Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kas adalah salah satu komponen dari aktiva yang sangat vital bagi
kelangsungan hidup organisasi, baik organisasi permerintah maupun perusahaan
swasta. Kas merupakan elemen kunci dalam perencanaan atas seluruh aspek
operasional perusahaan. Tanpa adanya manajemen kas yang baik, suatu organisasi
mungkin dapat kehilangan reputasinya dan sulit untuk bertransaksi dengan pihak
lain karena organisasi tersebut tidak dapat membayar tagihannya yang sudah jatuh
tempo. Oleh karena itu manajemen kas merupakan suatu keharusan bagi seluruh
organisasi, baik organisasi pemerintah maupun swasta.
Secara umum, organisasi yang dapat memperbaiki metode dalam menerima
dan mengeluarkan kas akan menjadi lebih sukses. Hal ini didasarkan pada
pemikiran bahwa kekurangan uang dalam organisasi dapat menimbulkan biaya
yang seharusnya dapat dihindari manakala terdapat manajemen kas yang baik.
Kekurangan kas akan menyebabkan suatu organisasi harus mencari pinjaman dana
dalam rangka menutupi kekurangan kas untuk melaksanakan kegiatan
operasionalnya. Namun, pinjaman yang didapatkan dapat menimbulkan resiko
berupa biaya baru seperti biaya bunga dan denda atas keterlambatan pembayaran.
Di sisi lain, dengan adanya manajemen kas yang baik suatu organisasi dapat
menyediakan berbagai sumber daya lainnya tepat pada waktunya ketika
dibutuhkan, belum lagi kemungkinan memanfaaatkan diskon yang diberikan oleh
para pemasok pada saat pembelian barang karena membayar tepat pada waktunya.
Manajemen kas pemerintah seringkali kurang diperhatikan bila dibandingkan
dengan manajemen utang pemerintah, baik oleh lembaga-lembaga internasional,
pemerintah itu sendiri, maupun oleh konsultan-konsultan dan akademisi-
akademisi. Mungkin juga memang harus demikian karena potensi biaya dari
2

keputusan utang yang salah akan membebani anggaran pada periode yang panjang
di masa depan dan dapat menyebabkan beban ekonomi yang cukup besar ketika
terjadi tekanantekanan dalam perekonomian sedangkan manajemen kas yang
buruk bersifat jangka pendek dan dapat diperbaiki segera. Akan tetapi, praktik
manajemen kas yang buruk tidak saja menimbulkan pemborosan, tetapi juga dapat
menghambat pertumbuhan pasar keuangan suatu negara dan dapat mengurangi
efektivitas dari kebijakankebijakan moneter yang dilaksanakan.
Manajemen kas juga menghadapi ketidaan konsensus tentang apa-apa saja
yang termasuk didalamnya. Dari perspektif manajemen atau kebijakan anggaran,
manajemen kas hanyalah fungsi internal pemerintah yang memastikan bahwa kas
tersedia ketika digunakan dan tidak ada kas yang menganggur atau tidak
digunakan. Akan tetapi, bagi pengelola utang pemerintah dan bank sentral,
manajemen kas pemerintah mempunyai pengaru terhadap sektor keuangan suatu
negara. Kedua hal inilah yang menjadi fokus utama manajemen kas pemerintah.












3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi dan Tujuan Manajemen Kas
Manajemen kas adalah pengelolaan atas sumber daya kas suatu organisasi.
Manajemen kas memberikan kepada manajemen alat untuk berfungsinya suatu
organisasi dengan menggunakan kas atau sumber daya likuid yang dimilikinya
dengan cara yang tepat. Mike Williams (2004) mendefinisikan manajemen kas
pemerintah sebagai strategi dan proses-prosesnya untuk mengelola secara efektif
dan efisien arus kas jangka pendek dan saldo-saldo kas yang ada dalam
pemerintahan maupun antara pemerintah dengan sektor-sektor lain. Dari definisi
ini ada beberapa hal yang ditekankan:

1. Definisi ini mencakup persoalan kebijakan dan rancangan proses-proses
yang lebih seragam.
2. Manajemen arus kas dan saldo kas memunculkan berbagai tantangan yang
berbeda-beda yang harus dihadapi secara bersama-sama.
3. Definisi ini mencakup manajemen kas pada sektor pemerintahan dan
interaksi antara pemerintah dengan sektor-sektor lain, terutama sector
keuangan.

Sementara itu, Storkey (2001) mendefinisikan manajemen kas sebagai
memiliki uang yang cukup pada tempat yang tepat dan pada waktu yang tepat
untuk membayar kewajiban-kewajiban pemerintah dalam cara yang efektif dan
efisien.

Dari definisi di atas, terdapat beberapa tujuan dari manajemen kas. Tujuan
utamanya adalah dengan manajemen kas yang baik, suatu pemerintahan dapat
4

mendanai pengeluaran-pengeluarannya tepat pada waktunya dan memenuhi setiap
kewajibannya ketika jatuh tempo. Tujuan-tujuan tambahannya adalah efektivitas
biaya, pengurangan risiko dan efisiensi. Secara khusus, Williams (2004)
menyatakan tujuan-tujuan dari manajemen kas pemerintah yang efisien adalah:

1. Menyimpan seminimal mungkin saldo menganggur dalam sistem
perbankan dan menekan seminimal mungkin biaya-biaya yang terkait
dengan penyimpanan saldo tersebut pada sistem perbankan.
2. Mengurangi risiko operasional, risiko kredit dan risiko pasar yang terkait
dengan kegiatan pemerintah dan pendanaan kegiatan pemerintah.
3. Menambah fleksibilitas dalam cara pemerintah menentukan kapan
penerimaan kas pemerintah ditandingkan dengan pengeluaran kas
pemerintah.
4. Mendukung kebijakan-kebijakan keuangan lainnya.

