Anda di halaman 1dari 81

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.

indd, Flat 1 of 20 - Pages (1, 8, 4, 5) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 2 of 20 - Pages (7, 2, 6, 3) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 2 of 20 - Pages (7, 2, 6, 3) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 1 of 20 - Pages (1, 8, 4, 5) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 1 of 20 - Pages (1, 8, 4, 5) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 2 of 20 - Pages (7, 2, 6, 3) 8/14/2009 6:36 PM

Diagram I.1

Bagan Organisasi DJP


DIREKTORAT JENDERAL
PAJAK
TENAGA PENGKAJI
1. TP. BID. PEMBINAAN DAN PENERTIBAN SUMBER DAYA
MANUSIA
2. TP. BID. PENGAWASAN DAN PENEGAKAN HUKUM PERPA-

SEKRETARIAT DIREKTORAT
JENDERAL

JAKAN
3. TP. BID. PELAYANAN PERPAJAKAN
4. TP. BID. EKSTENSIFIKASI DAN INTENSIFIKASI PAJAK

PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN


DOKUMEN PERPAJAKAN

KANTOR WILAYAH

DIREKTORAT
1. DIT. PERATURAN PERPAJAKAN I

1. KANWIL DJP WAJIB PAJAK BESAR


2. KANWIL DJP JAKARTA KHUSUS
3. KANWIL DJP NAD
4. KANWIL DJP SUMATERA UTARA I
5. KANWIL DJP SUMATERA UTARA II
6. KANWIL DJP RIAU DAN KEP. RIAU
7. KANWIL DJP SUMATERA BARAT DAN JAMBI
8. KANWIL DJP SUMSEL DAN KEP. BABEL
9. KANWIL DJP BENGKULU DAN LAMPUNG
10. KANWIL DJP JAKARTA PUSAT
11. KANWIL DJP JAKARTA BARAT
12. KANWIL DJP JAKARTA SELATAN
13. KANWIL DJP JAKARTA TIMUR
14. KANWIL DJP JAKARTA UTARA
15. KANWIL DJP BANTEN
16. KANWIL DJP JAWA BARAT I
17. KANWIL DJP JAWA BARAT II
18. KANWIL DJP JAWA TENGAH I
19. KANWIL DJP JAWA TENGAH II
20. KANWIL DJP DI YOGYAKARTA
21. KANWIL DJP JAWA TIMUR I
22. KANWIL DJP JAWA TIMUR II
23. KANWIL DJP JAWA TIMUR III
24. KANWIL DJP KALIMANTAN BARAT
25. KANWIL DJP KALSELTENG
26. KANWIL DJP KALIMANTAN TIMUR
27. KANWIL DJP SULSELBARTRA
28. KANWIL DJP SULUTTENGGO DAN MALUT
29. KANWIL DJP BALI
30. KANWIL DJP NUSA TENGGARA
31. KANWIL DJP PAPUA DAN MALUKU

2. DIT. PERATURAN PERPAJAKAN II


3. DIT. PEMERIKSAAN DAN PENAGIHAN
4. DIT. INTELIJEN DAN PENYIDIKAN
5. DIT. EKSTENSIFIKASI DAN PENILAIAN
6. DIT. KEBERATAN DAN BANDING
7. DIT. POTENSI, KEPATUHAN, DAN PENERIMAAN
8. DIT PENYULUHAN, PELAYANAN, DAN HUBUNGAN
MASYARAKAT
9. DIT. TEKNOLOGI INFORMASI PERPAJAKAN
10. DIT. KEPATUHAN INTERNAL DAN TRANSFORMASI
SUMBER DAYA APARATUR
11. DIT. TRANSFORMASI TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN
INFORMASI
12. DIT. TRANSFORMASI PROSES BISNIS

Diagram I.2

Bagan Organisasi Kanwil DJP Wajib Pajak Besar dan Kanwil DJP Jakarta Khusus
KANTOR WILAYAH

