Anda di halaman 1dari 4

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Obat-obatan tradisional telah menjadi salah satu pilihan terapi yang
digemari masyarakat. Faktanya, data WHO (World Health Organization)
menyebutkan bahwa sebanyak 80% populasi di Asia dan Afrika menggunakan
obat herbal sebagai pengobatan lini pertama mereka (WHO, 2008). Di Indonesia
sendiri, penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional telah dilakukan nenek
moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dengan adanya naskah lama
pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi
Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang Dalem,
dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat
(jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Sukandar E Y, dalam Sari,
2006). Pengertian obat tradisional berdasarkan Peraturan Menteri kesehatan
Nomor 246/Menkes/Per/V/1990 Pasal 1 menyebutkan bahwa : Obat tradisional
adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang
secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
(Keputusan Menteri Kesehatan, 2008). Dewasa ini, gaya hidup masyarakat juga
mulai mengacu pada gaya hidup back to nature atau kembali ke alam. Banyak
alasan yang dikemukakan mengapa gaya hidup yang demikian menjadi pilihan
banyak orang. Kesadaran akan bahaya bahan kimia sintetis mendasari sebagian
besar orang untuk lebih memilih gaya hidup tersebut. Di samping itu, masyarakat
menilai bahwa pemanfaatan bahan-bahan alami untuk dikonsumsi akan lebih
aman dibandingkan bahan-bahan kimia sintetis. Efek yang ditimbulkan oleh
penggunaan bahan kimia sintetis mungkin memang baru akan nampak dalam
jangka waktu yang lama. Namun, apabila efek tersebut dapat dicegah munculnya
dari sekarang, tentu akan lebih baik lagi.
2



Kekayaan alam Indonesia diantaranya adalah minyak, timah, gas alam,
nikel, kayu, bauksit, tembaga, tanah subur, batu bara, emas, dan perak (CIA
Worldfact, 2010). Tanah subur Indonesia memungkinkan tumbuhnya
keanekaragaman hayati yang terdiri dari hewan dan tumbuhan yang tersebar di
hutan dan lautan. Proses pembentukan kekayaan alam di Indonesia dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Secara geografis, Indonesia terletak di daerah tropis yang
dicirikan oleh curah hujan tinggi sehingga berbagai jenis tanaman tumbuh dengan
cepat dan Indonesia kaya akan berbagai tipe tumbuhan. Salah satu jenis tumbuhan
yang mulai dimanfaatkan untuk kesehatan adalah Binahong (Anredera cordifolia
(Ten) Steenis).
Binahong berkhasiat sebagai obat batuk, muntah darah, radang paru-paru,
kencing manis, sesak nafas, darah rendah, radang ginjal, hepatitis, disentri, hidung
mimisan, luka bakar, luka akibat benda tajam, jerawat, usus bengkak, gusi
berdarah, kurang nafsu makan, melancarkan haid, menjaga stamina tubuh agar
tetap sehat, penghangat badan, dan lemah syahwat juga antibakteri (Usman,
2010). Berdasarkan hasil penelitian, Binahong mengandung saponin, flavonoid,
dan minyak atsiri. Zat aktif saponin Binahong bermanfaat sebagai spermisida
(obat kontrasepsi laki-laki), antimikroba, anti peradangan, dan aktivitas sitotoksik
(Mahato et al., dalam Purnobasuki, 2004). Flavonoid sendiri memiliki manfaat
dapat meningkatkan efektivitas vitamin C, mencegah kekeroposan tulang,
antiinflamasi, dan sebagai antibiotik. Sementara, minyak atsiri dapat digunakan
sebagai bahan antiseptik internal, atau eksternal, bahan analgesik, hemolitik atau
bahan enzimatik, sedatif, atau stimulan untuk obat sakit perut. Penelitian yang
dilakukan oleh Puryanto pada tahun 2009 sendiri membuktikan bahwa gel ekstrak
etanol daun Binahong mempunyai efek penyembuhan terhadap luka bakar. Di
samping itu, ekstrak daun Binahong yang dibentuk krim juga terbukti dapat
menjadi penyembuh pada luka bakar pada kulit punggung kelinci (Ardiyanto,
2009). Sebuah penelitian lain yang dilakukan oleh Salmah Orbayinah dan Ardhita
Kartyanto pada tahun 2008 membuktikan bahwa Binahong mampu memberikan
efek hepatoprotektor pada tikus putih galur wistar yang diinduksi dengan CCl
4
.
3



Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008
menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia dalam masalah air minum,
higiene, dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesian Sanitation Sector
Development Program (ISSDP) tahun 2006 menunjukkan 47% masyarakat masih
berperilaku buang air besar ke sawah, kolam, kebun, dan tempat terbuka. Kondisi
tersebut menjadi salah satu faktor predisposisi tingginya kejadian infeksi, seperti
diare, di Indonesia. Menurut WHO, diare adalah penyebab kematian nomor satu
balita di dunia. Di Indonesia sendiri, diare adalah penyebab kematian nomor dua
setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) (USAID, Tanpa Tahun). Bakteri
penyebab diare terbanyak adalah E. coli, Salmonella sp., dan Vibrio cholerrae
(Indriasari, 2007).
Peningkatan resistensi terhadap berbagai antibiotik mendorong peneliti
untuk mulai mencari tanaman dengan khasiat antibakteri terhadap E. coli.
Berdasarkan keterangan di atas, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang aktivitas antibakteri daun Binahong (Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis)
terhadap bakteri Escherichia coli.

1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah ekstrak etanol daun Binahong memiliki aktivitas antibakteri
terhadap pertumbuhan bakteri E. coli secara in vitro?
b. Berapakah KHM (Kadar Hambat Minimal) ekstrak etanol daun Binahong
terhadap pertumbuhan bakteri E. coli secara in vitro?

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui adanya aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun Binahong
terhadap pertumbuhan bakteri E. coli secara in vitro.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui KHM (Kadar Hambat Minimal) ekstrak etanol daun Binahong
terhadap pertumbuhan bakteri E. coli secara in vitro.

4



1.4 Manfaat
a. Penelitian ini dapat memperluas wawasan tentang tanaman yang
mempunyai khasiat antibakteri.
b. Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa
Binahong merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk
mengobati infeksi akibat E. coli..
c. Penelitian ini dapat menjadi landasan bagi penelitian selanjutnya untuk
menjadikan Binahong sebagai obat, baik secara in vivo maupun uji klinis.