Hal yang senada juga dinyatakan oleh Financial Management Service dari
U.S. Department of Treasury (2002). Manajemen kas pada sistem perbendaharaan
pemerintah Amerika Serikat memiliki tiga fungsi yaitu:

1) Mengeliminasi saldo kas menganggur. Setiap uang yang disimpan dan tidak
digunakan untuk meningkatkan pendapatan atau mengurangi biaya merupakan
kerugian (lost opportunity). Dana-dana yang tidak dipakai untuk membayar
transaksi-transaksi yang akan terjadi dapat digunakan untuk melunasi utang
yang ada (dan pengurangan arus kas keluar dari Perbendaharaan untuk
pembayaran bunga) atau dapat diinvestasikan untuk menghasilkan arus kas
masuk ke rekening Perbendahraan. Minimalisasi atas saldo kas menganggur
memerlukan informasi yang akurat atas perkiraan pendapatan dan
kemungkinan pengeluaran.
2) Mendepositokan penerimaan tepat pada waktunya. Memiliki uang di
tangan lebih baik daripada memiliki piutang (tagihan kepada pihak lain). Kas
mudah dikonversi dengan segera menjadi sesuatu yang berharga atau barang.
5

Piutang, suatu pos yang akan dikonversi di masa depan, seringkali mengalami
keterlambatan penyelesaian transaksi (menunggak) atau mengalami penurunan
nilai. Segera setelah penerimaan (piutang) jatuh tempo kepada Pemerintah,
penerimaan tersebut harus segera direalisasikan dalam bentuk kas dan segera
disetorkan ke rekening Perbendaharaan.
3) Membayar tepat pada waktunya. Beberapa pembayaran harus dilakukan
pada tanggal tertentu, seperti gaji pegawai ataupun bantuan langsung tunai.
Untuk pembayaran-pembayaran seperti ini, tidak diperlukan keputusan
manajemen kas. Untuk pembayaran-pembayaran lain, seperti pembayaran
kepada rekanan, keputusan kapan membayar mungkin dilakukan. Rekanan
pemerintah juga menghadapi kebutuhan manajemen kas yang sama dengan
pemerintah. Mereka ingin mempercepat penerimaan kas. Salah satu caranya
adalah memberikan potongan pembayaran apabila pembayaran atas barang
yang dijual dilakukan tepat pada waktunya.
Untuk mencapai tujuan ini terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi antara lain:
1. Ramalan arus kas dan saldo kas yang akurat dan tepat pada waktunya untuk
mengeliminasi kebutuhan (atau untuk meminimalisasi biaya) akan pinjaman
jangka pendek.
2. Proses penagihan piutang yang efisien dari titik penerimaan sampai ketempat
di mana dana yang diperoleh dapat digunakan atau diinvestasikan.
3. Perencanaan pengeluaran yang akurat untuk memastikan bahwa semua
kewajiban dibayar tepat waktu, tetapi bukan berarti sebelum jatuh tempo.
4. Efisiensi dan responsivitas yang lebih tinggi dalam proses manajemen kas dan
penyediaan kas untuk menunjang layanan pemerintah.
5. Manajemen posisi-posisi risiko yang terkonsolidasi
6. Integrasi manajemen kas dengan manajemen hutang





6

B. Elemen Elemen Manajemen Kas
Berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara di Indonesia, tujuan-tujuan
manajemen kas dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian berikut:

1. Manajemen likuiditas
Manajemen likuiditas penting untuk memastikan negara memiliki kas yang
cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban yang jatuh tempo. Untuk itu
pemerintah perlu mengetahui berapa besar penerimaan dan pengeluaran yang akan
dilakukan.
a. Monitoring penerimaan dan pengeluaran kas negara
Pemerintah perlu mengetahui berapa besar pengeluaran kas yang akan
dilakukan. Beberapa pengeluaran pemerintah mungkin saja dapat ditunda
atau dipercepat, pemerintah harus mampu melihat saat pengeluaran kas yang
menguntungkan pemerintah.
Penerimaan kas negara seluruhnya harus segera disetor (Undang-Undang
No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 16). Penerimaan
negara yang tidak segera disetor akan menguntungkan penyetor atas biaya
pemerintah.
b. Antisipasi atas kemungkinan kekurangan/kelebihan kas
Kekurangan/kelebihan kas akan membebani keuangan pemerintah karena
adanya time value of money.
2. Minimalisasi kas yang menganggur (idle cash)
a. Pemanfaatan kas secara maksimal untuk memperoleh keuntungan (yield)
Sesuai dengan UU. No.1 Tahun 2004 tetang Perbendaharaan Negara pada pasal
24 dinyatakan bahwa pemerintah berhak untuk mendapatkan bunga/jasa giro
atas dana yang disimpan pada bank umum maupun bank sentral, bunga/jasa
giro yang diperoleh didasarkan pada tingkat suku bunga yang berlaku.
Pemerintah juga dapat melakukan investasi jangka panjang
untuknmemperoleh manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya.
Investasi tersebut dapat berupa saham, surat utang dan investasi langsung
(pasal 41, UU No.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara)
7