BAGIAN UMUM

SUBBAGIAN
KEPEGAWAIAN

SUBBAGIAN
KEUANGAN

BIDANG
PEMERIKSAAN,
PENYIDIKAN
DAN
PENAGIHAN
PAJAK

BIDANG
PENYULUHAN,
PELAYANAN
DAN HUBUNGAN
MASYARAKAT

SEKSI
DUKUNGAN
TEKNIS
KOMPUTER

SEKSI
BIMBINGAN
PEMERIKSAAN

SEKSI
BIMBINGAN
PENYULUHAN

SEKSI
KEBERATAN DAN
BANDING I

SEKSI
BIMBINGAN
KONSULTASI

SEKSI
ADMINISTRASI
PENYIDIKAN

SEKSI
BIMBINGAN
PELAYANAN

SEKSI
KEBERATAN DAN
BANDING II

SEKSI
BIMBINGAN
PENAGIHAN

SEKSI
HUBUNGAN
MASYARAKAT

SEKSI
KEBERATAN DAN
BANDING III

BIDANG
DUKUNGAN
TEKNIS DAN
KONSULTASI

SEKSI
DATA DAN
POTENSI

KPP WP BESAR
ATAU
KPP MADYA

BIDANG
KEBERATAN
DAN BANDING

SUBBAGIAN
BANTUAN HUKUM
DAN PELAPORAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA D AN
RUMAH TANGGA

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

SEKSI
KEBERATAN DAN
BANDING IV

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

Diagram I.3

Bagan Organisasi Kanwil DJP


Selain Kanwil DJP Wajib Pajak Besar dan Kanwil DJP Jakarta Khusus
KANTOR WILAYAH

BAGIAN UMUM

SUBBAGIAN
KEPEGAWAIAN

BIDANG
BIDANG
PEMERIKSAAN,
PEMERIKSAAN,
PENYIDIKAN,
PENYIDIKAN
DAN
DAN
PENAGIHAN
PENAGIHAN
PAJAK
PAJAK

BIDANG
BIDANG
KERJA SAMA,
KERJASAMA,
EKSTENSIFIKASI,
EKSTENSIFIKASI
DAN PENILAIAN

BIDANG
BIDANG
DUKUNGAN
DUKUNGAN
TEKNIS DAN
TEKNIS
DAN
KONSULTASI
KONSULTASI

DAN PENILAIAN

SUBBAGIAN
BANTUAN HUKUM
DAN PELAPORAN

SUBBAGIAN
KEUANGAN

BIDANG
BIDANG
PENYULUHAN,
PENYULUHAN,
PELAYANAN,
PELAYANAN
DANHUBUNGAN
HUBUNGAN
DAN
MASYARAKAT
MASYARAKAT

SEKSI
KERJASAMA
PERPAJAKAN

SEKSI
BIMBINGAN
PEMERIKSAAN

SEKSI
BIMBINGAN
PENYULUHAN

SEKSI
BIMBINGAN
KONSULTASI

SEKSI
BIMBINGAN
EKSTENSIFIKASI

SEKSI
ADMINISTRASI
PENYIDIKAN

SEKSI
BIMBINGAN
PELAYANAN

SEKSI
PENGURANGAN,
KEBERATAN DAN
BANDING II

SEKSI
BIMBINGAN
PENAGIHAN

SEKSI
HUBUNGAN
MASYARAKAT

SEKSI
PENGURANGAN,
KEBERATAN DAN
BANDING III

SEKSI
DATA DAN
POTENSI

SEKSI
BIMBINGAN
PENDATAAN DAN
PENILAIAN

SEKSI
BIMBINGAN
PENGENAAN

KPP MADYA

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

BIDANG
BIDANG
PENGURANGAN,
PENGURANGAN,
KEBERATAN,
KEBERATAN
DAN BANDING
BANDING
DAN

SEKSI
DUKUNGAN
TEKNIS
KOMPUTER

SUBBAGIAN
TATA USAHA D AN
RUMAH TANGGA

SEKSI
PENGURANGAN,
KEBERATAN DAN
BANDING I

SEKSI
PENGURANGAN,
KEBERATAN DAN
BANDING IV

KPP PRATAMA

KP2KP

Diagram I.4

Bagan Organisasi KPP Wajib Pajak Besar dan KPP Madya


KANTOR P ELAYANAN PAJAK

SUBBAGIAN
UMUM
BAGIAN UMUM

SEKSI
PENGOLAHAN
DATA DAN
INFORMASI

SEKSI
PELAYANAN

SEKSI
PENAGIHAN

SEKSI
PENGAWASAN
DAN
KONSULTASI
I

SEKSI
PEMERIKSAAN

SEKSI
PENGAWASAN
DAN
KONSULTASI
II

SEKSI
PENGAWASAN
DAN
KONSULTASI
III

SEKSI
PENGAWASAN
DAN
KONSULTASI
IV

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

Diagram I.5

Bagan Organisasi KPP Pratama


KANTOR P ELAYANAN PAJAK

SUBBAGIAN
UMUM
BAGIAN UMUM

SEKSI
PENGOLAHAN
DATA DAN
INFORMASI

SEKSI
PELAYANAN

SEKSI
PENAGIHAN

SEKSI
EKSTENSIFIKASI
PERPAJAKAN

SEKSI
PEMERIKSAAN

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

SEKSI
PENGAWASAN DAN
KONSULTASI
I

SEKSI
PENGAWASAN DAN
KONSULTASI
II

SEKSI
PENGAWASAN DAN
KONSULTASI
III

SEKSI
PENGAWASAN DAN
KONSULTASI
IV

KP2KP

Diagram I.6

Bagan Organisasi KP2KP


KANTOR PELAYANAN,
PENYULUHAN DAN
KONSULTASI PERPAJAKAN

PETUGAS
TATAUSAHA

KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

Selain unit vertikal, DJP juga memiliki unit pelaksana teknis, yaitu Pusat Pengolahan Data dan
Dokumen Perpajakan (PPDDP)/Data Processing Center (DPC) yang bertugas melaksanakan
pengolahan data dan dokumen perpajakan.

Diagram I.7

Bagan Organisasi PPDDP


PUSAT
PENGOLAHAN DATA DAN
DOKUMEN PERPAJAKAN

BAGIAN UMUM

SUBBAGIAN
RUMAH TANGGA
DAN
KEPEGAWAIAN

BIDANG
PENYIMPANAN

SUBBAGIAN
TATA USAHA D AN
KEUANGAN

BIDANG
PEMINDAIAN
DOKUMEN DAN
PEREKAMAN DATA

DOKUMEN

SEKSI
PENGUMPULAN
DOKUMEN

SEKSI
PEMINDAIAN
DOKUMEN

SEKSI
PENYIMPANAN
DOKUMEN

SEKSI
PEREKAMAN DAN
TRANSFER DATA
KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 4 of 20 - Pages (15, 10, 14, 11) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 4 of 20 - Pages (15, 10, 14, 11) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 3 of 20 - Pages (9, 16, 12, 13) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 3 of 20 - Pages (9, 16, 12, 13) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 4 of 20 - Pages (15, 10, 14, 11) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 4 of 20 - Pages (15, 10, 14, 11) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 3 of 20 - Pages (9, 16, 12, 13) 8/14/2009 6:36 PM

Tabel II.2

Asumsi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2008


No

Asumsi Makro

Rencana 2008

Realisasi 2007

1.

Pertumbuhan ekonomi (%)

2.
3.
4.

Inflasi (%)
Tingkat bunga SBI rata-rata 3 bulan (%)
Nilai tukar (Rp/US$1)

5.

ICP (US$/barel)

6.

Lifting (juta barel/hari)

APBN

Realisasi 2008

APBN-P

6,3

6,8

6,4

6,2

6,6
8,0
9.140

6,0
7,5
9.100

6,5
7,5
9.100

11,1
9,3
9.692

69,7

60,7

95,0

96,8

0,899

1,034

0,927

0,931

Sumber : Laporan Penerimaan Direktorat Jenderal Perbendaharaan

3. Realisasi Penerimaan
Tahun 2008, pertumbuhan realisasi penerimaan pajak tanpa PPh Migas sebesar
29,27% dibandingkan dengan realisasi tahun 2007, sedangkan pertumbuhan realisasi
penerimaan pajak termasuk PPh Migas mencapai 33,99%.
Pertumbuhan per jenis pajak terdiri dari pertumbuhan penerimaan PPh Non Migas sebesar
28,63%, PPN dan PPnBM sebesar 35,09%, PBB dan BPHTB sebesar 4,66%, Pajak Lainnya
sebesar 10,61%, dan PPh Migas sebesar 75,03%.

Tabel II.3

Realisasi Penerimaan Pajak Tahun 2008


Jenis Pajak
PPh
1. Migas
2. Nonmigas
PPN dan PPn BM
PBB dan BPHTB
Pajak Lainnya
Total dengan PPh Migas
Total tanpa PPh Migas

Realisasi (Triliun Rupiah)


2007

Pertumbuhan
(%)

2008
238,74

327,49

37,18%

44,00
194,74
155,19
29,55
2,74
426,23
382,22

77,02
250,48
209,64
30,93
3,03
571,10
494,08

75,03%
28,63%
35,09%
4,66%
10,61%
33,99%
29,27%

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

13

4. Kinerja Penerimaan Pajak DJP 2003 2008


Metode yang digunakan DJP dalam menghitung kinerja penerimaan pajak adalah dengan
terlebih dahulu memperhitungkan pertumbuhan alami terhadap pertumbuhan penerimaan
DJP. Pertumbuhan alami diperoleh dengan cara mengalikan angka pertumbuhan
ekonomi dengan tingkat inflasi. Pada tahun 2008, pertumbuhan ekonomi tercatat
sebesar 6,2% sedangkan inflasi mencapai 11,06%. Dengan demikian, pertumbuhan
alami yang diperoleh adalah sebesar 17,95%.
Pada tahun 2008, kinerja penerimaan DJP
tanpa PPh Migas adalah sebesar 11,32%, lebih
tinggi dari rata-rata kinerja lima tahun terakhir
sebesar 6,50%. Angka tersebut diperoleh dari
pertumbuhan penerimaan selama tahun 2008
sebesar 29,27% setelah memperhitungkan
pertumbuhan alami sebesar 17,95%. Di
sisi lain, kinerja DJP termasuk PPh Migas
adalah sebesar 16,04%, yang diperoleh dari
pertumbuhan penerimaan selama tahun 2008

sebesar 33,99% setelah memperhitungkan


pertumbuhan alami sebesar 17,95%. Angka
pertumbuhan sebesar 16,04% tersebut
lebih tinggi dari rata-rata kinerja DJP lima
tahun terakhir yang hanya sebesar 6,70%.
Peningkatan kinerja DJP di atas merupakan
peningkatan kinerja tertinggi yang pernah
dicapai sejak lima tahun terakhir.

