKSANAAN

53
• Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips
yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat
dalam posisinya.

• Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan
traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan
tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan
menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi,
deviasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi
memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher
metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada
posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari;
cukup 20 derajat saja pada tiap arah.

Gambar 5. Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke depan, (c) deviasi
ulnar. Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang
basah, (f) slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan
hingga gips mengeras

Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan bahu dan jari
segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis atau
nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.

Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang
sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, sekalipun manipulasi
berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.
54
Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara
radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep sementara.

Gambar 6. (a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien
secara teratur

• Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk
keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi
radius dan pen distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan sepertiga.
(Apley & Solomon, 1995)

Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan
komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles tipe IA atau IB dan tipe IIA
yang boleh ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya harus dirujuk sebagai kasus darurat dan
diserahkan pada ahli orthopedik. Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu
diketahui, sebagai berikut :

• Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan tarikan dorsal sehingga
mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen

• Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai 23 derajat di sebelah
palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak

• Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat. Sudut ini dapat dengan
mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk waktu yang lama sampai terjadi proses
penyembuhan kecuali difiksasi.

55
Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik, maka
beberapa hal berikut dapat dilakukan :

1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional

2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada Chinese finger traps dan
siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam keadaan fleksi. Beban seberat 8-10 pon
digantungkan pada siku selama 5-10 menit atau sampai fragmen disimpaksi.

3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar dengan menggunakan ibu
jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen proksimal menggunakan jari-jari lainnya. Bila
posisi yang benar telah didapatkan, maka beban dapat diturunkan.

4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau midposisi terhadap
pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan 20 derajat deviasi ulna.

5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti dengan pemasangan
anteroposterior long arms splint

6. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk memastikan bahwa telah tercapai
posisi yang benar, dan juga pemeriksaan pada saraf medianusnya

7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat selama 72 jam untuk
mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari dan bahu sebaiknya dilakukan sedini
mungkin dan pemeriksaan radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma.
Immobilisasi fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan untuk fraktur
yang bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.

56
Gambar 7. Reduksi pada fraktur Colles

PENATALAKSANAAN DAN REHABILITASI

Manajemen pada trauma tulang dan sendi

4R:

1. Recognized : look, feel, move, X- ray

2. Reposition : Menyesuaikan fragment distal terhadap fragment proximal sehingga

mencapai posisi acceptable

3. Retain : Imobilisasi atau fiksasi luar ,fiksasi dalam

4. Rehabilitation : mengembalikan fungsi secepat mungkin dan menghindari kecacatan.

Pertolongan Pertama

1. REST.

57
Daerah yang mengalami fraktur harus diposisikan dalam keadaan istirahat. Beri bantalan dan
letakan pada palmar lalu balutkan secara sirkumferensial dan biarkan ujung jari terbuka,
tambahkan papan penahan di bawah pergelangan untuk mencegah pergerakan.

2. Elevate , tinggikan bagian yang patah,terutama pada 72 jam pertama untuk mereduksi
pembengkakan

3. ICE. Beri es intuk mereduksi pembengkakan dan rasa sakit

4. Segera bawa ke bagian gawat darurat

5. Jangan menggerakkan tangan

Reposisi

Dilakukan apabila terjadi pergeseran yang bermakna. Dilakukan


reposisi manipulatif setelah dilakukan anestesi umum. Dilakukan dengan menekan fragmen
bawah yang bergeser dengan ibu jari operator, pada saat yang sama dilakukan rotasi pada
karpus ke posisi. Lalu dipasang gips selama 6 minggu, lakukan x- ray setelah 2 minggu
untuk memeriksa formasi tulang.

Rehabilitasi

Tujuan rehabilitasi yaitu :

• Mempertahankan fungsi otot dan sendi

• Mencegah atrophi otot, adhesi, & stiffness

• Mencegah komplikasi

Cara rehabilitasi :

58
1. Latihan dini seperti dengan melakukan kontraksi dan disertai gerakan pada daerah yang
terkena fraktur

2. Penggunaan secara aktif

Menggunakan anggota yang fraktur untuk aktivitas senormal mungkin, segera setelah nyeri
hilang.