Pembelian kembali (Buy back) Surat Utang Negara (SUN). Pembelian
kembali SUN akan memberikan dampak positif terhadap pengurangan beban
bunga yang harus dibayar oleh pemerintah.
b. Mengurangi cost of financing
Jika negara mempunyai manajemen kas yang baik negara dapat melakukan
penundaan penerbitan SUN dengan membiayai pengeluaran-pengeluaran dari
kas yang berasal dari pendapatan yang ada atau melakukan buy back SUN
untuk mengurangi pembayaran beban bunga.
3. Mengurangi biaya transaksi keuangan pemerintah
a. Mengurangi jumlah bank accounts pemerintah Banyaknya rekening pemerintah
yang tersebar di berbagai bank menimbulkan biaya tinggi untuk memelihara
rekening tersebut. Selain itu tersebarnya rekening mengkibatkan semakin
banyaknya idle cash
b. Mengurangi biaya revenue collection dan expenditure processing
(administration of payment process) Manajemen kas akan merestrukturisasi cara-
cara pengumpulan pendapatan pemerintah sebagai contoh banking arragement
mengenai saat penyetoran oleh bank persepsi dan renumerasi yang diberikan atau
yang harus dibayarkan oleh pemerintah kepada bank persepsi. Restrukturisasi
tersebut perlu agar penerimaan negara dapat masuk ke rekening kas umum negara
sesegera mungkin dengan biaya seminimal mungkin. Demikian pula dengan
pemrosesan pengeluaran. Pemrosesan pengeluaran perlu dilakukan dengan se-
efisien dan secepat mungkin, misalnya dengan menggunakan fasilitas perbankan.
Jika hal tersebut dapat berjalan dengan baik maka manfaat lain yang didapatkan
adalah minimalisasi terjadinya penyelewengan keuangan negara.
Manajemen kas sektor publik meliputi empat elemen-elemen antara lain:
perencanaan (forecasting), mobilisasi dan manajemen arus kas (mobilizing and
managing the cash flow), pemeliharaan hubungan dengan perbankan (maintaining
banking relations), dan investasi kelebihan kas (investing surplus cash). Setiap
elemen harus dikelola secara aktif untuk mencapai efektifitas manajemen kas.


8

A. Perencanaan (forecasting)
1. Pengertian
Perencanaan pada dasarnya adalah proses memperkirakan kemungkinan
dampak terbesar yang akan terjadi pada masa yang akan datang berdasarkan
pengetahuan tentang kondisi sekarang yang akan mempengaruhi kejadian dimasa
mendatang tersebut. Dalam konteks manajemen kas, tujuan utama dari
perencanaan adalah untuk memberikan pedoman yang cukup dan tepat waktu
dalam rangka menentukan tindakan untuk mencapai pengendalian yang baik atas
arus kas organisasi.
2. Peran Perencanaan dalam Proses Anggaran
Perencanaan harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari proses anggaran
organisasi secara keseluruhan. Tanpa adanya anggaran kas, seorang manajer tidak
dapat memperoleh sebuah gambaran jangka panjang atas pola arus kas sehingga
tidak dapat merencanakan secara efektif kebutuhan kas dan investasi yang
optimal.
3. Tindakan yang Menyebabkan Pergerakan Kas
Arus kas timbul sebagai akibat dari tindakan manajemen yang berhubungan
dengan piutang dan pengeluaran. Keputusan manajemen yang menimbulkan aliran
arus kas dapat diringkas sebagai berikut:
a. Keputusan Operasional (operating decisions)
Keputusan ini terkait dengan kebijakan organisasi seperti pembentukan atau
eliminasi sebuah unit jasa atau departemen, perubahan gaji dan tunjangan
karyawan dan lain-lain. Implementasi dari kebijakan-kebijakantersebut akan
mengakibatkan penyesuaian dalam arus kas keluar dan arus kas masuk.
b. Keputusan Belanja Modal (capital expenditure decisions)
Keputusan ini akan berakibat pada infrastruktur organisasi serta meningkatkan
arus kas keluar. Holland mendefinisikan infrastruktur dalam organisasi
pemerintah sebagai all government capital investment including social
investment such as education and health care (semua belanja modal termasuk
investasi sosial seperti pendidikan dan perawatan kesehatan).

9

c. Keputusan Kredit (credit decisions)
Keputusan ini meliputi jangka waktu sebuah organisasi memutuskan untuk
melakukan pembayaran kepada pemasok barang dan jasa seperti halnya waktu
yang dibutuhkan oleh pelanggan untuk melakukan pembayaran tanpa tenkena
sangsi/denda (penalty).
d. Keputusan Pembiayaan (financing decisions)
Keputusan ini meliputi pencarian dana dengan jalan menjual obligasi,
meminjam, atau meningkatkan penerimaan (misalnya dengan menaikkan pajak
atau harga).
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa kas tidak mengalir dengan
sendirinya. Aliran kas dipercepat oleh banyaknya keputusan yang diambil oleh
organisasi. Para manajer bertangung jawab untuk menentukan aliran kas dan harus
mampu memonitor dan mengendalikan arah aliran tersebut untuk memastikan
bahwa organisasi tidak mengalami masalah arus kas.
4. Dasar Pemikiran Perencanaan Kas
Perencanaan kas dapat memenuhi beberapa tujuan antara lain:
a. Mencegah kebangkrutan.
b. Mencegah kesalahan yang menimbulkan biaya yang besar.
c. Membantu dalam mengendalikan biaya pendanaan.
d. Meningkatkan kepercayaan pihak yang memberikan pinjaman kepada
organisasi.
e. Meningkatkan penggunaan dana.
5. Tipe Perencanaan
Terdapat 2 tipe dalam perencanaan yang masing-masing mempunyai tujuan yang
berbeda yaitu:
a. Perencanaan jangka pendek (short-term forecasts)
Tipe perencanaan ini umumnya meliputi periode kurang dari satu tahun. Jika
dirancang dengan benar dan di revisi secara berkelanjutan, perncanaan jangka
pendek dapat membantu dalam operasi harian organisasi karena disusun
berdasarkan laporan detail dari semua perkiraan (accounts) baik yang
menghasilkan kas maupun yang menyerap kas.
10

