Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses tumbuh kembang manusia dikontrol oleh sistem endokrin. Sekresi
hormon pertumbuhan oleh kelenjar pituitari akan mengontrol pertumbuhan
fisiologis dan perkembangan tubuh manusia secara normal. Pada keadaan dimana
terjadi gangguan atau ketidak seimbangan hormonal maka dapat terjadi
keterlambatan atau percepatan pertumbuhan. Pada keadaan-keadaan seperti ini
maka usia kronologis tidak dapat memberikan informasi pertumbuhan seseorang
secara tepat (Loh,1999). Pada keadaan dimana usia kronologis tidak dapat
digunakan untuk menilai tingkat perkembangan dan maturitas somatic seorang
pasien maka kita harus menentukan usia biologisnya. Usia biologis ini dapat
ditentukan dari skeletal, dental atau permulaan pubertas.
Penentuan usia skeletal seringkali dilakukan dengan bantuan radiograf tangan
yang dapat dianggap sebagai "biological clock" ( Rakosi et al., 1993). Penelitian
mengenai radiograf tangan menunjukkan adanya korelasi antara pertumbuhan
tubuh dengan tulang-tulang wajah. Analisis radiograf tangan dapat membantu
memberikan petunjuk mengenai status pertumbuhan seseorang, dengan demikian
dapat membantu untuk menangani kasus-kasus ortodonti tertentu.( Loh,1999).
1.2 Rumusan Masalah
Apakah peran analisis radiografi tangan pada pasien dalam masa pertumbuhan
dengan perawatan ortodonsia?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui peran analisis radiografi tangan pada pasien dalam masa
pertumbuhan dengan perawatan ortodonsia.
1.4 Manfaat
Referat ini diharapkan dapat memberikan gambaran umum tentang peran
analisis radiografi tangan pada pasien dalam masa pertumbuhan dengan perawatan
ortodonsia, sehingga dapat dijadikan pengetahuan bagi pembaca.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Tangan
1. Setiap jari kecuali ibu jari mempunyai 3 buah phalanges yaitu proksimal,
medial dan distal.

Gambar 1. Anatomi tulang tangan (Rakosi, 1993) dan jari dengan 3 Phalanges (Loh, 1999)
2. Setiap phalanx terdiri dari: head, shaft dan proksimal.
Shaft ini mengecil ke arah distal, permukaan dorsal pada potongan
melintangnya berbetuk konveks. Pada potongan melintang permukaan
palmarnya rata tetapi sedikit konkaf ke arah ventral pada sumbu
panjangnya. Basis phalangs proksimal mempunyai bentuk konkaf, faset
oval yang beradaptasi /sesuai dengan bagian kepala metakarpal.

Gambar 2. Anatomi phalanx (Loh 1999)
3. Tulang-tulang metakarpal (tangan) terdiri dari 5 buah.
4. Tulang-tulang karpal pada pergelangan tangan seperti: tulang trapezium,
trapezoid, kapitat, hamatum, prosesus hamular pada tulang hamatum,
triquetral, pisiform, lunatum, scapoid (Proffit 2000).
5. Tulang radius dan ulna.

3

2.2 Indikasi Analisis Radiograf Tangan
Menurut Loh (1999) analisis radiograf tangan dapat digunakan untuk:
1. Menentukan usia pertumbuhan skeletal pasien pada saat itu
2. Mengetahui tingkat osifikasi
3. Menentukan status pertumbuhan pasien
4. Mengetahui saat yang tepat untuk melepaskan retainer
5. Menentukan tingkat tumbuh kembang pasien terutama pada perawatan
ortodonti dengan menggunakan alat fungsional
6. Mengetahui tinggi badan pasien pada akhir pertumbuhan
7. Menentukan tingkatan pubertas.
Menurut Rakosi (1993) indikasi evaluasi radiograf tangan dalam bidang
ortodonti adalah:
1. Sebelum dilakukan perawatan rapid maxillary expansion
2. Bila diperlukan perubahan hubungan maksilo mandibular pada
perawatan kelainan kelas III, kelas II skeletal atau kasus openbite.
3. Adanya perbedaan usai dental dengan usia kronologis yang sangat
nyata
4. Pasien-pasien ortodonti yang memerlukan tindakan bedah ortognati
pada usia antara 16 tahun dan 20 tahun.
2.3 Prinsip-prinsip Analisis Radiograf Tangan
Berdasarkan penelitian analisis pertumbuhan oleh Bjork maka osifikasi
kartilago dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan dan keadaan ini
dapat diamati pada rontgen foto tangan. Indikator-indikator pertumbuhan
ini pada seseorang dengan pertumbuhan normal dan pada berbagai tingkat
usia dengan mudah dapat di identifikasi melalui berbagai tingkat osifikasi.
Maturasi pertumbuhan yang terlambat atau cepat akan mempengaruhi
stadium-stadium tersebut tetapi pada tingkat usia yang berbeda. (Loh
1999). Baik cara penilaian Bjork (dalam Rakosi 1993) maupun Graves dan
Brown (1976) menggunakan tingkat osifikasi yang terjadi pada tulang-
tulang phalanges, karpal dan radius. Tingkat pertumbuhan pada jari-jari
tangan dinilai berdasarkan hubungan antara epifisis dengan diafisis.
4