Tujuan latihan yaitu :

1. Memperbaiki gerakan sendi (ROM)

2. Strengthening pada otot

Program Rehabilitasi terapi fisik pergelangan tangan

Program ini dilakukan tergantung dari kebutuhan pasien

Fase 1 : mengontrol inflamasi dan edema dengan Rest, Ice, Compression, dan Elevation.
(RICE)

Fase 2 : pemulihan jaringan dengan scar massage, whirlpool therapy, dan elastomer.

Fase 3 : meningkatkan range of motion (ROM)

Fase 4 : meningkatkan kekuatan.

Fase 5 : work-hardening untuk menyempurnakan terapi sebelumnya, pengembalian


kondisi normal.

Rehabilitasi dimulai dengan memperbaiki range of movement bahu, jari, pada bagian
pergelangan. Rehabilitasi aktif dilakukan jika tulang sudah menyatu. Latihan di air hangat
berguna untuk memperbaiki hidrasi kulit akibat pemakaian gips. Dapat pula menggunakan alat-
alat lain.

59
Metode Plaster/brace

Kelebihan Mudah digunakanEasy to apply

Tidak perlu operasi

Kerugian Gerak pada tangan mengakibatkan dislokasi fraktur

Digunakan selama 6 minggu sehingga tangan kaku

Metode "K" wires

Kelebihan Operasi simple

kerugian Dapat terjadi infeksi

Masih membutuhkan plester

Dapat merusak tendo di sekitar pergelangan

Metode Fiksasi External

Kelebihan Reduksi tidak membuka fraktur (ligamentotaxis)

Fiksator mengijinkan pergerakan

kerugian Fiksator kaku , jika terlalu kencang dapat mengakibatkan


tangan kaku

Pin yang menempelkan tulang dan fiksator dapat


mengalami infeksi

Metode Bone Grafting

Kelebihan Dapat menyangga fraktur dan mencegah kominutif dorsal

60
Kombinasi dengan tulang spons mempercepat
penyembuhan

Kerugian Butuh K wires untuk menahan transplant di tempat.

Pengambilan transplant dari pelvis sangat sakitdan


mengakibatkan kesulitan berjalan untuk beberapa minggu

Metode Internal fixation (use of plates and screws)

Kelebihan Sangat kuat dan mengijinkan untuk mobilisasi lebih cepat


dan tidak butuh plester

Kemungkinan terjadi dislokasi sangat kecil

Disadvantages Operasi sulit bila terdapat scar.

Dapat mengiritasi tendo di sekitarnya, tidak nyaman

KOMPLIKASI

Penting karena komplikasi ini akan mempengaruhi hasil akhir fungsi yang tidak memuaskan.
Umumnya akan selalu ada komplikasi. Menurut Cooney, hanya ada 2,9% kasus yang tidak
mengalami disabiliti dan gangguan fungsi (Cooney, 1980).

Adapun komplikasi yang mungkin terjadi :

A. DINI

1. Kompresi / trauma saraf ulnaris dan medianus

2. Kerusakan tendon

3. Edema paska reposisi

4. Redislokasi

B. LANJUT

61
1. Arthrosis dan nyeri kronis

2. Shoulder Hand Syndrome

3. Defek kosmetik ( penonjolan styloideus radius )

4. Ruptur tendon

5. Malunion / Non union

6. Stiff hand ( perlengketan antar tendon )

7. Volksman Ischemic Contracture

8. Suddeck Athrophy

1. Kompressif Neuropathy

Umumnya terjadi akibat anestesi lokal, teknik reposisi yang salah dan posisi
ekstrem dari palmar fleksi dan ulnar deviasi sehingga terjadi neuropati terutama median
neuropati, 0,2-5% dari kasus yang terjadi, kebanyakan mengenai n.medianus pada carpal
tunnel. Stewart, menemukan tidak ada hubungan antara kompresi saraf dengan
displacement awal. Nampaknya delayed carpal tunnel berhubungan dengan akhir volar
angle shift. Indikasi operasi bila ada rasa sakit dan hilangnya sensasi yang berat.
Kompresi n.ulnaris jarang, parastesia dari n. radialis tidak sering dan biasanya hilang
spontan dalam beberapa minggu.

