Anda di halaman 1dari 20

ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT

PT. VALE INDONESIA Tbk



BAB II
GAMBARAN OBYEK KERJA PRAKTIK

A. Deskripsi Umum dan Organisasi Obyek Kerja Praktik
1. Sejarah Perusahaan
Tahun 1968, pada bulan Januari, Inco terpilih dari enam perusahaan untuk
merundingkan sebuah kontrak karya pada tanggal 25 Juli 1968. Akta pendirian
disahkan dan didaftarkan sebagai sebuah perusahaan baru yaitu PT.Internasional
Nickel Indonesia (INCO),Tbk secara resmi pada tanggal 27 Juli 1969 dan kontrak
karya tersebut ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia beserta Direksi PT. Vale
Indonesia, pada tahun 1970, contoh bijih dari Sulawesi dalam jumlah besar pertama
sebanyak 50 ton dikirim ke fasilitas riset Inco Kanada di Port Colborne, Ontario.
Sebuah pabrik produksi pelebur dibuat dalam skala kecil menunjukkan bahwa bahan
dari Sorowako dapat diolah dengan hasil yang memuaskan.
Pada tahun 1971, eksplorasi yang dilakukan telah cukup membuktikan bahwa
endapan laterit disekitar Sorowako mampu mendukung pabrik nikel yang besar,
kemudian pada tahun 1973, pembangunan 1 unit jaringan pengolahan pyrometalurgi
mulai dilakukan di kawasan Sorowako. Selanjutnya di tahun 1974, sebagai reaksi
atas lonjakan harga minyak yang pertama maka diambillah keputusan untuk
mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi Pembangkit Listrik
Tenaga Air (PLTA). Pada 1978, tanggal 1 April PT. INCO mulai berproduksi secara
komersial. Tahun 1988, Inco Limited menjual 20% dari saham PT.INCO yang
dimilikinya kepada Sumitomo Metal Mining Co,Ltd dari Jepang. Kemudian pada tahun
1990, pada tanggal 16 Mei, Inco Limited menjual 20% dari saham PT.INCO yang
dimilikinya kepada public dan dicatatkan pada bursa efek di Indonesia tetapi Inco
Limited tetap memiliki 58,19% saham PT. INCO. Pada 1996-1999, Proyek Ekspansi
Jaringan ke empat termasuk Balambano yang berkapasitas 93 MW untuk
meningkatkannya menjadi 150 juta pound/tahun. Di tahun 2000, PT. Inco
meningkatkan produksi 30% menjadi 130,9 pound nikel dalam bentuk matte. Sejalan
dengan rencana Perseroan untuk mencapai kapasitas yang diperluas sebesar 150
juta pound produksi per tahun. Tahun 2003-2004, dimana tahun 2003 PT.Inco
membangun daerah penambangan yang baru yaitu di Petea (sebelah timur Danau
Matano yang berdekatan dengan wilayah timur penambangan bijih (ore body)
PT.Inco) dan membangun bendungan ketiga di Karebbe, Sungai Larona untuk
meningkatkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dari 275 MW ke 365
MW.Pada tahun 2005, berhasil memasang teknologi Bag House System di Tanur
Listrik No # 4 sehingga mampu mengurangi emisi debu tanur listrik hingga berada
dibawah ambang batas ketentuan pemerintah dan direncanakan tahun 2008 semua
tanur listrik akan dilengkapi dengan alat ini. Akhirnya pada 24 januari 2012 peresmian
menjadi PT Vale Indonesia Tbk.
2. Visi, Misi, dan Nilai PT. Vale Indonesia Tbk.
Visi PT Vale Indonesia,Tbk
Visi PT Vale Indonesia adalah menjadi perusahaan nikel terkemuka dunia
menetapkan standar standar keunggulan yang tinggi dalam produk produk
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

pertambangan, pengolahan, dan pemasaran yang memenuhi kebutuhan
masyarakat dan berkontribusi terhadap perbaikan kualitas kehidupan.
Misi PT.Vale Indonesia,Tbk
Misi PT Vale Indonesia,Tbk meningkatkan produksi nikel bagi dunia secara
bertanggung jawab.Nilai Utama PT Vale Indonesia adalah karyawan, keamanan
dan kesehatan, tanggung jawab sosial dan lingkungan, etika dan ketaatan,
keunggulan prestasi, kewirausahaan, bersama kita lebih baik.
Nilai PT. Vale Indonesia,Tbk
a. Kehidupan adalah hal yang terpenting
b. Menghargai karyawan
c. Menjaga kelestarian bumi
d. Melakukan hal yang benar
e. Bersama-sama menjadi lebih baik
f. Mewujudkan tujuan




















ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

PRESIDENT & CEO
CHIEF OPERATING
OFFICER
SNR GM.
ENG.TECH.DEV
SNR GM OF MINES
& EXPLORATION
GM OF MINE
PRODUCTION
PETEA AND SERVE
MGR OF MINE
PRODUCTION
PETEA
MGR OF MINE
REHABILITATION
MINE
ENVIRONMENT
ENGINEER
REHABILITATION
ENGINEER
LAND
PREPARATION AND
CLEARING
SUPERVISOR LAND
PREP. AND TOP
SOIL
Asst. Mine
engineer
Coord.
revegetation
foreman
operator
MGR OF MINE
TRAINING SAFETY
MGR OF
ORE HANDLING
&MINE SERVE
GM OF MINE
GEOLOGY
GM OF MINE
PRODUCTION
SOROWAKO
GM OF MINE
ENGINEER
GM OF MINE
EXPLORATION
GM MINE
BUSINEES &
IMPROVMENT
SNR GM OF
UTILITIES &
MAINTENANCE
SNR GM
OPERATION
EXCELLENCE
SNR GM OF
PROCESS PLANT
GM EHS
CHIEF FINANCE
DIRECTOR
DIRECTOR OF HR
&COORPORATE
SERVICE
DIRECTOR OF
PROJECT
PORTOFOLIO
DIRECTOR OF
EXTERNAL
RELATIONS
DIRECTOR OF
LEGAL &
SECRETARY

3. Struktur Organisasi




























ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk


4. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang digunakan selama melakukan proses kerja praktik ialah
Alat Pelindung Diri (APD), pH-meter, botol sampel ukuran 1 L, buku lapangan, kertas
lakmus, mobil khusus untuk daerah tambang, larutan aquades untuk penetralan, kolam
pengendapan, alat ukur flow otomatis, spektrofotometer dan sarana kompleks yang
menunjang untuk pengolahan limbah.
5. Produk
Proses produksi nikel dalam matte dijalankan melalui mekanisme Sistem Produksi
Vale atau Vale Production System (VPS). Mekanisme ini menjadikan produksi dilakuan
dalam sistem terpadu yang merupakan standarisasi di empat bidang utama: karyawan,
operasi, perawatan dan manajemen; serta tiga bidang pendukung: kesehatan, keselamatan,
serta lingkungan hidup.
Ditahun 2012, harga tunai nikel di LME berada lebih rendah 23% dibandingkan 2011,
dan merupakan penurunan rata-rata tahunan yang pertama sejak 2009. Walaupun
permintaan terus meningkat, harga nikel mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi
global maupun pasokan nikel yang terus meningkat.

