Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Ikan Kakap ( Lates calcalifer ) adalah jenis ikan laut yang memiliki nilai ekonomis
tinggidan banyak digemari, baik untuk dikonsumsi masyarakat atau untuk komoditas
ekspor.Produksi ikan kakap di Indonesia terutama dihasilkan dari tangkapan nelayan di laut.
Ikan Kakap dapat dipelihara dengan baik dalam perairan payau maupun dalam jarring apung
di laut. Dengan SR yang lebih besar dari ikan kerapu yakni sekitar 35 %. Ikan ini menjadi
komoditas yang sangat menarik untuk usaha budidaya, baik dalam skala kecil ataupun skala
besar, karena mempunyai harga yang cukup baik.

Usaha pembenihan dan budidaya ikan kakap putih merupakan salah satu upaya
untuk memanfaatkan kawasan pantai dalam hamparan yang terbatas dan mengurangi tekanan
terhadap sumber daya alam dari kegiatan penangkapan. Namun keberhasilan
pengembangannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi, nilai ekonomis, system
pengelolaan yang diterapkan dan keterpaduan pemanfaatan kawasan pantai. Dengan
dikembangkannya teknologi ini diharapkan misi mewujudkan masyarakat nelayan yang maju,
mandiri, sejahtera dan berkeadilan akan tercapai. Selain itu, kesempatan kerja dan berusaha
bagi masyarakat pantai semakin terbuka, serta meningkatnya petani nelayan dan produksi
perikanan (Mayunar dan Genisa, 2002).

B. TUJUAN
`Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan ilmu
pengetahuan bagi para mahasiswa tentang pembenihan ikan kakap ( Lates calcalifer )











2

BAB II
PEMBAHASAN

A. DESKRIPSI
Ikan kakap adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar
garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di
air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap dapat dibudidayakan di laut, tambak
maupun air tawar.

B. HABITAT
Ikan kakap umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di
muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap
berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke
dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil.
Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 4050 meter dengan
substrat sedikit karang dan salinitas 3033 ppt serta suhu antara 5- 32C (Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi
di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya
menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan
berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang
dangkalatau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang
ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang
beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai
daerah berkarang atau batu karang.

C. SIFAT HIDUP DAN PEMIJAHAN
Ikan kakap tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya.
Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik
dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu
setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama
hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai
tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 4151% dari panjang
tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran
yang lebih kecil dari betinanya.

Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih,
akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu
air berkisar antara 22,225,2C. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya
pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada
salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputarputar
membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Secara umum ikan
3

kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan
yang berukuran kecil. Ikan kakap yang berukuran besar akan mampu mencapai umur
maksimum berkisar antara 1520 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga
kedalaman 60100 meter (Gunarso, 1995).
E. PERSYARATAN LOKASI
Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung pada lokasi yang
tepat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan lokasi adalah sebagai
berikut :
1. Sumber Air Laut
Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan jernih
sepanjang tahun, dengan perubahan salinitas relatif kecil. Lokasi yang sesuai biasanya
di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di lingkungan pantai
yang berkarang dan berpasir. Lokasi juga harus jauh dari buangan sampah pertanian
dan industri. Persyaratan teknis kimia dan fisika yang memenuhi syarat adalah sebagai
berikut :
Salinitas : 28 35
pH : 7,8 - 8,3
Alkalinitas : 33 - 60 ppm
Bahan organik : < 10 ppm
Amoniak : < 2 ppm
Nitrit : < 1 ppm
Suhu : 30 - 330C
Kejernihan : maksimum
2. Sumber Air Tawar
Air tawar dibutuhkan untuk menurunkan salinitas air laut yang diperlukan sesuai
dengan kebutuhan. Selain itu air tawar juga digunakan untuk mencuci bak dan peralatan
pembenihan lainnya agar tidak mudah berkarat.
3. Sumber Listrik
Pembenihan tidak dapat dioprasikan tanpa listrik. Listrik sangat penting sebagai
sumber tenaga untuk menjalankan peralatan pembenihan seperti blower, pompa air dan
sistim penunjang lainnya. Pemasangan generator mutlak diperlukan terutama untuk
daerah yang sering tejadi pemadaman aliran listrik.
4. Topography
Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang
laut. Lokasi tersebut juga harus terdiri dari tanah yang padat/kompak. Walaupun
pembenihan skala rumah tangga secara keseluruhan berskala kecil, namun bak
pemeliharaan larva tetap bertonase besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang
cukup stabil, misalnya menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak
terjamin.