b. Perencanaan jangka panjang (long-term forecasts)
Tipe perencanaan ini mengevaluasi posisi keuangan organisasi selamasatu
periode panjang (dua, tiga, bahkan lima tahun yang akan datang). Berbeda
dengan perencanaan jangka pendek yang rinci, perencanaan jangka panjang
menyajikan hanya bagan kasar dari kebutuhan pembiayaan jangka panjang.
Sektor swasta menggunakan tipe perencanaan ini untuk mengukur dampak
suatu penawaran akuisisi, merger, atau pengembangan produk baru terhadap
posisi arus kas untuk beberapa tahun kedepan. Tipe perencanaan ini juga
membantu dalam penilaian atas penawaran belanja modal.
B. Mobilisasi Kas (Cash mobilization)
Mobilisasi kas meliputi dari dua area fungsi yaitu: percepatan piutang
(acceleration of receivables) dan pengendalian pengeluaran (control of
disbursement). Secara umum, suatu perusahaan disarankan untuk memberikan
penekanan pada empat tujuan dalam transaksi keuangan harian, yaitu:
1. Mempercepat penagihan,
2. Mengendalikan hutang, dan
3. Mengendalikan saldo bank
4. Investasi kelebihan kas
1. Mempercepat Penagihan
Mempercepat penagihan akan memberikan keuntungan bagi organisasi antara
lain mengurangi biaya pinjaman dan meningkatkan kemampuan organsiasi untuk
menghasilkan pendapatan tambahan. Sejak tahun 1950-an, ketika prinsip ini
diterima secara luas, bank dan perusahaan swasta lain dengan teliti
mengembangkan teknik untuk memabantu perusahaan dalam menagih dan
memproses piutang serta membuat dana tersebut dapat secepatnya tersedia.
Teknik yang digunakan untuk mempercepat penagihan antara lain lockbox
services, preauthorized checks, dan concentration banking.
a. Lockbox services
Teknik ini meliputi penggunaan kotak pos khusus untuk mempercepat
pembayaran dan deposito hasil pembayaran. Bank diberikan kewenangan untuk
11

mengambil dokumen secara langsung dari kotak tersebut. Pelayanan yang
diberikan dalam sebuah lockbox system antara lain:
Kotak pos dikosongkan minimal sekali dalam sehari
Dokumen yang ada dibuka, kemudian bukti tagihan asli dicocokkan dengan
jumlah pembayaran
Hasil dari pembayaran tersebut kemudian didepositokan pada hari yang sama
Semua bukti tagihan atau dokumen lain diserahkan kepada pemerintah
setempat sebagai bukti bahwa pembayaran telah terjadi
Apabila terdapat cek yang tidak didukung dokumen yang cukup terkait dengan
informasi mengenai apa yang dibayar dan oleh siapa akan dikembalikan
kepada pemerintah setempat.
Beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain:
Dokumen yang dibutuhkan untuk akuntansi yang diperoleh dari bank
cukuplengkap untuk mendukung pembayaran.
Dana yang diterima telah diinvestasikan dengan penundaan yang minimal
Mengurangi staf yang dibutuhkan oleh pemerintah setempat untuk proses
penagihan.
Mengurangi secara signifikan staf yang dibutuhkan oleh pemerintah setempat
untuk memproses piutang.
Perlu diingat bahwa seluruh manfaat di atas harus dibandingkan terlebih
dahulu dengan biaya yang dibebankan oleh bank terkait dengan pelayanan yang
diberikan.
b. Preauthorized Checks (PAC)
Preauthorized checks adalah instrumen permintaan tanpa tandatangan yang
digunakan untuk mempercepat penagihan pembayaran atas hutang yang
jumlahnya tetap. Dengan menggunakan teknik ini pelanggan menandatangani
kesepakatanmpemberian wewenang untuk mencairkan cek yang akan mengurangi
rekeningnyandengan jumlah tertentu dalam interval yang telah disepakati.
Perusahaan umumnya menandatangani dan mengirimkan kesepakatan tersebut
kepada bank di mana rekening pelanggan berada untuk memberitahukan bahwa
cek tanpa tanda tangan yang dikeluarkan akan membebani rekening pelanggan.
12