Tabel II.4

Kinerja Penerimaan Pajak Tahun 2003 - 2008


NO

14

URAIAN

2003

2004

2005

2006

Rata-rata
2003 - 2007

2007

2008

Penerimaan Dalam Negeri (triliun rupiah)

340,93

403,10

493,92

636,15

706,11

979,52

Total Penerimaan Perpajakan (triliun rupiah)

242,05

280,56

347,03

409,20

490,99

658,67

Total Penerimaan DJP teramsuk PPh Migas (triliun rupiah)

204,15

238,98

298,34

358,05

426,23

571,10

Penerimaan PPh Migas (triliun rupiah)

19,78

22,94

34,99

43,19

44,01

77,02

Penerimaan DPJ tanpa PPh Migas (triliun rupiah)

185,37

216,04

263,35

314,86

382,22

494,08

Pertumbuhan Pen. DJP termasuk PPh Migas (%)

15,86

17,06

24,84

20,01

19,04

19,36

33,99

Pertumbuhan Pen. DJP tanpa PPh Migas (%)

16,46

16,55

21,90

19,56

21,39

19,17

29,27

Pertumbuhan Ekonomi (%)

4,10

5,00

5,60

5,60

6,30

6,20

Inflasi (%)

5,06

6,40

17,10

6,80

6,59

11,06

10

Pertumbuhan Alami Pen. DJP (%)

9,37

11,72

16,16

12,78

13,31

12,67

17,95

11

Peningkatan Kinerja Pend. DJP termasuk PPh Migas (%)

6,50

5,34

8,68

7,23

5,74

6,70

16,04

12

Peningkatan Kinerja Pen. DJP tanpa PPh Migas (%)

7,09

4,83

5,74

6,78

8,09

6,50

11,32

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 6 of 20 - Pages (23, 18, 22, 19) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 5 of 20 - Pages (17, 24, 20, 21) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 5 of 20 - Pages (17, 24, 20, 21) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 6 of 20 - Pages (23, 18, 22, 19) 8/14/2009 6:36 PM

Keuntungan Layanan Kring Pajak 500200:


1. Jangkauan Luas, dapat diakses dari manapun oleh berbagai pihak
dengan menggunakan telepon.
2. Murah, merupakan layanan pulsa lokal dari telepon sehingga terjangkau oleh
semua lapisan masyarakat.
3. Mudah Diingat, dengan nomor telepon 021-500200.
Waktu Layanan Kring Pajak 500200:

Masyarakat dapat menghubungi petugas Kring Pajak 500200 mulai


pukul 08.00 sampai dengan 16.30 WIB. Di luar waktu tersebut, masyarakat akan
dilayani oleh mesin interaktif/Interactive Voice Response (IVR).
Jenis Layanan Kring Pajak 500200:
1.
2.
3.
4.
5.

Layanan Kurs Pajak


Layanan informasi Pajak Bumi dan Bangunan
Layanan pertanyaan tentang peraturan-peraturan Perpajakan
Layanan informasi alamat kantor, tarif pajak, kode MAP, dan lain-lain
Layanan pengaduan masyarakat/wajib pajak

Outbound Call Center yang berfungsi sebagai unit yang melakukan pengawasan untuk
meningkatkan kepatuhan wajib pajak, idealnya melaksanakan kegiatan:
penanganan wajib pajak terdaftar yang tidak menyampaikan SPT (wajib pajak non-filer);
perluasan basis subjek dan objek pajak (program ekstensifikasi);
pelaksanaan survei kepada masyarakat/wajib pajak terkait dengan pelaksanaan kewajiban
perpajakan;
pengawasan dan penggalian potensi perpajakan (program intensifikasi); dan
proses penagihan.
Untuk tahun 2008, kegiatan yang telah dilaksanakan Outbound Call Center adalah
penanganan wajib pajak non-filer, pelaksanaan program ekstensifikasi, dan pelaksanaan
survei.

4. Program PINTAR
Sebagai kelanjutan dari proses reformasi administrasi perpajakan, DJP telah mempersiapkan
modernisasi tahap kedua melalui program PINTAR. Program ini merupakan program
penyempurnaan sistem administrasi perpajakan yang meliputi pengembangan sistem dan
proses bisnis perpajakan, manajemen sumber daya manusia, kepatuhan perpajakan, dan
manajemen perubahan.
Penyempurnaan sistem administrasi perpajakan secara komprehensif melalui program
PINTAR bertujuan:
meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak; dan
memperbaiki tata kelola administrasi perpajakan dengan memperkuat mekanisme
transparansi dan akuntabilitas di DJP.

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

19

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 5 of 20 - Pages (17, 24, 20, 21) 8/14/2009 6:36 PM

Terhadap pegawai yang diduga melanggar kode etik atau peraturan disiplin dengan ancaman
hukuman disiplin tingkat berat akan diproses oleh pihak eksternal yaitu Inspektorat Bidang
Investigasi (IBI) Inspektorat Jenderal, Departemen Keuangan. Sedangkan terhadap pelanggaran
yang diancam dengan hukuman disiplin tingkat ringan dan sedang akan diproses oleh pihak
internal yaitu Direktorat KITSDA atau unit vertikal yang merupakan atasan langsung dari pegawai
yang diduga melakukan pelanggaran.
Sebagai institusi yang melaksanakan pelayanan publik, DJP memiliki kepentingan untuk
mengetahui sampai sejauh mana kualitas pelayanan yang telah diberikan memenuhi harapan
stakeholders DJP, yakni pemerintah, masyarakat, dan pegawai DJP. Penilaian stakeholders
terhadap pelayanan DJP tercermin dari berbagai survei yang dilakukan antara lain oleh
Departemen Keuangan bersama dengan Lembaga Psikologi Terapan (LPT) Universitas
Indonesia dan Transparansi Internasional Indonesia.

1. Survei Opini
Survei Opini mencakup tiga survei yaitu Survei Opini Pegawai, Survei Opini Pelanggan, dan
Survei Opini Publik terhadap lembaga pelayanan publik di Departemen Keuangan. Survei
tersebut dilaksanakan di Jakarta, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Timur dan
Sulawesi Selatan.
Survei Opini Pegawai bertujuan untuk memperoleh gambaran penilaian antara harapan dan
kenyataan pegawai DJP terhadap kondisi DJP setelah modernisasi. Secara umum pegawai
DJP merasa puas terhadap tiga belas komponen yang disurvei.
Dari Survei Opini Pegawai diketahui pula bahwa harapan pegawai terhadap komponen
pengelolaan sumber daya manusia dan remunerasi masih lebih tinggi dari kenyataannya.
Diagram III.1

Survei Opini Pegawai DJP


Belum Puas

Cukup Puas

Puas
Gap 1

n = 6047

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

21

Survei Opini Pelanggan DJP dilakukan kepada wajib pajak dengan indikator survei berupa
keterbukaan atau kemudahan akses terhadap informasi termasuk persyaratan dan
prosedur, sikap dan ketrampilan petugas, akses terhadap layanan dan hasil akhir layanan.
Hasil menunjukkan 62,78% responden menyatakan puas, 30,83% responden menyatakan
cukup puas dan sisanya menyatakan belum puas.
Diagram III.2

Survei Opini Pelanggan terhadap DJP

100%
80%
60%
40%
Puas

20%

Cukup Puas

0%

Tidak Puas
Pendaftaran Permohonan
MPWP
PKP

Restitusi
PPN

Penerbitan
SPMKP

Keberatan Pembebasan
Penetapan
PPh Impor
Pajak

SKB PPh
Impor

Pengurangan
PBB

Laporan
Bulanan

Lainnya

Pada Survei Opini Publik terhadap Lembaga Pelayanan Publik di Departemen Keuangan
termasuk DJP, hasil menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang masih harus ditingkatkan
atas pelayanan publik yaitu antara lain informasi layanan yang diberikan oleh Departemen
Keuangan, penerapan sistem dan prosedur yang masih tidak sesuai, sosialisasi kebijakan
yang kurang intensif, dan budaya kerja dan organisasi yang harus dibangun.