Pencapaian Produksi Nikel
Produksi Nikel 2011 2012 2013
Produksi Nikel 66,900 70,717 75.802
Harga realisasi rata-rata per
ton (Dollar per ton)
18,296 13,552
Pendapatan 1,242,555 967,327


6 Pemasaran
PT. Vale Indonesia Tbk menyediakan pasokan jangka panjang untuk memenuhi
kebutuhan konsumen, yakni Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mininng Co.
Ltd (SMM). Sesuai dengan perjanjian penjualan maka 80% dari produksi PT. Vale Indonesia
Tbk. di beli oleh VCL dan 20% oleh SMM.
Keberadaan perjanjian penjualan dengan VCL dan SMM, menjadikan PT. Vale
Indonesia Tbk tidak perlu melakukan komunikasi pemasaran termasuk promosi. Kekhususan
pasar tersebut juga menjadikan Perseroan tidak menghadapi persaingan usaha dengan
produsen nikel lain di Indonesia.


8 Penghargaan dan Sertifikasi Perusahaan tahun 2012

a. Penghargaan Perusaahaan
No Nama Penghargaan Kategori Lembaga Pemberi
1 The Sustainable Business
Award
Best Mining an Metals
Company in Indonesia
Best Company for Water
Management
Kadin (Indonesia Chamber
of Commerce and
Industry) and Singapore-
Based Global Initiatives
and Climate Business
2 Pekan Lingkungan
Indonesia XVI 2012
Stand Terbaik Kategori
Lingkungan
Kementerian Lingkungan
Hidup
3 Annual Indonesia Fire Medali Perak Penyelamatan di Indonesia Fire Rescue
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

Rescue Challenge (IFRC)
XV
Ketinggian
Medali Perunggu Kategori
Penyelamatan dalam Struktur
Bangunan Rubuh
Challenge
4 Program Penilaian
Peringkat Kinerja
Perusahaan
Biru Kementerian Lingkungan
Hidup



B. Data Teknis dan Kemajuan Kegiatan PT. Vale Indonesia Tbk.
1. Kondisi Lingkungan
Luas wilayah kontrak karya PT. Vale Indonesia Tbk hingga akhir 2012 mencapai
190.510 hektar, dengan cakupan terbesar adalah wilayah tambang di Sorowako, Kabupaten
Luwu Timur, Sulawesi Selatan, seluas 118.387,4 hektar. Dari luasan tersebut, 72.437 hektar
merupakan kawasan hutan lindung dan 2.139,8 hektar adalah kawasan hutan konservasi,
yang pemanfaatannya telah mendapat izin berdasarkan keputusan Presiden (Keppres) No.
41/2004 Tentang Perizinan atau Perjanjian di Bidang Pertambangan yang berada di
kawasan Hutan.
PT. Vale Indonesia Tbk secara berkesinambungan berupaya meminimalkan
penurunan kualitas (degradasi) lingkungan, melalui pelaksanaan praktik-praktik pengelolaan
lingkungan yang didasarkan pada standar ISO 140001 dan terangkum dalam Vale
Environmental Management System (EMS).
Dalam pelaksanaannya, PT. Vale Indonesia Tbk mempertimbangkan kondisi yang
dihadapi dalam menentukan prioritas kegiatan yang dilaksanakan. Untuk tahun 2012, PT.
Vale Indonesia Tbk melanjutkan berbagai upaya untuk memenuhi standar baku mutu emisi
sulfur (SO
2
) di pabrik pengolahan, perbaikan dan penambahan kolam pengendapan unuk
mengurangi padatan tersuspensi (TSS), perbaikan fasilitas penanganan chromium serta
pelaksanaan reklamasi di area pascatambang. PT. Vale Indonesia Tbk juga tidak
mengabaikan potensi ancaman lain terhadap lingkungan dan melakukan penanggulangan
sesuai pemetaan yang sudah dilakukan.

2. Limbah yang dihasilkan
a. Limbah cair
1. Effluent dari proses produksi di pabrik pengolahan, dikelola dengan cara
mencampurnya dengan debu dan dimanfaatkan kembali sebagai umpan ditanur
pengering melalui mekanisme tertutup.
2. Minyak hasil dari bengkel perawatan kendaraan, dikelola dengan cara
memanfaatkan kembali sebahai bahan pembakaran di tanur pengering
sehingga tidak mencemari lapisan permukaan tanah.
3. Air limbah cucian kendaraan operasional tambang mengandung konsentrasi Cr
+6
, diatasi dengan menetralkan konsentrasi Cr
+6
melalui kolan pengendapan
dan pengolahan, serta menambahkan ferrous sulfat monohidrat.
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

4. Air limpasan dari penimbunan sulfur dan batubara dikelola melaui instalasi
pengolahan air limbah yang ada di Pelabuhan Balantang.
b. Limbah padat
1. Terak (slag) merupakan limbah padat hasil tanur listrik dan tanur pengurai yang
bersuhu 1.500
o
C, ditampung dalam pot khusus dan diangkut menggunakan
kendaraan haul master ke tempat penimbunan (slag dump). Selanjutnya slag ini
dimanfaatkan oleh PT. Vale Indonesia Tbk sebagai material jalan tambang di
lokasi penambangan.
2. Ban bekas, sebagian dimanfaatkan kembali melalui proses vulkanisir dan
digunakan sebagai penghalang jalan miring di lokasi tambang, dan sisanya
diserahakan kepada pihak ketiga berizin untuk dikelola.
3. Limbah domestik, dikelola dengan cara ditimbun pada lokasi yang telah
ditetapkan
c. Limbah emisi cerobong pabrik, dikelola melalui instalasi fasilitas injeksi sulfur
padat padat dilokasi tanur reduksi, penyelesaian studi pola penyebaran SO
2
, serta
pemantauan emisi SO
2
secara online udara sekitar di tiga lokasi meliputi pabrik
pengolahan, komplek perkantoran Enggano, dan area pemukiman old camp.
Sementara dalam program jangka panjang, proyek konversi bahan bakar diketiga
pengering rotary dari HSFO menjadi batubara dijadwalkan selasai di tahun 2013
dan dapat membantu pemenuhan baku mutu emisi SO
2
.
PT. Vale Indonesia Tbk juga telah melengkapi cerobong asap di setiap unit
pengolahan nikel dengan sistem penangkap debu, meliputi electrostatic
presipitator (ESP) di tanur pengering dan tanur reduksi serta baghouse system di
unit tanur peleburan. Partikel debu yang tertangkap unit penangkap debu
selanjutnya dimanfaatkan kembali sebgai material dalam proses produksi.
d. Limbah B3 seperti material terkontaminasi oli/minyak, bahan kimia kadaluarsa,
dan aki bekas dikirim ke Pusat Pengolahan Limbah Industri (PPLI) untuk diolah
lebih lanjut.