Setelah proses tersebut selesai, perusahaan atau bank yang memberikan pelayanan
akan membuat preauthorized checks untuk pembayaran pada tanggaltanggal
tertentu.
Manfaat preauthorized checks antara lain:
Meningkatkan prediksi arus kas karena jumlah uang yang diperoleh setiap hari
dapat diketahui sebelumnya sehingga mempermudah perencanaan arus kas
harian.
Menghilangkan biaya penagihan karena pemberitahuan kembali oleh
pelanggan sudah tidak diperlukan lagi sehingga menghemat biaya post,
klerikal, dan beban produksi faktur.
Mengurangi collection float karena cek dibuat dan didepositokan oleh bank
sehingga tidak ada biaya untuk memperoleh penerimaan yang timbul.
Menghilangkan masalah penagihan terkait dengan keterlambatan pembayaran
atau lupa mengirimkan karena PAC mejamin pembayaran selama dana yang
ada dalam rekening pelanggan mencukupi.
c. Concentration Banking
Tujuan utama teknik ini adalah untuk memobilisasi dana dari berbagai lokasi
penerimaan yang terdesentraslisasi menjadi satu pusat pengumpulan kas. Manager
kas hanya perlu memonitor beberapa pusat kas sehingga mebantu dalam
mengontrol kas.
Dengan menggunakan sistem ini di sektor pemrintahan, sejumlah bank local
dapat berperan sebagai penerima deposito untuk pembayaran pajak bumi dan
bangunan atau penerimaan rutin lainnya. Dari bank ini, hasil penerimaan
kemudian dapat dipindahkan dengan cepat ke sebuah deposito yang merupakan
pusat pengumpulan penerimaan.
Lockbox services, preauthorized checks, dan concentration banking bertujuan
sama yaitu untuk mempercepat penerimaan dan mengurangi waktu pengiriman.
Jumlah hari yang dapat dihemat adalah hari di mana dana yang diperoleh dapat
diinvestasikan ke dalah surat berharga yang menghasilkan pendapatan bunga.


13

2. Mengendalikan Pengeluaran
Praktik manajemen kas yang baik pada umumnya mengharuskan pengeluaran
dilakukan hanya pada saat jatuh tempo suatu tagihan. Keputusan mengenai waktu
terjadinya pengeluaran merupakan keputusan yang sangat penting bagi organisasi
karena akan mempengaruhi posisi likuiditas organisasi. Pada organisasi yang
besar, potensi perubahan dalam betuk dan kualitas dari keputusan mengenai
pengeluaran sering menjadi suatu tantangan besar bagi manajer kas. Terdapat dua
pendekatan yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut yaitu:
a. Sentralisasi atas hutang organisasi terutama yang melibatkan jumlah uang
yang besar.
Tujuan ini dapat dicapai melalui sentralisasi rekening deposito (cnetralized
depository accounts). Dengan adanya konsolidasi atas rekening-rekening
memungkinkan manajemen untuk mengontrol dan menjadwalkan proses
pengeluaran.
b. Membuat batasan administratif atas jumlah pengeluaran atas unit
organisasi tertentu untuk melakukan pengeluaran dalam periode yang
ditentukan.
Tujuan ini dapat dicapai melalui penggunaan teknik zero balance accounts
yang efektif. Teknik ini diharapkan dapat menghilangkan kebutuhan untuk
mempertahankan saldo lebih pada rekening pengeluaran. Sentralisasi rekening
deposito yang dikelola dengan saldo nol (zero balance) pada setiap akhir hari
kerja akan membantu usaha untuk menggunakan peluang memaksimalkan
penghasilan dari float. Bahasan mengenai float secara lebih rinci akan
dijelaskan pada bahasan selanjutnya. Secara garis besar float adalah perbedaan
waktu antara penulisan cek dan proses kliring pada bank. Sebagai contoh,
misalkan sebuah organisasi menulis cek pada hari Jumat, cek mungkin baru
akan di kliring pada pertengahan minggu berikutnya. Jika bendaharawan
memindahkan uang ke rekening pengeluaran dari rekening investasi pada har
Jumat, maka organisasi akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan
pendapatan bunga dari investasi karena uang tersebut baru akan di kliring
pertengahan minggu berikutnya. Manajer kas diberikan kebebasan untuk
14

memperkirakan kapan cek akan dikeluarkan untuk pembayaran dan kapan
harus mentransfer uang dari satu akun ke akun yang lain.
3. Mengendalikan Saldo Bank
Memberikan pengendalian yang ketat pad saldo bank menjadi sangat popular
sebagai salah satu prinsip dalam manajemen kas. Organisasi menyadari bahwa
uang yang tidak dibutuhkan untuk membiayai biaya operasional atau untuk saldo
kompensasi (compensating balance) harus diinvestasikan kedalam surat berharga
yang menghasilkan pendapatan bunga. Konsekuensinya adalah organisasi tersebut
harus berusaha untuk menghidari akumulasi kas yang tidak aktif pada rekening
mereka dengan menggunakan laporan kas harian atau membuat pembayaran
dengan menggunakan draft.
4. Investasi Kelebihan Kas
Kas ditangan (cash on hand) untuk memenuhi keubutuhan pembiayaan
kewajiban harus diinvestasikan ke dalam surat berharga jangka pendek. Sebagai
organisasi yang tidak beorientasi pada keuntungan, organisasi pemerintah
didorong untuk menggunakan surat berharga jangka pendek yang mempunyai
karakteristik likuiditas yang tinggi dan mudah diubah menjadi kas baik melalui
pasar modal maupun karena jatuh tempo. Dalam memilih investasi terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
a. Tingkat hasil investasi (yield),
b. Waktu jatuh tempo (maturity)
c. Likuiditas (liquidity
d. Risiko (risk)
e. Adanya aturan call (call provision)
f. Ketersediaan nominal/denominasi sekuritas (the availability of
denominations), dan
g. Aspek perpajakan (taxability).
C. Pengelolaan Float dalam Manajemen Kas.
Float3 dalam manajemen kas mengacu pada penundaan waktu dalam aliran
kas atau informasi. Float terjadi baik dalam proses penerimaan kas yang disebut
15