2.4 Indikator-indikator maturasi pada tulang tangan untuk menentukan
usia skeletal dari tahun ke 8 - tahun ke 18.
Menurut Bjork (1972) dan Grave dan Brown (1976). Letak daerah
osifikasi yang dinilai adalah pada daerah tulang phalanges, tulang karpal
dan tulang radius (R). Tingkat pertumbuhan pada jari-jari tangan dinilai
berdasarkan hubungan antara epiphysis dengan diaphysis nya.
Terdapat tiga tingkat osifikasi pada phalanges, yaitu:
1. Tingkat pertama : epiphysis memperlihatkan jarak yang sama dengan
diaphisisnya (=)

Gambar 3. Tingkat pertama Osifikasi Phalange
2. Tingkat kedua: capping stage (cap) Epiphysis melengkungi (menutupi)
diaphysis seperti topi

Gambar 4. Tingkat kedua Osifikasi Phalange



5


3. Tingkat ketiga = U-stage
Pada tingkat ini telah terjadi fusi (penyatuan) antara epiphysis dengan
diaphysis

Gambar 5. Tingkat ketiga Osifikasi Phalange
2.5 Menentukan Usia Skeletal dengan Hand-Wrist Radiograph
Terdapat beberapa cara penentuan usia biologis dengan menggunakan
radiograf tangan seperti tabel standart Greulich dan Pyle (1959), analisis
Bjork (dalam Rakosi, 1993) dan analisis Grave dan Brown (1976). Pada
penentuan usia biologis dengan tabel standard Greulich and Pyle maka
radiograf pasien dibandingkan dengan standard radiograf Greulich and
Pyle dengan jenis kelamin yang sama dan dengan usia kronologis yang
terdekat.
Kemudian juga bandingkan dengan usia yang lebih muda atau lebih tua
yang berdekatan dan pilih yang paling mendekati dengan gambaran
radiograf pasien (Lusted dan Keats, 1978). Berbeda dengan analisis
Greulich dan Pyle, maka analisis Bjork (1972) membagi proses maturasi
tulang-tulang tangan menjadi 8 tingkat perkembangan antara usia ke 9
sampai ke-17 tahun. Kemudian Grave dan Brown (1976) menambahkan
enam pusat osifikasi lain sehingga penggambaran tingkat perkembangan
tunggal lebih dipermudah dan usia skeletal dapat ditentukan dengan lebih
akurat. Dalam makalah ini maturasi tulang yang akan dibahas adalah cara
analisis Bjork (dalam Rakosi 1993) serta analisis Grave dan Brown (1976)
yang digunakan untuk menentukan usia skeletal dari tahun ke 8 sampai
tahun ke-18.
6

2.6 Tingkatan - tingkatan Maturasi dan hubungannya dengan pubertal
growth spurt menurut Bjork (1972), Grave dan Brown (1976)
1. Maturasi tingkat pertama : (PP2 =- stage)
Epiphysis phalanx proksimal jari telunjuk (PP2) sama lebar dengan
diaphysisnya. Stadium ini terjadi kurang lebih 3 tahun sebelum puncak
pertumbuhan pubertas.
2. Maturasi tingkat ke dua : (MP3 = - stage)
Epiphysis phalanx medial jari tengah (MP3) sama lebar dengan
diaphysisnya. Pada tingkat ini intensitas pertumbuhan sudah mencapai
tingkat yang lebih besar.
3. Maturasi tingkat ke tiga : Pisi, H1 dan R
Pada stadium ini perkembangan dapat diidentifikasi melalui 3 daerah
osifikasi yang berbeda yaitu:
Pisi-stage : tampak adanya osifikasi pada pisiforme
H1-stage : terjadi osifikasi prosesus hamular tulang hamatum
R-stage : epiphysis tulang radius sama lebar dengan diaphysisnya.
4. Maturasi tingkat ke empat; (S- dan H2-stage)
S-stage : terlihat mineralisasi pertama tulang sesamoid ulnar pada sendi
metacarphophalangeal ibu jari.
H2-stage : tampak osifikasi progresif prosesus hamular tulang hamatum.
Tingkat ke empat ini dicapai tidak lama sebelum atau pada awal
pubertal growth spurt.
5. Maturasi tingkat ke lima: MP3 cap, PP1 cap, dan R cap
Pada stadium ini diaphysis ditutupi oleh epiphysis berbentuk cap.
MP3 cap : prosesdimulai pada phalanx medial jari ketiga.
PP1 cap : proses terjadi pada phalanx proksimal ibu jari.
R cap : terjadi pada tulang radius.
Tahap osifikasi ini menunjukkan tercapainya puncak percepatan
pertumbuhan pubertal.
6. Maturasi tingkat ke enam : DP3u-stage
Tampak adanya penyatuan (union) epiphysis dengan diaphysis phalanx
distal jari tengah (DP3). Pada tingkat ini intensitas pertumbuhan sudah
menurun.
7