3. Proses Produksi
Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT Vale Indonesia dilakukan dengan
Open Cast Mining tetapi dilakukan dalam pengawasan Grade Control dalam hal kualitas
ore. Kegiatan penambangan nikel PT. Vale Indonesia dilakukan pada Pegunungan Verbeek,
Sulawesi Selatan yaitu di bukit-bukit dengan ketinggian antara 500 700 m dari permukaan
laut.

1 Proses Pengeboran
Kegiatan ini bertujuan untuk pembuatan lubang ledak dan gambaran tentang sampel
material sehingga bisa mendapatkan gambaran tentang lapisan yang akan ditambang.
Pemboran dan uji sample (Test Pit)
- Area East Block (interval 25 x 25)
- Area West Block (interval 50 x 50)

ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

2 Proses Pembersihan Lahan ( Land Clearing )
Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan dari semak-semak dan pepohonan
tempat-tempat yang memungkinkan untuk dikembangkan. Alat berat yang dioperasikan
untuk pekerjaan ini adalah Bulldozer.

3 Proses Pengupasan Lapisan Tanah Penutup ( Stripping ).
Setelah tahap pembersihan, maka kegiatan dilanjutkan dengan pengupasan dan
pengangkutan tanah penutup (Overburden) diangkut ke disposal area (tempat yang sengaja
disediakan untuk menampung OB dan reject rock dari screening station) yang kemudian
akan digunakan untuk menutupi daerah pasca tambang sebagai dasar bagi tanaman
penghijauan dalam revegetasi.
Alat berat yang dioperasikan untuk kegiatan ini adalah Bulldozer dan Front Shovel/
Back Hoe sebagai alat gali muat. Sedangkan pengangkutan dipergunakan alat angkut Dump
Truck.
4 Proses Pemuatan ( Loading )
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memuat ore yang telah digali kedalam alat
angkut Dump Truck. Alat berat yang dioperasikan untuk kegiatan ini adalah Bulldozer yang
dikombinasikan dengan Front Shovel/Back Hoe. Dimana waktu edar alat muat Front Shovel
tersebut dimulai saat Shovel menyentuh material, waktu menggali material, waktu angkat
bucket dan swing berisi, waktu mengarahkan bucket dan tumpah isi bucket, waktu swing
kosong sampai menyentuh material kembali. Proses terus berlanjut sampai Dump Truck
penuh.
5 Proses Pengangkutan ( Hauling )
Setelah kegiatan pemuatan selesai maka dilanjutkan dengan kegiatan pengangkutan.
Pengangkutan ore hasil penambangan dapat dilakukan dengan alat angkut Dump Truck dari
lokasi penambangan Face ke lokasi penyaringan Screening Station.
Ore Mining biasa disebut Run of Mine (ROM) yang berasal dari Face, sebelum
diangkut ke tempat penimbunan bijih atau Stock pile dilakukan penyaringan terlebih dahulu
dengan maksud untuk memisahkannya dari bongkahan-bongkahan yang terikat dalam
pemuatan, agar diperoleh ukuran yang sesuai dengan kebutuhan pabrik pengolahan. Hasil
dari kegiatan penyaringan ini dikenal sebagai Screen Station Product (SSP).

6 Proses Screening Station
Produk hasil dari screening station disebut screening station product (SSP) yang
berupa ore basah yang disebut wet ore stockpile (WOS). WOS akan diproses oleh bagian
processing, yang nantinya akan menghasilkan product yang disebut nikel matte (80%) dan
menghasilkan buangan (reject rock), yang nantinya akan dibawa ke disposal.
- Area East block, ukuran reject rock-nya : +18 dan +6
- Area West block, ukuran reject rock-nya : +18, +6, dan +2






ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk




Screening Station



Urutan kerja pada Screening Station di blok East dan blok West

Selesai pengupasan tanah penutup selanjutnya dilakukan penggalian terhadap ore.
Penggalian ore ini dilakukan oleh shovel ataupun backhoe yang kemudian dimuat kedalam
dump truck (777C/D).Dump truck kemudian akan membawa ore tersebut ke screening
station. Umumnya batuan yang berasal dari blok west ditaruh ke screening station #2, #5
dan #8 sedangkan batuan yang berasal dari blok timur dibawa ke screening station #9.
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