2. Survei Indeks Suap


Kantor Pajak Negara, yang dalam hal ini dapat dipersamakan dengan DJP, merupakan salah
satu dari lima belas institusi publik yang diukur tingkat kecenderungan terjadinya suap oleh
Transparency International Indonesia. Pada tahun 2008, DJP menempati peringkat 13 dari
15 institusi publik yang disurvei. Peringkat satu menunjukkan institusi dengan tingkat interaksi
suap tertinggi. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa DJP memiliki tingkat interaksi suap
yang sangat rendah, yang berarti bahwa prinsip good governance telah dilaksanakan di
DJP.

22

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

Diagram III.3
INDEKS SUAP 15 INSTITUSI PUBLIK DI INDONESIA DAN
RATA-RATA JUMLAH UANG YANG DIBAYARKAN PER TRANSAKSI

Polisi (n=1218)

48%

Rp2.273.000

Bea Cukai (n=423)

41%

Rp3.272.000

Imigrasi (n=363)

34%

Rp2.807.000

DLLAJR (n=774)

33%

Rp1.543.000

Pemda Kota (n=1857)

33%

Rp4.219.000

Badan Pertanahan Nasional (n=518)

32%

Rp7.555.000

Pelindo (n=425)

30%

Rp2.678.000

Pengadilan (n=204)

30%

Rp102.421.000

Departemen Hukum dan HAM (n=431)

21%

Rp3.953.000

Angkasa Pura (n=357)

21%

Rp2.059.000

Kantor Pajak Daerah/Retribusi (n=2159)

17%

Rp4.709.000

Departemen Kesehatan (n=598)

15%

Rp5744.000

BPOM (n=387)

14%

Rp4.438.000

MUI (n=177)

10%

Rp1.678.000

Kantor Pajak Negara (n=2005)

14%

Rp8.502.000

Sumber : TRANSPERANCY INTERNATIONAL INDONESIA


the global coalition against corruption

C. Rencana Strategis
Sebagaimana telah disampaikan secara garis besar pada Bab I Pendahuluan,
Rencana Strategis DJP Tahun 2008-2012 merupakan dokumen perencanaan yang
berisi visi, misi, nilai, tujuan, sasaran, strategi, program dan indikator kinerja DJP
untuk periode lima tahun mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2012. Penyusunan
Rencana Strategis DJP mengacu kepada Rencana Strategis Departemen Keuangan
Tahun 2005-2009, dengan memperhatikan harapan stakeholders serta kondisi
internal maupun eksternal DJP.
Melalui Rencana Strategis DJP 2008-2012, DJP menetapkan empat tujuan strategis beserta
sasarannya masing-masing, yaitu:
1. Peningkatan pelayanan perpajakan, dengan sasaran yang ingin dicapai yaitu meningkatkan
kualitas pelayanan, efektivitas penyuluhan, dan efektivitas kehumasan. Program DJP yang
dijalankan pada tahun 2008 untuk pencapaian tujuan dan sasaran ini antara lain adalah
penyempurnaan modul pelayanan menggunakan teknologi informasi, pemantauan dan evaluasi
layanan unggulan, peningkatan jumlah dan fungsi pojok pajak dan mobil pajak keliling, dan
peningkatan frekuensi penayangan iklan layanan masyarakat di media cetak dan elektronik.
2. Peningkatan kepatuhan wajib pajak, dengan sasarannya yaitu mengefektifkan pengawasan
wajib pajak non-filer, meningkatkan kepatuhan wajib pajak melalui pembetulan SPT,
mengoptimalkan pelaksanaan penagihan dan kegiatan intelijen perpajakan, dan meningkatkan
efektivitas pemeriksaan dan penyidikan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut, di tahun

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

23

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 7 of 20 - Pages (25, 32, 28, 29) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 7 of 20 - Pages (25, 32, 28, 29) 8/14/2009 6:36 PM

Kampanye Sunset Policy


Kampanye Sunset Policy 2008
1. Tujuan Kampanye
a. Mengidentifikasi sasaran khusus sebagai target kampanye
b. Mengampanyekan Sunset Policy tepat sasaran (semua segmen)
c. Masyarakat banyak yang memanfaatkan Sunset Policy
2. Pokok-Pokok Kampanye yang Disampaikan
a. Prinsip self assessment
b. Keterbukaan
c. Data yang disampaikan WP dalam SPT Pembetulan dalam rangka Sunset Policy tidak dapat
dijadikan dasar pemeriksaan
d. WP harus memiliki NPWP, jika tidak, akan dikenakan tarif yang lebih tinggi (mulai berlakunya
UU PPh yang baru)
e. Sunset Policy adalah kesempatan yang baik agar dapat tidur nyenyak
3. Sasaran Kampanye
a. Sasaran Umum
- Seluruh masyarakat nasional dan regional yang dilakukan oleh KPDJP, Kanwil, dan KPP
- Kampanye di tempat-tempat keramaian massa (Gelora Bung Karno, Bundaran Hotel Indonesia,
dan tempat strategis lainnya di daerah)
- Iklan media elektronik dan cetak, pemasangan spanduk dan balon udara, dan penyebaran leaflet,
booklet, dan sticker
- Pojok Pajak bergerak
- Mobil Pajak keliling

b. Sasaran Khusus
- WP dalam rangka penggalian potensi dan perbaikan administrasi
- 200 WP besar OP
- KADIN
- PERBANAS dan HIMBARA
- Asosiasi profesi (IDI, IDAI, IDGI, Ikatan Advokat Indonesia, PPAT, PII, Ikatan Arsitek Indonesia,
IAI, dan ISEI)
- Pekerja seni komersial (PARSI, PARFI, komedian, penyanyi, musisi, sutradara, model, dan
peragawati)
- Komunitas hobi dan olah raga (DHCI, IMBI, PPMK, Ferrari, Ducati, kolektor lukisan, Lions Club,
klub menyelam, golf, dan menembak)
- Asosiasi pengusaha (HPMI, IWAPI, HIPPI, JCII)
- Anggota DPR RI
- Anggota DPD
- Pejabat Departemen/Kabinet Indonesia Bersatu
- Pejabat pemerintah daerah (Muspida Tk. I dan Muspida Tk. II)
- Pejabat TNI/Mabes TNI (AL, AU, dan AD)
- Kepolisian RI
- Departemen Keuangan
- Mahkamah Agung
- KPK, Komnas HAM, Komisi Yudisial
- Kejaksaan Agung

26

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 8 of 20 - Pages (31, 26, 30, 27) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 7 of 20 - Pages (25, 32, 28, 29) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 9 of 20 - Pages (33, 40, 36, 37) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 10 of 20 - Pages (39, 34, 38, 35) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 10 of 20 - Pages (39, 34, 38, 35) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 9 of 20 - Pages (33, 40, 36, 37) 8/14/2009 6:36 PM

BAB V
Manajemen
Sumber Daya Manusia
Selain perencanan, perekrutan, pembinaan, dan pengembangan sumber daya
manusia (SDM), aspek-aspek lain yang penting dalam manajemen SDM adalah
sistem remunerasi, pengukuran kinerja, serta sistem reward dan punishment.
Untuk meningkatkan kualitas SDM, DJP juga telah menetapkan nilai-nilai organisasi
untuk memberikan arahan mengenai budaya organisasi DJP yaitu Profesionalisme,
Integritas, Teamwork dan Inovasi (PASTI).