collection float maupun dalam proses pengeluaran kas yang disebut disbursement
float.
1. Collection Float
Collection float mengacu pada jumlah total perbedaan waktu dari pengiriman
dokumen pembayaran oleh pelanggan sampai dengan tersedianya kas dari hasil
pembayaran tersebut di bank. Pembagian komponen dari collection float
didasarkan pada sumber dari penundaan dalam proses penerimaan kas.
Komponen-komponen tersebut meliputi:
a. Mail float
Penundaan ini disebabkan oleh perbedaan waktu dari pengiriman cek sampai
dengan penerimaan cek.
b. Processing float
Penundaan ini terkait dengan waktu yang dibutuhkan untuk proses sebelum cek
didepositokan ke sistem perbankan.
c. Availability float
Penundaan ini timbul karena perusahaan tidak diberikan fasilitas langsung
tersedia (immediate available) pada semua komponen depositonya. Dengan
kata lain penundaan ini timbul karena cash belum selesai di kliring dalam
sistem perbankan.
2. Mengelola Collection Float
a. Mengurangi mail float
Mail float dapat dikurangi dengan menempatkan secara hati-hati tempat
pembayaran tagihan. Secara umum, semakin dekat tempat pembayaran dengan
pelanggan maka semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman
pembayaran. Namun, penempatan ini harus mempertimbangkan juga biaya
administratif dan operasional terkait dengan banyaknya tempat yang digunakan.
Dalam kondisi geografis yang kurang bagus mungkin akan dibutuhkan banyak
tempat pembayaran tagihan agar dapat lebih dekat dengan pelanggan. Kondisi ini
akan mengakibatkan biaya operasional dan administratif menjadi meningkat
sehingga keuntungan dari pengurangan mail float akan hilang dengan adanya
kenaikan biaya tersebut.
16

b. Mengurangi processing float
Untuk mengurangi processing float pembayaran harus di proses dan
disampaikan ke bank deposito sebelum proses kliring dalam sistem perbankan
selesai. Terdapat tiga issue yang harus dipertimbangkan yaitu: kecepatan, akurasi,
dan keamanan. Untuk alasan inilah maka pada umumnya pembayaran diproses
dan didepositokan paling sedikit sekali dalam sehari. Hal inilah yang sering
menjadi pertimbangan yaitu pemilihan antara mengurangi float cost dengan
memproses sesering mungkin dan meningkatnya biaya sebagai akibat memproses
pembayaran tersebut.
c. Mengurangi availability float
Untuk mengurangi float ini perusahaan dapat menempatkan lokasi deposito
yang dekat dengan bank di mana cek ditarik atau melakukan negosiasi dengan
bank.
3. Disbursement float
Disbursement float merupakan bagian dari payment float. Ia terdiri dari
beberapa komponen yaitu mail float, process float, dan presentation or clearing
float. Untuk mail float dan process float relatif sama dengan collection float,
sedangkan presentation or clearing float adalah waktu yang dibutuhkan oleh
sistem perbankan untuk mengembalikan cek dan menampilkan kembali ke dalam
akun perusahaan yang membayar.
4. Mengelola disbursement float
Sebagaimana kita ketahui, keterlambatan waktu pembayaran dapat bersumber
dari pengiriman check, pemrosesan check, dan penagihan. Disbursement float
dapat ditingkatkan dengan menuliskan check pada bank yang bertempat di lokasi
yang jauh secara geografis atau menuliskan check dari kantor pos yang terpencil.
Dilihat dari sudut pandang etika dan ekonomi taktik yang digunakan untuk
meningkatkan disbursement float masih dalam perdebatan. Hal ini disebabkan
oleh beberapa argumen antara lain:
a. Secara ekonomi pada umumnya setiap syarat pembayaran selalu
mencantumkan diskon di mana diskon tersebut lebih besar bila
dibandingkan dengan keuntungan dari meningkatkan disbursement float.
17

b. Secara etika menunda pembayaran yang sudah jatuh tempo merupakan
prosedur bisnis yang tidak etis. Disamping itu terdapat konsekuensi negatif
yaitu rusaknya hubungan dengan pemasok.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola
disbursement float, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan
semaksimal mungkin diskon yang diberikan oleh pemasok dan memperbaiki
pengendalian terhadap pengeluaran.

C. Sentralisasi versus Desentralisasi Manajemen Kas
Pada berbagai negara, layanan perbankan pemerintah dan manajemen kas
dilakukan dengan menggunakan rekening pemerintah pada Bank Sentral. Saldo
pada rekening ini dikelola terutama untuk tujuan-tujuan kebijakan moneter, yaitu:
1. Injeksi kas bersih dari sektor publik ke dalam sistem perbankan yang didanai
dengan penjualan sekuritas pemerintah jangka panjang.
2. Likuiditas sektor perbankan primer dikelola dengan secara periodik menjual
sekuritas pemerintah jangka pendek dan operasi pasar terbuka bank sentral.
Pengendalian pengeluaran sangat ditekankan tetapi minimalisasi biaya
pendanaan (cost of financing) kebutuhan kas pemerintah bukan merupakan
peranan atau tujuan khusus dari Bank Sentral ataupun Kementrian Keuangan
(Lembaga Perbendaharaan).
Pada sistem seperti ini, entitas pemerintah (seperti kementerian, departemen
atau lembaga) tidak begitu memiliki kendali atas proses manajemen kas.
Kebutuhan untuk membayar dalam jumlah kecil dan segera, dengan menggunakan
transfer dana elektronik (electronic fund transfer), cek ataupun kas, pada
umumnya memunculkan adanya berbagai rekening pada bank komersial sebagai
upaya dari entitas untuk mendapatkan kendali yang lebih besar atas waktu
pembayaran. Hal ini memunculkan tambahan biaya yang cukup besar bagi
pemerintah dalam bentuk kehilangan bunga atas saldo yang belum dipakai dan
biaya transaksi perbankan yang besar.
Berbagai evaluasi atas manajemen dan pengeluaran kas pemerintah
menunjukkan bahwa pola seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya
18