7. Maturasi tingkat ke tujuh: PP3 u-stage
Tampak adanya penyatuan (union) epihysis dengan diaphysis phalanx
proksimal jaritengah (PP3).
8. Maturasi tingkat ke delapan: MP3u-stage
Terjadi penyatuan (union) epiphysis dengan diaphysis phalanx medial
jari tengah (MP3)
9. Maturasi tingkat ke sembilan: Ru-stage. Terjadi penyatuan ephiphysis
dengan diaphysistulang radius.
Pada tingkat ini osifikasi tulang-tulang tangan seluruhnya telah selesai
dengan demikianpertumbuhan skeletal telah selesai.
Seperti kita ketahui bahwa pubertal growth spurt bergantung pada jenis
kelamin dan bervariasi hubungannya dengan usia kronologis. Variasi-
variasi ini menentukan kecepatan dan juga lama nya proses pertumbuhan.
Pada anak perempuan pubertal growth spurt mulai pada usia antara 10
tahun-12 tahun. Pada anak laki-laki antara usia 12 tahun dan 14 tahun
dengan variasi antara 3-6 tahun (Rakosi, 1993).
Suatu gangguan ritme pertumbuhan terjadi jika terdapat perbedaan
antara usia kronologis dengan usia biologisnya. Pertumbuhan dapat
dihitung dalam mm, periode waktu ditentukan dengan minggu, bulan dan
tahun sedangkan proses maturitas hanya dapat dipastikan dengan penilaian
osifikasi tulang. Hubungan antara tingkat osifikasi dengan usia skeletal
untuk periode usia 8-18 tahun diperlihatkan pada tabel 1. Nilai rata-rata
usia pasien laki-laki dan perempuan (dalam tahun) digambarkan secara
terpisah oleh Schoopf (dalam Rakosi 1993).


8

Tabel 1. Hubungan antara tingkat osifikasi dengan usia skeletal untuk periode usia 8-18
tahun baik pada anak laki-laki maupun perempuan

2.7 Radiograf Periapikal Untuk Mengetahui Tingkat Osifikasi Epiphysial
Untuk alasan praktis, ekonomis dan untuk tujuan screening maka
radiograf periapikal dapat digunakan untuk mengetahui berbagai tingkatan
pertumbuhan. Radiograf kartilagoepiphysial dan diaphysis dibuat dengan
cara mengarahkan sumber pusat sinar pada jarak dekat pada daerah
interphalangeal joint jari ke tiga (MP3). Radiograf ini dapat digunakan
untuk menganalisis berbagai tingkatan ephiphysial, dengan demikian tidak
perlu membuat roentgen foto tangan secara menyeluruh. Ketiga tingkatan
epiphysial penting pada MP3 ini adalah : MP3=; MP3cap dan MP3u.
Ketiga tingkatan tersebut masing-masing dapat menggambarkan tingkatan
pubertas seorang pasien. Keuntungan cara ini adalah cepat dan akurat,
tetapi kerugiannya tingkat Ru tidak dapat dievaluasi sehingga perlu dibuat
radiograf lain yaitu pada tulang radius dan ulna.

9


Gambar 6.Radiograf periapikal pada MP3 dan Diagram hubungan tingkat osifikasi epiphyseal
MP3 dengan pubertas.








10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Radiograf tangan dapat digunakan untuk membantu menentukan usia
skeletal seseorang.
2. Penentuan usia skeletal dilakukan dengan menilai tingkat osifikasi
epiphysial dandiaphysis pada phalanges dan tulang radius.
3. Untuk tujuan pemeriksaan secara cepat dan ekonomis dapat digunakan
radiografperiapikal pada phalanx medial jari tengah (MP3).
B. Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peran analisis
radiografi tangan pada pasien dalam masa pertumbuhan dengan perawatan
ortodonsia.



















11

DAFTAR PUSTAKA
Grave K.C. dan Brown T Skeletal ossification and the adolescent growth spurt.
Amer. J.Orthodont 69. 611.1976
Loh P. Bassic Guides in Orthodontic Diagnosis. San Juan, Metro Manila. 1999.
p.52-60
Lusted B.L. dan Keats T.E. Atlas of Roentgenographic Measuremen 4th ed.
Chicago, London.Year Book Medical Pub.1978. p. 87-92
Loh P. Bassic Guides in Orthodontic Diagnosis. San Juan, Metro Manila. 1999.
p.52-60
Proffit WR. Contemporary Orthodontics.3rd ed. St Louis. Mosby.91-2, 150-
3.Mosby
Rakosi T. J. dan Graber TM.Color Atlas ofDental Medicine. New York. Thieme.
1993.p.102-7.