2. Ruptur Tendon

Sering terjadi karena trauma dari fragmen fraktur dan jarang disebabkan abrasi
kalus yang terjadi sesudah 2 bulan pertama. Tendon yang sering dikenai adalah : EPL,
FPL dan FDP, sekitar 0,4-1% dari kasus. Ruptur terjadi pada bony groove dari radius
distal.Terapi berupa tendon transfer dari ekstensor indicis propius. Stenosing
tenosynovitis terjadi pada 0,6-1,4% dari kasus.

3. Redislokasi
62
Adalah bergesernya kembali fragmen distal ke posisi semula pada 2 minggu.
Biasanya berkisar antara 11-42%. Gartland & Werley mendapatkan perubahan VA 3-6 0,
RA 2-40, dan RL 1,5 – 2,5 mm pada minggu pertama. Stewart HD dan kawan-kawan
1984, mendapatkan perubahan VA rata-rata 9,90, RA 2-40 dan RL 1,7 mm selama
immobilisasi 6 minggu. Secara umum dari kepustakaan akan didapatkan perubahan VA
0-150, RA 0-80 dan RL 0-8 mm. Collert dan Isacson melakukan reposisi ulang kalau
angulasi > 150 dan ulnar deviasi > 100. Sedang De Palma menyatakan bahwa untuk
mendapatkan fungsi yang baik, angulasi dorsal < 50 dan pemendekan radius < 3 mm.
Gartland & Werley mendapatkan bahwa angulasi dorsal > 100, maka palmar fleksi akan
terganggu (hanya sampai 300), sedangkan perubahan RA dan pemendekan radius (RL)
tidak begitu berpengaruh pada fungsi pergelangan tangan. Rhycak dan kawan-kawan,
menyatakan bahwa adanya residual dorsal tilt > 100 tidak akan menimbulkan gangguan
yang nyata pada gerakan dorsi dan palmar fleksi, dan pemendekan radius 2-6 mm tidak
menimbulkan gangguan pada pronasi dan supinasi. Sedangkan menurut Kapanji, kalau
terjadi perubahan sumbu radio ulnar distal, apakah itu akibat perubahan radial angle atau
volar angle akan menimbulkan subluksasi / dislokasi yang mengakibatkan gerakan
pronasi dan rotasi akan terbatas dan nyeri.

4. Arthrosis

Lebih sering terjadi pada sendi radio ulnar dari pada radio carpalia terutama pada
Frykman. Arthrosis ini terjadi karena mal-alignment dari sigmoid dengan kapitulum ulna,
imobilisasi dalam posisi pronasi yang lama serta adanya pemendekan radius.

5. Shoulder Hand Syndrome

Dikenal dengan upper limb dystrophy / pain dysfunction dengan gejala


sympathetic dominan seperti perubahan suhu, nyeri, kekakuan pada tangan. Hal ini terjadi
akibat adanya carpal tunnel syndrome, arthrosis dan malunion.

6. Stiff Hands

Akibat arthro-fibrosis atau perlengketan tendon fleksor dengan manifestasi berupa


oedema jari-jari tangan disertai gangguan pergelangan tangan.

63
7. Sudeck Dystrophy

Adalah suatu istilah yang luas dengan nyeri dan kaku pada jari-jari berhubungan
dengan post trauma refleks dystrophy, post trauma sympathetic dystrophy, shoulder hand
syndrome, osteoneurodystrophy dan causalgic syndroma. Insidens pada Colles’ fraktur
0,1-16% dan kita duga bila rasa sakit, pembengkakan, kekakuan sendi melebihi dari
derajat trauma.

Terdapat 3 tahap dari Sudeck dystrophy :

Tahap I : Puffy oedem, kemerahan, rasa sakit yang berlebihan,hiperestesia,


hiperhidrosis, gerakan sendi berkurang, x-ray spotty demineralization setelah 3 minggu.