F. TEKNIK PEMELIHARAAN
1. Pemeliharaan Induk
4

- Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan induk, berupa bak beton berbentuk bulat
berdiameter 10 m dan kedalaman 3 m, kapasitas dari bak induk 230 m
3
.
- Jenis pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar, diberikan setiap hari dengan
jumlah 3 5% berat total tubuh ikan.
- Penggantian air dilakukan setiap hari dengan menggunakan system sirkulasi 200
300 % dengan debit air di saluran inlet sekitar 5 liter/detik.
2. Sampling Kematangan Gonad
- Induk betina sudah mencapai lebih dari 3 kg, sedangkan untuk induk jantan berumur
lebih dari 2 tahun dengan bobot lebih dari 2 kg.
- Induk kakap betina yang matang gonad ditandai dengan perut membesar bila diraba
akan terasa lembek, warna tubuhnya kehitaman/kelabu, lubang genitalnya terlihat
agak membuka dan memerah serta bila distriping keluar cairan kekuning-kuningan.
- Sedangkan ciri induk jantan yang matang gonad warna tubuhnya semakin cerah dan
mengkilap dan bila distriping keluar cairan putih susu (sperma).
3. Pemijahan
- Pemijahannya dengan system alami melalui rangsangan manipulasi lingkungan pada
bak pemeliharaan yang merangkap bak pemijahan.
- Induk akan memijah sore sampai malam hari sekitar pukul 18.00 22.00 WIB.
- Pemijahan ditandai terjadinya kejar-kejaran induk jantan dan betina
- Induk betina terlebih dahulu mengeluarkan telur disusul dengan induk jantan
mengeluarkan sperma dan pembuahan terjadi diluar tubuh ikan.
- Telur hasil pemijahan dengan sendirinya akan keluar terbawa air melalui saluran
outlet dan tertampung di egg collector bermata jaring 200 500 mikro.
4. Pemanenan Telur
- Ukuran egg collector 125 x 50 x 75 cm dengan mata jarring 200 500 mikro.
- Kerangka dibuat dan pipa berdiameter 1 inci berbentuk persegi panjang.
- Pemanenan dilakukan pada pagi hari dengan mengalirkan air laut secara terus
menerus
- Jika telur ada, telur dipanen menggunakan seser (scope net) dengan ukuran lubang
200 mikro dan ditampung di dalam 5 liter sudah berisi air laut.
5. Inkubasi Telur
- Inkubasi telur dilakukan setelah pemanenan telur yaitu antara pukul 06.3007.00
WIB.
- Wadah yang digunakan berupa akuarium berkapasitas 100 liter.
- Telur yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam akuarium yang sudah diisi air
dengan volume 80 90 liter dan diberi aerasi yang cukup agar telur yang akan
dihitung menyebar rata.
6. Pemeliharaan Larva
5

Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), bak pemeliharaan
larva harus dicuci dengan air tawar dan disikat lalu dikeringkan selama 1 - 2 hari.
Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara membilaskan larutan sodium
hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak, selanjutnya dikeringkan selama 2 - 3 jam
untuk menghilangkan chlorine yang bersifat racun.

Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dengan suhu 26 -
280C dan salinitas 29 - 32 ppt diisikan ke dalam bak dengan cara disaring dengan
penyaring pasir atau kain penyaring untuk menghindari kotoran yang terbawa air laut.
Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan batu aerasi yang diletakkan
secara terpencar agar merata keseluruhan air di dalam bak. Larva yang baru menetas
mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang dipermukaan air dan berkelompok
dekat aerasi.
Umur 30 hari larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh
langsung sinar matahari (semi out door tanks). Padat penebaran awal dalam bak
pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter volume air. Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan
dikurangi menjadi 30 40 larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan
menjadi 20 30 larva/liter, karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan
ukuran dan sifat kanibalisme.

7. Pemberian Pakan Alami
Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai
pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer. Padat
penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000 sel/ml sedangkan untuk Chlorella
adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml. Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat
ini hingga hari ke 7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan
padat penebaran 5-7 individu/ml. Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian Rotifera
ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml. Pada umur 15 hari larva mulai
diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 2 individu/ml. Setelah berumur 30 hari,
dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah dapat memakan cacahan daging segar.

8. Pengelolaan Air
Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat
dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi. Dalam hal ini yang
terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal untuk
pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu perubahan yang bersifat mendadak
atau lingkungan yang tidak mendukung akan mengakibatkan kematian larva, untuk
menekan tingkat kematian disamping perlu diperhatikan masalah sanitasi dan
pengaturan pakan yang seksama perlu diperhatikan pengelolaan air yang baik. Pada
pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada hari ke 13
sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14. Pada hari ke 15 sampai hari ke 25
penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara penyiponan.
6

9. Penggolongan Ukuran (Grading)
Pemeliharaan larva kakap dalam lingkungan terbatas dengan persaingan pakan
dan ruangan akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak merata. Penggolongan
ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling memakan sesama larva
(kanibalisme), oleh karena ikan kakap mempunyai sifat karnifor (ikan pemangsa). Sifat
kanibal pada larva kakap akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia ( 10 hari).
Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang dilubangi
dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang bervareasi antara 2,5 -
10 mm.
Penggolongan ukuran dilakukan dengan cara memasukkan baskom plastik ke
dalam bak pemeliharaan di atas aerasi, agar ikan yang ukuran lebih kecil dari lubang
dapat lolos dan larva yang lebih besar tidak dapat lolos, selanjutnya larva yang
ukurannya lebih besar dipisahkan dan dilakukan lagi pengolongan ukuran dengan
menggunakan baskom yang mempunyai lubang ukuran lebih besar. Cara ini akan
memisahkan ikan ke dalam beberapa ukuran tertentu dan mempermudah
pengelolaannya. Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama
pada hari ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25. Ukuran lubang
bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
10. Panen
Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang
memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air
keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi
air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 20 cm, kemudian benih
ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap tidak mengalami stress pada saat panen,
dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.












7

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung pada
lokasi yang tepat
2. Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap skala kecil cukup sederhana
yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak pakan alami, bak
pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia, aerator/blower dan perlengkapannya
serta peralatan lapangan sebagai penunjangnya.
3. Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang
dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi.
4. Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai
pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer.
5. Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat dengan
tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi
6. Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling memakan
sesama larva (kanibalisme)
7. Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang
memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air
keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara
mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 20 cm,
kemudian benih ditangkap dengan scopnet
B. SARAN
1. Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang laut
2. Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan jernih
sepanjang tahun, dengan perubahan salinitas relatif kecil
3. Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun bentuk segi
empat maka, pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi dengan bak berukuran
kecil untuk menempung benih yang akan dipanen
4. Agar larva kakap tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati
dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.