Namun karena ternyata terdapat juga jenis batuan type west di blok east maka
terkadang ada juga batuan yang mengandung ore tersebut dibawa ke screening station #8
atau #5.
Kegiatan penambangan berakhir sampai ore berada di stock pile, untuk kegiatan
selanjutnya dilakukan oleh pihak pabrik sampai akhirnya ore tersebut menjadi nickel matte.
Pada tahap di screening station terdapat perbedaan antara screening station di blok barat
dengan screening station di blok timur. Pada screening station di blok barat terdapat
penyaring dengan ukuran batuan yang dapat lewat sebesar : 18 inchi, 4 inchi, dan 2 inchi.
Sedangkan pada screening station untuk blok timur terdapat penyaring dengan
ukuran batuan yang dapat lewat sebesar : 18 inchi dan 6 inchi yang kemudian masuk ke
crusher untuk mendapatkan batuan yang berukuran 4 inchi. Pada blok barat batuan yang
diambil untuk proses selanjutnya adalah yang berukuran lebih kecil dari 2 inchi sedangkan
untuk blok timur adalah yang berukuran lebih kecil dari 4 inchi
Bijih yang berasal dari screening station merupakan bijih basah yang kemudian
selanjutnya ditaruh kedalam stock pile. Bijih basah ini biasanya dibiarkan selama 4 6
minggu. Hal ini berguna untuk mengeluarkan kadar air dalam ore tanpa mengeluarkan cost,
karena apa bila dikeringkan pada dryer maka biayanya akan lebih mahal. Karena
pengeringan pada stock pile ini tidak mengurangi seluruh kandungan air, maka ore tersebut
dibawa ke dryer moisture untuk menghilangkan kandungan airnya. Selanjutnya bijih kering
tersebut di bawa ke stock pile untuk bijih kering. Bijih kering ini dibawa ke proses berikutnya
yaitu kiln. Pada kiln terjadi proses reduksi.
Perbedaan yang paling menonjol di Soroako dibandingkan dengan tambang-tambang
nikel laterit di daerah lain adalah dua jenis endapan yang disebut endapan blok timur (east
block) dan blok barat (west block). Sebenarnya mine planner membuat rencana
penambangan juga dipengaruhi oleh kepentingan pada proses. Semula yang ditambang
adalah blok barat karena kadar nikelnya terlalu tinggi. Tetapi karena ternyata pada proses
kiln, west blok memiliki batuan yang terlalu basa akibat nilai silica berbanding dengan
magnesium (S/M) yang terlalu tinggi maka kondisi didalam tanur kental akibatnya Si dan Fe
yang akan direduksi susah dikeluarkan. Sebenarnya kekentalan ini dapat ditanggulangi
dengan menaikkan suhu tanur tetapi akibatnya dinding tanur akan semakin tipis. Akibatnya
digunakan east blok yang memiliki kadar ni yang lebih rendah, tetapi juga memiliki S/M yang
rendah sebagai faktor koreksi di alam tanur.
Sebaliknya bila pada proses kiln yang digunakan hanya east blok maka kondisi di
tanur terlalu encer. Akibatnya proses pemisahan sulit terjadi. Solusi yang digunakan adalah
60 west berbanding dengan 40 east.
Tahap berikutnya yaitu furnace. Pada tahap ini terjadi peleburan. Suhu yang biasa
digunakan pada furnace adalah 1500
0
C. Selanjutnya hasil dari furnace dibawa ke converter.
Guna converter ini yaitu untuk menjamin fleksibilitas maksimum dalam memilih bentuk
produk akhir. Pengeringan lebih lanjut dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi kadar air
pada ore sebelum di paketkan. Adapun urutan keseluruhan yang terjadi pada proses
pengolahan adalah sebagai berikut :




ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk




Diagram Proses Penambangan Nikel


Diagram Proses Pengolahan Nikel











ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk



C. Gambar kerja kuantitas dan Penjadwalan Obyek kerja praktik
1. Gambaran Kerja tiap Departemen
a. Engineering Technology Development and Support.
Merupakan departemen baru di PT. Vale Indonesia, dimana departemen ini terbagi
beberapa bagian yaitu :
1. MEM (Mobile Equipment Maintenance)
Bagian ini bertanggung jawab atas ketersediaan :
Kendaraan dan alat-alat berat tambang, alat angkut logistik dan
pabrik pengolahan.
Kendaraan ringan untuk angkutan karyawan.
Alat penunjang kerja lainnya seperti lampu penerang di tambang,
mesin diesel penggerak berukuran kecil di daerah tambang dan
bengkel-bengkel.
Support Services
Construction Services
Engineering Services
b. Objek Eksploration
Fungsi utama dari departemen ini adalah melakukan penambangan bijih untuk
menyediakan bijih nikel dengan kadar tertentu. Dalam operasinya, departemen ini
dibagi atas beberapa bagian, yaitu :
- Mine Operation
Bertanggung jawab terhadap operasi tambang.
- Mine Geology
Melaksanakan semua program geologi yang mencakup pengontrolan kadar
nikel baik sebelum, selama maupun sesudah penambangan. Melakukan
penaksiran cadangan nikel dan berbagai penelitian.
- Mine Engineering
Membuat perencanaan, penambangan dan perhitungan keperluan tambang
di masa depan.
- Mine Coastal Exploration
Bagian ini melakukan eksplorasi untuk penelitian cadangan bijih nikel guna
keperluan penambangan di masa depan.
c. Utilities
Utilities mempunyai tugas utama yaitu menyediakan/menyuplai kebutuhan
proses di pabrik atau sebagai penunjang pokok bagi berlangsungnya operasi pabrik.
Kebutuhan pabrik tersebut berupa :
- Uap
- Udara
- Air
- tenaga listrik
Departemen ini terbagi atas dua bagian yaitu :
- Utilities Production Support
- Hydro and Auxiliary Plant.
d. Process Plant Department
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

Kegiatan dari departemen ini adalah melakukan pengolahan bijih nikel laterit
menjadi nikel sulfida berkadar 78%-80%. Process Plant terbagi atas :
- Ore Preparation
Bertanggung jawab untuk mengangkut bijih nikel yang dihasilkan oleh
mining dari stockpile ke dryer (tanur pengering) untuk dikurangi kadar
airnya. Bijih nikel yang telah berkurang kadar airnya ini (bijih kering)
akan disimpan di DOS (Dried Ore Storage).
- Reduction kiln dan CTS, furnace, converter
Reduction kiln & CTS bertanggung jawab untuk mereduksi bijih nikel di
tanur putar (kiln) menjadi calcine yang tereduksi. Furnace bertanggung
jawab melakukan proses peleburan terhadap calcine dan dilakukan
pemisahan antara bagian yang kaya nikel berdasarkan perbedaan
berat jenis. Produk dari furnace disebut EFM (electric furnace matte).
Converter bertugas untuk melakukan pemurnian sehingga kadar
nikelnya meningkat dari 25% menjadi 78%, nikel sulfida ini kemudian
digranulasi dan menjadi produk akhir.
- Process Technology
Bertanggung jawab akan pengawasan teknologi pabrik pengolahan
yang meliputi pengendalian nikel sulfida yang akan dikirim ke
konsumen. Pengawasan ini menggunakan proses pyrometallurgy
serta mengontrol hasil limbah cair, padat dan gas serendah mungkin.
Proses teknologi juga membuat perencanaan produksi untuk
penjadwalan pengolahan dan panambangan.
- Process Plant Maintenance (PPM) & Process Plant Engineering (PPE)
PPM & PPE bertanggung jawab untuk pemeliharaan mesin dan
peralatan pabrik sehingga tercapai kesinambungan operasi
pengolahan meliputi segi mekanis, listrik, instrumen elektronis dari
semua peralatan pabrik pengolahan.
e. Supply Chain Management Department (SCM)
Departemen ini bertanggung jawab terhadap pengadaan kebutuhan
perusahaan baik berupa jasa maupun barang, pengadaan tersebut bisa saja berasal
dari dalam maupun luar negeri. Departemen ini meliputi :
- Logistic
- Warehouse & Inventory Mgt
- Procurement
- Shipping & Traffic Specialist.
f. External Relation Department
Departemen ini mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjalin
hubungan komunikasi ke dalam, yaitu karyawan pada pusat kegiatan operasional di
Sorowako dan ke luar, yaitu hubungan dengan pemerintahan pada daerah Sulawesi
Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Departemen ini dibagi kedalam 3
sub bagian yaitu :
- Government Relation
- Community Relation
- Corporate Communication
Government dan public affairs representative ini merupakan
perwakilan perusahaan yang berkedudukan di ibukota provinsi
Sulawesi Selatan, Makassar yang bertanggung jawab terhadap
hubungan dengan pemerintah dan masyarakat sekitar di tingkat
provinsi.
g. Human Resource Organzation and Development Department
Departemen ini bertanggung jawab terhadap administrasi kepegawaian dan
hubungan industri serta pelatihan dan pengembangan karyawan.
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