Tahap II : Pembengkakan yang fusiform, kulit yang mengkilat, rasa sakit yang
meningkat dan difus, banyak keringat, kemerahan, gerakan makin menurun, sendi
menjadi kaku,benjolan akut akibat palmar fasciitis, atrofi jaringan subkutaneus, kuku
rapuh.

Tahap III : Tangan pucat, dingin dan kering, kulit tipis, kaku dan mengkilap, neuralgia
yang menyebar, tangan yang kaku, demineralisasi yang difus dari tulang.

Etiologi tidak jelas.

Faktor yang harus dipertimbangkan :

• Symphatetic over activity

• Reflex vasomotor

• Insufisiensi peredaran darah

• Trauma waktu reposisi fraktur

• Bengkak

• Re-reposisi

• Penggantian cast yang sering


64
• Malunion

• Faktor psikologis

• Faktor endogen

8. Malunion

Tidak ada kriteria yang jelas. Kebanyakan terjadi akibat redislokasi dan
kemungkinan menyebabkan limitasi gerak, deformity kosmetik dan rasa sakit. Terapi :
wedge osteotomy.

9. Hilangnya integritas radioulnar

Gejalanya meliputi gerakan supinasi dan pronasi yang terhambat dan sakit kadang
disertai bunyi ‘klik’, kelemahan menggenggam, rasa sakit yang menetap pada penekanan
di daerah distal ulna dan sendi radioulna, penonjolan distal ulna, dan kelemahan dari
sendi radioulna distal. Frykman menemukan insidens sebanyak 19% dan menyatakan ini
merupakan penyebab penting dari ketidak-puasan akan hasil akhir fungsional.

10. Arthritis post trauma

Tidak ada kesepakatan mengenai definisi arthritis di sini. Klinis : rasa sakit pada
gerakan dan gangguan gerakan. X-ray : penyempitan rongga sendi, sclerosis, subchondral
clearing, osteofit. Insidens bervariasi mulai 5-40%, terutama terjadi setelah fraktur
intraartikuler.

Terapi dapat berupa :

• fusi pergelangan tangan

• proximal row carpectomy

• total prostetic arthroplasty

11. Gangguan gerakan dan fungsi

65
Defek permanen yang sering adalah menurunnya kemampuan volar fleksi 95%
kasus menurut Cooney. Frykman menemukan hilangnya kekuatan menggenggam pada
24-25%, kekakuan sendi pada 1-18%. Bunger menemukan 80% dengan penurunan
kekuatan pronasi dan supinasi, tidak berhubungan dengan derajat malunion.

12. Kontraktur Dupuytrens

Insidens 0,2-3%. Klinis berupa palmar nodulus dan band.

PENCEGAHAN

1. Olah raga teratur

2. Konsumsi kalsium dan vitamin yang sesuai kebutuhan

3. Menghindari terjadinya trauma

PENYEMBUHAN TULANG

Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur
merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru
diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima
stadium penyembuhan tulang, yaitu:

1) Stadium Satu-Pembentukan Hematoma

Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel
darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya
kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti
sama sekali.

2) Stadium Dua-Proliferasi Seluler

66
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang
berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel
yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah
osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah
tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung
selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

3) Stadium Tiga-Pembentukan Kallus

Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan
keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini
dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi
sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago,
membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang
yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur
berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

4) Stadium Empat-Konsolidasi

Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah


menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos
melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-
celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat
dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang
normal.

5) Stadium Lima-Remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan
tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang
tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk,
dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. (Black, J.M, et al, 1993 dan
Apley, A.Graham,1993)

67
KOMPETENSI DOKTER UMUM

3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan


pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan
laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan,
serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

DAFTAR PUSTAKA

68
Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica Ester,
Edisi 8. EGC : Jakarta.

Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. ed : Hartanto, Huriawati, dkk.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

http://medlinux.blogspot.com/2008/07/fraktur-coles.html

Mansjoer, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. Media Aesculapius:Jakarta

Rasjad, chairuddin, prof.2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang : Yarsif Watampone

69