A. Kondisi Kepegawaian DJP


Jumlah pegawai DJP sampai dengan akhir tahun 2008 adalah 31.269 orang dengan
sebaran berdasarkan jenis kelamin, pendidikan, dan umur sebagai berikut:

Diagram V.1

Sebaran Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin

22%

Laki-laki
Perempuan

78%

Diagram V.2

Sebaran Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan


10.000

9.437

8.000

6.000

5.840

5.544
5.160

4.000

3.595

2.000
355

334

SD

SLTP

71

SMU

D-1

D-2

D-3

S-1

S-2

28

130

S-3

Lain-lain

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

33

Diagram V.3

Sebaran Pegawai Berdasarkan Pangkat/Golongan


7.000
6.339

6.000

JUMLAH KARYAWAN

5.014

5.000
3.900

4.000
3.396

3.190

3.138

3.000
2.343

2.277

2.000

1.000

550
4

230

27

38

15

23

)
na
ta

Tk
.I

(II

I/c

I/bc
(II

Pe

Pe

Pe

na
ta

Pe

(II
I/d
m
)
bi
n
m
Pe
a
bi
(IV
m
na
bi
/ab
na
Tk
)
.I
Pe
U
ta
(
m
IV
m
bi
/b
a
na
)
M
ud
U
ta
a
m
(IV
a
/c
M
)
ad
ya
((IIV
Vd/
d) )
La
in
-l
ai
n

)
I/ad
ud
a

Pe

Pe

na
ta

na
ta

Tk
.I

ud
a

(II

(II

/d

c)
II/

k.
I

tu
rT

ng
a

ng
a

Pe

ud
a

ng
a

Pe

Pe

(II

tu
r(

/b

/a
(II

Tk
.I

ud
a

tu
rM

tu
rM

ng
a
Pe

Ju
ru

d)
(I/

c)

Tk
.I

(I/

Ju
ru

((bI/
)b)

Ju
ru

(I/
M

Ju
ru

ud
a

ud
a

Tk
.I

a)

Diagram V.4

Sebaran Pegawai Berdasarkan Kelompok Usia


12000
10624

10231

10000

8000

6000

5558

3904

4000

2000

158

< 21 tahun

21 -30 tahun

31 - 40 tahun

41 - 50 tahun

> 50 tahun

Diagram V.5

Sebaran Pegawai Berdasarkan Jabatan


18000
15855

16000
14000
12000
10000
8000
6000

4872
4035

4000

3060

2000
567

an
a
ks
la

Si

ta

Pe

rC
to
pe
ra

Ju
r

on

ra
be
Ke
ah
la
ne
Pe

505

ta

so
l

i
al
on
ng
Fu

on
si
ng
Fu

si

al
P

re
s
tR
ep
un
co
Ac

Pe
ni

ik
em
er

ta
en

el
Es

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

la

sa

tiv
e

IV
on

III
Es

el

on

II
on
el
Es

34

555

299

551

46

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 10 of 20 - Pages (39, 34, 38, 35) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 9 of 20 - Pages (33, 40, 36, 37) 8/14/2009 6:36 PM

a. Internalisasi langsung melalui tatap muka baik dalam acara khusus internalisasi maupun
dengan memasukkan materi kode etik ke dalam kurikulum kelas-kelas diklat, workshop,
serta melalui outbond. Internalisasi dilakukan dengan metode Adult Learning Process
(ALP) sehingga pegawai tidak hanya memperoleh informasi satu arah, namun dapat terlibat
secara aktif dalam menggali kode etik dan nilai-nilai organisasi. Internalisasi secara langsung
dilaksanakan terhadap seluruh pegawai DJP, namun untuk tahun 2008 lebih difokuskan
bagi pegawai DJP di luar wilayah Jawa dan Bali, mengingat unit kantor di wilayah tersebut
baru menerapkan sistem administrasi perpajakan modern pada tahun 2008.
b. Internalisasi tidak langsung dilaksanakan melalui penerbitan buku saku Kode Etik dan buku
saku Pelayanan Prima, pembuatan leaflet, kalender, reminder, pemuatan materi kode etik
dan nilai-nilai organisasi pada aplikasi e-learning serta website DJP.
c. Internalisasi melalui pemantauan pada unit-unit vertikal untuk melihat secara langsung tingkat
kepatuhan pegawai terhadap berbagai ketentuan terkait kepatuhan pegawai. Untuk tahun
2008, kegiatan ini difokuskan pada unit-unit vertikal di wilayah Jawa dan Bali.

2. Penegakan Disiplin
Penegakan disiplin merupakan salah satu aspek pengelolaan pegawai yang bertujuan
untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas serta
menjamin dipatuhinya kode etik dan aturan disiplin oleh pegawai. Pengenaan hukuman
(penerbitan surat peringatan maupun keputusan penjatuhan hukuman disiplin) merupakan
hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh atasan pegawai, Direktorat Kepatuhan Internal dan
Transformasi Sumber Daya Aparatur (KITSDA), maupun Inspektorat Bidang Investigasi (IBI)
Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan. Pada tahun 2008, hukuman disiplin dijatuhkan
terhadap 406 pegawai yang terbukti melanggar ketentuan kepegawaian mulai dari yang
ringan seperti pelanggaran dalam menaati ketentuan jam kerja, sampai dengan yang berat
seperti penyalahgunaan wewenang.
Tabel V.1

Statistik Penjatuhan Hukuman Disiplin Pegawai Tahun 2007 - 2008

No

Hal

2007

Kenaikan

2008

Jumlah

Surat Peringatan I

65

109

44

67,69

Surat Peringatan II

26

24

-2

-7,69

Surat Peringatan III

14

22

57,14

Total Surat Peringatan

105

155

50

47,62

Hukuman Disi plin


1

Tingkat Ringan

36

98

62

172,22

Tingkat Sedang

37

61

24

64,86

Tingkat Berat

72

88

16

22,22

145

247

102

70,34

0,00

254

406

152

59,84

Total Hukuman Disi plin


Skorsing
Total

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

37

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 12 of 20 - Pages (47, 42, 46, 43) 8/14/2009 6:36 PM