0.44%
66.69%
21.69%
9.18%
2.23%
Tenaga Asing Non Staff Staff Senior Staff & Manajer Manajemen
Departemen ini terbagi atas :
- Human Resources Organizing and Development
- Human Resources and Services
- Environment, Health and Safe
h. Departemen Penunjang
- Medical Services
Bagian ini memberikan pelayanan kesehatan terhadap karyawan,
keluarga karyawan dan masyarakat setempat meliputi perawatan medis,
pemeriksaan kesehatan tahunan karyawan dan keluarganya.
- Security
Bagian ini bertanggung jawab terhadap keamanan untuk daerah
tambang, pabrik, PLTA Larona I & II, pelabuhan Balantang, fasilitas tangki
bahan bakar di Tanjung Mangkasa, fasilitas kebutuhan pabrik dan keamanan
fasilitas kota Sorowako
- Information Technology
Bagian ini bertanggung jawab terhadap penyediaan dan pengolahan
informasi kepegawaian, keuangan, logistik, produksi dan pengendalian sistem
komputer di pabrik pengolahan tambang dan sistem komputer di pembangkit
tenaga listrik.

2. Tenaga Kerja
Karyawan merupakan aset yang terpenting bagi PT Vale Indonesia Tbk dalam
menjalankan roda organisasi. Dalam kaitannya dengan penerimaan karyawan yang
bekerja di PT Vale Indonesia Tbk, perusahaan memiliki kebijakan internal yang
menganut prinsip dari dalam ke luar. Artinya dalam penerimaan karyawan sesuai
dengan urutan prioritas internal karyawan PT Vale Indonesia Tbk, wilayah Sorowako
dan sekitarnya, wilayah propinsi, nasional dan internasional.

Grafik 1. Karyawan PT. Vale Indonesia Tbk Kuartal Keempat Tahun 2013


ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk



Hingga akhir Desember 2013, karyawan PT. Vale Indonesia Tbk terdiri dari 2.114
karyawan non staff, 690 karyawan staff, 292 karyawan senior staff dan 71 karyawan di level
manajemen. Sedangkan jumlah tenaga asing hingga akhir Desember 2013 berjumlah 14
orang (0,44%). Sedangkan jumlah karyawan kontraktor yang bekerja selama kuartal
keempat tahun 2013 sebanyak 5.271 karyawan.

D. Gambaran Jenis Pekerjaan Selama Kerja Praktik
Pada saat kerja praktik adapun yang dilakukan ialah :
1. Observasi pengambilan air sampel pada Complaince Point
2. Observasi pengambilan air sampel di Pengolahan limbah cair Cr
+6
(Chromium
Hexavalent) yang menuju danau Mahalona dan air sampel di pengolahan limbah cair
Nikel Soluble.
3. Pengujian kualitas air sampel di lakukan di laboratorium lingkungan.
4. Pengambilan sampel dilakukan pada daerah Mining (tambang) dan Process Plant
(pabrik)
5. Pengambilan sampel di lakukan setiap hari.
E. Spesifikasi Teknis dan Acuan Kontrol Kualitas
Baku mutu air limbah bagi usaha atau kegiatan pertambangan bijih nikel menurut Per
Men LH No. 09 Tahun 2006 tentang Baku mutu Air Limbah Bagi Usaha atau Kegiatan
Pertambangan Bijih Nikel
Parameter Satuan
Kadar Maksimum
Penambangan Pengolahan
pH - 6-9 6-9
TSS mg/L 200 100
Cu
*
mg/L 2 2
Cd
*
mg/L 0,05 0,05
Zn
*
mg/L 5 5
Pb
*
mg/L 0,1 0,1
Ni
*
mg/L 0,5 0,5
Cr
(+6)*
mg/L 0,1 0,1
Cr total mg/L 0,5 0,5
Fe
*
mg/L 5 5
Co
*
mg/L 0,4 0,4
Keterangan :

*
= sebagai konsentrasi ion logam terlarut

**
= sesuai dengan SNI dan perubahannya
Untuk memenuhi baku mutu air limbah tersebut, kadar parameter air limbah tidak
diperbolehkan dicapai dengan cara pengenceran dengan air secara langsung diambil
dari sumber air.

ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk


F. Konsep Teoritis/Empirik yang relevan dengan Kegiatan Kerja Praktik
a. Tinjauan Chromium Hexavalen
Krom merupakan logam dengan tiga keadaan valensi yaitu Cr (II), Cr (III), Cr (VI).
Chrom valensi 6, Cr (VI) lebih berbahaya dibandingkan dengan Cr (II) dan Cr (III). Cr (VI) ini
baik dalam bentuk kromat maupun dikromat dapat menyebabkan kanker kulit dan saluran
pencernaan (Sugiharto, 1987).
Beberapa jenis logam termasuk Chrom biasanya dipergunakan untuk kehidupan
biologis, misalnya pada pertumbuhan algae. Apabila tidak ada logam ini pertumbuhannya
akan terhambat. Bila jumlahnya berlebihan akan mempengaruhi kegunaannya karena
timbulnya daya racun yang dimiliki.
a.1. Karakteristik Chrom
Kromium adalah 21 paling banyak unsur dalam kerak bumi dengan konsentrasi rata-
rata 100 ppm. Senyawa Kromium terdapat di dalam lingkungan, karena erosi dari batuan
yang mengandung kromium dan dapat didistribusikan oleh letusan gunung berapi. Rentang
konsentrasi dalam tanah adalah antara 1 dan 3000 mg / kg, dalam air laut 5-800 g / liter,
dan di sungai dan danau 26 g / liter dengan 5,2 mg / liter. Hubungan antara Cr (III) dan Cr
(VI) sangat tergantung pada pH dan oksidatif sifat lokasi, tetapi dalam banyak kasus, Cr (III)
adalah spesies dominan, meskipun di beberapa daerah di tanah air dapat mengandung
sampai 39 g dari total kromium dari 30 g yang hadir sebagai Cr (VI).
a.2. Kegunaan Chrom
Khrom digunakan untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan karat dan
membentuk banyak alloy (logam campuran) yang berguna. Kebanyakan digunakan dalam
proses pelapisan logam untuk menghasilkan permukaan logam yang keras dan indah dan
juga dapat mencegah korosi. Khrom memberikan warna hijau emerald pada kaca.
Industri refraktori menggunakan khromit untuk membentuk batu bata, karena khromit
memiliki titik cair yang tinggi, pemuaian yang relatif rendah dan kestabilan struktur kristal.
Beberapa senyawa kromium digunakan sebagai katalis. Misalnya Phillips katalis untuk
produksi polietilen adalah campuran dari kromium dan silikon dioksida atau campuran dari
krom dan titanium dan aluminium oksida. Kromium (IV) oksida (CrO 2) merupakan sebuah
magnet senyawa
Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi
mengkilat. Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada
ornamen-ornamen bangunan, komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor,
maupun sebagai pelapis perhiasan seperti emas, emas yang dilapisi oleh kromium ini lebih
dikenal dengan sebutan emas putih.
Perpaduan Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat.
Kromium (IV) oksida digunakan untuk pembuatan pita magnetik digunakan dalam performa
tinggi dan standar kaset audio.
Asam kromat adalah agen oksidator yang kuat dan merupakan senyawa yang
bermanfaat untuk membersihkan gelas laboratorium dari setiap senyawa organik. Hal ini
disiapkan dengan melarutkan kalium dikromat dalam asam sulfat pekat, yang kemudian
digunakan untuk mencuci aparat. Natrium dikromat kadang-kadang digunakan karena lebih
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