memberikan manfaat berupa pengendalian yang ketat atas pembayaran dan juga
atas pengeluaran pemerintah dari proses pembayarannya yang tersentralisasi.
Akan tetapi, menurut Storkey (2001) proses ini ternyata memunculkan kerugian-
kerugian yang seringkali juga sangat besar, yang meliputi:
1. Ketiadaan wewenang yang jelas untuk manajemen kas yang baik sehingga
pilihan atas sumber pendanaan jangka pendek tidak digunakan atau bila
digunakan cenderung tidak efisien.
2. Ketiadaan insentif untuk manajemen kas yang efisien sehingga tidak ada
perhatian dari manajemen entitas pemerintah atas keberadaan saldo kas
menganggur ataupun jangka waktu pembayaran dan penerimaan kas.
3. Keterbatasan-keterbatasa pada sistem penerimaan pendapatan atau
pembayaran pemerintah membuat terbatasnya inovasi dalam metode
pembayaran serta pengumpulan informasi tidak berguna bagi tujuan-tujuan
kas manajemen.
4. Fungsi bendahara berkenaan dengan kas hanya terbatas pada informasi
atas pencatatan rekening dan pengendalian atas rekening bank.
Sejalan dengan adanya permasalahan manajemen kas yang tersentralisasi ini
dan kebutuhan akan pengendalian yang lebih besar terhadap manajemen sumber
daya kas, Storkey (2001) juga menyatakan bahwa muncul upaya-upaya agar:
1. Entitas-entitas pemerintahan perlu meningkatkan pengendalian atas
manajemen harian atas kas sehingga mereka memiliki pengetahuan terbaik
akan waktu pembayaran dan berada dalam posisi terbaik untuk
mempengaruhi kemungkinan arus kasnya. Oleh karena itu, merupakan hal
yang masuk akal apabila manajemen likuiditas harian berada di tangan
entitas-entitas pemerintahan. Hal ini juga konsisten dengan perkembangan
bahwa entitas-entitas diserahi tanggung jawab lebih besar untuk
pengendalian akuntansi dan keuangannya jika mereka diserahi pendanaan
dalam jumlah besar.
2. Pemerintah tidak mengalami kerugian dari penggunaan uang karena
adanya saldo-saldo menganggur pada rekening entitas (bendaharawan) dan
tingkat bunga yang terendah dapat diperoleh. Untuk mencapai hal ini,
19

perlu ada sentralisasi rekening bank dari entitas-entitas pemerintahan
sehingga salado bank dapat diagregasi dan arus kas konsolidasi dapat
disiapkan untuk memungkinkan pemanfaatan berbagai kemungkinan
pendanaan.

D. Pengelolaan Kas Negara
1. Dasar Hukum Pengelolaan Kas Negara
Dasar hukum dalam pengelolaan kas negara adalah:
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4287)
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4355)
c. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4400)
d. Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4437)
e. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4438)
2. Bendahara Umum Negara (BUN) dan Bendahara Umum Daerah (BUD)
a. Bendahara Umum Negara
Bendahara Umum Negara adalah pejabat yang diberi tugas untuk
melaksanakan fungsi bendahara umum negara dalam hal ini Menteri Keuangan
adalah Bendahara Umum Negara.
20

Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara mengangkat Kuasa
Bendahara Umum Negara untuk melaksanakan sebagian wewenang Bendahara
Umum Negara dan tugas kebendaharaan yang berkaitan dengan pengelolaan uang
dan surat berharga. Kuasa Bendahara Umum Negara terdiri dari Kuasa Bendahara
Umum Negara Pusat dan Kuasa Bendahara Umum Negara di Daerah.
b. Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat
Wewenang bendahara Umum Negara dalam pengelolaan uang negara yang
dikuasakan oleh Kuasa Bendahara Umum Negara Pusat terdiri dari:
1) Menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas Negara
2) Menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka
pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran Negara
3) Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan
anggaran Negara
4) Menyimpan uang Negara
5) Menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi
dalam rangka pengelolaan kas melalui pembelian surat utang Negara
6) Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna
Anggaran atas beban rekening kas umum negara
7) Menyajikan informasi keuangan negara
c. Kuasa Bendahara Umum Negara di Daerah.
Kuasa Bendahara Umum Negara di daerah bertugas menerima, menyimpan,
membayar, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang yang berada
dalam pengelolaannya. Kuasa Bendahara Umum Negara di daerah dilaksanakan
oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
d. Bendahara Umum Daerah
Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah adalah Bendahara Umum
Daerah. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara
Umum Daerah melaksanakan tugas-tugas kebendaharaan yang berkaitan dengan
pengelolaan uang dan surat berharga.