B. Layanan Penyelesaian Sengketa Perpajakan


Untuk menjamin hak wajib pajak dalam menyelesaikan sengketa perpajakan,
wajib pajak dapat menggunakan haknya melalui prosedur keberatan, pembetulan,
pengurangan, pembatalan, penghapusan, banding, gugatan dan peninjauan kembali.
Proses yang diselesaikan di DJP adalah keberatan, pembetulan, pengurangan,
pembatalan, dan penghapusan ketetapan pajak. Sedangkan untuk proses banding
dan gugatan diselesaikan di Pengadilan Pajak. Proses peninjauan kembali dapat
diajukan wajib pajak atau DJP ke Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak.
1. Keberatan, Pembetulan, Pengurangan atau Pembatalan
Upaya hukum yang dapat ditempuh wajib pajak apabila tidak menyetujui penetapan pajak
adalah:
Keberatan atas suatu SKPKB, SKPKBT, SKPN, SKPLB, dan pemotongan atau
pemungutan oleh pihak ketiga (Pasal 25 UU KUP);
Pembetulan surat ketetapan pajak, STP dan surat keputusan karena adanya kesalahan
tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan (Pasal 16 UU KUP);
Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi yang dikenakan karena kekhilafan
wajib pajak atau bukan karena kesalahannya (Pasal 36 ayat (1) huruf a UU KUP);
Pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak benar (Pasal 36 ayat (1)
huruf b UU KUP);
Pengurangan atau pembatalan STP yang tidak benar (Pasal 36 ayat (1) huruf c UU
KUP).
Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan tersebut, DJP telah
menerbitkan suatu prosedur standar untuk penanganan dan penyelesaian permohonan
pembetulan, keberatan, pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi, dan pengurangan
atau pembatalan ketetapan pajak, yang digambarkan sebagai berikut:
Diagram VI.1

Prosedur Keberatan/Non Keberatan


Surat Keberatan/
Nonkeberatan diterima
di KPP

Penelitian formal dan


pemberitahuan persyaratan
formal oleh KPP

Penelitian formal dan


pemberitahuan persyaratan
formal oleh KPP

Penerbitan Surat Tugas

Pengiriman
Surat Pemberitahuan
Hasil Penelitian (SPHP) dan
undangan pembahasan
akhir

Penjelasan sengketa
dengan WP/Pemeriksa dan
dibuatkan Berita Acara

Permintaan data/penjelasan/
data tambahan kepada WP

Pembuatan matrik sengketa


Keberatan/Nonkeberatan

Pembahasan akhir hasil


penelitian dengan
WP dan dibuatkan
Berita Acara

Pembuatan Kertas Kerja


Penelitian Keberatan dan
Laporan Penelitian
Keberatan

Penerbitan
Surat Keputusan Keberatan/
Nonkeberatan

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

39

Penyelesaian pembetulan, keberatan, pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi,


pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak baik karena permohonan maupun secara
jabatan selama tahun 2008 secara nasional dapat diinformasikan sebagai berikut.

Diagram VI.2

Penyelesaian Proses Keberatan/Nonkeberatan PPh dan PPN secara Nasional Tahun 2008

.
.

BERKAS

.
.

.
.

.
.

an

Diagram VI.3

Penyelesaian Proses Keberatan/Nonkeberatan PBB dan BPHTB secara Nasional


Tahun 2008

50.000
.

45.000

40.000

BERKAS

35.000
30.000
25.000
20.000

15.000
10.000

5.000
0

40

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

.
.

2. Banding atau Gugatan


Wajib pajak yang tidak setuju dengan surat ketetapan atau surat keputusan yang diterbitkan
oleh DJP dapat mengajukan banding atau gugatan ke Pengadilan Pajak. Berdasarkan Pasal 27
UU KUP, wajib pajak dapat mengajukan permohonan banding atas Surat Keputusan Keberatan
yang diterbitkan oleh DJP. Sedangkan berdasarkan Pasal 23 ayat (2) UU KUP, gugatan diajukan
oleh wajib pajak atau penanggung pajak terhadap:
pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang;
keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak;
keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang ditetapkan
dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26; atau
penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang dalam penerbitannya
tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Pada tahun 2008, telah dilakukan persidangan banding atau gugatan di Pengadilan Pajak
terhadap 3.892 berkas permohonan, 2.289 berkas di antaranya diputus oleh Majelis Hakim
dan telah diterima putusannya oleh DJP dengan rincian sebagai berikut.
Tabel VI.1

Distribusi Putusan Banding dan Gugatan Berdasarkan Amar Putusan yang Diterima DJP Tahun 2008
Jenis Putusan

Banding

Gugatan

Jumlah

Menolak

157

116

273

Mengabulkan Sebagian

661

10

671

Mengabulkan Seluruhnya

668

32

700

Membatalkan

58

34

92

Membetulkan Salah Tulis/Hitung

49

52

296

200

496

Menambah

Dihapus

Tidak Dapat Diterima

3. Peninjauan Kembali
Dasar hukum Peninjauan Kembali (PK) adalah Pasal 77 ayat (3) UU Pengadilan Pajak yang
menyatakan bahwa Pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan peninjauan kembali
atas putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung.
Pengajuan PK ke Mahkamah Agung disampaikan dalam bentuk Memori PK, sedangkan
kewajiban menjawab DJP atas pengajuan Peninjauan Kembali oleh wajib pajak disampaikan
dalam bentuk Kontra Memori PK. Selama tahun 2008 DJP telah mengajukan PK sebanyak
114 dan Kontra Memori PK yang disampaikan sebanyak 184.
Dalam tahun 2008, DJP menerima Putusan PK dari Mahkamah Agung berjumlah 85 putusan.
Distribusi Putusan PK dari Mahkamah Agung berdasarkan jenis amar putusan dan tahun
diajukannya permohonan dapat disampaikan sebagai berikut.
Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

41

Diagram VI.4

Pengajuan Peninjauan Kembali dan Kontra Peninjauan Kembali (Kontra Memori)


ke Mahkamah Agung Tahun 2008
200
180

160
140

87

120

BERKAS

100
90
80
70

75

60

93

50
40
30

PBB/BPHTB

37

20

PPN

10
0

PPh
Memori PK

Kontra Memori PK

Diagram VI.5

Distribusi Putusan Peninjauan Kembali dari Mahkamah Agung


berdasarkan Asal Pemohon dan Amar Putusan yang Diterima DJP Tahun 2008
70
0

60

BERKAS

50
40

53

30
20

1
Membatalkan

10
0

18

Pemohon PK : DJP

13

Menolak
Mengabulkan

Pemohohon PK : WP

C. Layanan Call Center


Inbound Call Center melalui Kring Pajak 500200
merupakan jenis pelayanan pengaduan dan informasi
terkait masalah kode etik, peraturan perpajakan, dan
sarana yang dimiliki DJP. Pada tahun 2008, rata-rata
panggilan telepon ditangani adalah sebanyak 2.200
panggilan. Jumlah panggilan tersebut ditangani
oleh 25 orang petugas (rata-rata 90 panggilan per
petugas). Jenis layanan yang mulai dioperasikan di tahun 2008 ini sangat diminati
oleh masyarakat yang ditunjukkan dengan masih banyaknya panggilan telepon per
hari yang belum dapat ditangani petugas (800 sampai dengan 1.000 panggilan).
42

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 12 of 20 - Pages (47, 42, 46, 43) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 11 of 20 - Pages (41, 48, 44, 45) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 13 of 20 - Pages (49, 56, 52, 53) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 14 of 20 - Pages (55, 50, 54, 51) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 14 of 20 - Pages (55, 50, 54, 51) 8/14/2009 6:36 PM