tinggi kelarutan (5 g/100 ml vs 20 g/100 ml masing-masing). Kalium dikromat merupakan zat
kimia reagen, digunakan dalam membersihkan gelas laboratorium dan sebagai agen
titrating.
a.3. Dampak Chrom bagi kesehatan dan Lingkungan
a.3.1. Dampak bagi kesehatan
Logam krom (Cr) adalah salah satu jenis polutan logam berat yang bersifat toksik,
dalam tubuh logam krom biasanya berada dalam keadaan sebagai ion Cr3+. Krom dapat
menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver) dan ginjal. Jika kontak dengan kulit
menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Usaha-
usaha yang dilakukan untuk mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan
melalui kombinasi proses biologi, fisika dan kimia. Pada proses fisika, dilakukan dengan
mengalirkan air yang tercemar ke dalam bak penampung yang telah diisi campuran pasir,
kerikil serta ijuk. Hal ini lebih ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-
kotoran kasar dan penyisihan lumpur. Pada proses kimia, dilakukan dengan menambahkan
bahan-bahan kimia untuk mengendapkan zat pencemar misalnya persenyawaan karbonat.
Kromium (III) adalah esensial bagi manusia dan kekurangan dapat menyebabkan
kondisi jantung, gangguan dari metabolisme dan diabetes. Tapi terlalu banyak penyerapan
kromium (III) dapat menyebabkan efek kesehatan juga, misalnya ruam kulit.
Kromium (VI) adalah bahaya bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang-orang
yang bekerja di industri baja dan tekstil. Orang yang merokok tembakau juga memiliki
kesempatan yang lebih tinggi terpapar kromium
Kromium (VI) diketahui menyebabkan berbagai efek kesehatan. sebuah senyawa
dalam produk kulit, dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti ruam kulit. Pada saat bernapas
ada krom (VI) dapat menyebabkan iritasi dan hidung mimisan. Masalah kesehatan lainnya
yang disebabkan oleh kromium (VI) adalah:
- kulit ruam
- sakit perut dan bisul
- Masalah pernapasan
- Sistem kekebalan yang lemah
- Ginjal dan kerusakan hati
- Perubahan materi genetik
- Kanker paru-paru
- Kematian

Bahaya kesehatan yang berkaitan dengan kromium bergantung pada keadaan
oksidasi. Bentuk logam (krom sebagaimana yang ada dalam produk ini) adalah toksisitas
rendah. Bentuk yang hexavalent beracun. Efek samping dari bentuk hexavalent pada kulit
mungkin termasuk dermatitis, dan reaksi alergi kulit. Gejala pernafasan termasuk batuk,
sesak napas, dan hidung gatal.

a.3.2. Dampak bagi Lingkungan
Ada beberapa jenis kromium yang berbeda dalam efek pada organisme. Kromium
memasuki udara, air dan tanah di krom (III) dan kromium (VI) bentuk melalui proses-proses
alam dan aktivitas manusia.
Kegiatan utama manusia yang meningkatkan konsentrasi kromium (III) yang
meracuni kulit dan manufaktur tekstil. Kegiatan utama manusia yang meningkatkan kromium
(VI) konsentrasi kimia, kulit dan manufaktur tekstil, elektro lukisan dan kromium (VI) aplikasi
dalam industri. Aplikasi ini terutama akan meningkatkan konsentrasi kromium dalam air.
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

Melalui kromium pembakaran batubara juga akan berakhir di udara dan melalui
pembuangan limbah kromium akan berakhir di tanah.
Sebagian besar kromium di udara pada akhirnya akan menetap dan berakhir di
perairan atau tanah. Kromium dalam tanah sangat melekat pada partikel tanah dan sebagai
hasilnya tidak akan bergerak menuju tanah. Kromium dalam air akan menyerap pada
endapan dan menjadi tak bergerak.Hanya sebagian kecil dari kromium yang berakhir di air
pada akhirnya akan larut.
Kromium (III) merupakan unsur penting untuk organisme yang dapat mengganggu
metabolisme gula dan menyebabkan kondisi hati, ketika dosis harian terlalu rendah.
Kromium (VI) adalah terutama racun bagi organisme.Dapat mengubah bahan genetik dan
menyebabkan kanker.
Tanaman mengandung sistem yang mengatur kromium-uptake harus cukup rendah
tidak menimbulkan bahaya. Tetapi ketika jumlah kromium dalam tanah meningkat, hal ini
masih dapat mengarah pada konsentrasi yang lebih tinggi dalam tanaman. Peningkatan
keasaman tanah juga dapat mempengaruhi pengambilan kromium oleh tanaman. Tanaman
biasanya hanya menyerap kromium (III). Ini mungkin merupakan jenis penting kromium,
tetapi ketika konsentrasi melebihi nilai tertentu, efek negatif masih dapat terjadi.
Kromium tidak diketahui terakumulasi dalam tubuh ikan, tetapi konsentrasi tinggi
kromium, karena pembuangan produk-produk logam di permukaan air, dapat merusak
insang ikan yang berenang di dekat titik pembuangan.
Pada hewan, kromium dapat menyebabkan masalah pernapasan, kemampuan yang
lebih rendah untuk melawan penyakit, cacat lahir, infertilitas dan pembentukan tumor.