21

e. Wewenang Bendahara Umum Daerah
Wewenang Bendahara Umum Daerah berkaitan dengan pengelolaan uang daerah
terdiri dari:
1) Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan
pengeluaran kas daerah
2) Memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank
dan/atau lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk
3) Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan
APBD
4) Menyimpan uang daerah
5) Melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan
investasi dalam rangka pengelolaan kas melalui pembelian surat utang
Negara
6) Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Penggguna
Anggaran atas beban rekening kas umum daerah
Pengelolaan Kas Negara terdiri dari pengelolaan kas pusat dan daerah.
Tujuan pengelolaan kas negara :
Penggunaan dana yang dimiliki negara secara efisien dan efektif dengan cara:
1. Menentukan jumlah dan alokasi dana untuk keperluan pelaksanaan kegiatan
operasional pemerintahan dan kegiatan investasi.
Negara memiliki sumber daya keuangan yang terbatas oleh karena itu sangat
penting adanya suatu perencanaan dalam pengalokasian dana yang dimiliki.
Kegiatan pengalokasian ini sangat penting untuk memastikan semua kegiatan
operasional pemerintah dapat dibiayai, jika kemudian setelah semua kegiatan
telah dialokasikan dananya dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana tersebut
dapat dipergunakan untuk kegiatan investasi sebagaimana yang diatur pada pasal
41 Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
2. Mendapatkan sumber dana yang paling efisien untuk membiayai
kegiatankegiatan pemerintahan.
Jika pemerintah tidak memiliki dana yang cukup untuk menutup semua
kegiatan operasionalnya maka diperlukan adanya pembiayaan. Pembiayaan
22

tersebut dapat berasal dari dalam dan luar negeri atau sumber-sumber lain.
Pemerintah perlu melakukan perhitungan yang cermat sumber pembiayaannya
sehingga biaya yang timbul atas pembiayaan tersebut dapat ditekan seminimal
mungkin.
3. Meminimalisasi kas yang menganggur (idle cash).
Setiap rupiah uang yang dimiliki oleh negara harus dipergunakan sebaik
mungkin. Hingga saat ini masih banyak uang negara yang masih menganggur
dengan kata lain tidak memberikan return yang memadai, dengan manajemen kas
yang baik dana yang tidak memberikan return maksimal tersebut dapat
diinvestasikan dan dikelola secara professional sehingga memberikan keuntungan
bagi negara.
4. Mempercepat penyetoran penerimaan negara.
Percepatan penyetoran penerimaan penting dalam dua hal :
a. Agar dana yang bersumber dari penerimaan negara tersebut dapat segera
masuk ke rekening kas umum negara sehingga dapat segera dipergunakan
untuk membiayai kegiatan pemerintah.
b. Minimalisasi kerugian negara atas dana yang float di bank persepsi. Dana
yang tidak segera disetorkan ke kas negara dapat dipergunakan oleh bank
umum untuk keuntungan bank tersebut dengan demikian pemerintah dirugikan
sebesar selisih bunga yang diterima pemerintah dan tingkat return yang
diterima oleh bank umum tersebut dari hasil investasinya. Dengan penyetoran
penerimaan langsung ke rekening kas Negara, kerugian ini dapat
diminimalisasi.
5. Melakukan pembayaran atas pengeluaran negara secara tepat waktu.
Pemerintah perlu melakukan perhitungan yang cermat atas saat yang tepat
untuk atau lebih lambat jika memang hal tersebut lebih menguntungkan, misalnya
jika negara donor memberikan potongan bunga apabila pemerintah melakukan
pelunasan dini atas utangnya.

Dasar hukum dalam pengelolaan kas negara adalah :Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
23

tentang Perbendaharaan Negara, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, Undang-
Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-undang Nomor
33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
Adapun tujuan pengelolaan kas negara adalah penggunaan dana yang dimiliki
negara secara efisien dan efektif dengan cara: Menentukan jumlah dan alokasi
dana untuk keperluan pelaksanaan kegiatan operasional pemerintahan dan
kegiatan investasi, mendapatkan sumber dana yang paling efisien untuk
membiayai kegiatankegiatan pemerintahan, meminimalisasi kas yang
menganggur (idle cash), mempercepat penyetoran penerimaan negara,
melakukan pembayaran atas pengeluaran negara secara tepat waktu.



















24

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kas merupakan elemen kunci dalam perencanaan atas seluruh aspek
operasional perusahaan. Tanpa adanya manajemen kas yang baik, suatu organisasi
mungkin dapat kehilangan reputasinya dan sulit untuk bertransaksi dengan pihak
lain karena organisasi tersebut tidak dapat membayar tagihannya yang sudah jatuh
tempo. Ada beberapa pengertian dari kas,yaitu: menurut UU Nomor 1 Tahun 2004
tentang Keuangan Negara, menurut Standar Akuntansi Pemerintah, dan menurut
Standar Akuntansi Keuangan. Dapat disimpulkan bahwa pengertian kas meliputi
saldo kas (cash on hand), saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat
digunakan serta instrumen investasi yang sangat likuid, berjangka pendek dan
dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko
perubahan nilai yang signifikan.
Manajemen kas sektor publik meliputi empat elemen antara lain:
Perencanaan (forecasting), mobilisasi dan manajemen arus kas (mobilizing and
managing the cash flow), pemeliharaan hubungan dengan perbankan (maintaining
banking relations), dan investasi kelebihan kas (investing surplus cash). Setiap
elemen harus dikelola secara aktif untuk mencapai efektifitas manajemen kas.









25

Daftar Pustaka


Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Penatausahaan PHLN, Jakarta:
2005.
MEFMI, Public Debt Management Procedures Manual Vol. 1.
Mulyadi. Sistem Akuntansi. Ed.3. Jakarta : Salemba Empat.2001
Munawar, Dungtji, Pengembalian Pinjaman Luar Negeri, Badan Pendidikan
dan Pelatihan Keuangan, Jakarta: 2005.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum.
www.gogle.com