Diagram VII.1

Penambahan Wajib Pajak Terdaftar Tahun 2005 - 2008

4.0
3.5
3,0
JUTA

2.5
2.0
1.5
1.0

Badan

0,5

Bendaharawan

Orang Pribadi
2005

2006

2007

2008

Jumlah Wajib Pajak terdaftar dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut.
Diagram VII.2

Jumlah Wajib Pajak Terdaftar Tahun 2004 - 2008

12
10

JUTAAN

8
6
4

Badan

Bendaharawan
Orang Pribadi

2004

2005

2006

2007

2008

2. Perluasan Basis Objek Pajak


Untuk memperluas basis objek PBB (coverage ratio) dilaksanakan kegiatan
pendataan melalui pembentukan basis data pada sistem informasi objek PBB
yang terdiri dari Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP) dan Sistem
Informasi Geografis Pajak Bumi dan Bangunan (SIG PBB).
Data yang terdapat dalam sistem informasi objek PBB di atas telah diintegrasikan
dengan peta blok. Atas data tersebut perlu dilakukan pemutakhiran dan pemeliharaan
basis datanya agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan yang dilaksanakan
dengan memanfaatkan peta blok dalam rangka perluasan basis objek pajak antara
lain monitoring wilayah kerja dan sebaran data NPWP, evaluasi subjek/wajib pajak
yang layak memperoleh NPWP, serta penentuan target pemberian NPWP.

48

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 13 of 20 - Pages (49, 56, 52, 53) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 14 of 20 - Pages (55, 50, 54, 51) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 14 of 20 - Pages (55, 50, 54, 51) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 13 of 20 - Pages (49, 56, 52, 53) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 15 of 20 - Pages (57, 64, 60, 61) 8/14/2009 6:36 PM

Diagram VIII.1

Jumlah Usulan Penyidikan

Penerbit Faktur Pajak Fiktif


Penggunaan Faktur Pajak Fiktif
Penggelapan Omzet
Transfer Pricing

Untuk mendukung kegiatan penyidikan, sepanjang tahun 2008 DJP telah bekerja sama
dengan instansi penegak hukum seperti PPATK, POLRI, dan KPK. Kerja sama tersebut meliputi
pendidikan, pelatihan, dan koordinasi kegiatan penyidikan.
Selama tahun 2008 jumlah berkas penyidikan yang telah selesai dan diserahkan ke kejaksaan
sebanyak 35 berkas. Jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh kasus yang disidik oleh
DJP dan telah disidangkan dan divonis oleh Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut:
Tabel VIII.1

Jumlah Penyelesaian Penyidikan dan Jumlah Kerugian Negara Akibat Kasus yang Disidik DJP
Jumlah Penyelesaian Penyidikan

Jumlah Kerugian Negara

Status
Tahun 2007
Penyidikan yang di proses

Tahun 2007
(Miliar Rp)

Tahun 2008

Tahun 2008
(Miliar Rp)

107

111

2.310,98

2.235,80

24

1.416,44

19

11

515,87

131,19

71,16

Jumlah penyidikan diselesaikan

21

35

587,03

1.547,64

Penyidikan diserahkan ke Pengadilan Negeri

10

11

276,53

182,56

Penyidikan divonis oleh Pengadilan Negeri

13

101,96

463,58

Penyidikan yang diselesaikan


- P 19 (berkas perkara masih perlu dilengkapi)
- P 21 (berkas perkara dinyatakan sudah lengkap)
- Penghentian Penyidikan

C. Penagihan
Kinerja penagihan dapat diukur dari jumlah tunggakan pajak yang dapat dicairkan. Kegiatan
penagihan berperan penting dalam pencapaian target penerimaan pajak secara nasional dan
berpengaruh pada peningkatan kepatuhan sukarela (voluntary compliance) wajib pajak.
Kegiatan penagihan DJP pada tahun 2006-2008 dapat dilihat pada grafik perkembangan
tunggakan dan pencairan piutang pajak berikut.

54

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

Diagram VIII.2

Perkembangan Piutang Pajak Tahun 2006 - 2008

50

45.17
45.17

TRILIUN
RUPIAH
TRILYUN
RUPIAH

32.28
32.28

31.91
31.91

2006

2007

2008

Pada akhir tahun 2008 jumlah saldo akhir piutang pajak mengalami peningkatan yang
diakibatkan adanya penurunan pencairan piutang pajak dan peningkatan penambahan piutang
pajak. Berdasarkan kondisi tersebut maka pada tahun 2008, DJP telah memfokuskan diri pada
beberapa hal antara lain validasi tunggakan pajak nasional, penyempurnaan kebijakan, fokus
dan strategi penagihan. Khusus untuk fokus dan strategi penagihan 2008, DJP melakukan
pemetaan terhadap keseluruhan tunggakan pajak secara nasional yang meliputi sebaran
wilayah, jenis usaha wajib pajak, sektor usaha, serta kriteria piutang pajak.

Strategi kegiatan penagihan yang diterapkan pada tahun 2008 adalah sebagai berikut:
Sita, Lelang, dan Blokir
Kegiatan sita pada tahun 2008 diprioritaskan pada penyitaan aset wajib pajak/penanggung
pajak berupa aset moneter seperti deposito, tabungan, saldo rekening koran, giro,
obligasi, saham, dan surat berharga lainnya, termasuk piutang atau tagihan kepada pihak
lain. Pemblokiran terhadap rekening wajib pajak merupakan tindakan yang sangat efektif
untuk mencairkan tunggakan pajak. Perkembangan kegiatan pemblokiran yang dilakukan
tahun 2006 sampai dengan 2008 dapat dilihat pada grafik berikut.
Diagram VIII.3

Perkembangan Kegiatan Pemblokiran Rekening Wajib Pajak Tahun 2006 - 2008

JUMLAH WAJIB PAJAK

1200

1109

1000

831

800
600
400
200

201

0
2006

2007

2008

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

55

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 15 of 20 - Pages (57, 64, 60, 61) 8/14/2009 6:36 PM

BAB IX
DJP dalam Pergaulan Internasional
DJP menaruh perhatian yang cukup besar terhadap perannya dalam komunitas
perpajakan internasional. Beberapa kegiatan yang cukup penting dilaksanakan dalam
lingkup pergaulan internasional diuraikan sebagai berikut.

A. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (Tax Treaty)


Sampai dengan tahun 2008, Indonesia memiliki jaringan tax treaty dengan 58 negara di dunia.
Tax treaty atau perjanjian bilateral di bidang perpajakan merupakan persetujuan penghindaran
pajak berganda yang tujuannya adalah untuk menghindari pengenaan pajak berganda (double
taxation) dan mencegah pengelakan pajak (tax evasion). Tax treaty memberikan manfaat bagi
investor seperti adanya kepastian hukum, mencegah perlakuan perpajakan yang diskriminatif
serta mencegah pengenaan pajak berganda. Khusus bagi investor domestik, tax treaty
bermanfaat untuk meningkatkan daya saing di kancah perdagangan internasional.
Sejak tanggal 1 Januari 2008, Indonesia dan Qatar memberlakukan tax treaty yang mengawali
era baru bagi bisnis dan investasi kedua negara. Fasilitas perpajakan yang termuat dalam tax
treaty disediakan untuk memajukan hubungan ekonomi Indonesia dan Qatar.
Diagram IX.1

Jaringan Tax Treaty Indonesia

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

57

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 16 of 20 - Pages (63, 58, 62, 59) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 16 of 20 - Pages (63, 58, 62, 59) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 15 of 20 - Pages (57, 64, 60, 61) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 17 of 20 - Pages (65, 72, 68, 69) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 18 of 20 - Pages (71, 66, 70, 67) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 18 of 20 - Pages (71, 66, 70, 67) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 17 of 20 - Pages (65, 72, 68, 69) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 17 of 20 - Pages (65, 72, 68, 69) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 18 of 20 - Pages (71, 66, 70, 67) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 18 of 20 - Pages (71, 66, 70, 67) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 17 of 20 - Pages (65, 72, 68, 69) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 19 of 20 - Pages (73, 80, 76, 77) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 20 of 20 - Pages (79, 74, 78, 75) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 20 of 20 - Pages (79, 74, 78, 75) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 19 of 20 - Pages (73, 80, 76, 77) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 19 of 20 - Pages (73, 80, 76, 77) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 20 of 20 - Pages (79, 74, 78, 75) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 20 of 20 - Pages (79, 74, 78, 75) 8/14/2009 6:36 PM

1502 AZWIR LAPORAN LAYOUT.indd, Flat 19 of 20 - Pages (73, 80, 76, 77) 8/14/2009 6:36 PM

DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM


DAFTAR DIAGRAM

DAFTAR TABEL

Diagram I.1

Bagan Organisasi DJP

Tabel II.1

15 Indikator Kinerja Utama DJP

Diagram I.2

Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

Diagram I.5

Bagan Organisasi Kanwil DJP Wajib Pajak Besar


dan Kanwil DJP Jakarta Khusus
Bagan Organisasi Kanwil DJP selain Kanwil DJP
Wajib Pajak Besar dan Kanwil DJP Jakarta Khusus
Bagan Organisasi KPP Wajib Pajak Besar dan KPP
Madya
Bagan Organisasi KPP Pratama

Diagram I.6

Bagan Organisasi KP2KP

Tabel II.7

Diagram I.7

Bagan Organisasi PPDDP

Diagram II.1
Diagram II.2

Perbandingan Target dan Realisasi Penerimaan DJP


Tahun 2008
Proporsi Penerimaan per Jenis Pajak Tahun 2008

Asumsi Indikator Ekonomi Makro Tahun 2008


Realisasi Penerimaan Pajak Tahun 2008
Kinerja Penerimaan Pajak Tahun 2003-2008
Unit dengan Kinerja Penerimaan Pajak Terbaik
Tahun 2008
Unit Pemenang Pembuatan dan Tindak Lanjut
Profile Wajib Pajak Tahun 2008
Unit Pemenang Pembuatan dan Tindak Lanjut
Mapping Tahun 2008
Unit Pemenang KPPc Tingkat DJP Tahun 2008
Jumlah Kantor Vertikal DJP Tahun 2002-2008

Diagram III.1

Survei Opini Pegawai DJP

Diagram III.2

Survei Opini Pelanggan terhadap DJP

Diagram III.3

Diagram V.1

Indeks Suap 15 Institusi Publik di Indonesia


dan Rata-rata Jumlah Uang yang Dibayarkan Per
Transaksi
Sebaran Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin

Diagram V.2

Sebaran Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Diagram V.3

Sebaran Pegawai Berdasarkan Pangkat/Golongan

Diagram V.4

Sebaran Pegawai Berdasarkan Kelompok Usia

Diagram V.5

Sebaran Pegawai Berdasarkan Jabatan

Diagram VI.1

Prosedur Keberatan/Non Keberatan

Diagram VI.2

Tabel XI.4

Diagram VII.2

Penyelesaian Proses Keberatan/Nonkeberatan PPh


dan PPN secara Nasional Tahun 2008
Penyelesaian Proses Keberatan/Nonkeberatan PBB
dan BPHTB secara Nasional Tahun 2008
Pengajuan Peninjauan Kembali dan Kontra
Peninjauan Kembali (Kontra Memori) ke Mahkamah
Agung Tahun 2008
Distribusi Putusan Peninjauan Kembali dari
Mahkamah Agung Berdasarkan Asal Pemohon dan
Amar Putusan yang Diterima DJP Tahun 2008
Penambahan Wajib Pajak Terdaftar Tahun 20052008
Jumlah Wajib Pajak Terdaftar Tahun 2004-2008

Diagram VIII.1

Jumlah Usulan Penyidikan

Diagram VIII.2
Diagram VIII.3

Perkembangan Piutang Pajak Tahun 2006-2008


Perkembangan Kegiatan Pemblokiran Tahun 20062008
Jaringan Tax Treaty Indonesia

Diagram I.3
Diagram I.4

II.2
II.3
II.4
II.5

Tabel II.6

Tabel II.8
Tabel III.1
Tabel IV

Tabel VI.2

Ketentuan Perpajakan yang Diterbitkan pada


Tahun 2008
Statistik Penjatuhan Hukuman Disi plin Pegawai
Tahun 2007-2008
Distribusi Putusan Banding dan Gugatan
Berdasarkan Amar Putusan yang Diterima DJP
Tahun 2008
Kinerja Kring Pajak 500200 Tahun 2008

Tabel VII.1

Perkembangan Basis Data Data Objek PBB

Tabel VIII

Jumlah Penyelesaian Penyidikan dan Jumlah


Kerugian Negara Akibat Kasus yang Disidik DJP
Jumlah Wajib Pajak Terdaftar
Kepatuhan Penyampaian SPT PPh

Tabel V.1

Diagram VI.3
Diagram VI.4

Diagram VI.5

Diagram VII.1

Diagram IX.1
Diagram XI.1

Penerimaan Pajak Tahun 2007-2008 per Klasifikasi


Lapangan Usaha (KLU)

Tabel VI.1

Tabel XI.1
Tabel XI.2
Tabel XI.3

Tabel XI.7

Laporan Pertumbuhan Wajib Pajak yang


Menggunakan e-SPT
Pertumbuhan Wajib Pajak yang Menggunakan
e-Filling
Perbandingan Penerimaan Pajak dan Belanja
Negara
Peranan Penerimaan Pajak terhadap Penerimaan
Dalam Negeri
Realisasi Penerimaan Pajak

Tabel XI.8

Penerimaan Pajak Tahun 2000-2008

Tabel XI.9

Rasio Perpajakan Tahun 2000-2008

Tabel XI.10
Tabel XI.11
Tabel XI.12
Tabel XI.13

Rasio Biaya Pemungutan Pajak Tahun 2000-2008


Hasil Evaluasi dan Monitoring Layanan Unggulan
DJP
Sebaran Penyidik Pegawai Negeri Si pil DJP
Perkembangan Piutang Pajak Tahun 2006-2008

Tabel XI.14

Komposisi Pegawai DJP

Tabel XI.15

Realisasi Pendidikan dan Pelatihan Pegawai


Tahun 2008
Daftar Jaringan Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda (P3B)/Tax Treaty Indonesia

Tabel XI.5
Tabel XI.6

Tabel XI.16

Laporan Tahunan 2008 | Direktorat Jenderal Pajak

77