b. Pengurangan Kadar Chromium Hexavalen yang menuju badan air
Dengan semakin pesatnya perkembangan industri dan semakin ketatnya peraturan
mengenai limbah industri serta tuntutan untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan
lingkungan, maka teknologi pengolahan limbah yang efektif dan efisien menjadi sangat
penting. Salah satu limbah yang berbahaya adalah limbah logam berat Chromium (VI) yang
biasanya berasal dari industri pelapisan logam (electroplating), industri cat/pigmen dan
industri penyamakan kulit (leather tanning). Limbah Cr(VI) menjadi populer karena sifat alam
dalam 2 bentuk oksida, yaitu oksida Cr(III) dan Cr(VI). Uniknya, hanya Cr(VI) yang bersifat
karsinogenik sedangkan Cr(III) tidak. Tingkat toksisitas Cr(III) hanya sekitar 1/100 kalinya
Cr(VI). Bahkan dari penelitian lebih lanjut, ternyata Cr(III) merupakan suatu jenis nutrisi yang
dibutuhkan tubuh manusia dengan kadar sekitar 50-200 g/hari. Cr(VI) mudah larut dalam
air dan membentuk divalent oxyanion yaitu cromate (CrO
4
2-
) dan dichromate (Cr
2
O
7
2-
),
sedangkan Chromium trivalent/Cr(III) mudah diendapkan atau diabsorbsi oleh senyawa-
senyawa organik dan anorganik pada pH netral atau alkalin. Dengan demikian Cr(VI) harus
direduksi menjadi Cr(III) untuk menurunkan tingkat toksisitasnya. Beberapa upaya
pengolahan limbah Cr(VI) yang telah dilakukan seperti reduksi kimia, ion exchange, adsorpsi
dengan batu bara atau karbon aktif dan reduksi dengan bantuan bakteri memiliki kelemahan
yaitu diperlukannya energi yang sangat tinggi dan/atau bahan kimia yang sangat banyak.
Kandungan Chrom pada limbah industri pelapisan logam bervariasi dari 15 300
ppm, tergantung dari jenis dan cara prosesnya. (Djarwanti, 1985)
Cr (VI) dapat direduksi menjadi Cr (III) dengan menggunakan bahan kimia. Bahan
kimia yang sering digunakan adalah belerang dioksida (SO
2
), Ferro Sulfat (FeSO
4
) dan
Natrium bisulfit (NaHSO
3
).
Reaksi reduksi dengan menggunakan SO
2
adalah sebagai berikut :
2 SO
2
+ O
2
+ 2 H
2
O 2 H
2
SO
4

3 SO
2
+ Cr
2
O
7
2-
+ 2 H
+
Cr
2
(SO
4
)
3
+ H
2
O

Reaksi reduksi menggunakan NaHSO
3
adalah sebagai berikut :
2 H
2
CrO
4
+ 6 H
+
+ 3 NaHSO
3
2 Cr
2
(SO
4
)
3
+ 3 NaHSO
4
+ 5 H
2
O

ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

Reaksi dengan FeSO
4
adalah sebagai berikut :
2 H
2
CrO
4
+ 6 FeSO
4
+ 6 H
2
SO
4
Cr
2
(SO
4
)
3
+ 3 Fe
2
(SO
4
)
3
+ 8 H
2
O

Dalam proses reduksi dengan menggunakan bahan kimia, reaksi berjalan dengan
baik pada pH 1 2.
Endapan yang terbentuk lebih banyak apabila digunakan FeSO
4
dibandingkan
dengan SO
2
dan NaHSO
3
sebagai bahan pereduksi.
Pada proses reduksi krom akan terjadi reaksi redoks. Jika FeSO4 dipakai rebagai
reduktor maka Fe (II) akan teroksidasi menjadi Fe (III), sedangkan Cr(VI) tereduksi menjadi
Cr(III). Reduksi Cr(VI) menjadi Cr(III) ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari coklat
kemerahan(orange) menjadi hijau. Dalam proses reduksi yang perlu diperhatikan adalah
faktor pH, karena reduksi krom sangat efektif dalam suasana asam (pH 1 - 2).
Menurut Qin G dkk (2005), penghilangan Cr(VI) dengan mereduksi menjadi Cr(III)
menggunakan ion Fe(II) sering digunakan pada industri pengolahan krom untuk jarak
konsentrasi dalam satuan miligram/liter. Bahkan baru-baru ini juga telah dilakukan penelitian
untuk teknik pengolahan air minum pada kadar 100 g/L.
Proses pertukaran ion (ion exchange) hanya digunakan pada industri-industri
pelapisan logam dengan menggunakan kromat tinggi sehingga ekonomis bila air buangan
digunakan kembali. Keuntungan dari proses ini adalah air bisa didapatkan kembali dan tidak
menghasilkan lumpur krom yang harus ditangani lebih lanjut (Djarwanti, 1985).

c. Analisa Chrom dengan metode ICP
Inductively Couple plasma merupakan spektroskopi nyala untuk menganalisa unsur
logam dalam suatu bahan.Bahan yang akan dianalisa harus berwujud larutan yang
homogen.Ada sekitar 80 unsur yang dapat dianalisa dengan menggunakan alat ini.Kelebihan
alat ini adalah sangat selektif dan dapat digunakan untuk mengukur beberapa unsur
sekaligus didalam sampel pada saat pengukuran.
Instrumen ICP-MS mengukur sebagian besarunsur-unsur dalam tabel periodik.
Unsur-unsur ditampilkan dalam warna dapat dianalisis dengan ICP-MS dengan deteksi
limitsa pada atau di bawah kisaran pptb. Elemen yang ada di putih yang baik tidak diukur
dengan ICP-MS (sisi kanan atas) atau tidak memiliki isotop alami. Kebanyakan analisis
dilakukan pada ICP-MS instrumentasi kuantitatif, namun juga dapat berfungsi sebagai
sangat baik semi-kuantitatif instrumen. Dengan menggunakan paket perangkat lunak semi-
kuantitatif, suatu sampel dapat dianalisis untuk 80 elemen dalam tiga menit, menyediakan
semi-kuantitatif data yang biasanya dalam 30% dari nilai kuantitatif. Untuk alasan yang
sering melibatkan kesehatan manusia, mengetahui komposisi isotop sampel dapat sangat
penting. Dari tiga teknik yang disebutkan ke titik ini, hanya ICP-MS digunakan secara rutin
untuk menentukan komposisi isotop.
Prinsip Kerja ICP-MS
Sampel dimasukkan ke dalam plasma argon sebagai tetesan aerosol. Plasma
mengering aerosol, memisahkan yang mol-ecules, dan kemudian menghapus elektron dari
komponen, sehingga membentuk ion bermuatan tunggal, yang diarahkan ke sebuah
perangkat yang dikenal sebagai penyaringan massa spektrometer massa. Paling komersial
ICP-MS sistem menggunakan spektrometer massa quadrupole yang cepat memindai
rentang massa. Pada waktu tertentu, hanya satu massa-untuk-biaya rasio akan diizinkan
untuk melewati spektrometer massa dari pintu masuk ke keluar.
Setelah keluar dari spektrometer massa, ion pemogokan dynode pertama dari sebuah
pengganda elektron, yang berfungsi sebagai detektor. Dampak dari ion melepaskan kaskade
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

elektron, yang diperkuat sampai mereka menjadi pulsa terukur. Perangkat lunak ini
membandingkan intensitas dari pulsa diukur kepada mereka dari standar, yang membentuk
kurva kalibrasi, untuk menentukan konsentrasi elemen.
Untuk setiap elemen yang diukur, itu biasanya diperlukan untuk mengukur hanya
satu isotop, karena rasio isotop, atau kelimpahan alam, adalah tetap di alam. Ini dapat
membantu untuk merujuk kembali pada Gambar 1 di mana Anda akan melihat bargraph
sederhana untuk setiap elemen. The bar menggambarkan jumlah dan kelimpahan relatif dari
isotop alami untuk elemen, yang kadang-kadang disebut sebagai sidik jari isotop elemen.
Jika Anda perhatikan, sebelumnya dalam ayat ini, kata "biasanya" dipakai karena ada unsur
yang tidak mengikuti aturan kelimpahan alam: timbal (Pb). Memimpin alami berasal dari dua
sumber - beberapa yang ditempatkan di sini ketika bumi lahir dan beberapa adalah hasil dari
peluruhan bahan radioaktif. Hal ini menciptakan situasi di mana rasio isotop timbal dapat
bervariasi tergantung pada sumber memimpin. Untuk memastikan bahwa weaccurately
mengukur konsentrasi timbal dalam sampel, maka perlu untuk jumlah beberapa isotop yang
tersedia.
ICP-MS dapat digunakan untuk mengukur isotop dari setiap elemen individu;
kemampuan ini membawa nilai ke laboratorium tertarik pada salah satu isotop unsur tertentu
atau dalam rasio antara dua isotop unsur.
ICP-MS terdiri dari komponen sebagai berikut:
Contoh sistem pengenalan - terdiri dari nebulizer dan ruang semprot dan menyediakan
sarana sampel masuk ke instrumen
ICP obor dan kumparan RF - menghasilkan plasma argon, yang berfungsi sebagai
sumber ion ICP-MS
Antarmuka - link tekanan atmosfer ICP sumber ion untuk spektrometer massa vakum
tinggi
Sistem Vacuum - menyediakan vakum tinggi untuk optik ion, quadrupole, dan detektor
Tabrakan sel / reaksi - mendahului spektrometer massa dan digunakan untuk
menghilangkan gangguan yang dapat menurunkan deteksi batas tercapai. Hal ini
dimungkinkan untuk memiliki sel yang dapat digunakan baik dalam sel tabrakan dan
mode reaksi sel, yang disebut sebagai sel yang universal
Ion optik - panduan ion-ion yang diinginkan ke quadrupole sementara memastikan
bahwa spesies netral dan foton dibuang dari berkas ion
Massa spektrometer - bertindak sebagai filter untuk memilah ion massa oleh massa-
untuk-biaya rasio (m / z)
Detektor - jumlah ion individu yang keluar quadrupole
Penanganan data dan pengendali sistem - mengendalikan semua aspek kontrol
instrumen dan data penanganan untuk mendapatkan akhir konsentrasi.
analisis kuantitatif
ICP-MS secara akurat menentukan berapa banyak elemen tertentu dalam bahan
yang dianalisis. Dalam analisis kuantitatif yang khas, konsentrasi setiap elemen ditentukan
dengan membandingkan jumlah diukur untuk isotop yang dipilih kekurva kalibrasi eksternal
yang dihasilkan untuk elemen itu.
Standar kalibrasi cair disusun dengan cara yang sama seperti yang digunakan dalam
AA dan ICP-OES analisis. Standar-standar ini dianalisis untuk menetapkan kurva kalibrasi.
yang tidak diketahui sampel kemudian jalankan, dan intensitas sinyal dibandingkan dengan
kurva kalibrasi untuk menentukan konsentrasi yang tidak diketahui.
ENVIRONMENT HEALTH AND SAFETY DEPARTEMENT
PT. VALE INDONESIA Tbk

d. Jenis-jenis limbah industri
Secara lengkap kita akan mengenal berbagai jenis limbah dari bentuknya
diantaranya bisa berupa limbah padat, limbah cair dan limbah gas maupun partikel. Lebih
jelasnya terurai di bawah ini
d.1. Jenis Limbah Padat
Limbah padat adalah limbah yang berbentuk padat yang mana ada yang mudah
terurai seperti limbah organis semisal sampah daun dan limbah padat yang tak mudah
terurai seperti plastik, kaca dan sebagainya.
d.2. Jenis Limbah Cair
Limbah cair adalah limbah yang berupa cairan dan biasanya jenis limbah cair ini
sangat riskan mencemari lingkungan sehingga dikenal sebagai entitas pencemar air dan
tanah. Untuk skala industri limbah cair umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan
buangan organik dan bahan buangan anorganik sisa dari hasil produksi sedang limbah yang
biasa dihasilkan oleh rumah tangga / domestik dapat berupa air kotor dari pemakian mandi,
cuci dan toilet.
d.3. Jenis Limbah Gas dan Partikel
Limbah gas dan partikel merupakan limbah yang biasa terdapat di udara. Untuk
kategori limbah ini banyak dihasilkan oleh industri dan pabrik besar. Jenis limbah partikel
bisa berupa asap, kabut maupun debu sedang untuk gas apabila kandungannya dalam
udara telah melebihi batas maksimum dapat diartikan sebagai limbah suatu missal CO2
yang berlebihan dari hasil pembakaran pabrik dan industri
d.4. Jenis Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Yang terakhir dan harus digaris bawahi adalah jenis limbah B3 yang mana limbah ini
merupakan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Bila suatu limbah
memenuhi salah satu karakter yang mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif,
beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif maka limbah ini masuk dalam jenis limbah B3
yang harus cepat ditangani.